Anda di halaman 1dari 202

Panduan Jurnalis

dalam Meliput Isu Anak


Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak

Penyusun:
Qodriansyah Agam Sofyan
Rusdin Tompo
Rahmat Zena

Editor:
Rahmat Hardiansya

Cetakan pertama
Hak Cipta @AJI Makassar
PANDUAN JURNALIS DALAM MELIPUT ISU ANAK
AJI MAKASSAR 2017

Diterbitkan oleh
AJI Makassar dan Konsulat Jenderal Australia
DAFTAR ISI

SEKAPUR SIRIH ......... v

Bab I ......... 11
Isu Anak dalam Bingkai Jurnalisme

Bab II ......... 19
Apa Pentingnya Perspektif Anak
Bagi Jurnalis?

Bab III ......... 25


Realitas Pemberitaan Anak
di Media Massa

Bab IV ......... 35
Mengapa Anak Perlu Perlindungan?

Bab V ......... 41
Cara Tepat Meliput
dan Memberitakan Anak

Lampiran-lampiran ......... 55
Sekapur Sirih
Mencetak Jurnalis
yang Berperspektif Anak
Sajian media massa kita umumnya tidak komprehensif dan
mendalam (in depth). Ini kritik dari khalayak luas, pula otokritik
dari kalangan wartawan sendiri. Tak hanya media cetak saja yang
demikian, media penyiaran (televisi dan radio) serta media on-
line (siber) pun keadaannya setali tiga uang.
Apa yang dinamakan berita terkini (current news) dalam
pers kita misalnya, lebih cenderung memuat peristiwa masalah
anak yang mengutip dari berita acara pemeriksaan (BAP)
kepolisian. Lalu mengakhirinya dengan berupa silang komentar
para narasumber belaka.
Si A mengatakan begini, si B bilang begitu, si C membantah,
sedangkan si D membenarkan. Agar lebih seru terkesan
berbobot, komentar si E dimasukkan. Siapa si E ? Pengamat,
analisis atau pemerhati. Alhasil, informasi yang termaktub tak
lebih dari sekadar cuap-cuap belaka. Sebutan kerennya, talking
news.
Saat Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan
AJI Makassar M. Ghufran H Kordi, Aktivis Anak juga turut
mempersoalkan masalah ini. Ia berkata, “mengapa teman-
teman wartawan hari ini, hanya mengandalkan berita seperti
ini? mengapa tidak melakukan verifikasi sendiri? padahal belum
tentu, hasil pemeriksaan polisi dalam BAP itu, bisa dituangkan
begitu saja dalam pemberitaan,“ ucap dia dengan nada gemas.
Seperti apakah posisi wartawan sebagai penyaji informasi?.
Dalam reportase bergaya talking news, kedudukannya tak
lebih dari tukang belaka. Tepatnya, tukang lapor omongan
orang. Begitulah yang terjadi dalam pewartaan banyak kejadian.
Termasuk kasus yang baru saja hangat terjadi di Makassar-
Sulawesi Selatan, yakni kasus seorang pemuda membakar ayah
dan ibu tirinya serta adik tirinya yang berusia 8 tahun.
Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak v
Sang ibu kemudian meninggal dunia setelah dilarikan
ke rumah sakit. Korban meregang nyawa lantaran berusaha
memeluk anaknya dari kobaran api. Si anak bisa selamat karena
warga cukup sigap memadamkan api tersebut.
Jepretan foto-foto anak masih cenderung begitu vulgar
dalam kasus kriminalitas anak, termasuk berita masalah
bullying anak di sekolah. Lazimnya, berita-berita jenis ini hanya
sebatas pemberitaan peristiwa saja. Sekadar menampilkan fakta
peristiwanya. Setelah pemberitaan, enigma (teka teki) besarlah
yang memenuhi benak khalayak luas. Pasalnya, jawaban dari
pertanyaan: apa sesungguhnya terjadi? Tak kunjung mereka
temukan di media massa.
Terjemahan dari “reporter” memang adalah pelapor. Meski
demikian, yang perlu dilakukan oleh setiap reporter media massa
(padanan katanya: wartawan atau jurnalis) seyogyanya jauh dari
sekadar mewartakan bahwa sesuatu telah terjadi. Tetapi juga
sebisa mungkin, mengurai benang masalah dengan memaparkan
sebab akibat (kausalitas) serta mengungkap fakta lewat verifikasi.
Sehingga khalayak mendapat wawasan dan perspektif terkait
apa yang diberitakan.
Pengungkapan fakta, itulah sebenarnya hakikat pekerjaan
setiap jurnalis. Tujuannya? Demi ketersediaan informasi yang
dibutuhkan masyarakat luas, yang merupakan majikan wartawan.
Majikan? Ya. Sebab dari masyarakatlah, jurnalis memperoleh
mandat untuk meliput. Pula, senantiasa mengatasnamakan
merekalah, wartawan meminta akses informasi di lapangan.
Sebagai awak pers, jurnalis sesungguhnya tidak lain dari
perpanjangan panca indera serta sistem penalaran publik. Juga
semacam instrumen penyaksi sekaligus juru verifikasi bagi
mereka. Sungguh tidak main-main bukan? Memang, begitulah
adanya jika kita berbicara hakikat.
Lantas mengapa media massa kita akhir-akhir ini diselimuti
karya jurnalistik yang bias anak? Ada sejumlah faktor
penyebabnya.

vi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Pertama, kurang wawasan. Jurnalis tidak menyadari bahwa
kinerja mereka selama ini masih di bawah standar. Pendidikan
jurnalisme--apalagi dengan isu-isu spesifik--yang tidak
memadailah musababnya.
Kedua, media kurang tenaga, beban kerja sarat. Ini persoalan
generik seluruh negeri. Wartawan terpaksa bekerja rodi sebab
diwajibkan kejar tayang atau kejar terbit. Masing-masing mereka
harus menyetor berita minimal 3 berita saban hari. Karena
bukan Superman ataupun Spiderman, tidak masuk akal kalau
seorang jurnalis mampu menghasilkan lebih dari satu liputan
mendalam perhari secara individu.
Jadi, untuk memenuhi target, wajar saja kalau yang mereka
lakukan adalah menyetor berita kutipan BAP dan berita cuap-
cuap saja. Perolehan berita itu dengan cara apapun termasuk
barter, cloning atau apa yang disebut “memelihara tuyul”. Yang
terakhir ini, sang wartawan membayar para kaki tangan untuk
menghasilkan berita. Tatkala berita tayang, nama si wartawan
saja yang muncul, sedangkan kaki tangan tidak. Karena bekerja
secara anonym, kaki tangan pun disebut tuyul.
Ketiga, manajemen media memang malas untuk berbenah
karena sudah merasa berada di zona aman (comfort zone).
Akibatnya, mereka tak memusingkan kualitas.
Kualifikasi wartawan kita pada umumnya masih di bawah
rata-rata merupakan imbas dari ketidakmemadaian pendidikan
jurnalisme. Di media berformat apapun, kemampuan teknis
wartawan kita dalam news gathering (pemanfaatan data riset,
wawancara dan observasi), news writing, news editing, umumnya
masih kurang kalau diukur dengan parameter the best practice
internasional.
Dalam menggali informasi lewat wawancara dan dalam
menulis misalnya, merupakan dua pekerjaan yang menuntut
kualifikasi jurnalis sebagai komunikator yang baik. Saat
menginterview, setiap wartawan idealnya harus piawai
menambang informasi dari narasumber macam apa pun.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak vii


Untuk itu, ia mesti terampil memainkan jurus-jurus psikologi
guna mencairkan suasana. Dengan demikian, narasumber akan
merasa nyaman mengemukakan isi hati dan pikirannya.
Lantas, tatkala menuliskan hasil reportase, seorang jurnalis
harus mengetahui persis siapa khalayak yang akan ia sasar.
Dengan begitu, ia akan bisa menyesuaikan gaya, nada dan
wacana yang akan ia gunakan.
Kalo bukan komunikator yang baik, niscaya radar dirinya
tidak akan peka terhadap hal semacam ini. Jadi, akan main hantam
kromo saja dia, sehingga hasil kerjanya bisa kontraproduktif
bagi khalayak luas.
Tidak atau kurang menguasai masalah, merupakan jenis lain
dari penyakit umum jurnalis kita. Kalau itu terjadi pada wartawan
pemula, orang lain atau narasumber berita akan bisa memahami.
Masalahnya, wartawan berjam terbang tinggi pun masih banyak
yang seperti itu. Wajar saja kalau para narasumber banyak yang
memandang sebelah mata profesi wartawan.
Seyogyanya setelah 2 tahun menjadi wartawan atau jurnalis,
pengetahuan atau wawasan jurnalis sudah memadai di lapangan.
Seorang wartawan peliput masalah anak, setelah 2 tahun
seharusnya dia sudah memiliki modal sosial yang cukup. Modal
itu berupa relasi yang baik dengan komunitas pemerhati anak,
narasumbernya sekian lama.
Mereka adalah Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Dinas
Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA), Pusat Pelayanan
Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(P2TP2A), Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, kepolisian, LSM
pendamping anak, dan lembaga atau institusi terkait lainnya.
Pergaulan dengan mereka, seyogyanya akan mengayakan
pengetahuan dia ihwal advokasi masalah anak, penggunaan
istilah-istilah dan pemilihan diksi yang tidak menstigma dan
tidak melakukan pelabelan saat penulisan atau penyiaran berita
anak, serta memahami regulasi hukum nasional berdasarkan
Konvensi Hak-hak Anak (KHA).

viii Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Dengan koneksi dan pengetahuan semacam itu, seharusnya
hasil reportasenya tidak lagi sekadar BAP polisi dan talking news,
melainkan sudah berupa pendalaman masalah atau bahkan
analisis. Nyatanya tidak demikian. Masih jauh panggang dari api.
Yang sudah meliput 5 tahun lebih pun masih saja ber-talking
news. Jelas, pembenahan kompetensi dan etik wartawan kita
sudah semakin mendesak untuk dilakukan. Demi kemaslahatan
seluruh rakyat Indonesia. Demi kepentingan terbaik anak.
Di zaman media jejaring sosial sekarang pun, media
massa menjadi sumber informasi utama publik. Sebab itu,
kedudukannya masih sangat strategis sebagai pewarna kehidupan
masyakarat luas. Kalau pers kita bermutu tinggi dan konsisten
menjalankan fungsi klasiknya sebagai pendidik, penghibur, dan
pengontrol, pastilah rakyat kita akan lebih cerdas dan bijak.
Dengan begitu, masyarakat tak mudah terperdaya dan tersulut
oleh provokasi lagi. Dampak ikutannya bakal banyak. Selama
ini pers kita malah bagian dari permasalahan bangsa itu sendiri.
Dalam pembenahan kompetensi jurnalis, salah satu yang
perlu dilakukan adalah peningkatan wawasan akan permasalahan
anak. Konsulat Jenderal (KonJen) Australia dan Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) Makassar termasuk yang peduli pada mutu
wartawan di negeri kita. kondisi ini, dan bersepakat berikatan
lewat sebuah program Direct Aid Project (DAP) yang
menciptakan buku ini.

Qodriansyah Agam Sofyan


Ketua AJI Makassar

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak ix


Bab I
Isu Anak
Dalam Bingkai Jurnalisme

M edia massa masih berperan penting di Indonesia.


Bukan hanya dalam masalah-masalah umum, soal
anak pun, media punya andil besar. Meski saat ini sosial media
telah mengambil sebagian porsi informasi, namun media tetap
menjadi yang pertama sebagai sumber informasi utama yang
bisa dipercaya.
Hasil peliputan media massa baik berupa medium radio,
televisi, media cetak dan online punya peluang mengangkat
masalah anak kepermukaan dan mendapat perhatian publik,
utamanya pemerintah sebagai pengambil kebijakan.
Masalah anak yang kerap muncul dan jadi pembicaraan tidak
lepas dari fenomena anak-anak yang hidup di jalanan, ada juga
tentang pekerja anak dibawah umur, serta kekerasan terhadap
anak dalam keluarga dan lingkungan sosialnya, hingga masalah
pendidikan dan kesehatan mereka.
Karena anak-anak sangat dekat dengan kehidupan kita,
masalah mereka kerap muncul dalam pemberitaan media. Porsi
pemberitaan masalah anak, erat kaitannya dengan medium
media bersangkutan. Semuanya tergantung magnitude peristiwa
dan yang paling penting, segmentasi pembaca medianya.
Semakin besar peristiwanya akan membuat porsi pemberitaan
di media juga kian luas. Porsi dalam hal ini bisa berupa jumlah
pemberitaan yang diturunkan jika medianya online atau panjang
11
dalam pemberitaan media cetak. Jika bicara media elektronik
tentu berkaitan dengan durasi penayangan.
Kadang kala, jika peristiwanya benar-benar mencuri
perhatian pemirsa, pemberitaan ini akan memakan waktu yang
sangat panjang, bisa juga dijadikan sebagai berita utama dan
diulas berhari-hari. Sekali lagi, itu tergantung peristiwa yang
mengikuti masalah anak bersangkutan.
Segmentasi media sangat berpengaruh pada dimuat atau
tidaknya satu peristiwa yang berkaitan dengan anak. Pun jika
terpaksa dimuat akan diulas sesuai dengan jenis dan kebutuhan
pembaca media tersebut. Hukum pasar bagi media sejak dahulu
kala selalu sama, mana yang lebih dianggap menarik dan
“memiliki nilai” jual akan diterbitkan.
Pada media cetak harian umum misalnya, porsi masalah
anak mungkin akan lebih besar. Sayangnya, masalah ini akan
diposisikan sebagai peristiwa-peristiwa lainnya. Meski media
harian sering kali memiliki rubrikasi khusus untuk anak, namun
tidak mengakomodir peristiwa yang ada kaitannya dengan kasus
anak.
Rubrikasi anak di media lebih banyak membahas soal tren
dan pendidikan dan psikologi anak. Media-media khusus anak
seperti Majalah Bobo, Nikita dan lain-lainnya pastinya akan
mengambil peranan lebih besar. Hanya saja eksistensi media-
media khusus anak terus tergerus dengan kian berkembangnya
teknologi.
Pemberitaan masalah anak oleh media massa juga bisa
membawa dampak positif bagi anak itu sendiri. Masyarakat atau
pemerintah akan dengan mudah mengetahui adanya diskriminasi
kepada anak, baik itu soal gizi buruk yang melandanya atau anak-
anak korban eksploitasi.
Jika informasi ini diungkapkan dengan jujur, masyarakat dan
pemerintah akan diajak untuk lebih “melek” terhadap kondisi
yang dialami anak-anak. Sekali lagi, media sangat berperan
penting dalam hal ini, apalagi mendorong pengambil kebijakan

12 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


mengambil keputusan cepat untuk menangani masalah anak.
Dalam banyak hal, kondisi ini sering terjadi.
Dengan kian besarnya porsi pemberitaan anak di media,
disisi lain membawa persoalan besar. Tidak jarang, pemberitaan
tersebut berdampak negatif kepada anak bersangkutan
dimasa mendatang. Utamanya anak-anak yang menjadi objek
pemberitaan. Misalnya soal anak yang terkena virus HIV/AIDS.
Jika media tidak hati-hati dalam mengangkat cerita ini akan
berakibat buruk pada si anak. Masyarakat belum begitu terbuka
dan menerima virus mematikan tersebut. Banyak yang masih
menilainya sebagai kutukan dan penyakit yang muncul akibat
kerusakan moral.
Hal ini pernah terjadi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sejumlah media memberitakan seorang anak berusia lima
tahun menderita virus tersebut, lalu memajang foto dan alamat
lengkapnya di media. Alhasil, si anak yang ditinggal mati kedua
orang tuanya, diusir dari tempat tinggalnya bersama sang nenek
yang merawatnya.
Kasus kekerasan kepada anak juga riskan menimbulkan
masalah dan berdampak negatif kepada anak. Disatu sisi hal
ini positif karena kasus tersebut terbongkar. Negatifnya, karena
kadang isi pemberitaanya bertolak dengan semangat awal untuk
memberitakan masalah tersebut. Pemberitaan secaman ini kerap
kali berakhir dengan eksploitasi. Belum lagi saat melakukan
wawancara, hak-hak mereka diabaikan. Saat laporannya
diterbitkan pun, kadang kala menyudutkan si anaknya.
Anak korban kekerasan seharusnya jadi subjek pemberitaan,
tapi dalam praktiknya mereka justru jadi objek. Sering kali anak
korban kekerasan dijadikan objek dan menjawab pertanyaan-
pertanyaan jurnalis, sorotan kamera juga ditujukan ke anak-anak
ini. Bagi anak-anak, situasi semacam ini tidak menyenangkan.
Dalam taraf tertentu, situasi ini disebut pula eksploitasi.
Posisi eksploitasi terjadi jika anak tersebut tidak mengerti apa
dan maksud wawancara tersebut, selain hanya untuk masuk

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 13


koran, masuk televisi dan tayang di media-media online, lalu
menjadi viral.
Sebagian anak-anak, hal ini memang menyenangkan. Bisa
dikenal dimana-mana. Tapi bagi anak-anak korban kekerasan, ini
berpengaruh pada perkembangannya. Ini sesuatu yang negatif.
Anak korban kekerasan tidak akan menyadari hal ini diawal, tapi
seiring kian massifnya pemberitaan akan ada beban berat yang
diemban. Belum lagi jika kasusnya sudah selesai. Anak korban
kekerasan seksual akan menanggung dampak yang panjang bagi
masa depannya.
Melihat pemetaan diatas, bisa diidentifikasi lima masalah
yang sering dihadapi media dan anak dalam pemberitaan.

1. Masalah Akses
Anak-anak masih belum bisa mengakses media dengan baik.
Pemberitaan isu anak dan rubrikasi khusus anak masih seputar
psikologi, kesehatan dan tahap-tahap pertumbuhan secara nor-
matif. Hal ini memang diapresiasi banyak pihak. Bagi anak-anak
pemberitaan ini cukup penting agar anak bisa melengkapi peran
orang tua dalam tumbuh kembangnya.
Sayangnya, sejumlah pemerhati anak mengkritisi kurangnya
perhatian media soal hak anak. Karena selama ini, perhatian me-
dia pada isu anak masih seputar magnitude peristiwanya yang
memang besar.

2. Masalah Perspektif
Selain masalah akses yang minim, perspektif jurnalis ter-
hadap isu anak juga kurang memadai. Hal ini jadi krusial karena
pemberitaan masalah anak tidaklah cukup hanya melihat mun-
cul tidaknya berita tersebut, tapi bagaimana berita itu disajikan
di media massa.
Penyajian berita yang menyangkut anak lebih banyak
ditekankan pada aspek aktualitas dan sensasional. Pekerja pers

14 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


masih memiliki pemahaman yang minim soal perspektif dan
sering kali mengenyampingkan penyampaian hak-hak anak
kepada publik yang membacanya.
Hal ini memunculkan dampak pada posisi dan hak pada anak
serta persepsi masyarakat terhadap kasus yang dialami anak. Ku-
rangnya perspektif ini menyebabkan satu berita terkadang terla-
lu eksploitatif terhadap anak. Walhasil jurnalis hanya fokus pada
kasusnya semata. Anak pun hanya jadi objek pemberitaan dan
hak-hak anak terpinggirkan. Padahal itu yang harusnya jadi tu-
juan utama.
Jika penyampaian berita oleh jurnalis sudah tidak berpihak
kepada hak anak, masyarakat juga akan mengalami hal yang
sama. Anak-anak korban kekerasan malah akan mendapat stig-
ma negatif di masyarakat. Yang pada akhirnya persepsi yang ter-
bentuk juga akan keliru.
Sebagai contoh dalam pemberitaan kasus pemerkosaan
kepada anak perempuan. Pemberitaan jurnalis sering kali
menyudutkan mereka sebagai pemicu tindakan kekerasan atau
pemerkosaan. Entah sengaja atau tidak si jurnalis menulis de-
mikian, semua itu karena kurangnya perspektif. Padahal mereka
adalah korban.

3. Masalah Eksploitasi
Media tidak hanya bertanggung jawab agar satu peristiwa
sampai ke masyatakat dengan baik. Pada masalah anak, hal ini
harus dilihat lebih jeli. Apakah pemberitaanya dilihat dari sudut
pandang isu anak atau disamakan seperti berita biasa pada
umumnya.
Eksploitasi yang dilakukan media kepada anak bisa dilihat
dari banyak faktor. Bisa jadi si penulis tidak memahami apa saja
hak-hak anak dalam berbagai aspek. Sehingga saat penyajiannya
pun menempatkan peristiwa ini sama dengan peristiwa umum
atau berita biasa. Bisa jadi pula karena medianya hanya semata-
mata mencari sensasi sehingga yang lainnya tak ada urusan.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 15


4. Masalah Hak Anak
Jurnalis dalam menjalankan tugas-tugasnya tunduk pada
Kode Etik Jurnalistik. Tapi untuk isu-isu yang sifatnya spesifik
seperti anak dan perempuan memerlukan waktu ekstra dalam
mempelajarinya. Maka tidak heran jika banyak jurnalis belum
memahami apa saja yang harus dipahami dalam meliput isu
anak.
Karena minimnya pemahaman ini, sering kali jurnalis salah
kaprah hingga berimplikasi pada dua hal. Pertama, liputan
jurnalis tentang anak seolah-olah membela, tapi nyatanya malah
menyudutkan dan jauh dari hak anak itu sendiri. Anak malah
menjadi korban eksploitasi media.
Kedua, isu-isu yang berkaitan dengan hak anak malah jadi
tidak terungkap. Karena jurnalis memilih memberitakan masalah
mereka hanya saat ada kasus yang menonjol. Jika tidak terjadi
peristiwa yang menarik, tak akan ada pemberitaan isu anak.
Padahal, jika jurnalis paham apa saja hak-hak anak, isu tentang
anak akan selalu ada dan menarik disajikan.
Hak anak yang mesti dipahami dan tertuang dalam Konvensi
Hak Anak (KHA) setidaknya terdiri atas empat prinsip, yaitu:
1. Non diskriminasi, artinya semua hak yang diakui dan
terkandung dalam KHA harus diberlakukan kepada
setiap anak tanpa pembedaan apapun. Prinsip ini
merupakan pencerminan dari prinsip universalitas
HAM. Prinsip ini tertuang dalam Pasal 2 KHA;
2. Yang terbaik bagi anak (best interests of the child),
yaitu bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut
anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga
kesejahteraan sosial pemerintah maupun swasta,
lembaga peradilan, lembaga pemerintah atau badan
legislatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak
harus menjadi pertimbangan utama. Prinsip ini bisa
dilihat dalam Pasal 3 ayat 1 KHA;
3. Hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan

16 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


(the right to life, survival and development), artinya
negara mengakui bahwa setiap anak memiliki hak
yang melekat atas kehidupannya. Negara akan
menjamin sampai batas maksimal kelangsungan hidup
dan perkembangan anak. Prinsip ini mencerminkan
prinsip indivisibility HAM. Ketentuan mengenai hal
ini terdapat pada Pasal 6 ayat 1 dan 2 KHA;
4. Penghargaan terhadap pendapat anak (respect for the
views of the child), maksudnya bahwa pendapat anak,
terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi
kehidupannya, perlu diperhatikan dalam setiap
pengambilan keputusan. Prinsip ini tertuang dalam
Pasal 12 ayat 1 KHA.

