Anda di halaman 1dari 12

BIDANG ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK

ENDODONTIK PADA ANAK

DISUSUN OLEH:
SUSANTI NURFADHILA G4B1017009
CINTA YUNI PRATAMI G4B1017017
FINE RAMADHANIYA F.A G4B1017018

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2017
ENDODONTIK PADA ANAK

A. Gambaran Umum
Perawatan endodontik pada anak diperlukan pendekatan atau komunikasi yang
baik dengan pasien anak. Perawatan endodontik pada anak bertujuan untuk
mempertahankan gigi desidui yang pulpanya terbuka sampai erupsi gigi pengganti
atau permanen, dan mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat di terima
secara biologis oleh jaringan sekitarnya. Selain itu, bertujuan untuk meringankan rasa
sakit dan mengontrol sepsis dari pulpa dan jaringan periapikal sekitarnya. Faktor
pertimbangan khusus diperlukan pada saat memutuskan rencana perawatan yang
sesuai untuk gigi geligi desidui yaitu untuk mempertahankan gigi selama mungkin
hingga waktunya tanggal dan menjaga lengkung rahang tetap baik sesuai dengan pola
tumbuh kembang rahang (Bence, 2005). Adapun keberhasilan dari perawatan
endodontik pada anak tergantung dari eliminasi atau reduksi mikroorganisme yang
berada pada pulpa atau saluran akar (Pediarahma dan Rizal, 2014).
B. Jenis Perawatan Endodontik Anak
1. Pulp capping
a. Indirect pulp capping
1) Pengertian
Indirect pulp capping merupakan tindakan perawatan jaringan pulpa
yang belum terbuka yang dilakukan untuk mempertahankan vitalitas pulpa
melalui pemberian material diatas selapis tipis dentin yang terinfeksi di
atas pulpa pada kavitas yang dalam (Andlaw dan Rock, 2012). Tujuan dari
perawatan indirect pulp capping adalah untuk menghentikan
perkembangan karies dan membentuk dentin reparatif (Abuabara dkk.,
2012). Keberhasilan perawatan indirect pulp capping tergantung diagnosa
pulpa yang masih vital dan pembuatan final restoration untuk mencegah
kebocoran mikro. Final restoration yang dapat digunakan yaitu stainless
steel crown atau restorasi komposit (Fuks dan Peretz, 2016).
2) Indikasi dan kontraindikasi
Indikasi dari perawatan indirect pulp capping adalah
ketidaknyamanan yang ringan karena rangsangan kimia dan termal dan
tidak ada nyeri spontan yang mengindikasikan pulpitis reversible, karies
yang besar dan dalam, gingiva yang berdekatan normal, warna gigi
normal, serta tidak terbukanya pulpa. Gambaran pemeriksaan radiografi
menunjukkan lamina dura normal, ruang ligamen periodontal normal, dan
tidak ada radiolusensi periapikal (Koch dkk., 2009).
Kontraindikasi dari perawatan indirect pulp capping adalah terdapat
keluhan atau nyeri yang tajam dan spontan, penetrasi sakit bertahan setelah
penarikan stimulus yang mengindikasikan pulpitis irreversible, terdapat
mobilitas gigi yang berlebihan dan terjadi perubahan warna gigi (Koch
dkk., 2009). Menurut Ingle dkk. (2008), pada pemeriksaan radiografi
terdapat lamina dura yang terputus, radiolusen disekitar apeks gigi atau di
daerah furkasi, dan pelebaran ruang ligamen periodontal.
3) Prosedur kerja
Menurut Koch dan Poulsen (2001), prosedur dari perawatan indirect
pulp capping adalah sebagai berikut.
