Anda di halaman 1dari 112

BAHAN AJAR 1 TUMBUKAN MOLEKUL DENGAN DINDING

1. RESUME

Sifat gas ideal telah dipelajari melalui hasil-hasil eksperimen, antara lain adalah hubungan antara suhu, tekanan dan volume gas yang dikenal dengan hukum Boyle Gay-Lussac. Hubungan tersebut tidak tergantung jenis gas, artinya perilaku gas

(argon, nitrogen, oksigen, dan lain sebagainya) memiliki perilaku yang sama. Permasalahannya adalah dapatkah hukum-hukum di atas dikaitkan dengan pengetahuan kita tentang hukum-hukum mekanika? Didalam bahan ajar ini dijelaskan kaitannya antara aturan termodinamika yang sederhana pada gas ideal dengan model gerak acak molekul dalam gas tersebut.

2. TUJUAN

: Agar mahasiswa memiliki pemahaman tentang prinsip fisika statistik dan tumbukan molekul dengan dinding.

3. URAIAN MATERI KULIAH

A. RUANG LINGKUP FISIKA STATISTIK Banyak gejala fisika di alam ini melibatkan sistem yang terdiri dari banyak partikel, misalnya perilaku partikel gas. Pada suhu dan tekanan standart 1 cm 3 gas mengandung sekitar 2 x 10 19 molekul. Secara teoritik mungkin bisa dipecahkan dengan menggunakan persamaan gerak klasik dari molekul-molekul ini, yaitu dengan jalan menyatakan posisi dan kecepatan setiap waktu. Hal ini tentu saja sangat rumit. Untuk itu digunakan pendekatan statistik. Selanjutnya perlu didefinisikan pengertian assembly dan system. Assembly adalah gabungan dari partikel-partikel terkecil. Sedangkan system adalah partikel terkecil dari suatu assembly. Pada pembahasan di atas partikel gas atau molekul gas disebut system. Sedangkan gas merupakan assembly. Contoh sistem lainnya adalah “gas foton” di dalam rongga radiasi tertutup, “gas elektron” di dalam logam dan “gas fonon” di dalam zat padat. Semua sistem di atas melibatkan jumlah partikel yang sangat banyak. Di dalam assembley rongga radiasi, partikelnya adalah “gas foton”.Di dalam assembley logam, partikelnya adalah “gas elektron” dan di dalam assembley zat padat partikelnya adalah “gas fonon”.

Di dalam fisika statistik, tidak membahas sifat-sifat partikel (posisi, kecepatan dan momentum) secara individual, tetapi memperlakukan sifat-sifat partikel itu secara kelompok. Jadi yang dipelajari di dalam fisika statistik adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh sebagian besar dari partikel itu disebut sifat-sifat dengan peluang terbesar. Terdapat kaitan yang erat antara Termodinamika dan Fisika statistik. Di dalam termodinamika mempelajari sifat-sifat makroskopis sistem (misalnya; Tekanan, Suhu, Temperatur, volume gas, dsb), pada umumnya besaran-besaran yang dipelajari termodinamika dapat diukur secara langsung. Di dalam termodinamika, kita mempelajari sifat-sifat sistem pada berbagai kondisi fisis yang berubah, terutama oleh interaksi termal. Mempelajari hukum-hukum yang berlaku untuk suatu keadaan tertentu yang dialami oleh sistem. Di dalam termodinamika, tidak mempelajari mengapa” kondisi fisis sistem berubah. Akan tetapi berusaha menemukan suatu hukum secara empiris. Karena empiris, maka jelaslah sasarannya adalah besaran makroskopis atau besaran yang dapat diukur secara langsung. Fisika statistik mempelajari atau menjelaskan sifat-sifat mikroskopis sistem (misalnya; kecepatan molekul gas, momentum dan energi kinetik molekul gas), mencari jawaban mengapa sifat-sifat sistem berubah dengan bertolak pada sifat-sifat mikroskopis sistem. Jadi fisika statistik berusaha menjembatani antara dunia makroskopis dan dunia mikroskopis. Pada umumnya besaran-besaran dalam fisika statistik tidak dapat diukur secara langsung. Besaran seperti ini disebut besaran mikroskopik.

B. BESARAN MIKROSKOPIS DAN BESARAN MAKROSKOPIS Di dalam fisika statistik, benda assembly atau {sejumlah kesatuan yang

identik}, sedangkan komponen dari benda itu disebut sistem. Jadi komponen benda sistem.

besaran-besaran

makroskopis, sedangkan sifat-sifat sistem dinyatakan dengan besaran mikroskopis. Contoh:

Gas (assembly)

Sifat-sifat

assembly

biasanya

dinyatakan

dengan

Molekul gas (sistem)

~ Tekanan gas (P)

~ Volume (V)

~ Suhu (T), dll

~ Kecepatan molekul gas (v) ~ Waktu relaksasi ( ) ~ Momentum (p), dll

Dari beberapa contoh di atas, jelas bahwa besaran-besaran yang dapat diukur adalah besaran makroskopis. Sedangkan besaran mikroskopis tidak dapat diukur secara langsung. Besaran makroskopik juga disebut sebagai koordinat termodinamik dari assembly.

C. TUMBUKAN MOLEKUL GAS DENGAN DINDING Salah satu besaran termodinamika yang bisa dikaitkan dengan mekanika gerak molekul adalah tekanan (P). Di dalam mekanika kita telah mengenal bahwa besarnya tekanan yang bekerja pada suatu permukaan sama dengan gaya yang bekerja pada permukaan tersebut dibagi luas permukaan sentuh antara gaya dan permukaan. Apa yang bisa memberikan gaya pada dinding ruang penampung gas? satu- satunya benda yang berinteraksi dengan dinding hanyalah molekul-molekul gas. Jadi kita harus mencari hubungan interaksi antara molekul gas dengan dinding yang bisa menghasilkan gaya. Hukum kedua Newton menyatakan bahwa gaya adalah perubahan momentum persatuan waktu. Jadi untuk memperoleh gaya pada dinding diperlukan perubahan momentum. Hal ini dapat diperoleh bila molekul-molekul bertumbukan dengan dinding.

θ dA
θ
dA
φ
φ

θ dA φ
θ dA φ

Gambar 1: Penampang lintang tumbukan molekul dengan dinding

Gambar 1 diatas menunjukkan elemen permukaan dinding ruang bagian dalam yang membatasi gas dengan elemen luas sangat kecil (dA), karena kecil maka bisa dianggap datar. Andaikan molekul gas menumbuk dinding secara terus menerus dari arah

( , ) yang berbeda-beda dan dengan laju (v) yang berberda pula. Untuk menghitung

perubahan momentum yang diterima oleh elemen luas dA, kita harus menhitung terlebih dahulu berapa jumlah molekul yang menumbuk dinding seluas dA dalam selang waktu dt (sangat singkat) dengan sudut datang antara dan + d dan antara

dan + d dan dengan laju antara v dan v + dv. Agar lebih singkat, untuk

menyebutkan tumbukan molekul semacam itu kita sebut tumbukan ( , ,v). Pada gambar 1 juga dilukiskan sebuah silinder dengan luas alas dA, dengan arah sumbu ( , ) dan panjangnya vdt. Panjang vdt ini tepat sama dengan jarak yang ditempuh molekul dengan laju v selama selang waktu dt. Dari uraian di atas dapat dibuat suatu hipotesis, yaitu:

Jumlah tumbukan ( ,,v) yang terjadi antara molekul dengan dinding seluas dA

dalam selang waktu dt, sama dengan jumlah molekul ( ,,v) yang terdapat di dalam silinder.

