Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa
gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari
serangkaian proses ilmiah. Fisika adalah bagian dari mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam yang pada dasarnya menarik untuk dipelajari karena di
dalamnya dapat dipelajari gejala-gejala atau fenomena yang terjadi di jagad raya.
Namun kenyataannya, banyak siswa yang kurang menyukai pelajaran fisika dengan
menganggap belajar fisika itu menjenuhkan dan membosankan. Guru selalu
menyajikan materi fisika dalam bentuk rumus-rumus dan perhitungan yang sulit,
sehingga siswa mengalami kesulitan dalam belajar fisika dan menyebabkan hasil
belajar siswa rendah. Rendahnya hasil belajar ditunjukkan dengan rendahnya
prestasi belajar siswa, semua itu disebabkan karena kesulitan dalam belajar
(http://karya-ilmiah.id/index.php/tm/article/view/2939).
Rendahnya daya serap peserta didik dalam memahami materi pelajaran
yang diberikan menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Di MAN 1 Medan ada
7 kelas untuk kelas MIA7 , dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari rata-rata
nilai ujian mata pelajaran fisika semester I untuk kelas MIA7 pada semester ganjil
T.P. 2015/2016 yaitu 66. Dan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk mata
pelajaran IPA yang telah ditetapkan 65. jadi, nilai yang diperoleh siswa MAN 1
Medan hampir sama dengan nilai KKM itu.
Pada dasarnya guru bertanggung jawab atas keseluruhan proses belajar di
sekolah. Rendahnya nilai rata-rata ujian fisika hasil belajar siswa merupakan
gambaran bagaimana tingkat kemampuan guru untuk melaksanakan proses belajar
mengajar sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar secara optimal.

1
Mata pelajaran fisika menuntut kemampuan guru yang tinggi untuk menentukan
suatu bentuk strategi mengajar sebagai pengguna pendekatan mengajar yang tepat.
Strategi pembelajaran fisika adalah strategi yang melatih berbagai
keterampilan seperti berpikir, menemukan konsep serta memecahkan berbagai
masalah. Dimana dalam mempelajari fisika banyak memerlukan pemahaman
tentang konsep-konsep yang ada dalam tiap materi pelajaran fisika tersebut. Untuk
dapat menanamkan pemahaman siswa tentang konsep-konsep dari setiap materi
pelajaran, guru sebagai perancang pengajaran perlu menerapkan metode belajar
yang tepat agar konsep-konsep fisika itu dapat mudah dipahami siswa serta dapat
membantu siswa aktif dalam proses belajar mengajar.
Salah satu metode belajar yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan
menerapkan metode peta pikiran. Peta pikiran adalah metode mencatat kreatif yang
memudahkan mengingat banyak informasi. Catatan yang di buat membentuk
sebuah pola gagasan yang saling berkaitan , dengan topik utama di tengah dan
perincian menjadi cabang-cabangnya. Peta pikiran terbaik adalah peta pikiran yang
warna-warni dan menggunakan banyak gambar dan simbol (Deporter, 2007:175).
Dengan peta pikiran ini diharapkan dapat membantu siswa untuk mengingat istilah-
istilah penting, rumus-rumus, hukum-hukum fisika. Sehingga siswa lebih
memahami maknanya, dapat menyelesaikan soal-soal yang berhubungan, dapat
memunculkan ide-ide baru, serta menjadikan siswa lebih kreatif.
Mind mapping atau pemetaan pikiran merupakan salah satu teknik mencatat
tinggi yang dapat meningkatkan daya ingat. Informasi berupa materi pelajaran yang
diterima siswa dapat diingat dengan bantuan catatan. Mind mapping merupakan
bentuk catatan yang tidak monoton karena mind mapping memadukan fungsi kerja
otak secara bersamaan dan saling berkaitan satu sama lain. Sehingga akan terjadi
keseimbangan kerja kedua belahan otak. Otak dapat menerima informasi berupa
gambar, simbol, citra, musik dan lain lain yang berhubungan dengan fungsi kerja
otak kanan (Tonny dan Bary Buzan, 2004: 68).

2
Manfaat awal mind mapping adalah untuk mencatat. Mind mapping
menggusur metode lama outlining yang kaku dan kadang mengganggu kebebasan
memunculkan ide-ide baru. Mind mapping selain mampu membebaskan seseorang
yang ingin merekam informasi, juga membantu orang tersebut untuk mengait-
ngaitkan informasi dengan dirinya dan sekaligus menjadikan diri tersebut kreatif.

Pemetaan pikiran (mind mapping) cara yang paling mudah untuk


memasukkan informasi ke dalam otak dan untuk kembali mengambil informasi
dari dalam otak. Peta pemikiran merupakan teknik yang paling baik dalam
membantu proses berpikir otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis
yang berasal dari pemikiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-
kunci universal sehingga membuka potensi (Tonny dan Bary Buzan, 2004: 68).

