Anda di halaman 1dari 31

PENJABARAN KISI-KISI SOAL TKB KEMENKES TAHUN 2017

Kisi-kisi Tes Kemampuan Bidang (TKB) Kesehatan Kemenkes RI 2017


Kisi-kisi Soal TKB Kesehatan CPNS 2017 BIDANG KESEHATAN
1. UU NO 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN
1. 1. Isi dan pengertian
2. VTB X
3. 3. Nikotin dan tembakau dan rokok
4. 4 Definisi kematian
5. 5 Psikiatri/Kedokteran jiawa
6. 6 Peraturan Rekam Medis/Informed Consent
2. PROGRAM KESEHATAN MAYSRAKAT
1. 1 Polindes (Pos Persalinan Desa)
2. 2 Poskesdes (Pos Kesehatan Desa)
3. 3 Puskesmas: Standar Pelayanan minimal, PKM Rawat Inap
4. 4 Posyandu – PJ, kriteria, kegiatan, klasifikasi
5. 5 Puskesmas PONED
6. 6 Gerakan Sayang Ibu – sasaran/target
7. 7 Suami Siaga, Desa Siaga (Kriteria dan Tahapan
8. 8 Pemberian ASI Ekslusif
9. 10 Promosi Kesehatan – strategi, kegiatan, target, sasaran primer n sekunder
10. Posbindu PTM
11. Germas – Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
12. GENTAS – Gerakan Entaskan Obesitas
13. PROGRAM Monitoring Gizi untuk Bayi Stunting atau Kerdil (panjang kurang
BVV NNMB KKK KJ B GGB Bd VVC ari 48 cm)
3. GIZI DAN PANGANBF B/J
1. 1 Gizi Buruk (kwasiorkor, busung lapar, marasmus)
2. 2 Fortifikasi makanan
3. 3 Indeks Massa Tubuh (IMT) Body Mass Index (BMI)
4. 4 Bahan additif makanan
5. 5 Bahan additif yang dilarang: Jenis dan Tujuan, efek terhadap kesehatan
manusia (Pemanis, Pewarna, Pengawet)
6. 6 Suplementasi vitamin pada tepung terigu
7. 7 Mikromineral – suplemen utk ibu hamil – contoh asam folat berguna utk
8. 8. Pengawasan Pangan oleh BPPOM
4. KEMENKES RI
1. 1 Visi Misi Kemenkes RI
2. 2 Strategi Program
3. 3 Nilai-nilai
4. 4 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM)
5. 5 LAndasan, Arah dan Tujuan Pembangunan Kesehatan Nasional
6. 6 MDGs (Millenium Development Goal) 8 butir Tujuan dan 12 butir Target
Sasssaran
7. Nawacita Pembangunan Presiden RI yang terkait dengan Kesehatan
5. SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL – SJSN
1. 1 Dasar Hukum SJSN UU No 40 tahun 2004
2. 2 BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan
3. 3 PT Askes, PT Jamsostek
4. 4 PBI (Penerima Bantuan Iuran)
5. 5. Peserta BPJS Mandiri, Puerusahaan/karyawan, PBI
6. 6. Jenis Pelayanan yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan
7. 7. Iuran BPJS dan Denda Tunggakan
8. 8 Asuransi Jasa Raharja bagi ke celakaan lalu lintas
9. 9 Pelayanan gawat darurat bagi pasien JKN di rumah sakit swasta
10. Cost of Benefit antara BPJS kesehatan dengan Asuransi Swasta
6. FARMASI DAN OBAT-OBATAN
1. 1 Obat herbal terstandar
2. 2 Izin edar obat tradisional
3. 3 Khasiat tanaman herbal/tradisional kumis kucing, belimbing wuluh, jahe dll
4. 4 Lokasi pemberian obat
5. 5 Golongan obat misal antipiretik, analgesik, antibiotik
6. 6 Obat Berbahaya, Psikotropika dan Narkotika
7. 7 Vitamin – unsur2 vitamin
8. Persyaratan kemasan obat
9. aPA itu Jamu, Obat Herbal dan Fitofarmaka
7. IMUNISASI DAN VAKSIN
1. 1 Imunisasi dan Vaksinasi: Nama, Jenis dan manfaat imunisasi
2. 2 Pekan Imunisasi Nasional
3. 3 Imunisasi dasar pada bayi/anak
4. 4 Suhu penyimpanan vaksin
5. 5 Jenis-jenis penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi
6. 6 Kasus hukum pemalsuan vaksin vial
7. Waktu2 seorang bayi/anak diimunisasi
8. BKKBN – KELUARGA BERENCANA
1. 1 Visi, Misi dan Nilai BKKBN
2. 2 Tujuan Program KB Nasional
3. 3 Target / Sasaran Program KB
4. 4 Jenis2 Akseptor KB
5. 5 Jenis2 alat kontrasepsi
6. 6 Pasangan Usia Subur (PUS)
9. KESEHATAN LINGKUNGAN
1. 1 Standar/Nilai ambang batas pencemaran udara
2. 2 Persyaratan biologis, kimiawi n fisik air minum
3. 3 Pengelolaan sampah padat (incinerator)
4. 4 Bahan Beracun Berbahaya B3
5. 5 Pengelolaan Pestisida: Penggunaan yang benar
6.
10. RUMAH SAKIT DAN FASILITAS KESEHATAN
1. 1 Rumah sakit – UU, jenis RS, pelayanan puskes mas
2. 2 Golongan dan tipe rummah sakit (A, B, C, Pratama)
3. 3 Informed consent – Persetujuan tindakan medik
4. 4 Malpraktek, depinisi dan konsekuensi hukum
5. 5 Tenaga kesehatan – penggolongan nakes
6. 6 Parameter lab darah sehat
7. 7 Pemeriksaan lab penegakan diagnosis penyakit
8. 8 Setandar Pelayanan RS
9. 9. Izin Operasional dan Izin Pendirian RS Swasta
11. Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan – P2PL
1. 1 Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
2. 2 Penyakit infeksi mengemuka (TBC, HIV, Ebola, Flu Burung)
3. 3 Pneumonia, Malaria, Lepra/Morbus hansen
4. 4 Program DOTS TB, Multidrug Resistent M. Tuberculosis
5. 5 Risiko Tinggi dan Cara Penularan HIV/AIDS
6. 6 Diaree pada anak: Kriteria Frekuensi BAB, Definisi Akut/Kronis
7. 7 Pencegahan penularan infeksi di rumah sakit – nosokomial
8. Vektor penyebar penyakit
Contoh Soal TKB Kesehatan Tahun 2014
12. PENYAKIT NONINFEKSI – Penyakit Tidak Menular / PTM
1. 1 Kanker Serviks
2. 2 Kanker, Stroke, Penyakit Jantung, Infark
3. 3 Penyakit degeneratif (Hemofilia, Leukemia, Thalasemia)
4. 4 Diabetes Mellitus tipe 1 dan Tipe 2
5. 5 Penyakit Ginjal Kronik (CKD)
6. 6 Transplantasi organ (ginjal, hati, kornea mata)
7. Nama-nama pemeriksaan deteksi dini penyakit non infeksi
8. Fungsi posbindu PTM untuk mengontrol populasi hipertensi, DM, rematik,
kolesterol
13. Epidemiologii
1. 1 Interaksi Host Agent Environment
2. 2 Angka kematian kasar, fertility rate, AKI, angka kelahiran, pertambahan
penduduk
3. 3 Nilai Mean/Rerata, Median, Range, Standar Deviasi, Nilai Hitung
4. 4 Insidens Rate dan Prevalens Rate
5. 5 Pengertian Masa Inkubasi
6. 6 Teori teori sehat dan definisi sehat
7. 7 Populasi dan demografi (Transisi demografi), Pola demografi, unsur
demografi, dependnency ratio
8. 8. iSTILAH Kependudukan / demografi dan statistik / biostatistik
14. Isu Nasional Kesehatan dan Update Kegiatan Kesehatan Indonesia
Saat ini sedang ramai isu dan kegiatan Kesehatan yang mengemuka di masyarakat
dan pemerintah di antaranya

