Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGATAR

Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, yang atas rahmat-Nya
maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan
herpes simplex”.
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah system integument.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat. Akhir kata kami
ucapkan Terimakasih.

Medan, April 2015

Kelompok II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………. i


DAFTAR ISI ………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………. 1
• LATAR BELAKANG……………………………………………….. 1

BAB II ISI …………………………………………………………………… 2


• DEFENISI ………………………………………………………….. 2
• ETIOLOGI …………………………………………………………… 2
• MANIFESTASI …………………………………………………….. 2
• PATOFISIOLOGI…………………………………………………….. 3
• PENATALAKSANAAN………………….………………………… 4
• PEMERIKSAAN PENUNJANG …………………………………… 4

BAB III ………………………………………………………………………. 6


ASUHAN KEPERAWATAN………………………………………………… 7

BAB IV PENUTUP ………………………………………………………….. 13


• KESIMPULAN ………………………………………………………. 13
• SARAN ………………………………………………………………. 13

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penyakit Cacar atau yang disebut sebagai 'Herpes' oleh kalangan medis adalah penyakit
radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-gelembung berisi air secara
berkelompok. Penyakit Cacar atau Herpes ini ada 2 macam golongan, Herpes Genetalis yang
disebabkan virus herpes simplex (VHS)dan Herpes Zoster.
Virus herpes simpleks adalah merupakan virus DNA, dan seperti virus DNA yang lain
mempunyai karakteristik melakukan replikasi didalam inti sel dan membentuk intranuclear
inclusion body. Intranuclear inclusion body yang matang perlu dibedakan dari sitomegalovirus.
Karakteristik dari lesi adalah adanya central intranuclear inclusion body eosinofilik yang ireguler
yang dibatasi oleh fragmen perifer dari kromatin pada tepi membran inti.
Berdasarkan perbedaan imunologi dan klinis, virus herpes simpleks dapat dibedakan
menjadi dua tipe yaitu :
1. Virus herpes simpleks tipe 1 yang menyebabkan infeksi herpes non genital, biasanya pada
daerah mulut, meskipun kadang-kadang dapat menyerang daerah genital. Infeksi virus ini
biasanya terjadi saat anak-anak dan sebagian besar seropositif telah didapat pada waktu
umur 7 tahun..
2. Virus herpes simpleks tipe 2 hampir secara eksklusif hanya ditemukan pada traktus genitalis
dan sebagian besar ditularkan lewat kontak seksual.
BAB I I
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Herpes simplex adalah infeksi akut oleh virus Herpes Simplex (virus Herpes Hominis)
tipe I dan tipe IIyang ditandai dengan vesikel berkelompok diatas kulit yang eritematosa di
daerah mukokutan. Dapat berlangsung primer maupun rekurens. Herpes simplex disebut juga
fever blister, cold score, herpes febrilis, herpes labialis, herpes progenitalis(genitalis)
Infeksi herpes simpleks ditandai dengan episode berulang dari lepuhan-lepuhan kecil di
kulit atau selaput lendir, yang berisi cairan dan terasa nyeri. Ciri-ciri Herpes simplex adalah
adanya bintil-bintil kecil, bisa satu atau sekumpulan, yang berisi cairan, dan jika pecah bisa
menyebabkan peradangan. Bintil-bintil ini biasanya muncul di daerah muco-cutaneous, atau
daerah dimana kulit bertemu dengan lapisan membrane mukosa. Di wajah, daerah ini berlokasi
di pertemuan bibir dengan kulit wajah. Para penderita herpes simplex biasanya merasakan
adanya perasaan geli di daerah tersebut sebelum munculnya bintil-bintil tadi.
Virus herpes simpleks adalah merupakan virus DNA, dan seperti virus DNA yang lain
mempunyai karakteristik melakukan replikasi didalam inti sel dan membentuk intranuclear
inclusion body. Intranuclear inclusion body yang matang perlu dibedakan dari sitomegalovirus.
Karakteristik dari lesi adalah adanya central intranuclear inclusion body eosinofilik yang ireguler
yang dibatasi oleh fragmen perifer dari kromatin pada tepi membran inti.

