Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb.

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu
tanpa ada halangan sedikitpun.

Tujuan saya membuat makalah ini sebagai tambahan referensi bagi para mahasiswa
yang membutuhkan ilmu tambahan tentang “Hukum Kesehatan”. Saya mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua teman-teman yang telah membantu saya dalam menyelesaikan
makalah ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada orang tua yang telah
memberikan dukungan bagi saya.

Saya menyadari bahwa penulisan tugas makalah ini masih jauh dari kata sempurna
maka dari itu saya mengharapkan kritik dan saran dari dosen mata kuliah Etika dan Hukum
dan para mahasiswa-mahasiswi serta para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Karena
kesalahan adalah milik semua orang dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Semoga
makalah ini dapat berguna dan membantu proses pembelajaran terima kasih.

Wassalamualaikum.Wr.Wb.

Medan, 15 November 2017

Penulis

(Irna Putri Elfira)


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Ruang Lingkup Dan Rumusan Makalah
1.4 Metode
1.5 Teori

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hukum kesehatan


2.2 Fungsi Hukum Kesehatan
2.3 Pengertian Dasar Etika
2.4 Landasan Hukum Kesehatan
2.5 Tenaga Kesehatan, Etika Profesi, Kode Etik Kesehatan dan Sumpah
2.6 Etika Profesi Kesehatan
2.7 Fungsi Kode Etik
2.8 Jenis-Jenis Etika
2.9 Pengertian Nilai Etika
2.10 Aliran dan Prinsip-prinsip Etika Kesehatan

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era reformasi saat ini, hukum memegang peran penting dalam berbagai segi
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
bagi setiap orang, yang merupakan bagian integral dari kesejahteraan, diperlukan dukungan
hukum bagi penyelenggaraan berbagai kegiatan di bidang kesehatan. Perubahan konsep
pemikiran penyelenggaraan pembangunan kesehatan tidak dapat dielakkan. Pada awalnya
pembangunan kesehatan bertumpu pada upaya pengobatan penyakit dan pemulihan
kesehatan, bergeser pada penyelenggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh dengan
penekanan pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan.

Paradigma ini dikenal dalam kalangan kesehatan sebagai paradigma sehat.


Sebagai konsekuensi logis dari diterimanya paradigma sehat maka segala kegiatan apapun
harus berorientasi pada wawasan kesehatan, tetap dilakukannya pemeliharaan dan
peningkatan kualitas individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungan dan secara terus
menerus memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan
terjangkau serta mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.

Kesehatan adalah salah satu dari kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan &
papan, dalam arti hidup dalam keadaan sehat sudah tidak dapat ditawar lagi sebagai
kebutuhan yang mendasar. Bukan hanya sehat jasmani, juga sehat rohani (jiwa), bahkan
kriteria sehat manusia telah bertambah menjadi juga sehat sosial & sehat ekonomi. Namun
sampai saat ini yang dimaksudkan dengan kesehatan oleh undang-undang (UU) adalah hanya
keadaan sehat jasmani & sehat rohani.
Kesehatan menurut UU no. 36/2009 tentang Kesehatan terdiri dari dua unsur yaitu
“upaya kesehatan” & “sumber daya kesehatan”. Yang dimaksud dengan sumber daya
kesehatan, terdiri dari sumber daya manusia kesehatan (tenaga kesehatan yaitu dokter,
apoteker, bidan, perawat) & sarana kesehatan (antara lain rumah sakit, puskesmas, poliklinik,
tempat praktik dokter).
Pemeliharaan kesehatan & pelayanan kesehatan adalah dua aspek dari upaya
kesehatan, istilah pemeliharaan kesehatan dipakai untuk kegiatan upaya kesehatan
masyarakat & istilah pelayanan kesehatan dipakai untuk upaya kesehatan individu (dikenal
sebagai upaya kedokteran atau upaya medik).
Inti dari pemeliharaan kesehatan adalah kesehatan masyarakat, menyangkut hal-hal
yang berhubungan antara lain dengan pembasmian penyakit menular, usaha kesehatan
lingkungan, usaha kesehatan sekolah. Sedangkan pelayanan kesehatan adalah hubungan
segitiga antara tenaga kesehatan, pasien & sarana kesehatan & dari hubungan segitiga ini
terbentuk hubungan medik & hubungan hukum. Hubungan medik dilaksanakan upaya
kesehatan preventif, kuratif, promotif & rehabilitatif. Sedangkan hubungan hukum yang
terbentuk antara ketiga komponen itu adalah hubungan antara subyek hukum dengan subyek
hukum.
Hubungan hukum ini selalu meletakkan hak & kewajiban yang timbal balik, artinya
hak subyek hukum yang satu menjadi kewajiban subyek hukum yang lain, demikian pula
sebaliknya. Hubungan hukum di dalam bidang hukum perdata dikenal sebagai perikatan
(verbintenis).

