Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH VARIASI TEMPERATUR PADA PROSES HARDENING

TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MICRO BAJA AISI


1025 DENGAN MEDIA PENDINGIN
Oleh:
DEDI SUPRIANTO

JurusanTeknikMesin, Sekolah Tinggi Tekhnik Harapan


Medan
Jln. HM. Joni No. 70 c Medan (20217)
Email .Dsuprianto10@gmail.com

ABSTRAK

Pada baja AISI 1025 dilakukan pengerasan (hardening) untuk memperoleh sifat tahan aus
dan kekerasan yang tinggi dengan proses hardening pada variasi suhu 8000C, 8500C dan
9000C yang kemudian didinginkan dengan media pendingin air, air larutan garam dan oli.
Setiap baja mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, seperti sifat-sifat fisis, sifat mekanis
dan sifat kimia. Oleh sebab itu perlu suatu penanganan khusus yang diharapkan memiliki
umur yang lebih lama dari perencanaannya, maka ketahanan terhadap aus dari bahan tersebut
dapat dilakukan melalui perlakuan panas dengan cara hardening dengan variasi suhu 8000C,
8500C dan 9000C setelah itu dilanjutkan dengan pendinginan mendadak menggunakan media
pendingin air, air larutan garam dan oli yang bertujuan meningkatkan ketahanan terhadap
gesekan dan tekanan. Dari hasil pengujian vickers pada baja AISI 1025 (asli) memiliki nilai
kekerasan rata-rata 187.0346 VHN sedangkan baja yang mengalami proses hardening pada
suhu 8000C yang didinginkan dengan air, air garam dan oli mendapatkan nilai kekerasan
rata-rata 225.9393 VHN, 267.4606 VHN, 174.5508 VHN, baja yang mengalami proses
hardening pada suhu 8500C yang didinginkan dengan air, air garam dan oli mendapatkan
nilai kekerasan rata-rata 336.9085 VHN, 378.4476 VHN, 183.3511VHN,dan baja yang
mengalami proses hardening pada suhu 9000C yang didinginkan dengan air, air garam dan
oli mendapatkan nilai kekerasan rata-rata 245.5047 VHN, 190.8039 VHN, 162.7562 VHN.

