Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada era
global akan terus berubah karena masalah kesehatan yang dihadapi
masyarakat juga terus mengalami perubahan. Masalah keperawatan
sebagai bagian masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat terus-
menerus berubah karena berbagai faktor yang mendasarinya juga terus
mengalami perubahan. Dengan berkembangnya masyarakat dan berbagai
bentuk pelayanan profesional serta kemungkinan adanya perubahan
kebijakan dalam bidang kesehatan, maka mungkin saja akan terjadi
pergeseran peran keperawatan dalam sistem pemberian pelayanan
kesehatan kepada masyarakat (Nursalam, 2014).
Keperawatan merupakan disiplin praktek klinis. Manajer
keperawatan yang efektif seyogyanya memahami hal ini dan mampu
memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana meliputi : menggunaan proses
keperawatan dalam setiap aktivitas asuhan keperawatannya, melaksanakan
intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan yang
ditetapkan, menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan dan hasil-hasil
keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat, serta mampu
mengendalikan lingkungan praktek keperawatan (Mugianti, 2016).
Manajemen adalah proses untuk melaksanakan kegiatan melalui
orang lain. Kegiatan manajemen keperawatan mengacu pada konsep
manajemen secara umum, dengan menggunakan pendekatan fungsi-fungsi
manajemen meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengontrolan (pengawasan dan Evaluasi). Manajemen pelayanan
keperawatan berfokus pada komponen 5 M (Man, Money, Material,
Method, Machine). Dalam setiap kegiatan manajemen selalu diawali dari
Perencanaan dan diakhiri dengan Pengontrolan yang merupakan suatu
siklus yang berulang (Mugianti, 2016).

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 1


Seluruh pelaksanaan kegiatan ini senantiasa di inisiasi oleh para
manajer keperawatan melalui partisipasi dalam proses manajemen
keperawatan dengan melibatkan para perawat pelaksana.
Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup manajemen keperawatan terdiri
dari: Manajemen operasionalatau menajemen layanan dan manajemen
asuhan keperawatan (Mugianti, 2016).
Istilah manajemen dan kepemimpinan sering diartikan hanya
berfungsi pada kegiatan supervisi, tetapi dalam keperawatan fungsi tersebut
sangatlah luas. Jika posisi Anda sebagai seorang ketua tim, kepala ruang
atau perawat pelaksana dalam suatu bagian, Anda memerlukan suatu
pemahaman tentang bagaimana mengelola dan memimpin orang lain dalam
mencapai tujuan asuhan keperawatan yang berkualitas. Sebagai perawat
profesional, Anda tidak hanya mengelola orang tetapi sebuah proses secara
keseluruhan yang memungkinkan orang dapat menyelesaikan tugasnya
dalam memberikan asuhan keperawatan serta meningkatkan keadaan
kesehatan pasien menuju ke arah kesembuhan (Nursalam, 2014).
Ilmu manajemen mengembangkan dasar teori dari berbagai ilmu,
seperti bisnis, psikologi, sosiologi, dan antropologi. Karena organisasi
bersifat kompleks dan bervariasi, maka pandangan teori manajemen adalah
bagaimana manajemen dapat berhasil dan apa yang harus diperbaiki/diubah
dalam mencapai suatu tujuan organisasi (Nursalam, 2014).
Berdasarkan atas fenomena di atas, maka kami mahasiswa STIKES
Kendedes Malang mencoba menerapkan Model Praktik Asuhan
Keperawatan Profesional dengan metode pemberian Asuhan Keperawatan.
Team Nursing, dimana pelaksanaanya melibatkan semua pasien dan perawat
yang di Ruang Asoka RSUD Bangil.

1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan praktek manajemen keperawatan,
mahasiswa diharapkan dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen
keperawatan dengan menggunakan Model Asuhan Keperawatan

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 2


Profesional (MAKP) dengan model asuhan keperawatan Tim di Ruang
AsokaRSUD Bangil Kabupaten Pasuruan.
b. Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan praktek klinik manajemen keperawatan,
mahasiswa mampu :
1. Melaksanakan pengkajian di Ruang Asoka
2. Mampu menghitung kebutuhan tenaga keperawatan di Ruang
Asoka
3. Melaksanakan analisis situasi berdasarkan analisa SWOT
4. Memilih salah satu metode penugasan yang sesuai dengan keadaan
ruangan
5. Melaksanakan Asuhan keperawatan sesuai dengan salah satu model
yang telah di tetapkan.
6. Menentukan rumusan masalah
7. Menyusun rencana strategi operasional ruang berdasarkan hasil
pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional : (1)
Sentralisasi Obat, (2) Ronde, (3) Discharge Planning, (4)
Supervisi, (5) MAKP, (6) Timbang Terima, (7) Dokumentasi /
Desiminasi awal.
8. Mengevaluasi pelaksanaan rencana strategi operasional ruangan
berdasarkan hasil pengkajian Model Asuhan Keperawtan
Profesional : (1) Sentralisasi Obat, (2) Ronde, (3) Discharge
Planning, (4) Supervisi, (5) MAKP, (6) Timbang Terima, (7)
Dokumentasi / Desiminasi Akhir.

1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Bagi Praktikan
a. Tercapainya pengalaman dalam pengelolaan suatu ruang rawat
sehingga dapat memodifikasi metode penugasan yang akan di
laksanakan.
b. Preceptie mampu mengumpulkan data dalam penerapan
MAKP di Ruang Asoka

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 3


c. Preceptie mampu menganalisis masalah dengan metode SWOT
dan menyusun rencana dan strategi.
1.3.2 Manfaat Bagi Perawat
a. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
b. Terbinanya hubungan antara perawat dan perawat, perawat
dengan tim kesehatan yang lain, dan perawat dengan pasien
serta keluarga
c. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas dan disiplin diri perawat
d. Melalui praktik manajemen dapat diketahui masalah-masalah
yang ada di ruang Asoka yang berkaitan dengan pelaksanaan
MAKP
e. Perawat menerapkan kembali MAKP yang sebelumnya kurang
optimal
1.3.3 Manfaat Bagi Pasien dan Keluarga
a. Tercapainya kepuasan klien yang optimal
b. Pelayanan kepada pasien semakin maksimal
c. Hak-hak pasien sangat dihargai
1.3.4 Manfaat Bagi Instansi Pendidikan
a. Tercapainya pengalaman dalam pengelolaan suatu ruangan
rawat sehingga dapat memodifikasi MAKP yang akan
dilaksanakan
b. Meningkatkan mutu pelayanan