Prinsip-prinsip ini pula telah diadopsi ke dalam Undang-


Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di
Indonesia, yang mencakup:
1. Hak hidup, meliputi hak mendapatkan identitas diri
dan status kewarganegaraan; Hak untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan jasmani dan rohani; Hak untuk
beribadah menurut agama dan keyakinan yang dianut
2. Hak tumbuh dan berkembang, meliputi Hak untuk
beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, berkreasi,
dan bergaul; Hak mendapatkan pendidikan tanpa
diskriminasi.
3. Hak mendapat perlindungan meliputi Perlindungan
dari tindakan Eksploitasi; Penelantaran; Kekerasan
dan penganiayaan; Dan perlakuan salah lainnya.
4. Hak partisipasi meliputi Hak untuk menyatakan
dan didengar pendapatnya; Hak mendapat, mencari,
dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat
kecerdasan dan usianya.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 17


5. Teknik Liputan Jurnalis
Soal ini memang samar-samar, namun mau tidak mau
harus diakui banyak sekali praktik jurnalistik yang melanggar.
Banyak peliput yang hanya memikirkan kepentingannya semata.
Mereka tidak mau tahu pada situasi si anak, apakah mereka mau
berbicara atau tidak kepada wartawan.

Misalnya anak korban kekerasan seksual. Pewarta sering kali


memaksa si anak berbicara tentang kronologis. Ia juga disuguhi
pertanyaan-pertanyaan yang berat dan tentu sulit dijawab si
anak. Hal ini tidak mengedepankan simpatik kepada korban dan
mengeyampingkan masalah psikis dan psikologi anak sebagai
sumber berita.

18 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Bab II
Apa Pentingnya Perspektif Anak
Bagi Jurnalis?

P rinsip dasar jurnalis yang tertuan dalam Kode Etik


Jurnalistik lebih ditekankan pada aspek-aspek umum
semata. Mulai dari soal kewajiban jurnalis yang harus independen
dalam setiap liputannya, berita yang akurat, berimbang dan tidak
beritikat buruk serta ralat jika melakukan kesalahan.
Pada peristiwa umum, prinsip tersebut sudah cukup sebagai
pedoman. Namun prinsip umum tersebut tidak mencakup hal-
hal yang spesifik. Kode Etik juga tak memberikan panduan yang
jelas kepada wartawan utamanya dalam meliput isu anak yang
baik dan tidak mengeyampingkan hak-hak mereka.
Saat wartawan dihadapkan pada liputan soal anak, ia perlu
memiliki sudut pandang atau perspektif terkait masalah anak.
Pemahaman ini penting agar dalam karya liputannya diharapkan
jurnalis bisa memberikan pembelaan kepada anak. Ini karena
anak tidak seperti orang dewasa yang mampu mengidentifikasi
persoalan serta mengambil keputusan atas pilihannya.
Anak dinilai belum mampu membuat keputusan untuk
dirinya sendiri sehingga apa yang terjadi kepada anak tidak
sepenuhnya tanggungjawab dia.
Dengan posisi semacam ini, anak adalah pihak yang sangat
rentan mengalami sejumlah kekerasan. Maka itulah sebabnya
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan

19
anak menekankan perlunya perlindungan dari sejumlah
perlakukan. Prinsip dasarnya sudah ditampilkan di Bab I.
Memahami hak anak harus didahului pada defenisi anak itu
sendiri. Defenisi anak sebagaimana yang tertuan dalam Konvensi
Hak Anak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations
Convention on the Rights of the Child) adalah seseorang
yang berusia dibawah 18 tahun. Meski dalam Undang Undang
Kesejahteraan anak, defenisinya bergeser menjadi 21 tahun.
Anak-anak harus mendapat perlindungan dari semua pihak,
termasuk media. Perlindungan anak secara umum berupa segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya
agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi,
secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan,
serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya
hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas,
berakhlak mulia, dan sejahtera.
Mengapa anak-anak perlu dilindungi menurut Konvensi
Hak Anak karena ketidakmatangan fisik dan mentalnya,
membutuhkan perlindungan dan perawatan khusus, termasuk
perlindungan hukum yang layak, sebelum dan sesudah kelahiran.
Jurnalis dan media punya tanggungjawab besar dalam
membentuk perspektif dimasyarakat. Perspektif Anak atau
child perspective kira-kira mengasumsikan adanya empati
kepada anak selaku korban atau potensial korban yang dizalimi,
tak berdaya dan putus asa.
Ia juga mengasumsikan kepekaan terhadap kebutuhan spesifik
anak untuk mendapatkan perlindungan agar bisa berkembang
secara sehat, baik fisik, mental, sosial maupun moral. Dengan
kata lain, ia mengasumsikan adanya child sensitivity. Unsur lain
yang vital dalam memahami perspektif anak ialah kemampuan

20 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 21
bersikap nondiskriminatif, mendengarkan opini anak dan
mendahulukan kepentingan terbaik anak.
Problem yang dihadapi anak adalah bagian dari masalah
sosial masyarakat. Mereka medapat perhatian lebih besar karena
melihat kecenderungan umum yang kian mengkhawatirkan.
Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kasus-kasus perlakuan buruk
kepada mereka.
Jika minimnya pemahaman jurnalis akan perspektif anak
terus dibiarkan, implikasinya akan besar terhadap tumbuh
kembang mereka. Anak-anak adalah generasi yang akan hidup
di masa depan, sehingga perspektif kepada mereka sangat
penting. Keberpihakan berita kepada hak-hak mereka disebut
juga sebagai jurnalisme anak.
Jurnalisme anak muncul akibat ketidak berpihakan
pemberitaan media kepada mereka. Media sering menjadikan
anak sebagai biang kesalahan, baik itu dilakukan dengan senjaga
oleh jurnalis ataupun tidak. Utamanya saat terjadi kasus yang
menimpa mereka.
Padahal seorang anak belum bisa dimintai pertanggungjawaban
lantaran mereka masih dalam tahap pertumbuhan. Baik secara
fisik maupun mentalnya. Apapun yang telah dilakukan oleh
seorang anak, ia tetap menjadi “korban” dari lingkungan
tempatnya berkembang dan bersosial.
Sebagai contoh, ketika ditemukan banyak anak jalanan di satu
daerah. Mereka selalu dianggap menjadi perusak estetika kota.
Seandainya orang dewasa hendak berpikir jernih, anak-anak ini
adalah korban dari kemiskinan yang melanda. Soal mengapa
mereka jatuh miskin, bisa jadi karena kebijakan ekonomi
negara yang kurang memadai. Tidak adanya lapangan kerja atau
peningkatan kapasitas yang jadi kewajiban pemerintah.
Itulah sebabnya, mendorong jurnalisme anak akan membawa
perubahan yang lebih baik. Setidaknya, media didorong agar
memotret masalah anak dari kacamata hak anak. Bukan semata-
mata dari kacamata sosial. Jurnalisme anak juga bertujuan

22 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


mengubah setahap demi setahap porsi pemberitaan anak yang
lebih besar.
Porsi yang besar jadi tolak ukur, apakah permasalahan anak
menjadi perhatian media massa atau tidak. Karena, mau tidak
mau, kembali harus diakui, pemberitaan kasus kekerasan kepada
anak dengan mudah diketahui publik melalui media yang juga
mendorong pemerintah meresponnya dengan cepat.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 23


24 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar
Bab III
Realitas Pemberitaan Anak
di Media Massa

Kenyataannya, pemberitaan masalah anak di media massa


belum menjadi prioritas utama. Baik itu medianya cetak,
elektronik maupun online. Meski belakangan banyak pihak yang
mendorong lahirnya media berbasis anak yang representatif
bagi tumbuh kembang anak-anak Indonesia.
Sebagian besar media di Indonesia, termasuk juga di
Sulawesi Selatan, porsi pemberitaan diberikan kepada isu-
isu seputar politik, hukum, ekonomi maupun kriminal. Masih
banyak paham yang berkembang, utamanya dikalangan media
massa bahwa pemberitaan seputar anak tidak menjanjikan nilai
jual yang baik.
Meski demikian, bukan berarti pemberitaan masalah
anak dikesampingkan media-media umum. Mereka tetap
mengakomodirnya, terutama saat terjadi isu yang benar-benar
menarik. Yang berarti hal ini hanya muncul sekali-kali. Saat isu
besar yang dilirik media itulah, sering kali terjadi banyak bias
kepada hak anak.
Pada Bab I kita sudah mengurai lima masalah antara media
massa dan isu anak. Namun pada dasarnya, pemetaan masalah
tersebut hanyalah bagian kecil. Persoalan utamanya ada pada
orientasi media tersebut, porsi yang sedikit, pemahaman jurnalis
terkait masalah anak, soal teknik liputan yang dipakai dan ke-
cakapan serta pengetahuan jurnalis atas masalah yang dihadapi.
25
Terkait orientasi media dan porsi pemberitaan anak yang
minim sudah banyak dijelaskan dalam buku ini. Keduanya
memang jadi perhatian banyak praktisi anak, namun kebijakannya
kembali ke media masing-masing. Buku ini akan mendepankan
masalah pemahaman jurnalis terkait isu anak.

Jurnalis Belum Begitu Paham Masalah Anak

Aspek penting dalam laporan jurnalistik adalah permasalah


anak dalam bingkai pemberitaan. Selama ini, media lebih banyak
mengedepankan dua jenis tulisan yang umum, straight news dan
feature. Media cetak akan lebih banyak menurunkan laporan
masalah anak dalam bentuk feature. Ini agar terlihat lebih
mendalam.
Laporan feature juga diharapkan mampu menggugah
kepedulian masyarakat agar ikut mengawasi lingkungan
sekitarnya. Jika seorang jurnalis diwawancara akan pemberitaan
anak yang dikerjakannya. Rata-rata akan mengatakan sudah
mengedepankan standar jurnalisme.
Tapi jika dikerucutkan pada aspek perspektif, jawabannya
akan jauh berbeda. Tidak sedikit pemberitaan yang masih
bias anak. Sebagai contoh liputan tentang pelaku begal yang
diamankan polisi berikut ini:

26 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Dari berita di atas, dapat dengan mudah dianalisa bahwa
jurnalis mengeksplorasi nama anak “ME alias Erlan (16)”
sebagai pelaku begal yang diamankan polisi. Begitu juga nama
pelaku lainnya “AK alias Ian (17)”.
Padahal, jika mengacu pada Konvensi Hak Anak (KHA),
Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak dan Undang-Undang
(UU) Hak Asasi Manusia (HAM), batasan usia anak adalah di
bawah 18 tahun bahkan meski masih dalam kandungan. Dari
sini bisa diambil kesimpulan, bahwa dua pelaku begal dalam
pemberitaan ini, adalah anak.
Dalam Undang-Undang (UU) Pers Nomor 40 Tahun 1999
dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) pasal 5 juga menyebutkan
: Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan
identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan
identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Tafsiran identitas adalah semua data dan informasi yang
menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 27


melacak. Lalu, media ini pula memajang foto pelaku begal,
meski bagian mata diberi garis hitam (diblur).

Kalimat Salah Kalimat Benar


Pelaku Begal Anak berhadapan dengan
hukum

Berita berikut juga kian menegaskan adanya bias dan
ketidakpahaman jurnalis akan hak-hak anak dalam setiap
pemberitaan.

Tulisan yang tayang di Media Online Pojok Sulsel tersebut


menulis identitas korban kekerasan seksual. Tertulis di situ “SLB
Ma’innong, Desa Pising, Kecamatan Donri-donri, Kabupaten
Soppeng”. Memang tidak langsung menyebutkan identitas
korban, namun dengan mengetahui sekolahnya, akan dengan
mudah melacak siapa orangnya. Jika membuka Kode Etik
Jurnalistik (KEJ) dengan mudah diketahui letak pelanggarannya.
Tulisan ini juga riskan terjadi pelanggaran besar karena korban

28 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


merupakan seorang difabel/disabilitas.

Kalimat Salah Kalimat Benar


Anak SLB diperkosa Anak difabel korban
kekerasan seksual

Laporan jurnalistik yang diterbitkan Harian Tribun Timur


berikut ini, juga mendapat banyak kritikan dari penggiat hak-
hak anak.

Sepintas, tidak ada masalah dalam laporan jurnalistik tersebut.


Tapi menempatkan kata bully dan kebanyakan gaya tentu tidak
relevan. Seakan-akan anak yang kebanyakan gaya wajar saja jika
dibully –perundungan dalam bahasa Indonesia-.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 29


Laporan ini juga dinilai tidak memiliki manfaat yang berarti.
Seorang jurnalis menulis kisah anak yang membenci temannya
karena bergaya. Hal ini malah bisa berdampak semakin besar api
kebencian dalam strata sekolah. Belum lagi tampak tampilan foto
si anak, justru mempertontonkan bahwa perundungan adalah
sesuatu yang legal dan keren. Anak-anak lain kemungkinan akan
merasa iri dan melakukan hal serupa.

Kalimat Salah Kalimat Benar


Anak dibully Anak korban perundungan

Melihat kenyataan ini, realitas masalah anak atas kurangnya
pemahaman jurnalis menjadi sesuatu yang penting. Bisa jadi,
kerja jurnalis telah sesuai standar yang berlaku, namun tidak
pada saat melaporkan hasil liputannya. Sering terjadi bias yang
sengaja atau tidak membuat hak anak dikebiri.

Jurnalis Belum Pedomani KEJ dan P3SPS atas kasus


Anak

Sebagai pengemban tugas dalam mendidik masyarakat


dengan informasi dan meningkatkan kepedulian terhadap
masalah-masalah tertentu, jurnalis juga dituntut harus bisa
mengetahui secara detil bagaimana meliput dan memberitakan
soal anak.
Hal ini meliputi bagaimana cara mengembangkan peristiwa
kasus-kasus anak yang terjadi atau dikenal pola advokasi
journalism, hingga mengetahui Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
secara persis bagaimana anak ditempatkan dalam tulisan, suara,
foto, dan audio visual (video). Khusus audio visual (Video)
diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program
Siaran (P3SPS). (Lihat Lampiran)

30 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Realitas Pemberitaan Media

• Ketidakjelasan soal batas umur (anak di bawah


umur, bocah, ABG, remaja)
• Ketidakjelasan soal pendefinisian isu, akibat
dominasi pendapat pemerintah dan tidak adanya
harmonisasi per-UU-an (misal: anjal, pengemis,
anak terlantar)
• Kurang in depth dan mengembangkan sudut
pandang
• Kurang menonjolkan praktik-praktik terbaik untuk
direplikasi sebagai model
• Masih sering dijumpai pencantuman identitas
yang jelas dari anak, termasuk pemuatan gambar/
foto
• Masih terjadi labelisasi dan stigmatisasi yang men-
jurus pada kriminalisasi anak

Liputan anak di televisi bak buah simalakama. Jurnalis selalu


dihadapkan pada pilihan yang sulit. Apakah liputan yang dibuat
harus berpihak terhadap anak, atau liputan yang berperspektif
terhadap anak, atau malah mengedepankan gambar yang aktual.
Kode Etik Jurnalistik dengan tegas mengatakan identitas
wajah dan suara tersangka maupun korban anak harus
disamarkan. Sementara, televisi memerlukan visual, utamanya
liputan kriminal yang berlaku di TKP, seperti penggerebekan,
razia dan penyisiran.
Liputan yang berpihak pada anak nyaris tak terlihat sama
sekali dalam hal ini. Sebab setiap kameramen lebih berpikiran
untuk mencari posisi pengambilan gambar yang bagus dibanding
Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 31
mempertimbangkan hal-hal menyamarkan objek gambar atau
lainnya.
Sebagai contoh penggerebekan terhadap sekelompok
remaja yang diduga pelaku begal di MNC Media. Kejadian yang
berlangsung 7 April 2017 tersebut, si jurnalis mengikuti setiap
pergerakan polisi dalam melakukan penyisiran.
Pada gambar itu, tim Buser Polrestabes Makassar yang
berjumlah sekitar 10 orang tiba-tiba mendatangi sebuah rumah
dan mengumpulkan belasan pemuda yang rata-rata masih
berusia remaja.
Polisi yang dilengkapi dengan pistol dan mengenakan
helm yang masih terpasang juga menggiring sebagian remaja
disekitarnya ke salah satu rumah milik terduga pelaku. Mereka
dikumpulkan di salah satu rumah sebelum dinaikkan ke mobil
untuk dibawa ke kantor polisi.
Saat dikumpulkan, para remaja yang sebagian masih duduk di
bangku sekolah SMP dan SMA itu kemudian diperintahkan untuk
buka baju dan jongkok diteras rumah. Terdengar beberapakali
perintah intimidatif yang bernada bentakan dan tuduhan. Polisi
yang tidak berpakaian resmi ini kemudian meminta keterangan
guna mencari teman-teman para terduga begal lainnya.
Setelah terkumpul, kedua tangan para remaja itu kemudian
diikat kebelakang. Tujuannya agar para terduga begal ini tidak
melawan ataupun melarikan diri. Untuk melengkapi keterangan,
para terduga begal itu kemudian dibawa ke kantor polisi dan
diperintahkan jalan jongkok ketika diturunkan dari mobil
menuju ruang pemeriksaan.
Dalam liputan tersebut, jurnalis mengambil gambar dengan
mengikuti setiap pergerakan yang dilakukan polisi. Gambarnya
diambil dari depan sehingga semua proses terlihat dengan jelas.
Jika tidak dilakukan sensor wajah oleh media yang menayangkan,
maka identitas pelaku dengan mudah diketahui.
Hal semacam ini sudah lumrah terjadi. Bahkan kadang kala
media tidak menyensor wajah pelaku karena tidak begitu paham

32 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


batasan umur anak. Masih banyak yang percaya, seseorang yang
melakukan tindak kejahatan asal ia telah terlihat dewasa bukan
lagi anak-anak, tanpa melihat batasan umurnya.

Hal yang perlu diperhatikan oleh jurnalis


1. Anak sebagai korban.
2. Menghindari labelisasi, stigmatisasi, menghindari
kriminalisasi (penghukuman dan penghakiman)
3. Identitas disamarkan (inisial), termasuk alamat
rumah dan sekolah dirahasiakan atau tidak perlu
diungkap sepanjang tidak berkaitan dengan kasus.
4. Pemuatan foto/gambar dikaburkan (blur).
5. Anak harus mendapat porsi pemberitaan yang
seimbang.
6. Diharapkan mempengaruhi publik secara positif.
7. Memberikan perlindungan dengan rujukan instru-
men hukum (KHA, UUPA, dsb).
8. Membahas lingkungan sosial atau situasi tempat
tinggal anak untuk memberikan gambaran konteks
dan besaran persoalan.
9. Mengadvoksi aparat penegak hukum dan birokrasi
pelayanan publik, terutama yang berkaitan den-
gan pemenuhan hak dan perlindungan anak.
10. Pemberitaan sisi positif dari praktik-praktik terbaik
(best practice) yang pernah dilakukan dengan
anak-anak yang termarginalkan agar bisa direp-
likasi.
11. Dalam peliputan terhadap kasus-kasus yang
pelakunya terdapat orang dewasa dan anak, perlu
melihat anak sebagai korban eksploitasi.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 33


Cara umum, kendala dan tantangan jurnalis dan media dalam
menyuarakan hak anak dan meliput dengan perspektif anak,
akibat ideologi media yang lebih mengutamakan kepentingan
bisnis daripada kemanusiaan. Kebijakan redaksi dan kompetensi
jurnalis juga jadi persoalan besar.
Namun yang tak kalah berpengaruhnya adalah model kerja
jurnalis yang berkembang kian cepat. Media terjebak pada
rutinitas dan deadline yang ketat sehingga kadang abai dalam
mengedepankan keakurasian dan keberpihakan pada banyak
masalah. Termasuk abai dalam mempedomani Kode Etik dan
perspektif anak.

34 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Bab IV
Mengapa Anak
Butuh Perlindungan?

M edia masa mempunyai pengaruh yang kuat terhadap


seluruh kehidupan. Media profesional berkontribusi
memperbaiki “melek media” bukan hanya pada orang dewasa,
anak-anak pun demikian. Bahkan mampu menjelaskan
bagaimana media massa menjalankan dan menginterpretasikan
pesan dan sekat antara dunia dewasa dan anak-anak.
Karena pengaruh yang besar inilah, penting adanya untuk
merencanakan secara hati-hati, keterlibatan anak-anak dalam
semua bentuk produksi media. Agar semua bisa mengerti apa
yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Idealnya, media memiliki
penasehat spesialis khusus untuk membuat aturan dasar, praktek
kerja yang aman dan sistem pemantauan yang terkontrol.
Nyatanya, tidak mudah membangun angan-angan tersebut.
Karena belum semuanya sadar, mengapa anak perlu mendapat
perlindungan.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak, dengan tegas mengatakan, yang dimaksud perlindungan
kepada anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan
harkat dan martabat kemanusiaan.

