Anda di halaman 1dari 11

PRAKTEK SURVEY KONFLIK SDA SECARA CEPAT

Oleg : Sudirman Sultan & Ady Riyanto S.

Tujuan Setelah pembelajaran materi ini peserta mampu memetakan


obyek konflik dan respon para pihak terhadap konflik yang
terjadi.

Output Adanya petugas lapangan yang mampu memetakan akar


konflik yang terjadi dan respon para pihak terhadap konflik
yang terjadi.

Waktu 10 jpl teori @ 45 menit

Metodologi  Studi kasus


 Praktek kelas
 Role Play

Alat dan Bahan  Pliftchart/ Stikycloth


 Kertas plano
 Metaplan
 Spidol
 Lakban
 Material lokal (batu, daun, biji-bijian) yang digunakan
sebagai simbol
 Kasus Konflik
 Lembar deskripsi gaya bersengketa (Kunci Agata-3)
 Kuisioner Thomas Kilnmann (Kuisioner Agata-4)

Materi 1. Identifikasi obyek konflik


2. Identifikasi persepsi, kepentingan, kekuatan klaim para
pihak atas konflik SDA
3. Identifikasi sikap / gaya sengketa para pihak atas konflik

Proses 1. Jelaskan tujuan, output, materi, proses dan waktu yang


dibutuhkan dalam kegiatan ini
2. Informasikan gambaran kasus konflik yang akan
diidentifikasi.
3. Jelaskan topik-topik informasi yang akan digali dalam
prakek (obyek konflik, persepsi, kepentingan, kekuatan
klaim, hubungan para pihak, gaya/sikap para pihak)
4. Minta peserta membentuk 2 kelompok besar.
5. Tentukan tugas dan peran masing-masing anggota
dalam setiap kelompok.
6. Lakukan Role Play, dengan mencari informasi tentang :
• Apa obyek konflik atau klaim yang ada?
• Siapa saja pihak yang terlibat konflik baik secara
langsung maupun tidak
• Apa kepentingan para pihk terhadap konflik
• Apa kekuatan klaim para pihak, bila memungkinkan
termasuk besar kecilnya kekuatan
• Bagaimana hubungan antar pihak terhadap lahan
dan pihak lain
• Gambar hubungan konflik yang terjadi
• Bagaimana sikap para pihak terhadap konflik
(naratif berdasarkan narasi gaya sengketa, atau
berdasarkan kuisiner Thomas Khilnman
Tegaskan waktu yang digunakan untuk praktek kelas ini.
7. Setelah dilakukan Role play indentifikasi obyek konflik,
masing-masing kelompok diasumsikan sudah
mendapatkan data dan informasi dari lokasi obyek
konflik.
8. Masing-masing kelompok membuat hasil pemetaan gaya
bersengketa para pihak (menghindar, kompetisi,
kolaborasi, kompromi, akomodasi) baik tabular maupun
grafis
9. Ulas hasil pemetaan para pihak dengan menggunakan
skema alternatif penyelesaian sengketa melalui
penyelesaian alternatif.
10. Masing-masing kelompok mendokumentasikan data
konflik yang diperoleh.
Lampiran 1. Lembar kasus

Masalah Tenurial di Dusun Tallasa Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan taman nasional yang ditunjuk