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 4


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
1.2.1 Konsep Manajemen Keperawatan
a. Definisi Manajemen
Manajemen Kata manajemen berasal dari bahasa latin dari
asal kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti
melakukan. Kedua kata itu digabungkar menjadi kata kerja
managere yang berarti menangani. Maragere diterjemakan ke
dalam bahasa inggris yaitu management turunan dari kata to
manage yang bererti mengurus atau tatalaksanana. Hal ini dapat
dimaknai sebagai proses pelaksanaan tujuan tertentu. Manajemen
adalah proses kerja sama antara dua orang atau lebih untuk
mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan. Manajemen
adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan
pengawasan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan (Ismainar, 2015).
Manajemen merupakan proses mengorganisir sumber-
sumber untuk mencapai tujuan dimana arah tujuan yang akan
dicapai ditetapkan berdasarkan visi, misi, filosofi organisasi
(Mugianti, 2016).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
manajemen adalah suatu kegiatan atau proses kerja sama antara
dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan yang
diharapkan.

b. Definisi Manajemen Keperawatan


Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja
melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan,
pengobatan dan bantuan terhadap para pasien (Gillies, 1989
dalam Mugianti, 2016). Pekerjaan keperawatan harus diatur

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 5


sedemikian rupa sehingga tujuan pelayanan dan asuhan
keperawatan dapat tercapai.
Manajemen keperawatan merupakan proses pelaksanaan
pelayanan keperawatan melalui staf keperawatan untuk
memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman,
kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang
harus dilaksanakan oleh pengelola asuhan keperawatan untuk
merencanakan, mengorganisasikan dan mengarahkan serta
mengawasi sumber-sumber yang ada, baik sumber daya maupun
dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang
efektif baik kepada pasien, keluarga dan masyrakat.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulakan bahaa
manajemen keperaata adalah suatu proses yang dilakukan oleh
profesi keperawatan dalam memberikan peayanan berdasarkan
sistematik asuhan keperawatan baik terhadap individu, kelompok
maupun terhadap masyarakat.

c. Tujuan Manajemen Keperawatan


1) Mengarahkan seluruh kegiatan yang direncanakan
2) Mencegah/mengatasi permasalahan manajerial
3) Pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien
dengan melibatkan seluruh komponen yang ada
4) Meningkatkan metode kerja keperawatan sehingga staf
perawatan bekerja lebih efektif dan efisien, mengurangi
waktu kerja yang sia-sia, mengurangi duplikasi tenaga dan
upaya
Hasil akhir (outcome) yang diharapkan dari manajemen
keperawatan adalah:
1) Terselenggaranya pelayanan/
2) Asuhan keperawatan yang berkualitas.
3) Pengembangan staf

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 6


4) Budaya riset bidang keperawatan

d. Proses Manajemen Keperawatan

e. Prinsip Yang Mendasari Manajemen Keperawatan


Prinsip-prinsip yang mendasari manajemen keperawatan adalah :
1) Manajemen keperawatan berlandaskan perencanaan karena
melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan
resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang
afektif dan terencana.
2) Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan
waktu yang efektif. Manajer keperawatan menghargai waktu
akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik
dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan sebelumnya.
3) Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan
keputusan berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi
dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan
pengambilan keputusan di berbagai tingkat manajerial.
4) Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan
fokusperhatian manajer keperawatan dengan
mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan
ingini . Kepuasan pasien merupakan point utama dari seluruh
tujuan keperawatan.
5) Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian
dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk
mencapai tujuan.
6) Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen
keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi,
koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah
diorganisasikan.

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 7


a. Manejer keperawatan yang baik adalah manajer yang dapat
memotivasi staf untuk memperlihatkan penampilan kerja yang
baik.
b. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif.
Komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan
memberikan persamaan pandangan arah dan pengertian diantara
bawahan.
c. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya
mempersiapkan perawat pelaksana untuk menduduki posisi yang
lebih tinggi ataupun upaya manajer untuk meningkatkan
pengetahuan karyawan.
d. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang
meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat,
pemberian instruksi dan menetapkan prinsip-prinsip melalui
penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar
dan memperbaiki kekurangan.
Berdasarkan prinsip-prinsip diatas maka para manajer,
administrator dan bawahan seyogianya bekerja bersama-sama dalam
merencanakan dan pengorganisasian serta fungsifungsi manajemen
lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

f. Prinsip Pengorganisasian
g. Fungsi Manajemen
h. Komponen Manajemen Keperawatan
i. Fungsi Oprasional Manajemen
j. Komponen Manajemen Keperawatan
k. Fungsi Oprasional Manajemen
l. Unsur-unsur Manajemen
m. Fisiologi Manajemen Keperawatan

1.2.2 Konsep Kepemimpinan


a. Definisi Kepemimpinan

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 8


Ada beberapa pengertian tentang kepemimpinan, antara lain :
1) Stogdill
Pengertian kepemimpinan adalahsuatu proses yang
mempengaruhi aktifitas seseorang atau sekelompok orang
untuk mau berbuat dan mencapai tujuan tertentu yang telah
ditetapkan(Russel C Swansburg, 2000).
2) Ordway Ted
Kepemimpinan adalah perpaduan berbagai perilaku
yang dimiliki seseorang sehingga orang tersebut mempunyai
kemampuan untuk mendorong orang lain bersedia dan dapat
menyelesaikan tugas - tugas tertentu yang dipercayakan
kepadanya.

3) Georgy R. Terry
Kepemimpinan adalah hubungan yang tercipta dari
adanya pengaruh yang dimiliki seseorang terhadap orang lain
sehingga orang lain tersebut secara sukarela mau dan
bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
4) Paul Hersay, Ken Blanchord
Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi
aktifitas seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai
tujuan tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu situasi
tertentu(H. Zaidin Ali, 2000).

b. Teori Kepemimpinan
1) Georgy R. Terry
a. Teori Keadaan: Kepemimpinan yang bersifat fleksibel,
yang selalu menyesuaikan terhdap situasi.
b. Teori Supportif/ Partisipatif/ Demokratik: Pimpinan
memberikan support kepada bawahan untuk bekerja
baik.

