Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pneumonia merupakan infeksi saluran nafas bawah yang masih menjadi


masalah kesehatan di Negara berkembang maupun Negara maju. Penyakit saluran
nafas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan yang tinggi di seluruh dunia.
Pneumonia dikelompokkan berdasarkan agen penyebabnya. Penyebab tersering
pneumonia adalah bakteri positif-gram.
Pneumonia semakin sering dijumpai pada masa anak-anak dan sering terjadi
pada masa bayi. Dari data mortalitas tahun 1990, pneumonia merupakan seperempat
penyebab kematian pada anak dibawah 5 tahun dan 80% terjadi di Negara
berkembang seperti Indonesia. Di RSU Dr Soetomo Surabaya, jumlah kasus
pneumonia meningkat dari tahun-ke tahun. Pada tahun 2003 dirawat sebanyak 190
pasien. Tahun 2004 dirawat sebanyak 231 pasien, dengan jumlah terbanyak pada
anak usia kurang dari 1 tahun (69%). Pada tahun 2005, anak berumur kurang dari 5
tahun yang dirawat sebanyak 547 kasus dengan jumlah terbanyak pada umur 1-12
bulan sebanyak 337 orang. (Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak (2006).
Kuliah Pneumonia. FK unair RSU Dr. Soetomo Surabaya).
Penyakit ini timbul sebagai penyakit primer dan juga akibat penyakit
komplikasi. Pneumonia lebih sering timbul akibat flora normal pada klien yang daya
tahan tubuhnya telah terganggu atau terjadi sebagai akibat aspirasi flora normal yang
ada dalam mulut. Meskipun sebagian besar pneumonia terjadi pada individu yang
sehat, tapi biasanya pernah terdapat riwayat penyakit sebelumnya.
Gejala dari infeksi pneumonia yang ditimbulkan sangat beragam. Gejala
tersebut disebabkan invasi pada paru-paru oleh mikroorganisme dan respon sistem
imun terhadap infeksi. Gejala-gejala tersebut mencakup demam dan menggigil akibat
proses peradangan hingga keluarnya secret yang kental.
Jika tidak teratasi, pneumonia dapat menjadi komplikasi. Komplikasi yang
paling sering terjadi disebabkan oleh pneumonia mulai dari gagal napas hingga efusi

1
pleura. Maka dari itu diperlukan proses keperawatan pada pasien pneumonia dengan
tepat agar tidak terjadi komplikasi, mendukung proses penyembuhan,
menjaga/mengembalikan fungsi respirasi, dan memberikan insformasi tentang proses
penyakit/prognosis dan treatment.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari pneumonia?
2. Bagaimanakah etiologi dari pneumonia?
3. Bagaimanakah patofisiologi dari pneumonia?
4. Apa sajakah manifestasi klinik dari pneumonia?
5. Apa sajakah pemeriksaan diagnostik pada pneumonia?
6. Bagaimanakah penatalaksanaan dari pneumonia?
7. Apa sajakah komplikasi yang terjadi pada pneumonia?
8. Bagaimanakah prognosis pada pneumonia?
9. Bagaimanakah proses keperawatan pada pasien pneumonia?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Dapat menjelaskan konsep teori asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan pneumonia.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan konsep dasar Pneumonia.
a) Definisi pneumonia
b) Etiologi pneumonia
c) Patofisiologi pneumonia
d) Manifestasi klinik pneumonia
e) Pemeriksaan diagnostic pneumonia
f) Penatalaksanaan pneumonia
g) Kompilkasi pneumonia
h) Prognosis pneumonia
2. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan gangguan pneumonia,
meliputi :

2
a) Pengkajian pada klien dengan pneumonia.
b) Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan pneumonia.
c) Merencanakan implementasi dan evaluasi keperawatan pada klien
dengan pneumonia.

3
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah, penyakit ini adalah
infeksi akut jaringan paru oleh mikroorganisme. Sebagian besar pneumonia
disebabkan oleh bakteri yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus
(Corwin, 2001).
Pneumonia merupakan inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan
dengan pengisian alveoli dengan cairan. Penyebabnya karena agen infeksi, iritan
kimia dan terapi radiasi. Bakterinya bernama Pneumococcal pneumonia (Doenges,
Marilyn E, 1999).
Menurut Hudak (1998) dalam Asih dan Effendy (2004), Pneumonia adalah
suatu proses inflamasi dimana kompartemen alveolar terisi oleh eksudat. Pneumonia
merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi pada klien lanjut usia.
Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi
dan terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur, dan benda-benda asing. Pertukaran gas tidak dapat berlangsung pada
daerah yang mengalami konsolidasi dan darah dialirkan ke sekitar alveoli yang tidak
berfungsi (Arif Muttaqin, 2009, hal. 98).
Pneumonia adalah infeksi pada parenkim paru, biasanya berhubungan dengan
pengisian cairan didalam alveoli hal ini terjadi akibat adanya infeksi agen/ infeksius
atau adanya kondisi yang mengganggu tekanan saluran trakheabronkialis (Ngastiyah,
1997).
Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada
masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul sebagai
penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit komplikasi. (A. Aziz Alimul, 2006).

4
2.2 Etiologi
Menurut Corwin (2001), Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah
bakteri positif-gram, Streptococcus pneumonia yang menyebabkan pneumonia
steptrokokus. Bakteri Staphylococcus aureus adalah streptokokus beta-hemolitikus
grup A yang juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga Pseudomonas
aeroginosa. Pneumonia lain disebabkan oleh virus, sebagai penyebab tersering adalah
respiratory syncytial virus (RSV), parainflenza virus, influenxa virus dan adenovirus.
Sedangkan pneumonia mikoplasma, suatu pneumonia yang relative sering dijumpai
pada anak diatas 5 tahun yang disebabkan oleh suatu organisme yang berdasarkan
beberapa aspeknya berada diantara bakteri dan virus yaitu Mycoplasma pneumoniae.

