Anda di halaman 1dari 44

(Dadi Santoso, S.Kep.Ns) (Sudarmanto,S.Kep.Ns.

CCWA)
BAB I
PENDAHULUAN
FIBROADENOMA MAMMAE
A. PENGERTIAN
1. Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak yang merupakan pertumbuhan yang
meliputi kelenjar dan stroma jaringan ikat.
2. Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak pada payudara yang bersimpai jelas,
berbatas jelas, soliter, berbentuk benjolan yang dapat digerakkan.
B. TANDA & GEJALA
1. Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih keabu-abuan, pada
penampang tampak jaringan ikat berwarna putih, kenyal
2. Ada bagian yang menonjol ke permukaan
3. Ada penekanan pada jaringan sekitar
4. Ada batas yang tegas
5. Bila diameter mencapai 10 – 15 cm muncul Fibroadenoma raksasa ( Giant
Fibroadenoma )
6. Memiliki kapsul dan soliter
7. Benjolan dapat digerakkan
8. Pertumbuhannya lambat
9. Mudah diangkat dengan lokal surger
Dokumen.tips
Login / Signup

 Leadership
 Technology
 Education
 Marketing
 Design
 More Topics

 Search

1. Home
2. Documents
3. Askep Bedah Fam Febri Edit

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF


FIBROADENOMA MAMMAE DI INSTALASI BEDAH SENTRAL
RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Peminatan Bedah
Program Studi Sarjana Keperawatan
Diajukan Oleh :
Nama : Febri Alifianto
NIM : A1.0900519
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
2013
Lembar Pengesahan Laporan
ASUHAN KEPERAWATAN
FIBROADENOMA MAMMAE DI INSTALASI BEDAH SENTRAL
RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG
Telah disetujui pada :
Hari :
Tanggal :
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan
(Dadi Santoso, S.Kep.Ns) (Sudarmanto,S.Kep.Ns.CCWA)
BAB I
PENDAHULUAN
FIBROADENOMA MAMMAE
A. PENGERTIAN
1. Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak yang merupakan pertumbuhan yang
meliputi kelenjar dan stroma jaringan ikat.
2. Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak pada payudara yang bersimpai jelas,
berbatas jelas, soliter, berbentuk benjolan yang dapat digerakkan.
B. TANDA & GEJALA
1. Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih keabu-abuan, pada
penampang tampak jaringan ikat berwarna putih, kenyal
2. Ada bagian yang menonjol ke permukaan
3. Ada penekanan pada jaringan sekitar
4. Ada batas yang tegas
5. Bila diameter mencapai 10 – 15 cm muncul Fibroadenoma raksasa ( Giant
Fibroadenoma )
6. Memiliki kapsul dan soliter
7. Benjolan dapat digerakkan
8. Pertumbuhannya lambat
9. Mudah diangkat dengan lokal surgery
10. Bila segera ditangani tidak menyebabkan kematian
C. ETIOLOGI
Fibroadenoma mammae ini terjadi akibat adanya kelebihan hormon estrogen.
Biasanya ukurannya akan meningkat pada saat menstruasi atau pada saat hamil
karena produksi hormon estrogen meningkat. Secara histology fibroadenoma
mammae dapat dibagi menjadi :
1. Intracanalicular fibroadenoma Yaitu fibroadenoma pada payudara yang secara
tidak teratur dibentuk dari pemecahan antara stroma fibrosa yang mengandung
serat jaringan epitel.
2. Pericanalicular fibroadenoma Fibroadenoma pada payudara yang menyerupai
kelenjar atau kista yang dilingkari oleh jaringan epitel pada satu atau banyak
lapisan.
Sedangkan fibroadenoma mammae dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu :
1. Common fibroadenoma.
2. Giant fibroadenoma umumnya berdiameter lebih dari 5 cm.
3. Juvenile fibroadenoma pada remaja.
Faktor-faktor predisposisi :
a. Usia : < 30 tahun
b. Jenis kelamin
c. Geografi
d. Pekerjaan
e. Hereditas
f. Diet
g. Stress
h. Lesi prekanker
D. PATOFISIOLOGI
Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada
masa reproduksi yang disebabkan oelh beberapa kemungkinan yaitu akibat
sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga kelainan
ini sering digolongkan dalam mamary displasia.
Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus
yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan di sekitarnya. Pada gambaran
histologis menunjukkan stroma dengan proliferasi fibroblast yang mengelilingi
kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan bentuk dan ukuran yang
berbeda. Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu :
1. Fibroadenoma Pericanaliculare
Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa
lapis.
2. Fibroadenoma intracanaliculare
Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar
berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau
menghilang.
Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran sedikit dan pada
saat menopause terjadi regresi.
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Biopsi
2. Pembedahan
3. Hormonal
4. PET ( Positron Emision Tomografi )
5. Mammografi
6. Angiografi
7. MRI
8. CT – Scan
9. Foto Rontqen ( x – ray )
10. Blood Study
F. PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI
1. Faktor-faktor resiko
2. Pemerikasaan payudara sendiri
3. Pemeriksaan klinik
4. Mammografi
5. Melaporkan tanda dan gejala pada sumber/ahli untuk mendapat perawatan.
G. PENATALAKSANAAN
Terapi fibroadinoma mammae adalah eksisi dengan anastesi lokal. Bila penderita muda,
dan lesi kecil, diagnosa dapat ditegakkan dengan aspirasi jarum halus, bila penderita tidak
menginginkan biopsi dengan eksisi. (sampai kini belum ada publikasi ilmiah tentang
penyelidikan terhadap fibroadinoma, yang tetap dibiarkan tanpa tindakan, hal ini harus
diberitahukan kepada penderita yang menolak pembedahan).
Fibroadinoma yang lebih besar (lebih dari 2 cm) harusdiangkat, karena dapat
menyebabkan nyeri, dan dapat bertumbuh terus.3 Prognosis dari fibroadinoma mammae
adalah baik, bila diangkat dengan sempurna, tetapi bila masih tertapat jaringan sisi dari hasil
operasi dapat kambuh kembali.
Terapi untuk fibroadenoma tergantuk dari beberapa hal sebagai berikut:
1. Ukuran
2. Terdapat rasa nyeri atau tidak
3. Usia pasien
4. Hasil biopsy
Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi pengangkatan
tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada operasi ini. Operasi ini
tidak akan merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya akan meninggalkan luka atau
jaringan parut yang nanti akan diganti oleh jaringan normal secara perlahan.
H. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Download
of 39

