Anda di halaman 1dari 15

Referat

PNEUMOTHORAX

DISUSUN OLEH
Tiara Larasati Jaya Putri 030.13.191

PEMBIMBING
dr. Faida S, Sp. Rad
dr. Ferry L, Sp. Rad
dr. Dina L, Sp. Rad

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Kepanitraan Klinik Departemen Ilmu Radiologi
Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo
Periode 8 Mei – 2 Juni 2017
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing , referat dari :

Nama :Tiara Larasati Jaya Putri


Fakultas : Kedokteran Umum
Universitas : Trisakti
Bagian : Radiologi
Judul : Pneumothorax

Ditujukan untuk memenuhi ujian referat kepanitraan Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti di RSAL Dr. Mintohardjo

Jakarta, 18 Mei 2017


Mengetahui
Kepala Radiologi RSP AU

dr. Faida Susantinah, Sp. Rad


Daftar isi

Lembar pengesahan ...............................................................................................................2


Daftar isi.................................................................................................................................3
Kata Pengantar ....................................................................................................................... 4
Bab 1. Pendahuluan ...............................................................................................................5
Bab 2. Tinjauan Pustaka ........................................................................................................5
1.1 Anatomi system pernapasan ..................................................................................... 5
2.1 Fisiologi Pernapasan .................................................................................................9
3.1 Pneumothorax ...........................................................................................................13
Bab 3. Kesimpulan .................................................................................................................20
Daftar Pustaka ........................................................................................................................ 21
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat- Nya kami dapat
menyelesaikan tugas referat kasus ini tepat pada waktunya. Dalam rangka memenuhi salah satu
persyaratan Kepaniteraan Klinik Radiologi di RSAL Dr. Mintohardjo yaitu referat
'PNEUMOTHORAX'.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada:
Dr. Faida S, Sp.Rad selaku pembimbing referat, atas bimbingan serta dukungan dari teman – teman
di bagian radiologi yang telah banyak membantu dalam penyelesaian referat ini. Akhir kata,
disadari bahwa penyajian referat ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan, semoga referat ini dapat bermanfaat untuk semua pihak,
khusus nya di bagian Ilmu Radiologi.

Jakarta, 18 Mei 2017

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

Paru merupakan salah satu organ vital pada manusia yang berfungsi sebagai alat pernafasan.
Pernafasan mencakupi pemindahan O2 dari lingkungan eksternal dan CO2 dari hasil reaksi
metabolik intrasel. Sistem pernafasan membawa udara melalui hidung kedalam alveoli. Dirongga
hidung udara dibersihkan dari debu ukuran 2 – 10 u, dipanaskan dan dilembabkan oleh bulu dan
lendir hidung sebelum masuk ke trakea.
Paru dipisahkan dari dinding thoraks dan struktur lain di sekitarnya oleh suatu kantung tertutup
berdinding rangkap yaitu kantung pleura. Interior kantung pleura dikenal sebagai rongga pleura.
Permukaan pleura mengeluarkan suatu cairan intrapleura yang melumasi permukaan pleura selagi
keduanya saling bergeser sewaktu pergerakan napas.
Pada pernafasan spontan ruang pelura memiliki tekanan negatif untuk menyesuaikan
dengan tekanan atmosfer. Tekanan negatif biasanya tidak memungkinkan udara masuk ke ruang
pleura karena tidak ada koneksi alami untuk ruang yang berisi udara, dan tekanan gas dalam aliran
darah terlalu rendah untuk mereka yang akan dirilis ke ruang pleura. Bila tekanan rongga pleura
jadi positif, paru-paru akan collaps. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan rongga pleura
adalah efusi pleura dan pneumotoraks. Bila terdapat udara disertai cairan di dalan rongga pleura
disebut hidropneumotoraks
Pneumotorax adalah kumpulan dari udara atau gas dalam rongga pleura dari dada antara
paru-paru dan dinding dada. Hal ini dapat terjadi secara spontan pada orang tanpa kondisi paru-
paru kronis (primer) serta pada mereka dengan penyakit paru-paru (sekunder), dan banyak
pneumotoraks terjadi setelah trauma fisik dada, cedera ledakan, atau sebagai komplikasi dari
perawatan medis.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Anatomi Sistem Respirasi


