Anda di halaman 1dari 18

KORTIKOSTEROID SISTEMIK

Definisi
Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian
korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormone adrenokortikotropik (ACTH) yang
dilepaskan oleh kelenjar hipofisis. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis
pada tubuh, misalnya tanggapan terhadapstres, tanggapan sistem kekebalan tubuh, dan
pengaturan inflamasi, metabolismekarbohidrat, pemecahan protein, kadar elektrolit darah,
serta tingkah laku.
Kelenjar adrenal terdiri dari 2 bagian yaitu bagian korteks dan medulla,sedangkan
bagian korteks terbagi lagi menjadi 2 zona yaitu fasikulata danglomerulosa. Zona
fasikulata menghasilkan 2 jenis hormon yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid.
Golongan glukokortikoid adalah kortikosteroid yang efek utamanya terhadap
penyimpanan glikogen hepar dankhasiat anti-inflamasinya nyata, sedangkan pengaruhnya
pada keseimbangan air dan elektrolit kecil atau tidak berarti. Prototip untuk golongan ini
adalah kortisoldan kortison, yang merupakan glukokortikoid alam. Terdapat juga
glukokortikoid sintetik, misalnya prednisolon, triamsinolon, dan betametason.
Golongan mineralokortikoid adalah kortikosteroid yang efek utamanya terhadap
keseimbangan air dan elektrolit menimbulkan efek retensi Na dan deplesi K , sedangkan
pengaruhnya terhadap penyimpanan glikogen hepar sangatkecil. Oleh karena itu
mineralokortikoid jarang digunakan dalam terapi. Prototip dari golongan ini adalah
desoksikortikosteron. Umumnya golongan ini tidak mempunyai khasiat anti-inflamasi yang
berarti, kecuali 9α-fluorokortisol , meskipun demikian sediaan ini tidak pernah digunakan
sebagai obat anti-inflamasi karena efeknya pada keseimbangan air dan elektrolit terlalu
besar.

Mekanisme Kerja
Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul
hormon memasuki sel jaringan melalui membran plama secara difusi pasif di jaringan target,
kemudian bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan
membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan konfirmasi, lalu
bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi
RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek
fisiologis steroid.

Efek
Pengaruh kortikosteroid terhadap fungsi dan organ tubuh :
a. Glukokortikoid
- Menimbulkan metabolisme perantara normal
Glukokortikoid membantu glukoneogenesis dengan jalan meningkatkan ambilan asam
amino oleh hati dan ginjal serta meningkatkan aktivitas enzim glukoneogenik. Obat-
obat ini merangsang katabolisme protein dan lipolisis.
- Meningkatkan retensi terhadap stress
Dengan meningkatkan kadar glukosa plasma, glukokortikoid memberikan energi yang
diperlukan tubuh untuk melawan stress yang disebabkan oleh trauma, infeksi,
perdarahan, dan ketakutan. Glukokortikoid dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah, degan jalan meningkatkan efek vasokonstriksi rangsangan adrenergik pada
pembuluh darah kecil.
- Merubah kadar sel darah dalam plasma
Glukokortikoid menyebabkan penurunan eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit
dengan jalan meredistribusinya ke dalam jaringan limfoid dari sirkulasi. Sebaliknya,
glukokortikoid meningkatkan kadar haemoglobin trombosit, eritrosit, dan leukosit
polimorfonuklear dalam darah.
- Efek anti-inflamasi
Glukokortikoid memiliki kemampuan untuk mengurangi respon peradangan secara
dramatis dan untuk menekan imunitas. Penggunaan klinik kortikoteroid sebagai anti-
inflamasi merupakan terapi paliatif, yaitu gejalanya dihmbat sedangkan penyebabnya
masih ada.

Mekanisme kerja antiinflamasi glukokortikosteroid melalui beberapa jalan :


