Anda di halaman 1dari 19

SYARAT TEKNIS

PEMBUATAN PAGAR
PERMANEN KANTOR INDUK

1.1 PERSYARATAN UMUM PELAKSANAAN


1.1.1 Peraturan yang berlaku

Untuk pelaksanaan pekerjaan ini digunakan ketentuan-ketentuan


peraturan seperti yang tercantum dibawah ini :

a. Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 45 Tahun 2007.

b. Keputusan Presiden Rl. No. 4Tahun 2015.

c. Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah RI


Nomor: 339/KPTS/M/2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi oleh
Instansi Pemerintah.

d. Instruksi Presiden Rl. No. 1 Tahun 1988.

e. Aigemene voorwearden voor de uitvoering bij aaneming van


openbare warken, yang disahkan dengan Surat Keputusan -
Pemerintah Hindia Belanda nomor 28 tanggal 9 Mei 1941dan
tambahan lembaran Negara nomor 14571 (khusus pasal-pasal yang
masih berlaku).

f. SNI 1728-1989; SKBI 1.3.53.1989, tentang tata carapelaksanaan


mendirikan bangunan gedung.

g. SNI 03-1734-1989; SNI 03-1734-189-F, tentang tata caraperencanaan


beton bertulang dan struktur dinding betonbertulang untuk rumah
dan gedung.

h. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 1977 (oleh Yayasan


Normalisasi Indonesia).

i. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah Setempat.

j. Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

k. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 031/KPTS/1981.

l. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 02/KPTS/1981 :


tentang penanggulangan bahaya kebakaran.

m. Surat Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah RI.


Nomor 332/KPTS/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002 Tentang

1
Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

n. Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan tertulis yang


diberikan pengawas pekerjaan untuk mencapai tujuan -
pembangunan.
Apabila ternyata terdapat revisi terakhir dari peraturan-peraturan
tersebut diatas, maka revisi terakhir yang menjadi acuan dalam
pelaksanaannya.Demikian pula apabila bertentangan dengan
Spesifikasi Teknik berikut ini maka yang berlaku adalah Spesifikasi
atau berdasarkan keputusan Direksi Pengawas.

1.1.2 Kualitas Bahan dan Pekerjaan


a. Kualitas Pekerjaan harus dari tingkat yang prima dan hasil kerja
harus memberikan penampilan dan kesan yang rapi dan baik.
b. Untuk itu tenaga kerja kerja yang digunakan berpengalaman
(pada pekerjaan serupa terampil dan cakap).
c. Material yang digunakan adalah KW.1 atau Grade 1 untuk semua
item pekerjaan.
d. Spesifikasi material yang akan digunakan terlebih dahulu
disampaikan kepada direksi/konsultan pengawas dengan
memperlihatkan brosur/keterangan yang menjelaskan kualitas
bahan tersebut.
e. Material yang ditolak oleh direksi/konsultan pengawas harus
diangkat keluar dari lapangan saat itu juga.
f. Apabila diperintahkan oleh Direksi, Kontraktor harusmembuat
pembukaan/pembongkaran pada pekerjaan dan/atau bahan agar
dapat diadakan pemeriksaan.
g. Apabila dalam pemeriksaan itu Direksi menemukankesalahan,
kerusakan atau cacat-cacat lain, Kontraktor harus segera
membongkar dan memperbaikinya sampai pada kondisi yang
sesuai dengan spesifikasi ini,dan harus memikul biaya yang
diperlukan untuk pembukaan/pembongkaran pemeriksaan dan
perbaikan tersebut.

1.1.3 Pemeriksaan Pekerjaan dan Pengamanan

a. Peralatan Pelaksanaan.

1) Kontraktor harus mengadakan dan menyiapkan semua


peralatan pelaksanaan yang diperlukan dalam jumlah yang
cukup dan kondisi yang baik dan siap pakai, agar terjamin
adanya kualitas pekerjaan yang baik dan memenuhi
2
persyaratan dan laju pekerjaan yang memadai hingga seluruh
pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu yang tepat seperti
ditentukan dalam pelelangan.

2) Apabila ternyata peralatan yang digunakan menurut pendapat


Direksi tidak efisien pengoperasiannya atau tidak sesuai
kegunaannya atau jumlahnya kurang, hingga mutu pekerjaan
yang dihasilkan tidak sesuai dengan persyaratan atau laju
pekerjaannya tidak memadai, Direksi berhak memerintahkan
Kontraktor untuk mengganti atau menambah peralatan
dimaksud.

3) Kegagalan Direksi dalam perintahnya pada Kontraktor tidak


membebaskan Kontraktor dari tanggung jawab atas pemenuhan
kualitas pekerjaan dan laju pekerjaan seperti yang diuraikan
dalam Dokumen Kontrak.

b. Perlindungan terhadap Bangunan dan Utilitas.

1) Kontraktor bertanggung jawab atas perlindungan terhadap


semua bangunan dan utilitas, baik milik pribadi maupun milik
negara/masyarakat termasuk semua sarara dan prasarananya,
baik yang tertera dalam gambar maupun tidak.
2) Kontraktor harus mengambil langkah -Iangkah yang dianggap
perlu untuk melindungi bangunan dari utilitas tersebut dari
segala macam kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat
kegiatan-kegiatan pelaksanaan oleh Kontraktor harus diperbaiki
oleh dan atas beban biaya Kontraktor, sesuai dengan kondisi
sebelumnya.
3) Dalam hal terjadi kerusakan, Kontraktor wajib segera
memberitahu pemilik bangunan dan utilitas agar diperoleh
kesepakatan tentang perbaikannya.
4) Kontraktor bertanggung jawab untuk memperoleh informasi
semua bangunan dan jaringan utilitas yang terletak didalam
tanah. Prasarana yang ada disekitar dan diperlukan oleh
bangunan dan utilitas harus dijaga agar tetap berfungsi.
5) Kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat kegiatan pelaksanaan
oleh Kontraktor, harus diperbaiki oleh dan atas beban biaya
Kontraktor sesuai dengan kondisi sebelumnya.

c. Penjagaan dan Pemeliharaan.

