Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI CASEIN


Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Praktikum Biokimia
Yang Dibimbing Oleh Bapak Muntholib

Oleh Kelompok : 5
Nama Anggota Kelompok
1. Abdul Fattah Noor (150351605470)
2. Fithria Nur R. (150351604211)
3. Lilis Eka Herdiana (150351604962)
4. Savira Mahdia (150351608353)
5. Septi Putri Ayu (150351600451)

Offering B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
Hari, Tanggal Percobaan : Jumat, 27 Oktober 2017
A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengisolasi protein dari susu
2. Menguji protein secara kualitatif

B. ALAT DAN BAHAN


 Alat :
1. Water bath
2. Corong
3. Kertas saring
4. Beaker glass 2
5. Batang pengaduk
6. Gelas ukur
7. Pipet tetes
8. Termometer
9. Indikator pH
 Bahan :
1. Susu sapi murni
2. Etanol 95%
3. Campuran dietil eter-etanol
4. Asam asetat glasial
MSDS
1. Etanol 95%

Iritasi pada mata, saluran pencernaan dan


pernapasan.Jika terkena mata dan kulit bilas
dengan air bersih yang banyak.

2. Campuran dietil eter-etanol

Iritasi pada mata, saluran pencernaan dan


pernapasan.Jika terkena mata dan kulit segera bilas
dengan air bersih yang banyak.

3. Asam asetat glasial

Iritasi pada mata, saluran pencernaan dan


pernapasan.Jika terkena mata segera bilas dengan
air bersih yang banyak.
C. PROSEDUR PERCOBAAN
No. Prosedur AnalisisProsedur
1. Pengendapan casein
50 gram susu

