Anda di halaman 1dari 40

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................................................... 0


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. 1

1. PENDAHULUAN .................................................................................................................. 3
1.1. Latar Belakang .................................................................................................................. 3
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................. 6
1.3. Tujuan .............................................................................................................................. 6
1.4. Manfaat ............................................................................................................................. 7
1.4.1. Manfaat bagi Puskesmas ......................................................................................... 7
1.4.2. Manfaat bagi Masyarakat ........................................................................................ 7
1.4.3. Manfaat bagi Penulis ............................................................................................... 7

2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 8-17


2.1. Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) ..................................................................... 8
2.1.1.Gambaran Umum Puskesmas .................................................................................. 8
2.1.2.Profil Puskesmas Kelurahan Cakung Barat ............................................................. 9

3. METODE.............................................................................................................................. 20
3.1. Rancangan Mini Project ................................................................................................. 20
3.2. Waktu dan Tempat Mini Project .................................................................................... 20
3.3. Populasi Mini Project ..................................................................................................... 20
3.4. Jenis Metode Mini Project .............................................................................................. 21
3.5. Media .............................................................................................................................. 21
3.6. Pengolahan Data ............................................................................................................. 21

4. HASIL .............................................................................................................................. 22-28


4.1. Profil Komunitas Umum................................................................................................. 22
4.2. Data Geografis ................................................................................................................ 24
4.3. Data Demografik ............................................................................................................ 25
4.4. Data Kesehatan Masyarakat ........................................................................................... 27
4.5. Data Intervensi Mini Project ........................................................................................... 27

1
5. DISKUSI ............................................................................................................................... 27
5.1. Diskusi ............................................................................................................................ 27

6. KESIMPULAN dan SARAN .............................................................................................. 31


6.1. Kesimpulan ..................................................................................................................... 31
6.2. Saran .......................................................................................................................... 31-32

7. LAMPIRAN .................................................................................................................... 33-37


8. DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 38-39

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kanker leher rahim adalah keganasan dari leher rahim (serviks) yang disebabkan
oleh virus HPV (Human Papiloma Virus). Kanker serviks merupakan penyebab kematian
tertinggi kedua pada wanita di negara berkembang setelah kanker payudara, diperkirakan
sebesar 273.000 kematian setiap tahunnya (ACCP, 2004a, 2009; WHO, 2002). Pada saat ini
di seluruh dunia lebih dari 1 juta perempuan diperkirakan menderita kanker leher rahim dan
3-7 juta orang perempuan memiliki lesi prekanker derajat tinggi (high grade dysplasia).
Penelitian WHO tahun 2005 menyebutkan, terdapat lebih dari 500.000 kasus baru, dan
260.000 kasus kematian akibat kanker leher rahim, 90% diantaranya terjadi di negara
berkembang. Tipe virus HPV yang banyak paling banyak dianggap sebagai penyebab
kanker serviks adalah tipe 16 dan 18 yang ditemukan sebesar 70% dari laporan penelitian
(WHO, 2006). Perempuan dengan tingkat seksualitas aktif berisiko terinfeksi Human
Papilloma Virus (HPV) sebesar 50% sampai 80% (ACCP, 2004a).

Angka insidens tertinggi ditemukan di negara-negara Amerika bagian tengah dan


selatan, Afrika Timur, Asia selatan, Asia tenggara dan Melanesia. Publikasi WHO pada
GLOBOCAN (2008) memprediksikan bahwa incidence dan mortality kanker serviks terus
meningkat, khususnya di negara yang sedang berkembang. Perkiraan incidence per tahun
pada negara yang kurang berkembang adalah 450.000 dan mortality lebih dari 240.000.
Sebagai perbandingan pada GLOBOCAN (2002) diperkirakan 80% kematian di dunia
disebabkan oleh kanker serviks, sedangkan menurut GLOBOCAN (2008) adalah 88% dan
akan meningkat 98% pada tahun 2030 (ACCP, 2011)

Berikut merupakan grafik tingkat kejadian (incidence rate) kanker serviks dan
kematian (mortality) per 100.000 perempuan (untuk semua umur) di seluruh dunia dengan
standar usia untuk populasi standar WHO (2005).

3
Grafik 1.1 Incidence rate kanker serviks menurut standar usia di negara maju dan
berkembang.

Grafik 1.2 Mortality rate kanker serviks menurut usia di negara maju dan sedang
berkembang.

Sumber: WHO. Preventing chronic diseases: a vital investment. Geneva, 2005.

Secara umum, di banyak negara berkembang di dunia, sistem kesehatan masih


banyak yang perlu dibenahi dan ditingkatkan seperti prasarana pemeriksaan skrining kanker
serviks, target pasien yang harus diskrining, follow up, serta pengobatan pre kanker. Dalam
suatu studi menunjukkan bahwa perempuan yang hanya diskrining sekali seumur hidup

4
antara usia 30-40 tahun dapat menurunkan resiko kanker serviks sebesar 25-36% (Goltz,
2011)

Di Indonesia, kanker leher rahim merupakan keganasan yang paling banyak


ditemukan dan merupakan penyebab kematian utama pada perempuan dalam tiga dasa
warsa terakhir. Diperkirakan insidens penyakit ini adalah sekitar 100 per 100.000 penduduk.
Menurut data distribusi kanker ginekologik di RS Cipto Mangunkusumo, kanker serviks
menduduki peringkat pertama sebesar 66% (2003). Berikut merupakan data statistik 10
besar kanker tersering di RS Kanker Dharmais rawat jalan kasus baru tahun 2007.