(a) Persiapan instrumen dan bahan
(b) Isolasi gigi dengan menggunakan rubber dam atau isolasi gigi juga
dapat menggunakan cotton roll
(c) Preparasi kavitas pada permukaan oklusal pada tempat karies sampai
kedalaman 1,5 mm (kira-kira 0,5 mm ke dalam dentin)
(d) Buang karies dengan ekskavator, mula-mula dengan menghilangkan
karies tepi kemudian berlanjut kearah pulpa
(e) Keringkan kavitas dengan cotton pellets lalu tutup bagian kavitas yang
dalam dengan pasta kalsium hidroksida
(f) Tutup dengan restorasi sementara untuk menilai keberhasilan
perawatan, apabila perawatan berhasil dapat ditumpat permanen.
b. Direct pulp capping
1) Pengertian
Direct pulp capping adalah tindakan perawatan yang dilakukan untuk
mempertahankan vitalitas pulpa yang sudah terbuka disebabkan oleh mekanis
dengan menempatkan bahan langsung diatas jaringan pulpa (Koch dkk.,
2009). Tujuan dari perawatan direct pulp capping adalah untuk membentuk
dentin reparatif (Abuabara dkk., 2012). Terdapat dua hal yang menyebabkan
prosedur ini harus dilakukan, yakni jika pulpa tidak sengaja terbuka secara
mekanis dan pulpa terbuka karena karies. Terbukanya pulpa secara mekanis
dapat terjadi pada preparasi kavitas atau preparasi mahkota yang berlebihan,
penempatan pin atau alat bantu retensi. Jaringan pulpa pada kasus pemajanan
mekanis yang tidak sengaja kemungkinan besar masih normal, sementara
pada pulpa yang terbuka karena karies yang dalam kemungkinan besar
jaringan pulpa telah inflamasi (Andlaw dan Rock, 2012; Ingle dkk., 2008).
Pada umumnya, perawatan direct pulp capping memiliki tingkat keberhasilan
yang rendah pada gigi desidui sehingga dapat menyebabkan resorpsi internal
atau abses (Fuks, 2008).
2) Indikasi dan kontraindikasi
Indikasi dari perawatan direct pulp capping yaitu pulpa masih vital dan
terbuka atau terekspos karena faktor mekanis atau trauma. Pulpa masih dalam
keadaan steril dan belum terkena serangan mikroorganisme (Clinical Affairs
Committee – Pulp Therapy Subcommittee, 2016). Kontraindikasi dari
perawatan direct pulp capping yaitu nyeri gigi spontan, mobilitas berlebihan,
penebalan ligamen periodontal, perdarahan yang tidak terkendali, dan
terdapat eksudat purulen (Ingle dkk., 2008).
3) Prosedur kerja
Menurut Koch dan Poulsen (2001), prosedur dari perawatan direct pulp
capping adalah sebagai berikut.
(a) Persiapan instrumen dan bahan
(b) Isolasi gigi dengan menggunakan rubber dam atau cotton roll
(c) Preparasi kavitas dengan membuang jaringan karies apabila disebabkan
karena karies atau bersihkan permukaan fraktur menggunakan cotton
pellets lembab yang telah dicelupkan pada NaCl fisiologis apabila
disebabkan karena fraktur
(d) Keringkan bagian pulpa yang terbuka dengan menggunakan cotton
pellets steril
(e) Daerah perforasi tutup dengan pasta kalsium hidroksida
(f) Tutup dengan restorasi sementara untuk menilai keberhasilan
perawatan, apabila perawatan berhasil dapat ditumpat permanen.

2. Pulpotomi
a. Pulpotomi Vital
1) Pengertian Pulpotomi Vital
Pulpotomi vital merupakan tindakan pengambilan sebagian jaringan
pulpa yang umumnya pada bagian korona yang cedera atau mengalami
infeksi. Tujuan dari perawatan pulpotomi adalah untuk mempertahankan
jaringan pulpa yang berada dalam saluran akar tetap vital serta untuk
mempetahankan gigi (Abuabara dkk., 2012). Pulpotomi dapat di pilih
sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang
cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk di cabut. Pulpotomi
juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan gejala
khususnya pada anak (Bence, 2005).
2) Indikasi dan Kontraindikasi Pulpotomi Vital
Indikasi pulpotomi adalah anak yang kooperatif, anak dengan
pengalaman buruk pada pencabutan, pulpa gigi sulung yang terbuka, gigi
yang apeks akar belum terbentuk sempurna, dan gigi yang dapat di
restorasi, karies hingga pulpa terbuka, tidak ada keluhan spontan, tidak ada
kegoyangan gigi, pasien dengan ekstraksi merupakan kontraindikasi
disebabkan karena hemofili, dan tidak ada lesi periapikal. Kontraindikasi
pulpotomi adalah pasien yang tidak kooperatif, pasien dengan penyakit
jantung kongenital, pasien dengan kesehatan umum yang buruk, gigi
dengan abses akut, resorpsi akar internal dan eksternal yang patologis, dan
kehilangan tulang pada apeks atau di daerah furkasi (Andlaw dan Rock,
2012).