- Dimasukkan 50 gram susu ke


dalam beaker glass
- Dipanaskan dalam water bath -agar terbentuk endapan pada susu
- Diaduk larutan secara konstan -agar panas susu ketika dipanaskan
dengan menggunakan batang merata
pengaduk.
- Dikeluarkan beaker glass dari -jika temperatur atau suhu melebihi
water bath, saat temperatur 40°C susu akan mengalami
water bath mencapai 40°C denaturasi.
- Ditambahkan dengan 10 tetes -penambahan asam asetat glasial
asam asetat glasial sambil berguna untuk mengasamkan pH
diaduk dari susu, namun jika pH susu 5
maka tidak usah ditambahkan
dengan asam asetat glasial.
- Diamati bentuk endapannya
Hasil
No. Prosedur AnalisisProsedur
2. Filtrasi casein
Campuran dari hasil pegendapan
casein
- Disaring campuran ke dalam 100 -agar dapat dipisahkan
mL glass beaker dengan jalan endapannya dengan air pada
dialirkan melalui kertas saring yang susu
ada pada corong kaca.
- Dihilangkan air dengan cara -diperas kertas saring dengan
perlahan. perlahan agar bisa
dipisahkan airnya dan
kertas saring tidak rusak
- Dipindahkan filtrat ke dalam
beaker.
- Disisihkan endapan dari kertas
saring ke dalam botol kosong
dengan menggunakan spatula atau
pengaduk
- Ditambahkan 25 mL etanol 95% ke -Dengan penambahan etanol
dalam botol yang berisi endapan. 95% untuk mengikat lemak
- Diaduk selama 5 menit sehingga
terbentuk padatan.
-dituangkan cairan yang berisi
lemak ke dalam beaker glass secara
hati-hati kemudian dibuang ke
dalam kontainer sampah.
- ditambahkan 25 mL larutan dietil
eter-etanil ke dalam residu yang
didapat
-diaduk selama 5 menit
-dikumpulkan padatan dengan
menggunakan penyaring.
-disebarkan casein pada kertas saring -dibiarkan kering agar
dan dibiarkan kering kandungan air hilang
sehingga casein dapat
ditimbang beratnya
-Ditimbang berat casein kemudian
dihitung pesentase casein susu dan
dicatat hasilnya
Hasil
D. DASAR TEORI
1. Isolasi protein dari susu
Susu merupakan makanan alami yang paling lengkap kandungan
nutrisinya.Susu memiliki struktur yang sangat kompleks (terdiri lebih dari
100.000 molekul yang berbeda). Komposisi yang diperkirakan dalam susu adalah:
a) 87.3% air (sekitar 85,5%-88,7%)
b) 3,9% lemak susu (sekitar 2,4%-5,5%)
c) 8,8% padatan bukan lemak (sekitar 7,9%-10,0%), yaitu: protein 3,25%
(¾ kasein) laktosa 4,6%
d) mineral 0,65 % yaitu: Ca, sitrat, P, Mg, K, Na, Zn, Cl, Fe, Cu, sulfat,
bikarbonat, dan banyak lainnya.
e) asam 0,18% misalnya asam sitrat, format, asetat, laktat, oksalat.
f) enzim-enzim, misalnya peroksidase, katalase, fosfatase, lipase.
g) gas-gas, misalnya oksigen, nitrogen.
h) vitamin-vitamin, misalnya vitamin A, C, D, tiamin, riboflavin dan
lainnya.
Seperti halnya asam amino, protein susu (kasein) juga bersifat amfoter.
Protein dalam susu mencapai 3,25%. Struktur primer terdiri dari rantai polipeptida
dari asam-asam amino yang disatukan ikatan-ikatan peptida (peptida
linkages).Protein juga memiliki pH isoelektrik tertentu.pH isoelektrik merupakan
suatu nilai pH dimana jumlah muatan listrik positif sama dengan muatan
negatifnya. Pada pH tersebut, protein tidak bermuatan positif maupun negatif,
sehingga dapat membentuk agregat (gumpalan-gumpalan yang keruh) dan
mengendap, karena sebagian protein menunjukkan kelarutan yang minimal pada
pH isolektriknya. Sifat inilah yang akan digunakan untuk memisahkan atau
mengisolasi kasein dari susu. Protein susu memiliki protein-protein spesifik. Salah
satunya adalah kasein(Winarno 1993).
Kasein berasal dari bahasa latin yaitu caseine yang berasal dari
kata caesus yaitu keju. Kasein adalah zat yang digunakan sebagai stabilisator
emulsi air susu. Kasein merupakan proteida fosfor yang dijumpai dalam endapan
koloida air susu. Kasein merupakan hasil pengolahan susu yang larut dalam
larutan alkali dan asam pekat, mengendap dalam asam lemak serta tidak larut
dalam air(Silalahi, 2006).
Kasein merupakan komponen protein terbesar dalam susu dan sisanya
berupa whey protein. Kadar protein pada protein susu mencapai 80%. Kasein
merupakan salah satu komponen organic yang berlimpah dalam susu bersama
lemak dan laktosa .Casein tidak larut pada titik isoelektriknya, pH 4,6 tapi setelah
pH susu mendekati 7,0, casein ada sebagai garam, Calsium Caseinate. Casein
bukan protein tunggal tapi dalam bentuk grup, yang terdiri atas 3 atau lebih
protein. Protein ini dinamakan α, β, κ dan λ. Dalam kondisi asam (pH rendah),
kasein akan mengendap karena memiliki kelarutan (solubility) rendah pada
kondisi asam (Shiddieqy, 2004).
Kasein tersuspensi dalam susu dalam kompleks yang disebut misel.
Kandungan fosfat yang tinggi pada kasein terkait dengan garam kalsium fosfat
sehingga susu menjadi sumber kalsium dalam diet. Kappa kasein terdapat pada
bagian luar misel.

