Anda di halaman 1dari 17

Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005) p: 1-17

DEGRADASI MINERAL BATUAN


OLEH ASAM-ASAM ORGANIK
Ismangil1 dan Eko Hanudin2

Tujuan penulisan makalah ini adalah menguraikan tentang degradasi mineral


primer, yang menitikberatkan pada reaksi pelarutan. Uraian ini meliputi : pengertian
pelarutan mineral, struktur mineral dan faktor yang mempengaruhi kelarutannya,
macam asam organik dan keefektifannya dalam pelarutan mineral, bukti terjadi
pelarutan oleh asam organik, kinetika reaksi pelarutan, dan manfaat pelarutan dalam
kajian pedogenesis dan edafologis.
Hasil rangkumannya sebagai berikut : (1) Pelarutan mineral oleh asam organik
berupa reaksi hidrolisis, asidolisis dan kompleksolisis. Mineral primer dan mineral
sekunder dapat mengalami pelarutan oleh asam organik (larutan asam organik).
Ketahanan mineral terhadap pelarutan asam organik tergantung pada struktur-dalam
mineral dan kereaktifan asam, serta energi pembentukannya. Struktur-dalam mineral
berhubungan dengan energi pembentukannya dan makin besar energi pembentukannya
makin besar ketahanan terhadap pelarutan atau pelapukan. Kereaktifan asam
ditentukan oleh gugus fungsionalnya, (2) Asam organik yang paling efektif pada
pelarutan mineral adalah asam organik sederhana dan kompleks, yang mempunyai berat
molekul tinggi, misalnya Asam Humat. Pelarutan mineral oleh asam organik sederhana
lebih diakibatkan oleh peran ion H+, sedangkan pelarutan mineral oleh asam organik
komplek, asam humat, melalui pengaruh anion asam dalam pembentukan kelat. Asam
organik yang berkapasitas pengkelatan kuat lebih efektif dalam pelarutan mineral
daripada yang lemah, (3) Selain grup filosilikat, kation penghubung antar kerangka
kristal silikat lebih mudah mengalami pelarutan daripada kation yang ada dalam
kerangka kristal. Pada grup filosilikat, kation dalam lembar oktahedron (Al/Fe/Mg)
melarut lebih besar daripada kation yang terdapat dalam lembar tetrahedron, (4)
Analisis secara mikroskop membuktikan, pelarutan dimulai dari tepi kristal menuju ke
lapisan yang lebih dalam. Pada pengamatan dengan mikroskop elektron scaning (SEM),
perlakuan asam organik menyebabkan terbentuknya lapisan baur (difus), dengan
ketebalan yang berragam dari 100 hingga 1000 nm. Lapisan baur ini bertindak sebagai
pembatas dan penghambat pelarutan mineral lebih lanjut, (5) Reaksi yang berperan
dalam pelarutan oleh asam organik adalah reaksi difusi dan reaksi ordo pertama. Reaksi
difusi mengikuti persamaan laju parabola dan reaksi ordo pertama berbentuk linier. Si
dan Fe dilaporkan terlepas mengikuti reaksi difus (parabola), sedangkan Al, K, dan Mg
larut megikuti reaksi ordo pertama (linier). Pada pela-rutan dengan asam humat reaksi
difusi lebih penting dari pada reaksi ordo pertama, (6) Hasil pelarutan dalam bentuk
kelat mempunyai hubungan yang erat dengan genesis dan kesuburan tanah.
Pembentukan horison Spodik, dan Albik dan horison A yang kaya bahan organik
diakibatkan oleh tingkat kelincahan kelat humat-logam. Logam yang banyak terkelat
adalah unsur hara mikro yang dapat dipertukarkan.

Kata kunci : pelarutan, mineral batuan, asam organik

1
: Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
2
: Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

PENDAHULUAN batuan) oleh proses fisika, kimiawi,


Degradasi adalah istilah geologi dan biologi. Proses ini termasuk dalam
yang menggambarkan tentang proses eksogenik yang terdiri dari sub-
perubahan permukaan bumi karena proses pelapukan, erosi dan pergerakan
terjadi penyingkiran bahan (mineral masa. Ketiga subproses itu mempunyai
2 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

peran penting dalam keberadaan Pelapukan kimia di alam ini


tanah. Pelapukan berperan menye- hanya dapat berlangsung apabila ada
diakan bahan mentah tanah. Erosi air, namun adanya asam-asam
berpengaruh dominan menghilangkan pelapukan tersebut dipercepat. Peran
tanah yang sudah terbentuk, dan asam anorganik ataukah asam organik
pergerakan massa dapat menjalankan yang mempercepat pelapukan mineral
fungsi keduanya. merupakan pertanyaan yang sulit
Tanah yang merupakan lapisan dijawab. Namun, dari kenyataan tanah
paling atas bumi (penutup daratan), atau batuan yang paling atas merupa-
sebagian besar bahan asalnya adalah kan lingkungan biologi (biosfer) yang
batuan yang tersusun oleh mineral. sangat padat, maka diperkirakan
Mineral yang paling banyak menyusun dengan kuat asam organik lebih besar
batuan di kerak bumi adalah mineral peranannya dalam pelapukan dari pada
primer atau disebut mineral asam-asam anorganik. Selain itu ada
pembentuk batuan. Mineral-mineral bukti bahwa konsentrasi asam organik
ini terdiri dari mineral yang termasuk di dalam tanah antara 0,01-5,0 mol/m3
dalam grup silikat, yang mempunyai (Sposito, 1994).
satuan dasar yang sama yaitu silikat Pengaruh asam-asam organik
tetrahedron, tetapi berbeda pada pola dalam degradasi mineral batuan
penyusunan satuan dasar tesebut berupa reaksi pelarutan. Proses
(struktur). Perbedaan struktur ini yang pelarutan ini sebenarnya adalah reaksi
menyebabkan perbedaan rumus dan terbaginya zat padat, mineral, ke
komposisi kimia, ikatan kimia dan dalam air atau larutan asam organik.
ketahanan terhadap pelapukan. Dari Reaksi kimia yang utama pada
pengukuran pH abrasi mineral silikat pelarutan adalah hidrolisis, kemudian
kecuali kuarsa, menunjukkan nilai pH hidrolisis yang dipacu dengan adanya
di atas 7,0. Hal ini sangat mungkin asam yaitu asidolisis dan
bahwa mineral silikat ini berwatak kompleksolisis. Reaksi asidolisis lebih
seperti senyawa basa (konsep menekankan pada peran ion H+ yang
Arhenius). berasal dari pemprotonan asam dan
Asam-asam organik, merupakan kompleksolisis menekankan peran sisa
bagian dari bahan organik, adalah hasil asam atau anion organik.
kegiatan jasad hidup baik yang Berdasarkan pada mineral
terdapat di dalam maupun di silikat sebagai bahan asal tanah yang
permukaan batuan. Senyawa ini mempunyai struktur berbeda,
umumnya merupakan hasil buangan berwatak sebagai senyawa basa,
(sekresi, eksudat) atau pun rombakan. jumlah dan kemampuan asam-asam
Asam-asam ini, seperti asam anorganik organik di permukaan bumi, maka
umumnya karena pada gugus permasalahan yang akan dibahas
fungsionalnya dapat mengalami adalah tentang pelarutan mineral
disosiasi yang melepasakan proton (H+) batuan oleh asam-asam organik.
dan proton ini dapat menyerang Tulisan ini memaparkan tentang : (1)
mineral batuan. Selain itu sisa struktur mineral batuan, (2) asam-asam
asamnya (anion organik) dapat organik dan keefektifannya dalam
membentuk senyawa kompleks dengan pelarutan, (3) reaksi pelarutan
kation-kation pada tepi mineral atau mineral, faktor yang mempengaruhi
kation yang terlepas dari mineral. pelarutan, hasil pelarutan mineral oleh
Dengan demikian asam-asam ini nyata asam organik, (4) kinetika reaksi
berperan dalam pelapukan kimia. pelarutan, dan (5) manfaat pelarutan
Ismail & Hanudin. Degradasi mineral batuan 3

