Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN HIDROLOGI

Kajian Efektifitas Dan Efisiensi Jaringan Irigasi Selokan Mataram


Yogyakarta Km ± 0.00 – 4.00
(Studi Kasus Irigasi Desa Bligo, Kecamantan Ngluwar, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah)
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Irigasi dan Bangunan Air
Dosen pengampu Puji Utomo, S.T., M.Eng.

HALAMAN SAMPUL
Disusun oleh:
DIDIEK HERMANSYAH
5150811095

UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA


YOGYAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan
penyusunan Laporan Tugas Irigasi dan Banguan Air tentang “Kajian Efektifitas
Dan Efisiensi Jaringan Irigasi Selokan Mataram Yogyakarta”. Dalam
penyusunan laporan ini penyusun tidak lepas dari berbagai pihak, maka dari itu,
penyusun banyak mengucapkan terima kasih kepada :

1. M. Yani Bhayusukma, Ph.D selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Teknologi Yogyakarta.
2. Puji Utomo, S.T., M.Eng., selaku Dosen Mata Kuliah Irigasi dan Bangunan
Air.
3. Rekan-rekan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Teknologi Yogyakarta.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan tugas ini yang
tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Laporan ini disusun berdasarkan hasil dari survey yang telah dilaksanakan
sebelumnya, guna memenuhi tugas dari Mata Kuliah Irigasi dan Bangunan Air.
Dengan segala keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penyusun, penyusun
menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, kritik
dan saran yang membangun dari berbagai pihak, penyusun senantiasa harapkan
demi peningkatan berikutnya.

Akhirnya kami berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat sebagaimana


mestinya.

Yogyakarta, Desember 2017

Penyusun

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 1
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ........................................................................................................ i


KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 1
DAFTAR ISI...................................................................................................................... 2
BAB I .................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 3
1.1 Deskripsi Kegiatan ............................................................................................ 3
1.2 Latar Belakang Masalah .................................................................................. 3
1.3 Rumusan Masalah ............................................................................................ 3
1.4 Tujuan Pengamatan.......................................................................................... 4
1.5 Manfaat Pengamatan........................................................................................ 4
BAB II ................................................................................................................................ 5
TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 5
2.1 Definisi Irigasi ................................................................................................... 5
2.2 Saluran Irigasi ................................................................................................... 6
2.3 Kebutuhan Air Irigasi ...................................................................................... 6
2.4 Selokan Mataram Yogyakarta......................................................................... 9
BAB III............................................................................................................................. 10
METODE PELAKSANAAN ......................................................................................... 10
3.1 Lokasi Pengamatan ......................................................................................... 10
3.2 Alat yang Digunakan ...................................................................................... 11
3.3 Data Yang Digunakan .................................................................................... 11
3.4 Tahapan Pelaksanaan .................................................................................... 12
3.5 Prosedur Kerja ................................................................................................ 12
BAB IV ............................................................................................................................. 15
HASIL PEMBAHASAN ................................................................................................. 15
4.1 Anggaran Biaya ...................................................Error! Bookmark not defined.
4.2 Jadwal Kegiatan ..................................................Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 16
LAMPIRAN..................................................................................................................... 17
BIOGRAFI PENULIS ..................................................................................................... 17
LAMPIRAN – LAMPIRAN ............................................................................................. 18

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Deskripsi Kegiatan

Nama Kegiatan : Survey dan monitoring Jaringan Irigasi selokan mataram km


± 0,00 – 4,00
Lokasi Pekerjaan : Desa Bligo, Kecamantan Ngluwar, Kabupaten Magelang,
Jawa Tengah.