Untuk tahap pekerjaan yang telah selesai, Kontraktor bertanggung


jawab atas penjagaan, perlindungan dan pemeliharaannya, seperti
pekerjaan permukaan bagian dalam/luar, perlengkapan peralatan
dan lain-Iainnya dari segala macam bentuk noda/kotoran,

3
kerusakan dan cacat lainnya selama masa Kontrak berlangsung
sampai pada saat pekerjaan diserahkan untuk kedua kalinya
kepada pemilik. Persyaratan dan ketentuan khusus dibawah ini
harus dianggap sebagai standar kondisi akhir pekerjaan pada saat
penyerahan I (pertama) :
1) Halaman Bangunan
Setelah pekerjaan selesai, kecuali Direksi berpendapat lain,
Kontraktor harus membongkar semua bangunan sementara,
peralatan pelaksanaan, mesin-mesin kelebihan bahan, puing-
puing dan kotoran-kotoran lain dari halaman bangunan.
Kontraktor harus membuang bahan-bahan zat- zat organik yang
berada di dalam dibawah dan sekitar bangunan dan melakukan
desinfektan terhadap dan bekas-bekasnya. Halaman bangunan
harus diserahkan dalam kondisi yang rapi dan memuaskan.
2) Permukaan Beton
Kontraktor harus membersihkan secara cermat semua
permukaan beton, serta ceceran adukan, noda-noda bekas
bocoran pada beton bekas - bekas bekisting, ceceran aspal, cat
dan lain-lain kotoran.
3) Pemeriksaan, Penyediaan Bahan dan Barang
Bila dalam rencana kerja dan syarat-syarat disebutkan nama
dan pabrik pembuatan dari suatu bahan dan barang, maka hal
ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahan dan barang yang
digunakan setiap penggantian sesuai nama bahan dan pabrik
pembuatan dari suatu bahan dan barang tersebut yang telah
disetujui oleh Konsultan Perencana. Bila tidak ditentukan
dalam rencana kerja dan syarat-syarat serta gambar kerja,
maka bahan dan barang tersebut diusahakan dan disediakan
oleh Kontraktor yang harus mendapat persetujuan dari
pemberi tugas. Contoh bahan dan barang yang akan digunakan
dalam pekerjaan harus disediakan atas biaya Kontraktor,
Setelah disetujui pemberi tugas atau direksi dan dianggap
bahwa bahan dan barang tersebut yang akan dipakai dalam
pelaksanaan pekerjaan nanti. Contoh bahan dan barang
tersebut, disimpan oleh Direksi atau pemberi tugas untuk
dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan dan barang yang
dipakai tidak sesuai kualitas maupun sifatnya.Dalam pengajuan
harga penawaran, Kontraktor/Pelaksana harus sudah
memasukan jumlah keperluan biaya untuk pengajuan berbagai
bahan dan barang.Tanpa mengingat jumlah tersebut
Kontraktor/Pelaksana tetap bertanggung jawab pula atas biaya
pengujian bahan dan barang yang tidak memenuhi persyaratan

4
yang dibuat oleh Pemberi Tugas/Direksi Pengawas.

d. Persyaratan-persyaratan lain.

1) Catatan dan Laporan


Kontraktor harus selalu menjaga kelengkapan catatan dalam
buku Direksi yang sesuai dengan pelaksanaan dan memperoleh
persetujuan Direksi.Semua catatan yang berhubungan dengan
pekerjaan selalu harus disiapkan untuk Direksi. Dan satu set
copy gambar lengkap dan spesifikasi harus selalu tersimpan di
direksi keet. Kontraktor juga harus membuat buku tamu yang
akan melaporkan tentang keperluan tamu proyek tersebut.
Laporan harian berisi jumlah tenaga kerja, material yang
masuk, item pekerjaan yang dikerjakan, kondisi cuaca waktu
kerja.Semua Laporan diatas diserahkan kepada Direksi pada
hari senin setiap minggunya.

2) Gambar sesuai Pelaksanaan (As Built Drawing )


Semua yang belum terdapat dalam gambar kerja karena
perubahan atas perintah Pemberi Tugas/Direksi, maka
Kontraktor wajib membuat gambar kerja (shop drawing).
Selanjutnya sebelum penyerahan I (pertama) pekerjaan,
Kontraktor bekeja sama dengan Konsultan Pengawas membuat
gambar hasil pelaksanaan pekerjaan (as built drawing) guna
memperlihatkan dan menyerahkan kepada Direksi, tentang
perbedaan – perbedaan antara gambar kerja dan hasil
pelaksanaan pekerjaan. Gambar tersebut harus diserahkan
dalam rangkap 3 ( tiga ).