Kata kunci : Baja 1025, Hardening, media pendingin, vickers, mikroskop optic

1. PENDAHULUAN (ductile) modulus elastisitas dan ketahanan


arus. Temperatur dalam proses perlakuan
1.1.Latar belakang panas akan menentukan terhadap tingkat
Baja merupakan logam yang banyak ketahanan dan kekuatan bahan. Dalam
digunakan dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang material terdapat dua cara perlakuan panas
bidang industri. Pengaplikasian baja sangatlah untuk meningkatkan nilai kekerasan baja,
beraneka ragam tergantung kebutuhan yaitu perlakuan panas (heat trearment) dan
serta sifat-sifat dari baja itu sendiri yang deformasi plastis. Baja karbon yang di
penting ialah sifat mekanik. Sifat mekanik panaskan hingga mencapai suhu austenit
merupakan sifat-sifat yang berkaitan dengan kelakuan kemudian didinginkan secara cepat akan
(behavior) terhadap beban mekanik. Sifat mekanik terbentuk struktur martensit yang memiliki
terdiri dari kekuatan (strength), ketangguhan kekerasan yang lebih tinggi dari struktur
(toughnes), kekerasan (hardness), keuletan perlit maupun ferit, proses ini dinamakan
quenching. Baja spesifikasi AISI 1025 diantaranya yaitu besi dan karbon Kandungan besi
merupakan baja karbon menengah dengan (Fe) pada baja sekitar 97% dan karbon (C) sekitar
komposisi karbon berkisar 0,22-0,30 %. 0,2% hingga2,1% sesuai grade-nya. Selain unsur besi
Baja ini umumnya dipakai sebagai komponen (Fe) dan karbon (C), baja mengandung unsur
industri misalnya untuk komponen roda gigi lain seperti mangan (Mn) dengan kadar
pada mesin bubut yang pada aplikasinya maksimal 1,65%, silikon (Si) dengan kadar
sering mengalami gesekan dan tekanan maksimal 0,6%, tembaga (Cu) dengan
maka ketahanan terhadap aus dan kekerasan kadar maksimal 0,6%, sulfur (S), fosfor (P)
sangat di perlukan sekali [KS Review, dan lainnya dengan jumlah yang dibatasi
2004]. Untuk mendapatkan kekerasan dan dan berbeda-beda. Fungsi karbon dalam
ketahanan terhadap aus dari bahan tersebut baja adalah sebagai unsur pengeras dengan
dapat dilakukan melalui perlakuan panas mencegah dislokasi pada kisi kristal
dengan cara hardening yang di lanjutkan (crystal lattice) atom besi. Baja karbon ini
dengan proses quenching. Tujuannya untuk dikenal sebagai baja hitam karena berwarna hitam,
mendapatkan struktur martensit yang keras banyak digunakan dari peralatan dapur, transportasi,
dan memiliki ketahanan aus yang baik. generator, sampai kerangka gedung dan jembatan.
Dari proses quenching tersebut spesimen Kandungan meningkatkan kekerasan (hardness)
sering sekali mengalami cracking, distorsi dan kekuatan tariknya (tensile strength),
dan ketidak seragaman kekerasan yang namun disisi lain membuatnya menjadi
diakibatkan oleh tidak seragamnya temperatur larutan getas (brittle) serta menurunkan keuletannya
pendingin (Totten, 1993). (ductility).
1.2 Tujuan Penelitian 2.2. Klasifikasi Baja
Tujuan dari penelitian ini adalah 2.3. Pengaruh Unsur Paduan pada Baja
sebagai berikut: 2.4. Sifat-sifat Baja
2.5. Baja AISI 1025
1. Untuk mengetahui kekerasan pada Material yang digunakan dalam penelitian
baja AISI 1025, dan mendapatkan ini sebagai sampel adalah baja karbon
nilai uji kekerasan Vickers pada baja rendah SAE 1025 yang memiliki sifat hardenability
AISI 1025 yang di hardening dengan yang rendah akibat rendahnya kadar karbon
variasi suhu 8000C, 8500C dan 9000C dalam baja tersebut. Tabel komposisi kimia baja
dengan menggunakan media pendingin air, SAE 1025 dapat di jelaskan pada table 2.1.
larutan garam dan oli pada masing - Berikut ini adalah komposisi kimia baja
masing suhu. SAE 1025:
2. Melakukan perbandingan kekerasan
pada baja AISI 1025 yang dipanaskan Tabel 1 Komposisi baja AISI 1025
pada variasi suhu 8000C, 8500C dan
Kode C% Si % Mn % Mo % P% S%
9000C. Dan didingin kan secara cepat AISI 0.25 0,37 0.80 0,025 0,035 0,035
dengan menggunakan media pendingin air, 1025 max max
larutan garam dan oli pada masing -
masing suhu. Baja SAE 1025 termasuk ke dalam
3. Untuk mengetahui struktur mikro pada keluarga baja karbon rendah yang memiliki
baja AISI 1025, yang di panaskan (hardening) kisaran kadar karbon antara 0.22 sampai
dengan variasi suhu 8000C, 8500C dan 9000C. 0.30 % C di perlihatkan pada table 2.1.
Baja karbon ini penggunaannya cukup luas
2. LANDASAN TEORI karena harganya yang murah, keuletan
yang sangat baik, dan mampu mesin serta
2.1. Pengertian baja
mampu las yang baik. namun baja ini
Baja adalah salah satu logam ferro
memiliki kekurangan yaitu hardenability
yang banyak digunakan dalam dunia teknik
yang buruk karena kadar karbon yang
dan industri. Kandungan baja yang utama
dikandungnya sedikit. Baja jenis ini sering
digunakan pada aplikasi seperti body mobil, baja
struktural, baja lembaran untuk pipa, bangunan,
jembatan, dan kaleng minuman.
2.6. Diagram TTT (Time Temperature
Transformation)
Martensit terbentuk jika fasa austenit
dengan cepat ke temperatur rendah. Transformasi dari
fasa austenit ke ferit terjadi suatu proses pengintian
dan pertumbuhan butir yang dipengaruhi
oleh waktu. Karena laju pendinginan yang
begitu cepat, maka atom karbon tersebut
terperangkap dalam larutan sehingga membentuk
struktur martensiti dari pengukuran sebenarnya
pipa pada sisi luar dan sisi dalam pemipaan
dengan ukuran diameter.

