Anda di halaman 1dari 37

Kharisma Sebuah Keris

KERIS adalah salah satu karya bangsa yang adhiluhung, yang sudah diakui sebagai
kelompok heritage terbaik karya umat manusia

Oleh : Suryanto Moekayat

Keris adalah Alat buah karya Budaya Manusia Generasi Masa Lampau, untuk memenuhi
tuntutan keadaan, agar Sejahtera menjalani kehidupan dan tantangan Masa itu. Keris
menjadi Sifat Kandel, memberikan Konfidensial Level bagi pemiliknya bahkan pernah
juga dianggap Andel2
Suatu Negara, yang memberikan Phsychological Power Bagi Para Prajurit dan Rakyatnya
dalam menghadapiAncaman baik yang Kasat mata dan Tidak Kasat Mata. Tetapi tetap
kembali Berpulang kepada Manusia yang berada disekelilingnya dalam upaya nyata
menghadapi ancaman2 itu dengan menyandarkan The Ending Result Kepada Sang Maha
Pencipta.

Kalau kita menerawang kemasa lalu, keadaan di tiga ratus tahun Lalu, ditempat ini
diBilangan Dago, andai kita bisa berada disana, dan hendak ke Alun2 Bandung saja kira2
dengan jarak kurang dari 10 km apa saja yang kita jumpai ? Ada Hutan yang masih lebat
dengan segala macam isinya Macan loreng,macan tutul, macan
kumbang,Ular,Buaya,Beruang, Serangga berbisa, Tumbuhan Ri Bebondotan dan sungai2
tanpa jembatan, jungur curam, belum lagi Bangsa nya yang kejem2 Begal Kecu dan
jangan lupa kalau sudah dirembang petang gelap nya lalu munculnya yang bisa serem2
Bangsa Lelembut seperti Ilu2, Banaspati, Wewe, Gandarwo, Peri ,Wedon
,Dedemit,Glundung pringis, Engklek2 Balung Atanggak dan yang serba Tidak
Wajar,membayangkan saja Pasti sudah menguras Nyali. Lalu ndak jadi pergi ? Pada hal
sangat perlu sesuai kontek keperluan saat itu misal perlu ”Prusi”.
Pendek nya harus berangkat, Pakai Arit? Pakai Pedang? Pakai Tombak? Bawa Obor?
Mungkin Hiya, tetapi tetap saja belum dirasa mencukupi. Apa lagi Bawa Dompet dengan
lembaran 2 Ratusan Ribu dan Kredit dan ATM Card bagaimana? Tidak laku! Kita baru
akan punya rasa percaya diri jika sudah nyengkelit Sebilah Keris/Kujang Andalanya apa
Kyai Jalak, apa Kyai Pulanggeni,apa Kyai Kebo Lajer, apa Kyai Sengkelat, Kyai Kolo
Misani!
Kalau hal seperti itu kemudian dipandang ke jaman sekarang lalu kurang sesuai lagi.
Mau ke alun-alun Bandung harus Bawa Dompet dengan lembaran 2 Ratusan atau Credit
Crad.
Credit Card biasa bisa disetarakan Keris Pusaka biasa, Makin ke Platinum ya ibarat
Ngagem Kanjeng Kyai (Keris Pusaka kelas Atas) makin PD begitu.

Asal Usul
Keris, seperti halnya Karya Manusia lain nya tentu melalui phase awal hingga ketataran
yang lebih baik dan lebih baik lagi. Jadi sekiranya hendak didiskusikan asal usul keris
tentu nya lalu ada banyak versi. Seperti hal nya Polemik Asal usul Manusia. Apa hanya
dari satu sumber Eyang Adham dan Eyang Siti Khowo atau kah hasil Evolusi Theory
Darwin dari Primata menjadi Homosapiens ??? Jadi menurut Penulis tidak perlu
diperdebatkan untuk mencari Kebenaran yang Ter.
Yang jelas Kita masih bisa mendapatkan Pemberitahuan Gaya Nenek Moyang berupa
Cerita Run Temurun ,Gambar2 Candhi, Prasasti, Suluk2 dan Sanggit serta Ilmu
Kacurigan dan Metaphisika untuk menggali informasi2 itu, lalu syukur2 bisa dijadikan
Manuscript dijadikan Mata pelajaran Pilihan agar Karya Adhiluhung itu bisa dilestarikan
apalagi bisa dikembangkan lebih actual dengan Kekinian Zaman kita.
Dari Ilmu Kacurigan, kita diberitahu tentang Gotro Keris Lurus dan Luk dengan Ricikan2
nya yang bisa menjelaskan Jenis/Golongan /Dapur dari Keris itu. Dari Pamor/Motif yang
tergambar dibilah nya bisa mengetahui Tangguh/Zaman/Daerah Sang Empu (Pembuat
Keris). Demikian pula ilmu Kacurigan memberitahukan Jenis2 Wesi Aji bahan Keris
yang memiliki ciri2 dan sifat2 serta manfaat kegunaan. Tentunya juga ada tata cara
Pembuatan Keris Zaman itu sebelum ada Batu Bara atau Pemanas lainnya mencapai suhu
diatas 1000C kecuali Arang Kayu dan panas Bumi. Terakhir bagaimana merawat agar
tetap memiliki Performance sebagaimana digagaskannya.
Di Candi Borobudur yang dibangun Arsitek Candi Sang Gunadharma tahun840 an, saat
dipugar ditemukan dibawah Kubah nya ada sebilah keris ”MOJOPAHIT” lengkap
denganWarongko utuh ??? Sekarang Keris itu disimpan di Leiden. Memastikan itu adalah
Keris Mojopahit Buatan tahun 1400, adalah kurang tepat.
Itu satu kenyataan yang diingkari Bahwa zaman Pembangunan Borobudur, Keris sudah
menjadi suatu bagian Penting dari kehidupan Masyarakat saat itu. Moga2 keris itu bisa
diminta kembali untukditempatkan di Moseum Borobudur, sebagai gantinya bisa
dibuatkan duplikatnya !!!
Banyak penelitian mendapatkan kesimpulan bahwa keris mulai terungkap sekitar abad ke
X. Namun sejarah versi Tradisionil,Kitab Jitabsoro dll menuliskan bahwa mPu Ramadi
tadinya Pertapa/Wiku di gn Merapi diajari tentang semua jenis Tosan/wesi oleh
Penembahan Karang yang bernama Kyai Mudik Betoro. Lalu bersama Puteranya mPu
Hanggajali dan Cucu2 nya mPu Radya, mPu Cokaryo,mPu Sandi,mPu Sakya dan mPu
Isaka mulai membuat pusaka2 yang indikasikan pada tahun Bulan 152 atau juga tahun
Masehi . Karena tahun Matahari berbeda 3 hari tiap seratus tahun.
Karya pertama mbabar Sang Larngatap berupa Keris Lurus dengan ricikan dua sogokan
sampai puncak,tidakada grenengan dan kembang kacang. Nah itu adalah informasi
tentang Keris yang dibuat dengan dasar pengetahuan tentang Tosan Aji yang diikuti para
mPu hingga sekarang. Benar atau tidak tergantung Masing2 saja. Percaya monggo
ndakpercaya monggo toh ini suatu Wacana.

Ricikan Sebilah Keris


Keris ada keris Lurus dan ada keris luk, dengan ricikan yang diberikannya menjadi kanya
terindentifikasi sebagai Dapur (tiruan Keris Pusaka Aslinya).
Keris terdiri dari Pesi yang ditancapkan ke Pegangan/ukiran, Gonjo dan Wilah.
Nama ricikan utama :
1. Pesi mekipun bagian lain utuh,namun jika pesinya rusak, keris itu cacat
2. Sirah cecak
3. Jangga
4. Waduk
5. Buntut
6. Ganja ,ada ganja iras yang menyatu dan ganja susulan yang pisah dengan wilah

Ada ganjasirah cecak,buntuturang ,gulu melet,gendok dansabit ron. Selain itu ada ganja
Kinatah dihiasi mas,ganja sekar dihiasi pamor,ganja mas kumambang pamornya diatas
saja dan ganja wulung polos. Selain itu ada juga istilah Ganja sebit rotan, Ganja
cecak,ganja tekek,ganja Uceng mati,ganja Cangkem Kodok,ganja Dungkil,ganja
Wilud,ganja KelapLintah dan ganja Sepang.

7. Lambe gajah

7. Lambe Gajah
8. Wadidang
9. Bungkul
10. Pejetan ,kalau dirasa seperti hasil pejetan tangan
11. Gandik
12. Kembang kacang
13. Jalen
14. Tikel Alis
15. Sogokan ngarep
16. Sogokan buri
17. Sor soran
18. Gulomilir
19. Kruwingan
20. Gusen ngarep
21. Gusenburi
22. Hada hada
23. Kudup
24. Pudak sategal
25. Sraweyan
26. Eri Pandan
27. Thingil
28. Jenggot

Bahan Keris dan Pamor


Para leluhur kita sangat menghargai bahasa sanepan sehingga perlu pengertian yang
sangat cukup memahami maksud nya. Namun mulai ditelitinya beberapa keris tangguh
kuno (maklum mesti merusak) bahwa Besi2 Aji bahan Keris menurut Babon Kitab Kuno
dikenal Logam bahan dasar diantara nya :
BesiKarangKijang,Pulosani/purosani,Mangangkang,Walulin,Katub,Kamboja,Ambal,Win
duadi,Tumpang,Werani,Welangi,Terate,MaleloRuyun,MaleloKendogo,Kenur,Tumbuk,Ba
litung.
Setelah menjadi sebilah keris/tumbak, Merupakan paduan Besi(Fe) dengan unsur2 logam
lain tergantung Tangguh nya (pak Haryono Arumbinang) :
1. Keris Tangguh Pajajaran Fe , As dan Ti
2. Keris Tangguh Sedayu Fe,As,Ti,Cr,Sn,Sb,Ag dan Cu
3. Keris Tangguh Mataram Fe,As,Ti,Ni,Sn dan Sb
4. Pedang dapur Sabet Fe, As,Ti,Cu dan Sn
5. Tumbak Luk 11 Fe,Ti,Ad,Sn,Ag dan Ca
Jadi tidak lah benar bahwa anggapan keris2kuno selalu menggunakan banyak unsur Ni
Yang dikenal Pamor Luwuk,.ternyata justru menggunakan titanium yang
banyakdigunakan untuk memperkuat logam dan ringan ( catatan Umum nya Material Air
Craft Engine danAerospace component diberi paduan Titanium).Dan agar diketahui pula
Pasir besi dipantai selatan P Jawa rata2 mengandung TiO2 yang tinggi.Coba diteliti, saat
eksploitasi Pasir besi Cilacap dengan Ti hingga 17% ke USA, dengan pengembangan
pesawat SR 71 atau Ulang Alik yang body nya dilengkapi lapisan Titanium tahan suhu
tinggi. Jadi kalau Keris sudah memakai bahan besi berkadar Ti tidak mustahil. Lalu
,Siapa lagi yang mau susah payah mengadakan penelitian ?

Pamor Keris
Bagian yang membuat keris memiliki penampilan logam yang berbeda dengan sesama
senjata Karya Bangsa lain adalah karena Ber Pamor.
Besi pamor sendiri ada 3 jenis :
1. Meteorit (mengandung besi dan nikel)
2. Siderit (mengandung besi saja)
3. Aerolit (berupa batu keras disebut batu Pamor)

Kyai Pamor , di Kasunanan Surakarta adalah Meteorit yang jatuh diPrambanan. Oleh Sri
Paku Buwono III tahun 1784 diambil dibawa ke Surakarta. Meteorid yang berat nya
40Ton juga pernah diambil dari Prambanan oleh Sri PakuBuwono IV tahun 1797 !!!
Dijadikan Kyai Pamor yang digunakan mbabar keris2 Pusaka ageman Kraton.
Menurut Pak Pirngadi 1930, bahwa kebanyakan besi Pamor yang diperdagangkan masa
itu disebut Pamor Bugis yang sebenarnya batu Nikel berasal dari pegunungan Torungku
dan Ussu di Luwu – Banggai.

Ada beberapa jenis Pamor menurut Udowadono ( keadaan menetapnya Pamor) dan
Jwalono pamor yang terbentuk sendiri . pamor Anukarto terbentuk dengan disengaja
oleh mPu pmbuatnya.
Menetapnya Pamor pada Wilah bisa Mlumah sejajar permukaan Wilah, Miring artinya
berdiri miring atau tegak lurusdengan permukaan Wilah. Pamor ngambang, seolah
menempel saja. Sedang sifat pamor bisa Ngawat, Ngrambut, Nungkak, Netep, Pandhes,
Sap sapan.
Penamplan bisa Mubyar, Kelem, Keras dan Welu (pucat)
Pamor Titipan atau Akhadiat sangat dihargai.
Pamor munggul seperti bisul dipercetakan seperti huruf timbul, juga sangat dihargai.
Pamor jenar kekuning kuningan (bukan besi kuning godo R Setyaki/Menakjinggo)

Pamor wirasat bentuk nya aneka macam seperti Kul Buntet, Batu Lapak, Pancuran Mas
diantara 90 jenis pamor wirasat yaitu : Kuthomesir,Rojo Gundala, Ujung Gunung,
Tumpuk, Tlagamembeng, Purnomodhadari, Udan Mas, Kancingkulino, Satriyo
Pinayungan, Sodo Saler, Alur,Dewoto, Adeg 3, Adeg2, Rojo bolo Rojo, Tunggak semi,
Singkir/Adeg 1, Tangkis, Slewah,Simbang kurung, Simbang Patawe, Simbang rojo,
Buntel Mayit,Kudhung mayit, Nerjang, Pegat wojo, Pedhot dan Belah pucuk.