Tabel 1. Mikroorganisme penyebab pneumonia menurut umur


Umur Penyebab yang sering Penyebab yang jarang
Lahir-20 hari Bakteria Bakteria
 Escherichia colli  An aerobic organism
 Group B streptococci  Group D streptococci
 Listeria monocytogenes  Haemophillus influenxae
 Ureaplasma urealyticum
Virus
 Cytomegalovirus
 Herpes simplex virus
3 minggu - 3 Bakteria Bakteria
bulan  Clamydia trachomatis  Bordetella pertusis
 Streptococcus pneumoniae  Haemophillus influenza
Virus type B and non typeable
 Respiratory syncytial virus  Moxarella catarrhalis
 Influenza virus  Staphylococcus aureus
 Para influenza virus 1,2 and  Ureaplasma urealyticum
3 Virus

5
 Adenovirus  Cytomegalovirus
4 bulan-5 tahun Bakteria Bakteria
 Streptococcus pneumoniae  Haemophillus influenza
 Clamydia pneumonia type B
 Mycoplasma pneumonia  Moxarella catarrhalis
Virus  Neisseria meningitis
 Respiratory syncytial virus  Staphylococcus aureus
 Influenza virus Virus
 Parainfluenza virus  Varicella zoster virus
 Rhinovirus
 Adenovirus
 Measles virus
5 tahun- remaja Bakteria Bakteria
 Clamydia pneumonia  Haemophillus influenza
 Mycoplasma pneumonia type B
 Streptococcus pneumoniae  Staphylococcus aureus
 Legionella species
Virus
 Adenovirus
 Apstein barr virus
 Influenza virus
 Parainfluenza virus
 Rhinovirus
 Respiratory stnctial virus
 Varicella zoster virus
(Sumber : Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak (2006). Kuliah
Pneumonia. FK unair RSU Dr. Soetomo Surabaya)

6
2. 3 Patofisiologi
Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru oleh
mikroorganisme dan respon sistem imun terhadap infeksi. Meskipun lebih dari
seratus jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan pneumonia, hanya sedikit
dari mereka yang bertanggung jawab pada sebagian besar kasus. Penyebab paling
sering pneumonia adalah virus dan bakteri. Penyebab yang jarang menyebabkan
infeksi pneumonia ialah fungi dan parasit.
Pneumonia bakteri terjadi akibat inhalasi mikroba yang ada di udara. Aspirasi
organism dari nasofaring (penyebab pneumonia bakterialis yang paling sering) atau
penyebaran hematogen dari fokus infeksi yang jauh. Bakteri yang masuk ke paru
melalui saluran pernapasan, masuk ke bronkhiolus dan alveoli lalu menimbulkan
reaksi peradangan hebat dan menghasilkan cairan edema yang kaya protein dalam
alveoli dan jaringan interstitial.
Bakteri pneumokokus dapat meluas melalui porus Kohn dari alveoli ke alveoli
di seluruh segmen/lobus. Timbulnya hepatisasi merah adalah akibat perembesan
eritrosit dan beberapa leukosit dari kapiler paru. Alveoli dan septa menjadi penuh
dengan cairan edema yang berisi eritrosit dan fibrin serta relatif sedikit leukosit
sehingga kapiler alveoli menjadi melebar. Paru menjadi tidak berisi udara lagi,
kenyal, dan berwarna merah. Pada tingkat lanjut, aliran darah menurun, alveoli penuh
dengan leukosit, dan relative sedikit eritrosit. Bakteri pneumokokus difagositosis oleh
leukosit dan sewaktu resolusi berlangsung, makrofag masuk ke dalam alveoli dan
menelan leukosit bersama bakteri pneumokokus di dalamnya. Paru masuk dalam
tahap hepatisasi abu-abu dan tampak berwarna abu-abu kekuningan. Secara perlahan-
lahan sel darah merah yang mati dan eksudat fibrin dibuang dari alveoli. Sehingga
terjadi pemulihan sempurna, paru menjadi normal kembali tanpa kehilangan
kemampuannya dalam melakukan pertukaran gas.
Tidak terjadinya pneumonia pada orang normal yang sehat adalah akibat
adanya mekanisme pertahanan yang terdiri atas reflex glottis dan batuk, lapisan
mucus dan gerakan silia yang mengeluarkan organism yang melekat pada lapisan
mucus tersebut, dan sekresi humoral setempat. Sel-sel yang melapisi saluran

7
trakeobronkhial menghasilkan zat kimia yang mempunyai sifat antimikroba yang
tidak spesifik meliputi :
1. Lisozim, suatu enzim yang menghancurkan bakteri terutama jika ada
komplemen.
2. Laktoferin, suatu ikatan besi dengan glikoproein yang mempunyai sifat
bakterostatik.
3. Interferon, suatu protein dengan berat molekul rendah dengan aktivitas
antivirus.
Beberapa keadaan mengganggu mekanisme pertahanan tersebut sehingga
timbul infeksi paru misalnya kesadaran menurun, usia tuam trakeostomi, pipa
endotrakeal, nyeri akibat operasi pada dada atau abdomen, penyakit neuromuscular,
deformitas pada dada seperti kifoskoliosis yang berat dan PPOM sehingga
mengurangi kemampuan batuk efektif. Infeksi virus pada saluran pernapasan
menyebabkan nekrosis, deskuamasi, meningkatkan secret dan jumlah bakteri
pathogen dalam secret, serta menyebabkan gangguan pada gerakan silia dan mucus.
Secara umum, klien dengan pneumonia bakterialis biasanya mempunyai
penyakit dasar akut atau kronis yang mengganggu daya tahan inang. Pneumonia lebih
sering timbul akibat flora normal pada klien yang daya tahan tubuhnya telah
terganggu atau terjadi sebagai akibat aspirasi flora normal yang ada dalam mulut.
Meskipun sebagian besar pneumonia tidak tipikal (disebabkan oleh virus) terjadi pada
individu yang sehat, tapi biasanya pernah terdapat riwayat penyakit virus
sebelumnya.