3) Foto- foto Mengenai Kemajuan Pekerjaan


Kontraktor harus mengambil foto lapangan sebelum pekerjaan
dimulai (0 %).Selanjutnya saat akan mengajukan pembayaran
angsuran berkala (terminj) penyerahan I (pertama) dan
penyerahan II (kedua) Kontraktor wajib melampiri foto-foto
kondisi kemajuan pekerjaan di lapangan. Arah pengambilan toto
untuk setiap kemajuan pekerjaan harus sama. Foto-foto ini
hendaknya dicetak berwarna 3 (tiga) rangkap dan diserahkan
kepada Direksi dalam bentuk album.

4) Keamanan Proyek

Kontraktor harus menjaga keamanan proyek untuk memberikan


perlindungan dan pengamanan atas semua bahan,
perlengkapan, peralatan dan pekerjaan yang ada di dalam batas
areal proyek dan sekitarnya yang menjadi tanggungjawabnya,
terhadap semua bentuk kerusakan gangguan atau kerugian yang
dilakukan oleh orang-orang atau pihak-pihak tidak berwenang.

5
Untuk mempermudah pelaksanaan pengamanan, Kontraktor
harus membuat gudang penyimpan bahan, perlengkapan dan
peralatan sesuai dengan petunjuk Direksi. Untuk pengawasan
dan penjagaan keamanan, Kontraktor harus menugaskan
penjaga gudang dan petugas keamanan yang memadai dan harus
melakukan penjagaan terus menerus selama 24 jam setiap hari.

5) Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)


Kontraktor harus menyediakan semua fasilitas P3K yang
mencakup obat-obatan, peralatan medis dan tenaga para medis
(sewaktu dibutuhkan) untuk memberikan pertolongan pertama
kepada personil Kontraktor, dan semua yang terlibat dalam
pekerjaan.Dalam hal pengamanan P3K Kontraktor harus
mengikut, semua ketentuan dan peraturan yang berlaku tentang
Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta petunjuk Direksi.

6) Papan Nama Kegiatan


Papan nama kegiatan dipasang ditempat strategis dengan
ukuran panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter. Tulisan dibuat
dengan huruf cetak yang jelas dan mudah dibaca Dalam papan
nama proyek harus jelas tercantum Nama Kegiatan, Pekerjaan,
Pemilik Proyek, Sumber Dana Konsultan Perencana, Konsultan
Pengawas serta Kontraktor Pelaksana, Pekerjaan Dimulai dan
Masa Pekerjaan Berakhir serta penjelasan lain yang diperlukan
dengan Jenis Huruf yang akan ditentukan Direksi.

7) Pengukuran Prosentase Kemajuan Pekerjaan dan Pembayaran


(a) Pengukuran untuk pekerjaan-pekerjaan yang tercakup
dalam persyaratan teknis ini ditentukan berdasarkan
ketentuan seperti ditunjukan dalam Spesifikasi atau RAB.
(b) Kecuali disebutkan lain dalam RAB pekerjaan yang tercakup
didalamnya sudah termasuk dalam pekerjaan-pekerjaan
pokok yang bersangkutan.
(c) Dalam hal dihitung terpisah, pengukuran meliputi
penyediaan, pengadaan dan pengangkutan tenaga kerja,
bahan, perlengkapan, peralatan dan pelaksanaan,
pemeliharaan, perbaikan, termasuk pemeriksaan, pengujian
dan pekerjaan- pekerjaan penunjang yang diperlukan seperti
diuraikan dalam RAB.
(d) Bobot pengukura (%) terhadap seluruh nilai
Kontrak/Adendum Kontrak, bersama-sama dengan
komponen-komponen pekerjaan yang lain akan merupakan
bobot prestasi yang dicapai Kontraktor pada saat tertentu,
dan akan dijadikan pedoman Kontraktor untuk mengajukan

6
penagihan pembayaran angsuran kepada Pemimpin Kegiatan.
(e) Perhitungan prosentase kemajuan pekerjaan yang akan
digunakan untuk pengajuan penagihan, pembayaran
angsuran harus dilakukan bersama-sama antara Direksi dan
Kontraktor.
(f) Prosentase kemajuan pekerjaan yang dinilai adalah
material/bahan terpasang.
(g) Pembayaran akan dilakukan apabila selisih bobot prestasi
Kontraktor pada saat tertentu dengan bobot prestasi pada
pembayaran angsuran yang lalu telah mencapai tidak kurang
dari angka seperti disebut dalam syarat-syarat kontrak.
(h) Pembayaran dilakukan dalam jumlah harga satuan dikalikan
dengan volume pekerjaan yang nyata dilaksanakan.
Pekerjaan Fisik dilaksanakan selama 3 Bulan ( 90 Hari Kalendar )
2.2 PEKERJAAN PERSIAPAN DAN PENUNJANG PROYEK
2.2.1 Umum
Pekerjaan persiapan dan penunjang merupakan pekerjaan sementara
yang harus dilaksanakan agar pekerjaan konstruksi dapat dilaksanakan
dengan mudah dan lancar.Pekerjaan-pekerjaan ini pada umumnya
bersifat darurat, tetapi semua struktural harus mampu memikul beban
yang ada dan harusdilaksanakan berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan serta sesuai dengan syarat-syarat teknis.Kontraktor
harus membuat dan menyerahkan spesifikasi dan gambar-gambar
pekerjaan sementara kepada Direksi untuk memperoleh persetujuan,
selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum pekerjaan dimulai.
2.2.2 Pembersihan Lapangan
Kontraktor harus menyingkirkan pohon-pohon, semak belukar, akar,
sampah, bahan-bahan organik dan benda-benda asing lainnya yang
dapat mengganggu jalannya pekerjaan dalam area pekerjaan seperti
diuraikan dalam Kontrak, termasuk lahan-lahan yang digunakan untuk
bangunan/struktur, jalan dan lahan yang akan digali atau diurug.
2.2.3 Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus melakukan pekerjaan
pengukuran untuk memastikan lokasi yang tepat untuk penempatan
komponen-komponen pekerjaan tertentu seperti ditunjukan dalam
gambar.Pengukuran meliputi pengukuran/penentuan koordinat dan
elevasi.Koordinat dan elevasi titik yang diperlukan, ditentukan
berdasarkan titik rujukan (Bench Mark) seperti yang ditetapkan oleh
Direksi. Aktualisasi dan Artikulasi titik-titik tersebut diatas berupa
titik-titik yang dipasang pada bouwplank (papan rujukan

