Anda di halaman 1dari 7

IRIGASI MATA DAN TELINGA

KELOMPOK A
MUSDALIFAH IRAYANTI
NI MA
NOVI DESRIYANI SYARIF
NURFAJRIANI
NURHIDAYAH AMIRUDDIN
NURMIA SARI
NURRAHMI NOVITA FATRAH
RAHMADANI
RAHMIYANTI
RAODATUL JANNAH
REZKI FBRIANTI JUFRI
RIDHA ANUGRAH

PROGRAM STUDI D.IV KEPERAWATAN MAKASSAR POLITEKNIK


KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

2017
PEMBAHASAN MATERI

A. PENGERTIAN IRIGASI MATA


1. Definisi
Irigasi mata adalah suatu cara untuk membersihkan dan atau mengeluarkan
benda asing dari mata. Irigasi mata diberikan untuk mengaluarkan sekret atau
kotoran dan benda asing dan zat kimia dari mata. Larutan garam fisiologis atau RL
biasa dipergunakan karena merupakan larutan isotonik yang tidak merubah
komposisi elektrolit yang diperlukan mata. Bila hanya memerlukan sedikit cairan,
kapas steril dapat dipergunakan untuk meneteskan cairan kedalam mata.

2. Indikasi
Irigasi okuler diindikasikan untuk menangani berbagai inflamasi konjungtiva,
mempersiapkan pasien untuk pembedahan mata, dan untuk mengangkat sekresi
inflamasi. Juga dipergunakan untuk efek antiseptiknya. Irigan yang dipakai
bergantung pada kondisi pasien.
Indikasinya yaitu:
a. Cidera kimiawi pada mata
b. Benda asing dalam mata
c. Implamasi mata
3. Kontraindikasi
Luka karna tusukan pada mata
4. Prinsip Kerja
a. Pesiapan Pasien
 Beri tahu informasi tentang rencana tindakan dengan komunoikasi
teurapetik
 Atur posisi pasien sesuai kebutuhan dengan memperhatikan kenyamanan
dan privacy klien.
b. Alat irigasi terdiri atas:
 Botol irigasi berisi larutan oftalmik steril (Blinx, Dacrios)
 Mangkuk lengkung kecil
 Sarung tangan
 Kapas untuk menyerap cairan dan eksresi
 Dispenser plastik dengan penutup dan label untuk tempat larutan
5. Prosedur kerja:
a. Tahap Pra Interaksi
 Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
 Mencuci tangan
 Meletakan alat – alat di dekat pasien dengan benar
b. Tahap Orientasi
 Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
 Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakanpada keluarga / klien
 Menanyakan kesiapan pasien sebelum kegiatan dilakukan
c. Tahap Kerja
 Menjaga privacy
 Posisikan pasien terlentang (supinasi) atau duduk dengan kepala
dicondongkan ke belakang dan sedikit miring ke samping
 Bila pasien diduduk, mangkuk dapat dipegang oleh pasien. Bila pasien
berbaring, letakkan mangkuk di dekat pasien sehingga dapat menampung
cairan dan sekret.
 Perawat berdiri di depan pasien.
 Bersihkan kelopak mata dengan teliti untuk mengangkat debu, sekresi, dan
keropeng (memegang kelopak dengan ibu jari dan satu jari tangan).
 Bilas mata dengan lembut, mengarahkan cairan menjauhi hidung dan
kornea.
 Keringkan pipi dan mata dengan kapas.
d. Tahap Terminasi
 Melakukan evaluasi tindakan
 Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
 Berpamitan dengan klien
 Membereskan alat – alat dan mencuci tangan
 Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
6. Komplikasi
a. Kemungkinan terjadi cidera perforasi pada mata bila irigasi dilakukan dengan
tidak hati-hati
b. Kontaminasi silang pada mata yang sehat bila terdapat infeksi
c. Konjungtiva

B. PENGERTIAN IRIGASI TELINGA


1. Definisi
Irigasi telinga adalah suatu tindakan medis yang bertujuan untukmembersihkan
liang telinga luar dari nanah, serumen, dan benda – benda asing. Irigasi telinga
adalah suatu usaha untuk memasukkan cairan (air hangat kuku) ke dalam telinga.
Tujuan: Untuk membersihkan atau mengeluarkan benda asing dari dalam telinga.

