Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL

TERAPI BERMAIN MENIUP LIDAH PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DENGAN


PNEUMONIA DI RUANG DORI RSUD KOJA
JAKARTA UTARA

DISUSUN OLEH:

PARDI
PUTRI DIAH KUSUMA
DAYANG IDA
HIKMAH PUJIATI

PROFESI KEPERAWATAN ANAK


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2017
A. Latar Belakang
Pneumonia adalah infeksi jaringan parenkim paru yang ditandai dengan adanya
demam, peningkatan produksi sekret, batuk, pilek, nafas cepat disertai pernafsan cuping
hidung sehingga dapat mengganggu pola nafas anak (Hockenberry & Wilson, 2009).
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam etiologi, seperti bakteri, virus,
mikroplasma, jamur atau bahan kimia atau benda asing yang teraspirasi (Alsagaff, 2002).
Kuman penyebab pneumonia biasanya berbeda pada setiap tingkat usia anak. Namun
sebagian besar kasus pneumonia disebabkan oleh Streptococus pneumonia yang terjadi
hampir pada semua kelompok usia anak (Michelow, 2004).
Pneumonia merupakan infeksi yang serius dan banyak diderita anak-anak
diseluruh dunia yang secara fundamental berbeda dengan pneumonia pada orang dewasa.
Di Amerika dan Eropa merupakan negara maju, angka kejadiaan pneumonia masih tinggi,
diperkirakan setiap tahunnya 30-45 kasus per 1000 anak pada usia kurang dari 5 tahun, 16-
20 kasus per 1000 anak pada usia 5-9 tahun, 6-12 kasus per 1000 anak pada usia 9 tahun
dan remaja (WHO/UNICEF, 2006).
Kasus pneumonia dinegara berkembang tidak hanya lebih sering didapatkan
tetapi juga lebih berat dan banyak menimbulkan kematian pada anak. Insiden puncak
terjadinya pneumonia adalah pada usia 1-5 tahun dan menurun dengan bertambahnya usia
anak. Mortalitas diakibatkan oleh bakterimia Streptococus pneumoniadan staphylococcus
aureus, tetapi di negara berkembang berkaitan dengan malnutrisi dan kurangnya akses
perawatan (Setyoningrum, 2006).
Berdasarkan data mortalitas, pneumonia merupakan seperempat penyebab
kematian pada anaka usia dibawah 5 tahun dan 80% terjadi dinegara berkembang.
Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia untuk kasus pneumonia padabalita dengan
jumlah penderitya mencapai 6 juta jiwa (WHO/UNICEF, 2006) dalam “Pneumonia: The
Forgotten Killer of Children”. Kejadian mortalitas diperkuat dengan data dari Departemen
Kesehatan Republik Indonesia (2004), bahwa di Indonesia pneumoni merupakan masalah
terbanyak pada anak yang dapat menyebabkan kematian. Hasil survey kesehatan rumah
tangga (SKRT) tahun 2001, tercatat kematian akibat gangguan sistem pernafasan pada
bayi 28-33% dan pada balita 33-39%. Kematian bayi dan balita tersebut sekitar 80-90%
disebabkan karena pneumonia, dengan prevalensi mortalitas pneumoniamencapai sekitar
7,6% (SKDI, 2002-2003), sedangkan anak yang menjalani hospitalisasi diperkiraan 356
per 1000 anak yang menjalani hospitalisasi diperkirakan 35 per 1000 anak untuk semua
kasus (Sumaryoko, 2008 dalam Purwandari 2009).
Kondisi sakit dan dirawat dirumah sakit (hospitalisasi) merupakan salah satu
upaya untuk mendapatkan perawatan yang adekuat untuk mencapai kesehatan yang
optimal pada individu yang mengalami sakit. Namun disisi lain, hospitalisasi akan
menimbulkan stress, baik pada anak itu sendiri maupun keluarga (Hockenberry & Wilson,
2009). Oleh sebab itu Setyoningrum (2006) menentukan beberapa indikator hospitalisasi
pada anak yang menderita pneumonia yaiutu apabila penderita tampak ssakit berat, umur
