Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI EKSTRAK DAUN

LAMTORO (Leucaena leucocephala) TERHADAP JUMLAH KEPADATAN


SEL Spirulina sp.

LAPORAN PROYEK
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Fikologi
yang dibina oleh Dr. Murni Saptasari, M.Si dan
Sitoresmi Prabaningtyas, S.Pd, M.Si.

Disusun oleh:
Kelompok 3/Kelas HP
1. Anindya Nirmala Permata (140342603635/2014)
2. Shohibatul Islamiyah (150311601683/2015)
3. Yunita Nur Agustiningsih (140342601774/2014)
4. Zauhara Faiqohtun Wuriana (150342605971/2015)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
NOVEMBER 2017
A. Topik
Peran Alga Sebagai Penghasil PST
B. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan selama 3 minggu sejak 31 Oktober 2017 hingga 17
November 2017 di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang.
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun lamtoro terhadap jumlah kepadatan
sel Spirulina sp.
2. Untuk mengetahui dosis ekstrak lamtoro yang paling optimal terhadap
pertambahan jumlah sel Spirulina sp.
D. Dasar Teori
Spirulina sp merupakan kelompok alga cyanobacteria yang banyak
dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai macam produk baik pangan, kesehatan
maupun kosmetik. Spirulina sp mengandung protein 60–71%, lemak 8%,
karbohirdrat 16%, dan vitamin serta 1,6% Chlorophyll-a, 18% Phycocyanin, 17%
β-Carotene, dan 20 – 30 % γ-linoleaic acid dari total asam lemak (Jongkon et al
2008). Kandungan zat nutrisi Spirulina sp yang lengkap dan tinggi menyebabkan
Spirulina sp banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku dengan memanfaatkan
protein sel tunggalnya. Sel Spirulina sp berkolom membentuk filamen terpilin
menyerupai spiral (helix). Bentuk tubuh Spirulina sp yang menyerupai benang
merupakan rangkaian sel yang berbentuk silindris dengan dinding sel yang tipis,
berdiameter 1-12 μm. Jumlah sel kepadatan Spirulina sp sangat bergantung pada
ketersediaannya nutrien di lingkungannya. Komposisi nutrien yang lengkap dan
konsentrasi nutrien yang tepat menentukan produksi biomassa sel dan kandungan
gizi mikroalga termasuk Spirulina sp (Astiani et al, 2016).
Menurut Li et al (2015) menyatakan bahwa makronutrien utama yang
mempengaruhi pertumbuhan pada mikroalga adalah nitrogen dan karbon. Karbon
dan nitrogen adalah nutrisi penting bagi pertumbuhan mikroalga. Pemberian
karbon dan nitrogen yang cukup pada awal pertumbuhan digunakan untuk
meningkatkan biomassa sel. Pada beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan
penambahan ekstrak tauge dan urea pada Spirulina sp. yang mampu menghasilkan
nutrisi serta kepadatan sel yang tinggi (Prihantini et al, 2005). Namun pada
ekstrak tauge tidak mengandung unsur nitrogen sehingga menggunakan media
lain seperti media ekstrak daun lamtoro (MEL). Penambahan daun lamtoro
(Leucaena leucocephala) pada kulturSpirulina spbertujuan untuk meningkatkan
kandungan nitrogen (N) sehingga dapat digunakan sebagai nutrien pertumbuhan
mikroalga.
Menurut Ratrinia et al (2014) menyatakan bahwa daun lamtoro memiliki
kandungan nitrogen 2,0 – 4,3 %. Selain itu, daun lamtoro juga mengandung 0,2-
0,4 % P, dan 1,3-4,0 % K. Daun lamtoro yang basah mengandung unsur N, P, K
yang lebih besar dibanding daun lamtoro kering (Ratrinia et al, 2014). Media
tersebut mengandung unsur makro terutama fosfat dan nitrogen dalam jumlah
yang tinggi. Selain itu dilengkapi pula dengan unsur mikro, mineral, asam amino
dan vitamin (tiamin, riboflavin, piridoksin, triptofan, asam pantotenat, vitamin K
dan vitamin C) yang berperan sebagai growth factor dalam pertumbuhan alga
(Laura, B & Paolo G. 2006). Selain fosfat, unsur makro lain yang mendukung
penyusun senyawa dalam sel, termasuk protein dan klorofil untuk fotosintesis
Spirulina sp. adalah nitrogen (Chrismadha et al, 2006). Selain itu, unsur nitrogen
juga tersedia dalam media ekstrak daun lamtoro, sehingga dapat dijadikan sebagai
sumber nitrogen bagi pertumbuhan sel Spirulina sp Pertambahan jumlah biomassa
atau jumlah protein sel tunggal pada mikroalga dapat dimanfaatkan untuk
berbagai macam sumber bahan baku seperti pangan, kesehatan, kosmetik dan
bidang yang lainnya.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui proses kultur
alga Spirulina sp, serta dapat memanfaatkan alga Spirulina sp sebagai
mikroorganime penghasil protein sel tunggal (PST) yang dapat dijadikan sebagai
berbagai macam bahan baku baik bidang pangan maupun non pangan.
Berdasarkan latar belakang diatas maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak daun lamtoro (Leucaena
leucocephala) terhadap jumlah kepadatan sel Spirulina sp serta mengetahui
konsentrasi ekstrak lamtoro (Leucaena leucocephala) yang optimum terhadap
jumlah kepadatan sel Spirulina sp.
E. Alat dan Bahan
- Alat - Bahan:
1. Pipet tetes 1. Biakan Murni Kultur
2. Mikroskop Spirulina sp.
3. Kaca benda 2. Daun Lamtoro (Leucaena
4. Kaca penutup leucocephala)
5. Tisu 3. Air Mineral
6. Mortar dan Pistil 4. Nutrisi Spirulina sp.
7. Kain penyaring 5. Air
8. Gelas ukur 6. Alkohol
9. Gelas beaker 7. Plastik
10. Toples Plastik 8. Karet gelang
11. Aerator
12. Botol selai
13. Panci
14. Batang pengaduk
15. Kamera
F. Cara Kerja
1. Kultur Murni Alga Spirulina sp.