Pamor Rekan atau Anukarto : Pamor Dwiwarna, Triwarna,Moncowarno, Mas


Kumambang, Tambal, Simbar, Slewah,Tangkis, TejoKinurung/Wengkon/Tepen,Beras
wutah, Blarak sinered, Ron Dhuru, Ganggeng Kanyut, Walang Sinunduk, Kupu tarung,
Udan Mas, Sekar Pakis, Naga Rangsang, Korowelang.

mPu Pembuat Keris


Hingga Saat ini kita bisa berbesar hati dengan masih aktifnya mPu - mPu zaman kini
yang bisa meneruskan Naluri Budaya mBabar Keris, bahkan juga muncul mPu muda
yang bersemangat untuk berkarya. Marilah kita angkat Topi Salute kepada Beliau2 itu
mPu Jeno.
Barangkali akan ada mPu lulusan ITB ? Takut tidak bisa hidup mewah, tidak bisa
ngopeni istri cantik, nyekolahkan anak-anak?

mPu Leluhur dengan Karya2 nya :


1.mPu Ramadi thn 152 mbabar Sang Larngatap,Sang Pasopati,Sang Tjundrik Arum
2.mPu Isakadi thn 216 jaman Medang Siwandoto, mbabar Sang Jalak Dinding
3.mPu Sukmakadi thn 230 jaman Tulyanto, mbabar Sang Kolomisani.
4.mPu Bromogedali thn 261 jaman Medang Kamulan, mbabar Sang Tilam Upih, Sang
Balebang
5.mPu Saptogati thn 265 jaman Giling Wesi mbabar Sang JokoSerang, Sang Sempaner,
Sang Jontro
6.mPu Pudjogati thn 418 jaman Purwocarito mbabar Sang Sempono, Sang Bangodolog
7.mPu Songgogati thn 522 mbabar Sang Setan kobar, Sang Karagan
8.mpu Dewoyoso thn 522 jaman Wirotho mbabar Sang Ron Bakung, ,Sang
Yuyurumpung,Sang Dadap ngerak
9.mPu Dewoyoso II jaman Purwocarito ke3.mababar Sang Carubuk (Pusaka Ageman
Kanjeng Sunan Kali Jogo),sang Kebolajer dan Sang Kabor
10.mPu Sarpodewo thn 1062 mbabar Sang Tjarito, Sang Tjengkrong,Sang Urubing
Dillah,Sang Paniwen
11.mPu Ramajadi thn 827 mbabar San Pandowo, sang KarnoTandhing, Sang Bimo Kurdo
12.mPu Gondowiseso thn 941 mabar sang Megantoro,Sang Rarasjiwo
13.mPu Wareng thn 1103 jaman Pengging Witaradyo mbabar Sang
Lunggadung.,SangPendowoLare,Sang Supono
14.mPu Gondowijoyo thn 1125 jaman Pengging Witaradya mbabar Sang Mengeng,Sang
Carubuk II,SangBuntolo, Patrem Nyi Carang Buntolo,NyiPulut Bendo, Nyi Puthut
15.mPu Windhudibyo dan mPu Djonggo thn 1119 mbabar Sang Panji sekar, Sang Tjarang
Soko,sang Panjisinom.
16.mPu Kanaka thn 1130 jaman Pajajaran Makukuhan mbabar Sang Kalut,Sang
Bangwetan
17.mPuWelang thn 1150 jaman Pajajaran Makukuhan mbabar Sang Kukuhan
18.mPu Bayuaji thn 1150 jaman Cirebon, mbabar Kyai Setan Kober (pusaka Aryo
Penangsang/simbul Kodam Diponegoro)
19.mpu Damarjati Cirebon,mbabar Kyai Sabuk Klonthang, Kyai Lamakgodong
20.mPu Windhusarpo thn 1170 mbabar sang Brojol,Sang Betok,Sang Larbango
21.mPu Andoyosangkolo thn 1186 mbabar Sang Tilam Sari,Sang Parung Sari
22.mPu Khadjatsari thn 1228 mabar Sang Sinom Worawari
23.mPu Anjani thn 1248 jaman Pajajaran sigaluh ,mbabar Sang Djalak Ngore,sang Tjarita
Lentang,Sang Blarak Ijo,Sang Blabak.
24.mPu Martjukundo thn 1248 jaman Sunda Nyakrawati,mbabar Sang Djangkung , sang
Pandowo tjarito
25.mPu Kuwung ,mPu Kelengan tidak menghasilkan keris ternama (gagal).
26.mPu Hanggorekso thn 1303 Tapan Pajajaran mbabar San Jalak Sangutumpeng, sang
Sumelang Gandring, Sang Mangkurat, sang Magkunegoro
27.mPu Domas thn 1381 mbabar banyak sekali keris Sang Panimbal,sang Djaruman,Sang
Sepokal,Sang Sabuk Inten,Sang Mundarang,Sang Buto Ijo dan Sang Anoman
mPu tergolong tangguh Sepuh jaman
Jenggolo,Majapahit,Tuban,Maduro dan Blambangan.
28.mPu Sutopasana mbabar Kyai Tapadriyo
29.mPu Demang mbabar Kyai Gliyeng
30.mPu Deworogo jaman Sri Aji Joyo Boyo ndak kesebut karyanya
31.mPu Pujodewo jaman Majapahit mbabar kyaiGagak Ngore dan Kyai Gandawiso
32.mPu Supodriyo jaman Majapahit mbabar KyaiGanawiso
33.mPu Supongrani jamanMajapahit mbabar KyaiTohjiwo dan KyiWungkul
34.mPu Supohadi jaman Majapahit mabar kyai Blawong dan Kyai Buntu.
35.mPu Puthut Galuh jaman Tuban mbabar Kyai Bango Mampang
36.mPu Demangan dan mPu Dewarasajati mbabar KyaiBandar
37mPu Kuwung mbabar Kyai TedakSungging
38.mPu Salahito mbabar kyai Ulosabet
39.mPu Bekeljati dan mPuSiratiman mabar Kyai Rowangga
40.mPu Sriloja jaman Maduro mbabar Kyai Bodig
41.mpu Kaloka mbabar kyaiKuwung Kuwung
42.mPu Kisa dan mpu Akasa mbabar Kyai Gagak Banyu
43.mPu Kakap jaman Blambangan kurang jelaskarya2 nya.
44.mPu Bramakedali mbabar Kyai Hargakedali
45.mPu Luwuk mbabar kyaiLawung dan Kyai Gantar
46.mpu Lunglungan mbabar Kyai Maduraja
47.mPu Kebolungan mbabar Kyai Kocak
48.mPu Pitranggeni mbabar kyai Jalak anggon
49.mPu Jokosuro mbabar keris Kyai Ulowadon dan Patrem Nyi Pucuk
50.mPu Humyang jaman Pajang mbabar KyaiOmbak Banyu
51.mPu Lobang mbabar Kyai Bangonoleh
52.mPu Canthoka mbabar Kyai Kluwak mas
53.mPu Loo Ning mbabar Kyai Sanggo
54.mpu Japan mbabar Kyai BlarakSempal
55.mPu Tepas mbabar Kyai Udanangin
56.mPu Tunggulmulyo jaman Mataram mbabar KyaiJabar
57.mPu Manisjiwo tidak tercatat karya nya
58.mPu Loo Ning (dariPajang) mabar Kyai Laksa
59.mPu Tepasana mpu termasyur mbabar Kyai Pandengan ,Kyai Panurun,Kyai Bardan
60.mPu Sendang mbabar Kyai Babarlayar
61.mPu Setrobanyu mbabar Kyai Rogoulah dan Kyai Semarmesem
62.mpu Kithing mbabarKyai Kandhangdewo
63.mpu Luyung jaman Kartosuro mbabar KyaiWadaspolah,KyaiJamurdipo, Kyai Bawuk
64.mpu Kasub mbabar Kyai Padang dan Kyai Brojokeso
mPu yang belum disebut yang tidak kurang hebat nya adalah mPuBanyakwide
dariPajajaran dan juga
65.mPu Gandring dariKediri yang terkenal mbabar Keris Pamengkang Jagad,yang minta
darah 7 orang Petinggi Singosari/
66.mPu Supo yang mbabar Kyai Sangkelat , Kyai Nogososro
67.mPu Kumolo dari Sedayu.
mPu jaman Surokarto
68.mPu Brajokaryo,
69.mpu Brojoguno (yang keris2 nya bisa nembus uang logam),
70.mpu Tirtodongso,
71.mpu Sutowongso,
72. mpu Japan I dan mpu
73.Japan II
74.mpuSingowijoyo,
75.mpu Japamantra,
76.mpuJayasukatgo,
77.mPu Mantrawijoyo,
78.mpuKaryosukatgo,
79.mpuWirosukatgo,
80&81.mpuKaryosukatgoII dan III,
82.mpu Japan III dan
83mpu Projodahono.
84mpu Jeno
85mpu Pausan
86mpu Subandi
87mpu Daliman
88mpu Suyanto
89mpu Sukamdi
90mpu Sukoyo
91mpu Rudy Hartono
dll

Jadi sebenarnya dari dulu hingga sekarang Negeri ini tidak putus-putus nya memiliki mpu
maupun para ahli Metalurgy. Hebat bukan.

Dapur Keris
Merupakan tiruan keris pusaka babaran para mPu Kuno yang disebut diatas, yang bisa
ditabelkan dengan unsur2 Ricikan yang ada 27 an jenis Kesamping, sedang kebawah
terdiri Macam2 Dapur Keris 124 jenis seperti dibawah ini :

Keris Lurus
1. Dapur Panjianom 2. Dapur Jokotuwo 3. Dapur Betok 4. Dapur Karnothinanding 5.
Dapur Semar Betak 6. Dapur Regol 7. Dapur Kebo Teki 8. Dapur Jalak Nguwuh 9. Dapur
Sempaner 10. Dapur Jamang Murup 11. Dapur Tumenggung 12. Dapur Pasopati 13.
Dapur Tilam Upih 14., Dapur Condong Campur 15. Dapur Jalak Dinding 16. Dapur Jalak
ngore 17. Dapur Jalak Sangutumpeng 18. Dapur Mendarang 19. Dapur Mesem 20. Dapur
Semar Tinandu 21. Dapur Ron Teki 22. Dapur Sujen Empel 23. Dapur Kelap Lintah 24.
Dapr Dungkul 25. Dapur Yuyu Rumpung 26. Dapur Brojol 27. Dapur Laler Mengeng 28.
Dapr Puthut 29 Dapur Jalak Sumelang Gandring 30. Dapur Mangkurat 31. Dapur Mayit
Miring 32. Dapur Kala Munyeng 33. Dapur Pinarak 34. Dapur Marak 35. Dapur Jalak
Tilam Sari 36 Dapur Tilam Sari 37. Dapur Jokolola 38. Dapur Wora wari 39. Dapur Kala
Misani.40. Dapur Tundung Madiun.

Keris Luk Tiga


1. Dapur Jangkung Pacar 2. Dapur Mahesosuko 3. Dapur Maheso Nempuh 3. Dapur
Wuwung 4. Dapur Mayat 5. Dapur Jangkung 6. Dapur Tebusauyung 7. dapur Bangodolog
8. Dapur Larmotho 9. Dapur Campur Bawur 10. Dapur Segoro Winotan.

Keris Luk Lima


1. Dapur Sinarasah, 2. Dapur Pudak Setegal, 3. Dapur Pulanggeni (Kanjeng Kyai
Pulanggeni pusaka R Herdjuno), 4. Dapur Pandowo 5. Dapur Anoman 6. Dapur
Kebodengen 7. Dapur Kala Nadah (KK Kala Nadah Pusaka R Abimanyu) 8. dapur
Pandowo Lare 9. Dapur Urap Urap 10. Dapur Nagasariro 11.Dapur Kebo Dendeng, 12.
Dapur Pandowo Cinarito.

Keris Luk Tujuh


1. Dapur Kidang Mas 2. Dapur Balebang 3. Dapur Carubuk 4. Dapur Juranguyung
5. Dapur Nagakeras 6. Dapur Sempono punjul 7. Dapur Sempono bungkem 8. Dapur
CaritoKasabdo 9. Dapur Angen angen.

Keris Luk Sembilan


1. Dapur Sabuktampar 2. Dapur Carito Kanowo 3. Dapur Butoijo 4. Dapur Sempono
Klenthang 5. Dapur Kidang Mas Masan 6. Dapur Sempono 7. Dapur Jurudeh 8. Dapur
Panimbal 9. Dapur Carang Soka 10. Dapur Kidang Soka 11. Dapur Paniwen 12. Dapur
Jaruman 13. Dapur PanjiSekar 14 Dapur Pandengan 15Dapur Tundung Mungsuh 16.
Dapur Ganjur.

