Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Organisasi WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa ASI eksklusif


adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tampa tambahan cairan
ataupun makanan lain. ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Pemberian
ASI eksklusif selama 6 bulan dianjurkan oleh pedoman internasional didasarkan pada
bukti ilmiah tentang manfaat ASI baik bagi bayi, ibu, keluarga maupun Negara. ASI
eksklusif dianjurkan pada beberapa bulan pertama kehidupan karena ASI tidak
terkontaminasi dan mengandung banyak nilai gizi yang diperlukan anak pada umur
tersebut (Menkes, 2014).

Menurut Varney, Krieb dan Gegor (2012) menyusui adalah cara paling optimal dalam
memberikan nutrisi dan mengasuh bayi. ASI yang diberikan pada bayi terutama pada
minggu-minggu pertama akan memberikan pengaruh pada peningkatan atau justru
penurunan BB bayi. Menurut Coper, sebagian besar bayi mengalami penurunan BB
selama minggu pertama setelah kelahiran, penurunan berat badan sebesar 10%
dinyatakan sebagai batas atas normal, namun jika bayi mengalami kesulitan dalam
kenaikan berat badan, ibu perlu mengetahui cara menyusui secara efektif dengan
menggunakan teknik pemerasan susu, baik dengan tangan ataupun pompa payudara
untuk menjamin proses laktasi serta kecukupan ASI bagi bayi.

Pemerasan susu dengan tangan dapat dilakukan secara rutin sebagai penatalaksanaan
rutin laktasi yang normal, tampa membatasan frekuensi atau jangka waktu
pemeberian ASI pada bayi, volume susu akan sejalan dengan kebutuhan bayi (Fraser,
and Cooper, 2013). Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan
produksi ASI ibu dan berpengaruh pada peningkatan BB bayi selama minggu-minggu
pertama kehidupan serta memenuhi kebutuhan bayi adalah teknik marmet.

1
Teknik marmet merupakan teknik pijat payudara menggunakan tangan, selama
bertahun lamanya para ibu telah menggunakan teknik dokter marmet yang
mengutamakan let-down reflex untuk memeras ASI. Banyak pula ibu menyusui
mengatakan bahwa dengan teknik tersebut, produksi ASI dapat meningkat. Ibu
menyusui yang sebelumnya memerah ASI atau belum pernah memerah ASI akan
mendapatkan hasil yang sempurna dengan teknik ini (Sulistyawati, 2009).

Menurut Nurdiansyah (2011) teknik marmet merupakan salah satu cara yang aman
yang dapat dilakukan untuk merangsang payudara untuk memproduksi lebih banyak
ASI. Menurut Roesli (2012) teknik marmet merupakan suatu metode memijat dan
menstimulasi agar ASI keluar secara optimal. Dengan teknik marmet yang mampu
menstimulasi keluarnya ASI serta memproduksi ASI lebih banyak, maka kebutuhan
ASI bayi terutama untuk BB dapat meningkat dan terpenuhi.

Jumlah ASI yang cukup untuk bayi dapat memberikan dampak yang baik untuk
pertumbuhan dan perkembangannya terutama dibulan-bulan awal kehidupan. Dengan
menerapkan teknik marmet untuk menstimulasi banyaknya ASI yang keluar,
diharapkan ASI yang dibutuhkan bayi cukup untuk meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangannya. Pemenuhan kecukupan ASI dapat membantu bayi memulai
kehidupannya dengan baik (Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas, 2012).
Kenaikan BB bayi merupakan indikator yang baik untuk menilai status kesehatan dan
gizi bayi, sekaligus acuan menilai kelancaran ASI yang dikeluarkan ibu untuk
memenuhi kebutuhan bayinya, dengan menerapkan teknik marmet diharapkan akan
ada pengaruh terhadap kelancaran ASI serta terpenuhinya kebutuhan ASI bayi guna
peningkatan BB bayi diminggu-minggu pertama. ASI yang cukup akan membuat
terpenuhinya semua kebutuhan nutrisi untuk bayi (Klien, dan Thonson, 2010).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widiastuti, Afifah dan Rahmawati


dengan judul Pengaruh Teknik Marmet dengan Massase Payudara pada Ibu Nifas tiga

2
hari terhadap kelancaran ASI dan kenaikan BB bayi dapat mempengaruhi kelancaran
ASI, dan peningkatan BB bayi. Alasan tersebut membuat perawat ingin menerapkan
teknik marmet pada ibu postpartum untuk meningkatkan jumlah ASI dan peningkatan
BB bayi, sehingga dapat meningkatkan jumlah ASI bagi bayi dan memperlancar ASI
yang keluar.

1.2 Batasan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disimpulkan bahwa masalah pada penerapan
intervensi ini dibatasi pada penerapan teknik marmet pada ibu postpartum hari ke tiga
terhadap peningkatan BB bayi di BPM Nur Akhsanah.

1.3 Rumusan Masalah


Bagaimanakah pengaruh penerapan teknik marmet terhadap peningkatan BB bayi
sebelum dan sesudah diberikan intervensi.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
1.4.1.1 Mengetahui efektifitas penerapan teknik marmet pada ibu post
partum terhadap peningkatan BB bayi.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Mengidentifikasi adanya peningkatan BB bayi sebelum
diterapkan teknik marmet pada ibu postpartum.
1.4.2.2 Mengidentifikasi adanya peningkatan BB bayi setelah
diterapkan teknik marmet pada ibu post partum.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
informasi peneliti mengenai konsep penerapan teknik marmet untuk
meningkatkan BB bayi.

