Anda di halaman 1dari 112

Situasi Perilaku Berisiko

dan Prevalensi HIV


di Tanah Papua
2006

Hasil STHP Tahun 2006


di Tanah Papua

Kerjasama
Badan Pusat Statistik
dan
Departemen Kesehatan
Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006
Hasil STHP Tahun 2006

ISBN:

No. Publikasi:
Katalog BPS:

Ukuran Buku: 21 cm x 29 cm
Jumlah halaman: 113 halaman

Tim Penyusun:

Pengarah: Arizal Ahnaf, MA


Dr. Nyoman Kandun, MPH
Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH

Editor: Arizal Ahnaf, MA


Drs. Rusman Desiar, MSi
Dr. Pandu Riono, MPH, PhD
Dr. Pandu Harimurti, MPPM

Penulis: Yeane Irmanigrum S., MA


J. B. Priyono, MSc
Drs. Ibram Syahboedin, MA
Togi Siahaan, DpSc
Ir. Purwanto Ruslam
Aang Sutrisna

Asisten Penulis: Diyah Wulandari, SSi

Pengolah Data: Sugih Hartono, SSi


Aang Sutrisna
Guy Morineau

Desain: Gaib Hakiki


Kata Pengantar

Seperti kita ketahui, laporan AIDS dari Papua secara kumulatif sampai dengan akhir
bulan Maret 2007 merupakan kasus AIDS nomor 2 paling tinggi setelah Jakarta. Namun
bila dibandingkan dengan populasi penduduk maka case rate (jumlah kasus/jumlah
penduduk x 100.000) di Papua adalah 60,93 per 100.000 penduduk dan merupakan 15,39
kali lebih tinggi dibandingkan dengan rate nasional (3,96). Sedangkan di Irian Jaya Barat
sebesar 10,24 per 100.000 penduduk atau 2,59 kali lebih tinggi dibandingkan dengan rate
nasional. Hal ini membuat Papua mempunyai proporsi kasus AIDS tertinggi
dibandingkan dengan propinsi lainnya di Indonesia.

Pada tahun 2006 Depkes dan Dinas Kesehatan Tanah Papua bekerjasama dengan,
KPA/KPAD, BPS, dengan didukung oleh World Bank dan USAID – FHI/ASA
melakukan Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) di Tanah Papua, dengan jumlah
sampel kabupaten/kota sebanyak 10 Kabupaten/Kota. STHP ini mengambil kelompok
sasaran yaitu kelompok masyarakat umum, dan dilaksanakan pada bulan September-
Oktober 2006.

Hasil STHP 2006 menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada penduduk Tanah Papua
sebesar 2.4 persen yang menggambarkan tingginya prevalensi HIV pada penduduk
dewasa 15-49 tahun dibandingkan pada penduduk wilayah lain di Indonesia, dan
tampaknya meluas ke semua wilayah Papua. Kondisi ini harus menjadi perhatian kita
semua dan perlu diupayakan strategi penanggulangan HIV dan AIDS secara intensif dan
khusus, agar tidak semakin berlanjut dan menjadi epidemi yang meluas (Generalized
Epidemic) seperti yang terjadi di Sub Sahara Afrika. Kita harus mengambil sikap dan
tindakan seperti yang dilakukan oleh negara tetangga kita, Thailand, yang membuktikan
bahwa upaya komprehensif dan terpadu dengan memobilisasi seluruh sumber daya yang
tersedia, ternyata mampu mengubah jalannya epidemi dan mencegah terinfeksinya
jutaan masyarakat dari HIV dan AIDS.

Saat ini merupakan momentum yang sangat strategis untuk mengaplikasikan “Bringing
Evidence into Action” dengan memanfaatkan Laporan STHP di Tanah Papua ini sebagai
landasan bagi pengembangan Intensifikasi Program Pengendalian HIV dan AIDS di

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 i


Tanah Papua yang komprehensif dan mencapai sasaran yang diharapkan dengan
memobilisasi sumber daya pemerintah pusat, daerah, masyarakat maupun lembaga donor
secara optimal dalam kesatuan gerak untuk melakukan penanggulangan HIV dan AIDS
di Tanah Papua.

Hasil STHP pada masyarakat umum di Tanah Papua ini diharapkan dapat dimanfaatkan
secara optimal dalam penyusunan program-program penanggulangan HIV-AIDS. Sudah
waktunya Pemerintah Pusat maupun Daerah bersama sama dengan semua sektor yang
terkait untuk merencanakan respons yang sesuai dengan gambaran epidemi yang
tergambar dari Hasil Survei tersebut.

Kepada semua pihak yang terlibat dan berkontribusi, baik dalam pelaksanaan Survei
Terpadu HIV dan Perilaku di Tanah Papua maupun dalam penulisan laporan ini, kami
mengucapkan terimakasih yang tak terhingga. Semoga upaya yang sudah kita lakukan ini
memberikan dampak positif bagi upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Tanah Papua
khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
.

Jakarta, April 2007

Departemen Kesehatan RI
Direktur Jenderal PP &PL

Dr. I Nyoman Kandun, MPH

ii
Kata Pengantar

Memperhatikan dugaan cukup tingginya prevalensi HIV/AIDS di kalangan masyarakat


umum di Tanah Papua, maka Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Direktorat
Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2ML) -
Departemen Kesehatan, serta dengan dukungan dana dan teknis dari Bank Dunia dan
Family Health International (FHI) melaksanakan survei perilaku dan surveilans HIV
secara terintegrasi pada pertengahan tahun 2006. Kegiatan ini dirancang untuk mewakili
Tanah Papua, yaitu mencakup Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, dan disebut
“Surveilans Terpadu HIV-Perilaku 2006” (STHP 2006).
Publikasi dengan judul “Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua
2006” ini disusun dari hasil STHP 2006. Publikasi ini memuat antara lain tingkat
pengetahuan dan perilaku berisiko penduduk terhadap penularan HIV, dan perkiraan
prevalensi penderita HIV di Tanah Papua. Sesuai rancangan sampel, tabulasi hasil survei
pada umumnya dapat disajikan menurut 3 (tiga) topografi wilayah, yaitu pegunungan,
pesisir sulit dan pesisir mudah.
Kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya STHP 2006, khususnya
kepada Bank Dunia dan FHI sebagai pendukung dana, dan seluruh anggota tim teknis
BPS, Depkes, Bank Dunia dan FHI yang berperan besar sampai dengan terbitnya
publikasi ini disampaikan penghargaan dan terima kasih. Terima kasih disampaikan pula
kepada Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPA), Komisi Penanggulangan AIDS
Daerah (KPAD), BPS, Dinkes, Universitas Cendrawasih, dan Lembaga Swadaya
Masyarakat lainnya di Tanah Papua yang telah membantu persiapan dan pelaksanaan
kegiatan di daerah.
Semoga publikasi ini memberi manfaat yang berarti bagi upaya pencegahan penularan
HIV/AIDS, khususnya di Tanah Papua.

Jakarta, April 2007

Badan Pusat Statistik


Deputi Bidang Statistik Sosial,

Arizal Ahnaf, MA

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 iii
iv
Daftar Isi

Kata Pengantar i
Daftar Isi v
Daftar Gambar vi
Daftar Tabel viii
Gambar Peta Tanah Papua x

1. Situasi Risiko Penularan HIV di Indonesia dan Papua 1


2. Karakteristik Demografi 3
3. Pengetahuan Tentang HIV/AIDS 9
4. Perilaku Seks 19
5. Perilaku Penggunaan Kondom 27
6. Gejala Infeksi Menular Seksual (IMS) 37
7. Penyalahgunaan Narkoba 43
8. Layanan Voluntary Consulting and Testing (VCT) 45
9. Prevalensi HIV di Papua 49

Kesimpulan dan Saran 57

Lampiran-lampiran:
1. Serologi 63
2. Pemeriksaan Darah 65
3. Metodologi Survei 77
4. Kuesioner STHP06. WANITA 85
5. Kuesioner STHP06. PRIA 97

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 v


Daftar Gambar

Gambar Judul Gambar Halaman


3.1 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Berganti-ganti Pasangan 10
Seks Lebih Mudah Tertular HIV dan Tahu Cara-cara Penularan
HIV menurut Pendidikan yang Ditamatkan
3.2 Persentase Penduduk yang Menyatakan bahwa Menghindari AIDS 13
dengan Cara tidak Makan dari Alat Makan/Minum Penderita
HIV/AIDS menurut Pendidikan yang Ditamatkan
3.3 Persentase Penduduk yang Pernah Menghadiri Pertemuan dan 15
Pernah Mendapatkan Buklet/Pamplet/Komik tentang HIV/AIDS
menurut Pendidikan yang Ditamatkan
4.1 Persentase Penduduk yang Pernah Melakukan Hubungan Seks 20
menurut Hubungan Pertama Kali dan Jenis Kelamin
4.2 Persentase Penduduk Papua yang Seks Pertama Sebelum 15 tahun 20
menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
4.3 Persentase Perilaku Seks Berisiko menurut Jenis Kelamin 21
4.4 Persentase Perilaku Seks dengan Banyak Pasangan Menurut Jenis 22
Kelamin dan Kelompok Umur
4.5 Persentase Penduduk yang Melakukan Hubungan Seks pada Pesta 23
Adat, Seks Antri, dan Seks dalam Perjalanan
4.6 Persentase Penduduk yang Mengkonsumsi Alkohol sebelum 24
Melakukan Hubungan Seks
4.7 Persentase Penduduk yang Melakukan Anal Seks 24
4.8 Persentase Penduduk yang Memaksa/Dipaksa Melakukan 25
Hubungan Seks
5.1 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks 27
Terakhir menurut Jenis Kelamin
5.2 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks 28
Terakhir menurut Pendidikan yang Ditamatkan
5.3 Persentase Penduduk yang Selalu Menggunakan Kondom pada Seks 29
dengan Pasangan Tetap Sebulan Terakhir menurut Pendidikan yang
Ditamatkan
5.4 Persentase Penduduk yang Selalu Menggunakan Kondom pada Seks 30
dengan Pasangan Tidak Tetap Sebulan Terakhir menurut Pendidikan
yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin
5.5 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks 31
dengan Memberi Imbalan menurut Jenis Kelamin
5.6 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks 31
dengan Memberi Imbalan menurut Pendidikan yang Ditamatkan

vi Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Gambar Judul Gambar Halaman
5.7 Persentase Penduduk yang Menyatakan bahwa Kondom Mudah 32
Diperoleh menurut Topografi Wilayah
5.8 Persentase Penduduk yang Mengetahui Sumber Memperoleh 33
Kondom menurut Sumbernya
5.9 Persentase Penduduk yang Mengetahui Sumber Memperoleh 33
Kondom dari Klinik dan Apotik/Toko Obat menurut Topografi
Wilayah
5.10 Persentase Penduduk yang Mengetahui Harga Kondom menurut 34
Topografi Wilayah
5.11 Persentase Penduduk yang Menyatakan bahwa Kondom Mudah 35
Diperoleh menurut Daerah Tempat Tinggal
5.12 Persentase Penduduk yang Mengetahui Sumber Memperoleh 35
Kondom menurut Sumbernya dan Daerah Tempat Tinggal
5.13 Persentase Penduduk yang Mengetahui Harga Kondom menurut 36
Daerah Tempat Tinggal
6.1 Persentase Penduduk menurut Gejala IMS dan Jenis Kelamin 38
6.2 Persentase Penduduk menurut Gejala IMS dan Jumlah Pasangan 38
Seks
6.3 Persentase Penduduk menurut Gejala IMS dan Perilaku Seks 39
dengan Imbalan
9.1 Prevalensi HIV menurut Jenis Kelamin 49
9.2 Prevalensi HIV menurut Topografi Wilayah 50
9.3 Prevalensi HIV menurut Etnis Penduduk 51
9.4 Prevalensi HIV menurut Kelompok Umur 51
9.5 Prevalensi HIV menurut Umur Pertama Kali Berhubungan Seks 52
9.6 Prevalensi HIV menurut Pasangan Seks 53
9.7 Prevalensi HIV menurut Jumlah Pasangan Seks Setahun yang Lalu 53
9.8 Prevalensi HIV menurut Perilaku Seks Imbalan 54
9.9 Prevalensi HIV menurut Riwayat IMS Setahun yang Lalu 54
9.10 Prevalensi HIV Penduduk yang Melakukan Seks dengan Pasangan 55
Tidak Tetap menurut Riwayat Disirkumsisi

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 vii
Daftar Tabel

Tabel Judul Tabel Halaman


2.1 Persentase Sebaran Penduduk menurut Topografi Wilayah, Jenis 3
Kelamin dan Kelompok Umur
2.2 Persentase Sebaran Penduduk menurut Suku, Jenis Kelamin dan 4
Kelompok Umur
2.3 Persentase dan Rata-rata Umur Penduduk menurut Jenis Kelamin dan 4
Kelompok Umur
2.4 Persentase Penduduk menurut Pendidikan yang Ditamatkan, Jenis 5
Kelamin dan Kelompok Umur
2.5 Persentase Penduduk menurut Status Perkawinan, Jenis Kelamin dan 5
Kelompok Umur
2.6 Persentase Penduduk Perempuan menurut Jumlah Kehamilan dan 6
Kelompok Umur
2.7 Persentase Penduduk menurut Jenis Pekerjaan, Jenis Kelamin dan 6
Kelompok Umur
2.8 Persentase Penduduk menurut Golongan Pendapatan per Bulan dan 7
Jenis Kelamin
3.1 Persentase Penduduk yang Pernah Mendapat Informasi tentang 9
HIV/AIDS menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin
3.2 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa AIDS disebab oleh Virus 10
menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin
3.3 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Menggunakan Kondom Dapat 11
Terhindar dari Penularan HIV menurut Pendidikan yang Ditamatkan
dan Jenis Kelamin
3.4 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Setia kepada Satu Pasangan 11
Dapat Terhindar dari Penularan HIV menurut Pendidikan yang
Ditamatkan dan Jenis Kelamin
3.5 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Dengan Tidak Menggunakan 12
Jarum Suntik Bekas Dapat Terhindar dari Penularan HIV menurut
Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin
3.6 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Ada Obat yang dapat 12
Menyembuhkan HIV/AIDS menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan
Jenis Kelamin
3.7 Persentase Penduduk yang Miskonsepsi Mengenai Penularan HIV 13
menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin
3.8 Persentase Penduduk yang Menyatakan bahwa Menghindari AIDS 14
dengan Cara tidak Makan dari Alat Makan/Minum Penderita
HIV/AIDS menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin

viii Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006
Tabel Judul Tabel Halaman
3.9 Persentase Penduduk yang Pernah Mengenal Secara Pribadi Orang 15
yang Terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) menurut Pendidikan yang
Ditamatkan dan Jenis Kelamin
3.10 Persentase Penduduk (Laki-laki) menurut Sikap dan Perilaku 16
Terhadap ODHA dan Pendidikan yang Ditamatkan
3.11 Persentase Penduduk (Perempuan) menurut Sikap dan Perilaku 17
terhadap ODHA dan Pendidikan yang Ditamatkan
3.12 Persentase Penduduk (Laki-laki+Perempuan) menurut Sikap dan 17
Perilaku terhadap ODHA dan Pendidikan yang Ditamatkan
5.1 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks dengan 28
Pasangan Tetap Sebulan Terakhir menurut Pendidikan yang
Ditamatkan dan Jenis Kelamin
5.2 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks dengan 30
Pasangan Tidak Tetap Sebulan Terakhir menurut Pendidikan yang
Ditamatkan dan Jenis Kelamin
5.3 Harga Kondom yang Diketahui Penduduk menurut Topografi Wilayah 34
5.4 Harga Kondom yang Diketahui Penduduk menurut Daerah Tempat 36
Tinggal
6.1 Persentase Penduduk Berdasarkan Tindakan yang Dilakukan Ketika 40
Mengalami Gejala IMS menurut Topografi Wilayah
6.2 Persentase Penduduk Berdasarkan Alasan Mengobati Sendiri Ketika 40
Mengalami Gejala IMS menurut Topografi Wilayah
6.3 Persentase Penduduk Berdasarkan Jenis Obat yang Dipakai Ketika 41
Mengalami Gejala IMS dan Mengobati Sendiri menurut Topografi
Wilayah
6.4 Persentase Penduduk Berdasarkan Fasilitas Kesehatan yang 41
Digunakan pada Saat Terakhir Mengalami Gejala IMS, menurut
Topografi Wilayah
7.1 Persentase Penduduk yang Mengkonsumsi Narkoba menurut Jenis 43
Narkoba dan Topografi Wilayah
8.1 Persentase Penduduk yang Tahu Tempat Tes menurut Topografi 45
Wilayah dan Pendidikan yang Ditamatkan
8.2 Persentase Penduduk yang Pernah Tes HIV, Tes Atas Kemauan 46
Sendiri, dan Menerima Hasil Tes menurut Topografi Wilayah dan
Pendidikan yang Ditamatkan
8.3 Persentase Penduduk yang Pernah Konseling menurut Topografi 47
Wilayah dan Pendidikan yang Ditamatkan

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 ix


GAMBAR PETA TANAH PAPUA

Stratifikasi Wilayah Papua


23

72 27
06 09
07
22
24
25
08
26 71
19
05 03
18 20
21 04 10 11
02
12 16 17

15
PEGUNUNGAN
PESISIR MUDAH
14 13
PESISIR SULIT

01

KODE KABUPATEN/KOTA
01 Merauke 11 Puncak Jaya 21 Kaimana
02 Jayawijaya 12 Mimika 22 Sorong Selatan
03 Jayapura 13 Boven D 23 Raja Ampat
04 Nabire 14 Mappi 24 Tel Bintuni
05 Fak Fak 15 Asmat 25 Tel Wondama
06 Sorong 16 Yahukimo 26 Waropen
07 Manokwari 17 Peg.Bintang 27 Supiori
08 Yapen 18 Tolikara 71 Kota Jayapura
09 Biak N 19 Sarmi 72 Kota Sorong
10 Paniai 20 Keerom

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 x


1
Situasi Risiko Penularan HIV di
Indonesia dan Papua

Situasi Epidemi HIV-AIDS di Indonesia

Tingkat Epidemi HIV di sebagian besar di Indonesia tergolong dalam tingkat


terkonsentrasi pada subpopulasi berisiko tinggi. Data Surveilans Nasional HIV dan AIDS
Departemen Kesehatan, mengindikasikan penularan terus meningkat. Sampai akhir tahun
2006 tingkat epidemi yang dilaporkan tertinggi pada penularan seks komersial adalah
22.8% di Sorong, sedangkan pada penularan akibat penggunaan alat suntik yang tidak
steril lebih dari 50% di Pusat Rehabilitasi Napza RSKO Jakarta dan 68% pada penghuni
Lembaga Pemasyarakatan Bekasi.
Kini Epidemi AIDS sudah meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Pada akhir tahun 2000
hanya 16 provinsi yang melaporkan kasus AIDS, akhir 2003 meningkat menjadi 25
provinsi, kemudian tahun 2006 ada 32 provinsi yang melaporkan kasus AIDS. Data yang
ada mengindikasikan terjadi pula peningkatan jumlah kasus AIDS secara signifikan yang
dilaporkan unit layanan kesehatan.
Laporan kasus AIDS secara kumulatif sampai Desember 2004 ada 2.682 orang, lalu
meningkat 100 persen hanya dalam waktu setahun, tahun 2005 meningkat menjadi 5.321
orang dengan kasus AIDS. Peningkatan kasus AIDS terus terjadi, akhir September 2006
sudah terlaporkan sejumlah 6.871 kasus AIDS.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 1


Situasi Epidemi HIV-AIDS di Papua
Beberapa studi menunjukkan bahwa tingkat epidemi HIV-AIDS di Papua jauh lebih tinggi
dibandingkan wilayah Indonesia lainnya. Jumlah kasus AIDS di Papua jauh lebih banyak
dibandingkan wilayah lainnya. Prevalensi HIV tertinggi pada penjaja seks langsung yang
dilaporkan berasal dari laporan sentinel di Tanah Papua.
Berbagai studi mengindikasikan bahwa perilaku seks pada masyarakat Papua cukup
berisiko. Antara lain, hasil Studi Kualitatif Perilaku Seks di Papua (Uncen, 2002)
mengindikasikan banyak masyarakat Papua yang mempunyai banyak pasangan dan
sebagaian besar memulai hubungan seks pada umur yang muda.
Hasil Survei Perilaku pada pegawai negeri di Jayapura pada tahun 2003 menunjukkan
bahwa sekitar 32 persen pegawai negeri lelaki di Jayapura membeli seks.
Beberapa survei kecil mengindikasikan bahwa kemungkinan penularan HIV sudah meluas
ke masyarakat umum di Papua. Kenyataan tersebut mendorong perlu dilakukan survei
yang besar dan pada populasi umum Papua untuk lebih memahami prevalensi HIV dan
dinamika penularan di Papua
Departemen Kesehatan dan Badan Pusat Statistik -- dengan dukungan KPA nasional, KPA
Papua dan KPA Papua Barat – telah melakukan Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku
Tahun 2006 (STHP2006) pada penduduk Tanah Papua diharapkan dapat memberikan
gambaran lebih nyata tentang perilaku dan penyebaran HIV pada penduduk Papua.
Penduduk Papua yang dimaksud dalam STHP2006 mencakup penduduk yang tinggal di
Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Dukungan dana diperoleh dari USAID --
melalui Proyek Aksi Stop AIDS yang dilaksanakan oleh Family Health International –
serta Bank Dunia.

2 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


2
Karakteristik Demografi

Hasil Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku Tahun 2006 (STHP2006) pada penduduk
Papua diharapkan dapat memberikan gambaran lebih nyata tentang perilaku dan
penyebaran HIV pada penduduk Papua. Penduduk Papua yang dimaksud dalam
STHP2006 mencakup penduduk yang tinggal di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
Pada bab ini akan disajikan beberapa data tentang karakteristik demografi penduduk yaitu
umur, pendidikan, dan status perkawinan.

