Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Segala puja hanya bagi Allah yang Maha Pengasi lagi Maha Penyayang. Berkat limpahan
karunia nikmatNya saya dapat menyelesaikan makalah yang bertajuk “ANGKATAN SASTRA
20-AN” dengan lancar. Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia .

Dalam proses penyusunannya tak lepas dari bantuan, arahan dan masukan dari berbagai
pihak. Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih atas segala partisipasinya dalam
menyelesaikan makalah ini.

Meski demikian, penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan dan kekeliruan di
dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tanda baca, tata bahasa maupun isi. Sehingga penulis
secara terbuka menerima segala kritik dan saran positif dari pembaca.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
masyarakat umumnya, dan untuk saya sendiri khususnya.

Page | 1
Daftar Isi

Kata pengantar …………………………………………………………………………1

Daftar isi…………………………………………………………………………….….2

Bab I Pendahuluan

A. Latar belakang …………………………………………………………………3


B. Rumusan ………………………………………………………………………4
C. Tujuan …………………………………………………………………………4

Bab II Pembahasan

A. Sejarah Angkatan Balai Pustaka (20-


an) ……………………………………………………………………………3
B. Karakteristik Angkatan Balai
Pustaka ………………………………………………………………………...4
C. Alasan Disebut Sebagai Balai Pustaka
D. Cara Mengetahui Karakteristik Karya Sastra yang Tergolong
Periodisasi Balai Pustaka…………………………………………………..…4
E. Pengaruh Angkatan 20 ( Balai Pustaka ) Pada Beberapa Ragam Karya Sastra
………………………………………………………………………………..10
F. Tokoh-tokoh angkatan Balai Pustaka beserta hasil
karyanya………………………………………………………………………11
G. Konsep Pemikiran dan Ciri-ciri Periode Balai
Pustaka……………………………………………………………………..…12
H. Tugas Balai Pustaka……………………………………………………..……13
Bab III Penutup

A. Kesimpulan ……………………………………………………..……………15
B. Saran …………………………………………………………………………15
C. Daftar pustaka …………………………………………………………..……15

Page | 2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Balai Pustaka merupakan salah satu penerbit besar yang banyak memproduksi berbagai jenis
buku. Berdiri pada tahun 1917 yang merupakan pengukuhan komisi untuk sekolah Bumi Putera
dan bacaan rakyar(commisie voor de in landsche school en volkslectur) didirikan oleh
pemerintah kolonial belanda pada 14 september 1908. Di negeri nusantara ini banyak sekali
orang yang berkecimpung didunia sastra. Namun realitanya banyak juga orang yang buta tentang
ilmu sastra dan kajian didalam sastra itu sendiri, baik sastra secara umum atau sastra secara
khusus yang sudah bersentuhan dengan kebudayaan nasional yang arif di negeri nusantara ini
atau yang selama ini disebut juga dengan sastra indonesia.

Sastra merupakan suatu kata yang sampai saat ini belum ada yang mampu menafsirkan
secara tepat tentang pengertiannya, bahkan kata tersebut sampai saat ini masih menjadi bahan
pertanyaan para ilmuan demi untuk mencari keselarasan pengertian yang tepat. Menurut Teeuw
(2002: 23) kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta; akar kata sas-
dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk atau instruksi.
Akhiran –tra biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka, berdasarkan penggabungan tersebut
sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau alat pengajaran.

Kalau kita berbicara tentang sastra dan karya sastra, maka tidak akan terlepas dari angkatan
dan penulisan sejarah sastra Indonesia, juga karakteristik wawasan estetikanya. Hal itu
disebabkan karena sastra (Kesusastraan) dari waktu-kewaktu pasti akan mengalami
perkembangan sesuai periode-periode sastra. Rangkaian periode-periode sastra itu saling
bertumpang-tindih, maksudnya sebelum angkatan kemarin atau angkatan lama lenyap, maka
timbul benih-benih baru yang lebih kritis dan kreatif.

