Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN

Ca PARU (KANKER PARU)


DI RUANG PARU (DAHLIA)
RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 28 Mei s/d 2 Juni 2012

Oleh :
DEWI IRIANTI
NIM I1B108209

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2012
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN


Ca PARU (KANKER PARU)
DI RUANG PARU (DAHLIA)
RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 28 Mei s/d 2 Juni 2012

Oleh :
DEWI IRIANTI
NIM I1B108209

Banjarmasin, 28 Mei 2012


Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Rismia Agustina, S.Kep,Ns, M.Kep Mahdalena, S.Kep., Ners


NIP 19720517 199703 2 001
Ca Paru (Kanker Paru)

1. DEFINISI
Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel
bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak
terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus
didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker
disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan
menghilangnya silia.

2. ETIOLOGI
Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum
diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik
merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh,
genetik, dan lain-lain (Amin, 2006). Dibawah ini akan diuraikan mengenai faktor risiko
penyebab terjadinya kanker paru :
a. Merokok
Merokok merupakan faktor yang berperan paling penting, yaitu 85% dari seluruh
kasus (Wilson, 2005). Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya
telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok
dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari,
lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok (Stoppler,2010).
b. Perokok pasif
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak
merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat
dua kali (Wilson, 2005). Diduga ada 3.000 kematian akibat kanker paru tiap tahun di
Amerika Serikat terjadi pada perokok pasif (Stoppler,2010).
c. Polusi udara
Penyakit kanker paru lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas tingkat
sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada mereka dengan kelas yang lebih
tinggi. Hal ini, terlihat dari kenyataan bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih
rendah cenderung hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan, tempat udara yang
kemungkinan besar lebih tercemar polusi.
d. Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel,
polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru (Amin, 2006).
Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih
besar daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes
maupun uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok.
e. Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene,
selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru (Amin,
2006).
f. Genetik
Anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar terkena penyakit ini.
Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada
protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan
berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk
juga gen-gen K-ras dan myc) dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen
rb, p53, dan CDKN2) (Wilson, 2005).
g. Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat
menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko
empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok
dihilangkan (Stoppler, 2010).

Klasifikasi Kanker Paru


a. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid) merupakan tipe histologik kanker paru yang
paling sering ditemukan, berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel
termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas
mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak sentral di
sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang
melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara langsung ke
kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan mediastinum. Karsinoma ini lebih
sering pada laki-laki daripada perempuan (Wilson, 2005).
b. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid) memperlihatkan susunan selular seperti
kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan jenis tumor ini timbul
di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan
jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi sering meluas ke
pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan sering bermetastasis jauh sebelum
lesi primer menyebabkan gejala-gejala.
c. Karsinoma bronkoalveolus dimasukkan sebagai subtipe adenokarsinoma dalam
klasifikasi terbaru tumor paru dari WHO. Karsinoma ini adalah sel-sel ganas yang
besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran
inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer,
tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh.
d. Karsinoma sel kecil umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak
di sentral dengan perluasan ke dalam parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar
getah bening hilus dan mediastinum. Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan
bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan kromatin granular. Gambaran
mitotik sering ditemukan. Biasanya ditemukan nekrosis dan mungkin luas. Sel
tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan fragmentasi dan “crush artifact”
pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas
pada pemeriksaan sitologik, adalah berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor
dengan sedikit sitoplasma yang saling berdekatan (Kumar, 2007).
e. Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat
buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini
cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran
ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh (Wilson, 2005).
f. Bentuk lain dari kanker paru primer adalah adenoma, sarkoma, dan mesotelioma
bronkus. Walaupun jarang, tumor-tumor ini penting karena dapat menyerupai
karsinoma bronkogenik dan mengancam jiwa.

