Anda di halaman 1dari 20

BAB I

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN :

Nama : Ny. BSN

Umur : 20 tahun 7 bulan 15 hari

Alamat :Dsn.Banci Kel.Balongpanggan Kec.Balongpanggang

Gresik

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Tanggal Periksa : 29-10-2017

No RM : 657074

ANAMNESA :

Keluhan utama : Ada benjolan di vagina

Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengatakan terdapat benjolan di vagina

sedang hamil 5 bulan, plentingan ada sejak hamil 1

bulan di sebelah kanan 1 dan sebelah kiri 1 namun

tambah lama tambah banyak dan bergerombol.

1
Terdapat keputihan (+), perih (+), nyeri (+), bau (+),

nyeri (+), kemeng (+), gatal (+).

Riwayat penyakit dahulu : Tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelum

menikah, mengalami keluhan seperti ini setelah

menikah 3 bulan dari pernikahan.

Gastritis (+)

Alergi makanan atau obat-obatan disangkal

HT disangkal

DM disangkal

Riwayat penyakit keluarga : Suami mengeluh gatal-gatal di genital

HT disangkal

DM disangkal

Riwayat pengobatan : Memakai abotil, isoprinosine

Riwayat social : Pasien tidak pernah berhungan intim sebelum

menikah. Pertama kali berhubungan setelah

menikah.

2
PEMERIKSAAN FISIK :

Status Generalis

Keadaan umum : Cukup

Kesadaran : Composmentis

GCS : 456

Tekanan Darah :120/70

Nadi : 100x/menit

Suhu : 37,5 0 C

Respiration Rate : 20x/menit

Kepala / leher :

Rambut : normal

Mata : isokor, Anemis -/-, Ikterus -/-

Telinga : normal

Hidung : normal, dypsneu –

Mulut : normal, sianosis -, bibir kering -, lidah kotor –

Leher : pembesaran kelenjar getah bening -,

peningkatan JVP -, deviasi trakea –

3
Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas :

Superior : akral hangat +/+ , oedem -/-,

inferior : akral hangat +/+, oedem -/-

Status Lokalis

Pada gambar 1 di labium mayor et sinistra inferior ditemukan gerombolan papul


berkonfluen dengan permukaan verukosa, berwarna sesuai warna kulit sebagian
eritema, tidak mudah berdarah.

Gambar 1. Efluoroescence pasien (Sumber: File Pribadi 7/11/17)

4
Gambar 2. Efluoroescence pasien (Sumber: File Pribadi 4/12/17)

Pada gambar 2 merupakan gambaran setelah dilakukan tindakan kauterisasi dan

pemberian TCA 80%, tampak papul dengan permukaan verukosa.

PEMERIKSAAN PENUNJANG :

1. Tes asam asetat

2. Kolposkopi

3. Pemeriksaan histologi

4. Pemeriksaan dermoskopi

5. Identifikasi HPV

5
DIAGNOSA BANDING

1. Pearly penile papules

2. Kondiloma latum

3. Karsinoma sel skuamosa

PENATALAKSANAAN

A. Medikamentosa

 Tingtura Podofilin 25%

 Podofilotoksin 0,5%

 Asam Trikloroasetat 80-90%

 5 fluorourasil

 Bedah listrik

 Bedah skalpel

 Bedah beku

 Interferon

 Imunoterapi

B. Non medikamentosa

 Konseling penyakit dari resiko tertular HIV

 Obati pasangan seksual pasien

 Kunjungan ulang 3-7 hari setelah terapi

6
C. KIE

 Jaga Kebersihan kulit

 Menjaga kelembapan; fluor albus (-)

 Sirkumsisi

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Kondiloma akuminata (KA) adalah lesi proliferasi jinak yang disebabkan

oleh human papillomavirus (HPV) terutama tipe 6 dan 11, yang dapat

ditemukan pada 90%-95% kasus. Keadaan ini umumnya ditemukan pada

membran mukosa atau kulit genitelia eksterna atau di daerah perianus. Lesi

umumnya berbentuk serupa kembang kol.1

B. Etiopatogenesis

C. Faktor Resiko

D. Gambaran Klinis

Masa inkubasi kondiloma akuminata berkisar antara 2 minggu

hingga 9 bulan dengan median 3 bulan. Secara umum, kelainan fisik mulai

kira-kira 2-3 bulan sesudah kontak. Umumnya kondiloma akuminatum tidak

menimbulkan keluhan namun bentuknya dapat menyebabkan stress psikologis.

