Anda di halaman 1dari 38

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat karunia-Nya
penulis mampu menyelesaikan makalah dengan judul “Micel”. Makalah ini
merupakan tugas mata kuliah Nano Teknologi.
Melalui makalah ini yang diharapkan dapat menunjang nilai penulis di
dalam mata kuliah Nano Teknologi. Selain itu, dengan hadirnya makalah ini dapat
memberikan informasi yang dapat menjadi pengetahuan baru bagi pembacanya.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing serta kepada seluruh pihak yang terlibat di dalam penulisan makalah
ini. Penulis menyadari bahwa, masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalam
penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang konstruktif untuk kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Kendari, 20 Oktober 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PEGANTAR..................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................
1.1 LATAR BELAKANG.........................................................................................
1.2 RUMUSAN MASALAH.....................................................................................
1.3 TUJUAN..............................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................
2.1. Teknologi Nano dan Carbon nanotube (CNT)..................................................
2.2. Karakterisasi dan langkah pembuatan Carbon nanotube (CNT).......................
BAB III PEMBAHASAN..........................................................................................
2.1 Definisi Carbon Nanotube..................................................................................
2.2 Struktur Carbon Nanotube..................................................................................
2.3 Sifat-sifat Carbon Nanotube...............................................................................
2.4 Pembentukan Carbon Nanotube.........................................................................
2.5 Aplikasi Carbon Nanotube.................................................................................
BAB III PENUTUP....................................................................................................
3.1 KESIMPULAN....................................................................................................
3.2 SARAN................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nanoteknologi atau nanosains adalah ilmu pengetahuan dan teknologi
pada skala nanometer, atau sepermilyar meter. Nano teknologi merupakan suatau
teknologi yang dihasilkan dari pemanfaatan sifat-sifat molekul atau struktur atom
apabila berukuran nanometer. Jadi apabila molekul atau struktur dapat dibuat
dalam ukuran nanometer maka akan dihasilakan sifat-sifat baru yang luar biasa.
Sifat-sifat baru inilah yang dimanfaatkan untuk keperluan teknologi, sehingga
teknologi ini disebut nano teknologi.
Dalam nanoteknologi, sebuah partikel didefinisikan sebagai benda kecil
yang berperilaku sebagai satu kesatuan yang utuh dalam hal transportasi dan sifat-
sifatnya. Hal ini lebih diklasifikasikan sesuai dengan ukuran: dalam hal diameter,
partikel halus mencakup rentang antara 100 dan 2500 nanometer, sementara
partikel ultrafine, di sisi lain, yang berukuran antara 1 dan 100 nanometer.
Pada dasarnya, nanopartikel dapat dibagi menjadi dua yaitu nanokristal
dan nanocarrier. Nanocarrier memiliki berbagai macam seperti nanotube, liposom,
nanopartikel lipid padat (solid lipid nanopartikel/SLN), misel, dendrimer,
nanopartikel polimerik dan lain-lain (Rawat et al, 2006). Oleh karena itu Pada
kesempatan ini penulis akan membahas tentang nanocarrier yaitu misel.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud Nano Teknologi Carbon nanotube (CNT) ?
b. Bagaimana Struktur Nano Teknologi Carbon Nanotube (CNT) ?
c. Apa saja Sifat-sifat Nano Teknologi Carbon Nanotube (CNT)?
d. Bagaiaman Pembentukan Nano Teknologi Carbon Nanotube (CNT)?
e. Bagaimana Aplikasi Nano Teknologi Carbon Nanotube (CNT) ?
f. Bagaimana Review Jurnal Nano Teknologi Carbon Nanotube (CNT) ?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud Nano Teknologi Carbon nanotube
(CNT) ?
b. Untuk mengetahui Bagaimana Struktur Nano Teknologi Carbon Nanotube
(CNT) ?
c. Untuk mengetahui Apa saja Sifat-sifat Nano Teknologi Carbon Nanotube
(CNT)?
d. Untuk mengetahui Bagaiamana Pembentukan Nano Teknologi Carbon
Nanotube (CNT)?
e. Untuk mengetahui Bagaimana Aplikasi Nano Teknologi Carbon Nanotube
(CNT) ?
f. Untuk mengetahui Bagaimana Review Jurnal Nano Teknologi Carbon
Nanotube (CNT) ?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi Ilmu Nano Teknologi Nano dan Carbon nanotube (CNT)
Ilmu nano adalah studi fenomena dan manipulasi bahan pada skala atom,
molekul dan makro molekul, dimana sifat-sifat bahan sangat berbeda
[2,4]
dibandingkan bahan tersebut pada skala yang lebih besar . Teknologi nano
dapat didefenisikan sebagai bidang-bidang teknologi dimana dimensi dan
toleransi pada skala nano memainkan peranan penting , teknologi nano meliputi
pencitraan, pemodelan, pengukuran,fabrikasi dan manipulasi sesuatu pada skala
nano . Secara umum terdapat 3 kriteria produk nano : (a) Dapat dibeli oleh
konsumen, (2) Diidentifikasi oleh manufaktur atau sumber lain, (c) Klaim
terhadap produk nano kelihatan layak.
Pada tahun 1985, Richard E Smalley, Robert F Curl, Jr (keduanya dari Rice
University, Houston, Amerika Serikat), dan Sir Harold W Kroto (dari University
of Sussex, Brighton, Inggris) menemukan struktur karbon murni yang tersusun
[5]
atas 60 atom karbon (C60) . Penemuan ini cukup menarik mengingat selama ini
hanya ada dua bentuk unsur karbon murni yang dikenal: grafit dan intan. Struktur
C60 tersebut di beri namabuckminsterfullerene atau disebut juga bucky ball. Nama
ini dipilih karena strukturnya menyerupai bangunan berkubah seperti bola yang
dirancang oleh seorang arsitek Amerika Serikat, R Buckminster Fuller untuk
[5]
World Exhibition 1967 di Montreal, Kanada . Penemuan yang dipublikasikan
dalam jurnal Nature pada tanggal 14 November 1985 ini mengantarkan mereka
memperoleh hadiah Nobel Kimia pada tahun 1996. Dalam perkembangan
berikutnya, molekul C60 ini lebih dikenal dengan nama fullerene dan digunakan
pula untuk untuk menamai molekul-molekul serupa yang ditemukan sesudahnya,
seperti C70, C74, dan C82[6]. Penemuan fullerene ini kemudian memicu
ditemukannya material baru bernama carbon nanotube (CNT). Struktur CNT
mirip dengan fullerene. Bedanya, atom-atom karbon pada fullerene membentuk
struktur seperti bola, sedangkan CNT berbentuk silinder yang tiap ujungnya
ditutup oleh atom-atom karbon yang berbentuk setengah struktur fullerene[6].
Struktur CNT pertama kali ditemukan oleh Sumio Iijima dari NEC Laboratories di
Jepang.
Berdasarkan jumlah dindingnya, CNT secara umum dapat dikelompokkan
menjadi dua macam, yaitu CNT berdinding tunggal (single-walled CNT atau
SWNT) dan CNT berdinding banyak (multi-walled CNT atau MWNT). Sifat-sifat
CNT yang luar biasa itu kemudian dapat diturunkan secara spesifik dengan
menganalisis lembaran penyusun dinding tersebut, yaitu graphene (grafit
berbentuk lembaran) yang digulung menjadi silinder.Ada banyak cara untuk
menggulung lembaran graphene menjadi sebuah CNT, persis seperti ketika kita
ingin menggulung selembar kertas. Arah dari penggulungan lembaran tersebut
akan menentukan arah ikatan heksagonal pada CNT, yang kemudian sangat
menentukan sifat listrik CNT dengan geometri tersebut. Untuk mengkarakterisasi
sebuah CNT dengan geometri tertentu, diberikan parameter bilangan bulat (n, m),
yang disebut dengan vektor chiral. Panjang dari vektor chiral ini akan menjadi
keliling CNT, yaitu bagian panah vektor harus bertemu dengan bagian ekornya
ketika diputar menjadi lingkaran.
Silinder yang dibentuk dikarakterisasi berdasarkan diameter dan sudut
kiralnya (chiral angle), atau oleh nilai indeks (n,m) (Gambar 3). Struktur
CNTbernilai indeks (n,0) disebut struktur zigzag. Jika nilai indeksnya (n,n),
strukturnya disebut struktur armchair. Struktur- struktur lainnya disebut struktur
intermediate (antara zigzag dan armchair).

2.2. Karakteristik dan Langkah Pembentukan CNT


Sifat elektrik, molekul, dan struktur karbon nanotube ditentukan struktur
satu dimensinya. Beberapa sifat penting karbon nanotube adalah :
(a) Reaktifitas kimia
Reaktifitas kimia CNT akan meningkat sebanding dengan kenaikan arah
kurvatur permukaan karbon nanotube. Oleh karena itu, reaktifitas kimia pada
bagian dinding karbon nanotube akan sangat berbeda dengan bagian
ujungnya. Diameter karbon nanotube yang lebih kecil akan meningkatkan
reaktivitas.
(b) Sifat listrik dan Konduktivitas elektrik
Karbon nanotube dengan diameter yang lebih becil dapat menjadi semi
konduktor atau menjadi metalik tergantung pada vektor khiral. Perbedaan
konduktifitas ini disebabkan oleh struktur molekul.Berdasarkan teori zat
padat, para fisikawan berhasil memperoleh fakta bahwa CNT memiliki
kelakuan listrik yang “ganda”, yaitu sebagai logam atau semikonduktor. Jika
(n–m)/3 merupakan bilangan bulat, maka CNT bersifat logam, sedangkan jika
(n–m)/3 bukan bilangan bulat, maka CNT bersifat semikonduktor. Menarik
sekali karena ternyata kemampuan hantaran listrik CNT, apakah sebagai
logam atau semikonduktor, hanya bergantung pada geometrinya.

Gambar :Geometri CNT

Keunikan sifat listrik CNT pada dasarnya merupakan ‘turunan’ sifat


dari struktur elektronik yang tidak biasa dari graphene dengan ikatan karbon
sp2. Graphene memiliki keadaan yang mampu menghantarkan listrik dengan
tingkat energi yang ada di perbatasan struktur elektronik. Keadaan ini biasa
disebut zero bandgap semiconductor atau semimetal karena bersifat logam
(konduktor) pada arah tertentu dan semikonduktor pada arah lainnya.
(c) Kekuatan mekanik
Karbon nanotube mempunyai modulus Young yang sangat fleksibel karena
ukurannya yang panjang. Karbon nanotube sangat potensial untuk aplikasi
material komposit sesuai dengan kebutuhan. Langkah-langkah pembentukan
CNT tidak diketahui secara pasti. Mekanisme pertumbuhan masih menjadi
subyek kontroversi dan lebih dari satu mekanisme yang berjalan selama
pembantukann CNT. Salah satu mekanisme menyebutkan bahwa CNT
terbentuk dalam 3 langkah (Laurent dkk,1998). Pertama sebuah percusor
pembentuk CNT dan fullerenes C2terbentuk pada permukaan partikel katalis
logam. Partikel karbida metastabil ini kemudian membentuk karbon batang
secara cepat. Selanjutnya terjadi pembentukan dinding CNT secara perlahan.
Proses pertumbuhan karbon nanotubetelah banyak dipelajari baik untuk
SWNT (Lee, dkk., 1997 dan Murakami, dkk., 2004) dan MWNT (Kwon,
1997). Kondisi secara tepat tergantung pada teknik yang digunakan dalam
pembantukan CNT. Namun pertumbuhan secara umum sama untuk semua
teknik.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pengertian Carbon nanotube


Carbon nanotube adalah salah satu struktur carbon yang berbentuk seperti
silinder dengan diameter dalam orde nanometer. Salah satu keunikan dalam
struktur ini adalah kelebihannya dalam hal kekuatan, sifat keelektrikannya, dan
juga sifat dalam penghantaran panas yang baik. Struktur ini memiliki bermacam
bentuk turunan yang masing-masing memiliki sifatnya tersendiri. Keistimewaan
carbon nanotube membuatnya menjadi harapan baru dalam perkembangan
teknologi nano.

Carbon nanotube merupakan turunan dari struktur carbon. Carbon nanotube


dapat dideskripsikan sebagai lembaran grafit setebal 1 atom yang digulung
menyerupai silinder dan memiliki diameter dengan orde nanometer . Lembaran ini
memiliki struktur seperti sarang lebah (honeycomb) yang terdiri dari ikatan-ikatan
atom carbon.
3.2. Struktur carbon nanotube
Struktur carbon nanotube yang unik memungkinkannya memiliki sifat
kenyal, daya regang, dan stabil dibandingkan struktur carbon lainnya.
Kelebihannya ini dapat dimanfaatkan dalam pengembangan struktur bangunan
yang kuat, struktur kendaraan yang aman, dan lainnya. Hal ini dikarenakan
carbon nanotube memiliki ikatan sp3 menyerupai struktur di grafit. Ikatan ini
lebih kuat dibandingkan dengan struktur ikatan sp2 yang dimiliki oleh intan.
Dengan demikian secara alami carbon nanotube akan membentuk ikatan yang
sangat kuat.