8
WOC Pneumonia

Ada sumber infeksi (bakteri,virus,jamur) di


saluran pernapasan

Obstruksi mekanik saluran Daya tahan saluran


pernapasan karena aspirasi pernapasan yang
bekuan darah, makanan, dan terganggu
tumor bronkus Aspirasi bakteri berulang

Peradangan pada bronkus menyebar ke parenkim paru

Mk :
Terjadi konsolidasi
Nyeri akut pada
pleuritis

pengisian rongga
alveoli oleh eksudat Reaksi sistemis:
- Edema trakeal/ bakterimia/viremia
faringeal
Penurunan jaringan
efektif paru dan Peningkatan Peningkatan
- Peningkatan
laju penggunaan
produksi sekret kerusakan membran
metabolisme energi
alveolar-kapiler
Mual dan Respon
muntah -Batuk Produktif Sesak napas,
menggigil Keletihan
penggunaan otot bantu
-Sesak napas napas, pola napas tidak
Penurunan efektif Reaksi Mk :
-Penurunan
BB peningkatan Intoleransi
Kemampuan
Mk : suhu tubuh aktifvitas
Batuk Efektif
Gangguan pertukaran
Mk: gas Mk :
Nutrisi
Hipertermia
kurang dari Mk:
kebutuhan Ketidakefektifan
bersihan jalan
napas

9
2. 4 Manifestasi Klinik
Menurut Corwin (2001), gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis
pneumonia, tetapi terutama mencolok pada pneumonia yang disebabakan oleh
bakteri. Gejala-gejala tersebut mencakup:
1. Demam dan menggigil akibat proses peradangan
2. Batuk yang sering produktif dan purulen
3. Sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae), merah muda
(untuk staphylococcus aureus), atau kehijauan dengan bau khas (untuk
pseudomonas aeruginosa)
4. Krekel (bunyi paru tambahan).
5. Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan edema.
6. Biasanya sering terjadi respons subyektif dispnea. Dispnea adalah peasaan sesak
atau kesulitan bernafas yang dapat disebabkan oleh penurunan pertukaran gas-gas.
7. Mungkin timbul tanda-tanda sianosis
8. Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mucus, yang dapat menyebabkan
atelektasis absorpsi.
9. Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat cedera toksin langsung pada kapiler
atau akibat reaksi peradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.
Berikut merupakan tabel etiologi dan manifestasi klinik dari pneumonia
Jenis Etiologi Faktor Resiko Tanda dan Gejala
Pneumonia
Sindroma  Streptococcus Penyakit Sickle-Cell,  Onset mendadak
tipikal pneumonia jenis hipogammaglobulinemia, dingin, menggigil,
pneumonia tanpa dan Multiple myeloma dan demam (39-40
o
C)
penyulit
 Nyeri dada
 Streptococcus pleuritis
pneumonia  Batuk produktif,
dengan penyulit sputum hijau,
(empiema purulen, dan
penyebab infeksi) mungking
mengandung
bercak darah, serta
hidung kemerahan.
 Retraksi

10
interkostal,
penggunaan otot
aksesorius, dan
bias timbul
sianosis.
Sindrom  Haemophilus  Usia tua  Onset bertahap
Atipikal influenza  COPD dalam 3-5 hari
 Staphylococcus  Flu  Malaise, nyeri
aureus kepala, nyeri
 Mycoplasma  Anak-anak tenggorokan, dan
pneumonia  Dewasa muda batuk kering
 Virus Patogen  Nyeri dada
karena batuk
Aspirasi  Aspirasi basil  Kondisi lemah karena  Anaerobik
gram negatif: konsumsi alcohol campuran:
Klebsiela,  Perawatan (misalnya muanya onset
Pseudomonas, infeksi nosokomial) perlahan
Enterobacter,  Gangguan kesadaran  Demam rendah,
Escherichia dan batuk
proteus, dan basil  Produksi
gram positif: sputum/bau
Staphylococcus busuk
 Aspirasi asam  Foto dada:
lambung jaringan
interstitial yang
terkena
tergantung bagian
yang terkena di
paru-parunya
 Infeksi gram
negatif atau
positif
 Distress respirasi
mendadak,
dispnea berat,
sianosis, batuk,
hipoksemia, dan
diikuti tanda
infeksi sekunder
Hematogen Terjadi bila kuman  Kateter IV yang  Gejala pulmonal
pathogen menyebar terinfeksi timbul minimal
ke paru-parumelalui  Endokarditis dibanding gejala
aliran darah:  Drug abuse septikemia
Staphylococcus, E.  Iabses intra abdomen  Batuk

11
coli, dan anaerob  Pyelonefritis nonproduktif dan
enterik  Empiema kandung nyeri pleuritik
kemih sama dengan
yang terjadi pada
emboli paru-paru

2. 5 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik pada pneumonia terdiri dari berbagai macam, yaitu :
A. Pemeriksaan Laboratorium
Biasanya didapatkan jumlah leukosit 15.000-40.000/mm3. Dalam
keadaan leucopenia, laju endap darah biasanya meningkat hingga 100
mm/jam. Saat dilakukan biakan sputum, darah, atau jika dimungkinkan cairan
efusi pleura, untuk biakan aerobic dan anaerobic, untuk selanjutnya dibuat
perwarnaan gram sebagai pegangan dalam pemberian antibiotic. Sebaiknya
diusahakan agar biakan dibuat dari sputum saluran pernapasan bagian bawah.
Selain contoh sputum yang diperoleh dari batuk, bahan dapat diperoleh dari
swap tenggorok atau laring, pengisapan lewat trachea, bronkhoskopi, atau
pengisapan lewat dada bergantung pada indikasinya. Lebih dari satu tipe
organisme yang dapat ditemukan, seperti Diplococcus pneumonia,
Staphylococcus aureus, A, hemolytic streptococcus, dan Hemophilus
influenza. Pemeriksaan analisa darah menunjukkan hipoksemia sebab terjadi
ketidak seimbangan ventilasi-perfusi di daerah pneumonia. Pada pemeriksaan
fungsi paru-paru terdapat volume paru-paru menurun (kongesti dan kolpas
alveolar) seperti tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas pemenuhan
udara menurun.
B. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis dapat dilakukan dengan foto thorax. Pada foto
thorax terlihat infiltrat yang dapat ditemukan di seluruh lapangan paru.
Luasnya kelainan pada gambaran radiologis biasanya sebanding dengan
derajat klinis penyakitnya, kecuali pada infeksi mikoplasma yang gambaran
radiologisnya lebih berat daripada keadaan klinisnya. Gambaran lain yang
dapat dijumpai :

12
a. Konsolidasi pada satu lobus atau lebih pada pneumonia lobari
b. Penebalan pleura pada pleuritis
c. Komplikasi pneumonia seperti atelektasis, efusi pleura,
pneumomediastinum, pneumotoraks, abses, pneumatocele.

Gambar 1. Foto
thorax pada
pneumonia.