kurang darin 6 bulan, mengalami distress pernafasan berat, hipoksemia, disertai muntah
dan dehidrasi, adanya efusi pleura dan abses paru, kondisi penurunan imun akibat penyakit
ytertentu, ketidak mampuan orang tua merawat anak adanya penyakit penyerta atau anak
membutuhkan pemberian antibiotika secara parenteral. Jika indikator diatas tidak
ditemukan pada anak dengan pneumonia maka perawatan dirumah sakit tidak diperlukan.
Masalah yang sering muncul pada anak pneumonia yang diraawat dirumah sakit
adalah distresspernafasan yang tidandai dengan napas cepat, retraksi dinding dada, nafas
cuping hidung, dan disertai stridor (WHO, 2009). Distress pernafasan merupakan
kompensasi tubuh terhadap kekurangan oksigen, karena konsentrasi oksigen yang rendah,
akan menstimulus syaraf pusat untuk meningkatkan frekuensi pernafasan. Jika upaya
tersebut tidak terkompensasi maka akan terjadai gangguan status oksigenasi dari tingkat
ringan hingga berat bahkan sampai menimbulkan kegawatan. Penuruan konsentrasi
oksigen ke jaringan sering disebabkan karena peningkatan produksi sekret sebagai salah
satu manifestasi adanya inflamasi pada saluran nafas (Hockenberry & Wilson, 2009).
Ketidakmampuan mengeluarkan sekret merupakan kendala yang sering dijumpai
pada anak usia bayi dan prasekolah, karena pada usia tersebut reflek batuk masih lemah.
Beberapa atindakan alternatif yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah
dengan fisio terapi dada, yang sering disebut dengan fisioterapi konvensional yang
meliputi postural drainage , vibrasi dan perkusi (Perry & Potter 2009: Hockenberry &
Wilson, 2009).
Namun berdasakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Santos (2009), bahwa
fisioterapi konvensional tidak memberikan dampak positif karena dapat menimbulkan
hipoksa, refluks esofageal, meningkatkan obstruksi aliran udara dan perubahan saturasi
oksigen serta dapat menyebabkan trauma pada anak. Tindakan fisioterapi konvensional
dapat menimbulkan bahaya khususnya bagi mereka yang tidak memproduksi sekret yang
berlebihan. Oleh karena itu fidioterapi dada tidak direkomendasikan dalam pengobatan
pneumonia, kecuali pada pasien dengan produksi sekret yang banyak, penyakit
neuromuskuler, atau pada anak yang lemah dan kurang kooperatif (Hockenberry &
Wilson, 2009).
Alternatif lain untuk mengatasi masalah tidak efektifnya bersihan jalan nafas
pada anak yaitu dengan Expiratory Flow Increase Technique (EFIT), dimana teknik ini
menunjukan hasil yang cukup kontradiktif. Tindakan ini bertujuan menghilangkan dampak
dari peningkatan produksi sekret pada anak-anak dengan fibrosis kistik dan digambarkan
sebagai sebuah teknik untuk meninghkatkan bersihan mukosilar dan ventilasi alveolar.
Teknik ini digunakan untuk meningkatkan aliran ekspirasi secara fisiologis, yang
dilakukan oleh fisioterapist sehingga dapat membantu mendorong menggerakan dan
memindahan sekret keluar dari jalan nafass sehingga status oksigenasi anak menjadi lebih
baik. Keberhasilan teknik ini adalah adengan menilai Respiratory rate (RR), Heart Rate
(HR) dan saturasi oksigen (SaO2) dengan menggunakan oksimetri. Efit bisa digunakan
pada sedmua tingkat usia anak baik dalam kondisi sadar maupun tidk sadar, namun dalam
melakukan tindakan ini harus dengan bantua fisioterapist tidak bisa dilakukan sendiri oleh
pasien (Santos, 2009). Hal serupa juga pernah dijelaskan oleh Almeida, et, al, 2005)
bahwa EFIT dapat meningkatkan fungsi parupada bayi yang menggunakan ventilasi