Sistem respirasi mencakup saluran napas yang menuju paru, paru itu sendiri, dan struktur-
struktur thoraks yang berperan menyebabkan aliran udara masuk dan keluar paru melalui saluran
napas. Saluran napas berawal dari hidung. Saluran hidung membuka ke dalam faring, yang
berfungsi sebagai saluran bersama untuk system pernapasan dan pencernaan. Terdapat dua saluran
yang berasal dari faring, trakea, yang dilalui oleh udara untuk menuju paru, dan esophagus yang
dilalui makanan untuk menuju lambung. Karena faring berfungsi sebagai saluran bersama untuk
udara dan makanan maka sewaktu bernafas terjadi mekanisme reflex yang menutup esophagus
untuk mencegah udara masuk ke lambung sewaktu bernapas.
Laring terletak di pintu masuk trakea. Tonjolan anterior laring membentuk jakun. Pita suara,
dua pita jaringan elastic yang melintang di pintu masuk laring, dapat diregangkan dan diposisikan
dalam berbagai bentuk oleh otot laring. Sewaktu udara dilewatkan melalui pita suara yang kencang,
lipatan tersebut bergetar untuk menghasilkan berbagai suatu bicara.
Dibelakang laring, trakea terbagi menjadi dua cabang utama, bronkus kanan dan kiri. Di dalam
masing-masing paru, bronkus terus bercabang-cabang menjadi saluran napas yang semakin sempit,
pendek, dan banyak. Cabang-cabang lebih kecil dikenal sebagai bronkiolus. Diujung bronkiolus
terminal terdapat alveolus, kantung-kantung udara halus tempat pertukaran gas antara udara dan
darah.
Terdapat dua buah paru, masing-masing dibagi menjadi beberapa lobus dan masing-masing
mendapat satu bronkus. Jaringan paru itu sendiri terdiri dari serangkaian saluran napas yang sangat
bercabang-cabang, alveolus, pembuluh darah paru, dan sejumlah besar jaringan ikat elastic. Setiap
paru dipisahkan dari dinding thoraks dan struktur lain di sekitarnya oleh suatu kantung tertutup
berdinding rangkap yaitu kantung pleura. Interior kantung pleura dikenal sebagai rongga pleura.
Permukaan pleura mengeluarkan suatu cairan intrapleura yang melumasi permukaan pleura selagi
keduanya saling bergeser sewaktu pergerakan napas.
Gambar 1. Anatomi Sistem Pernapasan