1. Difusi pasif glukokortikosteroid melalui membran sel, diikuti pengikatan ke
protein reseptor di sitoplasma. Kompleks hormon-reseptor ini kemudian bergerak
menuju nukleus dan meregulasi transkripsi beberapa gen target. Melalui
mekanisme ini, glukokortikosteroid menghambat pembentukan molekul-molekul
pro-inflamatory seperti sitokin, interleukin, molekul adhesi, dan protease;
mediator inflamasi lainnya seperti cyclooxygenase-2 dan nitric oxide synthase.
2. Dengan mekanisme yang sama, glukokortikoid meningkatkan pembentukan
annexin 1 dan annexin 2 yang berfungsi mengurangi aktivitas phospholipase A2,
yang pada gilirannya menurunkan produksi arachidonic acid dari membran
posfolipid, yang menyebabkan terbatasnya pembentukan prostaglandain dan
leukotrien.
3. Glukokortikoid juga dikenal mempengaruhi replikasi dan pergerakan sel,
menyebabkan monocytopenia, eosinopenia, dan lymfositopenia, dan memiliki
efek lebih besar pada sel T daripada sel B.
4. Glukokortikoid mempengaruhi aktivasi, proliferasi, dan diferensiasi sel.
Glukokortikoid menekan kadar mediator inflamasi dan reaksi imun, seperti pada
IL-1, IL-2, IL-6, dan pembuatan atau pelepasan tumor necrosis factor. Fungsi
makrofage (termasuk fagositosis, prosessing antigen, dan cell killing) menurun
dengan kortisol, dan penurunan ini mempengaruhi hipersensitivitas segera
ataupun lambat.
5. Glukokortikoid lebih menghambat fungsi monosit dan limfosit daripada fungsi
leukosit polimorfonuklear. Sementara, sel pembuat antibodi, limfosit B dan sel
plasma, relatif resisten terhadap efek supresi glukokortikoid.

- Mempengaruhi komponen lain sistem endokrin


Penghambatan umpan balik produksi kortikotropin oleh peningkatn glukokortikoid
menyebabkan penghambatan sintesis glukokortikoid lebih lanjut, sedangkan hormon
pertumbuhan meningkat.

- Efek pada sistem lain


Dosis tinggi glukokortikoid merangsang asam lambung dan produksi pepsin yang dapat
menyebabkan eksaserbasi ulkus. Efeknya pada susunan saraf pusat mempengaruhi status
mental. Terapi glukokortikoid kronik dapat menyebabkan kehilangan massa tulang berat.
Miopati mnimbulkan keluhan lemah.

b. Mineralokortikoid
Mineralokortikoid membantu kontrol volume cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit,
terutama Na, K.
Farmakokinetik
Lebih dari 90 % glukokortikoid yang diabsorbsi terikat dengan protein plasma,
kebanyakan terikat dengan globulin pengikat kortikosteroid dan sisanya dengan albumin.
Afinitas globulin tinggi tetapi kapasitas ikatnya rendah, sebaliknya afinitas albumin rendah
tetapi kapasitas ikatnya tinggi. Pada kadar rendah atau normal, sebagian besar kortikosteroid
terikat globulin. Bila kadar kortikosteroid meningkat, jumlah hormon yang terikat albumin
dan yang bebas juga meningkat, sedangkan yang terikat globulin sedikit mengalami
perubahan. Kortikosteroid berkompetisi sesamanya untuk berikatan dengan globulin.
Kortikosteroid dimetabolisme dalam hati oleh enzim mikrosom pengoksidasi.
Metrabolitnya dikonjugasi menjadi asam glukoronat dan sulfat. Produknya diekskesikan
melalui ginjal.

Sediaan Kortikosteroid
Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan masa
kerjanya, yaitu kerja singkat, sedang, dan lama. Sediaan kerja singkat mempunyai masa paruh
biologis kurang dari 12 jam. Sediaan kerja sedang mempunyai masa paruh biologis 12-36
jam. Sediaan kerja lama mempunyai masa paruh biologis lebih dari 36 jam.
Tabel.1 Glukokortikoid
Equivalent Mineralocortico Plasma Half-Life Duration of
Glucocorticoi id Potency (menit) Action (jam)
d Potency
(MG)
Short-acting
Hidrocortisone (Cortisol) 20 0,8 90 8-12
Cortisone 25 1 30 8-12
Intermediate-acting
Prednisone 5 0,25 60 24-36
Prednisolone 5 0,25 200 24-36
Methylprednisolone 4 0 180 24-36
Triamcinolone 4 0 300 24-36
Long-acting
Dexamethasone 0,75 0 200 36-54