mekanik.
Mekanisme kerja EFIT adalah meningkatkan aliran udara saat ekspirasi dengan
tujuan mengaktifkan silia pada saluran nafas untuk mengevaluasi sekret yang ada pada
jalan napas menuju bronkhial dan trakea. mekanisme yang digunakan adalah mekanisme
fisiologis sehingga akan meminimalkan dampak negatif dari EFIT tersebut (Almeida et.
Al. 2005). Selain EFIT , Pursed Lips Breathing (PLB). Juga bisa digunakan sebagai
alternatif untuk membantu mengatasi tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada anak.
PLB dapat meningkatkan ekspansi alveolus pada setiap lobus paru, sehingga tekanan
alveolus meningkatdan dapat membantu mendorong sekret pada jalan napas saat ekspansi
dan dapat menginduksi pola nafas menjadi normal ( Brunner & Sudarth, 2002). Pada
kahirnya diharapkan berdampak terhadap peningkatan status oksigenasi . namun teknik
PLB hanya bisa digunakan pada anak sadar dan mampu di ajak kerja sama. Kelompok usia
yang sudah mampu diajak kerja sama adalah sia prasekolah , karena menurut
Hockenberry & Wilson, (2009) pada usia ini anak sudah mampu menguasai bahasa dan
memahami perintah sederhana selain kemampuan motoriknya yang sudah lebih
berkembang dari anak usia toddler.
Namun pada kenyataannya menginstrusikan teknik PLB pada nak usia
prasekolah bukan merupakan hal yang mudah, biasanya anak sulit untuk diajakkerja sama,
karena tindakan tersebut kurang menarik minat anak. Upaya cerdas yang harus dilakukan
oleh perawat anak adalah memodifikasi intervensi keperwatan dengan sesuatu yang
menarik minat anak, dengan mengitergrasikan aktivitas bermain kedalam setiap intervensi
keperawatan merupakan pendekatan atraumatik care, dimana anaka kan merasaaman
dengan lingkungannya serta memperoleh kesenangan saat melakukan prosedur tindakan
(Hockenberry & Wilson, 2009).
Melalui pendekatan atraumatik care, PLB dapat dianalogikan dengan aktivitas
bermain seperti meniup gelembung busa, balon, bola kapas, kincir kertas dan lain-lain
(Hockenberry & Wilson, 2009). Mekanisme yang digunakan yaitu identik dengan PLB,
yaitu meningkatkan tekanan alveolus pada setiap lobus paru, sehingga dapat meningkatkan
aliran udara saat ekspirasi. Peningkatan udara pada saat ekspirasi akan mengaktifkan silia
pada mukosa jalan napas sehingga mampu mengevaluasi sekret keluar dari saluran napas.
Tindakan ini sebagai salah satu upaya yang diduga mampu meningkatkan status
oksigenasi.
Aktifitas bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak
seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain sebagainya. Anak perlu berbagai
variasi permainan untuk kesehatan fisik, mental dan perkembangan emosinya. Dalam
kondisi sakit maupun sehat anak aktivitas bermain ini tetap perlu dilaksanakan, namun
harus sesuai dengan kondisi anak
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh kelompok pada tanggal 23-24 mei 2017,
jumlah anak yang dirawat diruangan dori RS koja yang menderita pneumonia sekitar 8-10
pasien dari 30 pasien. pendekatan atraumatik care, PLB belum pernah dilakukan perawat
RS koja sebagai pendekatan atraumatic care dalam memberikan intervensi perawatan.
Khususnya untuk mengatasi masalah tidak efektifnya bersihan jalan napas yang
berdampak pada status oksigenasi. Oleh karena itu kelompok mengambil terapi bermain
menggunakan tiupan diruangan dori RS koja, karena kelompok ingin memberikan waktu
bermain pada anak sekaligus memberikan intervensi keperawatan pada anak dengan
gangguan bersihan jalan nafas