Setiap angkatan dalam suatu periodisasi sastra pasti memiliki karakteristik tersendiri. Jadi tidak
menutup kemungkinan kalu kita melihat terlebih dahulu tentang pengertian kata karakteristik.
Karakteristik berasal dari kata dasar karakter. Menurut Poerwadarminta (1984: 445) karakter

Page | 3
adalah tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang
dengan yang lain. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa karakteristik dalam sastra adalah
sifat yang membedakan suatu karaya sastra dengan karya sastra yang lain. Apabila dihubungkan
dengan suatu angkatan maka karakteristik sastra angkatan balai pustaka adalah sifat-sifat yang
membedakan baik karya sastra maupun pengarangnya dalam satu angkatan itu dengan angkatan
yang lain, jadi bukan semata-mata hanya satu karya sastra saja, melainkan keseluruhan karya
sastra dalam suatu angkatan tesebut.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan permasalan yang telah diungkapkan dalam latar belakang masalah, maka penulis
ingin mengantarkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Sebutkan sejarah berdirinya periode balai pustaka atau periode tahun 20-an ?
2. Mengapa disebut angkatan balai pustaka ?
3. Bagaimana cara mengetahui karakteristik karya sastra yang tergolong masa
4. periodisasi balai pustaka ?
5. Sebutkan pengarang dan karya sastra yang termasuk pada masa balai pustaka ?
6. Apa sebenarnya tugas dari Balai Pustaka ?

C. Tujuan

Tujuan utama makalah “Periodisasi Balai Pustaka” yaitu untuk mengetahui periodisasi
balai Pustaka dan tokoh-tokoh yang ada pada periodisasi tersebut, karya-karya sastra dan para
sastrawannya .

Page | 4
Bab II

Pembahasan

A. Sejarah Angkatan Balai Pustaka (20-an)

Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai
Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan
kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa
ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar
yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul)
dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa
yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam
bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.

Angkatan kesusastraan Indonesia balai pustaka, dimulai penghitungannya dari tahun


1920. Kelompok ini disebut dengan angkatan balai pustaka karena pada masa tersebut buku-
buku sastra pada umumnya diterbitkan oleh penerbit balai pustaka. Lahirnya angkatan balai
pustaka pada kesusastraan Indonesia dilakukan untuk mengurangi pengaruh buruk kesusastraan
melayu yang dianggap terlalu cabul dan liar pada masa itu. Pada angkatan balai pustaka ini,
karya sastra yang dipublikasikan oleh penerbit merupakan karya-karya yang amat memelihara
perbahasaannya, berbeda dengan karya sastra lainnya dengan penggunakan bahasa sehari-hari
sebagai bahasa pengantar sastranya dan bahkan tidak jarang di antara karya sastra tersebut yang
masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar sastra yang mereka hasilkan.
Pada angkatan balai pustaka, kesusastraan Indonesia lebih bercorak Minangkabau. Hal ini
terjadi karena kebanyakan editor yang ada pada masa balai pustaka memang berasal dari
Sumatra Barat. Masa ini adalah masa ketika penulis dan editornya lebih banyak berdarah
Sumatra, maka bisa dibilang angkatan ini lebih banyak menghasilkan karya-karya kesumatraan.
Selain disebut sebagai angkatan balai pustaka, karya-karya yang lahir pada masa angkatan
kesusastraan ini juga disebut dengan angkatan dua puluh. Titik awal angkatan balai pustaka
dimulai ketika terbitnya roman Azab dan Sengsara oleh Merari Siregar, yang disebut juga
sebagai awal kebangkitan angkatan balai pustaka. Karyanya Azab dan Sengsara memang lebih

Page | 5
banyak menggunakan Bahasa Melayu dibandingkan dengan Bahasa Indonesia, karena pada masa
itu bahasa Indonesia masih mengalami perkembangan. Namun, bukan berarti karya Merari ini
tidak dapat diklasifikasikan sebagai karya sastra Indonesia, karena prinsip dasar sastra Indonesia
adalah karya-karya yang dijiwai oleh semangat nasionalisme Indonesia.
Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai
Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan
kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa
ini. Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan
liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian
(cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga
bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas
dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.

