Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

Menurut organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organitation),


masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia sudah menjadi masalah yang
sangat serius. Berdasarkan data statistik, angka penderita gangguan kesehatan jiwa
memang mengkhawatirkan. Secara global, dari sekitar 450 juta orang yang
mengalami gangguan mental, sekitar satu juta orang diantaranya meninggal
karena bunuh diri setiap tahunnya. Angka ini cukup kecil jika dibandingkan
dengan upaya bunuh diri para penderita gangguan jiwa yang mencapai 20 juta
jiwa setiap tahunnya1
Masalah gangguan jiwa bukan hanya terbatas pada peningkatan jumlah
penderita dan kejadian bunuh diri tetapi jauh lebih luas. Masalah yang utama
adalah bagaimana mengobati penderita gangguan jiwa karena mereka juga punya
hak untuk sembuh. Gangguan jiwa bisa disembuhkan akan tetapi harus diakui
proses penyembuhan tersebut cukup sulit. Pengobatan penderita gangguan jiwa
membutuhkan waktu yang cukup lama. Penderita gangguan jiwa terkadang harus
minum obat bertahun-tahun. Dalam proses pengobatan sangat diperlukan peran
penderita sendiri, keluarga, lingkungan, dan penyedia jasa kesehatan.
Dalam pengobatan dikenal istilah kepatuhan minum obat pada penderita
gangguan jiwa. Kepatuhan ini sangat penting supaya keberhasilan pengobatan
tercapai. Peran penderita, keluarga, lingkungan, serta penyedia jasa kesehatan
sangat berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat. Jadi, dalam upaya penganan
penderita gangguan jiwa melibatkan peran serta berbagai pihak yang lebih
kompleks.2
Berbagai masalah juga dapat ditimbulkan pada penderita yang tidak patuh
minum obat. Masalah yang ditimbulkan berupa kekambuhan kembali sehingga
penderita harus dirawat. Hal ini akan meningkatkan biaya pengeluaran negara
untuk masalah kesehatan. Kekambuhan juga bisa membahayakan penderita
sendiri dan orang lain. Selain itu, ketidakpatuhan minum obat memperburuk
prognosis gangguan jiwa.2

1
2

Tujuan penulisan referat ini adalah untuk memberikan wawasan tentang


faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada penderita
gangguan jiwa. Dengan memahami faktor-faktor tersebut diharapkan kebijakan
yang diambil akan meningkatkan kepatuhan minum obat pada penderita gangguan
jiwa.

2
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Kepatuhan Minum Obat


1.1.1 Definisi Kepatuhan
Kepatuhan (compliance) atau juga dikenal sebagai ketaatan (adherence)
adalah perilaku seseorang untuk mematuhi anjuran medis yang diterimanya.
Contoh dari kepatuhan adalah mematuhi dan menyelesaikan program pengobatan,
diet yang baik, dan merubah gaya hidup2.
Kepatuhan dalam pengobatan (medication compliance) adalah
mengkonsumsi obat-obatan yang di resepkan dokter pada waktu dan dosis yang
tepat dan pengobatan hanya akan efektif apabila anda mematuhi peraturan dalam
penggunaan obat.2
Menurut Siregar (2005) yang dimaksud dengan kepatuhan dalam
pengobatan adalah mengkonsumsi obat-obatan yang di resepkan pada waktu dan
dosis yang tepat. Kepatuhan dapat didefenisikan sebagai tingkat ketepatan
perilaku seorang individu dengan nasihat media atau kesehatan, pasien yang
berpengetahuan tentang obatnya menunjukkan ketaatan yang meningkat terhadap
regimen obat yang ditulis sehingga menghasilkan hasil terapi yang meningkat.3

1.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat


Kepatuhan terjadi bila aturan pakai obat yang diresepkan diikuti dengan
benar. Jika terapi akan dilanjutkan setelah pasien pulang, penting agar pasien
mengerti dan dapat meneruskan terapi itu dengan benar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien
jiwa adalah faktor penyakit, faktor pasien, faktor obat-obatan, dan faktor
lingkungan4.