1.2 Latar Belakang Masalah

Dalam rangka meningkatkan serta mempertahankan produksi tanaman


pangan terutama padi dan palawija, maka oleh pemerintah Kabupaten/Propinsi
hinggga sekarang telah membangun prasarana irigasi. Kabupaten Sleman sesuai
Permen PUPR Nomor 14 tahun 2015 memiliki kewenangan sebanyak 853 daerah
irigasi dari sekian banyak daerah irigasi tersebut saati ini masih banyak yang
hanya saluran dari tanah (belum teknis) da nada yang mengalami kerusakan.
Sebagai akibat adanya pertambahan penduduk kebutuhan beras dari tahun ketahun
semakin meningkat pula Guna mengatasi peningkatan kebutuhan tersebut perlu
peningkatan intensitas tanam dengan mengadakan rehabilitasi pemeliharaan
jaringan irigasi yang ada.

Pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian perlu diperhatikan agar kinerja


sektor pertanian dapat terus berjalan dengan baik. Salah satunya adalah
pengelolaan kuantitas air untuk penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air
untuk menunjang pertanian sebagai antisipasi kebutuhan air di masa mendatang.
Tanaman di Indonesia seperti padi, tebu, dan palawija hanya dapat hidup jika
airnya mencukupi (Bardan, 2014: 34). Pemberian air berperan penting dalam
pertumbuhan tanaman. Jika tanaman kekurangan air, pertumbuhannya akan
terhambat. Untuk itu diperlukan pengairan buatan yang sesuai dengan kebutuhan.
Pembangunan proyek irigasi adalah salah satu usaha pemerintah mengelola
sumberdaya air untuk pertanian. Di seluruh dunia pelaksanaan pertanian irigasi
adalah umum di daerah semi kering (Merchan dkk., 2015).

1.3 Rumusan Masalah

Dalam laporan ini akan dibahas mengenai perencanaan jaringan irigasi yang
tentunya memiliki beberapa rumusan masalah. Rumusan masalah yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
a) Bagaimana saluran saluran induk, saluran sekunder, dan bangunan-
bangunan dalam irigasi?
b) Bagaimana pemberian nama saluran dan bangunan?
Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air
Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 3
c) Bagaimana cara menghitung luas petak tersier?
d) Bagaimana cara pemberian warna daerah irigasi?
e) Bagaimana cara pembuatan skema irigasi?

1.4 Tujuan Pengamatan

a) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kehilangan air.


b) Untuk mengetahui berapa besar kehilangan air irigasi pada setiap saluran
(saluran primer, sekunder dan tersier) selama dalam perjalanannya dari
pintu pengambilan sampai dengan titik tempat pemasukan air kesawah.
c) Untuk menganalisis efisiensi irigasi di Daerah Irigasi Klegen, sehingga air
yang tersedia dapat diberikan pada tanaman dalam jumlah yang cukup dan
sesuai dengan kebutuhan dan luas lahan.
d) Mempelajari pengaruh debit dan penampang saluran terhadap kehilangan
air pada saluran irigasi

1.5 Manfaat Pengamatan

Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan laporan ini adalah :

a) Dapat dipakai sebagai perbandingan antara teori yang diperoleh di bangku


kuliah dengan keadaaan sebenarnya di lapangan.

b) Dapat dijadikan sebagai referensi bagi penulisan tugas akhir di tahun


berikutnya.

c) Dapat dijadikan sebagai referensi bagi penulisan tugas akhir di tahun


berikutnya.

d) Menjadikan mahasiswa mengetahui masalah masalah yang ada dilapangan


ketika melakukan survey.

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Irigasi

Irigasi adalah penambahan kekurangan kadar air tanah secara buatan yakni
dengan memberikan air secara sistematis pada tanah yang diolah. Kebutuhan air
irigasi untuk pertumbuhan tergantung pada banyaknya atau tingkat pemakaian dan
efiensi jaringan irigasi yang ada (Kartasaputra, 1991: 45). Adapun klasifikasi
jaringan irigasi bila ditinjau dari cara pengaturan, cara pengukuran aliran air dan
fasilitasnya, dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu : jaringan irigasi sederhana, jaringan
irigasi semi teknis dan jaringan irigasi teknis.