Gambar 1. Struktur Carbon Nanotube Dalam 3 Dimensi


a. single Walled Nanotubes (SWNT)

Struktur ini memiliki diameter kurang lebih 1 nanometer dan memiliki


panjang hingga ribuan kali dari diameternya. Struktur SWNT dapat
dideskripsikan menyerupai sebuah lembaran panjang struktur grafit (disebut
graphene) yang tergulung. Umumnya SWNT terdiri dari dua bagian dengan
properti fisik dan kimia yang berbeda. Bagian pertama adalah bagian sisi
dan bagian kedua adalah bagian kepala. SWNT memiliki beberapa bentuk
struktur berbeda yang dapat dilihat bilamana struktur tube dibuka.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2. Beberapa Bentuk Struktur SWNT (a) Struktur Armchair (b) Struktur
Zigzag (c)
Struktur Chiral
Gambar 3. Struktur SWNT Secara Vektor (1)

Pada gambar 3 terlihat cara lembaran grafit (graphene) dilipat dapat


dijabarkan oleh chiral vector Ch yang direpresentasikan oleh pasangan (n,m). n
dan m menunjukkan jumlah unit vektor di antara 2 vektor di dalam crystal lattice
dari graphene. Jika m=0 maka struktur nanotube dinamakan struktur zigzag. Jika
n=m maka struktur nanotube dinamakan struktur armchair. Selebihnya
dinamakan struktur chiral. Perbedaan dalam chiral vector akan menyebabkan
perbedaan sifat struktur, misalnya sifat struktur terhadap cahaya, kekuatan
mekanik, dan konduktivitas elektrik.
SWNT memiliki sifat keelektrikan yang tidak dimiliki oleh struktur MWNT.
Hal ini memungkinkan pengembangan struktur SWNT menjadi nanowire karena
SWNT dapat menjadi konduktor yang baik. Selain itu SWNT telah dikembangkan
sebagai pengganti dari field effect transistors (FET) dalam skala nano. Hal ini
karena sifat SWNT yang dapat bersifat sebagai nFET juga p-FET ketika bereaksi
terhadap oksigen. Karena dapat memiliki sifat sebagai n-FET dan p-FET maka
SWNT dapat difungsikan sebagi logic gate.
a. Multi Walled Nanotubes (MWNT)
MWNT dibentuk dari beberapa lapisan struktur grafit yang digulung
membentuk silinder. Atau dapat juga dikatakan MWNT tersusun oleh beberapa
SWNT dengan berbeda diameter. MWNT jelas memiliki sifat yang berbeda
dengan SWNT.
Gambar 4. Struktur MWNT

Pada MWNT yang hanya memiliki 2 lapis dinding (Double-Walled Carbon


NanotubesDWNT) memiliki sifat yang penting karena memiliki sifat yang
menyerupai SWNT dengan chemical resistance yang lebih baik. Hal ini
dikarenakan pada SWNT hanya memiliki 1 lapis dinding sehingga bilamana
terdapat ikatan C=C yang rusak maka akan menghasilkan lubang di SWNT dan
hal ini akan mengubah sifat mekanik dan elektrik dari ikatan SWNT tersebut.
Sedangkan pada DWNT masih terdapat 1 lapisan lagi di dalam yang akan
mempertahankan sifatnya.

(a) (b)
Gambar 5. Struktur Yang Berbeda Dari MWNT (a) MWNT yang terpisah 0.34
nm (b) Bentuk cone shaped end caps Yang Simetris Dan Tidak Simetris
b. Torus
Bentuk struktur ini masih berupa teoritis. Bentuk torus adalah bentuk struktur
melingkar seperti donut. Struktur ini memiliki beberapa sifat yang menonjol
seperti momen magnetik yang lebih besar, stabil dalam suhu, dan sebagainya.
Sifat ini akan bervariasi tergantung dari diameter torus dan diameter dari
nanotube.
c. Peapod
Struktur ini cukup unik karena terdapat molekul C60 yang terbungkus di tengah
nanotube.
3.3. Sifat- sifat Carbonnanotube
a. Konduktivitas Listrik dan Panas

Sifat keelektrikan yang dimiliki oleh carbon nanotube ditentukan oleh


struktur yang dimilikinya. Struktur ini menyangkut diameter dan bagaimana
tube ”digulung” menjadi nanotube. Bilamana mengacu pada gambar 3, maka
untuk nanotube (n,m), bila n-m adalah kelipatan dari 3 maka nanotube
tersebut bersifat konduktor, dan selain itu bersifat semikonduktor. Sehingga
untuk struktur armchair akan selalu bersifat logam (n=m). Nanotube
memiliki densitas arus listrik 1000 kali lebih besar daripada logam seperti
perak dan tembaga.

Ketika nanotube bersifat sebagai konduktor, nanotube memiliki


konduktivitas yang sangat tinggi. Diperkirakan pada saat nanotube bersifat
sebagai konduktor maka ia mempunyai konduktivitas listrik sebesar 1 milyar
Ampere per 1 cm2. Hal ini tidak mungkin terjadi pada bahan tembaga karena
akan terjadi panas yang dapat melelehkan tembaga. Pada nanotube tidak akan
terjadi panas yang tinggi karena hambatan yang rendah. Nanotube juga
memiliki konduktivitas panas yang baik. Hal ini yang kemudian nanotube
diberi sebutan ballistic conduction. Nanotube memiliki kemampuan untuk
mentransmisikan 6000 W/m/K di suhu ruangan (pada tembaga hanya 385
W/m/K). Selain itu nanotube tetap stabil hingga suhu 2800 oC di ruang hampa
udara dan sekitar 750 oC di udara bebas.

b. Kekuatan Mekanik
Nanotube memiliki modulus elastik dan sifat peregangan yang sangat baik.
Sifat ini karena ikatan sp2 yang dimiliki oleh carbon nanotube ini. Tipe
MWNT dapat menangani hingga 63 GPa regangan yang diberikan padanya
(pada baja carbon terbaik saat ini hanya mampu menahan peregangan hingga
1.2 GPa). Sedangkan modulus elastik yang dimiliki oleh nanotube dapat
mencapai 1 TPa. Saat ini telah diketahui pula nanotube memiliki kekuatan
hingga 48462 kN.m/kg (dibandingkan baja carbon terbaik hanya 154
kN.m/kg).

Gambar 6. Perbandingan Sifat Mekanik Dari Carbon dan Grafit


Fiber

c. Sifat Vibrasi

Atom memiliki pola getaran yang kontinue dan periodik. Pada MWNT,
dimana beberapa nanotube saling terpola satu di dalam yang lain,
memperlihatkan bahwa pada lapisan yang di dalam akan bergetar sedemikian
hingga mendekati pola gerakan yang berputar sempurna tanpa adanya gesekan
dengan lapisan di atasnya. Pendekatan ini kemudian dapat dikembangkan
menjadi motor dalam skala nanometer. Pergetaran ini sangat ditentukan oleh
diameter dari nanotube.

3.4. Pembentukan Carbonnanotube


Terdapat beberapa cara dalam pembentukan nanotube, namun secara umum
yang banyak digunakan adalah metode pelepasan bunga api (arc discharge), CVD
(Chemical Vapour Deposition), dan laser ablation.
a. Metode Arc Discharge
Metode ini menggunakan 2 buah batang carbon yang diletakkan saling
berhadapan pada ujungnya dan dipisahkan sejarak kurang lebih 1 mm. Ruang
yang terpisah ini kemudian dialiri gas seperti Helium dan Argon pada tekanan
rendah (50-700 mbar).Kemudian arus listrik sebesar 50-100 A dan tegangan 20
volt diberikan sehingga menciptakan perubahan suhu yang tinggi di antara ujung
elektroda sehingga akan terjadi penguapan di ujung batang tersebut. Kemudian
proses ini akan dilanjutkan dengan pembentukkan lapisan oleh uap dari
penguapan batang tersebut pada ujung batang lainnya. Peristiwa ini dapat dilihat
pada gambar 7.