2.1 Sebaran Penduduk Berdasarkan Topografi Wilayah


Kondisi topografi Tanah Papua dalam STHP2006 dibagi ke dalam 3 (tiga) kategori yaitu
Pegunungan, Pesisir Mudah, dan Pesisir Sulit. Lebih dari 50 persen penduduk tinggal di
Pesisir Mudah, kemudian sekitar 28 persen tinggal di Pegunungan, sisanya sekitar 20
persen tinggal di Pesisir Sulit.
Pola sebaran penduduk menurut topografi wilayah, jenis kelamin, dan kelompok umur
seperti pada Tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1 Persentase Sebaran Penduduk Usia 15-49 Tahun menurut Topografi Wilayah,
Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

Jenis Kelamin Kelompok Umur


Topografi
Wilayah Laki- Perem-
Total 15-24 25-39 40-49 Total
laki puan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Pegunungan 28,5 27,8 28,2 28,1 28,1 28,2 28,2
Pesisir Mudah 50,8 52,0 51,4 51,4 51,4 51,3 51,4
Pesisir Sulit 20,7 20,2 20,4 20,4 20,4 20,5 20,4
Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 3


Pola sebaran penduduk Papua per topografi wilayah menurut jenis kelamin dan kelompok
umur menunjukkan kesamaan.
Karakteristik penduduk berdasarkan etnis, yaitu antara Non Papua dan Papua, menurut
jenis kelamin dan kelompok umur, disajikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Persentase Sebaran Penduduk Usia 15-49 Tahun menurut Etnis, Jenis Kelamin
dan Kelompok Umur

Jenis Kelamin Kelompok Umur


Etnis Laki- Perem-
Total 15-24 25-39 40-49 Total
laki puan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Non Papua 30,8 31,4 31,1 27,8 33,6 30,8 31,1
Papua 69,2 68,6 68,9 72,2 66,4 69,2 68,9

Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

Ada kesamaan pola sebaran penduduk menurut etnis antara penduduk laki-laki dan
penduduk perempuan, di mana penduduk Papua lebih besar dibandingkan Non Papua,
yaitu masing-masing sekitar 69 persen penduduk Papua dan sekitar 31 persen penduduk
Non Papua.

2.2 Umur dan Pendidikan yang Ditamatkan


Batasan umur penduduk yang dicakup dalam STHP2006 adalah 15-49 tahun. Tidak
terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata umur penduduk laki-laki dan penduduk
perempuan, yaitu 30,2 tahun untuk penduduk laki-laki, dan 29,5 tahun untuk penduduk
perempuan. Persentase dan rata-rata umur penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok
umur disajikan pada Tabel 2.3 berikut.

Tabel 2.3 Persentase dan Rata-rata Umur Penduduk Usia 15-49 Tahun menurut Jenis
Kelamin dan Kelompok Umur

Kelompok Umur
Persentase/Rata-rata
Jenis Kelamin
Umur 15-24 25-39 40-49 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Persentase 33,5 44,9 21,6 100,0
Laki-laki
Rata-rata Umur (tahun) 19,5 31,6 44,1 30,2
Persentase 34,2 48,1 17,7 100,0
Perempuan
Rata-rata Umur (tahun) 19,6 31,4 43,7 29,5
Persentase 33,8 46,4 19,7 100,0
Total
Rata-rata Umur (tahun) 19,6 31,5 43,9 29,9

4 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Menurut tingkat pendidikan, penduduk laki-laki yang berpendidikan tamat SLTA dan
Universitas sebesar 32,2 persen, sementara penduduk perempuan untuk tingkat pendidikan
yang sama jumlahnya 26,3 persen. Di sisi lain, masih banyak penduduk yang tidak pernah
sekolah atau tidak tamat SD, yaitu untuk penduduk laki-laki persentasenya sebesar 29,2
persen, sementara untuk penduduk perempuan persentasenya jauh lebih tinggi, yaitu
sebesar 42,3 persen. Persentase penduduk berdasarkan pendidikan yang ditamatkan
menurut jenis kelamin dan kelompok umur disajikan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Persentase Penduduk Usia 15-49 Tahun menurut Pendidikan yang Ditamatkan,
Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

Jenis Kelamin Kelompok Umur


Pendidikan yang
Ditamatkan Laki- Perem-
Total 15-24 25-39 40-49 Total
laki puan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Tidak Sekolah/
29,2 42,3 35,5 31,0 34,4 45,7 35,5
Tidak Tamat SD
SD dan SLTP 38,6 31,4 35,2 42,0 32,0 30,9 35,2
SLTA dan
32,2 26,3 29,4 27,0 33,6 23,4 29,4
Universitas
Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

2.3 Status Perkawinan


Sebanyak 2,5 persen penduduk laki-laki mengaku hidup bersama sedangkan pada
penduduk perempuan yang mengaku hidup bersama jumlahnya mencapai 4,5 persen.
Persentase penduduk yang belum menikah adalah sebesar 32,6 persen untuk laki-laki dan
21,6 persen untuk perempuan. Pada kelompok umur 40-49 tahun ada juga penduduk yang
belum kawin, yaitu sebesar 2,0 persen. Persentase penduduk berdasarkan status
perkawinan, jenis kelamin, dan kelompok umur, disajikan pada Tabel 2.5 berikut.
Tabel 2.5 Persentase Penduduk Usia 15-49 Tahun menurut Status Perkawinan, Jenis
Kelamin dan Kelompok Umur
Jenis Kelamin Kelompok Umur
Status
Perkawinan Laki- Perem-
Total 15-24 25-39 40-49 Total
laki puan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Belum Kawin 32,6 21,6 27,3 63,2 12,0 2,0 27,3
Kawin Negara 33,2 38,0 35,5 13,2 45,0 51,4 35,5
Kawin Adat 29,8 32,4 31,0 19,1 36,4 38,8 31,0
Cerai Hidup 0,8 1,7 1,2 0,9 1,4 1,5 1,2
Cerai Mati 1,0 1,9 1,4 0,2 1,1 4,3 1,4
Hidup Bersama 2,5 4,5 3,4 3,4 4,1 2,0 3,4
Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 5


Untuk penduduk perempuan ditanyakan lebih rinci mengenai riwayat kehamilannya, yaitu
jumlah kehamilan yang pernah dialami, termasuk jumlah kehamilan yang mengalami
keguguran. Pada penduduk perempuan di kelompok umur 15-24 tahun terdapat 8,5 persen
sudah pernah hamil 4 kali atau lebih. Di sisi lain, penduduk perempuan pada kelompok
umur 40-49 tahun yang belum pernah hamil sebesar 4,4 persen.

Tabel 2.6 Persentase Penduduk Perempuan Usia 15-49 Tahun menurut Jumlah Kehamilan
dan Kelompok Umur

Jumlah
15-24 25-39 40-49 Total
Kehamilan
(1) (2) (3) (4) (5)
0 22,5 7,5 4,4 9,9
1 33,1 15,1 7,2 17,1
2 24,5 21,0 11,9 19,7
3 11,4 22,1 18,2 19,0
4+ 8,5 34,3 58,4 34,3
Total 100,0 100,0 100,0 100,0

2.4 Pekerjaan
Persentase terbesar penduduk bekerja sebagai petani, untuk penduduk laki-laki sebesar
40,2 persen, sementara untuk penduduk perempuan sebesar 38,6 persen. Ada perbedaan
yang cukup signifikan untuk jenis pekerjaan “buruh/karyawan”, untuk penduduk laki-laki
mencapai 25,0 persen, sementara untuk penduduk perempuan hanya sebesar 9,5 persen.
Demikian juga penduduk yang “tidak punya pekerjaan”, untuk laki-laki sebesar 20,0
persen, sementara untuk perempuan mencapai 43,2 persen.

Tabel 2.7 Persentase Penduduk Usia 15-49 Tahun menurut Jenis Pekerjaan, Jenis Kelamin
dan Kelompok Umur

Jenis Kelamin Kelompok Umur


Jenis Pekerjaan Laki- Perem-
Total 15-24 25-39 40-49 Total
laki puan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Petani 40,2 38,6 39,4 29,4 43,0 48,3 39,4
Nelayan 6,1 1,6 4,0 3,2 4,0 5,1 4,0
Buruh/Karyawan 25,0 9,5 17,5 10,0 21,4 21,1 17,5
Pedagang 4,4 5,9 5,1 2,9 6,3 6,2 5,1
Lainnya 4,3 1,1 2,8 2,1 3,0 3,4 2,8
Tidak Punya 20,0 43,2 31,2 52,4 22,2 15,8 31,2
Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

6 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Sebagian besar penduduk yang bekerja, baik untuk penduduk laki-laki maupun
perempuan, mempunyai pendapatan antara 101 ribu sampai 500 ribu rupiah. Penduduk
laki-laki persentasenya sebesar 34,0 persen, sementara penduduk perempuan sebesar 28,6
persen. Sebanyak 34,9 persen penduduk tidak mempunyai pendapatan, sebanyak 23,2
persen penduduk laki-laki dan 47,4 persen penduduk perempuan.

Tabel 2.8 Persentase Penduduk Usia 15-49 Tahun menurut Golongan Pendapatan per
Bulan dan Jenis Kelamin

Golongan Pendapatan
per Bulan Laki-laki Perempuan Total
(Ribuan Rupiah)
(1) (2) (3) (4)
Tidak Punya Pendapatan 23,2 47,4 34,9

≤ 100.000 7,7 10,3 9,0


101.000 – 500.000 34,0 28,6 31,4
501.000 – 1.500.000 27,0 10,9 19,2
≥ 1.500.000 8,1 2,7 5,5
Total 100,0 100,0 100,0

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 7


3
Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Pada bab ini dibahas tentang pengetahuan penduduk Tanah Papua terhadap HIV/AIDS.
Pengetahuan yang benar terhadap HIV/AIDS sangat membantu untuk merubah perilaku
berisiko penularan HIV/AIDS.

3.1. Persepsi yang benar terhadap HIV/AIDS


Ada sebesar 51,8 persen penduduk Tanah Papua yang pernah mendengar atau mendapat
informasi tentang HIV/AIDS. Penduduk laki-laki lebih banyak mendapat informasi dari
pada penduduk perempuan, yaitu 55,5 persen berbanding 47,8 persen. Berdasarkan
tingkat pendidikan, terlihat bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi
persentase penduduk yang pernah mendapat informasi tentang HIV/AIDS. Hal ini terjadi
secara konsisten baik pada penduduk laki-laki maupun pada penduduk perempuan.
Penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat SD hanya 26,3 persen yang pernah mendapat
informasi tentang HIV/AIDS sedangkan untuk yang tamat SD dan SLTP sebesar 54,7
persen, dan penduduk yang berpendidikan tamat SLTA ke atas mencapai 79,2 persen.

Tabel 3.1 Persentase Penduduk yang Pernah Mendapat Informasi tentang HIV/AIDS
menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 29,5 23,9 26,3


SD dan SLTP 55,8 53,3 54,7
SLTA dan Universitas 78,7 79,7 79,2
Total 55,5 47,8 51,8

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 9


Penduduk Tanah Papua yang tahu bahwa penyebab AIDS adalah virus sebanyak 41,4
persen. Penduduk laki-laki yang tahu lebih banyak dari perempuan, yaitu 44,0 persen
berbanding 38,6 persen. Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk semakin besar
persentase yang mengetahui bahwa AIDS disebabkan oleh virus, baik pada penduduk laki-
laki maupun penduduk perempuan. Diantara penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat SD
hanya sebanyak 14,2 persen yang tahu HIV/AIDS disebabkan oleh virus, sedangkan dari
yang tamat SD dan SLTP sebesar 41,9 persen, dan yang tamat SLTA ke atas mencapai
73,7 persen.
Tabel 3.2 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa AIDS disebabkan oleh Virus menurut
Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 15,7 13,1 14,2


SD dan SLTP 41,9 41,9 41,9
SLTA dan Universitas 72,1 75,8 73,7

Total 44,0 38,6 41,4

Salah satu penyebab penularan HIV adalah hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan. Ada 46,4 persen penduduk yang tahu bahwa dengan berganti-ganti pasangan
akan mudah tertular HIV. Persentase penduduk laki-laki yang tahu hal ini (49,4 persen)
sedikit lebih tinggi daripada penduduk perempuan (43,1 persen). Menurut tingkat
pendidikan, maka yang tidak sekolah/tidak tamat SD hanya 20,1 persen yang tahu,
sedangkan untuk yang berpendidikan SD dan SLTP 48,8 persen, dan yang tamat SLTA ke
atas mencapai 75,3 persen.
Gambar 3.1
Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Berganti-ganti Pasangan Seks Lebih Mudah
Tertular HIV dan Tahu Cara-cara Penularan HIV menurut Pendidikan yang Ditamatkan

100
90
80 75.3 78.2
70
60
48.8 51.5 46.4 48.9
50
40
30 20.1 22
20
10
0
Tidak Sekolah/Tidak SD dan SLTP SLTA dan Universitas Total
Tamat SD

Tahu ganti-ganti pasangan seks mudah tertular HIV Tahu cara-cara penularan HIV

10 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Penduduk Papua yang mengetahui cara-cara penularan HIV sebesar 48,9 persen.
Persentase penduduk laki-laki yang tahu penularan HIV ini lebih tinggi dari pada
penduduk perempuan yaitu 52,3 persen berbanding 45,1 persen. Berdasarkan tingkat
pendidikan, besarnya persentase penduduk yang tahu cara-cara penularan HIV, untuk yang
tidak sekolah/tidak tamat SD, tamat SD dan SLTP, serta tamat SLTA ke atas masing-
masing sebesar 22,0 persen, 51,5 persen, dan 78,2 persen.
Persentase penduduk yang tahu bahwa menggunakan kondom dapat terhindar dari tertular
HIV sebesar 35,4 persen. Persentase penduduk laki-laki lebih tinggi dari penduduk
perempuan yaitu 38,4 persen berbanding 32,1 persen. Menurut pendidikan, penduduk
yang tidak sekolah/tidak tamat SD hanya 10,6 persen yang tahu, sedangkan penduduk
yang tamat SD dan SLTP 36,2 persen dan penduduk yang lulus SLTA ke atas mencapai
64,4 persen.
Tabel 3.3 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Menggunakan Kondom Dapat
Terhindar dari Penularan HIV menurut Pendidikan yang Ditamatkan
dan Jenis Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 13,8 8,2 10,6


SD dan SLTP 35,7 36,8 36,2
SLTA dan Universitas 64,0 64,8 64,4

Total 38,4 32,1 35,4

Setia terhadap satu pasangan adalah salah satu cara untuk menghindari penularan HIV.
Sebanyak 45,3 persen penduduk Papua tahu bahwa setia terhadap satu pasangan akan
dapat mengindari tertular HIV. Tingkat pengetahuan penduduk terhadap hal ini juga
berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan.
Tabel 3.4 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Setia kepada Satu Pasangan Dapat
Terhindar dari Penularan HIV menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis
Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 22,5 17,3 19,5


SD dan SLTP 48,1 45,9 47,1
SLTA dan Universitas 73,2 75,4 74,2

Total 48,7 41,6 45,3

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 11


Menghindari penggunaan atau pemakaian jarum suntik bekas merupakan salah satu cara
menghindari penularan HIV. Persentase penduduk yang mengetahui bahwa dengan tidak
menggunakan jarum suntik bekas akan terhindar dari penularan HIV sebesar 39,1 persen,
dengan komposisi menurut jenis kelamin adalah 41,3 persen penduduk laki-laki, dan 36,7
persen penduduk perempuan. Tingkat pengetahuan penduduk tentang hal ini menurut
tingkat pendidikan adalah 14,0 persen untuk yang tidak sekolah/tidak tamat SD, 40,3
persen untuk yang tamat SD dan SLTP, dan 68,0 persen bagi yang tamat SLTA ke atas.

Tabel 3.5 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Dengan Tidak Menggunakan Jarum
Suntik Bekas Dapat Terhindar dari Penularan HIV menurut Pendidikan yang
Ditamatkan dan Jenis Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 15,7 12,7 14,0


SD dan SLTP 39,1 41,9 40,3
SLTA dan Universitas 67,0 69,2 68,0

Total 41,3 36,7 39,1

3.2. Persepsi yang Salah tentang HIV/AIDS

Dari penduduk yang pernah mendapat informasi tentang HIV/AIDS sebesar 16,1 persen
berpendapat bahwa ada obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Persentase pada
penduduk laki-laki dan penduduk perempuan adalah 15,2 persen berbanding 17,3 persen.
Pengetahuan tentang adanya obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS penduduk yang
tidak sekolah/tidak tamat SD (14,3 persen), penduduk yang berpendidikan tamat SD dan
SLTP (20,0 persen), serta yang berpendidikan tamat SLTA dan Universitas (13,6 persen).

Tabel 3.6 Persentase Penduduk yang Tahu bahwa Ada Obat yang dapat Menyembuhkan
HIV/AIDS menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 14,5 14,1 14,3


SD dan SLTP 19,7 20,5 20,0
SLTA dan Universitas 11,6 16,2 13,6
Total 15,2 17,3 16,1

12 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Dari penduduk yang pernah mendapat informasi tentang HIV/AIDS sebanyak 52,1 persen
mempunyai pengetahuan dan pendapat yang salah (miskonsepsi) mengenai penularan
HIV. Tidak ada perbedaan persentase yang berarti bila dibedakan menurut jenis kelamin
dan menurut pendidikan.

Tabel 3.7 Persentase Penduduk yang Miskonsepsi Mengenai Penularan HIV menurut
Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 48,9 43,3 46,0


SD dan SLTP 53,6 55,0 54,2
SLTA dan Universitas 52,3 53,9 53,0

Total 52,2 52,0 52,1

Sebanyak 38,4 persen penduduk yang pernah mendapat informasi tentang HIV/AIDS
menyatakan bahwa menghindari penularan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan cara tidak
menggunakan alat makan dan minum penderita HIV/AIDS. Persentase penduduk laki-laki
dan penduduk perempuan sama sekitar 38 persen. Berdasarkan tingkat pendidikan maka
urutan tingkat pengetahuan penduduk tentang hal ini adalah 26,8 persen dari yang tidak
sekolah/tidak tamat SD, 39,4 persen dari yang tamat SD dan SLTP, dan 42,4 persen dari
yang tamat SLTA dan Universitas.

Gambar 3.2
Persentase Penduduk yang Menyatakan bahwa Menghindari AIDS dengan Cara tidak
Makan dari Alat Makan/Minum Penderita HIV/AIDS menurut Pendidikan yang
Ditamatkan

45 42.4
39.4 38.4
40

35

30 26.8
25

20

15

10

0
Tidak Sekolah/Tidak SD dan SLTP SLTA dan Universitas Total
Tamat SD

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 13


3.3. Sumber Informasi tentang HIV/AIDS
Radio dan televisi adalah sumber informasi utama tentang HIV/AIDS kepada masyarakat
di Papua. Kedua media ini digunakan oleh lebih dari 50 persen penduduk sebagai sumber
informasi tentang HIV/AIDS.
Tabel 3.8 Persentase Penduduk yang Mendapatkan Informasi Mengenai HIV/AIDS
menurut Sumber Informasi dan Pendidikan yang Ditamatkan

Tidak Sekolah/ SLTA dan


Sumber Informasi SD dan SLTP Total
Tidak Tamat SD Universitas
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Radio 10,1 26,3 45,2 26,1
2. Televisi 5,0 24,7 53,9 26,3
3. Petugas Kesehatan 12,4 22,7 32,3 21,8
4. Surat Kabar/Brosur 2,1 16,1 42,4 18,9
5. Teman 9,3 18,3 21,4 16,0
6. Tokoh Agama 9,3 11,9 14,8 11,8
7. Guru 2,2 13,2 14,2 9,6
8. Petugas LSM 4,3 8,3 16,7 9,3
9. Anggota Keluarga 6,4 8,8 11,6 8,8
10. Tokoh Adat 3,8 3,9 3,3 3,7
11. Lainnya 0,4 1,9 3,4 1,8

Media lain yang menjadi sumber informasi HIV/AIDS bagi masyarakat Papua adalah
petugas kesehatan. Ada 21,8 persen penduduk yang mendapat informasi tentang
HIV/AIDS dari petugas kesehatan. Kemudian surat kabar/brosur sebesar 18,9 persen,
teman 16,0 persen, tokoh agama 11,8 persen, guru 9,6 persen, petugas LSM dan anggota
keluarga masing-masing 9,3 dan 8,8 persen. Sementara itu, tokoh adat dan lainnya
masing-masing hanya berkontribusi sebesar 3,7 persen dan 1,8 persen sebagai sumber
informasi HIV/AIDS.
Penduduk Papua yang pernah menghadiri pertemuan mengenai HIV/AIDS hanya
16,2 persen. Tidak terdapat perbedaan persentase yang berarti antara penduduk perempuan
dan penduduk laki-laki yang pernah menghadiri pertemuan ini. Makin tinggi pendidikan
makin besar persentase yang menghadiri pertemuan mengenai HIV/AIDS. Hal ini terjadi
baik untuk penduduk laki-laki maupun penduduk perempuan. Dari 16,2 persen yang
pernah menghadiri pertemuan tersebut ada 9 persen yang hanya sekali menghadiri
pertemuan, 4 persen yang pernah menghadiri 2 kali pertemuan, dan 3 persen yang
menghadiri pertemuan 3 kali dan lebih.
Penduduk Papua yang pernah menerima atau mendapatkan buklet/pamlet/komik
tentang HIV/AIDS sebesar 17,0 persen. Persentase penduduk laki-laki yang pernah
menerima atau mendapat buklet/pamlet/komik (18,6 persen) lebih tinggi dari persentase
penduduk perempuan (15,4 persen). Menurut tingkat pendidikan, penduduk yang tidak

14 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


sekolah/tidak tamat SD ada 2,3 persen yang pernah menerima buklet/pamlet/komik, dan
penduduk yang berpendidikan tamat SD dan SLTP sebesar 16,0 persen, sedangkan
penduduk yang berpendidikan tamat SLTA ke atas mencapai 36,1 persen.
Gambar 3.3
Persentase Penduduk yang Pernah Menghadiri Pertemuan dan Pernah Mendapatkan
Buklet/Pamplet/Komik tentang HIV/AIDS menurut Pendidikan yang Ditamatkan

40
36.1
35

30 26.4
25

20 17.0
15.9 16.0 16.2
15

10 8.1

5 2.3

0
Tidak Sekolah/Tidak SD dan SLTP SLTA dan Universitas Total
Tamat SD

Pernah menghadiri pertemuan HIV Pernah mendapat buklet tentang HIV

3.4. Stigmatisasi terhadap ODHA


Penduduk Papua yang mengenal secara pribadi orang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS
(ODHA) sebesar 6,7 persen. Menurut jenis kelamin, persentase penduduk laki-laki yang
mengenal secara pribadi ODHA ada 7,1 persen, sedikit lebih tinggi dari persentase
penduduk perempuan yang mengenal ODHA secara pribadi yaitu 6,3 persen. Menurut
tingkat pendidikan, persentase penduduk yang mengenal ODHA secara pribadi adalah 2,8
persen bagi penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat SD dan 6,5 persen penduduk yang
berpendidikan tamat SD dan SLTP serta 11,7 persen penduduk yang berpendidikan tamat
SLTA ke atas.
Tabel 3.9 Persentase Penduduk yang Pernah Mengenal Secara Pribadi Orang yang
Terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) menurut Pendidikan yang Ditamatkan
dan Jenis Kelamin

Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4)

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 2,9 2,6 2,8


SD dan SLTP 7,3 5,5 6,5
SLTA dan Universitas 10,6 13,2 11,7

Total 7,1 6,3 6,7

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 15


Sikap penduduk Papua yang mengenal ODHA secara pribadi terhadap penderita ini sangat
bervariasi. Sikap yang paling besar persentasenya adalah menjauhi mereka yaitu mencapai
34,3 persen. Persentase penduduk laki-laki yang menjauhi ODHA lebih besar dari
persentase penduduk perempuan (36,7 persen laki-laki dan 31,4 persen perempuan).
Menurut tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan maka semakin rendah persentase
penduduk yang menjauhi ODHA (57,3 persen penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat
SD, 43,2 persen penduduk yang berpendidikan tamat SD dan SLTP, serta 21,8 persen
penduduk yang berpendidikan tamat SLTA ke atas). Hal ini terjadi baik untuk penduduk
laki-laki maupun penduduk perempuan.
Persentase terbesar kedua adalah memperlakukan ODHA sama seperti orang lain yaitu
sebesar 28,3 persen. Persentase penduduk perempuan lebih besar dari pada persentase
penduduk laki-laki yang memperlakukan ODHA sama dengan orang lain (32,1 persen
perempuan dan 25,2 persen laki-laki). Menurut pendidikan, secara umum makin tinggi
pendididikan makin besar persentase yang memperlakukan ODHA sama dengan orang
lain, baik untuk penduduk laki-laki maupun untuk penduduk perempuan. Persentase
penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat SD dan penduduk yang tamat SD dan SLTP
yang memperlakukan ODHA sama dengan orang lain adalah masing-masing 13,6 dan 18,7
persen, sedangkan penduduk yang berpendidikan tamat SLTA ke atas ada 39,0 persen.

