Anda di halaman 1dari 4

PROSES PEMBENTUKAN KOMPOS DARI AKTIVITAS

MIKROORGANISME

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Penyehatan Tanah dan Sampah Padat-B

Oleh :
Agisti Rosdiyanti
Agung Purwo Prakoso
Ahmad Maulana Yususf
Anggi Putri Octaviani
Anisa Kususma Dewi Firdaus
Annisa Pratiwi Putri
Aprilia Veronica
Ariska Purwanti
Citra Sartika
Dikdik Ajie Swargani

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
BANDUNG
2015
 Faktor Penentu Kualitas Lompos
Mikroorganisme kelompok Mesophilic dan Thermophilic melakukan proses
pencernaan secara kimiawi, dimana bahan organik dilarutkan dan kemudian
diuraikan. Cara kerjanya yaitu dengan mengeluarkan enzyme yang dilarutkan ke
dalam selaput air (water film) yang melapisi bahan organik, enzym tersebut berfungsi
menguraikan bahan organik menjadi unsur-unsur yang mereka serap.

 Aktifitas Mikroba Selama Pengomposan

Tiga hal penting yang menyebabkan terjadinya pengomposan yaitu zat hara,
mikroba dan keadaan lingkungan hidup mikroba. Pada dasarnya, mikroba bekerja
memanfaatkan zat hara bahan baku kompos di lingkungan yang sesuai untuknya.
Mikroba memegang peranan utama pada pengomposan, walaupun cacing dan
serangga ikut berperan setelah temperatur turun. Umumnya, tidak ada spesies mikroba
yang mendominasi, karena keadaan dan materi berbeda dan selalu berubah. Namun,
kelompok utama jamur, dan aktinomisetes yang mempunyai spesies mesofilik dan
termofilik.

 Bakteri
Dalam pengomposan, jumlah bakteri paling banyak dibandingkan dengan kelompok
mikroba lainnya. Pasalnya, bakteri mampu mengubah bahan baku kompos lebih cepat
dibandingkan dengan mikroba lainnya.

 Faktor-faktor yang Menentukan Kualitas Hasil Pengomposan adalah sebagai


berikut:
1. Nilai C/N
2. Ukuran bahan
3. Komposisi bahan
4. Jumlah mikroorganisme
5. Kelembaban
6. Aerasi
7. Temperatur
8. Keasaman atau pH
9. Waktu pengomposan

Temperatur optimal sekitar 30-50º C (hangat). Bila temperatur terlalu tinggi


mikroorganisme akan mati. Bila temperatur relatif rendah mikroorganisme belum dapat
bekerja atau dalam keadaan dorman. Aktivitas mikroorganisme dalam proses
pengomposan tersebut juga menghasilkan panas sehingga untuk menjaga temperatur
tetap optimal sering dilakukan pembalikan . namun, ada mikroba yang bekerja pada
temperatur yang relatif tinggi, yaitu 80ºC seperti Trichoderma pseudokoningii dan
Cytophaga sp. Kedua jenis mikroba ini digunakan sebagai aktifator dalam proses
pengomposan skala besar atau skala industri, seperti pengkomposan tandan kosong
kelapa sawit.
Pengomposan terjadi pada tempratur mesofilik 10º-40º C, dan termofilik diatas 40º C.

DAFTAR PUSTAKA
Djaja, Willyan. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak & Sampah.
Jakarta: AgroMedia Pustaka

Sucipto, Cecep Dani. 2012. Teknologi Pengolahan Daur Ulang Sampah.Cetakan 1.


Yogyakarta: Gosyen Publishing