Siapkan toples plastik yang transparan agar cahaya bisa merata dari semua
arah

Isi air bersih sebanyak 5 liter (dianjurkan memakai air mineral/air isi ulang/air
tanah yang sudah difilter). Tidak dianjurkan memakai air PAM

Tuangkan starter nutrisi (17,5 gram) ke dalam bak yang sudah diisi air, aduk
sampai merata

Tuangkan 250 ml bibit Spirulina nya, aduk perlahan-lahan sampai merata

Beri gelembung udara dari aerator agar spirulina tidak cepat menggumpal
Tutup atas toples dengan plastik transparan agar terhindar dari
serangga/kotoran, tutup jangan terlalu rapat dan beri sirkulasi udara sedikit

Bila sudah berwarna hijau gelap (10-14 hari), Spirulina siap di kultur ke
wadah yang lebih besar. Dari 5 liter jadi 50 liter, 50 liter jadi 500 liter

Jangan lupa beri nutrisi untuk pertumbuhan diberikan 5-7 hari sekali sesuai
dosis, agar perkembangan Spirulina lebih optimal

2. Kultur Alga Spirulina sp. dengan perlakuan Ekstrak Lamtoro


30 ml Bibit Spirulina diinokulasikan pada 24 wadah botol selai

Spirulina pada masing-masing botol selai diberi perlakuan yaitu:


P0: kontrol/30 ml sel Spirulina sp.
P1: 2% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P2: 4% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P3: 6% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P4: 8% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P5: 10% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.

Perlakuan dilakukan sebanyak 4 kali ulangan dengan cara yang sama

Kultur Spirulina sp ditutup dengan plastik dan diikat dengan karet gelang

Kultur Spirulina sp diletakkan pada tempat yang cukup terkena sinar matahari

Pengamatan dilakukan selama 2 hari sekali sejak hari ke 0 hingga kultur


Spirulina sp berada pada fase stasioner
3. Pengamatan Jumlah Kepadatan Sel

Mikroskop, kaca benda, kaca penutup dan alat-alat untuk pengamatan


disiapkan

`Spirulina sp pada setiap perlakuan pada botol selai dikocok hingga homogeny

Spirulina sp diambil sebanyak 1 tetes pada setiap perlakuan dan diletakkan


pada kaca benda

Kaca benda ditutup dengan kaca preparat dan siap diamati di bawah
mikroskop

Menghitung kepadatan sel Spirulina sp dengan menggunakan Hand Tally


Counter sebanyak 3 bidang pandang

Hasil pengamatan dimasukkan ke dalam data dan dihitung sesuai dengan


perhitungan

Spirulina sp diamati setiap 2 hari sekali hingga pada fase stationer

Data pengamatan dihitung dengan menggunakan uji ANAVA RAL untuk


mengetahi pengaruh pemberian ekstrak daun lamtoro

G. Data Pengamatan
Hari
Konsentrasi Ulangan
2 4 6 8
U1 1 1 1 0
U2 1 2 1 0
0%
U3 1 2 3 0
U4 1 2 5 0
Rerata 1 1.75 2.5 0
U1 4 4 4 0
U2 4 4 4 0
2%
U3 8 3 2 0
U4 4 5 4 0
Rerata 5 4 3.5 0
U1 8 7 3 0
U2 15 5 7 0
4%
U3 7 3 5 0
U4 9 5 5 0
Rerata 9.75 5 5 0
U1 1 7 6 0
U2 1 9 13 0
6%
U3 1 4 15 0
U4 1 5 6 0
Rerata 1 6.25 10 0
U1 4 6 7 0
U2 7 4 6 0
8%
U3 8 4 5 0
U4 7 7 6 0
Rerata 6.5 5.25 6 0
U1 7 10 10 0
U2 7 8 11 0
10%
U3 5 12 10 0
U4 4 7 9 0
Rerata 5.75 9.25 10 0

