Anda di halaman 1dari 5

8.

Aspek legal dan etis


Profesi keperawatan telah terus berkembang, ruang lingkup hukum yang dapat diaplikasikan telah meningkat juga. Tentunya
hukum yang berlaku dalam suatu negara pasti akan mempengaruhi suatu kebijakan, termasuk mempengaruhi praktek keperawatan
dan tanggungjawab legal perawat terhadap pasien. Hukum yang mengatur tentang keperawatan sendiri yaitu Undang-Undang
Republik Indonesia nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan.
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui
oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan
profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan ditujukan
kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit (Undang-Undang Republik Indonesia nomor 38 tahun
2014).
Tugas dan tanggungjawab perawat diatur dalam UURI no. 38 tahun 2014 pasal 29, yaitu sebagai berikut:
1) Dalam menyelenggarakan Praktik Keperawatan, Perawat bertugas sebagai:
a. pemberi Asuhan Keperawatan;
b. penyuluh dan konselor bagi Klien;
c. pengelola Pelayanan Keperawatan;
d. peneliti Keperawatan;
e. pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang; dan/atau
f. pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu.
2) Tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan secara bersama ataupun sendiri-sendiri.
3) Pelaksanaan tugas Perawat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan secara bertanggung jawab dan akuntabel.
Selain itu, dalam UURI no. 30 tahun 2014 ini juga mengatur hak dan kewajiban perawat dalam pasal 36 dan 37 yaitu sebagai
berikut:
Pasal 36
Perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berhak:
a. memperoleh pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar pelayanan, standar profesi, standar
prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;
b. memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur dari Klien dan/atau keluarganya.
c. menerima imbalan jasa atas Pelayanan Keperawatan yang telah diberikan;
d. menolak keinginan Klien atau pihak lain yang bertentangan dengan kode etik, standar pelayanan, standar profesi, standar
prosedur operasional, atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan; dan
e. memperoleh fasilitas kerja sesuai dengan standar.
Pasal 37
Perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berkewajiban:
a. melengkapi sarana dan prasarana Pelayanan Keperawatan sesuai dengan standar Pelayanan Keperawatan dan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan;
b. memberikan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik, standar Pelayanan Keperawatan, standar profesi, standar
prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;
c. merujuk Klien yang tidak dapat ditangani kepada Perawat atau tenaga kesehatan lain yang lebih tepat sesuai dengan lingkup
dan tingkat kompetensinya;
d. mendokumentasikan Asuhan Keperawatan sesuai dengan standar;
e. memberikan informasi yang lengkap, jujur, benar, jelas, dan mudah dimengerti mengenai tindakan Keperawatan kepada Klien
dan/atau keluarganya sesuai dengan batas kewenangannya;
f. melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga kesehatan lain yang sesuai dengan kompetensi Perawat; dan
g. melaksanakan penugasan khusus yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Prinsip Etika
Prinsip etika adalah cara pandang yang mengarahkan atau mengatur tindakan. Prinsip ini diterima secara luas dan secara umum
berdasarkan pada aspek kemanusiaan masyarakat. Keputusan etis adalah kebenaran dan merefleksikan apa yang terbaik bagi klien
dan masyarakat. Dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip etika, perawat menjadi lebih sistematik dalam penyelesaian konflik etika.
Prinsip etika dapat digunakan sebagai suatu panduan dalam menganalisa dilema, dapat juga memberikan rasional untuk
menyelesaikan masalah etika. Prinsip etika bukan suatu yang mutlak, terdapat beberapa pengecualian pada setiap prinsip pada
beberapa situasi.
a. Autonomi
Prinsip autonomi adalah hak individu untuk memilih dan kemampuan untuk bertindak sesuai pilihannya. Individualitas setiap
individu dihargai jika autonomi dipertahankan. Penghargaan pada kebebasan personal adalah dominan. perawat harus
menghargai hak klien untuk menentukan dan melindungi klien yang tidak dapat menentukan untuk dirinya sendiri. Prinsip
etika autonomi mereleksikan keyakinan bahwa setiap individu yang kompeten memiliki hak untuk menentukan keinginannya
untuk suatu tindakan. Informed consent berdasarkan pada hak klien untuk memilih. Mempertahankan autonomi berarti
perawat menerima pilihan klien walaupun pilihan tersebut bukanlah yang terbaik bagi klien.
b. Nonmaleficence
Nonmaleficence adalah kewajiban yang tidak menyebabkan bahaya untuk orang lain. Bahaya dapat dibagi menjadi bahaya
fisiologis, psikologis, social, dan spiritual. Nonmaleficence meliputi bahaya actual dan resiko bahaya. Prinsip nonmaleficence
membantu mengarahkan keputusan untuk pendekatan pengobatan, dan pertanyaan relevan seperti: ‘apakah pengobatan ini
menyebabkan bahaya atau kebaikan untuk klien?’. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah pengobatan memberikan
kemungkinan manfaat yang rasional dan tidak mengeluarkan banyak uang, tidak menimbulkan nyeri atau ketidaknyamanan.
Nonmaleficence memerlukan perawat bertindak penuh pertimbangan dan berhati-hati, mengukur potensial bahaya dan
manfaat penelitian atau pengobatan. Kadang-kadang, mengukur bahaya lebih gampang daripada manfaatnya. Untuk
mempertahankan nonmaleficence, perawat bertindak sesuai dengan standar perawatan professional dan legal.
c. Beneficence
Beneficence merupakan prinsip etika yang berarti kewajiban untuk mempromosikan kebaikan dan untuk mencegah bahaya.
Elemen utama beneficence adalah memberikan manfaat dan mempertahankan manfaat dan bahaya. Hal yang tidak diinginkan
dari beneficence adalah paternalism. Paternalism merupakan suatu keadaan dimana petugas kesehatan menentukan apa yang
terbaik bagi klien dan berusaha untuk memberikan penguatan untuk melawan keinginan klien sendiri. Petugas kesehatan yang
bertindak paternalistic memperlakukan klien dewasa yang kompeten seperti anak kecil yang membutuhkan perlindungan.
Paternalism bukan merupakan pendekatan yang etis, akan tetapi pada beberapa keadaan paternalitik disarankan.
d. Justice
Prinsip justice berdasarkan konsep keadilan. Masalah kesehatan utama terkait justice meliputi pengobatan yang adil bagi
individu dan distribusi alokasi sumber. Keadilan mempertimbangkan tindakan dari sudut pandang kelompok masyarakat yang
paling tidak beruntung. Hasil dari pengobatan yang sama dan seimbang, manfaat dan beban didistribusikan secara seimbang.
Prinsip etika keadilan membutuhkan semua orang diperlakukan dengan sama kecuali untuk keadilan pada pengobatan yang
tidak sama. Konsep secara spesifik menyatakan sumber sebaiknya dialokasikan dengan:
 Seimbang
 sesuai kebutuhan individu
 sesuai kemampuan idividu
 sesuai kontribusi individu pada masyarakat
e. Veracity
Veracity merupakan kebenaran yaitu tidak berbohong atau menipu orang lain. Penipuan bisa dalam bentuk kebohongan yang
tidak disengaja, tidak membuka informasi, informasi yang setengah terbuka. Kebenaran seringnya sulit untuk dicapai. itu
mungkin tidak sulit untuk menyatakan kebenaran tetapi akan menjadi bagaimana kebenaran mempengaruhi klien.
f. Fidelity
Fidelity merupakan fondasi etika hubungan perawat-klien yang berarti keyakinan dan menenuhi janji. Klien memiliki hak etis
untuk mengharapkan perawat untuk bertindak yang terbaik. Prinsip etika ini dapat diaplikasikan pada peran perawat sebagai
advokat klien. Fidelity didemonstrasikan ketika perawat:
 merepresentasikan pandangan klien kepada tim kesehatan lain
 menghindari nilai personal mempengaruhi advokasi pada klien
 mendukung keputusan klien walau itu tidak sesuai dengan pilihan perawat