Gambar 2 Skema pendinginan quench


(Al-Matsany, 2012).
Pada gambar 2 merupakan pendinginan A
dan B yang menunjukkan dua proses
pendinginan cepat. Kurva A akan menyebabkan
distorsi dan tekanan internal yang lebih
tinggi daripada laju pendinginan B. Hasil
akhir dari pendinginan akan menjadi
martensit. Laju pendinginan B juga dikenal
sebagai Critical Cooling Rate, yang bersinggungan
dengan nose dari diagram TTT. Tingkat pendinginan
kritis didefinisikan sebagai tingkat pendinginan
terendah yang menghasilkan martensit 100% dan
meminimalkan internal dan distorsi (Al-Matsany,
2012).
2.6. Diagram Fasa Fe-C
Gambar 1 Diagram TTT dan struktur Fasa didefinisikan sebagai bagian
mikro pada tiap fase (Al-Matsany, 2012). dari bahan yang memiliki struktur atau
komposisi tersendiri. Diagram fasa Fe-C
Pada gambar 2 merupakan pendinginan A
atau biasa disebut diagram kesetimbangan
dan B yang menunjukkan dua proses pendinginan
besi karbon merupakan diagram yang
cepat. Kurva A akan menyebabkan distorsi dan
menjadi parameter untuk mengetahui
tekanan internal yang lebih tinggi daripada
segala jenis fasa yang terjadi di dalam baja
laju pendinginan B. Hasil akhir dari pendinginan
dengan segala perlakuannya. Konsep dasar
akan menjadi martensit. Laju pendinginan
dari diagram fasa adalah mempelajari bagaimana
B juga dikenal sebagai Critical Cooling
hubungan antara besi dan paduannya dalam
Rate, yang bersinggungan dengan nose dari
keadaan setimbang. Hubungan ini dinyatakan
diagram TTT. Tingkat pendinginan kritis
dalam suhu dan komposisi, setiap perubahan
didefinisikan sebagai tingkat pendinginan
komposisi dan perubahan suhu akan mempengaruhi
terendah yang menghasilkan martensit 100% dan
struktur mikro.
meminimalkan internal dan distorsi (Al-Matsany,
2012).
Pada diagram fasa Fe-C yang ditampilkan sekitar 0,77% maksimum pada temperatur
muncul larutan padat (α, γ,) atau disebut 727°C.
besi delta (δ), austenit (γ) dan ferit (α).
Ferit mempunyai struktur kristal BCC Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
(Body Centered Cubic) dan austenit di dalam diagram fasa Fe-C yaitu perubahan fasa
mempunyai struktur kristal FCC (Face ferit atau besi alfa (α), austenit atau besi
Centered Cubic) sedangkan besi delta (δ) gamma (γ), sementit atau karbida besi,
mempunyai struktur kristal FCC pada suhu perlit dan martensit. Berikut ini uraiannya:
tinggi. Apabila kandungan karbon melebihi
1. Ferit atau besi alfa (α)
batas daya larut, maka akan membentuk
Ferit merupakan suatu larutan padat
fasa kedua yang disebut karbida besi atau
karbon dalam struktur besi murni yang
sementit. Karbida besi mempunyai komposisi
memiliki struktur BCC dengan sifat
kimia Fe3C yang sifatnya keras dan getas.
lunak dan ulet. Karena ferit memiliki
Peningkatan kadar karbon pada baja struktur BCC (Body Centered Cubic),
karbon akan meningkatkan sifat mekanik maka ruang antar atom-atomnya adalah kecil
baja tersebut, terutama kekerasan karena dan padat sehingga atom karbon yang
sifat yang dimiliki oleh endapan sementit dapat tertampung hanya sedikit sekali
yang keras. Pada gambar 3 di bawah ini sekitar 0,02% C. Fasa ferit mulai
merupakan gambar diagram fasa Fe3C. terbentuk pada temperatur antara300°C hingga
mencapai temperatur 727°C. Struktur
mikro fasa ferit dapat dilihat pada
gambar Gambar 4.

Gambar 3 Diagram Fasa Fe3C


(ASMHandbook Vol.4:4, 1991).
Pada gambar 2.3 menunjukkan bahwa Gambar 4 Struktur mikro fasa ferit
pada temperatur sekitar 727°C terjadi temperatur (Callister, 2007)
transformasi austenit menjadi fasa perlit (gabungan
fasa ferit dan sementit). Transformasi fasa ini 2. Austenit atau besi gamma
dikenal sebagai reaksi eutektoid dan Austenit adalah modifikasi struktur
merupakan dasar proses perlakuan panas besi murni dengan struktur FCC yang
pada baja. Kemudian pada temperatur memiliki jarak atom lebih besar
antara 912°C dan 1394°C merupakan dibandingkan dengan ferit. Meskipun
daerah besi gamma (γ) atau disebut demikian, rongga-rongga pada struktur
austenit. Pada kondisi tersebut biasanya FCC hampir tidak dapat menampung
austenit bersifat stabil, lunak, ulet, mudah atom karbon dan penyisipan atom
dibentuk dan memiliki struktur kristal FCC karbon akan mengakibatkan tegangan
(Face Centered Cubic). Besi gamma tersebut dapat dalam struktur sehingga tidak semua
melarutkan karbon dalam jumlah besar rongga dapat terisi, dengan kata lain
yaitu sekitar 2,11% maksimum pada temperatur daya larutnya menjadi terbatas sekali.
sekitar 1148°C. Besi BCC dapat melarutkan karbon Struktur mikro fasa austenit dapat
dalam jumlah yang sangat rendah, yaitu dilihat pada gambar Gambar 5.
5. Martensit
Martensit adalah suatu fasa yang
terjadi karena pendinginan yang sangat
cepat. Jenis fasa martensit tergolong
kedalam bentuk struktur kristal BCT.
Pada fasa ini terjadi proses difusi hal
ini dikarenakan terjadinya pergerakan
atom secara serentak dalam waktu
Gambar 5 Struktur mikro fasa austenit
yang sangat cepat sehingga atom yang
(Callister, 2007).
tertinggal pada saat terjadi pergeseran
3. Perlit akan tetap berada pada larutan padat.
Perlit merupakan campuran antara ferit Besi yang berada pada fase martensit
dan sementit yang berbentuk seperti pelat-pelat akan memiliki sifat yang kuat dan
yang disusun secara bergantian antara sementit keras, akan tetapi besi ini juga bersifat
dan ferit. Fasa perlit ini terbentuk pada saat getas dan rapuh. . Struktur mikro fasa
kandungan karbon mencapai 0,76% C, besi martensit dapat dilihat pada gambar
pada fase perlit akan memiliki sifat keras, ulet Gambar 8.
dan kuat. Struktur mikro fasa perlit dapat dilihat
pada gambar Gambar 6.