1. Vaksin palsu
2. Penelantaran pasien miskin oleh rumah sakit
3. Imunisasi MR
4. GERMAS dan GENTAS
5. BPJS Kesehatan : Kenaikan Iuran, Denda
6. Peredaran OBat Keras dan FUngsi Apotek, penyalahgunaan obat (PCC,
Psikotropika)
7. Posbindu PTM – Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular
8. Donor organ ginjal, mata dan hati
9. Nawacita Presiden RI yang terkait dengan Kesehatan
10. Bonus Demografi
1. POSYANDU
A. Pengertian Posyandu
Pengertian posyandu adalah sistem pelayanan yang
dipadukan antara satu program dengan program
lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan
terpadu dan dinamis seperti halnya program KB
dengan kesehatanatau berbagai program lainnya yang
berkaitan dengan kegiatan masyarakat(BKKBN, 1989).
Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu
, hal ini bertujuanuntuk memberikan kemudahan dan
keuntungan bagi masyarakat karena di posyandu
tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan
lengkap padawaktu dan tempat yang sama (Depkes RI,
1990).Posyandu dipandang sangat bermanfaat bagi
masyarakat namunkeberadaannya di masyarakat
kurang berjalan dengan baik, oleh karena itu
pemerintah mengadakan revitalisasi posyandu.
Revitalisasi posyandumerupakan upaya pemberdayaan
posyandu untuk mengurangi dampak darikrisis
ekonomi terhadap penurunan status gizi dan
kesehatan ibu dan anak.Kegiatan ini juga bertujuan
untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakatdalam
menunjang upaya mempertahankan dan meningkatkan
status gizi sertakesehatan ibu dan anak melalui
peningkatan kemampuan kader, manajemendan fungsi
posyandu (Depdagri, 1999).

B. Tujuan Posyandu
1. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka
Kematian Ibu ( ibuHamil, melahirkan dan nifas) .
2. Membudayakan NKKBS.
3. Meningkatkan peran serta dan kemampuan
masyarakat untuk mengembangkan kegiatan
kesehatan dan KB Berta kegiatan lainnya
yangmenunjang untuk tercapainya masyarakat sehat
sejahtera.
4. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi
Keluarga Sejahtera,Gerakan Ketahanan Keluarga dan
Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera.

C. Pengelola Posyandu
1. Penanggungjawab umum : Kades/Lurah.
2. Penggungjawab operasional : Tokoh Masyarakat.
3. Ketua Pelaksana : Ketua Tim Penggerak PKK.
4. Sekretaris : Ketua Pokja IV Kelurahan/desa.
5. Pelaksana: Kader PKK, yang dibantu Petugas KB-
Kes (Puskesmas).

D. Kegiatan Pokok Posyandu


1. KIA
2. KB
3. Imunisasi
4. Gizi
5. Penggulangan Diare

E. Pembentukan Posyandu
a) Langkah – langkah pembentukan :
1) Pertemuan lintas program dan lintas sektoral
tingkat kecamatan.
2) Survey mawas diri yang dilaksanakan oleh kader
PKK di bawah bimbingan teknis unsur kesehatan dan
KB
3) Musyawarah masyarakat desa membicarakan hasil
survey mawasdiri, sarana dan prasarana posyandu,
biaya posyandu .
4) Pemilihan kader Posyandu.
5) Pelatihan kader Posyandu.
6) Pembinaan.
b) Kriteria pembentukan Posyandu.
Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat
dengan Puskesmasagar pendekatan pelayanan
kesehatan terhadap masyarakat lebih
tercapaisedangkan satu Posyandu melayani 100 balita.
c) Kriteria kader Posyandu :
1) Dapat membaca dan menulis.
2) Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
3) Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan
masyarakat.
4) Mempunyai waktu yang cukup.
5) Bertempat tinggal di wilayah Posyandu.
6) Berpenampilan ramah dan simpatik.
7) Diterima masyarakat setempat.
d) Pelaksanaan Kegiatan Posyandu.
1) Posyandu dilaksanakan sebulan sekali yang
ditentukan oleh Kader,Tim Penggerak PKK
Desa/Kelurahan serta petugas kesehatan dari
Puskesmas, dilakukan pelayanan masyarakat dengan
system 5 meja yaitu :
Meja I : Pendaftaran
Meja II : Penimbangan
Meja III : Pengisian KMS
Meja IV : Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS
Meja V : Pelayanan KB & Kes ; Imunisasi, pemberian
vitamin, pembagian pil atau kondom, pengobatan
ringan, kosultasi KB-Kesehatan.
Petugas pada Meja I s/d IV dilaksanakan oleh kader
PKK sedangkanMeja V merupakan meja pelayanan
paramedis (Jurim, Bindes, perawat dan petugas KB).2.
Sasaran Posyandu yaitu Bayi/Balita, Ibu hamil/ibu
menyusui, danWUS dan PUS.

STRATA POSYANDU dikelompokkan menjadi 4 :


1. Posyandu Pratama
a) belum mantap.
b) kegiatan belum rutin
c) kader terbatas
2. Posyandu Madya
a) kegiatan lebih teratur
b) Jumlah kader 5 orang
3. Posyandu Purnama
a) kegiatan sudah teratu
b) cakupan program/kegiatannya baik
c) jumlah kader 5 orang
d) mempunyai program tambahan
4. Posyandu Mandiri
a) kegiatan secara terahir dan mantap
b) cakupan program/kegiatan baik
c) memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap
F. Sasaran Revitalisasi Posyandu
Kegiatan revitalisasi posyandu pada dasarnya meliputi
seluruh posyandudengan perhatian utamanya pada
posyandu yang sudah tidak aktif/rendahstratanya
(pratama dan madya) sesuai kebutuhan, posyandu
yang berada didaerah yang sebagian besar
penduduknya tergolong miskin, serta adanyadukungan
materi dan non materi dari tokoh masyarakat
setempat dalammenunjang pelaksanaan kegiatan
posyandu. Dukungan masyarakat sangat penting
karena komitmen dan dukungan mereka sangat
menentukankeberhasilan dan kesinambungan
kegiatan posyandu (Depkes RI, 1999).
Kontribusi posyandu dalam meningkatkan kesehatan
bayi dan anak balitasangat besar, namun sampai saat
ini kualitas pelayanan posyandu masih
perluditingkatkan. Keberadaan kader dan sarana yang
ada merupakan modaldalam keberlanjutan posyandu.
Oleh karena itu keberadaan posyandu harusterus
ditingkatkan sehingga diklasifikasikan menjadi 4 jenis
yaitu posyandu pratama, madya, purnama, dan
mandiri.
G. Jenis Posyandu
Untuk meningkatkan kualitas dan kemandirian
posyandu diperlukan intervensi sebagai berikut :
1. Posyandu pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang
masih belum mantap,kegiatannya belum bisa rutin tiap
bulan dan kader aktifnya terbatas.Keadaan ini dinilai
µgawat¶ sehingga intervensinya adalah
pelatihankader ulang. Artinya kader yang ada perlu
ditambah dan dilakukan pelatihan dasar lagi.
2. Posyandu madya (warna kuning)
Posyandu pada tingkat madya sudah dapat
melaksanakan kegiatan lebihdari 8 kali per tahun
dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang
ataulebih. Akan tetapi cakupan program utamanya
(KB, KIA, Gizi, danImunisasi) masih rendah yaitu
kurang dari 50%.
Ini berarti, kelestarian posyandu sudah baik tetapi
masih rendahcakupannya. Intervensi untuk posyandu
madya ada 2 yaitu :
a) Pelatihan Toma dengan modul eskalasi posyandu
yang sekarangsudah dilengkapi dengan metoda
simulasi.
b) Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan
MMD) untuk menentukan masalah dan mencari
penyelesaiannya, termasuk menentukan program
tambahan yang sesuai dengan situasi dankondisi
setempat.
3. Posyandu purnama (warna hijau)
Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu yang
frekuensinyalebih dari 8 kali per tahun, rata-rata
jumlah kader tugas 5 orang ataulebih, dan cakupan 5
program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi)lebih
dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan
mungkin sudah ada Dana Sehat yang masih
sederhana. Intervensi pada posyandu ditingkat ini
adalah :
a) Penggarapan dengan pendekatan PKMD untuk
mengarahkanmasyarakat menetukan sendiri
pengembangan program di posyandu.
b) Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat
tumbuh Dana Sehatyang kuat dengan cakupan
anggota minimal 50% KK atau lebih.
4. Posyandu mandiri (warna biru)
Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan
secara teratur,cakupan 5 program utama sudah bagus,
ada program tambahan dan DanaSehat telah
menjangkau lebih dari 50% KK. Intervensinya adalah
pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana
Sehat tersebutmenggunakan prinsip JPKM.
2. POLINDES
A. Pengertian Polindes
Pondok bersalin Desa (POLINDES) adalah salah satu
bentuk peran serta masyarakat dalam menyediakan
tempat pertolongan persalinan dan pelayanan
kesehatan ibu dan anak termasuk KB didesa (Depkes
RI, 1999), polindes dirintis dan dikelola oleh pamong
desa setempat.