Faktor Penyakit
Beberapa gejala pada gangguan jiwa seperti skizofrenia dapat
menghambat kepatuhan minum obat. Gejala yang berat dan insight yang buruk
bisa mempengaruhi kepatuhan.
Ada dua penelitian prospektif yang menyatakan bahwa gejala-gejala yang
berat pada gangguan jiwa dapat menghambat kepatuhan minum obat5,6. Pada

3
4

penelitian Cramer dan Rosenheck menunjukkan tingkat kepatuhan pada pasien


psikosis sebesar 58 persen (interval 24-90 persen) dan pada pasien depresi sebesar
65 persen (interval 58-90 persen)7.
Kebanyakan pasien skizofrenia memiliki insight yang buruk terhadap
penyakitnya sendiri. Insight yang buruk memicu ketidakpatuhan pasien minum
obat5,8. Pada penelitian lain mengatakan bahwa insight yang buruk merupakan
faktor yang paling berperan pada ketidakpatuhan pasien minum obat9.

Faktor Pasien
Beberapa faktor yang berkaitan dengan pasien adalah kepercayaan
terhadap pengobatan, obesitas, dan faktor agama.
Kepercayaan pasien terhadap pengobatan sangat berpengaruh terhadap
kepatuhan. Pasien yang yakin dan percaya berpengaruh pada efektifitas
pengobatan dan meningkatkan kepatuhan minum obat.
Obesitas juga berpengaruh terhadap kepatuhan. Salah satu efek samping
obat antipsikotik adalah bertambahnya berat badan. Terdapat hubungan antara
obesitas dengan ketidakpatuhan minum obat. Ketidakpatuhan disebabkan oleh
stress terhadap kenaikan berat badan yang berlebih.
Suatu penelitian cross-sectional menyatakan bahwa agama/kehidupan
spiritual yang baik meningkatkan kepatuhan minum obat10.

Faktor Obat-obatan
Faktor obat-obatan juga mempengaruhi kepatuhan minum obat seperti
efek samping obat dan regimen obat.
Pada penelitian Hudson dkk., menemukan bahwa sebanyak 35% pasien
dengan reaksi efek samping obat menurunkan kepatuhannya. Penelitian lainnya
juga mengatakan bahwa sekitar 50% pasien menjadi tidak patuh karena stres
dengan reaksi efek samping obat.
Regimen obat juga berpengaruh terhadap kepatuhan. Pada studi di Jerman
menyatakan bahwa 500 pasien skizofrenia yang obat antipsikotiknya diganti dari
golongan tipikal ke golongan atipikal menunjukkan pengaruh yang signifikan
terhadap kepatuhan11. Faktor lain yang berpengaruh adalah jumlah obat yang
harus diminum, lamanya pemberian, dan rasa obat.

Faktor Lingkungan
Interaksi Pasien dengan Profesional Kesehatan

4
5

Keadaan sekeliling kunjungan seorang pasien ke dokter dan/atau apoteker,


serta mutu dan keberhasilan (keefektifan) interaksi profesional kesehatan dengan
pasien adalah penentu utama untuk pengertian serta sikap pasien terhadap
kesakitannya dan regimen terapi. Salah satu kebutuhan terbesar pasien adalah
dukungan psikologis yang diberikan dengan rasa sayang. Selain itu, telah diamati
bahwa pasien cenderung untuk lebih mematuhi instruksi seorang dokter yang
merka kenal betul dan dihormati, serta dari siapa saja mereka menerima informasi
dan kepastian tentang kesakitan dan obat-obat mereka. Berbagai faktor berikut
adalah di antara faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan secara merugikan,
jika perhatian yang tidak memadai diberikan pada lingkup dan mutu interaksi
dengan pasien.
- Menunggu Dokter atau Apoteker
Apabila seorang pasien mengalami suatu waktu menunggu yang signifikan
untuk bertemu dengan dokter atau untuk mengerjakan (mengisi) resepnya,
kejengkelan dapat berkontribusi pada kepatuhan yang yang lebih buruk terhadap
instruksi yang diberikan. Dari suatu penelitian ditunjukkan bahwa hanya 31% dari
pasien yang biasanya menunggu lebih dari 60 menit untuk bertemu dengan
dokternya yang benar-benar patuh, sedangkan yang menunggu dalam 30 menit,
67% dari pasien tersebut benar-benar patuh.
- Sikap dan Keterampilan Komunikasi Profesional Kesehatan
Berbagai studi menunjukkan ketidakpuasan pasien terhadap sikap pelaku
pelayan kesehatan. Uraian yang umum tentang pelaku pelayan kesehatan di rumah
sakit mencakup dingin, tidak tertarik, tidak sopan, agresif, kasar, dan otoriter.
Walaupun uraian demikian tersebut tidak demikian bagi banyak praktisi yang
mengabdi dan terampil, sikap yang tidak pantas terhadap pasien telah cukup
terbukti menunjukkan suatu masalah yang signifikan. Pelaku pelayan kesehatan
cenderung menggunakan terminologi sehingga pasien tidak dapat mengerti
dengan mudah, mereka sering kurang pengetahuan tentang teori dan praktik
perilaku, dan mereka mempunyai kesadaran yang terbatas pada tingkat, masalah,
dan penyebabpasien tidak taat pada pengobatan. Ketaatan pada pengobatan,
berhubungan dengan kejelasan penjelasan dokter penulis resep, pasien sering
merasa bahwa instruksi dinyatakan kurang jelas atau sama sekali tidak jelas.
Ketepatan waktu dan kejelasan suatu pesan sangat kuat mempengaruhi bagaimana