2. 6 Penatalaksanaan
1) Pencegahan
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap
kejadian pneumonia. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
a) Memberikan imunisasi campak pada usia 9 bulan dan imunisasi DPT
(Diphteri, Pertusis, Tetanus) sebanyak 3 kali karena pneumonia diketahui
dapat sebagai komplikasi dari campak, pertusis, dan varisela sehingga
imunisasi dengan vaksin yang berhubungan dengan penyakit tersebut
akan membantu menurunkan insiden pneumonia.
b) Memberikan vaksin Pneumococcus, Pneumokokus merupakan bakteri
penyebab utama pneumonia pada anak di negara berkembang. Vaksin
pneumokokus sudah lama tersedia untuk anak usia diatas 2 tahun dan
dewasa. Saat ini vaksin pneumokokus untuk bayi dan anak dibawah 3
tahun sudah tersedia, yang dikenal sebagai Pneumococcal Conjugate
Vaccine (PCV). vaksin tersebut sangat efektif untuk menurunkan
kematian pada anak karena pneumonia.

13
c) Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara memberikan ASI pada bayi
neonatal sampai berumur 2 tahun dan makanan yang bergizi pada balita.
Di samping itu, zat-zat gizi yang dikonsumsi bayi dan anak-anak juga
perlu mendapat perhatian.
d) Mengurangi polusi lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan dan
polusi di luar ruangan, membatasi penularan tertama dirumah sakit
misalnya dengan membiasakan cuci tangan dan penggunaan sarung
tangan dan masker, isolasi penderita, menghindarkan bayi/anak kecil dari
tempat keramaian umum, dan menghindarkan bayi/anak kecil dari kontak
dengan penderita ISPA
b. Pencegahan Sekunder

Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah


orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit,
menghindari komplikasi, dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan
sekunder meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat sehingga dapat
mencegah meluasnya penyakit dan terjadinya komplikasi. Upaya yang dapat
dilakukan antara lain:

- Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral dan


penambahan oksigen.

- Pneumonia : diberikan antibiotik kotrimoksasol oral, ampisilin atau


amoksilin.

- Bukan Pneumonia : perawatan di rumah saja. Tidak diberikan terapi


antibiotik. Bila demam tinggi diberikan parasetamol. Bersihkan hidung pada
anak yang mengalami pilek dengan menggunakan lintingan kapas yang
diolesi air garam. Jika anak mengalami nyeri tenggorokan, beri penisilin dan
dipantau selama 10 hari ke depan.

14
2) Pengobatan dan Perawatan
Pada anak dengan pneumonia, penentuan rawat inap diputuskan apabila terdapat:
 Penderita tampak toksik
 Umur kurang dari 6 bulan
 Distress pernafasan berat
 Hipoksemia (saturasi oksigen kurang dari 93-94/5 pada kondisi ruangan)
 Dehidrasi atau muntah
 Terdapat efusi pleura atau abses paru
 Kondisi imunokompromais
 Ketidakmampuan orangtua untuk merawat
 Didapatkan penyakit penyertalain, misalnya penyakit jantung bawaan
 Pasien membutuhkan pemberian antibiotika secara parenteral.

Dalam proses perawatan dan pengobatan, klien diposisikan dalam keadaan


fowler dengan sudut 45o. kematian sering kali berhubungan dengan hipotensi,
hipoksia, aritmia kordis, dan penekanan susunan saraf pusat, maka penting untuk
dilakukan pengaturan kesimbangan cairan elektrolit dan asam-basa dengan baik,
pemberian O2 yang adekuat untuk menurunkan perbedaan O2 di alveoli-arteri, dan
mencegah hipoksia seluler. Pemberian O2 sebaiknya dalam konsentrasi yang tidak
beracun (PO2 40) untuk mempertahankan PO2 arteri sekitar 60-70 mmHg dan juga
penting mengawasi pemeriksaan analisa gas darah.
Pemberian cairan intravena untuk IVline dan pemenuhan hidrasi tubuh untuk
mencegah penurunan dan volume cairan tubuh secara umum. Bronkodilator seperti
Aminofilin dapat diberikan untuk memperbaiki drainase sjret dan distribusi ventilasi.
Terkadang timbul dilatasi lambung mendadak, terutama jika pneumonia mengenai
lobus bawah yang dapat menyebabkan hipotensi. Jika hipotensi terjadi, segera atasi
hipoksemia arteri dengan cara memperbaiki volume intravascular dan melakukan
dekompresi lambung. Kalau hipotensi tidak dapat diatasi, dapat dipasang kateter

15
Swan-Ganz dan infus Dopamin (2-5µg/kg/menit). Bila perlu dapat diberikan
analgesic untuk mengatasi nyeri pleura.
Pemberian antibiotic terpilih seperti Penisilin diberikan secara intramuscular
2x600.000 unit sehari. Penisilin diberikan selama sekurang-kurangnya seminggu
sampai klien tidak mengalami sesak napas lagi selama tiga hari dan tidak ada
komplikasi lain. Klien dengan abses paru dan empiema memerlukan antibiotic lebih
lama. Untuk klien yang alergi terhadap Penisilin dapat diberikan Eritromisin.
Tetrasiklin jarang digunakan untuk pneumonia karena banyak yang resisten.
Pemberian Sefalosporin harus hati-hati untuk klien yang alergi terhadap
Penisilin karena dapat menyebabkan reaksi hipersensitif silang terutama dari tipe
anafilaksis. Dalam 12-36 jam, setelah pemberian Penisilin, suhu, denyut nadi,
frekuensi pernapasan menurun serta nyeri pleura menghilang. Pada 20% klien,
demam berlanjut sampai lebih dari 48 jam setelah obat dikonsumsi.