B. Konsep Teori Bermain


1. Pengertian
a. Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan
bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak
akan berkata-kata, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan melakukan apa
yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000).
b. Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesaui dengan keinginanya sendiri dan
memperoleh kesenangan (Foster, 1989).
c. Bermain adalah cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam
dirinya yang tidak disadarinya (Miller dan Keong, 1983).
d. Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek terpenting
dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk
menurunkan stress pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan
emosional anak (Champbell dan Glaser, 2005).
2. Fungsi (usia 3-5 tahun)
a. Perkembangan Sensori
1) Memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta koordinasi
2) Meningkatkan perkembangan semua indra
3) Mendorong eksplorasi pada sifat fisik dunia
4) Memberikan pelampiasan kelebihan energi
b. Perkembangan yang intelektual
1) Memberikan sumber – sumber yang beraneka ragam untuk pembelajaran
2) Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna
3) Pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang, konsep abstrak
4) Kesempatan untuk mempraktikan dan memperluas keterampilan berbahasa
5) Memberikan kesempatan untuk melatih masa lalu dalam upaya
mengasimilasinya kedalam persepsi dan hubungan baru
6) Membantu anak memahami dunia dimana mereka hidup dan membedakan
antara fantasi dan realita
c. Perkembangan sosialisasi dan moral
1) Memberikan kesempatan untuk menguji hubungan
2) Mengembangkan keterampilan sosial
3) Mendorong interaksi dan perkembangan sikap positif terhadap orang lain
4) Menguatkan pola perilaku yang telah disetujui standar moral
d.Kreativitas
1) Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat kreatif
2) Memungkinkan fantasi dan imajinasi
3) Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus
e. Kesadaran diri
1) Memudahkan perkembangan identitas diri
2) Mendorong pengaturan perilaku sendiri
3) Memungkinkan pengujian pada kemampuan sendiri (keahlian sendiri)
4) Memberikan perbandingan antara kemampuasn sendiri dan kemampuan orang
lain
5) Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku sendiri dapat
mempengaruhi orang lain
f. Nilai Teraupetik
1) Memberikan pelepasan stress dan ketegangan
2) Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan impuls yang tidak dapat
diterima dalam bentuk yang secara sosial dapat diterima
3) Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan dengan cara
yang aman
4) Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan non verbal tentang
kebutuhan, rasa takut, dan keinginan
C. Tiupan lidah (PLB)
Pursed Lips Breathing (PLB). Juga bisa digunakan sebagai alternatif untuk membantu
mengatasi tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada anak. PLB dapat meningkatkan
ekspansi alveolus pada setiap lobus paru, sehingga tekanan alveolus meningkatdan dapat
membantu mendorong sekret pada jalan napas saat ekspansi dan dapat menginduksi pola
nafas menjadi normal ( Brunner & Sudarth, 2002). Pada kahirnya diharapkan berdampak
terhadap peningkatan status oksigenasi . namun teknik PLB hanya bisa digunakan pada
anak sadar dan mampu di ajak kerja sama. Kelompok usia yang sudah mampu diajak kerja
sama adalah sia prasekolah , karena menurut Hockenberry & Wilson, (2009) pada usia
ini anak sudah mampu menguasai bahasa dan memahami perintah sederhana selain
kemampuan motoriknya yang sudah lebih berkembang dari anak usia
D. Tujuan
a. Untuk melanjutkan tumbuh kembang yg normal pada saat sakit.Pada saat sakit anak
mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
b. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.Permainan adalah
media yang sangat efektif untuk mengsekspresikan berbagai perasaan yang tidak
menyenangkan.
c. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.Permainan akan
menstimulasi daya pikir, imajinasi, dan fantasinya untuk mencipakan sesuatu seperti
yang ada dalam pikirannya.
d. Dapat beradaptasi secara efektif thp stres karena sakit dan di rawat di RS.
e. Dapat memberikan intervensi keperawatan pada anak pneumonia dengan tidak
efektifnya bersihan jalan nafas