H. Analisis
Penelitian pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak daun lamtoro
(Leucaena leucocephala) terhadap jumlah kepadatan sel Spirulina sp. ini
termasuk penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 5 macam perlakuan yang masing-
masing dilakukan 4 kali ulangan. Adapun perlakuan yang diberikan meliputi
variasi perbedaan konsentrasi dari ekstrak daun lamtoro (Leucaena leucocephala)
yang terdiri dari 5 taraf yaitu:
P0: kontrol/30 ml sel Spirulina sp.
P1: 2% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P2: 4% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P3: 6% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P4: 8% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
P5: 10% ekstrak ekstrak daun lamtoro/30 ml sel Spirulina sp.
Data pada penelitian ini dianalisis menggunakan grafik dan di uji analisis
statistik Analisis Varian (ANAVA) dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
untuk mengetahui adanya perbedaan dalam perlakuan. Jika dari uji ANAVA nilai
F hitung>dari F tabel maka hipotesis diterima dan dilanjukan uji BNT (Beda
Nyata Terkecil) dengan taraf signifikasi 5% untuk mengetahui konsentrasi ekstrak
daun lamtoro yang paling efektif pada penambahan jumlah kepadatan sel
Spirulina sp .
Populasi Spirulina sp menggunakan beberapa konsentrasi ekstrak daun
lamtoro selama 9 hari dapat dilihat pada Tabel 1 jika ditampilkan pada grafik
maka rerata kepadatan populasi sel Spirulina sp dapat dilihat pada Gambar 1.
Tabel 1. Tabel Rerata Hasil Perhitungan Kepadatan Spirulina sp.
Hari Ke-
Konsentrasi
2 4 6 8
0% 1 1,75 2,5 0
2% 8 7 3 0
4% 9,75 5 5 0
6% 1 6,25 10 0
8% 6,5 5,25 6 0
10% 5,75 9,25 10 0
Dari perhitungan rerata tersebut data selanjutnya di buat grafik untuk mengetahui
lebih jelas peningkatan jumlah kepadatan sel Spirulina sp yang disajikan dalam
bentuk diagram batang. Selain untuk mengetahui penambahan jumlah kepadatan
sel Spirulina sp setelah diberi perlakuan juga dapat mengetahui konsentrasi
ekstrak daun lamtoro yang optimal bagi penambahan kepadatan sel Spirulina sp.
untuk lebih jelasnya maka dapat dilihat pada Gambar 1.
Grafik Kepadatan Spirulina sp.
12
9.75 10 10
10 9.25
8
8 7
Hari Ke-

6.25 6.5
6 5.75 2
6 55 5.25
4
4 3 6
2.5
1.75 8
2 1 1
0
0% 2% 4% 6% 8% 10%
Konsentrasi Ekstrak Daun Lamtoro

Gambar 1. Grafik Kepadatan Spirulina sp.


Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa jumlah total sel/ml Spirulina sp
mengalami perbedaan pada setiap perlakuan. Perlakuan 0% menunjukkan bahwa
jumlah sel meningkat pada hari pengamatan ke 2 sampai hari ke 6 dan mulai
mengalami penurunan pada hari ke 8. Perlakuan 2% menunjukkan bahwa jumlah
sel pada hari ke 4 sampai ke 8 terus mengalami penurunan. Perlakuan 4%
menunjukkan bahwa jumlah sel pada hari ke 2 ke hari ke 4 mengalami penurunan
dan konstan sampai hari ke 6. Perlakuan 6% menunjukkan bahwa jumlah sel
meningkat pada hari pengamatan ke 2 sampai hari ke 6 dan mulai mengalami