Keris Luk Sebelas


1. Daur Carito Bungkem 2. Dapur Waluring 3. Dapur Joko Wuru 4. Dapur Sabuk Tali
5.DapurCaritoGandu 6. Dapur Carito Prasojo 7. Dapur Carito Keprabon 8.Dapur Carito
Daleman 9. Dapur CaritoGrenengan 10. Dapur Sabuk Inten 11. Dapur Naga Kikik 12.
Dapur Naga Ngikik.

Keris Luk Tiga belas


1. Dapur Kantar 2. Dapur Parung Sari 3. Dapur Johan ManganKolo 4. Dapur Caluring
5. DapurLunggadung 6. Dapur Sepokal 7. Dapur Korowelang 8. Dapur Bhimokurdo
9.Dapr Naga Seluman 10 Dapur Sangkelat 11. Dapur Naga Sosro.

Keris Luk Limabelas


1.Dapur Sedet 2. Dapur Raga Pasung 3. Dapur Carito Buntolo 4. Dapur Raga Wilah 5.
Dapur Mahiso Nabrang.

Keris Luk Tujuhbelas


1. Dapur Ngamperbuto 2. Dapur Kancingan

Keris Luk Sembilan Belas


Dapur Trimurda

Keris Luk Dua Puluh Satu


1. Dapur Kala Tinantang 2. Dapur Indrajid 3. Dapur Trisirah

Keris Luk Dua Puluh Lima


Dapur Bhimo Kurdo

Keris Luk Dua Puluh Tujuh


Dapur Anggowirun

Keris Luk Dua Puluh Smbilan


Dapur Kolo Bendu

Jadi Dapur merupakan Pakem Gotro Keris sejak Keris Pusaka yang Asli Pertama kali di
babar, ditiru dan digunakan hingga sekarang. Mengenai nama-nama yang mudah kita
cerna sebagaimana bahasa Jawa sekarang apa merefleksikan hal itutidak banyak berubah
sejak awal nya? Jadi apa hal ini lalu bisa diterima begitu saja? Sekali lagi mari kita terima
dengan positip thinking. Toh jika digunakan Namanya juga Gagah , Cantik dan
Berwibawa.
Guna menambah keindahan ,kewibawaan sebilah keris adakalanya diberi lapisan Emas
(Sinarasah Emas), diberi Berlian dan batu permata lain yang bernilai.

Mitos Tentang Keris dan Pusaka


Pada jaman Rasional seperti sekarang ini, mitos tentang Doyo Linuwih dipandang
bermacam macam. Yang ekstreem percaya bahwa Doyo sebuah Pusaka dianggap
Menduakan ALLAH SWT alias Musrik Berat, juga Doyo itu dianggap berasal dari
kekuatan Supranatural yang cenderung di anggap Ilmu Hitam. Akibatnya lalu Keris dicap
sebagai bagian dari Berhala yang harus dijauhi. Soal ini dalam kontek Budaya lalu ada
Pro dan Kontra.Simbol2 sebagai bagian Masa Lalu yang dianggap memiliki Daya Mistis
harus ditinggalkan Pendapat sebagian penerima faham Ke Esa An Tuhan Yang Maha
Kuasa utama nya Kaum Pemeluk Agama Islam.
Akibat dari itu, Keris dan Pusaka Peninggalan Masa lalu menjadi Salah ditangan Pewaris
nya, sehingga menjadi Koleksi Para Kolektor yang Banyak diantaranya Warga Keturunan
Tiong Hwa yang telah berhasil memiliki Kemampuan Financial, yang kecenderungan
bisa dijadikan Bisniss yang tidak boleh dianggap remeh. Contoh lain Batu
Permata/Akik/Aji.

Menyikapi hal tersebut sifat nya menjadi sangat Individue, terkait Kebebasan tanpa
merugikan Individue lain berdasarkan alasan yang bisa berbeda beda.
Sebagai Contoh :
Para Wali, hampir semua nya digambarkan memakai Ageman sebilah Keris. Alasannya ?
Sangat pas dengan masa itu.Dijaman sekarang misal USTADZ Aa Gym kemana memakai
ageman Keris, kan jadi aneh.
Para Raja dan Negara memiliki Gedong Pusaka dengan tradisi yang dilestarikan
meskipun ada modifikasi disesuaikan dengan keadaan masa kini Utamanya di Surakarta ,
Yogyakarta , Cirebon Kasepuhan.
Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto memiliki Pusaka2 yang dianggap Masyarakat
dikaruniai Doyo Linuwih.
Juga Pak Suharto, tentu memiliki keris-keris Tayuhan dan Ageman yang di jadikan
koleksi Museum di Taman Mini itu.

Ada beberapa cerita yang pernah Kami dengar dari beberapa kerabat antara lain sbb:
Kakek Somadihardjo yang merupakan Saudara Tertua Nenek penulis punya dua Pusaka
berupa Keris dan Tombak yang namanya tombak Konang. Ciri khas tombak ini panjang
wilahnyanya se Kilanan tangan si Empunya atau yang Jodoh dengan nya. Kisah yang
terjadi mungkn secara kebetulan, saat Banjir besar JamanJepang di kota Tulungagung
setinggi 2,5 meter di desa Botoran. Bajir yang tidak surut2 mebuat susah semua nya..
Sudah larut malam ndak bisa memejamkan mata, mendadak mengingatkan Kakek Soma
dengan Tumbak Konang. Setengah Emosi Kakek Soma menarik sarung dan
menghunjamkan nya Ke dalam air banjir yang menggenangi dalam rumah nya,sambil
setengah menghardik Ikut saya sudah begitu lama, kok terima2 nya/senang kebanjiran
seperti ini. Guna apa !!
Pagi hari saat bangun pagi, benar2 sulit dipercaya bahwa Banjir mulai surut.Jendela dan
pintu2 yang tadinya terendam sudah tampak dan dengan berjalannya waktu sejak itu Bajir
besar Jaman Jepang 1944 lalu surut. Allah Maha Besar Kuasa membuat segala
sesuatu,hanya cara nya pasti ada alat yang dipakai Baik melalui response Alam semesta
dan Lingkungan , dan bukan tidak mungkin secara kebetulan yang dilakukan Kakek
terhadap tombak Konang. Subhanallah ....
Hal yang lain terjadi, kejadian adanya ular Weling (sangat berbisa) yang tiba2 ada dan
berada dikamar Kakek Soma pada hari Kamis malam.Datang dan perginya tidak pernah
diketahui, biasa muncul kalau Kakek Soma Lupa untuk membelikan bunga Telon . ua
Pusaka itu lenyap tak tentu rimbanya saat Kakek Soma wafat, kedua pusaka itu tidak bisa
ditemukan oleh Puteranya bersama Saudara2 yang memeriksa Kamar Almarhum.
Percaya atau tidak Sebilah Tombak sekarang ada dirumahku, dari Peberian seseorang
(Ibu Brigjend Bambang Supangat) yang meminta ku Merawatnya. Tombak Konangkah
itu, mana ku tahu? Ternyata panjang wilahnya nya sekilan tangan ku !!!
Di Kota Tulungagung, ada gedong Pusaka yang dibuat sebagai Musium Budaya yang
khusus untuk menyimpan Pusaka2 Kabupaten Sepuh utama nya sebilah Tombak yang
dikenal Ked
Kanjeng Kyai Baru Klinting. Tombak ini konon dibuat dari penciptaan salah satu
potongan lidah Joko Baru Klinting ,Ular Raksasa yang diminta Empu Ramadi melingkari
Pucak Gn Merapi ternyata kurang sedikit lalu disambung dengan menjulurkan lidah nya
guna membuktikan bahwa dia sebenarnya Putra Sang Pertapa. Mengetahui hal itu lalu
dipotonglah lidah bercabang itu dan dicipta menjadi dua bilah Tombak. Pusaka Kanjeng
Kyai Baru Klinting dan yang lain adalah Kanjeng Kyai Upas yang dimiliki Kraton
Mataram Yogyakarta Hadiningrat. Percaya atau tidak, Pernah Kanjeng Kyai Baru
Klinting maujud ular raksasa di Pohon beringin desa Ringin Pitu di Tulungagung, yang
lenyap sendiri tanpa diketahui sebegitu siang malam dijaga puluhan polisi bersiaga
penuh. Beberapa sesepuh Tulungagung begitu percaya akan hal itu. ALLAH SWT
Mengaruniai Kota Tulungagung sebuah Tombak Pusaka yang dirawat dengan baik hingga
sekarang.
Pengalaman Pribadi, bahwa keluarga Bapak menurut Nenek Nyi Jepun Ibunda Bapak Ku
Secara Run Tumurun ada darah bakat Empu dan Dalang.Hanya hingga generasi saya
muncul, Keluarga sudah bercerai berai saat Penjajahan Jepang (Romusha). Menurut
Nenek Karya Pusaka Eyang2 Empu adalah Keris2 Umyang dan Eyang Dalang adalah
Ngruwat Kota Lodoyo tambar dari pengaruh Goro2 yang acap kali terjadi pada masa2
sebelum nya. Kota Ldoyo terkenal dengan sebuah Gong Kuno mBah Kyai Pradah.
Sebelum kejadian ini, perhatian dan naluri Ku terhadap Keris praktis tidak ada. Sampai
suatu ketika diMudik Lebaran di Tulungagung, saat kami berhenti mencari Minuman ada
seorang Bapak2 membawa bungkusan dan memberikan kepada Ku jika mau menerima.
Ternyata bungkusan tersebut sebilah keris sederhana tetapi kesanku Kuno. Semenjak itu
Saya akui perhatian dan naluri Ku terhadap Pusaka Keris mulai tumbuh. Waktu keris
tersebut saya bawa dan tunjukan pak Hardjono Alm (Ayahanda mbak Ratih Setpri
Presiden Gus Dur) , beliau lalu mengatakan bahwa keris tersebut Dapur Umyang,juga
sering disebut Buto Ijo ??!! Karena ada ukiran berupa sosok Manusia /Raksasa,
khususnya keris tadi gandig dan jalen nya kedua sisi berukir Dua Orang Wiku (Priya)
yang sedang berdoa. Beberapa bulan kemudian Saya mendapat kan sebilah Keris dari Om
Supriyono Alm dari Trenggalek, yang katanya sesuai pesan Kakek Ki Hardjonoto Alm,
Jika saat nya tepat.
Ternyata setelah menyerahkan Keris tersebut Beliau Om Supriyono Meninggal!!??

Ternyata Keris tersebut juga Keris dengan Dapur Umyang,hanya menurutku Keris untuk
Wanita yang juga disebut Patrem dengan gandig dan jalen nya kiri dan kanan Pertapa
Wanita berdoa. Dengan demikian saya memiliki dua bilah Keris dapur Umyang Laki
danPerempuan. Karena ukiran Keris yang satu dua orang Wiku (laki2) dan keris yang lain
Dua Wiku Putri, yang kedua nya sedang berdoa. Apakah ituberarti tanpa kusadari Pusaka
Karya Leluhurku kembali ke Pemilik yang masih darah daging nya, Waah ... tidak bisa
saya jelaskan.
Kakek Ku sendiri bernama Ki Atmoredjo, asalnya dari Desa Wajak Tulungagung. Beliau
ini sangat gemar Prihatin,sampai2 bertapa Ngluweng didalam Tanah. Dikalangan
Saudara2 nya paling bisa Nayuh Keris, Burung Perkutut. Salah satu Keris Umyang
sebenarnya Pusaka beliau yang kemudian diurus adik nya Ki Hardjonoto yang lalu
memesankan agar keris tersebut diturunkan kepada Ku.