E. Prinsip Bermain

Menurut Soetjiningsih (1995) bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
aktifitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif :
1. Perlu ekstra energi
Bermain memerlukan energi yang cukup sehingga anak memerlukan nutrisi yang
memadai.Asupan atau intake yang kurang dapat menurunkan gairah anak. Anak yang
sehat memerlukan aktifitas bermain yang bervariasi, baik bermain aktif maupun
bermain pasif.Pada anak yang sakit keinginan untuk bermain umumnya menurun
karena energi yang ada dugunakan untuk mengatasi penyakitnya.
2. Waktu yang cukup
Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga stimulus yang diberikan
dapat optimal. Selain itu, anak akan mempunyai kesempatan yang cukup untuk
mengenal alat-alat permainannya.
3. Alat permainan
Alat permainan yang digunakan harus disesuaikan dengan usia dan tahap
perkembangan anak.Orang tua hendaknya memperhatikan hal ini sehingga
alat permainan yang diberikan dapat berfungsi dengan benar dan mempunyai unsur
edukatif bagi anak.
4. Ruang untuk bermain
Aktifitas bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu, di halaman, bahkan di
ruang tidur.Diperlukan suatu ruangan atau tempat khusus untuk bermain bila
memungkinkan, di mana ruangan tersebut sekaligus juga dapat menjadi tempat untuk
menyimpan permainannya.
5. Pengetahuan cara bermain
Anak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya, atau
diberitahu oleh orang tuanya. Cara yang terahkir adalah yang terbaik karena anak lebih
terarah dan berkembang pengetahuannya dalam menggunakan alat permainan
tersebut. Orang tua yang tidak pernah mengetahui cara bermain dari alat permainan
yang diberikan, umumnya membuat hubungannya dengan anak cenderung menjadi
kurang hangat.
6. Teman bermain
Dalam bermain, anak memerlukan teman, bisa teman sebaya, saudara, atau orang
tuanya. Ada saat-saat tertentu di mana anak bermain sendiri agar dapat menemukan
kebutuhannya sendiri.Bermain yang dilakukan bersama orang tuanya akan
mengakrabkan hubungan dan sekaligus memberikan kesempatan kepada orang tua
untuk mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh anaknya. Teman diperlukan untuk
mengembangkan sosislisasi anak dan membantu anak dalam memahami perbedaan.

F. Faktor yang Mempengaruhi Bermain


1. Tahap perkembangan anak
Aktivitas bermain yang tepat harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan
perkembangan anak. Orang tua dan Perawat harus mengetahui dan memberikan jenis
permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak.
2. Status kesehatan anak
Aktivitas bermain memerlukan energi maka Perawat harus mengetahui kondisi anak
pada saat sakit dan jeli memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak sesuai
dengan prinsip bermain pada anak yang sedang dirawat di RS.
3. Jenis kelamin
Pada dasarnya dalam melakukan aktifitas bermain tidak membedakan jenis kelamin
laki-laki atau perempuan namun ada pendapat yang diyakini bahwa permainan adalah
salah satu alat mengenal identitas dirinya. Hal ini dilatarbelakangi oleh alasan adanya
tuntutan perilaku yang berbeda antara laki – laki dan perempuan dan hal ini dipelajari
melalui media permainan.
4. Lingkungan yang mendukung
Lingkungan yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup
ruang untuk bermain.
5. Alat dan jenis permainan yg cocok
6. Pilih alat bermain sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Alat permainan harus
aman bagi anak.
G. Alat Permainan Edukatif
Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan
perkembangan anak, disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya.
Contoh alat permainan pada balita dan perkembangan yang distimuli :
1. Pertumbuhan fisik dan motorik kasar
Contoh : Sepeda roda tiga/dua, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll.
2. Motorik halus
Contoh : Gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
3. Kecerdasan/ kognitif
Contoh : Buku gambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil, warna, dll.
4. Bahasa
Contoh : Buku bergambar, Buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.