Secara ringkas untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang
maka harus secara terus menerus dilakukan perhatian yang sungguh-sungguh bagi
penyelenggaraan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan, adanya jaminan atas
pemeliharaan kesehatan, ditingkatkannya profesionalisme dan dilakukannya desentralisasi
bidang kesehatan. Kegiatan-kegiatan tersebut sudah barang tentu memerlukan perangkat
hukum kesehatan yang memadai. Perangkat hukum kesehatan yang memadai dimaksudkan
agar adanya kepastian hukum dan perlindungan yang menyeluruh baik bagi penyelenggara
upaya kesehatan maupun masyarakat penerima pelayanan kesehatan. Pertanyaan yang
muncul adalah siapa saja tenaga kesehatan itu dan keterkaitannya dengan sumpah atau kode
etik tenaga kesehatan dokter dan bidan, Dan apakah yang dimaksud dengan hukum
kesehatan, apa yang menjadi landasan hukum kesehatan, materi muatan peraturan perundang-
undangan bidang kesehatan, dan hukum kesehatan di masa mendatang. Diharapkan jawaban
atas pertanyaan tersebut dapat memberikan sumbangan pemikiran, baik secara teoritikal
maupun praktikal terhadap keberadaan hukum kesehatan. Untuk itu dilakukan kajian
normatif, kajian yang mengacu pada hukum sebagai norma dengan pembatasan pada masalah
kesehatan secara umum melalui tradisi keilmuan hukum. Dalam hubungan ini hukum
kesehatan yang dikaji dibagi dalam 3 (tiga) kelompok sesuai dengan tiga lapisan ilmu hukum
yaitu dogmatik hukum, teori hukum, dan filsafat hukum. Selanjutnya untuk memecahkan isu
hukum, pertanyaan hukum yang timbul maka digunakan pendekatan konseptual, statuta,
historis, dogmatik, dan komparatif. Namun adanya keterbatasan waktu maka kajian ini
dibatasi hanya melihat peraturan perundang-undangan bidang kesehatan.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian hukum kesehatan, landasan hukum kesehatan, dan siapa
saja tenaga kesehatan dan etika profesi serta kode etik kesehatan,
2. Untuk mengetahui peraturan-peraturan pemerintah dan Undang-undang tentang
tenaga kesehatan,
3. Memberikan informasi mengenai perkembangan up-to-date dalam regulasi hukum
kesehatan, khususnya regulasi pelayanan kesehatan.
4. Memberikan pemahaman secara sistematis mengenai hukum kesehatan dan
implementasinya dalam organisasi pelayanan kesehatan.
5. Hukum Kesehatan sebagai alat dalam upaya penegakan hukum: studi kasus
6. Memberikan pemahaman mengenai tindakan-tindakan dalam lingkup hukum
kesehatan yang dapat menimbulkan aspek perbuatan hukum (pidana dan perdata)
7. Dengan terselesainya makalah ini di harapkan agar menjadi bahan refrensi dan
pendidikan bagi mahasiswa-mahasiswi dalam pemecahan kasus dalamhukum
kesehatan.

1.3 Ruang Lingkup Dan Rumusan Makalah

a) Ruang Likup Hukum Kesehatan


1. Kedudukan Hukum Kesehatan dalam ilmu hukum,
2. Tujuan dan Asas dalam hukum kesehatan,
3. Aspek-Aspek Hukum dalam Hukum Kesehatan.
b) Rumusan Makalah
1. Pengertian hukum kesehatan,
2. Landasan hukum kesehatan,
c) Siapa saja tenaga kesehatan itu? Dan Keterkaitan tenaga kesehatan, Etika profesi serta
kode etik tenaga kesehatan, dan sumpah tenaga kesehatan,
d) Peraturan pemerintah No.32 Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.

1.4 Metode

Metode yang saya gunakan dalam penulisan makalah ini adalah ; saya penulis secara
langsung maupun tidak langsung mencari sumber informasi baik dari media cetak, internet
dan buku-buku studi pustaka yang berhubungan dengan pembahasan makalah yang saya
susun, serta pemaparan materi, Tanya-jawab dan diskusi kepada berbagai pihak yang
bersangkutan, agar makalah yang saya susun ini agar lebih kompetitif baik dari segi hukum
kesehatannya, peraturan-perturan undang-undang yang berlaku, serta teori-teori pendukung
untuk makalah yang saya susun.

1.5 Teori

Teori-teori yang saya gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah : teori yang saya
ambil dari metode penulisan di atas, dan pemaparan materi, dikusi serta petunjuk yang di
berikan dosen pembimbing dan refrensi yang saya ambil dari studi pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hukum Kesehatan

Pengertian Hukum Kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan


langsung dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan. hal tersebut menyangkut hak dan
kewajiban menerima pelayanan kesehatan (baik perorangan dan lapisan masyarakat) maupun
dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam segala aspeknya, organisasinya, sarana,
standar pelayanan medik dan lain-lain. Sebagai subjek hukum, pelaku di sektor kesehatan
seperti dokter, dokter gigi, direktur RS, kepala dinas kesehatan, kepala bidang, kepala
Puskesmas selalu melakukan perbuatan hukum. Perbuatan hukum yang dilakukan apabila
bertentangan dengan regulasi yang berlaku maka akan menimbulkan adanya sanksi hukum.
Setiap subject hokum di bidang kesehatan harus memahami mengenai hukum kesehatan.
Kurangnya pemahaman terhadap hukum kesehatan mengakibatkan sering terjebak dalam
perbuatan hukum yang dilakukannya.

Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu kekuasaan


dalam mengatur pergaulan hidup bermasyarakat. Pergaulan hidup atau hidup di masyarakat
yang sudah maju seperti sekarang ini tidak cukup hanya dengan adat kebiasaan yang turun-
temurun seperti sebelum lahirnya peradaban yang modern. Untuk itu, maka oleh kelompok
masyarakat yang hidup dalam suatu masyarakat atau negara diperlukan aturan-aturan yang
secara tertulis, yang disebut hukum. Meskipun demikian, tidak semua perilaku masyarakat
atau hubungan antara satu dengan yang lainnya juga masih perlu diatur oleh hukum ynag
tidak tertulis yang disebut : etika, adat-istiadat, tradisi, kepercayaan dan sebagainya.
Hukum kesehatan adalah semua ketentuaan hukum yang berhubungan langsung dengan
pemeliharaan atau pelayanan kesehatan dan penerapannya. Oleh sebab itu, hukum kesehatan
mengatur dua kepentingan yang berbeda, yakni :
1. Penerima pelayanan, yang harus diatur hak dan kewajiban, baik perorangan, kelompok
atau masyarakat.
2. Penyelenggara pelayanan : organisasi dan sarana-prasarana pelayanan, yang juga harus
diatur hak dan kewajibannya.
Apabila petugas kesehatan melalaikan kewajiban yang berarti tidak melakukan sesuatu
yang seharusnya dilakukan, dan petugas kesehatan melakukan perbuatan yang seharusnya
tidak boleh dilakukan dapat dikatakan “malapraktik”.
Hukum tertulis, dikelompokkan menjadi dua, yakni :
1. Hukum perdata mengatur subjek dan antar subjek, anggota masyarakat yang satu dengan
yang lain dalam hubungan interrelasi. Hubungan interrelasi ini antara kedua belah pihak
sama atau sederajat atau mempunyai kedudukan sederajat. Misalnya, hubungan antara
penjual dan pembeli, hubungan antara penyewa dan yang menyewakan. Di samping itu
hubungan dalam keluarga, kesepakatan-kesepakatan dalam keluarga, termasuk
perkawinan dan warisan juga dapat digolongkan dalam hukum perdata.
2. Hukum pidana adalah mengatur hubungan antara subjek dan subjek dalam konteks hidup
bermasyarakat dalam suatu negara. Dalam hukum pidana selalu terkait antara seseorang
yang melanggar hukum dengan penguasa (dalam hal ini pemerintah) yang mempunyai
kewenangan menjatuhkan hukuman. Dalam hukum pidana atau peraturan mengenai
hukuman, kedudukan penguasa/pemerintah lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat
sebagai subjek hukum.
Hukum kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung
dengan pemeliharaan atau pelayanan kesehatan dan penerapannya. Hal ini berarti hukum
kesehatan adalah aturan tertulis mengenai hubungan antara pihak pemberi pelayanan
kesehatan dengan masyarakat atau anggota masyarakat. Dengan sendirinya hukum kesehatan
ini mengatur hak dan kewajiban masing-masing penyelenggaraan pelayanan dan penerima
pelayanan atau masyarakat. Hukum kesehatan relatif masih muda bila dibandingkan dengan
hukum-hukum yang lain. Perkembangan hukum kesehatan baru dimulai pada tahun 1967,
yakni dengan diselenggarakannya “World Congress on Medical Law” di Belgia tahun 1967.
“(Etika dan Hukum Kesehatan. Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Halaman 44).
Di Indonesia, perkembangan hukum kesehatan dimulai dengan terbentuknya
kelompok studi untuk Hukum Kedokteran FK-UI dan rumah Sakit Ciptomangunkusumo di
Jakarta tahun 1982. Hal ini berarti, hampir 15 tahun setelah diselenggarakan Kongres
Hukum Kedokteran Dunia di Belgia. Kelompok studi hukum kedokteran ini akhirnya pada
tahun 1983 berkembang menjadi Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia (PERHUKI).
Pada kongres PERHUKI yang pertama di Jakarta, 14 April 1987. Hukum kesehatan
mencakup komponen-komponen atau kelompok-kelompok profesi kesehatan yang saling
berhubungan dengan yang lainnya, yakni : Hukum Kedokteran, Hukum Kedokteran Gigi,
Hukum Keperawatan, Hukum Farmasi, Hukum Rumah Sakit, Hukum Kesehatan Masyarakat,
Hukum Kesehatan Lingkungan, dan sebagainya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, meskipun Etika dan Hukum Kesehatan mempunyai
perbedaan, namun mempunyai banyak persamaannya, antara lain:

1. Etika dan hukum kesehatan sama-sama merupakan alat untuk mengatur tertibnya hidup
bermasyarakat dalam bidang kesehatan.
2. Sebagai objeknya adalah sama yakni masyarakat baik yang sakit maupun yang tidak sakit
(sehat).
3. Masing-masing mengatur kedua belah pihak antara hak dan kewajiban, baik pihak yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan maupun yang menerima pelayanan kesehatan
agar tidak saling merugikan.
4. Keduanya menggugah kesadaran untuk bersikap manusiawi, baik penyelenggara maupun
penerima pelayanan kesehatan.
5. Baik etika maupun hukum kesehatan merupakan hasil pemikiran dari para pakar serta
pengalaman para praktisi bidang kesehatan.
Sedangkan perbedaan antara etika kesehatan dan hukum kesehatan, antara lain:
1. Etika kesehatan hanya berlaku di lingkungan masing-masing profesi kesehatan,
sedangkan hukum kesehatan berlaku untuk umum.
2. Etika kesehatan disusun berdasarkan kesepakatan anggota masing-masing profesi,
sedangkan hukum kesehatan disusun oleh badan pemerintahan, baik legislatif (Undang-
Undang = UU, Peraturan Daerah = Perda), maupun oleh eksekutif (Peraturan
Pemerintah/PP, Kepres. Kepmen, dan sebagainya).
3. Etika kesehatan tidak semuanya tertulis, sedangkan hukum kesehatan tercantum atau
tertulis secara rinci dalam kitab undang-undang atau lembaran negara lainnya.
4. Sanksi terhadap pelanggaran etik kesehatan berupa tuntunan, biasanya dari organisasi
profesi, sedangkan sanksi pelanggaran hukum kesehatan adalah “tuntunan”, yang
berujung pada pidana atau hukuman.
5. Pelanggaran etik kesehatan diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Profesi dari
masing-masing organisasi profesi, sedangkan pelanggaran hukum kesehatan diselesaikan
lewat pengadilan.
6. Penyelesaiaan pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik, sedangkan untuk
pelanggaran hukum pembuktiannya memerlukan bukti fisik.