Dan setelah saya ketempatan kedua bilah keris itu, saya memang lalu kebanjiran Keris
Ada Dapur Tilam Sari, Jalak, Semar Betak ,Pudak sategal, Sangkelat, Tejokinurung dan
Kyai Jatayu dan Dapur Tilam Upih dengan Pamor Dwi warna, sebilah tombak Lele
Sinunduk dan Tombak Kyai Konang (barang kali). Satu Tombak Kuno yang dipercaya
Ageman nya Bupati Banyak Wide (Bupati Madura jaman Singosari) membuat Ibu nya
anak-anak nyaris ....,sehingga terpaksa saya sapih ke Bapak Moro Sepuh, lalu dibawa
Adiku tanpa memberitahu Ku , membuat Keluarga nya berantakan. Sekarang dibawa
seorang Kawan Istri Adiku itu.... semoga bisa saya ingatkan ada sesuatu yang bisa terjadi
diluar kuasa kita.
Kisah Tombak berpamor Kul Buntet. Pak Royo seorang Purnawirawan TNI-AU punya
kisah Unik dengan tombak Kul Buntet ini. Yang mengalami pertama Waktu Romo dan
Ibunya melewati bulak ( jalan melalui sawah), yang sering ada Begal nya. Mengethui hal
itu yang tidak mungkin dilawan, dengan Mohon kepada Yang Maha Kuasa agar dengan
Tombak itu bisa selamat, lalu ada wisik agar Tombak diodot (ditarik sedikit dari sarung).
Romo dan Biyung Pak Royo terus berjalan meskipun dengan was2. Mereka berjalan
sambil siaga kalau dicegat. Apa yang terjadi seperti nya para Begal ndak mengetahui
kehadiran Romo danIbu nya yang berjalan dengan tegang melewati mereka (di Tlatah
Loano Purworedjo). Selamat lah berkat Pertolngan ALLAH melalui sifat Konfidence
dengan membawa Tombak Kol Buntet itu. Jauh setelah masa itu , Dalam kagungan pak
Royo Tombak Kol buntet itu Hilang entah bagaimana cara nya.Lama setelah itu ada
sesorang dari Jakarta mencari Pak Royo dan mengembalikan Tumbak itu. Bagaimana ini?
Pak Royo pun sangat keheranan. Rupanya si Tombak belum mau lepas dari pak Royo,
lalu mempengaruhi Pembeli itu untuk mengembalikan kepada Sipemilik, yang akhirnya
ditemukan diYogya yaitu pakRoyo.
Kasus Pak PAUL, Certifiying Agent Assembly GE-CT7 ENGINE CN235
Menjelang kepulangannya Ke USA,Kawan2 berencana memberikan tanda
mata.Akhirnyauju berupa sebilah Keris Dapur Nogososro senerasah Srikuning.Pagi itu
seminggu sebelum kepulangannya Kami memeriksa keris tersebut, sementara sejam lalu
Pak Paul pamit akan memeriksa Komputernya ke Kota.Saat semua kawan2 kumpul keris
Kyai Nogososro pada di lihat kawan2, setelash saya lukar dari Warongko,satu persatu
pada memeriksa detil Ketis tersebut. Pada giliran dik Imam Sedjati tiba2 secara
berkelakar Keris di acungkan keatas sambil berseru Hei Paul Kamu dimana? Setengah
jaman setelah acara itu dan kami masih berembug,geger disekretariat Direksi.Ada kabar
Pak Paul Meninggal serangan jantung !!!???
Semua pada saling melihat dan mremperhatikan keris tersebut..
Akhir nya tanda mata Keris Nogososro tetap kami serahkan keluarga yang datang hendak
membawa Jenasah pak Paul dalam acara ramah tamah perpisahan dengan Pengundang
Pak Paul yang sudah Almarhum yang jasadnya di Ruang Mayat RS
Boromeous....OPOTUMON?
Apa yang saya uraikan didepan Moga2 tidak salah menyikapi, bahwa semua itu sebagai
Anugerah yang dijodohkan ALLAH SWT khusus nya kepada penulis, sebagaimana yang
diLahirkan sebagai Bangsa Indonesia Suku Jawa. Tentunya saya merasa tetap perlu
memiliki Naluri Jawa Ku, disamping sebagai Bangsa Indonesia yang Asiatik dan sebagai
Muslim yang telah memperoleh Pendidikan Baik Formal dan informal serta mengenal
Teknology Kini dalam bidang Metalurgy dan Mechanikal System Perawatan Turbine
Engine.

Warongko
Kurang tuntas jika bahasan belum juga menyentuh Warongko, yang tidak kalah menarik
nya bila dipandang darisudut Seni dan Estetika sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan
yaitu Curigo Manjing Warongko sebagai perpaduan Dwitunggal nya sesosok Manusia.
Ada beberapa bentuk warongko keris, Ladrangan , Gayaman dan Sandang Walikat. Baik
Ladrangan dan Gayaman ada Corak Metaraman (Ngayogyan) dan Surakartan. Selain
yang dibuat secara Polos tergantung Kayu bahan nya , belakangan ini Warongko banyak
di ukir diberi gambar yang indah sekali dengan bahan2 bersepuh emas. Hal ini umum nya
untuk Keris2 Ageman yang dipakai acara ceremonial, yang membuat sangat bagus bagi
Pemakainya. Pendok adalah Hiasan bagian pangkal keris dan pegangan. Pendok ada yang
dibuat dengan teretes Berlian dan Batu 2 mulia seperti Red/Blue Zaphire, Zamrut.
Tanpa diukir atau disungging, Warongko terbuat dari beberapa Jenis Kayu juga tidak
kalah indahnya.
Kayu Timoho , selain berserat halus sering kali memiliki Noktah hitam mewarnai Kayu
nya. Ada yang boleng, ada yang Plenok2 bahkan ada yang bisa dibuat melintang seperti
Sabuk indah sekali yang dinamai Timoho Kendit.
Kayu, Trambalo juga merupakan kayu sangat bagus untuk Warongko.
Kayu Awar2 yang uratnya seperti di batik atau seperti Porselin sejuta retakan., sangat
menarik.
Kayu Tayuman yang sudah amatlangka dan tidak banyak lagi yang mengenali pohon nya.
Kayu Naga sari yang berumur ratusan tahun memberi serat yang Luar biasa.
Kayu Cendana wangi juga sering dipakai sebagai warongko Keris.
Kayu Setigi yang Konon termasuk Kayu Wingit juga ada digunakan sebagai Bahan
Warongko. Ada cerita Mas Permadi sampai-samapai harus ke Pulau Nusa Barung untuk
mendapatkan Kayu Setigi tersebut.
Kayu-kayu tersebut sudah sangat langka, jika tidak ada upaya pembudidayaan dalam
kurun waktu yang tidak lama akan punah.Karena tiap pihak hanya mau memanen
mengandalkan sumber alam saja.
Pernah ada kisah Warga Ciranjang- Cianjur, bahwa mereka sebenarnya masih keturunan
Mataram, yang atas persetujuan Prabu Siliwangi boleh mengelola wilayah disekitar itu,
yang konon banyak terdapat pohon2 untuk warongko,landean tombak dan batu besi
bahan Senjata seperti Keris dan Tombak.
Keterangan2 masih ingin ditambah terus dengan materi terkait dan untuk memperkaya
wawasan, semua ini bisa dikoreksi di sempurnakan, bersama Buku/tulisan tentang
Perkerisan lain nya untuk bisa saling melengkapi, agar menjadi informasi yang semakin
berguna lengkap dan mudah dicari menjadi Rujukan , termasuk dari kitab-kitab Kuno
Para Leluhur jaman Dahulu yang tidak mudah ditemukan.

Perlunya Keris di Jadikan Mata Pelajaran Pilihan


Agar supaya Budaya keris tidak Punah justru bisa berkembang, harus ada diajarkan
dalam pelajaranPengetahuan Umum terkait Warisan Nenek Moyang yang sekarang sudah
diakui sebagai Warisan Bangsa di Dunia mendampingi Gamelan dan Wayang Purwo.
Dalam kontek tersebut belum ada satupun sekolahan bahkan Perguruan Tinggi yang
secara resmi Memiliki Mata Pelajaran Pilihan yang bisa diakses oleh Mahasiswa yang
berminat. Akhirnya semua Warisan Nenek Moyang justru dihargai dan diakui milik
Bangsa Lain yang lebih tajam dalam melihat visi Kedepan.
Pendekatan kepada ITB telah diupayakan, menunggu response Pihak ITB rupanya lalu
mandeg,karena kesibukan rutine yang menelan segala keinginan untuk hal-hal yang tidak
mendesak selain keperluan jangka Pendek.
Oleh karena nya diperlukan Volenteer barang kali seperti Bpk Basuki Wiwoho yang bisa
memperkuat upaya ini,sehingga bisa terealisir Keris menjadi Mata Pelajaran Pilihan yang
tentunya bisa digalakan melalui Rangsangan2 yang bisa memberikan motivasi para yang
berminat.
Sudah dibuktikan oleh mpu Sukoyo Yang memilih jadi mpu katimbang Bangkir dan mpu
Rudy Hartono lulusan PETRA yanbg dimuat dimajalah KERIS bahwa karya2 keris baru
yang tak kalah indah nya `bisa laku puluhan juta.Pada hal dalam sebulan bisa mbabar
berkarya lebih dari 5 bilah keris, bisa menghidupi kebutuhan hidup.Jadi jangan kecil hati
asal benar2 bertekad,karya2 berupa kerispun tidak kalah bergengsi nya. Begitu statement
nya.

*Diungkap juga dari berbagai sumber yang Kami Hormati


Eyang Ronggo;Pak Kusni;Ki Djojodiahardjo,Ki Hudoyo Doyodipuro,Occ; Eyang Djoko Lawe;Bpk. Moro
Sepuh Prawoko Yoedhorahardjo, Bpk,. Suroyo Bambang; Mas Djon alm (MASTRIP);Bpk Basuki
Wiwoho,Bpk Darmawan Wiroreno, Mas Priyo Brodjonegoro,Bpk. B Sidartanto B; M Ng Wirosoekadgo;
Ki Lumintu;Bpk Harinuksmo;Bpk. P.Guritno,Dr.Ir. Mardjono ,Majalah Keris dll nya.

Sejarah Keris Dan pembuatnya


KERIS MPU GANDRING
Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya
Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena
kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan
pemakainya, ken Arok.
Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu
Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang
brahmana bernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada
Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir
mustahil dilakukan oleh para “mpu” (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti)
pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang
dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi “ditransfer” kedalam keris buatannya itu untuk
menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.
Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki
kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu
Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi
sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang
menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris
tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon
menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya
bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan
supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah
kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa
Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam
perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan
Singhasari.

KERIS BUDDHA dan PENGARUH INDIA, TIONGKOK


Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Buddha dan Hindu.
Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang
mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya.
Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.
Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau
lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga
Knaud, didapat dari Sri Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik
Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342 Masehi), meski ada yang meragukan
penanggalannya.
Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam)
yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat
keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.

KERIS "MODERN"
Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern
yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada
masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18).

Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai “keris kuno” dan
“keris baru” yang istilahnya disebut nem-neman ( muda usia atau baru ). Prinsip
pengamatannya adalah “keris kuno” yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan
bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena
belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai
masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya
mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris
baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari
hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel
kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau
sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan penelitian
Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN
Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban,
dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum
(warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah
“keris kuno” , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri
pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih
ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang,
pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di
Indonesia.

Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari
daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata
mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium, stanum, stibinium,
perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya
satu keris yang mengandung nikel.
Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu
( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll.
Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari
pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop
radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris
baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.

KERIS EMPU PANGERAN SEDAYU


Menurut cerita rakyat, di masa mudanya bernama Supa Mandrangi. Karena
ketekunannya, ia menjadi empu yang mahir. Keris-keris buatannya selalu indah dan
disukai banyak orang. Karena itu Supa Mandrangi dan adiknya yang bernama Supagati
berniat untuk mengabdi pada Keraton Majapahit.
Kebetulan sewaktu ia datang ke keraton, saat itu Majapahit sedang geger. Pusaka
kerajaan yang bernama Kanjeng Kyai Sumelang Gandring hilang dari tempat
penyimpanannya di Gedong Pusaka. Ki Supa Mandrangi lalu dipanggil menghadap raja.
Sang Raja bertitah, jika Empu Supa sanggup menemukan kembali keris Kanjeng Kyai
Sumelang Gandring, maka raja akan berkenan menerima pengabdiannya di Keraton
Majapahit, dan akan dianugerahi berbagai macam hadiah.
Ki Supa menyatakan kesanggupannya.

Setelah memohon petunjuk Tuhan, empu muda itu bersama adiknya berjalan ke arah
timur, sesuai dengan firasat yang diterimanya. Selama dalam perjalanan Ki Supa
menggunakan nama Empu Rambang. Nama ‘rambang’ berasal dari kata ‘ngelambrang’
yang artinya berjalan tanpa tujuan yang pasti. Beberapa bulan kemudian sampailai ia di
Kadipaten Blambangan. (Sumber lain menyebutkan, sebelum Ki Supa alias Ki Rambang
sampai di Blambangan, lebih dulu ia mampir ke Madura untuk menuntut ilmu pada empu
Ki Kasa. Tetapi sumber yang lain lagi mengatakan bahwa Ki Kasa juga merupakan nama
samaran atau nama alias Ki Supa).

Di Kadipaten Blambangan, lebih dahulu Ki Supa Mandrangi menjumpai Ki Luwuk,


empu senior yang menjadi kesayangan Sang Adipati Menak Dadali Putih. Berkat jasa
baik Ki Luwuk, akhirnya Ki Supa bisa diterima menghadap adipati itu. Pada saat itu Ki
Supa mengaku bernama Pitrang, dan menyatakan ingin mengabdi pada Sang Adipati.