B. Karakteristik Angkatan Balai Pustaka

1. Sebagian besar sastra angkatan Balai Pustaka mengambil tema sebagai berikut :
1) Adat kawin paksa,
2) Otoriter orang tua dalam menentukan perjodohan anak-anak mereka,
3) Konflik diantara kaum tua dan kaum muda,
4) Penjajahan Eropa yang dianggap wajar dan terkesan dianggap baik.
2. Latar belakang sosial sastra angkatan Balai Pustaka berupa pertentanga paham
antara kaum muda dengan kaum tua.
3. Unsur nasionalitas pada sastra Balai Pustaka belum jelas. Pelaku-pelaku novel
angkatan Balai Pustaka masih mencerminkan kehidupan tokoh-tokoh yang berasal
dari daerah-daerah.
4. Peristiwa yang diceritakan saesuai dengan realitas kehidupan masyarakat.
5. Analisis psikologis pelakunya belum dilukiskan secara mendalam.
6. Sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendes dan bersifat didaktis yaitu lebih
cenderung pada sesuatu khususnya mengenai permasalahan diatas sehingga terlihat
seolah-olah karyanya hanya itu-itu saja/monoton.

Page | 6
7. Bahasa sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan
perkembangan yang pada masa itu disebut bahasa melayu umum.
8. Genre sastra Balai Pustaka berbentuk novel, sedangkan puisinya masih berupa
pantun dan syair.

C. Alasan Disebut Sebagai Balai Pustaka


Balai Pustaka disebut angkatan 20an atau populernya dengan sebutan angkatan Siti
Nurbaya. Menurut Sarwadi (1999: 25) nama Balai Pustaka menunjuk pada dua pengertian:
1. sebagai nama penerbit
2. sebagai nama suatu angkatan dalam Sastra Indonesia
Menurut Sarwadi (1999: 27) Balai Pustaka mempunyai pengaruh terhadap perkembangan
sastra Indonesia yaitu dengan keberadaanya maka sastrawan Indonesia dapat melontarkan apa
yang menjadi beban pikirannya melalui sebuah tulisan yang dapat dinikmati oleh dirinya sendiri
dan juga orang lain (penikmat sastra). Balai Pustaka mempunyai tujuan untuk memberikan
konsumsi berupa bacaan kepada rakyat yang berisi tentang politik pemerintahan kolonial,
sehingga dengan hal itu Balai Pustaka telah memberikan informasi tentang ajaran politik
kolonial. Berdasarkan penyataan tersebut maka dengan didirikannya Balai Pustaka telah
memberikan manfaat kepada rakyat Indonesia karena sasrta Indonesia menjadi berkembang.
Dilihat dari perkembangan sastranya, Balai Pustaka yang memiliki maksud dan tujuan
pendiriannya, maka pasti menetapkan persyaratan-persyaratan didalam menyaring suatu karya
sastra. Dengan adanya persyaratan-persyaratan tersebut maka
menimbulkan berbagai macam pandangan orang terhadap Balai Pustaka. Hal itu merupakan
suatu kelemahan atau permasalahan dari balai Pustaka yang kurang diperhatikan keberadaannya.
Menurut Sarwadi (1999: 29) permasalahan itu diantanya meliputi:

a. Roman terpenting yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 20an ialah Salah Asuhan
karya Abdul Muis. Dalam karya itu pengarang lerbih realistis didalam menyoroti masalah kawin
paksa. Selain itu berisi juga tentang pertentangan antara kaum muda dengan kaum tua dalam
pernikahan. Yang menjadi permasalan bagi pengarang ialah akibat-akibat lebih jauh dari
pertemuan kebudayaan Eropa yang masuk dalam tubuh anak-anak bangsanya melalui pendidikan
sekolah kolonial Belanda.

Page | 7
b. Novel Belenggu karya Armin Pane pernah ditolak oleh Balai Pustaka karena isinya
dianggap tidak bersifat membangun dan tidak membantu budi pekerti. Kemudian noel itu disadur
oleh Pujangga Baru tahun1938, dan dicetak ulang oleh Balai Pustaka.

