Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

POLA ISTIRAHAT DAN TIDUR


Page
|1
A. Konsep Dasar
1. Defenisi
Istirahat adalah suatu periode tidak dapat berupa istirahat untuk seluruh tubuh atau untuk
sebagian saja. Istirahat memberikan kesempatan pada tubuh untuk memperbaiki sel tubuh yang
rusak, membuat dan mengembalikan fungsi jaringan. Idealnya istirahat dapat digantikan dengan
aktivitas yang memungkinkan tubuh pulih kembali secara sempurna dari suatu aktivitas sebelum
aktivitas yang lain dimulai, penggantian ini lebih baik dilakukan secara terjadwal, aktivitas yang
berat hendaknya diikutiti oleh istirahat yang panjang. Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa
sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang
dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwoto, 2006).
Istirahat merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari
kegelisahan (ansietas). (Narrow, 1967 : 1645 ) mengemukakan 6 (enam) ciri-ciri yang dialami
seseorang berkaitan dengan istirahat.
Sebagian besar orang dapat istirahat sewaktu mereka :
a. Merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi
b. Merasa diterima
c. Mengetahui apa yang sedang terjadi
d. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan
e. Mempunyai rencana-rencana kegiatan yang memuaskan
f. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan
Sedangkan pengertian tidur antara lain :
a. Tidur berasal dari kata bahasa latin “somnus” yang berarti alami periode pemulihan,
keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran.
b. Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secra normal dan periodik
(Lanywati,2001).
c. Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami seseorang, yang dapat
dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton 1981 : 679)
Kebutuhan tidur menurut usia :
Umur Kebutuhan tidur Page
0-1 Bulan 14-18 jam/hari |2

1-18 bulan 12-14 jam/hari


18 bulan-3 tahun 11-12 jam/hari
3-6 tahun 11 jam/hari
6-12 tahun 10 jam/hari
12-18 tahun 8,5 jam/hari
18-40 tahun 7-8 jam/hari
40-60 tahun 7 jam/hari
60 tahun ke atas 6 jam/hari
(A.Aziz Azimul, 2009)

Selain faktor usia lain yang mempengaruhi kebutuhan tidur adalah latihan dan tingkat
kelelahan, konsumsi obat, motivasi, kebiasaan dan lingkungan, status kesehatan, dan Psikis
seseorang.

2. Fungsi dan tujuan


Tidur mengurangi stress, cemas dan membantu seseorang memperoleh energy untuk
konsentrasi, pertahanan dan memelihara aktivitas sehari-hari, tidur tidak memerlukan pergantian
energi yang hilang dalam sehari, kecuali itu suatu penyakit, maka bangunnya relatif lama dan
tidurnya tetap konstan.
Sedangkan Fungsi atau tujuan istirahat adalah:
- Mempercepat relaksasi otot dan mengurangi ketegangan otot sendi
- Memberi kesempatan pada tubuh untuk membentuk kekuatan baru
- Menambah kesegaran dan kekuatan untuk melakukan pekerjaan
- Melepas rasa lelah
3. Jenis Tidur
Ada dua jenis tidur, yaitu :
Tidur REM (Rapid Eye Movement Sleep) Walupun kadang tidur REM berhubungan dengan
tahap I, tidur REM memiliki ciri-ciri sendiri.
a. Karakteristik tidur REM
- Kedua bola mata bergerak cepat kebelakang horisontal
- Kadang-kadang timbul twitching (kedutan) pada telinga atau pada tubuh
- Tonus otot menurun
- Dennyut nadi dan frekuensi nafas tidak teratur
Page
- Pergerakan otot tidak teratur
|3
- Sleeper lebih sulit bangun dari pada selama tidur REM
Tidur REM bermanfaat sebagai pereda stress dan segala waktu bangun. Tidur NON REM
(Non Rapid Eye Movement Sleep) yaitu tidur dalam dan istirahatnya penuh atau disebut juga
slow wave sleep atau gelombang otaknya lebih lambat.
b. Karakteristik tidur NON REM
- Dreamless
- Betul-betul istirahat penuh
- Tekanan darah menurun
- Frekuensi pernafasan menurun
- Metabolisme rate menurun
- Pergerakan bola mata melambat