Metode peta pikiran ini telah diterapkan dalam penelitian sebelumnya oleh
beberapa mahasiswa. Diantaranya adalah: Hudayah, Y, (2007), mengatakan
bahwa: :“Siswa pada tingkat SMA yang diajar dengan menggunakan metode
pembelajaran peta pikiran mengalami peningkatan prestasi belajar yang signifikan,
yaitu persentase perolehan nilai untuk pretes 35,69 %, untuk postes pada siklus I
77,84 % dan pada siklus II 86,15 %. Namun, dalam penelitian ini, masih ada
kelemahan salah satu diantaranya yaitu keterbatasan waktu dan penggunaan media
dalam suatu metode pembelajaran”. Heru (2007) mengatakan bahwa: “hasil
penelitian tersebut menunjukkan rata-rata persentase peningkatan hasil belajar
fisika siswa sebesar 48,42%”.

Namun ada perbedaan antara penelitian yang sebelumnya dengan penelitian


yang akan dilaksanakan. Penelitian yang sebelumnya tidak menyediakan media
untuk pembuatan peta pikiran kepada siswa dan alokasi waktu yang disediakan
untuk membuat peta pikiran tersebut sedikit. Dalam hal ini peneliti akan lebih
memaksimalkan waktu serta menggunakan media seperti media chart dan media
slide.

3
Peta pikiran dapat menjadi metode belajar yang bagus (Deporter, 2003:
168). Peta pikiran merupakan cara yang kreatif dan efektif dalam membuat catatan
(Buzan, 2004: 6). Buzan dalam Deporter dkk (2003): “ Mencatat yang efektif
adalah salah satu kemampuan terpenting yang harus dimiliki. Hal ini sering kali
menjadi penyebab siswa mendapat nilai tinggi ataub rendah pada saat ujian. Catatan
yang baik dan efektif membantu siswa mengingat detail-detail tentang poin-poin
kunci, memahami konsep utama dan melihat kaitannya.
Peta pikiran membantu siswa menangkap pikiran dan gagasan pada kertas
dengan menggunakan gambar, warna, dan simbol yang jelas, lengkap dan mudah
untuk membuat informasi lebih mudah dimengerti dan diingat kembali dalam
memaksimalkan momen belajar.
Berdasarkan masalah-masalah di atas, maka penulis akan mengadakan
penelitian dengan judul : Penerapan Metode Pembelajaran Peta Pikiran Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Getaran dan
Gelombang Di Kelas MIA7 Semester II MAN 1 Medan T.A. 2015/2016”.

4
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diidentifikasi pokok-
pokok masalah sebagai berikut:
1. Guru selalu menyajikan materi fisika dalam bentuk matematis dan
perhitungan-perhitungan yang sulit sehingga siswa mengalami kesulitan
dalam belajar fisika dan menyebabkan hasil belajar siswa rendah.
2. Metode pembelajaran yang diberikan kurang bervariasi.
3. Kurangnya peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
4. Cara mencatat siswa yang kurang efektif, mempengaruhi hasil
belajar. Siswa membuat catatan tradisional dalam bentuk tulisan linier
panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran, sehingga catatan
terlihat sangat monoton dan membosankan. Selain itu, catatan monoton
akan menghilangkan topik-topik utama yang penting dari materi
pelajaran
5. Hasil belajar siswa dalam bidang studi fisika lebih rendah
dibandingkan dengan hasil belajar pada bidang studi yang lainnya.

1.3. Batasan Masalah


Dalam penelitian ini diadakan pembatasan masalah sebagai berikut :
1. Metode belajar yang diterapkan dalam penelitian ini adalah peta pikiran.
2. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas MIA7 semester II Tahun
Ajaran 2016/2017 yang belum Pernah mempelajari materi fisika pokok
bahasan getaran dan gelombang.
3. Hasil belajar siswa dibatasi hanya pada hasil tes dan aktivitas siswa
dalam kegiatan belajar mengajar pada pokok bahasan getaran dan
gelombang.
4. Materi yang diajarkan selama kegiatan belajar mengajar adalah pada
pokok bahasan getaran dan gelombang.

5
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan batasan masalah, maka
rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana hasil belajar siswa pada pokok bahasan getaran dan
gelombang sebelum dan sesudah pembelajaran dengan metode peta
pikiran di MAN 1 Medan Tahun Ajaran 2016/2017?
2. Bagaimanakah aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dengan
metode peta pikiran di MAN 1 Medan Tahun Ajaran 2016/2017?
3. Bagaimanakah persentase peningkatan hasil belajar siswa setelah
diterapkan metode peta pikiran pada pokok bahasan getaran dan
gelombang kelas MIA7 semester II di MAN 1 Medan Tahun Ajaran
2016/2017?

