Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. R


DENGAN MASALAH UTAMA GANGGUAN PERSEPSI SENSORI
HALUSINASI PENDENGARAN
DI RUMAH SAKIT KUSUS DAERAH DUREN SAWIT
JAKARTA TIMUR

DISUSUN
OLEH:

KELOMPOK BELIMBING

HANSEN SATRIAWAN
HIKMAH PUJIATI
NURHAYATI
PARDI
PUTRI DIAH KUSUMA
PROFESI KEPERAWATAN JIWA
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah seminar yang berjudul “Asuhan Keperawatan Jiwa
Pada Tn. R dengan Masalah Utama gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran diruang
Belimbing Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit “. Makalah seminar ini merupakan salah
satu bentuk penugasan dalam profesi keperawatan jiwa yang kami laksanakan selama 3 minggu,
dari tanggal 17 April sampai dengan 05 mei 2017.
Penyusunan makalah seminar ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ibu Ns. Jum’atina, S.Kep., M.Kep selaku Kepala Bidang Keperawatan Rumah Sakit Kusus
Daerah Duren Sawit Jakarta Timur.
2. Ibu Ns. Slametiningsih, M.Kep, Sp.KJ selaku Koordinator mata ajar keperawatan jiwa
3. Ibu Ns. Betty Herawati, S.Kep selaku Pembimbing Klinik di RSKD Duren Sawit.
4. Bapak Eman Saepurohman, AMK selaku kepala ruangan ruang Belimbing RSKD Duren
Sawit.
5. Rekan-rekan perawat di ruangan Belimbing RSKD Duren Sawit
6. Teman-teman kelompok 2 yang telah bekerja dan berusaha dengan semaksimal mungkin
untuk menyelesaikan makalah seminar
7. Rekan-rekan seangkatan yang mengikuti profesi keperawatan jiwa yang telah banyak
memberikan dorongan, masukan dan bantuan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya, oleh
karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak.

Jakarta, 05 Mei 2017


Penulis

Kelompok Belimbing
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan jiwa
bukan hanya terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal yang
dibutuhkan oleh semua orang. Kesehtan jiwa adalah perasaaan sehat dan bahagia serta
mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. Serta
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Menkes, 2005).

Menurut Sekertaris Jendral Departemen Kesehatan (Sekjen Depkes) H. Syafii


Ahmad, kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan globalbagi setiap negara
termasuk indonesia. Proses globalisai serta pesatnya kemajuan teknologi informasi
memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial budaya pada masyarakat. Di sisi lain, tidak
semua orang mempunyai ke ampuan yang sama untuk menyesuaikan dengan berbagai
perubahan. Serta mengelola konflik dan stress tersebut (Direktorat Bina Pelayanan
Keperawatan dan Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, 2007).

Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak
permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat. Pada study
terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa ada negara-negara berkembang sekitar 78-
85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat pengobatan apapun pada tahun utama (Hardian,
2008). Masalah gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian
tinggi dibandingan masalah kesehatan lain yang ada di masyarakat.

Dari 150 juta populasi orang dewasa di indonesia, berdasarkan data dari Departemen
Kesehatan (Depkes) ada 1,74 juta mengalami gangguan mentalemosional. Sedangkan, 4%
dari jumlah tersebut terlambat untuk berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan
unatuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong jumlah
penderita gangguan jiwa di dunia semakin meningkat. Diperkirakan sekitar 50 juta atau
25% dari penduduk indonesia mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008).
Berdasarkan grafik kunjungan pasien rawat jalan di rumah sakit jiwa diseluruh
indonesia tercatat adanya peningkatan gangguan jiwa tiap 3 tahunnya. Pada tahun 2005 ada
9.841 pasien, tahun 2006 menjadi 11.675, dan pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi
19.936 pasien

Sebagaimana keadaan krisis ekonomi telah menyebabkan meningkatnya jumlah


penderita gangguan jiwa dan masalah gangguan jiwa terjadi hampir diseluruh negara di
dunia. Berdasarkan hasil survey World Healt Organization (WHO 2007), menyatakan
bahwa tingkat gangguan jiwa di Indonesia cukup tinggi dan hampir diatas rata-rata di
tingkat gangguan kesehatan jiwa di dunia. Halusinasi merupakan salah satu penyakit jiwa
yang sering ditemui dengan tanda dan gejala bicara sendiri, senyum sendiri, menggerakan
bibir tanpa suara, menarik diri dari orang lain, dan diidentifikan dengan skizofrenia, karena
dari 70% pasien skizofrenia diantaranya mengalami gangguan jiwa dengan tanda dan gejala
halusinasi.