penurunan pada hari ke 8. Perlakuan 8% dari hari ke 2 menuju ke 4 mengalami
penurunan, kemudian dari hari ke 4 menuju hari ke 6 mengalami peningkatan
kembali dan perlakuan 10% menunjukkan bahwa jumlah sel meningkat pada hari
pengamatan ke 2 sampai hari ke 6 dan mulai mengalami penurunan pada hari ke
8. Berdasarkan keenam perlakuan tersebut juga dapat diketahui bahwa pada
konsentrasi ekstrak daun lamtoro 10% merupakan konsentrasi optimal bagi
penambahan jumlah kepadatan sel Spirulina sp.
Pada Gambar 1 menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun lamtoro
sebagai sumber nutrisi terhadap populasi Spirulina sp terdiri dari empat fase
pertumbuhan yaitu adaptasi, eksponensial, stasioner dan penurunan. Fase adaptasi
terjadi terjadi pada hari pemasukan inokulan pertama. Fase eksponensial dimulai
hari kedua pengamatan pada semua perlakuan diikuti peningakatan jumlah
Spirulina sp. cukup banyak hingga hari ke 6 dan fase penurunan terjadi pada hari
ke delapan alga Spirulina sp sudah mengalami fase kematian. Berdasarkan hasil
pengamatan grafik tersebut maka, kesimpulan sementara yang dapat diambil dari
grafik tersebut yaitu penambahan ekstrak daun lamtoro dalam kultur alga
Spirulina sp berpengaruh terhadap penambahan jumlah kepadatan sel Spirulina sp
yang didapatkan serta pada konsentrasi ekstrak daun lamtoro 10% merupakan
konsentrasi yang optimal bagi pertumbuhan sel Spirulina sp.
Data yang didapatkan selanjutnya dilakukan uji statistik dengan
menggunakan ANAVA. Adapun hasil pengujian ANAVA dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Tabel Perhitungan ANAVA Kepadatan sel Spirulina sp.
SK db JK KT F Hitung F 0,05 F 0,01
Perlakuan 5 52.77083 10.55417 0.768935 2.77 4.25
Galat 18 247.0625 13.72569
Total 23 299.8333
Hasil ANAVA menunjukkan bahwa dari hasil perhitungan ANAVA diketahui
bahwa Fhitung (0,768935) lebih lebih kecil dari Ftabel (0,05) (2,77) maka H1 ditolak
dan H0 diterima, artinya penambahan ekstrak daun lamtoro tidak berpengaruh
terhadap penambahan jumlah sel pada Spirulina sp. Berdasarkan hasil
pengamatan uji ANAVA tersebut maka, kesimpulan sementara yang dapat
diambil dari pengujian tersebut yaitu penambahan ekstrak daun lamtoro dalam
kultur alga Spirulina sp tidak berpengaruh terhadap penambahan jumlah
kepadatan sel Spirulina sp yang didapatkan.
Berdasarkan kedua data tabel tersebut maka dapat diambil kesimpulan
sementara secara keseluruhan yaitu jika berdasarkan perhitungan grafik maka
penambahan ekstrak daun lamtoro berpengaruh terhadap penambahan jumlah
kepadatan sel Spirulina sp yang didapatkan. Selain itu kosentrasi ekstrak daun
lamtoro 10% merupakan konsentrasi yang optimal bagi penambahan jumlah
kepadatan sel Spirulina sp. Namun jika berdasarkan perhitungan statistic
penambahan ekstrak daun lamtoro tidak berpengaruh terhadap penambahan
jumlah kepadatan sel Spirulina sp yang didapatkan. Perbedaan hasil ini
disebabkan karena beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil percobaan.

