Anda di halaman 1dari 14

A.

Latar Belakang
Kedudukan Panitera pada pengadilan merupakan unsur pimpinan. Hal
ini mengandung konsekwensi bahwa segala tindakan atau aktivitas Panitera
harus dipertanggung jawabkan kepada ketua Pengadilan.
Kepaniteraan pengadilan dipimpin oleh seorang Panitera yang juga
merangkap sebagai sekretaris sehingga panitera juga menjadi pemimpin pada
kesekretariatan pengadilan, masing-masing dibantu oleh wakil panitera dan
wakil sekretaris. Dengan kedudukan seperti itu maka hubungan antara
panitera dengan ketua Pengadilan berada dalam hubungan garis lurus (linear)
atau garis komando dimana seluruh ketetapan ketua dilaksanakan oleh
Panitera, tentu saja seorang panitera harus mampu menjadi konseptor
sekaligus pekerja, karena ia sejatinya merupakan agen perubahan di sebuah
Pengadilan.
Tugas pokok kepaniteraan ini tidak dipisahkan dengan tugas pokok
pengadilan untuk menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan
perkara, seluruh kegiatan tersebut akan berjalan secara efektif dan efisien
dengan menfungsikan tugas-tugas kepaniteraan. Mulai proses pendaftaran,
proses persidangan memutus perkara sampai dengan pelaksanaan eksekusi,
dalam hal ini memerlukan kecerdasan kerja dalam penataan administrasi, baik
administrasi yang dilaksanakan secara manual maupun administrasi dengan
sistem komputerisasi.
Panitera Pengadilan Agama sebagai pejabat kepaniteraan mempunyai
tugas secara umum sebagai berikut :
1. Membantu pimpinan membuat program kerja, baik program jangka
pendek maupun jangka panjang, terkait pelaksanaan dan dan
pengorganisasiannya.
2. Mengatur pembagian tugas pejabat kepaniteraan
3. Panitera menyelenggarakan administrasi secara cermat mengenai
jalannya perkara.
4. Bertanggung jawab atas pengurusan berkas perkara, putusan, dokumen,
akta, buku daftar, biaya perkara, uang titipan pihak ke tiga, surat-surat
bukti dan surat-surat lainnya yang disimpan di kepaniteraan.
5. Membuat akta, salinan putusan dan salinan penetapan
6. Menerima dan mengirimkan berkas perkara
7. Melakukan monitoring inplementasi Sistim Informasi Administrasi
Pengadilan Agama.
8. Melaksanakan eksekusi putusan perkara yang telah berkekuatan hukum
tetap dan atas perintah Ketua pengadilan.
9. Membantu Hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya persidangan,
untuk menjalankan tugas ini Panitera dapat menunjuk Panitera
Pengganti.
Tugas pokok kepaniteraan di bidang teknis administrasi perkara atau
administrasi lainnya secara lebih rinci dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu
meliputi :
1. Bidang administrasi, sesuai pasal 101 Undang-Undang Nomor 7 tahun
1989 sebagaimana telah dirubah kedua dengan Undang- Undang Nomor
50 tahun 2009, sebagai berikut :
a. Menyelenggarakan administarsi perkara dan membuat uraian tugas
wakil Panitera, Panitera muda dan Panitera Pengganti, tugas pejabat
kepaniteraan lainnya (pasal 96 Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989
b. Bertanggung jawab atas pengurusan berkas-perkara, putusan,
dokumen akta, buku daftar, biaya perkara, uang titipan pihak ketiga,
surat-surat bukti dan dokumen lainnya yang tersimpan di Kepaniteraan
(pasal 101 Undang-Undang No 7 tahaun 1989)
c. Menerima uang titipan pihak ke tiga
d. Pengadministrasian pendaftaran perkara, pembukuan buku-
buku/register,jurnal dan keuangan perkara pada kepaniteraan baik
manual maupun komputerisasi.
e. Membuat akta-akta :
1) Akta peryataan banding/Kasasi
2) Pemberitahuan pernyataan Banding/Kasasi
3) Penerimaan memori/kontra memori banding/kasasi
4) Pemberitahuan momori/kontra memori/kasasi
5) Pemberitahuan membaca/memeriksa berkas (inzage)
6) Pemberitahuan putusan banding/kasasi
7) Pencabutan permohonan banding/kasasi
8) Permohonan Peninjauan Kembali
9) Pemberitahuan adanya Peninjauan Kembali
10) Penerimaan/penyampaian jawaban permohonan Peninjauan
Kembali
11) Penyampaian Putusan Peninjauan Kembali