3
1.5.2 Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan
kepustakaan dan sebagai pertimbagan penelitian sejenis.
1.5.3 Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan
masukan dalam menentukan kebijakan pelayanan kesehatan
khususnya peyanan keperawatan maternitas.
1.5.4 Bagi Praktik Keperawatan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi
dan masukan bagi perawat dalam penerapan teknik marmet pada ibu
postpartum untuk meningkatkan BB bayi.
1.5.5 Bagi masyarakat
Memberi informasi atau pengetahuan kepada masyarakat tentang
pentingnya pemberian ASI bagi bayi dengan teknik marmet untuk
meningkatkan BB bayi.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan teori

2.1.1 Konsep Nifas


Masa nifas (puerperium) berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya
bayi dan parous yang artinya melahirkan atau berarti masa setelah
melahirkan. Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir
dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Masa nifas berlangsung selama kira – kira 6 minggu. 3

Menurut Marmi (2012), postpartum adalah masa beberapa jam sesudah


lahirnya plasenta sampai minggu keenam setelah melahirkan. Masa post
partum dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali pada masa sebelum hamil yang berlangsung kira-kira
enam minggu.Pendapat lain mengatakan postpartum adalah masa setelah
kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran
reproduksi kembali kekeadaan yang normal pada saat sebelum hamil.

Jadi yang dimaksud dengan postpartum adalah masa setelah kelahiran bayi
dan masa bagi ibu untuk memulihkan kondisi fisiknya meliputi alat-alat
kandungan dan saluran reproduksi kembali pada keadaan sebelum hamil
yang berlangsung selama enam minggu.
Secara garis besar terdapat tiga proses penting di masa nifas, yaitu sebagai
berikut
1) Pengecilan rahim atau involusi

2) Kekentalan darah (hemokonsentrasi) kembali normal

3) Proses laktasi atau menyusui

5
Masa nifas dibagi menjadi 3 tahapan yaitu :

1) Peurperium dini (immediate puerperium) : waktu 0-24 jam post


partum, yaitu masa kepulihan dimana dimana ibu diperbolehkan
untuk berdiri dan berjalan-jalan.
2) Puerperium intermedial (early puerperium) : wakti 1-7 hari post
partum, yaitu masa kepulihan mnyeluruh dari organ-organ
reproduksi selama kurang lebih 6-8 minggu.
3) Remote puerperium (later puerperium) : 1-6 minggu post partum.
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam
keadaan sempurna terutama ibu apabila ibu selama hamil atau waktu
persalinan mengalami komplikasi.

Perubahan Fisiologis masa Post Partum

Perubahan sistem reproduksi masa nifas meliputi sebagai berikut :

1) Involusi uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses
kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil.
2) Tempat plasenta
Segera setelah plasenta atau ketuban dikeluarkan, kontriksi vascular
dan thrombosis merurunkan tempat plasenta kesuatu area yang
meninggi dan bernodul tidak teratur.
3) Serviks (mulut rahim)
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. 18 jam setelah
pascapartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi padat dan
kembali ke bentuk semula.
4) Lochea
Pada awal masa nifas, peluruhan jaringan desidua menyebabkan
keluarnya discharge vagina dalam jumlah bervariasi. Secara
mikroskopis, lochea terdiri atas eritrosit, serpihan desidua, sel-sel

6
epitel dan bakteri. Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan waktu
dan warnanya, diantaranya :
a. Lochea rubra atau merah (kruenta)
Lochea rubra mengandung darah dan debris desidua serta debris
trofoblastik. Aliran menyambur, menjadi merah muda atau coklat
setelah 3-4 hari.
b. Lochea serosa
Lochea serosa ini muncul sekitar 10 harisetelah bayi lahir.
Mengandung darah lama (old blood), serum, leukosit, dan debris
jaringan. Warna cairan ini menjadi kuning sampai putih.
c. Lochea alba
Lochea alba muncul setelah 10 hari masa nifas / post partum .
akibat campuran leukosit dan berkurangnya kandungan cairan,
lokia menjdai warna putih atau putih kekuningan.

2.1.2 Masa laktasi


Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi
sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Masa laktasi
mempunyai tujuan meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan
meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan
benar serta anak mendapatkan kekebalan tubuh secara alami
(Ambarwati, 2010).

Fisiologi laktasi
Setelah persalinan, plasenta terlepas. Dengan terlepasnya plasenta, maka
produksi hormon esterogen dan progesterone berkurang. Pada hari
kedua atau ketiga setelah persalinan, kadar esterogen dan progesterone
menurun drastis sedangkan kadar prolaktin tetap tinggi sehingga mulai
terjadi sekresi ASI. Saat bayi mulai menyusu, rangsangan isapan bayi

7
pada putting susu menyebabkan prolaktin dikeluarkan dari hipofise
sehingga sekresi ASI semakin lancar.
Reflek menyusu pada ibu
Menurt Bobak, Lowdermild dan Jensen (2005), reflek yang terjadi
sewaktu menyusui adalah :
1. Reflek prolaktin
Rangsangan dan isapan bayi dimulai dari serabut syaraf yang
memicu kelenjar hipofise bagian depan untuk mengeluarkan hormon
prolaktin ke dalam peredaran darah yang menyebabkan sel kelenjar
hipofise mengeluarkan ASI, makin banyak hisapan yang dilakukan
bayi maka makin banyak pula produksi ASI yang keluar, begitu pula
sebaliknya.
2. Reflek aliran (let down reflex)
Rangsangan putting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kelenjar
hifofisis depan tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang
mengeluarkan hormone oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu
kontraksi otot polos yang ada di dindng alveolus dan dinding saluran,
sehingga ASI dipompa keluar. makin sering menyusui, pengosongan
alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya
bendungan ASI makin kecil, dan menyusui makin lancar. Saluran ASI
yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu proses menyusui
tetapi juga mudah terkena infeksi.