5
6

itu diterima, dimengerti, dan diingat. Pasien mengingat dengan sangat baik
instruksi pertama yang diberikan; instruksi yang perlu penekanan adalah lebih
baik diingatkan kembali; makin sedikit instruksi diberikan, semakin besar bagian
yang diingat. Jadi suatu pesan tidak saja harus jelas dinyatakan, tetapi juga harus
diorganisasikan dan disampaikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan
pasien yang mengikuti dan memproses informasi secara sempurna.
- Gagal Mengerti Pentingnya Terapi
Alasan utama untuk tidak patuh adalah bahwa pentingnya terapi obat dan
akibat yang mungkin, jika obat tidak digunakan sesuai dengan instruksi yang tidak
mengesankan pasien. Pasien biasanya mengetahui relatif sedikit tentang kesakitan
mereka, apalagi manfaat dan masalah terapi yang diakibatkan terapi obat. Oleh
karena itu, mereka menyimpulkan pikiran sendiri berkenaan dengan kondisi dan
pengharapan yang berkaitan dengan efek terapi obat. Jika terapi tidak memenuhi
pengharapan, mereka lebih cenderung menjadi tidak patuh. Perhatian yang lebih
besar diperlukan untuk memberi edukasi pada pasien tentang kondisinya, dan
manfaat serta keterbatasan dari terapi obat, akan berkontribusi pada pengertian
yang lebih baik dari pihak pasien tentang pentingnya menggunakan obat dengan
cara yang dimaksudkan.
- Pengertian yang Buruk Pada Instruksi
Berbagai investigasi telah menguraikan masalah dari jenis ini. Dari suatu
studi pada sekitar 6000 resep, 4% dari resep itu terdapat instruksi pasien ditulis
“Sesuai Petunjuk”. Akibat yang mungkin dari salah pengertian dapat serius.
Misalnya, seorang pasien menggunakan tiga kali dua kapsul fenitoin (100mg)
Universitas Sumatera Utarasehari, daripada seharusnya tiga kali satu kapsul sehari
seperti instruksi dokter. Pada pasien skizofrenia yang menggunakan obat
antipsikotik haloperidol 2,5 mg/hari dan fluphenazine Hydrochloride 2,5 mg/hari.
Alasan untuk penggunaan instruksi oleh beberapa dokter “Gunakan sesuai
petunjuk” telah diteliti. Walaupun penggunaan penandaan ini diadakan dalam
situasi yang terseleksi dipertahankan, kemungkinan untuk membingungkan dan
mengakibatkan kesulitan, dibuktikan dalam penelitian serta menyimpulkan bahwa
perlu membuat instruksi penggunaan obat sespesifik mungkin. Bahkan, apabila
petunjuk kepada pasien sudah lebih spesifik dari “ sesuai petunjuk” kebingungan
masih dapat terjadi.