atas dasar Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18
Oktober 2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan pada Kelompok Hutan
Bantimurung-Bulusaraung seluas ±43.750 Ha, terdiri dari Cagar Alam Seluas ±10.282,65
Ha, Taman Wisata Alam Seluas ±1.624,25 Ha, Hutan Lindung seluas ±21.343,10 Ha,
Hutan Produksi Terbatas seluas ±145 Ha dan Hutan Produksi Tetap seluas ±10,355 ha
terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan menjadi Taman
Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan konservasi ini dikitari oleh 40 desa dan 10
kecamatan sebagai daerah penyangga kawasan.
Permasalahan terbesar dalam pengelolaan TN. Bantimurung Bulusaraung adalah
adanya klaim kepemilikan lahan oleh masyarakat Dusun Tallasa, Desa Samangki,
Kecamatan Simbang, Kabupaten Pangkep. Dalam peta penunjukkan, wilayah Dusun Tallasa
seluas ±298,45 Ha yang dulunya berada di hutan lindung yang berbatasan langsung
dengan Taman Wisata Alam Gua Pattunuang, masuk ke dalam kawasan TN Bantimurung
Bulusaraung.
Dusun Tallasa dihuni oleh 1.508 jiwa (727 ♂ & 781 ♀). Kelompok masyarakat ini
terdiri dari 227 KK dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah (1.147 orang tidak
sekolah, 215 orang tamatan SD, 87 orang tamatan SLTP, 42 orang tamatan SLTA, 12
orang tamatan D3, dan 5 orang tamatan S1). Untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya,
masyarakat ini terdiri dari 8 orang PNS/ABRI, 22 orang wiraswasta, dan 515 orang
menggantungkan hidupnya dari budidaya pertanian. Di dalam Dusun Tallasa, Desa
Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, terdapat infrastruktur pemukiman
yang terdiri dari 2 unit Masjid, 1 unit Mushallah, 2 unit Sekolah Dasar, 1 unit Pasar, 4
Km jalan beraspal dan beton, serta jaringan listrik PLN.
Kelompok masyarakat Dusun Tallasa sejak tahun 2006 telah mengajukan kepada
Pemerintah Kabupaten Maros dan Departemen Kehutanan untuk dilakukan enclave di
wilayah pemukimannya. Kawasan yang diokupasi oleh kelompok masyarakat ini seluas
298,45 Ha yang terdiri dari kebun dan pemukiman seluas 272,29 Ha, serta 26,16 Ha
lahan persawahan. Bukti Kepemilikan lahan masyarakat ini terdiri dari 1 berkas
sertifikat hak milik, 114 berkas rinci/girik, serta SPPT.
Pemerintah Desa Samangki menggunakan sebuah dokumen yang dibuat pada zaman
Belanda sebagai dasar penelusuran sejarah kepemilikan lahan. Dokumen tersebut
disebut rincik dan hingga sekarang masih dipegang oleh kepala desa. Untuk bukti
kepemilikan lahan, terdapat perbedaan yang didasari dari tingkat kekuatan kepemilikan
lahan. Kepemilikan dengan menggunakan sertifikat adalah bukti terkuat yang dimiliki
masyarakat atas sebuah lahan. Bagi masyarakat yang belum memililiki sertifikat tetapi
memiliki lahan dan selama mengelola membayar pajak menggunakan bukti kepemilikan
pemanfaatan yaitu SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang). Sistem kepemilikan
yang terendah diterapkan oleh masyarakat yang memanfaatkan lahan yang diakui oleh
mereka bukan sebagai miliknya dan hanya dimanfaatkan untuk jangka waktu tertentu
yaitu dengan menanam tanaman jangka pendek misalnya jagung, kacang tanah, jahe dan
lain-lain. Masyarakat yang memanfaatkan lahan tersebut tidak memiliki bukti
kepemilikan lahan.
Selain lahan, masyarakat di Desa Samangki khususnya Dusun Tallasa memiliki
sistem kepemilikan pohon aren yang telah dimanfaatkan secara turun temurun oleh
mereka. Pohon aren banyak ditemui tumbuh secara alami di sekitar wilayah Dusun
Tallasa dan di dalam kawasan TN BABUL. Pohon aren yang tumbuh di lahan masyarakat
adalah lahan yang diakui masyarakat dengan bukti kepemilikan surat pembayaran pajak.
Sementara untuk pohon aren yang berada di dalam kawasan hanya dimanfaatkan
masyarakat tanpa pengakuan kepemilikan lahan.
Pohon aren ditetapkan sebagai hak milik pada siapa yang pertama kali memasang
tanda menyadap (nge’ba). Untuk selanjutnya, dialah yang berhak terhadap pohon yang
telah ditandai dan orang lain tidak berhak menyadap pohon tersebut, kecuali apabila
sang pemilik memperbolehkan pohon aren miliknya disadap. Hal ini bisa terjadi apabila
sang pemilik tidak mampu lagi menyadap atau memiliki banyak pohon aren. Antara pemilik
dan penyadap penyewaan terjadi kesepakatan bagi hasil dengan komposisi 3 : 1.
Sistem kepemilikan pohon aren juga berlaku pada pohon aren yang berada di dalam
kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, yaitu kepemilikan pohon aren di tentukan oleh
orang yang pertama kali memasang alat nge’ba di pohon aren. Pengakuan hak atas
kepemilikan pohon aren ini dipatuhi oleh masyarakat dan sangat jarang terjadi
perselisihan dalam perebutan kepemilikan pohon aren. Kalaupun terjadi perselisihan atau
kesalahpahaman, penyelesainnya biasanya diselesaikan secara kekeluargaan dan
ditangani langsung oleh kepala dusunnya sendiri.
Batas kepemilikan lahan antara masyarakat yang digunakan di Dusun Tallasa
umumnya menggunakan batas alam misalnya batu kali yang disusun menjadi pagar,
tanaman yang sengaja di tanam atau aliran sungai. Tata batas ini sangat penting
diterapkan oleh masyarakat untuk kejelasan kepemilikan lahan dan sejauh mana
wewenang masyarakat dalam memanfaatkan lahan tersebut. Batas-batas ini sangat
dihargai oleh masyarakat dan sangat jarang terjadi konflik penyerobotan lahan antara
masyarakat.
Lampiran 2. Langkah-Langkah Pengumpulan Data di Lapangan