Kortikosteroid alami yang paling banyak dihasilkan oleh tubuh adalah kortisol.
Kortisol disintesis dari kolesterol oleh kortex adrenal. Sekresi kortisol per hari berkisar antara
10 sampai 20 mg, dengan puncak diurnal sekitar pukul 8 pagi.
Cara pemberian dan dosis
Sediaan kortikosteroid dapat diberikan secara oral, parenteral (IV, IM, intrasinovial,
dan intra lesi), topikal pada kulit dan mata (dalam bentuk salep, krim, losio), serta aerosol
melalui jalan nafas. Kortikosteroid sistemik banyak digunakan dalam bidang dermatologi
karena obat tersebut memiliki efek anti-inflamasi.
Pemberian glukokortikoid intralesi dapat langsung diberikan terhadap lesi yang
sedikit atau lesi tertentu yang resisten. Konsentrasinya bergantung pada lokasi injeksi dan
sifat lesi. Konsntrasi yang lebih rendah digunakan untuk wajah, sementara keloid
membutuhkan konsntrasi tinggi. Ada kesulitan yang serius terhadap pemberian intramuskular
karena penyerapannya yang tidak stabil dan kurangnya kontrol harian terhadap dosis,
terutama pada steroid-steroid yang long-acting sehingga menyebabkan meningkatnya potensi
efek samping.
Jika glukokortikoid oral diresepkan, prednison merupakan sediaan yang paling umum
dipilih. Glukokortikoid biasanya diberikan harian, meskipun utntuk penyakit akut dosis
terpisah harian dapat diberikan. Dosis inisial sering diberikan harian untuk mengontrol proses
penyakit, dapat berkisar antara 2,5 mg sampai beberapa ratus miligram per hari. Jika
digunakan kurang dari 3-4 minggu, pengobatan glukokortikoid dapat dihentikan tanpa
tapering. Dosis minimal yang memungkinkan dari agen short-acting untuk diberikan setiap
pagi akan meminimalisir efek samping. Karena kadar kortisol memuncak pada sekitar jam 8
pagi, aksis HPA paling sedikit tersupresi bila diberikan pada pagi hari tersebut. Ini
disebabkan karena feedback maksimal dari supresi sekresi ACTH oleh pituitari telah terjadi.
Glukokortikoid kadar rendah saat malam memberikan efek sekresi yang normal dari ACTH.
Prednison dosis rendah (2,5-5 mg) saat tidur telah digunakan untuk memaksimalkan supresi
adrenal pada kasus akne atau hirsutism karena adrenal.
Glukokortikoid intravena digunakan dalam dua situasi. Yang pertama adalah untuk
penanganan stress pada pasien yang sakit akut atau yang menjalani operasi, dan untuk pasien
yang memiliki adrenal supresi dari terapi glukokortikoid harian. Yang kedua adalah untuk
pasien dengan penyakit tertentu, seperti resistent pyoderma gangrenosum, pemfigus atau
pemfigoid bulosa yang parah, SLE yang serius, atau dermatomyositis, untuk mencapai
pengendalian yang cepat terhadap penyakit. Methylprednisolone digunakan dengan dosis 500
mg sampai 1 g perhari karena potensinya yang tinggi dan aktivitas retensi sodium yang
rendah. Efek samping serius yang berhubungan dengan pemberian intravena adalah reaksi
anafilaktik, kejang, aritmia, dan sudden death. Efek samping lain adalah hipotensi, hipertensi,
hiperglikemi, pergeseran elektrolit, dan psikosis akut. Pemberian yang lebih lambat, 2-3 jam,
telah meminimalisir banyak efek samping yang serius.

Tabel 2. Dosis Inisial Kortikosteroid Sistemik Sehari untuk Orang Dewasa pada berbagai
Dermatosis
Nama Penyakit Macam Kortikosteroid dan Dosisnya Sehari
Dermatitis Prednison 4x5 mg atau 3x10 mg
Eruspsi alergi obat ringan Prednison 3x10 mg atau 4x10mg
Sindrom Stevens Johnson berat dan NET Dexametason 6x5mg
Eritoderma Prednison 3x10 mg atau 4x10mg
Reaksi lepra Prednison 3x10 mg
Lupus eritematosa diskoid Prednison 3x10 mg
Pemfigoid bulosa Prednison 40-80 mg
Pemfigus vulgaris Prednison 50-150 mg
Pemfigus foliaseus Prednison 3x20 mg
Pemfigus ertematosa Prednison 3x20 mg
Psoriasis pustulosa Prednison 4x10 mg
Reaksi Jarish-Herxheimer Prednison 20-40 mg

Efek Samping
Efek samping dapat timbul karena penghentian obat tiba-tiba atau pemberian obat
terus-menerus terutama dengan dosis besar. Efek samping terapi kortikosteroid yaitu :
- Osteoporosis
- Avascular necrosis
- Aterosklerosis
- Suppresi aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal
.
Tabel 3. Efek Samping Kortikosteroid
KORTIKOSTEROID TOPIKAL

STRUKTUR MOLEKUL DAN FARMAKOLOGI


Semua steroid, termasuk glukokortikoid, memiliki struktur dasar kolesterol rantai
karbon berjumlah 21, dengan tiga cincin heksana dan satu cincin pentana (Gambar 1).
(Warner dkk, 2007).