B. Etiologi
Virus Herpes Simplek (VHS) tipe I dan tipe II adalah Herpes hominis yang termasuk
virus DNA

C. Manifestasi Klinis
1. Infeksi primer yang biasanya disertai gejala ( simtomatik ) meskipun dapat pula tanpa gejala
( asimtomatik ). Keadaan tanpa gejala kemungkinan karena adanya imunitas tertentu dari
antibodi yang bereaksi silang dan diperoleh setelah menderita infeksi tipe 1 saat anak-anak.
Masa inkubasi yang khas selama 3 – 6 hari ( masa inkubasi terpendek yang pernah
ditemukan 48 jam ) yang diikuti dengan erupsi papuler dengan rasa gatal, atau pegal-pegal
yang kemudian menjadi nyeri dan pembentukan vesikel dengan lesi vulva dan perineum
yang multipel dan dapat menyatu. Adenopati inguinalis yang bisa menjadi sangat parah.
Gejala sistemik mirip influenza yang bersifat sepintas sering ditemukan dan mungkin
disebabkan oleh viremia. Vesikel yang terbentuk pada perineum dan vulva mudah terkena
trauma dan dapat terjadi ulserasi serta terjangkit infeksi sekunder. Lesi pada vulva
cenderung menimbulkan nyeri yang hebat dan dapat mengakibatkan disabilitas yang berat.
Retensi urin dapat terjadi karena rasa nyeri yang ditimbulkan ketika buang air kecil atau
terkenanya nervus sakralis. Dalam waktu 2 – 4 minggu, semua keluhan dan gejala infeksi
akan menghilang tetapi dapat kambuh lagi karena terjadinya reaktivasi virus dari ganglion
saraf. Kelainan pada serviks sering ditemukan pada infeksi primer dan dapat
memperlihatkan inflamasi serta ulserasi atau tidak menimbulkan gejala klinis.
2. Fase Laten. Tidak ditemukan gejala klinis , tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan
tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada fase ini, akibat pelepasan
virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit.
3. Infeksi rekuren. Setelah infeksi mukokutaneus yang primer, pertikel-partikel virus akan
menyerang sejumlah ganglion saraf yang berhubungan dan menimbulkan infeksi laten yang
berlangsung lama. Infeksi laten dimana partikel-partikel virus terdapat dalam ganglion saraf
secara berkala akan terputus oleh reaktivasi virus yang disebut infeksi rekuren yang
mengakibatkan infeksi yang asimtomatik secara klinis ( pelepasan virus ) dengan atau tanpa
lesi yang simtomatik. Lesi ini umumnya tidak banyak, tidak begitu nyeri serta melepaskan
virus untuk periode waktu yang lebih singkat (2 – 5 hari) dibandingkan dengan yang terjadi
pada infeksi primer, dan secara khas akan timbul lagi pada lokasi yang sama. Walaupun
sering terlihat pada infeksi primer, infeksi serviks tidak begitu sering terjadi pada infeksi
yang rekuren.
D. Patofisiologi
Herpes simpleks menyebabkan timbulnya erupsi pada kulit atau selaput lendir. Erupsi ini
akan menghilang meskipun virusnya tetap ada dalam keadaan tidak aktif di dalam ganglia (badan
sel saraf), yang mempersarafi rasa pada daerah yang terinfeksi.
Secara periodik, virus ini akan kembali aktif dan mulai berkembangbiak, seringkali
menyebabkan erupsi kulit berupa lepuhan pada lokasi yang sama dengan infeksi sebelumnya.

E. Pemeriksaan Penunjang
Virus Herpes dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Jika tidak ada lesi dapat
diperiksa antibody VHS. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dari bahan vesikel
dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.

F. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


· Belum ada terapi medical
· Pada episode pertama berikan :
- asiclovyr 200mg per oral 5 x sehari selama 7 hari, atau
- asiclovyr 5mg/kgBB, Intravena tiap 8 jam selama 7 hari(bila gejala sistemik berat)
- preparat isoprinosin sebagai imunomodulator
- asiclovyr parenteral atau preparat adenine arabinosid (vitarabin) untuk penyakit yang
lebih berat atau jika timbul komplikasi pada alat dalam.
· Pada episode rekurensi , umumnya tidak perlu diobati karena bisa membaik, namun bila perlu
dapat diobati dengan krim Asiclovyr. Bila pasien dengan gejala berat dan lama, berikan
asiclovyr 200mg per oral 5 x sehari, selama 5 hari. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan
kompres.

Untuk sebagian besar penderita, satu-satunya pengobatan herpes labialis adalah menjaga
kebersihan daerah yang terinfeksi dengan mencucinya dengan sabun dan air. Lalu daerah
tersebut dikeringkan karena jika dibiarkan lembab maka akan memperburuk peradangan,
memperlambat penyembuhan dan mempermudah terjadinya infeksi bakteri.
Untuk mencegah atau mengobati suatu infeksi bakteri, bisa diberikan salep antibiotik
(misalnya neomisin-basitrasin). Jika infeksi bakteri semakin hebat atau menyebabkan gejala
tambahan, bisa diberikan antibiotik per-oral atau suntikan.
Krim anti-virus (misalnya idoksuridin, trifluridin dan asiklovir) kadang dioleskan
langsung pada lepuhan. Asiklovir atau vidarabin per-oral bisa digunakan untuk infeksi herpes
yang berat dan meluas. Kadang asiklovir perlu dikonsumsi setiap hari untuk menekan timbulnya
kembali erupsi kulit, terutama jika mengenai daerah kelamin. Untuk keratitis herpes simpleks
atau herpes genitalis diperlukan pengobatan khusus
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

a. Kasus Terkait
Tuan K. 25 tahun datang kerumah sakit dengan keluhan adanya rasa nyeri dan tidak
nyaman dan adanya lepuhan yang dikelilingi oleh daerah kemerahan membentuk sebuah
gelembung cair pada daerah bibir. Sebelumnya Tuan K mengalami gatal-gatal selama 2 hari.
Tuan K mengeluh nyeri. Raut wajah Tuan K tampak menahan nyeri. Tuan K juga mengatakan
tidak nafsu makan karena sulit mengunyah dan menelan. Istri klien mengatakan Tuan K hanya
dapat menghabiskan 5 sendik makan nasi setiap makan.Dari hasil pemeriksaan fisik di daerah
bibir Tuan K terdapat bintik kemerahan, kesadaran composmetis, suhu 37,50 C, tekanan darah
130/90mmHg, Nadi 112x/m, BB turun dari 65 menjadi 60 kg. Leukosit < 4000/mmk

Terapi medis:
Acyclovir intravena dosis 5 mg/ kgBB
Asam mefenamat 3x 500mg
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. K DENGAN HERPES SIMPLEX

PENGKAJIAN
Tanggal masuk : 07 Maret 2011 Praktikan :
Jam : 09.10 WIB NIM :
Ruang :
No. Reg. :

Identitas
Nama pasien : Tn. K
Umur : 25 tahun
Jenis kelamin : Laki- laki
Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia
Agama : HINDU
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : PNS
Alamat : jl Mangga, Sleman YOGYAKARTA
MRS : 07 Maret 2011, Jam 09.10 WIB, diantar keluarga.
Tgl pengkajian : 7 Maret 2009, Jam 10.35 WIB

Penanggung jawab :
Nama : Ny. S
Umur : 25 tahun
Hubungan dg pasien : Istri
Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia
Agama : Hindu
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : PNS
Riwayat Keperawatan
Riwayat Perawatan Sekarang
Riwayat kesehatan keluarga Tuan K. 25 tahun datang kerumah sakit dengan keluhan
adanya rasa tidak nyaman dan adanya lepuhan yang dikelilingi oleh daerah kemerahan
membentuk sebuah gelembung cair pada daerah bibir. Sebelumnya Tuan K mengalami gatal-
gatal selama 2 hari. Tuan K mengeluh nyeri.