I. Pembahasan
Spirulina sp merupakan salah satu jenis mikroalga yang menyebar secara
luas, dapat ditemukan di berbagai tipe lingkungan, baik di perairan payau, laut dan
tawar (Ciferri, 1983). Spirulina sp merupakan organisme autotrof berwarna hijau
kebiruan, dengan sel koloni membentuk filament terpilin menyerupai spiral
(helix), sehingga disebut alga hijau-biru berfilamen. Menurut Cifferi (1983)
diameter trikom untuk ukuran jenis kecil berkisar antara 1-3 μm dan 3-12 μm
untuk ukuran jenis besar. Ukuran trikom yang berbeda-beda tidak dapat
dipertahankan bila kondisi lingkungannya tidak sesuai dengan kondisi ilmiah.
Bentuk spiral trikom dari Spirulina sp ini hanya dapat dipertahankan pada
medium cair, sedangkan pada media padat akan memendek secara perlahan
tergantung kandungan air pada permukaan (Cifferi, 1983). Menurut Bold dan
Wyne (1985) klasifikasi Spirulina sp adalah sebagai berikut:
Kingdom : Protista
Divisi : Cyanophyta
Kelas : Cyanophyceae
Ordo : Nostocales
Famili : Oscilatoriaceae
Genus : Spirulina
Spesies : Spirulina sp
Spirulina sp merupakan mikroalga multiseluler yang terdiri dari sel-sel
silindris yang membentuk koloni. Koloni tersebut merupakan hasil pembelahan
sel secara berulang-ulang pada bidang tunggal dan membentuk rantai yang diseut
trikom. Spirulina sp mempunyai ciri-ciri morfologi berupa filament yang tersusun
dari trikoma multiseluler berbentuk spiral yang bergabung menjadi satu, memiliki
sel berkolom membentuk filamenter pilin menyerupai spiral, tidak bercabang,
autotrof dan berwarna biru kehijauan. Bentuk tubuh Spirulina sp yang
menyerupai benang merupakan rangkaian sel yang berbentuk silindris dengan
dinding sel yang tipis, berdiameter 1-12 μm. Filamen Spirulina sp. Hidup berdiri
sendiri dan dapat bergerak bebas (Tomaselli, 1997).
Struktur sel Spirulina sp hampir sama dengan tipe sel alga lainnya dari
golongan cyanobacteria. Dinding sel merupakan dinding sel gram-negatif yang
terdiri dari 4 lapisan dengan lapisan utamanya tersusun dari peptidoglikan yang
membentuk lapisan koheren. Peptidoglikan berfungsi sebagai pembentukan
pergerakan pada Spirulina sp yang membentuk spiral teratur dengan lebar belokan
26-28 μm, sedangkan sel-sel pada trachoma memiliki lebar 6-8 μm (Eykelenburg,
1977). Bagian tengah dari nukleoplasma mengandung beberapa karboksisom,
ribosom, badan silindris, dan lemak. Membran tilakoid berasosiasi dengan
pikobilisom yang tersebar disekeliling sitoplasma. Spirulina sp mempunyai
kemampuan untuk berfotosintesis dan mengubah energy cahaya menjadi energy
kimia dalam bentuk karbohidrat (Mohanty et al, 2000).
Spirulina sp berkembang biak secara aseksual dengan cara membelah diri.
Pembelahan diawali dengan memutus filament menjadi satu-satuan sel yang akan
membentuk filament baru yang disebut necridia. Necridia akan memembentuk
hormogonia yang memisahkan diri dari fialmen induk menjadi filament baru
(Isnansetyo & Kurniastuty, 1995). Sel-sel tersebut akan bertambah terus
jumlahnya melalui pembelahan sel (Cifferi, 1983). Sebagimana organisme lain,
Spirulina sp mengalami pertumbuhan seperti pembelahan sel (peningkatan
jumlah) dan pembesaran sel (peningkatan ukuran). Kedua proses tersebut
memerlukan proses sintesis protein.
Pertumbuhan Spirulina sp membutuhkan beberapa macam nutrient atau
unsur hara sebagai sumber energi dan bahan pembangun sel. Nutrient yang
dibutuhkan oleh Spirulina sp terdiri dari unsur makro dan unsur mikronutrien
seperti nitrogen, karbon, fosfor, sulfur, natrium, magnesium dan kalsium
(Chumadi, 2004). Unsur Nitrogen (N) merupakan salah satu unsur kimia dan
komponen utama protein sel yang merupakan bagian dasar dalam sintesis protein.
Nitrogen dimanfaatkan oleh mikroalga dalam membentuk nitrat (NO3). Adapun
sumber nitrogen organic yang paling mudah didapat untuk mendukung
petumbuhan sel Spirulina sp dalam kultur adalah daun lamtoro (Leucaena
leucocephala).
Lamtoro atau yang sering disebut petai cina, atau petai selong adalah
sejenis perdu dari famili Fabaceae (Leguminoseae, polong-polongan), yang
berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Lamtoro mudah beradaptasi di
berbagai daerah tropis seperti Asia dan Afrika termasuk pula di Indonesia
(Nugroho, 2011). Menurut Borowitzka (1988) tanaman lamtoro memiliki
klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Leucaena
Species : Leucaena leucocephala
Daun lamtoro berbentuk simetris, dengan tipe daun majemuk ganda dan
daun berwarna hijau. Daun lamtoro merupakan salah satu tanaman legume yang
mengandung unsur hara yang relatif tinggi, terutama nitrogen dibandingkan
tanaman lainnya dan juga relatif lebih mudah terkomposisi sehingga penyediaan
haranya lebih cepat, daun lamtoro akan meningkatkan kesuburan dan akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan alga atau tanaman dalam