8
Gambar 2.1. Reflek prolaktin
Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi,
mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk
menyusui bayi. Faktor-faktor yang menghambat reflek let down
adalah stress, seperti: keadaan bingung/ pikiran kacau, takut dan
cemas.

Refleks hisapan pada bayi


Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi adalah refleks
menangkap (rooting refleks), refleks menghisap, refleks menelan.
1. Refleks Menangkap (Rooting Refleks)
Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan
menoleh ke arah sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla
mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha
menangkap puting susu.

9
2. Refleks Menghisap (Sucking Refleks)
Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh
puting. Agar puting mencapai palatum, maka sebagian besar
areola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan demikian sinus
laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi,
lidah dan palatum sehingga ASI keluar.
3. Refleks Menelan (Swallowing Refleks)
Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia
akan menelannya.
Dalam memenuhi kebutuhan ASI untuk bayi selama 6 bulan
pertamanya, seorang ibu perlu mengetahui banyak hal tentang manfaat
dari kandungan ASI serta mengenai cara pemberian ASI mulai dari cara
menyusui yang benar, cara memegang, dan cara perawatan payudara,
sampai dengan cara memerah ASI yang efektif.

2.1.3 Pemberian Makanan Bergizi Untuk Bayi.


Seorang bayi selama dalam kandungan telah mengalami proses
tumbuh kembang sedemikian rupa, sehingga saat bayi lahir dapat BB
nya telah mencapai BB normal. Proses tumbuh kembang bayi akan
terus berlanjut hingga dewasa, proses ini sangat dipengaruhi oleh
makanan yang diberikan pada anak. Pada bayi makanan terbaik yang
bisa diberikan adalah ASI terutama di enam bulan pertama
kehidupannya. Penelitian telah banyak dilakukan diseluruh dunia yang
menjelaskan mengenai manfaat ASI dibanding makanan tambahan lain
diantaranya :
2.1.2.1 ASI mengandung hampir semua zat gizi yang dibutuhkan oleh
bayi dengan konsentrasi yang sesuai dengan kebutuhan bayi,
2.1.2.2 ASI mengandung kadar laktosa yang lebih tinggi, dimana
laktosa ini dalam usus akan mengalami peragian hingga
membentuk asam laktat yang bermanfaat dalam usus bayi :

10
 Menghambat pertumbuhan bakteri pathologis
 Merangsang pertumbuhan mikroorganik yang dapat
menghasilkan berbagai asam organik dan mensintesa
berbagai jenis vitamin dalam usus.
 Memudahkan pengendapat kalsium casenat (protein susu).
 Memudahkan berbagai jenis penyerapan mineral.
2.1.2.1 ASI mengandung berbagai antibody yang dapat melindungi
bayi dari berbagai penyakit infeksi.
2.1.2.2 ASI lebih aman dari kontaminasi, karena diberikan langsung,
sehingga kecil kemungkinan tercemar bahaya.
2.1.2.3 Risiko alergi pada bayi kecil sekali karena tidak mengandung
beta laktoglobulin.
2.1.2.4 ASI dapat dijadikan sebagai perantara untuk menjalin
hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi.
2.1.2.5 Temperature ASI sama dengan temperature tubuh bayi.
2.1.2.6 ASI membantu pertumbuhan gigi lebih baik.
2.1.2.7 Kemungkinan bayi tersedak saat menetek sangat kecil.
2.1.2.8 ASI mengandung laktoferin untuk mengikat zat besi
2.1.2.9 ASI lebih ekonomis, tersedia setiap waktu pada suhu yang
ideal dan dalam keadaan segar
2.1.2.10 Dengan memberikan ASI kepada bayi, akan membantu
memberikan jarak kelahiran atau KB alami.

2.1.4 Manfaat pemberian ASI


 Bagi bayi
Penting bagi bayi untuk segera minum ASI dalam jam pertama
sesudah lahir, kemudian di 2-3 jam selanjutnya, karena ASI
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan bayi, ASI juga mudah
dicerna serta mengan sumber antibody yang kuat untuk mencegah
infeksi dan membuat bayi menjadi kuat.

11
 Bagi ibu
Manfaat ASI adalah untuk membantu memulihkan diri seorang ibu
dari proses persalinan, pemberian ASI pada bayi membuat rahim
berkontraksi dengan cepat dan memperlambat perdarahan.
 Ibu yang menyusui bayinya akan cepat pulih.
 Pemberian ASI pada bayi adalah cara terbaik untuk mencurahkan
kasih sayangnya kepada buah hatinya.

2.1.5 Tanda Bayi Cukup ASI


 Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam sehari dan warnanya jernih
sampai kuning muda.
 Bayi sering buang air besar warna kekuningan “berbiji”
 Bayi tampak puas, sewaktu – waktu merasa lapar, bangun dan
tidur cukup. Bayi setidaknya menyusu 10 – 12 kali dalam 24 jam.
 Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai
menyusui.
 Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI, setiap kali bayinya
menghisap.
 Bayi bertambah berat badannya.