Gambar 7. Proses Pembentukan Nanotube Dengan Arc Discharge

Pada proses ini dapat terbentuk 2 buah struktur yaitu SWNT dan MWNT.
Bilamana diinginkan hasilnya SWNT maka pada anoda didoping dengan katalis
logam seperti Fe, Co, dan Ni. Kuantitas dan kualitas dari nanotube tergantung dari
beberapa parameter seperti konsentrasi logam yang digunakan, tekanan gas, jenis
gas, dan berbagai parameter lainnya. Sedangkan pada MWNT tidak menggunakan
doping seperti halnya proses pembentukan SWNT. Namun dalam proses
pembentukan MWNT akan terbentuk berbagai bahan lain yang tidak diinginkan.
Bila diusahakan benar-benar murni maka akan MWNT yang terbentuk akan
kehilangan strukturnya dan dinding struktur yang tidak teratur.
b. Metode CVD (Chemical Vapour Deposition)
Metode ini telah ada sejak tahun 1959 namun baru dipakai sejak tahun 1993
untuk proses pembentukan nanotube. Pada proses ini carbon disiapkan dengan
lapisan partikel logam katalis, seperti nikel, kobalt, besi, atau kombinasinya dan
dikondisikan pada suhu sekitar 700 oC. Sementara itu 2 jenis gas, yaitu gas untuk
proses seperti ammonia, nitrogen, hydrogen dan sebagainya serta gas yang
mengandung carbon seperti acetylene, ethylene, ethanol, methane, dan
sebagainya, dialirkan ke dalam proses.

Gambar 8. Reaktor Pembentukan Metode CVD


c. Metode Laser Ablation

Metode ini menggunakan laser untuk menguapkan grafit pada suhu 1200 oC.
Ruangan tempat berlangsungnya proses ini akan diisi dengan gas helium atau
argon dan dijaga tetap pada tekanan 500 Torr. Pada keadaan ini maka akan
terbentuk uap yang kemudian dengan cepat akan kembali dingin. Keadaan ini
akan menyebabkan terbentuknya atom dan molekul carbon dan akan terbentuk
kelompok yang besar. Kelompok-kelompok ini kemudian akan tumbuh
menjadisingle-wall carbon nanotube. Kondisi yang menggambarkan peristiwa ini
digambarkan pada gambar 9

(a) (b)
Gambar 9. Metode Laser Ablation

3.5. Aplikasi Carbon Nanotubes

Berbagai komponen elektronika telah dikembangkan dengan menggunakan


segala kelebihan dari carbon nanotube. Dioda sebagai salah satu komponen dasar
elektronika telah diterapkan dengan menggunakan nanotube. Contoh dapat dilihat
pada gambar 10. Transistor sebagai rangkaian switching juga telah dapat
digantikan oleh nanotube. Berbagai komponen elektronika telah dikembangkan
dengan menggunakan segala kelebihan dari carbon nanotube. Dioda sebagai salah
satu komponen dasar elektronika telah diterapkan dengan menggunakan nanotube.
Contoh dapat dilihat pada gambar 10. Transistor sebagai rangkaian switching juga
telah dapat digantikan oleh nanotube.
Gambar 10. Penerapan Nanotube Sebagai Dioda. Selain itu
ultracapacitorspin transistor, FET inverter, dan berbagai komponen gerbang
logika telah dikembangkan oleh para periset. Sifat konduktivitas yang baik
ditunjukan oleh carbon nanotube menjadikannya dapat menggantikan sifat wire
sehingga memungkinkan dikembangkan nanocircuit untuk nanocomputer
Penggunaan carbon nanotube sebagai sensor juga telah dikembangkan.

Gambar 11. Penggunaan Carbon Nanotube Sebagai Sensor

Carbon nanotube juga telah diimplementasikan dalam sistem


nanoelektromekanikal seperti elemen memory (NRAM-dikembangkan oleh
Nantero Inc) dan motor elektrik skala nano. Pakaian perang, tangga untuk kapal
luar angkasa, hingga kerangka sepeda (Floyd Landis) telah memakai nanotube
sebagai bahan dasarnya. Ali Tinazli adalah salah satu seorang ilmuwan yang
tergabung dalam group riset dari Cellular Biochemistry Lab di Johann-Wolfgang-
Goethe University of Frankfurt yang mengembangkan sistem lithography dengan
menggunakan teknologi nano protein. Sistem nanolithography ini memungkinkan
untuk menulis, membaca, dan menghapus data yang dapat berupa dan
menggunakan susunan protein. Sistem ini akan memungkinkan pengembangan
dalam bidang biosensor. Sistem nanolithography ini dapat dilihat pada gambar 12.