4. Tahap Tidur
Tahap-tahap tidur :
Tahap I : - Tahap meliputi tingkat paling dangkal dari tidur tahap berakhir beberapa menit
pengurangan aktivitas fisiologi dimulai dengan penurunan secara bertahap tanda-tanda vital dan
metabolis. Ketika terbangun seseorang dengan mudah terbangun oleh stimulus sensori seperti
suara. Ketika terbangun, seseorang merasa seperti telah melamun.
Tahap II : Merupakan periode tidur bersuara kemajuan relaksasi untuk terbangun masih relatif
mudah, kelanjutan fungsi tubuh menjadi lamban.
Tahap III : Tahap awal dari tidur yang dalam orang yang tidur sulit dibangunkan dan jarang
bergerak otot-otot dalam keadaan santai penuh tanda-tanda vital menurun tetapi tetap teratur,
tahap terakhir 15 hingga 30 menit.
Tahap IV : Tahap tidur terdalam sangat sulit untuk membangunkan orang yang tidur jika terjadi
kurang tidur, maka orang yang tidur akan menghabiskan porsi malam yang seimbang pada tahap
ini. Tanda-tanda vital menurun secara bermakna dibandingkan selama jam terjaga, tahap
berakhir kurang lebih 15 hingga 30 menit tidur sambil berjalan dan anuresis dapat terjadi.
Tahap V : Mimpi yang penuh warna dan tampak hidup dapat terjadi, mimpi yang kurang hidup
dapat terjadi pada tahap yang lain. Tahap ini biasanya dimulai sekitar 90 menit setelah mulai
tidur hal ini dicirikan dengan respon otonom dari pergerakan mata yang cepat, fluktuasi jantung
dan kecepatan respirasi dan peningkatan tekanan darah. Terjadi tonus otot skelet penurunan
peningkatan sekresi lambung sangat sekali membangunkan orang yang tertidur, durasi dari tidur
meningkat pada tiap siklus dan rat-rata 20 menit.
Page
5. Etiologi |4
a. Rasa nyeri
b. Psikologis
c. Suhu tubuh
d. Rasa bosan
e. Pola aktivitas siang hari
f. Keletihan
g. Kekuatan
h. Depresi
i. Kursngnya privasi
j. Gejala emosi
k. Kondisi yang tidak menunjang tidur
l. Rasa khawatir (kecemasan ) atau tertekan jiwanya.
6. Manfestasi klinik
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu
makan turun, lidah pucat, lelah, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur,
mulut pahit, mata merah dan gelisah.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Fisik
b. Pemeriksaan Khusus
 ENG
 Audiometri dan BAEP
 Psikiatrik
c. Pemeriksaan Tambahan
 Laboratorium
 Radiologik
 EEG, EMG, dan EKG
8. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Kausal
Terapi kausal bertujuan memperbaiki ketidakseimbangan vestibuler melalui modulasi
Page
transmisi saraf, umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. Terapi ini disesuaikan
|5
dengan faktor penyebabnya, sedangkan sebagian besar kasus vertigo tidak dapat diketahui
penyebabnya, sehingga terapi biasanya bersifat simtomatik.
b. Terapi Simtomatik
Ditujukan pada 2 gejala utama yaitu rasa berputar dan gejala otonan. Pemilihan obat-obat
anti vertigo tergantung pada efek obat bersangkutan berat ringan vertigo dan fasenya. Misalnya
pada fase akut dapat diberikan obat penenang untuk menghilangkan rasa cemas.
c. Terapi Rehabilitasi
Bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kompensasi sentral dan habituasi
pada pasien dengan gangguan vestibuler. Beberapa bentuk latihan yang dapat dilakukan yaitu
latihan vestibuler, latihan visual vestibuler atau latihan berjalan.
9. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
a. Umur
Semakin bertambah umur manusia semakin berkurang total waktu kebutuhan tidur. Hal ini
dipengaruhi oleh pertumbuhan dan fisiologi dari sel-sel dan organ.
b. Penyakit
Hal ini umunya terjadi pada klien dengan nyeri, kecemasan, dispnea. Pada kasus penyakit
akibat gigitan nyamuk tse-tse. Juga pada kasus tertentu dengan klien gangguan hipertiroid.
c. Motivasi
Niat seseorang untuk tidur mempengaruhi kualitas tidur seperti menonton, main game atau
hal-hal lain yang dapat menyebabkan penundaan waktu anda untuk tidur.
d. Emosi
Suasana hati, marah, cemas dan stress dapat menyebabkan seseorang tidak bisa tidur atau
mempertahankan tidur.
e. Lingkungan