Askep Bedah Fam Febri Edit


by febri-zii-alfiantz

on Aug 10, 2015

Report

Category:

Documents
Download: 6

Comment: 0

1,096

views

Share

Comments

Description

askep fam
Download Askep Bedah Fam Febri Edit

Transcript

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF FIBROADENOMA MAMMAE DI INSTALASI


BEDAH SENTRAL RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG Guna Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Peminatan Bedah Program Studi Sarjana Keperawatan Diajukan Oleh : Nama NIM :
Febri Alifianto : A1.0900519 PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES
MUHAMMADIYAH GOMBONG 2013
Lembar Pengesahan Laporan ASUHAN KEPERAWATAN FIBROADENOMA MAMMAE DI
INSTALASI BEDAH SENTRAL RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG Telah disetujui
pada : Hari Tanggal : : Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan (Dadi Santoso, S.Kep.Ns)
(Sudarmanto,S.Kep.Ns.CCWA)
BAB I PENDAHULUAN FIBROADENOMA MAMMAE A. PENGERTIAN 1. Fibroadenoma
adalah suatu tumor jinak yang merupakan pertumbuhan yang meliputi kelenjar dan stroma
jaringan ikat. 2. Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak pada payudara yang bersimpai jelas,
berbatas jelas, soliter, berbentuk benjolan yang dapat digerakkan. B. TANDA & GEJALA 1.
Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih keabu-abuan, pada penampang tampak
jaringan ikat berwarna putih, kenyal 2. 3. 4. 5. Ada bagian yang menonjol ke permukaan Ada
penekanan pada jaringan sekitar Ada batas yang tegas Bila diameter mencapai 10 – 15 cm
muncul Fibroadenoma raksasa ( Giant Fibroadenoma ) 6. 7. 8. 9. Memiliki kapsul dan soliter
Benjolan dapat digerakkan Pertumbuhannya lambat Mudah diangkat dengan lokal surgery 10.
Bila segera ditangani tidak menyebabkan kematian C. ETIOLOGI Fibroadenoma mammae ini
terjadi akibat adanya kelebihan hormon estrogen. Biasanya ukurannya akan meningkat pada saat
menstruasi atau pada saat hamil karena produksi hormon estrogen meningkat. Secara histology
fibroadenoma mammae dapat dibagi menjadi :
1. Intracanalicular fibroadenoma Yaitu fibroadenoma pada payudara yang secara tidak teratur
dibentuk dari pemecahan antara stroma fibrosa yang mengandung serat jaringan epitel. 2.
Pericanalicular fibroadenoma Fibroadenoma pada payudara yang menyerupai kelenjar atau kista
yang dilingkari oleh jaringan epitel pada satu atau banyak lapisan. Sedangkan fibroadenoma
mammae dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu : 1. Common fibroadenoma. 2. Giant
fibroadenoma umumnya berdiameter lebih dari 5 cm. 3. Juvenile fibroadenoma pada remaja.
Faktor-faktor predisposisi : a. b. c. d. e. f. g. h. Usia : < 30 tahun Jenis kelamin Geografi
Pekerjaan Hereditas Diet Stress Lesi prekanker D. PATOFISIOLOGI Fibroadenoma merupakan
tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada masa reproduksi yang disebabkan oelh
beberapa kemungkinan yaitu akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap
estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia. Fibroadenoma
biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah
digerakkan dari jaringan di sekitarnya. Pada gambaran histologis menunjukkan stroma dengan
proliferasi fibroblast yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan
bentuk dan ukuran yang berbeda. Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu : 1.
Fibroadenoma Pericanaliculare
Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa lapis. 2.
Fibroadenoma intracanaliculare Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga
kelenjar berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau menghilang.
Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran sedikit dan pada saat menopause
terjadi regresi. E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Biopsi Pembedahan
Hormonal PET ( Positron Emision Tomografi ) Mammografi Angiografi MRI CT – Scan Foto
Rontqen ( x – ray ) 10. Blood Study F. PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI 1. 2. 3. 4. 5.
Faktor-faktor resiko Pemerikasaan payudara sendiri Pemeriksaan klinik Mammografi
Melaporkan tanda dan gejala pada sumber/ahli untuk mendapat perawatan. G.
PENATALAKSANAAN Terapi fibroadinoma mammae adalah eksisi dengan anastesi lokal. Bila
penderita muda, dan lesi kecil, diagnosa dapat ditegakkan dengan aspirasi jarum halus, bila
penderita tidak
menginginkan biopsi dengan eksisi. (sampai kini belum ada publikasi ilmiah tentang
penyelidikan terhadap fibroadinoma, yang tetap dibiarkan tanpa tindakan, hal ini harus
diberitahukan kepada penderita yang menolak pembedahan). Fibroadinoma yang lebih besar
(lebih dari 2 cm) harusdiangkat, karena dapat menyebabkan nyeri, dan dapat bertumbuh terus.3
Prognosis dari fibroadinoma mammae adalah baik, bila diangkat dengan sempurna, tetapi bila
masih tertapat jaringan sisi dari hasil operasi dapat kambuh kembali. Terapi untuk fibroadenoma