Gambar 1. Struktur kimia kortison (hidrokortison). Terdapat gugus hidroksil pada atom C 11

Modifikasi dari kortisol dengan penambahan atau perubahan gugus fungsi pada posisi
tertentu menghasilkan beragam potensi dan efek samping. Misalnya, penambahan sebuah
molekul fluorin (halogenasi) pada posisi C6 dan/atau C9 akan meningkatkan potensi steroid,
tetapi diikuti juga dengan peningkatan aktivitas mineralokortikoid. Penggantian molekul pada
posisi C16 dengan 1α-hidroksil (triamsinolon), 1α-metil (dexametason) atau 1β-metil
(betametason) meningkatkan efek tanpa diiringi peningkatan kadar natrium (Gambar 2).
(Warner dkk, 2007).

a. b.

c. d.

Gambar 2. Beberapa contoh topikal kortikosteroid. A. Triamcinolone B. Dexamethasone C. Betamethasone D.


Clobetasol 17-propionate
Pelepasan, penggantian atau perlindungan gugus hidroksil dapat meningkatkan
lipofilisitas molekul, sehingga absorbsi perkutan dan aktivitas glucocorticoid-reseptor-
binding pun meningkat. Perlindungan terhadap gugus hidroksil dapat dilakukan melalui
reaksi esterifikasi pada C16, C17, dan C21. Penggantian gugus hidroksil pada C21 molekul
betametason dengan klorin menghasilkan clobetasol 17-propionat (Gambar 2d),
kortikosteroid potensi terkuat saat ini. (Jackson dkk, 2012).

MEKANISME KERJA
Kortikosteroid mempunyai beragam efek yang dimediasi melalui glucocorticoid
receptor (GCR). Molekul kortikosteroid berdifusi ke sel target dan berikatan dengan GCR di
sitoplasma. Selanjutnya ikatan kortikosteroid-GCR mengalami perubahan konformasi
membentuk kompleks. Kompleks kortikosteroid-GCR yang telah teraktivasi kemudian
melintasi selubung inti sel dan berikatan dengan situs akseptor pada DNA. Hal ini
mengakibatkan regulasi gen dan transkripsi berbagai mRNA spesifik. (Jackson dkk, 2012).
GCR ditemukan hampir di semua sel dalam tubuh. Pembentukan kompleks
kortikosteroid-GCR dapat menimbulkan efek yang diinginkan (terapi menguntungkan)
maupun tidak diinginkan (efek samping). Kortikosteroid memiliki beragam efek meliputi
antiinflamasi, imunosupresif, antiproliferatif, dan vasokonstriksi (Gambar 3). (Warner dkk,
2007).

Gambar 3. Mekanisme kerja glukokortikoid.


Efek antiinflamasi
Kortikosteroid memiliki efek antiinflamasi dengan menghambat fosfolipase A2, yaitu
enzim yang berperan dalam pembentukan prostaglandin, leukotrien, dan derivat asam
arakhidonat lainnya. (Jackson dkk, 2012). Kortikosteroid juga menghambat faktor transkripsi
seperti activator protein 1 dan nuclear factor B yang berperan dalam aktivasi gen
proinflamasi. Gen tersebut diregulasi oleh kortikosteroid, hal itu berperan dalam resolusi
inflamasi meliputi lipocortin dan p11/calpactin binding protein yang keduanya melepaskan
asam arakhidonat dari fosfolipid. Kortikosteroid juga mengurangi pelepasan interleukin 1α
(IL-1α) yang merupakan sitokin pro-inflamasi yang penting. Kortikosteroid menghambat
fagositosis dan stabilisasi membran lisosom dari sel-sel fagositik. (High dkk, 2012).