35
Anak-anak juga mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi. Hal ini penting karena:
• Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha
Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat
sebagai manusia seutuhnya.
• Anak adalah penerus cita-cita perjuangan bangsa yang
memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat
khusus yang diharapkan dapat menjamin kelangsungan
eksistensi bangsa dan negara dimasa depan.
• Anak perlu mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk
tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara
fisik, mental, maupun sosial dan mempunyai ahlak yang
mulia.
• Pada kenyataanya masih terdapat banyak anak yang
belum terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan dan
eksploitasi dan anak-anak yang hidup terlantar dan tidak
mendapat kesempatan memperoleh pendidikan yang
wajar, apalagi memadai.
Dalam penyelengaraan perlindungan, anak wajib dilindungi
dari sejumlah perlakuan:
• Diskriminasi, yakni perlakuan yang membeda-bedakan
jenis kelamin, ras, agama dan status hukum anak.
• Eksploitasi, yakni tindakan mempererat, memeras anak.
• Penelantaran, yakni dengan sengaja mengabaikan
perawatan dan pengurusan anak
• Kekejaman, yakni tindakan yang keji, bengis, tidak
menaruh belas kasihan anak
• Kekerasan dan penganiayaan, yakni perbuatan
mencederai, melukai anak baik fisik, mental dan sosial.
• Ketidakadilan, yakni kesewenang-wenangan terhadap
anak
• Perlakukan salah lainnya, yakni perbuatan cabul terhadap
anak.

36 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Salah satu intrumen hukum internasional yang secara tegas
mengatur tentang perlindungan terhadap anak adalah Konvensi
Hak Anak (KHA). Konvensi ini merupakan perjanjian yang
mengikat secara yuridis dan politis di antara berbagai negara
yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan hak-hak anak.
KHA di adopsi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan
mulai berlaku sebagai hukum internasional sejak tahun 1990.
Indonesia meratifikasi ini melalui Keppres No 36 Tahun 1990.
Secara negara yang telah meratifikasi KHA, Indonesia punya
kewajiban untuk mengakui hak-hak anak.
Secara menyeluruh, KHA mengatur hak-hak dasar anak
untuk memperoleh identitas, kebebasan, pendidikan, layanan
kesehatan, hiburan dan perlindungan. Pertanyaannya kemudian,
siapa yang punya kewajiban dalam melindungi hak-hak anak
tersebut. Pada dasarnya ada tiga pihak yang paling bertanggung
jawab.

1. Negara
Ada empat hal yang menjadi tanggungjawab negara dan
pemerintah dalam melindungi hak anak.
• Menghormati dan menjamin hak-hak asasi setiap anak di
Indonesia tanpa membedakan suku, agama, golongan,
jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum
anak, urutan kelahiran dan kondisi fisik dan atau
mentalnya.
• Memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam
penyelenggaraan perlindungan anak, seperti sekolah,
lapangan bermain, lapangan olaharaga, rumah ibadah,
balai kesehatan, gedung kesenian, tempat rekreasi, ruang
menyusui, tempat penitipan anak, dan rumah tahanan
khusus anak.
• Menjamin perlindungan, pemeliharaan dan kesejahteraan
anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban
orang tua atau wali atau orang lain yang secara hukum
Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 37
bertanggungjawab terhadap anak.
• Menjamin anak untuk menggunakan haknya dalam
menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat
kecerdasan anak.

2. Masyarakat
Tanggung jawab dan kewajiban masyarakat dalam
perlindungan anak yang dilaksanakan melalui kegiatan peran
masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan anak.
Masyarakat yang dimaksud adalah orang perseorangan,
lembanga perlindungan anak, lembaya swadaya masyarakat,
lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, badan usaha dan
media massa.

3. Orang Tua dan Keluarga


Sebagai orang tua dan juga keluarga terhadap perlindungan
anak bertanggungjawab dan berkewajiban untuk; (a)
Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak; (b)
Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat
dan minatnya; (c) Mencegah terjadinya perkawinan pada usia
anak-anak.

Pada poin kedua diatas, ada peran serta media massa


dalam melindungi anak-anak. Pemberitaan tentang anak yang
tidak bepihak kepada mereka sangat bertentangan dengan
hak-hak anak sesuai dengan konvensi KHA. Hal serupa juga
bertentangan dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Itulah mengapa, perlu adanya pemahaman mendalam tentang
kewajiban semua pihak termasuk media dalam melindungi
mereka. Karena dalam pemberitaan media massa, seringkali
anak-anak dipahami sebagain besar masyarakat sebagai miniatur
orang dewasa. Media pun tidak lebih parah memberlakukan hal
serupa.

38 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Jika kondisi tersebut dibiarkan, apa yang dilakukan anak-anak
akan dinilai dengan standar orang dewasa. Padahal, pemahaman
seperti ini tidak tepat. Dalam batas-batas tertentu, anak belum
dapat mengenali persoalan yang dialaminya, termasuk dampak
yang ditimbulkan.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 39


40 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar
Bab IV
Cara Tepat Meliput
dan Memberitakan Anak

K ritik kepada media yang selama ini memberitakan


masalah anak masih sering ditemukan. Kurangnya
kepekaan jurnalis dalam mengemas isu anak menjadi titik berat
kritikan para aktivis anak. Pada kasus pemerkosaan misalnya,
jurnalis lebih cenderung mengabaikan faktor psikologis anak
dalam liputannya.
Akses anak terhadap media massa juga masih terbatas. Selama
ini, media massa masih menempatkan isu anak sama seperti isu
sosial dan politik lainnya. Bahkan standar kelayakannya pun
diberi bobot yang sama. Karena itu tidak heran jika sering kali
beritanya tergusur oleh isu yang punya ‘nilai jual’ tinggi.
Pada sisi perspektif pun juga demikian. Pemberitaan soal
anak lebih banyak dilihat dari sudut pandang peristiwanya
semata. Padalah aspek paling penting dalam masalah anak
dikesampingkan. Hak-hak mereka yang seharusnya dilindungi
dan dipenuhi oleh semua pihak sangat jarang digali.
Kecenderungan samacam ini bisa kita lihat dari laporan
jurnalis tentang kasus pemerkosaan anak. Jurnalis melihatnya
lebih kepada kepentingan pasar, sehingga sengaja atau tidak
terdapat unsur eksploitasi ketimbang melihatnya sebagai
tindakan kriminal. Hak-hak anak dalam kasus semacam ini tidak
lagi jadi perhatian utama.

41
Korban anak akan lebih mudah dimainkan media untuk
menggaet pembaca, pendengar ataupun penonton televisi.
Padahal, seharusnya media bertindak sebagai alat promosi
penegakan hak-hak anak dalam masyarakat. Karena seringkali
kasus kekerasan, perkosaan, dan eksploitasi lainnya bersumber
dari ketidakpahaman masyarakat itu sendiri.
Pemikiran bahwa anak adalah ‘hak milik’ orang tua masih
dominan sehingga bebas diperlakukan semaunya.
Atas dasar itulah, media dan jurnalis mampu memberikan
pengetahuan dan mengubah pola pikir masyarakat terhadap
anak. Jika pemberitaanya sangat sensitif terhadap masalah hak
anak, secara langsung akan mengubah cara pandang dan pola
pikir masyarakat.

Hal Dasar Yang Harus Diperhatikan dalam Meliput Anak

Secara umum, meliput masalah anak tidak jauh berbeda


dengan liputan peristiwa secara umum. Dalam dunia jurnalistik,
patokan utama jurnalis adalah Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
KEJ memang hanya memuat prinsip-prinsip umum yang harus
dipatuhi jurnalis.
Selain KEJ, beberapa media dan organisasi media juga punya
code of conduct (kode perilaku), yang biasanya mengatur lebih
rinci bagaimana jurnalis harusnya bekerja. Dewan Pers yang
mendapat amanah menjalankan Undang-undang Nomor 40
tahun 1999 juga dengan tegas mengatur ini.
Bagi jurnalis televisi juga mengenal Pedoman Perilaku
Penyiaran dan Standar Isi Siaran yang dibuat oleh Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI). Dalam pedoman itu secara lengkap
dijelaskan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan
jurnalis televisi dalam menjalankan profesinya. Jika dikemudian
hari mereka melakukan pelanggaran, maka KPI tidak segan-
segan memberikan sanksi.

42 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Setiap pelanggaran kode etik pasti ada sanksinya, meski
secara umum berupa sanksi moral. Untuk pelanggaran kode
etik, Dewan Pers biasanya mengeluarkan rekomendasi, jenis
sanksinya berbeda-beda tergantung seberapa berat dan fatal
kesalahan yang dilakukan.
Orang-orang yang merasa dilanggar haknya juga bisa
mengadu ke Dewan Pers, yang kemudian akan dikeluarkan
rekomendasi dari Dewan Pers ke media bersangkutan
untuk mengklarifikasi pemberitaan yang merugikan dengan
mekanisme hak jawab.

Kode Etik Jurnalistik


Kode Etik Jurnalistik (KEJ) adalah aturan-aturan dasar yang
harus dipatuhi oleh jurnalis dalam menjalankan profesinya.
Karena sifatnya berupa norma dasar, maka pengaturannya
bersifat umum. Terdapat 11 pasal yang mengatur secara umum
aturan baku jurnalistik.
Dari 11 pasal yang termuat dalam KEJ, hanya ada satu pasal
yang dengan tegas menyebut soal anak, yaitu pasal 5. Isinya,
“wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan
identitas korban kejahatan asusila dan tidak menyebutkan
identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan,”
Identitas dalam hal ini termasuk semua data dan informasi
yang menyangkut diri seseorang sehingga memudahkan orang
lain untuk melacaknya. Ini merujuk pada semua hal, seperti
nama, alamat, tempat sekolah dan keterangan-keterangan
lain yang membuat orang dengan mudah mengetahuinya.
Penyamaran identitas ini biasanya dilakukan pula dengan hanya
menyebut satu inisial namanya. Tidak perlu inisial lengkap.
Dalam KEJ, pengertian anak memang sedikit berbeda
dengan undang-undang perlindungan anak. Anak pada KEJ
adalah seorang berusia kurang dari 16 tahun dan belum
menikah. Pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
perlindungan anak, dikategorikan anak di bawah 18 tahun.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 43


Penentuan usia anak dalam KEJ berdasar pada Kitab
Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Hal ini pula yang
sering menjadi celah kritikan para praktisi anak, karena ketidak
seragaman pengertian tentang usia anak. Namun, begitu KEJ
dengan tegas melindungi anak karena pertimbangan masa depan
si anak.
Yang harus dipahami pula, bahwa KEJ ini hanya perangkat
moral bagi seorang jurnalis. Jika diandaikan, ia seperti rambu-
rambu pada jalan-jalan agar tidak ada yang terserat dan semua
sampai ke tujuan dengan selamat. Karena hanya berupa
perangkat moral, sanksinya pun masih bersifat moral, meski
tidak sedikit juga yang berdampak hukum.
Seperti aturan lain yang bersifat moral, potensi untuk
dilanggarnya juga sangat besar. Namun, bukan berarti KEJ ini
dengan bebas dilanggar demi mengejar sesuatu yang bernilai
materi.
Selain KEJ yang berisi 11 pasal oleh Dewan Pers. Organisasi
kewartawanan seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga
memiliki penjabaran lebih jauh tentang masalah anak ini. Pada
pasal 9 KEJ AJI menyebutkan bahwa seseorang dibawah umur
dilindungi kerahasiaanya dalam kaitannya dengan tindak pidana.

Pedoman Perilaku Penyiaran


Selain kode etik, pada sektor penyiaran dibuat lagi satu
aturan baku oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Aturan
khusus ini sering juga disebut Pedoman Perilaku Penyiaran
dan Standar Program Siaran (P3 & SPS). Aturan ini dilindungi
Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang penyiaran dan
KPI diberi amanat sebagai lembaga yang independen.
P3 & SPS diharapkan menjadi acuan bagi pelaku penyiaran
dalam meliput serta pemberitaanya. Aturan ini dibuat khusus,
karena praktisi penyiaran di Indonesia menggunakan frekuensi
radio yang merupakan sumber daya alam terbatas. Sehingga
pemanfaatnnya harus ditujukan untuk kepentingan masyarakat.

44 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Khusus masalah anak P3 & SPS mengaturnya dalam
beberapa pasal. Salah satunya pada pasal 5 ayat f: “lembaga
penyiaran melindungi kehidupan anak-anak, remaja dan kaum
perempuan.” Dalam soal siaran, pedoman ini juga menekankan
agar standar siaran harus memberi perlindungan terhadap anak-
anak, remaja dan perempuan.
Perlindungan kepada anak-anak, remaja dan perempuan
mencakup juga saat melakukan reportase hingga penyiarannya.
Dalam proses liputan, P3 & SPS memberikan sejumlah panduan.
Diantaranya, terdapat dalam pasal 18 soal “narasumber anak dan
remaja.” Disitu disebutkan bahwa dalam menyiarkan program
yang melibatkan anak dan remaja sebagai narasumber, harus
mengikuti ketentuan sebagai berikut:
• Anak dan remaja dibawah 18 tahun tidak boleh
diwawancarai hal-hal yang di luar kapasitas mereka
untuk menjawabnya. Misalnya tentang kematian
orangtua, tentang perceraian orangtua, atau tentang
perselingkuhan orangtuanya.
• Keamanan dan masa depan anak dan remaja yang jadi
narasumber harus lebih diutamakan.
• Anak dan remaja yang terkait permasalahan dengan
polisi atau proses pengadilan dengan kejahatan seksual
atau korban dari kejahatan seksual harus disamarkan
atau dilindungi identitasnya.

KPI menyediakan sanksi bagi pelanggaran terhadap


pedoman ini. Pada pasal 17 pedoman itu membuat sanksinya
yang beragam. Dari sanksi administratif hingga pencabutan izin
penyelenggaraan penyiaran.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 45


Bagaimana Menyajikan Liputan Anak

Setelah mengetahui hal-hal dasar yang perlu dan penting


diperhatikan dalam meliput masalah anak, baik itu dari media
cetak, online hingga elektronik. Hal selanjutnya yang perlu
diperhatikan dalam meliput masalah anak, adalah apa yang tidak
dan perlu dilakukan.
Karena dalam setiap proses, tahapan yang perlu dilalui
mulai dari wawancara hingga menyajikan hasil liputan, semua
tahapannya menunjukkan bagaimana posisi kita sebagai jurnalis
dalam memahami perspektif anak. Hal terakhir yakni penyajian
akan memberi kesimpulan utama.
Sajian liputan yang tidak memperhatikan kepentingan anak
akan berdampak secara negatif dan merugikan anak. Apalagi
jika berita tersebut lebih banyak bernuansa eksploitasinya. Di
bawah ini ada beberapa contoh yang dinilai tak peka terhadap
anak.

46 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


Berita ini selain tidak melakukan sensor muka pada foto
yang dipasangnya. Juga banyak mendiskripsikan secara vulgar
bagaimana proses kekerasan itu terjadi. Diakhir tulisan, juga
terdapat video aksi kekerasan anak itu dilakukan. Tidak ada
sensor kata-kata serta gerakan yang lebih baik. Cara pelaku
menendang dan memaki korban terlihat jelas meski video
diburamkan sebagian.
Video yang viral didunia maya itu dinarasikan begitu lugas
oleh penulis berita disini. Semestinya sebagai jurnalis yang baik,
tidak merekontruksi kembali kejadian dalam video kedalam gaya
tulisannya.
Berita ini selain tidak melakukan sensor muka pada foto
yang dipasangnya. Juga banyak mendiskripsikan secara vulgar
bagaimana proses kekerasan itu terjadi. Diakhir tulisan, juga
terdapat video aksi kekerasan anak itu dilakukan. Tidak ada
sensor kata-kata serta gerakan yang lebih baik. Cara pelaku
menendang dan memaki korban terlihat jelas meski video
diburamkan sebagian.
Video yang viral didunia maya itu dinarasikan begitu lugas
oleh penulis berita disini. Semestinya sebagai jurnalis yang baik,
tidak merekontruksi kembali kejadian dalam video kedalam gaya
tulisannya.
Berita diatas hanyalah salah satu contoh tulisan masalah anak
yang tidak berprespektif anak. Contoh-contoh lainnya sudah
diutarakan pada Bab III buku panduan ini. Sebagai jurnalis,
harusnya ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menulis
masalah anak. Salah satunya saat melakukan wawancara.
Berikut beberapa hal perlu diperhatikan jurnalis saat
melakukan wawancara, mengingat kedudukan yang berbeda
dengan orang dewasa, maka meliput masalah anak perlu
perhatian khusus :
• Jangan menyakiti anak: hindari pertanyaan atau sikap-
sikap atau komentar-komentar yang menghakimi,
membahayakan anak dan membangkitkan kembali rasa

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 47


sakit dan duka cita dari sebuah peristiwa traumatis.
• Jangan bersikap diskriminatif
• Jangan meminta anak untuk bercerita yang bukan bagian
dari peristiwa hidupnya.
• Pastikan anak atau walinya tahu mereka bicara dengan
reporter. Jelaskan tujuan dan manfaat wawancara
• Pastikan mendapat ijin berkaitan dengan alat perekam
• Perhatikan dimana dan bagaimana kenyamanan anak
ketika diwawancarai
• Lakukan pendekatan yang cukup, untuk membangun
rasa aman pada diri anak dan rasa saling percaya antara
anda dan anak yang hendak diwawancara
• Jangan memposisikan diri sebagai interogator, terutama
saat mewawancarai anak yang berhadapan dengan
hukum
• Jika anak sebagai korban kejahatan, jangan membuat dia
jadi korban yang kedua kalinya karena pemberitaan anda.
• Jangan mudah percaya dengan keterangan yang diberikan
(baik dari anak maupun dari orang dewasa), lakukan cek
dan ricek dengan ketat
• Jika tidak paham dengan anak, jangan ragu untuk
berdiskusi dengan lembaga perlindungan anak, psikolog
atau orang tua.
• Ikuti semua alur birokrasi dan hukum yang berlaku saat
melakukan peliputan.

International Federation of Journalists (IFJ) juga


mengeluarkan panduan tentang wawancara dengan anak-anak.
Berikut bebarap hal yang diatur IFJ agar jurnalis tidak kebablasan
dan mematuhi ketentuan internasional:
• Wawancara dengan anak seyogyanya dilakukan –kecuali
dalam keadaan tertentu—dengan didampingi orang
dewasa (orang tua, wali, ahli). Hal ini dilakukan untuk
48 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar
melindungi kepentingan anak, termasuk menghentikan
wawancara jika dirasa perlu
• Pewawancara harus duduk atau berdiri pada level yang
sama tinggi dengan anak, dan pastikan jangan ‘talk-
down” baik secara literally maupun metafor. Artinya,
anak harus kita hormati keberadaannya sebagai
narasumber. Jangan dianggap remeh
• Untuk wawancara radio dan televisi, pastikan anak dalam
keadaan yang rilek dan tidak terganggu perhatiannya
oleh peralatan siaran, misalnya kamera. Jika diperlukan,
berikan penjelasan kepada anak atas fungsi kamera,
pencahayaan, sehingga mereka paham dan tidak
terganggu dengan teknologi di sekitar wawancara
tersebut
• Pertanyaan harus ditujukan ke si anak, bukan ke orang
dewasa yang mendampinginya. Pendamping sifatnya
mengawasi, tetapi tidak intervensi atas jawaban anak –
memastikan cerita yang didapatkan adalah cerita anak,
bukan cerita pendampingnya
• Pewawancara harus bersikap tenang, bersahabat dan
menggunakan suara netral terjaga dan tidak bereaksi
mengejutkan atas jawaban
• Pertanyaan harus jelas dan langsung, dan bukan berupa
pertanyaan tertutup yang mengarahkan jawaban anak.
Gunakan pertanyaan tertutup hanya untuk mengecek
fakta-fakta yang telah dibicarakan sebelumnya
• Pertanyaan dapat ditanyakan dalam berbagai bentuk/
format termasuk untuk verifikasi jawaban/fakta dan
memastikan anak memahami apa yang ditanyakan dan
sudah menjawab sesuai dengan apa yang seharusnya
mereka jawab
• Jangan bertanya “bagaimana perasaanmu?”, secara
langsung. Lebih baik bertanya mengenai apa yang
dikatakan dan atau dirasakan orang lain mengenai

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 49


sebuah peristiwa yang melibatkan anak yang menjadi
narasumber.
• Upayakan semaksimal mungkin apa yang harus dilakukan
dalam sebuah wawancara yang professional
• Jika wawancara dilakukan menggunakan penerjemah,
pastikan bahwa pertanyaan yang disampaikan sesuai
dengan yang diharapkan, begitu pula jawaban anak, dan
penerjemah tidak membuat konklusi atas pertanyaan
dan jawaban.

