Anda di halaman 1dari 10

KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS KE INDONESIA

D
I
S
U
S
U
N
OLEH KELOMPOK
>DARMAYANTI
>RISDA
>CAPRAN
>HASMIATI HAMZAH
>INAYA FARADILLA.S
>NILAM CAHYAPUTRI

SMA NEGERI 4 LUWU UTARA


TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas segala kebesaran dan
limpah nikmat yang diberikan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaika makalah tentang
“Imperialisme Portugis”.
Adapun penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai
Imperialisme yang dilakukan Portugis terhadap Indonesia.
Dalam penulisan makalah ini, berbagai hambatan telah kami alami. Oleh karena itu,
terselesaikannya makalah ini tentu saja bukan karena kemampuan kami semata-mata.
Namun karena adanya dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang terkait. Saya juga
berterima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak kerkurangan karena pengetahuan
dan pengalaman kami masih sangat terbatas. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan
adanya kritik dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini lebih baik, dan semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
A. Latar Belakang
Kekayaan alam yang dimiliki oleh suatu Negara tidak selamanya membawa
berkah. Kekayaan alam yang dimiliki bangsa indonesia mampu menjadi daya tarik bagi
orang-orang eropa dan bangsa jepang. Bangsa spanyol,Portugis,Inggris,Belanda mulai
berdatangan ke Indonesia disusul oleh bangsa jepang. Tujuan kedatangan mereka ada
3,yaitu Glory, Gold ,dan Gospel. Semula mereka hanya tertarik watak mengambil rempah-
rempah saja, tetapi kemudian berkembang untuk menguasai dan sploitasi seluruh SDA dan
SDM yang dimiliki Indonesia. Sumber daya manusia digunakan untuk memenuhi tenaga
kerja murah. Eksploitasi SDA dan SDM tersebut mampu mengisi kas keuangan mereka
yang kosong.

Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia telah membawa dampak yang sangat besar
bagi Indonesia. Pada awalnya, kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia adalah untuk
berdagang, tetapi lambat laun mereka kemudian menguasai wilayah Indonesia untuk
dijarah kekayaan alamnya sebagai modal pembangunan negara mereka.

Kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di Indonesia sejak awal abad ke- 18
telah menjadikan Indonesia mengalami kesengsaraan, yaitu dengan dijadikannya Indonesia
sebagai negara terjajah berada di bawah kekuasaan bangsa-bangsa Eropa.

Kedatangan orang-orang Eropa pertama di kawasan Asia Tenggara pada awal abad
XVI kadang-kadang dipandang sebagai titik penentu yang paling penting dalam sejarah
kawasan ini. Pada abad XV bangsa Portugis merupakan salah satu bangsa yang mencapai
kemajuan-kemajuan di bidang teknologi. Bangsa Portugis telah dapat membuat kapal-
kapal yang lebih layak dan canggih di bandingkan dengan kapal-kapal sebelumnya
memungkinkan mereka melakukan sebuah pelayaran dan melebarkan kekuasaaan ke
seberang lautan.Dengan alasan untuk menguasai impor rempah-rempah di kawasan Eropa,
bangsa Portugis mencari daerah kawasan penghasil rempah-rempah terbaik. Rempah-
rempah di kawasan Eropa merupakan kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim dingin
di Eropa, tidak ada salah satu cara pun yang dapat di jalankan untuk mempertahankan agar
semua hewan-hewan ternak dapat tetap hidup. Kerena itu banyak hewan ternak yang
disembelih dan dagingnya kemudian harus di awetkan. Untuk itulah diperlukan sekali
banyak garam dan rempah-rempah. Cengkih dari Indonesia timur adalah yang paling
berharga Indonesia juga menghasilkan lada, buah pala, dan bunga pala. Kekayaaan alam
Indonesia yang begitu melimpah termasuk tanaman rempah-rempah menjadi alasan
portugis ingin menguasai daerah Indonesia sekaligus menguasai pasaran di eropa.

