Anda di halaman 1dari 22

TUGAS TEKNOLOGI REMPAH & MINYAK ATSIRI

LADA

Disusun Oleh :
Reno Marwan
2016340044
TE
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................................i

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................1

A. Latar Belakang..............................................................................................................1

B. Tujuan...........................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................................3

A. Tanaman Lada..............................................................................................................3

B. Sejarah Tanaman Lada..................................................................................................4

C. Klasifikasi Tanaman Lada..............................................................................................5

D. Jenis-Jenis Tanaman Lada.............................................................................................5

E. Kandungan Kimia pada Lada.........................................................................................6

F. Manfaat Tanaman Lada................................................................................................7

G. Metode Pembuatan Minyak Atsiri..............................................................................10

H. Preparasi Sampel Minyak atsiri Lada Putih (Piper nigrum Linn)..................................14

I. Uji Standar Mutu Minyak Atsiri..................................................................................17

BAB III KESIMPULAN..............................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................22

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting
diantara rempah-rempah lainnya (King of Spices), baik ditinjau dari segi perannya dalam
menyumbangkan devisa negara maupun dari segi kegunaannya yang sangat khas dan
tidak dapat digantikan dengan rempah lainnya.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil utama lada dan mempunyai
peranan penting dalam perdagangan lada dunia. Pasokan lada Indonesia dalam
perdagangan dunia dipenuhi dari Provinsi Bangka Belitung yaitu Lada Putih dengan
sebutan Muntok White Pepper dan Provinsi Lampung Lada hitam sebagai Lampung
Black Pepper yang sudah dikenal sejak sebelum Perang Dunia ke-II.
Indonesia pernah memiliki peran yang sangat penting dengan kemampuan
memasok sekitar 80% dari kebutuhan lada dunia sebelum Perang Dunia II. Bahkan
selama masa penjajahan Belanda pada tahun 1772, lada mampu memberikan keuntungan
sebesar dua per tiga dari keuntungan yang diperoleh VOC. Kontribusi Lada (Hitam dan
Putih) Indonesia di pasar dunia selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan.
Kontribusi ekspor lada Indonesia pada kurun waktu 2004 – 2009 berkisar antara US$
54.636.738 – 140.313.000.
Dari segi kegunaannya, Lada merupakan salah satu tanaman obat yang
digunakan sebagai obat tradisional, khususnya lada hitam. Buah lada hitam
merupakan buah lada yang dipanen sebelum masak dan merupakan salah satu
bumbu masak yang mempunyai aroma yang khas, rasanya cukup pedas dan
mempunyai reaksi panas di badan. Riyani (2003) telah membuktikan bahwa
minyak atsiri lada hitam mempunyai efek antibakteri terhadap Staphylococcus
aureus dan Escherichia coli.
Minyak atsiri merupakan senyawa, yang pada umumnya berwujud cairan,
yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, biji maupun
dari bunga dengan cara penyulingan dengan uap. Meskipun kenyataan untuk
memperoleh minyak atsiri dapat juga diperoleh dengan cara lain seperti dengan

1
cara ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik maupun dengan cara dipres
atau dikempa dan secara enzimatik (Sastrohamidjojo, 2004).
Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman aromatik merupakan komoditas
ekspor nonmigas yang dibutuhkan di berbagai industri seperti dalam industri
parfum, kosmetika, farmasi/obat-obatan, serta industri makanan dan minuman.
Dalam dunia perdagangan, komoditas ini dipandang memiliki peran strategis
dalam menghasilkan produk primer maupun sekunder, baik untuk kebutuhan
domestik maupun ekspor.
Pada Makalah ini akan dijelaskan klasifikasi dan kandungan-kandungan yang ada
pada lada serta sifat fungsionalnya, dan juga metode-metode yang dilakukan dalam
pembuatan minyak atsiri.