Kasein mengandung S yang terdapat dalam methionin dan cystein. Kasein


merupakan campuran tiga jenis protein yaitu : -kasien, (75 %), -kasein (3 %)
dan  -kasein (22%). Kasein dalam susu merupakan partikel kompleks atau
berupa misel yang terdiri atas Ca, P anorganik, Mg, dan sutrat selain protein
kasein. Senyawa kompleks ini sering disebut “Kalsium Caseinat Phosphat
kompleks”(Poedjiadi,2006).
Kasein penting dikonsumsi karena mengandung komposisi asam amino
yang dibutuhkan tubuh. Dalam kondisi asam (pH rendah), kasein akan mengendap
karena memiliki kelarutan (solubility) rendah pada kondisi asam. Susu adalah
bahan makanan penting, karena mengandung kasein yang merupakan protein
berkualitas juga mudah dicerna (digestible) saluran pencernaan.
Protein dalam kasein terususun oleh rantai-rantai peptide jika mengalami
hidrolisis akan menjadi disakarida seperti berikut:

Dalam isolasi, kasein larut dalam air, alkohol dan eter namun tidak larut
dalam etanol, senyawa alkali dan beberapa larutan asam(Poedjiadi,2006).
Dalam keadaan murni, kasein berwarna putih seperti salju, tidak berbau,
dan tidak mempunyai rasa yang khas.Kasein murni tidak larut dalam air dingin
dan garam netral. Kasein terdispersi dalam air panas, basa, dan garam basa seperti
natrium asetat, dan natrium oksalat. Kasein dapat diendapkan oleh asam, enzim
rennet, dan alkohol. Selain penambahan asam, pengendapan kasein susu juga
dilakukan dengan penambahan renin, yaitu suatu enzim proteolitik yang diperoleh
dari induk sapi betina. oleh karena itu, susu dapat dikoagulasikan (digumpalkan)
oleh asam yang terbentuk di dalam susu sebagai aktivitas dari mikroba(Yuniwati,
2008).
Protein susu dapat dikoagulasikan dengan asam (asam organik). Asam
yang sering digunakan dalam pembuatan beberapa varietas adalah asam laktat dan
asam asetat. Pengaruh utama pengasaman adalah penurunan pH susu
yangmenyebabkan lepasnya ion kalsium dari kalsium kaseinat karena
tersedianyaion H+ yang semakin meningkat sehingga dapat memecah senyawa
kalsiumfosfat sebagai berikut

Adapun reaksi pengendapan dengan cara pengasaman sebagai berikut :


H2NR-COO- + H+ → +
H3NR-COO (R, kasein protein)
Kasein misel Kasein asam
(pH = 6,6) (pH = 4,6)
Koloid dispersi Partikel tidak larut
Pecahnyasenyawakalsiumfosfatmenyebabkanstabilitaskaseingoyahsehingga
terjadi koagulasi. Koagulasi kasein disebut sempurna apabila titikisoelektris
tercapai pada pH 4,6-4,7 (Yuniwati, 2008).
Berdasarkan literatur, protein dalam susu mencapai 35 gram dalam setiap
liter susu sapi. Berdasarkan literatur jika dalam setiap 100 liter sampel terdapat
35 gram kasein. Jikalau sampel yang digunakan adalah sebanyak 50 ml, ini berarti
bahwa bobot kaseinnya adalah seharusnya sebanyak 1,75 gram. Untuk
perhitungan persentase kasein dalam dalam susu sapi murni adalah sebagai
berikut.
Kadar protein pada susu adalah 3,25 %, jadi kadar protein dari susu sapi
tersebut adalah 3,25 % x 100,98 g = 3,28 g. sedangkan kadar kasein adalah ¾
dari kadar protein tersebut, jadi kadar kaseinnya ¾ x 3,28 g = 2,46 g.
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
% 𝑐𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = × 100 %
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑢𝑠𝑢 𝑠𝑎𝑝𝑖 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖
2,46 𝑔
% 𝑐𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = × 100 %
100,98 𝑔
% 𝑐𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = 2,4375 %
Jadi, kadar kasein dari susu sapi murni menurut teori adalah 2,4375 %.