Penduduk yang merasa kasihan dengan ODHA ada 20,9 persen dan yang memberi
perhatian khusus sebanyak 16,2 persen. Secara umum persentase penduduk laki-laki untuk
keduanya lebih besar dari persentase penduduk perempuan. Untuk kedua indikator yang
disebutkan terakhir ini pengaruh tingkat pendidikan tidak begitu nyata.

Tabel 3.10 Persentase Penduduk menurut Sikap dan Perilaku Terhadap ODHA dan
Pendidikan yang Ditamatkan
Laki-laki

Tidak
Sikap dan Perilaku SLTA dan
Sekolah/Tidak SD dan SLTP Total
Terhadap ODHA Universitas
Tamat SD

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Menjauh Darinya 56,0 44,7 25,2 36,7


2. Memperlakukan Sama 7,7 17,7 35,9 25,2
Seperti Orang Lain
3. Merasa Kasihan 18,3 21,2 19,4 20,0
Kepadanya
4. Memberikan 18,0 16,5 19,5 18,1
Perhatian Khusus
Total 100,0 100,0 100,0 100,0

16 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Tabel 3.11 Persentase Penduduk menurut Sikap dan Perilaku terhadap ODHA dan
Pendidikan yang Ditamatkan
Perempuan
Tidak
Sikap dan Perilaku SLTA dan
Sekolah/Tidak SD dan SLTP Total
Terhadap ODHA Universitas
Tamat SD
(1) (2) (3) (4) (5)

1. Menjauh Darinya 58,4 40,6 18,3 31,4


2. Memperlakukan Sama 18,5 20,4 42,2 32,1
Seperti Orang Lain
3. Merasa Kasihan 17,3 25,6 22,0 22,1
Kepadanya
4. Memberikan 5,9 13,5 16,6 13,8
Perhatian Khusus
Total 100,0 100,0 100,0*) 100,0
*) sebanyak 0,9 persen tidak menjawab

Tabel 3.12 Persentase Penduduk menurut Sikap dan Perilaku terhadap ODHA dan
Pendidikan yang Ditamatkan
Laki-laki + Perempuan
Tidak
Sikap dan Perilaku SLTA dan
Sekolah/Tidak SD dan SLTP Total
Terhadap ODHA Universitas
Tamat SD
(1) (2) (3) (4) (5)

1. Menjauh Darinya 57,3 43,2 21,8 34,3


2. Memperlakukan Sama 13,6 18,7 39,0 28,3
Seperti Orang Lain
3. Merasa Kasihan 17,7 22,8 20,6 20,9
Kepadanya
4. Memberikan 11,4 15,4 18,1 16,2
Perhatian Khusus
Total 100,0 100,0 100,0*) 100,0
*) sebanyak 0,4 persen tidak menjawab

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 17


4
Perilaku Seks

4.1 Hubungan Seks Berisiko Tinggi Tertular HIV/AIDS

4.1.1 Hubungan Seks dengan Pasangan Tidak Tetap dalam Setahun


Terakhir

Perilaku seks yang berisiko dapat menyebabkan seseorang terinfeksi HIV. Salah satu cara
untuk menghindari terjangkit HIV adalah hanya berhubungan seks dengan satu pasangan
saja. Perilaku seks sebagian kecil penduduk Papua cenderung berisiko untuk dapat
terjangkit HIV. Hal ini tercermin dengan adanya penduduk yang melakukan hubungan
seks dengan pasangan tidak tetap, mempunyai pasangan seks lebih dari satu atau
melakukan hubungan seks dengan imbalan.

Sekitar 82 persen penduduk Papua pernah melakukan hubungan seks. Rata-rata umur
penduduk Papua ketika pertama kali melakukan hubungan seks adalah pada saat berumur
sekitar 19 tahun. Umur pertama kali berhubungan seks perempuan lebih muda dari pada
laki-laki, yaitu 18,8 tahun berbanding 19,5 tahun.

Sebanyak 58,1 persen penduduk menyatakan pasangan seks pertamanya adalah istri/
suami, sedangkan yang melakukan hubungan seks untuk pertama kali dengan teman
perempuan atau teman laki-laki sekitar 40 persen, dan dengan penjaja seks sebesar 1,6
persen. Perbedaan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan ketika pertama
kali melakukan hubungan seks terlihat sangat signifikan. Sekitar 41 persen penduduk laki-
laki untuk pertama kali melakukan hubungan seks dengan istrinya, sedangkan penduduk
perempuan yang pertama kali melakukan hubungan seks dengan suami sekitar 76 persen.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 19


Gambar 4.1
Persentase Penduduk yang Pernah Melakukan Hubungan Seks menurut Hubungan Pertama
Kali dan Jenis Kelamin

100
82.6
90 81.9
80 75.8

70
60 54.7

50 41.4
40
30 23.8
20
10 3.0
0.1
0
Pernah melakukan Seks pertama kali Seks pertama kali Seks pertama kali
hubungan seks dengan istri/suami dengan teman dengan penjaja seks
Laki-laki Perempuan

Ada kecenderungan semakin banyak penduduk dengan usia 15-24 tahun yang melakukan
hubungan seks pertama sebelum usia 15 tahun dibandingkan penduduk dengan kelompok
umur yang lebih tua (Lihat Gambar 4.2). Kecenderungan ini jauh lebih tinggi pada
penduduk perempuan dibandingkan penduduk laki-laki.

Gambar 4.2
Persentase Penduduk Papua yang Seks Pertama Sebelum 15 tahun
menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

9%

8%

7%

6%
PERSEN

5%
Laki-laki
Perempuan
4%

3%

2%

1%

0%
15-24 25-39 40-49
UMUR RESPONDEN SEKARANG

20 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Sebanyak 16,4 persen penduduk Papua melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak
tetap pada setahun terakhir. Penduduk laki-laki lebih banyak yang melakukan hubungan
seks dengan pasangan tidak tetap dibandingkan dengan penduduk perempuan yaitu 25,2
persen berbanding 7,1 persen. Lebih dari 20 persen penduduk laki-laki mengakui punya
pasangan seks lebih dari satu selama setahun terakhir, sedangkan pada penduduk
perempuan hanya sekitar 8 persen.

Gambar 4.3
Persentase Perilaku Seks Berisiko menurut Jenis Kelamin

100
90
80
70
60
50.6
50 41.3
40
30 25.2
21.4
20
7.1 6.3 7.9
10 4.0
0
Hubungan seks dengan Seks dengan menerima Seks dengan memberi Pasangan seks lebih
pasangan tidak tetap imbalan imbalan dari satu
selama setahun terakhir

Laki-laki Perempuan

Perilaku seks dengan imbalan dapat mendorong perluasan penularan HIV melalui kegiatan
seks dengan banyak pasangan dan berganti. Yang dimaksud seks dengan imbalan adalah
hubungan seks yang dilakukan dengan pasangan tidak tetap yang disertai dengan
pemberian atau penerimaan imbalan baik berupa barang maupun uang.
Selama setahun terakhir, dari penduduk yang melakukan hubungan seks dengan pasangan
tidak tetap sebanyak 41,2 persen diantaranya disertai dengan pemberian imbalan pada
pasangan seksnya dan 11,9 persen disertai dengan penerimaan imbalan dari pasangan
seksnya. Penduduk laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan memberi imbalan
pada pasangan seksnya sebesar 50,6 persen dan 4,0 persen yang mendapat imbalan dari
pasangan seksnya. Penduduk perempuan yang melakukan hubungan seks dengan memberi
imbalan pada pasangan seksnya sebesar 6,3 persen dan 41,3 persen yang mendapat
imbalan dari pasangan seksnya.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 21


Gambar 4.4
Persentase Perilaku Seks dengan Banyak Pasangan Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok
Umur
30%
28%

25%
22%
Kelompok
20% Umur
15-24
16% 25-39
15% 40-49
12%

10%
7% 6%
5%

0%
Lelaki Perempuan
Jenis Kelamin

Persen penduduk Papua yang berusia lebih muda ternyata lebih banyak yang memiliki
banyak pasangan seks dibandingkan penduduk yang lebih tua, terutama penduduk laki-laki
(lihat Gambar 4.4)

4.1.2 Hubungan Seks dalam Pesta Adat dan Seks Antri

Pesta adat (diantaranya Bakar Batu dan Emaida) merupakan salah satu kegiatan budaya
yang banyak dihadiri penduduk Papua. Lebih dari 25 persen penduduk laki-laki Tanah
Papua pernah menghadiri pesta adat selama setahun terakhir, sedangkan di antara
penduduk perempuan terdapat sekitar 17 persen yang pernah menghadiri pesta adat dalam
setahun terakhir.

Dalam survei juga ditanyakan kepada responden tentang hubungan seks yang dilakukan
pada saat menghadiri pesta adat. Pertanyaan ini ditujukan untuk mereka yang pernah
melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak tetap selama setahun terakhir. Sebanyak
34,3 persen dari penduduk Papua yang melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak
tetap selama setahun terakhir menyatakan melakukannya pada saat mereka menghadiri
pesta adat; untuk penduduk laki-laki sebesar 30,8 persen, sedangkan untuk penduduk
perempuan sebesar 56,1 persen.

4.1.3 Seks Antri

Hasil studi oleh Universitas Cendrawasih-Jayapura1, menunjukkan adanya perilaku seks


antri pada sebagian penduduk Papua; perilaku seks antri tergolong perilaku berisiko

1
Jack Morin: Gambaran Perilaku Seksual Umum Masyarakat papua, Jayapura 2006

22 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


karena dilakukan dengan banyak pasangan seks. Survei ini juga menanyakan tentang
seks antri. Pertanyaan seks antri hanya ditujukan pada responden yang mengaku pernah
berhubungan seks dengan pasangan lain (selain dengan pasangan tetapnya) dalam setahun
terakhir. Penduduk laki-laki yang melakukan hubungan seks antri selama setahun terakhir
ada sekitar 5,4 persen, sementara penduduk perempuan sebesar 1,7 persen.

4.1.4 Hubungan Seks pada Saat Melakukan Perjalanan ke Luar Daerah

Perjalanan ke luar daerah/kota juga memungkinkan seseorang untuk melakukan hubungan


seks dengan pasangan tidak tetap. Pertanyaan tentang hubungan seks pada saat melakukan
perjalanan ke luar daerah juga ditujukan pada responden yang pernah melakukan
hubungan seks dengan pasangan tidak tetap selama setahun terakhir. Ada sekitar 44
persen penduduk melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak tetap ketika
melakukan perjalanan ke luar daerah/kota, penduduk laki-laki ada 46,4 persen dan
penduduk perempuan dengan persentase lebih rendah, yaitu 31,7 persen.
Gambar 4.5
Persentase Penduduk yang Melakukan Hubungan Seks pada Pesta Adat, Seks Antri dan
Seks dalam Perjalanan
100
90
80
70
60 56.1
46.4
50
40 30.8 31.7
30
20
10 5.4
1.7
0
Hubungan seks pada pesta adat Hubungan seks antri Hubungan seks dalam perjalanan
ke luar kota

Laki-laki Perempuan

4.1.5 Perilaku Minum Beralkohol Sebelum Berhubungan Seks

Pertanyaan mengkonsumsi minum beralkohol ditujukan pada responden yang pernah


melakukan hubungan seks selama setahun terakhir. Penduduk Tanah Papua yang minum
alkohol sebelum hubungan seks hanya 13,6 persen. Penduduk laki-laki yang biasanya
mengkonsumsi minuman beralkohol sebelum melakukan hubungan seks persentasenya
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk perempuan yaitu 7,6 persen berbanding
0,9 persen. Sementara itu, persentase mereka yang selalu mengkonsumsi minuman

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 23


beralkohol sebelum melakukan hubungan seks jumlahnya dibawah 1 persen, yaitu 0,5
persen penduduk laki-laki dan 0,2 persen penduduk perempuan.
Gambar 4.6
Persentase Penduduk yang Mengkonsumsi Alkohol sebelum Melakukan Hubungan Seks
10
9
8 7.6

7
6
5
4
3
2
0.9
1 0.5
0.2
0
Selalu mengkonsumsi alkohol sebelum hubungan Biasa mengkonsumsi alkohol sebelum hubungan
seks seks

Laki-laki Perempuan

4.1.6 Seks Anal


Perilaku seks anal, baik terhadap pasangan tetap maupun pasangan tidak tetap merupakan
salah satu dari perilaku seks berisiko yang dapat menyebabkan tertularnya virus HIV,
apabila dilakukan tanpa menggunakan kondom. Persentase penduduk laki-laki di Papua
yang melakukan hubungan seks anal dengan pasangan tetap sebesar 3,7 persen. Hal yang
sama juga dilakukan oleh penduduk perempuan yaitu sekitar 3,1 persen. Sementara itu,
penduduk yang melakukan hubungan seks anal dengan pasangan tidak tetap sebanyak 7,4
persen untuk penduduk laki-laki dan 6,7 persen untuk penduduk perempuan.
Gambar 4.7
Persentase Penduduk yang Melakukan Anal Seks
8 7.4
6.7
7

5
3.7
4
3.1
3

0
Anal seks dengan pasangan tetap Anal seks dengan pasangan tidak tetap

Laki-laki Perempuan

24 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


4.2. Kekerasan Seksual

4.2.1 Dipaksa Melakukan Hubungan Seks

Dari penduduk yang pernah melakukan hubungan seks selama setahun terakhir, sebanyak
9,2 persen melakukan hubungan seks dengan unsur pemaksaan. Persentase penduduk
pria yang melakukan pemaksaan dalam melakukan hubungan seks sebesar 6,2 persen,
sedangkan penduduk perempuan yang menyatakan mengalami tindakan pemaksaan untuk
melakukan hubungan seks sebesar 12,4 persen. Dari perempuan yang mengalami tindakan
pemaksaan, 84,4 persen dilakukan oleh pasangan tetap, 14,9 persen dilakukan oleh
pasangan tidak tetap, dan 2,1 persen dilakukan oleh sekelompok laki-laki.
Gambar 4.8
Persentase Penduduk yang Memaksa/Dipaksa Melakukan
Hubungan Seks
100

90 84.4

80

70
58.7
60

50
42.0
40

30

20 14.9
12.4
10 6.2
2.1
0
Memaksa/dipaksa Memaksa/dipaksa Memaksa/dipaksa Memaksa/dipaksa
hubungan seks hubungan seks dengan hubungan seks dengan hubungan seks dengan
pasangan tetap pasangan tidak tetap sekelompok pria

Laki-laki Perempuan

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 25


4.3. Sirkumsisi

26 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


5
Perilaku Penggunaan Kondom

Selain berpantang seks dan setia dengan satu pasangan saja, upaya lain untuk pencegahan
terhadap penularan HIV adalah penggunaan kondom pada saat berhubungan seks.

5.1 Penggunaan Kondom pada Seks Terakhir

Penggunaan kondom saat berhubungan seks relatif sangat rendah. Data penggunaan
kondom pada seks terakhir, tanpa membedakan jenis hubungan seks (dengan pasangan
tetap, tidak tetap, atau dengan imbalan), menunjukkan bahwa hanya 2,8 persen penduduk
Papua yang menggunakan kondom. Pada penduduk laki-laki sebesar 3,9 persen,
sedangkan pada penduduk perempuan sebesar 1,7 persen (Gambar 5.1)

Gambar 5.1
Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks Terakhir
menurut Jenis Kelamin
4.5
3.9
4.0
3.5
2.8
3.0
2.5
2.0 1.7
1.5
1.0
0.5
0.0
Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 27


Berdasarkan pendidikan, persentase pengguna kondom saat berhubungan seks terakhir
pada penduduk yang berpendidikan tamat SLTA ke atas adalah sebesar 6,7 persen,
sementara pada penduduk yang berpendidikan tamat SD/SLTP hanya 2,1 persen, dan
dalam persentase yang relatif sangat kecil pada penduduk yang tidak sekolah atau tidak
tamat SD yaitu 0,4 persen (Gambar 5.2).

Gambar 5.2
Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks Terakhir
menurut Pendidikan yang Ditamatkan

8.0
6.7
7.0
6.0
5.0
4.0
3.0 2.1
2.0
1.0 0.4
0.0
Tidak sekolah/Tidak tamat SD dan SLTP SLTA dan Universitas
SD

5.2 Penggunaan Kondom pada Seks dengan Pasangan Tetap

Berhubungan seks dengan pasangan tetap dinilai lebih aman agar tidak tertular penyakit
kelamin dibandingkan berhubungan seks dengan pasangan tidak tetap. Walaupun
demikian, penggunaan kondom saat berhubungan seks tetap dianjurkan.

Tabel 5.1 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks dengan Pasangan
Tetap Sebulan Terakhir menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis
Kelamin

Pendidikan yang Laki –laki +


Laki-laki Perempuan
Ditamatkan Perempuan
(1) (2) (3) (4)
Tidak Sekolah/Tidak 3,1 2,3 2,7
Tamat SD
SD dan SLTP 10,3 0,0 6,1

SLTA dan Universitas 25,4 20,6 24,0

Total 11,7 4,2 8,4

28 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Sebanyak 8,4 persen penduduk menyatakan menggunakan kondom pada saat berhubungan
seks sebulan terakhir. Ada kecenderungan, bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin
tinggi persentase yang menggunakan kondom. Hal ini terlihat dari persentase yang
menggunakan kondom sebulan terakhir pada penduduk pendidikan SLTA dan Universitas
sebesar 24,0 persen, sementara persentase pada penduduk dengan pendidikan SD dan
SLTP dan penduduk tidak sekolah/tidak tamat SD masing-masing sebesar 6,1 persen dan
2,7 persen.
Menurut jenis kelamin, terlihat kecenderungan penggunaan kondom pada penduduk laki-
laki lebih tinggi dibandingkan penduduk perempuan, yaitu 11,7 persen berbanding 4,2 persen.
Pada Gambar 5.3 berikut terlihat bahwa hanya 1,8 persen penduduk Papua yang selalu
menggunakan kondom pada saat berhubungan seks sebulan terakhir dengan pasangan
tetapnya. Sebesar 2,6 persen penduduk pendidikan SLTA dan Universitas menyatakan
selalu menggunakan kondom, pada penduduk dengan pendidikan SD dan SLTP 3,7 persen
sedangkan pada penduduk tidak sekolah/tidak tamat SD tidak ada yang pasangan tetapnya
selalu menggunakan kondom pada saat berhubungan seks sebulan terakhir.
Gambar 5.3
Persentase Penduduk yang Selalu Menggunakan Kondom pada Seks dengan Pasangan
Tetap Sebulan Terakhir menurut Pendidikan yang Ditamatkan

4 3.7

3.5

3
2.6
2.5

2 1.8

1.5

0.5
0.0
0

Tidak Sekolah/Tidak SD dan SLTP SLTA dan Universitas Total


Tamat SD

5.3 Penggunaan Kondom pada Seks dengan Pasangan Tidak Tetap


Sebanyak 17,9 persen penduduk Papua menggunakan kondom pada hubungan seks
dengan pasangan tidak tetap selama sebulan terakhir. Persentase pada penduduk laki-laki
sebesar 17,9 persen, sedangkan pada penduduk perempuan sebesar 17,8 persen (Tabel
5.2). Dibandingkan persentase penggunaan kondom dengan pasangan tetap (seperti
dijelaskan sebelumnya), persentase penggunaan kondom ketika berhubungan seks dengan
pasangan tidak tetap relatif jauh lebih tinggi.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 29


Pada Tabel 5.2 juga terlihat bahwa persentase penggunaan kondom saat berhubungan seks
dengan pasangan tidak tetap pada penduduk yang berpendidikan SLTA dan Universitas
jauh di atas persentase penggunaan kondom pada penduduk pendidikan di bawahnya. Pada
penduduk berpendidikan SLTA dan Universitas, persentasenya sebesar 49,8 persen,
sedangkan pada penduduk pendidikan SD dan SLTP dan penduduk yang tidak
sekolah/tidak tamat SD, persentasenya masing-masing sebesar 10,9 persen dan 13,0
persen.
Tabel 5.2 Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks dengan Pasangan
Tidak Tetap Sebulan Terakhir menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis
Kelamin

Pendidikan yang Laki –laki +


Laki-laki Perempuan
Ditamatkan Perempuan
(1) (2) (3) (4)
Tidak Sekolah/Tidak
18,6 0,0 13,0
Tamat SD
SD dan SLTP 11,5 0,0 10,9
SLTA dan Universitas 39,7 68,0 49,8

Total 17,9 17,8 17,9

Pada Gambar 5.4 ditunjukkan persentase penduduk yang selalu menggunakan kondom
saat berhubungan seks dengan pasangan tidak tetap selama sebulan terakhir, yaitu sebesar
3,8 persen. Pada penduduk perempuan, persentasenya cukup tinggi yakni 8,4 persen;
sementara pada penduduk laki-laki hanya 2,5 persen.
Gambar 5.4
Persentase Penduduk yang Selalu Menggunakan Kondom pada Seks dengan Pasangan
Tidak Tetap Sebulan Terakhir menurut Jenis Kelamin

9 8.4
8
7
6
5
3.8
4

3 2.5
2
1
0
Laki-laki Perempuan Total

30 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


5.4 Penggunaan Kondom pada Seks dengan Memberi Imbalan
Di antara penduduk yang berhubungan seks dengan memberi imbalan, sebesar 14,1 persen
menggunakan kondom pada saat berhubungan seks. Penggunaan kondom pada penduduk
laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan seks penduduk perempuan,
yakni 14,3 persen berbanding 8,8 persen.