B. Tujuan

1. Memahami jenis, sifat fungsional, dan mutu dari tanaman lada.


2. Memahami prinsip dan cara pembuatan minyak atsiri dari tanaman lada.
3. Memahami prinsip analisis minyak atsiri.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tanaman Lada

Tanaman lada (Piper nigrum L) merupakan rempah-rempah yang


terpenting dan tertua di dunia. Tanaman ini termasuk famili Piperaceae, yang
terdiri dari lebih kurang 12 genus. Lada atau yang sering disebut merica memiliki
nama ilmiah Piper nigrum L. adalah salah satu rempah yang berbentuk biji-bijian
kecil. Tumbuhan lada adalah tumbuhan merambat dan memiliki daun tunggal
berbentuk bulat telur berwarna hijau pucat dan buram dengan ujung runcing yang
tersebar dengan batang yang berbuku-buku. Bunga lada tersusun dalam bentuk
bunga majemuk dan berkelamin tunggal tanpa memiliki hiasan bunga.
Sedangkan buah lada berbentuk bulat dengan biji yang keras namun memiliki
kulit buah yang lunak.
Tumbuhan lada dapat tumbuh didaerah yang memiliki iklim tropis dengan
curah hujan yang cukup sepanjang tahunnya. Lada dapat tumbuh subur pada
ketinggian dibawah 600 mdpl dengan curah hujan antar 2.200 mm hingga 5.000
mm per tahunnya dengan sushu berkisar antara 20 o C hingga 35o C. Selain itu,
lada membutuhkan kelembaban udara antara 60% hingga 93% dengan pH tanah
berkisar antara 6 hingga 7 dengan drainase yang baik dan dihindarkan dari
genangan air karena dapat membuat akarnya membusuk terutama untuk tanaman
muda. Di Indonesia sendiri lada banyak di temukan di daerah Pulau Bangka,
Lampung, dan Belitung.

B. Sejarah Tanaman Lada

3
Tanaman lada (Piper nigrum Linn) berasal dari daerah Ghat Barat,
India. Demikian juga, tanaman lada yang sekarang banyak ditanam di
Indonesia ada kemungkinan berasal dari India. Sebab pada tahun 110 SM –
600 SM banyak koloni Hindu yang datang ke Jawa. Mereka itulah yang
diperkirakan membawa bibit lada ke Jawa. Pada abad XVI, tanaman lada di
Indonesia baru diusahakan secara kecil-kecilan (Jawa). Tetapi pada abad
XVIII, tanaman tersebut telah diusahakan secara besar-besaran.
Lada adalah termasuk salah satu jenis tanaman yang telah lama
diusahakan. Dan hasilnya pun telah lama pula diperdagangkan dipasaran
Eropa. Sehingga perdagangan lada di Indonesia akhirnya dikenal di seluruh
penjuru dunia. Lada yang dipasarkan ke Eropa tersebut dibawa para pedagang
lewat pusatpusat perdagangan seperti Persia dan Arabia, Timur tengah dan
Mesir. Di muka telah diutarakan, bahwa tanaman lada telah lama diusahakan.
Hal ini bisa dibuktikan, bahwa semenjak tahun 372 SM, orang Yunani telah
mengenal 2 jenis lada, yakni lada hitam dan lada panjang atau cabe. Pada
tahun 1290 telah diadakan pula hubungan dagang lada antara Jawa dan Cina.
Laju perdagangan lada Indonesia ini lebih pesat lagi, setelah
Colombus pada 1492 bisa menemukan India Barat, di Kepulauan Timur yang
banyak rempah-rempahnya. Dana kemudian disusul Vasco da Gama yang
menemukan jalan baru, lewat ujung Afrika pada tahun 1498.
Pada abad pertengahan, lada merupakan raja perdagangan dan
merupakan rempah-rempah yang maha penting dan berharga pada waktu itu.
Bahkan bagi kerajaan Genua dan Venesia, lada menjadi sumber kekayaan,
sebagai halnya minyak tanah di Indonesia dewasa ini. Karena pada waktu itu
lada dianggap sangat berharga sehingga pada abad XIV dan XV, di Jerman
lada tersebut dipergunakan sebagai nilai tukar seperti halnya uang. Lada juga
dipergunakan untuk membayar gaji pegawai, pajak dan lain sebagainya.