Lingkungan yang tidak kondusif seperti di dekat bandara atau di tepi jalan-jalan umum yang
menimbulkan kebisingan.
f. Obat-obatan
Penggunaan atau ketergantungan pada penggunaan obat-obat tertentu seperti golongan
sedative, hipnotik dan steroid.
g. Makanan dan minuman
Pola dan konsumsi makanan yang mengandung merica, gas/air yang banyak, pola dan
konsumsi minuman yang mengandung kafein, gas dll.
h. Aktivitas
Page
Kurang beraktivitas atau melakukan aktivitas yang berlebihan justru akan menyebabkan
|6
kesulitan untuk memulai tidur.
B. Patofisiologi
Pengontrolan siklus yang dialami selama tidur berpusat pada kedua tempat khusus dibatang otak
yaitu Reticuralis Aciviting System (RAS) dan Bulbar Synchoniting Region BSR di medulla. Dua
system RAS dan BSR diperkirakan terjadinya kegiatan/pergerakan yang intermiten dan selanjutnya
menekan pusat-pusat otak. Rasdihubungkan dengan pernyataan tubuh tentang kewaspadaan dan
menerima inpulssensori,seperti stimulus auditory,visual, nyeri dan stimulus taktil. Stimulus sensori
ini mempertahankan keadaan bangun dan waspada. Selama tidur tubuh mengirim sedikit sekali
stimulus dari korteks ceribri. Atau reseptor sensori perifer pada RAS. Individu bangun dari tidur jika
celah peningkatan dari stimulus BSR meningkat pada saat tidur. Terjadinya insomnia RAS dan BSR
tidak bekerja dengan semestinya dibatang otak (Jhonson,2000).
a. sesak nafas Ativasi RAS (Reticularis Activing System) berebihan.
RAS diyakini mengandung sel-sel khusus yang mempertahankan keadaan siaga dan
terjaga. RAS menerima input rangsangan sensori visual, auditori dan nyeri serta
rangsangan raba.
Page
b. Tidur tidak nyenyak.
|7
Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering di temukan pada
penderita yang berkunjung ke praktik. Ganggauan tidur dapat diaalami oleh semua
lapisan masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi, dan rendah maupun
orang muda, serta yang paling sering ditemukan pada usia lanjut (Japardi, 2002).
c. Gangguan istirahat dan tidur
Gangguan tidur adalah kelainan yang bisa menyebabkan masalah pada pola tidur,
baik karena tidak bisa tertidur, sering terbangun pada malam hari, atau
ketidakmampuan untuk kembali tidur setelah terbangun. Beberapa dampak yang
diakibatkan oleh gangguan tidur kelelahan, merasa lemas dan mengantuk, mudah
marah, sulit untuk konsentrasi disiang hari.
C. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan terhadap masalah pola istirahat dan tidur.
1. Riwayat Keperawatan
Meliputi informasi atau keterangan tentang pola istirahat dan tidur.
a. Kebiasaan pola tidur bangun, apakah ada perubahan pada: waktu tidur, jumlah jam
tidur,kualitas tidur, apakah mengalami kesulitan tidur, sering bangun pada saat tidur,
apakah mengalami mimpi yang mengancam.
b. Dampak pola tidur terhadap fungsi sehari-hari: apakah merasa segar saat bangun, apa
yang terjadi jika kurang tidur.
c. Adakah alat bantu tidur: apa yang anda lakukan sebelum tidur, apakah menggunakan
obat-obatan untuk tidur.
d. Gangguan tidur atau faktor-faktor kontribusi: jenis gangguan tidur, kapan masalah itu
terjadi.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan masalah pola istirahat dan tidur adalah :
a. Ganguaan pola tidur berhubungan dengan kerusakan transfer oksigen,gangguan
metabolisme,kerusakan eliminasi,pengaruh obat,imobilisasi,nyeri pada kaki,takut
ooperasi,lingkungan yang menunggu.
b. Cemasnya berhungan dengan ketidak mampuan untuk tidur,hentinya nafas saat tidur,(sleep
Page
apne) dan ketidak mampuan mengawasi perilaku.
|8
c. Gangguan pertukaran gas berngubungan henti nafas saat tidur. Potensial cidera
berhungan dengan somnambulisme.
d. Gangguan konsep diri berhungan dengan penyimpangan tidur hipersomnia.
3. Perencanaan keperawatan
a. Rencana tujuan
b. Rencana tindakan
1. Meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan fleksibilitas
2. Memperbaiki fungsi integumen
3. Meningkatkan fungsi kardiovaskuler
4. Meningkatkan fungsi respirasi