mineral dalam pedogenesis dan kerangka. Ikatan antar satuan dan


kesuburan tanah antar kerangka dapat dicerminkan dari
energi pembentukan, dan untuk
STRUKTUR MINERAL BATUAN melihat ketahanannya secara kasar
Mineral pembentuk batuan dapat mengukur pH abrasinya.
terdiri dari delapan grup mineral yaitu Grup orthosilikat (nesosilikat),
Ortoklas (K-feldspar), Plagioklas (Na- satuan tetrahedron-SiO4 pada keadaan
Ca-Feldspar), Kuarsa, Amfibol, bebas, sehingga dalam satu satuan sel
Piroksen, Biotit dan Muskovit, Olivin, (cel unit) terdiri dari satu satuan
dan Feldspatoid. Kedelapan grup tetrahedron-SiO4 yang terdapat empat
mineral ini termasuk dalam kelas muatan negatip di keempat ujungnya,
mineral Silikat, yang mempunyai [SiO4]4-. Dalam grup mineral ini satuan
satuan dasar yang sama yaitu satuan tetrahedron-SiO4 tersebut saling
tetrahedron-SiO4. Satuan dasar ini bergabung dengan membentuk
saling bergabung dengan satuan dasar polimer, karena satuan itu bermuatan
yang lain membuat rangkaian sejenis (negatif), maka untuk
(kerangka) yang berpola tergantung membentuk polimer membutuhkan
dari genetiknya. Berdasarkan pola penghubung. Penghubung ini
penyusunan satuan dasar tetrahedron- mestinya unsur yang bermuatan positip
SiO4, tersebut, mineral silikat lebih dari satu, serta ukuran
digolongkan menjadi enam grup, tetapi diameternya tepat atau sesuai dengan
grup silikat yang penting yang erat ruangan antar satuan tetrahedron-SiO4.
kaitannya dengan tanah ada empat Umumnya unsur penghubung ini adalah
grup silikat, yaitu orthosilikat logam Mg dan atau Fe. Contoh mineral
(nesosilikat), inosilikat (tunggal dan pada grup ini adalah Fayalit (Mg2SiO4 )
ganda), filosilikat dan tektosilikat dan Fosterit (Fe2SiO4). Susunan antar
(Tabel 1). satuan tetrahedron-SiO4 pada grup ini
Pelapukan dan genesis tanah adalah susunan yang sangat rapat,
menyebabkan batuan lapuk, mineral sehingga menyebabkan grup silikat ini
yang terdapat dalam batuan hancur. mempunyai berat jenis yang tinggi di
Hancurnya mineral tersebut antara grup silikat. Pada grup ini tidak
membentuk zarah yang ukurannya terjadi penggantian isomorfis (PI) atom
beragam, mulai dari ukuran pasir Si oleh Al, sehingga kekuatan ikatan
(2,00-0,05mm), debu (0,05-0,002 mm), antar satuan tetrahedron-SiO4 hanya
sampai lempung (<0,002 mm). ditentukan oleh ikatan O-Fe-O dan O-
Umumnya mineral pada fraksi pasir dan Mg-O. Energi pembentukan polimer
debu didominasi oleh grup orthosilikat, orthosilikat ini sebesar 78.550
inosilikat dan tektosilikat, sedangkan kgcal/mole (Paton, 1978). Grup
pada fraksi lempung (clay), yang mineral ini mempunyai pH abrasi 10-11
didominasi oleh grup filosilikat. (Birkeland, 1974) dan kekerasan
Namun, tidak selamanya demikian, menurut sekala Mohs adalah 7 (Best,
karena pada fraksi pasir terdapat juga 1982).
grup filosilikat, dan juga pada fraksi Grup inosilikat tunggal, satuan
lempung ditemukan Feldspar yang tetrahedron-SiO4 membentuk rantai
tektosilikat. Pola susunan antar tunggal dengan cara membuat
satuan tetrahedron (kerangka) ini yang hubungan antar satuan dasarnya
menyebabkan perbedaan ketahanan melalui dua oksigen bersama yang
terhadap pelarutan. Selain itu, sebidang pada setiap satuan
ketahanan mineral terhadap pelarutan tetrahedron-SiO4. Hubungan antar
juga ditentukan oleh ikatan antar satuan ini, menyebabkan kerangka
4 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

silikat ini dapat diformulasikan sebagai mineral ini mempunyai pH abrasi 8-10
(SiO3)2- atau (Si2O6)4. Untuk (Birkeland, 1974) dan kekerasan
membentuk polimer yang lebih besar, menurut skala Mohs 5-6 (Best, 1982).
rantai tetrahedron-SiO4 tidak terjadi Grup inosilikat ganda, dalam satu
hubungan langsung antar rantai satuan sel merupakan gabungan dari
tetrahedron-SiO4 karena, masing- dua inosilikat tunggal, sehingga
masing rantai itu bermuatan sejenis, membentuk seperti pita. Hubungan
maka untuk membentuk polimer itu antar satuan dasar ini, menyebabkan
membutuhkan penghubung yang kerangka silikat ini dapat
berupa unsur yang bermuatan positip, diformulasikan sebagai (Si4O11 )6-.
bermuatannya lebih dari satu, serta Untuk menyusun polimer pita
ukuran diameternya tepat atau sesuai tetrahedron-SiO4 membutuhkan
dengan ruangan antar rantai penghubung yang berupa unsur yang
tetrahedron-SiO4. Susunan antar bermuatan positip lebih dari satu,
satuan tetrahedron-SiO4 ini adalah serta ukuran diameternya sesuai
susunan yang kurang rapat sehingga dengan ruangan antar oksigen apikal
menyebabkan grup silikat ini (ujung) dan ruang antar oksigen rantai
mempunyai berat jenis yang lebih tetrahedron-SiO4 (basal). Susunan
rendah dari pada grup orthosilikat. antar satuan tetrahedron-SiO4 ini
Umumnya unsur penghubung adalah adalah susunan yang kurang rapat,
logam Fe2+, Fe3+, Ca2+, Mg2+ dan Al3+. seperti pada inosilikat tunggal.
Contoh mineral pada grup ini adalah Umumnya penghubung antar pita
Hypersten [(Mg,Fe)SiO3]. Umumnya tetrahedron-SiO4 adalah logam Fe2+,
mineral grup ini berwarna kelam, dan Fe3+, Ca2+, Mg2+ dan Al3+. Energi
banyak dijumpai pada batuan basa dan pembentukan polimer inosilikat ganda
ultra basa. Oleh karena itu, batuan sebesar 113.823 kgcal/mole (Paton,
yang tersusun atas mineral ini juga 1978). Umumnya mineral grup ini
mempunyai warna yang kelam juga. berwarna kelam yang banyak dijumpai
Energi pembentukan polimer inosilikat pada batuan basa dan ultara basa.
tunggal sebesar 104.366 kgcal/mole Pada grup ini terjadi penggantian
(Paton, 1978). isomorfis (PI) Si oleh Al dalam pita
Selain itu, grup ini dalam rantai tetrahedron-SiO4, sehingga kekuatan
tetrahedron-SiO4 terjadi penggantian ikatan dalam mineral ini selain
isomorfis (PI) atom Si oleh Al, sehingga ditentukan oleh ikatan antar pita, juga
kekuatan ikatan dalam mineral ini ditentukan oleh ikatan dalam rantai
selain ditentukan oleh ikatan antar ganda yaitu ikatan O-Al-O dan O-Si-O.
rantai yang ditentukan oleh kation Contoh mineral grup ini adalah
penghubung, juga ditentukan oleh Hornblende [(Ca,Na)2-3(Mg,Fe,Al)
ikatan dalam rantai yang ditentukan 5Si6 (Si,Al)2 (OH)2].
oleh ikatan O-Al-O dan O-Si-O. Contoh Munculnya ikatan O-Al-O mengganti
mineral pada grup ini adalah Augit sebagian ikatan O-Si-O menyebabkan
[(Ca,Na) (Mg,Fe,Al) (Si,Al)2O6]. jumlah ikatan O-Si-O dalam rantai
Munculnya ikatan O-Al-O mengganti tetrahedron berkurang, sehingga
ikatan O-Si-O menyebabkan jumlah ketahanan terhadap pelarutan pada
ikatan O-Si-O dalam rantai tetrahedron grup inosilikat tanpa penggantian
berkurang, sehingga ketahanan isomorfis lebih besar daripada grup
terhadap degradasi pada grup inosilikat inosilikat dengan penggantian
dengan penggantian isomorfis lebih isomorfis. Grup mineral ini mempunyai
kecil daripada grup inosilikat yang pH abrasi 10 (Birkeland, 1974) dan
tanpa penggantian isomorfis. Grup
Ismail & Hanudin. Degradasi mineral batuan 5