Prinsip Dasar Meliput Isu Anak

Selain menguasai kode etik jurnalistik dan pedoman siaran


bagi media elektronik, aspek yang juga sangat penting dipahami
adalah prinsip dasar sebelum membuat liputan anak. Prinsip-
prinsip ini perlu dipegang, sehingga seorang jurnalis mengetahui
apa saja yang menjadi hak anak dan bagaimana mengungkapkan
cerita yang melatarbelakangi munculnya persoalan yang
menimpa anak-anak.
Prinsip dasar ini penting karena jurnalislah yang akan
berhadapan langsung dengan persoalan anak-anak di lapangan.
Dalam tahap ini, jurnalis secara otonom bertanggungjawab
atas apa yang dilakukan, mulai dari bagaimana jurnalis
merekonstruksi cerita, mengungkapkan sebuah latar belakang,
dan bagaimana melakukan pendekatan yang lebih etis terhadap
sumber sehingga tidak meninggalkan dampak yang merugikan
anak-anak secara khusus.
Beberapa prinsip dasar dalam meliput anak ini sudah
dikeluarkan oleh berbagai lembaga. Salah satunya bersumber
dari Internasional Federation of Journalist (IFJ), organisasi
jurnalis internasional yang kantor pusatnya di Brusel itu
memberi sejumlah panduan umum bagi jurnalis yang meliput
isu anak. Antara lain:

50 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


1. Upayakan menggunakan standar yang tinggi dalam hal
akurasi dan sensitivitas saat meliput isu-isu menyangkut
anak;
2. Menghindari memproduksi program dan publikasi
gambar-gambar dan informasi yang dapat merusak
anak –terutama dilakukan melalui program/media yang
dikonsumsi anak.
3. Menghindari presentasi yang mengandung stereotip
(stigmatisasi) dan sensasional dalam mempromosikan
konten jurnalistik yang melibatkan anak
4. Mempertimbangkan dengan hati-hati konsekuensi atas
publikasi dari setiap konten jurnalistik yang melibatkan
anak dan seyogyanya meminimalkan dampak buruk bagi
anak
5. Menjaga kerahasiaan identitas anak, termasuk secara
visual kecuali jika ada alasan kuat untuk kepentingan
public
6. Memberikan hak dan akses bagi anak, di mana dirasakan
perlu, untuk mengekspresikan pendapat mereka tanpa
bujukan atau hal yang serupa
7. Memastikan verifikasi independen atas informasi yang
didapat dari anak dalam proses peliputan dan bersikap
hati-hati dalam verifikasi agar tidak menempatkan anak
yang menjadi sumber informasi dalam bahaya
8. Menghindari penggunaan gambar/visual bernuansa
seksual dari anak
9. Menggunakan metode yang fair, terbuka dan langsung
dalam mendapatkan/mengambil gambar-gambar anak
sebagai narasumber, berikan penjelasan kepada mereka
mengenai pengambilan gambar (termasuk peralatan
yang digunakan untuk peliputan), dan pastikan dalam
wawancara anak didampingi orang dewasa baik itu orang
tua, wali atau ahli

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 51


10. Verifikasi secara seksama setiap pihak/organisasi
yang bermaksud berbicara untuk dan atau atas nama
kepentingan anak
11. Tidak memberikan materi/pembayaran kepada anak
dalam kaitan dengan kesejahteraannya, orang tua,
wali atau ahli atas peliputan, kecuali jika hal itu untuk
kepentingan anak.

Aspek Penting Saat Liputan Isu Anak

Dari beberapa contoh kasus yang diutarakan dalam buku ini,


bahkan dari beberapa pemberitaan yang tidak sempat dijadikan
contoh, maka perlu diperhatikan, saat menyajikan liputan
tentang anak, jurnalis perlu memperhatikan beberapa aspek
penting yang sering dianggap tidak berarti oleh jurnalis berikut
ini:
• Tidak melanggengkan istilah yang merugikan anak.
Misalkan istilah ‘bispak’ bagi anak-anak yang jadi pekerja
seks. Atau istilah ‘ciblek’ untuk sebutan yang lebih
spesifik. Istilah yang muncul bagi anak pekerja seks
akan berbeda di setiap daerah. Apapun itu, jurnalis tidak
selayaknya memuat peristilahan yang bisa membuat
anak terdeskriditkan. Karena apapun istilahnya sudah
pasti berkonotasi negatif dan mengancam masa depan
anak, apalagi jika anak perempuan. Jurnalis dan media
seharunya mempromosikan istilah yang mendukung
perlindungan anak.
• Pada contoh kekerasan anak di Pinrang, sejumlah media
menceritakan detail peristiwa itu. Begitu pula pada
peristiwa pemerkosaan yang dialami anak. Tulisannya
lebih sering memberi gambaran yang detail. Hal ini bisa
mengembalikan trauma yang dialami si anak dan sajian
beritanya berpotensi menjadi bentuk eksploitasi kepada
anak.

52 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar


• Tidak diperkenankan menggunakan kata-kata atau
kalimat yang mendudukan anak korban pemerkosaan
sebagai objek. Seperti penggunaan kata digilir, digarap,
digagahi yang justru memberikan kesan pembenaran
pada kasus pemerkosaan.
• Samarkan identitas anak korban/pelaku kekersan seksual,
positif HIV/AIDS (kecuali ada surat bersedia) dan anak
yang berkonflik dengan hukum dengan menggunakan
inisial singkatan huruf dan tidak menggantinya dengan
nama bunga, mawar dan sebagainya. Penggunaan kata
ganti ‘bunga’ untuk inisial anak, khususnya anak yang
menjadi korban perkosaan, mempersepsikan asosiasi
kepantasan, karena bunga memang harus ‘dipetik’
dalam arti diperkosa. Istilah ini tentu saja merugikan
anak. Belum lagi jika ada anak lain yang memakai nama
tersebut sebagai nama pribadinya.
• Pertimbangkan dampak pemberitaan. Saat dalam
keraguan tentang kemungkinan bahaya pada anak,
beritakan situasi umum anak-anak dan jangan situasi
individualnya.
• Jika redaktur tidak paham isu anak, berikan pemahanan
yang cukup sebelum Anda memberikan karya Anda
untuk diedit.
• Perhatikan dengan baik, seperti apa kebijakan redaksi
Anda tentang isu anak, lalu pertimbangkan berbagai cara
agar berita Anda bisa terbit tanpa melanggar hak anak
dan etika jurnalisme.
• Jika redaktur Anda bersikeras dengan kebijakan yang
bertentangan dengan hak anak, pertimbangkan untuk
melakukan embargo dalam pemberitaan yang berkaitan
dengan isu anak
• Perlu bagi seorang jurnalis untuk membangunan jaringan
dengan lembaga atau masyarakat yang peduli anak agaar
memiliki informasi yang memadai saat meliput isu anak.

Panduan Jurnalis dalam Meliput Isu Anak 53


54 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar
Lampiran-lampiran
Kode Etik Jurnalistik

Kamis, 28 Juli 2011


Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi
manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,
dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan
pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan
berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan
kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers
itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa,
tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma
agama.
Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya,
pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut
profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk
memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan
landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional
dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta
profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan
menaati Kode Etik Jurnalistik:
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita
yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai
dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan
intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika
peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan
semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional
dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar,
foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan
ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian
gambar, foto, suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan
wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk
peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan
secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang
menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang
kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan
kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal
ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa
interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi
seseorang.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah,
sadis, dan cabul.
Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh
wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja
dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan
foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk
membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan
mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan
identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan
identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri
seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan
belum menikah.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak
menerima suap.
Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil
keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas
sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau
fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.
Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi
narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun
keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi
latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.
Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas
dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan
keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita
sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari
narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan
narasumbernya.
d. Off the record adalah segala informasi atau data dari narasumber
yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita
berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang
atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis
kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang
lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu
sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang
kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan
berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan
keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan
memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai
dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan
atau pemirsa.
Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena
ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan
substansi pokok.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi
secara proporsional.
Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk
memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan be-
rupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan keke-
liruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya
maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diper-
baiki.
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan
Dewan Pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan
oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.
Jakarta, Selasa, 14 Maret 2006
(Kode Etik Jurnalistik ditetapkan Dewan Pers melalui Peraturan
Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan
Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang
Kode Etik Jurnalistik Sebagai Peraturan Dewan Pers)
PERATURAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA
Nomor 01/P/KPI/03/2012

tentang
PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN

Menimbang:

a. bahwa dalam rangka pengaturan perilaku lembaga penyiaran di Indonesia


dibutuhkan suatu pedoman yang wajib dipatuhi agar pemanfaatan
frekuensi radio sebagai ranah publik yang merupakan sumber daya alam
terbatas dapat senantiasa ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat
sebesar-besarnya;

b. bahwa dengan keberadaan lembaga-lembaga penyiaran di Indonesia,


harus disusun pedoman yang mampu mendorong lembaga penyiaran
untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri
bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa,
memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat
yang mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud pada


huruf a dan huruf b Komisi Penyiaran Indonesia menetapkan Pedoman
Perilaku Penyiaran.

Mengingat:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3817);

K omisi Penyiar an Indonesia |1


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);
4. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886);
5. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3887);
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4252);
8. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4419);
10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4437), Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);

2| K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

11. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi


Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843);
12. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);
13. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 181, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4928);
14. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5035);
15. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
16. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 141, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5060);
17. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
18. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5234);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 28);

K omisi Penyiar an Indonesia |3


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

20. Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2005 tentang Pedoman Kegiatan


Peliputan Lembaga Penyiaran Asing (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4565);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4566);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Lembaga Penyiaran Komunitas (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4567);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4568); dan
24. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59/P Tahun 2010 tentang
Penetapan Pengangkatan Keanggotaan Komisi Penyiaran Indonesia Pusat
untuk Masa Jabatan Tahun 2010 – 2013.

Memperhatikan:
a. Usulan dari asosiasi penyiaran;
b. Usulan dari organisasi dan asosiasi masyarakat penyiaran;
c. Usulan dari berbagai kelompok masyarakat;
d. Hasil Sidang Rapat Koordinasi Nasional ke-8 Komisi Penyiaran Indonesia
Tanggal 7 Juli 2010 di Bandung, Jawa Barat;
e. Hasil Sidang Rapat Pimpinan Nasional, Tanggal 20 Oktober 2010 di
Jakarta; dan
f. Hasil Sidang Rapat Koordinasi Nasional ke-9 Komisi Penyiaran Indonesia
Tanggal 19 Mei 2011 di Tanggerang Selatan, Banten.

4| K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

M E M U T U S K A N:

Menetapkan: PERATURAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA TENTANG


PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

1. Pedoman Perilaku Penyiaran adalah ketentuan-ketentuan bagi lembaga


penyiaran yang ditetapkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia sebagai
panduan tentang batasan perilaku penyelenggaraan penyiaran dan
pengawasan penyiaran nasional.

2. Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana


pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa
dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel,
dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan
bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

3. Lembaga penyiaran adalah penyelenggara penyiaran, baik lembaga


penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran
komunitas maupun lembaga penyiaran berlangganan yang dalam
melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya berpedoman pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Siaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar,
atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang
bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat
penerima siaran.

5. Program siaran adalah program yang berisi pesan atau rangkaian pesan
dalam bentuk suara, gambar, suara dan gambar, atau yang berbentuk
grafis atau karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang
disiarkan oleh lembaga penyiaran.

K omisi Penyiar an Indonesia |5


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

6. Siaran langsung adalah segala bentuk program siaran yang ditayangkan


tanpa penundaan waktu.

7. Siaran tidak langsung adalah program siaran rekaman yang ditayangkan


pada waktu yang berbeda dengan peristiwanya.

8. Sistem stasiun jaringan adalah tata kerja yang mengatur relai siaran
secara tetap antar lembaga penyiaran.

9. Program faktual adalah program siaran yang menyajikan fakta nonfiksi.

10. Program nonfaktual adalah program siaran yang menyajikan fiksi, yang
berisi ekspresi seni dan budaya serta rekayasa dan/atau imajinasi dari
pengalaman individu dan/atau kelompok.

11. Program Layanan Publik adalah program faktual yang diproduksi dan
disiarkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial lembaga penyiaran
kepada masyarakat.

12. Program Siaran Jurnalistik adalah program yang berisi berita dan/
atau informasi yang ditujukan untuk kepentingan publik berdasarkan
Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS).

13. Anak adalah khalayak khusus yang terdiri dari anak-anak dan remaja
yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.

14. Penggolongan program siaran adalah klasifikasi program siaran


berdasarkan kelompok usia untuk memudahkan khalayak
mengidentifikasi program siaran.

15. Program lokal adalah program siaran dengan muatan lokal yang mencakup
program siaran jurnalistik, program siaran faktual, dan program siaran
nonfaktual dalam rangka pengembangan potensi daerah setempat serta
dikerjakan dan diproduksi oleh sumber daya dan lembaga penyiaran
daerah setempat.

16. Program asing adalah program siaran yang berasal dari luar negeri.

6| K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

17. Program kuis, undian berhadiah, dan permainan berhadiah lainnya


adalah program siaran berupa perlombaan, adu ketangkasan, adu cepat
menjawab pertanyaan, undian, dan permainan lain yang menjanjikan
hadiah.

18. Siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan
masyarakat tentang tersedianya jasa, barang, dan gagasan yang dapat
dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga
penyiaran yang bersangkutan.

19. Siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui
penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan,
memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan barang atau jasa kepada
khalayak sasaran untuk mempengaruhi konsumen agar menggunakan
produk yang ditawarkan.

20. Siaran iklan layanan masyarakat adalah siaran iklan nonkomersial


yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan
memperkenalkan, memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan
gagasan, cita-cita, anjuran, dan/atau pesan-pesan lainnya kepada
masyarakat untuk mempengaruhi khalayak agar berbuat dan/atau
bertingkah laku sesuai dengan pesan iklan tersebut.

21. Progam siaran berlangganan adalah program yang berisi pesan atau
rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar
atau yang berbentuk grafis atau karakter yang disiarkan oleh lembaga
penyiaran berlangganan.

22. Program penggalangan dana adalah program siaran yang bertujuan


untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang diperuntukkan bagi
kegiatan sosial.

23. Pencegatan adalah tindakan menghadang narasumber tanpa perjanjian


untuk diwawancarai dan/atau diambil gambarnya.

24. Hak privasi adalah hak atas kehidupan pribadi dan ruang pribadi dari
subjek dan objek suatu program siaran yang tidak berkaitan dengan
kepentingan publik.

K omisi Penyiar an Indonesia |7


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

25. Kunci Parental adalah alat otomatis yang berfungsi untuk mengunci
program-program tertentu yang disediakan oleh lembaga penyiaran
berlangganan.

26. Program Pemilihan Umum dan Pemilihan Umum Kepala Daerah


adalah program siaran yang mengandung kampanye, sosialisasi, dan
pemberitaan tentang Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat Pusat
dan Daerah, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, serta pemilihan
umum Kepala Daerah.

BAB II
DASAR DAN TUJUAN

Pasal 2

Pedoman Perilaku Penyiaran ditetapkan oleh KPI berdasarkan peraturan


perundang-undangan yang berlaku, nilai-nilai agama, norma-norma lain yang
berlaku serta diterima masyarakat, kode etik, dan standar profesi penyiaran.

Pasal 3

Pedoman Perilaku Penyiaran ditetapkan berdasarkan asas kemanfaatan, asas


keadilan, asas kepastian hukum, asas kebebasan dan tanggung jawab, asas
keberagaman, asas kemandirian, asas kemitraan, asas keamanan, dan etika
profesi.

Pasal 4

Pedoman Perilaku Penyiaran memberi arah dan tujuan agar lembaga penyiaran:
a. menjunjung tinggi dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan
Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. meningkatkan kesadaran dan ketaatan terhadap hukum dan segenap
peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia;

8| K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

c. menghormati dan menjunjung tinggi norma dan nilai agama dan budaya
bangsa yang multikultural;
d. menghormati dan menjunjung tinggi etika profesi yang diakui oleh
peraturan perundang-undangan;
e. menghormati dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi;
f. menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
g. menghormati dan menjunjung tinggi hak dan kepentingan publik;
h. menghormati dan menjunjung tinggi hak anak-anak dan remaja;
i. menghormati dan menjunjung tinggi hak orang dan/atau kelompok
masyarakat tertentu; dan
j. menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik.

BAB III
RUANG LINGKUP

Pasal 5

Pedoman Perilaku Penyiaran adalah dasar bagi penyusunan Standar Program


Siaran yang berkaitan dengan:
a. nilai-nilai kesukuan, agama, ras, dan antargolongan;
b. nilai dan norma kesopanan dan kesusilaan;
c. etika profesi;
d. kepentingan publik;
e. layanan publik;
f. hak privasi;

K omisi Penyiar an Indonesia |9


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

g. perlindungan kepada anak;


h. perlindungan kepada orang dan kelompok masyarakat tertentu;
i. muatan seksual;
j. muatan kekerasan;
k. muatan program siaran terkait rokok, NAPZA (narkotika, psikotropika,
dan zat adiktif), dan minuman beralkohol;
l. muatan program siaran terkait perjudian;
m. muatan mistik dan supranatural;
n. penggolongan program siaran;
o. prinsip-prinsip jurnalistik;
p. narasumber dan sumber informasi;
q. bahasa, bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan;
r. sensor;
s. lembaga penyiaran berlangganan;
t. siaran iklan;
u. siaran asing;
v. siaran lokal dalam sistem stasiun jaringan;
w. siaran langsung;
x. muatan penggalangan dana dan bantuan;
y. muatan program kuis, undian berhadiah, dan permainan lain;
z. siaran pemilihan umum dan pemilihan umum kepala daerah; dan
aa. sanksi dan tata cara pemberian sanksi.

10 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

BAB IV
PENGHORMATAN TERHADAP NILAI-NILAI KESUKUAN, AGAMA, RAS,
DAN ANTARGOLONGAN

Pasal 6

Lembaga penyiaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan


antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/atau
kehidupan sosial ekonomi.

Pasal 7

Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang merendahkan,


mempertentangkan dan/atau melecehkan suku, agama, ras, dan antargolongan
yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/atau kehidupan sosial
ekonomi.

Pasal 8

Lembaga penyiaran dalam memproduksi dan/atau menyiarkan sebuah


program siaran yang berisi tentang keunikan suatu budaya dan/atau kehidupan
sosial masyarakat tertentu wajib mempertimbangkan kemungkinan munculnya
ketidaknyamanan khalayak atas program siaran tersebut.

BAB V
PENGHORMATAN TERHADAP NILAI DAN NORMA KESOPANAN
DAN KESUSILAAN

Pasal 9

Lembaga penyiaran wajib menghormati nilai dan norma kesopanan dan


kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat.

K omisi Penyiar an Indonesia | 11


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

BAB VI
PENGHORMATAN TERHADAP ETIKA PROFESI

Pasal 10
(1) Lembaga penyiaran wajib memperhatikan etika profesi yang dimiliki oleh
profesi tertentu yang ditampilkan dalam isi siaran agar tidak merugikan
dan menimbulkan dampak negatif di masyarakat.
(2) Etika profesi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) adalah etika
profesi yang diakui dalam peraturan perundang-undangan.

BAB VII
PERLINDUNGAN KEPENTINGAN PUBLIK

Pasal 11

(1) Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kemanfaatan dan perlindungan


untuk kepentingan publik.
(2) Lembaga penyiaran wajib menjaga independensi dan netralitas isi siaran
dalam setiap program siaran.

BAB VIII
LAYANAN PUBLIK

Pasal 12

(1) Lembaga penyiaran wajib menyiarkan program siaran layanan publik.

(2) Lembaga penyiaran berhak menentukan format, konsep atau kemasan


program layanan publik sesuai dengan target penonton atau pendengar
masing-masing.

(3) Lembaga penyiaran dapat memodifikasi program siaran yang sudah ada
dengan perspektif atau muatan sesuai semangat program layanan publik.

12 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

BAB IX
PENGHORMATAN TERHADAP HAK PRIVASI

Pasal 13

Lembaga penyiaran wajib menghormati hak privasi seseorang dalam


memproduksi dan/atau menyiarkan suatu program siaran, baik siaran langsung
maupun siaran tidak langsung.

BAB X
PERLINDUNGAN KEPADA ANAK

Pasal 14

(1) Lembaga penyiaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan


kepada anak dengan menyiarkan program siaran pada waktu yang tepat
sesuai dengan penggolongan program siaran.

(2) Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kepentingan anak dalam


setiap aspek produksi siaran.

BAB XI
PERLINDUNGAN KEPADA ORANG DAN KELOMPOK MASYARAKAT TERTENTU

Pasal 15

(1) Lembaga penyiaran wajib memperhatikan dan melindungi hak dan


kepentingan:

a. orang dan/atau kelompok pekerja yang dianggap marginal;

b. orang dan/atau kelompok dengan orientasi seks dan identitas gender


tertentu;

K omisi Penyiar an Indonesia | 13


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

c. orang dan/atau kelompok dengan kondisi fisik tertentu;

d. orang dan/atau kelompok yang memiliki cacat fisik dan/atau mental;

e. orang dan/atau kelompok pengidap penyakit tertentu; dan/atau

f. orang dengan masalah kejiwaan.

(2) Lembaga Penyiaran tidak boleh menyajikan program yang menertawakan,


merendahkan, dan/atau menghina orang dan/atau kelompok masyarakat
sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1).

BAB XII
PROGRAM SIARAN BERMUATAN SEKSUAL

Pasal 16

Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau


pembatasan program siaran bermuatan seksual.

BAB XIII
PROGRAM SIARAN BERMUATAN KEKERASAN

Pasal 17

Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau


pembatasan program siaran bermuatan kekerasan.

14 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

BAB XIV
MUATAN PROGRAM SIARAN TERKAIT ROKOK, NAPZA, DAN MINUMAN
BERALKOHOL

Pasal 18

Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau


pembatasan program terkait muatan rokok, NAPZA (narkotika, psikotropika,
dan zat adiktif), dan/atau minuman beralkohol.

BAB XV
MUATAN PROGRAM SIARAN TERKAIT PERJUDIAN

Pasal 19

Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau


pembatasan program siaran terkait muatan perjudian.

BAB XVI
PROGRAM SIARAN BERMUATAN MISTIK, HOROR, DAN SUPRANATURAL

Pasal 20

Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau


pembatasan program siaran bermuatan mistik, horor, dan supranatural.

