Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

S DENGAN OTITIS MEDIA


SUPURATIF KRONIS STADIUM AKTIF (OMSK)

DI POLI THT RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA


Oleh :

1. Sundari Wiji Hastuti (2005.922)


2. Tina Istiqomah (2005.924)
3. Titien Susilowati (2005.925)

AKADEMI KEPERAWATAN PKU MUHAMMADIYAH

SURAKARTA

2008
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.

Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non
supuratif, yang masing-msing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis.
Otitis media supuratif kut (OMA) dan otitis media supuratif kronis (OMSK).
Otitis media serosa akut (basotrauma : erotitis) da otitis media serosa kronis
(glue ear).

Otitis media supuratif kronika (OMSK) atau otitis media perforata (OMP)
adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan
sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret
mungkin encer atau kental, being atau berupa nanah.

Otitis media superatif kronika ada 2 yaitu :

1. Otitismedia superatif kronika aktif

Yaitu telinga penderita terdapat kolesteatoma (dengan atau tanpa infeksi) atau
perforasi membran timpani kronika dengan infeksi (tanpa kolesteatoma)
dengan gejala otore.

2. Otitis media superatif kronika tak aktif

Yaitu telinga penderita perforasi membrana tympani kronika tanpa


kolesteatoma atau infeksi tetapi rentan terhadap infeksi dengan gejala
gangguan pendengaran.

2. Etiologi
Patogen tersering yang diisolasi dari telinga pasien dengan OMSK
adalah P.aeruginosa dan S. aureus. Bakteri anaerob juga sering ditemukan
dalam penelitian. Jamur biasanya jarang muncul kecuali bila terdapat super
infeksi pada liang telinga. (Buchman,2003).

Faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK yaitu :

1. Terapi yang terlambat diberikan.


2. Terapi yang tidak adekuat.
3. Virulensi kuman tinggi.
4. Daya tahan tubuh yang rendah (gizi kurang) atau higiene buruk.

C. Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala OMSK yaitu :

1. Kehilangan pendengaran
2. Otore intermiten (berbau busuk)
3. Tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut
4. Kemerahan
5. Oedema
6. Perforasi pada membran tympani

D. Patofisiologi

Otitis media akut dengan perforasi membran tympani menjadi otitis


media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan, bila proses
infeksi kurang dari 2 bulan disebut otitis media supuratif sub akut. Beberapa
faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat,
terapi yang tidak teratur, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien
rendah.
E. Pathway
Mikroorga Perawatan diri yang salah


nisme
Radang pada telinga


Lubang telinga tengah
Penurunan syaraf pendengaran


Menimbulkan peradangan
Gangguan fungsi pendengaran

Timbul otore, secara terus menerus

Infeksi

OMA

OMSK

Gangguan harga diri rendah

F. Komplikasi
1. Abses otak
2. Meningitis
3. Abses esktradural adalah suatu kumpulan pos diantara dural dan tulang yang
menutupi rongga mastoid atau telinga tengah, gejalanya antara lain telinga dan kepala
yang berat.
4. Abses subdural dapat timbul akibat perluasan langsung abses ekstradural atau
perluasan suatu tromboflebitis lewat saluran-saluran vena. Gejalanya demam, nyeri
kepala.

7. Penatalaksanaan

Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-
ulang. Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh bisa
disebabkan karena :

1. Adanya perforasi membran tympani yang permanen, sehingga telinga tengah


berhubungan dengan dunia luar.
2. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung dan sinus paranasal.
3. Sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid.
4. Gizi dan higiene yang kurang.

Beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dilakukan pada OMSK :

1. Mastoidektomi sederhana

Operasi pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif tidak
sembuh. Dengan tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari
jaringan patologik. Tujuannya supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair
lagi.

2. Mastoidektomi radikal
Operasi pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah
meluas. bertujuan untuk membuang semua jaringan patologis dan mencegah
komplikasi ke intrakranial.

3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (operasi bondy)

Dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik, tapi belum merusak
kavum timpani. Tujuan operasi ini membuang semua jaringan patologik dari
rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.

4. Miringoplasti

Operasi jenis paling ringan timpanoplasti, dikenal juga timpanoplasti tipe I,


rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani yang bertujuan
mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe benigna
dengan perforasi yang menetap.

