Anda di halaman 1dari 3

B.

Tujuan Rehabilitasi Jantung

Adapun tujuan dilakukannya rehabilitasi jantung adalah (Muttaqin, 2009):

1. Medical Goals : Meningkatkan fungsi jantung; Mengurangi resiko kematian


mendadak dan infark berulang; Meningkatkan kapasitas kerja; Mencegah
progresivitas yang mendasari proses atheroskeloris; Menurunkan mortalitas
dan morbiditas.

2. Psychological goals : Mengembalikan percaya diri; Mengurangi anxietas and


depressi; Meningkatkan managemen stres; Mengembalikan fungsi seksual
yang baik.

3. Social Goals : Bekerja kembali; Dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari


hari secara mandiri.

4. Health Service Goals : Mengurangi biaya medis; Mobilisasi dini dan segera
pasien bisa pulang; Mengurangi pemakaian obat-obatan; Mengurangi
kemungkinan dirawat kembali.

C. Fase Rehabilitasi Jantung

Merupakan hal yang penting untuk mengetahui 4 fase rehabilitasi jantung


yang masing-masing mempresentasikan komponen perjalanan penyakit yang
berbeda. Perawatan pasien, periode awal lepas RS, training exercise, dan follow
up. Beberapa negara hanya menggunakan 3 fase, dengan menamakan fase
periode awal lepas RS sebagai fase 2A dan training exercise sebagai fase 2B.
berdasar pada masing masing fase dan terlepas dari rehabilitasi jantung mana
yang dipilih, merupakan hal yang penting akan adanya intervensi pada pasien dan
komunikasi yang baik dengan penyedia layanan spesial jantung, pelayanan
primer, dan pelayanan komunitas. Menurut Brunner and Suddarth (2005),
terdapat empat fase dalam rehabilitasi jantung, yaitu

1. Fase 1

Fase 1 adalah fase perawatan pasien. Fase ini terutama terjadi selama
perawatan dalam rumah sakit atau setelah terdapat “step change” pada
kondisi pasien jantung (MI, angina, coronary heart disease (CHD), bedah
jantung (angioplasty), gagal jantung). Selama fase eveluasi medis terdapat
elemen-elemen kunci yang harus diperhatikan yaitu kepastian dan edukasi,
koreksi terhadap kesalahpahaman konsep / gambaran penyakit jantung,
assessment, factor resiko, mobilisasi dan rencana pemulangan pasien.

Merupakan hal yang biasa untuk melibatkan keluarga, teman/patner, dan


perawat sejak stadium awal. Seorang perawat dapat meningkatkan
pengetahuan pasien ataupun patnernya mengenai penyakit jantung,
mengurangi kecemasan dan depresi yang digabungkan dengan perawatan
rutin yang didapatkan pasien.

2. Fase 2

Fase 2 adalah fase dimana pasien merasa terisolasi dan tidak nyaman /
gelisah. Dukungan terhadap pasien dapat diberikan dengan “home visite”,
kontak telpon,dan memperhatikan manfaat heart manual. Heart manual
merupakan self help program bagi pasien untuk penyembuhan dari serangan
jantung, mengurangi kecemasan, depresi, dan angka rata-rata kembali ke RS.

3. Fase 3

Fase 3 merupakan fase training exercise, dimana fase ini telah mencakup
bentuk-bentuk program latihan terstruktur di RS, dengan mendukung edukasi
dan psikologi serta informasi dan saran mengenai fakto resiko yang ada. Fase
ini menunjukkan bahwa program antar komponen dapat dijalankan secara
aman dan lancar pada masyarkat.

4. Fase 4

Fase 4 meliputi pengaturan jangka panjang dari aktivitas fisik dan


perubahan gaya hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2005. Keperawatan Medikal bedah. Jakarta. EGC


Soeharto, Imam. 2004. Penyakit Jantung Koroner dan Serangan Jantung. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama

Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Sistem Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika