Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Persalinan (labor) merupakan serangkaian proses fisiologi yang dialami
oleh wanita untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari dalam uterus melalui jalan
lahir dengan melewati beberapa tahapan (Bahiyatun dalam Kenwa, 2015). Pada
masa post partum, ibu akan mengalami proses adaptasi psikologis, yaitu suatu
proses peneriman peran baru sebagai orang tua yang dialami oleh seorang
wanita. Adaptasi ini dibagi menjadi beberapa fase, diantaranya fase taking in,
fase taking hold, dan fase letting go. apabila ketiga fase ini tidak dapat dilewati
dengan baik, maka seorang ibu dapt mengalami gangguan depresi post partum
(Suhemi dalam kenwa, 2015).
Depresi post partum merupakan gangguan perasaan (mood) yang dialami
oleh ibu pasca persalinan akibat kegagalan dalam penerimaan proses adaptasi
psikologis. Kasus depresi post partum ini sudah banyak dilaporkan dengan
tingkat insiden yang bervariasi. Di dunia, WHO (2011) menyatakan tingkat
insiden kasus depresi post partum yang berbeda di beberapa negara seperti di
Kolumbia (13,6%), Dominika (3%), dan Vietnam (19,4%).
Periode setelah kelahiran adalah waktu yang rentan karena sebagian besar
kematian lahir ibu dan baru terjadi selama periode ini. Secara global, lebih dari
500.000 perempuan meninggal kelahiran anak setiap tahun dengan lebih dari
90% dari kematian yang terjadi di negara-negara berkembang. Tingkat
kematian ibu tahunan di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika
Serikat diperkirakan pada 8 dan 16 per 100.000 kelahiran hidup masing-masing.
Di beberapa negara Afrika seperti Afrika Selatan, angka kematian ibu
diperkirakan 237 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di negara-negara
Afrika Sahara Sub tingkat lebih dari 400 per 100.000 kelahiran hidup. Di
Malawi, yang kematian ibu diperkirakan 675 per 100.000 kelahiran hidup.
Menurut buku dinkes provinsi Jawa Timur (2014), angka kematian ibu
diperkirakan 93,52 per 100.000 kelahiran hidup.
Di zaman modern ini, kemajuan besar telah tercapai di beberapa bidang
diantaranya bidang kedokteran, teknologi, ekonomi dan sosial budaya.
Kemajuan tersebut menimbulkan tentangan untuk maju dan sukses. Kehidupan
modern yang keras dan penuh persaingan akan memberikan banyak tekanan,
kecemasan dan ketegangan. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013,
prevalensi gangguan emosional di Indonesia seperti gangguan kecemasan dan
depresi mencapai sebesar 6 % dan 6,5% dari seluruh populasi Jawa Timur
(Rinkesdas, 2013).
Kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan, diikuti oleh perasaan
dari kecemasaan, kesedihan, kegembiraan, ketegangan, dan ketajutan.
Postpartum kecemasan adalah lebih umum dari pada depresi postpartum, dan
prevalensi lebih 30% dalm pertama bulan setelah, melahirkan. Jika kecemasan
tidak diobati, kecemasan gangguan dapat terjadi, menungkatkan risiko
postpartum depresi (Hakimi dkk, 2016). Kecemasan adalah reaksi emosional
terhadap penilaian individu yang subyektif yang dipengaruhi oleh alam bawah
sadar dan tidak diketahui secara khusus (Dep.Kes.RI, dalam Kirana, 2015).
Cara sederhana dan efektif untuk mengelola gejala kecemasan atau stres adalah
salah satu intervensi non-farmakologis yang terbukti efektif untuk mengurangi
kecemasan. Intervensi non farmakologis sering disebut dengan intervensi tubuh
dan pikiran seperti meditasi, yoga, doa, hipnoterapi, guided imagery, auto-
sugesti, latihan autogenik, tai-chi dan biofeedback ( Neumann dalam Murni dkk,
2014).
Terapi imajinasi terbimbing (guided imagery) adalah sebuah terapi relaksi
yang bertujuan mengurangi stress dan meningkatkan perasaa tentang dan damai
serta merupakan obat penenang untuk situasi yang sulit dalam kehidupan.
Imajinasi terbimbing atau imajinasi terbimbing atau imajinasi mental
merupakan suatu terapi untuk menguji kekuatan pikiran saat sadar maupun
tidak sadar maupun tidak saat sadar maupun tidak sadar untuk menciptakan
bayangan gambar yang membawa ketenangan dan keheningan (Amalia,
Susanti, 2014).
Menurut penelitian sebelumnya menyatakan bahwa relaksasi merupakan
teknik yang berhubungan dengan tingkah laku/tindakan manusia yang terdiri
atas meditasi autoganik training, latihan relaksasi progresif, guided imagery,
pernafasan ritmik/ teratur, operan conditioning dan biofeedback. Macam-
macamnya antara lain teknik relaksasi termasuk dalam metode
kognitif,behavioral yang terdiri dari guided imagery, musik dan pernafasan.
Teknik relaksasi progesif misalnya dapat digunakan untuk pelaksaan masalah
fisik psikis, termasuk di dalamnya nyeri pasca operasi. Guided imagery dapat
bermanfaat untuk menurunkan kecemasan, kontraksi otot dan menfasilitasi
tidur (Rahmayanti, 2011).
Dari fenomena diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang
Pengaruh terapi guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada ibu
postpartum depresi.
1.2 Rumusan masalah
Rumusan maslah dalam penelitian ini adalah : apakah ada pengaruh terapi
guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada ibu postpartum depresi?
1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi guided
imagery terhadap penurunan kecemasan pada ibu post natal
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pasien sebelum diberikan terapi guided imagery.
2. Mengidentifikasi pasien setelah diberikan terapi guided imagery.
3. Menganalisa kemampuan pasien sebelum dan setelah diberikan
terapi guided imagery.

1.4 Manfaat penelitian


1.4.1 Bagi Responden
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan
pengatahuan pasien terhadap terapi guided imagery terhadap penurunan
kecemasan.
1.4.2 Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan peneliti mendapatkan suatu
pemahaman terhadap pemberian terapi guided imagery terhadap
penurunan kecemasan.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai tambahan referensi dan bahan informasi bagi pelayan
kesehatan untuk memberikan pemberian terapi guided imagery
terhadap penurunan kecemasan.
1.4.4 Bagi Instansi Kesehatan
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan suatu program dalam
meningkatkan pemberian terapi guided imagery terhadap penurunan
kecemasan.
1.4.5 Bagi Masyarakat
Meningkatkan pengetahuan para pembaca terhadap pengaruh terapi
guided imagery terhadap penurunan kecemasan.