kekerasan menurut sekala Mohs adalah ikatan antar lembaran dalam ruangan
5-6 (Best, 1982) antar ujung apikal makin kuat. Apabila
Grup filosilikat, dalam satu satuan dalam ruang antar ujung apikal
sel merupakan pengembangan ditempati oleh Al maka terbentuk
inosilikat ganda ke arah lateral muskovit (dioktahedral), dan bila
(menyamping menurut sumbu a dan b), ditempati oleh Fe terbentuk mineral
sehingga membentuk seperti lembaran. biotit (trioktahedral). Susunan antar
Hubungan antar satuan dasar pada grup satuan tetrahedron-SiO4 dalam
ini, menyebabkan kerangka lembaran lembaran dan susunan antar lembaran
silikat ini dapat diformulasikan sebagai adalah susunan yang kurang rapat
(Si2O5 )2- atau (Si4O10 )4 . Apabila dalam sehingga berat jenisnya lebih kecil,
lembaran terdiri dari n buah satuan daripada susunan grup silikat
tetrahedron maka dalam satu lembaran sebelumnya. Energi pembentukan
terdapat 2 n muatan negatip. Di alam, polimer filosilikat sebesar 124.920
antar lembaran bergabung dengan kgcal/mole (Paton, 1978). Mineral ini
lembaran yang lain, tetapi termasuk dalam mineral felsik dan
penggabungannya tidak acak. banyak dijumpai pada batu tengahan
Ujung apikal bergabung dengan (intermediet) dan masam. Grup
cara saling berhadapan dengan ujung mineral ini mempunyai pH abrasi 7-9
apikal lembar yang lain, sedangkan (Birkeland, 1974) dan kekerasan
bidang basal berhadapan dengan menurut sekala Mohs 2-3 (Best, 1982)
bidang basal lain dari lembaran yang Grup tektosilikat, pola susunan
lain, sehingga dalam satu satuan sel satuan dasarnya berkebalikan dengan
terdapat dua ruangan, yaitu (1) ruang grup orthosilikat, karena pada
antar ujung apikal dan (2) ruang antar tektosilikat setiap satu satuan
bidang basal. Untuk membentuk satu tetrahedron-SiO4 tidak ada oksigen
satuan sel filosilikat pada ruang antar yang bebas. Artinya semua oksigen
ujung apikal dihubungkan oleh kation dalam setiap sudut satuan tetrahedron-
basa seperti pada amfibol, yaitu Mg, SiO4 berhubungan dengan Si dari satuan
Fe, Al dan OH, sedangkan pada ruang tetrahedron tetangganya, sehingga
antar bidang basal ditempati oleh dalam struktur ini hanya ada ikatan O-
kation yang berukuran besar, sebesar Si-O. Secara kelistrikan dalam satu
ukuran ruangan yang dibentuk oleh satuan tetrahedron-SiO4 adalah
enam atom oksigen (lubang rangkaian bermuatan nol, sehingga dalam skala
oksigen = perforated oxygen). Kation apa pun, (SiO2)o atau (Si4O8)o,
yang sebesar ini hanyalah K, namun tektosilikat adalah tidak bermuatan
karena K ini bermuatan satu positif atau netral. Secara keruangan, satu
(kation monovalen), maka ikatan antar satuan sel tektosilikat biasanya terdiri
bidang basal lemah. Ikatan yang lemah dari empat satuan tetrahedron-SiO4,
ini yang menyebabkan grup ini mudah maka ruangan yang terbentuk oleh
membelah dan mempunyai belahan dua ikatan antar satuan tetrahedron-SiO4
arah. Kekuatan ikatan dalam mineral sangat rapat. Contoh mineral grup ini
ini selain ditentukan oleh ikatan antar adalah Kuarsa.
lembaran yang ditentukan oleh kation Kekuatan ikatan dalam grup ini
penghubung, juga ditentukan oleh ditentukan oleh ikatan O-Si-O. Tetapi
ikatan dalam lembaran yang ditentukan umumnya tektosilikat lebih terbuka
oleh ikatan O-Al-O dan O-Si-O. dari kuarsa. Contohnya Feldspar adalah
Seperti grup yang lain pada grup tektosilikat yang dalam satu satuan
ini, terjadi penggantian isomorfis Si selnya terdiri dari empat satuan dasar
oleh Al. Peristiwa ini mengakibatkan tetrahedron-SiO4. Dua satuan dasar
6 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

terdapat di bagian atas, sedangkan dua macam nilai tersebut di atas oleh para
satuan dasar yang lain ada di bagian ahli mineral dinyatakan sebagai
bawah, sehingga membentuk struktur perwujudan yang disebabkan oleh
seperti cincin dengan empat atom Si. adanya ion penyeimbang atau
Pada Felsdpar ini mungkin terjadi penghubung antar kerangka mineral
penggantian isomorfis 1 sampai 2 atom silikat. Perwujudan ini bersumber
Si oleh Al, sehingga Feldspar ini adanya perubahan muatan negatip
menjadi bermuatan negatip antara 1 akibat terjadinya penggantian
sampai 2. Untuk menstabilkan muatan isomorfis. Kedua macam nilai tersebut
dan keruangan diperlukan kation yang ternyata ada kesesuaian dengan seri
bermuatan dan berukuran sesuai. Bila reaksi Bown yang mengurutkan
terjadi penggantian 1 Si oleh 1 Al, berdasarkan seri pengkristalan mineral
terbentuk 1 muatan negatip, maka pembentuk batuan dari magma.
kation yang dibutuhkan untuk
kestabilan muatan dan ruangan adalah ASAM-ASAM ORGANIK
K+, sehingga tersusunlah Ortoklas. Asam oganik adalah termasuk
Apabila 2 atom Si diganti oleh 2 senyawa organik yang umumnya
atom Al, terbentuk 2 muatan negatip, merupakan hasil dari kegiatan jasad
maka kation yang dibutuhkan untuk hidup. Umumnya, di alam, ditemukan
menstabilkan muatan dan ruangan pada, di atas dan di dalam tanah.
adalah kation Na+ dan atau Ca++, Bentuk senyawa organik terdiri dari
sehingga yang terbentuk adalah seri senyawa yang belum terhumuskan dan
Plagioklas yang tersusun atas Albit dan telah terhumuskan. Senyawa organik
Anortit. Energi pembentukan polimer yang belum terhumuskan misalnya
tektosilikat paling besar yaitu 155.500 karbohidrat, asam amino, protein,
kgcal/mole (Paton, 1978). Grup lemak, lignin, asam nukleat, pigment,
mineral ini mempunyai pH abrasi 7-9 hormon dan asam-asam organik. Asam
(Birkeland, 1974) dan kekerasan organik yang termasuk dalam senyawa
menurut skala Mohs adalah 6-7 (Best, organik belum terhumuskan
1982). selanjutnya diistilahkan asam organik
Apabila kita meninjau energi belum terhumuskan. Senyawa organik
ikatan total kelima grup silikat (Tabel yang telah terhumuskan adalah asam
1) menunjukkan berturutan meningkat humat (AH), asam fulfat (AF), dan
dari grup orthosilikat (78.500 turunan dari hidroksi bensoat dari asam
kgcal/mol), inosilikat tunggal (104.366 humat.
kgcal/mol), inosilikat ganda (113.823 Asam organik yang belum
kgcal/mol), filosilikat (124.920 terhumuskan terdiri dari asam alifatik
kgcal/mol) dan tektosilikat(155.500 sederhana, aromatik kompleks, dan
kgcal/mol). Nilai ini menunjukan asam heterosiklik. Asam organik yang
makin meningkat energi itu makin terdapat di dalam tanah antara lain:
tahan terhadap pelapukan termasuk asam format, asam asetat, asam
dalam hidrolisis oleh air maupun amino, asam askorbat, asam aspartat,
larutan asam. asam bensoat, asam butirat, asam
Selain itu bila dilihat pH sianamat, asam sitrat, asam kumarat,
abrasinya (Tabel 1) menunjukkan asam ferulat, asam fumarat, asam
berturutan menurun dari 11 sampai galat, asam glutamat, asam
7,0. Nilai ini menunjukkan makin hidroksibensoat, asam laktat, asam
rendah pH abrasi makin tahan terhadap nukleat, asam oksalat, asam propionat,
pelapukan termasuk dalam hidrolisis asam piruvat, asam salisilat, asam
oleh air maupun larutan asam. Kedua suksinat, asam siringat, asam tanat,
Ismail & Hanudin. Degradasi mineral batuan 7