2.2 Fungsi Hukum Kesehatan

Fungsi hukum pada intinya adalah menciptakan tatanan masyarakat yang tertib,
menciptakan ketertiban dan keseimbangan. Dengan tercapainya ketertiban didalam
masyarakat diharapkan kepentingan manusia akan terpenuhi dan terlindungi (Mertokusumo,
1986). Dengan demikian jelas terlihat bahwa tujuan hukum kesehatanpun tidak akan banyak
menyimpang dari tujuan umum hukum. Hal ini dilihat dari bidang kesehatan sendiri yang
mencakup aspek sosial dan kemasyarakatan dimana banyak kepentingan harus dapat
diakomodir dengan baik.

Kembali dengan tujuan hukum yang pertama yaitu menciptakan tatanan atau ketentuan,
sektor atau bidang kesehatan telah memiliki payung hukum yang cukup untuk bisa
menjalankan proses kerja di bidang kesehatan jika semua ketentuan perundang-undangnya
dilaksanakan dengan baik dan menjalin saling pengertian diantara pelaku profesi didalam
setiap bagian yang mendukung terlaksananya upaya kesehatan.

Sumber-sumber hukum yang adapun telah secara rinci mengatur hal-hal apa yang
menjadi kewajiban setiap pelaku profesi dan apa yang menjadi hak-haknya. Oleh karena itu
harapan yang terbesar adalah terciptanya ketertiban dan keseimbangan pemenuhan hak dan
kewajiban masing-masing profesi.
Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk melihat secara luas apa yang sebenarnya
menjadi tujuan hukum dan apakah dibidang kesehatan hal ini sudah tercapai atau masih
sangat jauh dari tujuan.

Teori Etis

Didalam teori ini tujuan hukum semata-mata adalah untuk keadilan. Keadilan itu meliputi
2 hal yaitu hakekat keadilan dan isi keadilan.

Hakekat keadilan :Penilaian terhadap suatu perlakuan atau tindakan dengan mengkajinya
dengan suatu norma yang menurut pandangan subjektif melebihi norma-norma lain. Ada dua
pihak yang terlibat disini yaitu pihak yang memperlakukan dan pihak yang menerima
perlakuan.

Misalnya : dokter dan pasien atau perawat dan pasien.Pada umumnya keadilan
merupakan penilaian yang hanya dilihat dari pihak yang menerima perlakuan saja. Karena
pihak yang menerima perlakuan selalu dianggap sebagai korban. Hal ini tentu kurang
memuaskan bagi slah satu pihak karena terkadang perlakuan yang diberikan salah satu pihak
kepada pihak yang lain jika diasumsikan tidak ada perubahan kondisi yang drastis, justru
tidak jarang memiliki tujuan yang baik.

Contohnya dokter didalam mengobati pasien harus menyuntikkan obat yang secara
harafiah dapat dilihat sebagai bentuk yang menyakitkan. Namun itu harus dilakukan demi
kebaikan pasien itu sendiri, jika pasien merasa menjadi korban maka tujuan dari
pengobatannya tidak akan tercapai secara maksimal.

Isi Keadilan: Aristoteles membedakan 2 macam keadilan yaitu : Justicia Commutativa


dan Justicia distributiva.

Justicia Commutativa yaitu memberi kepada setiap orang sama banyak. Hal ini berlaku
didalam berperkara, dimana terdapat asas Equality before the law atau bahwa setiap orang
memiliki kedudukan yang sama didepan hukum. Begitu pula jika dihadapkan pada fasilitas
dan pelayanan kesehatan. Perlakuan dan pelayanan yang baik tanpa membeda-bedakan pada
pasien merupakan suatu keharusan. Namun didalam hal tertentu kesamaan perlakuan dapat
saja membahayakan baik bagi pasien maupun orang lain.

Contoh: Bagi penderita penyakit yang parah dan rentan memapari orang lain dengan
penyakitnya, tentu saja harus mendapatkan perlakuan yang khusus agar tidak menulari orang
lain. Meskipun dampaknya pasien akan merasa terisolir dan tidak bebas. Namun demi
kebaikannya sendiri dan orang lain, perlakuan yang sama tidak dapat diaplikasikan.

Justicia Distributiva yaitu setiap orang mendapat apa yang menjadi haknya. Jatah ini tidak
sama antara satu orang dengan yang lainnya tergantung pada kebutuhan dan kepentingannya.
Sifatnya proporsional, artinya untuk mendapatkan haknya setiap orang harus mengingat hak
dan kepentingan orang lain dan jasa yang telah diberikan sebagai kontra prestasinya.
Didalam hal ini kedua macam keadilan yang ditawarkan Aristoteles tidak begitu saja
dapat diaplikasikan, karena hukum sendiri tidak selalu identik dengan keadilan. Misalnya
membuang sampah harus dite mpat sampah, bagi mereka yang jauh dari tempat sampah tentu
hal ini terasa kurang adil. Tetapi untuk kebaikan bersama, hukum mengatur demikian.

Jadi keadilan terasa terlalu naif jika dijadikan tujuan hukum semata.

2.3 Pengertian Dasar Etika

Secara etimologis etika diambil dari bahasa Yunani Ethos yang artinya adalah adat
istiadat atau kebiasaan. Di dalam pengertian ini etika dan etiket memiliki makna yang kurang
lebih sama. Namun dalam perkembanganya etika dihubungkan dengan hal-hal yang berkait
erat dengan niali, sehingga etika menjadi bagian dari ranah aksiologi yang bahkan sering di
sebut dengan filsafat tingkah laku manusia.
Pengertian ini kemudian menjadikan etika sebagai sesuatu yang sangat berbeda
dengan istilah sebelumnya yaitu adat isstiadat, namun mempnyai landasan pemikiran atau
suatu kerangka berfikir yang akhirnya melahirkan suatu sikap yang lebih bernilai. Di dalam
bukunya Bertens juga membedakan etika di dalam 3 pengertian yaitu :
1. Etika dalam arti nilai atau moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok
untuk mengatur tingkah laku yang di dalam hal ini bisa disamakan dengan adat, istiadat,
ataupun kebiasaan.
2. Etika diartikan sebagai kumpulan asa atau nilai moral yang juga lebih di kenal dengan
kode etik.
3. Etika yang mempunyai arti sebagai ilmu tentang baik dan buruk. Didalam hal ini etika
baru menjadi ilmu apabila kemungkinan-kemungkinan etis yang begit saja diterima dalam
suatu masyarakat menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis.