B. Tujuan Polindes
1. Terwujudnya masyarakat sehat yang diaga terhadap
permasalahan kesehatan diwilayah desanya.
2. Terselenggaranya promosi kesehatan dalam rangka
menuingkatkan pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan
3. Terselenggarakannya pengamatan, pencatatan dan
pelaporan dalam rangka meningkatkan kewaspadaan
dan kesigapan masyarakat terhadap resiko dan
bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan,
terutama penyakit menular yang berpotensi
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) serta faktor-
faktor resikonya
4. Tersedianya upaya pemberdayaan masyarakat dalam
rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
menolong dirinya dibidang kesehatan
5. Terselenggaranya pelayanan kesehatan dasar yang
dilaksanakan oleh masyarakat dan tenaga
professional kesehatan
6. Terkoordinasinya penyelenggaraan UKBM lainnya
yang ada didesa

C. Persyaratan Polindes
Secara umum persyaratan untuk mendirikan polindes
adalah tersedianya tempat yang bersih, namun serasi
dengan lingkungan perumahan di desa serta
tersedianya tenaga bidan didesa. Secara lebih rinci,
persyaratan yang perlu diusahakan adalah:
a. Tersedianya bidan di desa yang bekerja penuh untuk
mengelola polindes.
b. Tersedianya sarana untuk melaksanakan tugas
pokok dan fungsi bidan, antara lain:
1) Bidan kit
2) IUD kit
3) Sarana imunisasi dasar dan imunisasi ibu hamil
4) Timbangan berat badan ibu dan pengukur tinggi
badan
5) Infus set dan cairan dextrose 5%, NaCl 0,9%
6) Obat-obatan sederhana dan uterotonika
7) Buku-buku pedoman KIA, KB, dan pedoman
kesehatan lainnya
8) Inkubator sederhana
c. Memenuhi persyaratan rumah sehat, antara lain:
1) Penyediaan air bersih
2) Ventilasi cukup
3) Penerangan cukup
4) Tersedia sarana pembuangan air limbah
5) Lingkungan pekarangan bersi
6) Ukuran minimal 3×4 meter persegi
d. Lokasi dapat dicapai dengan mudah oleh penduduk
sekitarnya dan mudah dijangkau oleh kendaraan roda
empat.
e. Ada tempat untuk melakukan pertolongan
persalinan dan perawatan postpartum (minimal satu
tempat tidur)

D. Kegiatan Utama Polindes


1. Pengamatan dan kewaspadaan dini (survey
penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku beresiko,
sueveylans lingkungan dan masalah kesehatan
lainnya), penanganan kegawatdaruratan kesehatan
dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan
kesehatan dasar
2. Promosi kesehatan, penyehatan lingkungan dan
lain-lain
Kegiatan dilakukan berdasarkan pendekatan edukatif
atau kemasyarakatan yang dilakukan melalui
musyawarah mufakat yang disesuaikan kondisi dan
potensi masyarakat setempat.
3. Memeriksa kehamilan, termasuk memberikan
imunisasi TT pada bumil dan mendeteksi dini resiko
tinggi kehamilan.
4. Menolong persalinan normal dan persalinan dengan
resiko sedang.
5. Memberikan pelayanan kesehatan ibu nifas dan ibu
menyusui.
6. Memberikan pelayanan kesehatan neonatal, bayi,
anak balita dan anak pra sekolah, serta imunisasi
dasar pada bayi.
7. Memberikan pelayanan KB.
8. Mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama
pada kehamilan dan persalinan yang beresiko tinggi
baik ibu maupun bayinya.
9. Menampung rujukan dari dukun bayi dan dari kader
(posyandu, dasa wisma)
10. Merujuk kelainan ke fasilitas kesehatan yang lebih
mampu.
11. Melatih dan membina dukun bayi maupun kader
(posyandu, dasa wisma)
12. Memberikan penyuluhan kesehatan tentang gizi ibu
hamil dan anak serta peningkatan penggunaan ASI
dan KB.
13. Mencatat serta melaporkan kegiatan yang
dilaksanakan kepada puskesmas setempat.

E. Sasaran Polindes
a. Bayi berusia kurang dari 1 tahun
b. Anak balita usia 1 sampai dengan 5 tahun
c. Ibu hamil
d. Ibu menyusui
e. Ibu nifas
f. Wanita usia subur.
g. Kader
h. Masyarakat setempat.

F. Fungsi Polindes
a. Sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak
(termasuk KB)
b. Sebagai tempat pemeriksaan kehamilan dan
pertolongan persalinan
c. Sebagai tempat untuk konsultasi, penyuluhan dan
pendidikan kesehatan masyarakat dan dukun bayi
maupun kader

G. Manfaat Polindes
a. Bagi masyarakat
1) Permasalahan didesa dapat terdekteksi dini,
sehingga bisa ditangani cepat dan diselekaikan,
sesauai kondisi, potensi dan kemampuan yang ada
2) Memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang dekat
b. Bagi kader
1) Mendapat informasi awal di bidang kesehatan
2) Mendapat kebanggaan, dirinya lebih berkarya bagi
masyarakat
c. Bagi puskesmas
1) Memperluas jangkauan pelayanan puskesmas
dengan mengoptimalkan sumber data secara efisien
dan efektif
2) Mengoptimalkan fungsi puskesmas sebagai
penggerak pembangunan berwawasan kesehatan,
pusat pemberdayaan ,asyarakat dan pusat pelayanan
kesehatan strata pertama

d. Bagi sektor lain


1) Dapat memadukan kegiatan sektornya dengan
bidang kesehatan
2) Kegiatan pemberdayaan mesyarakat dapat
dilakukan lebih efektif dan efisien