asam tartarat, dan asam vanilat. totalnya. Kandungan N pada AH lebih


Asam-asam ini merupakan produk besar daripada AF, sedangkan
antara dalam proses metabolisme kemasaman total AH lebih kecil
tanaman dan jasad renik, dan juga daripada AF. Kemasaman ini berasal
hasil perombakan bahan organik pada dari gugus karboksil, hidroksi fenolat,
kondisi oksidatif (aerob). Asam-asam hidroksil alkoholat, C=O quinon, C=O
organik ini ada yang berberat molekul karbonil, dan metoksi (O-CH3), yang
rendah, ada pula yang berberat diperkirakan sebagai loka pertukaran
molekul tinggi. Asam yang berberat kation dan pengompleksan (Schinitzer,
molekul rendah berada dalam tanah 1991). Akibatnya kapasitas pertukaran
melalui kegiatan vegetasi, kation dan pengkelatan AF melebihi
konsentrasinya relatif lebih besar, AH. Dengan demikian AH dan AF
mempunyai masa huni pendek, tetapi merupakan asam organik yang penting
diproduksi secara malar. Asam-asam dalam pelarutan mineral di samping
berat molekul rendah ini berpengaruh asam organik yang belum terhumuskan.
terhadap perkembangan tanaman,
pelarutan mineral serta pelincahan Keefektifan asam organik dalam
unsur yang berasal dari mineral pelarutan mineral
batuan. Sifat-sifat asam organik yang
Pengaruh terhadap pelarutan penting dalam pelarutan mineral
dan pelincahan melalui reaksi ditentukan oleh gugus karboksil (COO- )
pengasaman (acidification) dan dan gugus hidroksil (OH- ) fenolatnya
pengompleksan. Asam asetat, serta tingkat disosiasinya. Jumlah
aspartat, sitrat, oksalat, salisilat, gugus yang mengalami disosiasi asam
tanat, dan tartarat mampu melarutkan ditentukan oleh jumlah gugus
mineral. Huang dan Keller (1970 fungsionalnya dan pH lingkungannya.
dalam Tan, 1986), asam asetat dan Jumlah gugus karboksil menen-tukan
aspartat menunjukkan kemampuan jumlah proton yang mungkin dapat
mengomplekskan yang lemah, sedang dilepas. Contohnya asam asetat hanya
asam salisilat dan tartarat ada satu proton yang mungkin dapat
menunjukkan kemampuan dilepaskan, tetapi pada asam oksalat
mengompleks yang lebih kuat. dan juga asam suksinat dan malat ada
Asam organik yang dua proton yang mungkin dapat
terhumuskan adalah hasil sintesis ulang dilepaskan, demikian pada asam sitrat
bahan organik yang belum terhumuskan mungkin dapat melepaskan tiga proton.
oleh jasad renik di dalam tanah. Atas Jumlah proton yang terlepas juga
dasar kelarutan dalam larutan penyari, ditentukan oleh pH lingkungan.
kelompok asam ini dibedakan menjadi Pengaruh pH terhadap pelepasan
asam fulfat (AF), asam humat (AH), proton dapat dilihat dari nilai pKa-nya.
asam hematomelanik, dan humin. Contoh pKa asam asetat 4,76. pKa1 dan
Asam humat dan fulfat merupakan pKa2 asam oksalat masing-masing 1,25
senyawa utama dalam bahan organik dan 4,27 dan pKa1 , pKa2 dan pKa3
tanah, karena konsentrasinya di dalam asam sitrat masing-masing 3,13, 4,76
tanah paling tinggi dibandingkan asam- dan 6,4. Nilai pKa adalah pH sistem
asam yang belum terhumuskan. Untuk larutan pada saat konsentrasi asam
alasan ini, maka AH dan AF adalah sama dengan konsentrasi konjugatnya
senyawa yang paling penting dalam (sisa asam). Apabila pH lingkungan di
mendegradasi mineral. Beda yang atas nilai pKa-nya maka proton dalam
tegas antara AF dan AH adalah pada asam itu terlepas semua, sebaliknya
kandungan Nitrogen dan kemasaman bila pKa di bawah pKa-nya maka
8 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

senyawa organik ini ada dalam bentuk interaksi berupa (a) ikatan elektrosatis
asam dan tidak bermuatan. Pada pH dari gaya Coulomb, (b) pembentukan
<3 semua asam organik tertekan, kelat dan (c) jembatan air ( Gambar 1).
sehingga asam tidak bermuatan. Pada
pH antara 3 dan 9 merupakan daerah
disosiasi gugus karboksil, dan pada pH
>9 merupakan daerah disoisasi gugus
OH fenolat. Molekul asam humat
merupakan polielektrolit yang
bermuatan negatip (anion) pada pH>3.
Kelakuan ini menentukan kemampuan
AH mengkelat logam. Tan (1986),
menyatakan pada pH>11 AH mampu
mengkelat 2 x lebih banyak dari pada
AH pada pH 7,0. Rendahnya
pengkelatan pada pH 7 ini karena pada
pH 7 gugus OH fenolat tidak
sepenuhnya terprotonkan.
Sifat asam organik dalam R= sisa molekul AH
pelarutan mineral umumnya ditentukan Mn+ = kation bermuatan n+
oleh faktor konsentrasi dan
kereaktifannya. Konsentrasi yang Gambar 1. Tiga jenis interaksi antar AH
makin meningkat menentukan jumlah dan logam
proton yang dapat dilepas makin
meningkat, sehingga makin meningkat Dalam pembentukan senyawa
konsentrasi, makin meningkat kelat, kation logam dapat berikatan
intensitas penyerangan proton dengan satu atau lebih gugus
terhadap ikatan mineral. Kereaktifan fungsional. Jumlah maksimum ikatan
asam merupakan daya gabung dari antar gugus dengan kation logam
anion organik dengan kation yang ditentukan oleh bilangan
berada pada permukaan mineral dan koordinasinya. Gugus fungsional
yang terlepas dari kristal. Atas dasar tersebut dapat berasal dari gugus ligan
kereaktifan asam organik dibedakan yang sama atau pun ligan yang
menjadi dua kelompok yaitu : (1) asam berbeda. Bila ini terjadi, maka
organik yang daya gabungnya pemolimeran senyawa organik
ditentukan oleh gugus COOH dan (2) terhambat .
asam organik yang daya gabungnya Pembentukan kelat dapat
ditentukan oleh gugus COOH dan OH disederhanakan dengan reaksi sebegai
fenolatnya. Kelompok (1) berpengaruh berikut :
karena mampu mengasamkan, maka
hidrolisis oleh asam (asidolisis) lebih M + xAH M-AHx (1)
kuat daripada pengkelatan. Contohnya
asam organik alifatik sederhana berat M = logam;
molekul rendah mempunyai tetapan AH = asam humat,
disosiasi asam cukup kuat, maka x = jumlah molekul asam humat
pengaruh pengasaman lebih besar
daripada pengkelatan. Kelompok (2) Pada keadaan kesetimbangan maka
reaktifitasnya melalui beberapa Kset adalah :
mekanisme yaitu mekanisme
Kset = (M-AHx)/[(M)*(AH)x] (2)
pengasaman dan interaksi. Reaksi
Ismail & Hanudin. Degradasi mineral batuan 9