Gambar 12. Native Protein Nanolithography

RIVIEW JURNAL

FUNGSIONALISASI DAN EVALUASI PEGYLATED KARBON


NANOTUBES SEBAGAI OBAT BARU PENGIRIMAN METHOTREXATE
ABSTRAK

Beberapa sistem pengiriman dikembangkan untuk menargetkan methotrexate ke


jaringan kanker. Keberhasilan terbatas karena rendahnya pemuatan obat,
pengendalian ukuran, toksisitas, dan peningkatan dan biaya perumusan. Akhir-
akhir ini, nanotube karbon telah diproyeksikan sebagai pembawa yang
menjanjikan untuk banyak obat-obatan termasuk agen antikanker. Pekerjaan saat
ini adalah usaha untuk menyelidiki potensi - potensi nanotube karbon berdinding
banyak (MWCNT) sebagai pembawa untuk menargetkan metotreksat terhadap
kanker jaringan. MWCNT difungsikan dengan menggunakan DSPE-mPEG 2000
dan kemudian direaksikan dengan metotreksat (MTX) untuk menghasilkan
konjugat MWCNT-mPEG-MTX. Konjugat itu dicirikan untuk ukuran partikel,
efisiensi pemuatan, morfologi & laju pelepasan obat. Hasil menunjukkan bahwa
sekitar 2,26 mg Metotreksat per mg MWCNTs sarat dengan 56,5% efisiensi
jebakan Ukuran partikel konjugat MWCNT ditemukan kurang dari 200nm
dengan indeks polidispersitas 0,286 pasca liofilisasi produk. Konjugat MWCNT
ditemukan untuk melepaskan obat lebih cepat dalam medium asam daripada pada
pH netral. Namun, di kedua netral dan media asam, pelepasannya terus berlanjut
selama 48 jam
PENGANTAR
Mengobati kanker merupakan tantangan karena agen kemoterapi kanker bersifat
sitotoksik dan jarang bisa membedakan sel kanker dari sel normal. Hal ini
menyebabkan kehancuran atau gangguan organ vital selain membunuh sel kanker
bahkan pada tingkat dosis terapeutik, jika distribusi bio mereka tidak terkontrol
dengan baik dan agen terapeutik tidak ditargetkan terhadap sel kanker atau
jaringan. Meskipun banyak sistem terapeutik yang ditargetkan dikembangkan
untuk obat antikanker menggunakan pembawa vesikular dan partikulat,
keberhasilannya masih terbatas karena beberapa masalah seperti pemuatan obat
rendah, pengendalian ukuran, toksisitas, peningkatan dan juga biaya perumusan
(Ji et al., 2010). Dalam upaya untuk menyelidiki sistem pembawa yang sesuai
yang mampu mengambil cukup tinggi muatan obat dengan kemampuan
penargetan, nanotube karbon diselidiki oleh beberapa pekerja (Bianco et al.,
2005, Klumpp et al., 2006, Liu et al., 2008) untuk pengiriman yang ditargetkan
dari banyak antikanker obat-obatan (Srinivasan, 2008). Dalam komunikasi kami
saat ini, metotreksat memuat nanotube karbon dikembangkan dan dievaluasi
untuk studi pemuatan obat & in-vitro difusi di media asam.
Metotreksat adalah obat antikanker yang termasuk dalam kategori asam
dihidrofolik Penghambat reduktase yang digunakan dalam pengobatan penyakit
neoplastik tertentu, psoriasis berat, dan radang sendi pada orang dewasa. Biasanya
digunakan dalam dosis tinggi untuk pengobatan kanker daripada yang dibutuhkan.
Kelainan lainnya dan sering diberikan secara intravena atau intramuskular. Utilitas
obatnya adalah terbatas karena toksisitas sistemik yang tinggi. Sistem pengiriman
anti kanker yang ditargetkan mengandung Methotrexate dilaporkan oleh beberapa
pekerja (Wanichsiriroj et al., 1985, Woo et al., 1983, Vodovozova et al., 2007,
Kim et al., 1994) dengan kemampuan pemuatan obat bervariasi dari 12% sampai
80% berdasarkan komponen sistem pengiriman dan metode mereka persiapan.
Nanotube karbon adalah allotropes karbon dengan Struktur nano yang
memiliki rasio panjang terhadap diameter lebih besar dari 1 juta. Mereka
memiliki jaringan heksagonal dari atom karbon yang ditenun silinder berongga
yang memiliki diameter sekecil 0,7 nm dan jangkauan beberapa milimeter
panjangnya (Annabelle, 2004). Ada 6 tipe struktur nano karbon 1) berdinding
tunggal, 2) multiwalled, 3) nanoflower, 4) nanobud, 5) fullerites dan 6) torus.
Multiwalled nanotube karbon (MWCNT) berdiameter 20 nm (I. Sumio, 1991)
dan banyak dipelajari untuk berbagai aplikasi. Karbon nanotube seperti sangat
hidrofobik dan tidak terdispersi masuk sistem berair. Fungsionalitas nanotube
karbon tidak hanya membuatnya lebih mudah larut / tersebar dalam air tapi juga
aktif situs untuk pelekatan obat-obatan, ligan dan agen lainnya seperti PEG untuk
Mencapai sirkulasi darah yang panjang setengah hidup membantu menghalangi
in-vivo opsonisasi dan pengurangan RES serapan (Prato et al., 2008, Jaffe, 2005).
Selain itu, karbon nantoubes memiliki hal penting lainnya sifat seperti kapasitas
pemuatan obat ultra tinggi, obat selektif lepaskan di lingkungan asam dll.
Karya yang dikomunikasikan dalam makalah ini meliputi pengembangan
karbon terfragmentasi Methotrexate loaded PEGylated nanotube Fungsi non-
kovalen Karbon berdinding ganda Nanotube (MWCNTs) dicapai dengan
menggunakan DSPE-mPEG untuk PEGilasi. MWCNT yang disahkan terpasang
dengan Metotreksat dengan sonikasi pada media yang sesuai (pH 7,4). Itu
Formulasi dicirikan untuk ukuran partikel, jebakan obat dan morfologi
permukaan. Sampel diberi liofilisasi dan stabilitas dinilai. Penelitian difusi in-
vitro dilakukan dimedia asam (pH 5,8) untuk mengevaluasi potensi
penargetannya.
EKSPERIMENTAL
Bahan
Multiwalled carbon nanotube dengan 10-15 nm outer diameter diameter 2-6 nm
dan panjang 0.1-10 μm dibeli dari Sigma-Aldrich, Jerman, 1,2 - Distearoyl-
phosphatidylethanolamine-methoxy-polyethylene glycol conjugate -2000 (DSPE-
mPEG 2000) diterima sebagai sampel hadiah dari Sun Pharma Advanced
Research Center, Baroda, India, Methotrexate diterima sebagai sampel pemberian
dari Zydus Cadila, Ahmedabad, India. Semua bahan kimia lainnya adalah grade
laboratorium dibeli dari pemasok lokal
METODE
1. Persiapan MWCNT PEGylated yang dilarutkan
MWCNT difungsikan dengan mencampurnya dengan DSPE- mPEG 2000
dalam air dan disonikasi dalam sonicator mandi. Tidak terikat surfaktan benar-
benar dilepaskan dengan penyaringan berulang melalui 100 kDa filter (Millipore).
MWCNTs yang difungsikan itu kemudian disuspensikan kembali dalam buffer-
buffered phosphate (PBS) melalui sonication di bath sonicator dan dicampur
secara terpisah dengan yang diketahui konsentrasi larutan metotreksat yang
disiapkan dalam buffer yang berbeda.
Campuran disimpan semalam pada kondisi pH yang berbeda. Proses Parameter
seperti waktu sonication dan waktu pemuatan obat adalah dioptimalkan
berdasarkan ukuran partikel dan jebakan obat masing-masing. Rasio MWCNTs:
DSPE-mPEG: MTX juga dioptimalkan berdasarkan ukuran partikel dan jebakan
obat efisiensi (Chen et al., 2001, Britz et al., 2006)
KARAKTERISASI
1. Efisiensi jebakan obat
Pembebanan obat (obat yang dimasukkan ke dalam 1 mg MWNTs yang
difungsikan dari awalnya 4mg diambil) ditentukan dengan melewatkan formulasi
1 ml melalui Sephadex G-50 kolom, cuci kolom dengan 1 ml buffer fosfat pH 7,4
dan mengumpulkan 4 fraksi 0,5 ml. Encerkan fraksi dengan buffer fosfat pH 7,4
dan mengukur absorbansi pada 259nm menggunakan buffer fosfat pH 7,4 sebagai
blank. Hitunglah pemuatan obat dan% assay (Kim et al., 1994).
2. Morfologi
Studi distribusi ukuran partikel dan potensi zeta Konjugat MWCNT diukur
dengan Zetasizer Nano ZS (Instrumen Malvern, Inggris). TEM mempelajari
MWCNT konjugasi dilakukan dengan menggunakan elektron Transmisi Tecnai 20
mikroskop, Philips, Belanda.
3. Studi pelepasan obat in-vitro (Wang et al., 2007)
The in vitro rilis studi Methotrexate dari Formulasi MWCNT ditentukan
dengan menggunakan membran dialisis. Secara singkat, 1 ml formulasi MWCNT
diambil dalam tabung dialisis (Mol. Wt. Cut-off 12.000; HIMEDIA, Mumbai,
India Himedia) dan ditangguhkan dalam buffer fosfat pada pH tertentu. Pelepasan
obat dari formulasi tersebut ditentukan dengan mengestimasi kandungan obat di
Sampel ditarik pada interval waktu yang tepat selama 48 jam (Tekade et al.,
2008).
4. Studi stabilitas
Studi stabilitas formulasi MWCNT dilakukan pada suhu kamar (RT) dan pada
kondisi berpendingin (Freeze) selama 1 bulan Uji obat (%) dan ukuran partikel
ditentukan sampel ditarik pada interval waktu yang ditentukan
HASIL
1. Fungsionalisasi Karbon Karbon Berwarna dan pemuatan obat
Berbagai batch MWCNT yang difungsikan disiapkan untuk optimasi rasio
MWCNT: DSPE-mPEG oleh menjaga konsentrasi konstanta MWCNT (1 mg /
ml) & menggunakan konsentrasi DSPE-mPEG bervariasi seperti ditunjukkan
pada Tabel 1

