Anda di halaman 1dari 12

Volume : 3 | Issue : 3 | March 2014 • ISSN No 2277 – 8179

Sebuah Penelitian Anemia pada Pasien Anak


di Rumah Sakit Perawatan Tersier di Rajkot (Gujarat), India: Sebuah
Penelitian Selama Satu Periode Dalam Satu Tahun

Dr. Amit H Agravat Associate Professor, Department of


Pathology, PDU Medical College, Rajkot.

Dr. Gauravi A Dhruva Professor and Head, Department of


Pathology, PDU Medical College, Rajkot.

Dr. Hardika K Samani 2nd year resident, Department of Pathology,


PDU Medical College, Rajkot

Kata kunci : Anemia, perempuan, hypochromic microcytic


Abstrak
Data ini diperoleh dari sampel darah pasien anak yang dirawat , diterima dan
dianalisis di laboratorium Klinik Pusat, Departemen Patologi, PDU Medical College
& Hospital, Rajkot. Sampel darah yang dikumpulkan dikirim dalam EDTA (Ehylene
Diamin tetraacetic Acid) vacutte yang diuji di meja penghitung sel otomatis bersama
dengan pemeriksaan hapusan darah perifer dilakukan dan disimpulkan bahwa
anemia lebih umum pada kelompok usia 1 sampai 2 tahun di antara anak-anak dan
jenis morfologi yang paling umum adalah adalah anemia mikrositik hipokromik dan
wanita lebih sering terkena daripada laki-laki.

Pendahuluan

Anemia didefinisikan sebagai penurunan daya angkut oksigen pada darah,


seperti yang diamati oleh menurunnya tingkat konsentrasi hemoglobin dan massa sel
darah merah (hematokrit) yang mengarah ke hypoxia. Anaemia jaringan di masa
kanak-kanak didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin (Hb) di bawah normal.
Tingkatan ini bervariasi tergantung pada usia anak, dan laboratorium di mana sampel
darah diuji. Referensi rentang untuk laboratorium tertentu dan kelompok umur harus
selalu disebutkan . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memiliki tingkat disarankan,
Hb di bawah nilai ini dikatakan anemia. Tingkatan ini <11 g / dL pada anak usia 6-
59 bulan dan <11,5 g / dL pada anak usia 5-11 tahun dan 12 g / dl pada anak yang
lebih tua (usia 12-14) .Anemia disebabkan oleh kurangnya produksi sel darah merah,
kerusakan sel darah merah, atau kehilangan sel darah merah.

Bahan dan Metode


Penelitian dilakukan di Central Laboratorium Klinik, Departemen Patologi,
PDU Medical College & Hospital, Rajkot. Sampel darah yang diteliti terdiri dari
pasien yang mengizinkan dan diteiti di Rumah Sakit PDU pada kelompok usia 0-12
tahun pada jangka waktu bulan Januari sampai bulan Desember 2013 dan pasien
yang memiliki Hb <11,0 gm / dl dievaluasi. Darah dikumpulkan dalam EDTA
vacutte yang dikirim ke laboratorium dan pelaporan dilakukan berdasarkan hasil
mesin pembaca sel otomatis Sysmex KX yang sebaik pemeriksaan apusan darah tepi
metode pewarnaan Romanowsky