C. Klasifikasi Tanaman Lada

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)


Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

4
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae (suku sirih-sirihan)
Genus : Piper
Spesies : Piper nigrum L.

D. Jenis-Jenis Tanaman Lada

Berdasarkan perbedaan warna kulit waktu memetik dan proses


pengolahannya lada dibedakan menjadi 4 macam yaitu:

1. Lada Hijau
Sebenarnya lada hijau adalah lada yang dipetik saat belum terlalu
tua dan warnanya masih kehijauan. Dijual dalam bentuk kering, segar dan
direndam dalam larut an bumbu. Lezat untuk bumbu hidangan ayam
ataupun seafood. Lada yang dipetik dipertahankan dalam bentuk basah
dalam air asin dan cuka, dibekukan atau dikeringkan. Lada hijau yang
dikeringkan mempunyai warna hijau yang segar, lembut dan padat.
Pengeringan yang balk adalah dengan temperatur rendah. Lada hijau beku
dibuat dengan cara mendinginkan pada pendingin yang dibuat dari
kuningan. Proses pembuatan lada hijau yang dikemas dalam kaleng
diawali dengan proses pencucian lada mentah kemudian dimasukkan
kedalam kaleng yang berisi klorid,sodium solusi dengan atau tanpa kadar
keasaaman yang ditambahkan. Lada hijau dengan warna hijau segar
digemari orangorang Eropa.

2. Lada Putih
Buah lada yang dipanen saat buah lada sudah sangat matang, lalu
diproses dengan cara merendam dalam air yang mengalir selama kurang
lebih dua minggu dan kemudian di jemur selama tiga hari sehingga kulit

5
luarnya yang berwarna hitam mudah terkelupas dan tinggal bijinya yang
putih.

3. Lada Hitam
Buah lada yang ketika dipanen masih setengah matang dan
warnanya kemerahan, tanpa direndam dan langsung dikeringkan dengan
cara dijemur selama tiga hari.

4. Lada Merah
Buah lada merah adalah jenis lada yang memiliki rasa sedikit
manis dan kurang pedas.

E. Kandungan Kimia pada Lada

Rasa pedas lada diakibatkan oleh adanya zat piperin, piperanin,


dan chavicin yang merupakan persenyawaan dari piperin dengan semacam
alkaloid. Chavicin banyak terdapat dalam daging biji lada (mesocarp) dan
tidak akan hilang walaupun biji yang masih berdaging dijemur hingga
lebih pedas dibanding lada putih (Rismunandar, 2003).

Aroma biji berasal dari minyak atsiri yang terdiri dari beberapa
jenis minyak terpen (terpentin) lada hitam dan lada putih dengan senyawa
kimia kadar air, zat protein, zat karbohidrat, minyak atsiri dan piperin
(alkaloid) (Rismunandar, 2003).

Piperin termasuk golongan alkaloid yang merupakan senyawa


amida basa lemah yang dapat membentuk garam dan asam mineral kuat.
Tumbuhan yang termasuk jenis piper selain mengandung 5–9% piperin
juga mengandung minyak atsiri berwarna kuning berbau aromatis
senyawa berasa pedas (kavisin), amilum, resin, dan protein. Piperin
berupa kristal berbentuk jarum berwarna kuning, tidak berbau, tidak
berasa lama-lama pedas. Piperin bila dihidrolisis dengan KOH akan
menghasilkan kalium piperinat dan piperidin (Bruneton, 1999).