Stadium Klinis
Pembagian stadium klinis kanker paru berdasarkan sistem TNM menurut
International Union Against (IUAC)/The American Joint Comittee on Cancer (AJCC)
1997 adalah sebagai berikut :
STADIUM TNM
Karsinoma tersembunyi Tx, N0, M0
Stadium 0 Tis, N0, M0
Stadium IA T1, N0, M0
Stadium IB T2, N0, M0
Stadium IIA T1, N1, M0
Stadium IIB T2, N1, M0
T3, N0, M0
Stadium IIIA T3, N1, M0
T1-3, N2, M0
Stadium IIIB T berapa pun, N3, M0
T4, N berapa pun, M0
Stadium IV T berapa pun, N berapa pun, M1
Keterangan :
Status Tumor Primer (T)
a. T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer.
b. Tx : Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus, tetapi tidak
terlihat pada radiogram atau bronkoskopi.
c. Tis : Karsinoma in situ.
d. T1 : Tumor berdiameter ≤ 3 cm dikelilingi paru atau pleura viseralis yang
normal.
e. T2 : Tumor berdiameter > 3 cm atau ukuran berapa pun yang sudah menyerang
pleura viseralis atau mengakibatkan ateletaksis yang meluas ke hilus; harus
berjarak > 2 cm distal dari karina.
f. T3 : Tumor ukuran berapa saja yang langsung meluas ke dinding dada,
diafragma, pleura mediastinalis, dan perikardium parietal atau tumor di bronkus
utama yang terletak 2 cm dari distal karina, tetapi tidak melibatkan karina, tanpa
mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, atau korpus vertebra.
g. T4 : Tumor ukuran berapa saja dan meluas ke mediastinum, jantung, pembuluh
darah besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, rongga pleura/perikardium yang
disertai efusi pleura/perikardium, satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama
pada tumor primer.
Keterlibatan Kelenjar Getah Bening Regional (N)
a. N0 : Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar getah bening regional
b. N1 : Metastasis pada peribrokial dan/atau kelenjar-kelenjar hilus ipsilateral
c. N2 : Metastasis pada mediastinal ipsilateral atau kelenjar getah bening
subkarina
d. N3 : Metastasis pada mediastinal atau kelenjar-kelenjar getah bening hilus
kontralateral; kelenjar kelenjar-kelenjar getah bening skalenus atau
supraklavikular ipsilateral atau kontralateral
Metastasis Jauh (M)
a. M0 : Tidak diketahui adanya metastasis jauh
b. M1 : Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (missal otak)

3. PATOFISIOLOGI DAN WEB OF CAUTION


Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan
cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen, maka menyebabkan metaplasia, hyperplasia dan displasia.
Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus
ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan
korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang
terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan
supurasi di bagian distal. Gejala-gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis,
dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi. Pada
stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase,
khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat
seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.
4. MANIFESTASI KLINIK
Pada fase awal kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila sudah
menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat :
a. Lokal (tumor tumbuh setempat) :
1) Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
2) Hemoptisis
3) Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas
4) Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
5) Ateletaksis
b. Invasi lokal :
1) Nyeri dada
2) Dispnea karena efusi pleura
3) Invasi ke perikardium  terjadi tamponade atau aritmia
4) Sindrom vena cava superior
5) Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
6) Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
7) Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf simpatis
servikalis
c. Gejala Penyakit Metastasis : Pada otak, tulang, hati, adrenal, Limfadenopati
servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
d. Sindrom Paraneoplastik : terdapat 10% kanker paru dengan gejala :
1) Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam
2) Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
3) Hipertrofi osteoartropati
4) Neurologik : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
5) Neuromiopati
6) Endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
7) Dermatologik : eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh
8) Renal : syndrome of inappropriate antidiuretic hormone
e. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
1) Sering terdapat pada perokok dengan COPD yang terdeteksi secara radiologis.
2) Kelainan berupa nodul soliter.
5. KOMPLIKASI
Komplikasi yang umum terjadi pada kanker paru antara lain:
a. Hiperkalsemia (tingginya kadar kalsium).
b. Terjadi perdarahan setelah dilakukan biopsi
c. Kadang terjadi penekanan pada korda spinalis. Jika terjadi hal ini, maka segera
berikan kortikosteroid.
d. Kematian bisa terjadi sesudah terapi pembedahan.
Komplikasi yang terjadi bisa akibat dari kemoterapi antara lain:
a. Neutropenia (kekurangan neutrofil)
b. Gagal ginjal akibat dampak dari cisplatin
c. Kekurangan magnesium akibat dari cisplatin.

6. PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa perubahan
bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda
obstruksi parsial, infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura.
b. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk :
1) Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru. Kerusakan
pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau pemeriksaan analisis gas.
2) Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada organ-
organ lainnya.
3) Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada jaringan
tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena metastasis.
c. Radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan untuk
mendiagnosa kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran
tumor, kelenjar getah bening, dan metastasis ke organ lain. Pemeriksaan radiologi dapat
dilakukan dengan metode tomografi komputer. Pada pemeriksaan tomografi komputer
dapat dilihat hubungan kanker paru dengan dinding toraks, bronkus, dan pembuluh
darah secara jelas. Keuntungan tomografi komputer tidak hanya memperlihatkan
bronkus, tetapi juga struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke dinding toraks.
Tomografi komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi, dapat mendeteksi lesi
kecil dan tumor yang tersembunyi oleh struktur normal yang berdekatan.
d. Sitologi
Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai
diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan dengan
mempelajari sel pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran
perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker. Selain itu dapat juga
menunjukkan proses dan sebab peradangan. Pemeriksaan sputum adalah salah satu
teknik pemeriksaan yang dipakai untuk mendapatkan bahan sitologik. Pemeriksaan
sputum adalah pemeriksaan yang paling sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker
paru stadium preinvasif maupun invasif. Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik
terutama untuk kanker paru yang letaknya sentral. Pemeriksaan ini juga sering
digunakan untuk skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi.
e. Bronkoskopi
Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi untuk
bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan mikroskopik
mukosa bronkus dapat dilihat berupa nodul atau gumpalan daging. Bronkoskopi akan
lebih mudah dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di
perifer sulit dicapai oleh ujung bronkoskop.
f. Biopsi Transtorakal
Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis
tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal ini diperlukan peranan
radiologi untuk menentukan ukuran dan letak, juga menuntun jarum mencapai massa
tumor. Penentuan letak tumor bertujuan untuk memilih titik insersi jarum di dinding
kulit toraks yang berdekatan dengan tumor.
g. Torakoskopi
Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan
histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan alat
torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk melihat dan
mengambil sebahagian jaringan paru yang tampak. Pengambilan jaringan dapat juga
dilakukan secara langsung ke dalam paru dengan menusukkan jarum yang lebih panjang
dari jarum suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan jaringan tumor yang ada
(Soeroso, 1992).