Gambar 8 Struktur mikro fasa


martensit (Callister, 2007).
Gambar 6 Struktur mikro fasa perlit
Beberapa istilah dalam diagram kesetimbangan
(Callister, 2007).
Fe-C dan fasa-fasa yang terdapat didalam diagram
4. Karbida besi atau sementit diatas akan dijelaskan dibawah ini. Berikut ini adalah
Karbida besi adalah paduan besi karbon, dimana batas-batas temperatur kritis pada diagram Fe-C yang
pada kondisi tersebut karbon melebihi batas ditampilkan pada Gambar (AnonimC, 2015).
larutan sehingga membentuk fasa kedua atau
1. A1 adalah reaksi eutektoid yaitu perubahan
karbida besi yang memiliki komposisi Fe3C.
fasa γ menjadi α+Fe3C (perlit) untuk
Karbida pada ferit akan meningkatkan
kekerasan pada baja. Akan tetapi karbida besi baja hypoeutectoid.
murni tidak liat, karbida ini tidak dapat 2. A2 adalah titik Currie (pada temperatur 769°C),
menyesuaikan diri dengan adanya konsentrasi dimana sifat magnetik besi berubah dari
tegangan. Struktur mikro fasa sementit dapat feromagnetik menjadi paramagnetic.
dilihat pada gambar Gambar 7. 3. A3 adalah temperatur transformasi dari fasa γ
menjadi α (ferit) yang ditandai pula dengan
naiknya batas kelarutan karbon seiring
dengan turunnya temperatur.
4. Acmn adalah temperatur transformasi
dari fasa γ menjadi Fe3C (sementit)
yang ditandai pula dengan penurunan
batas kelarutan karbon seiring dengan
turunnya temperatur.
Gambar 7 Struktur mikro fasa
5. A12, adalah temperatur transformasi γ
sementit (Callister, 2007).
menjadi α+Fe3C (perlit) untuk baja 3. Quenching
hypereutectoid.
Quenching merupakan suatu proses
2.7. Perlakuan Panas (Heat Treatment). perlakuan panas terhadap baja. Proses
Perlakuan panas (heat treatment) merupakan ini dilakukan dengan memanaskan baja sampai
kombinasi suatu proses pemanasan dan pendinginan suhu austenit dan dipertahankan dalam
yang dilakukan secara terkontrol yang diterapkan jangka waktu tertentu pada suhu
pada logam tertentu atau paduan dalam keadaan padat austenit tersebut, lalu didinginkan
untuk mendapatkan struktur mikro dan sifat-sifat secara cepat di dalam media pendingin
mekanik tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Pada berupa air, air larutan garam, oli,
perlakuan panas baja, struktur mikro memegang larutan alkohol dan sebagainya. Pada
peranan yang cukup penting. Perubahan yang terjadi umunya baja yang telah mengalami
pada struktur mikro karena selama pemanasan dan proses quenching memiliki kekerasan
pendinginan akan mempengaruhi perubahan sifat yang tinggi serta dapat mencapai
pada baja tersebut. kekerasan yang maksimum tetapi agak
rapuh. Adanya sifat yang rapuh, maka
Proses perlakuan panas atau heattreatment kita harus mengurangi dengan melakukan
dibedakan menjadi 2 macam yaitu, perlakuan panas proses lebih lanjut seperti tempering.
equilibrium yang merupakan proses perlakuan Gambar 2.9 menjelaskan bahwa quenching
panas yang menghasilkan struktur yang merupakan salah satu teknik perlakuan
equilibrium, contohnya: annealing dan normalizing. panas yang diawali dengan proses
Serta perlakuan panas non-equilibrium yang pemanasan sampai temperatur austenite
menghasilkan struktur yang non equilibrium, (austenisasi) diikuti pendinginan secara
contohnya hardening. cepat, sehingga fasa austenit langsung
bertransformasi secara parsial membentuk
Berikut beberapa proses perlakuan struktur martensit. Temperatur pemanasan
panas (heat treatment) pada baja dijelaskan hingga fasa austenit untuk proses quenching
seperti di bawah ini: disebut juga sebagai temperatur pengerasan
(hardening temperatur). Proses selanjutnya
1. Full annealing
setelah mencapai temperatur pengerasan, yaitu
Proses annealing untuk baja hypoeutektoid
penahanan selama beberapa menit untuk
dilakukan dengan memanaskan sampai suhu
menghomogenisasikan energi panas
sedikit di atas suhu kritisnya A3 dan ditahan
yang diserap selama pemanasan, kemudian
beberapa saat pada suhu tersebut, kemudian didinginkan secara cepat dalam media
didinginkan dengan laju pendinginan pendingin.
lambat di dalam furnace. Sifat baja
hasil proses annealing adalah menjadi
lebih lunak dan ulet.
2. Normalizing
Proses normalizing untuk baja hypoeutektoid
dilakukan dengan memanaskan suhu
sedikit di atas suhu annealing yaitu
mencapai 500°C di atas suhu kritis A3
dengan menggunakan udara terbuka.
Hasil proses normalizing baja akan