Pernyataan di atas perlu diuji kebenarannya. Tetapi yang pasti adalah semua molekul yang ada di dalam silinder itu yang bergerak dalam arah ( , ) dan dengan laju v akan menumbuk dinding dengan elemen luas dA dalam selang waktu dt. Di dalam silinder itu tentu saja masih banyak molekul lain yang bukan molekul ( , ,v). Molekul-molekul lain ini adapula yang bertumbukan dengan elemen luas dA dan ada pula yang tidak. Yang menghasilkan tumbukan dengan dinding seluas dA adalah molekul yang memiliki arah ( , ), tetapi kalau lajunya tidak sama dengan

v, maka tidak bisa kita golongkan kedalam tumbukan-( , ,v). Selama selang waktu dt itu elemen dA juga ditumbuk oleh molekul-molekul lain dari luar silinder tersebut. Ada diantaranya yang menumbuk dengan laju v, tapi jelas tidak dengan sudut ( , ). Jadi hipotesis di atas benar, bahwa semua molekul

( , ,v) yang ada dalam silinder itu, dan hanya molekul itu saja yang akan melakukan

tumbukan-( , ,v) dengan elemen permukaan dA dalam selang waktu dt. Persoalan kita sekarang adalah bagaimana menghitung jumlah molekul yang ada di dalam silinder itu? Untuk menghitung jumlah molekul yang ada di dalam silinder, kita definisikan terlebih dahulu istilah molekul-( , ,v). Yang dimaksud

molekul ( , ,v) adalah molekul yang bergerak dengan laju v dengan arah ( , ).

Telah kita ketahui bahwa jumlah molekul yang menempati ruang dalam elemen volume dV adalah dN = n.dV, dimana n adalah jumlah molekul persatuan volume.

dA θ φ
dA
θ
φ

Gambar 2: Gerak molekul dalam koordinat polar ( , ,v)

Luas elemen permukaan bola dengan jejari v dengan arah ( , ) adalah sebagai berikut:

dA v

2

sin .d .d

(I.1)

Sedangkan luas permukaan seluruh bola adalah :

A v

A

A

A

v

v

v

2

2

2

2

0

sin

(

(1

(2)(2

cos

(

A = 4 v 2

d

)

0

2

0

(2

d

)

1)) 2

)

(I.2)

Prosentase jumlah molekul yang menumbuk dinding pada elemen luas dA dalam arah ( , ) adalah:

dA

dN

A ,

. n

n

4

.sin

.

d

.

d

(I.3)

Persamaan (I.3) di atas berlaku untuk setiap laju molekul v berapa saja. Jika jumlah molekul persatuan volume yang memiliki laju antara v dan v + dv diberi notasi dn v , maka kita dapat menuliskan jumlah molekul persatuan volume yang memiliki laju

antara v dan v + dv dengan arah antara dan + d , anatara dan + d , yaitu

sebagai berikut:

dn

, , v

1

4

.

dn

v

.sin

.

d

.

d

(I.4)

Untuk memudahkan pengungkapannya, besaran pada persamaan (I.4) digunakan

istilah jumlah molekul ( , ,v) persatuan volume.

Marilah kita kembali pada permasalahan menentukan jumlah molekul yang

ada dalam silinder. Jika volume silinder adalah dV = dA.v.dt.cos , maka dengan

menggunakan persamaan (I.4) kita dapat menentukan jumlah molekul ( , ,v) yang

ada di dalam selinder, yaitu :

dn

 

,

,

.

dV

dA dt

.

.

1

4

v dn

.

v

.sin

.cos

.

d

.

d

(I.5)

Jika persamaan (I.5) kita integrasikan terhadap seluruh sudut , akan

diperoleh jumlah molekul yang menumbuk dinding pada elemen luas dA dalam selang

waktu dt dan dengan laju antara v dan v + dv, yaitu:

dA dt

.

.

. 1 4
.
1 4

v dn v

.

(I.6)

Jadi jumlah seluruh molekul yang menumbuk dinding persatuan luas persatuan waktu,

dapat diperoleh dengan jalan mengintegrasikan persamaan (I.6) untuk semua laju

molekul, yaitu: v dn . 1 4 v
molekul, yaitu:
v dn
.
1 4
v

n(I.6) untuk semua laju molekul, yaitu: v dn . 1 4 v . v (I.7) dimana

. v
.
v

(I.7)

dimana v adalah laju rata-rata molekul gas dan n adalah jumlah molekul persatuan

volume.

Contoh soal-1:

Andaikan dalam ruang tertutup yang volumenya 10 m 3 terdapat gas dengan

jumlah partikel 1.000.000. Jika kecepatan rata-rata partikel gas adalah 100 m/det.

Tentukan jumlah partikel gas yang menumbuk dinding persatuan luas persatuan

waktu.

Jawab:

Diket: n = jumlah partikel gas persatuan volume = 1000000/10 = 100.000 partikel/m 3

<v> = 100 m/det

Ditanya: Jumlah partikel yang menumbuk dinding persatuan luas persatan waktu?

Jawab : jumlah patikel yang menumbuk dindinding persatuan luas persatuan waktu adalah ¼ n<v> = ¼ x 100000x100 = 2.500.000 partikel/m 2 det

dA
dA
dA

Gambar 3: Bagan tumbukan molekul dengan dinding

Selanjutnya akan dibahas apa yang terjadi jika satu molekul dengan laju v dan arah ( , ) menumbuk dinding dengan elemen luas permukaan dA. Kita gunakan asumsi bahwa tumbukan antara molekul dengan dinding terjadi secara lenting sempurna. Jika massa dinding sangat besar dibandingkan massa molekul gas m, maka setelah proses tumbukan elastis sempurna itu molekul akan dipantulkan oleh dinding dengan sudut pantul sama dengan sudut datang . Jadi setelah dipantulkan komponen

tegak lurus menjadi -v cos . Hal ini berarti selama proses tumbukan tadi molekul memindahkan momentum kepada dinding, sebesar

dp = 2 m.v cos

(I.8)

dalam arah tegak lurus dinding. Dari persamaan (I.5) telah dituliskan bahwa pada elemen dA dalam selang waktu dt, jumlah tumbukan-( , ,v) yang terjadi adalah:

(1/4 ) v dn v sin

cos

d

ddA.dt

(I.9)

Jadi selama selang waktu dt itu akibat tumbukan-( , ,v) permukaan dA menerima perpindahan momentum sebesar:

(2 m.v cos ).

(I.10)

Jika besaran ini diintegrasikan untuk seluruh nilai antara 0 s.d /2 (1/2 bola

merupakan daerah tumbukan molekul gas dengan dinding) dan seluruh nilai antara

0 s.d 2 , maka akan diperoleh jumlah momentum yang dipindahkan kepada elemen

dA dalam selang waktu dt oleh molekul-molekul gas yang memiliki laju antara antara

v dan v + dv:

[(1/4 ) v dn v sin cos dddA.dt] x (2 m.v cos ).

1

4

2

1 2

4

mv

mv

2

2

1

4

2

2

mv

2

2

sin

cos

0

dn

v

dA dt

.

sin

cos

2

d

d

dn dA dt

v

.

dn dA dt

v

.