Persamaan (2), menunjukkan bila Kset dihasilkan dari disosiasi asam-asam


makin tinggi, maka makin besar M-AHx. organik
yang terbentuk dan reaksi (1) lebih ke H2O H+ + OH- (3)
arah kanan, maka makin banyak HOOC-COOH HOOC-COO- + H+ (3a)
terbentuk kelat, dengan demikian HOOC-COOH -
OOC-COO- + H+ (3b)
makin banyak M (logam) yang
dikelatkan olah AH. Bila M berasal dari Ion H ini karena ukurannya yang kecil
mineral, maka makin besar Kset, (r=0,3A) dan potensial ionnya (q/r)
makin besar pelarutannya. Demikian yang besar dapat masuk ke dalam kisi-
juga makin besar kereaktifan logam kisi kristal dan mampu menggantikan
terhadap AH, maka makin mantap kedudukan kation penyeimbang yang
kelat logam yang terbentuk, dan ada di dalam kristal. Reaksi ini dikenal
makin mudah pelarutan dari struktur sebagai hidrolisis. Ion OH ini
mineral. mempunyai ukuran yang sama dengan
atom oksigen, sehingga ion ini mudah
Pelarutan mineral menggantikan kedudukan atom O
Pelarutan adalah proses dalam mineral. Akibatnya
terbaginya suatu zat secara halus ke kesetimbangan mineral terganggu dan
dalam zat lain. Umumnya zat yang mineral mudah lapuk. Namun, karena
terbagi secara halus adalah zat padat di permukaan bumi air banyak
dan zat lain berupa air. Hasilnya bersitindak dengan biosfer, dan
adalah larutan yang di dalamnya antroposfer, maka pada umumnya air
terdapat butiran dan butiran tersebut banyak bercampur dengan asam-asam
tidak kelihatan, dapat melalui kertas organik. Adanya asam organik ini
saring maupun membran, sehingga misalnya asam oksalat, asam sitrat dan
dalam larutan hanya ada satu fase. senyawa fenolat reaksi hidrolisis
Dengan demikian pelarutan adalah tersebut dipercepat dengan adanya ion
peristiwa yang berlangsung pada H yang berasal dari disosiasi asam,
permukaan zat padat. Oleh sebab itu, reaksi tersebut adalah asidolisis.
ukuran zat padat sangat menentukan Selain menghidrolisis senyawa ini
pelarutan. Makin halus butir zat padat melalui anionnya, COO-, juga dapat
makin luas permukaan dan makin cepat membentuk ikatan kompleks dengan
pelarutannya. Proses pelarutan logam penghu-bung kerangka mineral,
dimulai dari menempelkan salah satu misalnya Fe, Al, Ca, dan Mg, dan
dwikuktub air pada kation dalam akibatnya melepaskannya dari jaringan
jaringan kristal mineral hingga kation kristal, dan terbentuklah senyawa
terlepas dari permukaan kristal dan kompleks.
masuk ke dalam air sebagai larutan. Apabila air atau air yang
Proses ini diyakini disebabkan oleh mengandung asam dengan mineral
peran ion H dan OH yang berasal dari silikat dan atau aluminosilikat
disosiasi air (reaksi 1). Ion H dapat bercampur maka terjadi reaksi
umumnya sebagai berikut :

Silikat + H2O + H2CO3 Kation + OH- + HCO3- + H4SiO4 (4)


Aluminisilikat + H2O + H2CO3 lemp + kation + OH- + HCO3- + H4SiO4 (5)

maka hasil utamanya kedua reaksi itu Reaksi hidrolis pada Ortoklas dan Albit
adalah kation, dan hasil sampingannya
dituliskan sbb. :
adalah: H4SiO4, HCO3-, lempung, dan
OH-.
10 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

2 KAlSi3O8 + 2H+ + 9H2O H4Al2Si2O9 + 4H4SiO4 + 2K+ 6)


ortoklas kaolinit
3 KAlSi3O8 + 2H+ + 12H2O KAl3Si3O10 + 6H4SiO4 + 2K+ (7)
ortoklas iliit
2 NaAlSi3O8 + 2H+ + 9H2O H4Al2Si2O9 + 4H4SiO4 + 2Na+ (8)
albit kaolinit
8 NaAlSi3O8 + 6H+ + 28H2O 3 Na0,66Al2,66Si3,3O10(OH)2 + 4H4SiO4 + 6Na+ (9)
albit montmorilonit
NaAlSi3O8 + 8H2O Na+ + Al(OH)2+ + 3Si(OH)4o + 2OH- (10)
NaAlSi3O8 + 8H2O Na+ + Al(OH)3 + 3Si(OH)4o + OH- (11)

Reaksi hidrolisis pada Olivin:


Fe2SiO4 + 2H2CO3 + 2H2O 2Fe + 2HCO3- + H4SiO4 + 2OH- (12)
2 Fe2+ + 4 HCO3 + 0,5 O2 Fe2O3 + 4H2CO3 (13)
MgFeSiO4 + 8H2O + 3O2 4 H4Mg3Si2O9 + 4HSiO4 + 6 Fe2O3 (14)

Kation-kation yang terlepas dan H lebih kuat daripada ikatan O


mungkin ada dalam larutan tanah, dengan K, atu Ca atau Na, maka sisa
masuk dalam kisi-kisi mineral lempung atom oksigen akan saling menolak.
atau terjerap oleh permukaan partikel Persaingan ini yang menyebabkan
koloid. Bagaimana terjadinya hidrolisis goyah dan lepasnya K, atau Ca atau Na
pada keempat grup silikat, dari kisi-kisi Feldspar.
Frederickson (1951 dalam Paton, Pada grup orthosilikat juga
1978), menjelaskan pelarutan Feldspar terjadi peristiwa yang sama, yaitu
oleh air sebagai berikut. Pada setiap terjadi persaingan penggunaan atom O
permukaan kristal Feldspar dengan kation yang mempunyai energi
(tektosilikat) mempunyai muatan neto ikatan lemah Mg atau Fe, sehingga Mg
negatip. Air yang mempunyai dan Fe dalam olivin adalah ikatan yang
dwikutub, maka air pada permukaan paling peka terhadap hidrolisis dan
kristal itu terorientasi, sedemikian, mudah diserang ion H, akibatnya Mg
kutub positip air berhadapan dengan dan Fe terlepas dari satuan
permukaan kristal Feldspar. Hasil tetrahedron-SiO4. Pada piroksen dan
orientasi air dengan permukaan kristal Amfibol (inosilikat tungal dan ganda),
itu membentuk selubung yang kation-kation yang menggabungkan
bermuatan negatip. Lapisan ini pun antar rantai atau rantai ganda yang
menarik lagi molekul air tetangganya, paling mudah diserang oleh proton
maka pada kondisi ini terjadi kelebihan maka kation penghubung itu ikatanya
muatan positip yang diagihkan pada goyah dan kation terlepas dari jaringan
permukaan kristal Feldspar. Kelebihan kristal. Pada filosilikat yang pada
muatan ini diimbangi dengan penetrasi interlayernya terisi K-terkoordinasi 12
ion H dari air yang terorientasi ke adalah paling mudah diserang oleh
dalam kisi-kisi kristal. Penetrasi ion H proton. Pada tektosilikat titik lemah
masuk ke dalam ruangan yang ikatan yang terjadi pada loka
ditempati oleh K, atau Na, atau Ca. penggantian isomorfis yang diimbangi
Ion H yang masuk ini bersaing dengan oleh kation K, atau Ca, atau Na, atau
K, atau Na, atau Ca dalam Ca dan Na. Tetapi pada kuarsa, (yang
menggunakan atom O untuk tektosilikat yang tidak ada penggantian
membentuk kordinasi. Koordinasi ion isomorfis) tidak terdapat kation yang
H adalah dua, sedangkan K membentuk mudah terhidrolisis, maka kuarsa tidak
koordinasi 12. Padahal ikatan antara O terhidrolisis. Apabila kuarsa
Ismail & Hanudin. Degradasi mineral batuan 11