ASI eksklusif diberikan pada bayi tampa tambahan makanan dan


minuman pendamping, yang diberikan kepada bayi sampai dengan
usianya 6 bulan, komposisi ASI sampai dengan 6 bulan sudah cukup
untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi, meskipun tampa tambahan
makanan atau minuman pendamping, kebutuhan bayi perlu dipenuhi
secara optimal, ibu perlu menerapkan banyak cara untuk
memperbanyak jumlah ASI yg di perlukan, salah satunya dengan
mempelajari teknik memerah asi menggunakan tangan “teknik
marmet” yang dapat memberikan manfaat untuk memperbanyak ASI

12
dan aka berefek dengan peningkatan BB bayi yang merupakan salah
satu indicator/tanda bayi cukup ASI.

2.1.6 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi ASI


Menurut Biancuzzo (2003) faktor – faktor yang mempengaruhi
produksi ASI terdiri dari faktor tidak langsung dan langsung :
2.1.6.1 Faktor tidak langsung terdiri dari :
a. Pembatasan waktu ibu
 Jadwal waktu menyusui
Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang
baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada
rangsangan produksi ASI selanjutnya. Jadwal
menyusui yang ketat akan membuat bayi frustasi
(Suradi & Tobing, 2004).
 Ibu bekerja
Ibu yang bekerja merupakan salah satu yang
menghambat pemberian ASI eksklusif. Produksi ASI
ibu yang bekerja akan berkurang, hal ini antara lain
karena tampa disadari ibu mengalami stress akibat
berada jauh dari sang buah hati (Poedianto, 2002).
b. Faktor social budaya
Adanya budaya yang terdapat ditengah masyarakat
tentang menyusui serta mitos – mitos yang salah tentang
menyusui juga dapat mempengaruhi ibu untuk berhenti
menyusui. Budaya yang ada dimasyarakat misalnya bayi
diberikan makanan lain selain ASI sejak lahir kemudian
adanya mitos yang berkembang dimasyarakat bahwa
bayi yang rewel atau menangis karena lapar sehingga
harus diberikan makanan tambahan selain ASI . hal ini
akan membuat bayi jarang menyusu sehingga

13
mempengaruhi rangsangan isapan bayi berkurang
(Novianti, 2009).

Pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan dan upaya


orangtua dalam melakukan perawatan dan memelihara
kesehatan anak dan beradaptasi terhadap peran sebagai
orangtua sehingga lebih mudah mencapai sesuatu
(Friedmen, 1998). Worhtington – Robert (2000)
menyatakan bahwa ibu yang memiliki pendidikan
rendah kurang dalam memberikan ASI eksklusif.

Dukungan keluarga, teman dan petugas kesehatan juga


mempengaruhi keberhasilan menyusui. Bila suami atau
keluarga dapat mengambil alih sebagai tugas ibu
dirumah, ibu tentu tidak akan kelelahan. Kelelahan
merupakan salah satu penyebab berkurangnya produksi
ASI (Poedinto, 2002: Bobak & Jense, 2005).
c. Umur
Umur ibu berpengaruh terhadap produksi ASI. Ibu yang
umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI
dibandingkan dengan ibu yang sudah tua (Soetjiningsih,
2005). Menurut Biancuzzo (2003) bahwa ibu – ibu yang
lebih muda atau umurnya kurang dari 35 tahun lebih
banyak yang memproduksi ASI dari pada ibu –ibu yang
lebih tua. Pudjaji (2005) menjelaskan bahwa ibu yang
berumur 19 – 23 tahun pada umumnya dapat
menghasilkan cukup ASI dibandingkan yang berumur
30 tahun.

14
d. Pariritas.
Ibu yang melahirkan anak kedua dan seterusnya
mempunyai produksi ASI lebih banyak dibandingkan
dengan kelahiran anak yang pertama (Soetjaningsih,
2005: Nichol, 2005)
e. Faktor kenyamanan ibu
Faktor kenyaman ibu yang secara tidak langsung
mempengaruhi produksi ASI meliputi putting lecet,
pembengkakan dan nyeri akibat insisi. Faktor
ketidaknyamanan yang seorang ibu rasakan sering
menyebabkan ibu berhenti menyusui bayinya. Dengan
berhentinya menyusui maka rangsang isapan bayi akan
berkurang sehingga produksi ASI akan menurun (Suradi
& Tobing, 2004).
f. Faktor bayi
 Berat badan
Bayi kecil, premature atau dengan berat badan
lahir rendah (BBLR) mempunyai masalah
dengan proses menyusui karena reflek
menyusuinya masih relative lemah (Suradi &
Tobing, 2004).
 Status kesehatan
Bayi yang sakit dan memerlukan perawatan akan
mempengaruhi produksi ASI, hal ini disebabkan
tidak adanya rangsangan terhadap reflek let –
down (Suradi & Tobing, 2004).
2.1.6.2 Faktor langsung
a. Prilaku menyusu
 Waktu menyusui