2.7 Komplikasi
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pneumonia
Komuniti,Pedoman Praktis Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia; 2003,
Klompikasi pneumonia lebih terjadi pada pasien yang berusia lanjut, perokok, dan
penderita penyakit jantung atau paru-paru.
Komplikasi yang paling sering terjadi disebabkan oleh pneumonia karena bakteri
daripada pneumonia karena virus. Komplikasi yang penting meliputi :
 Gagal nafas dan sirkulasi
Efek pneumonia terhadap paru-paru pada orang yang menderita pneumonia
sering kesulitan bernafas,dan itu tidak mungkin bagi mereka untuk tetap cukup
bernafas tanpa bantuan agar tetap hidup. Bantuan pernapasan non-invasiv yang
dapat membantu seperti mesin untuk jalan nafas dengan bilevel tekanan
positif,dalam kasus lain pemasangan endotracheal tube kalau perlu dan ventilator
dapat digunakan untuk membantu pernafasan. Pneumonia dapat menyebabkan
gagal nafas oleh pencetus akut respiratory distress

16
 syndrome(ARDS)
Hasil dari gabungan infeksi dan respon inflamasi dalam paru-paru yang terisi
cairan dan menjadi sangat kental, kekentalan ini menyatu dengan keras
menyebabkan kesulitan penyaringan udara untuk cairan alveoli,harus membuat
ventilasi mekanik yang dibutuhkan.
 Syok sepsis dan septik
Merupakan komplikasi potensial dari pneumonia.Sepsis terjadi karena
mikroorganisme masuk ke aliran darah dan respon sistem imun melalui sekresi
sitokin. Sepsis seringkali terjadi pada pneumonia karena bakteri; streptoccocus
pneumonia merupakan salah satu penyebabnya.Individu dengan sepsis atau
septik membutuhkan unit perawatan intensif di rumah sakit.Mereka
membutuhkan cairan infus dan obat-obatan untuk membantu mempertahankan
tekanan darah agar tidak turun sampai rendah. Sepsis dapat menyebabkan
kerusakan hati,ginjal,dan jantung diantara masalah lain dan sering menyebabkan
kematian.
 Effusi pleura,empyema dan abces Ada kalanya,infeksi mikroorganisme pada
paru-paru akan menyebabkan bertambahnya(effusi pleura) cairan dalam ruang
yang mengelilingi paru(rongga pleura).Jika mikroorganisme itu sendiri ada di
rongga pleura,kumpulan cairan ini disebut empyema. Pada kasus empyema berat
perlu tindakan pembedahan.Jika cairan tidak dapat dikeluarkan,mungkin infeksi
berlangsung lama,karena antibiotik tidak menembus dengan baik ke dalam
rongga pleura. Jarang,bakteri akan menginfeksi bentuk kantong yang berisi
cairan yang disebut abses. Abses pada paru biasanya dapat dilihat dengan foto
thorax dengan sinar x atau CT scan.Abses-abses khas terjadi pada pneumonia
aspirasi dan sering mengandung beberapa tipe bakteri.Biasanya antibiotik cukup
untuk pengobatan abses pada paru,tetapi kadang abses harus dikeluarkan oleh
ahli bedah atau ahli radiologi.
2.8 Prognosis
Dengan pengobatan,sebagian tipe dari pneumonia karena bakteri dapat diobati
dalam satu sampai dua minggu. Pneumonia karena virus mungkin berakhir

17
lama,pneumonia karena mycoplasma memerlukan empat sampai lima minggu untuk
memutuskan sama sekali.
Pada umumnya prognosis, tergantung dari faktor penderita, bakteri penyebab
dan penggunaan antibiotik yang tepat serta adekuat. Perawatan yang baik dan intensif
sangat mempengaruhi prognosis penyakit pada penderita yang dirawat. Dengan
pengobatan, kebanyakan jenis pneumonia bakteri akan stabil dalam waktu 3–6 hari.
Kadang-kadang memakan waktu beberapa minggu sebelum kebanyakan gejala
diatasi. Hasil rontgen biasanya bersih dalam waktu empat minggu dan mortalitas
rendah (kurang dari 1%). Di kalangan lansia atau orang yang memiliki masalah paru-
paru lain penyembuhan mungkin memakan waktu lebih dari 12 minggu. Di kalangan
orang yang memerlukan perawatan di rumah sakit, mortalitas mungkin hingga 10%
dan di kalangan mereka yang memerlukan perawatan intensif (ICU) mortalitas bisa
mencapai 30–50%.
Pneumonia adalah infeksi yang diperoleh di rumah sakit paling umum yang
menyebabkan kematian. Sebelum adanya antibiotik, mortalitas biasanya 30% di
kalangan mereka yang dirawat di rumah sakit. Komplikasi bisa muncul terutama di
kalangan lansia dan mereka yang memiliki masalah kesehatan dasar. Ini bisa
termasuk, antara lain: empiema, abses paru-paru, bronkiolitis obliteran, sindrom
kesulitan pernafasan akut, sepsis, dan memburuknya masalah kesehatan dasar.

18
BAB III
PROSES KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Identitas klien ;
(nama, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan, alamat).
2. Keluhan utama;
(sesak napas, lemas, nyeri kepala, batuk disertai mual dan muntah, nyeri dada
pleuritis, menggigil dan peningkatan suhu tubuh atau demam)
3. Riwayat penyakit sekarang
(batuk produktif dengan mukus purulen kekuningan sampai kemerahan serta
sering kali berbau busuk).
4. Riwayat penyakit dahulu
(pernah mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala
seperti luka tenggorok, kongesti nasal, bersin, dan demam ringan).
5. Riwayat penyakit keluarga
(salah satu anggota keluarga pernah memiliki riwayat penyakit yang sama dan
kemungkinan bisa saja tertular).
6. Pemeriksaan fisik
a) B1 (breathing) :
- inspeksi : takipnea, reaksi sternum dan intercostal space (ICS),
napas cuping hidung, dan dispnea
- Palpasi : gerakan dada saat bernapas normal, taktil fremitus
normal
- Perkusi : terdapat bunyi resonan atau sonor (normal)
- Auskultasi : bunyi napas melemah, bunyi napas tambahan ronkhi
basah pada sisi yang sakit.
b) B2 (blood) :
- inspeksi : Adanya kelemahan fisik secara umum
- Palpasi : Denyut nadi perifer melemah

19
- Perkusi : Batas jantung normal, tidak mengalami pergeseran
- Auskultasi : Tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung
tambahan tidak didapatkan
c) B3 (brain) : Pada pneumonia berat sering terjadi penurunan
kesadaran
d) B4 (bladder) : Normal
e) B5 (bowel) : Mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan
penurunan berat badan.
f) B6 (bone) : Letargi dan penurunan toleransi terhadap aktivitas.
7. Pemeriksaam penunjang
1. Jumlah leukosit 15.000-40.000/mm3
2. Laju endap darah meningkat hingga 100 mm/jam
3. Hasil Analysis Blood Gases (ABG) menunjukkan hipoksemia
4. Adanya penyebaran multiple abses/infiltrat, dan empiema pada
hasil foto thorax
5. Prosedur khusus : Pewarnaan gram/culture sputum dan darah