B. AWAL PROSES KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS KE INDONESIA

Bangsa portugis merupakan bangsa eropa pertama yang mencapai kepulauan nusantara.
Pencarian mereka untuk mendominasi sumber perdagangan rempah-rempah yang
menguntungkan pada abad ke 16 dan usaha penyebaran katolik roma. Percobaan awal
bangsa portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai pada tahun 1512 dengan kerajaan
Sunda di Parahyangan gagal akibat sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sejumlah
pemerintahan islam di Jawa, seperti demak dan banten. Bangsa Portugis mengalihkan arah
ke kepulauan Maluku, yang terdiri atas berbagai perkumpulan negara yang awalnya
berperang satu sama lain namun memelihara perdagangan antar pulau dan internasional.
Melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat mereka mendirikan
pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia timur, termasuk pulau ternate, ambon,
dan solor.

Motivasi bangsa Portugis memulai petualangan ke timur menurut ahli sejarah dan arkeolog
islam Uka Tjandrasasmita dalam buku Indonesia-Portugal “five hundred years of historical
relation ship (Cepesa, 2002) :
1. Feitoria : emas
2. Fortaleza : kejayaan
3. Igreja : gereja

Tahun 1487, Bartolomeus Dias mengitari Tanjung Harapan dan memasuki perairan
Samudra Hindia. Selanjutnya pada tahun 1498, Vasco da Gama sampai di India. Namun,
orang-orang Portugis ini segera mengetahui bahwa barang-barang dagangan yang hendak
mereka jual tidak dapat bersaing di pasaran India yang canggih dengan barang-barang yang
mengalir melalui jaringan perdagangan Asia. Karena itu, mereka sadar harus melakukan
peperangan di laut untuk mengukuhkan diri.
Setelah perjanjian Thordesillas (1492) pelaut-pelaut portugis dibawah pimpinan
Bartholomeus Diaz mencoba mencari jalan keluar untuk menemukan dunia timur (pusat
rempah-rempah). Namun pelayarannya hanya sampai di ujung afrika selatan (1496). Hal
ini disebabkan oleh besarnya gelombang ombak samudera hindia, sehingga kapal-kapal
yang dibawa Bartholomeus Diaz tidak berhasil melewatinya. Oleh Bartholomeus Diaz
tanjung ini dinamakan Tanjung Pengharapan (Cape oge Good Hope atau Tanjung Harapan
sekarang).

Portugis mencapai India pada tahun 1498 dengan melalui jalur pantai Barat
Afrika dan melewati Tanjung Pengharapan yang terletak di selatan benua Afrika. Tujuan
Portugis adalah menguasai daerah-daerah penghasil rempah-rempah, sehingga Portugis
tidak segan-segan menyerang dan menaklukkan kota-kota pelabuhan yang tidak mau
tunduk.

Setelah menaklukkan dan mendirikan kantor dagang di Goa India, Portugis


melanjutkan ekspedisinya yang berhasil merebut Malaka pada tahun 1511 dan Maluku
tahun 1512. Portugis mendirikan benteng-benteng untuk mempertahankan kekuasaan di
daerah-daerah yang sudah didudukinya. Daerah-dareah tersebut kemudian dijadikan
sebagai bagian kerajaan Portugis yang berada di seberang lautan yang menandai
dilaksanakannya politik imperialisme.

Pertemuan antara Portugis dengan orang Indonesia sudah terjadi sejak Portugis
menguasai Goa, India. Ketika Portugis menyerang Malaka, keadaan di Malaka tidak siap
untuk melawan serangan Portugis. Ketidaksiapan dalam menghadapi serangan Portugis
dikarena faktor kekuatan militer dan persenjataan yang tidak seimbang.

Penguasaan terhadap Maluku terjadi ketika sedang adanya persaingan antara


kerajaan Ternate dan Tidore. Dalam hal ini Ternate meminta bantuan kepada Portugis
untuk membantu mendirikan benteng pertahanan. Portugis memanfaatkan dengan baik
situasi ini dengan memberikan bantuan kepada Ternate dengan meminta imbalan hak
monopoli rempah-rempah.