2. Analisis kimiawi protein


Uji kualitatif protein dapat dilakukan berdasarkan uji warna atau melalui
ujiendapan.Uji warna meliputi Ninhidrin, Biuret, Reduksi Sulfur,
Xantroprotein, dan Millon Nasse. Sedangkan untuk uji pengendapan biasanya
menggunakan garam logam(Elizabeth, 2010).
1. Uji Biuret
Pada uji biuret, ketika beberapa tetes larutan CuSO4 yang sangat encer
ditambahkan pada alkali kuat dari peptida atau protein dihasilkan warna ungu,
adalah test yang umum untuk protein dan diberikan oleh peptida yang berisi
dua atau lebih rantai peptida.Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida
yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi
Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn
peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna
ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau
lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida (Routh, 1969).

2. Tes Ninhydrin
Uji Ninhidrin terjadi apabila ninhidrin dipanaskan bersama asam amino maka
akan terbentuk kompleks berwarna. Asam amino dapat ditentukan secara
kuntitatif dengan jalan menggunakan intensitas warna yang terbentuk
sebanding dengan konsentrasi asam amino tersebut.Pada reaksi ini dilepaskan
CO2 dan NH4 sehingga asam amino dapat ditentukan secara kuantitatif dengan
mengukur jumlah CO2 dan NH3 yang dilepaskan.Prolin dan hidroksi prolin
menghasilkan warna kompleks yang berbeda warnanya dengan asam amino
lainnya.Kompleks berwarna yang terbentuk mengandung dua molekul
ninhidrin yang bereaksi dengan ammonia yang dilepaskan pada oksidasi asam
amino.Hasil uji positif pada uji ninhidrin diberikan pada asam amino yang
mengandung asam α-amino dan peptida yang memiliki gugus α-amino yang
bebas.
3. Uji Pengendapan dengan Logam
Pada pH di atas titik isoelektrik protein bermuatan negative, sedangkan di
bawah titik isoelektrik protein bermuatan positif.Olehkarena itu untuk
mengendapkan protein dengan ion logam diperlukan pH larutan di atas titik
isoelektrik, sedangkan untuk pengendapan protein dengan ion negative
memerlukan pH larutan di bawah titik isoelektrik. Ion- ion positif yang dapat
mengendapkan protein adalah Ag+, Ca2+, Zn2+, Hg2+,Pb2+,Cu2+,Fe2+. Sedangkan
ion-ion negative yang dapat mengendapkan protein adalah ion salisilat,
trikloroasetat, pikrat, tanat dan sulfosalisilat(Riawan, 1990).

4. Uji Xanthoprotein
Uji xantoprotein dapat digunakan untuk menguji atau mengidentifikasi adanya
senyawa protein karena uji xantoprotein dapat menunjukan adanya senyawa
asam amino yang memiliki cincin benzene seperti fenilalanin, tirosin, dan
tripofan. Langkah pengujianya adalah larutan yang diduga mengandung
senyawa protein ditambahkan larutan asam nitrat pekat sehingga terbentuk
endapan berwarna putih. Apabila larutan tersebut mengandung protein maka
endapat putih tersebut apabila dipanaskan akan berubah menjadi warna
kuning.
E. DATA PERCOBAAN
1. Berat susu : 50,858 gram
2. Berat kasein kering : 3,2 gram
3. Persen kasein pada susu : 6,29 %
4. Berat kertas saring : 0,479 gram

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔


% 𝐾𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = × 100%
50,858 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑢𝑠𝑢
3,2 𝑔𝑟𝑎𝑚
% 𝐾𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = × 100%
50,858 𝑔𝑟𝑎𝑚
% 𝐾𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = 6,29%