Ketika beberapa waktu kemudian Adipati Blambangan tahu hasil kerjanya, ia menyuruh
Ki Pitrang membuat putran (duplikat) sebilah keris lurus yang indah. Setelah mengamati
keris yang harus dibuatkan duplikatnya itu, Ki Pitrang segera tahu bahwa itulah keris
Kanjeng Kyai Sumelang Gandring yang hilang dari Kerajaan Majapahit.
Ki Pitrang alias Ki Supa menyanggupi membuat putran keris itu dalam waktu 40 hari,
dengan satu syarat, yaitu agar selama ia membuat keris putran itu, tidak seorang pun
boleh memasuki besalen -nya. Adipati Blambangan menyanggupi syarat itu, bahkan ia
akan menempatkan beberapa prajurit di sekitar besalen empu Pitrang, agar jangan ada
orang yang masuk mengganggu kerjanya.
Di besalen-nya, Ki Supa bekerja hanya dibantu oleh adiknya, Ki Supagati, yang bertindak
sebagai panjak-nya. Dalam waktu 40 hari itu Ki Supa bukan membuat sebilah, melainkan
dua bilah keris putran, yang bentuk dan rupanya sama benar dengan keris Kanjeng Kyai
Sumelang Gandring.

Setelah pekerjaan itu selesai, KK Sumelang Gandring yang aseli disembunyikan di balik
kain di paha kirinya. Sedangkan kedua keris putran yang dibuatnya dibahwa menghadap
Adipati Blambangan, dan diakukan sebagai keris yang putran dan yang aseli.
Karena sama bagusnya, sama indahnya, Adipati Blambangan tidak bisa lagi membedakan
kedua keris itu. Mana yang aseli, dan mana yang putran. Padahal sebenarnya kedua keris
itu merupakan keris putran.
Adipati Dadali Putih amat gembira melihat hasil karya Empu Pitrang. Karenanya, empu
muda itu lalu dinikahkan dengan salah seorang adik perempuannya, dan diberi banyak
hadiah.

Beberapa bulan kemudian Empu Pitrang berpamitan hendak pulang ke Majapahit. Ia


berpesan pada istrinya yang sudah hamil, agar jika anaknya lahir kelak, jika laki-laki,
agar diberi nama Jaka Sura. Setelah cukup besar, agar anak itu disuruh menyusulnya ke
Majapahit. (Baca juga Jaka Sura, Empu).
Betapa gembira Raja Majapahit ketika ternyata Ki Supa berhasil menemukan dan
mengembalikan keris pusaka keraton, Kanjeng Kyai Sumelang Gandring. Karena
dianggap berjasa besar bagi kerajaan, Empu Ki Supa Mandrangi kemudian dinikahkan
dengan salah seorang putrinya dan diangkat menjadi pangeran, serta diberi tanah
perdikan (bebas pajak, otonom) di daerah Sedayu. Maka sejak itu Ki Supa lebih dikenal
sebagai Empu Pangeran Sedayu. Itu pula sebabnya, mengapa keris buatan Ki Supa
hampir serupa dengan keris buatan Pangeran Sedayu.

Walaupun telah hidup mulia sebagai pangeran dan kaya raya berkat kedududkannya
sebagai penguasa tanah perdikan, Pangeran Sedayu masih tetap membuat keris. Bahkan
keris buatannya makin indah, makin anggun.
Adapun keris buatan Pangeran Sedayu dapat ditandai dengan mengamati ciri-ciri sebagai
berikut:
Ganjanya datar atau ganja wuwung, gulu meled-nya berukuran sedang, tetapi
penampilannya memberi kesan kekar dan kokoh. Buntut cecak-nya berbentuk ambuntut
urang atau mekrok. Jika membuat keris luk, maka loknya tergolong luk yang rengkol,
atau sarpa lumampah.

Posisi bilah pada ganja agak tunduk, tidak berkesan galak, tetapi anggun berwibawa.
Kembang kacang-nya dibuat ramping nggelung wayang. Sogokan-nya agak melengkung
di bagian ujung, menyerupai paruh burung. Janur-nya serupa lidi. Tikel alis-nya tergurat
jelas. Begitu pula ron da-nya juga dibuat jelas.
Keris buatan Pangeran Sedayu selalu matang tempaan, besinya berwarna hitam kebiruan,
nyabak, dan berkesan basah. Pamornya lumer pandes dan hampir selalu merupakan
pamor tiban. Bahkan terkadang tanpa pamor sama sekali, yakni yang disebut keris
kelengan. Besi keris tangguh Pangeran Sedayu ini demikian prima, tahan karat, bahkan
banyak di antaranya cukup diwarangi lima tahun sekali.
Secara keseluruhan penampilan keris buatan Pangeran Sedayu membawakan karakter
seorang ksatria yang anggun, berwibawa, tetapi tidak galak, wingit, tetapi
menyenangkan.
Pendek kata, segalanya dibuat serasi. Seluruh bagian keris termasuk ricikan-nya digarap
dengan cermat, rapi, ayu, dan sempurna. Begitu rapinya keris buatan Pangeran Sedayu,
sampai sampai tepi bagian sogokan-nya berkesan tajam. Oleh kebanyakan pecinta keris,
buatan Pangeran Sedayu dianggap sebagai keris yang paling sempurna dari semua keris
yang ada.

Salah satu tanda yang mencolok dari keris buatan Empu Pangeran Sedayu adalah besinya
yang selalu merupakan jenis pilihan, dan matang wasuhan.
Selain tetap berkarya sebagai empu, Pangeran Sedayu juga mendidik orang-orang di
daerahnya yang berminat belajar menjadi empu. Mula-mula mereka dijadikan panjak, dan
setelah mahir disuruh membuat keris sendiri. Akhirnya para panjak itu pun dapat mandiri
bekerja sebagai empu. Hasil karya mereka oleh orang yang hidup masa kini disebut keris
Panjak Sedayu, yang kualitasnya hampir menyamai keris buatan Pangeran Sedayu.

KERIS JAKA SURA


Disebut pula Empu Adipati Jenu, sebuah wilayah dekat Jipang di daerah perbatasan Jawa
Tengah dengan Jawa Timur. Ia diperkirakan hidup menjelang akhir zaman Majapahit.

Keris buatannya dapat ditandai dengan memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut :


Ganjanya rata, gulu meled-nya sempit, sirah cecak-nya lonjong. Kalalu membuat
kembang kacang bentuknya kokoh bagaikan kuku bima, blumbangan-nya dalam, guratan
tikel alis-nya jelas, sogokan-nya panjang, janurnya meruncing di ujungnya. Kalau Empu
Jaka Sura membuat ron da, bentuknya jelas dan runcing ujungnya.
Bilah keris buatan Empu Jaka Sura agak tebal, penampilannya meyakinkan. Kalau
membuat pamor ruwet (muyeg – Bhs. Jawa). Secara keseluruhan keris buatan Empu Jaka
Sura menampilkan karakter berwibawa, terampil, gagah, dan meyakinkan.

KERI KAKAK JAKA SUPA

Jaka Sura sesungguhnya adalah kakak tiri Empu Jaka Supa, sedangkan ayahnya bernama
Supa Mandrangi yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Sedayu. Ia lahir di
Blambangan, ibunya adalah putri bangsawan kerabat Adipati Blambangan.
Ketika menjelang remaja, Jaka Sura bertanya pada ibunya, siapa dan dimana ayahnya. Si
ibu mengatakan, ayah Jaka Sura adalah seorang empu yang pernah mengabdi pada
Kadipaten Blambangan. Sebelum Jaka Sura lahir, sang Ayah harus kembali ke Majapahit.
Sebelum pergi sang Ayah berpesan, agar jika anak yang lahir nanti laki-laki, diberi nama
Jaka Sura. Dan, kalau anak itu sudah dewasa, agar pergi menyusulnya ke Majapahit.

Sesudah mendengar penjelasan dari ibunya, Jaka Sura lalu belajar membuat keris. Ia
banyak sekali membuat keris sajen – yang biasanya dibutuhkan oleh para petani masa itu
untuk sesaji sawahnya. Keris sajen dalam jumlah besar itulah yang dibawanya sebagai
bekal perjalanan ke Majapahit. Agar lebih mudah membawanya, keris sajen yang
ukurannya cuma sejengkal itu dilubangi pesi-nya, seperti lubang jarum jahit tangan. Pada
lubang itu dimasukkan tali. Cara ini, menurut bahasa Jawa disebut direntengi.
Sepanjang perjalanan dari Blambangan ke Majapahit, ia banyak bertanya pada petani
yang dijumpainya, manakah arah jalan menuju Majapahit. Sebagai terima kasih atas
bantuannya menunjukkan arah, ia menghadiahkan keris sajen buatannya pada para petani
itu.

Dulu, para petani umumnya percaya, tuah keris sajen karya Empu Jaka Sura ini
berkhasiat untuk menyuburkan tanaman dan menangkal serangan hama tanaman. Bahkan
sampai sekarang (akhir abad ke-20) sebagian petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur
masih mempercayai hal tersebut.
Menjelang sampai di Ibukota Majapahit, Jaka Sura menghentikan perjalanannya untuk
membuat sebilah pedang. Rencananya pedang itu akan dijadikan buah tangan untuk
ayahnya, agar ayahnya tahu bahwa ia juga mewarisi bakat menjadi empu.
Sesampainya di Majapahit Jaka Sura ternyata ditolak ketika hendak masuk ke keraton.
Penjelasan yang diberikan oleh empu muda itu tidak dihiraukan oleh para prajurit penjaga
pintu gerbang. Karena kesal Jaka Sura lalu menghantamkan pedang buatannya pada pintu
gerbang itu sehingga pecah berantakan. Keributan itu menyebabkan Raja Majapahit
keluar dan menanyakan apa yang terjadi.
Sesudah mendengar laporan dari prajurit penjaga dan juga dari Jakasura, raja itu memberi
tahu bahwa ayahnya telah diangkat menjadi Pangeran, dan tinggal di daerah Sedayu.
Setelah mendapat penjelasan itu Jaka Sura lalu mohon diri dan segera berangkat ke
Sedayu. Sang Raja juga menugasi Empu Salahita sebagai penunjuk jalan.

Pedang yang ditinggalkan Jaka Sura kemudian dijadikan pusaka Kerajaan Majapahit, dan
diberi nama Kanjeng Kyai Lawang. Kata lawang artinya pintu, karena mengingat bahwa
kesaktian pedang itu telah menghancurkan pintu gerbang Majapahit. Kini, Kyai Lawang
menjadi salah satu pusaka Keraton Kasunanan Surakarta.
Sesampainya di Sedayu, Empu Salahita langsung membawa Jaka Sura ke besalen
(bengkel kerja) milik Pangeran Sedayu, bukan ke rumahnya, karena mengira sang
pangeran sedang berada di besalen-nya. Waktu itu di besalen itu para panjak sedang
ramai bekerja di bawah pimpinan Empu Ki Jebat, karena Pangeran Sedayu sedang
melakukan tapa brata.

Setelah Jaka Sura diperkenalkan dengan Ki Jebat, tangan kanan Pangeran Sedayu itu
bercerita bahwa sang pangeran saat itu sedang gundah hatinya. Soalnya, Pangeran
Sedayu mendapat perintah dari raja untuk membuat keris dapur baru yang akan
digunakan sebagai pusaka andalan Majapahit, karena pusaka yang terdahulu, yaitu
Kanjeng Kyai Sumelang Gandring, pernah dicuri oleh Adipati Blambangan.
Sudah berhari-hari Pangeran Sedayu melakukan tapa brata, tetapi bentuk dapur keris
yang baru itu belum juga terbayangkan.

Setelah mendengar penjelasan Ki Jebat, Jaka Sura segera mengeluarkan besi sisa
peninggalan ayahnya ketika di Blambangan dulu. Besi sisa itu lalu dibakarnya di perapen,
dan kemudian ditempanya. Tanpa lelah ia terus bekerja, sehingga akhirnya jadilah sebuah
keris dengan dapur baru yang indah. Semua orang yang menyaksikan di besalen itu
kagum.

Ki Jebat lalu bertanya pada Jaka Sura, dapur apakah keris yang baru dibuatnya itu. Jaka
Sura mengatakan, tidak tahu karena ia hanya bekerja berdasarkan ilham yang muncul
tiba-tiba saat itu. Setelah menyerahkan keris itu pada Ki Jebat, Jaka Sura lalu pergi ke
kali untuk membersihkan diri.
Sementara itu Pangeran Sedayu datang ke besalen dengan wajah muram. Ia masih merasa
sedih karena belum juga mendapat ilham mengenai dapur keris yang akan dibuat. Saat
itulah Ki Jebat memperlihatkan keris buatan Jaka Sura.

Betapa gembira hati Pangeran Sedayu melihat keris yang indah itu. Ia bertambah gembira
lagi ketika tahu bahwa yang membuatnya adalah Jaka Sura, anaknya sendiri, yang lahir
setelah ia meninggalkan Blambangan.
Pangeran Sedayu yakin, Sang Raja tentu akan berkenan menerima keris indah itu sebagai
pusaka keraton. Karena itu ia segera mengajak anaknya menghadap raja di Keraton
Majapahit.
Benarlah dugaan Pangeran Sedayu. Raja amat senang dengan keris itu, tetapi juga
bingung ketika Pangeran Sedayu dan Jaka Sura memintakan nama bagi dapur keris baru
itu. Akhirnya, setelah berpikir sejenak, raja menamakan dapur keris itu: Kanjeng Kyai
Sengkelat.
Nama Sengkelat berasal dari kata ‘sengkel’ yang artinya bingung dan kesal karena
kehabisan akal. Saat itu raja Majapahit memang sedang kehabisan akal untuk mencarikan
nama dapur yang merupakan perpaduan antara keris dapur Carita dengan dapur Parung
itu.