5. Timpanoplasti

Operasi dikerjakan pada OMSK tipe benigna dengan kerusakan lebih berat atau
OMSK tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan
medikamentosa. Tujuannya menyembuhkan serta memperbaiki
pendengaran. (Soepardi, Arsyad, 1997 : 55-57)

Menurut Mills (1997) prinsip penatalaksanaan medis OMSK :

1. Membersihkan telinga secara adekuat.


2. Pemberian anti mikroba topikal
3. Bedah

H. Fokus Pengkajian

Pengkajian

1. Kaji ketajaman pendengaran dan ketrampilan berkomunikasi, membaca


bahasa bibir, catat, kartu pengingat.
2. Kaji penerimaan terhadap kerusakan dan ketrampilan yang dipelajari

1. Penilaian yang bagus


2. Ketakutan atau kecemasan
3. Marah, bermusuhan
4. Pemeriksaan telinga terhadap cairan, krusta

I. Diagnosa Keperawatan

1. Perubahan dalam persepsi-sensori yang berhubungan dengan kerusakan


pendengaran.

Kriteria hasil :

1. Pasien menerima pembatasan disebabkan oleh kerusakan pendengaran


2. Menggunakan ketrampilan yang dipelajari untuk berkomunikasi

Intervensi

1. Kaji tingkat kerusakan pendengaran


2. Beri penguatan penjelasan dokter tentang kerusakan pendengaran
3. Kaji dan buat cara berkomunikasi

2. Ansietas berhubungan dengan kerusakan pendengaran

Kriteria hasil :

1. Pasien memahami penyebab ansietas


2. Mendemonstrasikan tingkah laku positif dalam penanganan ansietas.
3. Melaporkan penggunaan dalam tingkat ansietas.

Intervensi :

1. Kaji tingkat ansietas


2. Dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan perasaan
3. Jelaskan perencanaan, perawatan dan libatkan pasien dalam perencanaan tersebut
4. Dorong berkomunikasi dengan orang terdekat

3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai


perawatan di rumah dan evaluasi.

Kriteria hasil :

1. Mendemonstrasikan pengetahuan tentang sumber yang tersedia


2. Memahami dan mendemonstrasikan penggunaan dan perawatan alat bantu
pendengaran
3. Mendemonstrasikan penetesan obat tetes telinga dengan akurat.

Intervensi :

1. Beri penguatan penjelasan dokter mengenai penyebab kerusakan dan penanganan


2. Jelaskan faktor keamanan yang penting dalam lingkungan rumah.
3. Instruksikan pasien dalam perawatan alat bantu pendengaran
4. Demonstrasikan perawatan balutan telinga dan penetesan obat tetes

4. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan penampilan fisik.

Kriteria hasil :

Menyatakan pemahaman akan perubahan dan penerimaan dari situasi yang


ada.

Intervensi :

1. Dorong dan dukung pasien dalam memberikan perawatan.


2. Dorong keluarga terdekat untuk menyatakan perasaan pasien.
3. Bantu pasien untuk mengatasi perubahan pada penampilan.
4. Kolaborasi berkaitan dalam program pengobatan.

5. Infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer.


Kriteria hasil :

Mencegah atau menurunkan resiko infeksi

Intervensi :

1. Kaji tanda-tanda vital


2. Tekankan pentingnya cuci tangan
3. Berikan perawatan khusus pada keluarga
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN OTITIS MEDIA
SUPURATIF KRONIS STADIUM AKTIF (OMSK) DI POLI THT

RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

A. Pengkajian

Tanggal pengkajian : 22 Mei 2008

Jam pengkajian : 08.45 WIB

1. Identitas

a. Identitas Pasien

1) Nama : Ny. S

2) Umur : 35 th

3) Jenis kelamin : Perempuan

4) Alamat : Surakarta

5) Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

6) Pendidikan : SMP

7) Pekerjaan : Swasta

8) Agama : Islam

b. Identitas penanggung jawab

1) Nama : Tn. M

2) Umur : 40 th
3) Jenis kelamin : Laki-laki

4) Alamat : Surakarta

5) Suku / bangsa : Jawa / Indonesia

6) Pendidikan : SMA

7) Pekerjaan : Wiraswasta

8) Agama : Islam

9) Hub. dgn pasien : Suami

2. Keluhan utama

Pasien mengatakan keluar cairan warna kuning, berbau pada telinga kanan
dan telinga kanan terasa nyeri, skala nyeri 4 (sedang), nyeri dirasakan saat
aktivitas, terasa senut-senut di telinga.