tergantuk dari beberapa hal sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Ukuran Terdapat rasa nyeri atau tidak Usia
pasien Hasil biopsy Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi
pengangkatan tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada operasi ini. Operasi
ini tidak akan merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya akan meninggalkan luka atau jaringan
parut yang nanti akan diganti oleh jaringan normal secara perlahan. H. ASUHAN
KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Sistem Integumen. 1) Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis,
ulkus. 2) Inspeksi kemerahan & gatal, eritema. 3) Perhatikan pigmentasi kulit. 4) Kondisi gusi,
gigi, mukosa & lidah b. Sistem Gastrointestinalis 1) Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat
ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi. 2) Observasi perubahan
keseimbangan cairan & elektrolit 3) Kaji diare & konstipasi 4) Kaji anoreksia 5) Kaji : jaundice,
nyeri abdomen kuadran atas kanan
c. Sistem Hematopoetik. 1) Kaji Netropenia Kaji tanda infeksi Auskultasi paru Perhatikan batuk
produktif & nafas dispnoe Kaji suhu 2) Kaji Trombositopenia : < 50.000/m3 – menengah, <
20.000/m3 – berat 3) Kaji Anemia Warna kulit, capilarry refill Dispnoe, lemah, palpitasi, vertigo
d. Sistem Respiratorik & Kardiovaskular 1) Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe,
kering, batuk non produktif – terutama bleomisin 2) Kaji tanda CHF 3) Lakukan pemeriksaan
EKG e. Sistem Neuromuskular 1) Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik 2) Perhatikan
adanya parestesia 3) Evaluasi refleks 4) Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki 5) Kaji gangguan
pendengaran 6) Diskusikan ADL f. Sistem genitourinari 1) Kaji frekwensi BAK 2) Perhatikan
bau, warna, kekeruhan urine 3) Kaji : hematuria, oliguria, anuria 4) Monitor BUN, kreatinin 2.
Rencana Keperawatan a. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan syaraf, suplay
vaskularisasi atau efek samping therapy/tindakan, ditandai dengan : DS :
 Klien mengeluhkan rasa nyeri  Meringis karena nyeri (facial mask of pain)  Lemah dan
istirahat kurang DO :  Gangguan tonus otot  Gangguan prilaku  Respon autonomic Nyeri
berkurang/dapat teratasi dengan kriteria :  Melaporkan rasa nyeri yang sudah teratasi (rasa nyeri
berkurang)  Dapat mongontrol ADLs seminimal mungkin.  Dapat mendemontrasikan
keterampilan relaksasi dan aktivitas diversional sesuai situasi individu. Independent : 1) Kaji
riwayat nyeri seperti lokasi; frekwensi ; durasi dan intensitas (skala 1 – 10) dan upaya untuk
mengurangi nyeri. 2) Beri kenyamanan dengan mengatur posisi klien dan aktivitas diversional.
3) Dorong penggunaan stress management seperti tehnik relaksasi, visualisasi, komunikasi
therapeutik melalui sentuhan. 4) Evaluasi/Kontrol berkurangnya rasa nyeri. Sesuaikan pemberian
medikasi sesuai kebutuhannya Kolaborasi : 1) Kembangkan rencana management penanganan
sakit dengan klien dan dokter 2) Beri analgetik sesuai indikasi dan dosis yang tepat. b. Gangguan
ganbaran diri (body image) berhubungan dengan tindakan pembedahan ditandai dengan : DS : 
Verbalisasi perubahan pola hidup.  Reaksi ketakutan dan menolak perubahan pada bagian
tubuh.  Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
 Perasaan/pandangan negatif terhadap tubuh  Mengungkapkan keputusasaan. 
Mengungkapkan ketakutan ditolak  Mengungkapkan kelemahan DO :  Menolak untuk melihat
dan menyentuh bagian tubuh yang berubah  Mengurangi kontak sosial  Pre okupasi dengan
bagian tubuh/fungsi tubuh yang hilang  Menolak penjelasan perubahan tubuh  Tidak mau turut
bertanggung jawab dalam perawatan diri Gambaran diri berkembang secara positif dengan
kriteria :  Mengerti tentang perubahan pada tubuh.  Menerima situasi yang terjadi pada dirinya.
 Mulai mengembangkan mekanisme koping pemecahan masalah.  Menunjukkan penyesuaian
terhadap perubahan.  Dapat menerima realita.  Hubungan interpersonal adekuat. Independent :
1) Diskusi dengan klien tentang diagnosa dan tindakan guna membantu klien agar dapat aktif
kembali sesuai ADLs. 2) Review/antisipasi efek samping kaitan dengan tindakan yang dilakukan
termasuk efek yang mengganggu aktivitas seksual 3) Dorong untuk melakukan diskusi dan
menerima pemecahan masalah dari efek yang terjadi. 4) Beri informasi/konseling sesering
mungkin. 5) Beri dorongan/support psikologis. 6) Gunakan sentuhan perasaan selama melakukan
interaksi (pertahankan kontak mata) Kolaborasi : 1) Refer klien pada kelompok program tertentu.
2) Refer pada sumber/ahli lain sesuai indikasi.
c. Resiko tinggi gangguan integritas jaringan/kulit berhubungan dengan efek treatment. Integritas
jaringan/kulit adekuat dengan kriteria :  Indentifikasi intervensi pada kondisi-kondisi khusus. 
Partisipasi aktif dalam tehnik guna pencegahan komplikasi/ meningkatkan penyembuhan.
Independent : 1) Kaji kondisi kulit dari efek samping : robekan, penyembuhan lambat. 2) Dorong