Grafik 1.3 Data statistik 10 besar penyakit kanker di RS Kanker Dharmais tahun 2007

Seiring dengan meningkatnya populasi, maka insidens kanker leher rahim juga
meningkat sehingga meningkatkan beban kesehatan negara. Padahal penyakit ini dapat
dicegah dengan deteksi dini lesi prankanker yang apabila segera diobati tidak akan berlanjut
menjadi kanker leher rahim. Deteksi dini kanker leher rahim meliputi program skiring yang
terorganisasi dengan target pada kelompok usia yang tepat dan sistim rujukan yang efektif
di semua tingkat pelayanan kesehatan. Beberapa metode skrining yang dapat digunakan
adalah pemeriksaan sitologi berupa Pap tes konvensional atau sering dikenal dengan Tes
Pap dan pemeriksaan sitologi cairan (liquid-base cytology /LBC), pemeriksaan DNA HPV,
dan pemeriksaan visual berupa inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) serta inspeksi
visual dengan lugol iodin (VILI).1 Metode yang disebut terakhir tidak memerlukan fasilitas
laboratorium, sehingga dapat dijadikan pilihan untuk masyarakat yang jauh dari fasilitas
laboratorium dan dapat dilakukan secara masal. Sedangkan untuk masyarakat kota dan
5
daerah-daerah dengan akses pelayanan kesehatan yang memadai, metode skrining dengan
pemeriksaan sitologi akan lebih tepat.

Saat ini banyak penelitian tentang skrining dengan metode IVA dilakukan di
berbagai negara berkembang. Skrining dengan metode IVA dilakukan dengan cara yang
sangat sederhana, murah, nyaman, praktis, dan mudah. Sederhana, yaitu dengan hanya
mengoleskan asam asetat (cuka) 3-5% pada leher rahim lalu mengamati perubahannya,
dimana lesi prakanker dapat terdeteksi bila terlihat bercak putih pada leher rahim. Murah,
karena biaya yang diperlukan hanya sekitar Rp. 3000,- sampai Rp.5000,-/pasien. Nyaman,
karena prosedurnya tidak rumit, tidak memerlukan persiapan, dan tidak menyakitkan.
Praktis, artinya dapat dilakukan dimana saja, tidak memerlukan sarana khusus, cukup
tempat tidur sederhana yang representatif, spekulum dan lampu. Mudah, karena dapat
dilakukan oleh bidan dan perawat yang terlatih. Beberapa karakteristik metode ini sesuai
dengan kondisi Indonesia yang memiliki keterbatasan ekonomi dan keterbatasan sarana
serta prasarana kesehatan. Karenanya pengkajian penggunaan metode IVA sebagai cara
skrining kanker leher rahim di daerah-daerah yang memiliki sumber daya terbatas ini
dilakukan sebagai salah satu masukan dalam pembuatan kebijakan kesehatan nasional di
Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka yang menjadi rumusan masalah
adalah:

1. Cakupan skrining kanker leher rahim yang masih rendah akibat rendahnya
kesadaran penduduk untuk memeriksakan diri serta masih terbatasnya sumber
daya serta fasilitas.

1.3 Tujuan penelitian

1. Untuk mengetahui gambaran peserta metode skrining IVA tes dalam upaya
meningkatkan cakupan skrining kanker leher rahim di RW 01 Cakung Barat, Jakarta
Timur.

2. Membantu meningkatkan program Puskesmas Kelurahan Cakung Barat yaitu Bulan


Cegah Kanker Serviks dengan penyuluhan akan bahaya penyakit kanker serviks dan

6
deteksi dini dengan metode tes IVA di RW 01 Kelurahan Cakung Barat, Jakarta
Timur.

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Puskesmas


Dengan adanya masukan-masukan berupa hasil penelitian dan beberapa saran, maka
diharapkan dapat menjadi umpan balik positif bagi Puskesmas Kelurahan Cakung
Barat dalam upaya meningkatkan kesadaran warga RW 01 akan pentingnya deteksi
dini kanker serviks dengan menggunakan metode tes IVA.

1.4.2 Bagi Masyarakat


Agar masyarakat RW 01 Cakung Barat Jakarta Timur dapat mengetahui dengan benar
serta menyadari manfaat skrining kanker serviks dengan metode IVA tes.

1.4.3 Bagi Penulis


Dapat menjadi sarana belajar dalam rangka menambah pengetahuan, wawasan dan
pengalaman dalam melakukan intervensi Mini Project kepada warga RW 01
Kelurahan Cakung Barat serta dapat mengetahui lebih lanjut mengenai skrining
kanker serviks dengan metode tes IVA.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas )


2.1.1 Gambaran Umum Puskesmas
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) merupakan suatu organisasi kesehatan
fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina
peran serta masyarakat di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu
kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Menurut Depkes RI
(2004) puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerja (Effendi,
2009). Pembangunan kesehatan ialah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Tujuan pembangunan kesehatan yang
diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan
kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat
bagi orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya (Trihono, 2005)

Puskesmas bertanggung jawab dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat


di wilayah kerjanya. Puskesmas juga bertanggung jawab dalam hal mempromosikan
kesehatan kepada seluruh masyarakat sebagai upaya untuk memberikan pengalaman belajar,
menyediakan media informasi, dan melakukan edukasi baik untuk perorangan, kelompok, dan
masyarakan guna meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat.

8
2.1.2 Profil Puskesmas Kelurahan Cakung Barat

1. Geografi

Luas wilayah kelurahan Cakung Barat + 612,43 Ha, terdiri dari 10 RW dan 100 RT.

Dengan batas wilayah sebagai berikut :

Bagian Utara : Tipar Cakung kel Sukapura

Bagian Barat : Kali Sunter kec RawaTerate

Bagian Timur : Outer ring road Cakung kel. Cakung Timur

Bagian Selatan : Kali Cakung kel Penggilingan

9
VISI: Menjadi Puskesmas yang Melaksanakan Pelayanan Kesehatan Prima yang
Berorientasi Kepada Kepuasan Pelanggan

MISI: a. Memberikan pelayanan prima yang meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif,
dan rehabilitatif
b. Mengembangkan sumberdaya manusia dan profesional dan berkualitas
c. Mengembangkan saran dan prasarana pelayanan kesehatan
d. Mengembangkan upaya kemandirian masyarakat bidang kesehatan
e. Mengembangkan lintas sektoral, swasta dan rumah sakit rujukan