12) Pembuatan akta yang menurut Undang-Undang dibuat oleh
Panitera
2. Di bidang Persidangan
Adapun tugas Panitera di bidang persidangan adalah sebagai berikut :
a. Membantu Hakim dengan menghadiri dan mencatat jalannya
persidangan
b. Menyusun Berita Acara Persidangan
c. Memberitahukan putusan verstek dan di luar hadir
d. Mengirimkan berkas perkarayang dimohonkanbanding/
kasasi/peninjauan kembali
3. Di bidang Eksekusi
Sebagai pejabat yang melaksanakan eksekusi perkara perdata,
panitera hanya mempunyai hubungan dengan ketua Pengadilan untuk
melaksanakan perintah yang diwujudkan dalam bentuk penetapan Ketua
Pengadilan, dalam hal berhalangan akan diganti oleh Jurusita. Dalam hal
ini Panitera bertanggungjawab kepada ketua Pengadilan (pasal 8 Undang-
Undang No 7 tahun 1989)
Dalam melaksanakan eksekusi panitera harus memperhatikan
asas-asas eksekusi yang meliputi 4 hal :
a. Melaksanakan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
b. Putusan tidak dijalankan secara suka rela, pada prinsipnya eksekusi
sebagai tindakan paksa menjalankan putusan pengadilan yang telah
berkekuatan hukum tetap
c. Putusan bersifat komdemnator, yang amarnya mengandung unsur
“penghukuman “
d. Eksekusi atas perintah dan dibawah ketua Pengadilan, dalam hal ini
adalah pengadilan agama yang dulu memutus perkara dalam tingkat
pertama.
Pada prinsipnya manajemen peradilan di Indonesia dipimpin oleh
seorang panitera yang saat ini merangkap sebagai Sekretaris. Oleh karena itu
seorang Panitera harus mampu menjalankan fungsi-fungsi manajemen dan
fungsi operatif. Fungsi manajemen mengatur semua kegiatan dan
keikutsertaan karyawan dalam kegiatan organisasi.
Dalam menjalankan fungsinya Panitera dibantu oleh Wakil Panitera
dalam empat hal,yaitu :
1. Menyusun kegiatan administrasi perkara serta melaksanakan koordinasi
dan singkronisasi berkaitan dengan persidangan pada tingkat banding
2. Penataan daftar perkara, administrasi perkara, administrasi keuangan.
3. Menyusun statistik perkara, laporan perkara, dokumentasiperkara terkait
dengan dokumen elektronik dan pelaporan perkara
4. Lain-lain berdasarkan peraturan perundang-undangan
Sebagaimana diketahui bahwa Peran Panitera dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsi selain bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
administrasi kepaniteraan, ia juga mempunyai fungsi manajemen di bidang
kepaniteraan, terkait bagaimana mengatur tugas-tugas kepaniteraan,
pemikiran ini lahir didasari oleh keingianan yang mendalam mendukung
terlaksananya Reformasi Peradilan di Indonesia, terkait hal tersebut maka
penulis tertarik untuk menyusun tulisan ini berjudul “Optimalisasi Peran
Panitera Pengadilan dalam Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Peradilan
di Indonesia”.
B. Pembahasan
1. Kondisi Awal
Kepaniteraan Pengadilan dipimpin oleh seorang Panitera Pengadilan,
dalam melaksanakan tugas teknis Kepaniteraan dibantu oleh Wakil Panitera.
Dan Wakil Panitera dalam membantu tugas Panitera dibantu oleh panitera
Panitera muda Gugatan, Panitera Muda Permohonan dan Panitera muda
hukum serta beberapa orang Panitera Pengganti, jurusita/Jurusita Pengganti
dan staf.
Pelayanan Administrasi Kepaniteraan Pengadilan Tinggi dilaksanakan
dengan sistim meja, adapun tugas-tugas sebagai petugas meja sebagai berikut:
a. Meja I
1) Menerima Gugatan/Permohonan.
2) Menerima Perlawanan (Verzet), Pernyataan Banding, Kasasi,
Permohonan Peninjauan Kembali dan Eksekusi.
3) Menaksir biaya perkara sebagaimana ditetapkan dalam pasal 121
HIR/145 RBg.
4) Membuat Surat Kuasa untuk membayar (SKUM).
5) Perkara Verzet dibedakan dengan Perlawanan pihak ketiga (Darden
Verzet). Verzet tidak diberi nomor baru. Sedang perlawanan pihak
ketiga (Darden Verzet) dicatat sebagai perkara baru dan mendapat
nomor baru sebagai perkara gugatan.
6) Dengan demikian penerimaan perkara secara keseluruhan meliputi :
a) Perkara Permohonan