Rencana tindakan:

a. Pengaturan posisi tubuh sesuai kebutuhan pasien


Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas, digunakan untuk
meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut yaitu:
1. Posisi powler

Merupakan posisi dengan tubuh setengah duduk atau duduk yang biasa digunakan untuk
memfasilitas fungsi pernafasan.

2. Posisi sim

Merupakan posisi pasien berbaring kekiri atau ke kanan. Biasanya pasien lebih nyaman tidur
dengan miring ke kanan atau ke kiri.

3. Posisi trendelenburg

Merupakan posisi pasien tidur dengan bagian kepala lebih rendah dari bagian kaki. Posisi
ini bertujuan untuk melancarkan peredaran darah ke otak.

4. Posisi dorsal recumbent

Merupakan posisi dimana pasien diterlentang dengan kedua lutut fleksi diatas tempat tidur.
5. Posisi lithotomi

Merupakan posisi dimana pasien ditepatkan terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan
ditarik ke atas abdome.

6. Posisi genu pectoral (knee chest) Page


|9
Merupakan posisi pasien menungging dengan ke dua kaki di tekuk dan dada menempel pada
bagian alas tempat tidur.

b. Ambulasi dini

Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot serta
meningkatkan fungsi kardiovaskula. Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara melatih posisi
duduk ditempat tidur, bergerak ke kursi roda, dan lain-lain.
a. Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dilakukan untuk melatih kekuatan,
ketahanan, kemampuan sendi agar mudah bergerak, serta meningkatkan fungsi
kardiovaskular.
b. Latihan isotonik dan isometrik latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih kekuatan dan
ketahanan otot dengan cara mengangkat beban ringan, lalu beban yang bera. Latihan isotonik
(dynamic exercise) dapat dilakukan dengan rentang gerak (ROM) secara aktif, sedangkan
latihan isometrik (static exercise) dapat di lakukan dengan meningkatkan curah jantung dan
denyut nadi.
c. Latihan ROM pasif dan aktiv latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan tindakan
pelatihan untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan otot.

D. Tindakan Keperawatan

Tujuan tindakan :

Memperthankan kebutuhan istirahat dan tidur dalam bats normal.

Lakukan identifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur

a. Lakukan pengurangan distraksi lingkungan dan hal yang dapat menggangu tidur
b. Tingkatkan aktivitas pada siang hari
c. Coba memicu tidur
d. Kurangi potensial cedera selama tidur
e. Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan di perlukan.
E. Evaluasi Keperawatan

Gangguan pola istirahat dan tidur klien efektif dengan kriteria hasil:

a. Perasaan segar sesudah tidur atau istirahat


b. Pola tidur, kualitas dalam batas normal Page
| 10
c. Jumlah jam tidur dalam normal 6-8 jam/hari
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (2008). Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta. Penerbit buku kedokteran : EGC

Potter, Patricia A, Anne geryfin Perry. 2007. Fundamental keperawatan volume 1 dan 2. Jakarta :
Penerbit buku kedokteran EGC. Page
| 11
Alimul H. A. Aziz (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia aplikasi konsep dan proses keperawatn.
Jakarta : Salemba Medik.

Potter, P.A dan Perry, A. G. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik,
vol, 2, E/4. Jakarta : EGC

Mahasiswa

(Sriyani)

Pembimbing Lahan CI/Karu Pembimbing Akademik

(Ady Fraditha,S.Kep,Ns) ( Lelly Oktarina,SST)