Pada tahun 1498, raja portugis mengirim ekspedisinya dibawah pimpinan Vasco Da
Gama. Ekspedisi ini berhasil mendarat di kalkuta (india) pada tahun 1498. Kemudian pada
tahun 1511 dari india bangsa portugis mengirim ekspedisinya dibawah pimpinan Alfonso
d’Alburquerque, mengikuti perjalanan para pedagang islam. Pada tahun itu juga portugis
berhasil menduduki malaka, pusat perdagangan islam di Asia Tenggara. Kemudian
portugis tiba di Ternate(maluku) tahun 1512. Awalnya masyarakat Maluku menyambut
baik dan saling berebut menanamkan pengaruh kepada portugis agar portugis dapat
membeli rempah-rempah dan membantu masyarakat Maluku menghadapi para musuh.
Kedatangan bangsa Portugis diterima baik oleh sultan ternate adalah :
1. Portugis dianggap sebagai pembeli rempah-rempah dengan harga tinggi.
2. Portugis dimintai bantuan untuk bersama sama menyerang tidore.
Pada saat itu, kesultanan ternate di Maluku diperintah oleh Kaicil Darus meminta
bantuan Portugis untuk mendirikan sebuah benteng agar terhindar dari serangan daerah
lain. Tahun 1522 Portugis mengabulkan permintaan sultan ternate dengan mendirikan
benteng Saint John. Benteng tersebut harus dibayar mahal dengan perjanjian monopoli
perdagangan rempah-rempah, perjanjian tersebut ternyata menimbulkan kesengsaraan
rakyat tidak boleh menjual rempah dengan harga bebas karna harga sudah ditetapkan
portugis dengan harga murah. Akibat nya terjadi permusuhan antara Ternate dan Portugis.
Sebab-sebab perlawanan rakyat ternate terhadap Portugis :
1. Portugis melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Ternate sehingga
merugikan rakyat.
2. Portugis memaksa sultan Ternate mengakui kekuasaannya di Ternate.
3. Portugis membunuh sultan Hairun sebagai raja Ternate.
Lalu Bangsa Spanyol pun tiba di Maluku, timbul lah pertentangan antara bangsa Portugis
dan Spanyol, pertikaian tersebut sejalan dengan adanya pertentangan sultan Ternate dan
Tidore.
Untuk menyelesaikan pertikaian kedua bangsa kulit putih itu, Paus turun tangan dan pada
tahun 1529 dilakukan perjanjian Saragossa (Zaragosa).
Isi perjanjian itu antara lain:
1. Bumi ini dibagi atas dua pengaruh yaitu pengaruh bangsa spanyol dan portugis.
2. Wilayah kekuasaan spanyol membentang meksiko ke arah barat sampai ke kepulauan
Filipina dan wilayah kekuasaan portugis membentang dari Brazillia kearah timur sampai
ke kepulauan Maluku.

C. Pengertian Imperialisme

Imperialisme berasal dari kata latin “imperare” yang artinya menguasai.Orang yang
menguasai disebut imperator yang berarti raja atau penguasa. Imperium adalah daerah
yang dikuasai imperator. Imperator menguasai bangsa yang mendiami wilayah imperium
dengan alasan agar mereka merasa lebih aman atau lebih sejahtera. Jadi imperialisme
adalah suatu sistem penjajahan langsung dari suatu negara terhadap negara lain. Penjajahan
dilakukan dengan jalan membentuk pemerintahan jajahan atau dengan menanamkan
pengaruh dalam semua bidang kehidupan daerah yang dijajah.
Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk
kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. "Menguasai" disini tidak
perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan
ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu
berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa daerah-daerah pengaruh,
asal saja untuk kepentingan diri sendiri.