Kulit di daerah perianus, dapat menyebabkan iritasi dan nyeri. Kutil di daerah

uretra dapat menganggu aliran urin. Bila terdapat kutil di daerah anus, uretra

dan serviks, dapat pula menimbulkan pendarahan.

Lesi dapat bertangkai atau melekat di dasar (sesile) dan kadang-

kadang berpigmen. Terdapat 3 bentuk klinis kondiloma akuminata, yaitu :

8
bentuk akuminata, bentuk keratotik, dan bentuk papul. Bentuk akuminata, tidak

berkeratin sehingga lunak, berbentuk seperti kembang kol, terutama dijumpai

di daerah mukosa yang hangat, lembab dan tidak berambut. Bentuk keratotik,

karena berkeratin, menyerupai kutil biasa, umumnya dijumpai di daerah yang

kering, yaitu di kulit anogenital. Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah

dengan keratinasi sempurna, yaitu di batang penis, bagian lateral vulva, daerah

perineum dan perianus. Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus

dan licin, bisa satu atau beberapa, dan tersebar diskrit. Infeksi subklinis dapat

terlihat sebagai bercak putih (positif acetowhite) setelah dilakukan tes asam

asetat 5%.1

Terdapat bentuk lain berupa kondiloma akuminata yang besar (giant

condyloma of Buschke-Lowenstein), menyerupai kutil yang sangat besar,

namun menginvasi hingga dermis dan jaringan bawahnya. Bermula sebagai

papul keratotik yang berkembang menjadi lesi seperti kembang kol. Umumnya

dihubungkan dengan HPV tipe 6 dan 11. Paling sering terdapat di glans penis,

namun dapat berlokasi di semua bagian penis, skrotum, vulva, vagina, rectum,

dan vesika urinaria. Bentuk ini tidak bermetastesis, namun dapat mengalami

transformasi menjadi ganas (karsinoma verukosa) pada 50% kasus. Diagnosis

ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Meskipun dieksisi secara

utuh, tetap dapat rekuren.1

9
E. Diagnosa Banding

Kondiloma akuminata harus dibedakan dari semua kelainan berbentuk

papul di daerah genital, baik lesi karena variasi anatomis, infeksi, maupun

neoplasma jinak dan ganas lain, yaitu :

1. Pearly penile papules

Secara klinis tampak sebagai papul berwarna sama dengan kulit

sekitarnya, kadang sedikit lebih putih, berukuran 1-2 mm, tersebar diskrit,

mengelilingi sulkus koronarius. Papul-papul ini merupakan varian anatomis

normal dari kelenjar sebasea, sehingga tidak perlu diobati.1

2. Kondiloma lata

Merupakan salah satu bentuk klinis sifilis stadium sekunder. Lesi

berupa papul-papul dengan permukaan yang lebih halus dan bentuknya

lebih bulat dibandingkan kondiloma akuminata, terdapat di daerah lipatan

yang lembab, misalnya anus dan vulva.1

3. Karsinoma sel skuamosa

Kadang-kadang sulit dibedakan dengan kondiloma akuminata. Pada

lesi yang tidak menunjukkan respon terhadap pengobatan untuk kondiloma

akuminata, perlu dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk memastikan