7
bangunan/struktur) yang apabila dihubungkan (dengan benang) satu
dengan yang lain akan merupakan garis-garis sumbu bangunan melalui
titik-titik yang diperlukan. Bouwplank harus dibuat dan dipasang oleh
Kontraktor sedemikian rupa sehingga mempunyai elevasi (rujukan)
tertentu yang letaknya tidak mengganggu kegiatan pelaksanaan,
merusak dan merubah elevasinya.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan keakuratan yang
tinggi kontraktor harus menggunakan alat bantupesawat theodolith.
Biaya akibat dari penggunaan alat bantu ini merupakan beban dan
tanggung jawab kontraktor pelaksana. Konstruksi maupun dimensi
bench mark akan ditentukan kemudian oleh Direksi.
2.2.4 Mobilisasi dan Demobilisasi
Mobilisasi mencakup pengadaan, penyediaan, alat berat dan
pengangkutan tenaga kerja, perlengkapan dan peralatan yang
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan, termasuk pemasangan,
penyetelan dan pekerjaan penunjang lainnya, sehingga semua tenaga
kerja, perlengkapan dan peralatan kerja tersebut berada/terpasang
dilokasi pekerjaan dalam kondisi baik dan siap pakai. Mobilisasi
mencakup pengadaan, penyediaan dan pengangkutan :

a. Tenaga kerja yang diperlukan sebagai pelaksana-pelaksana


pekerjaan;

b. Peralatan pelaksanaan yang terdiri atas alat-alat pengangkutan


alat-alat berat, peralatan pengaduk dan pemadat beton dan
sebagainya.

c. Peralatan penunjang seperti pembangkit listrik, pompa air,


peralatan laboratorium dan sebagainya disediakan oleh Kontraktor.
Dalam mobilisasi sudah termasuk pengadaan, penyediaan dan
pengangkutan suku cadang yang diperlukan agar perlengkapan dan
peralatan tersebut selalu siap dipakai.Demobilisasi dilakukan setelah
berakhirnya pelaksanaan pekerjaan, sebelum pekerjaan diserahkan
untuk pertama kalinya kepada pemilik.Demobilisasi adalah
pembongkaran, pengangkutan tenaga kerja, perlengkapan dan
peralatan yang telah dimobilisasi, keluar dari lokasi pekerjaan.
2.2.10 Personil Kontraktor
Pelaksana yang ditunjuk Kontraktor harus mendapatkan kuasa penuh
dalam bertindak untuk dan atas nama Perusahaan yang dinyatakan
dengan Surat Tugas/Keterangan.
2.2.11 Dokumentasi
Kontraktor harus memperhitungkan biaya dokumentasi serta
pengirimannya ke kantor Direksi serta pihak-pihak lain yang

8
diperlukan. Yang dimaksud dengan pekerjaan dokumentasi ialah:

a. Membuat laporan-Iaporan perkembangan pelaksanaan yakni


Harian dan Mingguan.

b. Untuk kelengkapan laporan, Kontraktor wajib membuat foto-foto


dokumentasi ukuran 4R, dibuat sebelum pekerjaan di mulai (0
%), tahap mulai pelaksanaan suatu konstruksi hingga selesai
(setiap kali untuk pembuatan laporan) dan pada setiap kali akan
melakukan tagihan/terminj, foto dokumentasi harus selalu
diambil pada posisi yang sama untuk setiap kemajuan (tampak
depan, samping dan belakang) dan setiap bagian yang penting
antara lain penulangan, pondasi dan lain-lain.

c. Surat-surat dan dokumen lainnya.

2.3. BESTEK DAN GAMBAR KERJA


2.3.1 Kontraktor diwajibkan meneliti semua gambar-gambar dan bestek
mengenai pekerjaan ini.
2.3.2 Bila ternyata ada perbedaan antara gambar dan RKS, antara gambar
satu dengan gambar lainnya maka yang berlaku adalah :

a. Bestek (RKS).
b. Gambar dengan skala yang lebih besar (detail).
2.3.3 Bila perbedaan itu menimbulkan keragu-raguan yang mungkin
menimbulkan kekeliruan atau bahaya dikemudian hari, Kontraktor
wajib konsultasikan terlebih dahulu kepada Direksi untuk mendapatkan
petunjuk.

2.4. RENCANA KERJA


2.4.1 Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor wajib menyusun suatu
rencana kerja (jadwal pelaksanaan) sebanyak empat rangkap yang
diajukan paling lambat 14 (empat belas) hari setelah diterbitkan
Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), untuk disetujui oleh Direksi.
2.4.2 Setelah rencana kerja disetujui Direksi, 3 (tiga) salinan untuk Direksi
dan 1 (satu) salinan ditempel pada ruang Direksi Keet.
2.4.3 Kontraktor harus patuh pada rencana kerja tersebut yang menjadi
dasar bagi Direksi untuk menilai prestasi pekerjaan dan segala
sesuatu yang berhubungan pekerjaan.