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 9


c. Teori Sosiologi: Pemimpin membantu aktivitas pengikut
dan menyelesaikan konflik organisasi dan pengikut.
d. Teori Psikologis: Pemimpin dengan berjalannya
kepemimpinan meningkatkan motivasi pengikut atau
bawahan.
e. Teori Otokratis: Pemimpin dengan berjalannya
kepemimpinan memberikan perintah, paksaan dan
tindakan (arbiater).
2) Ki Hajar Dewantara
Trilogi kepemimpinan dari Ki Hajar Dewantara :
a. Ing ngarso sung tulodo: Di depan memberi teladan.
Maksudnya seorang pemimpin harus dapat menjadikan
dirinya sebagai anutan dan ikutan orang – orang yang
dipimpinnya.
b. Ing madya mangun karso:Ditengah menumbuhkan karsa
atau kehendak (inisiatif), membangkitkan semangat
berswakarsa dan kreatifitas orang lain yang dipimpinnya.
c. Tut wuri handayani: Mengikuti dari belakang dengan
membimbing, bahwa seorang pemimpin harus member
kesempatan dan mendorong orang – orang yang
dipimpinnya agar berani berjalan didepan dan sanggup
bertanggung jawab.
3) Teori Sifat (The Traitist theory of leadership)
a. Ordway Tead
Ada 10 sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin :
1) Memiliki kekuatan fisik dan mental,
2) Paham arah dan tujuan,
3) Antuasiasme,
4) Ramah tamah dan efektif,
5) Memiliki integritas (terpercaya),
6) Memiliki keahlian tehnis,
7) Cepat dan tepat dalam pengambilan keputusan,

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 10


8) Cerdas,
9) Cakap mengajar,
10) Setia
b. Jhon D. Millet
Ada 4 sifat yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin :
1) Kemampuan melihat perusahaan (atau organisasi)
secara keseluruhan,
2) Kemampuan mengambil keputusan,
3) Kemampuan melimpahkan atau mendelegasikan
wewenang,
4) Kemampuan menanamkan kesetiaan pada perintah.

c. George R. Terry
1) Cerdas (intelligence)
2) Inisiatif
3) Kekuatan atau pendorong (energy or drive)
4) Kematangan emosi (emotional maturity)
5) Meyakinkan ( persuasive)
6) Kemahiran berkomunikasi (communicate skill)
7) Percaya diri (self-assurance)
8) Cerdik (perceptive)
9) Kreatif (creativity)
10) Berperan serta dalam pergaulan social (social
participation).
4) Shri Majapahit Gajah Mada
Panca dasa kepemimpinan Gajah Mada adalah :
a. Wijnanan: sikap bijaksana
b. Mantra Wira: sebagai pembela Negara sejati
c. Wicaksanang Naya: bijaksana dalam menganalisan dan
mengambil keputusan
d. Matanggwan: mendapat kepercayaan dari bawahan
e. Satya Bakti Haprabhu: loyal pada atasan

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 11


f. Wajnana: pandai berpidato dan berdiplomsi
g. Sajjawopasama: tidak sombong, rendah hati, manusiawi
h. Dhirottsaha: bersifat rajin, kreatif
i. Tan Lalana: bersifat gembira, periang
j. Disyacitta: jujur, terbuka
k. Tan Satrisna: tidak egois
l. Masihi Samastha Bhuwana: bersifat penyayang, cinta
alam
m. Ginong Pratidina: tekun menegakkan kebenaran
n. Sumantri: sebagai abdi Negara yang baik
o. Anayakan Musuh: mampu membinasakan lawan.

5) H. Zaidin Ali, SKM.MBA.MM


a. Tegas (Firm): Selalu menegakkan peraturan dengan
tegas, member hadiah (reword) bagi yang berpartisipasi
dan hukuman (punishmant) bagi yang
bersalah/melanggar peraturan.
b. Adil (Fair): Selalu berlaku adil terhadap bawahan sesuai
dengan beban kerja dan beban tanggung jawabnya.
c. Sikap berteman (Friendly): Bersikap keterbukaan,
kebersamaan, kekeluargaan dan keakraban antara
pimpinan dan bawahan(H. Zaidin Ali, SKM, 2000).

c. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dapat diartikan sebagai penampilan
atau karakteristik khusus dari suatu bentuk kepemimpinan . Ada 4
(empat) gaya kepemimpinan yang telah dikenal yaitu: otokratis,
demokratis, partisipatif dan laissez faire (Gillies, 1996).
1. Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan
yang menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi
secara otoriter, melakukan sendiri semua perencanaan tujuan

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 12


dan pembuatan keputusan dan memotivasi bawahan dengan
cara paksaan, sanjungan, kesalahan dan penghargaan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan ciri-ciri
sebagai berikut :
a. Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan,
b. Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan,
c. Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan,
d. Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan
kepada bawahan,
e. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan
atau kegiatan para bawahannya dilakukan secara ketat,
f. Prakarsa harus selalu dating dari pimpinan,
g. Tiada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan
saran, pertimbangan atau pendapat,
h. Tugas- tugas bagi bawahan diberikan secara instruktif,
i. Lebih banyak kritik daripada pujian,
j. Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan
tanpa syarat,
k. Pimpinan menuntut kesetiaan mutlak tanpa syarat,
l. Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman,
m. Kasar dalam bertindak,
n. Kaku dalam bersikap,
o. Tanggung jawab keberhasilan organisasu hanya dipikul
oleh pimpinan.
Keuntungan:kecepatan serta ketegasan dalam pembuatan
keputusan dan bertindak, sehingga untuk sementara
mungkin produktivitas dapat naik.
Kerugian: suasana kaku, tegang, mencekam, menakutkan
sehingga dapat berakibat lebih lanjut timbulnya ketidak
puasan.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 13


Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya seorang
pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan
yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi.Pemimpin yang
demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan
pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan
memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama. Gaya
kepemimpinan demokratis memiliki ciri- ciri sebagai berikut:
a. Wewenang pimpinan tidak mutlak,
b. Pemimpin bersedia melimpahkan sebagai wewenang
kepada bawahan,
c. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan
bawahan,
d. Kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan,
e. Komunikasi berlangsung timbale balik, baik terjadi antar
pimpinan dengan bawahan maupun bawahan dengan
bawahan,
f. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku perbuatan atau
kegiatan bawahan dilakukan secara wajar,
g. Prakarsa dapat dating dari pimpinan maupun bawahan,
h. Banyak kesempatan bagi bawahan diberikan dengan
lebih bersifat permintaan dari pada instruktif,
i. Tugas-tugas kepada bawhan diberikan dengan lebih
bersifat permintaan dar pada instruktif,
j. Pujian dan kritik seimbang,
k. Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan
dalam bats kemampuan masing-masing,
l. Pimpinan meminta kesetiaan secara wajar,
m. Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan
bertindak,
n. Terdapat suasana saling percaya, saling hrmat,
menghormati dan saling harga menghargai,

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 14


o. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama
pimpinan dan bawahan.
Keuntungan: berupa keputusan serta tindakan yang lebih
objektif, tumbuhnya rasa ikut memiliki, serta terbinannya
moral yang tinggi.
Kelemahan: keputusan serta tindakan kadang – kadang
lamban, rasa tanggung jawab kurang, keputusan yang dibuat
bukan merupakan keputusan yang terbaik.
3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama
antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan
cara mengajukan masalah dan mengusulkan tindakan
pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan
saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan
tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final
tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk
memecahkan masalah yang ada.
4. Gaya Kepemimpinan Laisses Faire “Liberal”
Gaya kepemimpinan laisses faire dapat diartikan sebagai
gaya “membebaskan” bawahan melakukan sendiri apa yang
ingin dilakukannya. Dalam hal ini, pemimpin melepaskan
tanggung jawabnya, meninggalkan bawahan tanpa arah,
supervisi atau koordinasi sehingga terpaksa mereka
merencanakan, melakukan dan menilai pekerjaan yang
menurut mereka tepat. Kepemimpinan Liberal antara lain
berciri :
a. Pimpinan melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada
bawahan,
b. Keputusan lebih banyak dibuat oleh para bawahan,
c. Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh para bawahan,
d. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh
bawahannya,