klien untuk tidak menggaruk area yang terkena gangguan. 3) Sarankan klien untuk menghindari
pemakaian cream kulit, salep dan powder jika bukan order/ijin dari dokter atau perawatnya. 4)
Atur posisi sesuai kebutuhan. Kolaborasi : 1) Administrasi pemberian antidote sesuai indikasi. 2)
Berikan therapi kompres hangat dan dingin sesuai petunjuk. d. Kurang pengetahuan (kebutuhan
belajar) tentang penyakit, prognosis dan tindakan yang dibutuhkan berhubungan dengan
informasi yang kurang, interpretasi yang keliru, ditandai dengan : DS :  Bertanya tentang
masalah yang dirasakannya.  Meminta informasi tentang keadaan penyakitnya.  Mengatakan
konsepsi yang keliru tentang penyakitnya. DO :  Tidak mengenal prognosa dan tindakan yang
dilakukan.  Tidak tahu dampak bila tidak dilakukan tindakan pembedahan. Klien mengenal dan
mengetahui informasi penyakit, prognosa, dan tindakan yang perlu dilakukan dengan kriteria : 
Mengatakan keakuratan dari informasi yang didapat tentang diagnosa, tindakan dan kesiapan
/penerimaan diri atas perawatan.  Dapat membenarkan prosedur yang dibutuhkan. 
Menjelaskan dan merespon tindakan yang dilakukan.  Mengindentifikasi / menggunakan
sumber /ahli dengan tepat.
 Berpartisipasi pada kegiatan perawatan dan pengobatan. Independent : 1) Review tentang hal-
hal yang khusus mengenai diagnosa, alternatif tindakan dan harapan mendatang dengan persepsi
yang adekuat. 2) Jelaskan, beri gambaran dan kaji persepsi klien tentang neoplasma dan
penanganannya. Kaitkan dengan pengalaman dari klien yang sama. 3) Jelaskan dan tanya klien
untuk komunikasi (umpan balik) dan mengkoreksi konsepsi yang keliru tentang penyakit yang
dideritanya. 4) 5) 6) Review medikasi secara khusus dan cara-cara penggunaan obat. Jelaskan
cara perawatan kulit khususnya area incisi post neoplasma. Dorong klien untuk menggunakan
sumber / ahli guna mengontrol status kesehatannya. 7) Lakukan pre discharge planning sesuai
indikasi.
DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi
Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata. Carpenito, Lynda
Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku
Kedokteran EGC. Jakarta. Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.
(terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Engram, Barbara. (1998). Rencana
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah.
Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media
Aescullapius. (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Unair &
RSUD dr Soetomo Surabaya
BAB II TINJAUAN KASUS A. PENGKAJIAN 1. Biodata Pasien a. Nama b. Umur c. Jenis
Kelamin d. Pekerjaan e. No Register f. Alamat g. Dx Medis h. Tanggal Oprasi 2. Penanggung
Jawab a. b. c. d. e. Nama Umur Alamat Pekerjaan Hubungan : Ny. D : 32 tahun : Klirong 3/1
klirong, kebumen : Wiraswasta : Saudara : Ny. L : 25 tahun : Perempuan : Guru : 235001 :
Klirong 3/1 klirong, kebumen : FAM : 19 – 01 - 2013
3. Riwayat Kesehatan a. Keluhan Utama Benjolan di payudara sebelah kiri b. Riwayat Penyakit
Sekarang Ps. Datang ke Poli bedah pukul 10.00 WIB dengan keluhan ada benjolan di payudara
kiri, pasien terlihat gelisah dan menahan sakit, warna kulit pucat. c. Riwayat Penyakit Dahulu Ps.
belum pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. d. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak
ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama. Keluarga tidak mempunyai penyakit
keturunan dan menular. 4. Pola Fungsional Virginia Henderson a. Kebutuhan bernafas Sebelum
sakit : pasien mampu bernafas dengan normal dan adekuat Saat dikaji : RR 20x/menit, tidak ada
retraksi dinding dada, tidak ada cuping hidung b. Kebutuhan nutrisi Sebelum sakit : pasien
makan 3x sehari dengan nasi dan lauk pauk. Saat dikaji c. : pasien mau makan dengan porsi
sedang. Kebutuhan eliminasi
Sebelum sakit : pasien biasa BAB 1x sehari dan BAK 4-5x sehari Saat dikaji d. : pasien tidak
terpasang DC kateter. Kebutuhan gerak dan keseimbangan Sebelum sakit : pasien tidak memiliki
kecacatan sehingga mampu bergerak dengan seimbang Saat dikaji : selama sakit tidak ada
gangguan pergerakan e. Kebutuhan istirahat dan tidur Sebelum sakit : pasien biasa tidur dari jam
21. 00 samapi 05. 30 WIB atau tidur siang 1- 2 jam Saat dikaji : pasien tidur 7- 8 jam f.
Kebutuhan berpakaian Sebelum sakit : pasien mampu berpakaian sendiri Saat dikaji : pasien
mampu berpakaian sendiri g. Kebtuhan mempertahankan suhu tubuh dan temperature Sebelum
sakit : pasien mampu mempertahankan suhu tubuhnya, memakai jaket bila dingin dan memakai
kaos kaki. Saat dikaji : suhu badan pasien 35,50 C, hanya memakai baju operasi dan terpasang
infuse RL 30 tpm. h. Kebutuhan personal hygiene Sebelum sakit : pasien biasa mandi 2x sehari,
gosok gigi 2x sehari, dan keramas 2x seminggu Saat dikaji : mandi terakhir tadi pagi. i.
Kebutuhan rasa nyaman dan aman
Sebelum sakit : pasien merasa nyaman saat badannya sehat Saat dikaji j. : pasien merasa tidak