Sehingga dalam menjalankan praktik keperawatan keluarga, kita juga harus memperhatikan peran kita sebagai perawat. Menurut
Herni (2011), peran perawat komunitas terdiri dari care provider, nurse educator and counselor, role model, client advocate, case
manager, collaborator, discharge planner, case finder, change agent and leader (dalam Helvie, 1998). Berikut penjelasan peran
perawat:
1. Care provider
Sebagai pemberi pelayanan dalam penanggulangan penyakit melalui penemuan kasus dini dan memberikan asuhan
keperawatan diawali dengan penemuan kasus dini di masyarakat, memberikan asuhan perawatan baik dalam level individu,
keluarga dan komunitas serta melakukan tindakan pencegahan.
2. Nurse educator and conselor
Peran perawat sebagai pendidik pada klien dan keluarga adalah dengan memberikan penyuluhan secara berkala pada
masyarakat luas melalui tatap muka, ceramah dan media yang tersedia diwilayahnya. Materi pendidikan kesehatan yang
diberikan kepada individu, keluarga dan masyarakat meliputi penularan dan pencegahan suatu penyakit. Dan bagi yang sudah
terkena suatu penyakit untuk berobat secara teratur sampai sembuh
Peran perawat sebagai konselor dengan membantu klien memilih solusi terbaik dari masalah yang dialami. Konseling yang
diberikan kepada klien dan keluarga dalam pengobatan untuk menghindari terjadinya ketidakpatuhan klien dalam berobat.
Memotivasi keluarga untuk memberi dukungan kepada klien dalam menjalani pengobatan. Konseling tidak berarti
memberitahu klien apa yang harus dilakukan tetapi mendampingi klien menggunakan kemampuannya untuk memecahkan
masalah yang dimiliki sehingga dapat memutuskan tindakan yang terbaik. Perawat membantu klien untuk memilih solusi yang
terbaik dari masalah yang dialami oleh klien.
3. Client Advocate
Perawat memfasilitasi kebutuhan klien dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal dengan memberikan
informasi yang luas melalui kemitraan yang dibangun bersama masyarakat dan LSM.
4. Case manager
Perawat sebagai manager membantu dengan mengumpulkan masalah yang ada di masyarakat terutama masalah yang
berkaitan dengan penyakit klien, berusaha menyelesaikan masalah, memilih jenis bantuan yang diberikan dalam
menyelesaikan masalah, menjelaskan kepada klien tentang sumber biaya yang bisa diakses melalui jaminan kesehatan.
5. Collaborator
Peran perawat sebagai kolaborator bagi klien adalah melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain, LSM dan masyarakat
dalam penemuan kasus dini dan penanggulangan penyakit yang dialami masyarakat.
6. Discharge planner
Peran perawat dalam discharge planner pada klien adalah mengidentifikasi kebutuhan klien dan membuat perencanaan
untuk memenuhi kebutuhan klien supaya tetap menjalani mengobatan sampai tuntas dan menhindari penularan kepada orang
lain.
7. Case finder
sebagai penemu kasus di masyarakat bekerjasama dengan kader kesehatan dan masyarakat untuk berusaha secara aktif
menemukan kasus-kasus penyakit dengan membentuk kelompok-kelompok peduli. Menganjurkan kepada masyarakat untuk
segera melaporkan kepada petugas kesehatan bila menemukan kasus atau penyakit-penyakit yang berbahaya.
8. Change agent and leader
Merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dan mempunyai inisiatif untuk melakukan perubahan secara
terencana. Misalnya untuk merubah perilaku-perilaku kesehatan yang kurang baik.
9. Community care provider and researher
Penelitian adalah bagian penting dari peran perawat komunitas, mengingat banyak masalah yang bisa untuk diteliti di
masyarakat.

REFERENSI:
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan. http://www.hukumonline.com. Diunduh
pada 22 Meret 2017 pukul 18.30 WIB.
Afifah, Efy. Etika Keperawatan. http://staff.ui.ac.id. Diunduh pada 22 Meret 2017 pukul 18.30 WIB.