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 15


e. Hampir tiada pengawasan terhadap sikap, tingkah laku,
perbuatan, atau kegiata yang dilakukan para bawahan,
f. Prakarsa selalu dating dari bawahan,
g. Hampir tida pengarahan dari pimpinan,
h. Peran pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan
kelompok,
i. Kepentingan pribadi lebih utama daripada kepentingan
kelompok,
j. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh
orang per orang.
Selanjutnya dapat dikemukan bahwa keempat gaya
kepemimpinan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan
tersendiri. Setiap gaya kepemimpinan bisa efektif dalam
situasi tertentu tetapi tidak efektif dalam situasi lainya.
Menurut (Gillies, 1996) Faktor yang menetukan
efektifitas gaya kepemimpinan secara situasional meliputi:
a. Kesulitan atau kompleksitas tugas yang diberikan,
b. Waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas,
c. Ukuran unit organisasi,
d. Pola komunikasi dalam organisasi
e. Latar belakang pendidikan dan pengalaman pegawai,
f. Kebutuhan pegawai dan kepribadian pemimpin
Keuntungan: para anggota atau bawahan akan dapat
mengembangkan kemampuan dirinya.
Kelemahan: kekacauan karena tiap pejabat bekerja menurut
selera masing- masing.

d. Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan


Dalam keperawatan, pengorganisasian pelayanan
keperawatan dilaksanakan dengan cara (Burgess 1988 & Gillies
1988) :

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 16


1. Fungsional atau penugasan: Yaitu pembagian tugas untuk
perawat yang dilakukan oleh kepala ruangan masing - masing
mempunyai tugas khusus.
2. Alokasi pasien: yaitu pengorganisasian pelayanan
keperawatan untuk beberapa klien atau satu klien oleh satu
perawat saat berjaga.
3. Perawatan group atau team nursing: yaitu pelayanan lapangan
dimanasekelompok perawat memberikan pelayanan
keperawatan kepada sekelompok klien, kelompok ini
dipimpin oleh perawat yang berijasah dan berpengalaman.
4. Pelayanan keperawatan utama: yaitu pengorganisasian dalam
pelayanan keperawatan sehingga satu orang primary nursing
dalam 24 jam bertanggung jawab pada klien yang di bawah
tanggung jawabnya dari masuk RS sampai pulang.

e. Klasifikasi Pasien
Klasifikasi Klien Berdasarkan Tingkat Ketergantungan Menurut
Douglas (1984, dalam Swansburg & Swansburg, 1999) membagi
klasifikasi klien berdasarkan tingkat ketergantungan klien dengan
menggunakan standar sebagai berikut :
1. Kategori I: self care/perawatan mandiri, memerlukan waktu
1-2 jam/hari
a. kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
b. makanan dan minum dilakukan sendiri
c. ambulasi dengan pengawasan
d. observasi tanda-tanda vital setiap pergantian shift
e. pengobatan minimal dengan status psikologi stabil
f. perawatan luka sederhana.
2. Kategori II: Intermediate care/perawatan partial, memerlukan
waktu 3-4 jam/hari
a. kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
b. observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 17


c. ambulasi dibantu
d. pengobatan dengan injeksi
e. klien dengan kateter urin, pemasukan dan pengeluaran
dicatat
f. klien dengan infus, dan klien dengan pleura pungsi.
3. Kategori III : Total care/Intensif care, memerlukan waktu 5-6
jam/hari
a. semua kebutuhan klien dibantu
b. perubahan posisi setiap 2 jam dengan bantuan
c. observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam
d. makan dan minum melalui selang lambung
e. pengobatan intravena “perdrip”
f. dilakukan suction
g. gelisah atau disorientasi
h. perawatan luka kompleks

f. Ketenagaan Kerja
Dibawah ini dijelaskan beberapa tugas atau tanggung
jawabKepala Ruangan (Karu), Ketua Tim (Katim) dan Anggota
Tim; Secara umum, masing kepala ruangan, ketua tim dan
anggota tim memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, antara
lain :
1. Tanggung Jawab Karu :
a. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
b. Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan
c. Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan
keterampilan kepemimpinan dan managemen
d. Mengorientasikan tenaga baru
e. Menjadi narasumber bagi tim
f. Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset
keperawatan
g. Menciptakan iklim komunikasi terbuka

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 18


2. Tanggung Jawab Katim :
a. Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga
b. Mengkaji setiap klien, menganalisa, menetapkan rencana
keperawatan (renpra), menerapkan tindakan keperawatan
dan mengevaluasi renpra
c. Membimbingdan mengawasi pelaksanan asuhan
keperawatan oleh anggota tim
d. Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan
3. Tanggung Jawab Anggota Tim:
a. Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat
katim
b. Memberikan perawatan total atau komprehensif pada
sejumlah pasien
c. Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama
katim tidak ada di tempat
Berkontribusi terhadap perawatan: observasi terus menerus, ikut
ronde keperawatan, berinterkasi dengan pasien dan keluarga,
berkontribusi dengan ketua katim atau ketuaruangan bila ada
masalah

1.2.3 Lima Unsur Dalam Metode Keperawatan


a. M1 (MAN)
b. M2 (MATERIAL)
c. M3 (METHODE)
1) Timbang Terima
2) Sentralisasi Obat
3) Ronde Keperawatan
4) Supervise
5) Discharge Planning
d. M4 (MONEY)
e. M5 (MARKET)

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 19


1.2.4 Tingkat Ketergantuan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat

2.2 Kajian Situasi Rumah Sakit


2.2.1 Sejarah Singkat Rumah Sakit

2.3 Kajian Situasi Ruangan


2.3.1 Gambaran Umum Ruangan AsokaRSUD Bangil.
a. Analisa Situasi Ruangan Asoka
Ruang Asoka Merupakan salah satu ruang Rawat Inap di
RSUD Bangil, yang di gunakan sebagai ruangan untuk praktik
manajemen Keperawatan Program Studi Profesi Ners
STIKesKendedes Malang. Ruangan ini berada di lantai 1 serta di
batasi oleh:
1) Sebelah utara berbatasan dengan Ruang Hemodialisa dan Neuro
2) Sebelah selatan berbatasan dengan Ruang Melati
3) Sebelah timur berbatasan dengan Jalan ke Gedung Menejemen
4) Sebelah barat berbatasan dengan Ruang tunggu pasien
Fasilitas untuk perawat :
1) 2 Nurse Station
2) 1 Meja Administrasi
3) 1 Kamar mandi perawat
4) 6Toilet pasien
5) 1 Wastafel tempat cuci tangan
6) Ruang Perawatan
a) 6 Ruang perawatan
b) 1 Ruang isolasi
c) 1 ruang observasi (HCU)
7) Ruang Tindakan
8) Ruang Khusus
a) Alat Kesehatan
b) Ruang Ganti Perawat

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 20


c) Ruang Dokter
d) Mushola
9) Gudang
10) Ruang Janitor
11) Ruang Kotor
b. Visi, Misi dan Motto Keperawatan Ruang Asoka
1) Visi Ruang Asoka
Rumah sakit yang profesional dan berorientasi pada
pelanggan dengan menutamakan mutu dan keselamatan pasien
2) Misi Ruang Asoka
a) Memberikan pelayanan kesehatan secara paripurna dengan
menutamakan mutu dan keselamatan pasien
b) Mengembangkan pelayanan kesehatan, sarana prasarana serta
tenaga yang terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian
c) Mengelola sumber daya dan keuangan secara efektif, efisien,
dan akuntable
3) Motto Ruang Asoka
Motto pelayanan RSUD bangil adalah “lebih peduli dan
berkualitas dalam pelayanan”. “Peduli” berarti keseluruh jajaran
petugas memberikan pelayanan dengan sepenuh hati dan iklas
tanpa memandang tingkat pendidikan, sosial dan ekonomi
masyarakat.“Berkualitas” berartimenunjukkan tingkat
kesempurnaan pelayanan kesehatan RSUD Bangil dalam
menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien dan keluarganya
(custumor satisfaction).
Untuk mendukung visi, misi dan motto pelayanan tersebut,
nilai-nilai dasar yang digunakan di RSUD Bangil sebagai acuan
bagi seluruh karyawan yang selanjutnya dalam jangka panjang
diharapkan menjadi karakter dan budaya organisasi dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggan.Nila-nilai dasar
tersebut adalah:

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 21


a) Jujur, berperilaku sebagai insan yang beriman, jujur dan
bekerja keras dalam segala aspek pelayanan.
b) Tanggung jawab,keyakinan terhadap tatanan dalam
memberikan pelayanan yang berlandaskan kaidah ilmiah dan
kaidah profesi serta tidak bertentangan dengan norma-norma
yang berlaku dimasyarakat.
c) Visioner, berkomitmen dan mendahulukan kepentingan
organisasi, serta selalu menjaga keseimbangan intelektual
quetion (IQ), emotional quetion (EQ), dan spiritual quetion
(SQ).
d) Disiplin, melaksanakan pekerjaan tepat waktu dan mengikuti
dengn aturan yang telah ditetapkan
e) Kerjasama, penuh empati dan mampu bekerja sama dengan
sejawat, atasan, bawahan dan pelanggan menuju pemberian
pelayanan yang bermutu
f) Adil, berpikir postif, iklas, terbuka dan mampu menerima
kritik dan masukan untuk pembaruan dan menwujudkan
keberhasilan bersama
g) Peduli, memberikan perhatian dan solusi terhadap kesulitan
dan keluhan dari rekan kerja dan pelanggan
Implementasi dari nilai-nilai dasar tersebut di atas dalam
wujud sikap dan perilaku yang diharapkan dari seluruh petugas
dalam memberikan pelayanan adalah :
a) SENYUM, memberikan senyum dengan tulus pada setiap
orang yang temui di rumah sakit.
b) SALAM, menyapa dengan perkataan yang baik, menyebarkan
kedamaian di lingkungan rumah sakit.
c) SABAR, bersabar menghadapi segenap keluhan pelanggan
karena mereka mempunyai kebutuhan dan keinginan yang
berbeda-beda.
c. Komitmen Ruang Asoka
“KEBERSAMAAN ADALAH KOMITMEN KITA”

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 22


Komitmen Kebersamaan :
1) Kebersamaan DalamMisi Keperawatan Dan Tujuan
Keperawatan Ruang Asoka
2) Kebersamaan Dalam Profesionalisme Kerja, Melalui : Sharyng
/ Transfer Knowledge
3) Bersama Adalah Ikatan Keluarga Ruangan Asoka
4) Keamanan Dan Kenyamanan Kerja
d. Struktur Organisasi
Ruang Asoka di pimpin oleh seorang kepala ruangan di bantu
oleh 1 orang Administrasi,1 orangLogistik, 1 orang SDM, 1 orang
Mutu Pelayanan, 2 orang Ka.Tim, 4 Dokter Spesialis Anak, dan
Cleaning Service dengan struktur organisasi sbb:

2.3.2 5 M (Man, Material, Methode, Money dan Market)

Ruang Asoka

Gambar : 2.1 Denah ruang Anak

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 23


Struktur Organisasi dan Tupoksi

Kepala Instalasi Rawat Inap

Kepala Ruangan Anak

Penanggungjawab Penanggungjawab Penanggungjawab


Mutu Sumber Daya Sarana
Manusia (SDM)

Katim I Katim II

PP PP

Gambar : 2.2 Struktur Organisasi ruang Asoka

a. M1 (Man)Sumber Daya Manusia


1) Jumlah tenaga keperawatan
a) Ketenagaan (Status Kepegawaian)
PNS : 8 orang
Non PNS : 9 orang
b) Ketenagaan (Jenjang Pendidikan)
Jumlah S1 Keperawatan : 3 orang
Jumlah D3 Keperawatan : 14 orang
Tenaga Administrasi (S1) : 1 orang

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 24


2) Tenaga Keperawatan dan Non Keperawatan

No Nama Jabatan Pendidikan


1 Mida Rachmawati, S.Kep, Ns Kepala Ruang S1 Keperawatan

2 Tutut Rahayu, Amd.Kep Katim 1 D3 keperawatan

3 Linda Nur M, Amd.Kep Katim 2 D3 keperawatan

4 Listyawati, Amd.Kep PPG D3 Keperawatan

5 Minastutik, Amd.Kep PJS D3 keperawatan


3) T
6 Rasni
e F, Amd.Kep PJS D3 keperawatan

7 Khoirotur
n Rohma, Amd.Kep PJS D3 keperawatan

8 a
Widatur Rohma, A.Md. Kep PP D 3 keperawatan
g
9 Siti Munaisah, Amd.Kep PP D3 keperawatan
a
10 Novi Isnaini, A.Md .Kep PP D3 keperawatan

11 Dice Agnes, Amd.Kep PP D3 keperawatan


M
12 Alfiatus
e R, Amd.Kep PP D3 keperawatan

13 Atik
d Arba’atik, S.Kep,Ns PP S1 Keperawatan

14 i
Kusumaning I, Amd.Kep PP D3 keperawatan
s
15 LellyRachmawati I,Amd.Kep PP D3 keperawatan

16 Sholikhati, Amd.Kep PP D3 keperawatan

17 Ita Rini, S.S.Pi Administrasi S1 Psikologi

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 25


Di Ruang Asoka,terdapat 4 dokter spesialis anak dan 17
perawat dan 1 administrasi. Maka, jumlah keseluruhan tenaga
medis di Ruang Asoka ada 22 orang.

4) Prosentase kasus
Berdasarkan data dari tanggal 23 Januari 2018 didapatkan data :

Jumlah Tingkat Ketergantungan


No Penyakit
Klien Minimal Parsial Total
1 GEA + DRS 1
2 GEA 1
3 GEA + Ispa 1
4 GNA 1
5 Hematoscecia 1
6 KDS 1
7 DHF gride II + S. PT 1
8 TF 1
9 AFI + DADRS + BP 1
10 DADRS + FA 1
11 Vomiting + Ispa + DADRS 1
12 Sepsis + TB + Malnutrisi 1
Jumlah 12

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 26


No Penyakit Jumlah
1 AFI + DADRS + BP 1
2 DADRS + FA 1
3 GEA 2
4 Vomiting + Ispa +DRS 1
5 Sepsis + TB + Malnutrisi 1
6 GEA + DRS 1
7 GNA 1
8 Hematoscecia 1
9 GEA + Ispa 1
10 KDS 1
11 DHF gride II + S. PT 1
12 TF 1

5) Pasien
Alur pasiena masuk ruangan

IGD Poliklinik

Ruang anak
Pelayanan :

1. Medis
2. Keperawatan
3. Penunjang
4. Administrasi
Membaik APS Dirujuk
Meninggal

RS Lain

Kontrol

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 27


Gambar: Alur Pasien

6) Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga


perawat di ruangan Asoka RSUD Bangil
Tabel 2.2 Tingkat ketergantungan Pasien dan kebutuhan
tenaga perawat di ruangan Asoka RSUD Bangil berdasarkan
rumus Douglass
No Minimal Partial Total
1 Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam
2 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20

Tabel: Tingkat ketergantungan Pasien dan kebutuhan tenaga perawat di ruangan


Anak RSUD Bangil tanggal 22Januari 2018

Klasifikasi Kebutuhan tenaga perawat


pasien
Jumlah Pagi Siang Malam
pasien
Total care 0 0 x 0,36 = 0 0 x 0,30 = 0 0 x 0,20 = 0

Partial 7 7 x 0,27 = 7 x 0,15 = 7 x 0,10 = 0,7


care 1,89 1,05
Minimal 5 5 x 0,17 = 5 x 0,14 = 5 x 0,07 = 0,35
care 0,85 0,7

Total 12 2.74 1.75 1,05

3 2 1

Kesimpulan jumlah total tenaga perawat:


 Pagi : 3 orang

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 28


 Siang : 2 orang
 Malam : 1 orang
Jumlah : 6 orang
Jadi jumlah Perawat yang di butuhkan di Ruangan Asoka pada tanggal 22
Januari 2018 berjumlah 8 orang.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada tanggal 22 Januari di
Ruang anak RSUD Bangil Pasuruan didapatkan jumlah perawat dalam 1
hari tersebut adalah sebagai berikut :

 Shiff pagi :8
 Shiff siang :3
 Shiff malam :3 +
 Jumlah : 14 orang

b. M2 (Material)Sarana Dan Prasarana


1. Peralatan Medis
NO NAMA BARANG ATAU ALAT JUMLAH
1. Timbangan Injak 1
2. Timbangan Bayi 1
3. Pengukur Tinggi Badan 1
4. Tensimeter Jarum 2
5. Tensimeter Lipat /duduk 2
6. Stetoskop anak 2
7. Stetoskop dewasa 2
8. Termometer manual -
9. Termometer digital 2
10. Manometer tabung 10
11. Manometer sentral 5
12. Suction 1
13. Nebulizer 1
14. Infus pump B. brown 1
15. Ambubag bayi 1
16. Ambubag anak 1
17. Senter 3
18. Tromol besar 1
19. Bak Instrumen (putih) 1
20. Bak Instrumen (stainlise) 2
21. Kom tutup 2
22. Kom tanpa tutup 2

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 29


23. Bengkok 1
24. Gunting perban 2
25. Klem 1
26. Pinset anatomi dan cirugis 4
27. Tongue spatel 3
28. Kunci inggris -
29. Kursi roda -
30. Kabel listrik panjang 2
31. Tabung O2 transport 1
32. Troli O2 transport -
33. Pengukur panjang bayi 1
34. Mesin EKG 1
35. Gunting biasa 1
36. Monitor 3
37. Syring pump 2
38. Infuse pump 2
39 Tabung O2 diruangan tindakan 1

2. Peralatan dan fasilitas kamar

NO KAMAR FASILITAS JUMLAH


Tempat tidur 2
Kamar mandi 1
Wastafel 1
AC 1
TV 1
Standar infus 1
1 KAMAR ASOKA 1
Bantal 2
Sofa 2
Kursi 2
Lemari pasien 1

Tempat tidur 5
Kamar mandi 1
Wastafel 1
Lemari pasien 5
2 KAMAR ASOKA 2 AC 2
Standar infus 5
Kursi 5
Bantal 5
TV 1
Tempat tidur 3
AC 2
3 HCU ANAK Standar infus 6
Wastafel 2
monitor 3

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 30


Penanas air 1
Troli emergency 1
Suctione 1
Lemari obat 1
Inkubator 1
Lemari loker 1
Termos 1
Sampah infeksius 1
Sampah non infeksius 1
Timbang kecil 1
Temperatur ruangan 1
Tempat tisue 1
Safty box 1
Tempat tidur 3
Kamar mandi 1
Wastafel 1
4 ASOKA 4 Lemari pasien 3
Standar infus 3
B Kipas angin 1
Bantal 3
Tempat tidur 6
Wastafal 1
Kamar mandi 1
5 ASOKA 5 Standar infus 5
Bantal 3
Kursi 5
Kipas angin 1
Tempar tidur 6
Kamar mandi 1
Wastafel 1
Standar infus 6
6 ASOKA 6
Kipas angin 1
Kursi 6
Bantal 6
Lemari pasien 6
Tempat tidur 8
Lemari pasien 8
Kipas angin 2
7 RUANG ISOLASI Kamar mandi 1
Standar infus 10
Wastafeel 1
Oksigen ruangan 5
Bad tindakan 1
Standar infus 1
AC 1
7 RUANG TINDAKAN
Kamar mandi 1
Septibook 3
Tempat obat pasien 31