memperoleh berbagai macam unsur hara (Nugroho, 2011). Daun lamtoro dapat
digunakan sebagai sumber bahan organik atau sebagai penyedia unsur hara bagi
kultur mikroalga. Menurut Ibrahim (2002), bahwa kandungan hara pada daun
lamtoro terdiri dari 3,84% N, 0,2% P, 2,06% K, 1,31% Ca, 0,33% Mg. Menurut
penelitian Haryanto (2000), bahwa kandungan nitrogen 3,84% pada ekstrak daun
lamtoro dapat dijadikan sebagai salah satu media kultur bagi mikroalga. Oleh
sebab itu pada penelitian ini mnggunakan ekstrak daun lamtoro sebagai salah satu
media pertumbuhan sel Spirulina sp.
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil yang berbeda yaitu pada
saat dilakukan analisis dengan menggunakan grafik, data menunjukkan adanya
pertambahan jumlah kepadatan sel Spirulina sp pada setiap konsentrasi.
Berdasarkan data menunjukkan bahwa pada setiap konsentrasi 0%, 2%, 4%, 6%,
8%, dan 10% pengamatan hari ke 0,2,4, dan 6 jumlah kepadatan epadatan jumlah
sel Spirulina sp mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah kepadatan sel
spirulina pada pengamatan hari ke 2 hingga hari ke 6 ini dikarenakan sel Spirulina
sp sedang berada pada fase log atau pertumbuhan. Namun pada pengamatan hari
ke 8 semua konsentrasi 0%, 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% jumlah kepadatan sel
Spirulina sp mengalami penurunan atau sudah pada fase kematian.
Menurut Ariyati (1998), pertambahan sel Spirulina sp dalam kultur
mengikuti pola tertentu yang dibagi dalam empat fase pertumbuhan yaitu fase
adaptasi (lag), fase log, fase stasioner dan fase kematian. Fase adaptasi pada kultur
sel Spirulina sp ditandai dengan periode penyesuaian diri mikroalga terhadap
lingkungan dan lamanya mulai dari satu jam hingga beberapa hari. Lama waktu
ini tergantung pada macam mikroalga, umur biakan, dan nutrien yang terdapat
dalam medium yang disediakan. Pada fase ini mikroalga beradaptasi dengan
lingkungan, belum mampu mengadakan pembiakan, namun hanya terapi
metabolisme sel mikroalga meningkat dan terjadi perbesaran ukuran sel bakteri.
Berdasarkan pengamatan, fase adaptasi sel Spirulina sp selama 1 minggu hingga
terbentuk endapan hijau pada dasar wadah.
Menurut Martosudarmo (1990), pada fase log merupakan periode
pembiakan cepat yang didalamnya dapat teramati ciri khas sel-sel yang aktif.
Selama fase ini kultur mikroalga berlangsung cepat, sel-sel membelah dan
jumlahnya meningkat secara logaritma sesuai dengan pertambahan waktu,
beberapa mikroalga pada fase ini biasanya menghasilkan senyawa metabolit
primer, seperti karbohidrat dan protein. Pada kurva, fase ini ditandai dengan
adanya garis lurus pada plot jumlah sel terhadap waktu. Pada fase ini sel Spirulina
sp memanfaatkan nutrisi yang tersedia di lingkungan seperti nitrogen pada ekstrak
daun lamtoro untuk membantu meningkatkan pertambahan sel. Pada pengamatan
fase log ini terjadi pada pengamatan dari ke 4 hingga ke 6.
Fase stasioner merupakan suatu keadaan seimbang antara laju
pertumbuhan dengan laju kematian, sehingga jumlah keseluruh mikroalga yang
hidup akan tetap. Berdasarkan hasil pengamatan fase stasioner pada sel Spirulina
sp terjadi pada pengamatan hai ke 6 hingga ke 7. Fase terakhir yaitu fase kematian
yang ditandai dengan laju kematian yang lebih tinggi daripada laju pertumbuhan
sehingga kepdatan populasi terus berkurang. Fase kematian terjadi disebakan
karena habisnya jumlah makanan dalam medium sehingga pembiakan mikroalga
Spirulina sp terhenti dan keadaan lingkungan yang jelek karena semakin
banyaknya hasil metabolit yang tidak berguna dan mengganggu pertumbuhan
mikroalga (Ariyanti, 1998). Berdasarkan hasil pengamatan fase kematian sel
Spirulina sp terjadi pada pengamatan hari ke 8 yang ditandai dengan tidak adanya
sel Spirulina sp yang hidup pada semua perlakuan.
Adanya perningkatan jumlah kepadatan sel Spirulina sp pada tiap
konsentrasi menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun lamtoro dalam kultur
alga Spirulina sp berpengaruh terhadap penambahan jumlah kepadatan sel
Spirulina sp yang didapatkan. Selain itu konsentrasi ekstrak daun lamtoro yang
optimal terhadap jumlah kepadatan sel Spirulina sp yaitu pada konsentrasi 10%.
Menurut Listiyana (2016), mengatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dan
jumlah daun lamtoro yang diberikan maka semakin tinggi kadar nitrogen yang
dihasilkan sehingga jumlah kepadatan sel Spirulina sp semakin meningkat.
Sehingga konsentrasi ekstrak daun lamtoro 10% pada percobaan merupakan
konsentrasi yang optimal untuk menambah jumlah kepadatan sel Spirulina sp.
Saat dilakukan pengujian statistik ANAVA, didapatkan Fhitung (0,768935)
lebih lebih kecil dari Ftabel (0,05) (2,77) maka H1 ditolak dan H0 diterima, artinya
penambahan ekstrak daun lamtoro tidak berpengaruh terhadap penambahan