H. Stratifikasi Polindes
Dalam menganalisa pertumbuhan Polindes harus
mengacu kepada indikator tingkat perkembangan.
Polindes yang mencakup beberapa hal :
a. Fisik
Tempat yang disediakan oleh masyarakat untuk
polindes perlu memenuhi persyaratan antara lain :
1) Bangunan polindes tampak bersih, salah satunya
ditandai tidak adanya sampah berserakan
2) Lingkungan yang sehat, bila polindes jauh dari
kandang ternak
3) Mempunyai jumlah ruangan yang cukup untuk :
pemeriksaan kehamilan dan pelayanan KIA,
mempunyai ruang untuk pertolongan persalinan.
4) Tempat pelayanan bersih dengan aliran
udara/ventilasi yang baik terjamin.
5) Mempunyai perabotan dan alat-alat yang memadai
untuk pelaksanaan pelayanan.
6) Mempunyai sarana air bersih dan jamban yang
memenuhi persyaratan kesehatan.
Idealnya suatu polindes mempunyai bangunan sendiri
dan memenuhi persyaratan di atas, namun dalam
kenyataannya mungkin saja polindes masih
menumpang di salah satu rumah warga atau bersatu
dengan kediaman bidan di desa.

b. Tempat tinggal bidan desa


Keberadaan bidan di desa secara terus menerus
(menetap) menentukan efektifivitas pelayanannya,
termasuk efektivitas polindes. Selain itu, jarak tempat
tinggal bidan yang menetap di desa dengan polindes.
Bidan yang tidak tinggal di desa dianggap tidak
mungkin melaksanakan pelayanan pertolongan
persalinan di polindes. Untuk mempercepat tumbuh
kembang Polindes bidan harus selalu berada/tinggal di
desa dan lebih banyak melayani masalah kesehatan
masyarakat desa setempat.

c. Pengelolaan polindes
Pengelolaan Polindes yang baik akan menentukan
kualitas pelayanan, sekaligus pemanfaatan pelayanan
oleh masyarakat. Kriteria pengelolaan polindes yang
baik antara keterlibatan masyarakat melalui wadah
LPM dalam menentukan tarif pelayanan. Tarif yang
ditetapkan secara bersama, diharapkan memberikan
kemudahan kepada masyarakat untuk memanfaatkan
polindes, sehingga dapat meningkatkan cakupan dan
sekaligus dapat memuaskan semua pihak.

d. Cakupan Persalinan
Tinggi rendahnya cakupan persalinan dipengaruhi
banyak faktor, diantaranya ketersediaan sumberdaya
kesehatan termasuk didalamnya keberadaan polindes
beserta tenaga profesionalnya, yaitu bidan desa.
Tersedianya polindes dan bidan di suatu desa
memberikan kemudahan untuk mendapatkan
pelayanan KIA, khususnya dalam pertolongan
persalinan, baik ditinjau dari segi jarak maupun dari
segi pembiayaan. Meningkatnya cakupan persalinan
yang ditolong di polindes, selain berpengaruh terhadap
kualitas pelayanan ibu hamil, sekaligus mencerminkan
kemampuan bidan itu sendiri baik di dalam
kemampuan teknis medis maupun di dalam menjalin
hubungan dengan masyarakat. Cakupan persalinan
dihitung secara kumulatif selama setahun.

e. Sarana air bersih


Tersedianya air bersih merupakan salah satu
persyaratan untuk hidup sehat. Demikian juga halnya
di dalam operasional pelayanan polindes. Polindes
dianggap baik apabila telah tersedia air bersih yang
dilengkapi dengan : MCK, tersedia sumber air (sumur,
pompa, PAM, dll), dan dilengkapi pula dengan saluran
pembuangan air limbah.
f. Kemitraan bidan dan dukun bayi
Kader masyarakat yang paling terkait dengan
pelayanan di polindes adalah dukun bayi. Karena itu,
polindes dimanfaatkan pula sebagai sarana
meningkatkan kemitraan bidan dan dukun bayi dalam
pertolongan persalinan. Kemitraan bidan dan dukun
bayi merupakan hal yang dianjurkan dalam pelayanan
pertolongan persalinan di Polindes. Penghitungan
cakupan kemitraan bidan dan dukun dihitung secara
kumulatif selama setahun.

g. Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran


KIE merupakan salah satu teknologi peningkatan
peran sertaa masyarakat yang bertujuan untuk
mendorong masyarakat agar mau dan mampu
memelihara dan melaksanakan hidup sehat sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya, melalui jalinan
komunikasi, informasi dan edukasi yang bersifat
praktis.
Dengan keberadaan polindes beserta bidan ditengah-
tengah masyarakat diharapkan akan terjalin interaksi
antara antara bidan dengan masyarakat. Semakin
sering bidan di desa menjalankan KIE, akan semakin
mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas
hidup sehatnya, termasuk di dalamnya meningkatkan
kemampuan dukun bayi sebagai mitra kerja di dalam
memberikan penyuluhan kesehatan ibu hamil.
Seharusnya suatu polindes di dalam pelaksanaan
kegiatannya telah melakukan KIE untuk kelompok
sasaran minimal sekali dalam setiap bulannya.
Kegiatan KIE ini dihitung secara kumulatif selama
setahun.

h. Dana Sehat/JPKM
Dana sehat sebagai wahana memandirikan
masyarakat untuk hidup sehat, pada gilirannya
diharapkan akan mampu melestarikan berbagai jenis
upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat
setempat.
Suatu polindes dianggap baik bila masyarakat di desa
binaannya telah terliput dana sehat, sehingga
diharapkan kelestarian polindes dapat terjamin,
kepastian untuk mendapatkan pelayanan yang
berkualitas tak perlu dikhawatirkan lagi. Cakupan
dana sehat dianggap baik bila telah mencapai 50%.

Pengertian, Kriteria, Kegiatan dan


Standar Puskesmas Rawat Inap
Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan
pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta
masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Dengan kata lain
Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan
masyarakat dalam wilayah kerjanya (Depkes RI, 2002).

Salah satu trend sektor kesehatan, terkait keberadaan Puskesmas ini, adalah suatu
insitusi yang mampu segera mengadakan rencana, operasional, tindakan baik lapangan
maupun perawatan serta pengembangan secara cepat adalah Puskesmas dengan rawat
inap.

Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Rawat Inap merupakan Puskesmas yang diberi
tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat, baik berupa
tindakan operatif terbatas maupun rawat inap sementara. Sesuai Standard Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota (Depkes RI, 2003), pengertian rawat i

Puskesmas Perawatan

nap, merupakan pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi observasi, diagnosa,


pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medik dengan menginap di ruang rawat inap
pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta, serta puskesmas perawatan
dan rumah bersalin, yang oleh karena penyakitnya penderita harus menginap.