2.5. PENGADAAN BAHAN BANGUNAN


2.5.1 Bahan-bahan yang boleh ditempatkan dalam kompleks pekerjaan
9
hanyalah bahan-bahan yang disyaratkan dalam RKS maupun gambar
kerja.
2.5.2 Cara dan tempat penimbunan/penyimpanan bahan harus memenuhi
syarat atau menurut petunjuk Direksi/Pengawas Teknik.
2.5.3 Bahan bangunan yang dipakai adalah yang sesuai dengan kualitas dan
kuantitas serta dimensi yang disyaratkan dalam RKS dan gambar
kerja.
2.5.4 Apabila suatu bahan yang disyaratkan tidak terdapat dipasaran,
sebelum diganti Kontraktor harus konsultasi terlebih dahulu dengan
Direksi Pengawas Teknik, dan pergantian dapat dilakukan setelah
ada persetujuan secara tertulis.
2.5.5 Pergantian bahan bangunan yang tidak terdapat dipasaran lokal
dapat diganti dengan bahan bangunan lain yang setara/setingkat
kualitasnya.
2.5.6 Bahan bangunan yang ditolak oleh Direksi karena cacat atau tidak
sesuai dengan persyaratan yang ditentukan, harus segera
dikeluarkan dari lokasi pekerjaan saat itu juga.

2.6. PENGGUNAAN PERSYARATAN TEKNIS


2.6.1 Persyaratan teknis ini merupakan pedoman dalam pelaksanaan
pekerjaan (yang disebut sebagai proyek) termasuk seluruh bangunan
dan pekerjaan lainnya yang merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan.
2.6.2 Kecuali disebutkan lain, maka setiap bagian dalam persyaratan teknis
ini berlaku untuk seluruh bangunan yang termasuk dalam pekerjaan
ini, disesuaikan dengan gambar-gambar, keterangan-keterangan
tambahan tertulis dan perintah-perintah Direksi/Pengawas Teknis.
2.6.3 Standar-standar utama yang dipakai adalah yang dibuat dan berlaku
resmi di negara RI, apabila tidak terdapat standar yang dapat
diberlakukan terhadap suatu item pekerjaan, maka harus digunakan
standar internasional yang berlaku atas pekerjaan dimaksud atau
digunakan standar dari negara produsen bahan yang menyangkut
pekerjaan dimaksud.

2.7. PEKERJAAN GALIAN TANAH


2.7.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan galian ini meliputi galian tanah untuk pondasi pagar serta
pekerjaan galian yang nyata-nyata tertera dalam gambar kerja.
2.7.2 Pelaksanaan :
10
a. Dimensi galian tanah pondasi minimal sama dengan gambar kerja.

b. Semua tanah galian yang tidak dipakai harus diangkut keluar lokasi
pekerjaan.

c. Apabila terjadi kesalahan dalam penggalian tanah untuk dasar


pondasi sehingga dicapai kedalaman yang melebihi apa yang telah
ditentukan dalam gambar, maka kelebihan pada galian harus
diurug kembali dengan pasir, dan dipadatkan biaya akibat
pekerjaan tersebut menjadi beban Kontraktor.

2.8. PEKERJAAN URUGAN


2.8.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan inimeliputi semua penimbunan kembali bekas galian, urugan
pasir bawah pondasi, dan pekerjaan urugan lainnya yang tertera dalam
gambar.
2.8.2 Pelaksanaan :

a. Jika terdapat tempat-tempat tertentu pada lokasi bangunan yang


menurut Direksi perlu ditimbun, maka Kontraktor harus menimbun
sampai mencapai ketinggian yang ditentukan, dengan menggunakan
bahan timbunan yang cukup baik, bebas dari rumput, akar-akar dan
lain-lain.

b. Dalam hal ini harus mengikuti petunjuk-petunjuk Pengawas Teknik.

c. Semua urugan pasir/tanah harus dipadatkan sambil disiram air


sampai jenuh.

d. Pasir yang dipakai harus pasir kali dan bukan pasir laut,dengan
persyaratan bahwa pasir harus dalam keadaan bersih dari lumpur,
tanah dan tidak mengandung garam atau mineral lainnya.

2.9. PASANGAN BATU KALI


2.9.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pasangan batu kosong dan pondasi batu
kali untuk landasan sloof, pasangan batu kali sebagaimana
dinyatakan dalam gambar kerja.

2.9.2 Material :

a. Batu kali yang dipakai harus dari jenis yang keras, tidak keropos,
serta mempunyai gradasi baik.

b. Adukan yang dipakai terdiri dari campuran 1 PC : 4 Pasir.

11
c. Baik batu kali, pasir maupun air adukan yang dipakai pada
pekerjaan ini harus bersih dari lumpur dan kotoran-kotoran
lainnya.

d. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan jenis batu lain


kecuali atas izin Direksi.
2.9.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan sesuai dengan ukuran
dan bentuk yang ditunjukan dalam gambar kerja.
b. Antar satu batu kali dengan batu kali lainnya tidak boleh saling
bersentuhan, tetapi diantaranya diberi spesi 1 Pc : 4 Psr sampai
penuh sebagai perekat sambil ditekan agar padat.