6
7

- Pasien takut bertanya


Pasien sering ragu bertanya kepada tim pelaku pelayan kesehatan untuk
menjelaskan kondisi kesehatan mereka atau pengobatan yang diajukan. Keragu-
raguan ini dapat dihubungkan pada ketakutan dianggap bodoh, perbedaan status
sosial, dan bahasa atau tidak didorong oleh pelaku pelayanan terserbut. Interaksi
pasien dengan pelaku pelayan kesehatan yang lebih berhasil dapat didorong
dengan meningkatkan kepekaan pada pihak pelaku pelayan kesehatan.
- Ketidakcukupan waktu konsultasi
Profesional pelayan kesehatan kebanyakan bersifat kurang berinteraksi
dengan pasien karena tekanan pekerjaan. Dalam beberapa bagian rumah sakit,
waktu atau praktik sibuk, waktu konsultasi sangat terbatas dan ini jelas menjadi
sautu masalah. Jika seorang pasien diberi hanya satu atau dua menit untuk waktu
konsultasi, dapat terjadi hal yang lebih buruk. Biaya yang dikeluarkan pasien
berkenaan dengan waktu, transport dan pengeluaran untuk obat. Hal ini dapat
meningkatkan ketidakpatuhan pasien terhadap instruksi karena mereka merasa
bahwa profesional pelayan kesehatan tidak ada perhatian pada penyembuhan
penyakit mereka. Untuk itu pentingnya rumah sakit agar mempertimbangkan
untuk memperpanjang waktu konsultasi bagi pasien. Profesional pelayan
kesehatan harus didorong untuk mengerti bahwa komunikasi yang efektif dengan
pasien bukanlah suatu ideal yang tidak realistik, tetapi merupakan suatu aspek inti
dari keberhasilan praktik klinik.
-
Kesediaan Informasi Tercetak
Ketaatan pada pengobatan mungkin meningkat, dengan tersedianya
informasi tercetak dalam bahasa yang sederhana. Di beberapa negara maju, semua
IFRS (Instalasi Farmasi Rumah Sakit) harus mempunyai lembaran informasi
untuk pasien, tersedia untuk setiap obat. Instruksi sederhana untuk obat yang
paling banyak digunakan dan obat yang paling banyak disalahgunakan dapat
dicetak pada kertas murah.

1.1.3 Jenis Ketidakpatuhan


Pengobatan akan efektif apabila mematuhi aturan dalam pengobatan,
Menurut Siregar (2006) adapun beberapa jenis ketidakpatuhan yang terjadi adalah
disebabkan oleh sebagai berikut.3

7
8

 Ketidakpatuhan pada terapi obat, mencakup kegagalan menebus resep,


melalaikan dosis, kesalahan dosis, kesalahan dalam waktu pemberian /
konsumsi obat, dan penghentian obat sebelum waktunya.
 Tidak menebus resep obatnya , yaitu karena pasien/keluarga pasientidak
merasa memerlukan obat atau tidak menghendaki mengambilnya. Ada
juga pasien tidak menebus resepnya karena tidak mampu membelinya.
 Kesalahan pada waktu konsumsi obat, yaitu dapat mencakup situasi yang
obatnya di konsumsi tidak tepat dikaitkan dengan waktu makan.
contohnya : 1 jam sebelum makan dan 2 jam setelah makan
 Penghentian pemberian obat sebelum waktunya,pasien harus di beritahu
pentingnya penggunaan obat antibiotik yang di konsumsi sampai habis
selama terapi
 Pemberian obat kurang dari dosis yang tertulis dan penghentian obat
sebelum waktunya, faktor lain yaitu ketidakpatuhan mencakup
pengetiketan yang tidak benar dan penggunaan “sendok teh” yang
mempunyai berbagai volume yang berbeda.
 pasien rawat jalan yang tidak patuh karena tidak mengerti instruksi
penggunaan dengan benar dan ada yang salah menginterpretasikan, Selain
itu kemungkinan ketidakpatuhan pasien rawat jalan karena kurangnya
pengawasan terapi.

1.1.4 Dampak Ketidakpatuhan Minum Obat


Ketidakpatuhan akan mengakibatkan penggunaan suatu obat yang kurang.
Dengan cara demikian, pasien kehilangan manfaat terapi yang diantisipasi dan
kemungkinan mengakibatkan kondisi yang diobati secara bertahap menjadi buruk.
Hal ini menyebabkan kembali kekambuhan, penyakit kambuh lagi karena
diakibatkan oleh ketidakpatuhan dari pada disebabkan timbulnya resisten terhadap
obat. Ketidakpatuhan juga dapat berakibat dalam penggunaan suatu obat berlebih.
Apabila dosis berlebih digunakan atau apabila obat diberikan lebih sering dari
pada yang dimaksudkan, akan ada resiko reaksi merugikan yang meningkat.
Masalah yang berkaitan dengan salah penggunaan dan penyalahgunaan obat, baik
tidak disengaja maupun disengaja telah benar-benar diketahui. Walaupun biasanya
tidak di anggap berkaitan dengan ketidakpatuhan, masalah penyalahgunaan obat