D. Cara Mengetahui Karakteristik Karya Sastra yang Tergolong


Periodisasi Balai Pustaka
Setiap karya sastra pasti mempunyai ciri-ciri dalam sastranya. Hal ini berpengaruh pada
masa sastra itu dibuat. Seperti karakteristik umum karya sastra pada masa Balai Pustaka pada
periode 1920 yaitu sebagai berikut :
1) Umumnya masih belum terlepas dari sifat kesusastraan Melayu lama
2) Inti cerita tentang pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda. Kaum tua
mempertahankan adat lama sedangkan kaum muda mengkehendaki kemajuan
menurut paham kehidupan modern
3) Bersifat didaktik, sifat ini berpengaruh sekali pada gaya pencitraan dan struktur
penceritaannya. Semuanya ditunjukkan kepada pembaca untuk memberi nasihat
4) Bersifat kedaerahan, latar cerita pada umumnya latar daerah, pedesaan, dan
kehidupan daerah
5) Gaya bahasa yang digunakan perumpamaan klise, pepatah-pepatah, dan peribahasa
namun mempergunkan bahasa percakapan sehari-hari yang lain dari bahasa hikayat
sastra lama
6) Alur roman sebagian besar alur lurus dan ada juga yang mempergunakan alur sorot
balik, misalnya azab dan sengsara
7) Banyak digresi, yaitu banyak sisipan-sisipan peristiwa yang tidak berlangsung
berhubungan dengan inti cerita, seperti uraian adat, dongeng-dongeng, syair dan
pantun nasihat
8) Bercorak romantis melarikan diri dari masalah kehidupan sehari-hari yang menekan
9) Bermasalah adat, terutama masalah adat kawin paksa, pemaduan dan sebagainya
10) Cerita bermain di zaman sekarang, bukan ditempat dan zaman antah-berantah, dan
cita-cita kebangsaan belum dipermasalahkan serta masig bersifat kedaerahan
11) Pada awalnya pengarang didominasi oleh orang Sumatera, akan tetapi setelah
Sumpah Pemuda tahun 1928 muncul pengarang-pengarang dari daerah lain

Page | 8
v Segi Positif dan Negatif Balai Pustaka
Seperti sudah dikemukakan di atas segi positif Balai Pusataka besar sekali yakni :
1. Menerbitkan buku-buku dan majalah-majalah dengan harga murah.
2. Mendirikan perpustakaan-perpustakaan.
3. Menggalakkan rakyat untuk membaca.
4. Tempat penampungan hasrat dan keinginan pengarang untuk maju di bidang
karang-mengarang.
5. Tempat bimbingan bagi pengarang dan dorongan untuk maju terutama dibidang
bahasa.
Segi Negatif dari Balai Pustaka yakni :
1. Memakai syarat-syarat tertentu untuk karya-karya yang akan diterbitkan sebelum
diterbitkan harus diperbaiki lebih dahulu oleh redaksi Balai Pustaka sehingga nilai
sastra telah merosot setelah diadakan perbaikan oleh Balai Pustaka. Perbaikan dan
penyesuaian ini telah merugikan karya itu dilihat dari segi sastra.
2. Mengenakan syarat politik dan moral terhadap karya-karya yang akan diterbitkan.
3. Perubahan atau penyesuaian dari Balai Pustaka ini sudah merupakan perubahan
yang merusak jalan cerita.
v Ciri-ciri dan pokok garapan Balai Pustaka
a. Ciri umum yang paling menonjol ialah tujuan atau tendensnya
Hampir seluruh karya sastra Balai Pustaka jelas sekali tujuan atau tendensnya yakni
bersifat mengajar atau mendidik.
b. Ciri umum kedua ialah sifatnya yang romantis-sentimentalis
Sifat romantis ini terlihat pada nadanya. Nada itu timbul akibat persoalan yang
dibicarakan selalu tentang percintaan dan kisah hidup muda remaja yang sedang
mabuk asmara. Percintaan ini selalu diiringi dengan rintangan adat atau sikap orang
tua yang tidak menyetujui pilihan anak-anaknya. Dengan demikian timbul lah
kesengsaraan dan penderitaan yang tiada terhingga. Sifat romantis-sentimentalis ini
membawa beberapa orang pengarang kepada masa silam.