15
Inisiasi dapat dilakukan segera pada jam – jam
pertama kelahiran, dengan melakukan inisiasi
menyusui dini (IMD) akan dapat meningkatkan
produksi ASI (Roesli, 2005). IMD dilakukan
berdasarkan pada reflek atau kemampuan bayi dalam
mempertahankan diri. Bayi yang baru lahir berusia
20 menit dengan sendirinya akan dapat langsung
mencari putting susu ibu. Selain membantu bayi
belajar menyusu kepada ibunya dan memperlancar
pengeluaran ASI, proses inisiasi diharapkan dapat
mempererat ikatan perasaan antara ibu dan bayinya,
serta berpengaruh terhadap lamanya pemberian ASI
kepada bayinya (Suryaprajoko, 2009).
 Frekuensi dan lama menyusui
Bayi setidaknya disusui secara on demand karena
bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi
yang sehat dapat mengosongkan payudara sekitar 5 -
6 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong
dalam waktu 2 jam (Suradi & Tobing, 2002).
 Menyusui malam hari
Menyusui pada malam hari dianjurkan umtuk lebih
sering dilakukan karena akan memacu produksi ASI,
hal ini karena prolaktin lebih banyak disekresi pada
malam hari (Suradi & Tobing, 2004: Depkes, 2007).
b. Faktor psikologi
Faktor psikologi ibu yang mempengaruhi kurangnya
produksi ASI antara lain adalah ibu yang berada dalam
keadaan stress, kacau, marah dan sedih, kurang percaya
diri, terlalu lelah, ibu tidak suka menyusi, serta
kurangnya dukungan dan perhatian keluarga serta

16
pasangan kepada ibu (Lawrence, 2004; Novianti,
2009).
c. Faktor fisiologi
Faktor fisiologi ibu meliputi status kesehatan, nutrisi,
intake cairan, pengobatan dan merokok. Selama
menyusui, seorang ibu membutuhkan banyak kalori,
protein, dan vitamin yang sangat tinggi. Ibu yang
menyusi membutuhakan tambahan 800 kalori perhari
selama menyusui (Suryoprajoko, 2009). Selain
kebutuhan makanan, ibu menyusui juga memerlukan
minum yang cukup karena kebutuhan tubuh akan cairan
pada ibu menyusui meningkat. Asupan cairan yang
cukup 2000 cc perhari menjaga produksi ASI ibu
(Pillitteri, 2003; Suryoprajogo, 2009)

2.1.7 Upaya Memperbanyak ASI


 Rangsangan otot – otot payudara.
Rangasangan ini diperlukan untuk memperbanyak ASI dengan
mengaktivasi kelenjar – kelenjarnya. Otot –otot payudara terdiri
dari otot – otot polos. Dengan adanya rangsangan, otot – otot akan
berkontraksi lebih dan berguna untuk proses laktasi. Rangsangan ini
bisa dilakukan dengan cara massase atau mengurut, atau menyiram
payudara dengan air hangat dan dingin secara bergantian.
 Keteraturan bayi menghisap.
Isapan bayi akan merangsang otot polos payudara untuk
berkontraksi yang kemudian merangsang susunan syaraf
disekitarnya dan meneruskan rangsangan ini keotak. Dengan
keteraturan bayi menghisap akan berpengaruh pada pengeluaran
ASI yang akan diberikan pada bayi.
 Kesehatan ibu.

17
Berpeeran dalam produksi ASI, bila ibu tidak sehat, asupan
makanannya kurang atau kekurangan darah untuk membawa
nutrien yang akan diolah oleh sel – sel acini payudara. Hal ini
menyebabkan produksi ASI menurun.
 Makanan dan istirahat ibu
Makanan diperlukan oleh ibu dalam jumlah yang lebih banyak
mulai dari hamil hingga nifas. Istirahat berarti mengadakan
pelemasan pada otot – otot dan syaraf setelah mengalami
ketegangan karena beraktivitas.

Ada beberapa cara dalam memerah ASI untuk meningkatkan jumlah


ASI pada ibu, dan bermanfaat dalam meningkatkan BB bayi
diantaranya memerah ASI dengan tangan atau teknik marmet.

Definisi Teknik Marmet

Teknik Marmet adalah suatu metode memijat dan menstimulasi agar


keluarnya ASI optimal, teknik ini memadukan memijat payudara sel-
sel ASI dan saluran ASI meningkatkan oksitosin aliran ASI dengan
memerah ASI (Roesli, 2012).

Teknik marmet ini merupakan salah satu cara yang aman yang dapat
dilakukan untuk merangsang payudara untuk memproduksi lebih
banyak ASI (Nurdiansyah, 2011).

Menurut Depkes RI (2007), fungsi dari pijitan ini adalah untuk


merangsang pelepasan hormon oksitosin yang sangat dibutuhkan
dalam menyekresi ASI setelah melahirkan. Selain itu hormon tersebut
dapat membuat ibu rileks dan lebih tenang sehingga ASI pun dapat
keluar secara spontan. Metode pijat oksitosin ini merupakan metode

18
yang sangat mudah untuk dilakukan oleh siapa saja termasuk suami
atau orang lain.

 Kelebihan Teknik Marmet

Berikut beberapa keunggulan cara memerah ASI manual dengan


teknik Marmet dibanding menggunakan pompa ASI:

1) Beberapa pompa ASI menimbulkan rasa tidak nyaman, juga tidak


efektif. Berbeda dengan memerah ASI menggunakan tangan yang
bisa Mama atur sendiri gerakan serta kekuatannya, sehingga bisa
lebih efektif mengeluarkan ASI.
2) Banyak ibu lebih nyaman dengan cara memerah ASI manual
dengan alasan lebih alami.
3) Kontak kulit dengan kulit lebih menstimulasi ASI daripada
dengan corong plastik pompa ASI Karena itu, cara memerah ASI
manual biasanya mempermudah refleks keluarnya susu.
4) Lebih nyaman.
5) Lebih ramah lingkungan
6) Tak memerlukan alat khusus
7) Gratis

 Cara Kerja Teknik Marmet

Sel penghasil susu (alveoli) mengeluarkan ASI. Apabila sel penghasil


susu distimulasi, maka sel-sel tersebut akan mengeluarkan ASI ke
dalam sistem saluran (refleks pengeluaran ASI). Sebagian kecil susu
bisa mengalir ke saluran dan mengumpul di saluran susu di bawah
areola yang dikenal sebagai saluran akhir.