D. Tujuan Kedatangan Bangsa Portugis


Secara umum, kedatangan bangsa Portugis dan Bangsa Eropa lainnya ke Asia
termasuk ke Indonesia dilandasi keinginan mereka untuk berdagang, menyalurkan jiwa
penjelajah, dan menyebarkan agama
Sejak abad ke -13, rempah-rempah memang merupakan bahan dagang yang sangat
menguntungkan. Hal ini mendorong orang-orang Eropa berusaha mencari harta kekayaan
ini sekalipun menjelajah semudera. Keinginan ini diperkuat dengan adanya jiwa
penjelajah. Bangsa Eropa dikenal sebagai bangsa penjelajah, terutama untuk menemukan
daerah-daerah baru. Mereka berlomba-lomba meninggalkan Eropa. Mereka yakin bahwa
jika berlayar ke satu arah, maka mereka akan kembali ke tempat semula. Selain itu, orang-
orang Eropa terutama Protugis dan Spanyol yakin bahwa di luar Eropa ada Prestor John
(kerajaan dan penduduknya beragama Kristen). Oleh karena itu, mereka berani berlayar
jauh. Mereka yakin akan bertemu dengan orang-orang seagama.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan bangsa Eropa termasuk
Portugis ke Indonesia adalah 3G yaitu:
1. Gold yaitu untuk mencari emas atau kekayaan
2. Grory yaitu untuk mencari kejayaan atau kekuasaan
3. Gospel yaitu untuk menyebarkan agama Kristen.

E. Imperialisme Portugis di Indonesia


Keahlian bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan
memungkinkan mereka untuk melakukan ekspedisi eksplorasi dan ekspansi. Dimulai
dengan ekspedisi eksplorasi yang dikirim dari Malaka yang baru ditaklukkan dalam tahun
1512, bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba di kepulauan yang
sekarang menjadi Indonesia, dan mencoba untuk menguasai sumber rempah-rempah yang
berharga dan untuk memperluas usaha misionaris Katolik Roma. Upaya pertama Portugis
untuk menguasai kepulauan Indonesia adalah dengan menyambut tawaran kerjasama dari
Kerajaan Sunda.

Pada awal abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan perdagangan penting di pantai utara


Pulau Jawa sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak, termasuk dua pelabuhan Kerajaan
Sunda yaitu Banten dan Cirebon. Khawatir peran pelabuhan Sunda Kelapa semakin lemah,
raja Sunda, Sri Baduga (Prabu Siliwangi) mencari bantuan untuk menjamin kelangsungan
pelabuhan utama kerajaannya itu. Pilihan jatuh ke Portugis, penguasa Malaka. Dengan
demikian, pada tahun 1512 dan 1521, Sri Baduga mengutus putra mahkota, Surawisesa, ke
Malaka untuk meminta Portugis menandatangani perjanjian dagang, terutama lada, serta
memberi hak membangun benteng di Sunda Kelapa.

Pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Sunda untuk
memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Tahun tersebut bertepatan
dengan diselesaikan penjelajahan dunia oleh Magellan.
Komandan benteng Malaka pada saat itu adalah Jorge de Albuquerque. Tahun itu
pula dia mengirim sebuah kapal, São Sebastião, di bawah komandan Kapten Enrique
Leme, ke Sunda Kalapa disertai dengan barang-barang berharga untuk dipersembahkan
kepada raja Sunda. Dua sumber tertulis menggambarkan akhir dari perjanjian tersebut
secara terperinci. Yang pertama adalah dokumen asli Portugis yang berasal dari tahun 1522
yang berisi naskah perjanjian dan tandatangan para saksi, dan yang kedua adalah laporan
kejadian yang disampaikan oleh João de Barros dalam bukunya "Da Asia", yang dicetak
tidak lama sebelum tahun 1777/78.