2. Demografi

2.1.3 Jumlah Penduduk Wilayah Cakung Barat Tahun 2013


JUMLAH PENDUDUK TETAP

NO RW WNI WNA JML


RT KK
LK PR LK PR

1 1 8 3113 3525 2769 2 1 6297

2 2 7 2927 3617 3120 2 1 6740

3 3 5 3142 3418 2950 1 0 6369

4 4 18 4420 2898 3950 0 2 6850

5 5 9 3999 3393 3162 1 1 6557

6 6 4 2689 3362 3815 0 0 7177

7 7 18 4492 3904 3626 1 3 7534

8 8 12 4015 3841 3165 0 0 7006

9 9 9 3576 3634 3729 3 1 7367

10 10 10 3222 3077 2083 5 2 5167

100 35595 34669 32369 15 11 67064

Tabel 1. Jumlah Penduduk Wilayah Cakung Barat Tahun 2013

Diambil dari: Profil Puskesmas Kelurahan Cakung Barat Tahun 2013

10
B. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia
No Kelompok KK WNI KK WNA Total

Umur Lk Pr Jml Lk Pr Jml

1 0–4 4459 4051 8510 0 0 0 8510

2 5 – 10 2103 2251 4354 0 0 0 4354

3 11 – 14 4930 3826 8756 1 1 2 8758

4 15 – 19 4548 4330 8878 1 0 1 8879

5 20 – 24 3002 3007 6009 2 0 2 6011

6 25 – 29 1677 2155 3832 1 2 3 3835

7 30 – 34 3497 3693 7190 1 1 2 7192

8 35 – 39 3016 3321 6337 1 2 3 6340

9 40 – 44 1636 1727 3363 2 0 2 3365

10 45 – 49 1277 1329 2606 1 0 1 2607

11 50 – 54 921 625 1546 0 0 0 1546

12 55 – 59 965 479 1444 0 0 0 1444

13 60 – 64 974 517 1491 0 0 0 1491

14 65 – 69 906 479 1385 0 0 0 1385

15 70 – 74 404 394 798 0 0 0 798

16 75 – dst 294 245 539 5 5 10 549

Jumlah 34609 32429 67038 15 11 26 67064

Tabel 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia

Diambil dari: Profil Puskesmas Kelurahan Cakung Barat Tahun 2013

11
C. Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Kelurahan Cakung Barat

No. Petugas Kesehatan Jumlah

1. Dokter Spesialis 0

2. Dokter Umum 1

3. Dokter Gigi 1

4. Perawat 3

5. Bidan Puskesmas 3

6. Administrasi 2

7. Keamanan 1

8. Cleaning Service 2

Jumlah 13

Tabel 3. Tenaga Kesehatan Puskesmas Kelurahan Cakung Barat


Diambil dari: Profil Puskesmas Kelurahan Cakung Barat Tahun 2013

2. 2 Kanker Leher Rahim

II.1. Definisi
Kanker leher rahim adalah kanker primer yang terjadi pada jaringan leher rahim
(serviks). Sementara lesi prakanker, adalah kelainan pada epitel serviks akibat terjadinya
perubahan sel-sel epitel, namun kelainannya belum menembus lapisan basal (membrana
basalis).

II.2. Etiologi
Penyebab primer kanker leher rahim adalah infeksi kronik leher rahim oleh satu atau lebih
virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe onkogenik yang beresiko tinggi menyebabkan
kanker leher rahim yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually transmitted
disease). Perempuan biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai tiga
puluhan, walaupun kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya. Infeksi
virus HPV yang berisiko tinggi menjadi kanker adalah tipe 16, 18, 45, 56 dimana HPV

12
tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% kasus. Infeksi HPV tipe ini dapat
mengakibatkan perubahan sel-sel leher rahim menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (high-
grade intraepithelial lesion/ LISDT) yang merupakan lesi prakanker. Sementara HPV
yang berisiko sedang dan rendah menyebabkan kanker (tipe non-onkogenik) berturut turut
adalah tipe 30, 31, 33, 35, 39, 51, 52, 58, 66 dan 6, 11, 42, 43, 44, 53, 54,55.

II.3. Predisposisi
Faktor risiko terjadinya infeksi HPV adalah hubungan seksual pada usia dini, berhubungan
seks dengan berganti-ganti pasangan, dan memiliki pasangan yang suka berganti-ganti
pasangan.1 Infeksi HPV sering terjadi pada usia muda, sekitar 25-30% nya terjadi pada
usia kurang dari 25 tahun. Beberapa ko-faktor yang memungkinkan infeksi HPV berisiko
menjadi kanker leher rahim adalah1 :
a. Faktor HPV :
- tipe virus

- infeksi beberapa tipe onkogenik HPV secara bersamaan

- jumlah virus (viral load)

b. Faktor host/ penjamu :


- status imunitas, dimana penderita imunodefisiensi (misalnya penderita HIV positif) yang
terinfeksi HPV lebih cepat mengalami regresi menjadi lesi prekanker dan kanker.

- jumlah paritas, dimana paritas lebih banyak lebih berisiko mengalami kanker

c. Faktor eksogen
- merokok

- ko-infeksi dengan penyakit menular seksual lainnya

- penggunaan jangka panjang ( lebih dari 5 tahun) kontrasepsi oral

II.4 Perjalanan Alamiah Kanker Leher rahim


Pada perempuan saat remaja dan kehamilan pertama, terjadi metaplasia sel
skuamosa serviks. Bila pada saat ini terjadi infeksi HPV, maka akan terbentuk sel baru
hasil transformasi dengan partikel HPV tergabung dalam DNA sel. Bila hal ini berlanjut
maka terbentuklah lesi prekanker dan lebih lanjut menjadi kanker. Sebagian besar kasus

13
displasia sel servix sembuh dengan sendirinya, sementara hanya sekitar 10% yang berubah
menjadi displasia sedang dan berat. 50% kasus displasia berat berubah menjadi karsinoma.
Biasanya waktu yang dibutuhkan suatu lesi displasia menjadi keganasan adalah 10-20
tahun.
Kanker leher rahim invasif berawal dari lesi displasia sel-sel leher rahim yang
kemudian berkembang menjadi displasia tingkat lanjut, karsinoma in-situ dan akhirnya
kanker invasif. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa prekursor kanker adalah lesi
displasia tingkat lanjut (high-grade dysplasia) yang sebagian kecilnya akan berubah
menjadi kanker invasif dalam 10-15 tahun, sementara displasia tingkat rendah (low-grade
dysplasia) mengalami regresi spontan.