1.5. Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk :
4. Mengetahui hasil belajar siswa pada pokok bahasan getaran dan
gelombang sebelum dan sesudah pembelajaran dengan metode peta
pikiran di MAN 1 Medan Tahun Ajaran 2016/2017.
5. Mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dengan
metode peta pikiran di MAN 1 Medan Tahun Ajaran 2016/2017.
6. Mengetahui persentase peningkatan hasil belajar siswa setelah
diterapkan metode peta pikiran pada pokok bahasan getaran dan
gelombang kelas MIA7 semester II MAN 1 Medan Tahun Ajaran
2016/2017.

1.6. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :

6
1. Sebagai bahan masukan bagi guru dan calon guru dalam memilih
metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
2. Sebagai bahan masukan bagi guru dan calon guru untuk meningkatkan
hasil belajar siswa dan minat belajar siswa.
3. Bahan informasi tentang penerapan pembelajaran dengan metode peta
pikiran dalam kegiatan belajar mengajar.
4. Bahan referensi bagi guru dan calon guru fisika dalam merencanakan
pembelajaran fisika.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Teoritis


2.1.1. Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar
merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses
pembelajaran yang dialami siswa sebagai anak didik.
Belajar, perkembangan dan pendidikan merupakan gejala yang berkaitan
dengan pembelajaran. Belajar dilakukan oleh siswa secara individu, perkemb angan
dialami dan dihayati oleh individu siswa, sedangkan pendidikan merupakan
kegiatan interaksi. Dalam kegiatan interaksi itu, pendidik atau guru bertindak
mendidi siswa sehingga tindakan mendidik tersebut tertuju pada perkembangan
siswa menjadi mandiri.
Defenisi belajar banyak dikemukakan oleh ahli psikologi pendidikan yang
masing-masing ahli memberikan defenisi belajar itu berbeda-beda sesuai dengan
sudut pandang mereka dalam proses dan hasil belajar tersebut.
Menurut Djamarah (2006 : 10) belajar adalah : “proses perubahan perilaku
berkat pengalaman dan latihan , artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah
laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan
meliputi segenap aspek organisme atau pribadi”.
Dalam interaksi belajar mengajar ditemukan bahwa proses belajar yang
dilakukan oleh siswa merupakan kunci keberhasilan belajar. “Belajar merupakan
suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh bentuk perilaku baru yang
relative menetap” (Abdurrahman, 1999: 37). Sardiman (2003: 21) mengatakan
bahwa : “Belajar juga dapat dikatakan sebagai rangkaian kegiatan jiwa-raga, psiko-

8
fisik untuk menuju perkembangan manusia seutuhnya, yang menyangkut unsur
cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”.
Dan menurut Winkel (1998: 36) bahwa “belajar merupakan suatu aktivitas
mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan
dan nilai sikap, perubahan itu bersifat secara relatif dan konstan”.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
belajar mengandung arti yang cukup luas atau kompleks. Dalam hal ini yang
dimaksud belajar berarti pada individu yang belajar terjadi perubahan itu tak hanya
berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tapi juga berbentuk kecakapan
sikap dan keterampilan.

2.1.2. Pengertian Hasil Belajar


Hal pokok yang mendasari suksesnya pelaksanaan pendidikan adalah
merubah pandangan atau persepsi setiap individu yang terlibat langsung dalam
pendidikan. Dari berbagai defenisi belajar maka perubahan tingkah laku itu bisa
ssaja dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, perubahan dalam
sikap dan kebiasaan, perubahan pandangan, kegemaran dan lain-lain. Kegiatan dan
usaha untuk mencapai tingkah laku merupakan proses belajar, sedangkan
perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar.
Hasil belajar terdiri dari dua kata yaitu “hasil” dan “belajar”. Hasil
merupakan akibat dari yang ditimbulkan karena berlangsungnya suatu proses
kegiatan. Sedangkan belajar adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh
perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi yang
telah diajarkan dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa, yang umumnya
diperoleh dari hasil tes yang diberikan pada siswa setelah mendapat pengajaran.
Menurut Keller (dalam Abdurrahman, 1999: 39) bahwa “Hasil belajar merupakan

9
prestasi actual yang ditampilkan oleh anak yang dipengaruhi oleh usaha yang
dilakukan oleh siswa dan intelejensi serta penguasaan siswa terhadap materi yang
diajarkan”.
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar (Abdurrahman, 1999: 37). Menurut Benjamin S, Bloom (1996: 7
dalam Abdurrahman, 1999: 38) bahwa “ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu
kognitif, afektif dan psikomotorik”.
Setiap orang selalu ingin mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya.
Dorongan ingin mengetahui membuat seseorang berusaha dengan cara apapun agar
keinginannya itu menjadi kenyataan atau terwujud. Untuk mencapai suatu hasil
yang baik, maka guru sebagai penerima kegiatan perlu mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, baik dalam diri siswa (internal) maupun
faktor dari luar (eksternal). Dalam proses belajar mengajar, tipe hasil belajar yang
diharapkan dapat dicapai siswa penting diketahui oleh guru, agar guru dapat
merancang/mendesain pengajaran secara tepat dan penuh arti.