Riwayat keperawatan yang lalu


Keluarga tidak ada yang pernah menderita sakit yang dialami pasien saat ini.

Riwayat kesehatan keluarga


Keluarga tidak ada yang pernah menderita sakit yang dialami pasien saat ini dan keluarga
serta pasien tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, DM maupun hipertensi

PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL


Pola manajemen kesehatan
Pasien mengatakan jika ada keluarga yang sakit maka segera dibawa tempat pelayanan
kesehatan terdekat baik itu poliklinik maupun dokter.
Pola nutrisi
Sebelum sakit pasien makan dengan porsi sedang 3 x sehari ditambah makanan ringan
serta minum 4 gelas/ hari. Namun saat sakit nafsu makan pasien berkurang, tetapi tidak sampai
kehilangan nafsu makan. Di rumah sakit pasien masih dapat menghabiskan porsi makannya.
Pola eliminasi
Untuk BAB dan BAK pasien tidak mengalami gangguan selama sakitnya yaitu 1x BAB
dan 4x BAK.
Pola persepsi dan kognitif
Pasien tidak mengalami disorientasi tempat dan waktu. Semua alat indera pasien masih
berfungsi dalam batas normal.
Pola aktivitas
Pasien beraktivitas seperti biasa yaitu pergi ke kantor untuk bekerja, dan melakukan
kegiatan yang lain sesuai dengan rutinitasnya.
Pola tidur dan istirahat
Sebelum sakit pasien tidak ada keluhan dengan kebiasaan tidurnya yaitu 6- 8 jam/ hari.
Ketika sakit pasien kadang mengeluh kesulitan untuk tidur karena merasakan nyeri.

Pola persepsi diri dan konsep diri


Pasien tahu kondisinya penyakitnya saat ini dan akan berusaha menerima segala
kondisinya saat ini. Pasien tidak merasa malu dan rendah diri dengan kondisinya saat ini.
Pola peran dan hubungan
Pasien tidak mengalami masalah dalam hubungan sosialnya. Pasien merupakan kepala
keluarga dari istri dan seorang anaknya dan merupakan tulang punggung bagi perekonomian
keluarganya di samping istrinya.
Pola seksualitas dan reproduksi
Pasien berjenis kelamin laki – laki, sudah menikah dengan seorang istri dan telah
memiliki seorang anak.
Pola koping dan toleransi stress
Pasien merasa yakin bahwa suatu saat penyakitnya akan sembuh, tetapi harus
memerlukan suatu usaha dan tak lupa untuk terus berdoa.
Pola nilai dan kepercayaan/ agama
Pasien masih menjalankan ibadah rutin.

Pemeriksaan fisik
Kesadaran : Composmetis
Tekanan Darah : 130/ 90 mmHg
Nadi : 112 x/ menit
Pernafasan : 22 x/ menit
Suhu tubuh : 37,5 0 C

Kulit :
Kulit lembab, bersih, turgor baik, tidak terdapat pitting edema, warna kulit sawo matang, tidak
ada hiperpigmentasi.
Kepala :
Bentuk kepala mesosephal, bersih, tidak berbau, tidak ada lesi, rambut hitam lurus.

Mata :
Isokor, reflek pupil simetris, diameter pupil ± 4 mm, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak
ikteric, tidak ada ptosis, koordinasi gerak mata simetris dan mampu mengikuti pergerakan benda
secara terbatas dalam 6 titik sudut pandang yang berbeda.

Hidung :
Simetris, bersih, tidak ada polip hidung, cuping hidung tidak ada.

Telinga :
Simetris, bersih, tidak ada tanda peradangan ditelinga/ mastoid. Cerumen tidak ada, reflek suara
baik dan telinga sedikit berdenging.

Mulut :
Bibir tidak cyanosis, mukosa bibir lembab, lidah bersih, tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada
stomatitis dan gigi masih genap. Sekitar bibir terdapat bintik bintik kemerahan yang membentuk
gelembung yang berisi cairan.