K omisi Penyiar an Indonesia | 15


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

BAB XVII
PENGGOLONGAN PROGRAM SIARAN

Pasal 21
(1) Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan penggolongan program
siaran berdasarkan usia dan tingkat kedewasaan khalayak di setiap acara.
(2) Penggolongan program siaran diklasifikasikan dalam 5 (lima) kelompok
berdasarkan usia, yaitu:
a. Klasifikasi P: Siaran untuk anak-anak usia Pra-Sekolah, yakni khalayak
berusia 2-6 tahun;
b. Klasifikasi A: Siaran untuk Anak-Anak, yakni khalayak berusia 7- 12
tahun;
c. Klasifikasi R: Siaran untuk Remaja, yakni khalayak berusia 13 – 17
tahun;
d. Klasifikasi D: Siaran untuk Dewasa, yakni khalayak di atas 18 tahun;
dan
e. Klasifikasi SU: Siaran untuk Semua Umur, yakni khalayak di atas 2
tahun.

(3) Lembaga penyiaran televisi wajib menayangkan klasifikasi program siaran


sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di atas dalam bentuk karakter
huruf dan kelompok usia penontonnya, yaitu: P (2-6), A (7-12), R (13-
17), D (18+), dan SU (2+) secara jelas dan diletakkan pada posisi atas
layar televisi sepanjang acara berlangsung untuk memudahkan khalayak
penonton mengidentifikasi program siaran.

(4) Penayangan klasifikasi P (2-6), A (7-12) atau R (13-17) oleh lembaga


penyiaran wajib disertai dengan imbauan atau peringatan tambahan
tentang arahan dan bimbingan orangtua yang ditayangkan pada awal
tayangan program siaran.

(5) Lembaga penyiaran radio wajib menyesuaikan klasifikasi penggolongan


program siaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan pengaturan
tentang waktu siaran.

16 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

BAB XVIII
PRINSIP-PRINSIP JURNALISTIK

Bagian Pertama
Umum

Pasal 22

(1) Lembaga penyiaran wajib menjalankan dan menjunjung tinggi idealisme


jurnalistik yang menyajikan informasi untuk kepentingan publik dan
pemberdayaan masyarakat, membangun dan menegakkan demokrasi,
mencari kebenaran, melakukan koreksi dan kontrol sosial, dan bersikap
independen.

(2) Lembaga penyiaran wajib menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik,


antara lain: akurat, berimbang, adil, tidak beritikad buruk, tidak
menghasut dan menyesatkan, tidak mencampuradukkan fakta dan opini
pribadi, tidak menonjolkan unsur sadistis, tidak mempertentangkan
suku, agama, ras dan antargolongan, serta tidak membuat berita bohong,
fitnah, dan cabul.

(3) Lembaga penyiaran dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik wajib


tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku serta
Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS).

(4) Lembaga penyiaran wajib menerapkan prinsip praduga tak bersalah


dalam peliputan dan/atau menyiarkan program siaran jurnalistik.

(5) Lembaga penyiaran wajib menjaga independensi dalam proses produksi


program siaran jurnalistik untuk tidak dipengaruhi oleh pihak eksternal
maupun internal termasuk pemodal atau pemilik lembaga penyiaran.

K omisi Penyiar an Indonesia | 17


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

Bagian Kedua
Pencegatan

Pasal 23

(1) Lembaga penyiaran dapat melakukan pencegatan di ruang publik


maupun ruang privat.

(2) Narasumber berhak menolak untuk berbicara dan/atau diambil


gambarnya saat terjadi pencegatan.

(3) Lembaga penyiaran tidak boleh menggunakan hak penolakan


narasumber sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di atas sebagai alat
untuk menjatuhkan narasumber atau objek dari suatu program siaran.

(4) Lembaga penyiaran tidak boleh melakukan pencegatan dengan tujuan


menambah efek dramatis pada program faktual.

(5) Pencegatan dilakukan dengan tidak menghalang-halangi narasumber


untuk bergerak bebas.

Bagian Ketiga
Peliputan Terorisme

Pasal 24

Lembaga penyiaran dalam peliputan dan/atau menyiarkan program siaran


jurnalistik tentang terorisme:
a. wajib menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara
lengkap dan benar;
b. tidak melakukan labelisasi berdasarkan suku, agama, ras, dan/atau
antargolongan terhadap pelaku, kerabat, dan/atau kelompok yang
diduga terlibat; dan
c. tidak membuka dan/atau mendramatisir identitas kerabat pelaku yang
diduga terlibat.

18 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

Bagian Keempat
Peliputan Bencana

Pasal 25

Lembaga penyiaran dalam peliputan dan/atau menyiarkan program yang


melibatkan pihak-pihak yang terkena musibah bencana wajib mengikuti
ketentuan sebagai berikut:

a. melakukan peliputan subjek yang tertimpa musibah dengan wajib


mempertimbangkan proses pemulihan korban dan keluarganya;

b. tidak menambah penderitaan ataupun trauma orang dan/atau keluarga


yang berada pada kondisi gawat darurat, korban kecelakaan atau korban
kejahatan, atau orang yang sedang berduka dengan cara memaksa,
menekan, dan/atau mengintimidasi korban dan/atau keluarganya untuk
diwawancarai dan/atau diambil gambarnya;

c. menyiarkan gambar korban dan/atau orang yang sedang dalam kondisi


menderita hanya dalam konteks yang dapat mendukung tayangan;

d. tidak mengganggu pekerja tanggap darurat yang sedang bekerja


menolong korban yang kemungkinan masih hidup; dan

e. tidak menggunakan gambar dan/atau suara korban bencana dan/atau


orang yang sedang dalam kondisi menderita dalam filler, bumper, ramp
yang disiarkan berulang-ulang.

K omisi Penyiar an Indonesia | 19


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

Bagian Kelima
Perekaman Tersembunyi

Pasal 26

Lembaga penyiaran yang melakukan peliputan program jurnalistik dengan


menggunakan rekaman tersembunyi wajib mengikuti ketentuan sebagai
berikut:

a. memiliki nilai kepentingan publik yang tinggi dan kepentingannya jelas;

b. dilakukan di ruang publik;

c. digunakan untuk tujuan pembuktian suatu isu dan/atau pelanggaran


yang berkaitan dengan kepentingan publik;

d. dilakukan jika usaha untuk mendapatkan informasi dengan pendekatan


terbuka tidak berhasil;

e. tidak disiarkan secara langsung; dan

f. tidak melanggar privasi orang-orang yang kebetulan terekam.

BAB XIX
NARASUMBER DAN SUMBER INFORMASI

Bagian Pertama
Penjelasan kepada Narasumber

Pasal 27

(1) Lembaga penyiaran wajib menjelaskan terlebih dahulu secara jujur


dan terbuka kepada narasumber dan/atau semua pihak yang akan
diikutsertakan dalam suatu program siaran untuk mengetahui secara
baik dan benar tentang acara yang melibatkan mereka.

20 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

(2) Jika narasumber diundang dalam sebuah program siaran, wawancara di


studio, wawancara melalui telepon atau terlibat dalam program diskusi,
lembaga penyiaran wajib mengikuti ketentuan sebagai berikut:

a. memberitahukan tujuan program siaran, topik, dan para pihak yang


terlibat dalam acara tersebut serta peran dan kontribusi narasumber;

b. menjelaskan kepada narasumber tentang program siaran tersebut


merupakan siaran langsung atau siaran tidak langsung; dan

c. menjelaskan perihal pengeditan yang dilakukan serta kepastian


dan jadwal penayangan program siaran bila program sebagaimana
dimaksud pada huruf b di atas merupakan program siaran tidak
langsung.

(3) Lembaga penyiaran wajib memperlakukan narasumber dengan hormat


dan santun serta mencantumkan atau menyebut identitas dalam
wawancara tersebut dengan jelas dan akurat.

(4) Lembaga penyiaran tidak boleh menyiarkan wawancara dengan


narasumber yang sedang tidak dalam kesadaran penuh dan/atau dalam
situasi tertekan dan/atau tidak bebas.

Bagian Kedua
Persetujuan Narasumber

Pasal 28

(1) Lembaga penyiaran tidak boleh menyiarkan materi program siaran


langsung maupun tidak langsung yang diproduksi tanpa persetujuan
terlebih dahulu dan konfirmasi narasumber, diambil dengan
menggunakan kamera dan/atau mikrofon tersembunyi, atau merupakan
hasil rekaman wawancara di telepon, kecuali materi siaran yang memiliki
nilai kepentingan publik yang tinggi.

(2) Lembaga penyiaran tidak boleh menyiarkan materi siaran yang


mengandung tindakan intimidasi terhadap narasumber.

K omisi Penyiar an Indonesia | 21


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

(3) Pencantuman identitas narasumber dalam program siaran wajib


mendapat persetujuan narasumber sebelum siaran.

(4) Lembaga penyiaran wajib menghormati hak narasumber yang tidak ingin
diketahui identitasnya jika keterangan atau informasi yang disiarkan
dipastikan dapat mengancam keselamatan jiwa narasumber atau
keluarganya, dengan mengubah nama, suara, dan/atau menutupi wajah
narasumber.

Bagian Ketiga
Anak-Anak dan Remaja sebagai Narasumber

Pasal 29

Lembaga penyiaran dalam menyiarkan program yang melibatkan anak-anak


dan/atau remaja sebagai narasumber wajib mengikuti ketentuan sebagai
berikut:

a. tidak boleh mewawancarai anak-anak dan/atau remaja berusia di


bawah umur 18 tahun mengenai hal-hal di luar kapasitas mereka untuk
menjawabnya, seperti: kematian, perceraian, perselingkuhan orangtua
dan keluarga, serta kekerasan, konflik, dan bencana yang menimbulkan
dampak traumatik.

b. wajib mempertimbangkan keamanan dan masa depan anak-anak dan/


atau remaja yang menjadi narasumber; dan

c. wajib menyamarkan identitas anak-anak dan/atau remaja dalam


peristiwa dan/atau penegakan hukum, baik sebagai pelaku maupun
korban.

22 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

Bagian Keempat
Hak Narasumber Menolak Berpartisipasi

Pasal 30

(1) Lembaga penyiaran wajib menghormati hak setiap orang untuk menolak
berpartisipasi dalam sebuah program siaran yang diselenggarakan oleh
lembaga penyiaran.

(2) Apabila penolakan seseorang itu disebut atau dibicarakan dalam program
siaran tersebut, lembaga penyiaran:

a. wajib memberitahukan kepada khalayak secara proposional tentang


alasan penolakan narasumber yang sebelumnya telah menyatakan
kesediaan; dan

b. tidak boleh mengomentari alasan penolakan narasumber tersebut.

Bagian Kelima
Wawancara

Pasal 31

Lembaga penyiaran dalam menyiarkan wawancara atau percakapan langsung


dengan penelepon atau narasumber wajib mengikuti ketentuan sebagai
berikut:

a. memperoleh dan menyimpan identitas nama, alamat, dan nomor telepon


penelepon atau narasumber sebelum percakapan atau wawancara
disiarkan; dan

b. memiliki kemampuan untuk menguji kebenaran identitas penelepon


atau narasumber tersebut.

K omisi Penyiar an Indonesia | 23


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

Bagian Keenam
Perekaman Tersembunyi Program Nonjurnalistik

Pasal 32

Lembaga penyiaran yang melakukan peliputan program nonjurnalistik dengan


menggunakan rekaman tersembunyi wajib mengikuti ketentuan sebagai
berikut:
a. tidak untuk merugikan pihak tertentu;
b. jika usaha perekaman tersembunyi diketahui oleh orang yang menjadi
objek dalam perekaman, maka perekaman tersembunyi wajib dihentikan
sesuai dengan permintaan;
c. tidak disiarkan apabila orang yang menjadi objek dalam perekaman
menolak hasil rekaman untuk disiarkan;
d. tidak disiarkan secara langsung; dan
e. tidak melanggar privasi orang-orang yang kebetulan terekam.

Bagian Ketujuh
Pencantuman Sumber Informasi

Pasal 33

Lembaga penyiaran wajib mencantumkan sumber informasi atau narasumber


yang dikutip dalam setiap program yang disiarkan, kecuali sumber informasi
atau narasumber meminta agar identitasnya disamarkan.

Bagian Kedelapan
Hak Siar

Pasal 34
(1) Lembaga penyiaran dalam menyiarkan program siaran wajib memiliki
dan mencantumkan hak siar.
(2) Kepemilikan hak siar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus
disebutkan secara jelas dalam setiap program siaran.

24 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

Bagian Kesembilan
Pewawancara

Pasal 35

Pewawancara suatu program siaran wajib mengikuti ketentuan sebagai berikut:

a. wajib bersikap netral dan tidak memihak;

b. tidak menyudutkan narasumber dalam wawancara;

c. memberikan waktu yang cukup kepada narasumber untuk menjelaskan


dan/atau menjawab;

d. tidak memprovokasi narasumber dan/atau menghasut penonton dan


pendengar; dan

e. wajib mengingatkan dan/atau menghentikan penelepon atau narasumber


jika penelepon atau narasumber menyampaikan hal-hal yang tidak layak
disiarkan kepada publik.

BAB XX
BAHASA, BENDERA, LAMBANG NEGARA, DAN LAGU KEBANGSAAN

Pasal 36

(1) Lembaga penyiaran wajib menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar sebagai bahasa pengantar utama, baik tulisan dan lisan, kecuali
bagi program siaran yang disajikan dalam bahasa daerah atau bahasa
asing.

(2) Lembaga penyiaran dapat menggunakan bahasa asing sebagai bahasa


pengantar dalam program siaran paling banyak 30% (tiga puluh per
seratus) dari waktu siaran per hari.

K omisi Penyiar an Indonesia | 25


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

Pasal 37

Lembaga penyiaran dalam menggunakan Bendera Negara, Lambang Negara,


dan Lagu Kebangsaan wajib tunduk pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 38

(1) Lembaga penyiaran wajib memulai siaran dengan menyiarkan Lagu


Kebangsaan Indonesia Raya dan mengakhiri siaran dengan menyiarkan
lagu wajib nasional.

(2) Lembaga penyiaran yang bersiaran 24 jam wajib menyiarkan Lagu


Kebangsaan Indonesia Raya pada pukul 06.00 waktu setempat dan
menyiarkan lagu wajib nasional pada pukul 24.00 waktu setempat.

BAB XXI
SENSOR

Pasal 39

(1) Lembaga penyiaran sebelum menyiarkan program siaran film dan/atau


iklan wajib terlebih dahulu memperoleh surat tanda lulus sensor dari
lembaga yang berwenang.

(2) Lembaga penyiaran televisi wajib melakukan sensor internal atas seluruh
materi siaran dan tunduk pada klasifikasi program siaran yang ditetapkan
dalam peraturan ini.

26 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

BAB XXII
LEMBAGA PENYIARAN BERLANGGANAN

Bagian Pertama
Kunci Parental dan Buku Panduan

Pasal 40
(1) Lembaga penyiaran berlangganan wajib menyediakan kunci parental
untuk setiap program siaran dengan klasifikasi R (Remaja) dan D
(Dewasa).
(2) Petunjuk penggunaan kunci parental wajib disertakan dalam buku
panduan program siaran yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga
penyiaran berlangganan dan diberikan secara cuma-cuma kepada
pelanggan.
(3) Petunjuk penggunaan kunci parental sebagaimana dimaksud ayat (1)
dilaporkan ke KPI.

Bagian Kedua
Bahasa Siaran

Pasal 41

Lembaga penyiaran berlangganan yang menyiarkan program-program asing


melalui saluran-saluran asing yang ada dalam paket siaran wajib berusaha
semaksimal mungkin menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam
bentuk teks atau sulih suara.

Bagian Ketiga
Saluran Program Siaran

Pasal 42

(1) Lembaga penyiaran berlangganan wajib memuat paling sedikit 10%


(sepuluh per seratus) dari kapasitas saluran untuk menyalurkan program
siaran produksi lembaga penyiaran publik dan lembaga penyiaran swasta
lokal.
K omisi Penyiar an Indonesia | 27
2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

(2) Lembaga penyiaran berlangganan dapat menyiarkan saluran siaran


sesuai dengan waktu penyiaran dari tempat asal saluran siaran tersebut
disiarkan dengan wajib mengikuti ketentuan bahwa isi siaran dalam
saluran siaran tersebut tidak bertentangan dengan penggolongan
program siaran yang ditetapkan dalam peraturan ini.

BAB XXIII
SIARAN IKLAN

Pasal 43

Lembaga penyiaran wajib tunduk pada peraturan perundang-undangan yang


mengatur tentang periklanan dan berpedoman pada Etika Pariwara Indonesia.

Pasal 44

(1) Waktu siaran iklan niaga lembaga penyiaran swasta paling banyak 20%
(dua puluh per seratus) dari seluruh waktu siaran setiap hari.

(2) Waktu siaran iklan layanan masyarakat paling sedikit 10% (sepuluh per
seratus) dari siaran iklan niaga setiap hari

(3) Materi siaran iklan wajib mengutamakan penggunaan sumber daya


dalam negeri.

(4) Lembaga penyiaran wajib menyediakan slot iklan secara cuma-cuma


sekurang-kurangnya 50% (lima puluh per seratus) dari seluruh siaran
iklan layanan masyarakat per hari untuk iklan layanan masyarakat yang
berisi: keselamatan umum, kewaspadaan pada bencana alam, dan/atau
kesehatan masyarakat, yang disampaikan oleh badan-badan publik.

(5) Di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) di atas, lembaga
penyiaran wajib memberikan potongan harga khusus sekurang-
kurangnya 50% (lima puluh per seratus) dari harga siaran iklan niaga
dalam slot iklan layanan masyarakat lainnya.

28 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

BAB XXIV
PROGRAM SIARAN ASING

Pasal 45

(1) Lembaga penyiaran dapat menyiarkan program siaran asing dengan


tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Durasi relai siaran untuk acara tetap yang berasal dari luar negeri dibatasi
paling banyak 5% (lima per seratus) untuk jasa penyiaran radio dan
paling banyak 10% (sepuluh per seratus) untuk jasa penyiaran televisi
dari seluruh waktu siaran per hari, kecuali siaran pertandingan olahraga
yang mendunia yang memerlukan perpanjangan waktu.

(3) Lembaga penyiaran swasta dilarang melakukan relai siaran acara tetap
yang berasal dari lembaga penyiaran luar negeri meliputi jenis acara:
a. warta berita;
b. siaran musik yang penampilannya tidak pantas; dan
c. siaran olahraga yang memperagakan adegan sadis.

(4) Jumlah mata acara relai siaran untuk acara tetap yang berasal dari luar
negeri dibatasi paling banyak 10% (sepuluh per seratus) untuk jasa
penyiaran radio dan paling banyak 20% (dua puluh per seratus) untuk
jasa penyiaran televisi dari jumlah seluruh mata acara siaran per hari.

BAB XXV
SIARAN LOKAL DALAM SISTEM STASIUN JARINGAN

Pasal 46

Lembaga penyiaran dalam sistem siaran berjaringan wajib menyiarkan program


lokal.

K omisi Penyiar an Indonesia | 29


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

BAB XXVI
SIARAN LANGSUNG

Pasal 47

(1) Lembaga penyiaran dalam memproduksi dan/atau menyiarkan berbagai


program siaran dalam bentuk siaran langsung wajib berpedoman pada
penggolongan program siaran.

(2) Lembaga penyiaran dalam memproduksi dan/atau menyiarkan berbagai


program siaran dalam bentuk siaran langsung wajib tanggap melakukan
langkah yang tepat dan cepat untuk menghindari tersiarkannya isi siaran
yang tidak sesuai dengan ketentuan penggolongan program siaran.

(3) Lembaga penyiaran wajib membuat dan/atau memiliki buku panduan


internal tentang standar prosedur program siaran langsung.

BAB XXVII
MUATAN PENGGALANGAN DANA DAN BANTUAN

Pasal 48

Program siaran yang memuat penggalangan dana dan bantuan wajib mengikuti
ketentuan sebagai berikut:

a. kegiatan pengumpulan dana kemanusiaan atau bencana dari khalayak


luas yang diselenggarakan tersebut harus terlebih dahulu memperoleh
izin dari lembaga yang berwenang;

b. dana yang dikumpulkan dari masyarakat tidak boleh diakui sebagai dana
lembaga penyiaran ketika diserahkan; dan

c. hasil dari kegiatan penggalangan dana kemanusiaan atau bencana yang


dilakukan oleh lembaga penyiaran wajib dipertanggungjawabkan kepada
publik secara transparan setelah diaudit.

30 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

BAB XXVIII
PROGRAM KUIS, UNDIAN BERHADIAH, DAN PERMAINAN BERHADIAH LAIN

Pasal 49

(1) Lembaga penyiaran dalam memproduksi dan menyiarkan program kuis,


undian berhadiah, dan/atau permainan lainnya wajib terlebih dahulu
mendapatkan izin lembaga yang berwenang.

(2) Lembaga penyiaran wajib membuat dan menyampaikan aturan main


tentang program kuis, undian berhadiah, dan/atau permainan lainnya
dengan jelas, lengkap, dan terbuka pada awal siaran.

(3) Lembaga penyiaran dilarang menyiarkan program kuis, undian berhadiah,


dan/atau permainan lainnya yang mengandung unsur penipuan dan
perjudian.

BAB XXIX
SIARAN PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH

Pasal 50

(1) Lembaga penyiaran wajib menyediakan waktu yang cukup bagi peliputan
Pemilihan Umum dan/atau Pemilihan Umum Kepala Daerah.

(2) Lembaga penyiaran wajib bersikap adil dan proporsional terhadap para
peserta Pemilihan Umum dan/atau Pemilihan Umum Kepala Daerah.

(3) Lembaga penyiaran tidak boleh bersikap partisan terhadap salah satu
peserta Pemilihan Umum dan/atau Pemilihan Umum Kepala Daerah.

(4) Lembaga penyiaran tidak boleh menyiarkan program siaran yang dibiayai
atau disponsori oleh peserta Pemilihan Umum dan/atau Pemilihan
Umum Kepala Daerah.

K omisi Penyiar an Indonesia | 31


2012 | Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3)

(5) Lembaga penyiaran wajib tunduk pada Peraturan Perundang-Undangan


serta Peraturan dan Kebijakan Teknis tentang Pemilihan Umum dan/atau
Pemilihan Umum Kepala Daerah yang ditetapkan oleh lembaga yang
berwenang.