Page | 9
E. Pengaruh Angkatan 20 ( Balai Pustaka ) Pada Beberapa Ragam Karya Sastra

Angkatan 20 disebut juga angkatan Balai Pustaka. Balai Pustaka merupakan nama badan
yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1908. Untuk memperoleh bacaan rakyat,
komisi menempuh beberapa cara, yaitu:
1) Mengumpulkan dan membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang
tersebar di kalangan rakyat. Naskah ini diterbitkan sesudah diubah atau
disempurnakan.
2) Menterjemahkan atau menyadur hasil sastra Eropa.
3) Karangan pengarang-pengarang muda yang isinya sesuai dengan keadaan hidup
sekitarnya.

Lahirnya angkatan 20 (Balai Pustaka) mempengaruhi beberapa ragam karya sastra, diantaranya:
1. Prosa
a) Roman
Pada ragam karya sastra prosa timbul genre baru ialah roman, yang sebelumnya
belum pernah ada.
b) Cerpen
Sebagian besar cerpen Angkatan 20 muncul sesudah tahun 1930, ketika motif
kawin paksa dan masalah adat sudah tidak demikan hangat lagi, serta dalam
pertentangan antara golongan tua dan golongan muda praktis golongan muda menang..

2. Drama
Pada masa angkatan 20 mulai terdapat drama, seperti: Bebasari karya Rustam
Efendi. Bebasari merupakan drama bersajak yang diterbitkan pada tahun 1920.

3. Puisi
Sebagian besar angkatan 20 menyukai bentuk puisi lama (syair dan pantun), tetapi
golongan muda sudah tidak menyukai lagi. Golongan muda lebih menginginkan puisi
yang merupakan pancaran jiwanya.

Page | 10
F. Tokoh-tokoh angkatan Balai Pustaka beserta hasil karyanya
Menurut Rosidi (1986: 37) tokoh-tokoh yang termasuk dalam angkatan Balai Pustaka
diantaranya adalah:

1. Nur Sutan Iskandar


§ Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
§ Cinta yang Membawa Maut (1926)
§ Salah Pilih (1928)
§ Karena Mentua (1932)
§ Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
§ Hulubalang Raja (1934)
§ Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

2. Abdul Muis
§ Salah Asuhan (1928)
§ Pertemuan Djodoh (1933)

3. Marah Rusli
§ Siti Nurbaya (1922)
§ La Hami (1924)

4. Aman Datuk Majaindo


§ Menebus Dosa (1932)
§ Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
§ Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

5. Muhammad Kasim
§ Pemandangan Dunia Anak-anak
§ Teman Dukun (kumpulan cerpen),
§ Muda Terun Pengeran Hindi, Niki Bahtera.

Page | 11
6. Tulis Sutan Sati
§ Tak Disangka (1923)
§ Sengsara Membawa Nikmat (1928)
§ Tak Membalas Guna (1932)
§ Memutuskan Pertalian (1932)

7. Selasih dan Sa’adah Alim


Kalau Tak Ujung (1933),

8. Merari Siregar
§ Azab dan Sengsara (1920)
§ Binasa kerna Gadis Priangan (1931)

9. Paulus Supit
§ Kasih Ibu (1932)

10. Suman H.S


§ Kasih Tak Terlarai (1929)
§ Percobaan Saetia (1931)
§ Mencari Pencuri Anak Perawan (1932).
G. Konsep Pemikiran dan Ciri-ciri Periode Balai Pustaka
Adapun konsep pemikiran dan ciri-ciri angkatan Balai Pustaka, adalah sebagai
berikut:
1. Agak dinamis.
2. Bercorak pasif-romantik. Ini berarti bahwa cita-cita baru senantiasa terkalahkan
oleh adat
lama yang membeku, sehingga merupakan angan-angan belaka. Itulah sebabnya
dalam
mencapai cita-citanya, pelaku utama senantiasa kandas, misalnya dimatikan oleh
pengarangnya.
3. Mempergunakan bahasa Melayu baru, yang tetap dihiasi ungkapan-unngkapan klise