2.1.3. Aktivitas Belajar


Corak dan bentuk program pendidikan sekolah berpusat pada “aktivitas
belajar siswa”. Belajar inilah yang perlu direncanakan, dituntun dan dievaluasi
hasilnya, maka pendidikan di sekolah mutlak perlu memahami apa itu belajar,
mengetahui faktor-faktor yang berperan di dalam belajar, jenis-jenis aktivitas,
manfaat aktivitas, kesulitan belajar, menguasai cara-cara mengatur proses belajar
dan menentukan sarana-sarana yang menunjang proses belajar itu, karena belajar di
sekolah bukan sembarang belajar, melainkan belajar yang bertujuan.
Paul D. Dierich dalam Solihin (2008), membagi kegiatan belajar menjadi 8
(delapan) kelompok: (1) Kegiatan-kegiatan visual: membaca, melihat gambar-
gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain
bekerja atau bermain.; (2) Kegiatan-kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu
fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan,

10
memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, berdiskusi; (3) Kegiatan-
kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan
percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu instrument musik,
mendengarkan siaran radio; (4) Kegiatan-kegiatan menulis: menulis cerita, menulis
laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa atau rangkuman,
mengerjakan tes, mengisi angket; (5) Kegiatan-kegiatan menggambar:
menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola; (6) Kegiatan-kegiatan metrik:
melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model,
menyelenggarakan permainan (stimulasi) menari, berkebun; (7) Kegiatan-kegiatan
mental : merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-
faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan; (8) Kegiatan-
kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang dan sebagainya.

2.1.4. Metode Pembelajaran


Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru
dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah
pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia
tidak menguasai satu pun metode pembelajaran yang dikemukakan para ahli
psikologi dan pendidikan (Djamarah, 2006:46).
Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati peranan yang
tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar.
Penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat
motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pengajaran akan
menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Efektifitas
penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua
komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran, sebagai
persiapan tertulis.

11
2.1.5. Metode Pembelajaran Peta Pikiran
Metode mencatat yang baik harus membantu kita mengingat perkataan dan
bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi, membantu mengorganisasi
materi, dan memberikan wawasan baru. Peta pikiran memungkinkan terjadinya
semua hal itu. Peta pikiran adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan kita
mengingat banyak informasi. Catatan yang dibuat membentuk sebuah pola gagasan
yang saling berkaitan, dengan topik utama di tengah dan perincian menjadi cabang-
cabangnya. Peta pikiran terbaik adalah peta pikiran yang warna-warni dan
menggunakan banyak gambar dan simbol (Deporter, 2007:175).
Salah satu metode terbaik untuk meningkatkan kemampuan pemanggilan
ulang sewaktu anda mempelajari bahan yang baru (buku, pertemuan, rapat, kuliah,
dan lain-lain) adalah pemetaan pikiran. menulis dengan cara memetakan pikiran
membutuhkan keterlibatan dengan bahan pelajaran, yang tentu saja menghasilkan
pola ingatan yang kuat (Wycoff, 2005:41).
“Mind Map merupakan cara paling mudah untuk memasukkan informasi ke
dalam otak, dan mengambil informasi dari otak. Cara ini adalah cara yang kreatif
dan efektif dalam membuat catatan, sehingga boleh dikatakan Mind Map benar-
benar “memetakan” pikiran anda, menggunakan garis, lambang, kata-kata, serta
gambar, berdasarkan seperangkat aturan yang sederhana, mendasar, alami, dan
akrab bagi otak” (Buzan, 2004:6).
“Metode mencatat ini didasarkan pada cara otak memperoleh informasi,
bekerja bersama otak anda, bukannya menentangnya” (Buzan, 1993 dalam
Deporter, 2007:176). Dan peta pikiran menirukan proses berpikir ini, yakni
memungkinkan anda berpindah-pindah topik. Anda merekam informasi melalui
simbol, gambar, arti emosional, dan dengan warna, persis seperti cara otak
memprosesnya.

12
Tujuan Langkah Cara Membuat Membuat Peta Pikiran (Buzan, 2004:21, 22,
23) yaitu:
a. Mulai dari bagian tengah permukaan secarik kertas kosong
yang diletakkan dalam posisi memanjang, karena mulai dari tengah
permukaan kertas akan memberikan keleluasaan bagi cara kerja otak
untuk memencar keluar ke segala arah dan mengekspresikan gagasan
yang lebih bebas dan alami.
b. Gunakan sebuah gambar untuk gagasan sentral, karena suatu
gambar bernilai seribu kata dan membantu menggunakan imajinasi.
Gambar yang letaknya di tengah-tengah akan tampak lebih menarik,
membuat tetap terfokus, membantu memusatkan pikiran dan menjadikan
otak semakin aktif.
c. Gunakan warna pada seluruh peta pikiran. karena bagi otak,
warna-warna tidak kalah menariknya dari gambar. Warna membuat peta
pikiran tampak lebih cerah dan hidup, meningkatkan kekuatan dahsyat
bagi cara berpikir kreatif dan ini juga hal yang menyenangkan.
d. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar sentral dan
setiap garis dihubungkan dengan garis yang lain. Jika akan
menghubungkan ke cabang-cabang maka akan jauh lebih mudah dalam
memahami dan mengingat. Menghubungkan cabang utama akan
menciptakan dan membantu suatu struktur dan arsitektur dasar bagi
pemikiran.
e. Buatlah cabang-cabang peta pikiran berbentuk melengkung
bukannya garis lurus. Karena jika semuanya garis lurus, ini akan
membosankan otak anda. Cabang-cabang yang melengkung dan hidup
seperti cabang-cabang sebuah pohon jauh lebih menarik dan indah bagi
mata anda.