3) Prosedur Pulpotomi Vital
Menurut Budiyanti (2012), prosedur perawatan pulpotomi vital gigi
desidui adalah sebagai berikut.
a) Persiapan instrumen dan bahan
b) Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit saat
perawatan
c) Isolasi gigi dengan rubber dam atau cotton roll dan jaga
keberadaannya selama perawatan
d) Preparasi kavitas dengan memperluas bagian oklusal memberikan
jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa
e) Buang atap pulpa dengan menggunakan fissure bur dengan
berkecepatan rendah
f) Hilangkan pulpa bagian korona dengan ekskavator besar atau
dengan round bur kecepatan rendah
g) Cuci dan keringkan kamar pulpa dengan air atau saline
h) Aplikasikan formokresol di dalam kamar pulpa dengan menutupi
pulpa bagian akar selama 4 sampai dengan 5 menit.
i) Berikan bahan antiseptik
j) Tempatkan semen dasar yang cepat mengeras sebelum menumpat
gigi dengan restorasi permanen
(Andlaw dan Rock, 2012).
b. Pulpotomi Devital
1) Pengertian Pulpotomi Devital
Pulpotomi devital adalah tindakan pengambilan jaringan pulpa
yang terdapat dalam kamar pulpa yang sebelumnya telah di
devitalisasi dengan jaringan pulpa dalam saluran akar ditinggalkan
dalam keadaan aseptik. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan
proses infeksi dari pulpa menuju jaringan periapikal dan memfiksasi
bakteri yang tersisa di saluran akar (Tarigan, 2004).
2) Indikasi dan Kontraindikasi Pulpotomi Devital
Perawatan pulpotomi dengan teknik devitalisasi ini secara umum
memiliki indikasi dan kontraindikasi yang sama dengan pulpotomi
vital konvensional. Hanya saja, perawatan ini lebih dianjurkan untuk
kasus-kasus dimana perawatan pulpotomi vital konvensional tidak
berhasil atau tidak dapat dilakukan dikarenakan masalah tingkah laku
anak (Tarigan, 2004).
3) Prosedur Pulpotomi Devital
Menurut Andlaw dan Rock (2012), prosedur perawatan
pulpotomi devital di bagi menjadi 2 kali kunjungan
a) Kunjungan pertama
(1) Persiapan instrumen dan bahan
(2) Isolasi gigi dengan rubber dam atau cotton roll
(3) Preparasi kavitas, ekskavasi dan buang jaringan karies
(4) Letakkan bahan devitalisasi pulpa seperti arsen atau euparal
sebesar ujung sonde dan terbungkus dengan kapas pada bagian
atas kamar pulpa yang terbuka
(5) Tutup kavitas dengan tumpatan sementara.
(6) Instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai dengan 3 hari
apabila menggunakan arsen atau 7 hari apabila menggunakan
euparal
b) Kunjungan kedua
(1) Isolasi gigi dengan rubber dam
(2) Membuka tumpatan sementara. Apabila gigi masih vital, maka
perawatan ulang seperti pada kunjungan pertama
(3) Bersihkan kamar pulpa dan berikan bahan antiseptik
(4) Aplikasi semen zinc oxide eugenol
(5) Restorasi gigi dengan tumpatan permanen
(Andlaw dan Rock, 2012).

3. Pulpektomi
a. Pengertian
Pulpektomi merupakan pengambilan seluruh jaringan pulpa dari kamar
pulpa dan saluran akar (Andlaw dan Rock, 2012).
b. Jenis, indikasi, dan prosedur
1) Pulpektomi Vital
Pulpektomi vital adalah pengambilan jaringan pulpa di kamar pulpa
dan saluran akar pada gigi yang masih vital dan di ikuti pengisian
saluran akar dengan bahan semen yang dapat diresorbsi (Welbury dkk.,
2012). Indikasi pulpektomi vital yaitu:
a) Gigi insisivus desidui yang mengalami trauma dengan kondisi
patologis.
b) Tidak terdapat kondisi patologis dengan resorpsi akar yang lebih
dari 2/3.
c) Kelanjutan perawatan jika perawatan pulpotomi gagal.