b) Perkara Gugatan
c) Perkara Banding
d) Perkara Kasasi
e) Perkara PK
f) Perkara Eksekusi
7) Pemegang Kas merupakan bagian dari Meja Pertama.
8) Pemegang Kas menerima Slip Bukti stor ke Bank.
9) Melakukan penerimaan uang panjar perkara/biaya eksekusi dan
membukukan dalam buku jurnal yang terdiri atas :
a) K1.PA.1/P – untuk perkara Permohonan.
b) K1.PA.1/G – untuk perkara Gugatan.
c) K1.PA.2 – untuk perkara Banding.
d) K1.PA.3 – untuk perkara Kasasi.
e) K1.PA.4 – untuk perkara Peninjauan Kembali.
f) K1.PA.5 – untuk Permohonan Eksekusi.
10) Seluruh kegiatan keuangan dicatat secara tertib dalam Buku Jurnal
dan Buku Induk.
11) Dengan demikian pada pemegang Kas harus tersedia uang kontan dan
materai Putusan.
12) Untuk pengeluaran biaya redaksi dan materai dicatat dalam Buku
Jurnal sesuai dengan tanggal diputusnya perkara tersebut.
13) Pemegang Kas menandatangani SKUM, membubuhi nomor perkara
dan tanggal penerimaan perkara dalam SKUM.
14) Menyerahkan tindasan SKUM yang telah di cap LUNAS dan satu
Surat Gugatan yang telah diberi Nomor Perkara pada Penggugat /
Pemohon.
15) Menyerahkan Berkas Perkara pada Meja II untuk diproses lebih lanjut.
16) Terhadap perkara prodeo, tetap dibuatkan SKUM NIHIL dan SKUM
tersebut didaftarkan pada pemegang Kas sebagai diutarakan di atas.
17) Pemegang Kas Pengadilan harus menyiapkan 2 (dua) buah stempel
penerimaan perkara.
b. Meja II
1) Menerima Surat Gugatan/Permohonan yang telah distempel Nomor
Perkara dan tindasan pertama SKUM dari Meja I (Kasir).
2) Mendaftar/mencatat surat Gugatan/Permohonan dalam register yang
bersangkutan serta memberi nomor register pada Map Berkas Perkara
tersebut.
3) Nomor register diambil dari nomor pendaftaran yang diberikan oleh
kasir.
4) Asli surat Gugat/Permohonan, disampaikan kepada Wakil Panitera,
untuk disampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama melalui Panitera.
5) Menerima kembali berkas perkara yang telah diberi PMH dan
Penugasan Panitera Pengganti serta mencatatnya dalam Register
Perkara
6) Menyerahkan Berkas Perkara pada Majelis Hakim
7) Mencatat semua kegiatan penyelesaian perkara berdasarkan laporan
Panitera Pengganti.
8) Mendaftar/Mencatat Putusan Pengadilan Agama/Pengadilan Tinggi
Agama/Mahkamah Agung dalam semua buku register yang
bersangkutan.
c. Meja III
1) Menyerahkan Salinan Putusan Pengadilan Agama/ Pengadilan Tinggi
Agama/Mahkamah Agung kepada yang berkepentingan.
2) Menyerahkan Salinan Penetapan Pengadilan Agama/kepada pihak
yang berkepentingan.
3) Menerima Memori/Kontra Memori Banding, Memori/ Kontra Memori
Kasasi, Jawaban/Tanggapan Peninjauan Kembali dan lain- lain.
4) Menyusun/menjahit/mempersiapkan berkas banding, kasasi, PK.
5) Menerima berkas perkara yang telah diminutasi dan mencatatnya
dalam buku kendali khusus untuk itu.
6) Mengisi instrumen penerimaan berkas yang telah diminutasi hari itu
dan diserahkan pada Meja II untuk dicatat dalam Register Induk
Perkara.
7) Menyimpan Arsip Berkas Perkara Berjalan.
8) Menyiapkan dan memproses permohonan Eksekusi
2. Kondisi Ideal yang Diinginkan
Untuk mencapai sasaran yang ditetapkan maka perlu dilakukan
pengukuran atas kinerja agar lebih terfokus, dan mengacu kepada Tugas
pokok dan fungsi Panitera selaku pembantu pimpinan Pengadilan.
Karenanya Panitera harus tanggap dengan isu aktual Pengadilan baik
berkaitan dengan kepaniteraan maupun kesekretariatan, maka perlu
menyusun target dalam pencapaian kinerja yang diinginkan. Adapun tingkat
kinerja yang diinginkan sebagaimana Target Kinerja dapat dibuat
sebagaimana contoh dibawah ini :
Sasaran Indikator Satuan Kinerja
%
1 2 3 4
Terlaksananya Peningkatan Sarana dan
Tugas pokok dan Prasarana Pengadilan % 5
Fungsi Peradilan Agama
Agama secara Peningkatan Peran Panitera
cepat tepat dan Pengadilan Dalam
berkeadilan Pelaksanaan Tugas Pokok % 90
dan Fungsi Peradilan di
Indonesia
Peningkatan jumlah SDM
% 5
Pengadilan