13
f. Kata sebaiknya ditulis dengan huruf cetak. Huruf cetak
memberikan umpan balik yang lebih fotografis, jelas dan mudah dibaca.
Kata yang ditulis dalam huruf cetak sebaiknya ditulis diatas garis , dan
sebaiknya dihubungkan dengan yang lain.
g. Gunakan satu kata kunci per baris. Karena kata kunci tunggal
akan menjadikan peta pikiran lebih kuat dan fleksibel. Peta pikiran yang
mempunyai banyak kata-kata kunci di dalamnya adalah seperti tangan
yang memiliki jemari yang semuanya bebas bergerak dengan lincah.

2.6. Getaran dan Gelombang


2.1.6.1. Getaran
Getaran adalah gerakan yang merambat dari suatu titik ke titik lain melalui
titik setimbang. Karena gerak yang terjadi berulang-ulang secara teratur, getaran
juga sering disebut gerak periodik atau gerak berkala. Contohnya gerak naik turun
benda yang digunakan pada pegas, gerak ayunan sebuah bandul yang digantungkan
dengan tali, gerak naik turunnya penggaris plastik yang dijepit salah satu ujungya.

2.1.6.1.1. Simpangan dan Amplitudo

B C
A
Gambar 2.1. Ayunan Sederhana

14
Benda dikatakan melakukan satu kali gataran jika telah melakukan gerak
dari A-B-A-C-A atau B-A-C-A atau C-A-B-A. Jarak beban ke titik setimbang
disebut simpang getar. Simpangan berubah tiap waktu karena mendekati atau
menjauhi titik setimbang.
Simpangan suatu getaran mempunyai jarak dari nol sampai mencapai nilai
terbesar. Simpangan terbesar dari suatu getaran disebut amplitude dilambangkan
dengan huruf A. Simpangan tali yang digantungi beban paling besar terjadi ketika
beban berada pada posisi paling kiri dan posisi paling kanan.

2.1.6.1.2. Periode Getaran


Periode getaran adalah waktu yang diperlukan benda untuk melakukan satu
getaran penuh. Periode getaran dilambangkan dengan huruf T. Periode getran dapat
dihitung dari waktu yang tercatat dibagi jumlah getaran.
t
T=
N
Dengan:
T = periode getaran (s)
N = jumlah getaran
t = waktu yang diperlukan untuk N kali getaran (s)

2.1.6.1.3. Frekuensi Getaran


Frekuensi getaran adalah banyaknya getaran yang dilakukan benda selama
satu sekon. Frekuensi dilambangkan dengan huruf f. Satu frekuensi adalah Hertz
(Hz). Jika jumlah getaran disimbolkan dengan huruf N dan waktu getar dengan t,
frekuensi getaran dapat dituliskan dalam bentuk rumus:
N
f =
t
Hubungan antara frekuensi dan periode getaran dapat ditulis:

15
1 1
T= f atau f =
T

2.1.6.2. Gelombang
Gelombang adalah getaran yang merambat. Perambatan gelombang yang
terjadi melalui medium (zat perantara) disebut gelombang mekanik. Perambatan
gelombang yang terjadi tanpa memerlukan medium disebut gelombang
elektromagnetik.
2.1.6.2. Gelombang
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatnya tegak lurus
dengan arah getarnya.

Gambar 2.2. Gelombang tali merupakan gelombang transversal

Gambar 2.3. Skema gelombang transversal


Keterangan:

16
 Bukit gelombang adalah lengkungan yang berada di atas posisi setimbang
 Lembah gelombang adalah lengkungan yang berada di bawah posisi setimbang
 Amplitudo adalah jarak puncak gelombang atau dasar gelombang terhadap
posisi setimbang
 Panjang gelombang () adalah panjang satu gelombang yang terdiri dari satu
bukit dan satu lembah gelombang.

Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah rambatnya berimpit


dengan arah getarnya.