2. Prinsip Kerja
Irigasi telinga dapat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik 50-60-cc
(suntik 20-30-cc untuk anak-anak). Beberapa perawat memilih untuk melampirkan
lubang yang besar IV (intravena) kateter (dengan jarum dihapus) untuk jarum
suntik untuk arah lebih mudah fluida. Dengan menggunakan metode ini, cairan
yang disedot ke dalam jarum suntik dan disemprotkan ke dalam liang telinga.
Metode lain menggunakan larutan IV dan tubing, dengan konektor irigasi telinga
pakai yang pas dan ke atas telinga luar. Bila menggunakan metode ini, IV
diaktifkan dan arus fluida oleh gravitasi ke telinga untuk menciptakan irigasi. Bila
menggunakan metode IV, tas harus sekitar 6 inci (15 cm) atau kurang di atas kepala
pasien untuk menciptakan tekanan fluida yang tepat.
Setelah posisi pasien, daun telinga dari telinga yang terkena dampak harus
diadakan kembali, dan sampai (belakang dan ke bawah untuk bayi). Ujung jarum
suntik atau kateter irigasi harus ditempatkan di pintu masuk ke telinga Jaringan
telinga tidak boleh disentuh. Saluran telinga tidak boleh tersumbat, atau solusi tidak
akan dapat berlari kembali keluar dari telinga Dengan lembut mengarahkan aliran
larutan irigasi terhadap aspek atas dari saluran telinga eksternal, perawat harus
jarum suntik atau menjalankan dalam cairan IV pada tingkat lambat, stabil, yang
memungkinkan cairan untuk melarikan diri keluar dari saluran telinga dan ke
baskom. Jika menggunakan alat PIK gigi, pengaturan terendah harus digunakan..
Mengerahkan terlalu banyak tekanan dapat memaksa benda asing atau oklusi lilin
lebih ke dalam liang telinga. Cairan kembali kemudian harus diperiksa sebelum
jarum suntik diisi ulang-atau setelah 100cc cairan untuk dewasa, dan 30cc cairan
bagi seorang anak. Perawat harus menyelidiki apakah objek lilin atau asing telah
mengguyur dari telinga. Bila oklusi telah dihapus, 500cc cairan irigasi harus
digunakan untuk-dewasa 100cc untuk anak, atau seperti yang diperintahkan oleh
dokter. Prosedur ini harus terputus jika pasien mengeluh sakit atau pusing.

3. Indikasi

a. Untuk mengeluarkan cairan, serumen, bahan-bahan asing dari kanal audiotory


eksternal.
b. Untuk mengirigasi kanal audiotory eksternal dengan lartutan antiseptic.
c. Untuk menghangatkan atau mendinginkan kanal audiotory eksternal.
4. Kontra Indikasi

a. Perforasi membran timpani atau resiko tidak utuh (injurie sekunder,


pembedahan, miringitomi).
b. Terjadi komplikasi sebelum irigasi.
c. Temperatur yg ekstrim panas dapat menyebabkan pusing, mual dan muntah.
d. Bila ada benda penghisap air dalam telinga, seperti bahan sayuran (kacang),
jangan diirigasi karena bahan2 tsb mengmbang dan sulit dikeluarkan.

5. Kemungkinan Komplikasi :

a. Ruptur (pecah) pada membran tympani.Kehilangan pendengaran.


b. Trauma/injury kanal teling dalam.
c. Vertigo, mual, nyeri selama dan setelah prosedur, stop segera bila terjadi,
kemudian ulangi lagi dan pastikan tekanan dan temperatur yang cocok untuk
mencegah berulangnya gejala.
6. Bahaya

a. Infeksi Pecahnya gendang telinga.


b. Ruptur membran timpani.
c. Kehilangan pendengaran.
d. Trauma/injury kanal telinga dalam.

7. Alat dan Bahan


Baki berisi alat – alat yang steril

a. Mangkok kecil berisi cairan dengan suhu 37o c.


b. Semprot telinga.
c. Pinset telinga.
d. Corong telinga.
e. Pemilin telinga.
f. Pengail telinga.
Baki berisi alat – alat yang tidak steril :

a. Bengkok 1 buah.
b. Perlak dan alasnya.
c. Lampu spiritus.
d. Lampu kepala.
e. Kapas dalam tempatnya.
f. Ember kotoran

8. Prosedur Kerja
a. Beritahu tindakan apa yang akan dilakukan kepada klien.
b. Klien diberitahu dalam posisi duduk. Bila klien adalah anak kecil, harus di
pangku sambil dipegang kepalanya.
c. Perlak dan alasnya dipasang pada bahu dibawah telinga yang akan dibersihkan
d. Pasang lampu kepala.
e. Perawat cuci tangan.
f. Bersihkan kotoran telinga dengan kapas, memakai pemilin kapas yang telah di
flamber terlebih dahulu.
g. Berikan bengkok pada pasien dan minta kerjasama pasien untuk memegang
bengkok dengan posisi di bawah telinga.
h. Hisaplah cairan dengan menggunakan semprit dan keluarkan udara dari semprit.
i. Tariklah daun telinga klien ke atas kemudian ke belakang dan dengan tangan
yang lain perawat memancarkan cairan ke dinding atas dari liang telinga.
(Penyemprotan cairan harus perlahan – lahan dan tepat ditujukan ke dinding atas
liang telinga.)
j. Jika sudah bersih, keringkan daun telinga dengan kapas yang telah dipilin dan
di flamber.
k. Lihat atau periksa kembali liang telinga klien apakah sudah bersih atau belum
dengan menggunakan corong telinga
l. Perawat cuci tangan.
m. Bersihkan alat – alat.
n. Tulis hasil dalam catatan keperawatan.

Anda mungkin juga menyukai