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 31


Lemari es 1
Bengko 1
Troli injeksi 2
Handscrabe 3
EKG 1
Nebulezer 1
Stetoscope anak 2
Stetoscope bayi 2
Tensi meter anak 2
Tempat instrumen kotor 1
Tempat isntrumen steril 1
Bok darah 3
Timbang bayi 1
Tabung oksigen ruangan 1
Tabung oksigen transfort 1
Jam dinging 1
Kulkas obat 1
Papan pemberitahuan 1
Spoolhoak 1
Tempat linen infeksius 1
8 Ruang kotor Tempat linen non ifeksius 1
Tempat cuci alat 1
Wastafel Cuci Alat 1

3. Buku SOP
No Standat Operasional Prosedur
1. Prosedur tetap cuci tangan hygienis rutin
2. Pembuangan limbah
3. Pengelolaan dan pembuangan alat tajam
4. Cara memakai dan melepas alat pelindung diri (APD)
5. Merekam EKG
6. Peminahan pasien antar rawat inap
7. Prosedur perawatan peralatan medis
8. Prosedur sterilisasi suhu tinggi dengan uap panas
9. Prosedur dekontaminasi linen kotor
10. Prosedur pengiriman linen bersih
11. Prosedur pengemasan peralatan medis
12. Prosedur pembersihan peralatan medis
13. Prosedur dekontaminasi peralaan medis

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 32


14. Prosedur dekontaminasi permukaan tercemar darah atau caian pasien
15. Prosedur pembuatan larutan klorin 0,5%
16. Alur pengiriman linen kotor dan pengambilan kembali linen bersih
17. Proedur sterilisasi fisik dengan panas kering
18. Prosedur perubahan kelas rawat/status pasien
19. Permintaan pemeriksaan laboratorium cito
20. Prosedur pemasangan gelang (iD-Band) pasien rawat inap
21. Pemindahan pasien antar rawat inap
22. Penerimaan pasien baru di ruangan
23. Pemberian trasfusi darah
24. Pemasangan infus
25. Injeksi intra vena
26. Tehnik Suctioning
27. Alur masuk pasien HCU dari unit pelayanan lain
28. Konsultasi dokter spesialis
29. Konsultasi klinik jantung eksekutif dari ruang rawat inap
30. Komunikasi efektif antar petugas kesehatan
31. Penempatan bayi di ruang perinatologi

c. M3 (Methode)
a. MAKP

Kepala Ruangan

b.
Ketua Tim Ketua Tim

c.
Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana

Pasiend. Pasien

Berdasarkan hasil pengamatan hari ini tanggal 22 Januari


2018 di Ruang Anak RSUD Bangil didapatkan hasil bahwa model

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 33


yang digunakan di Ruang Anak adalah metode MAKP Tim
dengan kepala ruangan adalah seorang Sarjana Keperawatan dan
mempunyai 2 Katim yang mempunyai beberapa perawat
pelaksana, dimana seorang perawat pelaksana bertanggung jawab
atas beberapa pasien, sudah berjalan cukup baik, dimana ketua
tim membantu apabila perawat pelaksana mengalami kesulitan
dalam melakukan tindakan serta apabila perawat pelaksana
mengalami kesulitan dalam melakukan semua tindakan.

b. Timbang Terima
Berdasarkan hasil dari pengamatan tanggal 22 januari tahun
2018 di ruang Asoka RSUD Bangil Di laporkan bahwa Timbang
terima dengan hasil di lakukan di nurse station dengan di ikuti
sebagian perawat dan tidak di lakukan semua perawat, timbang
terima pasien hanya di operkan ke sebagian tidak ke semua
perawat yang dines malam, dan di dapatkan saat timbang terima
pada malam hari perawat tidak mengunjungi pasien.
Tabel 3.1 : Mekanisme kegiatan timbang terima

TAHAP KEGIATAN WAKTU TEMPAT PELAKSANA


Pra a. Kedua kelompok dinas 5 menit Nurse PJS, PP
Timbang sudah siap dan berkumpul Station
Terima di Nurse Station.
b. Perawat penanggung
jawab mengecek kesiapan
timbang terima tiap PJS.
c. Kelompok yang akan
bertugas menyiapkan
catatan (Work Sheet), PP
yang akan mengoperkan,
menyiapkan buku timbang
terima & nursing kit.
d. Perawat penanggung
jawab shift membuka
acara timbang terima
dilanjutkan dengan doa.

Pelaksanaan PJS dinas Malam melakukan 20 menit Nurse PJS,PP


Timbang timbang terima kepada PP Station

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 34


Terima dinas sore
Hal-hal yang perlu
disampaikan PP pada saat
timbang terima :
a. Identitas klien dan
diagnosa medis termasuk
hari rawat keberapa atau
post op hari keberapa.
b. Masalah keperawatan.
c. Data yang mendukung.
d. Tindakan keperawatan
yang sudah/belum
dilaksanakan.
e. Rencana umum yang perlu
dilakukan: Pemeriksaan
penunjang, konsul,
prosedur tindakan tertentu.
f. PJS membuka dan
memberi salam kepada Disamping
klien, PP sore tempat
menjelaskan tentang klien, tidur klien
PP sore mengenalkan
anggota timnya dan
melakukan validasi data.
g. Lama timbang terima
setiap klien kurang lebih 5
menit, kecuali kondisi
khusus yang memerlukan
keterangan lebih rinci
Post Klarifikasi hasil validasi data 5 menit Nurse PJS, PP
timbang oleh PJS sore. station
terima a. Penyampaian alat- alat
kesehatan
b. Laporan timbang terima
ditandatangani oleh kedua
PP dan mengetahui karu
(kalau pagi saja).
c. terhadap perawat yang
akan dan selesai bertugas.
d. Penutup oleh PJS.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Dilaksanakan tepat pada saat pergantian shift.
2. Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab atau penanggung
3. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 35


4. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis, dan
menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan
pasien.
5. Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan pasien.
6. Pada saat timbang terima di kamar pasien, menggunakan volume yang
cukup sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar sesuatu yang
rahasia bagi klien. Sesuatu yang dianggap rahasia sebaiknya tidak
dibicarakan secara langsung di dekat klien.
7. Sesuatu yang mungkin membuat pasien terkejut dan shock sebaiknya
dibicarakan di nurse station (Nursalam, 2008).
Evaluasi dalam Timbang Terima
a. Evaluasi Struktur
Pada timbang terima, sarana dan prasarana yang menunjang telah
tersedia antara lain : Catatan timbang terima, status klien dan kelompok
shift timbang terima. Perawat penanggung jawab memimpin kegiatan
timbang terima yang dilaksanakan pada pergantian shift yaitu sore ke
malam. Sedangkan kegiatan timbang terima pada shift pagi ke sore
dipimpin oleh perawat sore.
b. Evaluasi Proses
Timbang terima dari sore ke malam pada tanggal 22/01/18 dengan
hasil.
Proses timbang terima dipimpin oleh Penanggung jawab shift dan
dilaksanakan oleh sebagian perawat yang bertugas maupun yang akan
mengganti shift. Penanggung jawab shift sore menyerahkan ke perawat
Penanggung jawab shift berikutnya yang akan mengganti shift. Timbang
terima pertama dilakukan di nurse station saja dan tidak di lakukan
timbang terima ke pasien.
c. Evaluasi Hasil
Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Setiap
perawat dapat mengetahui perkembangan klien. Komunikasi antar
perawat berjalan dengan baik.