1. Menentukan Narasumber Kajian


Untuk menentukan narasumber kajian dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a. Kunjungan perkenalan (dimaksudkan untuk menyampaikan tujuan kajian dan
melakukan penjajakan awal terhadap calon narasumber).
b. FGD secara terpisah, masing-masing dengan para pemimpin (formal dan non-formal),
kelompok laki-laki non pemimpin, dan kelompok perempuan non pemimpin.
2. Membangun relasi dengan narasumber yang ditentukan.
Langkah ini bisa dilakukan dengan berkunjung ke rumah atau tempat kerja, memahami
rutinitas mereka sehari-hari dan membangun kesepakatan tentang proses komunikasi.
3. Menggali Informasi
Beberapa metode dapat dilakukan untuk menggali informasi (RaTA dan AGATA), yaitu :
a. FGD
b. Wawancara khusus dengan kelompok perempuan dan kelompok marginal.

Catatan :

Perhatikan waktu terbaik untuk melakukan wawancara khusus dengan perempuan.


Apabila assessor seorang laki-laki, perlu dipertimbangkan dengan mengajak warga lain
yang perempuan untuk memudahkan proses wawancara.

Lampiran 3. Lembar Assesment Tenurial

Untuk membantu memudahkan assessor dalam melakukan penilaian cepat masalah tenurial
di lapangan, dapat menggunakan lembar assessment berikut :

Outline Hasil Assesment


I. KEBERADAAN MASYARAKAT DESA
A. Gambaran Umum
1. Letak dan Aksesibilitas  Jarak dari Pemerintah Pusat
 Kecamatan
 Luas Wilayah Desa
 Batas Wilayah
 Sebelah Utara
 Sebelah Selatan
 Sebelah Timur
 Sebelah Barat
 Dusun
2. Kondisi Sosial & Ekonomi  Penduduk
 Jumlah Jiwa
 KK
 Suku
 Agama
 Pendidikan
 Mata Pencaharian Utama
 Tingkat Kesejahteraan
 Tingkat interaksi dengan SDA
 Interaksi Sosial
 Pola Pemukiman
 Lembaga Adat
 Peran Perempuan
3. Kecenderungan 
Perubahan
B. Sejarah Desa
C. Hubungan Antar Desa
II. TATA KUASA, TATA KELOLA DAN TATA IZIN RAKYAT
A. Tata Kuasa dan Tata Izin  Bentuk Klaim Penguasaan Lahan
Rakyat  Individu (keluarga)
 Masyarakat Adat
 Cara Penguasaan Lahan
 Pembukaan hutan oleh leluhur
 Warisan leluhur
 Sewa
 Jual Beli
 Bukti Penguasaan Lahan
 Areal bekas rumah nenek moyang
 Kuburan leluhur
 Bekas ladang
 Pohon tenkawang
 Surat perjanjian jual beli
 Pernyataan penguasaan tanah
 Surat Keterangan Tanah
 SPPT PBB
B. Tata Kelola  Bentuk Pengelolaan
 Pengelolaan Individu
 Pengelolaan Bersama
III. PETA POTENSI KONFLIK
A. Sketsa Obyek Konflik
B. Peta hubungan Subyek
(Akar) Konflik
C. Gaya Sengketa Aktor
(Masy Vs Pengelola)
D. Tingkat Eskalasi Konflik
IV. POTENSI KERJASAMA
A. Skema Kerjasama Antar
Pihak
B. Keterbatasan
V. REKOMENDASI
A. Pemerintah Pusat
B. Pemda
C. KPH
D. Masyarakat
E. LSM Pendamping
F. Pengembangan
perangkat tenure
Lampiran 4. Lembar deskripsi gaya bersengketa (Kunci Agata-3)