berbutir lebih halus, lebih homogen
dan lebih keras dari hasil annealing.
Gambar 9 Kurva proses quenching
(Shackelford, 1996).
Tujuan utama quenching adalah menghasilkan diolah. Selain minyak yang khusus
baja dengan sifat kekerasan tinggi. Sekaligus digunakan sebagai bahan pendingin
terakumulasi dengan kekuatan tarik pada proses perlakuan panas dapat
dan kekuatan luluh, melalui transformasi juga digunakan oli, minyak bakar
austenit ke martensit. Proses quenching akan atau solar. Oli sebagai media pendingin lebih
optimal jika selama proses transformasi, struktur lunak jika dibandingkan dengan air. Oleh
austenite dapat dikonversi secara keseluruhan karena itu medium oli tidak menghasilkan
membentuk struktur martensit. Hal-hal penting baja sekeras yang dihasilkan pada medium
untuk menjamin keberhasilan quenching dan air. Pendinginan lambat bertujuan agar
menunjang terbentuknya martensit ialah didapat struktur mikro yang lebih stabil
temperatur pengerasan, waktu tahan dikarenakan perubahan bentuk butir
laju pemanasan, metode pendinginan, terjadi secara perlahan, sehingga
media pendingin, dan hardenability. menghasilkan baja yang lunak dan
Hardenability merupakan fungsi dari ulet. Oli atau biasa disebut dengan pelumas
komposisi kimia dan ukuran butir pada berfungsi sebagai pendingin, dimana
temperatur tertentu. Selain itu, dimensi pelumas tersebut mampu menghilangkan
dari logam juga berpengaruh terhadap panas yang dihasilkan baik dari
hasil proses quenching, karena cenderung gesekan atau sumber lain seperti
akan terjadi pembentukan lapisan uap pembakaran atau kontak dengan zat
pada bagian-bagian tertentu yang akan tinggi. Perubahan suhu dan oksidatif
mengakibatkan laju pendinginan yang material akan menurunkan efisiensi
tidak seragam dan terbentuknya struktur pelumas.
mikro yang berbeda pada beberapa
bagian tersebut. Media pendingin yang c. Udara
digunakan untuk mendinginkan baja Pendinginan udara dilakukan untuk
bermacam-macam. Berbagai bahan pendingin perlakuan panas yang membutuhkan
yang digunakan dalam proses perlakuan panas pendinginan lambat. Untuk keperluan
antara lain: tersebut udara yang disirkulasikan ke dalam
ruangan pendingin dibuat dengan
a. Air kecepatan yang rendah. Udara sebagai
Air adalah media yang paling banyak pendingin akan memberikan kesempatan
digunakan untuk quenching karena kepada logam untuk membentuk
biayanya yang murah dan mudah kristal- kristal dan kemungkinan
digunakan serta pendinginannya yang cepat. mengikat unsur-unsur lain dari udara.
Air memberikan pendinginan yang sangat
cepat yang menyebabkan tegangan dalam, d. Garam
distorsi dan retakan. Air merupakan Garam dipakai sebagai bahan pendingin
senyawa dengan rumus kimia H2O disebabkan memiliki sifat mendinginkan
yang berarti pada setiap molekul air yang teratur dan cepat. Bahan yang
ada dua atom hidrogen yang terikat didinginkan di dalam cairan garam akan
dengan atom oksigen. Air membeku pada mengakibatkan ikatannya menjadi lebih
suhu 273°K = 0°C dan menguap keras karena pada permukaan benda kerja
dibawah tekanan normal pada suhu tersebut akan meningkat zat arang.
373°K = 100°C (Gary, 2011). 2.8. Mikroskop Optik
b. Minyak atau oli
Prinsip kerja dari alat uji struktur mikro
Minyak yang digunakan sebagai fluida (mikroskop optik) ditunjukkan pada Gambar 2.11
pendingin dalam perlakuan panas adalah yaitu bekas horizontal cahaya dari sumber
yang dapat memberikan lapisan karbon pada cahaya dipantulkan dengan memakai reflektor
kulit (permukaan) benda kerja yang kemudian melalui lensa objektif sinar diteruskan
ke atas permukaan sampel. Beberapa cahaya Kekerasan Rockwell skala B menggunakan
dipantulkan dari permukaan sampel akan indentor bola baja berdiameter 1,6 mm dengan
diperbesar melalui lensa objektif dan beban 100 kgf. sedangkan kekerasan
okuler yang biasanya digambarkan pada Rockwell skala C menggunakan indentor
puncak lensa yang terhubung dengan kerucut intan dengan penekanan sebesar
komputer ketika mengambil foto struktur 150 kgf, seperti digambarkan pada gambar
mikro didapat hasil yang presis. Struktur 2.12.
mikro setelah mengalami proses perlakuan panas
agar dapat membandingkan struktur mikro antara
sebelum dan sesudah dilakukannya perlakuan
panas (heat treatment), sedang spesimen
metalografi sama dengan untuk uji kekerasan dan
alat pemeriksaannya memakai mikrokop optik dan
stereo.