Gambar 3. Patofisiologi Kanker

NIS : Neoplasma Intraepitel Serviks


Nasiell et.al.16 melaporkan waktu yang dibutuhkan untuk progresivitas lesi tipe NIS2 menjadi
karsinoma in-situ paling cepat terjadi pada kelompok perempuan usia 26-50 tahun yaitu 40-41
bulan, sementara pada kelompok perempuan usia dibawah 25 tahun dan diatas 50 tahun berturut-
turut adalah 54-60 bulan, dan 70-80 bulan.

II.5. Klasifikasi dan Stadium


II.5.1 Sistem Klasifikasi Lesi Prakanker
Ada beberapa sistem klasifikasi lesi prakanker yang digunakan saat ini, dibedakan berdasarkan
pemeriksaan histologi dan sitologinya. Berikut tabel klasifikasi lesi prakanker:

14
ASC-US : atypical squamous cell of undetermined significance
ASC-H : atypical squamous cell: cannot exclude a high grade squamous epithelial lesion
LISDR : Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Rendah
LISDT : Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Tinggi
(Dikutip dari Comprehensive Cervical Cancer Control. A Guide to Essential Practice, Geneva :
WHO, 2006)
II.5.2 Stadium Kanker Rahim
International Federation of Gynecologists and Obstetricians Staging System for Cervical Cancer
(FIGO) pada tahun 2000 menetapkan stadium kanker sebagai berikut:

15
II.5.3 Skrining kanker leher rahim
Berbagai metode skrining kanker leher telah dikenal dan diaplikasikan, dimulai sejak tahun 1960-
an dengan pemeriksaan tes Pap. Selain itu dikembangkan metode visual dengan gineskopi, atau
servikografi, kolposkopi. Hingga penerapan metode yang dianggap murah yaitu dengan tes IVA
(Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Skrining DNA HPV juga ditujukan untuk mendeteksi
adanya HPV tipe onkogenik, pada hasil yang positif, dan memprediksi seorang perempuan
menjadi berisiko tinggi terkena kanker serviks.

II.5.4 Gejala dan Tanda


Lesi prakanker dan kanker stadium dini biasanya asimtomatik dan hanya dapat terdeteksi dengan
pemeriksaan sitologi. Boon dan Suurmeijer melaporkan bahwa 11 sebanyak 76% kasus tidak
menunjukkan gejala sama sekali.18 Jika sudah terjadi kanker akan timbul gejala yang sesuai
dengan tingkat penyakitnya, yaitu dapat lokal atau tersebar. Gejala yang timbul dapat berupa
perdarahan pasca sanggama atau dapat juga terjadi perdarahan diluar masa haid dan pasca
menopause. Jika tumornya besar, dapat terjadi infeksi dan menimbulkan cairan berbau yang
mengalir keluar dari vagina. Bila penyakitnya sudah lanjut, akan timbul nyeri panggul, gejala
yang berkaitan dengan kandung kemih dan usus besar.18,19Gejala lain yang timbul dapat berupa
gangguan organ yang terkena misalnya otak (nyeri kepala, gangguan kesadaran), paru (sesak atau
batuk darah), tulang (nyeri atau patah), hati (nyeri perut kanan atas, kuning, atau pembengkakan)
dan lain-lain.

II.5.5 Penegakan Diagnosis


Diagnosis definitif harus didasarkan pada konfirmasi histopatologi dari hasil biopsi lesi sebelum
pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut dilakukan.1 Tindakan penunjang diagnostik dapat berupa
kolposkopi, biopsi terarah, dan kuretase endoservikal.

II.5.6 Tatalaksana Lesi Prakanker Serviks


Penatalaksanaan lesi prakanker serviks yang pada umumnya tergolong NIS (Neoplasia
Intraepitelial Serviks) dapat dilakukan dengan observasi saja, medikamentosa, terapi destruksi,
dan/atau terapi eksisi. Tindakan observasi dilakukan pada tes pap dengan hasil HPV, atipia, NIS I
yang termasuk dalam Lesi Intraepitelial Skuamousa Derajat Rendah (LISDR). Terapi NIS dengan
destruksi dapat dilakukan pada LISDR dan LISDT (Lesi Intra epitelial Skuamousa Derajat
Tinggi). Demikian juga, terapi eksisi dapat ditujukan pada LISDR dan LISDT. Perbedaan antara

16
terapi destruksi dan terapi eksisi adalah pada terapi destruksi tidak mengangkat lesi, tetapi pada
terapi eksisi ada spesimen lesi yang diangkat.

Terdapat beberapa metode pengobatan lesi prakanker serviks


1. Terapi NIS dengan Destruksi Lokal
Pada metode terapi ini yang termasuk ialah krioterapi, elektrokauter, elektrokoagulasi, dan CO2
laser. Penggunaan setiap metode ini bertujuan untuk memusnahkan daerah-daerah terpilih yang
mengandung epitel abnormal, yang kelak akan digantikan dengan epitel skuamosa yang baru.
a. Krioterapi
Krioterapi ialah suatu usaha penyembuhan penyakit dengan cara mendinginkan bagian yang sakit
sampai dengan suhu di bawah nol derajat Celcius. Pada suhu sekurang-kurangnya 25 derajat
Celcius sel-sel jaringan termasuk NIS akan mengalami nekrosis. Sebagai akibat dari pembekuan
tersebut, terjadi perubahan-perubahan tingkat seluler dan vaskuler, yaitu (1) sel-sel mengalami
dehidrasi dan mengerut; (2) konsentrasi elektrolit dalam sel terganggu; (3) syok termal dan
denaturasi kompleks lipid protein; (4) status umum sistem mikrovaskular.23,24 Pada awalnya
digunakan cairan Nitrogen atau gas CO2, tetapi pada saat ini hampir semua alat menggunakan
N2O.
b. Diatermi Elektrokoagulasi Radikal
Diatermi elektrokoagulasi dapat memusnahkan jaringan lebih luas dan efektif jika dibandingkan
dengan elektrokauter, tetapi harus dilakukan dengan anestesi umum. Tindakan ini memungkinkan
untuk memusnahkan jaringan serviks sampai kedalaman 1 cm, tetapi fisiologi serviks dapat