3.2 Analisa Data


No Data Etiologi Masalah
1. Data subyektif : Aspirasi virus/bakteri/jamur Gangguan
- Klien mengeluh sesak berulang pertukaran gas
napas
Data Obyektif : Reaksi radang pada bronchus
- Klien mengalami dan alveoulus menyebar ke
dipsnea parenkim paru
- TTV (TD:
100/60mmHg, N : 98 X/ penurunan jaringan efektif paru
menit, S : 39 C, RR : dan kerusakan membrane
>40x/menit) alveolar-kapiler
- Terdapat tanda-tanda

20
sianosis
- Adanya reaksi sternum sesak napas, pola napas tidak
dan intercostal space efektif
(ICS), napas cuping
hidung gangguan pertukaran gas
- Hasil Analysis Blood
Gases (ABG)
menunjukkan
hipoksemia
- bunyi napas melemah

2. Data subyektif : Aspirasi virus/bakteri/jamur Gangguan bersihan


- Klien mengeluh batuk berulang jalan nafas tidak
Data obyektif : efektif
- Adanya penyebaran Peradangan pada bronkus
multiple abses/infiltrat, menyebar ke parenkim paru
dan empiema pada hasil
foto thorax
- Klien mengalami Peningkatan produksi sekret
dipsnea
- TTV (TD: batuk produktif, sesak
100/60mmHg, N : 98 X/ napas,dan penurunan
menit, S : 39 C, RR : kemampuan batuk efektif
>40x/menit)
- Jumlah leukosit 15.000-
40.000/mm3 ketidakefektifan bersihan jalan
- bunyi napas tambahan napas
ronkhi basah pada sisi
yang sakit.
- Produksi mukus yang

21
mengental

3. Data Subyektif : aspirasi bakteri/virus/jamur Gangguan


- Klien mengeluh berulang hipertemia
menggigil dan
peningkatan suhu tubuh peradangan pada bronkus
atau demam menyebar ke parenkim paru

Data Obyektif : terjadi konsolidasi dan


- Onset mendadak dingin, pengisian rongga alveoli oleh
menggigil. eksudat
- Akral hangat
- TTV (TD: reaksi sistemis
100/60mmHg, N : 98 X/ bakteremia/viremia, dan
menit, S : 39 C, RR : peningkatan laju metabolisme
>40x/menit)
respon menggigil

reaksi peningkatan panas tubuh

hipertemia

4. Data subyektif : aspirasi bakteri/virus/jamur Gangguan


- Klien mengeluh lemas, berulang perubahan nutrisi
mual, dan muntah kurang dari
Data obyektif : peradangan pada bronkus kebutuhan
- Adanya kelemahan fisik menyebar ke parenkim paru
secara umum

22
- Denyut nadi perifer terjadi konsolidasi dan
melemah pengisian rongga alveoli oleh
- BB klien mengalami eksudat
penurunan
- Penurunan nafsu makan peningkatan produksi sekret

BB menurun

perubahan pemenuhan nutrisi


berkurang

5. Data subyektif : aspirasi bakteri/virus/jamur Intoleransi aktivitas


- Klien mengeluh sesak berulang
napas, lemas dan lemah
Data obyektif : peradangan pada bronkus
- Adanya kelemahan fisik menyebar ke parenkim paru
secara umum
- Adanya letargi dan terjadi konsolidasi dan
penurunan toleransi pengisian rongga alveoli oleh
terhadap aktivitas eksudat
- Denyut nadi perifer
melemah reaksi sistemis
- TTV (TD: bakteremia/viremia, dan
100/60mmHg, N : 98 X/ peningkatan laju metabolisme
menit, S : 39 C, RR :
>40x/menit) Peningkatan penggunaan
energi

Keletihan

23
Intoleransi aktivitas

6. Data subyektif : aspirasi bakteri/virus/jamur Gangguan nyeri


- Klien mengeluh nyeri berulang akut
kepala dan nyeri dada
pleuritis serta menjadi peradangan pada bronkus
tambah rewel. menyebar ke parenkim paru
- Data obyektif :
- Adanya kelemahan fisik nyeri akut pada pleuritis
secara umum
- 4. Ekspresi wajah meringis
- adanya reaksi sternum
dan intercostal space
(ICS)
- TTV (TD:
100/60mmHg, N : 98 X/
menit, S : 39 C, RR :
>40x/menit)

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. sekresi mucus yang kental dan
kelemahan fisik umum.
2. Kerusakan pertukaran gas b.d. penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan
membran alveolar-kapiler.
3. Hipertermi b.d. peningkatan laju metabolisme umum dari reaksi sistemis
bakteremia/viremia.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. penurunan nafsu makan
terhadap demam.
5. Intoleransi aktivitas b.d. tidak seimbangnya persedian dan kebutuhan oksigen.

24
6. Nyeri akut b.d inflamasi pada parenkim paru-paru.

3.4 Interverensi dan Rasional


No Diagnosa Tujuan Interverensi Rasional
1. Ketidakefektifan Dalam waktu…hari Mandiri :
bersihan jalan setelah diberikan Kaji fungsi pernapasan Penurunan bunyi napas
napas b.d. intervensi kebersihan (bunyi napas, kecepatan menunjukkan atelektasis,
sekresi mucus jalan napas kembali irama, kedalaman, dan ronkhi menunjukkan
yang kental dan efektif. penggunaan otot bantu akumulasi secret dan
kelemahan fisik Dengan kriteria : napas) ketidakefektifan
umum -klien mampu pengeluaran sekresi yang
melakukan batuk selanjutnya dapat
efektif menimbulkan
-pernapasan klien penggunaan otot bantu
normal tanpa ada napas dan peningkatan
penggunaan otot kerja pernapasan.
bantu napas. Bunyi Kaji kemampuan klien Pengeluaran sulit bila
napas normal, Rh -/- mengeluarkan sekresi. secret sangat kental (efek
dan pergerakan Lalu catat karakter dan infeksi dan hidrasi yang
pernapasan normal volume sputum. tidak adekuat).

Berikan posisi Posisi fowler


semi/fowler tinggi dan memaksimalkan ekspansi
bantu klien latihan paru dan menurunkan
napas dalam dan batuk upaya bernapas. Ventilasi
yang efektif membuka area atelektasis
dan meningkatkan
gerakan secret ke jalan
napas besar untuk
dikeluarkan.