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 36


TAHAP KEGIATAN WAKTU TEMPAT PELAKSANA
Pra a. Kedua kelompok dinas 10 menit Nurse Karu, Ka.Tim,
Timbang sudah siap dan berkumpul Station PP
Terima di Nurse Station.
b. Karu mengecek kesiapan
timbang terima tiap PP.
c. Kelompok yang akan
bertugas menyiapkan
catatan (Work Sheet), PP
yang akan mengoperkan,
menyiapkan buku timbang
terima & nursing kit.
d. Kepala ruangan membuka
acara timbang terima
dilanjutkan dengan doa.
Pelaksanaan PP dinas malam melakukan 20 menit Nurse Karu, Ka.Tim,
Timbang timbang terima kepada PP Station PP
Terima dinas pagi.
Hal-hal yang perlu
disampaikan PP pada saat

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 37


timbang terima :
a. Identitas klien dan
diagnosa medis termasuk
hari rawat keberapa atau
post op hari keberapa.
b. Masalah keperawatan.
c. Data yang mendukung.
d. Tindakan keperawatan
yang sudah / belum
dilaksanakan.
e. Rencana umum yang perlu
dilakukan: Pemeriksaan
penunjang, konsul,
prosedur tindakan tertentu.
f. Karu membuka dan
memberi salam kepada Disamping
klien, PP malam tempat
menjelaskan tentang klien, tidur klien
PP pagi mengenalkan
anggota timnya dan
melakukan validasi data.
g. Lama timbang terima
setiap klien kurang lebih 5
menit, kecuali kondisi
khusus yang memerlukan
keterangan lebih rinci
Post Klarifikasi hasil validasi data 5 menit Nurse Karu, PP, PA
timbang oleh PP pagi. station
terima a. Penyampaian alat- alat
kesehatan
b. Laporan timbang terima
ditandatangani oleh PP
dan mengetahui Karu
(kalau pagi saja).
c. Reward Karu terhadap
perawat yang akan dan
selesai bertugas.
d. Penutup oleh karu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Dilaksanakan tepat pada saat pergantian shift.
2. Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab atau penanggung
3. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas
4. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis, dan
menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan
pasien.

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 38


5. Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan pasien.
6. Pada saat timbang terima di kamar pasien, menggunakan volume yang
cukup sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar sesuatu yang
rahasia bagi klien. Sesuatu yang dianggap rahasia sebaiknya tidak
dibicarakan secara langsung di dekat klien.
7. Sesuatu yang mungkin membuat pasien terkejut dan shock sebaiknya
dibicarakan di nurse station (Nursalam, 2008).
Evaluasi dalam Timbang Terima
a. Evaluasi Struktur
Pada timbang terima pada tanggal 23/01/18 pada pergantian shift malam
ke pagi:
Sarana dan prasarana yang menunjang telah tersedia antara lain:
Catatan timbang terima, status klien dan kelompok shift timbang terima.
Perawat Penganggung jawab shift malam memimpin kegiatan timbang
terima yang dilaksanakan pada pergantian shift yaitu malam ke pagi. Dan
di lakukan observasi ke pasien tetapi pada saat observasi dilakukan tidak
di lakukan identifikasi dengan jelas, tidak menyebutkan no RM, tidak
menyebeutkan Diagnosa pada pasien tersebut.

b. Evaluasi Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan dan
dilaksanakan oleh seluruh perawat yang bertugas maupun yang akan
mengganti shift. Perawat primer malam menyerahkan ke perawat primer
berikutnya yang akan mengganti shift. Timbang terima pertama
dilakukan di nurse station kemudian ke bed klien dan kembali lagi ke
nurse station. Isi timbang terima mencakup jumlah klien, masalah
keperawatan, intervensi yang sudah dilakukan dan yang belum dilakukan
serta pesan khusus bila ada. Setiap klien dilakukan timbang terima tidak
lebih dari 5 menit saat klarifikasi ke klien.
c. Evaluasi Hasil

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 39


Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Setiap
perawat dapat mengetahui perkembangan klien. Komunikasi antar
perawat berjalan dengan baik.

c. Supervisi

d. Dischange Planning
(nunggu Quisioner)
e. Sentralisasi Obat
(nunggu Quisioner)
f. Dokumentasi
(nunggu Quisioner)

d. M4 (Money)
(nunggu Quisioner)

e. M5 (Market)
a. Tingkat Kepuasan Pasien
Berdasarkan hasil dari kuesioner gambaran kepuasan pasien
(keluarga) tentang mutukeperawatan di RSUD Bangil
khususnya di Ruang Asoka pada13pasien, didapatkan data
bahwa 90% merasa puas dengan pelayanan di Ruang Asoka
sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam mutu pelayanan
keperawatan di ruang Asoka sudah termasuk dalam kategori
baik. Adapun poin-poin yang diukur dalam kuesioner ini
meliputi Rehability (Kehandalan dalam Memberikan Perawatan)
Responsiveness (Kecepatan dalam Perawatan) Assurance
(Jaminan Kepastian dalam Keperawatan), Tangibles (Sarana dan
Prasarana Penampilan Perawat), Empaty (Kepedulian Perawat).
b. BOR Pasien

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 40


Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 22 Januari sampai 23
Januari 2018 didapatkan kapasitas tempat tidur ruang Asoka
adalah 33 tempat tidur.
1. Gambaran berdasarkan jumlah pasien
a) Tanggal 22 Januari 2018
12 bed terisi
21 bed kosong
Dengan BOR : 12/33 x 100% = 36%
b) Tanggal 23 Januari 2018
13 bed terisi
20 bed kosong
Dengan BOR :13/33 x 100% = 40%

2.3.3 Fungsi Manajemen (Planning, Organizing, Staffing, Directing,


Controlling)

2.3.4 Analisa SWOT


a. Tabel SWOT
b. Diagram Layang SWOT

BAB III
PERUMUSAN MASALAH
3.1 Rumusan Masalah
3.2 Rumusan Penyebab Masalah
3.3 Alternatif Penyelesaian Masalah

PROFESI NERS | STIKes KENDEDES MALANG 2016 Page 41