Fungsi Puskesmas Rawat Inap sebagai tempat rujukan pertama bagi kasus
tertentu yang perlu dirujuk, mempunyai beberapa fungsi pokok, antara lain :
1. Fungsi sesuai dengan tugasnya yaitu pelayanan,pembinaan dan
pengembangan, dengan penekanan pada fungsi pada kegiatan yang
bersifat preventif, promotif, dan fungsi rehabilitative
2. Fungsi yang berorientasi pada kegiatan teknis terkait instalasi
perawatan pasien sakit, instalasi oba, instalasi gizi, dan instalasi
umum. Juga fungsi yang lebih berorientasi pada kegiatan yang bersifat
kuratif.
Beberapa kriteria Puskesmas Rawat Inap, sebagai sebuah Pusat Rujukan Antara
bagi penderita gawat darurat sebelum dibawa ke RS, antara lain sebagai nerikut :
1. Puskesmas terletak kurang lebih 20 km dari Rumah Sakit
2. Puskesmas mudah dicapai dengan kendaraan bermotor
3. Puskesmas dipimpin oleh dokter dan telah mempunyai tenaga yang
memadai
4. Jumlah kunjungan Puskesmas minimal 100 orang per hari
5. Penduduk wilayah kerja Puskesmas dan penduduk wilayah 3 Pus
kesmas di sekitarnya minimal 20.000 jiwa per Puskesmas
6. Pemerintah Daerah “bersedia” menyediakan dana rutin yang memadai.
Sementara kegiatan puskesmas rawat inap, antara lain meliputi :
1. Melakukan tindakan operatif terbatas terhadap penderita gawat
darurat, antara lain: Kecelakaan lalu lintas, Persalinan denngan
penyulit, dan Penyakit lain yang mendadak dan gawat
2. Merawat sementara penderita gawat darurat atau untuk observasi
penderita dalam rangka diagnostik dengan rata-rata 3-7 hari
perawatan.
3. Melakukan pertolongan sementara untuk pengiriman penderita ke
Rumah Sakit. Memberi pertolongan persalinan bagi kehamilan denngan
resiko tinggi dan persalinan dengan penyulit
4. Melakukan metode operasi pria dan metode operasi wanita ( MOP dan
MOW ) untuk Keluarga Berencana.
Standar ketenagaan yang dibutuhkan dalam pengembangan Puskesmas Rawat
Inap menurut Pedoman Kerja Puskesmas (Depkes RI, 2002):
1. Dokter kedua di Puskesmas yang telah mendapatkan latihan klinis di
Rumah sakit selama 6 bulan dalam bidang bedah, obstetri-gynekologi,
pediatri dan interne.
2. Seorang perawat yang telah dilatih selama 6 bulan dalam bidang
perawatan bedah, kebidanan, pediatri dan penyakit dalam.
3. 3 orang perawat / bidan yang diberi tugas bergilir
4. 1 orang pekarya kesehatan (SMA atau lebih)
Sedangkan standar sarana prasarana yang dibutuhkan dalam pengembangan
Puskesmas Rawat Inap
1. Ruangan rawat tinggal yang memadai ( nyaman, luas dan terpisah
antara anak, wanita dan pria untuk menjaga privacy )
2. Ruangan operasi dan ruang post operasi
3. Ruangan persalinan (dan ruang menyusui sekaligus sebagai ruang
recovery)
4. Kamar perawat jaga
5. Kamar linen dan cuci
Sementara standar peralatan Medis yang dibutuhkan dalam pengembangan
Puskesmas Rawat Inap, antara lain:
1. Peralatan operasi terbatas
2. Peralatan obstetri patologis, peralatan vasektomi dan tubektomi
3. Peralatan resusitasi
4. Minimal 10 tempat tidur dengan peralatan perawatan
5. Alat Komunikasi dan Transportasi:
6. Telepon atau Radio Komunikasi jarak sedang
7. Satu buah ambulance (minimal)
Standar diatas merupakan syarat minimal, karena untuk menuju peningkatan kualitas
pelayanan, diperlukan inovasi seorang kepala Puskesmas, baik terkait obat-obatan,
penunjang medis, protap perawatan medis dengan referensi yang uptodate, juga
adanya medical review secara berkala maupun pengembangan kegiatan non medis dan
lainnya.

Cakupan rawat inap


Sesuai Standard Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota (Depkes RI,
2003), cakupan rawat inap merupakan cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana
pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Jumlah kunjungan rawat inap baru adalah jumlah kunjungan rawat inap baru
yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Poli Umum, baik dalam dan luar gedung di
satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu dan penyebut adalah jumlah penduduk di
satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. Sementara untuk mencapai tujuan
cakupan layanan, beberapa langkah kegiatan yang dilakukan antara lain :
1. Pendataan penduduk, sarana kesehatan, dan kunjungan ke sarana
kesehatan
2. Peningkatan prasarana dan sarana kesehatan
3. Analisa kebutuhan pelayanan
4. Penyuluhan
5. Pelatihan Sumber Daya manusaia
6. Pencatatan dan pelaporan
Refference, antara lain : Depkes RI. 2003. Standard Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota; Depkes RI. 2002. Pedoman Kerja Puskesmas

. PENGERTIAN PONED
PONED merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar.
PONED dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter. Petugas kesehatan
yang boleh memberikan PONED yaitu dokter, bidan, perawat dan tim PONED
Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih.
Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar dapat dilayani oleh puskesmas yang
mempunyai fasilitas atau kemampuan untuk penangan kegawatdaruratan obstetri dan
neonatal dasar. Puskesmas PONED merupakan puskesmas yang siap 24 jam, sebagai
rujukan antara kasus-kasus rujukan dari polindes dan puskesmas. Polindes dan
puskesmas non perawatan disipakan untuk mealkukuan pertolongan pertama gawat
darurat obstetri dan neonatal (PPGDON) dan tidak disiapkan untuk melakukan PONED.

2. BATASAN DALAM PONED


Dalam PONED bidan boleh memberikan
a. Injeksi antibiotika
b. Injeksi uterotonika
c. Injeksi sedative
d. Plasenta manual
e. Ekstraksi vacuum
f. Tranfusi darah
g. Operasi SC

3. INDIKATOR KELANGSUNGAN DARI PUSKESMAS PONED


a. Kebijakan tingkat PUSKESMAS
b. SOP (Sarana Obat Peralatan)
c. Kerjasama RS PONED
d. Dukungan Diskes
e. Kerjasama SpOG
f. Kerjasama bidan desa
g. Kerjasama Puskesmas Non PONED
h. Pembinaan AMP
i. Jarak Puskesmas PONED dengan RS
4. TUJUAN PONED
PONED diadakan bertujuan untuk menghindari rujukan yang lebih dari 2 untuk
memutuskan mata rantai rujukan itu sendiri. jam dan

5. HAMBATAN DAN KENDALA DALAM PENYELENGGARAAN PONED


Hambatan dan kendala dalam penyelenggaraan PONED dan yaitu :
a. Mutu SDM yang rendah
b. Sarana prasarana yang kurang
c. Ketrampilan yang kurang
d. Koordinasi antara Puskesmas PONED dan RS PONEK dengan Puskesmas Non
PONED belum maksimal
e. Kebijakan yang kontradiktif (UU Praktek Kedokteran)
f. Pembinaan terhadap pelayanan emergensi neonatal belum memadai

6. TUGAS PUSKESMAS PONED


a. Menerima rujukan dari fasilitas rujukan dibawahnya, Puskesmas pembantu dan
Pondok bersalin Desa
b. Melakukan pelayanan kegawatdaruratan obstetrik neonatal sebatas wewenang
c. Melakukan rujukan kasus secara aman ke rumah sakit dengan penanganan pra
hospital.