BAB XXX
SANKSI ADMINISTRATIF DAN TATA CARA PEMBERIAN SANKSI

Pasal 51

(1) Ketentuan mengenai sanksi administratif atas pelanggaran Pedoman


Perilaku Penyiaran diatur dalam Peraturan KPI tentang Standar Program
Siaran.

(2) Ketentuan mengenai tata cara, pemberian, dan keberatan atas sanksi
administratif KPI diatur dalam Peraturan KPI tentang Standar Program
Siaran.

BAB XXXI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 52

Pedoman Perilaku Penyiaran secara berkala dinilai kembali oleh KPI sesuai
dengan perubahan peraturan perundang-undangan dan perkembangan
norma-norma yang berlaku serta pandangan dari masyarakat.

Pasal 53

Pada saat Peraturan KPI ini mulai berlaku, maka Peraturan Komisi Penyiaran
Indonesia Nomor 02/P/KPI/12/2009 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran,
dinyatakan tidak berlaku.

32 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) | 2012

Pasal 54

Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta,

Pada tanggal 22 Maret 2012

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Pusat,

Mochamad Riyanto, S.H., M.Si

K omisi Penyiar an Indonesia | 33


PERATURAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA
Nomor 02/P/KPI/03/2012

tentang
STANDAR PROGRAM SIARAN

Menimbang:
a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia harus melindungi hak warga
negara untuk mendapatkan informasi yang tepat, akurat, bertanggung
jawab, dan hiburan yang sehat;
b. bahwa perkembangan industri televisi dan radio di seluruh Indonesia
membuat tingkat kreativitas dan persaingan antar lembaga penyiaran
semakin tinggi, sehingga program siaran menjadi tolok ukur keberhasilan
meraih keuntungan;
c. bahwa tingkat persaingan antar lembaga penyiaran berpotensi untuk
memunculkan program siaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang
dianut dan diyakini oleh masyarakat;
d. bahwa program siaran harus mampu memperkokoh integrasi nasional,
terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa,
mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum
dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil,
dan sejahtera;
e. bahwa Standar Program Siaran adalah penjabaran teknis Pedoman
Perilaku Penyiaran yang berisi tentang batasan-batasan yang boleh dan
tidak boleh ditayangkan pada suatu program siaran;
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud pada
huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, Komisi Penyiaran Indonesia
memandang perlu untuk menetapkan Standar Program Siaran.

K omisi Penyiar an Indonesia | 35


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Mengingat:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3817);
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);
4. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886);
5. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3887);
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4252);
8. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4419);

36 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4437), Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);
11. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843);
12. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);
13. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 181, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4928);
14. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5035);
15. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
16. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 141, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5060);
17. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
18. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5234);

K omisi Penyiar an Indonesia | 37


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

19. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan


Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 28);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2005 tentang Pedoman Kegiatan
Peliputan Lembaga Penyiaran Asing (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4565);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4566);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Lembaga Penyiaran Komunitas (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4567);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4568);
24. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59/P Tahun 2010 tentang
Penetapan Pengangkatan Keanggotaan Komisi Penyiaran Indonesia Pusat
untuk Masa Jabatan Tahun 2010 – 2013;
25. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia
Nomor 43/ PER/M.KOMINFO/10/2009 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran Melalui Sistem Stasiun Jaringan oleh Lembaga Penyiaran
Swasta Jasa Penyiaran Televisi;
26. Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 01/P/KPI/03/2012 tentang
Pedoman Perilaku Penyiaran.

38 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Memperhatikan:
a. Usulan dari asosiasi penyiaran;
b. Usulan dari organisasi dan asosiasi masyarakat penyiaran;
c. Usulan dari berbagai kelompok masyarakat;
d. Hasil Sidang Rapat Koordinasi Nasional ke-8 Komisi Penyiaran Indonesia
Tanggal 7 Juli 2010 di Bandung, Jawa Barat;
e. Hasil Sidang Rapat Pimpinan Nasional, Tanggal 20 Oktober 2010 di
Jakarta; dan
f. Hasil Sidang Rapat Koordinasi Nasional ke-9 Komisi Penyiaran Indonesia
Tanggal 19 Mei 2011 di Tangerang Selatan, Banten.

M E M U T U S K A N:

Menetapkan: PERATURAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA TENTANG


STANDAR PROGRAM SIARAN

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

(1) Standar Program Siaran adalah standar isi siaran yang berisi tentang
batasan-batasan, pelarangan, kewajiban, dan pengaturan penyiaran,
serta sanksi berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran yang ditetapkan
oleh KPI.

(2) Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana


pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa
dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel,
dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan
bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

K omisi Penyiar an Indonesia | 39


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

(3) Lembaga penyiaran adalah penyelenggara penyiaran, baik lembaga


penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran
komunitas maupun lembaga penyiaran berlangganan yang dalam
melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya berpedoman pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4) Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar yang


menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum
dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.

(5) Penyiaran televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang yang
menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan gambar
secara umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang
teratur dan berkesinambungan.

(6) Siaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar,
atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang
bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat
penerima siaran.

(7) Program siaran adalah program yang berisi pesan atau rangkaian pesan
dalam bentuk suara, gambar, suara dan gambar, atau yang berbentuk
grafis atau karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang
disiarkan oleh lembaga penyiaran.

(8) Siaran langsung adalah segala bentuk program siaran yang ditayangkan
tanpa penundaan waktu.

(9) Siaran tidak langsung adalah program siaran rekaman yang ditayangkan
pada waktu yang berbeda dengan peristiwanya.

(10) Sistem stasiun jaringan adalah tata kerja yang mengatur relai siaran
secara tetap antar lembaga penyiaran.

(11) Program faktual adalah program siaran yang menyajikan fakta nonfiksi.

(12) Program nonfaktual adalah program siaran yang menyajikan fiksi, yang
berisi ekspresi seni dan budaya serta rekayasa dan/atau imajinasi dari
pengalaman individu dan/atau kelompok.

40 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

(13) Program Layanan Publik adalah program faktual yang diproduksi dan
disiarkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial lembaga penyiaran
kepada masyarakat.

(14) Program Siaran Jurnalistik adalah program yang berisi berita dan/
atau informasi yang ditujukan untuk kepentingan publik berdasarkan
Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS).

(15) Anak adalah khalayak khusus yang terdiri dari anak-anak dan remaja
yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.

(16) Penggolongan program siaran adalah klasifikasi program siaran


berdasarkan kelompok usia untuk memudahkan khalayak
mengidentifikasi program siaran.

(17) Program lokal adalah program siaran dengan muatan lokal yang mencakup
program siaran jurnalistik, program siaran faktual, dan program siaran
nonfaktual dalam rangka pengembangan potensi daerah setempat serta
dikerjakan dan diproduksi oleh sumber daya dan lembaga penyiaran
daerah setempat.

(18) Program asing adalah program siaran yang berasal dari luar negeri.

(19) Program kuis, undian berhadiah, dan permainan berhadiah lainnya


adalah program siaran berupa perlombaan, adu ketangkasan, adu cepat
menjawab pertanyaan, undian, dan permainan lain yang menjanjikan
hadiah.

(20) Siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan
masyarakat tentang tersedianya jasa, barang, dan gagasan yang dapat
dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga
penyiaran yang bersangkutan.

(21) Siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui
penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan,
memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan barang atau jasa kepada
khalayak sasaran untuk mempengaruhi konsumen agar menggunakan
produk yang ditawarkan.

K omisi Penyiar an Indonesia | 41


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

(22) Siaran iklan layanan masyarakat adalah siaran iklan nonkomersial


yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan
memperkenalkan, memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan
gagasan, cita-cita, anjuran, dan/atau pesan-pesan lainnya kepada
masyarakat untuk mempengaruhi khalayak agar berbuat dan/atau
bertingkah laku sesuai dengan pesan iklan tersebut.

(23) Progam siaran berlangganan adalah program yang berisi pesan atau
rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar
atau yang berbentuk grafis atau karakter yang disiarkan oleh lembaga
penyiaran berlangganan.

(24) Program penggalangan dana adalah program siaran yang bertujuan


untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang diperuntukkan bagi
kegiatan sosial.

(25) Adegan kekerasan adalah gambar atau rangkaian gambar dan/atau


suara yang menampilkan tindakan verbal dan/atau nonverbal yang
menimbulkan rasa sakit secara fisik, psikis, dan/atau sosial bagi korban
kekerasan.

(26) Adegan seksual adalah gambar atau rangkaian gambar dan/atau suara
yang berkaitan dengan seks, ketelanjangan, dan/atau aktivitas seksual.

(27) Adegan mistik dan supranatural adalah gambar atau rangkaian gambar
dan/atau suara yang menampilkan dunia gaib, paranormal, klenik,
praktek spiritual magis, mistik atau kontak dengan makhluk halus secara
verbal dan/atau nonverbal.

(28) Kehidupan pribadi adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan


perkawinan, perceraian, konflik keluarga, konflik pribadi, perselingkuhan,
hubungan asmara, keyakinan beragama, dan rahasia pribadi.

(29) Program Pemilihan Umum dan Pemilihan Umum Kepala Daerah


adalah program siaran yang mengandung kampanye, sosialisasi, dan
pemberitaan tentang Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat Pusat
dan Daerah, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, serta pemilihan
umum Kepala Daerah.

42 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

BAB II
TUJUAN, FUNGSI, DAN ARAH

Pasal 2

Standar Program Siaran bertujuan untuk:

a. memperkokoh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa


yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam
rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan
sejahtera;

b. mengatur program siaran untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi


masyarakat; dan

c. mengatur program siaran agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang


hidup dan berkembang dalam masyarakat.

Pasal 3

Standar Program Siaran ditetapkan agar lembaga penyiaran dapat menjalankan


fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol, perekat sosial,
dan pemersatu bangsa.

Pasal 4

Standar Program Siaran diarahkan agar program siaran:

a. menjunjung tinggi dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan


Negara Kesatuan Republik Indonesia;

b. meningkatkan kesadaran dan ketaatan terhadap hukum dan segenap


peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia;

c. menghormati dan menjunjung tinggi norma dan nilai agama dan budaya
bangsa yang multikultural;

K omisi Penyiar an Indonesia | 43


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

d. menghormati dan menjunjung tinggi etika profesi yang diakui oleh


peraturan perundang-undangan;

e. menghormati dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi;

f. menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

g. menghormati dan menjunjung tinggi hak dan kepentingan publik;

h. menghormati dan menjunjung tinggi hak anak-anak dan remaja;

i. menghormati dan menjunjung tinggi hak orang dan/atau kelompok


masyarakat tertentu; dan

j. menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik.

BAB III
RUANG LINGKUP

Pasal 5

Standar Program Siaran merupakan standar isi siaran yang berkaitan dengan:
a. nilai-nilai kesukuan, keagamaan, ras, dan antargolongan;
b. norma kesopanan dan kesusilaan;
c. etika profesi;
d. kepentingan publik;
e. program layanan publik;
f. hak privasi;
g. perlindungan kepada anak;
h. perlindungan kepada orang dan masyarakat tertentu;

44 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

i. muatan seksualitas;
j. muatan kekerasan;
k. larangan dan pembatasan muatan rokok, NAPZA (narkotika, psikotropika,
dan zat adiktif), dan minuman beralkohol;
l. larangan dan pembatasan muatan perjudian;
m. larangan dan pembatasan muatan mistik, horor, dan supranatural;
n. penggolongan program siaran;
o. program siaran jurnalistik;
p. hak siar;
q. bahasa, bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan;
r. sensor;
s. program siaran berlangganan;
t. siaran iklan;
u. program asing;
v. siaran lokal dalam sistem stasiun jaringan;
w. muatan penggalangan dana dan bantuan;
x. muatan kuis, undian berhadiah, dan permainan berhadiah lain;
y. siaran pemilihan umum dan pemilihan umum kepala daerah;
z. pengawasan, sosialisasi, dan rekaman;
aa. sanksi dan penanggungjawab; dan
ab. sanksi administratif.

K omisi Penyiar an Indonesia | 45


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

BAB IV
PENGHORMATAN TERHADAP NILAI-NILAI KESUKUAN, AGAMA, RAS, DAN
ANTARGOLONGAN

Pasal 6

(1) Program siaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan
antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/
atau kehidupan sosial ekonomi.

(2) Program siaran dilarang merendahkan dan/atau melecehkan:

a. suku, agama, ras, dan/atau antargolongan; dan/atau

b. individu atau kelompok karena perbedaan suku, agama, ras,


antargolongan, usia, budaya, dan/atau kehidupan sosial ekonomi.

Pasal 7

Materi agama pada program siaran wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. tidak berisi serangan, penghinaan dan/atau pelecehan terhadap


pandangan dan keyakinan antar atau dalam agama tertentu serta
menghargai etika hubungan antarumat beragama;

b. menyajikan muatan yang berisi perbedaan pandangan/paham dalam


agama tertentu secara berhati-hati, berimbang, tidak berpihak, dengan
narasumber yang berkompeten, dan dapat dipertanggungjawabkan.

c. tidak menyajikan perbandingan antaragama; dan

d. tidak menyajikan alasan perpindahan agama seseorang atau sekelompok


orang.

46 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Pasal 8

Program siaran tentang keunikan suatu budaya dan/atau kehidupan sosial


masyarakat tertentu dengan muatan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan
khalayak wajib disiarkan dengan gambar longshot atau disamarkan dan/atau
tidak dinarasikan secara detail.

BAB V
PENGHORMATAN TERHADAP NORMA KESOPANAN DAN KESUSILAAN

Pasal 9

(1) Program siaran wajib memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan


yang dijunjung oleh keberagaman khalayak baik terkait agama, suku,
budaya, usia, dan/atau latar belakang ekonomi.

(2) Program siaran wajib berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan
dampak negatif terhadap keberagaman norma kesopanan dan kesusilaan
yang dianut oleh masyarakat.

BAB VI
PENGHORMATAN TERHADAP ETIKA PROFESI

Pasal 10

(1) Program siaran wajib menghormati etika profesi yang dimiliki oleh
profesi tertentu yang ditampilkan dalam isi siaran agar tidak merugikan
dan menimbulkan dampak negatif di masyarakat.

(2) Etika profesi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) adalah etika
profesi yang diakui dalam peraturan perundang-undangan.

K omisi Penyiar an Indonesia | 47


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

BAB VII
PERLINDUNGAN KEPENTINGAN PUBLIK

Pasal 11

(1) Program siaran wajib dimanfaatkan untuk kepentingan publik dan tidak
untuk kepentingan kelompok tertentu.

(2) Program siaran dilarang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemilik


lembaga penyiaran bersangkutan dan/atau kelompoknya.

(3) Program siaran yang berisi tentang kesehatan masyarakat dilarang


menampilkan penyedia jasa pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak
memiliki izin dari lembaga yang berwenang.

BAB VIII
PROGRAM LAYANAN PUBLIK

Pasal 12

Program siaran yang merupakan program layanan publik wajib berisi:

a. program interaktif maupun dialog antarwarga yang mewadahi hak


warga negara agar dapat ikut berperan dalam pembangunan serta
menunjukkan kiprah positifnya dalam kehidupan bermasyarakat; dan

b. berita, informasi umum, laporan investigatif, editorial khusus, dan/


atau program tentang keberagaman budaya, yang mewujudkan
fungsi media penyiaran dalam kontrol sosial, perekat sosial, dan
penguatan kebhinnekaan.

48 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

BAB IX
PENGHORMATAN TERHADAP HAK PRIVASI

Pasal 13

(1) Program siaran wajib menghormati hak privasi dalam kehidupan pribadi
objek isi siaran.

(2) Program siaran tentang permasalahan kehidupan pribadi tidak boleh


menjadi materi yang ditampilkan dan/atau disajikan dalam seluruh isi
mata acara, kecuali demi kepentingan publik.

(3) Kepentingan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di atas terkait
dengan penggunaan anggaran negara, keamanan negara, dan/atau
permasalahan hukum pidana.

Pasal 14

Masalah kehidupan pribadi sebagaimana dimaksud pada Pasal 13 dapat


disiarkan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. tidak berniat merusak reputasi objek yang disiarkan;
b. tidak memperburuk keadaan objek yang disiarkan;
c. tidak mendorong berbagai pihak yang terlibat dalam konflik
mengungkapkan secara terperinci aib dan/atau kerahasiaan masing-
masing pihak yang berkonflik;
d. tidak menimbulkan dampak buruk terhadap keluarga, terutama bagi
anak-anak dan remaja;
e. tidak dilakukan tanpa dasar fakta dan data yang akurat;
f. menyatakan secara eksplisit jika bersifat rekayasa, reka-ulang atau
diperankan oleh orang lain;
g. tidak menjadikan kehidupan pribadi objek yang disiarkan sebagai bahan
tertawaan dan/atau bahan cercaan; dan
h. tidak boleh menghakimi objek yang disiarkan.

K omisi Penyiar an Indonesia | 49


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

BAB X
PERLINDUNGAN KEPADA ANAK

Bagian Pertama
Perlindungan Anak-Anak dan Remaja

Pasal 15
(1) Program siaran wajib memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-
anak dan/atau remaja.
(2) Program siaran yang berisi muatan asusila dan/atau informasi tentang
dugaan tindak pidana asusila dilarang menampilkan anak-anak dan/atau
remaja.
(3) Program siaran yang menampilkan anak-anak dan/atau remaja dalam
peristiwa/penegakan hukum wajib disamarkan wajah dan identitasnya.
(4) Program siaran langsung yang melibatkan anak-anak dilarang disiarkan
melewati pukul 21.30 waktu setempat.

Bagian Kedua
Program Siaran tentang Lingkungan Pendidikan

Pasal 16

(1) Program siaran dilarang melecehkan, menghina, dan/atau merendahkan


lembaga pendidikan.

(2) Penggambaran tentang lembaga pendidikan harus mengikuti ketentuan


sebagai berikut:

a. tidak memperolok pendidik/pengajar;

b. tidak menampilkan perilaku dan cara berpakaian yang


bertentangan dengan etika yang berlaku di lingkungan pendidikan;

c. tidak menampilkan konsumsi rokok dan NAPZA (narkotika,


psikotropika, dan zat adiktif), dan minuman beralkohol;

50 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

d. tidak menampilkan makian dan kata-kata kasar; dan/atau

e. tidak menampilkan aktivitas berjudi dan/atau tindakan kriminal


lainnya.

BAB XI
PERLINDUNGAN KEPADA ORANG DAN MASYARAKAT TERTENTU

Pasal 17

(1) Program siaran dilarang menampilkan muatan yang melecehkan orang


dan/atau kelompok masyarakat tertentu.

(2) Orang dan/atau kelompok masyarakat tertentu sebagaimana yang


dimaksud pada ayat (1) antara lain, tetapi tidak terbatas:

a. pekerja tertentu, seperti: pekerja rumah tangga, hansip, pesuruh


kantor, pedagang kaki lima, satpam;

b. orang dengan orientasi seks dan identitas gender tertentu;

c. lanjut usia, janda, duda;

d. orang dengan kondisi fisik tertentu, seperti: gemuk, ceking, cebol,


bibir sumbing, hidung pesek, memiliki gigi tonggos, mata juling;

e. tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunagrahita, autis;

f. pengidap penyakit tertentu, seperti: HIV/AIDS, kusta, epilepsi,


alzheimer, latah; dan/atau

g. orang dengan masalah kejiwaan.

K omisi Penyiar an Indonesia | 51


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

BAB XII
PELARANGAN DAN PEMBATASAN SEKSUALITAS

Bagian Pertama
Pelarangan Adegan Seksual

Pasal 18

Program siaran yang memuat adegan seksual dilarang:

a. menayangkan ketelanjangan dan/atau penampakan alat kelamin;

b. menampilkan adegan yang menggambarkan aktivitas seks dan/atau


persenggamaan;

c. menayangkan kekerasan seksual;

d. menampilkan suara yang menggambarkan berlangsungnya aktivitas seks


dan/atau persenggamaan;

e. menampilkan percakapan tentang rangkaian aktivitas seks dan/atau


persenggamaan;

f. menayangkan adegan dan/atau suara yang menggambarkan hubungan


seks antarbinatang secara vulgar;

g. menampilkan adegan ciuman bibir;

h. mengeksploitasi dan/atau menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu,


seperti: paha, bokong, payudara, secara close up dan/atau medium shot;

i. menampilkan gerakan tubuh dan/atau tarian erotis;

j. mengesankan ketelanjangan;

k. mengesankan ciuman bibir; dan/atau

l. menampilkan kata-kata cabul.

52 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Bagian Kedua
Seks di Luar Nikah, Praktek Aborsi, dan Pemerkosaan

Pasal 19

(1) Program siaran dilarang memuat pembenaran hubungan seks di luar


nikah.

(2) Program siaran dilarang memuat praktek aborsi akibat hubungan seks di
luar nikah sebagai hal yang lumrah dan dapat diterima dalam kehidupan
bermasyarakat.

(3) Program siaran dilarang memuat pembenaran bagi terjadinya


pemerkosaan dan/atau menggambarkan pemerkosaan sebagai bukan
kejahatan serius.

Bagian Ketiga
Muatan Seks dalam Lagu dan Klip Video

Pasal 20

(1) Program siaran dilarang berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan
judul dan/atau lirik bermuatan seks, cabul, dan/atau mengesankan
aktivitas seks.

(2) Program siaran yang menampilkan musik dilarang bermuatan adegan


dan/atau lirik yang dapat dipandang menjadikan perempuan sebagai
objek seks.

(3) Program siaran dilarang menggunakan anak-anak dan remaja sebagai


model video klip dengan berpakaian tidak sopan, bergaya dengan
menonjolkan bagian tubuh tertentu, dan/atau melakukan gerakan yang
lazim diasosiasikan sebagai daya tarik seksual.

K omisi Penyiar an Indonesia | 53


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Bagian Keempat
Perilaku Seks

Pasal 21

Program siaran yang menampilkan muatan mengenai pekerja seks komersial


serta orientasi seks dan identitas gender tertentu dilarang memberikan stigma
dan wajib memperhatikan nilai-nilai kepatutan yang berlaku di masyarakat.