Gambar 2.4. Gelombang yang terjadi pada slinki termasuk gelombang


longitutudinal

2.1.6.2.2. Periode, Frekuensi dan Cepat Rambat Gelombang


Gelombang juga memerlukan waktu dalam perambatannya. Selang waktu
yang diperlukan untuk menempuh satu gelombang disebut periode.
Frekuensi adalah gelombang yang terjadi dalam satu sekon. Sama seperti
getaran periode dan frekuensi gelombang juga memiliki hubungan berikut:
1 1
f= atau T = f
T
kecepatan gelombang sering disebut cepat rambat gelombang diberi
lambing v. Waktu yang diperlukan gelombang untuk berpindah sejauh satu panjang

17
gelombang sama dengan satu periode. Dengan kata lain, untuk berpindah sejauh s
=  diperlukan waktu t = T. Cepat rambat gelombang memiliki persamaan berikut:
jarak
Cepat rambat =
waktu
s 
v= 
t T
Jadi pada gelombang terjadi persamaan:

v=
T
1
Karena, T = f , maka:

v = . f
Dengan:
v = cepat rambat gelombang (m/s)
T = periode gelombang (s)
 = panjang gelombang (m)
f = frekuensi gelombang (Hz)

2.2. Kerangka Konseptual


Kerangka konseptual adalah rangkaian-rangkaian pengertian logis yang
dipakai untuk mengarahkan jalan pemikiran dalam penelitian agar diperoleh letak
masalah yang tepat. Maka untuk menghindari pengertian yang bebeda dengan judul
penelitian ini maka akan diuraiakan arti yang terkandung dalam penelitian ini.
Kegiatan pembelajaran mencakup dua komponen penting yaitu proses dan
hasil belajar. Keberhasilan pendidikan lebih banyak ditentukan oleh guru dalam
mengelola kelas. Dari segi proses, strategi pembelajaran dalam penelitian ini adalah
metode peta pikiran. Metode peta pikiran sangat sesuai diterapkan untuk belajar
fisika, hal ini didasarkan pada belajar fisika yang sangat membutuhkan aktivitas
untuk lebih mudah mempelajarinya.

18
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode peta pikiran siswa lebih
mudah mengingat perkataan dan bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap
materi, membantu mengorganisasi materi, dan memberikan wawasan baru. Peta
pikiran adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan kita banyak mengingat
informasi. Catatan yang dibuat membentuk sebuah pola gagasan yang saling
berkaitan, dengan topik utama di tengah dan sub topik dan perincian menjadi
cabang-cabangnya. Peta pikiran terbaik adalah peta pikiran yang warna-warni dan
menggunakan banyak gambar dan simbol.
Metode pembelajaran yang diberikan oleh guru pada saat proses belajar
mengajar merupakan rangsangan-rangsangan kepada siswa yang dapat
mempengaruhi aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kea rah yang positif.
Guru akan membantu dan memberi kesempatan kepada siswa untuk
mencari dan menemukan sendiri idenya dalam membuat catatannya. Jadi, dengan
begitu siswa akan paham dan ingat akan apa yang sudah dipelajarinya. Uraian
tersebut kelebihan dari metode peta pikiran.

19
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di MAN 1 Medan yang beralamat di Jl. Williem
Iskandar, Medan. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester II Tahun Ajaran
20016/20117.

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas MIA7 MAN 1
Medan semester II tahun ajaran 2016/2017
2. Sampel
Dalam penelitian ini peneliti tidak memiliki keseluruhan populasi tetapi
mengambil sebagian sampel untuk mewakili populasi. Sampel penelitian
ini diambil secara cluster random.

3.3. Variabel Penelitian


Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu:
1. Variabel bebas
Variable bebas dalam penelitian ini adalah peta pikiran
2. Variabel terikat
Variable terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada
materi pokok getaran dan gelombang kelas MIA7 semester II.

20
3.4. Instrument Penelitian
Instrument penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil
belajar siswa adalah tes hasil belajar siswa pada materi pokok getaran dan
gelombang. Tes ini berbentuk essai yang banyaknya 25 soal dengan kisi-kisi
sebagai berikut

NO Sub materi pokok Klasifikasi/Kategori Jumlah Soal


C1 C2 C3 C4
1 Pengertian getaran 2 10 4
2 Simpangan dan amplitude 11 4 2
3 Periode getaran 7 2
4 Periode dan amplitude 12 1
5 Frekuensi getaran 5 13 8 3 3
6 Pengertian gelombang 14,23 2
7 Jenis-jenis gelombang 1 15,20 16 9 3
8 Ferkuensi dan periode 19,21 18 3
gelombang
9 Cepat rambat gelombang 6,22 2
10 Panjang gelombang 17 24 25 3
Jumlah 10 6 7 2 25

Sebelum melakukan penelitian tes yang telah disusun terlebih dahulu


diujicobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya beda, dan tingkat
kesukarannya. Criteria penilaian adalah memberikan skor 1 untuk setiap soal yang
dijawab benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah.

3.5.Validitas, Reabilitas, Tingkat Kesukaran dan Daya Beda

21
3.5.1. Validitas Tes
Untuk menentukan koefesien validitas digunakan teknik korelasi Product
moment (Arikunto.S.2002 ;72) dengan rumus:
n xy   x  y
rxy=
n x 2
  x
2
n y 2
  y
2

Dengan : rxy = koefesien korelasi


X = nilai untuk setiap item
Y = jumlah total seluruh item
n = jumlah responden

Kriteria pengujian adalah item tes valid jika rxy > rtabel.