Air irigasi diadakan dan diatur secara buatan untuk menunjang kegiatan
pertanian. Pembangunan proyek pertanian untuk irigasi antara lain bangunan
bendung di badan sungai atau bendungan serta jaringan irigasinya. Bangunan
tersebut dalam perencanaan pembangunannya bisa saja mempunyai manfaat
ganda. Berdasarkan tujuan pembangunannya, bangunan dapat dibedakan menjadi
bangunan tujuan tunggal (single purpose) dan bangunan serbaguna (multi
purpose). Bangunan tujuan tunggal dibuat untuk memenuhi satu tujuan saja,
misalnya bendungan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), irigasi,
pengendalian banjir, perikanan darat atau tujuan lainnya, tetapi hanya untuk salah
satu tujuan saja. Bangunan serbaguna dibuat untuk memenuhi beberapa tujuan
misalnya bendung untuk irigasi dan pengendalian dasar sungai, atau bendungan
untuk pengendalian banjir, PLTA, irigasi, air minum, pariwisata, dan lain-lain
(Soedibyo, 2003:3).

Gambar 2.1 Saluran Irigasi Primer


(Sumber: Google)

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 5
2.2 Saluran Irigasi

Saluran irigasi merupakan bangunan pembawa yang berfungsi membawa air dari
bangunan utama sampai ketempat yang memerlukan. Saluran pembawa ini
berupa:
a) Saluran Primer (Saluran Induk) yaitu saluran yang langsung berhubungan
dengan saluran bendungan yang fungsinya untuk menyalurkan air dari
waduk ke saluran lebih kecil.
b) Saluran Sekunder yaitu cabang dari saluran primer yang membagi saluran
induk kedalam saluran yang lebih kecil (tersier)
c) Saluran Tersier yaitu cabang dari saluran sekunder yang langsung
berhubungan dengan lahan atau menyalurkan air ke saluran-saluran
kwarter.

2.2 Jenis-jenis Saluran Pembawa


Sumber: google

2.3 Kebutuhan Air Irigasi

Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk
tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam
melalui hujan dan kontribusi air tanah (Sosrodarsono dan Takeda, 2003).
Kebutuhan air sawah untuk padi ditentukan oleh faktor-faktor berikut :
a) Penyiapan lahan
b) Penggunaan konsumtif
Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air
Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 6
c) Perkolasi dan rembesan
d) Pergantian lapisan air
e) Curah hujan efektif.

a. Penyiapan Lahan
Untuk perhitungan kebutuhan irigasi selama penyiapan lahan, digunakan
metode yang dikembangkan oleh Van de Goor dan Zijlsha (1968). Metode
tersebut didasarkan pada laju air konstan dalam lt/dt/ha selama periode penyiapan
lahan dan menghasilkan rumus sebagai berikut :
Me k
IR  (1)
ek 1
dimana :
IR = Kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan (mm/hari)
M = Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi
di sawah yang sudah dijenuhkan
M = Eo + P (2)
Dimana:
Eo = Evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 ETO selama penyiapan lahan
(mm/hari)
P = Perkolasi (mm/hari)
MxT
K (3)
S
Dimana:
T = Jangka waktu penyiapan lahan (hari)
S = Kebutuhan air, untuk penjenuhan di tambah dengan lapisan air 50 mm.
Untuk petak tersier, jangka waktu yang dianjurkan untuk penyiapan
lahan adalah 1,5 bulan. Bila penyiapan lahan terutama dilakukan dengan peralatan
mesin, jangka waktu satu bulan dapat dipertimbangkan. Kebutuhan air untuk
pengolahan lahan sawah (puddling) bisa diambil 200 mm. Ini meliputi penjenuhan
(presaturation) dan penggenangan sawah, pada awal transplantasi akan
ditambahkan lapisan air 50 mm lagi.
Angka 200 mm di atas mengandaikan bahwa tanah itu "bertekstur berat,
cocok digenangi dan bahwa lahan itu belum bera (tidak ditanami) selama lebih
dari 2,5 bulan. Jika tanah itu dibiarkan bera lebih lama lagi, ambillah 250 mm
sebagai kebutuhan air untuk penyiapan lahan. Kebutuhan air untuk penyiapan
lahan termasuk kebutuhan air untuk persemaian (KP-01 2010).