/

2

2

sin

cos

0

/ 2

2

sin

cos

0

d

2

2

cos

0

d

cos

d

d

1

3

(1/3)m. v 2 dn v dA dt

2

0

(2

d

)

(I.11)

Untuk memperoleh perubahan momentum untuk seluruh molekul yang menumbuk

dinding, maka besaran pada persamaan (I.11) harus diintegrasikan lagi untuk seluruh

nilai v. Perubahan momentum tersebut persatuan waktu, merupakan gaya (hukum

kedua Newton) yang diterima oleh dinding seluas dA sebesar:

GAYA YANG DIPINDAHKAN AKIBAT TUMBUKAN MOLEKUL DENGAN

DINDING SELUAS (dA) adalah sebesar:

dF = (1/3)m. v 2 dn v dA

F

= (1/3) m ( v 2 dn v ) dA

F

= (1/3) m n <v 2 > dA

(I.12)

Sekarang kita benar-benar bisa menghubungkan besaran termodinamika yaitu

tekanan gas P dengan sifat-sifat gerak molekul.

P = ( dF/dA ) = (1/3) n m <v 2 >

(I.13)

dimana <v 2 > adalah kecepatan kuadrat rata-rata molekul dan n adalah jumlah

molekul persatuan volume.

4. EVALUASI:

1. Besaran yang dipelajari dalam fisika statistik adalah besaran-besaran yang memiliki sifat-sifat dengan peluang terbesar. Jelaskan maksud sifat-sifat dengan peluang terbesar?

2. Tuliskan contoh besaran yang dimilliki oleh assembly gas dan besaran yang dimiliki oleh sistem (partikel gas), berikan masing-masing 3 contoh?

3. Dalam suatu ruangan yang memiliki volume 1 cc terdapat partikel gas sebanyak 6,02x10 23 partikel, jika jumlah partikel yang menumbuk dinding persatuan luas persatuan waktu sebanyak 10 5 partikel. Hitunglah kecepatan rata-rata partikel gas tersebut?

4. Tuliskan persamaan yang menyatakan hubungan antara tekanan gas (besaran makroskopis) dengan besaran mikroskopis partikel gas?

5. Tabung gas oksigen memiliki tekanan 20 atmosfer. Kecepatan rata-rata molekulnya 480 m/det. Berapa jumlah tumbukan perdetik yang dilakukan oleh molekul gas pada dinding dalam seluas 1 cm 2 ?

5. DAFTAR PUSTAKA

1. B. S. Brotosiswoyo, Teori Kinetik Gas dan Meknika Statistik, Karunika Jakarta, 1987.

2. A. J. Pointon, An Introduktion to Statistical Physics for Students, Longman, london and Newyork, 1967.

3. A. Purwanto, Fisika Statistik, GavaMedia, Yogjakarta, 2007.

BAHAN AJAR 2 STATISTIK PARTIKEL IDENTIK

1. RESUME

Untuk menjelaskan keadaan suatu system (partikel terkecil dari suatu benda), maka perlu menjelaskan posisi, kecepatan, momentum, energi dari suatu system tersebut. Untuk mempermudah pembahasan diperlukan ruang fase atau ruang gama. Ruang fase adalah ruang 6-dimensi yang terdiri dari koordinat ruang euklid dan ruang momentum.

2. TUJUAN

Agar mahasiswa dapat:

1. memahami ruang fase atau ruang gama,

2. menghitung elemen volume ruang gama dalam koordinat bola,

3. menuliskan tingkatan dan keadaan energi.

4. menjelaskan perbedaan keadaan makro dan keadaan mikro.

5. membedakan partikel klasik, partikel Boson dan partikel fermion.

3. MATERI KULIAH

A. RUANG FASE ATAU RUANG-Pada awal pembahasan fasal 2, telah dijelaskan pengertian assembly dan sistem. Selanjutnya kita sekarang akan menggunakan kedua istilah itu untuk pembahasan selanjutnya. Andaikan suatu assembly terdiri dari N sistem. Suatu sistem dapat diandaikan sebagai berikut:

~o Partikel tunggal ~o Tidak berstruktur ~o bebas (tidak ada interaksi antar partikel) Yang dimaksud tidak berstruktur adalah:

~o tidak memiliki ukuran

~o memiliki massa ~o memiliki kecepatan ~o tidak memiliki momentum sudut intrinsik ~o memiliki energi kinetik ~o tidak memiliki energi potensial Assembly yang tertdiri atas sistem yang dijelaskan di atas disebut assembly sederhana. Contoh assembly sederhana antara lain:

~o gas ideal ~o gas foton di dalam rongga radiasi ~o gas elektron di dalam logam ~o gas fonon didalam kristal Untuk menyatakan keadaan suatu sistem pada suatu assembly dapat dinyatakan dengan gabungan koordinat ruang euklidan (x,y,z) atau disingkat [X] dan ruang momentum (p x ,p y ,p z ) atau disingkat [P]. Jadi untuk menyatakan keadaan sistem didalam ruang fase, kita harus menuliskan (x,y,z,p x ,p y ,p z ) atau disingkat [X,P]. Jika posisi sistem dinyatakan dengan koordinat polar (r, , ), maka

momentumnya juga dinyatakan dengan koordinat momentum polar yaitu (p r ,p ,p ), dimana:

p r = m dr/dt

p = m r 2 d /dt

p = mr 2 sin 2 . d /dt

m = massa sistem. Jadi ruang fase atau ruang- dinyatakan dengan koordinat-6, yaitu (x,y,z, p x ,p y ,p z ) atau ditulis secara singkat [X,P]. Bila dinyatakan dengan koordinat polar yaitu:

(r, , ,p r ,p ,p ). Kita sudah terbiasa menyatakan elemen volume dalam koordinat ruang euklidan. Suatu sistem dengan koordinat posisi antara x dan x + dx, antara y dan y + dy, antara z dan z + dz memiliki volume:

dV = dx. dy.dz

(II.1)

Demikian juga untuk menyatakan elemen volume dalam ruang- . Suatu sistem dengan koordinat posisi dan momentum dalam selang antara x dan x + dx, antara y dan y + dy, antara z dan z + dz, antara p x dan p x + dp x , antara p y dan p y +dp y , antara p z dan p z + dp z adalah:

d = dx.dy.dz.dp x .dp y .dp z

(I.15)

Dapat juga ditulis secara singkat

d = [X,P]

(II.2)

Dengan cara yang sama, maka jika elemen volume ruang- dinyatakan dengan koordinat polar bentuknya adalah sebagai berikut:

d = d[X].d[P]

d = dV.p 2 sin .dp.d .d

(II.3)

Jika persamaan (II.3) diintegralkan terhadap semua koordinat posisi, akan diperoleh:

p d = d[X]. p 2 sin.dp.d .d

p V. p 2 sin .dp.d .d

volume assembly

(II.4)

Persamaan (II.4) menggambarkan assembly dengan volume V yang mengandung sistem dengan momentum antara [P] dan [P] + d[P].

Bila persamaan

(II.4)

diintegralkan

terhadap

seluruh

sudut

dan

,

akan

diperoleh:

p V p 2 dp sin .d . d

 

p 4 V.p 2 dp

(II.5)

Persamaan ini menggambarkan assembly yang bervolume V mengandung sistem dengan nilai momentum antara p dan p + dp.