Efek imunosupresif
Kortikosteroid memiliki efek imunosupresif yaitu dengan menekan produksi dan
efek dari faktor humoral meliputi respon inflamasi, menghambat migrasi leukosit ke tempat
inflamasi, dan menghalangi fungsi sel endotel, granulosit, sel mast, dan fibroblast. Penelitian
mengungkapkan bahwa kortikosteroid dapat menyebabkan berkurangnya sel mast pada kulit
serta penghambatan kemotaksis lokal netrofil dan menurunkan jumlah sel langerhans.
Kortikosteroid pun dapat menurunkan proliferasi sel T dan meningkatkan apoptosis sel T.
(High dkk, 2012).

Efek antiproliferatif
Kortikosteroid memiliki efek antiproliferatif dengan menghambat sintesis DNA
dan mitosis. Aktivitas fibroblast dan pembentukan kolagen juga dapat dihambat. Kontrol dan
proliferasi seluler merupakan suatu proses kompleks yang terdiri dari penurunan pengaruh
stimuli yang telah dinetralisir oleh berbagai faktor inhibitor. Kortikosteroid juga mengadakan
stabilisasi membran lisosom, sehingga enzim-enzim yang dapat merusak jaringan tidak
dikeluarkan. (Jackson dkk, 2012).

Efek vasokonstriksi
Mekanisme kortikosteroid topikal menyebabkan vasokonstriksi masih belum jelas.
Akan tetapi, mekanisme ini mungkin berhubungan dengan terhambatnya vasodilator natural
seperti histamin, bradikin, dan prostaglandin. Kortikosteroid topikal menyebabkan pembuluh
darah kapiler dermis kontriksi sehingga eritema berkurang. (Jackson dkk, 2012).

FARMAKOKINETIK
Berdasarkan penelitian, kortikosteroid hanya sedikit mengabsorbsi setelah pemberian
pada kulit normal. Oklusi dengan plastik yang tidak dapat tembus, adalah suatu metode yang
efektif untuk meningkatkan penetrasi, menyebabkan peningkatan absorbsi menjadi 10 kali
lipat. (Foster dkk, 2009).
Struktur kulit merupakan parameter kunci penetrasi pengobatan topikal. Terdapat variasi
regional anatomi dalam penetrasi kortikosteroid seperti pada tabel 1. Variasi ini dapat
dijelaskan melalui hukum difusi Fick’s. (Foster dkk, 2009).
𝜕𝐶
𝐽 = −𝐷
𝜕𝑥
dimana J adalah flux; aliran (massa.m-2.s-1) yang merupakan satuan kecepatan transfer
substansi per unit area dalam kurun waktu tertentu sebanding dengan differensial perubahan
konsentrasi (dC) terhadap diferensial jarak (dx). Maka, area dengan lapisan kulit yang tebal
seperti lengan bawah memiliki aliran difusi yang rendah, sehingga penetrasi kortikosteroid
topikal pun rendah, bila dibandingkan dengan lapisan kulit yang lebih tipis seperti skrotum.
Perlu diingat, terapi topikal menitikberatkan target pada lapisan kulit hipodermis/subkutan
yang kaya pembuluh darah. Tingginya tingkat penetrasi pada skrotum pun dikaitkan dengan
banyaknya pembuluh darah pada lapisan kulit bagian tersebut.
Faktor umur juga mempengaruhi absorbsi kortikosteroid topikal. Bayi baru lahir
(newborn) dan anak memiliki struktur kulit yang lebih halus dan belum berkembang
dibandingkan dengan kulit remaja dan dewasa, sehingga diberikan kortikosteroid topikal
yang absorbsi dan penetrasinya lebih mudah atau lebih cepat. Hal ini terjadi karena barier
epidermis pada anak dan bayi belum terbentuk sempurna yang dipengaruhi oleh luas
permukaan tubuh serta permeabilitas yang lebih tinggi. Pemberian kortikosteroid topikal pada
anak perlu dipertimbangkan dengan baik karena resiko terjadinya efek samping akibat
pemberian kortikosteroid topikal terutama golongan potensi sangat tinggi atau tinggi pada
anak lebih besar daripada pada orang dewasa. (Foster dkk, 2009, High dkk, 2012).
Pasien lanjut usia pun memiliki kulit yang tipis, yang dapat menyebabkan
peningkatan penetrasi kortikosteroid topikal. Selain itu pada pasien lanjut usia banyak
terdapat kulit yang atrofi sehingga pertimbangan penggunaan kortikosteroid untuk pasien ini
pun sama dengan pada bayi. Penggunaan kortikosteroid topikal dianjurkan tidak rutin, dalam
periode waktu yang singkat, atau di bawah pengawasan ketat untuk pasien yang memiliki
kulit atrofi, untuk menghindarkan efek samping yang tidak diinginkan. (Foster dkk, 2009).