Teknik marmet dilakukan dengan cara :

19
1. Letakkan ibu jari dan dua jari lainnya sekitar 1 – 1,5 cm dari
aerola, hindari melingkari jari pada aerola.
2. Dorong kearah dada. Hindari meregangkan jari. Bagi ibu yang
payudaranya besar, ankat dan dorong kearah dada.
3. Gulung menggunakan ibu jari dan jari lainnya secara bersamaan.
4. Gerakan ibu jari dan ibu jari lainnya hingga menekan gudang ASI
hingga kosong. Jika dilakukan dengan tepat maka ibu tidak akan
kesakitan saat memerah.
Catatan :
Perhatikan posisi dari ibu jari dan jari - jari lainnya dengan baik.
5. Putar ibu jari dan jari – jari lainnya ketitik gudang ASI lainnya.
Begitu pula saat memerah payudara lain, gunakan kedua tangan.
Misalkan, saat memerah payudara kiri gunakan tangan kiri. Juga
saat memerah payudara kanan, gunakan tangan tangan. Saat
memerah ASI, jari – jari berputar seiring jarum jam atau
berlawanan arah agara semua gudang ASI kosong. Pindahkan ibu
jari dan jari lainnya pada posisi jam 6 dan jam 12, posisi jam 11
dan jam 5, jam 2 dan jam 8, serta jam 3 dan jam 9.
Hindari gerakan gerakan berikut :
- Menekan / memencet payudara. Hal tersebut dapat melukai
payudara.
- Menarik – narik putting. Hal ini dapat merusak lapisan lemak
pada aerola.
- Menekan dan mendorong ( slidding on ) payudara. Hal ini dapat
menyebabkan kulit pada payudara memar atau memerah.

20
Cara mengeluarkan ASI dengan mudah :

1. Pemijatan (massage)
Pijatlah sel – sel produksi ASI dan seluruh ASI mulai dari bagian atas
payudara. Dengan gerakan memutar, pijat payudara dengan menekan
kearah payudara.
2. Penekanan (stroke)
Tekanlah daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar putting
dengan tekanan lembut, dengan jari seperti menggelitik.
3. Mengguncang (shake)
Guncanglah payudara dengan arah memutar. Gerakan gravitasi ini
akan membantu keluarnya ASI.
Prosedur berikut diperuntukan bagi para ibu yang ingin memberikan
ASI eksklusif , bagi mereka yang ingin meningkatkan produksi ASI
agar terjadi peningkatkan BB bayi, serta menjaga agar produksi ASI
optimal.
 Perahlah kedua payudara hingga ASI kosong dari gudang payudara
(ditandai dengan aliran ASI yang menurun).
 Lakukan prosedur stimulasi reflek keluarnya ASI agar ASI mudah
dikeluarkan ( massage, store and shake ) pada kedua payudara.
Prosedur tersebut dapat dilakukan kapanpun.
 Ulangi seluruh proses memerah ASI dengan teknik marmet pada
tiap payudara dan teknik stimulasi reflek keluarnya ASI sekali atau
dua kali. Aliran ASI biasanya menurun pada kali kedua atau ketiga.
Ini artinya gudang ASI mongering.

Keseluruhan prosedur umumnya membutuhkan waktu sekitar 20 – 30


menit.

1. Perahlah tiap payudara setiap 5 -7 menit.


2. Pijat ( message ), penekanan ( stroke ), guncang ( shake ).

21
3. Perahlah lagi tiap payudara selama 3 – 5 menit.
4. Lakukan lagi Pijat ( message ), penekanan ( stroke ), guncang (
shake ).
5. Perahlah lagi tiap payudara selama 2 – 3 menit.

Setelah mengetahui cara efektif untuk memerah ASI, seorang ibu juga
perlu mengetahui posisi menyusui atau cara menyusui yang benar,
agar bayi nyaman dan ibu bisa optimal menyusui bayinya, serta
peningkatan produksi ASI sehingga BB bayi bisa meningkat.

2.1.8 Penilaian produksi ASI


Penilaian produksi ASI dapat menggunakan beberapa criteria sebagai
acuan untuk mengetahui kelancaran produksi ASI. Untuk mengetahui
kelancaran ASI salah satunya dengan indicator bayi. Indicator bayi ini
meliputi BB bayi tidak turun lebih dari 10 % dari BB lahir pada
minggu pertama kelahiran, BB bayi pada usia 2 minggu minimal sama
dengan berat badan bayi ketika lahir atau meningkat. BAB 1 – 2 kali
pada hari pertama dan kedua, dengan warna feses kehitaman,
sedangkan pada hari ketiga dan keempat BAB minimal 2 kali, warna
feses kehijauan sampai kunig, BAK sebanyak 6 – 8 kali perhari
dengan warna urin kuning dan jernih, frekuensi menyusu 8 – 12 kali
dalam sehari serta bayi akan tenang/tidur nyenyak setelah menyusui
selama 2 -3 jam (Blancuzzo, 2003; Bobak, Perry & Lowdernik, 2005;
Depks, 2007).

Pemantauan Berat Badan.