17
dipengaruhi, terutama jika lesi tersebut sangat luas. Dianjurkan penggunaannya hanya terbatas
pada kasus NIS 1/2 dengan batas lesi yang dapat ditentukan.
c. Elektrokauter
Metode elektrokauter dapat dilakukan pada pasien rawat jalan. Penggunaan elektrokauter
memungkinkan untuk pemusnahan jaringan dengan kedalaman 2 atau 3 mm. Lesi NIS I yang
kecil di lokasi yang keseluruhannya terlihat pada umumnya dapat disembuhkan dengan efektif.25
d. CO2 Laser
Penggunaan sinar laser (light amplication by stimulation emission of radiation), suatu muatan
listrik dilepaskan dalam suatu tabung yang berisi campuran gas helium, gas nitrogen, dan gas CO2
sehingga akan menimbulkan sinar laser yang mempunyai panjang gelombang 10,6u. Perubahan
patologis yang terdapat pada serviks dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu penguapan dan
nekrosis. Lapisan paling luar dari mukosa serviks menguap karena cairan intraselular mendidih,
sedangkan jaringan yang mengalami nekrotik terletak di bawahnya. Volume jaringan yang
menguap atau sebanding dengan kekuatan dan lama penyinaran.

2. Terapi NIS dengan Eksisi

a. LEEP ( Loop Electrosurgical Excision Procedures)


Ada beberapa istilah dipergunakan untuk LEEP ini. Cartier dengan menggunakan kawat loop
kecil untuk biopsi pada saat kolposkopi yang menyebutnya dengan istilah diatermi loop.29
Prendeville et al. menyebutnya LLETZ (Large Loop Excisional Tranformation Zona).30
b. Konisasi
Tindakan konisasi dapat dilakukan dengan berbagai teknik:
1) konisasi cold knife,
2) konisasi diatermi loop (=LLETZ), dan
3) konisasi laser.
Di dalam praktiknya, tindakan konisasi juga sering merupakan tindakan diagnostik.
c. Histerektomi
Tindakan histerektomi pada NIS kadang-kadang merupakan terapi terpilih pada beberapa
keadaan, antara lain, sebagai berikut.
1) Histerektomi pada NIS dilakukan pada keadaan kelanjutan konisasi.
2) Konisasi akan tidak adekuat dan perlu dilakukan histerektomi dengan mengangkat bagian atas
vagina.

3) Karena ada uterus miomatosus; kecurigaan invasif harus disingkirkan.

18
4) Masalah teknis untuk konisasi, misalnya porsio mendatar pada usia lanjut.

II.5.7 Tatalaksana Kanker Leher Rahim Invasif


Pada prinsipnya tatalaksana kanker leher rahim disesuaikan dengan kebutuhan penderita untuk
memberikan hasil yang terbaik (tailored to the best interest of patients).1. Terapi lesi prakanker
leher rahim dapat berupa bedah krio (cryotherapy), atau loop electrosurgical excision procedure
(LEEP), keduanya adalah tindakan yang relatif sederhana dan murah, namun sangat besar
manfaatnya untuk mencegah perburukan lesi menjadi kanker. Sementara terapi kanker leher rahim
dapat berupa pembedahan, radioterapi, atau kombinasi keduanya. Kemoterapi tidak digunakan
sebagai terapi primer, namun dapat diberikan bersamaan dengan radioterapi. Terapi kanker leher
rahim lebih kompleks, memiliki risiko dan efek samping, dan tentu saja lebih mahal. Karenanya
pencegahan lesi prakanker menjadi kanker sangat penting dan sangat bermanfaat.

19
BAB III

METODE

Dalam bab ini akan diuraikan mengenairancangan mini project,, waktu dan tempat mini
project, populasimini project, jenis metode mini project, serta media yang digunakan dalam
intervensi mini project.

3.1 Rancangan Mini Project


Metode dokumentasi merupakan sekumpulan berkas berupa catatan, transkrip, buku, surat
kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda dan sebagainya. Data yang diperoleh dapat berupa
data primer, sekunder dan tersier. Data primer didapatkan dari wawancara dengan para
kader RW 01, kemudian wawancara dengan beberapa pasien dengan kriteria Wanita Usia
Subur RW 01 yang sudah menikah yang berobat ke puskesmas, dan wawancara dengan
warga RW 01 yang datanng saat penyuluhan tentang deteksi dini kanker serviks. Data
sekunder diperoleh dari data Puskesmas Kelurahan Cakung Barat, sedangkan data tersier
diperoleh dari penelusuran tinjauan pustaka. Mini project ini juga dijadikan sebagai bahan
evaluasi program penyuluhan deteksi dini kanker serviks dan pemeriksaan tes IVA agar
dapat lebih optimal di masa mendatang.

3.2 Waktu dan Tempat Mini Project


Mini project ini dilaksanakan bersamaan dengan pelayanan posyandu KB Mantap IUD pada
tanggal 3 Febuari 2015 di Posko RW 01.

3.3 Populasi Mini Project


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2007). Populasi mini project adalah warga
yang termasuk dalam kategori Wanita Usia Subur yang tinggal di RW 01 Kelurahan Cakung
Barat Kecamatan Cakung, Jakarta Timur yaitu sebanyak 265 orang.

