Anda di halaman 1dari 6

Sejarah Asuhan Kehamilan

Makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Asuhan Kebidanan Kehamilan

Pembimbing/Dosen mata kuliah: Wiwin Widayani, SST, M.keb

Disusun Oleh:

Indri Noviawati P17324116020


2B

DIII KEBIDANAN BANDUNG


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN BANDUNG
2017/2018

1
DAFTAR ISI
Cover ...........................................................................................................
Daftar Isi ................................................................................................... i
Materi/Pokok Bahasan ............................................................................. 2
A. Sejarah Asuhan Kehamilan di Yunani ............................................. 2
B. Sejarah Asuhan Kehamilan di Perancis .......................................... 2
C. Sejarah Asuhan Kehamilan di Inggris ............................................. 2
D. Sejarah Asuhan Kehamilan di Amerika Serikat ............................... 2
E. Sejarah Asuhan Kehamilan di Belanda ........................................... 2
F. Sejarah Asuhan Kehamilan di Indonesia......................................... 3
Daftar Pustaka ………………………………………………………………... 5

i
Sejarah Asuhan Kehamilan (Antenatal Care)

A. Sejarah Asuhan Kehamilan di Yunani dan Romawi

Sejarah asuhan kehamilan terkait erat dengan sejarah kebidanan. Bidan berasal dari kata
latin yaitu “OBSTO” yang artinya mendampingi, dalam bahasa Perancis dikenal dengan kata
“OBSTETRICUS”, dalam bahasa Belanda dikenal dengan sebutan “OBSTETRIE”.
Dalam sejarah manusia terdapat peradaban-peradaban diantaranya di Yunani dan di
Romawi, di Tiongkok dan India, di mana praktek kedokteran sudah mencapai tingkat tinggi. Pada
tahun 460 sampai 377 sebelum Masehi, Hippocrates dianggap sebagai Bapak Ilmu Kedokteran.
Pada masa itu pertolongan pada wanita hamil dam melahirkan sepenuhnya diserahkan
kepada wanita-wanita penolong persalinan, yang umumnya tidak mempunyai pengetahuan
tentang kebidanan kecuali yang hidup pada zaman Romawi dan Yunani. Pertolongan berdasar
pada pengalaman, kepercayaan yang diperoleh dari penolong-penolong terdahulu.
Kemudian lahirlah para dokter pria yang walaupun tidak melakukan praktek kebidanan,
tetapi menaruh perhatian besar terhadap fisiologi dan patologi kehamilan dan persalinan.
Termasuk diantaranya Hipocrates, Soranus, Rufus, Galenus dan Celsus (Wiknjosastro
2002,hal.5).
Selanjutnya Wiknjosastro (2002,hal.5-7) menjelaskan bahwa pada tahun 1513 Eucharius
Roeslin menerbitkan buku pelajaran untuk penolong persalinan yang berjudul “Der Schwangern
Frauen Und Hebammen Rosengarten”.

B. Sejarah Asuhan Kehamilan di Perancis

Pada tahun 1598 dibuka sekolah bidan pertama di Munchener Gebaranstalt, kemudian
diikuti sekolah di hotel Dieu di Paris dan Gebaranstalt des Burgerspitals di Strassburg.
Pada tahun 1837 Thomas Bull membuat buku pertama yang khusus membahas
penanganan wanita hamil. Pada tahun 1878 Pinard menulis tentang bahaya kelainan letak
janin dan menganjurkan pemeriksaan wanita hamil untuk mengetahui letak janin dalam uterus.
Selanjutnya pada tahun 1895 beliau memberitahukan adanya rumah di Paris untuk
merawat wanita hamil yang terlantar , dan menerangkan bahwa bayi-bayi yang dilahirkan oleh
wanita-wanita ini umumnya lebih besar dari bayi wanita-wanita yang bekerja terus sampai
persalinan mulai. Jean Lubumen dari Perancis menemukan stetoskop pada tahun 1819, dan
pertama mendengar DJJ tahun 1920.

C. Sejarah Asuhan Kehamilan di Inggris

John Braxton Hicks dari Inggris tahun 1872 menggambarkan kontraksi uterus selama
kehamilan yang dikenal dengan kontrksi Braxton-Hicks. Di Inggris ( Edinburg) dalam tahun 1899
disediakan tempat untuk merawat wanita hamil pada The Royal Maternity Hospital.Dr.Ballentyne
adalah dokter yang berjasa dalam menganjurkan pro maternity hospital untuk wanita hamil yang
memerlukan perawatan.

D. Sejarah Asuhan Kehamilan di Amerika Serikat

Selanjutnya di Amerika serikat (BOSTON) dilangsungkan usaha baru, dimana anggota-


anggota Intructive Nursing Association mengadakan kunjungan rumah secara rutin pada wanita-
wanita hamil. Akhirnya pada tahun 1911 didirikan klinik antenatal di Boston Lying-in Hospital untuk
pemeriksaan dan penanggulangan wanita hamil. Prakarsa ini dicontoh oleh Negara-negara lain,
dan kini klinik antenatal sudah tersebar di seluruh dunia. Salah satunya adalah Negara Belanda.