Berdasarkan target kinerja tersebut di atas, Sasaran Kinerja yang


diinginkan adalah “Terlaksananya Administrasi Peradilan Tinggi berbasis
teknologi Informasi“ adapun indikator dari sarasaran tersebut adalah
“Peningkatan Peran Panitera Pengadilan Dalam Pelaksanaan Tugas Pokok
dan Fungsi Peradilan di Indonesia´ sehingga dapat ditentukan bahwa keadaan
yang sesungguhnya di inginkan adalah “Peningkatan Peran Panitera
Pengadilan Dalam Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Peradilan di
Indonesia dengan Target Kinerja sebesar 90 %”
3. Permasalahan yang Dihadapi
Beberapa permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Kepaniteraan di
Pengadilan Tinggi Jawa Tengah antara lain adalah sebagai berikut
1) Masalah dalam pendelegasian wewenang yang belum maksimal
2) Seringnya berkas perkara banding yang tidak lengkap sehingga
menghambat administrasi peradilan
3) Banyaknya berkas perkara yang belum dimasukkan kedalam SIPP, dimana
hal ini menghambat proses registrasi ke dalam buku induk perkara
banding.

4. Solusi Untuk Mengatasi Permasalahan


a. Masalah dalam pendelegasian wewenang yang belum maksimal
Pendelegasian wewenang merupakan penugasan wewenang dan
tanggung jawab kepada bawahan. Dengan adanya pendelegasian
wewenang berarti semua keputusan tidak tersentralisasi pada pimpinan
puncak. Komponen yang mendasar dalam proses pendelegasian wewenang
adalah penetapan hasil-hasil yang diharapkan, penentuan tugas dan
tanggung jawab secara jelas untuk mencapai hasil yang telah diharapkan
dan pertanggungjawaban hasil-hasil yang telah dicapai. Efektifitas delegasi
merupakan faktor utama yang mebedakan manajer sukses dan yang tidak
sukses. (Kesumanjaya, 2010)
Prinsip-prinsip klasik yang dapat dijadikan dasar untuk delegasi
yang efektif adalah (Stoner dalam Handoko, 1984):
1. Prinsip Skalar.
Dalam proses pendelegasian harus ada garis wewenang
yang jelas mengalir setingkat demi setingkat dari tingkatan
organisasi paling atas ke tingkatan paling bawah. Garis wewenang
yang jelas akan memudahkan bagi setiap anggota organisasi untuk
mengetahui:
a. Kepada siapa dia dapat mendelegasikan
b. Dari siapa dia akan menerima delegasi
c. Kepada siapa dia harus memberikan pertanggungjawaban
2. Prinsip kesatuan perintah.
Prinsip kesatuan perintah menyatakan bahwa setiap
bawahan dalam organisasi seharusnya melapor hanya kepada orang
atasan. Pelaporan kepada lebih dari satu atasan membuat individu
mengalami kesulitan untuk mengetahui kepada siapa
pertanggungjawaban diberikan dan instruksi mana yang harus
diikuti. Disamping itu, bawahan dapat menghindari tanggung jawab
atas pelaksanaan tugas yang jelek dengan alasan banyaknya tugas
dari atasan lain.
3. Tanggung Jawab, Wewenang dan akuntabilitas prinsip ini menyatakan
bahwa :
a. Agar organisasi dapat menggunakan sumberdaya-sumberdaya nya
dengan lebih efisien, tanggung jawab untuk tugas-tugas tertentu
diberikan ketingkatan organisasi yang paling bawah dimana ada
cukup kemampuan dan informasi untuk menyelesaikannya.
b. Konsekuensi wajar peranan tersebut adalah bahwa setiap
individu dalam organisasi untuk melaksanakan tugas yang
dilimpahkan kepadanya dengan efektif, dia harus diberi wewenang
secukupnya.
c. Bagian penting dari delegasi tanggung jawab dan wewenang
adalah akuntabilitas penerimaan tanggung jawab dan wewenang
berarti individu juga setuju untuk menerima tuntutan
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas. Bagi manajer, selain
harus mempertanggung jawabkan tugas-tugasnya sendiri, juga
harus mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas bawahannya.