Persamaan

(II.5)

dapat

ditulis

dalam

bentuk

kecepatan,

yaitu

dengan

menggunakan hubungan p = m v dan diperoleh hubungan sebagai berikut:

v 4 V.(mv) 2 m dv

atau

v 4 V.m 3 v 2 dv

(II.6)

Persamaan ini menggambarkan assembly yang bervolume V mengandung sistem dengan laju antara v dan v + dv.

Kita juga dapat menyatakan persamaan (II.6) dalam bentuk energi menggunakan hubungan = m v 2 /2. Kita peroleh hubungan:

2 V.(2m) 3/2 1/2 d

(II.7)

dengan

Persamaan (II.7) ini menggambarkan assembly yang bervolume V mengandung sistem dengan nilai energi antara dan + d .

B. KEADAAN ENERGI DAN TINGKATAN ENERGI

Untuk mempermudah pembahasan selanjutnya, kita akan mengulang pengertian- pengertian yang sudah dikenal dalam mempelajari fisika modern dan fisika kuantum. Kita telah mempelajari lintasan elektron dalam atom hidrogen. Elektron yang mengelilingi inti atom, ternyata tidak bisa memiliki sembarang nilai energi (dikenal dengan larangan pauli). Hanya nilai-nilai energi tertentu saja yang diperkenankan. Nilai- nilai energi semacam ini disebut tingkatan energi. Misalnya untuk atom hidrogen:

E

R

y

n 2

n

dimana n = bilangan bulat 1,2,3,

dan

(II.8)

R y = tetapan Rydberg sama dengan 13,6 eV.

Pada setiap tingkatan energi bentuk lintasan elektron masih bisa dibeda-bedakan.

Kita mengenal bilangan kuantum orbital l yang bernilai

l = 0,1,2,3,

(n-1).

dan bilangan kuantum magnetik m yang bernilai

m = -l, -l+1, -l+2,

-1,0,1,2,

l-2, l-1, l.

Pasangan bilangan (n, m, l) melukiskan secara rinci bentuk maupun letak lintasan elektron yang diperkenankan dalam atom hidrogen. Hal ini kita namakan keadaan energi (energy state). Selanjutnya kita akan membedakan pengertian tingkatan energi dan keadaan energi. Contoh lainnya marilah kita tinjau energi sebuah partikel bebas satu dimensi. Jika kita tinjau secara mekanika gelombang, keadaan partikel dapat dikaitkan dengan fungsi

gelombang materinya. Menurut de Broglie, sebuah partikel yang bergerak dengan momentum p , akan memiliki panjang gelombang =h/p; dimana h = tetapan Plank, = panjang gelombang de Broglie. Andaikan sebuah partikel 1 dimensi (biasa disingkat 1-D) berada pada daerah 0

x L. Untuk memecahkan masalah ini dapat dianalogkan dengan suatu dawai yang kedua ujungnya terikat. Pada dawai akan terjadi gelombang stasioner sebagai berikut:

0
0

L

Gambar 4: Sebuah dawai yang kedua ujungnya terikat Persamaan gelombang yang berkaitan dengan dawai tersebut di atas adalah:

= A.sin(kx)

dimana k = 2 / . Persamaan (II.9) juga dapat ditulis:

(x) = A.sin(2 x/ n )

(II.9)

(II.10)

Dengan menggunakan syarat batas (0) = 0 dan (L) = 0, akan diperoleh persamaan

(2 L/ n ) = n ; dimana n = 0, 1, 2, 3,

atau

n

2

L

n

(II.11)

Substitusi persamaan (II.11) ke persamaan (II.10) akan diperoleh fungsi gelombang:

A

.sin

n

L

x

(II.12)

Bilangan bulat n = 0, 1, 2, 3,

kuantum. Energi kinetik partikel yang bermassa m, kecepatan v, dan momentum p=mv

adalah:

disebut bilangan kuantum utama atau disingkat bilangan

= 1/2 (m v 2 ) = p 2 /2m

(II.13)

menurut

partikelnya, yaitu:

de

Broglie,

p n = h/ n

Dengan

berbentuk:

menggunakan

p

n

h

2 L n

momentum

p

dapat

dikaitkan

dengan

panjang

gelombang

 

(II.14)

persamaan

(II.11),

maka

persamaan

(II.14)

dapat

ditulis

 

(II.15)

Untuk kasus partikel dalam ruang (3-D), momentumnya dapat dinyatakan dalam bentuk :

p x = n x (h/2L);

p y = n y (h/2L );

p z = n z (h/2L)

Jika p j merupakan resultan dari momentum yang dikaitkan dengan n x ,n y ,n z maka dapat ditulis berbentuk:

p j 2 = p x 2 + p y 2 + p z 2 = (n x 2 + n y 2 + n z 2 ).h 2 /4L 2

(II.16)

Jika kita nyatakan (n x 2 + n y 2 + n z 2 ).= n j 2 , maka persamaan (II.16) dapat ditulis menjadi lebih sederhana, yaitu:

p j 2 = n j 2 .h 2 /4L 2

(II.17)

Energi j yang dikaitkan dengan momentum p j adalah:

j

p

2

j

2

m

n

2

j

h

2

.

8

2

mL

(II.18)

Andaikan suatu partikel menempati ruang berbentuk kubus dengan sisi L dan volumenya L 3 , maka L 2 = V 2/3 dan persamaan (II.18) dapat ditulis sebagai berikut:

j

n

2 h

2

j

.

8 mV

2

3

(II.19)

Dari persamaan (II.19) dapat disimpulkan bahwa energi pada tingkatan ke-j sebanding dengan bilangan kuantum n j dan V. Jika volume berkurang, maka energi j bertambah. Sebagai contoh : andaikan volume 1 liter gas helium, bila dihitung nilai h, m, V dan dimasukkan ke persamaan (II.19) akan diperoleh :

h 2 /8mV 2/3 8.10 -40 J 5.10 -21 eV Kita ketahui bahwa energi kinetik rata-rata molekul gas pada temperatur ruang adalah sekitar 1/40 eV atau 2,5 x 10 -2 eV. Jadi molekul dengan energi kinetik seperti itu, akan memiliki bilangan kuataum pada tingkatan ke-j sebesar:

n j 2 (2,5 x 10 -2 )/(5 x 10 -21 ) 2,2 x 10 18

n j 2,2 x 10 9 Dapat disimpulkan bahwa bilangan kuantum n j untuk sebagian besar molekul gas pada temperatur kamar adalah sangat besar. Selanjutnya kita tinjau tingkatan energi terrendah (j=1), kita peroleh bilangan kuantum n x = n y = n z = 1, maka n 1 2 =1 dan:

1

3 h

2

8 m

V

2

3

Pada tingkatan energi terrendah ini (j=1) hanya ada satu keadaan energi (satu set bilangan kuantum n x , n y , n z ). Tingkatan energi ini disebut non degenerate dan g=1. Pada tingkatan energi berikutnya adalah tingkatan kedua (j = 2 ), nilai energinya

adalah:

2

6 h

2

8 m

V

2

3

Selanjutnya akan diperoleh konfigurasi pasangan bilangan kuantum sebagai berikut:

n

x

n

y

n

z

2

1

1

1

2

1

1

1

2

Pada keadaan ini n j 2 = n x 2 + n y 2 + n z 2 = 6.

Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa pada tingkatan energi j = 2 terdapat 3 keadaan. Ketiga keadaan ini dapat dinyatakan dengan keadaan momentumnya, yaitu:

p

2x

p

2y

p

2z

Keterangan

2.(h/2L)

(h/2L)

 

(h/2L)

Keadaan ke-1

(h/2L)

2.(h/2L)

 

(h/2L)

Keadaan ke-2

(h/2L)

(h/2L)

 

2.(h/2L)

Keadaan ke-3

Oleh karena pada tingkatan energi j = 2 terdapat 3 keadaan, maka dapat dikatakan pada tingkatan energi ini memiliki derajat degenerasi-3 atau berdegenerasi-3 dan disingkat g 2 = 3. Cara lain untuk menjelaskan adanya keadaan energi adalah dengan menuliskan fungsi gelombangnya, yaitu sebagai berikut:

1 = A.sin[(2 /L).x].sin[( /L).y].sin[( /L).z]. Keadaan ke-1

2 = A.sin[( /L).x].sin[(2 /L).y].sin[( /L).z]. Keadaan ke-2

3 = A.sin[( /L).x].sin[(/L).y].sin[(2 /L).z]. Keadaan ke-3 Dari keadaan-1, 2, dan 3 masing-masing memiliki nilai energi yang sama, yaitu

sebesar: 2 = (6h 2 /8m).V -2/3 .

C. KEADAAN MAKRO DAN KEADAAN MIKRO Keadaan Makro: didefinisikan sebagai”Suatu pernyataan yang menerangkan jumlah sistem yang menempati tingkatan energi tertentu”.

Keadaan Mikro: didefinisikan sebagai “Suatu pernyataan yang menerangkan sistem mana? yang menempati tingkatan dan keadaan energi mana?”.

Secara teoritis mestinya kita bisa menyelesaikan masalah mekanika dari kumpulan molekul dalam gas yang renggang, dengan jalan mengandaikan bahwa molekul-melokul itu menggunakan sebagian besar waktunya untuk bergerak lurus beraturan dan hanya kadang-kadang melakukan tumbukan elastik sempurna dengan molekul lainnya atau dengan dinding pembatas volumenya. Misalnya untuk gas pada kondisi normal dalam volume 1 liter, kita harus menyelesaikan data yang jumlahnya

sekitar 10 22 . Sebagai bahan perbandingan, bila jumlah penduduk di bumi ini sekitar 10

trilliun, maka untuk menggarap 1 liter gas memerlukan sumber informasi yang tidak

hanya sanggup menampung data seluruh penduduk bumi saja, melainkian sanggup

menampung data untuk kira-kira sekitar 100 trilliun planet yang berpenduduk seperti di

bumi. Seandainya kemampuan untuk itu ada, maka kiranya tak sepadan antara

keuntungan yang diperoleh dengan usaha yang kita lakukan.

Untuk keperluan-keperluan praktis, kita telah terbiasa dengan menggunakan

informasi sederhana, misalnya untuk merancang jumlah sekolah menengah yang harus

dibangun, kita cukup menggunakan informasi berapa jumlah penduduk Indonesia yang

berusia antara 12 dan 18 tahun. Sedangkan informasi yang lebih lengkap mengenai siapa

saja penduduk Indonesia yang berusia seperti itu tidak diperlukan. Informasi lengkap

tentang penduduk Indonesia seperti yang diperoleh dalam sensus penduduk dinamakan

Keadaan Mikro. Sedangkan informasi yang kurang lengkap, misalnya prosentase jumlah

penduduk pada masing-masing rentang usia dinamakan Keadaan Makro. Selanjutnya kita

akan membahas kasus yang lebih khusus mengenai assembly gas ideal.

Keadaan makro suatu assembly yang terdiri dari N sistem, hanya tergantung pada

jumlah N sistem dan jumlah tingkatan energi.

Contoh I.1:

Suatu assembly gas terdiri dari dua tingkatan energi. Tingkatan energi ke-1 hanya ada 1

keadaan energi dan tingkatan energi kedua ada 2 keadaan energi. Andaikan ada 4 partiel

gas A, B, C, dan D (nama ini hanya pengandaian saja) pada assembly akan

didistribusikan ke dalam tingkatan dan keadaan energi, maka cara menentukan keadaan

makro dan keadaan mikro adalah sebagai berikut:

Jawab I.1:

Sesuai dengan definisi, bahwa keandaan makro hanya menyatakan informasi tentang

banyaknya peluang tentang jumlah partikel yang menempati tingkatan energi. Peluang

kombinasinya dapat dirumuskan sebagai berikut:

k

(

N

r r 1

1

)!

N

!(

) !

(I.36)

dimana k = jumlah keadaan makro, N = jumlah partikel gas dalam assembly (sistem), dan r = jumlah tingkatan energi. Secara matematis peluang kombinasinya adalah :

k =5 jumlah keadaan makro Bila diselesaikan lebih lengkap tentang distribusi jumlah partikel yang menempati tingkatan dan keadaan energi adalah sebagai berikut:

Tingkatan energi ke-2

0

1

2

3

4:

Tingkatan energi ke 1

4

3

2

1

0

(4-0)

(3-1)

(2-2)

(1-3)

(0-4)

Jadi ada 5 peluang kombinasi distribusi jumlah partikel gas yang menempati tingkatan energi. Jadi keadaan makro contoh soal no.I.1 adalah (4-0) ; (3-1) ; (2-2) ; (1-3) ; dan (0- 4). Penyelesaian untuk keadaan mikro, akan dibahas pada bagian lain dari bab ini.

D. STATISTIK PARTIKEL IDENTIK

Partikel identik yang dipelajari dalam fisika statistik ini adalah meliputi

1. Partikel identik dan terbedakan (distinguishable) dengan jumlah partikel setiap

keadaan energi tak terbatas. Partikel seperti ini lazim disebut parikel klasik. Partikel yang

ditinjau seperti ini tak berspin dan dapat diperlakukan dengan mekanika klasik. Distribusi partikel ini disebut distribusi Maxwell-Boltzmann. Contoh dari partikel ini adalah partikel gas ideal.

2. Partikel identik dan tak terbedakan dengan jumlah partikel setiap keadaan energi

tak terbatas. Partikel seperti lazim disebut sebagai Boson. Sesuai dengan mekanika

kuantum, keadaan energinya dijelaskan oleh fungsi gelombang simetri. Bila ditinjau

,

spinnya, partikel ini berspin bulat 0, 1, 2,

dan seterusnya. Distribusi partikel ini pada

keadaan setimbang termal, disebut distribusi Bose Einstein. Contoh partikel Boson antara lain adalah Foton dan fonon.

3. Partikel identik dan takterbedakan dengan jumlah partikel setiap keadaan energi

maksimal hanya satu. Partikel seperti ini lazim disebut Fermion. Secara mekanika

kuantum, partikel ini digambarkan oleh fungsi gelombang yang anti simetri. Bila

dikaitkan dengan spinnya, spin partikel fermion adalah pecahan; 1/2, 3/2, 5/2,

,

dan

seterusnya. Distribusi partikel ini pada keadaan setimbang termal disebut distribusi

Fermi Dirac. Contoh partikel Fermion antara lain adalah elektron, nukleon, proton, dan

partikel-partikel elementer lainnya.