Ukuran partikel telah diambil sebagai parameter respon untuk optimasi. Batch
yang dioptimalkan (Batch M8) disiapkan dalam berbagai kondisi pengolahan
untuk mempelajari pengaruh Waktu sonication pada ukuran partikel dan jebakan
obat masing-masing. Tabel 2 mencantumkan hasil yang diperoleh dari beberapa
studi dalam persiapan formulasi MWCNT-mPEG.
Dari atas, berdasarkan ukuran partikel, gambar 2 menjelaskan 90 menit
adalah waktu sonication optimal (Batch M8f). Demikian pula percobaan
dilakukan untuk mengoptimalkan konsentrasi MTX untuk jebakan obat-obatan
terlarang. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3, konsentrasi MTX meningkat
dari 2mg / ml ke 12 mg / ml menjaga konsentrasi MWCNT yang difungsikan
konstan (1mg / ml). Berdasarkan% nilai jebakan obat, batch M16 dioptimalkan.

Batch yang dioptimalkan (M16) ditunjukkan pada gambar 3 tersebut disiapkan


dalam berbagai kondisi pengolahan untuk mempelajari pengaruh masa inkubasi
terhadap jebakan obat. Tabel 4 daftar Hasil yang diperoleh dari penelitian
semacam itu dalam penyusunan MTX memuat formulasi MWCNT-mPEG.
KARAKTERISASI FORMULASI
BGP yang dioptimalkan (M16b) MTX memuat DSPE- Formulasi mPEG dicirikan
sebagai berikut parameter;
1) Analisis ukuran partikel
2) Zeta potensial
3) Mikroskop elektron transmisi (TEM)
1. Analisis ukuran partikel dan pengukuran potensial zeta:
Formulasi kering beku akhir Methotrexate dimuat Nanotube karbon
terfragmentasi menunjukkan ukuran partikel rata-rata 189,7 nm dengan 0,215 PDI
dan intensitas puncak 100% saat formulasi dilarutkan dengan menggunakan air
bebas pirogen (Gambar 4). Zeta Potensi formulasi yang sama ditemukan -25,8 mV
(Gambar 5)
2. Transimission electron microscopy (TEM)
Studi TEM menunjukkan struktur internal difungsikan nanotube karbon
berdinding ganda (Gambar 6A) termasuk eksternal dan diameter tabung internal.
Diameter internal MWNT adalah sekitar 7,36 nm dan ketebalan dinding 4,29 nm
(Gambar 6B). Gambar 6C menunjukkan panjang MWNT yaitu sekitar 191.7nm.
Itu Ukuran partikel berkorelasi dengan yang diperoleh dari z-avg. data diperoleh
dari pengukuran oleh Zetasizer.
3. Studi Pelepasan Obat In-Vitro
Profil pelepasan MTX dari MTX dimuat MWCNT- Formulasi mPEG pada
buffer fosfat pH 7,4 dan pH 5,8 dibandingkan seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 7. Pelepasan obat dari keduanya Obat polos dan MTX memuat formulasi
MWCNT-mPEG linier tapi lajunya secara substansial tinggi pada pH 5,8 fosfat
buffer (58,2%) sedangkan pelepasannya lambat pH 7,4 fosfat buffer (44,2%) jika
MTX dimuat MWCNT-mPEG formulasi dalam 28 jam. Hampir tidak ada
perbedaan dalam tingkat pelepasan dengan perubahan pH diamati pada kasus
MTX polos. Rilis relatif cepat hingga 8 jam diikuti dengan pelepasan yang lambat
sampai akhir masa studi. Pelepasan obat secara keseluruhan hanya terjadi 58,2%
dari MTX memuat formulasi MWCNT-mPEG pada pH 5,8.
4. Studi stabilitas formulasi
Studi stabilitas dilakukan pada suhu kamar dan pada Kondisi pendinginan
untuk mempelajari pengaruh penyimpanan pada obat pengujian dan ukuran
partikel. Rincian hasil diwakili sebagai bar grafik pada Gambar 8a dan Gambar 8b
dengan memperhatikan ukuran partikel dan masing obat. Hasilnya menunjukkan
bahwa formulasi lebih stabil selama masa studi (5 minggu) di kondisi dingin.
DISKUSI