Louis Allen (1958) dalam Kesumanjaya (2010), mengemukakan
beberapa teknik khusus untuk membantu manajer melakukan delegasi
dengan efektif:
a. Tetapkan tujuan.
Bawahan harus diberitahu maksud dan pentingnya tugas-tugas yang
didelegasikan kepada mereka.
b. Tegaskan tanggung jawab dan wewenang.
Bawahan harus diberikan informasi dengan jelas tentang apa yang
harus mereka pertanggung jawabkan dan bagian datri sumberdaya-
sumberdaya organisasi mana yang ditempatkan di bawah
wewenangnya.
c. Berikan motivasi kepada bawahan.
Manajer dapat memberikan dorongan bawahan melalui perhatian pada
kebutuhan dan tujuan mereka yang sensitif.
d. Meminta penyelesaian kerja.
Manajer memberikan pedoman, bantuan dan informasi kepada
bawahan, sedangkan para bawahan harus melaksanakan pekerjaan
sesungguhnya yang telah didelegasikan.
e. Berikan latihan.
Manajer perlu mengarahkan bawahan untuk mengembangkan
pelaksanaan kerjanya.
f. Adakan pengawasan yang memadai.
Sistem pengawasan yang terpercaya (seperti laporan mingguan) dibuat
agar manajer tidak perlu menghabiskan waktunya dengan memeriksa
pekerjaan bawahan terus menerus.

b. Seringnya berkas perkara banding yang tidak lengkap sehingga


menghambat administrasi peradilan
Guna memanfaatkan faktor pendorong dan mengatasi faktor
penghambat telah dilakukan antara lain :
1) Mengupayakan perbaikan sistem pelayanan publik dengan
meningkatkan profesionalisme ;
2) Melakukan konsultasi kepada Pengadilan Tingkat Banding;
3) Melakukan harmonisasi Lingkungan Kerja yang baik antar sesama
karyawan atau staf ;
4) Mengupayakan ketransparansian dalam sistem pelayanan ;
5) Mengupayakan peningkatan kualitas dan kinerja aparatur ;

c. Banyaknya berkas perkara yang belum dimasukkan kedalam SIPP,


dimana hal ini menghambat proses registrasi ke dalam buku induk
perkara banding.
Dengan diterbitkannya Surat Edaran Direktur Jenderal Badan
Peradilan Umum Nomor 3/DJU/HM02.3/6/2014 tentang Administrasi
Pengadilan Berbasis Teknologi Informasi maka peran Aplikasi Sistem
Informasi Penelusuran Perkara (SIPP V.3), selanjutnya disebut sebagai
“SIPP”, menjadi semakin penting dan diandalkan untuk proses
administrasi dan penyediaan informasi baik untuk pihak internal
pengadilan, maupun pihak eksternal.
SIPP telah diimplementasikan di seluruh pengadilan tingkat
pertama dan pengadilan banding di lingkungan Peradilan Umum di seluruh
Indonesia. Dalam pelaksanaanya, SIPP melibatkan seluruh bagian dalam
organisasi di pengadilan tersebut, khususnya dalam hal administrasi
perkara. Dari Ketua Pengadilan sampai dengan Juru Sita dapat
menggunakan SIPP sebagai alat kerja dan sumber data terkait dengan
administrasi perkara di pengadilan tersebut. Hakim dapat memasukkan
putusannya ke dalam SIPP agar putusan tersebut dapat menjadi informasi
publik yang dapat diakses oleh masyarakat. Masyarakat pun dapat serta
merta melihat jadwal persidangan yang telah dimasukkan ke dalam SIPP
oleh Panitera Pengganti.
Pelaksanaan SIPP sebagai aplikasi untuk administrasi perkara harus
ditunjang dengan petunjuk operasional yang jelas dan supervisi berjenjang
baik dari internal pengadilan maupun dari pengadilan tingkat yang lebih
tinggi. Petunjuk penggunaan sangat penting mengingat kompleksitas
pekerjaan dan jenis perkara yang dihadapi oleh panitera di pengadilan.
Para pimpinan di pengadilan pun membutuhkan panduan bagaimana cara
mensupervisi penggunaan SIPP dari data di dalam SIPP. Sehingga dengan
melihat data di dalam SIPP, para pimpinan di pengadilan dapat serta merta
menyimpulkan kondisi yang sebenarnya terkait dengan kinerja
administarasi pengadilan yang dipimpinnya.