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 7
b. Penggunaan Konsumtif
Penggunaan konsumtif adalah jumlah air yang dipakai oleh tanaman
untuk proses fotosintesis dari tanaman tersebut. Penggunaan konsumtif dihitung
dengan rumus berikut :
ETc = Kc . ET (4)
Dengan :
Kc = Koefisien tanaman
Eto = Evapotranspirasi potensial (Penmann modifikasi) (mm/hari)

c. Perkolasi dan Rembesan


Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh, yang
tertekan di antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh).
Daya perkolasi (P) adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan, yang
besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam zona tidak jenuh yang terletak
antara permukaan tanah dengan permukaan air tanah. Pada tanah-tanah lempung
berat dengan karakteristik pengelolahan (puddling) yang baik, laju perkolasi dapat
mencapai 1-3 mm/ hari. Pada tanah-tanah yang lebih ringan laju perkolasi bisa
lebih tinggi.

d. Penggantian Lapisan Air


Penggantian lapisan air dilakukan setelah pemupukan. Penggantian
lapisan air dilakukan menurut kebutuhan. Jika tidak ada penjadwalan semacam
itu, lakukan penggantian sebanyak 2 kali, masing-masing 50 mm (atau 3,3
mm/hari selama 1/2 bulan) selama sebulan dan dua bulan setelah transplantasi.
e. Curah Hujan
Curah hujan rata-rata
Cara rata-rata aljabar Cara ini adalah perhitungan rata-rata aljabar curah hujan
di dalam dan di sekitar daerah yang bersangkutan.
1
R ( R1  R2  R3  ...  Rn ) (5)
n
di mana :
R : curah hujan daerah (mm)
n : jumlah titik-titik (pos-pos) pengamatan
R1, R2, ... Rn :curah hujan di tiap titik pengamatan (mm)
Hasil yang diperoleh dengan cara ini tidak berbeda jauh dari hasil yang
didapat dengan cara lain, jika titik pengamatan itu banyak dan tersebar merata
diseluruh daerah itu. Keuntungan cara ini ialah bahwa cara ini adalah obyektif
yang berbeda dengan umpama cara isohiet, dimana faktor subyektif tutut
menentukan (Sosorodarsono dan kensaku : 2003).

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 8
Curah Hujan efektif
Curah hujan efektif ditentukan besarnya R80 yang merupakan curah hujan
yang besarnya dapat dilampaui sebanyak 80% atau dengan kata lain
dilampauinya 8 kali kejadian dari 10 kali kejadian. Dengan kata lain bahwa
besarnya curah hujan yang lebih kecil dari R80 mempunyai kemungkinan
hanya 20%. Bila dinyatakan dengan rumus adalah sebagai berikut :
m
R80   m  R80 x(n  1) (6)
n 1
R80 = Curah hujan sebesar 80%
n = Jumlah data
m = Rangking curah hujan yang dipilih
Curah hujan efektif untuk padi adalah 70% dari curah hujan tengah bulanan
yang terlampaui 80% dari waktu periode tersebut. Untuk curah hujan efektif
untuk palawija ditentukan dengan periode bulanan (terpenuhi 50%) dikaitkan
dengan tabel ET tanaman rata-rata bulanan dan curah hujan rata-rata bulanan
(USDA(SCS),1696)
Untuk padi:
Re padi= (R80 x 0,7)/periode pengamatan (7)
Re palawija (R80 x 0,5)/ periode pengamatan (8)
Dimana:
Re = curah hujan efektif (mm/hari)
R80 = curah hujan dengan kemungkinan terjadi sebesar 80%

2.4 Selokan Mataram Yogyakarta

Ancol Bligo Kecamantan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah


adalah kawasan dimana saluran air terkenal di Yogyakarta, yakni Selokan
Mataram bermula. Di sana terdapat pintu air yang mengalirkan air dari sungai
Progo menuju Selokan Mataram yang membelah wilayah Kota Yogyakarta. Tidak
hanya memiliki fungsi penting sebagai tulang punggung sitem irigasi yang
mengairi persawahan di Yogyakarta, tetapi Ancol Bligo dan Selokan Mataram
menyimpan sejarah yang panjang. Selokan yang dibangun pada masa Jepang ini
atas prakarsa Raja Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku
Buwono IX. Sultan HB IX waktu itu membuat selokan Mataram agar rakyat
Yogyakarta terhindar dari kerja paksa oleh tentara Jepang. (Silverio R L Aji
Sampurno, 2017).