7. SYARAT PUSKESMAS PONED


a. Pelayanan buka 24 jam
b. Mempunyai Dokter, bidan, perawat terlatih PONED dan siap melayani 24 jam
c. Tersedia alat transportasi siap 24 jam
d. Mempunyai hubungan kerjasama dengan Rumah Sakit terdekat dan Dokter Spesialis
Obgyn dan spesialis anak sebagai

8. PETUGAS PELAKSANA PONED


a. Dokter umum 2 orang
b. Bidan 8 orang
c. Perawat
d. Petugas yang telah mendapat pelatihan PONED

9. PELAYANAN YANG DILAKSANAKAN


Pelayanan PONED
a. Pelayanan KIA/KB
b. Pelayanan ANC & PNC
c. Pertolongan Persalinan normal
d. Pendeteksian Resiko tinggi Bumil
e. Penatalaksanaan Bumil Resti
f. Perawatan Bumil sakit
g. Persalinan Sungsang
h. Partus Lama
i. KPD
j. Gemeli
k. Pre Eklamsia
l. Perdarahan Post Partum
m. Ab. Incomplitus
n. Distosia Bahu
o. Asfiksia
p. BBLR
q. Hypotermia
r. Komponen pelayanan maternal
1) Pre eklamsia/eklamsia
2) Tindakan obstetri pada pertolongan persalinan
3) Perdarahan postpartum
4) Infeksi nifas
s. Komponen pelayanan neonatal
1) Bayi berat lahir rendah
2) Hipotermi
3) Hipoglikemi
4) Ikterus/hiperbilirubinemia
5) Masalah pemberian nutrisi
6) Asfiksia pada bayi
7) Gangguan nafas
8) Kejang pada bayi baru lahir
9) Infeksi neonatal
10) Rujukan dan transportasi bayi baru lahir

10. FAKTOR PENDUKUNG KEBERHASILAN PONED PUSKESMAS ANTARA LAIN


a. Adanya Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JKRS, Jamkesmas)
b. Sistem rujukan yang mantap dan berhasil
c. Peran serta aktif bidan desa
d. Tersedianya sarana/prasarana, obat dan bahan habis pakai
e. Peran serta masyarakat, LSM, lintas sektoral dan Stage Holder yang harmonis.
f. Peningkatan mutu pelayanan perlu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi serta kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan standart
pelayanan minimal.

B. PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI KOMPERHENSIF (PONEK)

1. Pengertian PONEK
PONEK adalah Pelayan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumah
Sakit, meliputi kemampuan untuk melakukan tindakan :
a) seksia sesaria,
b) Histerektomi,
c) Reparasi Ruptura Uteri, cedera kandung/saluran kemih,
d) Perawatan Intensif ibu dan Neonatal,
e) Tranfusi darah.
2. RS PONEK 24 Jam adalah RS yang memiliki kemampuan serta fasilitas PONEK siap
24 jam untuk meberikan pelayanan terhadap ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru
lahir dengan nkomplikasi baik yang datang sendiri atau atas rujukan kader/masyarakat,
bidan di desa, Puskesmas dan Puskesmas PONED.
3. Penanganan definitif adalah penanganan/pemberian tindakan terakhir untuk
menyelesaikan permaslahan setiap kasus komplikasi kebidanan.

Iklan

GERAKAN SAYANG IBU


GERAKAN SAYANG IBU
Syafrudin, SKM, M.Kes.

A. PENGERTIAN
Gerakan sayang Ibu (GSI) adalah gerakan yang mengembangkan kualitas
perempuan utamanya melalui percepatan penurunan angka kematian ibu yang
dilaksanakan bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat dalam rangka
meningkatkan sumber daya manusia dengan meningkatkan pengetahuan, kesadaran,
dan kepedulian dalam upaya integrative dan sinergis.
GSI didukung pula oleh Aliansi Pita Putih (White Ribbon Alliance) yaitu suatu
aliansi yang ditujukan untuk mengenang semua wanita yang meninggal karena
kehamilan dan melahirkan. Pita putih merupakan symbol kepedulian terhadap
keselamatan ibu yang menyatukan individu, organisasi dan masyarakat yang
bekerjasama untuk mengupayakan kehamilan dan persalinan yang aman bagi setiap
wanita.
GSI diharapkan dapat menggerakkan masyarakat untuk aktif terlibat dalam
kegiatan seperti membuat tabulin, pemetaan bumil dn donor darah serta ambulan desa.
Untuk mendukung GSI, dikembangkan juga program suami SIAGA dimana suami sudah
menyiapkan biaya pemeriksaan dan persalinan, siap mengantar istri ke tempat
pemeriksaan dan tempt persalinan serta siap menjaga dan menunggui saat istri
melahirkan.

 3 (tiga) unsur pokok :


Pertama : Gerakan Sayang Ibu merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bersama
dengan pemerintah.
Kedua : Gerakan Sayang Ibu mempunyai tujuan untuk peningkatan dan perbaikan kualitas hidup
perempuan sebagai sumber daya manusia.
Ketiga : Gerakan Sayang Ibu bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu
karena hamil, melahirkan dan nifas.

B. TUJUAN GERAKAN SAYANG IBU


1) Menurunkan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta
menurunkan angka kematian bayi.
2) Meningkatkan pengetahuan ibu atau kaum perempuan mengenai Penyakit menular
Seksual (PMS).
3) Meningkatkan pengetahuan ibu atau kaum perempuan mengenai perawatan
kehamilan, proses melahirkan yang sehat, pemberian ASI Ekslusif dan perawatan bayi.
4) Memantapkan komitmen dan dukungn terhadap Gerakan Sayang Ibu.
5) Meningkatkan kepedulian dan dukungan sector terkait terhadap upaya-upaya
penanggulangan penyebab kematian ibu dan bayi secara terpadu.
6) Memantapkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam mengembangkan dan
membangun mekanisme rujukan sesuai dengan kondisi daerah.
7) Meningkatkan kepedulian dan peran serta institusi masyarakat dan swasta (LSM,
organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi) dalam perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, dan evaluasi dalam pengumpulan data ibu hamil, bersalin dan nifas di
tingkat kelurahan dan kecamatan.
8) Meningkatkan fungsi dan peran institusi kesehatan baik pemerintah maupun swasta
dalam pelayanan kesehatan yang aman, ramah dan nyaman bagi ibui dan bayi.
9) Meningkatkan upaya masyarakat dalam mengubah budaya masyarakat yang merugikan
kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas serta bayi yang dilahirkan.
10) Meningkatkan upaya pengembangan dana perawatan ibu hamil, bersalin, nifas serta
perawatan bayi di setiap wilayah kelurahan dibawah koordinasi camat.
C. SASARAN GERAKAN SAYANG IBU
) Langsung : Caten (Calon Penganten)
Pasangan Usia Subur (PUS)
Ibu hamil, bersalin dan nifas
Ibu meneteki masa perawatan bayi
Pria/Suami dan seluruh anggota keluarga
) Tidak langsung : Sektor terkait
Institusi kesehatan
Institusi Masyarakat
Tokoh masyarakat dan agama
Kaum bapak/pria
Media massa

D. RUANG LINGKUP GERAKAN SAYANG IBU


a) Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak melalui upaya penurunan angka
kematian ibu dan bayi.
b) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku suami istri dan masyarakat mengenai
hak-hak Reproduksi dan Kesehatan Reproduksi.
c) Menghilagkan hambatan-hambatan yang mempengaruhi upaya peningkatan kualitas
hidup perempuan.