2.4 Landasan Hukum Kesehatan

Hermien Hadiati Koeswadji menyatakan pada asasnya hukum kesehatan bertumpu pada
hak atas pemeliharaan kesehatan sebagai hak dasar social (the right to health care) yang
ditopang oleh 2 (dua) hak dasar individual yang terdiri dari hak atas informasi (the right to
information) dan hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination).
Sejalan dengan hal tersebut Roscam Abing mentautkan hukum kesehatan dengan hak untuk
sehat dengan menyatakan bahwa hak atas pemeliharaan kesehatan mencakup berbagai aspek
yang merefleksikan pemberian perlindungan dan pemberian fasilitas dalam pelaksanaannya.
Untuk merealisasikan hak atas pemeliharaan bisa juga mengandung pelaksanaan hak untuk
hidup, hak atas privasi, dan hak untuk memperoleh informasi. Demikian juga Leenen secara
khusus, menguraikan secara rinci tentang segala hak dasar manusia yang merupakan dasar
bagi hukum kesehatan.
2.5 Tenaga Kesehatan, Etika Profesi, Kode Etik Kesehatan dan Sumpah

Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan
serta memiliki pengetahuan dan atau ketermpilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan, baik
berupa pendidikan gelar-D3, S1, S2 dan S3-; pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan
khusus kejuruan khusus seperti Juru Imunisasi, Malaria, dsb., dan keahlian. Hal inilah yang
membedakan jenis tenaga ini dengan tenaga lainnya. Hanya mereka yang mempunyai
pendidikan atau keahlian khusus-lah yang boleh melakukan pekerjaan tertentu yang
berhubungan dengan jiwa dan fisik manusia, serta lingkungannya.

Jenis tenaga kesehatan terdiri dari :


a. Perawat,
b. Perawat Gigi,
c. Bidan,
d. Fisioterapis,
e. Refraksionis Optisien,
f. Radiographer,
g. Apoteker,
h. Asisten Apoteker,
i. Analis Farmasi,
j. Dokter Umum,
k. Dokter Gigi,
l. Dokter Spesialis,
m. Dokter Gigi Spesialis,
n. Akupunkturis,
o. Terapis Wicara dan,
p. Okupasi Terapis.

1. ETIKA KESEHATAN
Pengertian Etika Kesehatan

Menurut Leenen: suatu penerapan dari nilai kebiasaan (etika) terhadap bidang
pemeliharaan/pelayanan kesehatan.

Menurut Soerjono Soekanto: penilaian terhadap gejala kesehatan yang disetujui, dan juga
mencakup terhadap rekomendasi bagaimana bersikap tidak secara pantas dalam bidang
kesehatan.

Hubungan Etika Kesehatan dan hukum kesehatan

 Hukum kesehatan lebih diutamakan dibanding Etika kesehatan. Contoh: (etiKes) Mantri
dpt memberi suntikan tanpa ada dokter tapi (Hukum kes) tidak membenarkan ini.
 ketentuan hukum kesehatan dapat mengesampingkan etika tenaga kesehatan. Contoh:
kerahasian dokter(etika kedokteraan) jika terkait dengan msalah hukum maka
dikesampingkan,
 Etika kesehatan lebih diutamakan dari etika dokter. Dokter dilarang mengiklankan diri,
tapi dalam menulis artikel kesehatan tidak maslah (etika kesehatan).

Perbedaan Etika Kesehatan dan hukum kesehatan

 Etika kesehatan objeknya semata-mata dalam pelayanan kesehatan sedangkan hukum


kesehatan objeknya tdk hny hkm tp melihat nilai-nilai hidup masyarakat.
 Hukum berlaku umum, etika kesehatan berlaku hanya dalam pelayanan kesehatan
 Etika sifatnya tidak mengikat dan pelanggarannya tidak dapat dituntut hukum mengikat
pelanggarnya dapat dituntut.

Etika Kesehatan Terdiri Dari :

a) Etika dan Etiket,


b) Etika, Moral dan Agama,
c) Jenis - Jenis Etika,
d) Nilai Etika.

2. HAM DALAM KESEHATAN


Ham Dalam Kesehatan Antara Lain :
a) Hak dan Kewajiban,
b) Hak Asasi Manusia Di Indonesia,
c) Hak dan Kewajiban dalam Profesi.
3. ALIRAN DAN PRINSIP - PRINSIP ETIKA KESEHATAN
Aliran Dan Prinsip-Prinsip Etika Yaitu :
a) Aliran - Aliran dalam Etika,
b) Prinsip - Prinsip Etika Kesehatan,
c) Etika Profesi Kesehatan,
d) Etika menurut Islam,
e) Etika penelitian.

4. KODE ETIK PROFESI

Mengingat petugas kesehatan demikian luasnya, maka masing-masing petugas


kesehatan tersebut mengelompokkan dirinya dalam profesi yang berbeda. Untuk mengatur
perilaku masing-masing profesi petugas kesehatan ini, maka masing-masing profesi ini
membuat panduan sendiri-sendiri yang disebut “Kode Etik”. Dapat dirumuskan bahwa “Kode
Etik Profesi” adalah suatu aturan tertulis tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh semua
anggota profesi dalam menjalankan pelayanannya terhadap “client” atau masyarakat. Kode
etik pada umumnya disusun oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Kode etik tidak
mengatur “hak-hak” anggota, tetapi hanya “kewajiban-kewajiban” anggota.