jumlah sel pada Spirulina sp. Berdasarkan hasil pengamatan uji ANAVA tersebut
maka, penambahan ekstrak daun lamtoro dalam kultur alga Spirulina sp tidak
berpengaruh terhadap penambahan jumlah kepadatan sel Spirulina sp yang
didapatkan. Hal ini dapat terjadi karena adanya beberapa faktor yang mendukung
terjadinya kegagalan pada saat penelitian, seperti faktor internal dan eksternal.
Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap jumlah pertumbuhan populasi sel
Spirulina sp yaitu suhu, salinitas, intensitas cahaya, dan ketersediaan nutrisi
(Isnansetyo & Kurniastuty, 1995). Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
1. Suhu
Suhu merupajan faktor terpenting dalam melakukan kultur alga karena suhu
secara tidak langsung akan mempengauhi kondisi lingkungan media pertumbuhan
alga. Pertumbuhan kondisi lingkungan yang kurang sesuai menyebabkan proses
metabolism dan reproduksi sel alga menjadi terganggu, sehingg jumlah kepadatan
sel alga menjadi terhambat (Ariyati, 1998). Suhu yang baik untuk pertumbuhan
kultur alga Spirulina sp berkisar antara 300C-350C. Pada percobaan suhu yang
diberikan pada alga Spirulina sp yaitu ada suhu ruang.
2. Salinitas
Salinitas merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap organisme
air dalam mempertahankan tekanan osmotic yang seimbang dengan air sebagai
lingkungan hidunya. Kebanyakan alga Spirulina sp mempunyai toleransi yang
cukup besar terhadap perubahan salinitas. Menurut Angka et al (1979)
mengemukakan bahwa alga Spirulina sp merupakan salah satu jenis mikroalga
yang sangat peka terhadap perubahan salinitas, karena salinitas pada media kultur
dapat mempengarihi proses fotosintesis.
3. pH
Derajat keasaman (pH) berperan dalam menentukan kepadatan populasi,
konsentrasi karbondioksida dan keseimbangan antar karbonat dan bikarbonat
dalam suatu media kultur. Spirulina sp tumbuh dengan baik pada kondisi pH agak
basa dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap pH basa daripada asam (Fay,
1983). Menurut Hariyati (2008) menyatakan bahwa pH untuk pertumbuhan
Spirulina sp yaitu 7-9, jika pH kurang atau lebih maka akan menghambat
pertumbuhan dan menyebabkan lisis atau kerusakan sel.
4. Intensitas Cahaya
Cahaya merupakan faktor penting untuk kultur alga karena ontensitas cahaya
merupakan sumber energi untuk proses fotosintesis (Ariyati, 1998). Intensitas
cahaya yang optimal untuk Spirulina sp berkisar antara 2000-3000 lux.
5. Ketersediaan Nutrisi
Nutrisi merupakan faktor penting dalam kultur Spirulina sp sebagai sumber
energy dan bahan pembangun sel. Kebutuhan nutrisi mikroalga harus tetap
terpenuhi melalui penambahan media guna menunjang pertumbuhan mikroalga.
Adapun senyawa organic yang diperlukan dalam jumlah besar pada pertumbuhan
alga adalah seperti karbon,nitrogen, fosfor, sulfur, natrium, magnesium, dan
kalsium. Sedangkan unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit adalah
seperti besi, tembaga, mangan, seng, silicon dan cobalt (Chumadi, 2004).
Selain itu, tingginya konsentrasi pemberian nutrisi pada alga juga berpengaruh
terhadap pertumbuhan jumlah kepadatan sel Spirulina sp. semakin tinggi
pemberian unsur senyawa organic maka semakin cepat pertumbuhan jumlah
kepadatan sel Spirulina sp. Ketersediaan nutrisi dalam kultur alga Spirulina sp
juga harus seimbang dengan perbandingan alga yang di kultur. Hal ini disebabkan
karena jika ketersediaan nutrisi pada media kultur sedikit sedangkan jumlah
populasi alga Spirulina sp banyak maka akan terjadi persaingan perebutan nutrisi
pada media kultur sehingga pertumbuhan alga tidak sempurna.
Terjadinya perbedaan hasil pada pengujian data tersebut dikarenakan jumlah
ekstrak daun lamtoro yang diberikan dimungkinkan terlalu sedikit pada populasi
alga Spirulina sp sehingga peningkatan jumlah kepadatan sel Spirulina sp tidak
terlalu signifikan. Jika dilakukan pendataan secara grafik, penambahan ekstrak
daun lamtoro dalam kultur alga Spirulina sp berpengaruh terhadap penambahan
jumlah kepadatan sel Spirulina sp yang didapatkan, hanya saja jumlah dan
konsentrasi pemberian ekstrak daun lamtoro kurang tinggi. Sehingga jika
dilakukan perhitungan secara statistik, data yang dihasilkan kurang maksimal
menyebabkan hasil yang diperoleh tidak berpengaruh. Namun berdasarkan
literature yang ada bahwa daun lamtoro mengandung unsur nitrogen yang dapat
dijadikan sebagai media pertumbuhan sel Spirulina sp. Maka untuk menghasilkan
hasil pengujian yang signifikan maka perlu adanya peningkatan konsentrasi dan
jumlah ekstrak daun lamtoro yang lebih tinggi daripada penelitian sebelumnya.
Jadi pada penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan
meningkatkan jumlah dan konsentrasi ekstrak daun lamtoro sebagai media
peningkatan jumlah kepadatan sel Spirulina sp agar hasil yang dihasilkan lebih
signifikan.