Page | 12
serta
uraian-uraian panjang.
Menilik bentuknya, kesusastraan angkatan Balai Pustaka ini mempunyai ciri-ciri:
a. Para penyairnya masih banyak yang mempergunakan bentuk-bentuk puisi lama,
pantun
dan syair, seperti terlihat pada karya Tulis Sutan Ati, Abas, Sutan Pamunjtak.
b. Bentuk puisi barat yang tidak terlalu terikat oleh syarat-syarat, seperti puisi lama,
mulai
dipergunakan oleh para penyair muda. Para penyair baru ini dipelopori oleh Moh.
Yamin,
yang mempergunakan bentuk sonata dalam kesusastraan Indonesia.
c. Bentuk prosa yang memegang peranan pada masa kesusastraan angkatan Balai
Pustaka
adalah Roman. Roman angkatan ini bertema perjuangan atau perlawanan terhadap
adat
istiadat lama, misalnya kawin paksa.

H. Tugas Balai Pustaka


Badan ini bertugas menerbitkan buku-buku yang baik untuk meningkatkan kecerdasan
masyarakat. Buku-buku itu ada yang berupa dongeng, cerita-cerita lama, hikayat-hikayat,
pengetahuan umum, seperti cara bercocok tanam, beternak, berttukang dan lain-lain.
Disamping itu juga badan ini mengusahakan taman pustaka atau perpustakaan yang
ditempatkan di sekolah-sekolah rakyat. Dengan makin banyaknya tamatan sekolah yang
memerlukan bahan-bahan bacaan maka bertambah pula buku-buku yang diterbitkan. Maka
badan ini akhirnya diperluas dan diperbesar dan namanya pun diganti menjadi Balai Pustaka
tahun 1917. Balai Pustaka menjadi lebih penting kedudukannya, sehingga memerlukan petugas-
petugas khusus untuk memimpin dan mengasuhnya.
Tugas badan ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Mengumpulkan serta mencatat semua cerita-cerita dikalangan masyarakat.
2. Menerbitkan cerita-cerita yang telah dikumpulkan tersebut.

Page | 13
3. Menterjemahkan cerita-cerita yang berasal dari luar negeri, sejauh tidak bertentangan
dengan politik pemerintahan Belanda di Indonesia.
4. Menerbitkan majalah-majalah untuk bahan bacaan masyarakat.
5. Menyelenggarakan Perpustakaan.
6. Menerbitkan karangan asli tulisan-tulisan orang Indonesia.
7. Membimbing pengarang-pengarang Indonesia dalam arti memberi kesempatan untuk
menulis dan memberi dorongan untuk kemajuan di bidang karang-mengarang.

Usaha Balai Pustaka menerbitkan buku-buku bacaan mencapai kemajuan yang sangat
Pesat, baik buku-buku tentang pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, kamus, atlas dan lainnya.
Jumlah buku-buku yang diterbitkan sampai tahun 1942 hampir 2000 judul, tidak termasuk cetak
ulang, almanak dan majalah-majalah. Pada akhir setiap tahun dijual kira-kira 300.000 buku. Pada
tahun 1922 Balai Pustaka mulai menerbitkan majalah-majalah diantaranya “Panji-Pustaka”
majalah setengah mingguan dalam bahasa melayu, ”Kejawen”, majalah setengah mingguan
dalam bahasa jawa, “Peralu-jangan” majalah mingguan dalam bahasa sunda dan juga “Sri
Pustaka” majalah bulanan dalam bahas melayu. Semenjak tahun 1911 pemerintah
menyelenggarakan Perpustakaan. Usaha ini dikembangkan sehingga hampir tiap-tiap sekolah
rakyat kelas dua mempunyai perpustakaan. Buku-buku dipinjamkan dengan memungut bea yang
sangat rendah.
Karena Balai Pustaka sebagai badan penerbitan dan pusat kesusastraan menerima naskah
karangan yang banyak sekali maka petugas-petugas balai pustaka mulai mengadakan
penyaringan dan seleksi. Jika isinya cukup memuaskan maka akan diterbitkan jika tidak maka
tidak akan diterbitkan. Hak pengarang menjadi milik Balai Pustaka tapi pengarang mendapat
honorium yang cukup besar.
Syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda yaitu :
a) Tidak boleh menyinggung agama dan adat, dalam arti dapat menimbulkan rasa kecewa
atau permusuhan diantar salah satu golongan
b) Tidak boleh membicarakan politik yang bertentangan dengan politik pemerintah
(penjajah)
c) Tidak boleh melanggar garis susila