nyaman karena adanya benjolan. Kebutuhan komunikasi dengan orang lain Sebelum sakit :
pasien dapat berbicara dengan jelas dan baik. Saat dikaji : pasien masih dapat diajak bicara,
menjawab jika ditanya, dan suara jelas k. Kebutuhan spiritual Sebelum sakit : pasien mampu
beribadah dengan baik Saat dikaji : pasien mampu menjalankan ibadah l. Kebutuhan bekerja
Sebelum sakit : pasien biasa kesekolah tiap hari Saat dikaji : pasien tidak dapat mengerjakan
pekerjaan m. Kebutuhan rekreasi Sebelum sakit : pasien terkadang berjalan- jalan dengan
saudara dan teman – temannya. Saat dikaji n. : pasien hanya bisa tiduran di Rumah Sakit
Kebutuhan belajar Sebelum sakit : pasien belajar dari televisi, radio, Koran, dll Saat dikaji :
pasien mendapat informasi dari dokter dan perawat 5. Pemeriksaan a. Keadaan umum Kesadaran
: Compos Metis
Vital Sign : TD 130/80 mmHg RR 20x/menit N S 85x/menit 35,50 C b. Pemeriksaan Fisik 1)
Kepala mesochepal, rambut hitam, bersih, tidak ada lesi, tidak ada benjolan 2) Mata sklera
anikterik, konjungtiva ananemis, pupil isokor 3) Hidung tak ada benjolan, tidak ada sumbatan
jalan nafas 4) Mulut mukosa bibir lembab, lidah bersih, tidak ada stomatitis 5) Leher tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada lesi, tak ada pembearan vena jugularis 6) Thorax I: tidak
ada jejas, tidak ada retraksi dada, tidak ada penggunaan otot bantu nafas P: tidak ada nyeri tekan
P: paru sonor A: paru vesikuler
7) Abdomen I: tak ada jejas, ada benjolan dibagian dada sinistra A: peristaltik : 8x/m P: tidak ada
benjolan P: abdomen 8) Genetalia terpasang DC ukuran 18 9) Ekstremitas atas: terpasang IVFD
RL 30tpm, akral hangat, CRT 2 detik, tidak ada jejas bawah: tak ada jejas, CRT 2 detik, akral
hangat, 6. Persiapan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Leukosit Eritrosit
Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit Gol Darah 7,34 4,89 13,8 41,2 84,3 28,2
33,5 331 B Hasil Satuan 10ˆ3 / uL 10ˆ6 / uL g / dL % fL Pg g/ dL 10ˆ3 / uL Nilai Normal 4,80 -
10,80 4,70 – 6.10 14.0 – 18.0 42.0 – 52.0 79.0 – 99,0 27,0 – 31,0 33,0 – 37,0 150 – 450 -
7. Persiapan Pasien a. b. c. d. e. f. g. h. Cairan parenteral Kebersihan colon lambung Pencukuran
daerah operasi : Infus RL 500 CC : Puasa (6 jam) : Belum Kompres daerah operasi dengan kassa
alcohol : Tidak Pengosongan kandung kemih : pasien sudah BAK, produksi urin normal Latihan
Baju operasi Inform Consent : Pasien sudah diajari nafas dalam : Sudah : Sudah B. ANALISA
DATA DAN INTERVENSI a) Pre Operasi  Analisa Data No Waktu .1. Data Fokus Subjektif 
Klien mengatakan nyeri  P: nyeri bertambah ketika beraktivitas dan berkurang ketika istirahat 
Q: nyeri seperti di tonjok  R: inguinalis sinistra  S: 7  T: 3jam. Objektif  Pasien terlihat
gelisah Masalah Nyeri Etiologi agen cedera fisik
menahan nyeri, ada benjolan di inguinalis sinistra  TD: 170/70 mmHg  N: 75x/mnt  S: 37,2 C
 RR: 22 x/menit 2 Subyektif : -Klien mengatakan takut Takut defisit pengetahuan tentang
pasrah jalannya operasi menghadapi operasi -Klien mengatakan dalam menghadapi operasi
-Klien menanyakan tentang keberhasilan operasi -Klien khawatir kalau operasinya gagal
Obyektif : -Pasien terlihat gugup -Pandangan diam -Pasien terlihat tegang ketika akan operasi
TD: 170/70 mmHg dipindah ke kamar kosong ketika  Rumusan Masalah Keperawatan: a.
Nyeri b.d agen cedera fisik. b. Takut b.d defisit pengetahuan tentang jalannya operasi
 Rencana Intervensi No 1. Diagnosa Nyeri b.d agen cedera fisik Tujuan Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil: 
Skala nyeri berkurang menjadi 2  Pasien tampak tenang dan rileks  Pasien dapat beristirahat
dengan tenang Intervensi  Pantau tanda-tanda vital serta kaji skala nyeri  Anjurkan pasien
untuk bedrest  Atur posisi pasien senyaman mungkin  Ajarkan tehnik nafas dalam  Kolaborasi
untuk pemberian analgetik 2. Takut b.d defisit pengetah uan tentang jalannya operasi Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan cemas berkurang dengan kriteria
hasil: - Pasien tidak gelisah - Pasien bisa beristirahat dengan tenang a. Awasi respon fisiologis,
misal : takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, sensasi kesemutan. b. Dorong pernyataan takut
dan ansietas : berikan umpan balik. c. Berikan informasi akurat, nyata tentang apa yang
dilakukan, misal : sensasi yang diharapkan, prosedur biasa d. Dorong orang terdekat tinggal
dengan pasien, berespon terhadap tanda panggilan dengan cepat. Gunakan sentuhan dan kontak
mata dengan cepat e. Tunjukkan teknik relaksasi,
contoh : visualisasi, latihan napas dalam, bimbingan imajinasi f. Berikan obat sesuai dengan
indikasi, misal : Diazepam (valium),klurazepat (Tranxene), alprazolan (Xanax) 
IMPLEMENTASI No. Tanggal /jam 1 26-12-2012 Jam 09.15 wib IMPLEMENTSI Menjelaskan
informasi tentang prosedur, sensasi yang biasanya dirasakan ketika operasi RESPON PASIEN
Koopertif 2 Memberikan informasi yang factual terkait diagnosis, perawatan, dan prognosis