5. Menolong diri sendiri


Contoh : Gelas/ piring plastic, sendok, baju, sepatu, kaos kaki, dll.
6. Tingkah laku sosial
Contoh : Alat permainan yang dapat dipakai bersama missal congklak, kotak pasir, bola,
tali, dll.
H. Klasifikasi Bermain
1. Menurut isi permainan
a. Sosial affective play
Inti permainan ini adalah hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak
dengan orang lain (contoh: ciluk-baa, berbicara sambil tersenyum dan tertawa).
b. Sense of pleasure play
Permainan ini sifatnya memberikan kesenangan pada anak (contoh: main air dan
pasir).
c. Skiil play
Permainan yang sifatnya meningkatkan keterampilan pada anak, khususnya motorik
kasar dan halus (misal: naik sepeda, memindahkan benda).
d. Dramatik Role play
Pada permainan ini, anak memainkan peran sebagai orang lain melalui
permainanny. (misal: dokter dan perawat).
e. Games
Permainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan / skor
(Contoh : ular tangga, congklak).
f. Un occupied behaviour
Anak tidak memainkan alat permainan tertentu, tapi situasi atau objek yang ada
disekelilingnya, yang digunakan sebagai alat permainan (Contoh: jinjit-jinjit,
bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja dsb).
2. Menurut karakter sosial
a. Onlooker play
Anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada inisiatif untuk
ikut berpartisifasi dalam permainan (Contoh: Congklak/Dakon).
b. Solitary play
Anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak bermain sendiri
dengan alat permainan yang dimilikinya dan alat permainan tersebut berbeda
dengan alat permainan temannya dan tidak ada kerja sama.
c. Parallel play
Anak menggunakan alat permaianan yang sama, tetapi antara satu anak dengan
anak lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak satu dengan
lainya tidak ada sosialisasi. Biasanya dilakukan anak usia toddler.
d. Associative play
Permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain, tetapi
tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin dan tujuan permaianan tidak jelas (Contoh:
bermain boneka, masak-masak).
e. Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, dan
punya tujuan serta pemimpin (Contoh: main sepak bola).
3. Menurut usia
a. Umur 1 bulan (sense of pleasure play)
1) Visual : dapat melihat dgn jarak dekat
2) Audio : berbicara dgn bayi
3) Taktil : memeluk, menggendong
4) Kinetik : naik kereta, jalan-jalan
b. Umur 2-3 bln
1) Visual : memberi objek terang, membawa bayi keruang yang berbeda
2) Audio : berbicara dengan bayi,memyanyi
3) Taktil : membelai waktu mandi, menyisir rambut
c. Umur 4-6 bln
1) Visual : meletakkan bayi didepan kaca, memebawa bayi nonton TV
2) Audio : mengajar bayi berbicara, memanggil namanya, memeras kertas
3) Kinetik : bantu bayi tengkurap, mendirikan bayi pada paha ortunya
4) Taktil : memberikan bayi bermain air
d. Umur 7-9 bln
1) Visual : memainkan kaca dan membiarkan main dengan kaca serta berbicara
sendiri
2) Audio : memanggil nama anak, mngulangi kata-kata yang diucapkan seperti
mama, papa
3) Taktil : membiarkan main pada air mengalir
4) Kinetik : latih berdiri, merangkap, latih meloncat

e. Umur 10-12 bln


1) Visual : memperlihatkan gambar terang dalam buku
2) Audio : membunyikan suara binatang tiruang, menunjukkan tubuh dan
menyebutnya
3) Taktil : membiarkan anak merasakan dingin dan hangat, membiarkan anak
merasakan angin
4) Kinetik : memberikan anak mainan besar yang dapat ditarik atau didorong,
seperti sepeda atau kereta
f. Umur 2-3 tahun
1) Paralel play dan sollatary play
2) Anak bermain secara spontan, bebas, berhenti bila capek, koordinasi kurang
(sering merusak mainan)
3) Jenis mainan: boneka,alat masak,buku cerita dan buku bergambar
g. Preschool 3-5 thn
1) Associative play , dramatik play dan skill play
2) Sudah dapat bermain kelompok
3) Jenis mainan: roda tiga, balok besar dengan macam-macam ukuran
h. Usia sekolah
1) Cooperative play
2) Kumpul prangko, orang lain
3) Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin
4) Dapat belajar dengan aturan kelompok
5) Laki-laki : Mechanical
6) Perempuan : Mother Role
i. Mainan untuk Usia Sekolah :
1) 6-8 tahun : Kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga, alat untuk melukis,
mencatat, sepeda
2) 8-12 tahun : Buku, mengumpulkan perangko, uang logam, pekerjaan tangan,
kartu, olah raga bersama, sepeda, sepatu roda
j. Masa remaja
1) Anak lebih dekat dengan kelompok
2) Orang lain, musik,komputer, dan bermain drama