3. Riwayat keperawatan

a. Riwayat keperawatan sekarang

± 10 hari yang lalu pasien mengatakan telinga keluarga cairan


berwarna kuning, telinga kanan terasa nyeri, dan berbau, pendengaran
berkurang. Sebelumnya pasien sudah memeriksakan ke puskesmas tapi
tidak sembuh kemudian diperiksakan ke rumah sakit Dr. Moewardi
Surakarta ini.

b. Riwayat keperawatan dahulu

Pasien mengatakan pada waktu sekitar umur 8 tahun pernah jatuh dan
kepalanya sakit.

c. Riwayat keperawatan keluarga


Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit
keturunan dan menular.

4. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum : Baik

b. Tingkat kesadaran : Composmentis

c. Tanda-tanda vital : TD : 130/90 mmHg S : 36,0°C

N : 80 x/menit RR : 20 x/menit

d. Kepala : Mesochepal, rambut hitam panjang, bersih

e. Mata : Simetris kanan dan kiri

f. Telinga : Keluar cairan yang berwarna kuning, berbau pada telinga kiri,
gendang telinga pecah

g. Mulut : Tidak ada stomatitis, mukosa bibir lembab

h. Hidung : Tidak ada sekret, berfungsi dengan baik

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Otopraf 3 x 2 tetes

b. Amoxilin 3 x 500 mg

c. Cefadroxil 2 x 500 mg

d. Methyl prednison 2 x 500 mg

e. H2O2 3% 3 x 4 tetes

6. Data fokus

a. Data subyektif :
1. Pasien mengatakan pendengaran berkurang
2. Pasien mengatakan telinga kanan keluar cairan kuning
3. Pasien mengatakan nyeri pada telinga kanan

P : saat aktivitas

Q : senut-senut

R : telinga kanan

S : skala 4

T : hilang timbul

b. Data obyektif :

1. Adanya otore dalam telinga


2. Pasien tampak berulang suruh mengulang perkataan lawan bicara
3. Pasien tampak meringis menahan nyeri
4. Tanda vital : TD : 130/90 mmHg, Rr : 20 x/menit, N : 80 x/menit, S : 36,0°C
5. Gendang telinga pecah
6. Keluar cairan kuning dari telinga dan berbau
B. Analisa Data
No Data Etiologi Problem

1. DS : Pasien mengatakan nyeri Peradangan pada Nyeri akut


pada telinga kanan liang telinga

P : saat aktivitas

Q : senut-senut

R : telinga kanan

S : skala 4

T : hilang timbul

DO: - Pasien tampak meringis


menahan nyeri
No Data Etiologi Problem

- Tanda vital

TD : 130/90 mmHg

S : 36,0°C

N : 80 x/menit

Rr : 20 x/menit

2. DS : - Pasien mengatakan Penumpukan Gangguan


pendengarannya berkurang serumen persepsi
sensori
- Pasien mengatakan telinga kanan (pendengaran)
keluar cairan kuning

DO: - Adanya otore dalam


telinga

- Pasien tampak berulang kali


menyuruh mengulang
perkataan lawan bicara

3. DS : - Pecahnya Potensial
gendang telinga infeksi
DO: - Pecahnya gendang telinga

- Keluarnya cairan kuning dari


telinga dan berbau

C. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada liang telinga.


2. Gangguan persepsi sensori (pendengaran), berhubungan dengan penumpukan
serumen (otore).
3. Potensial infeksi berhubungan dengan pecahnya gendang telinga.
D. Intervensi Keperawatan

1. Dx. I
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 60 menit nyeri
hilang atau berkurang.

KH : a. Nyeri berkurang atau hilang

b. Skala nyeri 0-1

c. Pasien tampak rileks

Intervensi :

1. Kaji skala nyeri


2. Ajarkan teknik relaksasi
3. Lakukan perawatan pada telinga atau irigasi
4. Kolaborasi pemberian obat analgetik

2. Dx. II

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 60 menit


pendengaran baik atau normal

KH : a. Pasien tampak rileks

b. Pendengaran baik

Intervensi :

1. Kaji tingkat kerusakan pendengaran


2. Berikan cara komunikasi yang jelas
3. Lakukan pemeriksaan telinga
4. Kolaborasi dengan pemberian alat bantu telinga

3. Dx. III

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 60 menit


masalah infeksi teratasi sebagian.