Kooperatif 3 Mengintruksikan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi Kooperatif 4
Menyediakan pengalihan seperti music Koperatif Mengurangi rangsangan yang berlebihan
dengan Kooperatif
menyediakan lingkungan yang tenang, untuk mengurangi nyeri Ajarkan teknik distraksi
relaksasi.  Evaluasi Sumatif No.DX SOAP Subyektif : pasien mengatakan tidak takut dengan
tindakan 1. operasi yang akan dilakukan Paraf Obyektif : Pasien tidak terlihat tegang Pasien
tidak banyak bertanya tentang keberhasilan operasi Assessment : Masalah takut sudah teratasi
Planning : Hentikan intrvensi b) Intra Operasi  Persiapan 1) Pasien Posisi pasien TD Nadi :
Supinasi : 130/73mmHg : 66X/menit
RR Suhu Pemasangan 2) Alat :18x/menit : 36 C : bed side monitor a.Set Hernia NO 1. 2. 3. 4. 5.
6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Nama Alat Ovarium klem 122 Stick mes
besar BB 84 Gunting benang H26 Gunting GRM BMC Gunting bengkok kecil CW Pincet
anatomis 050 Pincet anatomis 027 Pincet sirlugis 557 Duk klem german Nald pouder 235 Nald
pouder 0104 Klem bengkok 145 Klem bengkok kecil 111 Klem bengkok germany Klem SHM
12 Klem lurus germany Kocher bengkok 213 Bengkok Kom selang 1 1 1 2 1 1 1 2 5 1 1 5 2 5 2
2 1 1 1 1 Jumlah
a. Linen Nama linen Baju operasi Duk besar rapat Duk lubang besar Duk lubang kecil jumlah 4 1
2 2 b. Alat habis pakai No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kassa Na Cl Bisturi no 22 Betadin Alcohol
Benang side 2 Benang plan Hepavik Waslap Nama alat/ bahan Jumlah 50 lembar 2 flabot 1
100cc 100cc 50 cm 100 cm 20 cm 1 1. Pelaksanaan Asisten/Instrumen No . 1. Disinfeksi daerah
operasi Alkohol, klem panjang, betadin, kom 2 buah 2. Penutupan area operasi (draping) Duk
besar(2), duk lubang(1), duk sedang (2), duk klem 4 Tindakan Peralatan yang Disiapkan
3. Insisi lokasi operasi Skapel dan bisturi, pinset anatomis, kasa kering 4. 5. 6. 7. Mengkater
pembuluh darah Mengedep perdarahan Memisahkan jaringan Pengangkatan fasia Cutter, klem
arteri Kasa kering, klem arteri Ohak dan hak kecil Koker dan klem 8. Pengangkatan kantong
hernia Pinset sirurgis, pinset anatomi, klem, gunting Kasa gulung 9. Mengikat kantong hernia
dengan kasa gulung 10. Penjahitan bassini Side 2, nailholder, jarum dalam kecil, gunting 11.
Heating peritoneum Cooker, nailpuder, jarum, plan (2/0), gunting, klem arteri, kasa 12. Heating
otot Cooker, nailpuder, jarum, plan (2/0), gunting, klem arteri, kasa 13. Heating fasia Cooker,
nailpuder,jarum, polysorb, 0, gunting, klem arteri. Kasa 14. Heating subcutis Cooker, nailpuder,
jarum, plan (2/0), gunting, klem, kasa 15. Heting kulit Cooker, nailpuder, jarum, cide (2/0).
Gunting, klem, kasa 16. 17. Disinveksi araea jahitan Penutupan area operasi Betadine, kasa, kom
Kasa kering 2, kasa+betadine 2, hepafix 18. Merapihkan alat dan
melepas duk 19. Memindahkan pasien Duk sedang, bed  Analisa Data No Waktu 1 26-122012
Jam 9.45 wib Objektif :  Insisi ±10 cm  Perdarahan ± 400cc  TD : 125/88 mmHg  N :
94x/menit  RR : 22x/menit Data Fokus Subjektif : Masalah Resiko syok Etiologi Proses
pembedahan  Rumusan Masalah Keperawatan Resiko syok b.d Proses Pembedahan  Rencana
Intervensi No Diagnosa 1 Resiko syok b.d Proses pembedahan Tujuan Intervensi Setelah
dilakukan tindakan 1. Kaji KU klien keperawatan keperawatan selama operasi diharapkan
perdarahan tidak terjadi. 2. Kaji tanda-tanda vital 3. Pantau status cairan input dan output klien 4.
Kolaborasi pemberian obat anti syok dan perdarahan .
C. Post Operasi  Analisa Data A. Pengkajian  Pengkajian primer A (Airway) B (Breathing) C
(Circulation) TD 130/75 mmHg.  Pengkajian sekunder Kesadaran pasien TD Nadi Pemeriksaan
fisik : Compos Metis : 120/75 mmHg. : 80X/menit : : Tidak Ada sumbatan Jalan Nafas : Suara
nafas vesikuler, RR : 20X/menit : Tidak ada sianosis, kapilery revil < 2 detik, Kepala : Bentuk
mesocepal, tidak ada benjolan, distribusi rambut baik dan bersih, Mata : Sklera unikterik,
konjungtifa tidak anemis, mata simetris. Hidung : Bersih, distribusi rambut baik, tidak ada nafas
cuping hidung. Mulut : mukosa lembab, gigi bersih, tidak ada pembesaran tonsil. Telinga :
simetris, tidak ada serumen, pendengaran baik.
Leher Dada : tidak ada JVP. : Bentuk dada normal, payudara simetris, tidak ada masa, ekspansi
dada normal, tidak ada otot bantu nafas. Abdomen : Terdapat balutan luka insisi diinferior
umbilikalis sebelah dekstra Genetalia : Tidak ada penyakit kelamin, tidak ada rambut, terpasang
DC. Ekstremitas : Tangan kanan terpsang infuse RL, ekstremitas lengkap, pasien belum bisa
mengangkat kedua tungkai kaki B. Jenis anestesi : Sepinal anestesi C. Pemeriksaan Bromage
Score No. Kriteria Nilai Normal 1. 2. 3. 4. Gerakan penuh di tungkai Tidak mampu ekstensi
tungkai Tidak mampu fleksi lutut 0 1 2 1 Hasil Tidak mampu fleksi pergelangan 3 kaki D. Nilai
masuk 6, nilai keluar 5.  Analisa data Data fokus Masalah Etiologi DS: - Resiko mual Anestesi
pasca