7. MASALAH KEPERAWATAN
a. Pengkajian
1) Anamnesis
a) Identitas Klien
Meliputi nama, umur, suku/bangsa, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
pendidikan, alamat, pekerjaan, nomor register.
b) Keluhan utama
Klien dengan karsinoma bronkogenik biasanya bervariasi seperti keluhan batuk,
batuk produktif, batuk darah, dan sesak napas.
c) Riwayat penyakit saat ini
Biasanya keluhan hampir sama dengan jenis penyakit paru lain dan tidak mempunyai
awitan yang khas.
d) Riwayat Penyakit Sebelumnya
Walaupun tidak spesifik biasanya didapatkan adanya keluhan batuk jangka panjang
dan penurunan berat badan secara signifikan.
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Terdapat anggota keluarga dari klien dengan kanker paru beresiko mengalami
penyakit ini, walaupun masih belum dapat dipastikan apakah hal ini benar-benar karena
faktor herediter atau karena faktor-faktor familial.
2) Pengkajian psiko, sosio, dan spiritual
Adanya kesimpulan penegakan diagnosis medis karsinoma bronkogenik akan
memberikan dampak yang luar biasa terhadap keadaan status psikologis klien.
Mekanisme koping biasanya maladaptif yang diikuti perubahan mekanisme peran
dalam kelurga, kemampuan ekonomi untuk berobat, serta prognosis yang tidak jelas
merupakan faktor-faktor pemicu kecemasan dan ketidakefektifan koping individu dan
keluarga.
3) Data dasar pengkajian :
a) Aktivitas dan istirahat
Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin,
dispnea karena aktivitas.
Tanda : Kelesuan (biasanya tahap lanjut)
b) Sirkulasi
Gejala : JVD (obstruksi vena kava).
Bunyi jantung : gesekan perikardial (menunjukan efusi).
Takikardi/disritmia.
c) Integritas ego
Gejala : Perasaan takut, takut hasil pembedahan, menolak kondisi yang
berat/potensial keganasan, kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang-ulang.
d) Eliminasi
Gejala : Diare yang hilang timbul (ketidak seimbangan hormonal, karsinoma sel
kecil), peningkatan frekuensi/jumlah urine (ketidak seimbangan hormonal, tumor
epidermoid).
e) Makanan/cairan
Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukan
makanan, kesulitan menelan, haus/peningkatan masukan cairan.
Tanda : Kurus, edema wajah/leher, dada, punggung (obstruksi vena kava),
glukosa dalam urine.
f) Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada
tahap lanjut) dimana dapat/tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi.
Nyeri bahu/tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma).
Nyeri tulang/sendi : erosi kartilago sekunder terhadap peningkatan hormon
pertumbuhan.
Nyeri abdomen hilang timbul.
g) Pernapasan
Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan produksi
sputum. Napas pendek, pekerja yang terpajan polutan, debu indutri, serak, paralisis
pita suara, riwayat merokok.
Tanda : Dispnea, peningkatan taktil fremitus (menunjukan konsolidasi).
Krekels/mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara).
Krekels/mengi menetap; penyimpangan trakeal (area yang mengalami lesi),
hemoptisis.
h) Keamanan
Tanda : Demam mungkin ada, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal,
karsinoma sel kecil).
i) Seksualitas
Tanda : Amenorea/impoten
4) Pemeriksaan fisik fokus pada kanker paru:
a) B1 (Breathing)
Inspeksi : secara umum biasanya klien tampak kurus, terlihat batuk,
dengan/tanpa peningkatan produksi sekret. Pergerakan dada biasanya asimetris
apabila terjadi komplikasi efusi pleura dengan hemoragi. Nyeri dada dapat timbul
dalam berbagai bentuk tetapi biasanya dialami sebagai rasa sakit atau tidak nyaman
akibat penyebaran neoplastik ke mediastinum. Selain itu, dapat pula timbul nyeri
pleuritis bila terjadi serangan sekunder pada pleura akibat penyebaran neoplastik
atau pneumonia.
Gejala-gejala umum seperti anoreksia, lelah, dan berkurangnya berat badan
merupakan gejala-gejala lanjutan.
Palpasi : pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil premitus biasanya
menurun.
Perkusi : pada perkusi, didapat suara normal sampai hipersonor.
Auskultasi : didapat bunyi stidor lokal, wheezing unilateral didapat apabila
karsinoma melibatkan penyempitan bronkhus dan ini merupakan tanda khas pada
tumor bronkhus. Penyebaran lokal tumor keseluruh mediastinum dapat
menimbulkan suara serak akibat terserangnya saraf rekuren, terjadi disfagia, akibat
ketelibatan esofagus, dan paralisis hemidiafragma akibat keterlibatan saraf frenikus.