4. EVALUASI

1. A. Sebutkan ciri-ciri partikel klasik? (Soal ujian tahun 2004)

B. Apa makna yang terkandung pada kata “terbedakan” pada system klasik?

C. Apa yang dimaksud keadaan makro?

D. Apa yang dimaksud keadaan mikro?

E. Apa yang dimaksud energi equipartisi?

2. Suatu assembly gas ideal terdiri dari 4 sistem (partikel gas) terdistribusi ke dalam 3 tingkatan energi. (Soal ujian tahun 2004)

A. Tentukan keadaan makro yang terjadi?

B. Jika tingkatan energi ke-1 berdegenerasi 1 dan takdihuni partikel, tingkatan energi ke-2 berdegenerasi 2 dan dihuni 3 partikel, tingkatan energi ke-3 berdegenerasi 1 dan dihuni oleh 1 partikel. Gambarkan keadaan mikro yang terjadi secara lengkap?

4.

Tuliskan persamaan yang menyatakan elemen volume ruang fase sebagai fungsi momentum p?

5.

Tuliskan persamaan yang menyatakan elemen volume ruang fase sebagai fungsi energi ε?

6.

Tuliskan persamaan yang menyatakan tingkatan energi ke j?

7.

Suatu assembly gas ideal terdiri dari 4 sistem (partikel gas) terdistribusi ke dalam 2 tingkatan energi.

A. Tentukan keadaan makro yang terjadi?

B. Jika tingkatan energi ke-1 berdegenerasi 1 dan dihuni 2 partikel, tingkatan

energi ke-2 berdegenerasi 2 dan dihuni 2 partikel. Tentukan keadaan mikro yang

terjadi?

5.

DAFTAR PUSTAKA

1. B. S. Brotosiswoyo, Teori Kinetik Gas dan Meknika Statistik, Karunika Jakarta,

1987.

2. A. J. Pointon, An Introduktion to Statistical Physics for Students, Longman, london and Newyork, 1967.

3. A. Purwanto, Fisika Statistik, GavaMedia, Yogjakarta, 2007.

BAB

III

STATISTIK MAXWELL-BOLTZMANN

1. RESUME

Pada bab-3 akan dibahas statistic Maxwell-Boltzmann. Partikel-partikel yang dibahas pada modul ini adalah partikel klasik, yaitu partikel gas. Pada pembahasan ini akan dicari persamaan fungsi distribusi partikel gas pada keadaan setimbang termal pada suhu T. Fungsi distribusi partikel gas yang akan dicari adalah fungai distribusi energi dan fungsi distribusi kecepatan untuk 1-D, 2-D dan 3-D.

2. TUJUAN:

Agar mahasiswa dapat:

1. memahami fungsi distribusi energi partikel.

2. memahami bobot konfigurasi

3. memahami konfigurasi yang paling mungkin

4. menuliskan fungsi distribusi Maxwell-Boltzmann sebagai fungsi energi

5. menuliskan fungsi distribusi Maxwell-Boltzmann sebagai fungsi kecepatan

6. menuliskan fungsi distribusi Maxwell-Boltzmann sebagai fungsi momentum.

3. URAIAN MATERI KULIAH

A. DISTRIBUSI ENERGI Suatu assembly (misalnya gas ideal) terdiri dari N sistem (molekul gas). Energi

Suatu rentang energi antara

assembly terdistribusi kedalam i energi, dengan i=1,2,3,

dua nilai energi tertentu (sangat sempit) disebut tingkatan energi (r). Misalnya di dalam

Nilai rentang energi pada setiap

assembly terdapat r tingkatan, dengan r = 1,2,3,

tingkatan sangat sempit, sehingga energi tingkatan ditulis r . Di lain pihak tingkatan energi cukup lebar, karena dapat mengandung sejumlah keadaan energi. Banyaknya

,N.

,r.

keadaan energi dalam suatu tingkatan energi disebut degenerasi tingkatan (g r ). Populasi tingkatan merupakan jumlah sistem dalam suatu tingkatan n r . Jumlah sistem dalam suatu tingkatan dapat besar, kecil atau nol. Energi total yang terkandung pada suatu tingkatan adalah r .N r . Jadi dapat disimpulkan mengenai tingkatan energi dalam suatu assembly adalah sebagai berikut:

Suatu assemble terdiri dari N sistem, misalnya energi sistem yaitu:

sistem ke 1 memiliki energi 1

sistem ke 2 memiliki energi 2

sistem ke-i memiliki energi i

sistem ke N memiliki energi N

Energi sistem total dapat dirumuskan sebagai : n i i = E

Cara lain untuk menyatakan distribusi energi adalah menyatakan jumlah sistem yang memiliki energi dalam selang antara dan + d . Andaikan energi sistem dapat dibagi-bagi ke dalam ( r ) tingkatan energi (energi level) dan tingkatan energi memiliki keadaan energi (energi state) dalam selang antara r dan r +d r . Energi efektif sistem pada

suatu tingkatan adalah r . Jumlah keadaan energi di dalam tingkatan energi ke-r adalah g r dan disebut bobot tingkatan atau degenerasi tingkatan. Distribusi energi sistem dinyatakan oleh bilangan huni n. Jadi dapat disimpulkan,

Assembly :

N = jumlah sistem total dalam assembly.

Spektrum energi sistem dibagi kedalam r tingkatan.

Degenerasi tingkatan : g 1 , g 2 , g 3 ,

Energi tingkatan : 1 , 2 ,

Populasi tingkatan: n 1 , n 2 ,

r n r = E (energi assembly).

,g

r

.

,

r.

,n

r . Jadi n r = N konstan.

Contoh :

Suatu assembly terdiri dari 4 sistem a, b, c dan d, terdistribusi ke dalam 2 tingkatan energi. Masing-masing tingkatan energi berdegenerasi 3 dan 4. Tunjukkan distribusi 4 sistem di atas? Jawab:

Tingkatan ke 1, g=3:

 

a

a

a

a

c

 

b

       
 

b

b

b

d

Tingkatan ke 2, g=4.

 

c

c

d

c

a

 

d

d

c

 

b

     

d

 

Konfigurasi ke

1

2

3

4

5

dan seterusnya.

Jika dihitung secara lengkap dengan anggapan partikel klasik (distinguishable), terdapat 864 konfigurasi yang mungkin. Pada uraian di atas hanya ditunjukkan 4 konfigurasi saja. Dengan mempelajari konfigurasi yang mungkin seperti di atas, dapat diambil suatu asumsi yang mendasar bagi fisika statistik, yaitu:

Setiap konfigurasi sistem di dalam assembly memiliki peluang yang sama untuk terjadi.

B. BOBOT KONFIGURASI Jika sistem-sistem di dalam assembly terdistribusi menjadi n r sistem ke dalam r tingkatan, maka bobot pada konfigurasi ini merupakan banyaknya cara untuk menghasilkan konfigurasi N sistem di dalam assembly. Jumlah cara untuk memilih n 1 sistem pada tingkatan energi pertama dari N sistem adalah

N

C

n 1

N !

n

1

!(

N

n

1

) !

III.1

Jika n 2 sistem pada tingkatan kedua dipilih dari (N - n 1 ) sistem, jumlah cara untuk memperoleh sistem ada

(

N

n 1

)

C n

2

(

N

n

1

)!

n

2

!(

N

n

1

n

2

) !

III.2

Total jumlah cara untuk memperoleh sistem pada tingkatan pertama dan kedua adalah hasil kali persamaan (II.1) dan (II.2) yaitu

N !

n 1

!(

N

n

1

) !

(

N

n

1 )!

.

n

2

!(

N

n

1

n

2

) !