I. Bermain di Rumah Sakit


Perawatan di Rumah Sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stress, baik bagi
anak maupun orang tua. Untuk itu, anak memerlukan media yang dapat
mengeskpresikan perasaan tersebut dan mampu bekerja sama degan petugas kesehatan
selama dalam masa perawatan.
Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak di RS akan memberikan
keuntungan sebagai berikut :
1. Meningkatkan hubungan klien dan perawat.
2. Aktivitas beramain yang terpogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.
3. Permainan di RS membantu anak mengekspresikan perasaannya.
4. Permainan yang terapeutik akan membentuk tingkah laku yang positif.
Prinsip – prinsip bermain di rumah sakit :
1. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana.
2. Relatif aman dan terhindar dari infeksi silang.
3. Sesuai dengan kelompok usia.
4. Peramainan tidak boleh bertentangan dengan terapi yang sedang dijalankan.
5. Perlu partisipasi orang tua dan keluarga.
Tekhnik Bermain di Rumah Sakit :
1. Berikan alat permainan untuk merangsang anak bermain sesuai dengan umur
perkembangannya.
2. Berikan cukup waktu dalam bermain dan menghindari interupsi.
3. Berikan permainan yang bersifat mengurangi sifat emosi anak.
4. Tentukan kapan anak boleh keluar atau turun dari tempat tidur sesuai dengan
kondisi anak.
TERAPI BERMAIN MENIUP LIDAH PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DENGAN
PNEUMONIA
A. Deskripsi
Pada usia 3-5 tahun anak sudah mampu mengembangkan kreatifitasnya dan sosialisasi
sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangkan kemampuan
menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan,
menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dan
mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat
ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong.
Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada usia ini seperti benda-benda di
sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat gambar, kertas untuk belajar
melipat, gunting dan air.
Tiupan lidahatau Pursed Lips Breathing (PLB). Juga bisa digunakan sebagai alternatif
untuk membantu mengatasi tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada anak. PLB dapat
meningkatkan ekspansi alveolus pada setiap lobus paru, sehingga tekanan alveolus
meningkatdan dapat membantu mendorong sekret pada jalan napas saat ekspansi dan
dapat menginduksi pola nafas menjadi normal ( Brunner & Sudarth, 2002). Pada
kahirnya diharapkan berdampak terhadap peningkatan status oksigenasi.PLB dapat
dianalogikan dengan aktivitas bermain seperti meniup gelembung busa, balon, bola
kapas, kincir kertas dan lain-lain (Hockenberry & Wilson, 2009).
B. Jenis Permainan
Jenis permainan yang digunakan adalah permainan tiupan dengan menggunanakan balon
atau terompet-teropetan. Balon dan terompet terdiri dari berbagai warna.
C. Tujuan
1. Umum
untuk membantu mengatasi tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada anak dan
kejenuhan saat dirawat
2. Khusus
a. Tujuan untuk anak
1) Anak mengenal benda
2) Anak mampu bermain tiupan dengan baik
3) Anak mampu mengembangkan keterampilan bersosialisasi dengan teman
sebaya
4) Membantu anak agar tenang/ ceria disaat marah atau frustasi
5) Anak mampu mengenal warna
b. Tujuan untuk orang tua
1) Untuk menambah wawasan tentang cara merawat anak dengan pneumonia
2) Untuk menambah wawasan orang tua tentang cara memberikan pendidikan
pada anak dengan cara yang menyenangkan
c. Tujuan untuk perawat
1) Agar perawat mengetahui permainan anak sesuai dengan tahap
perkembangan.
2) Membangun trust antara pasien anak dan perawat.
3) Mampu mengaplikasikan teori terapi bermain pada anak usia 3-5 tahun.
4) Agar perawat mengetahui perkembangan anak usia 3-5 tahun.
5) Melatih kreativitas perawat dalam menentukan jenis permainan yang tepat
bagi anak sesuai tahap perkembangan.

D. Sasaran
Kriteria Pasien
1. Anak usia pra-sekolah (3-5 tahun)
2. Anak kooperatif
3. Anak dengan komunikasi verbal baik
4. Anak yang tidak ada kontra indikasi untuk bermain
E. Setting Ruangan

Keterangan

Leader

fasilitaror

Co-Leader& observer

Orang tua

Tikar

Anak
F. Uraian Tugas Kelompok
1. Leader :Putri Diah
Tugas dari leader dalam terapi bermain ini antara lain:
a. Menjelaskan tujuan pelaksanaan bermain.
b. Menjelaskan peraturan kegiatan sebelum kegiatan dimulai.
c. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok.
d. Mampu Memimpin acara dari awal sampai akhir
2. Co-Leader : Pardi
Tugas co-leader adalah membantu leader dalam jalannya permainan
3. Fasilitator : Dayang & Hikmah
Tugas dari fasilitator dapat berupa:
a. Memfasilitasi anak yang kurang aktif.
b. Berperan sebagai role model bagi anak selama kegiatan berlangsung.
c. Membantu anak bila anak mengalami kesulitan.
d. Mempersiapkan alat dan tempat permainan
4. Observer : Pardi
Tugas dari seorang observer adalah:
a. Mengobservasi jalannya / proses kegiatan.
b. Mencatat perilaku verbal dan nonverbal anak selama kegiatan berlangsung.
c. Memantau kelancaran acara dan perkembangan serta karakteristik anak.