Gambar 11 Pengujian Rockwell


Mencari besarnya nilai kekerasan
dengan menggunakan metode Rockwell
dijelaskan pada gambar 2.13, yaitu pada
langkah 1 benda uji ditekan oleh indentor
dengan beban minor (Minor Load F0)
setelah itu ditekan dengan beban mayor
(major Load F1) pada langkah 2, dan pada
Gambar 10 Skema pengamatan struktur langkah 3 beban mayor diambil sehingga
mikro dengan mikroskop optic yang tersisa adalah minor load dimana
pada kondisi 3 ini indentor ditahan seperti
(Van Vlack, 1992). kondisi pada saat total load F yang terlihat
pada gambar 2.13. Besarnya minor load
2.9. Metode Pengujian Kekerasan maupun major load tergantung dari jenis
Rockwell material yang akan di uji terlihat pada
Pengujian kekerasan pada metode gambar 2.13.
Rockwell menggunakan indentor berupa
bola baja yang dikeraskan atau dapat juga
menggunakan indentor berupa kerucut
intan. Beban atau gaya yang digunakan
untuk penakan adalah bervariasi tergantung pada
logam yang diuji (Kalogueloe.blogspot, 2013). Nilai
kekerasannya didasarkan pada kedalaman indentasi
yang terjadi.
Gambar 12 Prinsip kerja metode
Nilai kekerasan metode Rockwell dibagi
pengukuran kekerasan Rockwell
dalam skala kekerasan yaitu : kekerasan
Rockwell skala C, biasa ditulis dengan
Dibawah ini merupakan rumus yang
HRC. Kekerasan Rockwell skala B, ditulis
digunakan untuk mencari besarnya kekerasan
dengan HRB.Kekerasan Rockwell skala B
dengan metode Rockwell.
digunakan untuk bahan atau logam yang
relative lunak, sedangkan Rockwell skala C HR = E – e
digunakan untuk logam yang relative Dimana :
keras. F0 = Beban Minor(Minor Load) (kgf)
F1 = Beban Mayor(Major Load) (kgf) integral atau satu kesatuan dari peralatan
F = Total beban (kgf) uji Vickers, seperti gambar 13.
e = Jarak antara kondisi 1 dan kondisi
3 yang dibagi dengan 0.002 mm
E = Jarak antara indentor saat diberi
minor load dan zero reference line
yang untuk tiap jenis indentor
berbeda-beda .
HR = Besarnya nilai kekerasan dengan
metode hardness

2.9.1. Metode Pengujian KekerasanVickers


Prinsip dari pengujian kekerasan metode
Vickers mirip dengan metode brinell.Sudut
indentor piramida berlian Vickers adalah
1360. Jejek indentasi yang dihasilkan oleh Gambar 13 Pengujian Vickers
indentor Vickers lebih jelas, daripada jejak Adapun keuntungan dari metode pengujian
indentor dari pengujian metode brinell.Sehingga Vickers, adalah:
metode ini memiliki akurasi yang lebih baik.
1. Dengan pendesak yang sama, baik
Karena kelebihannya ini, maka metode Vickers pada bahan yang keras maupun lunak,
lebih banyak digunakan dalam dunia penelitian dan nilai kekersan suatu benda uji dapat
pendidikan.Aplikasi dari metode ini sangat diketahui.
luas, mulai untuk logam yang memiliki 2. Penentuan angka kekerasan pada
nilai Vickers rendah 5 HV pada logam benda - benda kerja tipis atau kecil
yang lunak, sampai logam dengan nilai dapat diukur dengan memilih gaya
Vickers tinggi sekitar 1500 HV pada logam yang relatif kecil. Pengujian mikro
yang sangat keras. Vickers adalah metode pengujian
Beban yang digunakan sangat bervariasi kekerasan dengan pembebanan yang
mulai dari 1 kgf sampai 120 kgf, untuk uji relatif kecil yang sulit dideteksi oleh
kekerasan makro, dan 15 – 1000 gram metode mikro Vickers. Pada pengujian
untuk uji kekerasan makro. Waktu dengan ini menggunakan metode mikro Vickers karena
waktu yang digunakan untuk pembebanan untuk mengetahui seberapa besar nilai
indentasi biasanya adalah selama 30 detik. kekerasan pada permukaan benda uji
Bilangan kekerasan Vickers (VHN) dihitung hasil dari proses heat treatment, sehingga
dengan rumrs berikut : pembebanan yang dibutuhkan juga
relative kecil yaitu berkisar antara 10
sampai 1000 kgf.
a. Keuntungan metode Vickers :
Dimana :  Indentor dibuat dari bahan yang
cukup keras, sehingga dimungkinkan
VHN = Vickerss Heardness Number dilakukan untuk berbagai jenis
logam.
P = Beban yang diterapkan (kgf)  Memberikan hasil berupa skala
D = Panjang diagonal jejak indentasi kekerasan yang kontiniu dan
dapat digunakan untuk menentukan
Panjang diagonal jejak indentasi kekerasan pada logam yang sangat
diukur dengan menggunakan mikroskop lunak dengan kekerasan DPH 5
optik, yang biasanya merupakan bagian hingga logam yang sangat keras
dengan DPH 1500.
 Dapat dilakukan untuk benda - penelitian melakukan pengujian dan analisa hasil
benda dengan ketebalan yang pengujian. Tahapan penelitian tersebut di susun agar
sangat tipis, sampai 0.006 inchi. penelitian dapat berjalan secara sistematis, dari
 Harga kekerasan yang didapat tahapan penelitian diatas kemudian disusun diagram
dari uji Vickers tidak bergantung alir penelitian .
pada besar beban indentor.
b. Kerugian metode Vickers : 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
 Pengujian ini tidak dapat
4.1. Hasil Uji Kekerasan
digunakan untuk pengujian rutin
Hasil pengujian kekerasan dengan tiga
karena pengujian tersebut lama,
titik uji, yang mana dengan menggunakan
memerlukan persiapan
gaya penekanan sebesar 10 kgf pada alat
permukaan benda uji yang teliti,
uji kekerasan vickers, pada baja AISI 1025
dan rentan terhadap kesalahan
yang di hardening dengan variasi suhu
perhitungan panjang diagonal.
8000C, 8500C, 9000C dan di dinginkan
menggunakan media pendingin air, air
3. Alat Dan Bahan
garam dan oli.
Adapun alat-alat dan bahan yang digunakan
dalam proses pengujian ini adalah untuk melengkapi
4.2 . Hasil Uji Kekerasan Tanpa Proses
proses pembuatan specimen pengujian di lab PTKI
Hardening
(Pendidikan Teknologi Kimia Industri).
Hasil pengujian kekerasan dengan tiga
titik uji, yang mana dengan menggunakan
3.1. Alat
gaya penekanan sebesar 10 kg pada alat uji
kekerasan vickers, pada baja AISI 1025
1. Gergaji Besi
(spesimen original). Dengan menggunakan
2. Sigmat (jangka sorong)
3. Sarung tangan Identitas Diagonal (m)
No Bahan Beban VHN Rata-rata
4. Penjepit a b d²
5. Furnance (Oven Pemanas Baja) 1
Baja Asli Aisi
0.318 0.318 0.1011 183.4223
6. Mesin Poles Spesimen 2 10 kgf 0.314 0.314 0.0985 188.2639 187.0346
1025
7. Mesin uji kekerasan Vickers 3 0.313 0.313 0.0979 189.4177
8. Mikroskop optic persamaan pengujian kekerasan vickers,
maka nilai HV (Hardnes Vickers) pada
3.2. Bahan baja AISI 1025 (spesimen asli) dapat
Pengujian ini menggunakan bahan Baja diperoleh:
AISI 1025, dimana spesimen asli dapat
dilihat pada gambar 14.