Gambar 5.5
Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks dengan Memberi Imbalan
menurut Jenis Kelamin

16 14.3 14.1
14
12
10 8.8
8
6
4
2
0
Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan

Tingkat pemakaian kondom pada seks dengan memberi imbalan mempunyai korelasi
positif dengan tingkat pendidikan. Pada penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat SD dan
SD dan SLTP persentasenya masing-masing hanya 6,3 persen dan 10,9 persen, maka pada
penduduk yang berpendidikan SLTA dan Univ sebesar 33,3 persen (Gambar 5.6).

Gambar 5.6
Persentase Penduduk yang Menggunakan Kondom pada Seks dengan Memberi
Imbalan menurut Pendidikan yang Ditamatkan

35 33.3
30
25
20
15 10.9
10 6.3
5
0
Tidak Sekolah/Tidak SD dan SLTP SLTA dan Universitas
Tamat SD

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 31


5.5 Akses Terhadap Kondom

Pada bagian ini dijelaskan mengenai tingkat kemudahan memperoleh kondom dan
pengetahuan penduduk terhadap sumber-sumber untuk memperoleh kondom. Penjelasan
dibedakan menurut topografi wilayah (pegunungan, pesisir mudah, dan pesisir sulit),
sedangkan sumber kondom difokuskan pada klinik, apotik/toko obat, kios, LSM dan
lainnya.

5.5.1 Kemudahan Memperoleh Kondom

Sebanyak 16,6 persen penduduk Papua mengatakan bahwa kondom mudah diperoleh.
Sebanyak 28,6 persen penduduk di pesisir mudah mengatakan bahwa kondom mudah
diperoleh, sedangkan penduduk di pesisir sulit sebesar 6,6 persen, dan di pegunungan
sebesar 2,0 persen.

Gambar 5.7
Persentase Penduduk yang Menyatakan bahwa Kondom Mudah Diperoleh
menurut Topografi Wilayah

PAPUA 16.6

Pegunungan 2.0

Pesisir Mudah 28.6

Pesisir Sulit 6.6

0 5 10 15 20 25 30 35

5.5.2 Sumber Memperoleh Kondom

Sebanyak 21,0 persen penduduk Papua mengetahui apotik sebagai sumber memperoleh
kondom, diikuti Klinik (10,7 persen), sedangkan sumber lainnya (toko/kios, LSM, dan
lainnya) hanya berkisar 1 sampai 4 persen (Gambar 5.8).

32 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Gambar 5.8
Persentase Penduduk yang Mengetahui Sumber Memperoleh Kondom
menurut Sumbernya

25.0
21.0
20.0

15.0
10.7
10.0

5.0 3.2 2.8


1.5
0.0
Klinik Apotik/Toko Obat Kios LSM Lainnya

Gambar 5.9 berikut memperlihatkan persentase penduduk yang mengetahui sumber


memperoleh kondom dari dua sumber yang banyak diketahui penduduk, yaitu klinik dan
apotik/toko obat, dibedakan menurut topografi wilayah.

Gambar 5.9
Persentase Penduduk yang Mengetahui Sumber Memperoleh Kondom dari Klinik dan
Apotik/Toko Obat menurut Topografi Wilayah

40 37.4
35
30
25
20
15.6
15
10 7.8
3.8 4.5
5 2.3
0
Pegunungan Pesisir Mudah Pesisir Sulit

Klinik Apotik/Toko Obat

Penduduk di pesisir mudah dan pegunungan lebih mengenal apotik/toko obat sebagai
sumber memperoleh kondom dibandingkan klinik; sebaliknya di pesisir sulit, penduduk
lebih mengenal klinik dibandingkan apotik. Sebanyak 37,4 persen penduduk di pesisir
mudah mengetahui bahwa apotik/toko obat merupakan sumber memperoleh kondom, dan
15,6 persen yang mengetahui bahwa sumber memperoleh kondom diperoleh dari klinik.
Pola yang sama terlihat di daerah pegunungan, persentase penduduk yang mengetahui
apotik/toko obat sebagai sumber memperoleh kondom lebih tinggi dibandingkan yang

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 33


mengetahui sumber kondom dari klinik, yakni 4,5 persen berbanding 3,8 persen.
Penduduk di pesisir sulit justru lebih mengetahui klinik sebagai sumber memperoleh
kondom dibandingkan apotik/toko obat dengan persentase 7,8 persen berbanding 2,3 persen.

5.5.3 Pengetahuan tentang Harga Kondom

Sebanyak 5,2 persen penduduk mengetahui harga kondom. Pengetahuan mengenai harga
kondom berbeda cukup signifikan antara penduduk di pesisir mudah, pesisir sulit, dan
pegunungan. Pada Gambar 5.10, terlihat bahwa penduduk di pesisir mudah lebih tahu
tentang harga kondom dibandingkan penduduk di pesisir sulit dan pegunungan.

Gambar 5.10
Persentase Penduduk yang Mengetahui Harga Kondom menurut Topografi Wilayah

PAPUA 5.2

Pegunungan 2.8

Pesisir Mudah 8.0

Pesisir Sulit 1.3

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0

Harga rata-rata kondom yang diketahui oleh penduduk adalah Rp 4.400 (empat ribu empat
ratus) rupiah. Berdasarkan topografi wilayah, penduduk di pesisir mudah mengetahui
harga sebuah kondom secara rata-rata adalah tiga ribu delapan ratus rupiah, penduduk di
pesisir sulit mengetahuinya seharga delapan ribu tiga ratus rupiah, sementara penduduk di
pegunungan mengetahuinya seharga enam ribu empat ratus rupiah.

Tabel 5.3. Harga Kondom yang Diketahui Penduduk menurut Topografi Wilayah

Harga Kondom (rupiah) *)


Topografi Wilayah
Rata-rata Median
(1) (2) (3)
Pegunungan 6.400 5.000

Pesisir Mudah 3.800 2.500

Pesisir Sulit 8.300 5.000

RATA-RATA 4.400 3.000


*) Angka pembulatan

34 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Kotak 5.1
Khusus pada bab ini disajikan data menurut daerah tempat tinggal (perkotaan dan
perdesaan), untuk melihat adanya perbedaan pada kedua tipologi daerah tersebut. Secara
metodologi, rancangan survei tidak disiapkan untuk estimasi menurut daerah perkotaan
dan perdesaan.

Gambar 5.11
Persentase Penduduk yang Menyatakan bahwa Kondom Mudah Diperoleh
menurut Daerah Tempat Tinggal

Perkotaan 34.8

Perdesaan 5.1

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Gambar 5.12
Persentase Penduduk yang Mengetahui Sumber Memperoleh Kondom
menurut Sumbernya dan Daerah Tempat Tinggal
50
44.7
45
40
35
30
25
20 16.2
15
10 7.2 6.2
6.0 5.0
5 1.4 1.5 2.1 1.1
0
Klinik Apotik/Toko Obat Kios LSM Lainnya

Perkotaan Perdesaan

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 35


Kotak 5.2

Gambar 5.13
Persentase Penduduk yang Mengetahui Harga Kondom menurut
Daerah Tempat Tinggal

Perkotaan 9.5

Perdesaan 2.4

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tabel 5.4. Harga Kondom yang Diketahui Penduduk


menurut Daerah Tempat Tinggal

Harga Kondom (rupiah) *)


Daerah Tempat Tinggal
Rata-rata Median
(1) (2) (3)
Perkotaan 3.900 3.000

Perdesaan 5.600 5.000


*) Angka pembulatan

36 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


6
Gejala Infeksi Menular Seksual
(IMS)

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang umumnya terjadi pada alat kelamin
dan ditularkan terutama melalui hubungan seksual. Beberapa IMS juga dapat ditularkan
dari ibu yang menderita ke janin atau bayinya serta lewat kontak darah. Gejala-gejala IMS
diantaranya adalah:

o Keluar cairan tidak normal dan atau sakit pada vagina (keputihan)
o Keluar cairan tidak normal dan atau sakit pada penis
o Luka pada dan sekitar alat kelamin
o Nyeri perut bagian bawah pada perempuan
o Pembengkakan testis (skrotum)
o Tumbuhan vegetasi
o Radang mata pada bayi baru lahir

6.1 Mengalami Gejala IMS

IMS merupakan ko-faktor yang memudahkan penularan HIV sehingga penderita lebih
rentan terhadap HIV, atau dengan kata lain IMS akan mempermudah penularan HIV.
Gejala IMS mudah dikenali pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 37


Gambar 6.1 Persentase Penduduk menurut Gejala IMS dan Jenis Kelamin

9.0
7.7
8.0

7.0

6.0

5.0 4.4
3.9
4.0 3.7

3.0 2.4
2.0
1.2
1.0

0.0
Luka/koreng di kelamin Nyeri/sakit benjolan di Kencing nanah Keputihan
kelamin
Laki-laki Perempuan

Persentase penduduk laki-laki yang mengalami gejala luka/koreng di kelamin sebesar 3,7
persen, sementara penduduk perempuan sebesar 2,4 persen. Untuk gejala benjolan di
kelamin, perbandingannya jauh lebih mencolok, penduduk laki-laki persentasenya sebesar
3,9 persen, sedangkan perempuan sebesar 1,2 persen. Penduduk laki-laki yang mengalami
gejala kencing nanah sebesar 4,4 persen, sementara penduduk perempuan yang mengalami
keputihan sebesar 7,7 persen.

Gambar 6.2 Persentase Penduduk menurut Gejala IMS dan Jumlah Pasangan Seks

20 18.6
18
16
14.3
14

12

10 9.1
8.4
8 7.0

4
2.2 1.8 2.2
2

0
Luka/koreng di kelamin Nyeri/sakit benjolan di Kencing nanah Keputihan
kelamin

Satu pasangan seks Lebih dari satu pasangan seks

38 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Penduduk yang memiliki lebih dari satu pasangan seks menunjukkan persentase
mengalami gejala IMS yang jauh lebih tinggi dibanding penduduk yang hanya memiliki
satu pasangan seks. Perbedaan yang paling nyata adalah pada penduduk laki-laki yang
mengalami gejala kencing nanah, di mana laki-laki yang memiliki satu pasangan seks
yang mengalami gejala kencing nanah sebesar 2,2 persen sementara yang memiliki lebih
dari satu pasangan seks sebesar 14,3 persen (lihat Gambar 6.2).

Gambar 6.3 Persentase Penduduk menurut Gejala IMS dan Perilaku Seks dengan Imbalan

30.0 28.5

25.0
21.5

20.0

15.0 13.6
12.3

10.0
7.2

5.0 2.6
2.5 1.9

0.0
Luka/koreng di kelamin Nyeri/sakit benjolan di Kencing nanah Keputihan
kelamin

Melakukan seks tidak dengan imbalan Seks dengan imbalan

Persentase penduduk laki-laki yang melakukan kegiatan seks dengan memberi/menerima


imbalan yang mengalami gejala kencing nanah adalah sebesar 21,5 persen, sementara
persentase penduduk perempuan yang melakukan kegiatan seks dengan imbalan yang
mengalami gejala keputihan sebesar 28,5 persen. Persentase penduduk yang melakukan
kegiatan seks dengan imbalan dan mengalami gejala luka atau koreng di kelamin, sebesar
12,3 persen sedangkan pada penduduk yang mengalami gejala luka atau koreng di
kelamin, yang tidak melakukan kegiatan seks dengan imbalan persentasenya sebesar 2,5
persen.

6.2 Perilaku Pencarian Pengobatan IMS


Meski tidak selalu berkaitan langsung dengan upaya yang diambil dan cara yang ditempuh
untuk menghindari penularan IMS atau HIV, mengetahui tentang cara menghindar dan
kemana mencari pertolongan ketika terserang penyakit menular seksual, merupakan hal
yang perlu diketahui oleh setiap orang, apalagi yang berisiko tinggi.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 39


Terdapat perbedaan persentase yang cukup signifikan antara penduduk yang berobat ke
petugas kesehatan ketika mengalami gejala IMS berdasarkan topografi wilayah (lihat
Tabel 6.1).
Tabel 6.1 Persentase Penduduk Berdasarkan Tindakan yang Dilakukan Ketika Mengalami
Gejala IMS menurut Topografi Wilayah

Tindakan yang Dilakukan Ketika Pesisir Pesisir


Pegunungan Total
Mengalami Gejala IMS mudah sulit
(1) (2) (3) (4) (5)

Berobat ke Petugas Kesehatan 77,0 42,6 20,0 52,1

Melakukan Pengobatan Sendiri 5,4 35,3 32,6 23,2

Tidak Melakukan Sesuatu/Tidak


14,9 20,0 43,2 21,9
Diobati

Lainnya (berobat ke dukun/tabib) 2,8 2,0 4,2 2,7

Total 100,0 100,0 100,0 100,0

Penduduk yang tinggal di pegunungan, 77,0 persen berobat ke petugas kesehatan ketika
mengalami gejala IMS, sementara penduduk yang tinggal di pesisir mudah sebesar 42,6
persen, dan yang tinggal di pesisir sulit hanya sebesar 20,0 persen.
Di antara penduduk yang mengalami gejala IMS, penduduk yang tinggal di pesisir sulit
sebesar 32,6 persen mengobati sendiri, sementara untuk penduduk yang tinggal di pesisir
mudah sebesar 35,3 persen, dan yang tinggal di pegunungan hanya sebesar 5,4 persen.

Tabel 6.2 Persentase Penduduk Berdasarkan Alasan Mengobati Sendiri Ketika Mengalami
Gejala IMS menurut Topografi Wilayah

Alasan Mengobati Sendiri Ketika


Pegunungan Pesisir mudah Pesisir sulit Total
Mengalami Gejala IMS
(1) (2) (3) (4) (5)
Merasa Malu 56,9 38,2 32,6 40,5

Tidak Mendapat Pelayanan yang


2,7 4,6 2,8 3,9
Baik
Sarana Kesehatan Sulit Dijangkau 6,0 6,3 28,7 10,2
Lainnya, termasuk Tidak Tahu dan
36,9 53,2 38,7 47,8
Tidak Menjawab

40 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Alasan bagi mereka yang mengobati sendiri pada umumnya adalah merasa malu yaitu
sebesar 40,5 persen. Alasan lainnya adalah tidak mendapat pelayanan yang baik sebesar
3,9 persen, dan sarana kesehatan sulit dijangkau sebesar 10,2 persen (lihat Tabel 6.2).

Tabel 6.3 Persentase Penduduk Berdasarkan Jenis Obat yang Dipakai Ketika Mengalami
Gejala IMS dan Mengobati Sendiri, menurut Topografi Wilayah

Jenis Obat yang Dipakai


Pesisir
Ketika Mengalami Gejala Pegunungan Pesisir Sulit Total
Mudah
IMS dan Mengobati Sendiri
(1) (2) (3) (4) (5)
Obat Modern 74,6 39,3 35,3 44,8
Obat Tradisional 11,4 25,7 12,3 20,8
Amoksilin 42,3 31,1 18,3 30,7
Supertetra 59,2 13,6 19,8 22,7
Jamu 2,6 25,0 12,3 18,8
Buah Merah 8,8 0,8 0,0 2,0
Lainnya 25,9 42,5 52,2 41,4

Jenis obat yang dipakai ketika mengalami gejala IMS dan kemudian melakukan
pengobatan sendiri disajikan pada Tabel 6.3. Sebesar 74,6 persen penduduk yang tinggal
di pegunungan memakai obat modern, diantaranya juga ditunjukkan dengan pemakaian
amoksilin sebesar 42,3 persen, dan supertetra sebesar 59,2 persen. Dari penduduk yang
mengalami gejala IMS dan mengobati sendiri sebesar 44,8 persen menggunakan obat
modern, sedangkan pemakaian Amoksilin serta Supertetra masing-masing sebesar 30,7
persen dan 22,7 persen.

Tabel 6.4 Persentase Penduduk Berdasarkan Fasilitas Kesehatan yang Digunakan pada
Saat Terakhir Mengalami Gejala IMS, menurut Topografi Wilayah

Fasilitas Kesehatan Pegunungan Pesisir Mudah Pesisir Sulit Total

(1) (2) (3) (4) (5)


Rumah Sakit 12,5 24,8 10,6 16,8
Puskesmas/Pustu 76,3 31,9 53,5 58,7
Dokter Praktek 0,7 26,0 14,7 10,8
Mantri Kesehatan/Bidan 9,4 16,4 15,1 12,3
Klinik 0,6 1,0 0,0 0,7
Lainnya 0,6 0,0 6,1 0,7
Total 100,0 100,0 100,0 100,0

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 41


Lebih dari separuh penduduk yang mengalami gejala IMS berobat ke Puskesmas/Pustu,
yaitu sebesar 58,7 persen. Ada perbedaan yang cukup signifikan persentase penduduk
yang berobat ke Puskesmas/Pustu antara yang tinggal di pegunungan dengan penduduk
yang tinggal di pesisir, yaitu 76,3 persen, sementara penduduk yang tinggal di pesisir sulit
sebesar 53,5 persen, bahkan yang tinggal di pesisir mudah, hanya sebesar 31,9 persen.
Perbedaan yang juga cukup signifikan adalah berobat ke dokter. Penduduk yang tinggal di
pesisir sulit yang berobat ke dokter sebesar 14,7 persen, sementara penduduk yang tinggal
di pesisir mudah sebesar 26,0 persen, dan penduduk yang tinggal di pegunungan, hanya
0,7 persen.

42 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


7
Penyalahgunaan Narkoba
Selain melalui jalur seks, penularan HIV juga dapat melalui penggunaan jarum suntik
secara bersama. Penularan melalui jarum suntik bersama justru lebih ‘efisien’ dibanding
melalui jalur seks. Pada umumnya, pola pemakaian narkoba dimulai dari konsumsi rokok
dan minuman beralkohol, kemudian meningkat ke narkoba tidak yang disuntikkan, dan
akhirnya ke narkoba suntik.

7.1 Penyalahgunaan Narkoba Umum


Penduduk Papua yang mengkonsumsi narkoba relatif sangat kecil, yaitu hanya sebesar 0,8
persen. Di antara penduduk yang mengkonsumsi narkoba, sebesar 1,5 persen adalah
penduduk yang tinggal di pesisir mudah, sementara yang tinggal di pesisir sulit dan
pegunungan masing-masing hanya 0,2 persen dan 0,1 persen.

Tabel 7.1 Persentase Penduduk yang Mengkonsumsi Narkoba menurut Jenis Narkoba dan
Topografi Wilayah

Pesisir Pesisir
Jenis Narkoba Pegunungan
Mudah Sulit

(1) (2) (3) (4)


Shabu-shabu 0,0 8,4 50,0

Kokain 0,0 2,1 0,0

Putaw/Heroin 0,0 2,1 0,0

Ganja/Marijuana 100,0 51,8 0,0

Pil Koplo/Ekstasi 0,0 16,8 50,0

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 43


Penduduk Papua yang tinggal di pegunungan hanya mengkonsumsi ganja/marijuana, yang
tinggal di pesisir sulit 50,0 persen mengkonsumsi shabu-shabu, dan 50,0 persen
mengkonsumsi pil koplo/ekstasi, sedangkan yang tinggal di pesisir mudah sebesar 51,8
persen mengkonsumsi ganja/marijuana.

7.2 Penyalahgunaan Narkoba Suntik

Dari 1,5 persen penduduk Papua yang tinggal di pesisir mudah yang mengaku
mengkonsumsi narkoba suntik sebesar 4,2 persen. Salah satu faktor yang mempercepat
peluang tertular HIV di kalangan pengguna narkoba suntik adalah perilaku suntik bersama
atau berbagi jarum. Hasil STHP2006 menunjukkan bahwa di antara penduduk Papua yang
mengaku mengkonsumsi narkoba suntik, tidak ada yang melakukan suntik bersama atau
berbagi jarum suntik.

44 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


8
Layanan Voluntary Consulting and
Testing (VCT)

Pemanfaatan Layanan VCT

Tes darah adalah satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi
HIV atau belum.

Tabel 8.1 Persentase Penduduk yang Tahu Tempat Tes menurut Topografi Wilayah
Pendidikan yang Ditamatkan

Topografi Wilayah Pendidikan yang Ditamatkan


Tidak SLTA
Tes HIV Pegu- Pesisir Pesisir Sekolah/ SD dan dan
Total Total
nungan Mudah Sulit Tidak SLTP Univer-
Tamat SD sitas
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Tahu Tempat
11,6 38,9 17,4 31,0 10,6 22,4 46,5 31,0
Tes
Tahu Tempat
Tes di Lab 30,2 23,0 34,7 24,4 14,4 28,0 23,9 24,4
Swasta
Tahu Tempat
19,2 19,0 18,9 19,0 12,6 19,0 19,6 19,0
Tes di PMI
Tahu Tempat
Tes di Rumah 80,5 90,1 88,7 89,4 78,1 88,8 90,67 89,4
Sakit
Tahu Tempat
Tes di 60,0 18,1 44,7 23,0 53,4 28,2 18,0 23,0
Puskesmas
Tahu Tempat
25,4 8,9 24,1 11,2 8,4 11,5 11,4 11,2
Tes di LSM
Tahu Tempat
Tes di Tempat 0,0 2,4 2,5 2,3 0,0 4,2 1,7 2,3
Lainnya

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 45


Sebanyak 31,0 persen penduduk Papua tahu tempat tes HIV. Menurut topografi wilayah,
penduduk yang tinggal di pesisir mudah, jauh lebih tahu dibanding penduduk yang tinggal
di pesisir sulit, maupun pegunungan, di mana besarnya persentase masing-masing adalah
38,9 persen, 17,4 persen, dan 11,6 persen. Menurut tingkat pendidikan, semakin tinggi
tingkat pendidikan, semakin banyak yang mengetahui tempat tes HIV. Hal ini
ditunjukkan dengan perbedaan persentase yang mengetahui tempat tes HIV antar jenjang
pendidikan, yaitu 10,6 persen untuk yang tidak sekolah/tidak tamat SD, 22,4 persen untuk
yang SD dan SLTP, dan 46,5 persen untuk yang SLTA dan Universitas.
Dari penduduk yang tahu tempat tes, 89,4 persen tahu bisa melakukan tes di Rumah Sakit.
Tiga urutan pertama tempat tes yang paling diketahui penduduk Papua adalah Rumah
Sakit, Laboratorium Swasta, dan Puskesmas dengan besarnya persentase masing-masing
adalah 89,4 persen, 24,4 persen, dan 23,0 persen.