G. Perilaku Anak Yang Diharapkan


 Anak mampu mengekspresikan kreatifitasnya dan imajinasi.
 Anak mengikuti permainan dengan baik sampai selesai dan tidak rewel.
 Anak bersifat kooperatif.
 Anak bisa menikmati dan merasa senang.
 Anak dapat mengenal benda.
 Anak mampu mengembangkan kemampuan gerak halus.
 Anak dapat mengenal warna-warna.
 Anak dapat mengekspresikan perasaan.
 Anak dapat meningkatkan sosialisasi dan kerjasama

H. Alasisa Kondisi Anak


1. Nama : An. R
Usia : 3,5th
Jenis Kelamin :laki-laki
Karakteristik :pneumonia perbaikan
2. Nama : An. D
Usia : 4 tahun
Jenis Kelamin :perempuan
Karakteristik :pneumonia perbaikan
3. Nama : An. A
Usia : 4 tahun
Jenis Kelamin :perempuan
Karakteristik : pneumonia perbaikan
4. Nama :An. F
Usia : 4,5 tahun
Jenis Kelamin :laki-laki
Karakteristik :pneumonia perbaikan
I. Analisa Situasi
Terapi bermain ini dilaksanakan di :
1. Tanggal : 31 mei 2017
2. Jam : 14.00- selesai
3. Tempat : Ruang kamar 1606
4. Jumlah peserta : 4 orang
5. Jumlah perawat : 4 orang
6. Alat yang digunakan : alas tikar, balon, terompetan
J. Rencana Pelaksanaan
1. Pembukaan
a. Persiapan (10 menit)
1) Mempersiapkan alat untuk terapi bermain
2) Mempersiapkan tempat bermain
3) Mempersiapkan anak dan orang tua
b. Perkenalan (5 menit)
1) Leader memperkenalkan anggota kelompok pada anak-anak dan orang tua
2) Leader dan fasilitator membantu anak untuk memperkenalkan diri pada teman-
teman
c. Penjelasan (5 menit)
Menjelaskan cara permainan
2. Pelaksanaan (30 menit)
a. Fasilitator mengenalkan balon dan terompetan berbagai macam warna yang ada
b. Fasilitator memberikan contoh bagaimana cara meniup bola dan terompetan
c. Fasilitator dan anak bersama-sama meniup balon dan terompetan
d. Anak diberi kesempatan untuk berkreatifitas sendiri
e. Memberikan reward kepada anak
3. Evaluasi (5 menit)
a. Evaluasi pelaksanaan oleh leader
b.Evaluasi akhir oleh observer.
c. Evaluasi umum :
1) Keaktifan anak
2) Respon anak
3) Proses bermain
K. Antisipasi Masalah
1. Anak berselisihan
a. Antara anak yang berselisih dilerai.
b. Tanyakan penyebab perselisihan yang terjadi.
c. Jika tidak berhasil libatkan pendamping atau orangtua.
2. Anak menangis
a. Mendekati anak dan menghibur anak.
b. Berusaha menenangkana anak dan memberi mainan.
c. Libatkan pendamping atau orangtua.
3. Anak marah
a. Meredam emosi dengan mengajak anak bercanda.
b. Menanyakan penyebab marah.
4. Anak pasif
Perawat memotivasi anak untuk ikut bermain dengan memberikan pujian.
5. Anak bermain sendiri
a. Anak dibimbing untuk mengikuti permainan.
b. Membujuk anak untuk mau bergabung dengan teman yang lain.
6. Anak ingin BAK / BAB
Membantu anak untuk BAB / BAK dengan mengajaknya ke kamar mandi.