N !

n

1

!

n

2

!(

N

n

1

n

2

) !

III.3

Jika hanya ada 3 tingkatan, maka jumlah sistem pada tingkatan ke 3 adalah n 3 = (N - n 1 - n 2 ) dan persamaan II.3 menjadi

N !

!.

n n

1 2

!.

n

3

!

III.4

Dengan cara yang sama jika ada r tingkatan, maka jumlah cara untuk memperoleh sistem pada berbagai tingkatan adalah

N !

n

!.

n

1 2

!.

n

3

!

n

s

!

n

r

!

III.5

Jumlah cara untuk menyusun sistem di dalam assembly yang telah di bahas di atas, belum melibatkan keadaan energi, pada hal kita tahu bahwa masing-masing tingkatan energi terdiri dari keadaan energi. Andaikan di dalam tingkatan r terdapat g r keadaan energi, maka jumlah cara untuk menyusun n r sistem pada tingkatan ini seluruhnya terdapat g r nr cara. Jumlah cara total untuk menyusun semua sistem di dalam semua tingkatan dan semua keadaan disebut bobot konfigurasi atau disebut juga bobot keadaan makro dan dirumuskan sebagai

W

N !

n

1

!.

n

2

!.

n

3

!

n

s

!

n

r

!

.

g

1

n

1

.

g

2

n

2

g

s

n

s

g

r

n

r

III.6

Bobot konfigurasi adalah Jumlah cara untuk menyusunan sistem-sistem

yang berbeda tingkatan dan keadaan energi.

Penulisan persamaan III.6 akan lebih sederhana bila digunakan simbol perkalian

r .Persamaan III.6 dapat ditulis menjadi

W

N !.

r

g

n

r

r

n

r

!

,

III.7

dengan W = Bobot konfigurasi, n r = jumlah sistem pada tingkatan r. g r = degenerasi tingkatan r N = Jumlah sistem di dalam assembly

C. Konfigurasi yang paling mungkin Dari persamaan (III.7) dapat dilihat bahwa yang merupakan variabel bebas adalah n r . Jadi kita dapat merancang W yang maksimum dengan jalan mengatur jumlah sistem pada setiap tingkatan. Dengan kata lain, berapa jumlah sistem pada setiap tingkatan yang dapat memaksimalkan W? Hal ini merupakan fungsi distribusi. W merupakan fungsi dari n r , yaitu:

W = f (n 1 , n 2 ,

, n s ,

,

n r ).

III.8

, memaksimalkan W. Caranya sama dengan mencari nilai maksimum suatu fungsi, yaitu turunan pertama fungsi itu sama dengan nol. Selanjutnya persamaan (III.8)

dapat

Selanjutnya

akan

dicari

berapa

nilai

(n 1 ,

n 2 ,

n s ,

n r ).yang

,

dideferensialkan terhadapat semua nilai (n 1 , n 2 ,

, n s ,

,

n r ), yaitu

f

dn

n

atau

1

1

f

n

2

dn

dW

r

W

n

r

dn

r

2

0

f

n

s

dn

s

f

n

r

dn

r

0

III.9

Persamaan III.9 dapat dicari penyelesaiannya dengan mengambil syarat batas bagi nilai-

nilai n r , dn r , dan energi total E dengan jumlah sistem total sama dengan N konstan.

Keadaan ini disebut sebagai assembly tertutup.

Syarat Batas: [1] r n r = N = konstan

[2] r dn r = dN = 0

[3] r n r . r = E = konstan.

Metode sederhana untuk menyelesaikan persamaan (III.9) adalah menggunakan

metode Lagrange. Dengan menggunakan syarat batas (1), (2) dan (3), maka persamaan

(III.9) dapat ditulis sebagai berikut

dW + a.dN + b.dE = 0

III.10

dimana a dan b merupakan faktor pengali yang akan dicari. Bila syarat batas dimasukan

ke persamaan (III.10) diperoleh

r

r

n

r

dn

r

a

r

dn

W

b

r

r

.

dn

r

0

III.11

Oleh karena Bobot konfigurasi W persamaan (III.11) berbentuk perkalian

berderet, maka sukar dicari turunannya. Agar mudah dicari, maka diambil logaritmanya.

Persamaan (III.11) dapat ditulis sebagai

ln W

r

r

r

r

.

r

n

r

dn

r

r

dn

dn

ln W

 dn

r

r

n

r

r

0

0

III.12

dimana dan merupakan faktor pengali yang disebut faktor pengali Lagrange.

Persamaan (III.11) dan (III.12) dapat ditulis lagi menjadi

d ln W + .dN + .dE = 0

III.13

Dengan mengambil tanda sigma untuk semua suku, akan diperoleh

lnW

n

r

r

r



r

dn

0

III.14

Oleh karena perkalian dua suku sama dengan nol, maka dapat diambil suku pertama sama

dengan nol.

ln W

n

r

 

.

r

0

III.15

Dengan menggunakan pendekatan Sterling, yaitu log N! N log N - N, maka persamaan

(III.7) dapat ditulis dalam bentuk logaritmanya sebagai berikut:

ln W N ln N - N + r (n r ln g r - n r ln n r + n r )

III.16

Diferensial parsialnya terhadap n r dari persamaan III.16 adalah

ln W

n

r

ln W

n

r

ln g

r

ln

g

r

n

r

ln

r

III.17

Substitusi persamaan (III.17) dan persamaan (III.16) diperoleh

ln

g

r

n

r

atau

n

r

g

r

. e

 

.

.

r

r 0

III.18

Persamaan (III.18) merupakan jumlah sistem yang memaksimalkan bobot

konfigurasi. Persaamaan (III.18) merupakan persamaan dasar fungsi distribusi Maxwell-

Boltzmann, sedangkan (e ) disebut faktor Boltzmann.

Langkah berikutnya adalah menentukan pengali Lagrange dan , agar fungsi

distribusi Maxwell-Boltzmann dapat dirumuskan secara lengkap.

D. MENENTUKAN PENGALI

Banyak cara yang dapat diterapkan untuk menentukan pengali , diantaranya

adalah menggunakan pertimbangan Termodinamika.

Dari persamaan (III.18) dapat dinyatakan bahwa jumlah sistem yang berenergi tak

hingga sama dengan nol, dengan kata lain tidak ada sistem yang berenergi tak hingga.

Jadi ungkapan ini dapat dipakai sebagai syarat batas untuk menentukan pengali , yaitu

n r = 0 untuk r =(lihat syarat batas [3]). Dengan demikian dapat diramalkan bahwa

pengali bernilai negatip.

Selanjutnya akan dipertimbangkan nilai dari sudut pandang Termodinamika dan akan dilakukan melalui dua cara.

Andaikan kita memiliki dua assembly A dan B, masing-masing memiliki N 1 dan

N 2

sistem. Apabila kedua assembly A dan B dilakukan kontak termal antara dinding- dindingnya, maka akan terjadi pertukaran energi termal antara assembly A dan B, tetapi

jumlah sistem-sistemnya tidak mengalami pertukaran karena keduanya terisolasi.

Assembly

A

Assembly B Temperaturnya T 2 , N 2

Temperaturnya T 1 , N 1

Perpindahan energi antar assembly menyebabkan terjadinya kesetimbangan termal pada temperatur yang sama, yaitu T. Jumlah sistem dan energi total assembly E adalah konstan. Jadi:

dN 1 = 0;

dN 2 = 0;

dan

dE = 0.