F. ANALISIS DATA
Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat dilakukan analisis sebagai
berikut.Pembuatan kasein yang dilakukan dalam percobaan ini dengan
menggunakan susu sapi murni, yang dibeli langsung ke pedagang susu murni.
Pada pengendapan kasein dilakukan dengan memanaskan susu sapi
sebanyak 50 ml atau 50,858 gram dalam air panas pada water bath sampai 40oC.
Pada dasarnya kasein merupakan protein yang stabil terhadap pemanasan dan
tidak mengalami denaturasi apabila air susu dipanaskan.Setelah dipanaskan
ditambahkan 10 tetes asam asetat glasial sambal di aduk. Kemudian diamati
endapan yang ada pada susu tersebut.
Kemudian dilakukan filtrasi kasein, dilakukan pnyaringan campuran
kasein dengan asam asetat glasial tadi ke dalam glass beaker dengan
menyaringnya dengan kertas saring. Air dihilangkan atau dipisahkan dengan cara
meremas kertas saring dengan lembut. Setelah itu filtrat dipindahkan ke dalam
beaker kosong dengan menggunakan spatula.
Setelah itu menambahkan 25 mL etanol 95% untuk memisahkan lemak
pada kasein ke dalam glass beaker lalu mengaduknya selama 5 menit sehingga
terbentuk padatan.Selanjutnya menuangkan cairan hasil campuran tadi ke dalam
glass beaker kosong secara hati-hati.
Selanjutnya menambahkan 25 mL larutan dietil eter-etanol ke dalam
residu yang didapat.Padatan yang terbentuk dikumpulkan dengan menggunakan
kertas saring, berat kertas saring yang digunakan adalah 0,479 gram. Dan
menunggu hingga kering dan diperoleh kasein kering sebanyak 3,2 gram sama
dengan 6,29%. Dengan perhitungan sebagai berikut.

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔


% 𝐾𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = × 100%
50,858 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑢𝑠𝑢
3,2 𝑔𝑟𝑎𝑚
% 𝐾𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = × 100%
50,858 𝑔𝑟𝑎𝑚
% 𝐾𝑎𝑠𝑒𝑖𝑛 = 6,29%
G. PEMBAHASAN
Pembuatan kasein yang dilakukan dalam percobaan ini dengan
menggunakan susu sapi murni.
Perlakuan pertama pengendapan kasein dilakukan dengan memanaskan
susu sapi dalam air panas sampai 40°C. Pemanasan ini bertujuan untuk
menurunkan kelarutan protein sehingga dapat mengendapkan protein susu pada
kondisi yang sesuai atau pemanasan ini dapat menyebabkan denaturasi rusaknya
struktur protein sehingga mempercepat pengendapan protein. Tapi pemanasan
pada suhu ini, kasein tidak mengalami pengendapan. Pada dasarnya kasein
merupakan protein yang stabil terhadap pemanasan dan tidak mengalami
denaturasi apabila air susu dipanaskan. Tapi pemanasan ini akan mengubah
stabilitas kasein dan menyebabkan kasein nantinya mudah dilakukan
pengendapan.
Disamping itu kita melakukan pemanasan larutan buffer. Dimana larutan
buffer yang digunakan adalah campuran asam asetat (25 ml) dengan natrium
asetat (25 ml), dengan perbandingan 1 :1.
Lalu menambahan larutan buffer tersebut pada susu setelah pemanasan
setetes demi setetes sampai kasein mengendap. Penambahan asam mengakibatkan
penambahan ion H+ sehingga akan menetralkan protein dan menuju tercapainya
pH isoelektrik. Pada titik isoelektris ini kasein bersifat hidrofobik, kasein akan
berikatan antar muatannya sendiri membentuk lipatan ke dalam sehingga terjadi
pengendapan yang relatif cepat.
Penambahan larutan buffer pada susu yang telah dipanaskan berarti
menambahkan konsentrasi dari ion H+ yang kemudian akan mengadakan reaksi
dengan muatan negatif protein yang berasal dari gugus hiroksil bebasnya.
Semakin banyak konsentrasi H+ yang ditambahkan maka semakin banyak pula
penurunan pH dari susu sehingga titik isoelektriknya semakin dekat. Apabila pH
isoelektrik sudah tercapai maka muatan yang saling berlawanan akan saling
menetralkan sehingga akan terbentuk gumpalan. Titik isoelektris kasein pH 4,6 –
5,0 dan pada titik ini kasein mudah sekali mengendap. Dalam kondisi
asam atau pH yang rendah, kasein akan mengendap karena memiliki
kelarutan yang rendah pada kondisi asam.
Penambahan asam dapat menghilangkan muatan listrik dari partikel kasein
karena asam akan mengikat kalsium dan kalsium kaseinat, sehingga kasein
menjadi terlepas dan terbentuk endapan.
Adapun reaksi pengendapan dengan cara pengasaman sebagai berikut :
H2NR-COO- + H+ → +H3NR-COO (R, kasein protein)
Kasein misel Kasein asam
(pH = 6,6) (pH = 4,6)
Koloid dispersi Partikel tidak larut
Larutan dan endapan yang terbentuk ini disaring dengan menggunakan
kertas saring untuk memisahkan endapannya.Didapatkan endapan kasein yang
berwarna putih.Endapan yang terbentuk disuspensi dengan menggunakan etanol
95%. Hal ini bertujuan karena kasein tidak larut dalam etanol, maka dapat untuk
memisahkan kasein dengan protein lain sehingga diperoleh hanya kasein saja.
Protein selain kasein akan melarut sedangkan kasein tetap berbentuk endapan
yang tidak dapat melarut. Seperti yang telah diketahui pada susu sapi mengandung
protein mencapai 3,25% di mana 82% protein susu adalah kasein dan 18% adalah
serum atau protein whey. Jadi sangat mungkin saat pengendapan dengan asam,
protein lain selain kasein ikut mengendap.
Selanjutnya mendekantasi larutan, hal ini bertujuan untuk memisahkan
endapan dengan larutannya.
Endapan yang diperoleh disuspensi kembali dengan campuran etanol dan
dietileter dengan perbandingan 1:1. Hal ini bertujuan untuk memisahkan lemak
dari endapan kasein di mana lemak akan ikut melarut bersama dengan dietileter,
hal ini karena eter dan lemak memiliki sifat kepolaran yang tidak berbeda jauh.
Sedangkan etanol akan melarutkan protein atau senyawa lain selain kasein
sedangkan kasein masih berada dalam bentuk endapannya karena kasein tidak
larut dalam etanol sehingga akan diperoleh kasein yang lebih murni. Selanjutnya
mengambil kertas saring yang berisi produk untuk di keringkan
Berdasarkan hasil percobaan dari 50,858 gram yang digunakan dalam
percobaan, diperoleh kadar kasein dalam sampel susu sapi sebesar 3,2 gram /
6,29% Kasein yang diperoleh dari dalam susu sapi murni. Hal ini hampir sesuai
dengan literatur. Berdasarkan literatur, protein dalam susu mencapai 35 gram
dalam setiap liter susu sapi. Berdasarkan literatur jika dalam setiap 100 liter
sampel terdapat 35 gram kasein.
H. KESIMPULAN