Banyak bayi yang mengalami penurunan BB pada minggu pertama
kehidupan. Namun, bila BB bayi saat lahir 2,5 kg dan tidak mengalami
peningkatan BB pada minggu pertama, atau jika BB bayi terus
menurun setelah minggu pertama, ibu dianjurkan untuk berkonsultasi

22
ke doktek atau bidan. Pemantauan pertumbuhan sangat penting untuk
melihat apakah bayi sehat atau cukup nutrisi. Bayi yang sehat akan
mengalami penambahan BB pada tiap bulannya, sebaliknya bayi yang
sakit akan mengalami penurunan BB setiap bulannya. Bayi baru lahir
harus segera ditimbang BB nya dan pada setiap bulan dala satu tahun
pertama kehidupan. (Varney, Krieb & Cardin, 2010).

23
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk
mengeksplorasi penerapan intervensi pada ibu postpartum terhadap kelancaran
pengeluaran ASI yang berpengaruh pada peningkatan BB bayi dengan diberikan
intervensi berupa Teknik Marmet.
3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 di BPM Nur Akhsanah.

3.2 Jadwal Penelitian

No Kegiatan September Oktober November Desember


I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
1 Mengidentifikasi
masalah penelitian
2 Mengidentifikasi
tema dan topik
penelitian
3 Mengidentifikasi
Latar Belakang
masalah
4 Mengidentifikasi,
menelaah dan
membaca literatur
dan bahan pustaka
5 Mengidentifikasi
fokus dan
perumusan
masalah penelitian
6 Mengidentifikasi
tujuan dan manfaat

24
penelitian
7 Mengidentifikasi
kerangka kerja,
hipotesis, dan
variabel penelitian
8 Mengidentifikasi
desain/rancangan
penelitian
9 Mengidentifikasi
tempat, waktu dan
subjek penelitian
10 Melakukan
penyusunan
instrumen dan
metode
pengumpulan data
11 Mengidentifikasi
dan menguji
keabsahan data
12 Manajemen dan
analisis data
13 Memahami etika
penelitian
14 Mengidentifikasi
teknik penulisan
daftar pustaka
15 Penyajian dan
presentasi proposal
penelitian

3.3 Setting Penelitian (Kondisi Dan Situasi Tempat Penelitian)

Kondisi dan situasi tempat penelitian sangat memungkinkan dan strategis untuk
melakukan penelitian. Sarana dan prasarana yang dimiliki puskesmas sangat
memadai. Jumlah pasien yang dirawat cukup untuk melakukan penelitian dan jumlah

25
tenega kesehatan atau perawat yang bertugas sangat cukup. Penelitian ini dilakukan
pada ibu Post Partum di BPM Nur Akhsanah.

3.4 Subjek Penelitian/Partisipan

Subjek penerapan intervensi di BPM Nur Hasanah adalah ibu post partum hari
pertama yang bersedia menjadi responden dengan kriteria, bentuk putting kedua
payudara ibu normal, bayi yang tidak diberi susu formula pada saat penelitian, reflek
hisap bayi baik, BB > 2500 gram.

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi penerapan
teknik marmet yang dilakukan selama 7 hari untuk menilai apakah responden
melakukan teknik tersebut pada saat akan menyusui bayinya selama 6 hari penerapan,
dan akan dievaluasi pada hari ke 7, untuk lembar observasi bayi meliputi BB bayi,
frekuensi BAK, dan frekuensi menyusu, kemudian untuk teknik marmet
menggunakan instrument berupa panduan Standar Operasional Prosedur (SOP),
sedangkan instrument lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar
kueosener karakteristik responden yang berisi data umur, usia, pekerjaan dan paritas.

3.6 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:

1) Penelitian mengajukan permohonan izin melakukan penelitian dari institusi


Akademi Keperawatan Panca Bhakti Bandar Lampung.
2) Peneliti mengajukan surat permohonan melakukan penelitian kepada kepala
BPM Nur Aksanah.
3) Peneliti memiliki responden sesuai dengan kriteria inklusi.
4) Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan penelitian yang akan dilakukan
terhadap responden.

26
5) Peneliti memberikan informasi tentang penelitian dan meminta kesediaan
responden dalam keterlibatan penelitiannya.
6) Setelah pasien bersedia menjadi responden peneliti memberikan lembar
informed concent sebagai bentuk persetujuan kepada keluarga responden.
7) Kemudian peneliti melakukan wawancara selama 20 menit untuk
mendapatkan informasi tentang karakteristik responden untuk mengetahui
tingkat kelancaran ASI pada ibu post partum.
8) Setelah itu teknik marmet dilakukan sesuai SOP.
9) Teknik marmet dapat dilakukan 2 kali perhari pagi dan sore hari, setiap satu
sesi dilakukan dengan waktu sekitar 15 sampai 20 menit.
10) Setelah dilakukan teknik marmet sekitar 15 sampai 20 menit, dapat dilakukan
evaluasi terkait penerapan teknik marmet terhadap kelancaran ASI.
11) Peneliti mengukur BB bayi dan frekuensi menyusu setelah menyusu sebanyak
3 kali pengukuran, yaitu pengukuran I di hari ke 3, pengukuran ke II di hari ke
7 dan pengukuran ke III hari ke 10.
12) Lalu evaluasi apakah dengan dengan teknik marmet memberikan dampak
pada kelancaran ASI dan peningkatan BB bayi, pada penguran ke I, II, dan III.
13) Data yang diperoleh kemudian didokumentasikan dilembar observasi.