6
F. Manfaat Tanaman Lada

Beberapa manfaat lada adalah sebagai berikut:

i. Bumbu masakan

Seperti diketahui lada merupakan salah satu bumbu masakan yang


sering digunakan dalam kuliner Indonesia. Di Rumah tangga, restoran,
warung makan, bahkan di industri-industri makanan jadi seperti pabrik mi
dan nugget, lada original sering digunakan sebagai bumbu masakan. Lada
selain berfungsi sebagai penyedap rasa dan aroma, juga memiliki rasa
pedas. Bila cabai hanya menimbulkan rasa pedas, lada selain pedas juga
ada rasa dan aroma lain sehingga masakan menjadi lebih lezat dan
istimewa. Hal tersebut disebabkan karena kandungan resin, piperin,
amidon, yang ada pada lada tetapi tidak ada pada jenis-jenis cabai.

i. Obat

Lada juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat,


baik obat tradisional maupun obatobatan modern. Dosis yang digunakan
dalam pembuatan obat-obatan berbeda-beda, tergantung pada jenis obat
yang akan dibuat. Untuk obat tradisional biasanya menggunakan lada
dengan dosis yang sedikit dan dalam bentuk bubuk, sedang obat-obatan
yang dikemas secara modern biasanya berbentuk tablet atau bubuk yang
dikemas dalam kapsul. Salah satu jenis obat berbentuk salep biasanya
juga mengandung lada. Balsem atau obat gosok menggunakan lada dalam
dosis lebih banyak dibanding obat jenis lain karena balsem memerlukan
bahan panas dan pedas yang lebih banyak. Aroma dan rasa pedas dari lada
hitam ternyata paling tajam dibandingkan jenis lada lainnya. Lada juga
merupakan rempah yang bernilai tinggi karena dapat meningkatkan
sekresi atau pengeluaran asam hidroldorik yang berguna untuk
meningkatkan fungsi pencernaan. Dengan demikian lada juga bersifat anti
diare, mengobati perut kembung dan sembelit. Lada hitam juga berfungsi
sebagai peluruh kencing dan meningkatkan produksi keringat. Memiliki

7
efek anti bakteri dan anti oksidan. Merangsang terpecahnya sel-sel lemak
sehingga dapat menjaga tubuh tetap Iangsing. Melancarkan menstruasi.
meredakan serangan asma, meringankan gejala rematik. dan
menyembuhkan rasa sakit kepala.

Selain itu, lada juga digunakan sebagai stimulan pengeluaran


keringat (diaphoretik), pengeluaran angin (carminativ), peluruhan air
kencing (diuretik), peningkatan nafsu makan, peningkatan aktivitas
kelenjar-kelenjar pencernaan, dan percepatan pencernaan zat lemak.
Selain itu biji lada pun dapat dipakai untuk ramuan obat reumatik.
Bahkan, banyak yang memanfaatkan bubuk lada sebagai obat kuat fisik
setelah dicampur telur ayam setengah matang. Bubuk lada pun dapat
dicampur dengan madu sebagai ramuan peningkat vitalitas (Rismunandar,
2003).

Riyani (2003) telah membuktikan bahwa minyak atsiri lada hitam


mempunyai efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan
Escherichia coli. Lada juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati, pada
lada mengandung zat racun, oleh karena itu, lada dapat digu nakan
sebagai insektisida pembunuh serangga. Ekstrak kasar lada hitam juga
sangat toksik terhadap hama kapas anthonomous grandies boheman
(Rismunandar, 2003).

ii. Minuman dan penghangat tubuh

Lada dimanfaatkan masyarakat Eropa dan daerah Kutub untuk


membuat minuman, baik minuman beralkohol maupun non alkohol yang
berfungsi sebagai penghangat tubuh. yaitu berfungsi untuk menjagi suhu
tubuh agar tetap normal, meskipun suhu udara kurang dari 0 derajat
celcius.