(II.19)

Selanjutnya energi dalam kedua assembly dibagi kedalam tingkatan-tingkatan

energinya 1r dan 2r , sedangkan bilangan huni (jumlah

sistem yang menempati tingkatan itu) adalah n 1r dan n 2r . Energi total kedua assembly itu adalah

energi. Misalnya tingkatan ke r

E

r

n

1

r

.

1

r

r

n

2

r

.

2

r

(III.20)

Dengan menggunakan syarat batas (III.19), maka diferensiasi persamaan (III.20) sama dengan nol.

dE = 0.

(III.21)

Jika bobot konfigurasi W bagi masing-masing assembly adalah W 1 dan W 2 , maka bobot total adalah

W T = W 1 .W 2

(III.22)

Syarat untuk konfigurasi yang paling mungkin adalah

d lnW T + 1 .dN 1 +

2 .dN 2 + .dE = 0

(III.23)

Syarat batas (III.19) dipakai untuk menentukan 1 , 2 , dan .

Dari persamaan (III.22) ln W T = ln W 1 + ln W 2 . Karena W 1 dan W 2 hanya bergantung

pada n 1r dan n 2r , maka persamaan (III.23) dapat ditulis menjadi

ln

1

r

n

1

r

W

dn

1

1

r

.

dn

r

1

r

r

ln W

2

r

n

2 r

2

r

r

.

dn

2

r

dn

2

r

0

1

2 r

dn

1

r

2

dn

r

r

(III.24)

Persamaan (a.6) dapat difaktorkan menjadi sebagai

lnW

n

1

r

1

ln W

2

2

r

1



1

r

dn

1

r

r

n

2 r



2

r

dn

2

r

0

(III.25)

Syarat bagi konfigurasi yang paling mungkin adalah suku pertama dan suku kedua sama

dengan nol. Dari dua suku pada persamaan (III.25) dapat dilihat bahwa hanya pengali

yang merupakan konstanta yang dimiliki bersama oleh dua assembly A dan B. Oleh

karena hanya besaran temperatur yang dimiliki bersama oleh dua assembly pada keadaan

setimbang termal, maka dapat diperkirakan bahwa pengali adalah fungsi dari

temperatur, yaitu

= f (T)

(III.26)

dengan T adalah temperatur assembly.

Selanjutnya pengali dipandang dari titik pandang yang dikaitkan dengan

dE. Andaikan assembly diberikan energi panas sebesar dQ dan assembly mengalami

pemuaian sebesar dV. Assembly melakukan kerja sebesar p.dV, dengan p adalah tekanan

yang diberikan assembly terhadap dinding sekitarnya. Pertambahan energi assembly

akibat panas yang diberikan, ditunjukkan oleh hukum I termodinamika, yaitu sebagai

dE = dQ - p.dV.

(III.27)

Perubahan energi ini juga dapat diberikan dalam bentuk

dE = d r n r . r

dE = r r dn r + r n r .d r

(III.28)

Kedua suku pada persamaan (III.27) dan (III.28) sama-sama menyatakan energi assembly, sehingga dapat dikatakan bahwa “perubahan energi sistem-sistem d r pada

energi tingkatan r akan ditimbulkan oleh perubahan volume assembly dV, sehingga suku

kedua persamaan (III.28) yaitu r n r .d r dikaitkan dengan kerja yang dilakukan oleh assembly. Penyusunan kembali sistem-sistem atas tingkatan-tingkatan energi diberikan oleh suku pertama persamaan (III.28), yaitu r r dn r dikaitkan dengan panas yang diserap oleh assembly. Jadi antara persamaan (III.27) dan (III.28) dapat dihubungkan sebagai

r n r .d r = -p.dV

(III.29)

r r dn r = dQ

(III.30)

Jika persamaan persamaan (III.30) dipakai untuk menyatakan persamaan (III.20) dan diambil untuk kasus isovolum (tidak ada perubahan volume dV), maka persamaan (III.20) pada keadaan setimbang termal dapat ditulis menjadi

d ln W + dN + dQ = 0.

(III.31)

Oleh karena setiap penambahan energi dalam harus ditimbulkan oleh perubahan energi panas dQ, dengan kata lain dQ diberikan ke assembly. Oleh karena jumlah sistem konstan (dN = 0), maka akan terjadi perubahan bobot konfigurasi pada assembly yang memenuhi

d ln W = -.dQ

(III.32)

Kita telah mengetahui dalam termodinamika, bahwa perkalian antara 1/T dengan dQ merupakan perubahan entropi, yaitu

dS

dQ

T

(III.33)

Perubahan entropi yang dikaitkan dengan bobot konfigurasi dinyatakan oleh persamaan

dS = k.d ln W, dimana k = tetapan boltzmann. Jadi

dS = k. d ln W = k.(-) dQ = dQ/T.

(III.34)

Dari persamaan (III.34) dapat diperoleh pengali , yaitu

1

kT

dengan k = konstanta boltzmann.

E. MENENTUKAN PENGALI

(III.35)

Di dalam menentukan pengali , kita berpijak pada persamaan (III.18) dengan

membuat substitusi A = e , sehingga persamaan (III.18) dapat ditulis dalam bentuk

n r = A.g r e Jumlah sistem total adalah

III.36

N = r n r = A r g r .e

III.37

Dari persamaan (III.37), maka diperoleh

A .

N

.

r

g

.

e

r

r

III.38

Agar A dapat dicari secara lengkap, maka kita harus mencari persamaan jumlah keadaan energi g r , dengan bantuan elemen ruang fase. Degenerasi tingkatan (jumlah keadaan energi) g r yang dikaitkan dengan elemen volume ruang fase (ruang- ) dirumuskan sebagai berikut

g r = B.( ) r

III.39

dengan ( ) r = elemen volume ruang- dalam selang energi antara r dan r + d r dan B = rapat keadaan atau jumlah keadaan persatuan volume. Oleh karena nilai energi tingkatan dapat bernilai antara 0 , maka kita peroleh

A

N

BV

2

(

2

m

)

3

2

0

1

2

.

.

e

d

III.40

Jika integral persamaan (III.40) diselesaikan dan dengan menggunakan pengali = -1/kT, akan diperoleh pengali sebagai berikut

ln

A

ln

N

BV 2 mkT

.(

)

3

2

III.41

F. DISTRIBUSI MAXWELL-BOLATZMANN

Oleh karena dan telah diketahui sebagai parameter assembly, maka dapat

ditulis distribusi assembly, sebagaimana diberikan oleh persamaan (III.18). Distribusi ini

selalu diungkapkan dalam bentuk distribusi diferensial.

Contoh:

Jika dn diambil sebagai jumlah sistem yang mempunyai koordinat di dalam volume ruang

fase d , maka distribusi deferensial boleh ditulis dengan mengganti jumlah keadaan g r

dalam persamaan (III.39) oleh B d , sehingga diperoleh

dn = e + B d

III.42

Cara lain adalah menyatakan g( ) d sebagai jumlah keadaan energi dengan energi antara

dan + d , maka persamaan (III.42) dapat ditulis menjadi

n( ) d = e + g( ) d( )

III.43

Untuk jumlah sistem yang memiliki selang energi antara dan + d , dengan

mensubstitusikan nilai-nilai , dan g( ), akan diperoleh distribusi Maxwell-Boltzmann

sebagai

n

(

)

d

2

N

(

kT

)

3

2

.

e

kT