J. Kesimpulan
1. Ekstrak daun lamtoro tidak berpengaruh terhadap penambahan jumlah sel
Spirulina sp
2. Dosis konsentrasi ekstak daun lamtoro yang paling efektif terhadap jumlah
kepadatan sel Spirulina sp adalah konsentrasi 10%.
DAFTAR RUJUKAN

Angka, S. L., Sumantadinata, Haris & Chaerudin. 1979. Kultur Laboratoris


Diatome Laut. Laporan Proyek Penelitian PP/PPT. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.

Ariyati, S. 1998. Pengaruh Salinitas dan Dosis Pupuk Urea Terhadap


Pertumbuhan Populaso Spirulina sp. Semarang: Universitas Diponegoro

Astiani, F., Dewiyanti, I., Mellisa, S. 2016. Pengaruh Media Kultur Yang Berbeda
Terhadap Laju Pertumbuhan Dan Biomassa Spirulina sp. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsiyah.1(3): 441-447.

Bold, H.C. dan Wynne, M.J. 1985. Introduction to the Algae, Second Edition.
New York: Prentice-Hall Mc. Engelwood Cliffs.

Borowitzka, M.A. 1988. Algal Growth Media And Sources Of Algal Cultures. In
:Borowitzka, M.A & L.J Borowitza (Eds) Microalga Biotechnology.
Cambridge University Press: Cambridge. pp. 456-465.

Chrismadha, T., Lily P. dan Yayah M. 2006.Pengaruh Konsentrasi Nitrogen dan


Fosfor Terhdap Pertumbuhan, Kandungan Protein, Karbohidrat dan
Fikosianin pada Kultur Spirulina fusiformis.Berita Biologi. 8 (3).

Ciferri O. 1983. Spirulina the edible microorganism. Journal Departemen of


Genetics and Microbiology. 47(4). Italy: University of Pavia, 27100 Pavi

Chumadi, S. Ilyas, Yunis, Shlan, Utami, dan Arifudin. 2004. Pedoman teknis
Budidaya Pakan Alami Ikan dan Udang. Jakarta: Pusat Pengembangan
Perikanan.

Eykelenburg, V.C. 1977. On the morphology and ultrastructure of the cell wall of
Spirulina platensis. Journal Microbiol. Serol. 43:89-99.

Hariyati, R. 2008. Pertumbuhan dan Biomassa Spirulina sp dalam Skala


Laboratoris. Semarang: Universitas Diponegoro.

Haryanto, T. Suhartini dan E. Rahayu, 2002. Tanaman Sawi dan Selada. Depok:
Penebar Swadaya.

Ibrahim, B. 2002. Intergrasi Jenis Tanam-An Pohon Leguminosa Dalam Sistem


Budidaya Pangan Lahan Kering Dan Pengaruhnya Terhadap Sifat Tanah,
Erosi, Dan Produktifitas Lahan. Disertasi. Makassar: Program Pasca Sarjana
Universitas Hasanuddin.

Isnansetyo, A & Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan


Zooplankton. Yogyakarta: Kaninus.
Jongkon P., Siripen T & Richard D. L. 2008. Phytoremediation of Kitchen
Wastewater by Spirulina platensis (Nordstedt) Geiteler: Pigment content,
Production Variable Cost and Nutritonal Value. Maejo International Journal
of Science and Technology. 2 (2): 159– 171.

Laura, B dan Paolo G. 2006. Algae: Anatomy, Biochemistry, and Biotechnology.


New York : CRC Press, Boca Raton.
Li.,YX, Zhao FJ, and Yu DD. 2015. Effect of Nitrogen Limitation on CellGrowth,
Lipid Accumulation and Gene Expression in Chlorella sorokiniana.
International Journal of Brazilian Archives of Biology and Technology
58(3): 462-467.

Listiyana, R. 2016. Pemanfaatan Daun Lamtoro dan Ekstrak Tauge dengan


Penambahan Urine Sapi Untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair. Publikasi
Ilmiah. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Martosudarmo, B & Wulani. 1990. Petunjuk Pemeliharaan Kultur Murni dan Sel
Mikroalga. Jepara: Proyek Pengembangan Budidaya Udang.

Mohanty, A.K., Misra, M., dan Hindrichsen, G. 2000.Biofibers, Biodegradable


Polymer and Composite: An Overview, Macromolecular Material
Engineering, 276/277, 1-24.

Nugroho, S. G., Dermiyati, J. Lumbanraja, S. Triyono, H. Ismono, dan A. P.


Jatmiko. 2011. Perakitan Pupuk Alternatif Organomineral NP
(organonitrofos) Berbais SumberdayaLokal Dan Pengalihan Teknologi
Produksi Ke Swasta Dan Kelompok Tani. Proposal Penelitian Unggulan
Strategis Nasional. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Prihantini, N. B., Berta P. dan Ratna Y. 2005. Pertumbuhan Chlorella spp. dalam
Medium Ekstrak Tauge (MET) dengan Variasi pH Awal. Makara Sains.
9(1): 1.

Ratrinia, P.W., Maruf., W.F., Dewi, E.N. 2014. Pengaruh Penggunaan


Bioaktivator EM4 dan Penambahan Daun Lamtoro (leucaena leucocephala)
terhadap spesifikasi pupuk organic cair rumput laut. Jurnal Pengolahan dan
Bioteknologi Hasil Perikanan. 3(3): 82-87.

Tomaselli L. 1997. Morphology, Ultrastucture and Taxonomy of Arthrospira


(Spirulina) maxima and Arthrospira (Spirulina) platensis. USA: Bristol.
LAMPIRAN

Konsentrasi Jumlah
No Ulangan Gambar
Lamtoro spirulina

1. 0% 1 2

2 2

3 2
4 2

2. 2% 1 4

2 4

3 3
4 3

3. 4% 1 7

2 5

3 3
4 5

4 6% 1 7

2 9

3 4
4 5

5. 8% 1 6

2 4

3 4
4 7

6. 10% 1 10

2 8

3 12
4 7