Anda di halaman 1dari 3

ADAKAH YESUS MENGAKU ALLAH?

Bism al-Abi wa al-Ibni wa ar-Rûh al-Quddusi, al-Ilahu al-Wâhid, Amin

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Allah yang Maha Esa, Amin

SYALÔM ALEIKHEM,

AS-SALÂMU’ALAIKUM!

Latar Belakang

Akhir-akhir ini dalam situs pertemanan “Facebook” banyak sekali bermunculan group-group yang
bernuansakan SARA. Kekristenan sering menjadi “bulan-bulanan” dalam forum tersebut. Mereka menuduh
Kekristenan sekarang ini sudah menyelewengkan ajaran dari Yesus tentang keesaan TUHAN. Bagaimana
mungkin Yesus yang adalah seorang manusia biasa atau seorang Nabi dipertuhankan oleh umat Kristen.
Padahal tidak pernah ada satupun ayat-ayat di Injil yang menunujukkan pengakuan Yesus bahwa Dia
adalah TUHAN dan minta disembah. Malah Yesus menegaskan bahwa hanya Allah saja yang disembah.
Demikian tuduhan-tuduhan yang sering mereka lontarkan pada Kekristenan. Untuk itulah saya mengambil
judul “Adakah Yesus mengaku Allah?” Pada tulisan ini saya akan mencoba membahas lebih dalam lagi
bagaimana ketuhanan & keilahan Yesus sampai dengan tuntas.

Jika kita mempelajari Alkitab berdasarkan konteks budaya Yudaisme pada abad pertama kita akan
menemukan bukti-bukti yang menunujukkan keilahian & ketuhanan Yesus. Disini saya akan mencoba
menjelaskan satu persatu bukti pengakuan Yesus yang mengejutkan akan diriNya sebagai Kalimatullah
(Firman Allah), tentu saja berdasarkan konteks kebudayaan Yudaisme.

Di dalam hukum kebudayaan Yudaisme tidak boleh mengucapkan nama “YHWH” dengan sembarangan.
Umat Yahudi menyebut “Adonay” (Tuhan) atau Ha Syem (Nama segala nama) sebagai pengganti “YHWH.”
Jadi jangan mengharapkan Yesus mengaku diri Allah. Ini sangat bertentangan dengan hukum Yahudi. Inilah
yang tidak pernah diketahui oleh penuduh-penuduh itu. Untuk itulah mereka harus mengetahui bagaimana
kebudayaan Yudaisme pada saat itu. Tentu saja penguasaan original text Alkitab juga tidak boleh
dilewatkan. Agar tidak sembarangan menyerang Kekristenan dengan metode hitam putih atau main
“hantam kromo.”

Pengakuan Yesus : “Ego Eimi”

Ketika Yesus sedang bercakap-cakap dengan orang Yahudi, secara mengejutkan Yesus bersabda demikian
dalam “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi (Genesthai), Aku telah ada(Ego
Eimi).” (Joh 8:58) Pengakuan Yesus ini membuat Dia hampir dibunuh. Mengapa bisa terjadi demikian?
Ternyata dalam kebudayaan Yudaisme Perjanjian Lama, kata “Ego Eimi” ini adalah kata ganti diri yang
hanya digunakan oleh YHWH. Ungkapan “Ego Eimi” ditemukan dalam Septuaginta atau Perjanjian Lama
yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani jauh sebelum jaman Yesus. “Ego Eimi” diterjemahkan dalam
bahasa Ibrani adalah “Ani Hu.” Ketika Allah hendak mengutus Nabi Musa, Dia mengungkapkan akan
diriNya sebagai “Ego Eimi” yang berarti “AKU ada.” Karena pengakuan inilah Dia hampir dibunuh orang-
orang Yahudi. (Joh 8:59)Yesus ingin menujukkan bahwa jauh sebelum Abraham diciptakan, Yesus sudah
ada sebagai Firman Allah. Dan Firman Allah adalah Allah sendiri. Sehingga tuduhan-tuduhan mereka yang
mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengaku diri Allah terjawab.

Ungkapan disetiap awal sabda Yesus : “Amien, geir amar Ana lekhon.. ”

Apabila kita teliti mempelajari Injil maka kita akan sering mendapatkan Yesus selalu mengucapakan
“Amin” di awal sabda-Nya: “sesungguhnya Aku berkata kepadamu” Atau dalam bahasa Aramnya (bahasa
yang sehari-hari digunakan oleh Yesus) adalah : “Amien, geir amar Ana lekhon” Tidak seperti nabi2 lain
(dalam perjanjian lama) yang akan menyampaikan Firman Allah, diawal sabda nabi tersebut selalu
mengatakan : “demikian Firman Tuhan..” atau “Firman Tuhan datang kepada..” dan “Amin” diucapkan
diakhir sabda nabi-nabi tyersebut. Tetapi Yesus berbeda dengan nabi2 tersebut. Yesus tidak pernah
mengatakan : “Firman Allah berkata pada-Ku demikian…” Tetapi di awal sabda-Nya Dia selalu
mengatakan : “ Amien, geir amar Ana lekhon… ” atau “sesungguhnya Aku berkata kepadamu.. ” Mengapa
demikian? Firman itu tidak diberikan/disampaikan oleh Allah pada Yesus. Karena Yesus sendiri adalah
Firman Allah yang nuzul menjadi manusia. Yesus ingin menekankan bahwa Dia sedang bersabda atas diri-
Nya sendiri sebagai Firman Allah. Oleh sebab itu di awal sabdaNya tidak pernah Dia mengatakan: “Firman
Allah berkata padaku demikian.” Itulah yang membedakan Yesus dengan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama.
Satu bukti lagi akan keilahian Yesus terjawabkan.