Tabel 1. Perbandingan resorpsi kortikosteroid (hidrokortison) dari kulit di berbagai daerah tubuh
Daerah tubuh Perbandingan
Lengan bawah 1
Telapak kaki 0,1
Pergelangan kaki 0,4
Telapak tangan 0,5
Punggung 3,7
Kulit kepala 3,5
Ketiak 3,6
Muka 6,0
Skrotum 42,0

PENGGOLONGAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL


Secara umum kortikosteroid berdasarkan potensinya dibagi menjadi 4, yaitu potensi sangat
kuat, potensi kuat, potensi sedang, dan potensi lemah. (Guido Herz, 1988). Selain itu, ada
juga yang membagi kortikosteroid topikal menjadi 7 golongan, yaitu super potent, potent,
potent upper mid-strength, lower midstrength, mild strength, dan least potent (tabel 2).
(Jackson dkk, 2012).
Penggolongan kortikosteroid topikal tersebut juga dipengaruhi oleh vehikulum dan
merek dagang yang digunakan. Vehikulum yang tersedia antara lain oinment, krim, gel,
losion, dan larutan. (Jackson dkk, 2012).

Tabel 2. Kategori potensi kortikosteroid


Kelas I (superpotent) Kelas V (mid-strength)
 Clobetasol propionate 0,05%  Flurandrenolide 0,05%
 Betamethason dipropionate 0,05%  Fluticasone propionate 0,05%
 Diflorasone diacetate 0,05%  Betamethasone dipropionate 0,05%
 Halobetasol propionate 0,05%  Triamcinolone acetonide 0,1%
 Hydrocortison butyrate 0,1%
 Fluocinolone acetonide 0,025%
 Betamethasone valerate 0,1%
 Hydrocortisone valerate 0,2%
Kelas II (potent) Kelas VI (rendah)
 Amcinonide 0,1%  Alclometasone dipropionate 0,05%
 Betamethasone dipropionate 0,05%  Triamcinolone acetonide 0,1%
 Mometasone furoate 0,1%  Desonide 0,05%
 Diflorasone diacetate 0,05%  Fluocinolone acetonide 0,01%
 Halcinonide 0,1%  Betamethasone valerate 0,1%
 Fluocinonide 0,05%
 Desoximethasone 0,25%
Kelas III (potent) Kelas VII (rendah)
 Triamcinolone acetonide 0,1%  Topikal dengan hydrocortisone
 Fluticasone propionate 0,005%  Dexamethason, flumethason
 Amcinonide 0,1%  Prednisolon dan metilprednisolon
 Betamethasone dipropionate 0,05%
 Diflorasone diacetate 0,05%
 Halcinonide 0,1%
 Fluocinonide 0,05%
Kelas IV (mid-strength)
 Flurandrenolide 0,05%
 Mometasone furoate 0,1%
 Triamcinolone acetonide 0,1%
 Betamethasone valerate 0,12%
 Fluocinolone acetonide 0,025%
 Hydrocortisone valerate 0,2%

Sebagai contoh betametason dipropionat 0,05% masuk dalam golongan I, II, III, dan
V (Tabel 3). Hal ini dipengaruhi oleh vehikulum dan merek dagang yang digunakan.
Triamcinolone acetonide 0,1% juga masuk dalam golongan III, IV, dan V dan berbeda
dipengaruhi vehikulum yang digunakan (tabel 4).
Efektivitas kortikosteroid dengan merek dagang tertentu dibandingkan produk
generiknya tidak sepenuhnya bermakna. Berbagai penelitian menyebutkan potensi sediaan
generik tidak selalu sama potensinya dengan kortikosteroid bermerek dagang.

Penelitian lain menyebutkan terdapat pula variasi potensi antara produk kortikosteroid
berbahan aktif sama namun berbeda merek dagang. (Warner dkk, 2007).

Tabel 3. Kategori potensi betametason dipropionat 0,05%


Golongan Sediaan
Golongan I Diprolene® ointment
Golongan II Diprosone® ointment
Golongan III Diprosone® cream
Golongan V Diprosone® lotion

Tabel 4. Kategori potensi triamcinolone acetonide 0,1%


Golongan Sediaan
Golongan III Aristocort A® ointment
Golongan IV Kenalog® cream
Golongan V Aristocort® cream

PEMILIHAN KORTIKOSTERID
Kortikosteroid topikal dipilih yang sesuai, aman, efek samping sedikit, dan harga
murah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kortikosteroid topikal
yaitu potensi kortikosteroid yang diinginkan, jenis penyakit kulit, jenis vehikulum, dan
jumlah penggunaan. (James, 2008).