b. Diagnosa Keperawatan
1) Pola nafas tidak efektif b.d keletihan otot pernafasan
2) Nyeri akut b.d agen injury biologi (peningkatan tekanan vaskuler serebral)
3) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang daru kebutuhan tubuh b.d faktor biologis
(intake yang tidak adekuat, peningkatan metabolisme, dan proses keganasan)
4) Fatigue b.d status penyakit
5) Ansietas b.d perubahan status kesehatan
C. RENCANA KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC
1 Pola nafas tidak efektif b.d keletihan otot Setelah dilakukan tindakan keperawatan Airway Management
pernafasan selama 1x12 jam, pola nafas klien kembali 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
efektif, dengan kriteria hasil : 2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
a. sianosis dan dyspneu tidak ditemukan 3. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
(mampu mengeluarkan sputum, mampu 4. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
bernafas dengan mudah) tambahan
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten 5. Berikan bronkodilator bila perlu
(klien tidak merasa tercekik, irama nafas, 6. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
frekuensi pernafasan dalam rentang keseimbangan.
normal, tidak ada suara nafas abnormal) 7. Monitor respirasi dan status O2
c. Tanda Tanda vital dalam rentang normal
(tekanan darah, nadi, pernafasan Oxygen Therapy
1. Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
2. Pertahankan jalan nafas yang paten
3. Atur peralatan oksigenasi
4. Monitor aliran oksigen
5. Pertahankan posisi pasien
6. Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
7. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
oksigenasi

Vital sign Monitoring


1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
3. Monitor kualitas dari nadi
4. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
5. Monitor pola pernapasan abnormal
6. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
7. Monitor sianosis perifer

2 Nyeri akut b.d agen injury biologi Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pain Management
(peningkatan tekanan vaskuler serebral) selama 1x4 jam, diharapkan klien dapat 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
mengontrol gejala nyeri dengan kriteria hasil : 2. Observasi reaksi nonverbal dari
1. Nyeri klien berkurang ketidaknyamanan
2. Klien mengenali onset nyeri yang terjadi 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
3. Menggunakan penatalaksanaan nyeri mengetahui pengalaman nyeri pasien
nonfarmakologi 4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
4. Menggunakan penatalaksanaan nyeri nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
dengan analgetik yang direkomendasikan kebisingan
5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
6. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
7. Kolaborasi dalam pemberian analgetik untuk
mengurangi nyeri
8. Tingkatkan istirahat

Analgesic Administration
1. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis,
dan frekuensi
2. Cek riwayat alergi
3. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali
4. Berikan analgesik tepat waktu terutama saat
nyeri hebat
5. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala
(efek samping)

3 Ketidakseimbangan nutrisi: kurang daru Setelah dilakukan tindakan keperawatan Weight Management
kebutuhan tubuh b.d faktor biologis (intake selama 1x24 jam, keseimbangan nutrisi klien 1. Timbang BB klien
yang tidak adekuat, peningkatan terpenuhi dengan kriteria hasil : 2. Dorong pasien untuk menghabiskan makan
metabolisme, dan proses keganasan) 1. Mengetahui factor yang meningkatkan yang diberikan
berat badan 3. Perkirakan BB badan ideal pasien
2. Memodifikasi diet dalam waktu yang
lama untuk mengontrol berat badan Nutrition Management
3. Menggunakan energy untuk aktivitas 1. Kaji adanya alergi makanan
sehari hari 2. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
3. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
4. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan

4 Fatigue b.d status penyakit Setelah dilakukan tindakan keperawatan Energy Management
selama 1x12 jam, klien dapat mengatasi 1. Observasi adanya pembatasan klien dalam
kelelahan, dengan kriteria hasil : melakukan aktivitas
1. Memverbalisasikan peningkatan energi 2. Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
dan merasa lebih baik 3. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
2. Menjelaskan penggunaan energi untuk 4. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan
mengatasi kelelahan emosi secara berlebihan
5. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
6. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat
pasien
5 Ansietas b.d perubahan status kesehatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
selama 1x6 jam, klien dapat mengontrol rasa a. Gunakan pendekatan yang menenangkan
cemas yang dirasakan dengan kriteria hasil : b. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan
a. Klien mampu mengidentifikasi dan selama prosedur
mengungkapkan gejala cemas c. Pahami prespektif pasien terhdap situasi stres
b. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan d. Dengarkan dengan penuh perhatian
menunjukkan tehnik untuk mengontol e. Identifikasi tingkat kecemasan
cemas f. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan
c. Vital sign dalam batas normal kecemasan
d. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa g. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,
tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan ketakutan, persepsi
berkurangnya kecemasan h. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
i. Kolaborasi dalam pemberian obat untuk
mengurangi kecemasan
8. MASALA KOLABORASI
Penatalaksanaan medis dapat dilakukan dengan cara:
a. Pembedahan
Pembedahan pada kanker paru bertujuan untuk mengangkat tumor secara total
berikut kelenjar getah bening disekitarnya. Hal ini biasanya dilakukan pada kanker paru
yang tumbuh terbatas pada paru yaitu stadium I (T1 N0 M0 atau T2 N0 M0), kecuali
pada kanker paru jenis SCLC. Luas reseksi atau pembedahan tergantung pada luasnya
pertumbuhan tumor di paru. Pembedahan dapat juga dilakukan pada stadium lanjut,
akan tetapi lebih bersifat paliatif. Pembedahan paliatif mereduksi tumor agar radioterapi
dan kemoterapi lebih efektif, dengan demikian kualitas hidup penderita kanker paru
dapat menjadi lebih baik. Pembedahan untuk mengobati kanker paru dapat dilakukan
dengan cara :
1) Wedge Resection, yaitu melakukan pengangkatan bagian paru yang berisi tumor,
bersamaan dengan margin jaringan normal.
2) Lobectomy, yaitu pengangkatan keseluruhan lobus dari satu paru.
3) Pneumonectomy, yaitu pengangkatan paru secara keseluruhan. Hal ini dilakukan
jika diperlukan dan jika pasien memang sanggup bernafas dengan satu paru.
b. Radioterapi
Radioterapi dapat digunakan untuk tujuan pengobatan pada kanker paru dengan
tumor yang tumbuh terbatas pada paru. Radioterapi dapat dilakukan pada NCLC
stadium awal atau karena kondisi tertentu tidak dapat dilakukan pembedahan, misalnya
tumor terletak pada bronkus utama sehingga teknik pembedahan sulit dilakukan dan
keadaan umum pasien tidak mendukung untuk dilakukan pembedahan. Terapi radiasi
dilakukan dengan menggunakan sinar X untuk membunuh sel kanker. Pada beberapa
kasus, radiasi diberikan dari luar tubuh (eksternal). Tetapi ada juga radiasi yang
diberikan secara internal dengan cara meletakkan senyawa radioaktif di dalam jarum,
dengan menggunakan kateter dimasukkan ke dalam atau dekat paru-paru. Terapi radiasi
banyak dipergunakan sebagai kombinasi dengan pembedahan atau kemoterapi.
c. Kemoterapi
Kemoterapi pada kanker paru merupakan terapi yang paling umum diberikan pada
SCLC atau pada kanker paru stadium lanjut yang telah bermetastasis ke luar paru
seperti otak, ginjal, dan hati. Kemoterapi dapat digunakan untuk memperkecil sel
kanker, memperlambat pertumbuhan, dan mencegah penyebaran sel kanker ke organ
lain. Kadang-kadang kemoterapi diberikan sebagai kombinasi pada terapi pembedahan
atau radioterapi. Penatalaksanaan ini menggunakan obat-obatan (sitostatika) untuk
membunuh sel kanker. Kombinasi pengobatan ini biasanya diberikan dalam satu seri
pengobatan, dalam periode yang memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-
bulan agar kondisi tubuh penderita dapat pulih (ASCO, 2010).

9. DAFTAR PUSTAKA
a. Sudoyona AW, dkk. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakrata: Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI. 2006
b. Brunner and Suddart. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. 2001
c. Guyton dan Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17. Jakarta : EGC. 1997
d. Blackwell W. Nursing Diagnosis Definition and Classification 2009-2011. USA:
NANDA International. 2009.
e. Moorhead S, et all. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA : Mosby
Elsevier. 2004.
f. Bulechek GM, Howard KB, and Joanne MC. Nursing Interventions
Classification (NIC). USA : Mosby Elsevier. 2004.