iii. Pembuatan parfum

Lada yang dimanfaatkan sebagai parfum hanya lada hitam karena


lada ini masih memiliki kulit luar yang mengandung resin untuk disuling

8
dan diambil minyaknya. Minyak hasil penyulingan tersebut beraroma
mcrangsang dan eksklusif sehingga digunakan sebagai bahan dasar/bibit
pembuatan parfum. Dalam pembuatan parfum minyak lada dicampur
dengan bahan-bahan lain yang diperlukan sehingga memenuhi syarat
sebagai parfum. Pada umumnya, parfum minyak lada dikenal sebagai
produk yang mahal dan eksklusif, yang diperuntukkan bagi golongan
masyarakat menengah ke atas.

G. Metode Pembuatan Minyak Atsiri

a. Penyulingan (Destilasi)
Proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari
2 macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya, dan
proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air.
Dalam perkembangan pengolahan minyak atsiri telah dikenal 3
macam sistim penyulingan yaitu :

(1) Penyulingan dengan Air (Water distillation)


Metode penyulingan dengan air merupakan metode paling
sederhana jika dibandingkan dua metode penyulingan yang lain. Pada
metode ini, bahan yang akan disuling dimasukkan dalam ketel suling
yang telah diisi air. Dengan begitu, bahan bercampur langsung dengan
air. Pada metode ini, perbandingan jumlah air perebus dan bahan baku
dibuat berimbang, sesuai dengan kapasitas ketel. Bahan yang telah
mengalami proses pendahuluan seperti perajangan dan pelayuan
dimasukkan dan dipadatkan. Selanjutnya, ketel ditutup rapat agar tidak
terdapat celah yang mengakibatkan uap keluar.
Uap yang dihasilkan dari perebusan air dan bahan dialirkan
melalui pipa pendingin sehingga terjadi pengembunan (kondensasi).
Selanjutnya air dan minyak ditampung dalam tangki pemisah.
Pemisahan air dan minyak dilakukan berdasarkan perbedaan berat
jenis.

9
(2) Penyulingan dengan Air dan Uap (Water and Steam Distillation)

Metode ini disebut juga dengan system kukus. Pada metode


pengukusan ini, bahan diletakkan di atas piringan atau plat besi
berlubang seperti ayakan (sarangan yang terletak beberapa sentimeter
di atas permukaan air. Saat air direbus dan mendidih, uap yang
terbentuk akan melalui sarangan lewat lubang-lubang kecil dan
melewati celah-celah bahan. Minyak atsiri dalam bahan pun akan ikut
bersama uap panas tersebut melalui pipa menuju ketel kondensator
(pendingin).

Selanjutnya, uap air dan minyak akan mengembun dan


ditampung dalam tangki pemisah. Pemisahan air dan minyak atsiri
dilakukan berdasarkan berat jenis.

Keuntungan dari metode ini yaitu penetrasi uap terjadi secara


merata ke dalam jaringan bahan dan suhu dapat dipertahankan sampai
1000C. Lama penyulingan relative lebih singkat, rendemen minyak
lebih besar dan mutunya lebih baik jika dibandingkan dengan minyak
hasil dari system penyulingan dengan air.

(3) Penyulingan dengan Uap

Pada system ini, air sebagai sumber uap panas terdapat dalam
“boiler” yang letaknya terpisah dari ketel penyulingan. Uap yang
dihasilkan mempunyai tekanan lebih tinggi dari tekanan udara luar.
Proses penyulingan dengan uap ini baik jika digunakan untuk
menyuling bahan baku minyak atsiri berupa kayu, kulit batang,
maupun biji-bijan yang relative keras.

b. Ekstraksi dengan Pelarut Mudah Menguap

Prinsip dari ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atsiri dalam


bahan dengan pelarut organik yang mudah menguap. Pelarut organik akan
berpenetrasi ke dalam jaringan dan akan melarutkan minyak serta bahan

10
“non volatile” yang berupa resin, lilin dan beberapa macam zat warna.
Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam suatu wadah (ketel) disebut
“extractor”. Berbagai pelarut yang biasa digunakan adalah petroleum
ether, carbon tetra chlorida, chloroform, dan pelarut lainnya yang bertitik
didih rendah.

Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk


mengekstraksi minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan uap dan
air, seperti untuk mengekstraksi minyak dari bunga-bungaan misalnya
bunga cempaka, melati, mawar, ”hyacinth”, ”tuberose”, ”narcissus”,
”gardenis”, ”lavender”, ”lily”, ”minose”, ”labdanum”, ”violet lower” dan
”geranium”.

Pembuatan minyak atsiri dengan pelarut menguap dilakukan


dengan menggunakan ekstraktor. Ekstraktor yang digunakan untuk
mengekstrak minyak atsiri dari bunga terdiri dari tabung ekstraktor
berputar dan tabung evaporator (penguap).

c. Ekstraksi dengan Lemak Dingin (Enfleurasi)

Proses ekstraksi ini digunakan khusus untuk mengekstraksi


minyak bunga-bungaan, dalam rangka mendapatkan mutu dan rendemen
minyak yang tinggi. Pada umumnya bunga setelah dipetik akan tetap
hidup secara fisiologis. Daun bunga terus menjalankan proses hidupnya
dan tetap memproduksi minyak atsiri dan minyak yang terbentuk dalam
bunga akan menguap dalam waktu singkat. Kegiatan bunga dalam
memproduksi minyak akan terhenti dan mati jika kena panas, kontak atau
terendam dalam pelarut organik, sedangkan minyak atsiri yang terbentuk
sebelumnya sebagian besar telah menguap. Untuk itu ekstraksi dengan
pelarut mudah menguap menghasilkan rendemen minyak yang rendah.

Untuk mendapatkan rendemen minyak yang lebih tinggi dan


bermutu baik, proses fisiologi dalam bunga selama proses ekstraksi
berlangsung perlu dijaga agar tetap berlangsung dalam waktu selama

11
mungkin sehingga bunga tetap dapat memproduksi minyak atsiri. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara menggunakan lemak hewani atau nabati.

Sama halnya dengan ekstraksi menggunakan pelarut menguap,


ekstraksi minyak atsiri dengan metode lemak dingin memerlukan
evaporator untuk memisahkan minyak atsiri dari lilin dan alkohol
pelarutnya. Selain itu, dibutuhkan lempeng kaca dan rak tertutup pada
proses absorbsi minyak atsiri dari bunga. Sedang bahan penunjang yang
digunakan yaitu lemak dan alkohol. Lemak berfungsi sebagai adsorben
atau penyerap minyak atsiri dari bunga. Sementara alkohol digunakan
untuk memisahkan minyak atsiri dari lemak.

d. Ekstraksi dengan Lemak Panas (Maserasi)


Metode pembuatan minyak dengan lemak panas tidak berbeda jauh
dengan metode lemak dingin. Bahan dan peralatan yang digunakan pun
tidak jauh berbeda. Perbedaannya hanya terletak pada bagian awal proses,
yaitu menggunakan lemak panas. Sedang alat yang digunakan yaitu
evaporator vakum. Selain itu, dibutuhkan wadah berupa bak atau baskom
untuk merendam bunga dalam lemak panas. Bahan yang diperlukan dalam
metode maserasi yaitu lemak dan alcohol. Lemak digunakan sebagai
adsorben, sedangkan alcohol digunakan untuk melarutkan lemak.

e. Pengepresan (Pressing)

Adalah Ekstraksi minyak atsiri dengan cara pengepresan umumnya


dilakukan terhadap bahan berupa biji, buah atau kulit luar yang dihasilkan
dari tanaman yang termasuk famili citrus. Hal ini disebabkan minyak dari
famili tanaman tersebut akan mengalami kerusakan jika diekstraksi
dengan cara penyulingan. Dengan pengepresan maka sel-sel yang
mengandung minyak akan pecah dan minyak akan mengalir ke permukaan
bahan. Beberapa jenis minyak yang dapat diekstrasi dengan cara
pengepresan adalah minyak “almon”, “apricot”, “lemon”, minyak kulit
jeruk, “mandarin”, “grape fruit”, dan beberapa jenis minyak lainnya.