Perubahan persepsi halusinasi manusia dalam membedakan antara rangsangan yang


timbul dari sumber internal seperti pikiran, perasaan, sensasi stomatis dengan impuls dan
stimulus eksternal merupakan perubahan persepsi tentang halusinasi. Seseorang yang
mempunyai persepsi sensori yang sehat dapat membedakan antara fantasi dan kenyatan
mereka dalam menggunakan proses pikir yang logis, dapat membedakan dengan
pengalaman dan memvalidasikan serta mengevaluasi secara akurat. Sedangkan seseorang
yang tidak sehat dalam persepsi sensorinya, tidak dapat menggunakan proses pikirnya
secara akurat dalam membedakan mana fantasi, mana kenyataan, dan dirinya tidak mampu
membedakan antara rangsangan yang timbul dari dalam dirinya maupun luar dirinya
( Nasution 2003 ).

Berdasarkan hasil anamnesa pasien yang dirawat dirumah sakit Duren Sawit banyak
yang mengalami halusinasi, berdasarkan hal tersebut maka kami kelompok tertarik untuk
membahas kasus halusinasi dalam seminar kelompok yang sebagai salah satu syarat tugas
untuk menyelesaikan praktek di RSKD Duren Sawit.

A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan asuhan keperawatan dalam mengatasi permasalahan kesehatan masalah
utama Halusinasi.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mampu:
a. Memahami lebih dalam mengenai konsep Halusinasi
b. Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Halusinasi berdasarkan teori
yang ada.