25
Perhatikan intake cairan Hidrasi yang adekuat
sedikitnya 2500ml/hari membantu mengencerkan
kecuali tidak secret dan
diindikasikan mengefektifkan
pembersihan jalan napas.
Bersihkan secret dari Mencegah obstruksi dan
mulut dan trachea, bila aspirasi. Suction
perlu lakukan suction. diperlukan bila klien
tidak mampu
mengeluarkan secret.
Kolaborasi : Pengobatan antibiotik
Pemberian obat sesuai yang ideal berdasarkan
indikasi obat antibiotik pada tes uji resistensi
bakteri terhadap jenis
antibiotic sehingga lebih
mudah mengobati
pneumonia
2. Kerusakan Pertukaran gas dapat Mengkaji dispnea, Pneumonia
pertukaran gas teratasi setelah …hari takipnea, bunyi napas, mengakibatkan efek luas
b.d. penurunan perawatan dengan peningkatan upaya pada paru, bermula dari
jaringan efektif kriteria: pernapasan, ekspansi bagian kecil
paru dan - Keluhan dispnea thoraks, dan kelemahan. bronkhopenumonia
kerusakan berkurang sampai inflamasi difus
membrane - Denyut nadi yang luas, nekrosis, efusi
alveolar-kapiler. dalam rentang pleura, dan fibrosis yang
normal dan irama luas. Efeknya terhadap
regular pernapasan bervariasi
- Kesadaran penuh dari gejala ringanm
- Hasil nilai analisi dispnea berat dan distress
gas darah dalam pernapasan

26
batas normal Evaluasi perubahan Akumulasi secret dan
tingkat kesadaran, catat berkurangnya jaringan
sianosis dan perubahan paru yang sehat dapat
warna kluit-termasuk mengganggu oksigenasi
membrane mukosa dan organ vital dan jaringan
kuku. tubuh.

Ajarkan dan dukung Membuat tahanan


pernapasan bibir selama melawan udara luar
ekspirasi khususnya untuk mencegah
untuk klien dengan kolaps/penyempitan jalan
fibrosis dan kerusakan napas sehingga
parenkim paru. membantu menyebarkan
udara melalui paru dan
mengurangi napas
pendek.

Tingkatkan bedrest, Menurunkan konsumsi


batasi aktivitas, dan oksigen selama periode
bantu kebutuhan penurunan pernapasan
perawatan diri sehari- dan dapt menurunkan
hari sesuai keadaan beratnya gejala.
klien.

Kolaborasi : Terapi oksigen dapat


Pemberian oksigen mengoreksi hipoksemia
sesuai tambahan. yang terjadi akibat
penurunan
ventilasi/menurunnya
permukaan alveolar paru

27
3. Hipertermi b.d. hipertermi dapat Mengkaji saat timbulnya Mengidentifikasi pola
peningkatan laju teratasi setelah …hari demam demam.
metabolisme perawatan dengan
umum sekunder kriteria : Kaji ttv tiap 3 jam/lebih Acuan untuk mengetahui
dari reaksi Suhu tubuh normal sering keadaan umum klien.
sistemis (36-37oC)
bakteremia/vire
mia. Berikan kebutuhan Peningkatan suhu tubuh
cairan ekstra mengakibatkan
berdasarkan pada BB penguapan cairan tubuh
klien meningkat, sehingga
perlu diimbangi dengan
intake cairan yang
banyak.
Konduksi suhu
membantu menurunkan
Berikan kompres dingin suhu tubuh, mandi
dengan air dingin dan
selimut yang tidak terlalu
tebal memungkinkan
terjadinya pelepasan
panas secara konduksi
dan evaporasi
(penguapan).

Kenakan pakaian Pakaian yang tipis akan


minimal membantu mengurangi
penguapan tubuh.

28
Berikan tindakan untuk Tindakan tersebut akan
memberikan rasa meningkatkan
nyaman seperti relaksasi.pelembab
mengelap bagian membantu mencegah
punggung klien, kekeringan dan pecah-
member minum hangat, pecah di mulut dan bibir.
lingkungan yang tenang
dengan cahaya yang
redup, dan sedative
ringan jika dianjurkan
serta memberikan
pelembap pada kulit dan
bibir.

Kolaborasi: Pemberian cairan sangat


Berikan terapi cairan penting bagi klien
intravena RL 0.5 dan dengan suhu tinggi.
pemberian antipiuretik.

Berikan antibiotic sesua Antibiotic diperlukan


dengan anjuran dan untuk mengatasi infeksi.
evaluasi keefektifannya. Efek terapeutik
Tinjau kembali semua maksimum dapat dicapai,
obat-obatan yang jika kadar obat yang ada
diberikan. dalam darah telah
konsisten dan dapat
dipertahankan.
4. Intoleransi Aktivitas dapat Monitor frekuensi nadi Mengidentifikasikan
aktivitas b.d. terpenuhi semua dan napas sebelum dan kemajuan atau
tidak selama perawatan sesudah aktivitas penyimpangan dari

29
seimbangnya dengan kriteria : sasaran yang diharapkan.
persedian dan - Laporan secara
kebutuhan verbal, kekuatan
oksigen otot Tunda aktivitas jika Gejala-gejala tersebut
kelmahan meningkatkan frekuensi nadi dan napas merupakan tanda adanya
umum. dan tidak ada meningkat secara cepat intoleransi aktivitas.
perasaan dan klien mengeluh Konsumsi oksigen
kelelahan. sesak napas dan meningkat jika aktivitas
- Tidak ada sesak kelelahan, tingkatkan meningkat dan daya
- Denyut nadi aktivitas secara bertahap tahan tubuh klien dapat
dalam batas untuk meningkatkan bertahan lebih lama jika
normal toleransi. ada waktu istirahat di
antara aktivitas.

Bantu klien dalam Membantu menurunkan


melaksanakan aktivitas kebutuhan oksigen yang
sesuai dengan meningkat akibat
kebutuhannya, beri klien peningkatan aktivitas.
waktu beristirahat tanpa
diganggu berbagai
aktivitas.

Pertahankan terapi Aktivitas fisik


oksigen selama aktivitas meningkatkan kebutuhan
dan lakukan tindakan oksigen dan system
pencegaham terhadap tubuh akan berusaha
komplikasi akibat menyesuaikannya.
imobilisasi jika klien Keseluruhan system
dianjurkan bedrest lama. berlangsung dalam
tempo yang lebih lambat

30
saat tidak ada aktivitas
fisik, tindakan perawatan
yang spesifik dapat
meminimallkan
komplikasi imobilisasi.