1. Percobaan isolasi kasein ini menggunakan pengasaman oleh asam


asetat untuk mengendapkan kasein.
2. Pemisahan kasein dengan protein lain dapat menggunakan etanol, di mana
kasein tidak larut dalam etanol sehingga tetap berada sebagai endapan
sedangkan protein lain akan melarut.
3. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh kadar kasein dalam sampel susu
sapi yang digunakan sebesar 3,2 gram / 6,29%
I. DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth, Kristiani. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia. Salatiga: UKSW.

Pudjianti,Ana. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta:UI Press

Ridwan, S. 1990. Kimia Organik edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara

Routh, J.I, 1969, Essential Of General Organic And Biochemistry, W.B.


Philadelphia : Sounders Company.

Shiddieqy, 2004.Biokimia Untuk Universitas.Jakarta : UI Prees

Silalahi, Jansen.2006.Makanan Fungsional. Yogjakarta: Kanisius.

Winarno, F.G. 1993. Pangan gizi dan konsumen. Jakarta: Gramedia pustaka
utama

Yuniwati, M., Yusran dan Rahmadany. 2008. Pemanfaatan Enzim


Papain Sebagai Penggumpal Dalam Pembuatan. Yogyakarta: Seminar
Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi IST AKPRIND.
J. LAMPIRAN