C. Simpulan
Kepaniteraan pengadilan dipimpin oleh seorang Panitera yang juga
merangkap sebagai sekretaris sehingga panitera juga menjadi pemimpin pada
kesekretariatan pengadilan, masing-masing dibantu oleh wakil panitera dan
wakil sekretaris. Beberapa permasalahan yang saat ini dihadapi oleh
Kepaniteraan di Pengadilan Tinggi Jawa Tengah antara lain adalah sebagai
berikut 1) Masalah dalam pendelegasian wewenang yang belum maksimal. 2)
Seringnya berkas perkara banding yang tidak lengkap sehingga menghambat
administrasi peradilan. 3) Banyaknya berkas perkara yang belum dimasukkan
kedalam SIPP, dimana hal ini menghambat proses registrasi ke dalam buku
induk perkara banding.
Pendelegasian wewenang merupakan penugasan wewenang dan
tanggung jawab kepada bawahan. Dengan adanya pendelegasian wewenang
berarti semua keputusan tidak tersentralisasi pada pimpinan puncak.
Komponen yang mendasar dalam proses pendelegasian wewenang adalah
penetapan hasil-hasil yang diharapkan, penentuan tugas dan tanggung jawab
secara jelas untuk mencapai hasil yang telah diharapkan dan
pertanggungjawaban hasil-hasil yang telah dicapai. Efektifitas delegasi
merupakan faktor utama yang mebedakan manajer sukses dan yang tidak
sukses. (Kesumanjaya, 2010)
Guna memanfaatkan faktor pendorong dan mengatasi faktor
penghambat telah dilakukan antara lain :
1) Mengupayakan perbaikan sistem pelayanan publik dengan meningkatkan
profesionalisme ;
2) Melakukan konsultasi kepada Pengadilan Tingkat Banding;
3) Melakukan harmonisasi Lingkungan Kerja yang baik antar sesama
karyawan atau staf ;
4) Mengupayakan ketransparansian dalam sistem pelayanan ;
5) Mengupayakan peningkatan kualitas dan kinerja aparatur ;
SIPP telah diimplementasikan di seluruh pengadilan tingkat pertama
dan pengadilan banding di lingkungan Peradilan Umum di seluruh Indonesia.
Dalam pelaksanaanya, SIPP melibatkan seluruh bagian dalam organisasi di
pengadilan tersebut, khususnya dalam hal administrasi perkara. Dari Ketua
Pengadilan sampai dengan Juru Sita dapat menggunakan SIPP sebagai alat
kerja dan sumber data terkait dengan administrasi perkara di pengadilan
tersebut. Hakim dapat memasukkan putusannya ke dalam SIPP agar putusan
tersebut dapat menjadi informasi publik yang dapat diakses oleh masyarakat.
Masyarakat pun dapat serta merta melihat jadwal persidangan yang telah
dimasukkan ke dalam SIPP oleh Panitera Pengganti.

D. Daftar Pustaka
Kesumanjaya, Rifly, 2010. “Pengaruh Pendelegasian Wewenang dan
Komitmen terhadap Prestasi Kerja Karyawan pada bagian Sumber
Daya Manusia (SDM) PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero)
Medan, Skripsi, Universitas SumatEra Utara: Medan.

T.Hani Handoko, 1984, edisi ke 1, Dasar-dasar Manajemen Produksi dan


Operasi, Yogyakarta ; BPFE_Yogyakarta.