Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH BOTANI FARMASI

“Angiospermae”

Disusun untuk Memenuhi Tugas Botani Farmasi

Disusun Oleh:

Rieda Nurwulan Septyani 260110150032

Iis Nuraeni 260110150073

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN

2016
I. Pendahuluan
Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan beraneka ragam
tanaman. Sebagai negara yang beriklim tropis, Indonesia memiliki
tanah yang sangat subur, dan sangat cocok sebagai tempat tumbuh
kembangnya berbagai macam tanaman, dari berbagai macam jenis atau
spesies. Tanaman yang tumbuh subur tersebut tidak hanya tanaman
yang asli berasal dari tanah Indonesia, banyak juga berbagai tanaman
yang berasal dari luar negeri yang tumbuh subur di Indonesia.
Tanaman-tanaman tersebut banyak yang berkhasiat sebagai obat
tradisional yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Tanaman berkhasiat tersebut sangat bermanfaat di karenakan berbagai
zat-zat bermanfaat yang dikandungnya. Tanaman obat bersifat alami,
efek sampingnya tidak sekeras efek dari obat-obatan kimia modern.
Tubuh manusia secara lebih mudah menerima obat dari bahan tanaman
yang natural dibandngkan dengan obat kimiawi. Dalam makalah ini
akan dijabarkan salah satu tanaman yang berkhasiat obat yaitu Kumis
kucing (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.).
II. Nama Tumbuhan
a. Nama : Kumis Kucing
b. Nama latin : Orthosiphon aristatus (BL.) Miq.
c. Nama daerah :Remujung (Jawa Tengah), Kumis Kucing
(Melayu), Kumis Ucing (Sunda), Soengot Koceng (Madura).
d. Nama Asing : cats whiskers (Inggris), mao xu cao (Cina).
(Hariana, 2013).
III. Pertelaan
Kumis kucing merupakan tumbuhan tak berkayu atau disebut
terna, tumbuh tegak, siklus hidup relatif panjang, tinggi dapat
mencapai 2 meter. Tumbuh secara liar dipinggir hutan, padang rumput,
tanah pekarangan kosong, dan sebagian ditanam oleh warga sebagai
tanaman obat dipagar-pagar atau pekarangan rumah. Batang bentuk
bulat, silindris, relatif kecil, berwarna cokelat, berbulu, pendek atau
gundul, basah. Daun tunggal, berbentuk telur, sedikit melengkung,
berumpuk atau memisah, bagian tepi bergerigi, agak kasar, tak teratur,
tulang daun dan tangkai berwarna hijau keunguan, berbintik halus.
Bunga majemuk berupa tandan yang keluar di bagian ujung cabang,
warna keunguan dan putih, setiap satu tandan atau bunga akan keluar
benang sari mirip kumis kucing. Buahnya bulat telur, banyak,
berwarna hijau dan akan berubah menjadi hitam jika sudah masak
(Soenanto, 2009)

IV. Keanekaragaman
Dikenal tiga varietas kumis kucing, diantaranya yaitu :
1. Berbunga biru.
2. Berbunga putih dengan batang, tulang daun dan tangkai bunga
yang berwarna coklat kemerahan.
3. Berbunga putih.
(Depkes RI, 1980).
V. Ekologi dan penyebaran
Asal dan penyebaran geografis kumis kucing, tersebar dari India,
Indo-Cina dan Thailand, melewati Malaysia ke daerah tropis Australia.
Sebagai tanaman liar, tanaman ini terdapat di seluruh Malaysia, namun
kaberadaannya jarang di Kalimatan, Sulawesi dan Maluku. Saat ini
tanaman ini tumbuh di Asia tenggara (di Jawa sejak tahun 1928),
Afrika, Georgia (Caucasus) dan Kuba. Tanaman kumis kucing dapat
ditemukan pada daerah yang teduh tidak telalu kering; 1-700m (Van,
2003) di Jawa dan pulau pulau lainya dari nusantara, tumbuh
menjulang sepanjang anak air dan selokan, karena daunnya berkhasiat
untuk pengobatan, sering dibiarkan tumbuh di halaman (Heyne, 1987).