Kontraindikasi dari perawatan pulpektomi vital yaitu:
a) Resorpsi akar gigi yang meluas.
b) Gigi goyang disebabkan keadaan patologis.
c) Pasien yang tidak kooperatif (Andlaw dan Rock, 2012).
Prosedur pulpektomi vital yaitu:
Menurut Budiyanti (2012), prosedur perawatan pulpektomi vital
gigi desidui yaitu:
Kunjungan pertama
a) Persiapan alat dan bahan
b) Isolasi daerah kerja dengan menggunakan rubber dam atau cotton
roll.
c) Dilakukan anestesi untuk menghilangkan rasa sakit
d) Dilakukan pembuangan jaringan karies dan pembukaan atap
pulpa menggunakan round bur.
e) Jaringan pulpa atau nekrotik yang berada di saluran akar diambil
dengan jarum ekstirpasi.
f) Saluran akar dilebarkan dengan menggunakan file sehingga
memudahkan pada saat obturasi saluran akar. File yang dapat
digunakan yaitu headstrom file.
g) Irigasi pada saluran akar dengan menggunakan klorheksidine,
natrium klorid, atau larutan saline secara berulang agar semua
jaringan nekrotik dan debris yang berada dalam saluran akar hilang.
Kemudian keringkan dengan paper point.
h) Aplikasikan bahan dressing atau intracanal medicament seperti
formokresol atau CHKM agar saluran akar steril.
i) Tumpat kavitas dengan tumpatan sementara.
Kunjungan kedua
a) Buka tumpatan sementara dan lihat apakan saluran akar sudah steril
atau belum.
b) Pengisian saluran akar dengan zinc oxide eugenol.
c) Aplikasikan basis kemudian dilakukan penumpatan permanen.
2) Pulpektomi Devital
Pulpektomi devital adalah tindakan pengambilan seluruh jaringan pulpa
dalam ruang pulpa dan saluran akar yang lebih dahulu dimatikan dengan bahan
devitalisasi pulpa serta diikuti pengisian saluran akar dengan bahan semen yang
dapat diresorbsi (Wellbury dkk., 2012).Indikasi dan kontraindikasi perawatan
pulpektomi devital ini secara umum memiliki indikasi dan kontraindikasi yang
sama dengan pulpektomi vital. Perawatan pulpektomi devital biasa dilakukan
pada pasien yang tidak tahan terhadap anestesi dan pasien yang tidak
kooperatif (Andlaw dan Rock, 2012).
Prosedur pulpektomi devital menurut Tarigan (2004) secara umum hampir
sama dengan perawatan pulpektomi vital. Pulpektomi devital utamanya
dilakukan pada pasien yang tidak tahan terhadap anestesi. Perawatan ini
sekarang sudah jarang dilakukan pada gigi permanen, tetapi masih sering
dilakukan pada gigi desidui dengan mempergunakan bahan devitalisasi
paraformaldehid, seperti Toxavit, dan lain-lain. Prosedur pulpketomi devital
yaitu:
Kunjungan pertama
a) Isolasi daerah kerja dengan menggunakan rubber dam atau cotton roll.
b) Dilakukan pembuangan jaringan karies.
c) Aplikasikan bahan devitalisasi pulpa lalu tempatkan pada kavitas.
d) Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara.
e) Instruksikan pasien kembali dalam 3 hari
Kunjungan kedua
a) Isolasi daerah kerja dengan menggunakan rubber dam atau cotton roll.
b) Membuka tumpatan sementara, dilihat apakah pulpa masih vital atau
tidak. Apabila pulpa masih vital maka dilakukan devitalisasi pulpa
kembali.
c) Jaringan pulpa atau nekrotik yang berada di saluran akar diambil dengan
jarum ekstirpasi.
d) Saluran akar dilebarkan dengan menggunakan file sehingga
memudahkan pada saat obturasi saluran akar. File yang dapat digunakan
yaitu headstrom file.
e) Irigasi pada saluran akar dengan menggunakan klorheksidine, natrium
klorid, atau larutan saline secara berulang agar semua jaringan nekrotik
dan debris yang berada dalam saluran akar hilang. Kemudian keringkan
dengan paper point.
f) Aplikasikan bahan dressing atau intracanal medicament seperti
formokresol atau CHKM agar saluran akar steril.
g) Tumpat kavitas dengan tumpatan sementara.