DO: Pasien terlihat lemas Mata klien terlihat cekung Membran mukosa lembab Bromage score 1
operasi  Rencana Intervensi No Diagnosa 1. Resiko Mual b.d anestesi pasca operasi Tujuan
Setelah perawatan post Intervensi dilakukan 1.Pantau gejala subyektif operasi mual pada pasien
diruang RR masalah mual 2.Ajarkan kepada pasien dapat teratasi. Kriteria hasil : -Tidak cekung
-Tidak terjadi rasa haus yang tidak normal -Membrane lembap -Pasien melaporkan terdapat
menelan secara sadar atau nafas dalam untuk menekan reflex muntah. mata 3..Naikan bagian
kepala tempat tidur atau letakan pada posisi lateral untuk mencegah aspirasi 4.Pindahkan segera
mukosa benda-benda yang menimbulkan bau terbebas dari mual 1.
 Implementasi No DX 1. 26-12-2012 jam Memantau 10.40 wib subyektif pasien mual gejala
Kooperatif pada Tanggal/ jam Implementasi Respon pasien Paraf Mengajarkan kepada
Kooperatif pasien menelan secara sadar atau nafas dalam untuk muntah Menaikan bagian kepala
Kooperatif tempat tidur atau letakan pada posisi lateral untuk mencegah aspirasi menekan reflex
Memindahkan benda-benda menimbulkan bau segera Kooperatif yang
 Evaluasi Sumatif No.DX Tanggal/ jam 26-12-2012 1. jam wib SOAP Subyektif : Pasien
mengatakan rasa mualnya Paraf 10.45 sudah sedikit berkurang Obyektif : -Tidak terjadi rasa
haus yang tidak normal -Membrane mukosa lembap Assessment : Masalah mual sudah teratasi
sebagian Planning intervensi : Lanjutkan dan modifikasi
BAB IV PEMBAHASAN Hernia adalah ketidak normalan tubuh berupa tonjolan yang disebakan
karena kelemahan pada dinding otot abdomen. 1. DIAGNOSA Keperawatan Pengkajian
dilakukan pada saat Pasien masuk IGD RSUD Kebumen jam 23.00WIB dengan keluhan dari jam
20.00WIB ada benjolan di selangkangan, pasien terlihat karena menahan sakit, warna kulit pucat,
hasil pemeriksaan ada benjolan kemerahan di daerah inguinal dapat dimasukan kembali. Dari
hasil pemeriksaan dokter didapat diagnosa hernia inguilnalis sinestra kemudian dilakukan
operasi hernoiraphy. 2. IMPLEMENTASI Dari hasil pengkajian dapat dianalisa diagnosa
keperawatan yang muncul pada pre operasi di IBS RSUD Kebumen adalah takut b.d Defisit
pengetahuan tentang jalanya operasi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x10 menit
pasien terlihat lebih rileks. Pada Intra operasi muncul diagnosa Resiko Perdarahan b.d Proses
pembedahan, setelah dilakukan tindakan tidak terjadi perdarahan yang hebat. Pada saat post
operasi muncul diagnosa mual b.d anestesi pasca pembedahan , setelah dilakukan tindakan
keperawatan mual muntah tidak terjadi. 3. IMPLEMENTASI dan Evaluasi Implementasi
dilakukan berdasarkan diagnosa dan rencana keperawatan dan sekaligus dilakukan evaluasi
tindakan
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Pada Pre ditemukan masalah keperawatan nyeri b.d
agen cedera fisik, takut b.d defisit pengetahuan tentang jalan nya. 2. Pada Intra ditemukan
masalah keperawatan resiko perdarahan b.d proses perdarahan. 3. Pada post ditemukan masalah
keperawatan resiko mual b.d anestesi pasca pembedahan B. SARAN 1. Dalam mempersiapkan
pasien yang akan dilakukan operasi sebaiknya semua persipan pre operasi benar-benar
dipersipakan secara maksimal, guna mencegah terjadinya komplikasi pembedahan. 2. Pasien/
keluarga pasien yang sudah dioperasi sebaiknya diberi pendidikan kesehatan terkait perawatan
post operasi. 3. Kerja sama team bedah perlu ditingkatkan guna tercapainya model praktek
professional di ruang IBS.
DAFTAR PUSTAKA Smeltzer (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner &
suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC Wilkinson, Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan
Dengan Intervensi NIC dan Kriteria NOC. Jakarta : EGC
http://www.wartamedika.com/2008/02/hernia-inguinalis.html Kamis 10 Februari 2011 pukul
22.10 WIB http://www.klikdokter.com/illness/detail/74 Kamis 10 Februari 2011 pukul 22.40
WIB
LAMPIRAN A. Latihan Nafas Dalam 1. Tahap pra interaksi a. Cek program terapi b. Cuci
tangan 2. Tahap orientasi a. Memberi salam sebagai pendekatan terapeutik b. Menjelaskan tujuan
dan prosedur tindakan kepada pasien c. Menanyakan persetujuan kesiapan pasien 3. Tahap kerja
a. Membaca tasmiyah dan menjaga prifasi pasien b. Mempersiapkan pasien c. Meminta pasien
meletakan satu tangan didada dan satu tangan di abdomen d. Melatih pasien melakukan nafas
perut (menarik nafas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup) e.
Meminta pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung) f.
Meminta pasien menahan nafas hingga 3 hintungan g. Meminta pasien menghembuskan nafas
perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut bibir seperti meniup)
h. Meminta pasien merasakan mengempisnya abdomen dan kontraksi dari otot i. Menjelaskan
pada pasien untuk latihan ini bila merasa mual atau sesak nafas j. Merapikan pasien 4. Tahap
terminasi a. Melakukan evaluasi tindakan b. Membaca tahmid dan berpamitan pada pasien c.
Mencuci tangan
X