Jesus the Son of Man

Mungkin kita tidak asing dengan nama Kahlil Gibran. Dia adalah seorang penyair asal Libanon. Banyak yang
tidak tahu bahwa Kahlil Gibran adalah seorang penyair Kristen Arab. Padahal buku-bukunya sangat laris
dikalangan santri-santri di Indonesia. Sampai-sampai salah satu bukunya yang berjudul “Jesus the Son of
Man” si penerjemah menulis demikian: “Kalau selama ini gereja mengenalkan Yesus sebagai Tuhan, kali ini
Kahlil Gibran mengenalkan Yesus sebagai manusia biasa.” Si penerjemah ini tidak mengetahui latar belakang
Kahlil Gibran memberi judul “Jesus the Son of Man” yang dia ambil dari nubuat nabi Daniel akan
kedatangan “Anak Manusia.”

Suatu ketika Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu? ” (Mat
16:13) Yesus ingin menegaskan pada murid-muridNya bahwa Dia-lah yang dinubuatkan nabi Daniel.
Dalam kitab Daniel 7:13-14 tertulis demikian :

‫וכל ומלכו ויקר ׁשלטן יהיב ולה הקרבוהי׃ וקדמוהי מטה יומיא ועד־עתיק הוה אתה אנׁש כבר ׁשמיא עם־ענני וארו ליליא בחזוי הוית חזה‬
‫תתחבל די־לא ומלכותה יעדה די־לא עלם ׁשלטן ׁשלטנה יפלחון לה ולׁשניא אמיא עממיא‬

“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang
seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.
Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang
dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang
kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah “

Ayat ini menceritakan tentang penglihatan nabi Daniel tentang akhir jaman kelak. Dalam penglihatannya
nabi Daniel tidak begitu jelas melihat siapakah yang datang dengan awan-awan itu. Namun dia melihat
sosok seperti “ Anak Manusia” yang tampak secara jasmaniah. Tetapi sosok “ Anak Manusia” yang dilihat
dalam penglihatannya ini berbeda dengan manusia biasa. Sosok “Anak Manusia” dalam penglihatan nabi
Daniel adalah sosok yang ilahi. Karena segala kekuasaan dan kemuliaan diberikan oleh “Yang Lanjut Usia”
itu kepada “Anak Manusia” bahkan kekuasaannya (Anak Manusia) adalah kekuasaan yang kekal tidak
akan lenyap dan tidak akan musnah. Penglihatan nabi Daniel sesuai dengan pengakuan Yesus: “Kepada-Ku
telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. ” (Mat 28:18 )

Yesus hendak mengakui yang diriNya adalah “Anak Manusia” dalam penglihatan nabi Daniel. Jadi sekali lagi
dalam gelar “Anak Manusia” ini Dia ingin mengakui bahwa diri-Nya adalah Allah dalam hakekatnya
sebagai Kalimatullah/Firman Allah. Kemudian di ayat 20 Yesus bersabda: “dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman.” Jika memang Yesus adalah manusia biasa mungkinkah Dia akan menyertai
umatNya sampai akhir jaman? Silahkan anda jawab sendiri.

Kemudian dalam Yohanes 14:6 berbunyi demikian: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada
seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. ” Nabi-nabi dalam kitab Perjanjian Lama
adalah penunjuk jalan karena mereka menerima Firman dari Allah. Sangat berbeda dengan Yesus. Yesus
tidak pernah mengatakan: “Aku penunujuk jalan.” Tetapi Dia mengatakan : “Akulah jalan…” Tidak seperti
nabi-nabi lain yang hanya sebagai penunjuk jalan. Yesus adalah Jalan Kebenaran itu sendiri, karena Dia
adalah Firman yang memberikan hidup. Sekali lagi, jika Yesus manusia biasa pangkatNya apa berani
berkata seperti itu?

Dan masih banyak lagi bukti-bukti lain yang menunjuk akan keilahian Yesus tanpa harus mengaku diri
Allah dan minta disembah. Justru itu sangat bertentangan dengan hukum Yahudi yang melarang keras
mengucapkan nama TUHAN dengan sembarangan.
Demikianlah penjelasan atas tuduhan mereka terhadap Kekristenan. Sehingga tuduhan mereka yang
mengatakan tidak adanya bukti akan keilahian Yesus hanya menjadi cerita isapan jempol saja. Kemuliaan
hanya milik Allah penguasa semesta alam dalam nama Sayidina Rabboni ‘Isa al-Masih, Kalimatullah dan
Junjungan Agung yang sejati, yang Pertama dan yang Terakhir, Yang telah wafat bagi kami semua dan yang
telah bangkit kembali, yang telah nuzul (turun) dari Surga dan sudah kembali ke sana; semoga kemuliaan-
Mu terpancar ke dalam hati setiap manusia dan pembaca. Amin. Wassalamu’alaikum bismir Rabbina Yasu’
al-Masih!