B. PROSES PEMBUATAN MAKALAH


Kelompok praktik di ruang Belimbing selama 15 hari yaitu mulai tanggal 17 April
2017 s/d 05 Mei 2017 dengan metode tim. Selama praktik mahasiswa mengidintifikasi
beberapa klien yang menunjukkan gangguan persepsi sensori: Halusinasi Dengar dan dari
hasil identifikasi kelompok mempunyai kesepakan untuk memilih kasus kelolaan kelompok
adalah dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: Halusinasi Dengar. Kelompok
tertarik dengan kasus yang dialami oleh Tn.R karena kasus yang dialami oleh klien cukup
kompleks. Tn. R masih berusia muda, sering merasa sendiri, malas bergaul, lebih suka
menyendiri, riwayat mendengar suara-suara yang sering mengajak diri pergi, Tn. R merasa
malu dengan kondisinya sekarang karena tidak bisa memberikan penghasilan klien. Hal ini
memacu kelompok untuk melakukan asuhan keperawatan sesuai teori yang ada.
Asuhan keperawatan pada Tn. R dilakukan sejak tanggal 02 mei 2017. Strategi yang
dilakukan kelompok adalah menunjuk salah satu anggota kelompok untuk memulai interaksi
untuk membina hubungan saling percaya dengan klien. Selanjutkanya implementasi dan
evaluasi dilakukan sesuai masalah yang ditemukan secara bergantian oleh anggota kelompok
yang lain. Pada setiap terminasi, tim melakukan tindak lanjut pada klien dan evaluasi oleh
anggota kelompok yang selanjutnya kelompok melakukan diskusi untuk membahas masalah
keperawatan klien untuk dilakukan seminar pada tangggal 05 mei 2017 di Aula RSKD
Duren Sawit.
BAB II
GAMBARAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Tn. R umur 30 tahun anak satu-satunya, pendidikan SI informatika alasan masuk rumah
sakit klien sering marah-marah, gelisah, ngoceh-ngoceh dan tertawa sendiri. Saat pengkajian
diperoleh data klien nampak sering menyendiri,nampak gelisah, mondar- mandir, bicara
sendiri, Kontak mata kurang dan sering menunduk, suara pelan, nampak tegang, malu untuk
berbaur dengan teman yang lainnya , malu karena belum mendapatkan pekerjaan, merasa
sedih sejak karena bapaknya sudah meninggal. Klien mengatakan malas untuk berinteraksi
dengan yang lain. Klien mengatakan sering mendengar suara-suara, suara itu mengajaknya
untuk berjalan terus. Klien anak satu-satunya dalam kelurga, sekarang hanya tinggal bersma
ibunya. Sejak saat itu klien menunjukkan gejala tidak mau keluar rumah, suka marah dan
tersenyum dan tertawa sendiri. Klien sudah 5 kali dirawat, awalnya klien menunjukkan
gejala gangguan jiwa sejak gagal terus dalam mencari pekeraan dan ayahnya meninggal
dunia, Keluarga mengatakan sejak saat itu klien suka menyendiri dan cepat tersinggung.
Klien mengatakan orang terdekat adalah bapaknya dan semenjak bapaknya meninggal orang
terdekatnya ibu. Klien mengatakan malas bergaul dengan orang lain karena tidak nyambung.
Klien mengatakan lebih suka menyendiri. Klien mengatakan dirinya tamatan S1 informatika
dan dirinya merasa malu karena belum ada tempat kerja yang mau menerimanya untuk
bekerja.
Hasil observasi didapatkan data klien selalu tampak duduk menyendiri, tampak bicara
sendiri, senyum-senyum sendiri, tidak mau interaksi dengan orang lain, kontak mata kurang,
bicara lambat dengan suara pelan dan seperlunya, tidak mau memulai pembicaraan, sering
menunduk, sering diam, ekspresi wajah tampak sedih dan menurut data klien putus minum
obat.
B. MASALAH KESEHATAN
1. Gangguan sensori persepsi: halusinasi
Data Subyektif:
- Klien mengatakan sering mendengar suara-suara, suara itu mengajaknya untuk
berjalan terus.
Data Obyektif :
- Klien nampak mondar-mandir, tampak bicara sendiri, senyum-senyum sendiri,
2. Isolasi sosial: Menarik diri
Data Subyektif:
- Klien mengatakan lebih suka menyendiri.
- Klien mengatakan malu untuk berbaur dengan teman yang lainnya
Data Obyektif :
- Kontak mata kurang
- Klien tampak sering menyendiri
- Tidak nampak jarang berinteraksi dengan orang lain.
- klien selalu tampak duduk menyendiri
3. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah
Data Subyektif:
- Klien mengatakan malu untuk berbaur dengan teman yang lainnya
- malu karena belum mendapatkan pekerjaan
Data Obyektif :
- Klien nampak sering menunduk,
- Suara pelan,
- Kontak mata kurang
4. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif,
Koping keluarga inefektif
Data Subyektif:
- Klien mengatakan dirawat yang kelima kali
- Klien mengatakan tidak teratur minum obat saat dirumah klien.
Data Obyektif :
- Menurut data klien putus minum obat
C. POHON MASALAH DAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Pohon Masalah

Resiko perubahan sensori persepsi:


halusinasi

Penatalaksanaan regimen terapeutik


inefektif
Isolasi sosial :menarik diri

Gangguan konsep diri: harga diri


rendah
Koping keluarga inefektif:

2. Diagnosa keperawatan
1) Perubahan sensori persepsi: halusinasi
2) Isolasi sosial: menarik diri
3) Harga diri rendah
4) Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif
5) koping keluarga inefektif: Resiko Perilaku Kekerasan
BAB III
LANDASAN TEORI