Gambar 2. Paru-paru
2.1 Fisiologi Pernapasan
Pada manusia dikenal 2 macam respirasi yaitu eksternal dan internal. Respirasi internal
mencakup reaksi-reaksi metabolik intrasel yang menggunakan O2 dan menghasilkan CO2 sewaktu
oksidasi molekul nutrien untuk menghasilkan energi. Respirasi eksternal mencakup berbagai tahap
dalam pemindahan O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel jaringan. Proses respirasi
dibagi menjadi tiga tahap yaitu ventilasi, difusi dan perfusi.
Ventilasi adalah proses pemasukan ke (inspirasi dan pengeluaran udara (ekspirasi) dari
paru. Inspirasi merupakan proses aktif. Kontraksi otot inspirasi akan meningkatkan volume
intratoraks. Tekanan intrapleura di bagian basis paru akan turun dari sekitar -2,5 mmHg pada awal
inspirasi, menjadi -6 mmHg. Jaringan paru akan semakin teregang.Tekanan di dalam saluran udara
menjadi sedikit lebih negatif dan udara akan mengalir ke dalam paru.Pada akhir inspirasi, daya
recoil paru mulai menarik dinding dada kembali ke kedudukan ekspirasi sampai tercapai
keseimbangan kemba;I antara daya recoil paru dan dinding dada. Tekanan di saluran udara
menjadi lebih positif dan udara mengalir meninggalkan paru.Ekspirasi selama pernapasan tenang
meruupakan proses pasif yang tidak memerlukan kontraksi otot untuk menurunkan volume
intratoraks.
Pada proses difusi terjadi perpindahan oksigen dan CO2 berpindah menembus membran
mengikuti penurunan gradien tekanan parsial. Tekanan parsial suatu gas dalam udara adalah
bagian dari tekanan atmosfer total yang disumbangkan oleh gas tersebut, yang berbanding lurus
dengan persentase gas ini dalam udara. Tekanan parsial suatu gas dalam darah bergantung pada
jumlah gas tersebut yang larut dalam darah. Difusi netto oksigen terjadi pertama antara alveolus
dan darah dan kemudian antara darah dan jaringan akibat gradien tekanan parsial oksigen yang
tercipta karena pemakaian terus menerus oksigen di sel dan penggantian terus menerus oksigen
alveolus segar dari ventilasi. Sedangkan difusi netto CO2 bekerja berlawanan akibat produksi terus
menerus di sel dan pengeluaran terus-menerus oleh alveolus melalui ventilasi.
Akibat O2 dan CO2 sukar larut dalam darah, maka keduanya harus diangkut melalui
mekanisme di luar pelarutan fisik biasa. Oksigen biasanya diangkut dalam darah dengan berikatan
dengan hemoglobin. Karbon dioksida yang diambil di kapiler sistemik diangkut dalam darah
melalui tiga cara: 1. 10% larut secara fisik, 2. 30% berikatan dengan Hb, 3. 60% mengambil bentuk
bikarbonat.
3.1 Pneumothorax
3.1.1 Definisi
Pneumotorax adalah kumpulan dari udara atau gas dalam rongga pleura dari dada antara
paru-paru dan dinding dada. Hal ini dapat terjadi secara spontan pada orang tanpa kondisi paru-
paru kronis (primer) serta pada mereka dengan penyakit paru-paru (sekunder), dan banyak
pneumotoraks terjadi setelah trauma fisik dada, cedera ledakan, atau sebagai komplikasi dari
perawatan medis.
Gambar 1. Pneumothorax
3.1.2 Etiologi Pneumothorax
Penyebab dari pneumothorax dapat dibagi menjadi dua yaitu sterjadi secara spontan dan
diakibatkan oleh trauma. Pneumothorax spontan dibagi kembali menjadi dua jenis yaitu primer
(terjadi tanpa adanya penyakit paru-paru diketahui) dan sekunder (terjadi pada seseorang dengan
penyakit paru-paru yang mendasari). Penyebab dari pneumothorax spontan primer tidak diketahui,
tetapi faktor resiko yang dibuat termasuk jenis kelamin laki-laki, merokok, dan riwayat keluarga
pneumothorax berbagai mekanisme yang mendasari.
Pneumothorax spontan sekunder paling sering terjadi pada pasien yang mengalami
penyakit paru obstruktif kronik. Penyakit lain yang diketahui memiliki resiko mengalami
pneumothorax adalah asma parah akut, fibrosis kistik, pneumonia, tuberkulosis, sarkoisidosis,
kanker paru-paru.
Pneumothorax traumatic dapat dihasilkan dari kedua trauma tumpul dan luka tembus
sampai ke dinding dada. Prosedur medis dada seperti pengambilan sampel biopsi dari jaringan
paru-paru juga dapat menyebabkan cedera pada paru-paru dan pneumothorax resultan. Pemberian
ventilasi tekanan positif dapat mengakibatkan barotrauma mengarah ke suatu pneumothorax.

Gambar 2. Pneumothorax traumatic

3.1.3 Epidemiologi
Kejadian tahunan pneumothorax spontan primer adalah 18-28 per 100.000 pada laki-laki
dan 1,2-6,0 pada wanita. Pneumothorax spontan sekunder kurang umu, dengan 6,3 untuk pria dan
2,0 untuk perempuan. Risiko kambuhnya tergantung pada penyakit paru-paru yang mendasari.
Setelah episode kedua telah terjadi, ada kemungkinan lebih tinggi episode berikutnya. Perokok
memiliki resiko pneumotoraks spontan primer sekitar Sembilan kali lipat antara perempuan dan
22 kali lipat antara laki-laki dibandingkan non-perokok.
Kematian dari pneumothorax sangat jarang (kecuali untuk tension pneumothorax). Statistik
inggris telah mengungkapkan suatu kematian tahunan sebesar 1,26 per juta per tahun pada pria
dan 0,62 pada wanita, kematian lebih tinggi pada orang tua dan mereka dengan pneumothorax
sekunder.