Pangeran Sedayu lalu membawanya menghadap raja, untuk memohon agar Jaka Sura
diperkenankan mengabdi pada kerajaan. Permohonan dikabulkan, dan karena keris-keris
hasil karyanya memuaskan raja, beberapa tahun kemudian Jaka Sura dianugerahi tanah
perdikan, yaitu tanah bebas pajak, di daerah Jenu. Selain itu Jaka Sura juga diangkat
sebagai adipati di daerah itu. Maka, Jaka Sura kemudian lebih dikenal sebagai Empu
Adipati Jenu.
Banyak penggemar keris yang mengira bahwa hasil karya Empu Jaka Sura hanya berupa
keris sajen. Padahal keris sajen itu hanyalah keris yang dibuat untuk petani guna
keperluan sesaji sawah mereka.

KERIS EMPU KI JIGJA

Terkenal sebagai salah seorang empu pada zaman Kerajaan Majapahit. Ia adalah anak
dari Empu Singkir alias Empu Angga, empu terkenal dari Pajajaran. Adiknya, Ki Empu
Surawisesa juga menjadi empu, tetapi tidak bekerja bagi Kerajaan Majapahit, melainkan
untuk Kadipaten Blambangan. Menurut buku-buku kuno, jari jempol tangan kirinya
berwujud kepala ular.

Keris buatannya tidak banyak, tetapi semuanya merupakan keris indah dan sakti.
Tanda-tanda keris buatan Empu Jigja adalah, panjang bilahnya sedang (menurut ukuran
rata-rata keris tangguh Majapahit), tetapi menampilkan kesan kekar, namun luwes.
Sogokan dan blumbangan-nya dalam, kembang kacang-nya kokoh. Greneng atau ri
pandan keris buatannya jelas dan relatif besar.
Kadang-kadang, kalau membuat kembang kacang Empu Jigja ‘berani’ keluar dari pakem.
Beberapa keris yang menurut pakem memakai kembang kacang biasa, oleh Empu Jigja
dibuat kembang kacang pogok. Walaupun demikian, keris yang seperti itu tetap saja
manis dan serasi.

Besi keris buatan Empu Jigja ada dua macam. Yang pertama besi itu berkesan kering dan
madas. Warna besi itu hijau kecoklatan (serupa tlethong, warna tahi kerbau). Jenis besi ini
amat sukar termakan karat. Dan, bilamana diputihkan, dibersihkan sebelum diwarangi,
besi keris yang kehijauan itu berbau ramuan rempah wangi jamu.
Sedangkan jenis besi yang kedua yang digunakan Empu Jigja adalah yang berwarna
hitam ngelar glatik, Nglugutnglugut, pamornya ngawat ngembang bakung.
KERIS EMPU MODIN

Adalah nama lain dari Empu Bekeljati, adalah seorang empu dari daerah Tuban yang
hidup pada akhir zaman Majapahit.
Keris hasil karyanya berukuran sedang panjangnya, tetapi agak tebal dan lebar.
Dibandingkan dengan keris tangguh Tuban lainnya, karya empu Modin lebih tunduk ke
depan. Besinya tampak keras dan kenyal, berwarna keabu-abuan, memberi kesan
‘mentah’. Pamor yang sering digunakan adalah Wos Wutah dan Ngulit Semangka.

Keris buatan Empu Modin kebanyakan merupakan keris lurus, dengan dapur Tilam Upih
atau Brojol. Kalau membuat keris luk, maka luknya kemba. Kesan penampilan keris itu
keras dan lugas.
Tentang mengapa Empu Bekeljati kemudian lebih populer dengan sebutan Empu Modin,
manuskrip Serat Pratelan Bab Duwung yang ditulis R. Moestopo Pringgohardjo pada
tahun 1961, menyebutkan:
Pada saat Empu Bekeljati berkarya, agama Islam baru mulai berkembang di daerah
tempat tinggalnya. Yang menjadi pemimpin mesjid Tuban di kala itu adalah Sunan
Bonang, yang bukan hanya dikenal sebagai ulama, juga sebagai orang yang memiliki
banyak kesaktian.

Empu Bekeljati yang semula beragama Hindu, kemudian menjadi salah seorang pengikut
dan murid Sunan Bonang. Karena ketekunannya mempelajari agama, Empu Bekeljati
menjadi kesayangan gurunya. Dan, karena lantang suaranya, dan fasih lafalnya, Sunan
Bonang lalu menugasi Empu Bekeljati menjadi mua’zin atau penyeru azan. Dalam logat
Jawa, kata mua’zin sering diucapkan mua’din, dan lama kelamaan menjadi modin.
Begitulah, sejak saat itu Bekeljati lebih dikenal dengan sebutan Empu Modin.

Bagi mereka yang percaya akan tuah, keris buatan Empu Modin dikenal sebagai keris
yang memiliki angsar sabar, pemaaf, membuat pemiliknya menjadi luwes dalam
pergaulan dan disayang orang sekelilingnya. Selain itu, keris karya Empu Modin juga
bisa diharapkan mempermudah pemiliknya mencari rejeki.
Walaupun dibuat orang yang sama, ketika masih dikenal sebagai Empu Bekeljati, keris
buatannya lebih ramping dibandingkan sewaktu ia sudah dikenal dengan panggilan Empu
Modin. Selain itu, keris Empu Bekeljati tampilan pamornya lebih mubyar. Jika keris itu
memakai luk, maka luknya agak tanggung dan samar (kemba – Jw.). Kembang kacang-
nya mungil, agak kecil dibandingkan dengan ukuran bilahnya. Sogokan-nya dangkal dan
pendek. Bagian janur-nya dibuat tumpul.

KERIS EMPU KI NOM

Seorang empu yang terkenal pada zaman Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Beberapa
orang tua ahli keris menceritakan bahwa usia Ki Nom memang panjang sekali. Kata
mereka, nama Ki Nom atau Pangeran Warih Anom, atau Ki Supo Anom justru adalah
gelar dan nama pemberian Sultan Agung sebagai pernyataan kekaguman terhadap
panjangnya umur empu yang terkenal awet muda itu.
Konon, umur Empu Ki Nom lebih dari 100 tahun. Jika cerita-cerita mengenai dirinya
benat, angka 100 itu masuk akal, karena Ki Nom dilahirkan pada menjelang akhir zaman
Majapahit, jadi kira kira tahun 1520 an. Padahal, tatkala Sultan Agung Anyokrokusumo
mempersiapkan penyerangan ke Batavia tahu 1626, Ki Nom masih mendapat tugas
sebagai salah seorang empu tindih, yang membawahkan 80 orang empu lainnya. Berarti
pada saat itu umurnya sudah 104 tahun!
Empu Supo Anom, yang nama kecilnya Jaka Supa sebenarnya adalah anak dari Ki Supa
Mandrangi atau Pangeran Sedayu, yang hidup pada akhir zaman Majapahit. Ibunya
adalah putri kerabat kraton yang ‘dihadiahkan’ kepada Empu Supa Mandrangi ketika
pembuat keris terkenal itu diangkat sebagai pangeran dengan gelar Pangeran Sedayu.
(Ada cerita rakyat yang menyebutkan bahwa putri keraton itu bernama Dewi Tatiban).
Kakaknya, satu ayah lain ibu, bernama Jaka Sura, juga seorang empu terkenal. Oleh raja
Majapahit terakhir Empu Jaka Sura diangkat menjadi adipati di daerah Jenu, sehingga
juga dikenal sebagai Empu Adipati Jenu.
Ki Nom sebenarnya hanya singkatan nama atau panggilan bagi Empu Pangeran Warih
Anom yang menguasai tanah perdikan (otonomi & bebas pajak) di daerah Sendang.
Itulah sebabnya ia juga dipanggil dengan gelar Pangeran Sendang.

Tanda-tanda utama buatan empu Ki Nom adalah: Keris dan tombak buatan Ki Nom selain
indah selalu mempunyai penampilan dan yang memberi kesan agung, anggun, mewah,
berwibawa.
Ganja buatan Ki Nom, kebanyakan merupakan ganja wilut dan kelap lintah. Sirah cecak-
nya montok dan meruncing ujungnya, gulu meled-nya besar dan kokoh. Ukuran panjang
bilahnya sedang, lebarnya juga sedang, tetapi tebalnya lebih dibanding keris buatan
Mataram lainnya, terutama dibagian tengah bilah. Bilah buatan Ki Nom selalu berbentuk
nggigir lembu. Motif pamornya biasanya rumit, halus, dan rapat serta rapi sekali
penempatannya. Besi yang digunakan, dua rupa. Bagian tengah yang bercampur pamor
warna besinya hitam keabu-abuan atau hitam keungu-unguan, tetapi dibagian pinggir
hitam legam.

Bagian kembang kacang-nya dibuat seperti gelung wayang, tetapi berkesan kokoh, dan
kalau diamati dari sisi atas akan tampak ramping. Jalen-nya kecil, lambe gajah-nya
pendek. Blumbangan-nya dangkal, penuh dengan pamor. Sogokan-nya juga dangkal dan
menyempit ke arah ujung. Janur-nya menyerupai batang lidi.
Salah satu keris adikarya hasil tempaan Ki Nom yang masih dapat disaksikan hingga saat
ini adalah keris berdapur Singa Barong yang dijadikan cenderamata lambang
persahabatan antara Kasultanan Mataram dengan Kesultanan Jambi. Keris itu bernama Si
Ginje, dan saat ini tersimpan di Museum Pusat di Jakarta.

I. ASPEK-ASPEK TANGGUH
Salah satu cabang Ilmu Perkerisan tradisional yang paling sulit dan sering mengundang
pertentangan adalah ilmu Tangguh. Hal ini disebabkan karena dalam menangguh sebuah
keris banyak unsur subyektifitas dan kesimpangsiuran dalam menafsirkan istilah-istilah
Ilmu Tangguh masing masing penangguh baik dari buku maupun dari nara sumber lisan.
Ilmu Tangguh adalah ilmu mengira-ngira usia dan asal sebuah keris. Tangguh dapat pula
diartikan sebagai perkiraan model garap dan keris yang meniru model garapan dari jaman
tertentu. Karena sifatnya memperkirakan maka hasil bisa benar tetapi bisa juga salah.
Untuk menangguh sebuah keris perlu dicermati : bentuk dan gaya garapan bilahnya baik
secara menyeluruh maupun secara sebagian, selain itu juga jenis bahan dan garapan pola
pamornya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahan dan sifat serta penggarapan
besinya.
Keris disebut Tangguh Lempoh jika asal usul keris itu diketahui dengan pasti. Sedangkan
Keris Tilar Tangguh adalah keris yang sulit dicari tangguhnya berdasarkan cirri-ciri yang
terdapat pada keris itu.
Karena Tangguh sering menimbulkan perdebatan maka Ki Anom Mataram dalam Serat
Centhini memberi nasehat sebagai berikut : ... Poma wekasingsun, lamun ana ingkang
nyulayani, atuten kennawon, garejegan tan ana perlune, becik ngalah ing basa sethithik,
malah cleh bathi tur, ora kemruwuk ... (ingat pesanku, bila ada yang berselisih ikuti saja
lah, berdebat tidak ada gurianya, lebih baik mengalah sedikit, malah akan beruntung dan
tidak ramai... )
Uraian berikut ini akan diberikan sedikit keterangan tentang Tangguh dan istilah-istilah
Jawa yang sering dipergunakan.
R. Tannaya dalam bukunya "Pakem Kecurigan" mengatakan, Tangguh dimaksudkan
sebagai kira-kira. Penangguh yaitu pengira-ngira pembuatan dijaman apa atau oleh empu
siapa. Dalam menangguh keris penuulis memberikan pedoman sebagai berikut :

Pertama, periksalah dengan seksama keadaan "sikutan" keris yang ditangguh. Setelah itu
diteliti keadaan pamor, besi dan baja.
Yang disebut sikutan (pasikutan) adalah cengkok (gaya) garapan serta watak bentuk keris
(sikuttan puniku lelagoninggarapan lawan wanda ulat-ulataning dhuwung). Dengan
demikian untuk mencermati pasikutan tidak hanya mata yang melihat tetapi juga rasa dan
mata batin disertakan.

Unsur-unsur yang diperlukan dalam menangguh :

1. Sikutan dilukiskan dapat bersifat : kaku (janggal, canggung) keras, wingit (angker,
berkharisma), prigel (tangkas, cekatan), sedang, dhemes (enak dipandang, serasi), wagu
(janggal), odhol (kendor, janggal), pantas, kemba (hambar), tanpa semu (watak), garang
(sereng), bagus/tampan.

2. Bentuk dan gaya garapan ganja : tempurung terbalik (ambhatok mengkurep), sengoh
ambathok mengkurep), sebit lontar (sebit rontal, seperti daun tall disayat), sebiilah lontar
kepara landhung (sabit lontar agak panjang), sengoh sebit lontar kepara landhung.