8
9

kadang-kadang adalah akibat penggunaan obat yang berlebihan yang dituliskan


untuk penyakit tertentu.12
Implikasi lain berkenaan dengan penyimpanan obat yang tidak digunakan
sepenuhnya selama periode pengobatan yang dimaksudkan. Menyimpan obat-
obatan dapat mengakibatkan ketidaktepatan penggunaannya dikemudian hari.3

1.1.5 Upaya Peningkatan Kepatuhan Minum Obat


Dalam meningkatkan kepatuhan komunikasi merupakan cara antara tim
medis dan pasien dalam berbicara mengenai obat yang di tulis. Keefektifan
komunikasi akan menjadi penentu utama kepatuhan pasien. Dibawah ini
merupakan peranan dalam menghadapi masalah ketidakpatuhan yaitu :
 Mengidentifikasi faktor resiko yaitu mengenal individu yang mungkin
tidak patuh, sebagaimana di duga oleh suatu pertimbangan berbagai
faktor resiko yang perlu diperhitungkan dalam merencanakan terapi
pasien, agar regimen sejauh mungkin kompatibel dengan kegiatan
normal pasien.
 Pengembangan rencana pengobatan yaitu rencana pengobatan harus di
dasarkan pada kebutuhan pasien, apabila mungkin pasien harus
menjadi partisipan dalam keputusan pemberian regimen terapi. Untuk
membantu ketidaknyamanan dan kelalaian, regimen harus disesuaikan
agar dosis yang diberikan pada waktu yang sesuai dengan jadwal
pasien.
 Alat bantu kepatuhan yang meliputi pemberian label dan kalender
pengobatan dan kartu pengingat obat sehingga pasien mengerti tentang
penggunaan dalam membantu pasien mengerti obat yang digunakan,
kapan digunakan, dan mengenai dosis obat yangdigunakan.

2.1 Keluarga
2.1.1 Definisi Keluarga
Keluarga didefenisikan dalam berbagai cara. Defenisi keluarga berbeda-
beda, tergantung kepada orientasi teoritis “pembuat defenisi” yaitu dengan
menggunakan penjelasan yang penulis cari untuk menghubungkan keluarga.14
Pengertian keluarga dapat ditinjau dari dimensi hubungan darah dan
hubungan sosial. Keluarga dalam dimensi hubungan darah merupakan kesatuan

9
10

sosial yang diikat oleh hubungan darah antara satu dengan lainnya. Berdasarkan
dimensi hubungan darah ini, keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga besar dan
keluarga inti. Sedangkan dalam dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan
suatu kesatuan sosial yang diikat oleh adanya saling berhubungan atau interaksi
dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya, walaupun diantara
mereka tidak terdapat hubungan darah. Keluarga berdasarkan hubungan sosial ini
dinamakan keluarga psikologis dan keluarga pedagogis.14
Menurut Candra dalam Septian (2011) menyatakan bahwa penderita
skizofrenia remisi sempurna akan dikembalikan kepada keluarga, maka keluarga
harus mengenal gejala-gejala skizofrenia. Selain itu penderita skizofrenia sangat
memerlukan perhatian dan empati dari keluarga. Itu sebabnya keluarga harus
menumbuhkan sikap mandiri dalam diri penderita, mereka harus sabar serta
menghindari sikap Expressed Emotion (EE) atau reaksi berlebihan seperti sikap
terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa
menyulitkan penyembuhan dan menimbulkan kekambuhan.15
Pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat anggota keluarga
yang menderita skizofrenia bisa didapat dengan mengikuti program-program
intervensi keluarga yang menjadi satu dengan pengobatan skizofrenia seperti
family psycho education program, cognitive behavior therapy for family,
multifamily group therapy dan lain-lain. Di Indonesia program penanganan
keluarga ini belum mendapat perhatian yang lebih. Hal ini sebenarnya perlu
dilakukan mengingat bahwa: pertama, karena hampir semua penderita tidak dalam
perawatan, tetapi berada di tengah keluarga; kedua, minimnya fasilitas kesehatan
mental membuat penanganan pengobatan penderita tidak optimal dan ketiga
penanganan oleh keluarga jauh lebih murah. Program umumnya bisa meliputi
pengetahuan dasar tentang skizofrenia, penanganan emosi dalam keluarga,
keterampilan menghadapi gejala skizofrenia, serta keterampilan menjadi perawat
yang baik bagi penderita .15
2.1.2 Fungsi Keluarga