Kunjungan ketiga
a) Buka tumpatan sementara dan lihat apakan saluran akar sudah steril atau
belum.
b) Pengisian saluran akar dengan zinc oxide eugenol.
c) Aplikasikan basis kemudian dilakukan penumpatan permanen
(Budiyanti, 2012).
3) Pulpektomi Non-vital
Pulpektomi non-vital merupakan perawatan pada gigi sulung dengan
diagnosis nekrosis pulpa. Indikasi pulpektomi non-vital yaitu:
a) Mahkota gigi masih dapat direstorasi.
b) Gigi tidak goyang dan periodontal normal.
c) Tidak terlihat adanya fistel.
d) Resorpsi akar tidak lebih dari 1/3 apikal.
e) Tidak ada granuloma pada gigi-geligi desidui.
Kontraindikasi pulpektomi non-vital yaitu:
a) Gigi tidak dapat direstorasi lagi.
b) Kondisi kesehatan pasien yang tidak baik.
c) Terdapat pembengkokan ujung akar dengan granuloma atau kista (Andlaw
dan Rock, 2012).
Prosedur pulpektomi non-vital yaitu:
Kunjungan pertama
a) Isolasi daerah kerja dengan menggunakan rubber dam atau cotton roll.
b) Dilakukan pembuangan jaringan karies dan pembukaan atap pulpa.
c) Jaringan pulpa atau nekrotik yang berada di saluran akar diambil dengan
jarum ekstirpasi.
d) Saluran akar dilebarkan dengan menggunakan file sehingga memudahkan
pada saat obturasi saluran akar. File yang dapat digunakan yaitu headstrom
file.
e) Irigasi pada saluran akar dengan menggunakan klorheksidine, natrium
klorid, atau larutan saline secara berulang agar semua jaringan nekrotik
dan debris yang berada dalam saluran akar hilang. Kemudian keringkan
dengan paper point.
f) Aplikasikan bahan dressing atau intracanal medicament seperti
formokresol atau CHKM agar saluran akar steril.
g) Tumpat kavitas dengan tumpatan sementara.
Kunjungan kedua
a) Buka tumpatan sementara dan lihat apakan saluran akar sudah steril atau
belum.
b) Pengisian saluran akar dengan zinc oxide eugenol.
c) Aplikasikan basis kemudian dilakukan penumpatan permanen (Subashree,
2016).
DAFTAR PUSTAKA

Abuabara, A., Crozeta, B.M., Barratto-Filho, F., 2012, Review of Pulp Therapy in
Primary Teeth, RSBO, 9(4): 474-477.
Andlaw, R., J., Rock, W., P., 2012, A Manual of Paedodontics, Churchill Livingstone,
New York
Bence, R., 2005, Handbook of Clinical Endodontics, Mosby, London
Budiyanti, A., 2012, Perawatan Endodontik pada Anak, EGC, Jakarta.
Fuks, A.B., Peretz., 2016, Pediatric Endodontics, Springer, New York.
Ingle, J., I., Bakland, L., K., Baumgartner, J., C., 2008, Ingle’s Endodontic, Bc Decker
Inc., Hamilton
Koch, G., Poulsen, S., 2001, Pediatric Dentistry a Clinical Approach, Munksgaard,
Copenhagen
Pediarahma, A., Rizal., M.F., 2014, Zinc Oxide Eugenol-Formocresol Root Canal
Treatment Fails to Treat a Deciduous Tooth with Dentoalveolar Abscess, Journal
of Dentistry Indonesia, 21(3):100-104.
Subashree, R., 2016, Review on Pulp Therapy in Primary Dentition, Journal of Dental
ad Medical Sciences, 15(12): 10-13.
Tarigan, R., 2004, Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti), EGC, Jakarta
Welbury, R., R., Duggal, M., S., Hosey, M., T., 2005, Paediatric Dentistry, Oxford
University Press, New York