Recommended

Guia para la Futura Ex-esposa

Recomendaciones y consideraciones para aquellas mujeres que ya han tomado la decisión de


enfrentar un proceso de divorcio.

contoh proposal

contoh

TEKS MC PENUTUPAN

TEKS PENGACARA PERASMIAN PENUTUPAN PERKHEMAHAN DAN ANAK ANGKAT


SEBAGAI PROGRAM BINA INSAN GURU PERINGKAT IPG KPM TARIKH : 14.07.2011
TEMPAT : KG. SEBALING SEBATU BIL CUE…
Lokasi AES - Had Laju

LOKASI PEMASANGAN KAMERA AES UNTUK MENGESAN HAD LAJU NEGERI :


PERLIS Lokasi Bil. 1 JALAN KURUNG BATANG, KANGAR, PERLIS 2 KM 15 JALAN
KANGAR-PADANG BESAR 3 JALAN TAMBUN TULANG…

Anarquismo para principiantes

Lokasi AES - Lampu Isyarat

LOKASI PEMASANGAN KAMERA AES DI LAMPU ISYARAT NEGERI : PERLIS Bil.


Lokasi 1 JALAN RAJA SYED ALWI 2 BOHOR LATEH JALAN KANGAR-ALOR SETAR 3
L/ISYARAT JALAN BINTONG/JALAN PADANG…
contoh proposal usaha

contoh proposal usaha

contoh laporan keuangan

lapooran keuangan

Slide vsi

1. www.LeaderVSI.com 2. FOUNDER & OWNER: YUSUF MANSUR J A K A RTA , 1 9 D E S


E M B E R 1 9 7 6Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Daarul QuranPimpinan pengajian
Wisata…
contoh teks pengacara (Hari Guru)

Invalid document format

View more

Subscribe to our Newsletter for latest news.

About Terms DMCA Contact


STARTUP - Share & Download Unlimited