diserbukkan dan ditetapkan pH logam yang dilepaskan oleh reaksi


abrasinya, maka pH yang ditunjukkan pengasaman maupun logam yang ada
hanyalah pH air, sedangkan pada pada permukaan kristal mineral.
mineral yang lainnya pH abrasinya Sebagai contoh reaksi antara asam
meru-pakan hasil hidrolisis kation- oksalat dengan muskovit seperti pada
kation penghubung antar kerangkanya. reaksi (15):
Anion asam, terutama asam
organik dapat berinteraksi dengan

K2[Si6Al2)Al4O20(OH)4 + 9HOOC-COOH + 4 H2O 2K+ + 9[-OOC-COO-]Al6 + 9 Si(OH)4o + 8OH- (15)

Faktor yang mempengaruhi pelarutan Keadan ini berpengaruh pada kelarutan


mineral Al, Fe, dan Si. Pada Al dan Fe tidak
Dari keterangan di atas, pelaku larut, sedangkan Si agak larut,
utama pelarutan adalah ion H, oleh sehingga Al dan Fe hasil pelarutan ini
karena itu proses apa pun yang berada di zona pelarutan dan Si keluar
menyebabkan perubahan konsentrasi jauh dari zona pelarutan. Sebagai
ion H, dapat menyebabkan perubahan contoh mineral olivin, augit, muskovit
kecepatan pelarutan mineral. dan labradorit dan mikrolin, masing-
Peningkatan konsentrasi ion H masing digojog selama 21 hari dengan
dimungkinkan oleh makin larutan 0,1 Molar asam asetat, atau
meningkatnya konsentrasi asam atau asam aspartat, atau asam salisilat atau
pun keadaan yang menyebabkan makin asam tartrat, dan setiap jam
kuatnya disosiasi asam menghasilkan ditetapkan kandungan Si, Al, Fe, Mg,
ion H. Demikian juga suhu, dapat Ca, K, dan Na. Hasilnya, pada 24 jam
berpengaruh pada reaksi hidrolisis. pertama kandungan Si, Al, Fe, Mg, Ca,
Pengaruhnya, adalah karena suhu K, dan Na meningkat dengan cepat dan
mampu meningkatkan disosiasi air, jam berikutnya peningkatan kandungan
sehingga dapat meningkatkan unsur-unsur itu melambat dan setelah
konsentrasi ion H+. Dengan demikian 5-21 hari menunjukkan kandungan yang
pelapukan mineral dipercepat dengan tetap. Dari kenyataan ini, unsur alkali,
meningkatnya suhu. alkali tanah dan Si dalam jumlah lebih
banyak dari yang lain, karena unsur
Hasil Pelarutan Mineral alkali dan alkali tanah ini merupakan
Hasil pelarutan (hidrolisis) penghubung antar kerangka grup silikat
mineral dapat dilihat melalui (a) bahan dan mempunyai kepekaan terhadap
yang dilepas dan juga (b) dapat dilihat serangan ion H. Si banyak melarut
dari sisa yang ada dalam butir mineral. karena pada pelarutan ini menyebab-
Untuk membuktikan kedua hal ini kan pH di zona pelarutan meningkat
dapat dilakukan analisis kimia padahal kelarutan Si terjadi pada pH
menggunakan metode Spektrofotometri tinggi. Makin lama kontak antara
dan Mikroskopi. Secara spektroskopi, larutan asam dan mineral, makin
Spektrofotometer Serapan Atom (SSA), banyak mineral yang mengalami
mengukur kation-kation basa dan yang hidrolisis, maka makin tebal zona
lainnya, yang dilepas pada pelarutan pelarutannya. Makin tebal zona
oleh asam. Selain itu juga menetapkan pelarutan makin banyak Al dan Fe
Al, Fe, dan Si. amorf yang tertumpuk pada zona
Pelarutan melepaskan kation- pelarutan maka makin menurun kation
kation basa, dengan demikian pH di kation basa yang dilepaskan. Huang
sekitar zona pelarutan bersifat basa. dan Keller (1970 dalam Tan, 1986),
12 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

mengukur ketebalan zona pelarutan dilihat kemasaman total asam Fulfat


oleh larutan asam organik beberapa (12,4 me/g) lebih tinggi dari Asam
mineral antara 4 dan 900 nm. Lebih Humat (6,6 mek/g). Hal ini terjadi
lanjut, pada mikrolin (seri ortoklas), karena Asam Fulfat pada pH 7
dan augit (piroksin) menghasilkan zona disosiasinya tidak sempurna, sehingga
pelarutan yang tipis dibandingkan pelepasan ion H menjadi menurun,
olivin (orthosilikat) dan labradorit (seri akibatnya hidrolisisnya menurun
plagioklas). Hal ini disimpulkan bahwa (Gambar 2 a dan b).
mikrolin dan augit lebih tahan Pelarutan sediri merupakan
terhadap asam organik daripada olivin peritiwa yang terjadi pada permukaan
dan labradorit. zat padat, maka sebagai bukti adanya
Pelarutan mineral oleh asam pelarutan adalah munculnya lapisan
organik yang telah terhumuskan (AH pelarutan yang dapat dilihat dengan
dan AF) mempunyai mekanisme yang mikroskop polarisasi dan mikroskop
sama dengan asam yang belum elektron scaning. Di bawah bawah
terhumuskan, yaitu melalui mekanisme mikroskop polarisasi lapisan pada
hidrolisis, yang disebabkan oleh ion H permukaan kristal yang mengalami
yang berasal dari disosiasi gugus pelarutan pada awalnya mineral
karboksilnya. Hasil pelarutannya berbentuk kristalin, ternyata setelah
mempunyai pola yang sama. Khusus mengalami pelarutan menjadi amorf
untuk pelepasan Si dan Al ternyata yang bersusunan kompleks dengan
asam Humat lebih besar daripada asam asam organik.
Fulfat pada pH 7,0. Padahal apabila

Gambar 2. Pelarutan Si dan Al dari mikrolin oleh AH dan AF pada pH 7,0 (a).
Konsentasi Si dalam penyari AF pada pH 7,0; 2,5 dan Air pada pH 2,5. (b)
pada mikrolin (diambil dari Tan, 1986)

Dengan demikian lapisan ini lapisan ini belum banyak diketahui.