A. PROSES TERJADINYA MASALAH


Halusinasi merupakan persepsi terhadap stimulus dari luar tanpa obyek nyata dari
dunia luar. Hal itu memungkinkan mempengaruhi pemikiran mereka mencakup perasaan
merasa mendengar, melihat, membau, meraba atau merasa. Klien akan membuka persepsi
didalam pemikirannya sehingga memungkinkan memaksa klien untuk mempercayainya
daripada kenyataan dari luar. Hal yang sangat penting untuk diingat bahwa halusinasi
terlihat sangat nyata bagi klien dan klien mungkin melihat halusinasi sebagai kenyataan dan
mengingkari kenyataan lingkungan sekitarnya atau orang-orang sekitarnya (Judith and
Sheila, 1998 : 113)
Halusinasi adalah suatu sensori persepsi terhadap sesuatu hal tanpa stimulus dari luar.
Haluasinasi merupakan pengalaman terhadap mendengar suara Tuhan, suara setan dan suara
manusia yang berbicara terhadap dirinya, sering terjadi pada pasien skizoprenia. (Stuart and
Sundeen, 1995 : 501)
Halusinasi yang sering terjadi pada gangguan persepsi sensori adalah halusinasi
akustik (auditorik). Halusinasi ini sering berbentuk :
1. Akoasma : Suara-suara yang kacau balau yang tidak dapat dibedakan dengan jelas.
2. Phonema : Suara-suara yang berbentuk suara jelas yang berasal dari manusia,
sehingga klien seperti mendengar suara tertentu.
Halusinasi pendengaran merupakan halusinasi yang paling umum. Lien bisa
mendengar suara seperti suara Tuhan, suara setan atau suara orang-orang terdekat yang
diterima sebagai suatu yang berbeda dari pemikiran klien.

Respon perilaku klien dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon yang


berhubungan dengan fungsi neurobiologik. Perilaku yang dapat diamati dan mungkin
menunjukkan adanya halusinasi disajikan dalam table berikut (Stuart and Sundeen, 1998 :
302)
RENTANG RESPONS NEUROBIOLOGIK

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Pikiran logis Pikiran kadang menyimpang Kelainan pikiran/delusi


Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dgn Reaksi emosional berlebihan Ketidakmampuan untuk
pengalaman mengawali emosi
Perilaku sesuai hub. Perilaku ganjil (tidak lazim) Ketidakteraturan
sosial Menarik diri Isolasi social.

FAKTOR PREDISPOSISI
1. Biologis
Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurobiologik yang maladaptive yang baru
mulaidipahami (Stuart and Sundeen, 1998 : 305)
2. Psikologis
Teori psikodinamika untuk terjadinya respon neurobiologik yang maladaptive belum
didukung oleh penelitian. Sayangnya, teori psikologik terdahulu menyalahkan keluarga
sebagai penyebabgangguan ini.
Sehingga menimbulkan kurangnya rasa percaya diri keluarga terhadap tenaga kesehatan
jiwa professional. (Stuart and Sundeen, 1998 : 309-310)
3. Social budaya
Stress yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan skizofrenia dan gangguan
psikotik lain tapi tidak diyakini sebagai penyebab utama gangguan.
(Stuart and Sundeen, 1998 : 309-310)
4. Organik
Gangguan orientasi realitas muncul karena kelainan organic yang mana bisa disebabkan
infeksi, racun, trauma atau zat-zat substansi yang abnormal sera gangguan metabolic masuk
didalamnya. (Shiver, 1998 : 2002)
FAKTOR PRESIPITASI
Menurut Stuart and Sundeen, 1998 hal.310, factor presipitasi halusinasi adalah sebagai
berikut :
1. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan resp[on neurobiologik yang maladaptive
termasuk :
• Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengtur proses informasi.
• Abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan
ketidakmampuan secara selektif menanggapi rangsangan.
2. Stres lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang terhadap toleransi stress yang berinteraksi dengan
steressor lingkungan untuk menentukkan terjadinya gangguan perilaku.
3. Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologik yang maladaptive
berhubungan dengan kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku individu.