10
11

Setiap anggota keluarga memiliki kebutuhan dasar fisik, pribadi dan sosial
yang berbeda. Menurut Friedman dalam Nanda Saputra (2010) bahwa keluarga
memiliki 5 fungsi dasar, yaitu.15
-
Fungsi Afektif
Merupakan fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu
untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengna orang lain.
-
Fungsi Sosialisasi
Merupakan fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk
berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan
orang lain di luar rumah.
-
Fungsi Reproduksi
Merupakan fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga.
-
Fungsi Ekonomi
Merupakan fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan
tempat untuk mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
-
Fungsi Perawatan
Merupakan fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga
agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.16
2.1.3 Peran Keluarga
Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai berikut:
-
Peran Ayah : ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman sebagai kepala
keluarga, sebagai anggota kelompok sosialnya serta sebagai anggota
masyarakat dari lingkungannya.
-
Peran Ibu : sebagi istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. Di

11
12

samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.
-
Peran Anak : anak-anaknya melaksanakan peranan psiko sosial sesuai
dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.8
2.1.4 Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan yang dipandang
oleh anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diadakan untuk keluarga
dimana dukungan tersebut bisa atau tidak digunakan, tetapi anggota keluarga
memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan
pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Dukungan keluarga dapat berupa
dukungan keluarga internal, seperti dukungan dari suami/istri, dukungan dari
saudara kandung, dukungan dari anak dan dukungan keluarga eksternal, seperti
dukungan dari sahabat, tetangga, sekolah, keluarga besar, tempat ibadah, praktisi
kesehatan.14
Kane dalam Yoga (2011) mendefenisikan dukungan keluarga sebagai suatu
proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya. Dukungan
keluarga tersebut bersifat reprokasitas (timbal balik), umpan balik (kuantitas dan
kualitas komunikasi), dan keterlibatan emosional (kedalaman intimasi dan
kepercayaan) dalam hubungan sosial.14
Dukungan keluarga merupakan sebuah proses yang terjadi sepanjang
kehidupan, dimana dalam semua tahap siklus kehidupan dukungan keluarga
membuat keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal untuk
meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga dalam kehidupan.14

12
13

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kepatuhan (compliance) atau juga dikenal sebagai ketaatan (adherence)
adalah perilaku seseorang untuk mematuhi anjuran medis yang diterimanya.
Pasien dengan penyakit jiwa biasanya memiliki kesulitan besar untuk
melaksanakan kepatuhan minum obat, tetapi mereka juga memiliki potensi
terbesar untuk mendapatkan manfaat dari kepatuhan tersebut.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat.Yaitu:
 Faktor penyakit.
Beberapa gejala pada gangguan jiwa seperti skizofrenia dapat
menghambat kepatuhan minum obat.
 Faktor Pasien
Beberapa faktor yang berkaitan dengan pasien adalah kepercayaan
terhadap pengobatan, obesitas, dan faktor agama.
 Faktor Obat
Faktor obat-obatan juga mempengaruhi kepatuhan minum obat seperti
efek samping obat dan regimen obat.
Pada penelitian Hudson dkk., menemukan bahwa sebanyak 35%
pasien dengan reaksi efek samping obat menurunkan kepatuhannya
 Faktor Lingkungan
Ini berhubungan dengan hubungan pasien dengan tenaga kesehatan.
Keadaan sekeliling kunjungan seorang pasien ke dokter dan/atau
apoteker, serta mutu dan keberhasilan (keefektifan) interaksi
profesional kesehatan dengan pasien adalah penentu utama untuk

13
14

pengertian serta sikap pasien terhadap kesakitannya dan regimen


terapi.
Dukungan dari keluarga juga sangat berperan dalam pelaksanaan
kepatuhan minum obat seorang pasien. Menurut Candra dalam Septian
(2011) menyatakan bahwa penderita skizofrenia remisi sempurna akan
dikembalikan kepada keluarga, maka keluarga harus mengenal gejala-
gejala skizofrenia. Selain itu penderita skizofrenia sangat memerlukan
perhatian dan empati dari keluarga. Itu sebabnya keluarga harus
menumbuhkan sikap mandiri dalam diri penderita, mereka harus sabar
serta menghindari sikap Expressed Emotion (EE) atau reaksi
berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan
terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan dan
menimbulkan kekambuhan.