Page | 14
Bab III
Penutup
A. Kesimpulan
Balai Pustaka merupakan suatu angkatan dalam periodisasi sastra yang terkenal dengan sebutan
angkatan pembangkit karena lahir pada masa kebangkitan sastra Indonesia yaitu pada periode
tahun 1920 sampai tahun 1942. Dengan munculnya angkatan Balai Pustaka maka telah membuka
hati para penulis untuk mau memperlihatkan hasil karyanya yang dulunya menggunakan bahasa
daerah kemudian beralih menggunakan bahasa Indonesia sebagai ungkapan rasa bangga
berbangsa Indonesia. Saelain itu, dengan munculnya angkatan Balai Pustaka maka telah
membuka semangat dan kesadaran para penulis untuk mempersatukan daerah-daerahnya demi
keutuhan bangsa Indonesia. Disisi lain Balai Pustaka juga dikenal sebagai nama suatu penerbit
besar yang berdiri pada sekitar tahun 1920an yang pada tahun tersebut beriringan dengan
munculnya angkatan Balai Pustaka. Munculnya angkatan Balai Pustaka memang disesuaikan
dengan karya-karya besar yang terkenal pada waktu itu yang sebagian besar diterbitkan dari
penerbit Balai Pustaka Jakarta.
B. Saran
Setelah mengkaji sejarah singkat Balai Pustaka, kesusastraan periodisasi Balai Pustaka
dan tokoh-tokoh serta hasil karya-karya masa periodisasi Balai Pustaka berdasarkan pertanyaan
dalam rumusan masalah. Hendaknya seorang pengkaji sastra dalam klarifikasi ilmu sejarah sastra
tidak hanya berfokus kepada sastrawannya saja, melainkan harus mampu mengkategorikan
bentuk sastra baru atau lama dengan melihat bentuk karya sastra dalam hal ini bahasa, isi,
amanat,dll. Dan pengkaji juga melihat ciri-ciri semua periodisasi sastra. Karena setiap periodisasi
kesusasteraan mempunyai ciri-ciri, tokoh-tokoh, hasil-hasil karya, kemudahan dan kesusahan
serta tantangannya yang berbeda-beda dalam setiap periodisasinya. Maka dari itu marilah kita
untuk semakin menggali lagi apa itu sastra dan karya-karyanya, jangan hanya sekedar
mengetahui nama tanpa pengenalnya.

Page | 15
DAFTAR PUSTAKA
Yudiono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (PT. Grasindo,2010),hlm,.74
http:// http://sastralife.wordpress.com/Karya-sastra-angkatan-balaipustaka/
http://sholichinmoch.blogspot.co.id/2014/08/makalah-periodisasi-balai-pustaka_39.html
Yudiono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (PT. Grasindo,2010),hl,.24
Yudiono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (PT. Grasindo,2010),hlm,.11
Yudiono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (PT. Grasindo,2010),hlm,.26
Yudiono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (PT. Grasindo,2010),hlm,.71
https://mulyatirasyid.wordpress.com/kumpulan-cerpen/sinopsis-novel-siti-nurbaya/
http://nanandasari.blogspot.co.id/2013/05/sinopsis-novel-apa-dayaku-karena-aku.html
http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/15/05/03/nnrxu5-m-kasim-bapak-
cerpen-indonesia
http://blogku--inspirasiku.blogspot.co.id/2011/10/sinopsis-novel-salah-asuhan-karya-abdul.html
http://sinopsisnovelku.blogspot.co.id/2013/03/sinopsis-novel-azab-dan-sengsara.html
http://ruslianiww.blogspot.co.id/2013/03/novel-si-samin.html

Page | 16