2.10. PASANGAN BATAKO


2.10.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, pemasangan untuk
semua pasangan bata seperti yang tertera pada gambar,
pelaksanaan pemasangan harus benar-benar mengikuti garis-garis
ketinggian, siku dan bentuk-bentuk yang terlihat pada gambar dan
disebutkan dalam spesifikasi ini.
2.10.2 Material:

a. Batu batako yang digunakan harus baru, dengan pembakaran yang


cukup sehingga masak, keras, kering dan tidak mudah patah.

b. Adukan yang digunakan untuk pasangan dinding pagar adalah


campuran 1 PC : 4 Pasir.
2.10.3 Pengerjaan dan Penyimpanan.
Bahan-bahan yang akan digunakan pada pekerjaan inidisimpan
dengan cara-cara yang disetujui Direksi, untuk menghindari dari
segala hal yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bahan-bahan
tersebut.
2.10.4 Pelaksanaan:

a. Pasangan dinding batako umumnya adalah 1/2 batu, kecuali


Direksi memberikan petunjuk lain.

b. Pemasangan batu bata harus lurus dan tegak, lajur penaikannya


diukur tepat dengan tiang lot, kecuali bilamana tidak
diperlihatkan dalam gambar maka setiap lajur bata harus putus
sambungan dengan lajur dibawahnya. Selain itu pola ikatan
pasangan harus terjaga baik diseluruh pekerjaan.

c. Segera setelah pasangan batako selesai, siarnya dikeruk sedalam


12
1 cm agar plesteran dapat melekat dengan baik.

d. Sebelum bata dipasang hendaknya direndam dalam air sampai


jenuh, dan pemasangannya harus rapi sesuai dengan syarat
pekerjaan yang baik. Batu bata potongan tidak boleh dipakai
terkecuali pada pertemuan-pertemuan dengan kusen/kolom.

2.11. PEKERJAAN BETON BERTULANG


2.11.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pembongkaran beton lama, pengadaan
dan pemasangan dari semua macam beton tidak bertulang, beton
bertulangdengan penulangannya termasuk bekisting, finishing dan
pekerjaan-pekerjaan lain yang nyata-nyata termasuk dalam
pekerjaan ini. Untuk beton bertulang digunakan adukan 1 Pc : 2 Psr
: 3 Krl dan K225 (diperkirakan 1 pc : 1,5 psr : 2,5 krl ) pada :

a. Sloof, Kolom, dan Ringbalok.

b. Lain-lain seperti ditentukan dalam gambar dan RAB.


2.11.2 Material:
Bahan – bahan/material yang dipergunakan untuk pekerjaan ini
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1) Agregat :
Agregat merupakan batu pecah/kerikil terdiri dari gradasi-gradasi
yang halus sampai kasar dengan dimensi Ø >2 < 3 cm, dan harus
sesuai dengan persyaratan dalam ketentuan-ketentuan beton
bertulang.Penampungan harus dilaksanakan sedemikian rupa,
sehingga bebas dari kontaminasi dengan bahan-bahan yang dapat
merusak.

2) Semen:

a) Semen yang dipakai harus bermutu baik, tidak berbatu,


seperti disyaratkan dalam SNI-8 Bab 3-2;

b) Semen ini harus dibawa ketempat pekerjaan dalam kemasan


standart dari pabrik dan terlindung.

c) Untuk pelaksanaan pekerjaan beton ini Kontraktor harus


mengusahakan hanya menggunakan satu merk semen saja.

3) Besi Tulangan :

a) Semua dimensi/ukuran besi tulangan yang akan digunakan


merupakan dimensi sebenarnya sesuai keterangan gambar.

b) Besi untuk tulangan penampungannya harus bebas dari

13
kontaminasilangsung dengan udara bergaram, tanah lembab,
aspal, oli (minyak) dan gemuk.

c) Pengikat tulangan beton harus menggunakan kawat beton


yang berukuran garis tengah minimal 1 mm.

4) Air:
Air yang dipakai untuk adukan harus bersih, dalam arti tidak
mengandung lumpur dan bahan-bahan kimia yang dapat
mempengaruhi kekuatan beton khususnya garam.

5) Bekisting :
Bahan cetakan beton (bekisting) menggunakan kayu kelas III,
kecuali Direksi Pengawas menegaskan lain.
2.11.3 Pelaksanaan

a. Sebelum melaksanakan pengecoran untuk konstruksi beton,


kontraktor terlebih dahulu meminta direksi/konsultan pengawas
untuk memeriksa dimensi, pembesian dan bekisting balok/plat
tersebut.

b. Penyambungan pembesian pada balok/kolom lama harus


mengikuti panjang penyaluran yang telah ditetapkan dalam
peraturan PBI-1971. Besi lama untuk ikatan harus dibersihkan
dari karat.

c. Untuk merekatkan beton baru dengan beton lama, kontraktor


menyiapkan bahan additive dalam hal ini adalah lem beton.
Spesifikasi bahan additive tersebut harus memenuhi syarat yang
telah ditetapkan dalam peraturan PB-1971.

d. Proporsi :

1) Adukan beton harus mencapai Kekuatan Tekan Beton minimal


K-225 kecuali ditentukan lain untuk semua beton bertulang.