3. Sirah cecak : panjang, pendek, condong ke rata (ageng kepara papak).

4. Gandhik : miring panjang, panjang miring, pendek miring, pendek menyolok (cekak
methok).

5. Sosok bilah (pawakan) : agak membungkuk, tinggi besar (berawa), lebar tipis, sedang,
condong ke panjang (sedheng kepara corok), condong ke panjang, (kepara corok), padat
(titih), titih menonjol (titih corok).

6. Tegaknya bilah (dedeg): sepadan, layak (sembada), tinggi lampai (lenjang), gagah
(pideksa/tinggi dan besarnya seimbang), enak dipandang (respati), lungit (tajam/tinggi
ilmunya/panjang menajam).

7. Sogokan : pendek tidak canggung (cekak luwes), panjang tidak canggung (panjang
luwes), agak panjang, sedang (sesuai dengan panjang bilah).

8. Sifat luk-lukan : rapat teratur/kekar nurut, kekar berawa (rapat tinggi dan besar),
kurang rapat/kurang kekar, hambar (kemba), besar hambar/longgar (ageng kemba),
sedang nurut (sedheng nurut).

9. Dasar besi : hitam legam (gangsing), garing (kering), kering agak kebiruan, agak biru
tapi halus, agak pucat (welu sawatawis), padat, matang keras padat agak garang (mateng
kengkeng ladak), kurang matang, agak mentah, basah, agak basah, basah kurang
barcahaya (teles kirang guwaya).

10. Rabaan pada besi (grayanganing tosan) : licin (lumer), keras, keras tajam, sedang.

11. Baja : banyak, kurang, sedang, sedang kurang matang.

12. Keluarnya pamor : banyak, kurang, tidak direncanakan (ing sewetu-wetune), menyala
seperti rambut (mubyar angrambut), mubyar nyalaka (menyala seperti perak), menyala
putih, putih menyala, putih menyala, kurang menyala, menyala putih seperti rambut
(angrambut), melemak (seperti lemak, anggajih), menyala melemak berlapis-lapis
(mubyar anggajih sap-sapan).

13. Menatapnya pamor : tandas (pandhes), tandas halus (pandhes alembat) tandas
mengawat (pandhes angawat), tandas mengawat kencang dan keras (mandhes angawat
kenceng tur keras), tandas menonjol pantas (mandhes mungal pantes), menonjol
mengambang (mungal kumambang), hanya mengambang, agak melemak (anggajih
sawatawis).

II. CIRI CIRI TANGGUH


Dibawah ini diberikan ciri-ciri beberapa tangguh yang diambil dari beberapa sumber.
Untuk dapat menentukan tangguh yang bersangkutan harus banyak belajar dari mereka
yang tahu, membaca buku keris dan juga banyak melihat keris. Itu pun hasilnya
terkadang tidak memuaskan.

1. Tangguh Pajajaran
Sikutan : kau/kaku.
Ganja : ambathok mengkurep.
Sirah cecak : panjang (landhung).
Gandhik : miring panjang seperti biji melinjo dibelah
Sosok bilah : sedang, berawa (tinggi besar).
Tegaknya bilah : sesuai. Yang keluar luk-lukannya kurang rapat.
Sogokan : sedang sesuai dengan badan bilah.
Besi terkesan mentah, agak pucat. Dasarnya kering karena airnya yang asin.
Keluarnya pamor : tidak direncanakan (sawetu-wetune).
Menetapkannya pamor tandas lembut, sementara ada yang sedikit melemak.

2. Tangguh Majapahit
Pasikutan : angker/berkharisma (wingit) tetapi tangkas.
Ganja : sebit rontal.
Sirah cecak : pendek.
Gandhik : pendek miring.
Sogokan : pendek serasi. Yang keluar luk : hambar (kurang rapat).
Besi : rapat.
Sosok bilah : padat/keras (titih). Rabaan halus, licin.
Dasar besi : agak biru karena airnya yang bening.
Keluarnya pamor : menyala merambut (mubyar angrambut).
Menetapnya pamor : tandas mengawat

3. Tangguh Blambangan
Sejaman dengan jaman Majapahit.
Pasikutan : enak dipandang (dhemes).
Ganja : sebit lontar.
Sirah cecek : pendek.
Gandhik : pendek miring.
Sogokan : pendek serasi (cekak luwes).
Yang Iuk : hambar.
Sosok bilah : titih (padat).
Besi : basah.
Basuhan hesi : padat.
Rabaan : keras, karena airnya yang agak asin.
Pamor : melemak (anggajih) tetapi tandas. Sementara ada yang menyala merambut.

4. Tangguh Sedayu (Sidayu)


Sejaman dengan jaman Majapahit
Pasikutan: agak enak dipandang (dhemes sakedhik)
Ganja: sebit lontar.
Agak panjang.
Gandhik: pendek miring.
Sogokan: pendek serasi.
Yang luk: rapat nurut (keker nurut).
Sosok bilah: sedang sampai panjang.
Besi: kurang bercahaya (kirang guwaya).
Rabaan: licin (lumer).
Baja: sedang.
Pamor: kurang, namun keluarnya menyala putih merambut (mubyar pethak angrambut).
Menetapnya pamor: mengambang.

5. Tungguh Tuban sejaman dengan jaman Majapahit


Pasikutan: sedang.
Ganja: sengoh ambathok manakurep.
Sirah cecak: besar sampai papak (ageng kepara papak).
Gandhik: pendek menyolok.
Sosok bilah: lebar dan tipis.
Sogokan: agak panjang.
Yang luk : luk-lukannya besar dan hambar.
Besi: hitam (langsing), banyak bajanya.
Pamor : kurang menyala.
Menetapnya pamor: tandas menyolok.

6. Tangguh Madura sejaman dengan jaman Majapahit


Pasikutan: dhemes (enak dipandang).
Ricikan: meniru buatan Maiapahit, agak panjang.
Besi: matang, keras, dan galak.
Baja: sedang.
Pamor: menonjol, banyak, menyala, melemak (anggajih) berlapis-lapis.
Rabaan: keras tajam.
Sepuhan: terlalu matang. Kadang-kadang patah jika digunakan.

7. Tangguh Sendhang sejaman dengan jaman Majapahit


Pasikutan: wagu (janggal), kurang serasi, kaku.
Besi: agak basah. Pamor: mengapung.

8. Tangguh Demak
Pasikutan: wingit, angker.
Besi: basah.
Pamor: mengapung
Ganja rata.
Gulu meled, sirah cecak: kecil dan menguncup.
Pamor: bagus.
Besi: agak kuning kurang bercahaya (guwaya).
Sosok bilah: agak membungkuk.
Tikel alis, pendek.
Sogokan: panjang.
Kembang kacang: kecil.
Jalen: kecil.
Lambe gajah: agak besar dan panjang.

9. Tangguh Pajang
Pasikutan: kendor (odhol).
Ganja: sengoh sebit lontar condong ke panjang.
Gandhik: panjang miring.
Sogokan: panjang.
Yang luk: luk-lukan rapat gagah (keker berawa).
Besi: hitam (gangsing).
Baja: sedang, kurang matang.
Pamor : tidak direncanakan, namun keluarnya menyala putih (pethak mubyar), keluarnya
sekehendaknya.

10.Tangguh Umyang
Empu Supo Pajang Kyai Kedhe
Ganja: lancip panjang.
Gandhik: pendek.
Kembang kacang: sedang.
Tikel alis, pejetan dalam.
Luk: rapat, mengarah ke kiri (kedhe).
Bilah: tebal
Sosok bilah: panjang.
Besi: halus dan kering, halus.
Pamor: agal/kasar dan beberapa menyala seperti perak.
Buatannya halus dan bersih.
Keris buatan Empu Umyang ini sangat bagus dimiliki pengusaha yang berkecimpung
dalam menggandakan uang (kreditor).

11. Tangguh Kudus


Ganja: rata.
Gulu meled, sirah cecak: kecil dan pendek lancip.
Buntut urang : rata.
Pamor kurang sempurna, hanya samar-samar.
Kebanyakan keris Kudus kurang panjang, lebih pendek dari keris Surakarta.

12. Tangguh Cirebon


Ganja: kebanyakan iras atau rata.
Gulu meled, sirah cecak : membulat.
Buntut urang : lancip.
Besi: keras tetapi hambar.
Tegaknya bilah: membungkuk.
Pamor: jarang yang sempurna, kebanyakan pamor sanak.

13. Tangguh Koripan/Kahuripan


Pasikutan: hambar.
Besi: gangsing (hitam legam).
Pamor: sanak dan samar-samar adeg.

14. Tangguh Mataram:


a. Tangguh Mataram Senopaten
Pasikutan: tangkas (parigel), galak tetapi tampan.
Besi: agak kebiruan.
Menetapnya pamor: tandas, seperti kawat kencang.
Ganja: sebit lontar. Ganja keris Mataram Senopaten banyak yang wulung, artinya bahan
besinya bukan dari bahan bilah.
b. Tangguh Mataram Sultan Agung
Pasikutan: dhemes bagus (tampan, enak dipandang).
Besi: agak mentah.
Pamor: mubyar putih menyala.
Baja: kurang.

15. Tangguh Kuwung dan Tapan, yaitu keris-keris huatan Empu Kuwung dan Empu
Tapan yang hidup sejaman dengan jaman keraton Pajajaran. Gaya garapan dan
pasikutannya juga mirip dengan Tangguh Pajajaran.

16. Tangguh Sukuh sejaman dengan jaman keraton Majapahit. Gaya garapan dan
pasikutannya mirip dengan Tangguh Majapahit.

17. Tangguh Tuban Taruwangsa, Pekajoran dengan jaman keraton Demak. Gaya dan
pasikutannya mnirip dengan buatan Demak, Tuban, dan Majapahit.

18. Tangguh Sastrotoya (Setrotoya), Sastrolatu (Setrolatu), Supokoripan sejaman


dengan jaman keraton mataram. Gaya dan pasikutannya mirip dengan buatan mataram.
Keris-keris buatannya bertuah untuk menolak banjir (toya) dan api (latu). Kebanyakan
berpamor adeg sapu, meski tidak selalu. Keris-keris karya empu ini biasanya untuk
menolak (memadamkan) api atau mencegah bahaya air/hujan badai.

Tangguh sesudah jaman Kartasura, jadi Tangguh Surakarta dan Ngayogyakarta, banyak
yang menyebut Tangguh nem-neman (muda). Disebutkan dalam sejarah di masa
pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono I dan II banyak dibuat keris-keris yang
bermutu tinggi, antara lain juga dibuat duplikat keris Kanjeng Kyai Hageng Mahesa
Nular dan tombak Kanjeng Kyai Hageng Piered. Tidak disebutkan nama empu
pembuatnya.

19. Tangguh Surakarta


Semasa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV hingga IX, banyak dibuat keris,
tombak dan pedang yang bermutu tinggi. Di antara empu keris yang terkenal adalah
Empu Supo Brojoguno, Empu Supojogokariyo, Empu Supobrojokariyo, Empu
Supobrojoguno, Empu Supobrojojoyo dan Empu Suposingowijoyo. Keris-keris
buatannya umumnya panjang dan tebal. Pamornya : pamor Prambanan. Indah garapannya
dengan sentuhan seni yang tinggi mutunya.

20. Tangguh Ngayogyokarto Hadiningrat.


Menurut penilaian GBPH Yudoningrat, masing-rnasing jaman pemerintahan raja, keris
buatanya (yasan) mempunyai ciri tersendiri.
Yasan Sri Sultan HB I bersifat weweg (tegap)sembodo, bilah berawa (besar)
Yasan Sri Sultan HB V (Riyokusuman) relatif lebih pendek , mirip karya ,Majapahit
Yasan Sri Sultan HB VI dan VII, bilah relatif besar dan tebal.
Yasan Sri Sultan HB VIII, besar tetapi kurang panjang (ageng kirang dedeg)
Yasan Sri Sultan HB IX, pasikutan wingit, sederhana.
Yang dimaksudkan yasan adalah karya empu kolektif abdidalem raja.

Yang jelas, Tangguh Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan campuran Tangguh


Majapahit dan Mataram. Sosok bilah sedang, tidak terlalu panjang tetapi juga tidak
terlalu pendek. Bilahnya tidak ngadhal meteng (besar ditengah) atau kempot (kecil
ditengah). Pasikutannya wingit.

Dibawah ini sejumlah Tangguh lain yang sering dijumpai :

1. Tangguh Kadewan, keris dibuat tanpa api.


Empunya Empu Ramadi dan Empu Onggojail.
Bilah : tebal, sosok bilah tebal nglimpa, besi halus/licin pamor hanya sedikit.

2.Tangguh Purwocarito.
Bilah umumnya pendek tebal, lebar, besi halus.
Ganja mbathok mengkurep, pendek tapi gemuk.

3. Tangguh Sigaluh (Segaluh).


Pasikutan : kaku hampir sama dengan Tangguh Pajajaran, Majapahit.
Besi : ngrekes dan berserat, terkesan mentah.
Baja : keras.
Tegaknya bilah : tegak sampai sedikit agak condong ke kiri.
Ghandik : menonjol.
Ganja : bathok mengkurep sampai rata.
Sosok bilah : tipis dan kering.
Keris Sigaluh sangat menyolok bagian sor-sorannya yang menyerupai kursi terbalik,
bagian depan menonjol, ganja menonjol ke depan.