KH : a. Pasien tampak tenang


b. Telinga bersih

Intervensi :

1. Kaji tanda-tanda infeksi ( tumor, dolor, kalor, rubor,fungsiolisa )


2. Lakukan irigasi atau cuci telinga dengan H2O2 3%
3. Anjurkan pasien tidak berenang dan menghindari masuknya air ke telinga
4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat tetes telinga yang mengandung
antibiotik dan kortikosteroid

E. Implementasi
Tanggal,
Dx Implementasi Respon Ttd
Hari, Jam

08.50 II  Mengkaji skala nyeri Skala nyeri 4


 Mengobservasi tanda-
III tanda infeksi Telinga keluar cairan
 Mengkaji tingkat kuning
kerusakan
pendengaran Pendengaran
I berkurang

09.00 I  Melakukan Telinga kiri nampak


pemeriksaan pada ada otore
telinga

09.15 I  Melakukan irigasi Pasien kooperatif


pada telinga

09.20 I  Melakukan spooling Pasien kooperatif


pada telinga

09.35 I  Memberikan obat Pasien tampak tenang


tetes pada telinga
yang sakit

09.45 II  Mengkaji keadaan Keadaan umum baik


umum pasien

09.45 II,  Mengukur tanda- TD : 130/90 mmHg


III tanda vital
S : 36,0°C

N : 80 x/menit
Tanggal,
Dx Implementasi Respon Ttd
Hari, Jam

Rr : 20 x/menit

09.50 III  Menekankan pada Pasien kooperatif


pasien untuk sering
cuci tangan

10.00 III  Menganjurkan pasien Pasien kooperatif


tidak berenang dan
menghindari
masuknya air ke
telinga yang sakit

F. Evaluasi
Dx Tgl/jam Evaluasi Ttd

I Kamis S : Pasien mengatakan telinga kiri masih terasa


nyeri
22 Mei 2008
O : - Pasien tampak memegang telinganya
10.00
- Skala nyeri 3

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

 Bantu dalam komunikasi dengan orang


lain

II Kamis S : - Pasien mengatakan pendengarannya masih


terganggu
22 Mei 2008
- Pasien mengatakan
10.00
O : - Pasien nampak masih bertanya jika diajak
bicara

- Pasien tampak mendekatkan telinga


Dx Tgl/jam Evaluasi Ttd

kepada lawan bicara

A : Masalah gangguan persepsi pendengaran


belum teratasi

P : Intervensi dilanjutkan

III Kamis S:-

22 Mei 2008 O : - Telinga kiri nampak otore berkurang

10.15 A : Masalah infeksi belum teratasi

P : Intervensi dipertahankan

 Lakukan pemeriksaan dan irigasi telinga


 Kaji tanda-tanda infeksi
 Kolaborasi dalam pemberian antibiotik
DAFTAR PUSTAKA

Adam S, George, L., 1994, ..----- Buku Ajar THT, EGC, Jakarta.

Arhs,H A. 2001. Intratemporal and Intracranial Complications of Otitis Media In ;


Head and Neck Otolaringology Volume 2..3 th Ed.Bailey,B.J.et al (Eds).New
York::Lippincott Willims and Wilkins Pp:1760-2

Buchman,C.A.et al.2003.Infection of The Ear.In:Essencial Otolaryngology Head


and Head Surgery .8th Ed.Lee,K.J (Eds) New York:Mc-Graw Hill Pp:484-6

Mills,R.P.1997. Management of Chronic Suppurative Ototis Media. In:scott-


browns Otolaryngology.6th Ed.Booth,J.B(Eds) Oxford:Butterworth-
Heinemann. Pp:3/10/1-8

Gody, D. Thone, R., 1991, Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan, EGC,
Jakarta.

Soepardi, Arsyad, E., 1998, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-


Tenggorokan, FKUI, Jakarta.

Tucker, Martin, S., 1998, Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan,


Diagnosis dan Evaluasi, EGC, Jakarta..