3.1.4 Patofisiologi
Pada orang normal, tekanan di ruang pleura adalah negatif yang disesuaikan dengan
tekanan alveolar selama siklus pernafasan. Gradien tekanan antara alveolus dan ruang pleura yang
dikenal sebagai tekanan transpulmoner adalah hasil dari keelastisitasan pada recoiling paru. Pada
pernafasan spontan ruang pelura juga memiliki tekanan negatif untuk menyesuaikan dengan
tekanan atmosfer. Tekanan negatif biasanya tidak memungkinkan udara masuk ke ruang pleura
karena tidak ada koneksi alami untuk ruang yang berisi udara, dan tekanan gas dalam aliran darah
terlalu rendah untuk mereka yang akan dirilis ke ruang pleura.
Pneumothorax spontan primer terjadi tanpa kelainan atau penyakit paru yang mendasariny,
namun pada sebuah penelitian dilaporkan bahwa bula sublpeural ditemukan pada 76-100% pasien.
Mekanisme pembentukan bula masih merupakan spekulasi namun sebuah teori menjelaskan
bahwa terjadi degradasi serat elastin paru yang diinduksi oleh rokok yang kemudian diikuti oleh
serbukan netrofil dan makrofag. Proses ini menyebabkan ketidakseimbangan protease-
antiprotease dan sistem oksidan-antioksidan serta menginduksi terjadinya obstruksi saluran nafas
akibat inflamasi. Hal ini akan meningkatkan tekanan alveolar sehingga terjadi kebocoran udara ke
jaringan interstisial paru menuju hilus dan menyebabkan pneumomediastinum. Tekanan di
mediastinum akan meningkat dan pleura parietalis pars mediastinum ruptur sehingga terjadi
pneumothorax. Jika ruang pelura terisi udara maka paru-paru akan kolaps sampai tercapainya
keseimbangan tekanan atau bagian yang ruptur tersebut ditutup. Konsekuensi dari proses ini adalah
timbulnya sesak akibat kurangnya kapasitas vital paru.
Pada pneumothorax sekunder diketahui akibat penyakit paru yang sudah ada menyebabkan
peningkatan tekanan alveolar melebihi tekanan interstisial paru. Hal ini menyebabkan perpindahan
udara dari alveolus ke interstisial dan akhirnya menuju hilus dan menyebabkan
pneumomediastinum. Udara nantinya akan menuju ke pleura parietalis pars mediastinal dan
menuju ke ruang pleura dan menimbulkan pneumothorax.
Pneumothorax traumatik dapat disebabkan oleh trauma penetrasi maupun non-penetrasi.
Bila terjadi pneumothorax, paru akan mengempes karena tidak ada lagi tarikan ke luar dinding
dada. Pengembangan dinding dada pada saat inspirasi tidak diikuti dengan pengembangan paru
yang baik. Tekanan pleura yang normalnya negatif akan meningkat hingga menyebabkan
gangguan ventilasi pada bagian yang mengalami pneumothorax.
Pada tension pneumothorax terdapat robekan pada pleura yang bersifat katup searah. Katup
searah ini menyebabkan banyaknya udara yang masuk ke ruang pleura tetapi udara yang sudah
berada di ruang pleura tidak dapat dikeluarkan. Seiring berjalannya inspirasi, volume udara yang
masuk akan terus bertambah. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan pada hemithorax yang
terkena yang akan menyebabkan paru-paru kolaps. Semakin bertambahnya tekanan juga akan
menyebabkan mediastinum bergeser ke arah hemithorax kontralateral. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya hipoksia yang nantinya akan timbul vasokonstriksi. Apabila tidak ditangani dapat terjadi
hipoksemia, asidosis metabolik, dan penurunan cardiac output yang dapat berujung ke cardiac
arrest dan kematian.

3.1.5 Gejala Klinis


Gejala-gejala dari pneumothorax yang termasuk nyeri dada yang biasanya mendadak. Rasa
sakit ini tajam dan dapat menyebabkan perasaan sesak di dada. Sesak nafas, denyut jantung yang
cepat, pernafasan cepat, batuk, dan kelelahan merupakan gejala lain dari pneumothorax. Sianosis
dapat terjadi akibat penurunan kadar oksigen darah.

3.1.6 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik biasanya dapat memastikan diagnose jika pneumothorax yang besar.
Bunyi napas saat diauskultasi pada sisi yang terkena akan bekrurang. Saat perkusi akan ditemukan
hyperresonant dan resonansi vocal dan fremitus taktil dapat menurun.
Tension pneumothorax ditandai dengan bernapas cepat, sianosis, hipotensi dan
kebingungan. Sisi dada yang terkena mungkin akan hyperexpanded dan menunjukkan gerakan
menurun, dengan gerakan peningkatan di sisi lain. Dalam kasus yang sangat parah, tingkat
pernapasan turun tajam, dengan syok dan koma. Tanda-tanda klinis khusus juga mungkin kurang
berguna dalam tension pneumothorax, seperti deviasi trakea dan adanya peningkatan tekanan vena
jugular.