Tabel 8.2 Persentase Penduduk yang Pernah Tes HIV, Tes Atas Kemauan Sendiri, dan
Menerima Hasil Tes menurut Topografi Wilayah dan Pendidikan yang
Ditamatkan

Topografi Wilayah Pendidikan yang Ditamatkan


Tidak
Keterangan SLTA
Sekolah/
Tes HIV Pegu- Pesisir Pesisir SD dan dan
Total Tidak Total
nungan Mudah Sulit SLTP Univer-
Tamat
sitas
SD
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Pernah Tes HIV 22,9 7,4 9,2 9,2 17,0 7,7 8,6 9,2

Tes Atas
59,1 68,4 46,5 62,8 52,4 65,8 67,4 62,8
Kemauan Sendiri

Terima Hasil Tes 9,8 34,2 13,0 24,2 7,5 21,3 37,5 24,2

Persentase penduduk Papua yang pernah melakukan tes HIV sebesar 9,2 persen. Menurut
topografi wilayah penduduk yang pernah tes HIV, paling tinggi persentasenya di
pegunungan, yaitu sebesar 22,9 persen. Untuk pesisir mudah dan pesisir sulit, angkanya
masing-masing sebesar 7,4 persen dan 9,2 persen. Menurut tingkat pendidikan, persentase
penduduk yang pernah tes HIV justru lebih tinggi yang tidak sekolah atau tidak tamat SD
dibanding yang berpendidikan SD dan SLTP, maupun SLTA/Universitas, yaitu 17,0
persen berbanding 7,7 persen dan 8,6 persen. Dari 9,2 persen yang pernah melakukan tes
HIV, sebesar 62,8 persen melakukan tes atas permintaan sendiri, namun hanya sebesar
24,2 persen yang menerima hasilnya.

46 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Tabel 8.3 Persentase Penduduk yang Pernah Konseling menurut Topografi Wilayah dan
Pendidikan yang Ditamatkan

Topografi Wilayah Pendidikan yang Ditamatkan

Keterangan Tidak Tamat


Konseling Pegu- Pesisir Pesisir Sekolah/ Tamat SMA/
Total Total
nungan Mudah Sulit Tidak SD/SMP Univer-
Tamat SD sitas
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Hanya
71,4 49,2 55,8 53,7 50,1 62,0 48,7 53,7
Sebelum Tes

Hanya Sesudah
11,5 2,8 10,3 5,0 14,5 2,7 4,1 5,0
Tes

Sebelum
maupun 11,5 46,6 33,9 39,3 28,3 35,3 45,2 39,3
Sesudah Tes

Penduduk Papua yang pernah melakukan konseling ‘sebelum maupun sesudah tes’ sebesar
39,3 persen, yang melakukan konseling ‘hanya sebelum tes’ sebesar 53,7 persen dan yang
melakukan konseling ‘hanya sesudah tes’ sebesar 5,0 persen. Terlihat adanya pola
konseling ‘sebelum dan sesudah tes’, dilihat menurut tingkat pendidikan penduduk di
mana semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi persentase yang melakukan
konseling ‘sebelum dan sesudah tes’.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 47


9
Prevalensi HIV di Papua

Gambaran tingkat penularan HIV pada masyarakat merupakan salah satu hasil yang
penting dari STHP2006. Pada Bab ini akan disajikan tingkat prevalensi HIV di Tanah
Papua dengan dikaitkan dengan beberapa karakteristik demografi penduduk dan perilaku
berisiko.

9.1 Prevalensi HIV Berdasarkan Jenis Kelamin


Prevalensi HIV pada penduduk di Tanah Papua adalah 2,4 persen, suatu tingkat penularan
yang tergolong sangat tinggi dibandingkan perkiraan prevalensi HIV di berbagai wilayah
Indonesia lainnya.
Tingkat penularan HIV pada penduduk laki-laki sebesar 2,9 persen, lebih tinggi
dibandingkan penduduk perempuan dengan prevalensi HIV sebesar 1,9 persen (Lihat
Gambar 9.1).
Gambar 9.1
Prevalensi HIV menurut Jenis Kelamin

2.9
3
2.4
1.9
2

0
Laki-laki Perempuan Total

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 49


9.2 Prevalensi HIV Berdasarkan Topografi Wilayah
Prevalensi HIV yang tertinggi terdapat di wilayah pesisir sulit, yaitu 3,2 persen, diikuti
oleh wilayah pegunungan sebesar 2,9 persen. Prevalensi HIV paling rendah terdapat di
wilayah pesisir mudah sebesar 1,8 persen.

Gambar 9.2
Prevalensi HIV menurut Topografi Wilayah

3.2
2.9
3

2 1.8

0
Pegunungan Pesisir Mudah Pesisir Sulit

9.3 Prevalensi HIV Berdasarkan Jenis Etnis


Prevalensi HIV pada etnis Papua lebih tinggi hampir dua kali dibandingkan etnis Non-
Papua, yaitu 2,8 persen berbanding 1,5 persen.
Membandingkan tingkat prevalensi HIV berdasarkan etnis bukan mencerminkan bahwa
ada perbedaan kerawanan berdasarkan faktor etnis saja, melainkan lebih mencerminkan
adanya perbedaan tingkat pengetahuan mengenai pencegahan dan perilaku berisiko.
Diharapkan upaya pencegahan penularan dan pelayanan kesehatan akan menjangkau
semua penduduk Papua yang rawan, terutama pada prevalensi yang lebih besar.

50 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Gambar 9.3
Prevalensi HIV menurut Etnis Penduduk

3 2.8

2.5

2
1.5
1.5

0.5

0
Papua Non-Papua

9.4 Prevalensi HIV menurut Kelompok Umur

Prevalensi HIV pada penduduk Papua yang berusia antara 40-49 tahun, yaitu 3,4 persen.
Angka tersebut paling tinggi dibandingkan penduduk pada kelompok umur 15-24 tahun
(3,0 persen) dan 25-39 tahun (2,0 persen).
Umur yang lebih tua, lebih mencerminkan pengalaman berisiko yang lebih tinggi untuk
terkena HIV, sehingga dapat dimengerti prevalensi HIV pada kelompok umur ini jauh
lebih tinggi.
Gambar 9.4
Prevalensi HIV menurut Kelompok Umur

4
3.4
3.0
3

2.0
2

0
15-24 25-39 40-49

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 51


9.5 Prevalensi HIV menurut Umur Berhubungan Seks Pertama Kali
Bila seseorang mulai melakukan hubungan seks dengan usia yang lebih muda, maka risiko
penularan HIV melalui hubungan seks dapat meningkat, karena secara biologis mereka
tidak saja lebih rawan tetapi juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan umur pasangan
seksnya.
Prevalensi HIV penduduk Papua yang melakukan seks pertama pada kelompok usia 10-14
tahun sebesar 3,3 persen, pada kelompok usia 15-24 tahun sebesar 2,3 persen, dan pada
kelompok usia 25 tahun ke atas 1,9 persen (Lihat Gambar 9.5)

Gambar 9.5
Prevalensi HIV menurut Umur Pertama Kali Berhubungan Seks

4
3.5 3.3

3
2.5 2.3
1.9
2
1.5
1
0.5
0
10-14 15-24 25+

9.6 Prevalensi HIV menurut Pasangan Non-Marital


Prevalensi HIV pada penduduk Papua yang mempunyai pasangan tidak tetap adalah 4,3
persen, lebih tinggi dibandingkan penduduk Papua yang hanya mempunyai pasangan tetap
yaitu sebesar 2,4 persen (Lihat Gambar 9.6).
Risiko seseorang untuk terkena HIV memang lebih tinggi pada penduduk yang
mempunyai pasangan tidak tetap.

52 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Gambar 9.6
Prevalensi HIV menurut Pasangan Seks

5
5 4.3
4
4
3
2.4
3
2
2
1
1
0
Ya Tidak
Punya pasangan tidak tetap setahun yang lalu

9. 7 Prevalensi HIV menurut Jumlah Pasangan


Pada umumnya banyak pasangan seks dan suka berganti-ganti pasangan akan
meningkatkan risiko penularan. Prevalensi HIV pada penduduk dengan banyak pasangan
seks (2 dan lebih pasangan seks) lebih tinggi, yaitu 4,0 persen, berbanding 2,3 persen pada
penduduk yang mempunyai hanya satu atau tidak punya pasangan seks (Lihat Gambar
9.7).
Gambar 9.7
Prevalensi HIV menurut Jumlah Pasangan Seks Setahun yang Lalu

4.5 4.0
4
3.5
3
2.5 2.3
2
1.5
1
0.5
0
0-1 2+

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 53


9. 8 Prevalensi HIV menurut Perilaku Seks dengan Imbalan
Prevalensi HIV lebih tinggi pada penduduk yang mempunyai pasangan tidak tetap dan
melakukan hubungan seks dengan imbalan, yaitu 5,1 persen. Angka prevalensi ini dua
kali lebih besar dibandingkan dengan prevalensi penduduk yang melakukan seks tanpa
imbalan.
Gambar 9.8
Prevalensi HIV menurut Perilaku Seks Imbalan

6
5.1
5

3
2.2
2

0
Ya Tidak

9.9 Prevalensi HIV menurut Riwayat IMS


Adanya riwayat IMS pada seseorang menunjukkan bahwa ia tidak hanya mempunyai
perilaku seks dengan banyak pasangan (mungkin juga dengan seks imbalan), tetapi yang
lebih pasti karena tidak memakai kondom pada setiap kali berhubungan seks.
Prevalensi HIV pada penduduk yang mempunyai riwayat IMS dua kali lebih tinggi
dibandingkan dengan penduduk yang tidak mempunyai riwayat IMS.
Gambar 9.9
Prevalensi HIV menurut Riwayat IMS Setahun yang Lalu

7
5.9
6
5
4
3 2.7

2
1
0
Ya Tidak

54 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


9.10 Prevalensi HIV Penduduk Lelaki yang Disirkumsisi
Sirkumsisi (sunat) telah terbukti menurunkan risiko penularan HIV, karena secara biologis
bagian kulit kelamin yang tidak disirkumsisi, lebih rawan untuk terkena HIV. Sekitar 5
persen penduduk etnis Papua yang disirkumsisi, dibandingkan penduduk etnis non-Papua
70 persen.
Prevalensi HIV pada penduduk yang mempunyai pasangan tidak tetap dan disirkumsisi
sebesar 1,0 persen, sedangkan pada penduduk yang tidak disirkumsisi jauh lebih tinggi,
yaitu sebesar 5,6 persen.
Gambar 9.10
Prevalensi HIV Penduduk yang Melakukan Seks dengan Pasangan Tidak Tetap menurut
Riwayat Disirkumsisi

6 5.6

1.0
1

0
Ya Tidak

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 55


Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

1. Prevalensi HIV pada penduduk Tanah Papua sebesar 2.4 persen, lebih tinggi
dibandingkan pada penduduk wilayah lain di Indonesia, dan tampaknya meluas ke
semua wilayah Papua. Prevalensi penduduk laki-laki jauh lebih tinggi (2,9 persen)
dibandingkan penduduk perempuan (1,9 persen). Prevalensi pada kelompok umur
40 – 49 tahun paling tinggi dengan 3,4 persen, diikuti oleh kelompok 15-24 tahun
dengan 3,0 persen
2. Distribusi prevalensi HIV berdasarkan topografi lebih tinggi pada mereka yang
bertempat tinggal di wilayah dengan akses sulit, dan di daerah perdalaman;
prevalensi HIV/AIDS di wilayah pesisir sulit 3,2 persen dan wilayah pegunungan 2,9
persen, sedangkan pesisir mudah 1,8 persen. Hal ini konsisten dengan tingkat
pengetahuan tentang HIV/AIDS yang rendah dan pemakaian kondom yang rendah di
daerah-daerah relatif sulit terjangkau tersebut.
3. Prevalensi HIV pada penduduk etnis Papua lebih tinggi (2,8 persen), dibandingkan
penduduk bukan Papua yang hanya 1,5 persen. Ini tidak berarti mencerminkan
perbedaan kerawanan berdasar jenis etnis, melainkan lebih mencerminkan adanya
perbedaan tingkat pengetahuan tentang pencegahan dan perilaku berisiko. Meskipun
demikian masih memerlukan kajian lebih mendalam apakah hal ini berkaitan dengan
perbedaan status sirkumsisi (sunat). Prevalensi HIV lebih tinggi pada penduduk yang
tidak disunat, 5,6 persen, dibandingkan 1,0 persen pada penduduk yang disunat.
Sementara itu hanya sekitar 5 persen kelompok etnis Papua yang disunat,
dibandingkan etnis non-Papua 70 persen.
4. Secara umum tingkat pengetahuan penduduk Tanah Papua mengenai HIV/AIDS
masih rendah, yaitu 48 persen diantaranya belum pernah mendengar tentang
HIV/AIDS. Kelompok penduduk dengan tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah
atau tidak tamat SD) memiliki tingkat pengetahuan jauh lebih rendah, sebanyak 74
persen belum pernah mendengar tentang HIV/AIDS dibandingkan sebanyak 20
persen pada kelompok lulus SLTA atau Universitas. Pemahaman yang salah tentang
HIV/AIDS masih tinggi pada sebagian besar penduduk, dan hal ini merata pada
berbagai tingkat pendidikan.
5. Sumber informasi utama mengenai HIV/AIDS adalah radio dan televisi. Media
tersebut dimanfaatkan oleh 52 persen penduduk yang sebagian besar dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi. Hanya sebagian kecil penduduk pernah menghadiri

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 57


pertemuan mengenai HIV/AIDS; Penduduk dengan tingkat pendidikan rendah hanya
8 persen, sedangkan penduduk dengan pendidikan tertinggi hanya 26 persen.
6. Penduduk dengan umur yang lebih muda, lebih banyak yang melakukan hubungan
seks pertama sebelum menginjak 15 tahun dibandingkan dengan kelompok umur
yang lebih tua. Kecenderungan ini jauh lebih tinggi pada penduduk perempuan
dibandingkan penduduk laki-laki. Rata-rata umur seks pertama pada penduduk
Papua padalah 19 tahun; Penduduk perempuan lebih muda (18,8 tahun)
dibandingkan penduduk laki-laki (19,5 tahun). Lebih dari 50 persen melakukan
hubungan seks pertama dengan isteri atau suami atau pasangan tetap; sebanyak 40
persen dengan teman, dan 1,6 persen melakukan hubungan seks dengan penjaja seks.
7. Kelompok umur muda, baik laki-laki maupun perempuan, lebih banyak memiliki
pasangan lebih dari satu dibandingkan kelompok umur yang lebih tua. Secara umum
dalam setahun terakhir lebih dari 20 persen penduduk laki-laki mengaku punya
pasangan seks lebih dari satu, dan penduduk perempuan 8 persen. Perilaku hubungan
seks dengan bukan pasangan tetap dalam setahun terakhir didapatkan pada sekitar 16
persen penduduk, yaitu sebesar 25 persen pada penduduk laki-laki berbanding 7
persen penduduk perempuan. Lebih dari setengahnya melakukan dengan imbalan.
8. Tidak seperti perkiraan sebelumnya, alkohol tidak banyak terkait dengan perilaku
seks. Penduduk Tanah Papua yang minum alkohol sebelum hubungan seks hanya
13,6 persen, dan hanya 4,6 persen mengaku sering atau setiap kali mengkonsumsi
alkohol sebelum hubungan seks. Penduduk perempuan yang sering mengkonsumsi
alkohol sebelum hubungan seks hanya 0,9 persen, sedangkan pada penduduk laki-
laki jauh lebih besar sekitar 7,6 persen.
9. Kondom sulit diperoleh baik di wilayah pesisir mudah, pesisir sulit maupun di
pegunungan. Hanya sekitar 17 persen penduduk Tanah Papua menyatakan kondom
mudah diperoleh. Apotik dan klinik merupakan sumber utama untuk memperoleh
kondom. Pemakaian kondom yang masih sangat rendah terkait dengan keterbatasan
akses kondom.
10. Persen penduduk dengan gejala infeksi menular seksual (IMS) ditemukan lebih
tinggi pada penduduk yang punya banyak pasangan seks, juga pada yang melakukan
hubungan seks dengan imbalan. Ternyata persen penduduk dengan HIV, dua kali
lebih tinggi pada penduduk yang melaporkan gejala IMS, yaitu 5,9 persen
dibandingkan 2,7 persen. Petugas kesehatan merupakan pilihan utama untuk berobat
IMS, terutama di wilayah pegunungan; Tetapi penduduk di wilayah pesisir sulit,
sebanyak 43 persen tidak melakukan tindakan pengobatan.

58 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Saran

1. Pendidikan pencegahan penularan HIV perlu ditingkatkan jangkauannya. Upaya


penanggulangan perlu terarah pada penduduk dengan perilaku berisiko, terutama
pada perilaku dengan banyak pasangan seks dan seks imbalan. Upaya yang sama
juga perlu menjangkau penduduk usia muda di seluruh wilayah Tanah Papua.
2. Ketersediaan pelayanan pencegahan termasuk kondom perlu ditingkatkan dan
dimudahkan aksesnya di seluruh wilayah Tanah Papua. Di samping itu perlu
peningkatan pelayanan pengobatan IMS.
3. Masih diperlukan informasi yang lebih mendalam tentang pandangan, norma,
budaya dan perilaku penduduk Papua yang dapat memberikan penjelasan yang lebih
rinci untuk memahami epidemi HIV serta membantu upaya penanggulangan
HIV/AIDS di Tanah Papua.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 59


Lampiran 1

SEROLOGI
Testing Algorithm

First parallel
testing
SD Bioline HIV
Determine HIV

2 Tests Positives 1 Test positive 2 Tests Negatives


1 Test Negative

Second parallel testing


SD Bioline HIV
Determine HIV

2 Tests 1 Test positive 2 Tests


Positives 1 Test Negative Negatives

ELISA 1

Positive 1 Test
ELISA 2 Negative

POSITIVE Positive Negative NEGATIVE

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 63


Laboratory results for HIV tests

First parallel
testing
6,223

Positive Indeterminate Negative


131 150 5,942

Second parallel testing


150

Positive Indeterminate Negative


14 127 9

ELISA
127

Positive Indeterminate Negatives


2 0 125

POSITIVE NEGATIVE
147 6,076

64 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Lampiran 2

PEMERIKSAAN DARAH

Prosedur Tetap Pemeriksaan HIV dari ujung jari


untuk Petugas Laboratorium di Lapangan

Langkah Kegiatan:
1. Responden datang membawa nomor kode sebanyak 2 buah
2. Tempelkan kode ke tabung mikrotube dan lembar hasil pemeriksaan.
3. Tanyakan kesediaan responden untuk diambil darahnya.
4. Bujuk pasien bila enggan diambil darahnya.
5. Bila pasien tetap menolak tidak boleh diambil sampelnya.
6. Bila ya, ambil darah kapiler ikuti petunjuk pengambilan darah perifer
7. Bila sudah diambil darah, beri responden kartu layanan VCT terdekat
lengkap dengan alamat dan kontak personnya, kemudian diberi tahu
bila ingin mengetahui status HIVnya dapat langsung datang ke
layanan VCT terdekat.
8. Lakukan pemeriksaan anti-HIV secara paralel dengan 2 buah
reagensia yang tersedia.
9. Jalankan timer dan tunggu sesuai waktu dalam prosedur kerja
10.Catat hasil dengan memberi tanda √ sesuai hasil yang diperiksa pada
lembar kerja pemeriksaan.
11. Lakukan pemeriksaan setiap 3 – 4 sampel, jangan lebih.
12. Ingat, jagalah selalu kerahasiaan responden.
13. Selesai pemeriksaan pisahkan masing – masing tabung berdasarkan
hasilnya : Non reaktip, reaktip dan hasil yang berbeda.
14. Selesai bekerja ikutilah petunjuk penyimpanan sampel.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 65


ALUR LANGKAH KERJA PEMERIKSAAN ANTI HIV DI
LAPANGAN

Responden setelah selesai diwawancara dan


bersedia diambil darahnya diberi 2 buah label

Petugas pencacah memberitahu laboran,


lokasi responden yang akan diambil sampelnya

Laporan mendatangi responden, dan


meminta kesediaannya untuk diambil contoh darahnya

Tidak Ya

Laporan tidak mengambil sampel & Laporan mengambil sampel


mengucapkan terima kasih darahnya, ikuti petunjuk
pengambilan sampel darah
perifer

Laboran melakukan pemeriksaan secara paralel dengan 2 reagensia

Mencatat hasil pemeriksaan pada lembar kerja pemeriksaan


dengan memberi tanda √

Memisahkan sampel berdasarkan hasil

Mengirimkan sampel yang positip dan indeterminate


ke Dinas Kesehatan setempat

Dinas Kesehatan setempat mengirimkan sampel


Ke BLK Jayapura untuk pemeriksaan ulang

Semua hasil dikirimkan ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua

66 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Alat dan Bahan yang diperlukan

a) Automatic Blood Lancet

b) Mikrotube EDTA vol 500 ul

c) Kapas

d) Alkohol Swab 70%

e) Sarung tangan

f) Spidol tahan air

g) Timer

h) Reagensia SD HIV 1/2 Bioline 3.0 (Multi)

i) Reagensia Determine HIV 1/2 Abbott

j) Reagensia Advanced Quality - One Step Anti-HIV (1&2) Tri-line Test

k) Reagensia HIV Oncoprobe

l) Kotak peralatan pengambilan darah

m) Wadah limbah tahan tusukan

n) Plastic limbah biohazard

o) Tissue

p) Taplak meja plastic

q) Bayclin

r) Pipet Pasteur

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 67


PROSEDUR PENGAMBILAN SPESIMEN
1. Persiapan
a. Alat dan Bahan
i. Kapas alkohol 70%
ii. Lancet steril
iii. Kapas/gauze bersih dan kering
iv. Kaca objek bersih dan bebas lemak
v. Kartu spesimen darah (filter paper blood collection)
vi. Tempat sampah medis dan tajam
vii. Alat tulis dan formulir yang dibutuhkan
b. Partisipan
i. Bersihkan tangan partisipan
ii. Jika memungkinkan cuci dengan sabun dan air hangat

2. Letakan alat dan bahan pada tempat datar dan mudah dijangkau

3. Tuliskan tanggal pengambilan spesimen, umur, jenis kelamin, suku dan asal partisipan pada
kaca objek dan kartu spesimen darah

4. Lepaskan penutup lanset


a. Buka penutup lancet
b. Jangan sentuh bagian tajam yang akan digunakan untuk menusuk

5. Pilih lokasi pengambilan


a. Lokasi pengambilan darah kapiler pada orang dewasa biasanya pada ujung jari
manis atau jari tengah bagian samping
b. Pada bayi dapat diambil pada tumit atau ibu jari kaki bagian samping