Kode etik adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap profesi di dalam
melaksanakan tugas profesinya dan di dalam hidupnya di masyarakat. Norma tersebut berisi
petunjuk bagi anggota profesi tentang bagaimana mereka harus menjalankan profesinya dan
larangan, yaitu ketentuan tentang apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat atau dilaksanakan
oleh anggota profesi, tidak saja dalam menjalankan tugas profesinya, melainkan juga
menyangkut tingkah laku pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari di dalam masyarakat
Kode etik juga diartikan sebagai suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai
internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pengetahuan komprehensif suatu
profesi yang memberikan tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.
Kode etik adalah suatu kesepakatan yang diterima dan dianut bersama (kelompok tradisional)
sebagai tuntunan dalam melakukan praktik. Kode etik disusun oleh profesi berdasarkan pada
keyakinan dan kesadaran profesional serta tanggung jawab yang berakar pada kekuatan moral
dan kemampuan manusia.
Ruang lingkup kewajiban bagi anggota profesi atau “isi” Kode Etik Profesi pada umumnya
mencakup :
1. Kewajiban umum
2. Kewajiban terhadap “client”
3. Kewajiban terhadap teman sejawatnya
4. Kewajiban terhadap diri sendiri.
Kode Etik Profesi Sebagai Berikut :
a) Kode Etik,
b) Fungsi Kode Etik Profesi,
c) Profesi.
5. KODE ETIK DALAM KESEHATAN MASYARAKAT
Kode Etik Dalam Kesehatan Masyarakat Meliputi :
a) Kode Etik Tenaga Kesehatan,
b) Kode Etik Kesehatan dan Keselamatan Kerja,
c) Kode Etik Sanitarian (Ahli Kesehatan Lingkungan),
d) Kode Etik Ahli Gizi,
e) Biostatistik,
f) Epidemiologi,
g) Informatika Kesehatan,
h) Kesehatan Reproduksi,
i) Manajemen Asuransi Kesehatan,
j) Manajemen Informasi Kesehatan,
k) Manajemen Pelayanan Kesehatan,
l) Manajemen Rumah Sakit,
m) Promosi Kesehatan.
6. PROBLEMATIKA KODE ETIK KESMAS
Problermatika Kode Etik Kesmas Adalah :
a) Penegakan kode etik,
b) Faktor penghambat kode etik,
c) Peradilan dalam profesi.
7. ETIKA PROFESI SERTA KODE ETTIK KESEHATAN
Etika profesi serta kode etik kesehatan sebagai berikut :
a) Etika kesehatan,
b) Ham dalam kesehatan,
c) Aliran dan prinsip - prinsip etika kesehatan,
d) Kode etik profesi,
e) Kode etik dalam kesehatan masyarakat,
f) Problematika kode etik kesmas.

A. PERBEDAAN ETIKA DAN ETIKET


 Etika menetapkan norma perbuatan apakah perbuatan itu dapat dilakukan atau
tidak,cth masuk tanpa izin tdk boleh.
 Etiket menetapkan cara melakukan perbuatan sesuai dengan yang diinginkan, masuk
kerumah org mengetuk pintu atau/dan salam.
 Etika berlaku tidak bergantung pd ada tidaknya org,cth larangan mencuri walau tdk
ada org.
 etiket berlaku jika ada org.cth org makan pakai baju tdk ada org tdk apa2.
 Etika bersifat absolut tdk dpt ditawar cth mencuri&membunuh
 Etiket bersifat relatif cth koteka wajar dipapua, diaceh wajib menutup aurat.
 Etika memandang manusia dari segi dalam (batiniah) cth: org-org bersifat baik tidak
munafik.
 etiket memandang manusia dari segi luar(lahiriah).cth: bersifat sopan dan santun tp
munafik.

B. ETIKA,MORAL DAN AGAMA


1. Etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat istiadat,
2. Moral (latin) objek etika (yunani) yang berarti adat kebiasaan,
Perbedaan Etika adalah ilmu pengetahuan dan moral adalah objek
3. Agama
a. Hubungan antara manusia dan suatu kekuasaan luar yang lain dan lebih daripada yg
dialami manusia.
b. apa yang diisyaratkan Allah dengan perantara Nabi berupa perintah dan larangan.

C. HUBUNGAN ETIKA, MORAL DAN AGAMA

Moral diartikan sama dengan dengan etika yang berupa nilai-nilai dan norma-norma yang
menjadi pegangan hidup manusia untuk mengatur perilakunya.
Agama mengandung nilai moral yang menjadi ukuran moralitas/etika perilaku manusia.
Makin tebal keyakinan agama dan kesempurnaan taqwa seseorg makin baik moralnya
yang diwujudkan dalam bentuk perilaku baik dan benar.
D. FAKTOR PENENTU MORALITAS
1. Perbuatan manusia dilihat dari motivasi,tujuan akhir dan lingkungan perbuatan
2. Motivasi :hal yang diinginkan oleh pelaku perbuatan dgn maksud untuk mencapai
sasaran yang hendak dituju.cth: kasus Aborsi motivasix mencegah malu dan aib
keluarga
3. Tujuan akhir adalah diwujudkan perbuatan yang dikehendaki secara bebas. Cth aborsi
tujuanx mengugurkan kandungan.
4. Lingkungan perbuatan adalah segala sesuatu yang secara aksidential atau mewarnai
perbuatan. Cth aborsi oleh PSK
2.6 Etika Profesi Kesehatan

Profesi berasal dari kata profesio (Latin), yang berarti pengakuan. Selanjutnya, profesi
adalah suatu tugas atau kegiatan fungsional dari suatu kelompok tertentu yang “diakui” atau
“direkognisi” dalam melayani masyarakat. Dapat dikatakan juga bahwa etika profesi adalah
merupakan norma-norma, nilai-nilai, atau pola tingkah laku kelompok profesi tertentu dalam
memberikan pelayanan atau “jasa” kepada masyarakat. Etika profesi kesehatan adalah norma-
norma atau perilaku bertindak bagi petugas atau pofesi kesehatan dalam melayani
masyarakat.