Menurut sumber-sumber sejarah ini, raja Sunda menyambut hangat kedatangan


orang Portugis. Saat itu Prabu Surawisesa telah naik tahta menggantikan ayahandanya dan
Barros memanggilnya "raja Samio". Raja Sunda sepakat dengan perjanjian persahabatan
dengan raja Portugal dan memutuskan untuk memberikan tanah di mulut Ciliwung sebagai
tempat berlabuh kapal-kapal Portugis. Selain itu, raja Sunda berjanji jika pembangunan
benteng sudah dimulai maka beliau akan menyumbangkan seribu karung lada kepada
Portugis. Dokumen kontrak tersebut dibuat rangkap dua, satu salinan untuk raja Sunda dan
satu lagi untuk raja Portugal; keduanya ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522.

Pada dokumen perjanjian, saksi dari Kerajaan Sunda adalah Padam Tumungo,
Samgydepaty, e outre Benegar e easy o xabandar, maksudnya adalah "Yang Dipertuan
Tumenggung, Sang Adipati, Bendahara dan Syahbandar Sunda Kelapa". Saksi dari pihak
Portugis, seperti dilaporkan sejarawan Porto bernama João de Barros, ada delapan orang.
Saksi dari Kerajaan Sunda tidak menandatangani dokumen, mereka melegalisasinya
dengan adat istiadat melalui "selamatan". Sekarang, satu salinan perjanjian ini tersimpan di
Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Pada hari penandatangan perjanjian tersebut, beberapa bangsawan Kerajaan Sunda


bersama Enrique Leme dan rombongannya pergi ke tanah yang akan menjadi tempat
benteng pertahanan di mulut Ci Liwung. Mereka mendirikan prasasti, yang disebut Luso-
Sundanese padrão, di daerah yang sekarang menjadi Kelurahan Tugu di Jakarta Utara.
Adalah merupakan kebiasaan bangsa Portugis untuk mendirikan padrao saat mereka
menemukan tanah baru. Padrao tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Portugis gagal untuk memenuhi janjinya untuk kembali ke Sunda Kalapa pada tahun
berikutnya untuk membangun benteng dikarenakan adanya masalah di Goa/India.

Perjanjian inilah yang memicu serangan tentara Kesultanan Demak ke Sunda


Kelapa pada tahun 1527 dan berhasil mengusir orang Portugis dari Sunda Kelapa pada
tanggal 22 Juni 1527. Tanggal ini di kemudian hari dijadikan hari berdirinya Jakarta.

Gagal menguasai pulau Jawa, bangsa Portugis mengalihkan perhatian ke arah timur
yaitu ke Maluku. Melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan para pemimpin
lokal, bangsa Portugis mendirikan pelabuhan dagang, benteng, dan misi-misi di Indonesia
bagian timur termasuk pulau-pulau Ternate, Ambon, dan Solor. Namun demikian, minat
kegiatan misionaris bangsa Portugis terjadi pada pertengahan abad ke-16, setelah usaha
penaklukan militer di kepulauan ini berhenti dan minat mereka beralih kepada Jepang,
Makao dan Cina; serta gula di Brazil.

Kehadiran Portugis di Indonesia terbatas pada Solor, Flores dan Timor Portugis
setelah mereka mengalami kekalahan dalam tahun 1575 di Ternate, dan setelah penaklukan
Belanda atas Ambon, Maluku Utara dan Banda. Pengaruh Portugis terhadap budaya
Indonesia relatif kecil: sejumlah nama marga Portugis pada masyarakat keturunan Portugis
di Tugu, Jakarta Utara, musik keroncong, dan nama keluarga di Indonesia bagian timur
seperti da Costa, Dias, de Fretes, Gonsalves, Queljo, dll. Dalam bahasa Indonesia juga
terdapat sejumlah kata pinjaman dari bahasa Portugis, seperti sinyo, nona, kemeja, jendela,
sabun, keju, dll.