Bagian Kelima
Program Bincang-bincang Seks

Pasal 22

(1) Program siaran yang berisikan pembicaraan atau pembahasan mengenai


masalah seks wajib disajikan secara santun, berhati-hati, dan ilmiah
didampingi oleh praktisi kesehatan atau psikolog, dan hanya dapat disiarkan
pada klasifikasi D, pukul 22.00-03.00 waktu setempat.

(2) Program siaran tentang pendidikan seks untuk remaja disampaikan sebagai
pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan disajikan dengan cara yang
sesuai dengan perkembangan usia remaja, secara santun, berhati-hati, dan
ilmiah didampingi oleh praktisi kesehatan atau psikolog.

(3) Program siaran yang berisikan perbincangan atau pembahasan mengenai


orientasi seks dan identitas gender yang berbeda wajib disajikan secara
santun, berhati-hati, dengan melibatkan pihak yang berkompeten dalam
bidangnya.

54 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

BAB XIII
PELARANGAN DAN PEMBATASAN KEKERASAN

Bagian Pertama
Pelarangan Adegan Kekerasan

Pasal 23

Program siaran yang memuat adegan kekerasan dilarang:

a. menampilkan secara detail peristiwa kekerasan, seperti: tawuran,


pengeroyokan, penyiksaan, perang, penusukan, penyembelihan,
mutilasi, terorisme, pengrusakan barang-barang secara kasar atau ganas,
pembacokan, penembakan, dan/atau bunuh diri;

b. menampilkan manusia atau bagian tubuh yang berdarah-darah,


terpotong-potong dan/atau kondisi yang mengenaskan akibat dari
peristiwa kekerasan;

c. menampilkan peristiwa dan tindakan sadis terhadap manusia;

d. menampilkan peristiwa dan tindakan sadis terhadap hewan; dan/atau

e. menampilkan adegan memakan hewan dengan cara yang tidak lazim.

Bagian Kedua
Ungkapan Kasar dan Makian

Pasal 24
(1) Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik
secara verbal maupun nonverbal, yang mempunyai kecenderungan
menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/
mesum/cabul/vulgar, dan/atau menghina agama dan Tuhan.
(2) Kata-kata kasar dan makian sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) di
atas mencakup kata-kata dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan
bahasa asing.

K omisi Penyiar an Indonesia | 55


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Bagian Ketiga
Pembatasan Program Bermuatan Kekerasan

Pasal 25

Promo program siaran yang mengandung muatan adegan kekerasan dibatasi


hanya boleh disiarkan pada klasifikasi D, pukul 22.00-03.00 waktu setempat.

BAB XIV
PELARANGAN DAN PEMBATASAN MATERI SIARAN ROKOK, NAPZA, DAN
MINUMAN BERALKOHOL

Bagian Pertama
Pelarangan Rokok, NAPZA, dan Minuman Beralkohol dalam Program Siaran

Pasal 26
(1) Program siaran dilarang membenarkan penyalahgunaan rokok, NAPZA
(narkotika, psikotropika, dan zat adiktif), dan/atau konsumsi minuman
beralkohol sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.
(2) Program siaran dilarang menampilkan cara pembuatan dan/atau
penggunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) secara
detail.
(3) Program siaran dilarang menampilkan anak-anak dan/atau remaja yang
merokok dan meminum minuman beralkohol.

Bagian Kedua
Pembatasan Rokok, NAPZA, dan Minuman Beralkohol dalam Program Siaran

Pasal 27
(1) Program siaran yang menggambarkan penyalahgunaan NAPZA (narkotika,
psikotropika, dan zat adiktif) secara terbatas dapat disiarkan sepanjang
berhubungan dengan edukasi pencegahan dan/atau rehabilitasi.

56 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

(2) Program siaran yang bermuatan penggambaran pengkonsumsian rokok


dan/atau minuman beralkohol:
a. hanya dapat ditayangkan dalam program yang ditujukan bagi
khalayak dewasa; dan
b. wajib ditampilkan sebagai perilaku dan gaya hidup yang negatif dan/
atau melanggar hukum, serta tidak digambarkan sebagai sesuatu
yang hebat dan menarik.

BAB XV
PELARANGAN DAN PEMBATASAN MUATAN PERJUDIAN

Bagian Pertama
Pelarangan Perjudian dalam Program Siaran

Pasal 28
(1) Program siaran dilarang membenarkan muatan praktek perjudian
sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.
(2) Program siaran dilarang menampilkan cara, teknik, jenis, dan alat
perjudian secara detail.
(3) Program siaran dilarang menampilkan anak-anak dan/atau remaja yang
melakukan kegiatan perjudian.
(4) Program siaran dilarang dijadikan sebagai sarana perjudian.

Bagian Kedua
Pembatasan Perjudian dalam Program Siaran

Pasal 29
(1) Program siaran yang menggambarkan muatan perjudian secara terbatas
dapat disiarkan sepanjang berhubungan dengan edukasi pencegahan
dan/atau rehabilitasi.

K omisi Penyiar an Indonesia | 57


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

(2) Program siaran yang bermuatan penggambaran perjudian:

a. hanya dapat ditayangkan dalam program yang ditujukan bagi


khalayak dewasa; dan

b. wajib ditampilkan sebagai perilaku dan gaya hidup yang negatif


dan/atau melanggar hukum, serta tidak digambarkan sebagai
sesuatu yang hebat dan menarik.

BAB XVI
PELARANGAN DAN PEMBATASAN PROGRAM SIARAN
BERMUATAN MISTIK, HOROR, DAN SUPRANATURAL

Bagian Pertama
Pelarangan Program Siaran Mistik, Horor, dan Supranatural

Pasal 30

(1) Program siaran yang mengandung muatan mistik, horor, dan/atau


supranatural dilarang menampilkan hal-hal sebagai berikut:
a. mayat bangkit dari kubur;
b. mayat dikerubungi hewan;
c. mayat/siluman/hantu yang berdarah-darah;
d. mayat/siluman/hantu dengan pancaindera yang tidak lengkap dan
kondisi mengerikan;
e. orang sakti makan sesuatu yang tidak lazim, seperti: benda tajam,
binatang, batu, dan/atau tanah;
f. memotong anggota tubuh, seperti: lidah, tangan, kepala, dan lain-
lain; dan/atau
g. menusukkan dan/atau memasukkan benda ke anggota tubuh,
seperti: senjata tajam, jarum, paku, dan/atau benang.

58 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

(2) Program siaran yang bermuatan mistik, horor, dan/atau supranatural


yang merupakan bagian dari pertunjukan seni dan budaya asli suku/
etnik bangsa Indonesia dikecualikan dari ketentuan sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (1) huruf e, huruf f, dan huruf g, dan hanya dapat
disiarkan pada klasifikasi D, pukul 22.00-03.00 waktu setempat.

Pasal 31

Program siaran yang menampilkan muatan mistik, horor, dan/atau supranatural


dilarang melakukan rekayasa seolah-olah sebagai peristiwa sebenarnya kecuali
dinyatakan secara tegas sebagai reka adegan atau fiksi.

Bagian Kedua
Pembatasan Program Siaran Mistik, Horor, dan Supranatural

Pasal 32

Program siaran yang menampilkan muatan mistik, horor, dan/atau supranatural


yang menimbulkan ketakutan dan kengerian khalayak dikategorikan sebagai
siaran klasifikasi D, dan hanya dapat disiarkan pada pukul 22.00-03.00 waktu
setempat.

BAB XVII
PENGGOLONGAN PROGRAM SIARAN

Bagian Pertama
Klasifikasi Program Siaran

Pasal 33

(1) Program siaran digolongkan ke dalam 5 (lima) klasifikasi berdasarkan


kelompok usia, yaitu:

a. Klasifikasi P: Siaran untuk anak-anak usia Pra-Sekolah, yakni khalayak


berusia 2-6 tahun;

K omisi Penyiar an Indonesia | 59


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

b. Klasifikasi A: Siaran untuk Anak-anak, yakni khalayak berusia 7 - 12


tahun;

c. Klasifikasi R: Siaran untuk Remaja, yakni khalayak berusia 13 – 17


tahun;

d. Klasifikasi D: Siaran untuk Dewasa, yakni khalayak di atas 18 tahun;


dan

e. Klasifikasi SU: Siaran untuk khalayak berusia di atas 2 tahun.

(2) Klasifikasi program siaran sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1)
harus ditayangkan dalam bentuk karakter huruf dan kelompok usia
penontonnya, yaitu: P (2-6), A (7-12), R (13-17), D (18+), dan SU (2+)
secara jelas dan diletakkan pada posisi atas layar televisi sepanjang acara
berlangsung untuk memudahkan khalayak penonton mengidentifikasi
program siaran.

(3) Klasifikasi program siaran sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) di atas berlaku juga untuk penayangan ulang program siaran.

(4) Program siaran radio wajib menyesuaikan dengan klasifikasi


penggolongan program siaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
pengaturan tentang waktu siaran.

Pasal 34

(1) Program siaran dengan klasifikasi P (2-6), A (7-12) atau R (13-17) harus
disertai dengan imbauan atau peringatan tambahan tentang arahan dan
bimbingan orangtua.
(2) Imbauan atau peringatan tambahan sebagaimana yang dimaksud ayat
(1) di atas ditampilkan pada awal tayangan program siaran.
(3) Imbauan atau peringatan tambahan tentang arahan dan bimbingan
orangtua sebagaimana dimaksud ayat (1) dan (2) di atas tidak serta
merta menggugurkan tanggungjawab hukum lembaga penyiaran.

60 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Bagian Kedua
Klasifikasi P

Pasal 35

(1) Program siaran klasifikasi P adalah program siaran yang khusus dibuat
dan ditujukan untuk anak usia pra-sekolah yang mengandung muatan,
gaya penceritaan, dan tampilan sesuai dengan perkembangan jiwa anak
usia pra-sekolah.

(2) Program siaran klasifikasi P berisikan hiburan dan pendidikan yang


memiliki muatan dan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai sosial dan budaya,
serta budi pekerti yang kuat.

(3) Program siaran klasifikasi P ditayangkan antara pukul 07.00 hingga pukul
09.00 dan antara pukul 15.00 hingga pukul 18.00.

(4) Program siaran klasifikasi P dilarang menampilkan:

a. adegan kekerasan dan/atau berbahaya;

b. adegan seksual sebagaimana dimaksudkan pada Pasal 18.

c. adegan dan muatan yang terkait dengan kekuatan paranormal,


klenik, praktek spiritual magis, horor, dan/atau mistik;

d. muatan yang mendorong anak belajar tentang perilaku yang tidak


pantas dan/atau membenarkan perilaku yang tidak pantas tersebut
sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari;

e. materi yang mengganggu perkembangan kesehatan fisik dan


psikis anak usia pra-sekolah, seperti: perceraian, perselingkuhan,
bunuh diri, pemerkosaan, rokok, minuman beralkohol, dan/atau
penggunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif);

K omisi Penyiar an Indonesia | 61


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

f. iklan obat-obatan untuk meningkatkan kemampuan seksual, iklan


jasa pelayanan seks, iklan pakaian dalam yang menampilkan
visualisasi pakaian dalam, iklan alat tes kehamilan, iklan pembalut
wanita, iklan kondom dan/atau alat pencegah kehamilan lain, promo
program siaran yang masuk klasifikasi remaja dan dewasa, iklan
majalah dan tabloid yang ditujukan bagi pembaca dewasa, dan iklan
alat pembesar payudara dan alat vital;

g. hubungan asmara antara lawan jenis dan sesama jenis; dan

h. jasa pelayanan seksual dan/atau alat bantu seksual.

Bagian Ketiga
Klasifikasi A

Pasal 36
(1) Program siaran klasifikasi A khusus dibuat dan ditujukan untuk anak-
anak serta mengandung muatan, gaya penceritaan, dan tampilan sesuai
dengan perkembangan jiwa anak-anak.
(2) Program siaran klasifikasi A berisikan nilai-nilai pendidikan dan ilmu
pengetahuan, nilai-nilai sosial dan budaya, budi pekerti, hiburan,
apresiasi estetik, dan penumbuhan rasa ingin tahu anak-anak tentang
lingkungan sekitar.
(3) Program siaran klasifikasi A dapat menampilkan nilai-nilai dan perilaku
anti-sosial sepanjang bukan sebagai suatu hal yang dapat dibenarkan
dan diikuti dengan penggambaran sanksi dan/atau akibat atas perilaku
anti-sosial tersebut.
(4) Program siaran klasifikasi A dilarang menampilkan:
a. adegan kekerasan dan/atau berbahaya;
b. adegan seksual sebagaimana dimaksudkan pada Pasal 18.
c. adegan dan muatan yang terkait dengan kekuatan paranormal,
klenik, praktek spiritual magis, horor, dan/atau mistik;

62 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

d. muatan yang mendorong anak belajar tentang perilaku yang tidak


pantas dan/atau membenarkan perilaku yang tidak pantas tersebut
sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari;
e. materi yang mengganggu perkembangan kesehatan fisik dan
psikis anak anak, seperti: perceraian, perselingkuhan, bunuh diri,
pemerkosaan, rokok, minuman beralkohol, dan/atau penggunaan
NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif);
f. iklan obat-obatan untuk meningkatkan kemampuan seksual, iklan
jasa pelayanan seks, iklan pakaian dalam yang menampilkan
visualisasi pakaian dalam, iklan alat tes kehamilan, iklan pembalut
wanita, iklan kondom dan/atau alat pencegah kehamilan lain, promo
program siaran yang masuk klasifikasi remaja dan dewasa, iklan
majalah dan tabloid yang ditujukan bagi pembaca dewasa, dan iklan
alat pembesar payudara dan alat vital;
g. hubungan asmara antara lawan jenis dan sesama jenis; dan
h. jasa pelayanan seksual dan/atau alat bantu seksual.
(5) Program siaran anak-anak diutamakan disiarkan dari pukul 05.00 hingga
pukul 18.00 waktu setempat.

Bagian Keempat
Klasifikasi R

Pasal 37
(1) Program siaran klasifikasi R mengandung muatan, gaya penceritaan, dan
tampilan yang sesuai dengan perkembangan psikologis remaja.
(2) Program siaran klasifikasi R berisikan nilai-nilai pendidikan dan ilmu
pengetahuan, nilai-nilai sosial dan budaya, budi pekerti, hiburan,
apresiasi estetik, dan penumbuhan rasa ingin tahu remaja tentang
lingkungan sekitar.

K omisi Penyiar an Indonesia | 63


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

(3) Program siaran klasifikasi R dapat mengandung pembahasan atau


penggambaran adegan yang terkait dengan seksualitas serta pergaulan
antar pria-wanita sepanjang disajikan dalam konteks pendidikan fisik
dan psikis remaja.
(4) Program siaran klasifikasi R dilarang menampilkan:
a. muatan yang mendorong remaja belajar tentang perilaku yang tidak
pantas dan/atau membenarkan perilaku yang tidak pantas tersebut
sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari;
b. muatan yang mendorong remaja percaya pada kekuatan paranormal,
klenik, praktek spiritual magis, supranatural, dan/atau mistik;
c. materi yang mengganggu perkembangan kesehatan fisik dan psikis
remaja, seperti: seks bebas, gaya hidup konsumtif, hedonistik, dan/
atau horor;
d. jasa pelayanan seksual dan/atau alat bantu seksual;
e. iklan obat-obatan untuk meningkatkan kemampuan seksual, iklan
jasa pelayanan seks, iklan pakaian dalam yang menampilkan
visualisasi pakaian dalam, iklan alat tes kehamilan, iklan kondom
dan/atau alat pencegah kehamilan lain, promo progam siaran yang
masuk klasifikasi dewasa, iklan majalah dan tabloid yang ditujukan
bagi pembaca dewasa, dan iklan alat pembesar payudara dan alat
vital; dan/atau
f. adegan seksual sebagaimana dimaksudkan pada Pasal 18.

Bagian Kelima
Klasifikasi D

Pasal 38

(1) Program siaran klasifikasi D adalah program siaran sebagaimana diatur


pada Pasal 22, Pasal 25, Pasal 27 ayat (2) huruf a, Pasal 29 ayat (2) huruf
a, Pasal 30 ayat (2), Pasal 32, dan Pasal 59 ayat (3).

(2) Program siaran klasifikasi D hanya boleh disiarkan antara pukul 22.00 -
03.00 waktu setempat.

64 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Bagian Keenam
Klasifikasi SU

Pasal 39

Program siaran klasifikasi SU adalah program siaran yang berisikan muatan yang
tidak secara khusus ditujukan untuk anak-anak dan remaja, namun dianggap
layak ditonton oleh anak-anak dan remaja, sebagaimana dimaksud pada Pasal
35, Pasal 36, dan Pasal 37.

BAB XVIII
PROGRAM SIARAN JURNALISTIK

Bagian Satu
Prinsip-Prinsip Jurnalistik

Pasal 40

Program siaran jurnalistik wajib memperhatikan prinsip-prinsip jurnalistik


sebagai berikut:

a. akurat, adil, berimbang, tidak berpihak, tidak beritikad buruk, tidak


menghasut dan menyesatkan, tidak mencampuradukkan fakta
dan opini pribadi, tidak menonjolkan unsur kekerasan, dan tidak
mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan;

b. tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan/atau cabul;

c. menerapkan prinsip praduga tak bersalah dalam peliputan dan/


atau menyiarkan program siaran jurnalistik dan tidak melakukan
penghakiman; dan

K omisi Penyiar an Indonesia | 65


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

d. melakukan ralat atas informasi yang tidak akurat dengan cara:

1) disiarkan segera dalam program lain berikutnya dalam jangka waktu


kurang dari 24 jam setelah diketahui terdapat kekeliruan, kesalahan,
dan/atau terjadi sanggahan atas berita atau isi siaran;

2) mendapatkan perlakuan utama dan setara; dan

3) mengulang menyiarkan ralat tersebut pada kesempatan pertama


dalam program yang sama.

Bagian Kedua
Penggambaran Kembali

Pasal 41

Program siaran jurnalistik yang melakukan penggambaran kembali suatu


peristiwa wajib mengikuti ketentuan sebagai berikut:

a. menyertakan penjelasan yang eksplisit bahwa apa yang disajikan tersebut


adalah reka ulang dengan menampilkan keterangan tertulis dan/atau
pernyataan verbal di awal dan di akhir siaran;

b. dilarang melakukan perubahan atau penyimpangan terhadap fakta atau


informasi yang dapat merugikan pihak yang terlibat;

c. menyebutkan sumber yang dijadikan rujukan atas reka ulang peristiwa


tersebut; dan

d. tidak menyajikan reka ulang yang memperlihatkan secara terperinci cara


dan langkah kejahatan serta cara-cara pembuatan alat kejahatan atau
langkah-langkah operasional aksi kejahatan.

Pasal 42

(1) Pemanfaatan gambar dokumentasi peristiwa tertentu wajib


mencantumkan tanggal dan lokasi peristiwa.

66 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

(2) Peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas meliputi:
kerusuhan, bencana, dan/atau bentrokan.

Bagian Ketiga
Muatan Kekerasan dan Kejahatan serta Kewajiban Penyamaran

Pasal 43

Program siaran bermuatan kekerasan dan/atau kejahatan dalam program


siaran jurnalistik wajib mengikuti ketentuan sebagai berikut:
a. tidak menampilkan gambaran eksplisit dan terperinci tentang cara
membuat dan mengaktifkan bahan peledak;
b. tidak menyajikan rekaman proses interogasi kepolisian terhadap
tersangka tindak kejahatan;
c. tidak menayangkan secara terperinci rekonstruksi yang dilakukan oleh
kepolisian;
d. tidak memberitakan secara terperinci reka ulang kejahatan meskipun
bersumber dari pejabat kepolisian yang berwenang dan/atau fakta
pengadilan;
e. tidak menayangkan reka ulang pemerkosaan dan/atau kejahatan seksual;
f. menyamarkan gambar wajah dan identitas korban kejahatan seksual
dan keluarganya, serta orang yang diduga pelaku kejahatan seksual dan
keluarganya;
g. menyamarkan gambar wajah dan identitas pelaku, korban, dan keluarga
pelaku kejahatan yang pelaku maupun korbannya adalah anak di bawah
umur;
h. tidak menayangkan secara eksplisit dan terperinci adegan dan/atau reka
ulang bunuh diri serta menyamarkan identitas pelaku; dan
i. tidak menayangkan adegan tawuran atau perkelahian secara detail dan
berulang-ulang.

K omisi Penyiar an Indonesia | 67


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Pasal 44

Program siaran jurnalistik wajib menyamarkan gambar dan identitas orang


yang diduga pekerja seks komersial, orang dengan HIV/AIDS, dan pasien dalam
kondisi mengenaskan.

Bagian Keempat
Peliputan Terorisme

Pasal 45

Program siaran jurnalistik tentang peliputan terorisme wajib mengikuti


ketentuan sebagai berikut:
(1) menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara
lengkap dan benar;
(2) tidak melakukan labelisasi berdasarkan suku, agama, ras, dan/atau
antagolongan terhadap pelaku, kerabat, dan/atau kelompok yang diduga
terlibat; dan
(3) tidak membuka dan/atau mendramatisir identitas kerabat pelaku yang
diduga terlibat.

Bagian Kelima
Peliputan Sidang Pengadilan, Kasus Hukum, dan Hukuman Mati

Pasal 46

Program siaran langsung atau siaran tidak langsung pada sidang pengadilan
wajib mengikuti ketentuan penggolongan program siaran yang ditetapkan
dalam peraturan ini.

68 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Pasal 47

Program siaran jurnalistik yang bermuatan wawancara yang dilakukan dengan


tersangka, terdakwa, dan/atau terpidana dalam kasus hukum dilarang:

a. menyebarkan ideologi yang bertentangan dengan peraturan perundang-


undangan yang berlaku; dan

b. menyebarkan pola dan teknik kejahatan yang dilakukan secara terperinci.