2) Untuk mengontrol kekuatan/ mutu yang dicapai pada


pelaksanaan, Kontraktor harus mengambil contoh kubus untuk
diadakan test laboratorium menurut syarat-syarat PBI 1971
pasal 4.6 dan 4.7.

e. Pengecoran Beton :

1) Sebelum pengecoran dilaksanakan, bekisting harus bersih dari


kotoran-kotoran dan bahan-bahan lain. Alat-alat pengaduk
beton (beton molen) dan alat pembawa (kereta) juga harus
bersih. Penulangan harus dimatikan pada posisinya, serta
harus diperiksa terlebih dahulu. Dimensi semua bagian beton
tertera pada gambar bestek dan detail.
Jika terdapat ketidakcocokan pada ukuran Kontraktor wajib

14
untuk minta pertimbangan terlebih dahulu dari Direksi.

2) Ukuran diameter besi beton harus sesuai dengan ketentuan


dalam gambar. Jika suatu diameter tidak terdapat dipasaran,
Kontraktor diwajibkan membicarakan terlebih dahulu dengan
Direksi.

3) Adukan beton tidak boleh dijatuhkan dari ketinggian lebih


dari 1,50 cm dan segera sesudah pengecoran dimulai, lapisan-
lapisan beton dipadatkan dengan penggetar (internal
concrete vibrator). Kecepatan vibrator dalam adukan harus
tetap dan konstan serta penggunaannya tidak boleh kena besi
tulangan.

4) Peraturan-peraturan mengenai pelaksanaan pekerjaan beton


yang tidak tercantum dalam RKS ini, dipakai peraturan yang
termuat dalam PBI 1971 sebagai syarat.

5) Agar pemeriksaan dan persetujuan dari Direksi atas


pelaksanaan pengecoran beton dapat diberikan pada
waktunya, Kontraktor diwajibkan menyampaikan
pemberitahuan tentang rencana pengecoran 2 x 24 jam
sebelumnya.

6) Bekisting baru boleh dibongkar setelah beton bersangkutan


mengalami periode pengerasan sebagaimana diatur pada PBI
1971, dan sementara itu penyiraman beton harus selalu
dilaksanakan.

f. Penyambungan Beton :
Apabila oleh karena sesuatu dan lain hal pengecoran beton
diputuskan sebelum selesai, sebelum melanjutkan pengecoran
pada beton yang telah mengeras, permukaan yang akan
disambung harus dikasarkan dan dibersihkan, dan
penyambungannya menggunakan bonding agent yang disetujui
Direksi/Pengawas.

g. Pemeliharaan Beton:

1) Beton yang sudah dicor pada tempatnya harus dijaga agar


selalu lembab dengan jalan menutup beton dengan karung
basah atau menyiraminya dengan air secara rutin, sampai
beton berumur satu minggu.

2) Pada umur sampai dengan 48 jam, beton harus dijaga dari air
hujan deras, air mengalir, getaran-getaran dan sinar
matahari.

15
2.11.4 Bekisting

a. Seluruh bahan bekisting menggunakan papan terentang (kayu klas


III) dan balok 5/7 cm, kecuali Direksi/Pengawas menegaskan lain,
dan untuk mendapatkan hasil cetakan yang menenuhi syarat
pekerjaan bekisting harus dikerjakan oleh tukang yang ahli.

b. Celah-celah antara papan bekisting harus cukup rapat, agar


waktu mengecor tidak ada air adukan yang lolos, sebelum mulai
mengecor bagian dari dalam bekisting harus disiram air dan
dibersihkan dari kotoran.

c. Bekisting harus direncanakan, dilaksanakan dan diusahakan


sedemikian rupa agar waktu pengecoran dan pembongkaran tidak
mengakibatkan cacat-cacat, gelombang-gelombang maupun
perubahan-perubahan bentuk, ukuran-ukuran, ketinggian-
ketinggian serta posisi dari pada beton.

d. Penyangga-penyangga harus diberi jarak antara yang dapat


mencegah defleksi bahan- bahan bekisting. Bekisting serta
sambungan-sambungan harus rapat, sehingga mencegah
kebocoran-kebocoran adukan selama pengecoran. Lubang
permukaan sementara harus disediakan di dalam bekisting untuk
memudahkan pembersihan.

e. Pembongkaran Bekisting :
Bekisting harus dibongkar dengan cara sedemikian rupa, sehingga
dapat menjamin keselamatan penuh atas struktur dan konstruksi
yang dicetak dengan memperhatikan syarat-syarat sebagai
berikut :

1) Bagian struktur beton vertikal boleh dibongkar bekisting


setelah 7 (tujuh) hari, dengan syarat bahwa betonnya cukup
keras dan tidak cacat karena pembongkaran tersebut.

2) Bagian konstruksi beton yang disangga ( horizontal ) dengan


perancah tidak boleh dibongkar sebelum betonnya mencapai
kekuatan yang cukup (28 hari) untuk menyangga beratnya
sendiri dan beban-beban pelaksanaan atau beban-beban lain
yang akanmenimpa bagian struktur beton tersebut.
2.11.5 Koordinasi dengan Pemasangan Instalasi :
Sebelum pengecoran dimulai, Kontraktor harus sudah
mengkoordinasikan pemasangan dan letak-Ietak instalasi listrik,
plumbing dan lain-Iainnya.