Dimana:
VHN : Nilai kekerasan Vikers
P : Beban yang digunakan
d² : Panjang diagonal rata-rata
Gambar 14 Baja AISI 1025 (mm)
Maka nilai kekerasan baja AISI 1025
3.3. Diagram Alir Penelitian pada titik no 1 adalah :
Penelitian dalam tugas akhir ini dilakukan
dalam beberapa tahapan penting meliput: Untuk Mencari panjang diagonal rata-
rata (d²) maka dapat dicari dengan :
menentukan tujuan penelitian,mengumpulkan
landasan teori untuk penelitian, menentukan proseder
Dimana : Grafik Hasil Uji Vickers Baja AISI

Nilai Kekerasan VHN


d² : Panjang diagonal rata rata (mm) 1025 Asli

a : Diagonal Vertical
189,417
b : Diagonal Horizontal 188,263 7
190 9 VHN
Maka diagonal rata-rata (d²) adalah: 188
186 183,422
3
184
182
d 2 = 0,318 180
Titik 1 Titik 2 Titik 3

Gambar 15 Grafik hasil uji vickers


VHN baja AISI 1025 original
4.3. Hasil Uji Struktur Mikro
Hasil perhitungan dengan persamaan Struktur mikro yang terdapat pada hasil
di atas, maka nilai VHN dari setiap spesimen uji baja pengujian ini diambil dengan menggunakan
AISI (spesimen asli) titik nomor 2 dengan hasil mikroskop optic dengan pembesaran 500X
pada setiap spesimen uji. Dan dengan
188,2639 VHNdan titik nomor 3 dengan hasil
mikroskop optic kita dapat mengetahui
189,4177 VHN seperti yang terlihat pada bentuk ferit dan martensit.
tabel 4.1.
4.4. Hasil Foto Mikro Struktur
Tabel 4. 1 Hasil pengujian kekerasan baja Spesimen Asli
AISI 1025 original Struktur mikro yang terdapat pada hasil
Hasil pengujian kekerasan dengan tiga pengujian ini diambil dengan menggunakan
titik uji, dengan menggunakan gaya sebesar 10 mikroskop optic dengan pembesaran 500X
kgf pada alat uji keras vickers, pada baja pada setiap spesimen uji yang terdapat
AISI 1025 pada spesimen yang asli dan pada gambar 16.
dapat diperoleh dengan rata-rata nilai
kekerasan vickers ialah 187,0346 VHN.
ferrite
Hasil data-data yang didapat dari hasil
pengujian yang vickers pada baja AISI
1025 dilampirkan pada tabel diatas dan martensit
dapat didilihat pada baja AISI 1025 pada
titik 1 dan titk 2 mengalami peningkatan
kekerasan dan pada titik 3 peningkatan
kekerasan semangkin keras. Maka dapat
dijelaskan dalam bentuk gambar grafik 15. Gambar 16 Struktur mikro baja AISI 1025
pada spesimen asli
Gambar 16 diatas, dapat dilihat bahwa
struktur yang diperoleh dari spesimen asli
ini adalah ferrite karena jumlah martensite
yang terbentuk sedikit sehingga peningkatan
kekerasannya pun kecil.
5. KESIMPULAN DAN SARAN 8000C, 8500C dan 9000C yang
kemudian didinginkan secara cepat
5.1 .KESIMPULAN dengan media pendingin air, air garam
Berdasarkan hasil dari pengujian dan oli, adalah baja AISI 1025 yang di
dan pembahasan pada bab sebelumnya, uji panaskan (hardening) suhu 8500C
kekerasan vickers pada material baja AISI memiliki tingkat kekerasan uji vickers
1025 asli dan baja AISI 1025 yang melalui yang lebih tinggi dibandingkan dengan baja
proses pemanasan (hardening) dengan AISI 1025 asli, baja AISI 1025 yang
variasi suhu 8000C, 8500C dan 9000C yang melalui pemanasan hardening 8000C
kemudian didinginkan secara cepat dengan dan pemanasan hardening 9000C. Dan
media pendingin air, air garam dan oli, dari penelitian yang sudah dilakukan
mempunyai beberapa kesimpulan atau pada setiap suhu media pendingin air
penjelasan sebagai berikut : garam memiliki tingkat kekerasan yang tinggi di
bandingkan dengan media pendingin air