berfungsi juga sebagai pembungkus Lebih lanjut, hasil pengamatan sayatan
mineral yang masih segar. Lapisan tipis mineral hornblende segar melalui
inilah salah satu penyebab terjadinya mikroskop polarisasi, menunjukkan
penurunan laju pelarutan oleh ion H warna hijau yang seragam, tetapi pada
ataupun anion organik. Apa dan perlakuan asam humat menunjukkan
bagaimana komposisi kimia pada warna hijau di dalamnya yang dikeliling
Ismail & Hanudin. Degradasi mineral batuan 13

oleh warna coklat berkarat. Hal ini pada hari ke 45. Dan atas dasar
menunjukkan terjadi perubahan pengamatan ketebalan lapisan
komposisi kimia pada tepian kristal pelarutan oleh asam oraganik diurutkan
mineral karena kontak dengan asam makin menebal dari iliit>montmori-
humat. Hal yang sama diperlihatkan llonit>kaolinit Georgia>kaolinit Keokuk.
oleh mineral Ortoklas, Apatit, Khlorit
dan Muskovit. Mikroskop elektron juga Kinetika Reaksi Pelarutan Mineral
membuktikan adanya lapisan Mineral umumnya adalah
pelarutan. Pada ortoklas segar tampak senyawa anorganik yang berupa
bersih, tetapi ortoklas yang padatan dan berbentuk kristal.
diperlakuan dengan asam humat Apabila mineral tersebut mengalami
menunjukkan ada penumpukan kerak pelarutan, maka reaksi yang
pada permukaan kristal yang berlangsung adalah difusi. Reaksi ini
ketebalannya antara 100 dan 400 nm merupakan reaksi antara atom-atom
(Tan, 1986). pada lapisan permukaan kristal (yang
Mineral sekunder pun dapat terikat kuat oleh atom di lapis bagian
mengalami pelarutan oleh asam-asam dalamnya) dengan air atau larutan
organik. Mineral sekunder yang yang reaktif yang berada di luar
disoroti adalah mineral grup filosilikat. kristal. Hasilnya, pada permukaan
Pada sub-bab sebelumnya, pada grup mineral terjadi penyingkiran atom
filosilikat terdapat ikatan lemah pada penyusun dan mereka masuk ke dalam
ruang antar lembaran tetrahedron-SiO4 air atau larutan. Selanjutnya dalam
(lapisan oktahedron). Ion H+ (proton) lapisan tersebut mencari
yang berasal dari air dan asam-asam kesetimbangan baru dan pada bagian
organik mampu menghirolisis dengan larutan terjadi penambahan atom (ion)
cara menyusup ke dalam ikatan antar atau peningkatan konsentrasi. Reaksi
lembaran silikat tadi, maka dengan ini belum diketahui mekanismenya,
serta merta mineral filosilikat larut namun reaksi ini diperkirakan dimulai
(Huang dan Keller, 1972 dalan Tan, dari permukaan menuju ke bagian
1986). Bolt et al (1978), ion H yang dalam kristal mineral membentuk
berasal dari asam dapat menembus ke lapisan yang disebut lapisan difusi.
ruang oktahedron menggantikan Al Pelarutan mineral silikat dalam
(dioktahedral) dan Mg (trioktahedral). larutan asam organik digolongkan
Asam organik yang mempunyai dalam proses difusi. Hasil yang
kemampuan mengkomplekskan kuat diperoleh dalam larutan diharapkan
menyerang mineral filosilikat melalui mengikuti persamaan laju parabola
serangan proton dan pengkelatan sebagai berikut :
kation penyususn kristal. Telah
dibuktikan bahwa asam organik yang α2 = kt (16)
berkemampuan mengkomplekskan
lebih kuat melarutkan mineral α2 = nisbah kation yang dihilangkan dari
filosilikat lebih banyak daripada asam mineral terhadap jumlah total kation
organik berkemampuan pengompleks sebelumnya
rendah. Laju pelarutan mineral sekun- k = tetapan laju difusi
t = waktu pelarutan
der mirip dengan laju pelarutan pada
mineral primer. Tan (1986),
Apabila reaksi difusi adalah reaksi
menyatakan atas dasar pelepasan
tingkat pertama, maka reaksi tingkat
kation, pada 24 jam yang pertama laju
pertama harus mengacu pada hukum
pelarutannya cepat, kemudian
laju ordo pertama sebagai berikut :
menurun dan mencapai keadaan tetap
14 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

ln (1-α) = -kt + C (17) 2 tersebut merupakan penyajian


atau 2.303 log (1-α) = -kt + C (18) kembali dari Gambar 3.

Jika dibuat hubungan antara log (1-α)


dan waktu ,t , maka kurva pelarutan
mineral oleh air atau larutan asam
adalah linear. Penerapan kedua hukum
terebut terhadap pelarutanSi dan Fe
dari mineral illit dikendalikan oleh
reaksi difusi (persamaan 16),
sedangkan Al, K dan Mg mengikuti
reaksi tingkat pertama (Keller, 1972).
Rose (1967), pelarutan Al dan Mg pada
ortochlorit dikendalikan oleh reaksi
difusi dari ujung partikel ke bagian
dalam. Tan (1980) menerapkan hukum
di atas pada pelarutan Si dan Al pada
mikrolin (tektosilikat) oleh asam humat
dan asam fulfat mengikuti reaksi difusi
(Gambar 3).
Proses pelarutan Al yang
dikendalikan oleh reaksi lebih cocok
untuk menyatakan bahwa Al adalah
Gambar 3. Fraksi Si atau Al (α) terlarut
penyusun kerangka kistal mineral dan
dari mikrolin oleh asam
dapat berpindah dari titik lapisan
humat dan asam fulfat
kosong yang satu ke yang berikutnya
sebagai fungsi √t
selama difusi. Segera setelah Al
melewati lapisan difusi reaksi tingkat
Tabel 2. tersebut menunjukkan
pertama yang linier berlangsung.
nilai kemiringan persamaan garis pada
Perbedaan antara pelarutan Si dan Al
pelarutan Si (1,26)>Al (0,82) oleh asam
adalah pada tetapan difusi, k, yang
humat, sedangkan nilai kemiringan
dinyatakan dengan besarnya nilai
persamaan garis pelarutan Si (0,55) >Al
kemiringan persamaan garis regresi
(0,12) oleh asam fulfat.
liniernya seperti tersaji pada Tabel 2.
Angka-angka yang terdapat pada Tabel

Tabel. 2. Persamaan regresi linier dan koefisien korelasi pelarutan Si dan Al oleh
asam humat dan asam fulfat

No. Asam organik Pelarutan


Si Al
1. Asam humat Y = -0,18 + 1,26 t Y = 1,06 + 0,82 t
r = 0,995 ** r = 0,969 **
2. Asam fulvat Y = 1,97 + 0,55 t Y = -0,003 + 0,12 t
r = 0,966 ** r = 0,989 **
Ismail & Hanudin. Degradasi mineral batuan 15