Analisis Gaya Bersengketa Para Pihak


Pasya dan Sirait (2011) mengembangkan perangkat analisis gaya bersengketa (AGATA) guna memetakan sikap
para aktor konflik dalam menghadapi sengketa. Sikap atau gaya tersebut berupa (Pasya dan Sirait (2011); Wirawan (2010):
1)menghindar (avoiding), 2)mengakomodasi (accomodating), 3)kompromi (compromising), 4)kompetisi (competing), dan
5)kolaborasi (collaborating).
1) Gaya menghindar (avoiding) terjadi ketika salah satu pihak menolak adanya sengketa, mengubah topik
penyebab sengketa ke topik lainnya yang bukan penyebab sengketa, menghindari diskusi tentang sengketa, berperilaku tidak
jelas (non-committal) atau tak ingin membangun komitmen. Gaya seperti ini amat efektif pada stuasi dimana terdapat bahaya
kekerasan fisik, tidak ada kesempatan untuk mencapai tujuan, atau situasi yang amat rumit yang tidak mungkin upaya
penyelesaian dilakukan.
2) Gaya mengakomodasi (accomodating) terjadi ketika salah satu pihak mengorbankan kepentingan diri/
kelompoknya dan mendahulukan kepentingan pihak lain. Gaya ini efektif pada situasi ketika suatu pihak menyadari tidak
memiliki banyak peluang untuk mencapai kepentingannya, atau ketika terdapat keyakinan bahwa memuaskan kepentingan
diri/ kelompoknya akan berakibat merusak hubungannya dengan kelompok lain.
3) Gaya kompromi (compromising), terjadi ketika masing-masing pihak bertindak bersama-sama mengambil
jalan tengah, misalnya dengan saling memberi, dan dalam tindakan tersebut tidak jelas siapa yang menang dan siapa yang
kalah. Gaya ini efektif pada situasi ketika para pihak menolak untuk bekerjasama sementara pada saat yang bersamaan
diperlukan jalan keluar, dan ketika tujuan akhir bukan merupakan bagian yang penting. Dalam gaya ini lazimnya tidak
dicapai kepuasan sejati.
4) Gaya kompetisi (competing), yaitu suatu gaya sengketa yang dicirikan oleh tindakan-tindakan agresif,
mementingkan pihak sendiri, menekan pihak lain, dan berperilaku tidak kooperatif. Gaya ini efektif ketika keputusan harus
dibuat secepatnya, jumlah pilihan keputusan amat terbatas atau bahkan hanya satu, suatu pihak tidak merasa rugi walau
dengan menekan pihak lain, dan yang terpenting tidak adanya kepedulian tentang potensi kerusakan hubungan dan tatanan
sosial.
5) Gaya kolaborasi (collaborating). Dicirikan adanya saling menyimak secara aktif kepentingan antar pihak,
kepedulian yang terfokus, komunikasi yang empati, dan saling memuaskan. Gaya ini efektif pada situasi terdapat
keseimbangan kekuatan (power balance) dan tersedia waktu dan energi yang cukup untuk menciptakan penanganan
sengketa secara terpadu.
Gaya penanganan konflik tersebut terbentuk dari kombinasi dua unsur yaitu (Thomas dan Kilmann dalam
Wirawan 2010): kerjasama (cooperativeness), dan keasertifan (assertiveness). Kerjasama adalah upaya untuk memuaskan
pihak lain jika menghadapi konflik. Keasertifan adalah upaya untuk memuaskan diri sendiri jika menghadapi konflik.
Kombinasi kedua unsur tersebut secara salib sumbu sebagaimana Gambar 1.
Keasertifan (Assertiveness)

Kompetisi Kolaborasi

Kompromi

Menghindar Mengakoomodasi

Kerja sama (Cooperativeness)

Sumber: Wirawan (2010)


(Source: Wirawan (2010))
Gambar 1 Gaya berkonflik para pihak
Figure 1 Conflict style of stakeholders
Lampiran 5. Kuisioner Thomas Kilnmann (Kuisioner Agata-4)

Instrumen Thomas Kilman (Rahim dan Mager, 1995), adalah alat sederhana untuk menganalisis gaya
mengelola konflik dari seseorang/pihak tertentu. Alat ini dipergunakan ketika ada dua pihak yang
berbeda sikapnya terhadap satu atau beberapa isu konflik, ketidaksepahaman, perdebatan, atau
kekecewaan terhadap pihak lain. Lalu, berdasarkan skala berikut, frekuensi sikap/gaya masing-
masing diskor, yaitu:

Skor: 1 = Tidak pernah, 2 = Jarang, 3 = Kadang-kadang, 4 = Sering, dan 5 = Selalu.