6. Disinfeksi tempat pengambilan/penusukan dengan kapas alkohol 70% dan biarkan mengering

7. Tegangkan kulit tempat penusukan dengan memijatnya antara 2 jari

8. Lakukan penusukan dengan cepat dan dalamnya luka ± 3 mm

9. Hapus tetesan darah yang pertama keluar dengan kapas/gauze kering karena tetesan
mungkin masih tercampur dengan alkohol dan juga agar lubang bekas tusukan lancet tidak
cepat menutup serta darah yang keluar tidak melebar

10. Hadapkan jari tangan yang ditusuk kebawah kemudian urut mulai dari pangkal jari yang
ditusuk

11. Lakukan pembuatan sediaan tebal dan apus darah tepi untuk pemeriksaan malaria
a. Teteskan dua tetes darah pada kaca objek
b. Tetesan pertama dibuat lingkaran dengan menggunakan ujung kaca objek lain
untuk sediaan tebal darah tepi.
c. Tetesan kedua digunakan untuk pembuatan sediaan apus darah tepi
i. Dengan tangan kanan letakan kaca penggeser disebelah kiri tetesan
darah dengan sudut kemiringan 45º
ii. Gerakkan kekanan hingga menyentuh tetesan kedua
iii. Biarkan darah menempel dan meyebar rata dipinggir kaca penggeser
iv. Segera geserkan kaca tersebut kekiri dengan sudut 30º - 45º. Jangan
menekan kaca penggeser tersebut kebawah. Gerakan ini harus dilakukan
dengan cepat dan tidak putus-putus.
12. Lakukan pembuatan spesimen pada kartu spesimen darah (filter paper blood collection)
a. Letakan kartu spesimen darah yang sudah diberi label data pada tempat yang rata.
b. Teteskan 2 – 3 tetes darah disetiap lingkaran sampai dengan lingkaran terisi penuh.
Biarkan darah menetes atau bila perlu sentuhkan tetesan darah pada kartu
spesimen darah tetapi jangan sentuhkan jarinya.
c. Biarkan kartu spesimen darah mengering diudara terbuka dan hindarkan dari semut
atau lalat.
d. Setelah kering masukan kartu spesimen darah kedalam plastik ziplock. Satu plastik
hanya untuk satu kartu spesimen darah

13. Tutup luka tusukan dengan kapas/gauze kering dan bersih dan mintalah
pasien untuk memegangnya sendiri

14. Kirimkan kartu spesimen darah yang sudah terisi lengkap dengan data yang diperlukan
kepada dinas kesehatan setempat
PEMERIKSAAN ANTI-HIV

Metoda : Rapid Test


Reagensia : SD HIV 1/2 3.0 (Multi)
Bahan Pemeriksaan : Darah Lengkap

Cara kerja :
1. Gunakan sarung tangan
2. Siapkan kantong plastik limbah biohazard beri larutan hipoklorit 0.5 %
3. Buka kemasan lalu beri identitas sampel sesuai dengan kode tabung pada
membrane.
4. Teteskan 1 tetes darah ke lubang sampel.
5. Tunggu dan biarkan menyerap.
6. Lalu teteskan 3 tetes sampel diluent.
7. Jalankan timer, tunggu dan biarkan menyerap
8. Baca Hasil dalam waktu 5 – 20 menit (jangan melebihi 30 menit).
9. Catat hasil pada lembar hasil pemeriksaan laboratorium

Interpretasi hasil :

REAKTIP NON REAKTIP INVALID

C 1 2 S C 1 2 S C 1 2 S

C 1 2 S C 1 2 S

C 1 2 S C 1 2 S

C 1 2 S
PEMERIKSAAN ANTI-HIV

Metoda : Immunochromatography
Reagensia : Determine Anti HIV
Bahan Pemeriksaan : Darah Lengkap

Cara Kerja :
1. Gunakan sarung tangan
2. Siapkan kantong plastik limbah biohazard beri larutan hipoklorit 0.5 %
3. Biarkan reagen pada suhu kamar.
4. Buka strip test dari penutup lalu beri identitas sampel sesuai dengan kode tabung
pada membrane.
5. Teteskan 2 tetes sampel darah pada bantalan sampel (lihat panah).
6. Teteskan 1 tetes chase buffer
7. Tunggu sekurang – kurangnya 15 menit (s/d 1 jam).
8. Baca Hasil.
9. Catat hasil pada formulir dan lembar hasil pemeriksaan laboratorium

Interpretasi Hasil :
♦ Reaktip = terdapat 2 garis merah pada garis kontrol dan garis pasien.
♦ Negatip = terdapat 1 garis merah pada garis kontrol.
♦ Invalid = tidak ada garis merah baik garis kontrol dan garis pasien.
PEMERIKSAAN ANTI-HIV

Metoda : Rapid Test


Reagensia : HIV Oncoprobe
Bahan Pemeriksaan : Darah lengkap

Cara kerja :
1. Gunakan sarung tangan
2. Siapkan kantong plastik limbah biohazard beri larutan hipoklorit 0.5 %
3. Biarkan reagen pada suhu kamar.
4. Buka kemasan lalu beri identitas sampel sesuai dengan kode tabung pada
membrane.
5. Teteskan 2 tetes darah ke lubang sampel (S).
6. Lalu teteskan 2 tetes buffer,
7. Jalankan timer, tunggu dan biarkan menyerap.
8. Baca Hasil dalam waktu 15 – 20 menit (jangan melebihi 20 menit).
9. Catat hasil pada lembar hasil pemeriksaan laboratorium

Interpretasi hasil :
REAKTIP NON REAKTIP INVALID

C T1 T2 S C T1 T2 S C T1 T2 S

C T1 T2 S C T1 T2 S

C T1 T2 S C T1 T2 S

C T1 T2 S
LEMBAR HASIL PEMERIKSAAN ANTI- HIV
Tanggal : _________________

NO KODE Reagen ___________________ Reagen ___________________ KET


SAMPEL
HASIL HASIL
1. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
2. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
3. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
4. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
5. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
6. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
7. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
8. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
9. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
10. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
11. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
12. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
13. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
14. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
15. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
16. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
17. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
18. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
19. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
20. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
21. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
22. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
23. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
24. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
25. Non Reaktip Reaktip Non Reaktip Reaktip
Dicatat Oleh
Penanggung
Jawab
PROSEDUR DESINFEKSI MEJA PEMERIKSAAN

1. Gunakan hipoklorit yang mudah didapat dipasaran (Bayclin/Sunclin/Soklin


pemutih) konsentrasi 5,25% dan tanpa aroma khusus
2. Encerkan hipoklorit 1 : 10 dengan cara sebagai berikut :
1 bagian hipoklorit ditambah 9 bagian air
3. Lakukan desinfeksi meja pemeriksaan dengan hipoklorit 0.5%
4. Diamkan selama 15 menit
5. Lap meja pemeriksaan dengan air, agar meja tidak mudah rusak karena
hipoklorit korosif.
6. Permukaan meja harus didekontaminasi setelah adanya tumpahan, sebelum
dan setelah selesai bekerja

PENANGANAN LIMBAH PEMERIKSAAN

1. Buang autolancet yang telah digunakan kedalam wadah tahan tusukan,


gambar terlampir

2. Pisahkan sampah infeksius dan non infeksius


3. Sampah infeksius gunakan kantong plastik limbah kuning yang telah diberi
desinfektan hipoklorit 0.5%.
4. Sampah non infeksius gunakan kantong plastik hitam.
5. Buang & bakar wadah tahan tusukan yang berisi autolancet dan sampah
infeksius kedalam incenerator.
PROSEDUR PENYIMPANAN SAMPEL

1. Sampel yang telah diperiksa dipisahkan sesuai dengan hasil.


2. Untuk sampel yang reaktip dan hasil yang berbeda dikirim ke Balai
Laboratorium Kesehatan Jayapura.
3. Sampel dapat disimpan pada suhu 2-8ºC maksimal 7 hari.
Lampiran 3

Metodologi Survei
Pada Bab ini dijelaskan metode sampling yang meliputi stratifikasi wilayah, alokasi
sampel (kabupaten/kota, blok sensus, dan responden yang memenuhi syarat), prosedur
penarikan sampel, dan prosedur estimasi. Stratifikasi wilayah ditujukan untuk memperoleh
sampel yang mewakili penduduk Papua berdasarkan karakteristik topografi wilayah, dan
pengorganisasian pelaksanaan survei yang lebih efisien.

1. Cakupan Wilayah

STHP2006 dilaksanakan di beberapa kabupaten/kota di Tanah Papua. Topografi


Tanah Papua dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu: kabupaten/kota di wilayah pegunungan,
kabupaten/kota di wilayah pesisir mudah, dan kabupaten/kota di wilayah pesisir sulit.
Topografi wilayah ini selanjutnya digunakan sebagai strata dalam pemilihan sampel.

2. Kerangka Sampel

Sebelum STHP2006 dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan identifikasi wilayah


yang akan disurvei sehingga diketahui jumlah populasi dari setiap strata (topografi
wilayah) yang akan disurvei. Populasi merupakan agregat individu yang akan diteliti dan
dibentuk sebagai kerangka sampel untuk menentukan kelompok sasaran survei. Kerangka
sampel yang digunakan dalam kegiatan STHP2006 ini dibedakan menurut tahapan
pemilihan unit sampling, yaitu: kerangka sampel untuk pemilihan kabupaten/kota dan blok
sensus serta kerangka sampel untuk pemilihan responden yang memenuhi syarat.
Dalam pemilihan sampel kabupaten/kota, kerangka sampel yang digunakan adalah
daftar kabupaten/kota yang telah dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
a. Kabupaten/Kota Pegunungan meliputi Kab. Jayawijaya, Kab. Yahukimo, Kab.
Tolikara, Kab. Pegunungan Bintang, Kab. Puncak Jaya, dan Kab. Paniai.
b. Kabupaten/Kota Pesisir Mudah meliputi Kota Jayapura, Kab. Keerom, Kab. Sarmi,
Kab. Jayapura, Kota Sorong, Kab. Fakfak, Kab. Biak Numfor, Kab. Yapen Waropen,
Kab. Merauke, Kab. Sorong, Kab. Manokwari, dan Kab. Nabire.
c. Kabupaten/Kota Pesisir Sulit meliputi Kab. Waropen, Kab. Kaimana, Kab. Asmat,
Kab. Mappi, Kab. Boven Digoel, Kab. Sorong Selatan, Kab. Raja Ampat, Teluk
Bintuni, Kab. Teluk Wondama, Kab. Supiori, dan Kab. Mimika.
Dalam pemilihan blok sensus, kerangka sampel yang digunakan adalah daftar blok
sensus pada kabupaten/kota terpilih, sedangkan dalam pemilihan responden yang

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 77


memenuhi syarat, kerangka sampel yang digunakan adalah daftar responden yang
memenuhi syarat pada blok sensus terpilih yang diperoleh melalui listing. Yang dimaksud
responden yang memenuhi syarat dalam kegiatan ini adalah penduduk yang berusia 15 –
49 tahun.

3. Rancangan Penarikan Sampel

Rancangan sampling yang digunakan adalah sampling tiga tahap, yaitu:

Tahap I: Memilih sejumlah sampel kabupaten/kota secara PPS (Probability


Proportional to Size) dengan peluang sebanding dengan jumlah penduduk
P4B. Jumlah kabupaten/kota terpilih untuk masing-masing wilayah
topografi sebanding dengan jumlah penduduk.
Tahap II: Memilih sejumlah blok sensus secara PPS dalam setiap kabupaten/kota
terpilih dengan peluang sebanding dengan jumlah penduduk.
Listing dilakukan pada seluruh rumahtangga dan penduduk dalam blok
sensus terpilih. Tujuan listing adalah untuk membentuk kerangka sampel
pemilihan responden yang memenuhi syarat.
Tahap III: Memilih 25 responden yang memenuhi syarat secara sistematik pada setiap
blok sensus terpilih. Sebelum penarikan sampel, individu hasil listing
diurutkan menurut jenis kelamin dan kelompok umur.
Pemilihan sampel pada tahap pertama dan kedua dilakukan di BPS. Sedangkan
pemilihan sampel pada tahap ke tiga dilakukan di daerah.

4. Jumlah Sampel

Penentuan besarnya ukuran sampel dilakukan untuk menghasilkan penyajian


estimasi menurut strata (topografi wilayah), yaitu wilayah pegunungan, wilayah pesisir
mudah dan wilayah pesisir sulit. Target sampel kabupaten/kota ditetapkan adalah 10, yang
selanjutnya dialokasikan ke setiap topografi wilayah sebanding dengan akar jumlah
penduduk. Jumlah kabupaten/kota terpilih pada setiap topografi wilayah seperti pada
Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Kabupaten/Kota menurut Topografi Wilayah

Topografi Wilayah Kabupaten/Kota

1. Pegunungan 3
2. Pesisir Mudah 4
3. Pesisir Sulit 3

78 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


Target sampel responden yang memenuhi syarat adalah 6.500 yang meliputi 260
Blok Sensus dialokasikan ke setiap kabupaten/kota terpilih sebanding dengan akar jumlah
penduduk. Target sampel Blok Sensus dan responden yang memenuhi syarat seperti
tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Target Sampel Blok Sensus dan Responden yang memenuhi syarat
menurut Kabupaten/Kota Terpilih dan Topografi Wilayah

Juml;ah Blok Sensus Jumlah Sampel


Topografi
Kabupaten/Kota Responden yang
Wilayah Urban Rural Total Memenuhi Syarat
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
04 Teluk Bintuni Pesisir Sulit 1 13 14 350
06 Sorong Selatan Pesisir Sulit 2 20 22 550
71 Sorong Pesisir Mudah 40 2 42 1.050
02 Jayawijaya Pegunungan 3 33 36 900
03 Jayapura Pesisir Mudah 7 18 25 625
08 Yapen Pesisir Mudah 6 15 21 525
10 Paniai Pegunungan -- 15 15 375
14 Mappi Pesisir Sulit -- 17 17 425
17 Pegunungan Bintang Pegunungan -- 19 19 475
71 Jayapura Pesisir Mudah 39 10 49 1.225
Jumlah 260 6.500

5. Pendaftaran Penduduk (Listing)


Seperti sudah diterangkan di atas, penentuan wilayah kerja atau blok sensus
dilakukan di BPS. Koordinator Lapangan dengan dibantu oleh pengawas mengidentifikasi
blok sensus terpilih tersebut dan mengunjungi wilayah tersebut untuk melakukan
sosialisasi kepada tokoh-tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati masyarakat
setempat. Hal ini perlu agar pelaksanaan survei di daerah tersebut dapat dilaksanakan
dengan baik dan tepat waktu. Kegiatan ini sekaligus sebagai inventarisasi wilayah-wilayah
yang terpilih sebagai wilayah sasaran.
Setelah identifikasi lokasi berdasarkan sketsa peta blok sensus, lalu petugas
melakukan kegiatan penelusuran lokasi listing, yaitu mengenali batas-batas wilayah
dengan mengelilingi wilayah tersebut. Selanjutnya melakukan pendaftaran seluruh rumah
tangga/bangunan yang ada di blok sensus tersebut (listing) dengan menggunakan Daftar
STHP2006-L.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 79


Penelusuran lapangan dan listing bertujuan untuk mengetahui jumlah penduduk
pada blok sensus tersebut dan sekaligus memperbarui keterangan yang ada dalam sketsa
peta blok sensus. Perlu diingat bahwa sebelum tim masuk ke wilayah tugasnya perlu
informasi mengenai orang yang dapat menjadi mediator atau penunjuk jalan (key
person/contact person). Informasi lain yang diperlukan adalah waktu kunjungan yang
memungkinkan dilakukannya wawancara di daerah tersebut.

6. Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, responden terpilih diwawancarai secara langsung dan


diambil sampel darahnya oleh petugas STHP2006 yang telah dilatih. Wawancara
dilakukan pada suatu tempat tertentu dan responden tidak ditemani oleh orang lain
sehingga kerahasiaan hasil wawancara dan tes darah dapat dijamin.

7. Skema Metodologi
Secara umum metodologi pengumpulan data survei surveilans perilaku dapat
digambarkan seperti diagram alir pada Diagram 1 sebagai berikut:

Diagram 1. Skema Metodologi Surveilans Terpadu HIV-Perilaku 2006

Pemilihan Pengambilan Darah


Data Kota/Kabupaten Kabupaten Terpilih Perifer
Populasi /
Kabupaten
Pemeriksaan Antibodi
Pemilihan Blok HIV
Sensus

Hasil Pemeriksaan
Peta Listing Anggota Anti-HIV
Wilayah Rumah Tangga Daftar Blok Sensus

Dinkes

Kerangka Sample Wawancara


Data Entry, Analisis dan
Pelaporan

Tawarkan VCT

Hasil Wawancara BPS

80 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


8. Metode Estimasi

Jumlah sampel yang direncanakan hanya dapat digunakan untuk estimasi rata-rata,
proporsi/persentase, atau rasio menurut jenis kelamin, kelompok umur dan strata. Metode
estimasi yang digunakan adalah metode secara tidak langsung (indirect estimate) yaitu
ratio estimate, dengan penimbang (weight) adalah rasio antara realisasi target sampel
responden yang memenuhi syarat menurut jenis kelamin, kelompok umur, dan strata
dengan penduduk hasil proyeksi menurut jenis kelamin, kelompok umur, dan strata.
Metode ini menghasilkan estimator yang bias tetapi konsisten. Bila ukuran sampel
besar, maka bias akan kecil. Keuntungan dari penerapan metode ini dibandingkan dengan
direct estimate ini adalah variance lebih kecil dan hasil estimasi tidak terpengaruh oleh
hasil listing yang sering kali under coverage. Bila hasil listing under coverage 10 persen,
maka hasil estimasinya akan under estimation kurang lebih 10 persen.
~
Misalkan Phij dan mhij masing-masing menyatakan proyeksi penduduk dan realisasi
target sampel di strata h, jenis kelamin i dan kelompok umur j, maka penimbang dapat
~
Phij
dirumuskan sebagai Whij = .
mhij

Misalkan y hijk dan x hijk menyatakan nilai karakteristik Y dan X responden ke-k,
kelompok umur j, jenis kelamin i, strata h, maka estimasi total bagi karakteristik tersebut
dapat dirumuskan sebagai berikut:

mhij

Yˆhij = ∑ Whij y hijk .


k =1
mhij

Xˆ hij = ∑ Whij x hijk


k =1

Sehingga estimasi rasio antara karakteristik Y dan X dirumuskan sebagai berikut :


Yˆhij
Rˆ hij =
Xˆ hij

9. Tingkat Partisipasi

Setiap responden diwawancarai oleh petugas dengan menggunakan kuesioner untuk


menggali informasi tentang perilaku seks dan kemudian diambil darahnya untuk diuji.
Jumlah responden yang berhasil diwawancarai tentang perilaku seks disajikan pada
Tabel 4.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 81


Tabel 4. Jumlah Responden Perilaku menurut Kelompok Umur,
Jenis Kelamin dan Topografi Wilayah

Topografi Wilayah
Kelompok Jenis
Umur kelamin Pegu- Pesisir Pesisir
Jumlah
nungan Mudah Sulit
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Laki-laki 268 556 198 1.022
15 – 24
Perempuan 288 602 231 1.121
Laki-laki 426 739 318 1.483
25 – 39
Perempuan 423 749 328 1.500
Laki-laki 216 313 142 671
40 - 49
Perempuan 126 288 94 508
Jumlah 1.747 1.747 1.311 6.305
% terhadap target sampel 99,8 99,8 98,9 97,0

Target sampel 1.750 1.750 1.325 6.500

Secara keseluruhan sampel yang memenuhi syarat yang berhasil diwawancarai


sebanyak 6.305 (97,0 persen dari target sampel), dengan rincian 3.247 (94,8 persen dari
target sampel) di strata pesisir mudah, 1.311 (98,9 persen dari target sampel) di strata
pesisir sulit, dan 1.747 (99,8 persen dari target sampel) di strata pegunungan (Tabel 4).
Secara keseluruhan tingkat non-partisipasi adalah sebesar 3,0 persen. Tingkat non-
partisipasi pada umumnya disebabkan karena responden menolak dan tidak berada di
tempat (rumah) ketika petugas pewawancara datang. Terdapat kecenderungan, untuk
wilayah yang mudah dijangkau (strata pesisir mudah) tingkat partisipasi lebih rendah
dibandingkan dengan wilayah-wilayah yang sulit dijangkau (strata pesisir sulit dan strata
pegunungan). Hal ini disebabkan mobilitas penduduk di strata pesisir mudah relatif tinggi
sehingga petugas mengalami kesulitan ketika akan menjumpai responden karena tidak ada
di tempat.
Tujuan khusus STHP2006 adalah menduga parameter prevalensi HIV berdasarkan
spesimen darah, dan parameter indikator sosial yang berkaitan dengan perilaku seksual,
penyalahgunaan narkotika melalui jarum suntik, persepsi terhadap resiko HIV, dan
sebagainya. Kedua parameter tersebut dikumpulkan dari unit sampling yang sama melalui
pendekatan yang berbeda, yaitu: untuk prevalensi HIV informasi dikumpulkan melalui
pengujian terhadap spesimen darah yang diambil dari setiap responden, sedangkan untuk
indikator perilaku sosial data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan
responden.
Dengan cara demikian akan diperoleh data berpasangan antara hasil pengujian spesimen
darah dan data tentang berbagai indikator perilaku sosial. Dari hasil pengambilan

82 Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006


spesimen darah ternyata tidak semua responden yang berhasil diwawancarai berhasil juga
diambil darahnya.

Tabel 5. Jumlah Responden Perilaku Seks yang Bersedia Diambil Darahnya


menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin dan Topografi Wilayah

Topografi Wilayah
Kelompok
Jenis kelamin
Umur Pegu- Pesisir Pesisir
nungan Mudah Sulit
(1) (2) (3) (4) (5)
Laki-laki 267 549 191
15 – 24
Perempuan 287 596 222
Laki-laki 425 728 312
25 – 39
Perempuan 422 741 322
Laki-laki 216 307 139
40 - 49
Perempuan 126 281 92
Jumlah 1.743 3.202 1.278
% terhadap resp. perilaku 99,8 98,6 97,5
Jumlah responden perilaku 1.747 3.247 1.311

Dari 6.305 responden yang berhasil diwawancarai tentang perilaku seksnya hanya
6.223 responden atau 98,7 persen yang bersedia diambil darahnya untuk pengujian virus
HIV (Tabel 5). Tingkat Partisipasi tertinggi terdapat di strata pegunungan 99,8 persen,
kemudian 98,6 persen dan 97,5 persen masing-masing untuk strata pesisir mudah dan
strata pesisir sulit.

Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 83


Lampiran 4

STHP06-WANITA

SURVEILANS TERPADU HIV-PERILAKU 2006


Kerjasama Badan Pusat Statistik dan Departemen Kesehatan dengan Dukungan
ASA-FHI dan Bank Dunia
PENDATAAN UNTUK WANITA
RAHASIA

BLOK I. KETERANGAN TEMPAT

1 Provinsi

2 Kabupaten/Kota *)

3 Distrik

4 Desa/Kelurahan *)
5 Klasifikasi Desa/Kelurahan 1. Perkotaan 2. Perdesaan

6 Nomor Blok Sensus

7 Nomor Kode Sampel

8 Nomor urut Responden

9 Nomor Kode Responden Tempel stiker di sini

BLOK II. KETERANGAN PETUGAS

1 Nomor urut Tim


..........................................................................
2 Nama dan Kode Pewawancara Tanggal Wawancara Tanda Tangan

..................................................... .......................................................................... .....................................


3 Wawancara dilakukan dengan menggunakan
1. Bahasa Indonesia 2. Bahasa Daerah
bahasa:

4. Kelengkapan dan konsistensi jawaban dalam kuesioner ini telah diperiksa:


Nama dan Kode Pewawancara/Pengawas Status Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan

Pewawancara II

Pewawancara III

Pengawas
*) Coret yang tidak perlu
RINGKASAN PROSES WAWANCARA

1. Ucapkan salam (misalnya: Selamat Pagi/Selamat Sore/Selamat Malam) dan perkenalkan diri Anda.
Contohnya: “Nama saya (sebutkan). Saya adalah salah seorang petugas yang sedang
mengumpulkan data kesehatan”

2. Bacakan formulir Informed Consent untuk proses wawancara kepada calon responden.

3. Tanyakan apakah calon responden sudah mengerti tentang tujuan survei dan peran mereka, serta
jawablah setiap pertanyaan yang diajukan mereka. Pastikan bahwa calon responden sudah benar-
benar mengerti dengan menjelaskan ulang atau menanyakan apa yang diharapkan dari mereka.

4. Setelah itu tanyakan apakah mereka bersedia untuk berpartisipasi. Jika setuju, tanda tangani
informed consent dan mintalah seorang saksi atau pewawancara lain untuk menandatangani di
bagian saksi sebelum memulai wawancara. Jika menolak, ucapkan terima kasih atas waktunya dan
lakukan pencacahan pada calon responden berikutnya.

5. Sebelum memulai wawancara ingatkan calon responden tentang pentingnya menjawab dengan jujur
dan mereka boleh tidak menjawab pertanyaan yang tidak ingin mereka jawab serta menghentikan
proses wawancara sewaktu-waktu.

6. Setelah wawancara selesai, ucapkan terima kasih lalu bacakan informed consent untuk pemeriksaan
serologi HIV.

7. Setelah itu tanyakan apakah responden sudah mengerti tujuan dari pengambilan darah dan jawablah
apabila ada pertanyaan dari mereka. Pastikan bahwa calon responden sudah benar-benar mengerti
dengan menjelaskan ulang atau menanyakan apa yang diharapkan dari mereka. Tanyakan kesediaan
responden untuk diambil darahnya dan jika mereka bersedia, tanda tangani informed consent serta
mintalah seorang saksi atau pewawancara lain untuk menandatangani bagian saksi sebelum
pengambilan darah dilakukan. Jika responden menolak, ucapkan terima kasih, berikan brosur
HIV/AIDS dan souvenir atas partisipasi mereka dalam survei, lalu lakukan pencacahan pada calon
responden berikutnya.

8. Untuk responden yang bersedia diambil darahnya, lakukan pengambilan darah perifer sesuai
prosedur, tempelkan nomor stiker pada tabung dan kuesioner serta simpanlah sampel darah dan
bahan habis pakai sesuai prosedur.
BLOK III. KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Berapa usia Anda?


..................... tahun

2. a. Pendidikan tertinggi apa yang pernah/ 1. Tidak sekolah „ [R.3] 4. SMU/sederajat


saat ini sedang Anda tempuh? 2. SD/sederajat 5. Perguruan Tinggi/
3. SMP/sederajat Universitas

b. Tingkat pendidikan tertinggi apa yang 1 2 3 4 5 6 7 8 (tamat)


telah/sedang Anda selesaikan?

3. Apa status perkawinan Anda saat ini? 1. Belum kawin „[R.7] 4. Cerai hidup
2. Kawin negara 5. Cerai mati
3. Kawin adat 6. Hidup bersama

4. Berapa kali Anda pernah hamil? 0 1 2 3 4 5 6 7 (lebih dari 6)

5. Apakah suami (mantan suami)/pasangan


1. Ya 2. Tidak „ [R.7]
hidup (mantan pasangan hidup) Anda
memiliki istri/pasangan lain? 9. Tidak menjawab „ [R.7]

6. Berapa orang? ..................... orang

7. Apakah Anda berasal dari etnis Papua? 1. Ya, bapak dan ibu Papua
2. Ya, bapak Papua
3. Ya, ibu Papua
4. Tidak

8. Jenis pekerjaan yang dilakukan: 1. Petani 5. Lainnya:


2. Nelayan ................................
3. Buruh/karyawan 6. Tidak punya
4. Pedagang

[dalam ribuan rupiah]


9. Besar rata-rata penghasilan Anda sebulan: Rp ...............................................
BLOK IV. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DAN PENCEGAHANNYA

1. Sebutkan tiga penyakit yang paling sering 1. Malaria 32. Kulit


dialami masyarakat di sini? 2. ISPA 64. Lainnya: ....................
4. TBC 998. Tidak tahu
8. AIDS 999. Tidak menjawab
16. Diare

2. Apakah Anda pernah mendapat informasi 1. Ya 9. Tidak menjawab


tentang penyakit yang disebut HIV/AIDS
sebelum wawancara ini? 2. Tidak „ [Blok V]

3. Dari sumber mana saja Anda mendapatkan


informasi tentang HIV/AIDS?
(Pilihan jawaban jangan dibacakan)

a. Radio 1. Ya 2. Tidak a

b. TV 1. Ya 2. Tidak b

c. Surat kabar/brosur 1. Ya 2. Tidak c


d. Petugas LSM 1. Ya 2. Tidak d
e Tokoh agama 1. Ya 2. Tidak e
f. Tokoh adat 1. Ya 2. Tidak f
g. Guru 1. Ya 2. Tidak g
h. Petugas kesehatan 1. Ya 2. Tidak h
i. Teman 1. Ya 2. Tidak i
j. Anggota keluarga 1. Ya 2. Tidak j
k. Lain-lain (sebutkan): .............................. 1. Ya 2. Tidak k

4. Berapa kali Anda pernah menghadiri


pertemuan yang berkaitan dengan HIV/AIDS ...................... kali
pada setahun terakhir?

5. Apakah Anda pernah mendapatkan pamflet,


buklet, komik, dll. tentang HIV/AIDS pada 1. Ya 2. Tidak
setahun terakhir?
BLOK IV. [LANJUTAN]

6. Apakah pernyataan-pernyataan ini menurut Anda


benar atau salah?
a. AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu a
b. Ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu b
c. Orang dengan HIV terlihat sehat: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu c
d. HIV dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu d
e. Orang yang suka berganti-ganti pasangan 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu
e
seks lebih mudah tertular HIV:
f. Pembuatan tato atau tanda pada kulit berisiko 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu f
tertular HIV:
g. HIV/AIDS disebabkan oleh sihir (guna-guna, 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu g
fui-fui):
h. Seseorang yang berhubungan seks dengan 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu h
satu pasangan saja berisiko rendah tertular
HIV:
i. Seseorang dapat tertular virus HIV walaupun i
1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu
hanya sekali berhubungan seks dengan orang
tertentu:
j. Bayi dapat tertular HIV dari ibunya yang 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu j
mengidap HIV:

7. Menurut Anda, apakah Anda dapat mengetahui


bahwa seseorang telah terinfeksi virus penyebab 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
AIDS (HIV) dgn hanya melihat fisiknya saja?

8. Menurut pendapat Anda, apakah pernyataan


yang saya bacakan ini dapat menghindari
tertularnya HIV?
a. Hanya berhubungan seks dengan pria yang 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu a
tampak bersih dan sehat?
b. Tidak pernah berhubungan seks dengan 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu b
orang yang baru saja dikenal?
c. Saling setia kepada satu pasangan? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu c
d. Selalu menggunakan kondom/sargo (sarung 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu d
gosi)?
e. Meminum obat sebelum berhubungan seks? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu e
f. Hanya makan makanan bergizi? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu f
g. Tidak menggunakan alat makan dan minum 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu g
secara bersama dengan orang yang
mengidap HIV/AIDS?
h. Tidak menggunakan alat suntik yang telah 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu h
digunakan orang lain?
i. Selalu mencuci/membasuh alat kelamin 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu i
setelah berhubungan seks?
BLOK IV. [LANJUTAN]
9. Apakah secara pribadi Anda mengenal
seseorang yang terinfeksi HIV atau yang 1. Ya 2. Tidak „ [R.11]
mempunyai gejala AIDS?

10. Bagaimana sikap dan perlakuan Anda 1. Menjauh darinya


terhadapnya? 2. Memperlakukan sama seperti orang lain
3. Merasa kasihan kepadanya
4. Memberikan perhatian khusus kepadanya
11. Apakah Anda mengetahui adanya program
pelayanan atau kelompok dukungan bagi 1. Ya 2. Tidak
orang-orang dengan HIV/AIDS?

12. Apakah Anda mengetahui di mana dapat 1. Ya 2. Tidak „ [R.14]


menjalani tes HIV?

13. Jika “Ya” (R.12=1), di mana?


a. Laboratorium Swasta 1. Ya 2. Tidak a
b. Palang Merah Indonesia (PMI) 1. Ya 2. Tidak b
c. Rumah Sakit
1. Ya 2. Tidak c
(Laboratorium rumah sakit)
d. Puskesmas 1. Ya 2. Tidak d
e. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) 1. Ya 2. Tidak e
f. Lain-lain (sebutkan): ............................ 1. Ya 2. Tidak f

14. a. Pernahkah darah Anda diambil untuk 1. Ya 9. Tidak menjawab


dites? 2. Tidak „ [Blok V]

b. Apakah pengambilan darah tersebut


untuk tes HIV? 1. Ya 8. Tidak tahu
[Jelaskan bahwa pewawancara tidak 2. Tidak „ [Blok V] 9. Tidak menjawab
ingin tahu hasil tesnya]

15. Kapan Anda terakhir melakukan tes 1. Dalam setahun terakhir


tersebut? 2. Lebih dari setahun lalu
8. Tidak tahu/tidak ingat
9. Tidak menjawab

16. Apakah Anda melakukan tes atas kemauan 1. Ya 9. Tidak menjawab


Anda sendiri? 2. Tidak

17. Apakah Anda pernah mendapat konseling 1. Ya 9. Tidak menjawab „ [R.19]


pada waktu mengikuti tes tersebut? 2. Tidak „ [R.19]

18. Apakah Anda mendapatkan konseling 1. Hanya sebelum tes 9. Tidak menjawab
sebelum dan sesudah tes? 2. Hanya sesudah tes
3. Sebelum maupun sesudah tes

19. Apakah Anda menerima hasil tes? 1. Ya 9. Tidak menjawab


2. Tidak
Instruksi untuk Pewawancara:
Pewawancara memberitahukan kepada responden bahwa pertanyaan-pertanyaan selanjutnya bersifat sangat pribadi dan
memohon kepada responden agar menjawab secara jujur setiap pertanyaan yang diajukan dan pewawancara menjamin
kerahasiaan dari jawaban responden.

Ungkapkan kalimat berikut kepada responden:


Pertanyaan berikut bersifat sangat pribadi karena berkaitan dengan seks dan pemakaian kondom. Mohon agar Anda menjawab
atau memberikan uraian sejujur mungkin atas beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan.
Anda tidak perlu khawatir karena kerahasiaan jawaban Anda akan kami jamin dan tidak akan pernah diketahui oleh orang lain.

BLOK V. PERILAKU SEKS

1. Apakah Anda pernah melakukan hubungan 1. Ya, pernah 2. Tidak pernah „ [R.6, Blok VI]
seks? (vaginal atau anal) 9. Tidak menjawab

2. a. Pada usia berapa Anda pertama kali


melakukan hubungan seks? .................... tahun 98. Tidak ingat

b. Dengan siapa? 1. Suami 4. Pria Penjaja Seks


2. Teman laki-laki 5. Lainnya:
3. Saudara laki-laki .................................

3. Dengan berapa pria yang berbeda


(termasuk suami) Anda pernah melakukan 0 1 2 3 4 5 orang (lebih dari 4)
hubungan seks pada setahun terakhir?  [R.6, Blok VI]

4. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan


seks vaginal dengan suami/pasangan
tetap pada sebulan terakhir? ..................... kali
b. Dalam hubungan seks vaginal tersebut
berapa kali suami/pasangan tetap Anda ..................... kali
menggunakan kondom?

5. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan


seks anal dengan suami/pasangan
tetap pada sebulan terakhir? ..................... kali
b. Dalam hubungan seks anal tersebut
berapa kali suami/pasangan tetap Anda
menggunakan kondom? ..................... kali

6. Dalam hubungan seks terakhir, apakah


suami/pasangan tetap Anda menggunakan 1. Ya 2. Tidak 9. Tidak menjawab
kondom?
Mohon maaf, kami akan menanyakan hal-hal yang lebih sensitif tentang pasangan seks yang
lain, mohon dijawab dengan jujur, semua jawaban akan kami rahasiakan!

BLOK V. [LANJUTAN]

Hubungan seks dengan pria lain


7. Apakah Anda pernah berhubungan seks
dengan pria lain (yang bukan suami/ 1. Ya 2. Tidak „ [Blok VI]
pasangan tetap) pada setahun terakhir?
8. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan
seks vaginal dengan pria lain (bukan
suami/pasangan tetap) pada setahun
terakhir? ..................... kali
b. Dalam hubungan seks vaginal tersebut
berapa kali pria lain (bukan suami/
pasangan tetap) Anda menggunakan ..................... kali
kondom?
9. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan
seks anal dengan pria lain (bukan
suami/pasangan tetap) pada setahun
terakhir? ..................... kali
b. Dalam hubungan seks anal tersebut
berapa kali pria lain (bukan suami/
pasangan tetap) Anda menggunakan ..................... kali
kondom?

10. Dalam hubungan seks terakhir dengan pria


lain, apakah pria tersebut menggunakan 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak menjawab
kondom?

11. Apakah Anda mendapat imbalan/dibayar


untuk berhubungan seks dengannya pada 1. Ya 2 . Tidak „ [R.14]
setahun terakhir?

12. Berapa pria yang memberi imbalan/


membayar pada setahun terakhir? ...................... orang

13. Berapa pria yang tidak memberi imbalan


apapun pada setahun terakhir? ...................... orang

14. Apakah Anda pernah memberi imbalan/


membayar pria untuk berhubungan seks 1. Ya 2. Tidak „ [R.17]
dengan Anda pada setahun terakhir?

15. Berapa kali Anda berhubungan seks dengan


memberi imbalan/membayar pada setahun ...................... kali
terakhir?

16. Pada hubungan seks terakhir dengan pria


yang diberi imbalan/dibayar, apakah pria 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
tersebut menggunakan kondom?
BLOK V. [LANJUTAN]
17. Apakah Anda pernah berhubungan seks
dengan pria yang menggunakan salah satu
dari alat bantu seks ini?
a. Penis buatan: 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu a
b. Viagra atau pil atau obat kemasan
serupa: 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu b
c. Cara tradisional untuk membesarkan
1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu c
penis:
d. Obat tradisional untuk menambah
kekuatan ereksi: 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu d
e. Suntikan minyak: 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu e
f. Alat/asesoris lain untuk penis 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu f
18. Apakah Anda pernah menggunakan
pelumas seks? 1. Ya 2. Tidak „ [R.20]

19. Jika “Ya” (R.18=1), apa jenisnya?


1. Ya 2. Tidak a
a. Air ludah
1. Ya 2. Tidak b
b. KY Jelly
1. Ya 2. Tidak c
c. Krim tubuh/rambut
d. Minyak 1. Ya 2. Tidak d

e. Lain-lain (sebutkan: ............................) 1. Ya 2. Tidak e

Hubungan seks dalam pesta adat


20. a. Apakah Anda pernah menghadiri 1. Ya 2. Tidak „ [R.23]
pesta adat pada setahun terakhir?
b. Jika “Ya”, apa nama pesta tersebut? ................................................................................

21. Apakah pada pesta tersebut Anda


berhubungan seks dengan bukan 1. Ya 2. Tidak „ [R.23]
suami/pasangan tetap?

22. Apakah pasangan seks Anda meng-


gunakan kondom pada hubungan seks 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
terakhir?

Seks antri
23. Apakah Anda pernah melakukan
hubungan seks antri pada setahun 1. Ya 2. Tidak „ [R.26]
terakhir?

24. Pada seks antri yang terakhir, dengan


berapa pria Anda berhubungan seks? ...................... orang

25. Berapa dari pria-pria ini yang


menggunakan kondom? ...................... orang 98. Tidak tahu
Hubungan seks dalam perjalanan
26. Berapa kali Anda mengadakan perjalanan ke
...................... kali 98. Tidak ingat
desa atau kota yang jauh (menginap lebih
dari 2 hari) pada setahun terakhir? ( Jika jawabannya “00” „ [Blok VI] )
27. Apakah Anda berhubungan seks dengan pria
1. Ya 2. Tidak „ [Blok VI]
lain dalam periode perjalanan tsb.?
28. Dengan berapa pria Anda berhubungan seks
selama melakukan perjalanan? ...................... orang

29. Dalam hubungan seks terakhir selama


melakukan perjalanan, apakah pria 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak menjawab
tersebut menggunakan kondom?

BLOK VI. KEKERASAN SEKSUAL DAN PENGGUNAAN NARKOBA


1. Apakah Anda pernah dipaksa melakukan
hubungan seks yang bertentangan dengan 1. Ya 2. Tidak „ [R.4]
keinginan Anda pada setahun terakhir?
2. Siapa yang melakukan? 1. Suami/pasangan tetap
2. Pria lain/pasangan tidak tetap
4. Sekelompok pria
8. Lainnya: ....................................
3. Berapa kali hal ini terjadi pada setahun
terakhir? ....................... kali
4. Berapa sering Anda meminum miras sebelum 1. Tidak pernah „ [R.6]
berhubungan seks pada sebulan terakhir? 2. Jarang/kadang-kadang
3. Biasanya/sering
4. Selalu/setiap kali berhubungan seks
9. Tidak menjawab
5. Pada hubungan seks yang terakhir (saat Anda
minum miras), apakah pasangan seks Anda 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak ingat
juga meminum miras?
6. Sebagian orang menggunakan narkoba untuk
bersenang-senang, apakah Anda pernah 1. Ya 2. Tidak „ [Blok VII]
menggunakan narkoba?
7. Jenis narkoba yang digunakan pada setahun
terakhir?
a. Shabu-shabu 1. Ya 2. Tidak a

b. Kokain 1. Ya 2. Tidak b
c. Putaw (heroin) 1. Ya 2. Tidak c
d. Ganja (marijuana) 1. Ya 2. Tidak d
e. Pil koplo/ekstasi 1. Ya 2. Tidak e
f. Lain-lain (sebutkan): ............................. 1. Ya 2. Tidak f
8. Apakah Anda pernah menggunakan narkoba
1. Ya 2. Tidak „ [Blok VII]
suntik pada setahun terakhir?
9. Apakah Anda menggunakan jarum suntik
secara bersama? (sharing needle) 1. Ya 2. Tidak
BLOK VII. PENGETAHUAN TENTANG IMS DAN PERILAKU MENCARI PENGOBATAN

1. Dalam setahun terakhir ini, apakah Anda


pernah mengalami gejala-gejala sbb:
a. Luka atau koreng di daerah kelamin 1. Ya 2. Tidak a
b. Benjolan di sekitar kelamin 1. Ya 2. Tidak b
c. Keputihan disertai dengan bau tidak sedap 1. Ya 2. Tidak c
Bila semua berkode 2 (Tidak) „ [R.8]

2. Jika "Ya" (R.1.a/b/c = 1), apa yang Anda 1. Berobat ke petugas kesehatan
lakukan saat mengalami gejala tersebut? 2. Berobat ke dukun/tabib „ [R.5]
3. Melakukan pengobatan sendiri „ [R.6]
4. Tdk melakukan sesuatu/tdk diobati „ [R.8]

3. Jika berobat ke petugas kesehatan 1. Rumah Sakit


(R.2 = 1), ke mana Anda pergi berobat? 2. Puskesmas/Pustu
3. Dokter praktek
4. Mantri kesehatan/bidan/perawat
5. Klinik: ................................................
6. Lainnya: ............................................
4. Apakah orang yang Anda temui saat berobat
menyarankan kepada Anda untuk 1. Ya 2. Tidak
menggunakan kondom?
5. Apakah sebelumnya Anda pernah melakukan
1. Ya 2. Tidak „ [R.8]
pengobatan sendiri untuk mengatasi gejala-
8. Tidak ingat „ [R.8]
gejala tsb.?

6. Kalau mengobati sendiri (R.2 = 3 atau 1. Amoksisilin 16. Lainnya:


R.5 = 1), obat apa yang dipakai? 2. Super Tetra ....................................
4. Jamu 98. Tidak tahu
8. Buah Merah 99. Tidak menjawab
7. Alasan Anda melakukan pengobatan sendiri? 1. Merasa malu
2. Tidak mendapat pelayanan yang baik
4. Sarana kesehatan sulit dijangkau
8. Lainnya: .....................................................
98. Tidak tahu
99. Tidak menjawab
8. Apakah Anda pernah melakukan pengobatan
tradisional dengan cara menyayat bagian 1. Ya 2. Tidak
tubuh?
9. a. Apakah kondom mudah didapat di tempat
1. Ya 2. Tidak
ini?

b. Di mana Anda dapat memperoleh 1. Klinik kesehatan/Puskesmas/Rumah Sakit


kondom? 2. Apotek/Toko obat
4. Toko/Kios setempat
8. LSM
16. Lain-lain (sebutkan): .................................
98. Tidak tahu

10. Berapa harga sebuah kondom? Rp .................................... 8. Tidak tahu


BLOK VIII. CATATAN

Sebelum mengakhiri wawancara,


tinjau kembali kuesioner/jawaban responden apakah sudah lengkap

Terima kasih atas partisipasi Anda!