Saran
Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan dapat
dikelompokkan menjadi empat kategori umum: edukasi pasien; meningkatkan
dosis; peningkatan jam pelayanan rumah sakit; dan meningkatkan kualitas
komunikasi antara dokter dan pasien. Pendidikan intervensi yang melibatkan
pasien, anggota keluarga mereka, atau keduanya dapat efektif dalam
meningkatkan kepatuhan. Peran rumah sakit dalam upaya meningkatkan
kepatuhan minum obat adalah dengan menambah jam pelayanan pasien atau
menambah fasilitas pelayanan seperti puskesmas terutama di daerah-daerah
terpencil, agar pasien yang berdomisili di daerah-daerah terpencil tidak harus
menempuh jarak yang jauh untuk mendapatka obat. Akhirnya, meningkatkan
komunikasi antara dokter dan pasien adalah strategi kunci dan efektif dalam
meningkatkan kemampuan pasien untuk mengikuti rejimen obat.17

14
15

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. 2011. Schizophrenia. Geneva: World Health


Organization.
2. Staring, Anton BP. 2010. Adherence to treatment in patient with psychosis.
Erasmus Universiteit Rotterdam.
3. Siregar,Charles J.P.(2005).Farmasi Klinik:teori dan penerapan.Jakarta :
EGC
4. Higashi, Kyoko dkk. 2013. Medication adherence in Schizophrenia:
factors influencing adherence and consequences of nonadherence, a
systematic literature revie. Therapeutic Advances in Psychopharmacology
5. Acosta, F. dkk. 2009. Evaluation of noncompliance in schizophrenia
patients using electronic monitoring (MEMS) and its relationship to
sociodemographic, clinical and psychopathological variables. Schizophr
Res.
6. Hudson, T. dkk. 2004 A pilot study of barriers to medication adherence in
schizophrenia. J Clin Psychiatry.
7. Cramer JA, Rosenheck R. 1998. Compliance with medication regimens for
mental and physical disorders. Psychiatr Serv
8. Loffler, W. dkk. 2003. Schizophrenic patients’ subjective reasons for
compliance and noncompliance with neuroleptic treatment.
Pharmacopsychiatry.
9. Velligan, D. dkk. 2009. Expert Consensus Panel on Adherence Problems
in Serious and Persistent Mental Illness. The expert consensus
10. Borras, L. dkk. 2007. Religious beliefs in schizophrenia: their relevance
for adherence to treatment. Schizophr Bull.

15
16

11. Janssen, B. dkk. 2006. Evaluation of factors influencing medication


compliance in inpatient treatment of psychotic disorders.
Psychopharmacology.
12. Niven,Neil.(2002). Psikologi Kesehatan : Pengantar Untuk Perawat
&Profesional Kesehatan Lain. Jakarta : EGC
13. Tambayong, Jan. (2002). Farmakologi Untuk Keperawatan. Jakarta:
Penerbit Widya Medika
14. Yoga, Muhammad Isa Syahputra. 2011. Hubungan Dukungan Keluarga
dengan Kepatuhan Pasien Minum Obat di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa
Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan. Disertasi Skripsi. Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
15. Sebayang, Septian Mixrofa. 2011. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga
dengan Frekuensi Kekambuhan Pasien Skizofrenia Paranoid di Poliklinik
RS Jiwa Daerah Propsu Medan. Disertasi Skripsi. Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
16. Saputra, Nanda. 2010. Hubungan Dukungan Keluarga dengan
Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah
Propinsi Sumatera Utara – Medan. Disertasi Skripsi. Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara
17. Oesterbergh L, Blaschke T. Adherence to Medication. In N Engl J Med
2005; 353:487-497 DOI 10

16
17

17