Masing-masing pertanyaan, akan memiliki 2 sekor. Misalnya, untuk pertanyaan ke-1, penskoran akan
nampak seperti 1: 2/4.

Sekarang cobalah isi berikut ini:

Tulis isu/akar konfliknya:

Tulis dua nama/pihak yang sedang berkonflik.

Pihak/pesengketa A
Pihak/pesengketa B

Skor
No. Pertanyaan
Pihak A Pihak B
1 Pesengketa menghindari berada ditengah konflik; Pesengketa
menyimpan konflik ke dalam dirinya saja.
2 Pesengketa menggunakan pengaruhnya agar kepentingannya dapat
diterima
3 Pesengketa mencoba memecahkan perbedaan untuk menyelesaikan
konflik
4 Pesengketa mencoba memuaskan kebutuhan pihak lain.
5 Pesengketa mencoba menginvestigasi akar konflik untuk menemukan
solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.
6 Pesengketa menghindari diskusi terbuka tentang perbedaannya dengan
pihak lain.
7 Pesengketa menggunakan kekuasaannya untuk membuat keputusan
sesuai keinginannya.
8 Pesengketa mencoba menemukan jalan tengah untuk memecahkan jalan
buntu.
9 Pesengketa akomodatif/”mengalah” terhadap harapan pihak lain.
10 Pesengketa mencoba memadukan idenya dengan ide pihak lain untuk
mencapai tujuan bersama.
11 Pesengketa mencoba menjauhi ketidaksepakatan dengan pihak lain.
12 Pesengketa menggunakan keahliannya untuk membuat keputusan yang
menyenangkan pihak/dirinya.
13 Pesengketa mengusulkan jalan tengah untuk memecahkan kebuntuan.
Skor
No. Pertanyaan
Pihak A Pihak B
14 Pesengketa memberikan sesuatu untuk memenuhi harapan pihak lain.
15 Pesengketa mencoba bekerja dengan pihak lain untuk menemukan solusi
yang memuaskan keinginan kedua pihak.
16 Pesengketa mencoba menyimpan ketidak-sepakatannya untuk
menghindari perasaan sakit/bersalah.
17 Pesengketa mengejar keinginannya terpenuhi dalam konflik yang ada.
18 Pesengketa berunding dengan pihak lain untuk mencapai kompromi.
19 Pesengketa mau bertindak atas saran pihak lain.
20 Pesengketa bertukar informasi akurat dengan pihak lain sehingga para
pihak dapat memecahkan masalah bersama.
21 Pesengketa mencoba menghindari saling merasa tidak nyaman dengan
pihak lain.
22 Pesengketa menggunakan kekuatannya untuk memenangkan
alasan/argumentasinya.
23 Pesengketa menggunakan “memberi dan menerima” sehingga kompromi
dapat dicapai.
24 Pesengketa mecoba memuaskan kehendak pihak lain
25 Pesengketa mencoba membawa kekhawatiran semua pihak secara
terbuka sehingga semua isu dapat ditanggulangi.

Masukkan Skor tersebut ke dalam tabel berikut :

No. A B No. A B No. A B No. A B No. A B


1. 2. 3. 4. 5.
6. 7. 8. 9. 10.
11. 12. 13. 14. 15.
16. 17. 18. 19. 20.
21. 22. 23. 24. 25.
Total Menghindar Agitasi Kompromi Akomodasi Kolaborasi
SKOR

Menghindar Agitasi Kompromi Akomodasi Kolaborasi


SKOR
Lampiran 6. Rekapitulasi Pendokumentasian Data Konflik

Judul Kasus :
Tahun Mulai Konflik :
Lokasi Konflik :
Jenis Konflik :
Sektor :
Deskripsi Konflik :

Deskripsi Geografis Area :

Deskripsi Demografis Area :

Status Pemantauan :

Riwayat Area Sengketa :

Tahun Luas Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa


Peristiwa-Peristiwa :
Tgl Mulai Tgl Akhir Judul Peristiwa Jenis Peristiwa
05021974 06062005

Anda mungkin juga menyukai