Potensi kortikosteroid
Keputusan pemilihan potensi berdasarkan pada usia pasien, tipe penyakit, tingkat
keparahan, luasnya lokasi, dan perkiraan durasi pemakaian kortikosteroid topikal. (James,
2008).
Jenis penyakit kulit
Pemberian kortikosteroid berhubungan dengan respon dari penyakit kulit yang
dialami. Berdasarkan respon tersebut beberapa penyakit dikategorikan menjadi tiga yaitu
responsif tinggi, responsif sedang, dan responsif rendah. Dapat dilihat di Tabel 5 (James,
2008).

Tabel 5. Kategori respon penyakit kulit terhadap kortikosteroid topikal


Respon tinggi Respon sedang Respon rendah
 Psoriasis intertriginosa  Psoriasis  Psoriasis palmo-plantar
 Dermatitis atopic pada  Dermatitis atopic pada  Psoriasis pada kuku
anak dewasa  Dermatitis dishidrosis
 Dermatitis seboroik  Dermatitis numularis  Lupus erytematosus
 Intertriginosa  Dermatitis iritan primer  Pemfigus
 Papular urtikaria  Liken planus
 Parapsoriasis  Granuloma annulare
 Liken simpleks kronis  Nekrobiosis lipoidica
diabeticorum
 Sarcoidosis
 Dermatitis kontak alergi,
fase akut
 Gigitan serangga

Penyakit kulit dengan respon tinggi biasanya akan merespon dengan steroid potensi rendah,
dan penyakit dengan respon rendah sebaiknya diobati dengan kostrikosteroid topikal potensi
tinggi. (James, 2008).

Jenis vehikulum
Hal terpenting dalam pemilihan vehikulum adalah lokasi pemberian kortikosteroid
topikal, potensi iritasi, dan riwayat alergi sebelumnya. Tabel 6 menjelaskan pemilihan
vehikulum kortikosteroid topikal. (James, 2008).

DOSIS DAN PENGGUNAAN


Dosis pemberian kortikosteroid topikal tidak lebih dari 45 gram/minggu pada
golongan poten atau 100 gram/minggu pada kortikosteroid golongan potensi medium dan
lemah. Frekuensi pemberian kortikosteroid topikal yang dianjurkan yaitu satu kali sehari.
Berdasarkan penelitian keuntungan pemberian kortikosteroid topikal satu kali sehari sama
dengan dua kali sehari. Maka sebaiknya frekuensi pemberian kortikosteroid topikal satu kali
sehari sehingga lebih efektif, mengurangi efek samping, serta menurunkan biaya terapi.
(Warner dkk, 2007).
Lama pemakaian kortikosteroid topikal sebaiknya tidak lebih dari 4-6 minggu untuk
golongan potensi lemah dan tidak lebih dari 2 minggu untuk golongan potensi tinggi.
Penggunaan kortikosteroid topikal berhubungan dengan jenis sediaannya, yaitu dipengaruhi
oleh bahan dasar (vehikulum) yang digunakan. (Warner dkk, 2007).
Pemakaian kortikosteroid topikal berupa krim atau salep menggunakan cara Fingertip
unit (FTU). Satu satuan FTU adalah krim atau salep dari kemasan sepanjang 1 ruas jari
telunjuk bagian ujung. Satu FTU sama dengan 0,5 gram krim atau salep. Dua FTU sama
dengan 1 gram krim atau salep. Tabel 7 merupakan petunjuk pemakaian krim atau salep
berdasarkan bagian tubuh yang memerlukan. (Jackson dkk 2012).