20
3.4 Jenis Metode Mini Project
Dalam kegiatan intervensi mini project kali ini adalah dengan menggunakan metode
pendekatan secara berkelompok. Sebelum pemeriksaan skrining tes IVA berlangsung,
warga RW 01 yang termasuk dalam kategori Wanita Usia Subur terlebih dahulu diberi
penyuluhan mengenai penyakit kanker serviks dan juga pentingnya untuk mendeteksi dini
leher rahim.

3.5 Media
Media yang digunakan dalam kegiatan ini adalah lembar balik yang berisikan informasi
tentang penyakit kanker leher rahim, brosur-brosur, dan papan tulis.

3.6 Pengolahan Data


Untuk pengolahan data menggunakan cara manual serta menggunakan bantuan software
pengolahan data menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel.

21
BAB IV

HASIL

4.1 Profil Komunitas Umum


RW 01 Kelurahan Cakung Barat,Kecamatan Cakung, merupakan bagian wilayah dari
Kotamadya Jakarta Timur. Kelurahan Cakung Barat sendiri memiliki luas wilayah sebesar 619 ha.
Menurut Hasil Sensus Penduduk pada tahun 2010 , Kelurahan Cakung Barat memiliki kepadatan
penduduk sebesar 11555.44 jiwa per km2 . Kelurahan Cakung Barat merupakan kelurahan dengan
kepadatan penduduk terbanyak urutan keempat setelah Kelurahan Penggilingan (22557.03 jiwa
per km2), Jatinegara (15624.10 jiwa per km2) dan Pulogebang (14665.17 jiwa per km2). Mayoritas
warga RW 01 Kelurahan Cakung Barat berprofesi sebagai karyawan swasta (sebanyak 267
orang). Sarana pendidikan yang terdapat di RW 01 ialah; BKB PAUD dan Sekolah Dasar (SD)
yang masing-masing berjumlah satu. Penduduk RW 01 Kelurahan Cakung Barat, mayoritas
beragama Islam (2.130 orang) dan sisanya beragama Kristen (3 orang). Tingkat pendidikan
mayoritas warga RW 01 ialah tamatan SMA atau sederajatnya sebanyak 594 orang diikuti dengan
tamatan SD atau sederajatnya sebanyak 418 orang dan tamatan SMP atau sederajatnya sebanyak
396 orang.

4.2 Data Geografis


Kelurahan Cakung Barat memiliki luas wilayah sebesar 619 Ha. Mengenai luas wilayah RW 01
secara akurat tidak ada yang pasti. Namun berdasarkan informasi dari bapak RW 01 diperkirakan
luas wilayah yang dimiliki RW 01 seluas 5 Ha terdiri dari 10 RT. Batas-batas wilayah RW 01
Kelurahan Cakung Barat ialah sbb:
Utara : Jalan Raya Bekasi Timur
Barat : Kelurahan Rawaterate
Timur : PT. NAVIKA dan PT. WINTRAD JAYA
Selatan : Sungai Cakung dan Kelurahan Penggilingan

22
U

Gambar 1. Peta Wilayah RW1 Kelurahan Cakung Barat Kecamatan Cakung, Jakarta Timur

23
4.3 Data Demografik

Berdasarkan Daftar Isian Potensi RW 1 tahun 2013 jumlah penduduk di RW 01 Kelurahan

Cakung Barat, Kecamatan Cakung adalah sebanyak 2.133 jiwa. Berikut merupakan tabel data

jumlah penduduk RW 01:

2013 2014
USIA
Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan
0 – 12 bln 19 orang 20 orang - -
1 – 5 tahun 83 orang 100 orang - -
6 – 10 tahun 118 orang 95 orang - -
11 – 18 tahun 119 orang 139 orang - -
19 – 50 tahun 576 orang 610 orang - -
51 – 59 tahun 73 orang 69 orang - -
≥ 60 tahun 59 orang 55 orang 53 orang 42 orang
Total 1.125 orang 1.008 orang - -

4.4 Sumber Daya Kesehatan yang Ada

Dibawah ini adalah sumber daya kesehatan yang dimiliki puskesmas kelurahan Cakung Barat :

Profesi Jumlah
Dokter Umum 2
Dokter Gigi 1
Bidan 3
Perawat 3
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Kelurahan Cakung Barat Tahun 2013

4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada

Dibawah ini adalah fasilitas kesehatan yang ada di kelurahan cakung barat, yaitu :

Fasilitas Kesehatan Jumlah

Rumah Sakit 0

Klinik Kesehatan 11

24
Praktek Dokter 1

Dokter Gigi 4

Bidan praktek 9

Apotik 2

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Kelurahan Cakung Barat Tahun 2013

4.6 Data Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan laporan terbaru dari para kader RW 01 data Wanita Usia Subur warga 01

ialah sebanyak 265 orang. Adapun data Pasangan Usia Subur RW 01 dari rentang usia 15-49

tahun yang didapatkan dari kantor kelurahan adalah sebanyak 35.991 orang dengan proporsi

wanita sejumlah 18.004 orang dan pria sejumlah 17.987 orang.

Berikut ini merupakan grafik Pasangan Usia Subur dengan rentang usia 15-49 tahun penduduk

RW 01 yang didapatkan dari kantor kelurahan. Grafik tersebut berdasarkan data terakhir bulan

Desember 2014:

25
Sedangkan pada data dibawah ini merupakan grafik Pasangan Usia Subur warga RW 01 Periode

Januari 2014-Januari 2015 berdasarkan informasi para kader RW 01:

Pada tabel berikut merupakan tabel rekapitulasi kunjungan warga RW 01 untuk skrining leher

rahim dengan metode tes IVA pada tahun 2014:

26
Kemudian berikut ini ialah grafik rekapitulasi laporan skrining pemeriksaan leher rahim dengan

metode IVA periode di Puskesmas Kelurahan Cakung Barat Januari 2014-Januari 2015:

Keterangan: Terkecuali pada bulan Juni, skrining pemeriksaan leher rahim dengan metode IVA dilaksanakan
langsung di Posko RW 01 Kelurahan Cakung Barat oleh tenaga kesehatan Puskesmas Kelurahan Cakung Barat dalam
upaya meningkatkan cakupan program penyuluhan dan pemeriksaan leher rahim dengan metode IVA.