VI. Budidaya
Perbanyakan dilakukan dengan stek. Untuk memperbanyak
tanaman digunakan stek sepanjang 15 cm sampai 20 cm yang diambil
dari tanaman yang tidak terlalu muda. Stek terdiri dari beberapa ruas
yang dapat mengeluarkan tunas baru. Penamaan dapat dilakukan
dengan disemaikan lebih dulu atau langsung ditanam di kebun. Jarak
tanam adalah 40 cm, dan lebar 40 cm tanpa menggunakan naungan.
Ada juga yang tanamannya dibawah pohon Albizzia sp. sebagai
naungan.
Pemetikan pertama dilakukan apabila tanaman mulai
mengeluarkan kuncup bunga. Jika tumbuhnya baik, mulai 4 minggu
sampai 6 minggu dari waktu tanam daunnya mulai dapat dipetik.
Selama menunggu pemetikan daun, kuncup bunga dibuang, agar
pemetikan daun dapat ditingkatkan. Pemetikan dilakukan dengan
memetik puncuk daun sebanyak 2 samapai 3 pasang daun dan hal ini
dilakukan stiap 2 minggu sampai 3 minggu. Karena pemetikan daun
dilakukan secara terus menerus, pada waktu-waktu tertentu diberi
pupuk organik maupun anorganik.
Pengeringan daun dilakukan dengan alat khusus atau dengan
menjemur dipanas matahari. Untuk mendapatkan daun yang bermutu
baik, daun yang telah dipetik dianginkan dulu ditempat yang teduh
sebelum dijemur. Setelah kandungan airnya berkurang dan daun
menjadi layu, dapat dijemur dipanas matahari. Mengeringkan daun
pada suhu tinggi secara mendadak mengakibatkan daunnya berwarna
hitam. Daun yang bermutu baik tetap berwarna hijau setelah
dikeringkan dan dan baunya tetap harum. Waktu menjemur harus
dihindarkan menggunakan barang logam yang menyebabkan daun
berwarna hitam. Sebagai tempat menjemur digunakan tampir yang
terbuat dari bambu. Agar daun yang sudah kering tidak menjadi
lembab, daun harus segera dipress dan dikemas dalam peti yang biasa
untuk mengemas daun teh. Tiap peti dapat memuat 50 kg daun kering.
(Depkes RI, 1980).
VII. Kandungan zat kimia
Kumis kucing memiliki rasa sedikit pahit, agak asin, sepet, dan
bersifat sejuk. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam kumis
kucing, diantaranya zat samak, minyak atsiri, orthosiphonglikosida,
minyak lemak, saponin, sapofonin, garam kalium (0,6-3,5 %), dan
myoinositol. Sementara itu efek farmakologis yang dimiliki oleh
kumis kucing, diantaranya antiradang, peluruh air seni (diuretic), dan
penghancur batu saluran kencing (Hariana, 2013).
VIII. Gambar tumbuhan

(Van, 2003).

IX. Khasiat dan bagian yang dimanfaatkan


Seluruh bagian kumis kucing dapat dimanfaatkan untuk mengobati
beberapa penyakit sebagai berikut.
1. Batu kandung empedu
Dapat digunakan dengan cara :
Giling segenggam daun kumis kucing, sejempol kunyit, 7 helai
daun ungu, dan 2 siung bawang putih. Tambahkan sepotong kayu
manis, lalu rebus dengan 1 1∕2 liter air sampai tersisa 750 ml.
Minum air rebusan 2 kali sehari (Hariana, 2013).
2. Bengkak kandung kemih
Dapat digunakan dengan cara :
Cuci bersih 30 g herba kumis kuing, 30 g daun sendok, dan 30 g
rumput lidah ular. Rebus semua bahan dengan 3 gelas air sampai
tersisa 1 gelas. Minum air rebusan dua kali sehari masing-masing
1∕2 gelas (Hariana, 2013).
3. Encok
Rebus 30 g daun kumis kucing dan 30 g meniran dalam 3 gelas air
hingga tinggal 1 1∕2 bagian. Setelah dingin, minum air rebusan 3
kali sehari masing-masing 1∕2 gelas (Hariana, 2013).
4. Infeksi kandung kemih (batu dalam kandung kemih)
Rebus 5 – 10 helai daun kumis kucing dalam setengah gelas air.
Minum air rebusan 2 kali sehari (Hariana, 2013).
5. Infeksi saluran kencing, sering kencing sedikit-sedikit (anyang-
anyangen)
Cuci bersih 30 g kumis kucing, 30 g meniran, dan 30 g akar alang-
alang. Rebus semua bahan dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 1∕2
gelas. Setelah dingin, minum setengah gelas air rebusan tiga kali
sehari (Hariana, 2013).
6. Keputihan
Rebus 1 genggam daun kumis kucing, 1 genggam beluntas, 1
sendok teh jinten hitam, dan 10 biji kemukus dengan 3 gelas air
sampai tersisa 1 gelas. Minum air rebusan 2 kali sehari masing-
masing 1∕2 gelas (Hariana, 2013).
7. Sakit kencing batu
Rebus 4 – 7 helai daun kumis kucing dan 7 tumbuhan meniran
dalam 2 gel air sampai tersisa 1 gelas. Minum air rebusan 3 kali
sehari (Hariana, 2013).
8. Menghilangkan panas dan lembap serta masuk angin
Rebus 30 – 60 g tumbuhan kumis kucing kering atau 90 – 120 g
tumbuhan kumis kucing basah. Minum air rebusan seperti minum
teh (Hariana, 2013).
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (1980). Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

Hariana, Arief. 2013. 262 Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta : Penebar
Swadaya.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I dan II. Terj. Bidang
Libang Kehutanan. Cetakan I. Koperasi Karyawan Departemen
Kehutanan Jakarta Pusat.

Soenanto, Hardi. 2009. 100 Resep Sembuhkan Hipertensi, Asam Urat, dan
Obesitas. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Van, Steenis, C.G.G.J., 2003. Flora. Jakarta: P.T. Pradya Paramita.