3.1.7 Diagnosis
Diagnosis pneumothorax dapat dilakukan dengan melihat dari gejala klinis dan
dikonfirmasi kembali dengan pencitraan medis. Pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan
berupa roentgen toraks, ct scan, bronkoskopi, lavage bronchoalveolar, dan thoracoscopy.
Pada roentgen toraks proyeksi yang paling sering digunakan adalah sinar x yang
diproyeksikan dari belakang/PA. Hal ini biasanya dilakukan dalam fase inspirasi. Jika PA X-ray
tidak menunjukkan pneumothorax tetapi ada kecurigaan kuat, lateral sinar x dapat dilakukan.
Ukuran pneumothorax dapat ditentukan dengan tingkat akurasi yang wajar dengan mengukur jarak
antara dinding dada dan paru-paru.
Hasil foto roentgen akan menunjukkan bayangan radiolusen tanpa struktur jaringan paru
(avascular pattern) dengan batas paru berupa garis radioopak tipis berasal dari pleura viseral. Jika
pneumothorax luas, akan menekan jaringan paru ke arah hilus atau paru menjadi kolaps di daerah
hilus serta pendorongan mediastinum kea rah kontralateral, dan sela iga menjadi lebih lebar.

3.1.8 Tatalaksana
Tatalaksana pneumothoroax tergantung dari jenis pneumothorax itu sendiri. Pada
pneumothorax traumatik biasanya dilakukan pemasangan water seal drainage yaitu plastik tabung
fleksibel yang dimasukkan melalui bagian samping dada ke ruang pleura. Kontraindikasi dari
pemasangan WSD sendiri terdiri atas koagulopati, hernia diafragma, dan adhesi rongga pleura.
Tepat pemasangannya sendiri terletak di bawah aksila yang berada di garis horizontal setingkat
putting susu dan dua otot-otot dinding dada (Latisimus dorsi dan pectoralis mayor). Pada
pneumothorax spontan digunakan tabung yang berukuran 14 FG sedangkan pad pneumothorax
traumatik digunakan tabung berukuran 28FG.
Setelah dilakukan WSD biasanya dilakukan follow up dengan cara undulasi untuk melihat
pergerakan cairan di dalam selang sesuai irama pernapasan, gelembung udara yang terlihat dalam
botol WSD, warna dan jumlah cairan yang keluar dalam 24 jam, dan foto rontgen dada ulang.

BAB 3
Kesimpulan

Pneumotorax adalah kumpulan dari udara atau gas dalam rongga pleura dari dada antara
paru-paru dan dinding dada, hal ini dapat menganggu proses respirasi dan menimbulkan gejala
klinis seperti sesak nafas, nyeri dada, pernafasan cepat dan peningkatan denyut jantung.
Pneumothorax dapat terjadi secara spontan maupun traumatik. Pneumothorax spontan sendiri
dapat bersifat primer maupun sekunder.
Dalam penegakkan diagnosis pneumothorax dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis
dan dikonfirmasi kembali dengan pencitraan medis. Hasil foto roentgen akan menunjukkan
gambaran:
1. Bayangan radiolusen tanpa struktur jaringan paru
2. Tampak batas paru berupa garis radioopak tipis berasal dari pleura viseral
3. Gambaran paru kolaps
4. Pendorongan mediastinum ke arah kontralateral
5. Pelebaran sela iga
Pada prinsipnya, penanganan pneumotoraks berupa observasi dan pemberian O2 yang
dilanjutkan dengan dekompresi. Pada pneumothorax sekunder diperlukan proses medikasi untuk
menyingkirkan penyebab utama dari munculnya pneumothorax.
Daftar Pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke system. Jakarta: EGC; 2012. P. 497-549.
2. Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus,Simadibrata. Setiati, Siti.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II.Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu PenyakitDalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 1625-49.
3. Gorrochategui M et al. Pneumothorax. Available at:
https://radiopaedia.org/articles/pneumothorax. Acessed on May 28th 2017.
4. Sahn SA, Heffner JE. Spontaneous pneumothorax. N Eng J Med. 2000;342:868-74.
5. Bascom R. Pneumothorax. 2006. Available from:
http://www.emedicine.com/med/fulltopic/topic1855.htm#section~Introduction.
6. Daley BJ. Pneumothorax. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/424547-overview#a4.
7. Sharma A, Jindal P. Principles of diagnosis and management of traumatic
pneumothorax. 2008:1;34-41.
8. Rasad S. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2016.