E. STRATEGI GERAKAN SAYANG IBU


Melalui pendekatan kemasyarakatan, dikembangkan dalam bentuk :
Desentralisasi
Kemandirian
Keluarga
Kemitraan

F. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN GERAKAN SAYANG


IBU
Melalui langkah-langkah sebagai berikut :
Identifikasi masalah
Penentuan masalah
Penentuan tujuan
Pengembangan alternatif pemecahan masalah
Penentuan rencana operasional
Terdiri dari : Langkah kegiatan ( jadwal kegiatan)
Tenaga pelaksana
Dukungan dana dan saran
Monitoring dan Pelaporan
Evaluasi kegiatan

G. PELAKSANAAN KEGIATAN GERAKAN SAYANG IBU


sur Opersional
an advokasi dan KIE
mbangan pesan advokasi dan KIE GSI
c. Pemberdayaan dalm keluarga, masyarakat dan tempat pelayanan kesehatan
d. Memadukan kegiatan GSI, pondok bersalin dan posyandu
sur Pendukung
tasi dan penelitian
taan, pemantauan, pemetaan bumil, bulin, bufas dan bayi
mbangan tata cara rujukan
ukung upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
gkatan peran bidan

Satgas Gerakan Sayang Ibu meliputi :


a) Menyusun rencana kerja dalam rangka menurunkan AKI dan AKB serta mengumpulkan
dana untuk ambulance kecamatan dan tabulin.
b) Advokasi kepada TOMA, TOGA dan TOPOL dapat mendukung GSI wilayah tersebut.
c) Penyuluhan kepada keluarga serta bumil, bulin, bufas dan ibu yang mempunyai bayi di
masyarakat.
d) Mengumpulkan data informasi bumil, bulin, bufas dan bayi yang dilakukan.
e) Memberikan tanda pada bumil beresiko tinggi untuk kemudian dipantau dan di
informasikan ke bidan puskesmas.
f) Membantu merujuk.

 Memantau Keberhasilan Gerakan sayang Ibu (GSI)


Beberapa hal yang perlu dipantau untuk melihat keberhasilan pelaksanaan GSI
antara lain :
Sektoral terkait berperan aktif dalam kegiatan operasional
Setiap persalinan ditolong oleh tenakes
c) Kecamatan dan kelurahan dapat melaksanakan kegiatan KIE dengan baik

d) Kecamatan dan kelurahan dapat melakukan rujukan dengan baik artinya :


 Tersedianya kendaraan untuk membantu bumil melahirkan dan nifas yang
membutuhkan
 Tersedianya biaya untuk rujukan
 Sarana pelayanan kedaruratan medik untuk setiap kasus emergensi kehamilan,
persalinan dan nifas
H. INDIKATOR KEBERHASILAN SEBELUM DAN SESUDAH GSI
Semakin dan mantapnya peranan organisasi masyarakat dalam GSI, seperti :
1. Meningkatkan dan mantapnya masyarakat menjadi kader KIE GSI
2. Mendata ibu hamil dalam lingkungannya termasuk data mengenai :
 Jumlah ibu hamil
 Umur kehamilan, riwayat kehamilan, persalinan dan rencana persalinan
 Mengenai kehamilan yang beresiko dan rencana tindak lanjutnya
3. Menyampaikan data-data tersebut kepada Satgas GSI setempat
4. Semakin tumbuhnya ide-ide baru dari masyarakat

Semakin meningkat dan mantapnya pengetahuan dan pemahaman mengenai GSI,


seperti :
1. Mengenai kelainan kehamilan sedini mungkin dan segera membawanya ke fasilitas
kesehatan.
empersiapkan biaya persalinan dan perlengkapan bayi
3. Memeriksakan ibu hamil di sarana kesehatan atau bidan terdekat minimal 4 kali
4. Mempersiapkan segala kemungkinan yang dapat timbul selama kehamilan dan
persalinan (mempersiapkan donor darah, kendaraan, dsb)
5. Melaksanakan keadilan dan kesetaraan gender dalam rumah tangga
6. Memberi keluarga untuk mendapatkan pendidikan
Setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga :
1. Menghindarkan perkawinan remaja putri sebelum usia 20 tahun
2. Suami-istri merencanakan jumlah anak, waktu mengandung dengan
mempertimbangkan kesehatan istri serta memberi peluang istri untuk meningkatkan
potensinya dalam berbagai bidang kehidupan
3. Semua kehamilan merupakan kehamilan yang diinginkan
4. Memperhatikan makanan ibu hamil dan menghindarkan ibu hamil bekerja keras

Ibu hamil semakin mengenali masalah kehamilan seperti :


1. Menyiapkan biaya persalinan dan perawatan bayi
2. Melaksanakan berbagai kegiatan demi kesehatan kehamilan dan kelahirannya
3. Memberikan perawatan kepada bayi yang dilahirkan

Hambatan
Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah baik dengan GSI ataupun Safe Motherhood
telah memungkinkan ditambahnya sarana dan prasarana untuk mengajak ibu hamil dan
melahirkan makin dekat pada pelayanan medis yang bermutu.
Akan tetapi GSI juga menemui hambatan dalam pelaksanaannya, antara lain :
1. Secara Struktural
Berbagai program tersebut masih sangat birokratis sehingga orientasi yang terbentuk
semata-mata dilaksanakan karena ia adalah program wajib yang harus dilaksanakan
berdasarkan SK (Surat Keputusan).
2. Secara Kultural
Masih kuatnya anggapan/pandangan masyarakat bahwa kehamilan dan persalinan
hanyalah persoalan wanita.

MODEL ASUHAN KEBIDANAN : PRINSIP-PRINSIP SAYANG


IBU
Asuhan kebidanan merupakan metode pemberian asuhan yang berbeda dengan model
perawatan medis. Bidan-bidan diseluruh dunia sependapat bahwa prinsip-prinsip
asuhan kebidanan adalah sebagai berikut :
ak merupakan suatu proses alamiah dan fisiologis
2. Menggunakan cara-cara yang sederhana, tidak melakukan intervensi tanpa adanya
indikasi sebelum berpaling ke teknologi
3. Aman, berdasarkan fakta, dan memberi konstribusi pada keselamatan jiwa ibu
4. Terpusat pada ibu, bukan terpusat pada pemberi asuhan kesehatan/lembaga (Sayang
Ibu)
5. Menjaga privasi dan kerahasiaan ibu
6. Membantu ibu agar merasa aman, nyaman dan didukung secara emosional
7. Memastikan bahwa kaum ibu mendapatkan informasi, penjelasan dan konseling yang
cukup
8. Mendorong ibu dan keluarga agar menjadi peserta aktif dalam membuat keputusan
setelah mendapat penjelasan mengenai asuhan yang akan mereka dapatkan
9. Menghornati praktek-praktek adapt, dan keyakinan agama mereka
10. Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan social ibu/keluarganya selama
masa kelahiran anak
11. Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit

Penggunaan obat-obatan atau prosedur pengobatan selama kehamilan, persalinan, atau


postpartum secara “rutin”, dapat mengakibatkan terjadinya cedera bagi ibu dan bayinya.
Contoh-contoh semacam itu yang sudah memperlihatkan tidak adanya bukti-bukti
manfaatnya seperti episiotomi, enema dan penghisapan bagi semua bayi secara rutin.
Bidn yang sudah terampil perlu mengetahui kapan untuk tidak melakukan sesuatu
apapun. Asuhan selama masa kehamilan, kelahiran dan postpartum dan juga pengobtan
komplikasi harus didasarkan bukti-bukti ilmiah.
“JANGAN MENYAKITI” artinya bahwa intervensi tidak boleh dilakukan tanpa indikasi-
indikasi. Bidan yang sudah terampil mengetahui waktu yang tepat untuk tidak
melakukan tindakan apapun.

Kehamilan dan persalinan merupakan suatu proses normal., alamiah dan sehat. Sebagai
bidan kita harus mendukung dan melindungi proses persalinan. Sebagai bidan kita yakin
bahwa model asuhan kebidanan, mendukung dan melindungi proses persalinan normal
dan merupakan cara yang paling sesuai bagi mayoritas kaum ibu selama kehamilan dan
persalinan.