Etika profesi kesehatan adalah norma-norma atau perilaku bertindak bagi petugas atau
profesi kesehatan dalam melayani kesehatan masyarakat. Kode etik profesi adalah suatu
aturan tertulis tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh semua anggota profesi dalam
menjalankan pelayanannya terhadap ”client” atau masyarakat.kode etik pada umumnya
disusun oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Kode etik tidak mengatur “hak-hak”
anggota, tetapi hanya “kewajiban-kewajiban” anggota.

2.7 Fungsi Kode Etik

Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan
pengembangan bagi profesi. Fungsi seperti itu sama seperti apa yang dikemukakan Gibson
dan Michel yang lebih mementingkan pada kode etiksebagai pedoman pelaksanaan tugas
prosefional dan pedoman bagi masyarakat sebagai seorang professional.
Kode etik berfungsi sebagai berikut :
1. Memberi panduan dalam membuat keputusan tentang masalah etik.
2. Menghubungkan nilai atau norma yang dapat diterapkan dan dipertimbangkan dalam
memberi pelayanan.
3. Merupakan cara untuk mengevaluasi diri.
4. Menjadi landasan untuk memberi umpan balik bagi rekan sejawat.
5. Menginformasikan kepada calon tenaga kesehatan tentang nilai dan standar profesi.
6. Menginformasikan kepada profesi lain dan masyarakat tentang nilai moral.
Biggs dan Blocher mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu :

1. Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah.


2. Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi.
3. Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.
Supaya kode etik dapat berfungsi dengan semestinya, salah satu syarat mutlak adalah
bahwa kode etik itu dibuat oleh profesi sendiri. Seperti misalnya kode etik tenaga kesehatan
profesional harus dibuat oleh dirinya sendiri. Kode etik tidak akan efektif kalau di drop
begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah atau instansi-instansi lain, karena tidak akan
dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam kalangan profesi itu sendiri.
Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan barang kali dapat juga
membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus dilakukan oleh
profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode etik itu sendiri harus
menjadi hasil self regulation (pengaturan diri) dari profesi.
Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya
untuk mewujudkan nilai nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa
dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan cita-cita yang diterima
oleh profesi itu sendiri yang bisa mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan
untuk dilaksanakan juga dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar
kode etik dapat berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya di awasi terus menerus.
Tujuan kode etik agar professional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau
nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional. Dalam
proses pendidikan, banyak unsur-unsur yang terlibat agar proses pendidikan dapat berjalan
dengan baik. Salah satunya adalah guru sebagai tenaga pendidik. Guru sebagai suatu profesi
kependidikanmempunyai tugas utama melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Dalam
hal itu, guru sebagai jantung pendidikan dituntut semakin profesional seiring perkembangan
ilmu dan teknologi

2.8 Jenis-Jenis Etika

Etika umum & etika khusus Etika umum membicarakan mengenai kondisi-kondisi dasar
bagaimana manusia bertindak secara etis, teori-teori Etika dan prinsip-prinsip moral dasar
yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak, serta tolok ukur menilai baik atau
buruk.
Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang
khusus.

Etika khusus dapat dibagi menjadi dua, yaitu :


1. Etika individual ; Etika individual menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap
diri sendiri.
2. Etika social mengenai kewajiban sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota
masyarakat.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara perseorangan
dan langsung atau bersama-sama dalam bentuk kelembagaan, sikap kritis terhadap dunia
dan ideologi, dan tanggung jawab manusia terhadap lainnya.

2.9 Pengertian Nilai Etika

Nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan
individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya. Penilaian Etika itu di
dasarkan pada beberapa factor yaitu :

1. Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat,
susila atau tidak susila.
2. Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah mendarah
daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila
telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti.

Drs.Burhanuddin Salam menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3 (tiga) tingkat :

1. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa rencana
dalam hati, niat.
2. Tingkat Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
3. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.

NILAI DALAM FILSAFAT

1) Nilai Logika : akal. Nilainya benar atau salah ex: perbuatan mencuri
2) Nilai Estetika : penglihatan. Nilainya indah atau Jelek ex:Lukisan Gadis Telanjang
3) Nilai Etika : tingkah laku. Nilainya baik atau buruk ex: goyang Dewi Persik Contoh :
KODE ETIK PNS

HAM DALAM KESEHATAN


Hak Asasi Manusia Di Indonesia
HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak
awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun.
Dasar Hukum H.A.M :
UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
Ciri-ciri khusus :

 hakiki, artinya HAM sudah ada sejak lahir


 Universal, HAM berlaku umum tanpa memandang status,suku bangsa, gender
 tidak dapat dicabut, HAM tidak dapat diserahkan pada pihak lain\
 tidak dapat dibagi, semua orang mendapatkan semua hak, baik politik,ekonomi,
sosbud.
Hak yang paling dasar meliputi ;
1. Hak Hidup;
2. Hak Kemerdekaan /kebebasan;
3. Hak memiliki sesuatu.