Leher :
Simetris, tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid.

Dada :
▪ Jantung
▪ Inspeksi : Simetris, statis, dinamis
▪ Palpasi : teraba normal
▪ Perkusi : Konfigurasi jantung dalam batas normal
▪ Auskultasi : normal

▪ Paru – paru
▪ Inspeksi : Simetris, statis, dinamis
▪ Palpasi : Sterm fremitus kanan = kiri
▪ Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
▪ Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan ( - )

Perut :
▪ Inspeksi : Datar
▪ Palpasi : Supel, tidak ada massa
▪ Perkusi : timpani
▪ Auskultasi : bising usus ( + )
Ekstrimitas :
Tidak ditemukan lesi maupun udem pada ektrimitas atas maupun bawah.
c. Analisa Data
ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1 Do : Penyakit Nyeri
- Raut wajah Tuan K
tampak menahan nyeri
- Kesadaran
composmetis
- Suhu 370C
- Tekanan Darah
130/90mmHg
- Nadi 112x/ mnt
- Leukosit <4000 mmk
Ds:
- Tuan K mengatakan
dia mengalami gatal-
gatal selama 2 hari
- Tuan K
mengeluh nyeri
2 Do: Hilangnya nafsu makan Nutrisi kurang dari
- BB turun dari 65 kebutuhan tubuh
menjadi 60
Ds:
- Tuan K mengatakan
tidak nafsu makan
karena sulit mengunyah
atau menelan
- Istri klien mengatakan
Tuan K hanya dapat
menghabiskan 5 sendok
makan setiap kali makan

d. Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri b.d. penyakit yang ditandai dengan Raut wajah Tuan K tampak menahan nyeri
,kesadaran composmetis, Suhu 370C ,Tekanan Darah 130/90mmHg ,Nadi 112x/ mnt
,Leukosit <4000 mmk ,Tuan K mengatakan dia mengalami gatal-gatal selama 2 hari dan
Tuan K mengeluh nyeri
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. hilangnya nafsu makan ditandai dengan BB turun
dari 65 menjadi 60, Tuan K mengatakan tidak nafsu makan karena sulit mengunyah atau
menelan, Istri klien mengatakan Tuan K hanya dapat menghabiskan 5 sendok makan setiap
kali makan
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Herpes simplex adalah infeksi akut oleh virus Herpes Simplex (virus Herpes Hominis)
tipe I dan tipe IIyang ditandai dengan vesikel berkelompok diatas kulit yang eritematosa di
daerah mukokutan.
Ciri-ciri Herpes simplex adalah adanya bintil-bintil kecil, bisa satu atau sekumpulan,
yang berisi cairan, dan jika pecah bisa menyebabkan peradangan.
Virus herpes simpleks menyebar melalui kontak tubuh secara langsung dan sebagian
besar dengan kontak seksual
Gejala herpes
• Area yang terinfeksi biasanya berwarna kemerahan, dan menjadi sensitif, setelah itu
timbul bintik-bintik merah. Jumlahnya bervariasi. Kadang-kadang hanya 1 bintik saja.
• Rasa gatal dan perih di area yang terkena. Bahkan kadang-kadang disertai rasa seperti
terbakar.
• Tubuh terasa meriang, pening, pegal-pegal, dan kurang nafsu makan.
• Pada herpes kelamin, kadang-kadang penderita menjadi susah buang air kecil.
Herpes simplek dapat diobati dengan pemberian aciclovyr.
Saran
- Agar terhindar dari penyakit herpes sebaiknya kita menjaga kebersihan diri sendiri maupun
lingkungan.
- Bagi penderita herpes hindari menggaruk area yang terinfeksi agar herpes tidak menyebar.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym, 2008. Etiologi Herpes Simplex. http://wikipedia org. ( 7 Maret 2011)


Anonym .2008. Herpes Simplex. http://wikipedia org. ( 7 Maret 2011)
Manjur,A.,dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FK UI. Jakarta.2000
Wilkinson,J.M. Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Buku
Kedokteran EGC.Jakarta. 2006