16
2.12. PEKERJAAN PLESTERAN DAN ACIAN
2.12.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan acian dinding
pagar dan kebutuhan persyaratan adukan sebagai berikut :
Untuk semua plesteran dinding biasa terdiri dari 1 Pc :4 Psr.
2.12.2 Material:

a. Pasir untuk plesteran harus diayak cukup halus, dan pasir laut
atau pasir yang memiliki kandungan tanah tidak diperkenankan
untuk digunakan.

b. Semen yang digunakan harus baru, tidak ada bagian yang


membatu serta dalam kemasan standar pabrik dan terlindung.
2.12.3 Pelaksanaan:

a. Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, semua bidang yang akan


diplester harus disiram air sampai jenuh, dan siarnya telah
dikeruk sedalam lebih kurang 1 cm.

b. Tebal plesteran dinding ditentukan dengan ketebalan minimal 1


cm, dikerjakan dengan lurus dan rata, jika terdapat bidang-
bidang dinding yang berombak retak harus dibongkar dan
diperbaiki.

c. Semua bidang plesteran yang kelihatan harus diaci menggunakan


adukan 1 Pc : 4psr, terkecuali plesteran kaki pondasi dan beton
diaci dengan air semen.

d. Pekerjaan acian dilakukan setelah pekerjaan plesteran selesai.


Campuran adukan acian menggunakan semen dan air dengan
campuran yang merata. Sebelum pekerjaan dilakukan dinding
plesteran harus di siram terlebih dahulu.

2.13. PEKERJAAN PENGECETAN


2.13.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja
dan pengecatan partisi, tembok, plafond, list profil.
2.13.2 Material:

a. Jenis Cat tembok yang digunakan adalah merk Metrolite atau


Catylac atau setara.

b. Plamur yang digunakan adalah merk BOYO atau setara.

17
2.13.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan Cat dinding pagar :

1) Permukaan dinding dicat harus diplamur kemudian diamplas


dengan kertas pasir sampai rata dan halus.

2) Semua bidang tembok dicat tembok minimal 3 (tiga) kali


sampai kelihatan rata dan cukup tebal.

3) Cat tembok yang digunakan akan ditentukan kemudian.

2.15 DOKUMENTASI
Kontraktor harus membuat foto-foto dokumentasi dibuat sebelum pekerjaan
dimulai (0% ), tahap pelaksanaan hingga pengusulan terminj, penyerahan I
(pertama) dan penyerahan II (kedua), foto dokumentasi harus selalu diambil
pada posisi yang sama untuk setiap kemajuan (tampak depan, samping dan
belakang) dan setiap tahapan bagian pekerjaan yang penting antara lain
penulangan beton, pengecoran, pondasi dan lain-lain. Foto-foto tersebut
dimasukan kedalam album dan diserahkan kepada Pemimpin Bagian Proyek
(Direksi/Pengawas) sebanyak 3 (tiga) set.

2.16 GAMBAR PELAKSANAAN (AS BUILT DRAWING)


2.16.1 Setelah selesainya seluruh pekerjaan, Kontraktor bekerja sama dengan
Konsultan Pengawas membuat gambar terlaksana/as built drawing
(jika terdapat perubahan pelaksanaan dari perencanaan)
berdasarkan shop drawing dari seluruh sistem, struktur dan
konstruksi, termasuk perletakan, denah maupun instalasi.
2.16.2 Instalasi listrik, instalasi air bersih dan instalasi air kotor harus dibuat
oleh Kontraktor sesuai dengan keadaan yang terpasang dan
diserahkan kepada Pemberi Tugas pada saat Serah Terima Pekerjaan.

2.17 PENGAWASAN
2.17.1 Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan akan
dilakukan oleh Direksi/Konsultan Pengawas dan Pengelola Teknis.
2.17.2 Setiap saat Konsultan Pengawas dan Pengelola Teknis harus dapat
mengawasi, memeriksa atau menguji setiap bagian pekerjaan, bahan
dan peralatan maupun tenaga kerja. Untuk itu Kontraktor harus
mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan.

2.17.3 Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari


pengamatan Konsultan Pengawas dan Pengelola Teknis adalah

18
menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pekerjaan tersebut bila
diperlukan harus dapat diperiksa sebagian atau seluruhnya untuk
keperluan/kepentingan pemeriksaan.
2.17.4 Jika diperlukan pengawasan oleh Konsultan Pengawas dan Pengelola
Teknis diluar jam kerja yang resmi, maka biaya untuk hal tersebut
menjadi beban Kontraktor. Permohonan untuk mengadakan
pemeriksaan tersebut harus dengan surat yang disampaikan kepada
Direksi/Pengawas.

2.18 PEKERJAAN AKHIR


2.18.1 Pada akhir pekerjaan, seluruh bagian pagar termasuk dinding, dan
sebagainya harus bersih dari sisa-sisa semen, cat dan kotoran
lainnya.
2.18.2 Halaman bangunan harus dibersihkan dari sisa-sisa bahan-bahan
bangunan, kotoran-kotoran dan gundukan-gundukan tanah bekas
galian harus diratakan serta bahan-bahan yang tidak terpakai lagi
harus diangkut keluar lokasi pekerjaan.

PENUTUP
Dokumen Pelaksanaan
Dokumen Kontrak yang dianggap mengikat dalam hubungan kerja ini adalah:
 Rencana kerja dan syarat-syarat pekerjaan (RKS) beserta gambar-gambar.
 Penawaran-penawaran beserta semua lampiran-Iampirannya.
 Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) dan semua berita acara
pelelangan.

a. Pelaksana Pekerjaan/pemborong bertanggung jawab kepada pemberi tugas.

b. Pelaksana Pekerjaan/Pemborong tidak diperbolehkan mengalihkan seluruh


hak dan kewajiban atas pekerjaan yang menjadi tugasnya kepada Pihak
Pemborong lain.

c. Dalam melaksanakan pekerjaan pemborong harus tunduk pada peraturan


perundang-undangan yang berlaku.

19