3.7 Definisi Operasional (Definisi Operasional, Alat Ukur, Hasil Ukur, Skala
Ukur)

Definisi operasional adalah mengukur atau menilai variable penelitian, kemudian


memberikan gambaran tentang variable tersebut atau menghubungkannya (Dharma,
2011).

Definisi operasional peningkatan BB bayi setelah pemberian teknik marmet, diukur


menggunakan lembar observasi dan kuasener dengan hasil jika teknik marmet
dilakukan rutin maka akan terjadi peningkatan BB bayi, peningkatan pada frekuensi
menyusu, dan peningkatan pada frekuensi BAB/BAK.

27
Tabel 3.2

Definisi operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Alat
Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Ukur
Teknik metode memerah lembar Observasi 1 = bila subyek penelitian Nominal

marmet ASI dan observasi diterapkan teknik marmet

menstimulasi ceklist 0 = bila subyek penelitian

payudara pada ibu tidak diterapkan teknik

postpartum marmet

menggunakan

tangan agarASI

keluar secara

optimal

Produksi Banyaknya ASI yg Observas Observasi Indikator bayi : Ordinal


dan
ASI keluar diukur i dan dan  BB bayi sesuai dengan Nominal

dengan indicator kuesione kuesioner. BB normal atau tidak

BB bayi, BAK, dan r. Kuesioner turun > 10 % dari BB

frekuensi menyusu terdiri dari lahir.

yg diukur : tiga  Frekuensi BAK 6 – 8

Pengukuran I : Hari pertanyaan. kali perhari.

ke 3  Frekuensi menyusu 8 –

Pengukuran II : 12 kali perhari

Hari ke 7 1 : tidak lancer jika,

Pengukuran III : Satu diantara indikator

Hari ke 14 tidak terpenuhi.

28
2 : lancar jika, ketiga

indikator terpenuhi

3.8 Uji Validitas dan Reabilitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu bener-bener mengukur
apa yang diukur (Notoatmodjo, 2010). Reabilitas adalah indeks yang menunjukkna
sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat di andalkan. Hal ini
berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asa
(Notoatmodjo, 2010).

3.9 Metode Analisa Data (Domain analis)

Pengolahan data menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif adalah


suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data
secara ilmiah dalam bentuk tabel. Analisis Deskriftif digunakan untuk membuat
gambaran secara sistematis data yang aktual dan akurat mengenai fakta-fakta
serta hubungan antar fenomena yang diselidiki atau diteliti ( Riyanto, 2011 &
Nursalam, 2008).

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data
dengan cara mencatat tingkat kelancaran ASI sebelum diberikan teknik marmet
dan sesudah dilakukan teknik marmet selama tujuh hari dan pengaruhnya
terhadap peningkatan BB bayi. Dalam hal ini ini analisa data yang digunakan
adalah dengan mengobservasi tingkat kelancaran ASI dan peningkatan BB bayi .
Menurut (Budiati, 2009)dengan menggunakan 10 indikator ibu dan bayi yaitu:
1. Payudara tegang karena terisi ASI.
2. Ibu rileks, let down reflek baik
3. Frekuensi menyusu > 8 kali sehari
4. Ibu menggunakan kedua payudara bergantian

29
5. Ibu terlihat memerah payudara karena payudara penuh
6. Payudara kosong setelah bayi menyusu sampai kenyang dan tertidur
7. Bayi Nampak menghisab kuat dengan irama perlahan
8. Ibu menyusu tampa jadwal
9. Bayi mengalami peningkatan BB
10. Frekuensi BAB dan BAK normal.
Analisa data pada penelitian ini untuk membandingkan distribusi frekuensi hasil
penelitian pada responden sebelum dan sesudah dilakukan tindakan teknik
marmet untuk memperlancar pengeluaran ASI dan pengaruhnya pada
peningkatan BB bayi.

3.10 Etika Penelitian

Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti mengurus surat izin dari institusi

Akademi Keperawatan Panca Bhakti Bandar Lampung dan lembar persetujuan untuk

responden dan informed consent kepada klien yang akan diberikan penerapan teknik

marmet di BPM Nur Hasanah.

30
Proverawati, A dan Rahmawati, E. 2010. Kapita Selekta ASI & Menyusui. Jakarta:
Muha Medika.

Varney, H., Kriebs, JM., Geger, CL. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4:
Volume 2. Jakarta: EGC

Jitowiyono, S dan Kristiyanasar, W. 2010. Asuhan Keperawatan Neonatus dan Anak.


Jakarta: Nuha Medika.

Biancuzzo, M. (2003). Breastfeeding the newborr, Clinical strategies for nurse. St.
Louis: Mosby.

Budiarti, T. (2009). Efektifitas Pemberian Paket Sukses ASI Terhadap Produksi ASI
Ibu Menyusui Dengan Secsio Sesaria Di Wilayah Depok Jawa Barat.
Tesis. Depok: FKI UI. Tidak dipublikasikan

Mardiyaningsih, E. (2010). Efektifitas Kombinasi Teknik Marmet Dan Pijay Oksitosin


Terhadap Produksi ASI Ibu Post Secsio Sesarea Di Rumah Sakit
Wilayah Jawa Tengah. Tesis. Depok: FKI UI.www.lontar.ui.ac.id

Widiastuti, A., Afifah, S dan Rahmawati, WR. (2015). Pengaruh Teknik Marmet
Dengan Masase Payudara Pada Ibu Nifas Tiga Hari Post Partum
Terhadap Kelancaran ASI Dan Kenaikan BB Bayi. Jurnal riset
kesehatan vol. 4 No. 3.

31

Anda mungkin juga menyukai