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 9
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Lokasi Pengamatan

Dalam melakukan survey dan pengamatan selokan mataram dengan jarak


sejauh 4 km, yang dimulai diawal selokan mataram koordinat (X = 419209.722; Y
= 9152590.671 sampai dengan X = 420029.51; Y = 9149373.53) yakni di Desa
Bligo, Kecamantan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pada hari
Sabtu, 09 Desember 2017 pada pukul 09.00-15.00 WIB dengan cuaca cerah.

Gambar 3.1 Layout Lokasi Survey Saluran Selokan Mataram

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 10
Gambar 3.2 Skema Saluran Selokan Mataram KM 0.00-4.00

3.2 Alat yang Digunakan


Dalam melakukan pekerjaan pengamatan dan survey lapangan ini, kami
menyiapkan dan menggunakan beberapa peralatan yang digunakan diantaranya;
data board, alat tulis, rol meter, gps mobile, kamera.

3.3 Data Yang Digunakan


Adapun data-data yang didapat dan digunakan untuk penulisan laporan
maka dalam mencari data di lapangan, maka kami melakukan survey mengenai
keadaan/kondisi saluran, dimensi saluran, skema/layout jaringan irigasi, dan
masalah yang ada di lapangan.

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 11
3.4 Tahapan Pelaksanaan
Dalam proses pelaksanaan, ada beberapa hal yang harus dilakukan, seperti
berikut:

a) Menyiapkan data-data yang diperoleh dilapangan yang telah didapat, baik


berupa data kuantitas maupun kualitas. Data data tersebut digunakan untuk
mengetahui situasi dilapangan dan menjadi dasar pokok dari penyusunan
laporan ini.
b) Mengukur debit dengan menggunakan beberapa metode.
c) Menyusun data-data urut dan sistematis sehingga dalam memahaminya
mudah.
d) Melakukan proses analisis data dan melakukan pembahasan terhadap data
data yang telah dianalisis, serta terakhir yaitu kesimpulan.
3.5 Prosedur Kerja

Dalam pekerjaan atau kegiatan ini, dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a) Melakukan pengukuran dimensi saluran

Yaitu dengan cara mengukur saluran dengan menggunakan meteran/rol


meter. Sehingga diketahui dimensi saluran maupun dimensi bangunan
pendukung.

Gambar 3.3 Proses Pengukuran Dimensi Suatu Saluran

b) Melakukan pengukuran tiap ruas dengan jarak per seratus meter

Hal ini digunakan untuk mengetahui keadaan tophografi pada saluran dan
sekitar saluran.

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 12
Gambar 3.4 Proses Pengukuran Ruas Sepanjang Saluran

c) Melakukan Input Data Lapangan

Dalam memasukkan data lapangan untuk keperluan analisis data maka


pengambilan data meliputi: pengambilan data jarak ruas, dimensi saluran,
nomor klatur bangunan, foto kondisi lapangan

Gambar 3.4 Proses Pengambilan Data Lapangan

d) Melakukan pengukuran debit air

Dalam melakukan pengukuran debit air, salah satu metode yang kami
lakukan adalah dengan melakukan pengukuran debit air dengan metode
terapung.

1. Menyiapkan peralatan berupa benda yang dapat mengapung dalam air,


meteran, stopwacth.

2. Dipilih bagian saluran saluran yang memiliki lokasi yang lurus dengan
perubahan lebar sungai, tidak ada perubahan bentuk penampang. Serta

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 13
air tidak terganggu (air memutar, sampah, bangunan air)dalam air dan
gradien yang kecil.