E. Perlawanan Rakyat Terhadap Portugis


Setelah Malaka dapat dikuasai oleh Portugis 1511, maka terjadilah persaingan dagang
antara pedagang-pedagang Portugis dengan pedagang di Nusantara. Portugis ingin selalu
menguasai perdagangan, maka terjadilah perlawanan-perlawanan terhadap Portugis.
Perlawanan tersebut antara lain:
1) Perlawanan di Aceh terhadap Portugis
Sejak Portugis dapat menguasai Malaka, Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat dalam
dunia perdagangan. Para pedagang muslim segera mengalihkan kegiatan perdagangannya
ke Aceh Darussalam. Keadaan ini tentu saja sangat merugikan Portugis secara ekonomis,
karena Aceh kemudian tumbuh menjadi kerajaan dagang yang sangat maju. Melihat
kemajuan Aceh ini, Portugis selalu berusaha menghancurkannya, tetapi selalu menemui
kegagalan. Keberhasilan Aceh untuk memperhatankan diri dari ancaman Portugis
disebabkan:
a. Aceh berhasil bersekutu dengan Turki, Persia, dan India.
b. Aceh memperoleh bantuan kapal, prajurit, dan makanan dari pedagang muslim di
Pulau Jawa.
c. Kapal Aceh dilengkapi persenjataan yang cukup baik dan prajurit yang tangguh.
Di antara raja-raja Kerajaan Aceh yang melakukan perlawanan adalah:
1) Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1528)
Berhasil membebaskan Aceh dari upaya penguasaan bangsa Portugis
2) Sultan Alaudin Riayat Syah (1537–1568)
Berani menentang dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Johor.
3) Sultan Iskandar Muda (1607–1636)
Raja Kerajaan Aceh yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda.
Pada tahun 1615 dan 1629, Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di
Malaka. Usaha-usaha Aceh Darussalam untuk mempertahankan diri dari ancaman
Portugis antara lain:
a) Aceh berhasil menjalin hubungan baik dengan Turki, Persia, dan Gujarat (India),
b) Aceh memperoleh bantuan berupa kapal, prajurit, dan makanan dari beberapa
pedagang muslim di Jawa,
c) kapal-kapal dagang Aceh dilengkapi dengan persenjataan yang cukup baik dan prajurit
yang tangguh,
d) meningkatkan kerja sama dengan Kerajaan Demak dan Makassar.
Permusuhan antara Aceh dan Portugis berlangsung terus tetapi sama-sama tidak berhasil
mengalahkan, sampai akhirnya Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641. VOC bermaksud
membuat Malaka menjadi pelabuhan yang ramai dan ingin menghidupkan kembali
kegiatan perdagangan seperti yang pernah dialami Malaka sebelum kedatangan Portugis
dan VOC.
Kemunduran Aceh mulai terlihat setelah Iskandar Muda wafat dan penggantinya adalah
Sultan Iskandar Thani (1636–1841). Pada saat Iskandar Thani memimpin Aceh masih
dapat mempertahankan kebesarannya. Tetapi setelah Aceh dipimpin oleh Sultan
Safiatuddin 91641–1675) Aceh tidak dapat berbuat banyak mempertahankan
kebesarannya.
2) Ternate melawan Portugis
Pada awalnya Portugis diterima dengan baik oleh raja setempat dan diijinkan mendirikan
benteng, namun lama-kelamaan, rakyat Ternate mengadakan perlawanan.
Perlawanan ini terjadi karena sebab-sebab berikut ini:
a. Portugis melakukan monopoli perdagangan.
b. Portugis ikut campur tangan dalam pemerintahan.
c. Portugis ingin menyebarkan agama Katholik, yang berarti bertentangan dengan agama
yang telah dianut oleh rakyat Ternate.
d. Portugis membenci pemeluk agama Islam karena tidak sepaham dengan mereka.
e. Portugis sewenang-wenang terhadap rakyat.
f. Keserakahan dan kesombongan bangsa Portugis.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka kehendak Portugis ditolak oleh raja Ternate.
Rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun bersatu dengan Tidore melawan Portugis,
sehingga Portugis dapat didesak. Pada waktu terdesak, Portugis mendatangkan bantuan
dari Malaka dipimpin oleh Antoni Galvo, sehingga Portugis mampu bertahan di Maluku.
Pada tahun 1565, rakyat Ternate bangkit kembali di bawah pimpinan Sultan Hairun.
Portugis berusaha menangkap Sultan Hairun, namun rakyat bangkit untuk melawan
Portugis dan berhasil membebaskan Sultan Hairun dan tawanan lainnya. Akan tetapi
Portugis melakukan tindakan licik dengan mengajak Sultan Hairun berunding. Dalam
perundingan, Sultan Hairun ditangkap dan dibunuh. Perlawanan rakyat Ternate dilanjutkan
di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan Hairun). Pada tahun 1574 benteng
Portugis dapat direbut, kemudian Portugis menyingkir ke Hitu dan akhirnya menguasai
dan menetap di Timor-Timur sampai Tahun 1975.
3) Perlawanan Kerajaan Demak
Untuk menyingkirkan Portugis dari Malaka, Pangeran Sabrang Lor atau Dipati
Unusmenghimpun dan mengirimkan pasukan dari Jawa,Makasar,Lampung dan bekerjasama
dengan kerajaan Aceh untuk merebut pelabuhan Malaka namun gagal karena kalah
persenjataan bahkan Dipati Unus tertembak namun masih selamat sampai di Jawa. Untuk
menghalangi kekuasaan Portugis atas Jawa pengganti Dipati Unus yaitu Sultan
Trenggonomemperluas kekuasaan ke Jawa Barat dan Jawa Timur.Tetapi Pasuruan dan
Blambangan tidak berhasil ditaklukkan