diagnosis.1

10
F. Pemeriksaan Penunjang

1. Tes asam asetat

Tes ini dilakukan dengan aplikasi larutan asam asetat 5% pada lesi

yang dicurigai. Dalam waktu 3-5 menit, lesi akan berubah warnya menjadi

putih (acetowhite). Lesi di daerah perianus, memerlukan waktu lebih lama

untuk berubah warna, dapat sampai 15 menit. Pemeriksaan ini tidak spesifik

bagi infeksi HPV, serta spesifisitas dan sensitivitasnya untuk skrining belum

dapat ditentukan. Penggunaan rutin pemeriksaan dengan asam asetat untuk

skrining mendeteksi infeksi HPV tidak dianjurkan, namun beberapa klinisi

yang berpengalaman dalam tatalaksana kondiloma akuminata berpendapat

bahwa tes asam asetat ini berguna untuk mendeteksi kondiloma

akuminatum bentuk datar (flat) atau subklinis.1

2. Kolposkopi

Merupakan cara pemeriksaan dengan menggunakan alat

pembesaran optik (koloskop) untuk melihat serviks dan traktus genitelia

interna bagian bawah wanita agar bila terdapat kelainan akan tampak lebih

jelas. Pemeriksaan ini terutama untuk melihat lesi yang bersifat subklinis,

dan ladang-kadang dilakukan bersama dengan tes asam asetat. Aplikasi

larutan asam asetat 3-5% membantu memperjelas kelainan. Perubahan

warna menjadi putih menjadi acuan klinisi untuk tempat pengambilan

spesimen biopsi.1

3. Pemeriksaan histopatologi

11
Biopsi tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan penunjang rutin pada

kondiloma akuminata. Terdapat berbagai keadaan yang menjadi indikasi

perlu pemeriksaan biopsi dan histopatologi, yaitu bentuk lesi yang khas, lesi

tidak responsif terhadap terapi, dan kecurigaan kearah keganasan. Ditandai

dengan pigmentasi, pertumbuhan cepat, fiksasi terhadap struktur

dibawahnya, pendarahan, dan ulserasi spontan. Indikasi lain adalah pasien

imunokompromais berusia lebih dari 40 tahun, serta lesi kondiloma

akuminata pada serviks. Secara mikroskopis, lesi kondiloma akuminata

ditandai dengan gambaran koilosit, yaitu keratinosit berukuran besar dengan

area halo atau vakuolisasi perinuklear. Sel dengan inti hiperkromatik juga

dapat ditemukan. Pada epidermis terdapat akantosis, parakeratosis, dan rete

ridges memanjang. Pada stratum basalis dapat ditemukan peningkatan

aktivitas mitosis. Pada dermis dapat ditemukan papilomatosis dan sebukan

sel radang kronik.1

4. Pemeriksaan dermoskopi

Saat ini semakin banyak dilaporkan penggunaan dermoskopi untuk

memeriksa lesi kondiloma akuminata. Alat dermoskop dapat mendiagnosis

kondiloma akuminata bahkan pada lesi awal. Dapat pula membantu

membedakan kondiloma dengan lesi liken planus, keratosis seboroik, atau

papulosis bowenoid. Lesi kondiloma akuminata dengan alat dermoskop

menunjukkan gambaran pola vaskuler dan gambaran yang khas, berupa pola

mosaik pada lesi awal yang masih datar dan pola menyerupai tombol

(knoblike); serta menyerupai jari (fingerlike) pada lesi yang papilomatosa.

12
Pemeriksaan dermoskopi merupakan pemeriksaan noninvasif yang relatif

nyaman bagi pasien. Keterbatasan penggunaan pada kondiloma akuminata,

terutama berhubungan dengan higiene. Pemeriksaan dilakukan pada daerah

genitelia dan terdapat kemungkinan transmisi virus melalui kontak lensa

dermoskopi. Teknik asepsis antisepsis yang adekuat diperlukan untuk

mencegah transmisi.1

5. Identifikasi genom HPV

Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk diagnosis infeksi HPV

anogenital secara rutin, karena hasil pemeriksaan tidak akan mengubah

tatalaksana penyakit. Seseorang dapat terinfeksi oleh lebih dari 1 tipe HPV.

Lesi kondiloma akuminata umumnya merupakan manifestasi infeksi HPV

tipe resiko rendah, namun tidak menyingkirkan kemungkinan ko-infeksi

dengan HPV tipe resiko tinggi. Sediaan untuk identifikasi genom HPV

dapat diperoleh dari lesi pada penis, anus, vagina dan rongga mulut.

Pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) mampu mendeteksi DNA

HPV dengan tingkat sensitivitas dan spesifitas tinggi. Identifikasi genom

HPV memerlukan probe yang spesifik terhadap tipe HPV. Uji deteksi yang

terbatas pada HPV tipe resiko rendah saja tidak memberikan banyak

manfaat. Jenis pemeriksaan genom HPV bermacam-macam, yaitu : yang

mampu membedakan tipe resiko tinggi dengan resiko rendah, misalnya The

hybrid capture II HR dan Cervista HPV HR; dan jenis yang dapat

mengidentifikasi berbagai tipe HPV yang menginfeksi genitelia secara

13
spesifik, misalnya Inno Lipa dan The Linear Array HPV genotyping test.1

G. Tatalaksana

Pilihan obat berdasarkan keadaan lesi, yaitu jumlah, ukuran, dan

bantuk, serta lokasi. Cara pengobatan dapat dibagi atas pengobatan yang

dilakukan oleh pasien (home-patient-applied-treatment) dan pengobatan oleh

dokter (physician-apllied-treartment).2

1. Kemoterapi

 Tinktura podofilin 25%

Aplikasi dilakukan oleh dokter,tidak boleh oleh pasien

sendiri. Kulit di sekitarnya dilindungi dengan vaselin agar tidak

terjadi iritasi, dan dicuci setelah 4-6 jam. Jika belum ada

penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari. Setiap kali pemberian

jangan melebihi 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik.

Gejala intoksikasi berupa mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan

alat nafas, dan keringat yang disertai kulit dingin. Dapat pula

terjadi supresi sumsum tulang yang disertai trombositopenia dan

leukopenia. Obat ini jangan diberikan pada wanita hamil karena

dapat terjadi kematian fetus.

Cara pengobatan dengan pedofilin ini sering dipakai.

Hasilnya baik pada lesi yang baru, tetapi kurang memuaskan pada

lesi yang lama atau yang berbentuk pipih.2

14
 Asam triklorasetat (trichloroacetic acid atau TCA) konsentrasi 80-

90%

Asam trikloroasetat (TCA) merupakan zat yang bersifat

kaustik dan dapat mengikis kulit dan membrana mukosa.

Mekanisme kerja TCA adalah dengan cara koagulasi protein yang

menyebabkan terjadi kekeringan sel dan jaringan sehingga dapat

mengakibatkan terjadinya destruksi yang berat pada kondiloma.

Asam trikloroasetat dinyatakan aman digunakan pada kehamilan

karena tidak diabsorbsi secara sistemik. Zat ini dapat diaplikasikan

langsung ke permukaan lesi dengan lidi/kapas lidi aplikator

dibiarkan hingga kering dan terjadi frosting.5 Pengobatan diulang

setelah satu minggu.1 Tingkat keberhasilan TCA untuk terapi

kondiloma adalah 56-81% dengan tingkat rekurensi 36%. Terapi

dengan TCA mempertimbangkan tingkat keamanan dibanding

alternatif terapi yang lain, ketersediaan modalitas terapi dan biaya

yang lebih murah. Selain itu didapatkan hasil yang memuaskan dan

tidak ada efek samping pada pasien dan janin.5

 5-fluorourasil

Konsentrasinya antara 1-5% dalam krim, dipakai terutama

pada lesi di meatus uretra. Pemberiannya setiap hari oleh pasien

sendiri sampai lesi hilang. Pasien dianjurkan untuk tidak miksi

selama 2 jam setelah pengobatan.2

15
2. Interferon.3

 Bentuk sediaan : injeksi (im,intralesi), topikal (krim)

 Interferon alfa 5-6 Mu IM 3 kali seminggu selama 6 minggu atau

1-5 Mu selama 6 minggu

 Interferon beta 2x106 U IM selama 10 hari.

3. Imunoterapi

Jika lesi luas dan resistensi terhadap pengobatan tambahan

imunostimulator. Krim imiquimod dioleskan 3 kali seminggu,

maksimal 16 minggu, dicuci setelah 6-8 jam.3

4. Tata laksana bedah.3

 Bedah listrik (elektrokauterisasi)

 Bedah skalpel

 Bedah cair (N2 cair, N2O cair)

 Bedah laser (laser CO2), luka lebih cepat sembuh dengan sedikit

jaringan parut.