3. Ditetapkan dua buah titik awal dan akhir sebagai tempat pengamatan
dengan jarak 50 m.

4. Pelampung diletakkan ke saluran dengan jarak 10 – 20 m sebelah hulu


titik pengamatan pertama.

5. Waktu tempuh pelampung antara dua titik pengamatan tersebut di atas


dicatat dengan menggunakan stop watch.

6. Kecepatan aliran dapat diperoleh dengan membagi jarak tempuh dengan


waktu tempuh pelampung antara dua titik pengamatan.

Selain dengan pelampung, hal ini dapat di ukur dengan menggunakan


alat current meter yang disediakan. Dipilih kedalaman tertentu dari
saluran irigasi, ukur kecepatan alirannya pada berbagai kedalaman
sesuai dengan kondisi di lapang. Untuk mengukur luas penampang
lintang aliran air, maka bagian penampang aliran tersebut dibagi atas
beberapa bagian (sesuai dengan lebar dan kondisi dasar aliran air).
Tujuan pembagian ini adalah untuk memperoleh hasil perhitungan yang
mendekati luas sebenarnya. Jumlah luas dari bagian-bagian tesebut
merupakan luas penampang lintang aliran.

Gambar 3.5 Salah satu Metode Mengukur Debit Air Dengan Terapung

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 14
BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

4.1 Hasil Analisis

Adapun hasil dari analisis dari laporan ini disajikan pada Tabel 1. sebagai
berikut.
Tabel 1. Analisis Saluran Selokan Mataram Km 0.00-4.00

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 15
DAFTAR PUSTAKA

http://www.kotawates.com/ancol-jogja-sejarah-selokan-matram-tempo-dulu.html

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3641905/selokan-mataram-di-yogya-
sarat-nilai-sejarah-justru-dipenuhi-sampah

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 2010. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria
Perencanaan Bagian Jaringan Irigasi KP - 01.

Doorenbos, J and Pruitt, W. O.. 1977. Fao Irrigation And Drainage Paper 24

Ariyanto, Anton. Ansori, Ahmad. Syahroni. Kajian Efektifitas Dan Efisiensi


Jaringan Irigasi Terhadap Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi (Studi Kasus
Isigari Kaiti Samo Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu). Universitas
Pasir Pangarian

Guidlines for predicting crop water requirements. Food And Agriculture


Organization Of The United Nations, Rome.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 26 tahun 2006 tentang Irigasi.

Triadmodjo, Bambang, 2006, Hidrologi Terapan, Percetakan Beta offset :


Yogyakarta

Suroso, dkk, 2007, Evaluasi Kinerja Jaringan irigasi, : Jurnal Teknik Sipil

Purwanto dan Ikhsan, Jazaul. 2006. Analisis Kebutuhan Air Irigasi Pada Daerah
Irigasi Bendung Mrican. Jurnal Ilmiah Semesta Teknika. Jurusan Teknik
Sipil, Universitas Muhammaddiyah Yogyakarta. Vol. 9, No. 1, 206:83 – 93.

Sidharta, SK. 1997. Irigasi dan Bangunan Air. Gunadarma, Jakarta.

Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku. 2003. Hidrologi untuk Pengairan..


Pradna Paramita, Jakarta.

Priyonugroho, Anton. 2014. Analisis Kebutuhan Air Irigasi (Studi Kasus Pada
Daerah Irigasi Sungai Air Keban Daerah Kabupaten Empat Lawang). Jurnal
Teknik Sipil. Universitas Sriwijaya.

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 16
LAMPIRAN

FOTO FOTO KEGIATAN

Bangunan Yang Berada Di Titik 0 Saluran Selokan Mataram

Bangunan Pendukung Berupa Jembatan Dan Bangunan Bagi

Siphon (saluran dibawah tanah)

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 17
Bangunan Bagi

LAMPIRAN – LAMPIRAN

Laporan Hidrologi | Irigasi dan Bangunan Air


Teknik Sipil, 2017
Universitas Teknologi Yogyakarta 18