3.5.2. Reliabilitas Tes


Untuk menghitung reliabilitas tes digunakan rumus Kuder Richardson
( Arikunto. S. 1999:100) yaitu :
 n  M  n  M  
r11 =  1
 n  1  nS 2 
Dengan : r11 = Reliabilitas tes
M = Skor rata-rata
n = Jumlah item
S2 = Varians
Kriteria pengujian adalah tes reliable jika r11 > rtabel.

3.5.3. Tingkat Kesukaran Tes


Untuk menentukan tingkat kesukaran masing-masing item tes digunakan
rumus (Arikunto.S. 2002 : 103) yaitu:
B
P=
JS

22
Dengan :
P = Tingkat kesukaran
B = Jumlah siswa yang menjawab benar
JS = Jumlah siswa

Untuk mengartikan angka taraf kesukaran item tes digunakan kriteria


(Arikunto.S. 2002 :208) sebagai berikut :
 Item dengan P = 0,00 sampai 0,30 adalah sukar
 Item dengan P = 0,31 sampai 0,70 adalah sedang
 Item dengan P = 0,71 samapai 1,00 adalah mudah

3.5.4. Daya Beda Tes


Dalam menentukan daya pembeda (indeks diskriminasi), harus diketahui
banyaknya siswa yang tergolong kelompok rendah dan tergolong kelompok atas.
Setelah itu diambil 25% skor tertinggi untuk kelompok atas (JA) dan 25% skor
terendah untuk kelompok bawah (JB). Untuk menentukan daya pembeda digunakan
rumus sebagai berikut :
BA  BB
D=
JA  JB
Dengan :
D = Daya pembeda
JA = Jumlah peserta kelompok atas
JB = Jumlah peserta kelompok bawah
BA = Jumlah peserta kelompok atas yang menjawab benar
BB = Jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Klasifikasi daya pembeda yaitu :


D = 0,00 – 0,20 adalah jelek
D = 0,21 – 0,40 adalah cukup

23
D = 0,41 – 0,70 adalah baik
D = 0,71 – 1,00 adalah sangat baik

3.6. Desain Penelitian


Jenis penelitian ini adalah desain yang menggunakan pretes dan postes
dengan diagram sebagai berikut :
Kelas Pretes Perlakuan postes
Eksperimen O1 X O2

Dengan : O1 = Pretes
O2 = postes
X = perlakuan pembelajaran dengan penerapan metode
pembelajaran peta pikiran

3.7. Teknik Pengumpulan Data


Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes essay dan lembar obser
vasi dan angket. Tes dikembangkan berdasarkan tujuan pembelajaran yang sesuai
dengan kurikulum satuan tingkat pendidikan. Observasi akan dilakukan langsung
seorang teman sejawat peneliti.
Dapat dikumpulkan melalui tes essai dan observasi :
1. Tes yang digunakan untuk menyaring kemampuan hasil belajar siswa sebelum
dan sesudah pembelajaran dengan metode peta pikiran. Tes disusun dalam
bentuk essai dengan jumlah sebanyak 15 soal. Cara pengadministrasiannya,
sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar pada setiap siklus diberikan tes.
Siklus I diberikan tes 15 soal pertama dan siklus II 15 soal.
2. Observasi dilakukan peneliti di dalam kelas pada saat kegiatan belajar mengajar
berlangsung. Hal-hal yang diamati adalah aktivitas siswa yang mendukung
kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh gambaran langsung proses
pembelajaran dengan peta pikiran.

24
3.8. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang disajikan
dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang menjelaskan arah perubahan,
penungkatan perubahan pemahaman konsepsi siswa tentang konsep getaran dan
gelombang. Analisis deskriptif bertujuan untuk menggambarkan keadaan siswa
terhadap materi pokok getaran dan gelombang. Dengan melaksanakan observasi
tersebut untuk mengetahui kemampuan siswa terhadap materi pelajaran tersebut
dan sebagai informasi dalam mengambil pertimbangan, dalam melaksanakan
usaha-usaha perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan yang ada.
Penilaian terhadap aktivitas belajar siswa selama pembelajaran diamati oleh
pengamat dan hasil observasi dianalisis dengan menghitung skor rata-rata
peningkatan aktivitas belajar siswa tiap pertemuan.
Untuk menguji signifikan setiap perubahan hasil belajar antara pretes dan
postes maka dilakukan uji Mc Nemer (siegel, 1992) dengan persamaan sebagai

berikut :  
2
 A  D  1 2

A D
Dengan :  2 : Chi kuadrat
A : Perubahan dari pretes yang benar menjadi salah pada saat postes
D : Perubahan dari pretes yang salah menjadi benar pada saat postes
Signifikansi setiap harga  2 yang diperoleh dengan rumus ditetapkan
dengan menggunakan tabel C (pada lampiran yang memberikan berbagai harga
kritis chi-kuadrat db mulai dari 1 hingga 30), yaitu jika harga  2 observasi sama
atau lebih besar dari yang ditunjukkan pada tabel C untuk suatu tingkat signifikansi
tertentu dengan db = 1, ketetapan  = 0,05. maka implikasinya adalah bahwa suatu
efek yang “signifikansi” telah ditunjukkan pada jawaban “sebelum” dan “sesudah”
ketetapan  = 0,05.