Masalah keperawatan yang bisa muncul pada klien dengan halusinasi yaitu: 1). Resiko
perilaku kekerasan, 2). Gangguan konsep diri: harga diri rendah, 3). Defisit perawatan
diri kebersihan diri. 4) . managemen regimen terapi inefektif 5)koping keluarga inefktif

B. TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori :Halusinasi
Tujuan khusus :
1. Membina hubungan saling percaya
Tindakan keperawatan :
- Sapa klien dengan ramah baik verbal/non verbal
- Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan
- Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien
- Buat kontrak yang jelas
- Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaks
- Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya
- Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
- Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
- Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien
2. Klien dapat mengenal halusinasinya (mengidentifikasi jenis, isi, waktu, frekuensi,
perasaan, situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi serta respon klien
terhadap halusinasi )
Tindakan keperawatan :
- Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
- Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya
- Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri
kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
- Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut
- Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati
halusinasinya
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
- Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi
halusinasi
- Diskusikan cara yang digunakan klien (jika cara yang digunakan adaptif beri
pujian, jika mal adaptif diskusikan kerugian cara tersebut)
- Ajarkan klien cara mengontrol halusinasi ( menghardik, bercakap-cakap, aktifitas
dan obat)
- Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk mencobanya
- Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih
- Anjurkan dan bantu klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
- Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri pujian

2. Isolasi sosial : menarik diri


Tujuan khusus :
1. Membina hubungan saling percaya
Tindakan keperawatan:
Sapa klien dengan ramah baik verbal/non verbal
Perkenalkan diri dengan sopan
Tanyakan nama klien dengan nama lengkap serta nama yang disukai klien
Jelaskan tujuan pertemuan
Jujur dan menepati janji
Menunjukkan sikap empati, menerima klien apa adanya
Beri perhatian pada klien dan kebutuhan dasarnya
2. Mengidentifikasi penyebab menarik diri
Tindakan keperawatan:
Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
Berikan kesempatan kepada klien untuk megungkapkan perasaan penyebab
menarik diri.
Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tanda serta
penyebab menarik diri yang muncul
Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain
Tindakan keperawatan:
Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan
orang lain
Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
Beri reinforcement positif terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaan tentang keuntungan berhubungan denganorang lain
Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian
bila berhubungan dengan orang lain
Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
kerugian berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
Tindakan keperawatan:
- Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
- Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap:
K–P
K – P – P lain
K – P – P lain - K lain
K – Kel / Klp
- Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
- Bantu klien mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang
- Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu
- Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
- Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam ruangan
- Klien dapat mengungkapkan perasaanya setelah berhubungan dengan orang lain
Tindakan keperawatan:
- Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan
dengan orang lain
- Diskusikan dengan klien tentang perasaan, manfaat berhubungan dengan
orang lain
- Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan
manfaat berhubungan dengan orang lain

C. Gangguan konsep diri: harga diri rendah


Tujuan khusus :
1. Membina hubungan saling percaya
Tindakan keperawatan:
- Sapa klien dengan ramah baik verbal/non verbal
- Perkenalkan diri dengan sopan
- Tanyakan nama klien dengan nama lengkap serta nama yang disukai klien
- Jelaskan tujuan pertemuan
- Jujur dan menepati janji
- Menunjukkan sikap empati, menerima klien apa adanya
- Beri perhatian pada klien dan kebutuhan dasarnya
2. Mengidentifikasi kemampuan aspek positif yang dimiliki
Tindakan keperawatan:
- Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
- Setiap bertemu klien hindari dari memberi penilaian negatif
- Utamakan memberikan pujian yang realistik
3. Menilai kemampuan yang digunakan
Tindakan keperawatan:
- Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
- Diskusikan kemampuan yang masih dapat dilanjutkan pengguanaanya
4. Merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan keperawatan:
- Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan:
- Kegiatan mandiri
- Kegiatan dengan bantuan
- Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
5. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
6. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
- Melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan keperawatan:
- Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah dilakukan
- Beri pujian atas keberhasilan klien
- Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah

D. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif ,


Tujuan khusus :
Managemen regimen terapeutik tidak efektif teratasi
Tindakan keperawatan:
1. Bina hubungan saling percaya
2. Kaji pengetahuan klien tentang penyakit,pengobatan
3. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, warna, dosis,
cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan obat.
4. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
5. Motivasi pasien untuk meminum obat secra teratur
6. Pantau klien saat penggunaan obat
7. Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar
8. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter atau perawat jika terjasi hal-hal yang
tidak diinginkan
BAB IV
PELAKSANAAN TINDAKAN