G. Pengaruh Kedatangan Portugis ke Indonesia

Zaman kekuasaan colonial Portugis yang berlangsung dari tahun 1511-1641 di


wilayah Indonesia meninggalkan bekas-bekasnya di dalam kebudayaan Indonesia saat ini.
Peninggalan-peninggalan zaman kolonial Portugis baik yang berupa yang berupa
kebudayaan rohani maupun jasmani masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

Semboyan dari penjelajahan bangsa Portugis, yaitu berusaha untuk menyebarkan


agama Katolik pada daerah-daerah yang dikuasainya. Fransiscus Xaverius, seorang
misionaris, telah meyebarluaskan agama Katolik di Ambon. Banyak orang Ambon yang
akhirnya memeluk agama Katolik dan terlihat dari nama-namanya yang meniru nama-
nama bangsa Portugis seperti, De Pereira, De Fretes, Lopies, De Quelju, Diaz, dan
sebagainya.

Benda-benda peninggalan bangsa Portugis kemudian dianggap keramat oleh bangsa


Indonesia seperti meriam-meriam yang terkenal dengan nama Nyai Setomi di Solo, Si
Jagur di Jakarta, Ki Amuk di Banten dan sebagainya. Khusus meriam Si Jagur yang
terdapat di Jakarta dianggap sebagai alat perantara kekuatan gaib untuk mendapatkan anak.

Pengaruh lainnya seperti bahasa Portugis yang turut memperkaya jumlah kata-kata
dalam bahasa Indonesia, seperti kata San Domingo (Tuhan yang keramat), gereja,
mentega, mona (dari kata madona), sinyo (dari kata signor) dan sebagainya. Adapun seni
musik yang digemari oleh masyarakat Indonesia adalah seni musik keroncong yang berasal
dari seni musik Portugis. Keroncong berbahasa Portugis yang pernah terkenal di Indonesia
adalah keroncong Morisco.

H. PERIODE KEJAYAAN PORTUGIS DI NUSANTARA

Periode 1511-1526 selama 15 tahun Nusantar menjadi pelabuhan maritim kerajaan


Portugis yang secara reguler menjadi rute menuju pulau sumatra, jawa, banda, dan maluku.
Pada tahun 1511 portugis mengalahkan kerajaan Malaka.
Pada tahun 1512 portugis melakukan perjanjian d gang berupa lada terhadap kerajaan
Sunda
Pada tahun 1512 juga pasukan Antonio albreu dan Francissco serao mencari jalan ke
tempat asal rempah di maluku, mereka singgah di Madura, Bali, dan Lombok.