Manfaatnya dalam Pedogenesis dan ini ada Cu-organik, maka ion


Kesuburan Tanah penukarnya adalah logam Zn. Akibat
Terbentuknya senyawa pengkelatan proses difusi dan aliran
kompleks logam–organik oleh senyawa masa unsur hara mikro ke arah akar
humat dan organik lainnya meningkat dan juga membantu
mempercepat perombakan mineral. mekanisme pengisian unsur hara di
Produknya adalah senyawa kompleks permukaan akar yang terkuras.
(kelat). Bentuk kelat ini erat
hubungannya dengan pedogenesis dan KESIMPULAN
kesuburan tanah. Pembentukan Mineral pembentuk batuan
senyawa kelat ini dapat mendorong maupun mineral sekunder dapat
atau mengham-bat perkembangan mengalami pelarutan oleh larutan asam
mineral baru tanah. Tan (1986), organik. Ketahanan mineral terhadap
melaporkan terjadi pengkris-talan besi pelarutan asam organik tergantung
dengan adanya kompleks besi-fulfat, pada faktor struktur dalam mineral
sedangkan oleh bentuk humat menjadi dan kereaktifan asam serta energi
Goetit dibantu oleh kompleks Fe- pembentukannya. Struktur dalam
organik. Lineras dan Hewirtas ( 1971), mineral berhubungan dengan energi
pembentukan kaolinit dibantu oleh pem-bentukannya. Mineral yang energi
sedikit Asam Fulfat. Selain itu Asam pembentukannya besar mempunyai
Fulfat 5,0 g/L menghambat ketahanan yang tinggi terhadap
pembentukan Geotit dan Hematit, pelarutan, sekaligus mempunyai
tetapi pada konsentrasi rendah AF ketahanan yang tinggi terha-dap
membantu pembentukan Geotit dan pelapukan.
Hematit. Peran pelarutan oleh bahan Asam organik yang paling
organik (kompleksolisis) dapat efektif pada pelarutan mineral adalah
melincahkan kompleks organo-logam asam organik sederhana dan kompleks
yang penting dalam pembentukan yang mempunyai berat molekul tinggi,
horison albik. Pembentukan kelat Al misalnya Asam Humat. Pelarutan
dan Fe fulfat berperan dalam mineral oleh asam organik sederhana
pembentukan horison spodik. Jumlah lebih diakibatkan oleh pengaruh asam
Al dan Fe rendah, kompleks akan melalui peran ion H, walaupun ada
terbentuk pada horison A, sebaliknya beberapa pengaruh pengkelatan. Asam
jika jumlah Al dan Fe cukup yang humat mempengaruhi pelarutan
dilepas dari pelarutan mineral, kelat mineral melalui pengaruh asam dan
yang terbentuk dimobilkan dari horison pembentukan kelat. Asam organik
A ke horison yang lebih dalam. Selain dengan kapasitas pengkelatan kuat
itu komplek organo-logam yang lebih efektif dalam pelarutan mineral
terbentuk berpengaruh pada kesuburan daripada yang lemah.
tanah, terutama pada ketersediaan Selain grup filosilikat, kation
unsur hara mikro. Pengkelatan yang merupakan penghubung antar
umumnya terjadi pada unsur mikro. kerangka lebih mudah mengalami
Pada senyawa kelat ini unsur mikro ini pelarutan daripada kation yang ada
tidak tersedia bagi tanaman, tetapi dalam kerangka kristal. Pada grup
khelat ini dapat dibuat tersedia bagi filosilikat, kation dalam lembar
tanaman melalui reaksi pertukaran oktahedron melarut lebih besar
kation. Reaksi pertukaran ini tidak daripada kation yang terdapat dalam
bisa dilakukan oleh kation basa, tetapi lembar tetrahedron.
ditukarkan oleh unsur mikro yang Analisis secara mikroskop
segolongan. Misalnya senyawa khelat membuktikan pelarutan dimulai dari
16 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1) (2005)

tepian kristal menuju ke lapisan yang Ecosystem Health. Volume 28A :


lebih dalam. Pada pengamatan dengan 319-332 p. Elsevier, Amsterdam.
mikroskop elektron scaning perlakuan Johanes, H. 1974. Kimia Koloida dan
asam organik menyebabkan Kimia Permukaan. Universitas
terbentuknya lapisan difusi, dengan Gajah Mada. Yogayakarta. 203 hal.
ketebalan yang beragam dari 100 Klein, C. and C.S. Hurlbut J. 1993.
hingga 1.000 nm. Lapisan difusi ini Manual of Mineralogy (after James
bertindak sebagai pembatas dan D. Dana). John Wiley and Sons Inc.,
penghambat pelarutan mineral lebih New York. 681 p.
lanjut.
Paton, T.R. 1978. The Formation of
Reaksi yang berperan dalam
Soil Material. George Allen and
pelarutan oleh asam organik adalah
Unwin. ,xiii + 143 p.
reaksi difusi dan reaksi ordo pertama.
Reaksi difusi mengikuti persamaan laju Schinitzer, M. 1991. Soil Organic
parabola dan reaksi ordo pertama matter–The next 75 years. Soil
berbentuk linear. Silikat dan Fe Science, January. Vol. 151, No. 1:
dilaporkan terlepas secara difusi, 41-58.
sedangkan Al, K, dan Mg larut Sposito, G. 1989. The Chemistry of
mengikuti reaksi ordo pertama. Pada Soils. Oxford Universty Press,
pelarutan dengan Asam Humat reaksi NewYork. Xii + 277 p.
difusi lebih penting dari pada reaksi Stum, W and J.J. Morgan. 1981.
ordo pertama. Aquatic Chemistry, An Introduction
Hasil pelarutan dalam bentuk Empazising Chemical Equilibria in
kelat mempunyai hubungan yang erat Natural Waters., 2nd Edition. John
dengan genesis dan kesuburan tanah. Wiley and Sons New York. 780 p.
Pembentukan horison spodik, albik, Tan. K.H. 1986. Degradasi Mineral
dan horison A yang kaya bahan organik Tanah Oleh Asam Organik. Dalam
diakibatkan oleh tingkat kelincahan P.M. Huang, M. Schinitzer, R.S.
kelat humat-logam. Logam yang Adam, Jr, G. Sposito, and J.L..
banyak terkelat adalah unsur hara White (eds) : Interaksi Mineral
mikro yang dapat dipertukarkan. Tanah dengan Organik Alami dan
Mikroba. Terjemahan oleh D. H.
DAFTAR PUSTAKA Goenadi, 1997. Gadjah Mada
Best, M. G. 1982. Igneous and University Press. Hal : 1-40.
Metamorphic Petrology. W.H. Tan. K.H. 1994. Environmental Soil
Freeman and Company, San Science. Marcel Dekker, Inc. New
Fransico. 630 p. York. Xiv + 304 p.
Birkeland, P.W. 1974. Pedology,
Weathering, and Geomorphological
Research. Oxford Univesity Press.
Toronto, 285 p.
Hanudin. E., N. Matsue, T. Hemni.
2002. Reaction of Some Short-
range Ordered Aluminosilicates
with Selected Organic Ligands. In
A. Violante, P.M. Huang, J.M.
Bollag and L.Gianfreda (eds) : Soil
Mineral-Organic Matter-
Microorganism Interactions and
Tabel 1. Beberapa sifat mineral silikat pembentuk batuan

Pola Ion
No Grup silikat Nisbah EPI 1 EIT1 Keke- pH Penggantian
Susunan penye- BJ3 Contoh
Si/O1 rasan3 abrasi2 Isomorfis1
SiO4 imbang1

Tetrahedron Olivin
1 Orthosilikat 0,25 3.142 78.500 7,0 Fe/Mg 10-11 Tdk. ada 33-3,4
terpisah

Inosilikat Rantai Ca/Mg/ Piroksen


2. 0,33 3.131 104.366 5-6 8-10 Si oleh Al
tunggal tunggal Fe2+/Fe3+
3,0-3,5
Inosilikat Rantai ganda Mg/Fe/
3. 0,36 3.127 113.823 5-6 8-10 Si oleh Al Amfibole
ganda (pita) OH/K

Mika
Al/Mg/Fe Si oleh Al
4. Filosilikat Lembaran 0,40 3.110 124.920 2-3 5-6 2,7-3,1 Talk
K Al/Fe oleh Mg

Feldspar
5. Tenunan 0,50 3.110 155.500 6-7 Na, K, Ca 7-9 Si oleh Al
Tektosilikat <2,6 Zeolit
Tenunan 0,50 3.110 155.500 7 Tak ada 7.0 Tdk. Ada Kuarsa

Keterangan: EPI = energi pembentukan ikatan (kgcal/mol), EIT = energi ikatan total (kgcal/mol), BJ = berat jenis (g/cm-3).
Sumber : 1 : Paton (1978), 2 : Birkeland (1974), 3 Best (1982)

Beri Nilai