1. Perubahan sensori persepsi: halusinasi dengar.


Tujuan umum:
Klien dapat mengontrol halusinasinya.
Tindakan yang telah dilakukan:
- Membina hubungan saling percaya
- Mengidentifikasi halusinasi (jenis, isi, waktu, frekuensi, situasi yang menimbulkan
halusinasi, respon terhadap halusinasi)
- Mengajarkan klien cara mengontrol halusinasi (menghardik, bercakap-cakap, aktifitas
dan obat)
- Menganjurkan dan membantu klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
- Mengajurkan melakukan cara mengontrol halusinasi bila muncul
Evaluasi:
Klien sudah bisa mempraktekkan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik,
bercakap-cakap, aktifitas dan obat, klien sudah jarang mendengar suara-suara lagi, klien
mengatakan senang karena sudah tidak mendengar suara suara itu lagi, sudah tidak nampak
mondar-mandir maupun bicara sendiri
Rencana tindak lanjut untuk klien adalah mengingatkan , memotivasi dan memberi
dukungan kepada klien untuk meminum obat teratur, melatih cara mengontrol halusinasi.
Dan menganjurkan mengontrol halusinasi bila halusinasinya muncul lagi Sedangkan untuk
perawat adalah mendiskusikan dengan klien untuk menyusun jadwal kegiatan yang dapat
dilakukan selama di rumah sakit, memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga saat
berkunjung ke rumah sakit tentang cara merawat klien dengan halusinasi.
2. Isolasi sosial : menarik diri
Tujuan umum:
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tindakan keperawatan yang
dilakukan adalah:
- Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
- Mendiskusikan kepada klien keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian
tidak berinteraksi dengan orang lain
- Mengajarakan kepada pasien cara berkenalan dengan orang lain (1 orang, 2 orang atau
lebih)
- Membantu klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
- Mengevaluasijadwal kegiatan harian klien
- Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien
Evaluasi:
Klien sudah mau berkenalan dengan orang lain, dan mulai berbaur dengan temannya
sudah nampak jarang jarang menyendiri.
Rencana tindakan lanjut terhadap klien adalah mengaanjurkan klien berkenalan dengan
denman yang lainnya lagi dan memberi dorongan dan pujian . Sedangkan untuk perawat
adalah mendiskusikan dengan klien untuk menyusun jadwal kegiatan yang dapat dilakukan
selama di rumah sakit, memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga saat berkunjung
ke rumah sakit tentang cara merawat klien dengan isolasi sosial.
3. Harga diri rendah
Tujuan umum: klien memiliki diri yang positif
Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan
- Membina hubungan saling percaya
- Mengidentifikasi kemampuan aspek positif yang dimili
- Menilai kemampuan yang digunakan
- Merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
- Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
- Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
- Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien
Evaluasi
Klien mengatakan masih ada rasa malu dengan kondisinya sekarang ini, sudah jarang
menunduk
Rencana tindak lanjut menganjurkan klien untuk melakukan kegiatan lain yang dapat
dilakukan dirumah sakit Sedangkan untuk perawat adalah mendiskusikan dengan klien
untuk menyusun jadwal kegiatan yang dapat dilakukan selama di rumah sakit, memberikan
pendidikan kesehatan kepada keluarga saat berkunjung ke rumah sakit tentang cara merawat
klien dengan harga diri rendah

4. Penatalaksaan regimen terapeutik inefektif


Tujuan umum:
Keluarga dapat merawat klien yang mengalami gangguan jiwa sehingga penatalaksanaan
regimen terapeutik efektif.
Tindakan keperawatan yang telah dilakukan:
1. Bina hubungan saling percaya

2. Kaji pengetahuan klien tentang penyakit,pengobatan

3. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, warna,
dosis, cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan obat.

4. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter

5. Motivasi pasien untuk meminum obat secra teratur

6. Pantau klien saat penggunaan obat

7. Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar

8. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter atau perawat jika terjasi hal-hal
yang tidak diinginkan
Evaluasi:
Klien sudah mengetahui manfaat minum obat teratur dan dan kerugian tidak minum obat
teratur dan klien mengatakan akan minum obat teratur karena klien ingin cepat sembuh.
Rencana tindak lanjut yaitu, motivasi klien minum obat, beri pujian serta panjau dalam
mengkonsumsi obat.
BAB V
PEMBAHASAN
Tn. “R” mempunyai masalah utama gangguan persepsi sensori halusinasi hal ini sesuai
dengan data yang ditemukan pada tn. “R” Klien mengatakan sering mendengar suara-suara,
suara itu mengajaknya untuk berjalan terus, Klien nampak mondar-mandir, tampak bicara
sendiri, senyum-senyum sendiri.setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari klien
halusinasinya sudah jarang muncul, dan klien sudah tidak terlihat mondar-mandir maupun
bicaras endiri serta klien sudah mampu latihan cara mengontrol halusinasinya.

Hambatan yang ditemukan selam berinteraksi dengan klien terjadi hanya pada pertemuan
awal klien masih nampak malu namun kooperatif dan dilakukan pendekatan (BHSP) di
pertemuan kedua tidak ada habatan lagi dalam berinteraksi jadi tidak ada hambatan yang berarti
dalam melakukan asuhan keperwatan perdiagnosis klien.
BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Halusinasi merupakan persepsi terhadap stimulus dari luar tanpa obyek nyata dari
dunia luar. Hal itu memungkinkan mempengaruhi pemikiran mereka mencakup perasaan
merasa mendengar, melihat, membau, meraba atau merasa. Klien akan membuka persepsi
didalam pemikirannya sehingga memungkinkan memaksa klien untuk mempercayainya
daripada kenyataan dari luar. Hal yang sangat penting untuk diingat bahwa halusinasi terlihat
sangat nyata bagi klien dan klien mungkin melihat halusinasi sebagai kenyataan dan
mengingkari kenyataan lingkungan sekitarnya atau orang-orang sekitarnya (Judith and
Sheila, 1998 : 113). Halusinasi adalah suatu sensori persepsi terhadap sesuatu hal tanpa
stimulus dari luar. Haluasinasi merupakan pengalaman terhadap mendengar suara Tuhan,
suara setan dan suara manusia yang berbicara terhadap dirinya, sering terjadi pada pasien
skizoprenia. (Stuart and Sundeen, 1995 : 501)

Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah halusinasi adalah membina


hubungan saling percaya, mengindentifikasi halusinasi (jenis, isi, waktu, frekuensi, respon),
mengajarkan klien cara mengontrol halusinasi (menghardik, bercakap-cakap, aktifitas dan
obat), menganjurkan dan membantu klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian dan
mengajurkan melakukan cara mengontrol halusinasi bila muncul. Pada klien Tn. “R”
denagan masalah gangguan persepsi sensori halusinasi dalam pelaksanaan asuhan
keperaatan tidak ada hambatan yang berarti karena klien kooperatif hanya diaeal pertemuan
saja pasien masih agak malu
B. SARAN
Dalam rangka meningkatkan dan memperbaiaki mutu asuhan keperawatan jiwa pada klien
dengan masalah utama gangguan persepsi sensoi :halusinasi adalah:
1. Bagi klien
Mendorong klien untuk selalu berhubungan dengan orang lain secara bertahap baik
dengan klien lain, perawat dan keluarga , melatih cara mengntrol halusinasi dan minum
obat teratur
2. Bagi keluarga
Memberikan motivasi dan dukungan kepada klien dan memperoleh informasi tentang
perawatan klien selama dirawat dan seandainya pulang.
3. Bagi perawat
Lakukan kontak sering dan singkat, perhatikan dan penuhi kebutuhan klien. Lakukan
pendokumentasian dan delegasikan pencapaian kemampuan klien kepada perawat
ruangan sehingga asuhan keperawatan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, B.A. (1998). Kumpulan proses keperawatan masalah keperawatan jiwa: asuhan klien
gangguan hubungan sosial; menarik diri. Bagian Keperawatan Jiwa Komunitas FIK-UI.
Tidak dipublikasikan
Rawlins, P.R. & Haecock, P.E. (1993). Clinical manual of psychiatric nursing. 2nd Ed.
Philadelphia: Mosby-year Book, Inc.
Stuart, G.W. & Sundeen, S.J. (1998). Buku saku keperawatan jiwa. 3nd Ed. Jakarta: EGC