Anda di halaman 1dari 3

5. Model Dorothea E.

Orem tentang Perawatan Diri (Self Care Deficit Theory of Nursing)


Menurut Orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang
mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu
memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraannya. Oleh karena itu
teori ini dikenal dengan Self Care atau Self Care Defisit Reori (Marret and Tomey, 2006).
Ada tiga prinsip dalam perawatan diri sendiri atau perawatan mandiri. Pertama, perawatan
mandiri yang bersifat holistik meliputi kebutuhan oksigen, air, makanan, eliminasi,
aktivitas dan istirahat, mencegah trauma serta kebutuhan hidup lainnya. Kedua, perawtan
mandiri yang dilakukan harus sesuai dengan tumbuh kembang manusia. Ketiga, perawatan
mandiri dilakukan karena adanya masalah kesehatan atau penyakit untuk pencegahan dan
peningkatakn kesehatan.
Menurut Orem, perawat dibutuhkan ketika seseorang membutuhkan asuhan keperawatan
karena ketidakmampuan untuk merawat diri sendiri. Menurutnya, arena kerja perawat
aalah membina dan mempertahankan hubungan terapeutik antara perawat dan pasien,
menentukan kapan seseorang membutuhkan bantuan atau pertolongan, memperhatikan
respon pasien, memberi pertolongan langsung kepada individu dan keluarga serta bekerja
sama dengan tenaga kesehatan lain.
Model Orem menjelaskan bahwa asuhan keperawatan diperlukan ketika individu dewasa
tidak dapat melakukan elf care secara penuh untuk menyokong hidup, emmelihara
kesehatan, memulihkan dari penyakit atau injuri atau mengatasi dampak penuakit atau
injuri. Model Orem juga mengakomodasikan ketika asuhan keperawatan mungkin
langsung menuju pemberian asuhan keperawatan. Contoh: Asuhan perawatan mungkin
langsung menuju orangtua atau wali dari anak yang sakit. Enam konsep sentral dari model
Orem adalah self care, self care agency, terapeutic self care demands, self care deficit,
nursing agency dan nursing sistem. (Friedman, 2004)
6. Teori Martha E. Rogers tentang Manusia Seutuhnya (Unitary Human Beings)
Teori Rogers (1970, 1992) tentang Unitary Human Beings mengantar kita pada pandangan
yang baru bagi dunia keperawatan. Perbandingan antara kesehatan dan penyakit. Fokus
dan teori Rogers ini adalah adanya hubungan tumbal balik antara lingkungan dan kesatuan
manusia. Pada lapangan manusia memiliki konsep yang berbeda sebagai individu,
keseluarga, kelompok, komunitas atau yang lainnya kedalam sebuah integral. Pola
lapangan, inti dari ilmu pengetahuan ini, dapat dipahami sebagai manifestasi dari manusia
dan lingkungan (Marey & Tomey, 2006)
Teori Rogers tentang Unitary Human Beings menjelaskan suatu kerangka acuan bagi ilmu
keperawatan untuk membedakan pengamatan pada manusia, hubungan timbal balik
manusia dan lingkungan dan praktik ilmu keperawatan. Dalam konsep “Science of Unitary
Human Being” perawat ditantang untuk meberikan peranan melalui pengembangan secara
konseptual, teorititis dan praktik. Perawat bertanggung jawab untuk membuat analisis
logis dari kerangka kerja dan generasi serta uji coba dari teori.
Bagaimana perawat menggunakan pengetahuan dari kerangka kerja yang diperoleh untuk
menyediakan layanan kepada masyarakat sepenting pengetahuan yang dimilikinya.
Sintesis bijaksana dari imu pengetahuan dan seni dari keperawatan adalah penting jika
kerangka kerja tersebut berperan untuk memenuhi perintah profesi dalam menyediakan
pelayanan bagi masyarakat. Semua perawat yang terkait bertanggung jawab untuk mulai
bekerja membuka ide komunikasi, pertanyaan, tantangan, dan sangkalan yang dihasilkan
oleh kerangka dan pelaporan perkerjaan ilmiah dan praktik didalam literature ilmu
perawatan. Inti teori Martha E. Rogers (Martha Rogers’ and The Science of Unitari
Human Beings, 2008) adalah Energy Fields (Bidang Energi), Openness (Terbuka), Pattern
(Pola), dan Pandimensionality.
7. Model Friedman
Proses keperawatan keluarga akan berbeda tergantung pada siapa yang menjadi fokus
perawatan. Perbedaan tersebut tergantung pada perawat dalam mengkonseptualisasi
keluarga dalam praktikny. Perawat yang memandang keluarga sebagai latar belakang atau
konteks individual pasien, kemudian individu anggita keluarga menjadi fokus dan proses
keprawatan adalah berorientasi pada individu sebagai cara yang tradisional. Perawat yang
mengkonseptalisasi keluarga sebagai unit perawatan, kemudian keluarga sebagai unit atau
sistem adalah fokus yang diinginkan dan ini jarang dilakukan (Friedman, 2004)
Perawta keluarga dalam praktiknya harus menstimulasi individu dan keluarga dan sistem
keluarga. Hal ini berarti perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan keluarga harus
menerapkan dua jalan, yaitu perawatan pada individu dan keluarga serta keluarga sebagai
sistemnya. Sehingga dalam melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan,
intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawaatan akan lebih kompleks dan mendalam
(Friedman, 2004)
Dalam melakukan asuhan keprawatan keluarga menerapkan langkah-langkah terkait
dengan lima langkah dalam proses keperawatan keluarga. Asuhan keperawatan keluarga
dimulai dengan pengkajian keperawatan sampai dengan evaluasi keperawatan keluarga.
Dalam pengkajian ditekankan pada struktur dan fungsi keluarga secara menyeluruh dan
terintegrasi. K