Di antara sistem pengiriman obat, MWCNT mampu meningkatkan


pengiriman, penyerapan dan pengambilan intraseluler bioaktif molekul sekaligus
melindunginya dari deaktivasi, Carbon Nanotubes (CNT) telah muncul sebagai
opsi baru dan menjanjikan terutama dalam terapi kanker. Hal ini terutama
disebabkan oleh sifat unik mereka, yang membuat mereka sangat serbaguna
melalui penggabungan beberapa kelompok fungsional dan molekul penargetan
pada saat bersamaan, sementara bentuk alami mereka memungkinkan mereka
untuk selektif menembus melintasi hambatan biologis dengan cara yang tidak
invasif (Pastorin, 2009). Dengan demikian, CNT sangat hidrofobik dan tidak
terdispersi masuk sistem berair dan karenanya perlu fungsionalisasi.
Fungsionalisasi CNT melibatkan pencangkokan bahan kimia berfungsi pada
permukaan nanotube oleh kovalen atau non kovalen untuk menambahkan properti
baru untuk CNT. Pada studi saat ini, Non-kovalen fungsionalisasi Multi-Walled
Carbon Nanotubes (MWNTs) dilakukan dengan menggunakan DSPE-mPEG
untuk diberikan dispersi berair properti ke nanotube karbon. Fungsionalitas
dicapai dengan menginkubasi nanotube karbon dengan DSPE-mPEG dalam rasio
1: 8 karena gambar 1 menunjukkan konstan z-avg nilai masih penambahan DSPE-
mPEG, yang dihasilkan produk dengan 165,2 nm z-avg. Partikel ditemukan
memiliki properti dispersi yang tampak bagus setelah functuionalization. Ini
Karakter dispersi ekstra biasa adalah karena pembentukan Kompleks terbentuk
karena adsorpsi PEF yang ireversibel molekul ke dinding samping nanotube
karbon melalui π-susun, van der Waals dan interaksi hidrofobik (Chen et al.,
2003) Laporan oleh Z. Liu et.al., 2008 juga menegaskan bahwa secara
noncovalently difungsikan karbon nanotube oleh fosfolipid PEGylated adalah
stabil tanpaagregasi dalam berbagai solusi biologis termasuk serum (Liu et al.,
2007, Kam et al., 2005). Poli (etilena glikol) (PEG) fungsionalisasi
memungkinkan nanotube untuk mengejutkan tinggi derajat π-susun molekul
aromatik, termasuk kanker obat dan kombinasi molekul. Di sini, gambar 3
menunjukkan hal itu Methotrexate dimuat ke MWCNTs yang difungsikan dengan
Persentase jebakan yang cukup baik (2,26 mg metotreksat per mg nanotube
karbon dengan jebakan 56,5% efisiensi).
Peningkatan ukuran partikel dicatat (185,2 nm z- rata) setelah diinkubasi
MWCNT yang difungsikan dengan larutan metotreksat dalam buffer fosfat pH 7,4
selama 24 jam. Namun, ukurannya bagus dengan kisaran yang lebih nikmat dari
darah panjang peredaran karena panjang rata-rata melebihi ambang batas untuk
pembersihan ginjal (Soo Choi et al., 2007). Meski meningkat Waktu inkubasi
hingga 24 jam meningkatkan persen jebakan, Peningkatan waktu inkubasi lebih
lanjut gagal memperbaiki jebakan lagi. (Tabel 4). Dalam upaya untuk
meningkatkan jebakan efisiensi, konsentrasi tetap MWCNT yang difungsikan
diinkubasi dengan volume larutan MTX yang bervariasi Konsentrasi mulai dari
1mg / 3ml sampai 6 mg / 3ml. Yang progresif penurunan jebakan terjadi dengan
kenaikan konsentrasi MTX (Tabel 3). Namun, hitung jumlahnya dari MTX
terkonjugasi per mg MWCNT, terbukti bahwa batch M16 menunjukkan jebakan
obat maksimal dengan basis w / b (2,26 mg MTX per mg MWCNT) (Gambar 3).
Makanya batch ini dipilih untuk penyelidikan di masa depan. Potensi Zeta yang
sama Formulasi ditemukan negatif (-25,8 mV) secara fisiologis pH (penyangga
fosfat)
Studi TEM menunjukkan tabung eksternal dan internal diameter menjadi
7,36 nm dan 16.00 nm masing-masing dengan dinding ketebalan sekitar 4,3 nm
dan panjang sekitar 191.7nm dihitung secara linier. Ketebalan keseluruhan dari
nanotube ditemukan seragam sepanjang. TEM Gambar (Gambar 6) juga
menunjukkan dinding internal hampir mulus namun Dinding luarnya kasar
dengan sedikit menonjol di berbagai titik. Ini menunjukkan kemungkinan
fungsionalisasi dan konjugasi DSPE-mPEG dan MTX pada permukaan luar
karbon nanotube Hasil yang sama dilaporkan oleh H. Kong et.al., 2005 dengan
dua jenis polielektrolit: asam poliakrilat (PAA) dan poli (sodium 4-
styrenesulfonate) (PSS), dimana polimer dicangkokkan berlabuh ke permukaan
cembung karbon multiwalled nanotube (MWNTs).
Pelepasan MTX dari MTX dimuat MWCNT-mPEG formulasi ke dalam
buffer fosfat pH 7,4 dan pH 5,8 adalah dipelajari dan hasilnya dibandingkan
dengan obat polos (Gambar 7). Pelepasan obat dari semua formulasi itu linier tapi
dalam kasus MTX memuat formulasi MWCNT-mPEG, nilainya pada pH 5,8
buffer fosfat jauh di atas pH 7,4 buffer fosfat Efek ini karena fakta bahwa
kekuatannya dari π-susun molekul aromatik bergantung pada nanotube diameter
dan pH medium sehingga parameter ini telah efektif digunakan sebagai metode
untuk mengendalikan tingkat pelepasan molekul dari bahan nanotube (Liu et al.,
2007). Jelas, matriks jaringan kanker bersifat asam, formulasinya bisa diharapkan
lepaskan ke sel kanker dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya lebih efektif.
Dibandingkan dengan obat polos, tingkat pelepasan MTX lamban dari formulasi
keduanya. Studi stabilitas formulasi MWCNT-mPEG-MTX dilakukan pada suhu
kamar dan pada kondisi berpendingin menunjukkan bahwa formulasi stabil
selama periode studi (5 minggu). Dalam kedua kondisi tersebut, tidak ada
perubahan signifikan pada obat tersebut isi dan ukuran partikel diamati namun
terjadi perubahan signifikan pada tingkat pelepasan dicatat. Secara keseluruhan,
kestabilannya lebih tinggi dalam kondisi dingin.

KESIMPULAN
Metotreksat yang dimuatkan nanotube karbon PEGylated disiapkan
dengan fungsionalisasi MWCNTs secara efektif dengan obat loading kapasitas
sekitar 2,26 mg MTX per mg MWCNT. Formulasi tersebut menunjukkan
pelepasan obat yang lebih tinggi pada rendering pH asam formulasi yang cocok
untuk pengiriman kanker. Studi lebih lanjut dapat dilakukan melaksanakan untuk
menunjukkan serapan RES yang rendah dari fungsi MWCNT dan membuat
formulasi yang beredar lama, meski mungkin mereduksi toksisitas hati MTX
dimuatkan fungsi MWO yang diprogramkan PEG menunjukkan serapan yang
signifikan oleh paru - paru saat diuji pada tikus di masa depan
BAB IV
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dalam makalah ini yaitu :
1. Teknologi nano adalah bidang teknologi yang masih tergolong baru dan akan
terus berkembang. Perkembangan teknologi ini akan mengubah teknologi
makro menjadi skala nano. Berbagai komponen dasar telah dikembangkan
berdasarkan teknologi nano.
2. Carbon nanotube sebagai salah satu subjek penelitian ternyata membawa
masa depan yang cukup cerah karena bahan nano ini dapat diterapkan dalam
merepresentasikan berbagai komponen elektronika sekarang ini ke dalam
skala nano. Selain itu carbon nanotube juga memiliki kelebihan baik dalam
hal kelistrikan maupun dalam hal lainnya.
3. Berbagai teknik telah dikembangkan agar dapat menghasilkan struktur
nanotube dengan cost rendah dan kualitas yang menjanjikan.
4. Teknologi nano tidak hanya diarahkan ke bidang elektronik saja, tetapi juga ke
arah biomedical.Pengembangan ke arah biomedical terutama dalam
mengembangkanbiosensor untuk berbagai macam penyakit seperti salah
satunya untuk mendeteksi sel kanker.