Tatalaksana Nonfarmakologi.3

 Konseling penyakit resiko tertular HIV

16
 Obati pasangan seksual pasien

 Kunjungan ulang 3-7 hari setelah terapi

H. Prognosis

Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Perbaiki

faktor presdisposisi misalnya higiene, flour albus, atau kelembapan pada laki-

laki akibat tidak disirkumsisi, atau keadaan imunosupresi.2

17
BAB III

PEMBAHASAN

Kondiloma akuminata adalah penyakit menular seksual yang disebabkan

oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 dengan kelainan berupa

fibroepitelioma pada kulit dan mukosa.4 Lesi berbentuk papilomatosis, dengan

permukaan verukosa.2 Namun pada Ny.BSN tidak dilakukan pemeriksaan genom

untuk memastikan tipe HPV yang menyebabkan kondiloma akuminata.

Faktor resiko kondiloma akuminata karena higiene kurang, terdapat fluor

albus dan laki-laki tidak disirkumsisi sehingga lembab.5 Selain itu, kondisi imun

seseorang yang menurun seperti pada penderita HIV, transplamtasi organ tubuh,

serta pada kondisi hamil akan mempengaruhi pertumbuhan dari lesi kondiloma

akuminata .3

Lesi kondiloma akuminata umumnya memburuk secara progresif dalam

keadaan hamil dan akan cepat sembuh dengan berakhirnya kehamilan. Faktor yang

mendasari progresif ini adalah efek hormon selama kehamilan, peningkatan aliran

darah, dan penurunan respon imun secara umum. Pasca kehamilan, lesi KA

umumnya akan mengalami regresi. Terapi perlu dilakukan pada wanita yang ingin

menjalani prosedur persalinan normal. Beberapa KA dapat dilakukan selama

kehamilan adalah aplikasi larutan TCA 80-90% oleh karena aman untuk ibu hamil

dan janin karena tidak diabsorbsi secara sistemik, elektrokauterisasi, bedah beku,

eksisi, dan laser. Namun, laser CO2 dan elektrokauterisasi dapat menyebabkan

18
perdarahan yang berat pada 33% pasien bila dilakukan pada kehamilan, serta dapat

menimbulkan infeksi dan nekrosis jaringan yang berat. Sedangkan laser Nd YAG

yang menembus lebih dalam dapat memberikan hasil yang lebih baik tetapi sangat

mahal dan tidak tersedia di setiap rumah sakit.5

Pilihan persalinan pada ibu dengan kondiloma akuminata disarankan

dengan bedah sesar untuk mengurangi resiko transmisi vertical melalui jalan lahir

dan mengurangi resiko terjadi pepiloma larings pada bayi yang dapat

mengakibatkan kematian atau morbiditas seumur hidup pada anak walaupun jarang

terjadi namun, risiko penularan dari ibu ke anak dengan perkembangan penyakit

selanjutnya pada anak diperkirakan 1 antara 80 dan 1 antara 1500.1,5 Selain itu,

infeksi HPV pada trofoblas ekstravili dapat menginduksi kematian sel dan

mengurangi invasi plasenta ke dinding rahim sehingga menyebabkan disfungsi

plasenta dan secara spontan dapat menyebabkan kelahiran prematur.5

19
Daftar Pustaka

1. Indriatmi, W., Zubier, F., Infeksi Menular Seksual. Dalam Kondiloma


Akuminata. Edisi ke lima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2017. Hal 176-187

2. Indriatmi, W., dan Handoko, R.P., Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Dalam
Kondilma Akuminata. Edisi ke tujuh. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2015 . Hal 481- 483.

3. Marcelena, R., dan Menaldi, S.M., Kapita Selekta Kedokteran. Dalam


Kondiloma Akuminata. 2014. Jakarta. Media Aesculapius. Hal 351- 353.

4. Murtiastutik, D., Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Dalam Kondiloma


Akuminata. Edisi ke dua. 2016. Surabaya. Pusat Penerbitan dan Percetakan
Unair. Hal 224-225.

5. Yenny, S.W., dan Hidayah, R., Kondiloma Akuminata pada Wanita Hamil :
Salah Satu Modilitas Terapi. Jurnal Kesehatan Andalas. 2013; 2 (1). 47-50.

20