Tabel 6.Pemilihan vehikulum untuk kortikosteroid topikal


Sediaan Komposisi Hidrasi Lesi/dermatosis Area yang Kosmesis Potensi
kulit yang dianjurkan iritasi
dianjurkan
Oinment Emulsi air Hidrasi Baik untuk Baik untuk Sangat Umumnya
dalam minyak kulit sangat kulit tebal, region berminyak rendah
baik terdapat palmar,plantar;
likenifikasi,atau hindari area
bersisik yang dapat
teroklusi alami
Krim Emulsi Hidrasi Baik untuk Baik untuk kulit Elegan Bervariasi
minyak dalam kulit baik dermatosis fase lembab & area
air akut /subakut intertriginous
Gel Selulosa Kulit Scalp/daerah Baik untuk area Elegan Tinggi
dalam kering berambut tertutup, scalp
alkohol/aseton & mukosa
Losion Minyak dalam Kulit Scalp/ daerah Baik untuk area Elegan Tinggi
air kering berambut tertutup dan
scalp
Larutan Alkohol Kulit Scalp /daerah Baik untuk area Elegan Tinggi
kering berambut tertutup & scalp

Tabel 7. Pemakaian krim atau salep dengan FTU sesuai bagian tubuh yang memerlukan
Bagian tubuh Krim atau salep
Wajah dan leher 2,5 FTU
Trunkus anterior 7 FTU
Trunkus posterior 7 FTU
1 lengan 3 FTU
1 tangan 1 FTU
1 tungkai 6 FTU
1 kaki 2 FTU
Gambar 4. Finger Tip Unit

KONTRAINDIKASI
Kontraindikasi dibagi menjadi kontraindikasi absolut dan relatif. Kontraindikasi
absolut antara lain pada pasien hipersensitivitas kortikosteroid topikal dan hipersensitivitas
pada bahan vehikulum. Kontraindikasi relatif antara lain pada pasien infeksi bakteri, virus,
jamur dan pasien dengan akne dan ulkus. Penggunaan kortikosteroid topikal diperbolehkan
pada kehamilan dengan catatan bila manfaat penggunaannya lebih besar dibandingkan
kemungkinan resiko pada janin. Pada ibu menyusui penggunaan kortikosteroid topikal
diperbolehkan pada lokasi lesi jauh dari payudara. (Warner dkk, 2007).

EFEK SAMPING
Penggunaan kortikosteroid topikal memiliki efek samping yang dapat terjadi bila
penggunaan kortikosteroid topikal lama dan berlebihan, penggunaan kortikosteroid topikal
dengan potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan secara oklusif. Semakin tinggi potensi
kortikosteroid topikal maka semakin cepat terjadinya efek sampingnya. (Stephen, 2007).
Efek samping dari kortikosteroid topikal ini dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu jenis
steroid berdasarkan kekuatannya, area lesi yang diberi pengobatan kortikosteroid topikal, dan
faktor predisposisi pasien terhadap timbulnya efek samping. Beberapa penulis membagi efek
samping kortikosteroid kepada beberapa tingkat yaitu (Stephen, 2007):
Efek Epidermal
Ini termasuk :
1. Penipisan epidermal yang disertai dengan peningkatan aktivitas kinetik dermal, suatu
penurunan ketebalan rata-rata lapisan keratosit, dengan pendataran dari konvulsi
dermo-epidermal. Efek ini bisa dicegah dengan penggunaan tretinoin topikal secara
konkomitan.
2. Inhibisi dari melanosit, suatu keadaan seperti vitiligo, telah ditemukan. Komplikasi ini
muncul pada keadaan oklusi steroid atau injeksi steroid intrakutan.

Efek Dermal
Terjadi penurunan sintesis kolagen dan pengurangan pada substansi dasar. Ini
menyebabkan terbentuknya striae dan keadaan vaskulator dermal yang lemah akan
menyebabkan mudah ruptur jika terjadi trauma atau terpotong. Pendarahan intradermal yang
terjadi akan menyebar dengan cepat untuk menghasilkan suatu blot hemorrhage. Ini nantinya
akan terserap dan membentuk jaringan parut stelata, yang terlihat seperti usia kulit prematur.
(Stephen, 2007).

Efek Vaskular
Efek ini termasuk :
1. Vasodilatasi yang terfiksasi. Kortikosteroid pada awalnya menyebabkan vasokontriksi
pada pembuluh darah yang kecil di superfisial.
2. Fenomena rebound. Vasokontriksi yang lama akan menyebabkan pembuluh darah
yang kecil mengalami dilatasi berlebihan, yang bisa mengakibatkan edema, inflamasi
lanjut, dan kadang-kadang pustulasi

Efek samping penggunaan kortikosteroid topikal, meliputi sebagai berikut :

1. Infeksi Kulit
2. Penyembuhan Luka yang Terhambat
3. Akne
4. Atropi kulit
5. Telangikietasia
6. Dermatitis perioral
7. Hipopigmentasi