4.7 Data Intervensi Mini Project

Intervensi berupa penyuluhan tentang sosialisasi pentingnya deteksi dini kanker serviks dengan
metode IVA diadakan bersamaan dengan pelayanan posyandu KB IUD mantap pada tanggal 3
Febuari 2015 dimulai pukul 09.00 – 14.00. Acara ini dihadiri oleh 17 peserta yang termasuk ke
dalam kategori Wanita Usia Subur yang sudah menikah. Peserta sejumlah 17 orang tersebut diberi

27
penyuluhan kemudian mereka semua bersedia untuk diskrining kanker serviks dengan metode
IVA. Sisa 2 orang peserta mendatangi Puskesmas Kelurahan Cakung Barat pada hari berikutnya
untuk skrining kanker serviks dengan metode IVA. Hasilnya, 17 orang diantaranya negatif (-), dan
dua orang diantaranya suspek (+) kanker serviks. Kepada peserta yang dianggap suspek positif
kanker serviks kemudian diperiksa IVA lagi pada hari lainnya dan didapatkan 1 orang tetap positif
suspek kanker serviks dan dirujuk ke Puskesmas Kecamatan Cakung agar ditindak lebih lanjut.

28
BAB V
DISKUSI

V.1 Diskusi

1. Permasalahan yang terjadi diantara warga RW 01 dalam memeriksakan diri untuk skrining
kanker serviks ialah; Pertama, masih rendahnya tingkat kesadaran warga RW 01 akan
pentingnya deteksi dini kanker serviks yang diakibatkan rendahnya tingkat pendidikan
yang kebanyakan adalah lulusan SMA diikuti lulusan SMP, sehingga membuat warga
RW 01 lebih mempercayai mitos dan perkataan tetangga yang belum tentu benar.
Kemudian yang kedua ialah timbulnya rasa malu apabila daerah kelamin diperiksa.
Ketiga, terdapat sikap yang kurang mandiri pada wanita warga RW 01 sehingga harus
bertanya terlebih dahulu kepada pasangan untuk mendeteksi kanker serviks melalui
metode IVA. Keempat terdapatnya rasa takut yang dominan untuk skrining leher rahim
karena alat kelamin harus dibuka dengan peralatan medis khusus. Terakhir, jauhnya jarak
antara RW 01 dan Puskesmas Kelurahan Cakung Barat yang membuat warga RW 01
enggan memeriksakan diri dan lebih memilih untuk memeriksakan diri ke tempat yang
lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

2. Dari data rekapitulasi yang telah dipaparkan periode Januari 2014 - Januari 2015 dapat
ditarik kesimpulan bahwa sebelum dilaksanakannya intervensi secara langsung warga
RW 01 sedikit sekali yang memeriksakan dirinya ke Puskesmas untuk mendeteksi kanker
serviks. Pada tahun 2014, bulan Januari warga RW 01 yang memeriksakan diri ke
puskesmas untuk tes IVA berjumlah 0 orang, bulan Februari 1 orang, Maret 0 orang,
April 3 orang, Mei 3 orang, Juni 33 orang, Juli 1 orang, Agustus 0 orang, September 0
orang, Oktober 1 orang, November –Desember 0 orang, dan pada bulan Januari tahun
2015 1 orang. Pengecualian untuk data bulan Juni 2014, puskesmas memiliki program
Bulan Cegah Kanker Serviks, dimana petugas kesehatan puskesmas kelurahan Cakung
Barat turun langsung ke lapangan mendeteksi kanker serviks dengan tes IVA kepada
warga-warga RW 01 di posko RW 01.

3. Dari data hasil intervensi mini project didapatkan bahwa yang bersedia untuk di skrining
dengan tes IVA adalah sebanyak 19 orang warga RW 01 yang termasuk dalam kategori
Wanita Usia Subur (WUS) yang sudah menikah. Sejumlah 17 orang diantaranya diperiksa
di posko RW 01 dan 2 orang diantaranya datang ke Puskesmas Kelurahan Cakung Barat

29
untuk di skrining. Hailnya ialah 17 orang diantaranya negatif (-) dan 2 orang diantaranya
suspek (+) kanker serviks.

4. Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang pada waktu itu dipimpin oleh dr. Dien Emmawati,
M.Kes mencanangkan untuk mencapai target 1.4juta perempuan di DKI Jakarta agar
dideteksi kanker serviks untuk tahun 2017. Untuk mensukseskan target tersebut Puskesmas
Kelurahan Cakung Barat telah menggalakkan program penyuluhan dan skrining
pemeriksaan dengan metode tes IVA dengan “Bulan Cegah Kanker Serviks” yang
diadakan secara rutin pada bulan-bulan tertentu. Untuk membantu mencapai target tersebut
penulis telah melakukan serangkaian penyuluhan yang dilakukan secara berkala di acara
warga RW 01, dan di Puskesmas Kelurahan Cakung Barat yang disertai dengan
pemeriksaan tes IVA.