E. Sejarah Asuhan Kehamilan di Belanda

2
Setelah klinik antenatal mulai berkembang di Belanda maka dibuat beberapa pelayanan. Adapun
Pelayanan - Pelayanan yang Dilaksanakan oleh Belanda, yaitu :
1. Pelayanan Antenatal
Bidan Belanda lebih berhak praktek mandiri daripada perawat. Bidan mempunyai ijin resmi
untuk praktek dan menyediakan layanan kepada wanita dengan resiko rendah, meliputi
antenatal, intrapartum dan postnatal. Untuk memperbaiki pelayanan kebidanan dan ahli
kebidanan dan untuk meningkatakan kerjasama antar bidan dan ahli kebidanan dibentuklah
dafatar indikasi oleh kelompok kecil yang berhubungan dengan pelayanan maternal di
Belanda.
2. Pelayanan Intrapartum
Pelayanan intrapartum dimulai dari waktu bidan dipanggil sampai satu jam setelah lahirnya
plasenta dan membrannya. Bidan mempunyai kemampuan untuk melakukan episiotomi tapi
tidak diijinkan menggunakan alat kedokteran. Biasanya bidan menjahit luka perineum atau
episiotomi, untuk luka yang parah dirujuk ke Ahli Kebidanan.
3. Pelayanan Postpartum
Di Kebidanan Belanda, pelayanan post natal dimulai setelah.
Pada tahun 1988, persalinan di negara Belanda 80% telah ditolong oleh bidan, hanya 20%
persalinan di RS. Pelayanan kebidanan dilakukan pada community – normal, bidan sudah
mempunyai indefendensi yuang jelas. Kondisi kesehatan ibu dan anak pun semakin baik,
bidan mempunyai tanggung jawab yakni melindungi dan memfasilitasi proses alami,
menyeleksi kapan wanitya perlu intervensi, yang menghindari teknologi dan pertolongan dokter
yang tidak penting.

F. Sejarah Asuhan Kehamilan di Indonesia

Pada zaman pemerintahan Belanda di Indonesia Angka kematian Ibu dan Anak sangat
tinggi, karena penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1850 dibuka kursus kebidanan oleh
seorang bidan VOC untuk meringankan penderitaan masyarakat pribumi. Banyak orang Indonesia
mengikuti kursus yang diadakan oleh Bidan VOC.
Dokter M. Toha, setelah menamatkan pendidikan sebagai ahli kebidanan dan penyakit
kandungan ditempatkan di Cirebon. Beliau mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan secara
luas berbagai masalah yang dihadapi anak negeri dalam bidang pelayanan kebidanan. Selanjutnya
Prof.Remmeltz meninjau rumah sakit Cirebon dan meluluskan permintaan mendirikan sekolah
bidan.
Pada tahun 1950 Dr. Mochtar dan Dr. Soelianti membentuk bagian kesehatan ibu dan
anak (KIA) di Departemen Kesehatan R.I.
Pada tahun 1952 mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan
kualitas pertolongan persalinan. Perubahan pengetahuan dan keterampilan tentang pelayanan
kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di masyarakat dilakukan melalui kursus tambahan
yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta yang
akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar lain di nusantara.
Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dan
adanya program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Ruang lingkup pelayanan BKIA meliputi
pelayanan antenatal, intranatal, postnatal, penyuluhan gizi, pemberdayaan masyarakat serta
pemberian makanan tambahan.
Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan terintegrasi kepada masyarakat
yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas
memberikan pelayanan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di Puskesmas
berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga
berencana.
Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan
masyarakat. Kebijakan ini melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992
tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.
Dalam pidato pembukaan “World Congress On Human Reproduction, di Nusa Dua Bali,
4- 9 April 1994. Bapak Presiden Soeharto menyampaikan akan menyebarkan sebanyak 50.000

3
bidan di desa. Dapat dibayangkan bahwa keberadaan bidan di desa diharapkan dapat
menggantikan peran dukun untuk menolong persalinan serta melakukan penapisan bagi kelompok
kehamilan dengan resiko tinggi. Dengan meningkatkan pelayanan dan pengayoman medis yang
lebih bermutu dan menyeluruh diharapkan angka kematian ibu dan anak dapat diturunkan.
Oleh Pemerintah adanya program KIA dan BKIA menjadi prioritas tinggi keberadaannya
ke pelosok daerah sehingga meningkatkan asuhan pada ibu hamil. Pada tahun 1995 adanya
program bidan desa juga dalam rangka meningkatkan asuhan. Dalam pelaksanaannya asuhan
kehamilan selalu mengikuti perubahan zaman dan tuntunan masyarakat.
Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA khususnya
dalam pelayanann kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru
lahir termasuk pembinaan dukun bayi. Pelayanan yang diberikan berorientasi pada kesehatan
masyarakat berbeda halnya dengan bidan yang bekerja dirumah sakit dimana pelayanan yang
diberiklan berorientasi pada individu. Bidan di rumah sakit memberikan pelayanan poliklinik
antenatal.
Sebelum dikenal asuhan berdasarkan evidence based, asuhan diberikan berdasarkan
tradisional. Asuhan yang banyak berkembang saat ini dari model yang dikembangkan Eropa awal
abad ini. Lebih mengarah ke ritual dari pada rasional, lebih mengarah ke frekwensi dan jumlah dari
pada tujuan yang esensial.

4
DAFTAR PUSTAKA

Asrinah,dkk. (2010). Asuhan Kebidanan Masa Kehamilan. Yogyakarta: Graha IlmuUmmi


Hani,dkk. (2010). Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis. Jakarta: Salemba Medika
Wiknjosastro H.(2009). Ilmu Kebidanan. Edisi ke-4 Cetakan ke-2. Jakarta: Yayaan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Sulistyawati, A. (2009). Asuhan Kebidanan pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
Astuti, H. (2012). Buku Ajar Asuhan Kebidanan 1 Konsep Dasar Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Rohima