Hasil
Dari jumlah sampel anak yang 8400 (100%) sebanyak 5712 (67,8%) yang
mengalami anemia.
Diskusi
Prevalensi anemia pada penelitian kami adalah 67,8% yang sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Venkatesh G [1] di Ahmedabad di mana prevalensi
81,2% masing-masingnya , Shally Awasthi dan kawan- kawan [2] menemukan
prevalensi dari 37 hingga 38% dalam penelitian yang dilakukan di Uttar Pradesh,
Bijan Keikhaei [3] menemukan prevalensi 43,9% pada anak-anak bagian barat daya
Iran, Peter R Dallman [4] menemukan prevalensi dari 6% di Amerika Serikat
Penemuan kami sesuai dengan penelitian WHO pada periode waktu 1993-2005 di
berbagai negara di dunia. Prevalensi anemia menurut kelompok usia yang berbeda
pada penelitian kami menunjukkan prevalensi anemia tertinggi pada kelompok usia
antara 1 sampai 2 tahun sebanyak 33% dan tertinggi dibandingkan dengan kelompok
usia lainnya, hal ini sesuai dengan penelitianyang dilakukan Shally Avasthi dan
kawan-kawan [2] dan Bijan keikhaei [3]. Alasan yang paling umum di balik ini
adalah dilanjutkan atau tidaknya menyusui lebih dari 6 bulan dan makanan
pendamping yang tidak sesuai yang menyebabkan kekurangan zat besi karena ASI
tidak mengandung banyak zat besi . Salahnya teknik makanan pendamping
menyebabkan berbagai jenis infeksi dan kekurangan gizi. Anemia mikrositik
hipokromik adalah jenis yang paling umum dari anemia dan diikuti oleh dimorfik,
macroovalocytic, dan hemolitik sesuai dengan penelitian yang sebelumnya seperti
yang dilakukan oleh Shally Awasthi [2] dan Venkatesh G [1]. Anemia kekurangan
zat besi adalah penyebab paling umum untuk anemia mikrositik hipokromik .
Distribusi Jenis kelamin pada anemia menunjukkan bahwa anemia mikrositik
hipokromik lebih umum pada wanita sedangkan tidak ada perbedaan jenis kelamin
yang terlihat dalam kasus anemia macroovalcytic dan dimorfik seperti anemia
hemolitik yang mana sesuai dengan penelitian yang dilakukan Neeraj Jain dan
kawan- kawan.
Kesimpulan
Dari penelitian kami yang meliputi kelompok pasien anak usia 0-12 tahun dan kedua
jenis kelamin; kami mengetahui bahwa anemia lebih umum terjadi pada kelompok
usia 1 sampai 2 tahun dan jenis morfologi yang paling umum adalah anemia
mikrositik hipokromik diikuti oleh dimorfik anemia secara berurutan. Alasan paling
umum di balik kedua jenis morfologi adalah kekurangan nutrisi dan yang paling
umum adalah besi, vitamin B12 dan asam folat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Venkatesh G, Soubhagya Talawar, Bela H Shah.Clinical Profile of Anemia in


Children IOSR Journal of Dental and Medical Sciences 2013;5:65- 69.
2. Shally Awasthi, Rohini Das, Tuhina Verma, Sheila Vir. Anemia and
Undernutrition Among Preschool Children in Uttar Pradesh,India. Indian
Pediatrics 2003; 40:985-990
3. .Bijan Keikhaei, Khodamorad Zandian, Ali Gasemi, Ramin Tabibi. Iron
deficiency anemia among children in southwest iran.Food and Nutrition
Bulletin 2007; vol 28,n0.4:406-411.The United Nations University.
4. .Peter R Dallman , Ray Yip,Clifford Johnson.prevalence and causes of anemia
in United states1976 to 1980.the American journal of Clinical Nutrition 1984
;39:437-445. | 5.Neeraj Jain , Vibha Mangal Jain.Prevalence of anemia in
school children. Medical Practice and Review Feb 2012;vol.3(1):pp 1-4.
5. Neeraj Jain , Vibha Mangal Jain.Prevalence of anemia in school children.
Medical Practice and Review Feb 2012;vol.3(1):pp 1-4.

Kajian Kritis Jurnal

PICO
A. Patient of problem
Untuk mengetahui angka kejadian anemia di berbagai negara, khususnya yang
sering terjadi pada anak-anak di Rumah sakit perawatan tersier, Rajkot, India
berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin dan jenis morfologi dari anemia.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh :
 Anemia didefinisikan sebagai penurunan daya angkut oksigen pada darah,
seperti yang diamati dengan menurunnya konsentrasi hemoglobin dan massa
sel dara merah (hematokrit) yang mengarah ke hypoxia.
 Anemia pada anak didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin di bawah
normal.
 Tingkatan kadar Hb ini bervariasi, tergantung pada usia anak dan
laboratorium dimana sampel darah diuji.
 Organisasi kesehatan dunia (WHO) memiliki tingkatan kadar Hb yang
dikatakan anemia, yaitu : <11 g/dl pada anak usia 6-59 bulan, <11,5 g/dl pada
anak usia 5-11 tahun, dan 12 g/dl pada anak yang lebih tua (usia 12-14 tahun).
 Anemia disebabkan oleh kurangnya produksi sel darah merah, kerusakan sel
darah merah, atau kehilangan sel darah merah.

B. Intervention
 Pemeriksaan Hemoglobin yang dilakukan berdasarkan hasil dari mesin
pembaca sel otomatis Sysmex KX yang sebaik pemeriksaan apusan darah tepi
dengan metode pewarnaan Romanowsky, yang sebelumnya darah
dikumpulkan dalam EDTA, lalu dikirim ke laboratorium.

C. Compare
Membandingkan dengan penelitian sebelumnya.
 Prevalensi anemia menurut penelitian ini adalah 67,8% yang sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Venkatesh G di Ahmedabad.
 Prevalensi anemia menurut kelompok usia pada penelitian ini menunjukkan,
prevalensi anemia tertinggi pada kelompok usia antara 1 sampai 2 tahun
sebanyak 33% dan tertinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, hal
ini sesuai dengan penelitianyang dilakukan Shally Avasthi dan kawan-kawan
dan Bijan keikhaei.

 Anemia mikrositik hipokromik adalah jenis yang paling umum dari anemia
dan diikuti oleh dimorfik, macroovalocytic, dan hemolitik sesuai dengan
penelitian yang sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Shally Awasthi dan
Venkatesh G.
 Distribusi Jenis kelamin pada anemia menunjukkan bahwa anemia mikrositik
hipokromik lebih umum pada wanita sedangkan tidak ada perbedaan jenis
kelamin yang terlihat dalam kasus anemia macroovalcytic dan dimorfik
seperti anemia hemolitik yang mana sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Neeraj Jain dan kawan- kawan.

D. Outcome
Dari jumlah sampel anak dari 8400 (100%), sebanyak 5712 (67,8%) yang
mengalami anemia.
 Distribusi kasus menurut usia, menunjukkan usia 1-2 tahun merupakan usia
terbanyak pada anak yang mengalami anemia dengan persentase 33% dan
terendah pada usia >5 tahun yaitu hanya 9%.
 Distribusi menurut kelompok usia dan jenis morfologi pada anemia,
menunjukkan anemia tipe hipokromik mikrositik merupakan jenis morfologi
anemia yang paling umum diderita pada anak usia 1-2 tahun dengan
persentase 3484 (61%) dan anemia dengan morfologi hemolitik merupakan
jenis yang jarang ditemui dengan persentase 228(4%)
 Distribusi menurut jenis morfologi didapatkan anemia tipe hipokromik
mikrositik merupakan jenis morfologi anemia yang paling umum dengan
persentase 3484 (61%) dan anemia dengan morfologi hemolitik merupakan
jenis yang jarang ditemui dengan persentase 228(4%)
 Distribusi menurut jenis kelamin pada anemia berdasarkan tipe morfologi
anemia pada wanita dan laki-laki, yaitu pada morfologi anemia hipokromik
mikrositik lebih banyak diderita pada perempuan 35% dibandingkan dengan
laki-laki 26%.
 Distribusi global anemia pada penelitian WHO selama periode tahun 1993-
2005 menunjukkan, pada penelitian ini (Rajkot-Gujarat) memiliki persentase
tertinggi angka anemia yang terjadi pada anak usia 0-5 tahun dengan
persentase 91,00% dibandingkan negara-negara lain seperti Afrika, Amerika,
Asia Tenggara, Eropa, Timur Mediteranian, dan Pasific barat. Sedangkan
untuk kelompok usia 5-15 tahun, angka kejadian anemia lebih banyak pada
daerah Pasifik barat dengan persentase 83,10%.
 Distribusi anemia pada berbagai wilayah di India menunjukkan wilayah
Gujarat (Ahmedabad) memiliki tingkat kejadian anemia tertinggi dengan
persentase 81,20%, dan yang kedua adalah wilayah tempat penelitian ini yaitu
Rajkot-Gujarat dengan persentase 67,8%.

VIA

A. Validitas
Apakah hasil sistemik ini valid ?
Ya, data hasil penelitian ini disetujui dan diperoleh dari sampel darah pasien
anak yang dirawat, lalu diterima dan dianalisis di laboratorium klinik pusat,
departemen patologi, PDU Medical College & Hospital, Rajkot.

B. Important
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian anemia di
Rajkot,India berdasarkan usia, jenis kelamin dan jenis morfologi anemia. Dari
penelitian ini bisa disimpulkan usia 1-2 tahun merupakan usia tertinggi pada
anak yang mengalami anemia, lebih banyak terjadi pada perempuan dengan
jenis morfologi anemia mikrositik hipokrom, dan alasan paling umum di balik
jenis morfologi ini adalah kekurangan nutrisi seperti zat besi, vitamin B12 dan
asam folat. Sehingga dengan mengetahui penyebabnya, bisa memberikan
terapi yang tepat dan cepat pada pasien anak yang dirawat di Rumah Sakit
Perawatan Tersier di Rajkot (Gujarat)India.

C. Applicable
Dari penelitian ini dapat diidentifikasi usia, jenis kelamin, dan jenis morfologi
yang sering terjadi pada anemia khususnya anemia pada anak, serta anemia
defisiensi besi merupakan penyebab paling umum untuk anemia mikrositik
hipokromik.