30
BAB VI
KESIMPULAN dan SARAN

6.1 Kesimpulan
1. Kanker leher rahim adalah keganasan dari leher rahim (serviks) yang disebabkan oleh
virus HPV (Human Papiloma Virus). Kanker serviks merupakan penyebab kematian
tertinggi kedua pada wanita di negara berkembang setelah kanker payudara,
diperkirakan sebesar 273.000 kematian setiap tahunnya (ACCP, 2004a, 2009; WHO,
2002). Tipe virus HPV yang banyak paling banyak dianggap sebagai penyebab kanker
serviks adalah tipe 16 dan 18 yang ditemukan sebesar 70% dari laporan penelitian
(WHO, 2006). Di Indonesia, kanker leher rahim merupakan keganasan yang paling
banyak ditemukan. Menurut data distribusi kanker ginekologik di RS Cipto
Mangunkusumo, kanker serviks menduduki peringkat pertama sebesar 66% (2003).
2. Dari data rekapitulasi yang telah dipaparkan periode Januari 2014 - Januari 2015 dapat
ditarik kesimpulan bahwa sebelum dilaksanakannya intervensi secara langsung warga
RW 01 sedikit sekali yang memeriksakan dirinya ke Puskesmas untuk mendeteksi
kanker serviks.
3. Setelah intervensi dengan penyuluhan pentingnya deteksi dini kanker serviks dengan
skrining pemeriksaan metode IVA, didapatkan peningkatan kesadaran dan antusiasme
warga untuk skrining kanker serviks dengan tes IVA, seluruh peserta bersedia untuk
memeriksakan dirinya dengan tes IVA. Meskipun peserta yang datang sedikit
diakibatkan oleh kondisi cuaca yang hujan lebat. Dari data hasil intervensi mini project
didapatkan bahwa yang bersedia untuk di skrining dengan tes IVA adalah sebanyak 19
orang warga RW 01 yang termasuk dalam kategori Wanita Usia Subur (WUS) yang
sudah menikah. Sejumlah 17 orang diantaranya diperiksa di posko RW 01 dan 2 orang
diantaranya datang ke Puskesmas Kelurahan Cakung Barat untuk di skrining. Hailnya
ialah 17 orang diantaranya negatif (-) dan 2 orang diantaranya suspek (+) kanker serviks.

6.2 Saran
1. Bagi peneliti
Hasil mini project ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengalaman dalam
terjun intervensi ke lapangan.

31
2. Bagi masyarakat warga RW 01
Hasil mini project ini diharapkan agar warga lebih peduli dan sadar akan pentingnya
deteksi dini kanker serviks sehingga terdorong untuk memeriksakan diri dan memberi
tahu serta mengajak warga-warga lainnya.

3. Bagi Puskesmas Kelurahan Cakung Barat


– Hasil mini project ini diharapkan menjadi sarana evaluasi serta masukan bagi
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat dalam rangka meningkatkan target program
penyuluhan kanker serviks dan skrining pemeriksaan leher rahim.

– Diharapkan setelah intervensi, para kader lebih tergerak untuk mendorong warga-
warganya agar memeriksakan diri ke Puskesmas.

32
LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar Meja Pemeriksaan Tes IVA dan Suasana Saat Pendaftaran dan Anamnesa
Warga RW 01

33
Lampiran 2. Suasana Saat Intervensi Penyuluhan dan Skrining Pemeriksaan Tes IVA Warga RW
01

34
Lampiran 3. Brosur sebagai media promosi kesehatan pada saat intervensi mini project

35
Lampiran 4. Daftar Absensi dan Catatan Rekam Medik Tes IVA Warga RW 01 pada saat intervensi mini
project

36
Lampiran 5. Catatan Rekam Medik Tes IVA Warga RW 01 pada saat intervensi mini project

37
DAFTAR PUSTAKA

Andrijono, Kanker Leher rahim, Divisi Onkologi, Dep.Obstetri-Ginekologi FKUI.2007

Anonymous. 2013. Daftar Isian Potensi RW 1 Tahun 2013.

Aziz, MF. Masalah pada kanker serviks. Cermin Dunia Kedokteran, Jakarta, 2001: 133;5-7.

Benedet JL, Ngan HYS, Hacker NF. Staging Classifications and clinical practice guidelines of
gyneecologic cancers. Int J Gynecol Cancer. 2000;70:207-312.

Beuran,Mihaela,et.al.2007. Cervical Cancer Screening / Early Detection – A Training Curriculum


for Family Doctors.Diakses dari
https://www.k4health.org/sites/default/files/Cerv%20Cancer%20screening%20for%20Fam
%20Doc.pdf pada tanggal 15 Januari pukul 20.00 WIB
BKKBN. 2011. Batasan dan Pengertian MDK. Diakses dari
http://aplikasi.bkkbn.go.id/mdk/BatasanMDK.aspx Pada tanggal 19 Januari 2015 Pukul
21.00 WIB
Coleman Met al, Time trends in cancer incidence, mortality, and prevalence worldwide, version
1.0. Lyon, IARC, 1995 (IARC Scientific Publication No. 121)

Depkes, Pedoman Kerja Puskesmas mengacu Indonesia Sehat 2010, Jakarta, 2003.
Dirjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI, Badan Registrasi Kanker IAPI, Yayasan
Kanker Indonesia. Kanker di Indonesia tahun 1997, Data histopatologik.

Holowaty P et al. Natural History of dysplasia of the uterine cervix. Journal of the National
Cancer Institute, 1999, 91:252-268.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta


Nuranna L. Terapi NIS dengan eksisi. Dalam : Sjamsuddin S, Indarti J. Kolposkopi Dan
Neoplasia Intraepitel Serviks. Ed ke-2.Jakarta. Perhimpunan Patologi Serviks dan
Kolposkopi Indonesia .2001: 99–110.

Petignat P, Roy M.. Diagnosis and management of cervical cancer. BMJ 2007;335:765-768.

Puskemas Kelurahan Cakung Barat, 2015. Laporan Tahunan Puskesmas Kelurahan Cakung Barat
Tahun 2013.

Puskemas Kelurahan Cakung Barat, 2015. Rekapitulasi Laporan Skrining Pemeriksaan Kanker
Rahim dan Payudara Suku Dinas Jakarta Timur Periode Januari 2014-Januari 2015.

38
Sjamsuddin S. Terapi destruksi local pada neoplasia intraepitel serviks. Dalam : Sjamsuddin S,
Indarti J. Kolposkopi dan Neoplasia Intraepitel Serviks. Ed ke-2.Jakarta. Perhimpunan
Patologi Serviks dan Kolposkopi Indonesia .2001: 90 – 8.

Tim Penanggulangan Kanker Terpadu RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Kanker di RSUPNCM
tahun 1998. Jakarta 1999

World Health Organization. Comprehensive Cervical Cancer Control. A Guide to Essential


Practice. Geneva : WHO, 2006.

39
40