Lampiran 5

STHP06-PRIA

SURVEILANS TERPADU HIV-PERILAKU 2006


Kerjasama Badan Pusat Statistik dan Departemen Kesehatan dengan Dukungan
ASA-FHI dan Bank Dunia
PENDATAAN UNTUK PRIA
RAHASIA
BLOK I. KETERANGAN TEMPAT

1 Provinsi

2 Kabupaten/Kota *)

3 Distrik

4 Desa/Kelurahan *)

5 Klasifikasi Desa/Kelurahan 1. Perkotaan 2. Perdesaan

6 Nomor Blok Sensus

7 Nomor Kode Sampel

8 Nomor urut Responden

9 Nomor Kode Responden Tempel stiker di sini

BLOK II. KETERANGAN PETUGAS

1 Nomor urut Tim


..........................................................................
2 Nama dan Kode Pewawancara Tanggal Wawancara Tanda Tangan

........................................................ ........................................................................... ..................................


3 Wawancara dilakukan dengan menggunakan
1. Bahasa Indonesia 2. Bahasa Daerah
bahasa:

4. Kelengkapan dan konsistensi jawaban dalam kuesioner ini telah diperiksa:

Nama dan Kode Pewawancara/Pengawas Status Tanggal Pemeriksaan Tanda Tangan

Pewawancara II

Pewawancara III

Pengawas
*) Coret yang tidak perlu
RINGKASAN PROSES WAWANCARA

1. Ucapkan salam (misalnya: Selamat Pagi/Selamat Sore/Selamat Malam) dan perkenalkan diri Anda.
Contohnya: “Nama saya (sebutkan). Saya adalah salah seorang petugas yang sedang
mengumpulkan data kesehatan”

2. Bacakan formulir Informed Consent untuk proses wawancara kepada calon responden.

3. Tanyakan apakah calon responden sudah mengerti tentang tujuan survei dan peran mereka, serta
jawablah setiap pertanyaan yang diajukan mereka. Pastikan bahwa calon responden sudah benar-
benar mengerti dengan menjelaskan ulang atau menanyakan apa yang diharapkan dari mereka.

4. Setelah itu tanyakan apakah mereka bersedia untuk berpartisipasi. Jika setuju, tanda tangani
informed consent dan mintalah seorang saksi atau pewawancara lain untuk menandatangani di
bagian saksi sebelum memulai wawancara. Jika menolak, ucapkan terima kasih atas waktunya dan
lakukan pencacahan pada calon responden berikutnya.

5. Sebelum memulai wawancara ingatkan calon responden tentang pentingnya menjawab dengan jujur
dan mereka boleh tidak menjawab pertanyaan yang tidak ingin mereka jawab serta menghentikan
proses wawancara sewaktu-waktu.

6. Setelah wawancara selesai, ucapkan terima kasih lalu bacakan informed consent untuk pemeriksaan
serologi HIV.

7. Setelah itu tanyakan apakah responden sudah mengerti tujuan dari pengambilan darah dan jawablah
apabila ada pertanyaan dari mereka. Pastikan bahwa calon responden sudah benar-benar mengerti
dengan menjelaskan ulang atau menanyakan apa yang diharapkan dari mereka. Tanyakan kesediaan
responden untuk diambil darahnya dan jika mereka bersedia, tanda tangani informed consent serta
mintalah seorang saksi atau pewawancara lain untuk menandatangani bagian saksi sebelum
pengambilan darah dilakukan. Jika responden menolak, ucapkan terima kasih, berikan brosur
HIV/AIDS dan souvenir atas partisipasi mereka dalam survei, lalu lakukan pencacahan pada calon
responden berikutnya.

8. Untuk responden yang bersedia diambil darahnya, lakukan pengambilan darah perifer sesuai
prosedur, tempelkan nomor stiker pada tabung dan kuesioner serta simpanlah sampel darah dan
bahan habis pakai sesuai prosedur.
BLOK III. KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Berapa usia Anda? ........................ tahun

2. a. Pendidikan tertinggi apa yang pernah/ 1. Tidak sekolah „ [R.3] 4. SMU/sederajat


saat ini sedang Anda tempuh? 2. SD/sederajat 5. Perguruan Tinggi/
3. SMP/sederajat Universitas

b. Tingkat pendidikan tertinggi apa yang 1 2 3 4 5 6 7 8 (tamat)


telah/sedang Anda selesaikan?

3. Apa status perkawinan Anda saat ini? 1. Belum kawin „[R.6] 4. Cerai hidup „[R.5]
2. Kawin negara 5. Cerai mati „[R.5]
3. Kawin adat 6. Hidup bersama

4. Berapa jumlah istri/pasangan tetap Anda saat


ini? ........................ orang

5. Apakah istri (mantan istri)/pasangan hidup


1. Ya 2. Tidak
(mantan pasangan hidup) Anda memiliki
suami/pasangan lain? 9. Tidak menjawab

6. Apakah Anda berasal dari etnis Papua? 1. Ya, bapak dan ibu Papua
2. Ya, bapak Papua
3. Ya, ibu Papua
4. Tidak

7. Jenis pekerjaan yang dilakukan: 1. Petani 5. Lainnya:


2. Nelayan ...............................
3. Buruh/karyawan 6. Tidak punya
4. Pedagang

[dalam ribuan rupiah]


8. Besar rata-rata penghasilan Anda sebulan:
Rp .......................................
BLOK IV. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DAN PENCEGAHANNYA

1. Sebutkan tiga penyakit yang paling sering 1. Malaria 32. Kulit


dialami masyarakat di sini? 2. ISPA 64. Lainnya: ...................
4. TBC 998. Tidak tahu
8. AIDS 999. Tidak menjawab
16. Diare

2. Apakah Anda pernah mendapat informasi


tentang penyakit yang disebut HIV/AIDS 1. Ya 9. Tidak menjawab
sebelum wawancara ini? 2. Tidak „ [Blok V]

3. Dari sumber mana saja Anda mendapatkan


informasi tentang HIV/AIDS?
(Pilihan jawaban jangan dibacakan)
a. Radio 1. Ya 2. Tidak a

b. TV 1. Ya 2. Tidak b

c. Surat kabar/brosur 1. Ya 2. Tidak c

d. Petugas LSM 1. Ya 2. Tidak d

e Tokoh agama 1. Ya 2. Tidak e

f. Tokoh adat 1. Ya 2. Tidak f

g. Guru 1. Ya 2. Tidak g

h. Petugas kesehatan 1. Ya 2. Tidak h

i. Teman 1. Ya 2. Tidak i

j. Anggota keluarga 1. Ya 2. Tidak j


k. Lain-lain (sebutkan): .............................. 1. Ya 2. Tidak k

4. Berapa kali Anda pernah menghadiri


pertemuan yang berkaitan dengan HIV/AIDS ......................... kali
pada setahun terakhir?

5. Apakah Anda pernah mendapatkan pamflet,


buklet, komik, dll. tentang HIV/AIDS pada 1. Ya 2. Tidak
setahun terakhir?
BLOK IV. [LANJUTAN]

6. Apakah pernyataan-pernyataan ini menurut Anda


benar atau salah?
a. AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu a
b. Ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu b
c. Orang dengan HIV terlihat sehat: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu c
d. HIV dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk: 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu d
e. Orang yang suka berganti-ganti pasangan 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu
e
seks lebih mudah tertular HIV:
f. Pembuatan tato atau tanda pada kulit berisiko 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu f
tertular HIV:
g. HIV/AIDS disebabkan oleh sihir (guna-guna, 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu g
fui-fui):
h. Seseorang yang berhubungan seks dengan 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu h
satu pasangan saja berisiko rendah tertular
HIV:
i. Seseorang dapat tertular virus HIV walaupun 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu i
hanya sekali berhubungan seks dengan orang
tertentu:
j. Bayi dapat tertular HIV dari ibunya yang 1. Benar 2. Salah 8. Tidak tahu j
mengidap HIV:
7. Menurut Anda, apakah Anda dapat mengetahui
bahwa seseorang telah terinfeksi virus penyebab 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
AIDS (HIV) dgn hanya melihat fisiknya saja?

8. Menurut pendapat Anda, apakah pernyataan


yang saya bacakan ini dapat menghindari
tertularnya HIV?
a. Hanya berhubungan seks dengan wanita yang 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu a
tampak bersih dan sehat?
b. Tidak pernah berhubungan seks dengan 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu b
orang yang baru saja dikenal?
c. Saling setia kepada satu pasangan? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu c
d. Selalu menggunakan kondom/sargo (sarung 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
gosi)? d

e. Meminum obat sebelum berhubungan seks? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu e


f. Hanya makan makanan bergizi? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu f
g. Tidak menggunakan alat makan dan minum 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
g
secara bersama dengan orang yang
mengidap HIV/AIDS?
h. Tidak menggunakan alat suntik yang telah 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu h
digunakan orang lain?
i. Selalu mencuci/membasuh alat kelamin 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu i
setelah berhubungan seks?
BLOK IV. [LANJUTAN]

9. Apakah secara pribadi Anda mengenal


seseorang yang terinfeksi HIV atau yang 1. Ya 2. Tidak „ [R.11]
mempunyai gejala AIDS?

10. Bagaimana sikap dan perlakuan Anda 1. Menjauh darinya


terhadapnya? 2. Memperlakukan sama seperti orang lain
3. Merasa kasihan kepadanya
4. Memberikan perhatian khusus kepadanya
11. Apakah Anda mengetahui adanya program
pelayanan atau kelompok dukungan bagi 1. Ya 2. Tidak
orang-orang dengan HIV/AIDS?

12. Apakah Anda mengetahui di mana dapat 1. Ya 2. Tidak „ [R.14]


menjalani tes HIV?

13. Jika “Ya” (R.12=1), di mana?


a. Laboratorium Swasta 1. Ya 2. Tidak a
b. Palang Merah Indonesia (PMI) 1. Ya 2. Tidak b
c. Rumah Sakit
1. Ya 2. Tidak c
(Laboratorium rumah sakit)
d. Puskesmas 1. Ya 2. Tidak d
e. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) 1. Ya 2. Tidak e
f. Lain-lain (sebutkan): _____________ 1. Ya 2. Tidak f

14. a. Pernahkah darah Anda diambil untuk 1. Ya 9. Tidak menjawab


dites? 2. Tidak „ [Blok V]

b. Apakah pengambilan darah tersebut


untuk tes HIV? 1. Ya 8. Tidak tahu
[Jelaskan bahwa pewawancara tidak 2. Tidak „ [Blok V] 9. Tidak menjawab
ingin tahu hasil tesnya]

15. Kapan Anda terakhir melakukan tes 1. Dalam setahun terakhir


tersebut? 2. Lebih dari setahun lalu
8. Tidak tahu/tidak ingat
9. Tidak menjawab

16. Apakah Anda melakukan tes atas kemauan 1. Ya 9. Tidak menjawab


Anda sendiri? 2. Tidak

17. Apakah Anda pernah mendapat konselling 1. Ya 9. Tidak menjawab „ [R.19]


pada waktu mengikuti tes tersebut? 2. Tidak „ [R.19]

18. Apakah Anda mendapatkan konseling 1. Hanya sebelum tes 9. Tidak menjawab
sebelum dan sesudah tes? 2. Hanya sesudah tes
3. Sebelum maupun sesudah tes
1. Ya 9. Tidak menjawab
19. Apakah Anda menerima hasil tes?
2. Tidak
Instruksi untuk Pewawancara:
Pewawancara memberitahukan kepada responden bahwa pertanyaan-pertanyaan selanjutnya bersifat sangat pribadi
dan memohon kepada responden agar menjawab secara jujur setiap pertanyaan yang diajukan dan pewawancara
menjamin kerahasiaan dari jawaban responden.

Ungkapkan kalimat berikut kepada responden:


Pertanyaan berikut bersifat sangat pribadi karena berkaitan dengan seks dan pemakaian kondom. Mohon agar Anda
menjawab atau memberikan uraian sejujur mungkin atas beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan.
Anda tidak perlu khawatir karena kerahasiaan jawaban Anda akan kami jamin dan tidak akan pernah diketahui oleh
orang lain.

BLOK V. PERILAKU SEKS

1. Apakah Anda pernah melakukan hubungan 1. Ya, pernah 2. Tidak pernah „[R.7, Blok VI]
seks? (Vaginal atau Anal) 9. Tidak menjawab

2. a. Pada usia berapa Anda pertama kali


melakukan hubungan seks? .................... tahun 98. Tidak ingat

b. Dengan siapa? 1. Istri 5. Saudara perempuan


2. Teman perempuan 6. Wanita Penjaja Seks
3. Teman laki-laki 7. Pria Penjaja Seks
4. Saudara laki-laki 8. Lainnya: ...................

3. Dengan berapa wanita yang berbeda


(termasuk istri), Anda pernah melakukan 0 1 2 3 4 5 orang (lebih dari 4)
hubungan seks pada setahun terakhir?  [R.7, Blok VI]

4. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan


seks vaginal dengan istri/pasangan tetap
..................... kali
pada sebulan terakhir?
b. Dalam hubungan seks vaginal tersebut
berapa kali Anda menggunakan kondom? ..................... kali

5. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan


seks anal dengan istri/pasangan tetap
..................... kali
pada sebulan terakhir?
b. Dalam hubungan seks anal tersebut
berapa kali Anda menggunakan kondom? ..................... kali

6. Dalam hubungan seks terakhir, apakah


1. Ya 2. Tidak 9. Tidak menjawab
Anda menggunakan kondom?
Mohon maaf, kami akan menanyakan hal-hal yang lebih sensitif tentang pasangan seks
yang lain, mohon dijawab dengan jujur, semua jawaban akan kami rahasiakan!

BLOK V. [LANJUTAN]

Hubungan seks dengan wanita lain


7. Apakah Anda pernah berhubungan seks
dengan wanita lain (yang bukan istri/ 1. Ya 2. Tidak „ [Blok VI]
pasangan tetap) pada setahun terakhir?

8. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan


seks vaginal dengan wanita lain (yang
bukan istri/pasangan tetap) pada setahun ..................... kali
terakhir?
b. Dalam hubungan seks vaginal tersebut
berapa kali Anda menggunakan kondom? ..................... kali

9. a. Berapa kali Anda melakukan hubungan


seks anal dengan wanita lain (yang
bukan istri/pasangan tetap) pada setahun ..................... kali
terakhir?
b. Dalam hubungan seks anal tersebut
berapa kali Anda menggunakan kondom? ..................... kali

10. Dalam hubungan seks terakhir dengan


wanita lain, apakah Anda menggunakan 1. Ya 2. Tidak 9. Tidak menjawab
kondom?
11. Apakah Anda mendapat imbalan/dibayar
untuk berhubungan seks dengannya pada 1. Ya 2 . Tidak „ [R.14]
setahun terakhir?
12. Berapa wanita yang memberi imbalan/
membayar pada setahun terakhir? ..................... orang

13. Berapa wanita yang tidak memberi imbalan


apapun pada setahun terakhir? ..................... orang

14. Apakah Anda pernah memberi imbalan/


membayar wanita untuk berhubungan seks 1. Ya 2. Tidak „ [R.17]
dengan Anda pada setahun terakhir?
15. Berapa kali Anda berhubungan seks dengan
memberi imbalan/membayar pada setahun ..................... kali
terakhir?
16. Pada hubungan seks terakhir dengan
wanita yang diberi imbalan/dibayar, apakah 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
Anda menggunakan kondom?

17. Apakah Anda pernah berhubungan seks


dengan sesama pria pada setahun 1. Ya 2. Tidak
terakhir?
BLOK V. [LANJUTAN]

18. Apakah Anda pernah berhubungan seks


dengan menggunakan salah satu dari alat
bantu seks ini?
a. Penis buatan: a
1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
b. Viagra atau pil atau obat kemasan b
serupa: 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
c. Cara tradisional untuk membesarkan c
penis: 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
d. Obat tradisional untuk menambah d
1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
kekuatan ereksi:
e
e. Suntikan minyak: 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
f. Alat/asesoris lain untuk penis 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu f

19. Apakah Anda pernah menggunakan


1. Ya 2. Tidak „ [R.21]
pelumas seks?

20. Jika “Ya” (R.19=1), apa jenisnya?


a. Air ludah 1. Ya 2. Tidak a
b. KY Jelly 1. Ya 2. Tidak b
c. Krim tubuh/rambut 1. Ya 2. Tidak c
d. Minyak 1. Ya 2. Tidak d
e. Lain-lain (sebutkan): ............................. 1. Ya 2. Tidak e

21. Apakah Anda dikhitan/disunat? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu

Hubungan seks dalam pesta adat


22. a. Apakah Anda pernah menghadiri pesta
1. Ya 2. Tidak „ [R.25]
adat pada setahun terakhir?

b. Jika “Ya”, apa nama pesta tersebut? ................................................................................

23. Apakah pada pesta tersebut Anda


berhubungan seks dengan bukan istri/ 1. Ya 2. Tidak „ [R.25]
pasangan tetap?

24. Apakah Anda menggunakan kondom pada


hubungan seks yang terakhir? 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu

Seks antri
25. Apakah Anda pernah melakukan hubungan
seks antri pada setahun terakhir? 1. Ya 2. Tidak „ [R.27]

26. Apakah Anda menggunakan kondom pada


1. Ya 2. Tidak
hubungan seks antri?
Hubungan seks dalam perjalanan
27. Berapa kali Anda mengadakan perjalanan ....................... kali 98. Tidak ingat
ke desa atau kota yang jauh (menginap
lebih dari 2 hari) pada setahun terakhir? ( Jika jawabannya “00” „ [Blok VI] )
28. Apakah Anda berhubungan seks dengan
wanita lain dalam periode perjalanan 1. Ya 2. Tidak „ [Blok VI]
tersebut?
29. Dengan berapa wanita Anda berhubungan
seks selama melakukan perjalanan? ...................... orang
30. Pada hubungan seks terakhir dengan
wanita tersebut, apakah Anda 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu
menggunakan kondom?

BLOK VI. KEKERASAN SEKSUAL DAN PENGGUNAAN NARKOBA


1. Apakah Anda pernah memaksa seseorang
untuk melakukan hubungan seks dengan 1. Ya 2. Tidak „ [R.5]
Anda pada setahun terakhir?
2. Apakah seks paksaan tersebut dilakukan 1. Sendiri 3. Pernah sendiri dan
sendiri atau bersama orang lain? 2. Berkelompok pernah berkelompok
3. Dengan siapa Anda melakukan hubungan 1. Istri/pasangan tetap
seks tersebut? 2. Wanita lain
4. Lainnya: ...........................................
4. Berapa kali hal ini terjadi pada setahun
terakhir? ......................... kali

5. Berapa sering Anda meminum miras 1. Tidak pernah „ [R.7]


sebelum berhubungan seks pada sebulan 2. Jarang/kadang-kadang
terakhir? 3. Biasanya/sering
4. Selalu/setiap kali berhubungan seks
9. Tidak menjawab
6. Pada hubungan seks yang terakhir (saat
Anda minum miras), apakah pasangan seks 1. Ya 2. Tidak 8. Tidak ingat
Anda juga meminum miras?
7. Sebagian orang menggunakan narkoba
untuk bersenang-senang, apakah Anda 1. Ya 2. Tidak „ [Blok VII]
pernah menggunakan narkoba?
8. Jenis narkoba yang digunakan pada
setahun terakhir? a
1. Ya 2. Tidak
a. Shabu-shabu b
1. Ya 2. Tidak
b. Kokain
1. Ya 2. Tidak c
c. Putaw (heroin)
1. Ya 2. Tidak d
d. Ganja (marijuana)
e. Pil koplo/ekstasi 1. Ya 2. Tidak e

f. Lain-lain (sebutkan): ............................. 1. Ya 2. Tidak f


9. Apakah Anda pernah menggunakan
narkoba suntik pada setahun terakhir? 1. Ya 2. Tidak „ [Blok VII]
10. Apakah Anda menggunakan jarum suntik
secara bersama? [sharing needle] 1. Ya 2. Tidak
BLOK VII. PENGETAHUAN TENTANG IMS DAN PERILAKU MENCARI PENGOBATAN

1. Dalam setahun terakhir, apakah Anda


pernah mengalami gejala-gejala sbb:
a. Luka atau koreng di daerah kelamin 1. Ya 2. Tidak a
b. Kencing nanah 1. Ya 2. Tidak b
c. Nyeri, sakit/benjolan di sekitar kelamin 1. Ya 2. Tidak c
Bila semua berkode 2 (Tidak) „ [R.8]

2. Jika "Ya" (R.1.a/b/c = 1), apa yang Anda 1. Berobat ke petugas kesehatan
lakukan saat mengalami gejala tersebut? 2. Berobat ke dukun/tabib „ [R.5]
3. Melakukan pengobatan sendiri „ [R.6]
4. Tidak melakukan sesuatu/tdk diobati „ [R.8]

3. Jika berobat ke petugas kesehatan 1. Rumah Sakit


(R.2 = 1), ke mana Anda pergi? 2. Puskesmas/Pustu
3. Dokter praktek
4. Mantri kesehatan/bidan/perawat
5. Klinik: ................................................
6. Lainnya: ............................................
4. Apakah orang yang Anda temui saat berobat
menyarankan kepada Anda untuk 1. Ya 2. Tidak
menggunakan kondom?
5. Apakah sebelumnya Anda pernah
1. Ya 2. Tidak „ [R.8]
melakukan pengobatan sendiri untuk
8. Tidak ingat „ [R.8]
mengatasi gejala-gejala tsb?
6. Kalau mengobati sendiri (R.2 = 3 atau 1. Amoksisilin 16. Lainnya:
R.5 = 1), obat apa yang dipakai? 2. Super Tetra ....................................
4. Jamu 98. Tidak tahu
8. Buah merah 99. Tidak menjawab.
7. Alasan Anda melakukan pengobatan 1. Merasa malu
sendiri? 2. Tidak mendapat pelayanan yang baik
4. Sarana kesehatan sulit dijangkau
8. Lainnya: .............................................
98. Tidak tahu
99. Tidak menjawab
8. Apakah Anda pernah melakukan
pengobatan tradisional dengan cara 1. Ya 2. Tidak
menyayat bagian tubuh?
9. a. Apakah kondom mudah didapat di tempat
1. Ya 2. Tidak
ini?
b. Di mana Anda dapat memperoleh 1. Klinik kesehatan/Puskesmas/Rumah Sakit
kondom? 2. Apotek/Toko obat
4. Toko/Kios setempat
8. LSM
16. Lain-lain (sebutkan): .......................................
88. Tidak tahu

10. Berapa harga sebuah kondom? Rp ...................................... 8. Tidak tahu


BLOK VIII. CATATAN

Sebelum mengakhiri wawancara,


tinjau kembali kuesioner/jawaban responden apakah sudah lengkap

Terima kasih atas partisipasi Anda!


Dengan Dukungan

USAID, FHI-ASA, Bank Dunia, , dan KPA