12
Pada metode pegepresan, alat yang digunakan berupa mesin
pengepres. Alat ini bekerja dengan cara menekan bahan baku hingga sel
penghasil minyak akan pecah dan minyak akan keluar.

H. Preparasi Sampel Minyak atsiri Lada Putih (Piper nigrum Linn)

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lada Putih


(Piper nigrum Linn) yang telah mencapai usia panen. Lada putih dijemur
dan dikeringkan. Pengeringan dilakukan untuk menghilangkan kandungan
air yang masih terdapat dalam lada putih. Lada putih yang diperoleh
adalah lada yang sudah siap untuk digunakan.

13
Gambar 7. Lada putih yang sudah dikeringkan

Lada putih yang telah kering dihaluskan dengan blender dan


diperoleh 465 gram simplisia lada putih dari 500 gram lada putih yang
telah dikeringkan.

Gambar 8. Simplisia Lada putih yang telah dihaluskan

g. Ekstraksi Minyak atsiri Lada putih (Piper nigrum Linn)

Dalam penelitian ini, ekstrak minyak atsiri lada putih didapatkan


dengan merode destilasi.

14
Gambar 9. Ekstraksi Minyak Atsiri Lada putih dengan Metode
Destilasi Air

Karena hasil minyak atsiri yang didapat belum murni, maka


dilakukan pemisahan minyak atsiri dengan menggunakan corong pisah.
Hal ini merupakan cara sederhana untuk memisahkan minyak atsiri lada
putih yang didapat, karena perbedaan berat jenis antara minyak atsiri dan
air, terlihat adanya pemisahan yang terjadi sehingga bisa dipisahkan
dengan menggunakan corong pisah.

Volume minyak atsiri yang didapat adalah sebesar 6,3 ml dari 440
gram simplisia lada putih yang digunakan. Dari hasil tersebut diperoleh
kadar minyak atsiri lada putih sebesar 1,43 % (v/b) dan bobot jenis
minyak atsiri adalah sebesar 0,937. Dari penelitian sebelumnya yaitu
berdasarkan hasil penelitian Muniarty (2010) yang meneliti kandungan di
dalam minyak atsiri lada putih dan lada hitam, ternyata juga mendapatkan
rendemen minyak atsiri dari lada putih sebesar 1,75 % dan bobot jenis
minyak atsiri sebesar 0,8671. Cara mendapatkan minyak atsiri lada putih
yang digunakan oleh Muniarty juga menggunakan metode destilasi.

Menurut Rusli (2010) kandungan minyak atsiri lada putih memiliki rendemen
sebesar 5,5 – 5,9 %. Sedangkan hasil yang didapat hanya memiliki rendemen
sebesar 1,43 %. Hasil rendemen yang sangat kecil ini kemungkinan
disebabkan selama proses destilasi banyak minyak atsiri yang menguap. Hal
ini dikarenakan minyak atsiri yang mempunyai sifat mudah menguap pada
suhu kamar tidak disimpan dengan baik. Seharusnya minyak atsiri yang sudah

15
didapat, disimpan dalam wadah yang tertutup dan ditempatkan pada ruang
atau tempat yang gelap untuk mencegah penguapan dan oksidasi terjadi.