25
3.9. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini mengikuti tahapan berikut:
1. Tahap persiapan, meliputi : konsultasi, membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran, menyusun lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran,
dan menentukan samel penelitian.
2. Melakukan tes awal (pretes)
Kegiatan ini dilakukan sebelum proses belajar mengajar (PBM) berlangsung
untuk mengetahui kemampuan awal siswa terhadap materi pokok getaran dan
gelombang.
3. Pengolahan hasil tes
Pengolahan hasil tes digunakan dengan menggunakan persamaan :
skoryangdiperolehsiswa
PPN=  100 0 0
skormaksimal
Dengan PPN adalah Persentase Perolehan Nilai, dengan kriteria yang
digunakan adalah sebagai berikut :
0%<PPN<64% artinya siswa belum tuntas belajar.
65%<PPN<100% artinya siswa telah tuntas dalam belajar.
4. Mengembangkan hasil analisis tes. Setelah bagian materi pelajaran yang
belum dapat dipahami siswa ditemukan, maka peneliti membuat Rencana
Pelaksanaan Materi Pembelajaran materi getaran dan gelombang dengan
menggunakan peta pikiran. dalam pembelajaran digunakan beberapa metode
antara lain : metode ceramah, Tanya jawab, dan pemberian tugas.
5. Melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pemberlajaran I. Peneliti akan
mengajarkan sub materi pokok getaran dengan menggunakan peta pikiran.
Dalam, tahap ini sebelum guru memulai pembelajaran, maka guru menjelaskan
bagaimana cara membuat catatan menggunakan peta pikiran. Dalam
melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pemberlajaran, peneliti meminta bantuan
pengamat untuk mengobservasi aktivitas belajar siswa.

26
6. Evaluasi hasil pembelajaran I. Evaluasi pada tahap ini dilakukan dengan
cara memberikan soal yang identik pada saat pretes untuk mengetahui hasil dari
pembelajaran dengan menggunakan metode peta pikiran.
7. Melakukan pengolahan hasil tes. Pengolahan hasil tes dilakukan dengan
cara yang sama pada prosedur ke-3.
8. Mengadakan refleksi. Jika dari hasil analisis, ternyata masih terdapat
beberapa siswa yang memperoleh hasil belajar di bawah nilai ketuntasan. Maka
dilakukan lagi perbaikan (melaksanakan siklus berikutnya), terutama perbaikan
dalam proses pembelajaran.
9. Melaksanakan siklus II. Adapun sub materi pokok yang dipelajari adalah
sub materi pokok gelombang. Dalam pembelajaran ini dibarengi dengan
pengamatan yang dilakukan oleh pengamat terhadap aktivitas belajar siswa.
Setelah selesai maka dilakukan cara yang sama seperti prosedur ke-6 sampai
ke-7.
10. Melakukan refleksi. Jikla dari hasil analisis, ternyata hasil belajar siswa
belum juga mencapai ketuntasan begitu juga dengan penguasaan siswa terhadap
tiap sub mmateri pokok maka akan dilaksanakan lagi perbaikan (seperti siklus I
dan siklus II) hingga hasil belajar siswa mencapai minimal 65%. Tetapi jika
ternyata hasil belajar siswa mencapai nilai ketuntasan begitu juga dengan
penguasaan terhadap tiap sub materi pokok telah mencapai ketuntasan. Untuk
itu penelitian ini hanya sampai pada siklus II.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Penerbit, Bumi Aksara

27
Buzan, Tony, (2004), Mind Map untuk Meningkatkan Kreativitas, Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama
Deporter, Bobbi, dkk, (2000), Quantum Teaching, Penerbit, Kaifa
Djamarah, S, B dan Zain, Aswan, (2006), Strategi Belajar Mengajar, Pinerbit,
Rineka Cipta
Magono, S, (2005), Metodologi Penelitian Pendidikan, Penerbit, Rineka Cipta
Mukhtar, H, (2007), Bimbingan Skripsi, Tesis, dan Artikel Ilmiah, Penerbit, Gaung
Persada Press
Sardiman, (2009), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Penerbit, PT Raja
Grafindo Persada
Suryabrata, Sumadi, (2008), metodologi penelitian, penerbit, PT Raja Grafindo
Persada
(http://karya-ilmiah.id/index.php/tm/article/view/2939)
(http://www.gayahidupdigital.com/04/12/2016/petapikiran/)
(http://www.edutraco.com/04/12/2016)

28