1. Pada hasil pengujian uji kekerasan dan oli yang telah terbukti dengan melakukan
Vickers material baja AISI 1025 asli penilitian dengan melakukan proses
dan hardening dengan variasi suhu pengujian Vickers.
8000C, 8500C dan 9000C yang
kemudian didinginkan dengan media 3. Dari hasil pemanasan (hardening)
pendingin air, air larutan garam dan dengan variasi suhu 8000C, 8500C dan
oli menghasilkan uji kekerasan 9000C dilakukan pengamatan foto
Vickers dengan nilai rata-rata masing- struktur mikro pada bagian tepi
masing spesimen. menunjukan fasa martensite, semakin
a. nilai rata-rata uji kekerasan Vickers banyak fasa martensite yang terbentuk
pada baja asli = 187.0346 VHN menyebabkan tingkat kekerasan
b. nilai rata-rata uji kekerasan semakin tinggi, dalam hasil
Vickers pada suhu 8000 dengan pengamatan terdapat perbedaan antara
media pendingin air = 225.9393 beberapa variasi hardening dan media
VHN, dengan media pendingin air pendingin.
larutan garam = 267.4606 VHN,
dengan media pendingin oli = 5.2 Saran
174.5508 VHN.
c. nilai rata-rata uji kekerasan Vickers Berdasarkan hasil penelitian yang
pada suhu 8500 dengan media dilakukan, penulis menyarankan beberapa
pendingin air = 336.9085 VHN, hal antara lain:
dengan media pendingin air larutan 1. Untuk membuat komponen yang
garam = 378.4476 VHN, dengan membutuhkan kekerasan yang lebih
media pendingin oli = tinggi sebaiknya digunakan metode
183.3511VHN. hardening dengan suhu 8500 C, dan
d. nilai rata-rata uji kekerasan Vickers dinginkan dengan media pendingin
pada suhu 9000 dengan media air. Dan jangan menggunakan suhu
pendingin air = 245.5047 VHN, 9000 C dikarenakan bisa melepas
dengan media pendingin air larutan karbon yang terikat pada baja tersebut
garam = 190.8039 VHN, dengan karena pemanasan pada suhu 9000 C
media pendingin oli = 162.7562 sudah berada pada suhu A3.
VHN. 2. Disarankan untuk mengembangkan
2. Dari nilai rata-rata uji kekerasan judul dari skripsi saya dengan
Vickers yang dihasilkan pada baja melakukan proses crburizing dengan
AISI 1025 asli dan proses pemanasan berbagai hardening atau berbagai
(hardening) dengan variasi suhu variasi holding time dengan media
pendingin air garam.
3. Peneliti harus melakukan perawatan
yang lebih pada peralatan yang
bersinggungan langsung dengan
reagent karena akan menyebabkan
korosi.

DAFTAR PUSTAKA
al-matsany. (2012, 3 12).
http://blog.ub.ac.id/pertamaxxx diagram-
ttt-time temperature transformation/.
Diakses 04 Desember 2015. Pukul 19.00
WIB. Retrieved 12 4, 2015
Callister, Wiliam D. Material Science and
Engineering 7th. John Wiley & Sons, Inc.
Kanada. (2007).
Handbook, A. (1993). baja dapat
diaplikasikan berdasarkan komposisi
kimianya.
Kalogueloe.blogspot, 2. (2013, 5 15).
http://kalogueloe.blogspot.co.id/2013/03/p
engujian-keras-brinell-vickers.html.
Retrieved 8 19, 2016, from
http://kalogueloe.blogspot.co.id/2013/03/p
engujian-keras-brinell-vickers.html.
review, K. (2004). chain sprocket apllikasi
baru di segmen otomotif yang menjanjikan
KS Review Vol no 2004.p62.
schonmetz. (1985). Schonmetz, Alois Karl
Gruber. 1985. Pengetahuan Bahan dalam
Pengerjaan Logam. Aksara. Bandung.
shackelford. (1996). Shackelford, James,
F. Introduction to Material Science for
Engineering. Mc Graw Hill Companies,
Inc.
Totten. GE, B. (1993). Totten, GE, Bates,
CE, Clinton, NA, Handbook of Quenchant
and Quenching Technology, ASM
International. USA. USA.