I. Uji Standar Mutu Minyak Atsiri

Persyaratan standar mutu minyak atsiri menggunakan batasan atau


kriteria-kriteria tertentu. Biasanya dalam karakteristik mutu dicantumkan sifat
khas, sifat fisik dan sifat kimia minyak atsiri sesuai dengan bahan asalnya dan
mencantumkan komponen utama minyak atsiri sehingga menunjukkan
keaslian serta untuk menghindari pemalsuan dari minyak atsiri tersebut.
Adanya bahan-bahan asing yang tercampur akan merusak mutu minyak
tersebut. Standard mutu minyak atsiri diantaranya dapat ditentukan dari berat
jenis, indeks bias, putaran optic, bilangan asam dan kelarutan dalam alcohol.

a. Berat Jenis (densitas)

Berat jenis atau densitas merupakan perbandingan antara berat


minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume
minyak. Berat jenis sering dihubungkan dengan berat komponen yang
terkandung di dalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung
dalam minyak, semakin besar pula nilai densitasnya.

b. Indeks Bias

Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di


dalam udara dengan kecepatan cahaya di dalam zat tersebut pada suhu
tertentu. Indeks bias minyak atsiri berhubungan erat dengan komponen-
komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Sama
halnya dengan berat jenis di mana komponen penyusun minyak atsiri
dapat mempengaruhi indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai
panjang seperti sesqueterpen atau komponen bergugus oksigen ikut
tersuling maka kerapatan medium minyak atsiri akan bertambah sehingga
cahaya yang datang akan lebih sukar untuk dibiaskan. Hal ini
menyebabkan indeks bias minyak lebih besar. Menurut Guenther, nilai

16
indeks bias juga dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam
kandungan minyak tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, semakin
kecil nilai indeks biasnya. Hal ini karena sifat air yang mudah
membiaskan cahaya yang datang. Jadi, minyak atsiri dengan nilai indeks
bias besar lebih bagus dibandingkan minyak atsiri dengan nilai indeks bias
yang kecil.

c. Putaran Optik

Sifat optic minyak atsiri ditentukan dengan menggunakan alat


polarimeter. Nilainya dinyatakan dengan derajat rotasi. Sebagian besar
minyak atsiri memiliki sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan
(dextrorotary) atau kea rah kiri (levorotary) jika ditempatkan dalam
cahaya yang dipolarisasikan. Pengukuran parameter ini sangat
menentukan criteria kemurnian suatu minyak atsiri.

d. Bilangan Asam

Bilangan asam menunjukkan kadar asam bebas dalam minyak


atsiri. Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi kualitas,
diantaranya mengubah bau khas minyak atsiri.
Adanya sebagian komposisi minyak atsiri yang kontak dengan
udara atau berada pada kondisi lembab mengakibatkan munculnya reaksi
oksidasi dengan udara (oksigen) yang dikatalisasi oleh cahaya. Akibatnya,
terbentuklah senyawa asam. Semakin banyak bidang kontak minyak atsiri
dengan udara, semakin banyak pula senyawa asam yang terbentuk.
Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri, terutama golongan aldehid,
dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga menambah nilai
bilangan asam minyak atsiri. Selain kontak langsung dengan udara, proses
oksidasi juga dapat disebabkan oleh tekanan dan temperature yang tinggi
saat proses menghasilkan minyak.

e. Kelarutan Dalam Alkohol


Telah diketahui bahwa alcohol merupakan gugus OH –. Karena
alcohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak
atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen

17
teroksigenasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guenther yang
menyatakan bahwa kelarutan minyakk dalam alcohol ditentukan oleh jenis
komponen kimia yang terkandung di dalamnya. Pada umumnya, minyak
atsiri yang mengandung persenyawaan terpen teroksigenasi lebih mudah
larut dibandingkan minyak atsiri yan mengandung terpen. Semakin tinggi
kandungan terpen, semakin rendah pula daya larutnya atau semakin sukar
larut. Hal tersebut disebabkan senyawa terpen tak teroksigenasi
merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional.
Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kelarutan minyak
atsiri dalam alcohol (biasanya alcohol 90%) maka kualitas minyak
atsirinya semakin baik.

18
BAB III
KESIMPULAN

19
DAFTAR PUSTAKA

20