Konsultasikan dengan Hal tersebut dapat


dokter jika sesak napas merupakan tanda awal
tetap ada atau dari komplikasi
bertambah berat saat khususnya gagal napas.
istirahat.
5. Nyeri akut b.d Nyeri teratasi setelah Menentukan Chest pain, biasanya
inflamasi pada … hari perawatan karakteristik nyeri timbul dalam beberapa
parenkim paru- dengan kriteria: misalnya ketajaman dan tingkatan, dapat juga
paru - Laporan secara terus menerus, cari menunjukkan dari
verbal, nyeri dada perubahan dalam timbulnya komplikasi
berkurang karakteristik/lokasi/inten dari pneumonia seperti
- Skala nyeri sitas nyeri pericarditis dan
menurun endocarditis.
- Wajah tampak Memberikan tindakan Tindakan non analgesic
rileks untuk kenyamanan, dengan sentuhan akan
- Klien dapat manajemen nyeri non meringakan
beristirahat tanpa farmakologis misal: ketidaknyamanan.
terganggu rasa perubahan posisi, musik
nyeri. lembut, dan latihan
relaksasi napas

Menawarkan untuk oral Napas dengan mulut dan


higien terapi oksigen dapat
mengiritasi dan membuat

31
kering membran mukosa
yang
berpotensialterjadinya
ketidaknyamanan

Menginstruksikan dan Membantu mengontrol


membantu pasien untuk ketidaknyamanan pada
melakukan teknik dada dengan
menahan dada selama meningkatkan pelaksaan
batuk batuk efektif

Kolaborasi : Analgesik digunakan


Memberikan analgesic untuk menekan batuk
dan antitusive atas nonproduktif/paroksimal
indikasi atau mereduksi mucus
yang berlebihan, dan
meningkatkan
kenyamanan secara
umum.
6. Perubahan Nutrisi dapat Pantau presentase Mengidentifikasi
nutrisi kurang seimbang selama jumlah makanan yang kemajuan atau
dari kebutuhan perawatan dengan dikonsumsi setiap kali penyimpangan dari
tubuh b.d. kriteria : makan, timbang BB tiap sasaran yang diharapkan.
peningkatan - Pasien hari, hasil pemeriksaan
metabolisme menunjukkan protein total,albumin,
tubuh dan nafsu makan dan osmolalitas.
penurunan nafsu meningkat
makan sekunder - Tidak adanya Berikan perawatan Bau yang tidak
terhadap anoreksia mulut tiap 4 jam jika menyenangkan dapat
demam. - Berat badan klien sputum berbau busuk. mempengaruhi nafsu

32
dalam keadaan Pertahankan kesegaran makan.
stabil ruangan.

Rujukan kepada ahli Ahli diet ialah


diet untuk membantu spesialisasi dalam ilmu
memilih makanan yang gizi yang dapat
dapat memenuhi membantu klien mimilih
kebutuhan gizi selama makanan yang memenuhi
sakit panas. kebutuhan kalori dan
kebutuhan gizi sesuai
dengan keadaan sakitnya,
usia, tinggi, dan berat
badannya.

Dukung klien untuk Peningkatan suhu tubuh


mengkonsumsi makanan meningkatkan
tinggi kalori tinggi metabolisme, intake
protein. protein, vitamin, mineral,
dan kalori yang adekuat
penting untuk aktivitas
anabolic dan sintesis
antibodi.

Berikan makanan Makanan porsi sedikit


dengan porsi sedikit tapi tapi sering memerlukan
sering dan mudah lebih sedikit energi.
dikunyah jika ada sesak
napas berat.

33
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi
dan terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur, dan benda-benda asing. Pneumonia dikelompokkan berdasarkan agen
penyebabnya yaitu bakteri,virus, dan jamur. Penyebab tersering pneumonia
bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococcus pneumonia yang menyebabkan
pneumonia steptrokokus. Sedangkan jamur penyebab pneumonia yaitu candida
albicans .Pneumonia lain disebabkan oleh virus misalnya influenza. pneumonia.
Pneumonia jenis ini berbeda dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu
pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering
disebut pneumonia yang tidak tipikal.
Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru oleh
mikroorganisme dan respon sistem imun terhadap infeksi. Gejala-gejala tersebut
mencakup demam dan menggigil akibat proses peradangan, batuk yang sering
produktif dan purulen, sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus
pneumoniae), merah muda atau kehijauan dengan bau khas (untuk pseudomonas
aeruginosa), krekel (bunyi paru tambahan), rasa lelah akibat reaksi peradangan dan
edema,sering terjadi respons subyektif dispnea, timbul tanda-tanda sianosis, dan
ventilasi berkurang akibat penimbunan mucus, yang dapat menyebabkan atelektasis
absorpsi.
Penatalaksanaan pada klien pneumonia diposisikan dalam keadaan fowler
dengan sudut 45o, Pemberian cairan intravena untuk IVline dan pemenuhan hidrasi
tubuh untuk mencegah penurunan dan volume cairan tubuh secara umum, dan
pemberian antibiotic terpilih seperti Penisilin diberikan selama seminggu sampai
klien tidak mengalami sesak napas lagi selama tiga hari dan tidak ada komplikasi
lain. Prognosis untuk tiap orang berbeda tergantung dari jenis pneumonia, pengobatan
yang tepat,ada tidaknya komplikasi dan kesehatan orang tersebut.

34
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A.Aziz. Pengantar Ilmu Keperawatn Anak. 2006. Salemba Medika:Jakarta

Bare Brenda G, Smeltezer Suzan C. Keperawatan Medical Bedah, Edisi 8, Vol 1.


EGC:Jakarta

Carpenito, Lynda Juall. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis, Edisi
9. 2009. EGC:Jakarta

Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. 2000. EGC:


Jakarta

Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak (2006). Kuliah Pneumonia. FK unair
RSU Dr. Soetomo Surabaya

Marilynn E. Doenges Mary france Moorhouse. Alice C. Geissler. 2000. Rencana


Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Respirasi.


Salemba Medika: Jakarta

Nelson et all. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. 2000. EGC: Jakarta

Price Anderson Sylvia, Mylson McCarty Covraine. Patofisiologi, buku -2, Edisi 4.
EGC: Jakarta

Somantri, Irman. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem


Pernapasan. 2007. Salemba Medika :Jakarta

35