4.2. SARAN
Kritik dan saran yang membenagun sangat dibutuhkan oleh penulis untuk
perbaikan makalah-makalah selanjutnya.
REFERENCES
Alberto Bianco, Kostas Kostarelos and Maurizio Prato,Applications of carbon
nanotubes in drug delivery, Current Opinion in Chemical Biology.
2005, 9(6):674-679.
Aranya Wanichsiriroj, Yatindra M. Josh, Linda Jacobsen,Dane O. Kildsig, Effect
of Polycation Complexation on Methotrexate-Liposome Cytotoxicity ,
Drug Development and Industrial Pharmacy. 1985, 11 (1):31 – 40.
C. Srinivasan, Carbon Nanotubes in Cancer Therapy,Current Science,2008, 94,
3:300 – 301. Cédric Klumpp, Kostas Kostarelos, Maurizio Prato and
Alberto Bianco, Functionalized carbon nanotubes as emerging
nanovectors for the delivery of therapeutics, Biochemica et Biophysica
Acta (BBA) bio-membranes. 2006, 1758 (3):404-412.
Chong-Kook Kim, Mi-Kyung Lee, Jeong-Hee Han and Beom-Jin Lee,
Pharmacokinetics and tissue distribution of methotrexate after
intravenous injection of differently charged liposome-entrapped
methotrexate to rats, International Journal of Pharmaceutics. 1994,
108(1):21-29.
D.A. Britz, A.N. Khlobystov, Non-covalent interactions of molecules with single
walled carbon nanotubes, Chem. Soc. Rev.2006, 35(7):637.
E. L. Vodovozova, N. R. Kuznetsova, G. P. Gaenko and Jul. G. Molotkovsky,
Liposomal formulation of a methotrexate diglyceride conjugate:
Activity toward a culture of methotrexateresistant leukemia cells,
Russian Journal of Bioorganic Chemistry. 2007, 33(4):436 – 438.
Giorgia Pastorin, Crucial Functionalizations of Carbon Nanotubes for Improved
Drug Delivery: A Valuable Option? Pharmaceutical Research. 2009, 26
(4):746-769.
H. Soo Choi, W. Liu, P. Misra, E. Tanaka, J.P.Zimmer, B. Itty Ipe, M.G.Bawendi,
J.V. Frangioni, Renal clearance of quantum dots. Nat. Biotechnol. 2007,
25:1165–1170.
Hao Kong, Ping Luo, Chao Gao and Deyue Yan,Polyelectrolyte-functionalized
multiwalled carbon nanotubes: preparation, characterization and layer-
by-layer self-assembly,Polymer. 2005, 46(8):2472-2485.
Hett Annabelle, Editor, Nanotechnology,Small Matter,many unknowns, Swiss
Reinsurance Co., Zurich, Switzerland,2004.
Iijima Sumio,"Helical microtubules of graphitic carbon".Nature. 1991, 354:56–58.
Maurizio Prato, Kostas Kostarelos, Functionalized carbon Nanotubes in Drug
Design and Discovery, Acc. Chem. Res. 2008,41(1):60-68.
N.W.S. Kam, Z. Liu, H.J. Dai, Functionalization of carbon nanotubes via
cleavable disulfide bonds for efficient intracellular delivery of siRNA
and potent gene silencing. Journal of the American Chemical Society,
2005, 36:12492–12493.
R. Chen, Y. Zhang, D. Wang, H. Dai, Non-covalent sidewall functionalization of
single walled carbon nanotubes for protein immobillization., Journal of
the American Chemical Society, 2001, 123(16):3838-3839.
Rakesh Kumar Tekade, Tathagata Dutta, Abhishek Tyagi,Alok Chandra Bharti,
Bhudev Chandra Das, Narendra Kumar Jain,Surface-engineered
dendrimers for dual drug delivery: A receptor up-regulation and
enhanced cancer targeting strategy, Journal of Drug Targeting. 2008,
16:758-772.
Robert J. Chen, Sarunya Bangsaruntip, Katerina A.Drouvalakis, Nadine Shi Wong
Kam, Moonsub Shim, Yiming Li, Woong Kim, Paul J. Utz and Hongjie
Dai, "Noncovalent sidewall functionalization of carbon nanotubes for
highly specific biosensors" PNAS. 2003, 100 (9):4984 – 4989.
S.Y. Woo, P. Dilliplane, A. Rahman, L.F. Sinks,Liposomal methotrexate in the
treatment of murine L1210 leukemia. Cancer Drug Delivery. 1983,
1(1):59-62.
Sam Jaffe, Nanotubes Blast Cancer Cells,Science: Discoveries, 2005, 11 July,
http://www.wired.com/ science/discoveries/news/2005/11/69406
viewed on April 22nd, 2010
Shun-rong Ji, Chen Liu, Bo Zhang, Feng Yang, Jin Xu, Jiang Long, Chen Jin, De-
liang Fu, Quan-xing Ni, Xian-jun Yu, Carbon nanotubes in cancer
diagnosis and therapy,Biochimica et Biophysica Acta (BBA). Reviews
on Cancer, In Press, Corrected Proof, 2010, Available online 26
February 2010.
Z. Liu, K. Chen, C. Davis, S. Sherlock, Q. Cao, X. Chen,H. Dai, Drug delivery
with carbon nanotubes for in vivo cancer treatment, Cancer Research.
2008, 68(16):6652-6660.Z. Liu, M. Winters, M. Holodniy, H.J. Dai,
siRNA delivery into human T cells and primary cells with
carbonnanotube transporters, Angew. Chem. Inter. 2007, 46:2023–2027
Zhiqing Wang, Wei Liu, Huibi Xu and Xiangliang Yang,Preparation and in vitro
Studies of Stealth PEGylated PLGA Nanoparticles as Carriers for
Arsenic Trioxide, Chinese Journal of Chemical Engineering. 2007,
15(6):795-801.
Zhuang Liu, Corrine Davis, Weibo Cai, Line He, Xiaoyuan Chen, Hongjie Dai,
Circulation and long-term fate of functionalized, biocompatible single-
walled carbon nanotubes in mice probed by Raman spectroscopy,
PNAS. 2008, 105(5):1410-1415.
Zhuang Liu, Xiaoming Sun, Nozomi Nakayama-Ratchford and Hongjie Dai,
Supramolecular Chemistry on Water- Soluble Carbon Nanotubes for
Drug Loading and Delivery, ACS Nano. 2007, 1(1):50–56