4.Tangguh Bugis.
Pasikutan : kaku, galak.
Besi : agak mentah, berat jika ditanting.
Rabaan : sangat kasar, tapi ada beberapa yang halus.
Pamor : agal (kasar) dan melemak, ada yang beberapa mubyar nyalaka.
Sepuhan besi : sangat matang.
Tanda : khas : pesi relatif lebih pendek dari pada keris sejenisnya dari Jawa.
Tegaknya bilah sedikit membungkuk.

5.Tangguh Lombok dan Kupang


Pasikutan : kaku/galak.
Besi : berat, jika ditanting terasa Iebih berat.
Rabaan : nggrasak, wasuhan kurang matang.
Pamor : putih, berserat-serat.
Kembang kacang : sering dilengkapi dengan jenggot.
Begitu juga bilahnya terkadang diberi hiasan pudhak setegal.

6. Tangguh Empu Ni Sombro (termasuk Tangguh Tuban).


Yang banyak di masyarakat keris Sombro ini tidak memiliki ricikan apa-apa.
Besi : halus, licin, kering.
Bilah : lebar dan tipis.
Pesi : pipih dan dipilin (diuntir) ujungnya berlubang seperti lubang jarum.
Pada permukaan bilahnya terdapat pijitan bekas ibu jari, berlekuk-lekuk, jumlahnya bisa
3-5, konon keris Sombro dibuat tanpa api.
Ganja : iras, kecil.
Sirah cecak : bulat
Buntut urang : rata.
Pamor : jika ada sangat halus.
Tegaknya bilah : kurang serasi.
Keris Sombro banyak digunakan untuk meredam keris 'panas’ ukurannya kecil saja,
disebut juga keris Tindhih.

7. Tangguh Guling Mataram (Guling adalah nama Empu jaman Mataram)


Pasikutan : wingit.
Ganja : lancip, sebit lontar.
Luk-lukan : rapat nurut.
Kembang kacang : membulat.
Pejetan, tikel alis : lebar dan dalam, serasi.
Pamor : halus, mubyar menyala seperti perak.
Ada-ada : ditengah seperti punggung sapi.
Pesi : seperti diuntir (dipilin).
Yang banyak beredar : luk 11 dan 13.

8. Tangguh Bagelen
Ganja : mbathok mengkurep.
Gandhik : lebar tapi pendek.
Bilah : besar dan nglimpa.
Pamor : mubyar nyalaka.
Sepintas keris Begelen meniru Tangguh Mataram.

9.Tangguh Ngenta-enta
Buntut urang lancip.
Pasikutan : kaku.
Ganja: rata atau sebit rontal.
Basuhan besi dan pamor : kurang.
Sosok bilah : sedang, umumnya pendek.
Keris Ngenta-enta umumnya cukup bagus tapi kurang greget.
III. TANGGUH YASAN MATARAM, PB DAN HB.

1.Tangguh Yasan Ingkang Sinuwun kanjeng Sultan Agung Anyokro Kusumo


Mataram
Ganja: sebit lontar.
Gandhik : sedang.
Kembang kacang : besar.
Tikel alis, pejetan, sogokan : lebar, dalam, landhung.
Besi : halus, lumer, mbluduru, hitam mengkilat.
Sosok bilah : panjang.
Besi : kering, sedang.
Pamor : menyala seperti perak.
Luk-lukan : kurang rapat, kurang kekar.

2. Yasan Kyai Nom Mataram


Ganja : sebit lontar agak gilig.
Gandhik : sedang agak panjang.
Kembang kacang : gobok.
Tikel alis : pejetan.
Sogokan : dalam, panjang, lebar sedang.
Bilah : agak tebal.
Sosok bilah : sedang.
Besi : halus, nglumer, sedang kering.
Pamor : halus. Pasak (pantek).
Ganja dari emas.

3. Yasan Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mataram.


Ganja : pendek lagi gemuk sebit lontar.
Gandhik : besar, pendek dan gemuk (sebok).
Kembang kacang : besar, lebar.
Tikel alis, pejetan, sogokan : lebar, dalam, panjang.
Bilah : tebal.
Sosok Bilah : sedang.
Luk : agak rapat (kekar).
Besi : halus berserat halus (ngugut).

4.Yasan Ingkang Sinuhun Mangkurat Kartasura


Ganja : uceng mati sampai mbathok mengkurep.
Panjang bilah : sedang.
Gandhik : pendek dan gemuk.
Tikel alis, pejetan, sogokan : lebar, sedang, panjangnya.
Luk-lukan : serasi.
Pamor : seperti kawat (ngawat), menyala seperti perak.

5. Yasan Ingkang Sinuhun Susuhunan Paku Buwono (Sinuwun Bagus) IV.


Empu : Brojoguno.
Ganja : pendek dan gemuk, sebit lontar, lebar dan sedikit tebal.
Gandhik : agak panjang besar, pendek dan genuk.
Tikel alis, pejetan, sogokan : lebar, dalam dan panjang.
Bilah : tebal agak gilik (bulat torak), anglimpa kurang dedeg
Besi : halus anglugut (serat halus).
Pamor : Prambanan.
Bilah karya Bojoguno terkenal keras, bisa untuk menembus keping uang logam.

6. Yasan Ingkang Sinuwun Sunan P.B.V


Empu : Brojokaryo.
Ganja : sabit lontar.
Sirah cecak lancip, tebal, lebar panjang.
Gandhik : pendek dan gemuk (sebok).
TikeI alis, pejetan, sogokan : lebar, dalam dan panjang, bersih halus sekali.
Bilah : tebal, panjang.
Besi : halus, serat halus (anglugut), kering sekali.
Pamor : Prambanan, halus lembut.

7. Yasan Ingkang Sinuwun Sunan P.B.V11


Empu : Supo Japan.
Ganja : sebit rontalagak panjang.
Gandhik : agak torak bulat (gilik) panjang dan besar.
Tikel alis, pejetan, sogokan-dalam, lebar dan panjang.
Tegaknya bilah : panjang.
Besi : halus, lumer, kurang kering.
Pamor : seperti kawat (angawat), pamor Prambanan.

8.Yasan B.P.H. Mangkubumi (calon Sultan H.B I, waktu di Surakarta)


Empu : Supobrojosetiko.
Ganja : besar sebok, sebit lontar.
Gandhik : besar, sebok.
Tikel alis : pejetan, sogokan : lebar, dalam dan panjang.
Sogokan ciyut (sempit) di dalam.
Bawang sebungkul : bulat seperti bawang.
Bilah : tebal.
Besi halus, lumer seperti beludru.
Menetapnya pamor : agak miring.
Semua memakai pamor Prambanan.

9. Yasan ingkang Sinuhun Sunan P.B.IX


Empu : Supo Singowijoya, kemudian menurun, Supojoyowikatgo. Buatanya sama
dengan karya ayahnya.
Ganja : sebit rontal, sebok (pendek dan gemuk).
Tikel alis sogokan dan pejetan : sempit dan dalam, panjang sedang.
Bilah : tebal, panjangnya sedang.
Luk-lukan: bagus tapi kurang kekar (rapat).
Besi : halus, nglumer.
Pamor : tandas, halus, semua pamor Prambanan.
Banyak karyanya dengan gandhik bergambar naga, ular, macan dan hewan lain-lain.

10. Yasan Ingking Sinuwun Kanjeng Sultan H.B.IV


Empu : Brojowedonolo.
Ganja : bathok mengkurep, tebal dan lebar sebok agak pendek.
Gandhik : besar sebok.
Tikel alis, pejetan dan sogokan : dalam, lebar dan panjang (wiyar jero landhung).
Bilah agak tebal dan besar.
Panjang bilah : sedang.
Luk-lukan : kekar.
Besi halus anglugut (berserat halus), kering.
Pamor : tandas, semua pamor Prambanan.

11. Yasan Ingkarrg Sinuwun Kanjenq Sultan H.B.V


Empu : Brojosingo.
Gandhik : besar, sebok, landhung.
Ganja : sebit rontal besar agak panjang.
Tikel alis, pejetan : lebar dalam dan panjang.
Sogokan : sempit, dalam agak pendek.
Bilah agak ngadal meteng, agak tebal dan bulat torak (gilig).
Luk-lukan : kekar.
Besi : halus seperti beludru.
Pamor : tandas agak agal (kasar), menyala sekali (sanget mubyar). Semua pamor
Prambanan.

12. Yasan Ingkang Sinuwun Kangjeng Sutan H.B.V


Empu : Brojosingo, rekannya Empu Brojomandholo.
Ganja : sebit rontal, besar agak panjang.
Gandhik : besar, sebok agak panjang.
Tikel alis pejetan lebar dalam dan panjang.
Sogokan : sempit agak panjang, bersih sekali garapannya.
Bilah : tebal dan agak gilid.
Luk-lukan : kekar, panjang sedang.
Besi : halus nglumer seperti beludru kering.
Pamor : tandas, ngawat, menyala. Semua pamor Prambanan.
Ciri karya empu ini : bawang sembungkul ditatah kemamang (muka raksasa). Gandhik
diserasah panji wilis

13. Yasan Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan H.B.V


Empu : Brojomandholo.
Ganja : bathok mengkurep, tebal, lebar, sebok agak pendek.
Gandhik : besar agak. sebok.
Tikel alis, pejetan : lebar, dalam dan panjang.
Sogokan : dalam, sempit agak panjang.
Bilah : tebal, panjang sedang.
Luk-lukan. : agak kekar.
Besi : halus anglugut, kering sekali. Semua pamor Prambanan.

14. Yasan Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan H.B.VI


Empu : Brojomandholo rekannya Empu Brojolesono.
Ganja : sebit rontal sebok agak pendek.
Gandhik : sebok besar.
Tikel alis dan pejetan : jero landhung wiyar (dalam, panjang dan lebar).
Bilah : anglimpa besar (anglimpa ageng), panjang sedang.
Luk-lukan : agak kekar.
Besi halus seperti beludru.
Pamor : tandas dan agak kasar (agal mandhes) semua pamor Prambanan.

15. Yasan Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan H.B.VII


Empu : Kyai Joyomenggolo dari Bayat.
Ganja : besar agak panjang, tebal.
Gandhik : agak panjang gilig, sebok.
Tikel alis, pejetan : dalam, lebar dan panjang.
Luk-lukan : kekar.
Bilah : tebal, panjang.
Bilah sedang-sedang saja.
Pamor : kurang tandas.

Keterangan
Yasan dimaksudkan yang memerintahkan membuat. Yasa = membuat. Tangguh tersebut
berdasarkan penglihatan penulis Surakarta yang mungkin hanya melihat beberapa karya
empu-empu terkenaI di istana.
Sudah menjadi rahasia umum karya-karya keraton itu banyak ditiru oleh empu-empu di
luar kraton. Atau empu-empu kraton itu selain bekerja bagi raja di rumahnya juga
membuat keris sendiri.

IV. PERKIRAAN USIA JAMAN


Tangguh suatu jaman ditentukan berdasarkan cirri-ciri khusus keris buatan jaman itu
yaitu cirri rata-rata buatan empu di jaman tersebut. Karena di jaman itu hidup berpuluh-
puluh empu pembuat keris tentu saja juga banyak ragam gaya pembuatannya. Namun
dapat diperkirakan sebagian besar para empu akan meniru buatan empu yang menonjol di
jamannya dengan cirri-ciri khasnya. Lebih-lebih empu yang menonjol ini hidup sebagai
hamba raja. Hasil buatanya tentu prima.
Dalam buku-buku lama tentang keris, seperti karya Ranggawarsita dan karya penulis
dalam manuskrip yang tersimpan di Puro Mangkunegaran disebutkan ciri-ciri Tangguh
dari jaman ke jaman mulai jaman Kedewaan sampai jaman kerajaan Surakarta dan
Yogyakarta. Namun dari kesemuanya itu tidak ada yang menyebut angka tahun apalagi
lamanya jaman itu. Haryono Haryoguritno dalam makalahnya yang dibacakan didepan
"Metafisika Study Club" Jakarta pada 17 September 2000 menbuat tabel tangguh-
tangguh berikut lama usianya.

KATEGORI TANGGUH PERKIRAAN JAMAN


(tahun Masehi)
Kadewatari abad 4 - 5 M
Purwacarita abad 6 - 7 M
Buda abad 8 -9 M
Jenggala, Segaluh abad 9 - 12 M
Pajajaran abad 10 - 12 M
Singasari abad 13 M
Majapahi , Blambangan, Tuban, Sedayu abad 14 - 15 M
Pajang, Pengging, Madura abad 16 M
Mataram a. Panembahan Senapat abad 16 M
b. Sultan Agung Hayakrakusuma abad 17 M
c. Amangkurat Agung (Pleret, Kartasura). abad 18 - 19 M
Surakarta, Yogyakarta abad 18 - 20 M

TANGGUH ATAU PERKIRAAN USIA DAN ASAL KERIS


Oleh : S.Lumintu