Pengelompokan hak-hak dasar manusia meliputi :


1. hak sipil dan politik;

 hak hidup;
 hak persamaan dan kebebasan.
 kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat
 kebebasan berkumpul
 Hak beragama

2 . Hak ekonomi, sosial dan budaya

 hak ekonomi
 hak pelayanan kesehatan
 hak memperoleh pendidikan

Hak (UU no 36 thn 2009 psl 4-8)


Setiap orang berhak atas:
1. kesehatan.
2. akses atas sumber daya di bidang kesehatan.
3. pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
4. menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.
5. lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan.
6. informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
7. informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah
maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.

Kewajiban (UU no 36 thn 2009 psl 9-13) ;

 mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang


setinggi-tingginya.
 menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat, baik
fisik, biologi, maupun sosial.
 berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan
kesehatan yang setinggi-tingginya.
 menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung
jawabnya.
Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.
Hak dan Kewajiban dalam Profesi
Pasal 27

1. Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum dalam


melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2. Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.

2.10 Aliran dan Prinsip - Prinsip Etika Kesehatan


a. ALIRAN-ALIRAN DALAM ETIKA
 Aliran Deontologis: penilaian benar tidaknya suatu perbuatan atau baik tidaknya
sesorg,tdk perlu dilihat hasil akhirnya tetapi yang dinilai adalah perbuatan itu
sendiri.
Immanuel kant “seseorang berbuat baik karena rasional dan tidak dogmatis
Cth: org tdk mencuri bukan karna takut neraka tapi mencuri ad perbuatan buruk
Lanjutan
 Aliran Teleologis (konsenkualis): Baik buruknya seseorg dinilai dari tujuan
hendak dicapai
 Aliran Ethical Egoism: wajib berbuat baik demi kepentingan pribadi
 Aliran utilitarinism : wajib berbuat baik demi kepentingan umum dan masyarakat
Cth : merokok

b. PRINSIP-PRINSIP ETIKA(Hipcrates)
1. Tidak merugikan (non maleficence);
Cth: Pendapat dokter dlm pelayanan tidak dapat diterima pasien & keluarganya
sehingga jika dipaksakan dapat merugikan pasien.
2. Membawa Kebaikan (Beficence);
Cth:dokter memberi obat kanker tetapi mempunyai efek yg lain, maka dokter
harus mempertimbangkan secara cermat.
3. Menjaga Kerahasiaan (Confidentiality);
cth: tenaga kesehatan menjaga identitas kesehatan pasien jgn menyamp semuax
jangan sampai menghambat penyembuhannya,
4. otonomi Pasien (autonomy Pasien); Cth: pasien berhak menentukan tindakan-
tindakan baru dapat dilakukan atas persetujuan dirinya,
5. Berkata Benar (truth telling); Cth: tenaga kesehatan harus menyampaikan
sejujurnya penyakit pasien namun tidak dpt diutarakan semua kecuali kepada
keluarganya,
6. Berlaku adil (Justice); Cth: tenaga kesehatan tidak boleh diskriminatif dalam
pelayanan kesehatan,
7. Menghormati Privasi (Privacy); Cth :Tenaga kesehatan tidak boleh menyinggung
hal pribadi pasien dan sebaliknya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Dari data kajian yang telah saya peroleh dapat disimpulkan bahwa hukum kesehatan
memegang peran penting dalam berbagai segi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang, yang merupakan
bagian integral dari kesejahteraan, diperlukan dukungan hukum bagi penyelenggaraan
berbagai kegiatan di bidang kesehatan. Dan tentunya hukum kesehatan tersebut tidak terlepas
dari landasan-landasan hukum, profesi, etika dan sumpah beserta peraturan undang-undang
yang berlaku.

Demikianlah hasil dari makalah yang saya buat dalam rangka memperdalam wawasan
saya tentang “Hukum Kesehatan”. Semoga dengan terbentuknya makalah ini, saya dapat
memberikan pengetahuan yang luas kepada semua orang yang membacanya dan terutama
bagi mahasiswa dan mahasiswi Institut Kesehatan Helvetia Medan. Saya juga berharap
bahwa terbentuknya makalah ini, semua orang yang membutuhkan informasi yang terkait
dengan hukum kesehatan menjadi tertolong dan tidak kesulitan mencari informasi yang
dibutuhkan. Makalah ini saya persembahkan bagi perkembangan struktur pendidikan, semoga
apa yang tertulis dalam makalah ini selalu abadi dan memberikan berkah yang tiada hentinya
dalam kehidupan kita bersama.

Terima kasih atas segala pihak dan dosen pembimbing beserta teman-teman yang telah
memberikan informasi dan sangat membantu terbentuknya makalah ini serta semoga bantuan
tersebut menjadi tidak sia-sia nantinya.
DAFTAR PUSTAKA

 Hermien Hadiati Koeswadji, 1998, Hukum Kedokteran, Studi Tentang Hubungan Hukum
Dalam Mana Dokter Sebagai Salah Satu Pihak, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal 22.
 Roscam Abing, 1998, “Health, Human Rights and Health Law The Move Towards
Internationalization With Special Emphasis on Europe” dalam journal International
Digest of Health Legislations, Vol 49 No. 1, 1998, Geneve, hal 103 dan 107.
 HJJ. Leenen, 1981, Recht en Plicht in de Gezondheidszorg, Samson Uitgeverij, Alphen
aan den Rijn/Brussel.
 Biggs dan Blocher ( 1986 : 10)
 http://www.ilmukesehatan.com/,
 PP RI No.32 Tahun 1996 tentang : Tenaga kesehatan,
 rahman7syamsuddin@blogpot.com
 Dewi, A.I., 2008, Etika dan Hukum Kesehatan, Pustaka Book Publisher: Yogyakarta