ASUHAN SAYANG IBU


Dokumen WHO/Safe Motherhood menjelaskan salah satu cara untuk memberikan
asuhan yang bersifat “Sayang Ibu”. Diseluruh dunia asuhan jenis ini kini sedang
dimasyarakatkan dan sudah terbukti efektif karena kaum ibu merasa nyaman dengan
asuhan ini dan akan terus berupaya mendapatkannya. Hal ini kebetulan pula konsisten
dengan caranya bidan-bidan memberikan jasa pelayanannya secara tradisional.

Jika layanan diberikan dengan penuh hormat dan rasa peduli yang peka sesuai
kebutuhan ibu serta memberikan rasa percaya yang besar, maka ibu akan lebih memilih
asuhan yang seperti ini dan merekomendasikan hal ini pada ibu-ibu yang lain.

Badan Coalition for Improving Maternity Services (CIMS) melahirkan Safe Motherhood
Initiative pada tahun 1987. Badan ini terdiri dari sejumlah individu dan organisasi
nasional yang misiny untuk mempromosikn kesempurnaan model asuhan persalinan
yang dapat meningkatkan hasil kelhiran serta menghemat biaya. Misi ini berdasarkan
penelitian, saying ibu, bayi dan kelurganya dan memfokuskan pada pencegahan dan
kesempurnaan sebagai alternative untuk penapisan, diagnosa dan program perawatan
yang berbiaya tinggi.
Salah satu prinsip yang mendasari pemikiran ini ialah bahwa “model asuhan kebidanan
ini, yang mendukung dan melindungi proses kelahiran normal, merupakan langkah yang
paling sesuai untuk mayoritas ibu selama masa kehamilan dan melahirkan”. Badan ini
merumuskan 10 langkah bagi rumah sakit/pusat pelayanan persalinan/rumah-rumah
biasa yang harus diikuti agar supaya bisa mendapatkan predikat “sayang ibu”.
Sebagaimana dikutip dari bahan CIMS dalam bacaan tersebut, kesepuluh langkah
tersebut ialah :
1. Menawarkan suatu askes kepada semua ibu yang sedang melahirkan untuk
mendapatkan seseorang yang akan menemani (suami,anak-anak,teman) menurut
pilihannya dan mendapatkan dukungan emosional serta fisik secara berkesinambungan.
2. Memberi informasi kepada public mengenai praktek-praktek tersebut, termasuk
intervensi-intervensi dan hasil asuhannya.
3. Memberikan asuhan yang sifatnyapeka dan responsive bertalian dengan kepercayaan,
nilai dan adat istiadat yang dianut ibu.
4. Memberi kebebasan bagi ibu yang akan melahirkan untuk berjalan-jalan, bergerak
kemanapun ia suka dan mengambil posisi pilihannya serta menasehati agar tidak
mengambil posisi lithotomi (kecuali jika komplikasi yang dialami mengharuskan
demikian).
5. Merumuskan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk pemberian asuhan yang
berkesinambungan (yakni, berkomunikasi dengan pemberi asuhan sebelumnya rujukan
sudah terjadi, dan menghubungkan ibu dengan narasumber masyarakat yang mungkin
ia perlukan, misalnya konseling pemberian ASI/keluarga berencana.
6. Tidak rutin menggunakan praktek-praktek dan prosedur yang tidak didukung oleh
penelitian ilmiah tentang manfaatnya, termasuk dan tidak terbatas pada :
 Pencukuran
 Enema
 IV (Intravena)
 Menunda kebutuhan gizi
 Merobek selaput ketuban secara dini
 Pemantauan janin secara elektronik
Dan juga agar membatasi penggunaan oxytocin, episiotomi dan bedah Caesar dengan
menetapkan tujuan dan mengembangkan cara mencapai tujuan tersebut.
7. Mengajarkan petugas pemberi asuhan dalam metoda meringankan rasa
nyeri tanpa penggunaan obat-obatan.
8. mendorong semua ibu (dan keluarganya), termasuk mereka yang bayinya
sakit dan kurang bulan, agar mengelus, mendekap, memberi ASI dan mengasuh
bayinya sendiri sedapat mungkin.
9. Menganjurkan agar jangan menyunat bayi baru lahir jika bukan karena
kewajiban agama.
10. Berupaya untuk mencapai ketentuan WHO-UNICEF mengeni “Sepuluh
Langkah Sayang Bayi Prakarsa RS” untuk mempromosikan pemberia ASI yang
baik.

CIMS menyatakan bahwa lndasan filosofis dari suhan saying ibu adalah sebagai berikut :
1. Kelahiran adalah suatu proses alamiah
Kelahiran adalah suatu proses normal, alamiah dan sehat. Sebagai bidan, kita harus
mendukung dan melindungi proses kelahiran tersebut. Sebgai bidn kita percaya bahwa
model asuhan kebidanan yang mendukung dan melindungi proses normal dari
kelahiran, adalah yang paling sesuai bagi sebagian besar wanita selama masa kehamilan
dan kelahiran.
2. Pemberdayaan
Ibu-ibu beserta keluarganya memiliki kearifan dan lebih memahami apa yang mereka
perlukan untuk bisa melahirkan. Keyakinan dan kemampuan seorang wanita untuk
melahirkan dan mengasuh bayinya akan diperkuat atau diperlemah oleh setiap orang
yang turut memberi asuhan, serta oleh lingkungan dimana ia melahirkan.
Jika kita bersifat negative dan megeritik, hal itu akan dapat mempengaruhi sorang ibu.
Bahkan dapat juga mempengaruhi lamanya proses persalinan tersebut. Sebagai bidan
kita harus mendukung wanita yang sedang melahirkan dan bukan untuk mengendalikan
proses kelahiran tersebut. Kita harus menghormati bahwa ibu tersebut merupakan actor
utama dan bahwa si pemberi asuhan merupakan actor pendukung Selma proses
persalinan tersebut.
3. Otonomi
Ibu beserta keluarganya memerlukan informasi agar supya mereka bisa membuat
keputusan yang sesuai dengan keinginannnya. Kita harus mengetahui dan menjelaskan
informsi secara benar tentang resiko dan keuntungan dari semua prosedur, obat-obtan,
dan tes. Kita juga harus mendukung ibu untuk membuat keputusan sesuai pilihannya
sendiri mengenai apa yang terbaik baginya dan bayinya berdasarkan nilai-nilai dan
kepercayaan yang dianutnya (termasuk kepercayaan adat dan agamanya.
4. Jangan Menimbulkan Penderitaan
Intervensi sebaiknya tidak dilakukan sebagai sesuatu yang rutin, kecuali ada indikasi
kearah itu. Pengobatan dalam kehamilan, melahirkan atau pada masa postpartum
dengan pengujian dan obat-obatan serta prosedur secara rutin dapat menimbulkan
resiko, baikbagi ibu mupn bayinya. Contoh-contoh dari prosedur semacam itu yng sudah
terbukti tidak ada mnfaat nyata adalah meliputi episiotomi rutin bagi para primipara,
enema, dan penghisapan lender bagi semua bayi baru lahir. Bidan yang terampil perlu
memahami kapan untuk tidak melakukan apapun. Asuhan selama kehamilan,
melahirkan dan masa postpartum, dan juga pengobatan untukkomplikasi harus didasari
bukti ilmiah.

5. Tanggung Jawab
Setiap pemberi asuhan bertabggung jawab atas kualitas yang diberikannya. Praktek
suhan persalinan seharusnya tidak didasari pada kebutuhan si pemberi asuhan tetapi
semata-mata untuk kebutuhan ibu dan bayi. Asuhan berkualitas tinggi yang berfokus
pada klien, dan bersifat saying ibu yang berdasarkan pada penelitian ilmiah merupakan
tanggung jawb dari setiap bidan.