Pasal 48

Peliputan pelaksanaan eksekusi hukuman mati dilarang disiarkan.

Bagian Keenam
Peliputan Bencana

Pasal 49

Program siaran jurnalistik tentang peliputan bencana atau musibah wajib


mempertimbangkan proses pemulihan korban, keluarga, dan/atau masyarakat
yang terkena bencana atau musibah.

Pasal 50

Program siaran jurnalistik tentang peliputan bencana atau musibah dilarang:


a. menambah penderitaan atau trauma korban, keluarga, dan masyarakat,
dengan cara memaksa, menekan, dan/atau mengintimidasi untuk
diwawancarai dan/atau diambil gambarnya;
b. menampilkan gambar dan/atau suara saat-saat menjelang kematian;
c. mewawancara anak di bawah umur sebagai narasumber;
d. menampilkan gambar korban atau mayat secara detail dengan close up;
dan/atau
e. menampilkan gambar luka berat, darah, dan/atau potongan organ tubuh.

K omisi Penyiar an Indonesia | 69


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Pasal 51

Program siaran jurnalistik tentang bencana wajib menampilkan narasumber


kompeten dan tepercaya dalam menjelaskan peristiwa bencana secara ilmiah.

BAB XIX
HAK SIAR

Pasal 52

(1) Program siaran yang disiarkan oleh lembaga penyiaran wajib memiliki
dan mencantumkan hak siar.

(2) Program siaran yang memuat penggunaan potongan gambar (footage)


dan/atau potongan suara yang berasal dari lembaga penyiaran lain yang
memiliki hak siar wajib mencantumkan hak siar lembaga penyiaran lain
tersebut secara jelas, menempatkannya dalam konteks yang tepat dan
adil serta tidak merugikan pihak-pihak yang menjadi objek siaran dan
melakukan verifikasi atas kebenaran isinya.

(3) Program siaran yang memuat penggunaan potongan gambar (footage)


dan/atau potongan suara yang berasal dari sumber di luar dari
sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) di atas, wajib menyebutkan
asal sumber serta melakukan verifikasi atas kebenaran isinya.

BAB XX
BAHASA, BENDERA, LAMBANG NEGARA, DAN LAGU KEBANGSAAN

Pasal 53

(1) Program siaran wajib menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar, baik tertulis atau lisan sebagai bahasa pengantar utama.

70 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

(2) Program siaran dapat menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa


pengantar dalam penyelenggaraan program siaran muatan lokal dan,
apabila diperlukan, untuk mendukung program siaran tertentu.

(3) Program siaran dapat menggunakan bahasa asing sebagai bahasa


pengantar dengan ketentuan sebagai berikut:

a. bahasa asing dalam pemberitaan hanya boleh disiarkan paling


banyak 30% (tiga puluh per seratus) dari seluruh waktu siaran per
hari;

b. wajib menyertakan teks dalam Bahasa Indonesia, dengan


pengecualian program khusus berita bahasa asing, pelajaran bahasa
asing, pembacaan kitab suci, siaran olahraga atau siaran langsung;

c. sulih suara paling banyak 30% (tiga puluh per seratus) dari jumlah
program siaran berbahasa asing dari seluruh waktu siaran per hari;
dan

d. program yang disajikan dengan teknologi bilingual tidak termasuk


sebagai program yang disulihsuarakan.

(4) Bahasa isyarat dapat digunakan dalam mata acara tertentu untuk
khalayak berkebutuhan khusus.

Pasal 54

(1) Program siaran yang bermuatan penggunaan Bendera Negara, Lambang


Negara, dan Lagu Kebangsaan tunduk pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
(2) Lagu kebangsaan Indonesia Raya wajib disiarkan pada awal pembukaan
siaran dan lagu wajib nasional wajib disiarkan pada akhir siaran setiap
harinya.
(3) Lagu kebangsaan Indonesia Raya wajib disiarkan pada pukul 06.00 waktu
setempat dan lagu wajib nasional pada pukul 24.00 waktu setempat bagi
lembaga penyiaran yang bersiaran selama 24 jam.

K omisi Penyiar an Indonesia | 71


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

BAB XXI
SENSOR

Pasal 55
(1) Program siaran dalam bentuk film wajib memperoleh dan menampilkan
tanda lulus sensor berupa pernyataan lulus sensor dengan bukti nomor
surat atau registrasi yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang dan
ditayangkan sebelum disiarkan.
(2) Program siaran dalam bentuk promo film dan/atau iklan wajib
memperoleh tanda lulus sensor yang dikeluarkan oleh lembaga yang
berwenang sebelum disiarkan.
(3) Tanda lulus sensor yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang
sebagaimana yang diatur pada ayat (1) dan (2) di atas tidak serta-merta
membuktikan kesesuaian program siaran dengan peraturan ini.

BAB XXII
PROGRAM SIARAN BERLANGGANAN

Pasal 56

Program siaran berlangganan yang berasal dari saluran-saluran asing wajib:


a. melalui sensor internal; dan
b. mematuhi penggolongan program siaran sesuai dengan klasifikasi
program siaran dan mencantumkan kode huruf dan angka usia
sebagaimana dimaksud pada Pasal 33 ayat (2).

Pasal 57

Program Siaran Berlangganan yang berasal dari saluran-saluran asing


sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 56 dilarang menampilkan hal-hal yang
diatur dalam Pasal 18 huruf a, b, c, d, f, dan l, serta Pasal 23 huruf a, b, c, dan e.

72 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

BAB XXIII
SIARAN IKLAN

Pasal 58
(1) Program siaran iklan tunduk pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan berpedoman pada Etika Pariwara Indonesia.
(2) Program siaran iklan niaga untuk lembaga penyiaran swasta dibatasi
paling banyak 20% (dua puluh per seratus) dari seluruh waktu siaran per
hari.
(3) Program siaran iklan niaga untuk lembaga penyiaran publik dibatasi
paling banyak 15% (lima belas per seratus) dari seluruh waktu siaran per
hari.
(4) Program siaran iklan dilarang menayangkan:
a. promosi yang dihubungkan dengan ajaran suatu agama, ideologi,
pribadi dan/atau kelompok, yang menyinggung perasaan dan/
atau merendahkan martabat agama lain, ideologi lain, pribadi lain,
gender atau kelompok lain;
b. promosi minuman beralkohol atau sejenisnya;
c. promosi rokok yang memperagakan wujud rokok;
d. adegan seksual sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 18;
e. adegan kekerasan sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 23;
f. upaya menyembunyikan, menyesatkan, membingungkan
atau membohongi masyarakat tentang kualitas, kinerja, harga
sebenarnya, dan/atau ketersediaan dari produk dan/atau jasa
yang diiklankan;
g. eksploitasi anak di bawah umur 12 (dua belas) tahun; dan/atau
h. hal-hal yang bertentangan dengan kesusilaan masyarakat dan
nilai-nilai agama.
(5) Azan sebagai tanda waktu shalat dilarang disisipi dan/atau ditempeli
(built in) iklan.

K omisi Penyiar an Indonesia | 73


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Pasal 59

(1) Program siaran iklan rokok hanya boleh disiarkan pada pukul 21.30 –
05.00 waktu setempat.

(2) Program siaran yang berisi segala bentuk dan strategi promosi yang
dibuat oleh produsen rokok wajib dikategorikan sebagai iklan rokok.

(3) Program siaran iklan produk dan jasa untuk dewasa yang berkaitan
dengan obat dan alat kontrasepsi, alat deteksi kehamilan, dan vitalitas
seksual hanya dapat disiarkan pada klasifikasi D, pukul 22.00-03.00
waktu setempat.

Pasal 60

(1) Program siaran iklan layanan masyarakat wajib disiarkan di lembaga


penyiaran swasta paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari seluruh
waktu siaran iklan niaga per hari.
(2) Program siaran iklan layanan masyarakat wajib disiarkan di lembaga
penyiaran publik paling sedikit 30% (tiga puluh per seratus) dari seluruh
waktu siaran iklan per hari.
(3) Program siaran iklan layanan masyarakat wajib ditayangkan secara cuma-
cuma untuk iklan layanan masyarakat yang menyangkut: keselamatan
umum, kewaspadaan pada bencana alam, kesehatan masyarakat, dan
kepentingan umum lainnya yang disampaikan oleh badan-badan publik.
(4) Di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) di atas, program
siaran iklan layanan masyarakat wajib diberikan potongan harga khusus.
(5) Program siaran iklan layanan masyarakat yang ditayangkan pada masa
kampanye pemilihan umum dan/atau pemilihan umum kepala daerah
harus mengikuti peraturan perundang-undangan terkait dan peraturan
teknis yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang.
(6) Waktu siar program iklan layanan masyarakat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), (2), (3), (4) dan (5) di atas wajib memperhatikan penyebaran
tayangan di setiap program siaran per hari.

74 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Pasal 61

Program siaran iklan untuk produk rokok dan obat yang tidak dibacakan sebagai
narasi, wajib menayangkan peringatan konsumen dengan panjang sekurang-
kurangnya 3 detik untuk semua durasi spot.

Pasal 62

Program siaran iklan televisi tidak boleh menggunakan tanda atau lambang
tertentu sebagai petunjuk adanya keterangan tambahan.

Pasal 63

Durasi siaran iklan dalam bentuk tulisan, narasi, gambar, dan/atau grafis
yang menempel dan/atau disisipkan pada program lain dihitung dalam total
persentase durasi iklan per hari.

Pasal 64

Program siaran berisi perbincangan tentang produk barang, jasa, dan/


atau kegiatan tertentu dikategorikan sebagai iklan dan dihitung dalam total
persentase durasi iklan per hari.

Pasal 65

Program siaran jurnalistik dilarang disisipi dan/atau ditempeli (built in) iklan
produk barang, jasa, dan/atau kegiatan di segmen tertentu, tanpa disertai
batas yang jelas dalam bentuk bumper.

Pasal 66

(1) Promo program siaran adalah iklan yang tidak dihitung dalam total
persentase durasi iklan terhadap program per hari.
(2) Penayangan promo program siaran wajib menyesuaikan dengan
penggolongan program siaran.

K omisi Penyiar an Indonesia | 75


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

BAB XXIV
PROGRAM ASING

Pasal 67

Program siaran asing dapat disiarkan dengan ketentuan tidak melebihi 30%
(tiga puluh per seratus) dari waktu siaran per hari.

BAB XXV
PROGRAM LOKAL DALAM SISTEM STASIUN JARINGAN

Pasal 68

(1) Program siaran lokal wajib diproduksi dan ditayangkan dengan durasi
paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk televisi dan paling sedikit
60% (enam puluh per seratus) untuk radio dari seluruh waktu siaran
berjaringan per hari.

(2) Program siaran lokal sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) di atas
paling sedikit 30% (tiga puluh per seratus) di antaranya wajib ditayangkan
pada waktu prime time waktu setempat.

(3) Program siaran lokal sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) secara
bertahap wajib ditingkatkan hingga paling sedikit 50% (lima puluh per
seratus) untuk televisi dari seluruh waktu siaran berjaringan per hari.

BAB XXVI
PROGRAM PENGGALANGAN DANA DAN BANTUAN

Pasal 69
(1) Program siaran yang bermuatan penggalangan dana dan bantuan tidak
boleh menggunakan gambar, suara korban korban bencana, dan/atau
keluarga korban untuk trailler atau filler program penggalangan dana
bencana.
76 | K omisi Penyiar an Indonesia
Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

(2) Dana yang dikumpulkan dari khalayak harus dinyatakan sebagai


sumbangan masyarakat.
(3) Sumbangan masyarakat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) di atas
tidak dapat digunakan dalam kegiatan tanggung jawab sosial lembaga
penyiaran (Corporate Social Responsibility/CSR) sebagai pengumpul dan
pengelola dana sumbangan.

BAB XXVII
PROGRAM KUIS, UNDIAN BERHADIAH, DAN PERMAINAN BERHADIAH LAIN

Pasal 70
(1) Program kuis, undian berhadiah, dan/atau permainan berhadiah lainnya
wajib mendapatkan izin dari lembaga yang berwenang.
(2) Program kuis, undian berhadiah, dan/atau permainan berhadiah lainnya
dilarang dijadikan sarana perjudian dan penipuan.
(3) Program siaran kuis, undian berhadiah, dan/atau permainan berhadiah
lainnya yang melibatkan penggunaan fasilitas telepon atau Short
Message Services (SMS) wajib memberitahukan secara jelas, lengkap,
dan terbuka mengenai tarif pulsa yang dikenakan atas keikutsertaan
serta cara menghentikan keikutsertaan.

BAB XXVIII
SIARAN PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH

Pasal 71
(1) Program siaran wajib menyediakan waktu yang cukup bagi peliputan
Pemilihan Umum dan/atau Pemilihan Umum Kepala Daerah.
(2) Program siaran wajib bersikap adil dan proporsional terhadap para
peserta Pemilihan Umum dan/atau Pemilihan Umum Kepala Daerah.

K omisi Penyiar an Indonesia | 77


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

(3) Program siaran dilarang memihak salah satu peserta Pemilihan Umum
dan/atau Pemilihan Umum Kepala Daerah.
(4) Program siaran dilarang dibiayai atau disponsori oleh peserta Pemilihan
Umum dan/atau Pemilihan Umum Kepala Daerah, kecuali dalam bentuk
iklan.
(5) Program siaran wajib tunduk pada peraturan perundang-undangan
serta peraturan dan kebijakan teknis tentang Pemilihan Umum dan/atau
Pemilihan Umum Kepala Daerah yang ditetapkan oleh lembaga yang
berwenang.
(6) Program siaran iklan kampanye tunduk pada peraturan perundang-
undangan, serta peraturan dan kebijakan teknis tentang kampanye yang
ditetapkan oleh lembaga yang berwenang.

BAB XXIX
PENGAWASAN, SOSIALISASI, DAN REKAMAN

Bagian Pertama
Pengawasan

Pasal 72

KPI mengawasi pelaksanaan Standar Program Siaran dan memberikan sanksi


administratif terhadap pelanggaran Standar Program Siaran.

Bagian Kedua
Sosialisasi

Pasal 73

Lembaga penyiaran wajib mensosialisasikan isi Standar Program Siaran


kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembuatan, pengolahan,
pembelian, penyiaran, dan pendanaan program siaran lembaga penyiaran yang
bersangkutan.

78 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Bagian Ketiga
Materi Rekaman Siaran

Pasal 74

(1) Lembaga penyiaran wajib menyimpan materi rekaman program siaran


secara baik dan benar paling sedikit selama satu tahun setelah disiarkan.
(2) Untuk kepentingan penelitian, penilaian, dan/atau proses pengambilan
keputusan sanksi administratif oleh KPI berdasarkan aduan masyarakat,
lembaga penyiaran wajib menyerahkan materi rekaman program siaran
yang diadukan bila diminta KPI secara resmi.

BAB XXX
SANKSI DAN PENANGGUNGJAWAB

Pasal 75
(1) Program siaran yang terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar
Standar Program Siaran dijatuhkan sanksi administratif oleh KPI.
(2) Sanksi administratif sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) di atas
dapat berupa:
a. teguran tertulis;
b. penghentian sementara mata acara yang bermasalah setelah melalui
tahap tertentu;
c. pembatasan durasi dan waktu siaran;
d. denda administratif;
e. pembekuan kegiatan siaran untuk waktu tertentu;
f. tidak diberi perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran; atau
g. pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran.

K omisi Penyiar an Indonesia | 79


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Pasal 76

(1) Bila terjadi pelanggaran atas Standar Program Siaran, maka yang
bertanggungjawab adalah lembaga penyiaran yang menyiarkan program
yang mengandung pelanggaran tersebut.

(2) Ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) di atas berlaku
untuk seluruh jenis program, baik program yang diproduksi sendiri, yang
dibeli dari pihak lain, yang merupakan kerjasama produksi, maupun yang
disponsori.
Pasal 77

(1) Setiap pelanggaran yang terbukti dilakukan oleh lembaga penyiaran akan
tercatat secara administratif dan akan mempengaruhi keputusan KPI
berikutnya, termasuk dalam hal perpanjangan izin lembaga penyiaran
yang bersangkutan.

(2) Bila KPI menemukan pelanggaran yang dilakukan oleh lembaga penyiaran,
KPI akan mengumumkan pelanggaran tersebut kepada publik.

Pasal 78

(1) KPI dapat mewajibkan lembaga penyiaran untuk menyiarkan dan


menerbitkan pernyataan apabila aduan dari setiap orang atau kelompok
yang mengetahui adanya pelanggaran atas P3 dan SPS terbukti benar.

(2) Waktu dan bentuk penyiaran serta penerbitan pernyataan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) di atas ditentukan oleh KPI melalui surat
keputusan.

80 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

BAB XXXI
SANKSI ADMINISTRATIF

Bagian Pertama
Teguran Tertulis

Pasal 79

(1) Program siaran yang melanggar sebagaimana diatur pada ketentuan


Pasal 6; Pasal 7 huruf b, c, dan d; Pasal 8; Pasal 9; Pasal 10 ayat (1); Pasal
11; Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2); Pasal 14; Pasal 15; Pasal 16; Pasal 17;
Pasal 18 huruf e, g, h, i, j, dan k; Pasal 19; Pasal 20 ayat (3); Pasal 21;
Pasal 22; Pasal 23 huruf d; Pasal 25; Pasal 26; Pasal 27 ayat (2); Pasal 28
ayat (1), ayat (2) dan ayat (3); Pasal 29 ayat (2); Pasal 30 ayat (1) huruf
a, b, c, d, e, dan g dan ayat (2); Pasal 31; Pasal 32; Pasal 33 ayat (2), ayat
(3), dan ayat (4); Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2); Pasal 35 ayat (4); Pasal 36
ayat (4); Pasal 37 ayat (4); Pasal 38 ayat (2); Pasal 39; Pasal 40; Pasal 41;
Pasal 42; Pasal 43; Pasal 44; Pasal 45; Pasal 46; Pasal 47; Pasal 49; Pasal
50 huruf a dan c; Pasal 51; Pasal 52; Pasal 53; Pasal 54; Pasal 55 ayat (1)
dan ayat (2); Pasal 56; Pasal 58 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) huruf d,
f, g, h, dan ayat (5); Pasal 59; Pasal 60; Pasal 61; Pasal 62; Pasal 65; Pasal
66 ayat (2); Pasal 67; Pasal 68; Pasal 69; Pasal 70; Pasal 71, dikenai sanksi
administratif berupa teguran tertulis oleh KPI.

(2) Jangka waktu pengenaan sanksi administratif berupa teguran tertulis


pertama dan kedua atas pelanggaran yang dilakukan oleh lembaga
penyiaran paling sedikit selama 7 (tujuh) hari kalender.

(3) Dalam hal lembaga penyiaran tidak memperhatikan teguran pertama


dan kedua, KPI akan memberikan sanksi administratif lain sebagaimana
diatur pada ketentuan Pasal 75 ayat (2).

K omisi Penyiar an Indonesia | 81


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Bagian Kedua
Penghentian Sementara

Pasal 80

(1) Program siaran yang melanggar sebagaimana diatur pada ketentuan


Pasal 7 huruf a; Pasal 18 huruf a, b, c, d, f, dan l; Pasal 20 ayat (1) dan ayat
(2); Pasal 23 huruf a, b, c, dan e; Pasal 24; Pasal 28 ayat (4); Pasal 30 ayat
(1) huruf f; Pasal 48; Pasal 50 huruf b, d, dan e; Pasal 57; Pasal 58 ayat (4)
huruf a, b, c, d, dan e; dan Pasal 70 ayat (2), dikenai sanksi administratif
berupa penghentian sementara mata acara yang bermasalah setelah
melalui tahap tertentu.

(2) Selama waktu pelaksanaan sanksi administratif penghentian sementara


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas berlangsung, lembaga
penyiaran dilarang menyajikan program siaran dengan format sejenis
pada waktu siar yang sama atau waktu yang lain.

(3) Dalam hal lembaga penyiaran tidak melaksanakan ketentuan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setelah diberikan peringatan
tertulis, maka program siaran yang mendapat sanksi administratif
penghentian sementara tersebut dikenakan sanksi administratif lain
sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 75 ayat (2).

Bagian Ketiga
Sanksi Denda

Pasal 81

Program siaran iklan niaga yang melebihi 20% (dua puluh persen) dari seluruh
waktu siaran per hari sebagaimana dimaksud pada Pasal 58 ayat (2), setelah
mendapat teguran tertulis sebanyak 2 (dua) kali, dikenai sanksi administratif
berupa denda administratif untuk jasa penyiaran radio paling banyak
Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan untuk jasa penyiaran televisi paling
banyak Rp.1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

82 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Pasal 82

Program siaran iklan rokok yang disiarkan di luar pukul 21.30 – 05.00 waktu
setempat sebagaimana dimaksud pada Pasal 59 ayat (1), setelah mendapat
teguran tertulis sebanyak 2 (dua) kali, dikenai sanksi administratif berupa
denda administratif untuk jasa penyiaran radio paling banyak Rp.100.000.000,-
(seratus juta rupiah) dan untuk jasa penyiaran televisi paling banyak
Rp.1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

Pasal 83

Lembaga penyiaran swasta yang tidak menyediakan waktu siaran untuk program
siaran iklan layanan masyarakat paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari
seluruh waktu siaran iklan niaga per hari sebagaimana dimaksud pada Pasal 60
ayat (1), setelah mendapat teguran tertulis sebanyak 2 (dua) kali, dikenai sanksi
administratif berupa denda administratif untuk jasa penyiaran radio paling
banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan untuk jasa penyiaran televisi
paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

Pasal 84

Dalam hal lembaga penyiaran swasta tidak melaksanakan denda administratif


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81, Pasal 82, dan Pasal 83 dalam jangka
waktu 30 (tiga puluh) hari kalender setelah denda administratif dijatuhkan, maka
sanksi ditingkatkan menjadi pembekuan kegiatan siaran sampai dipenuhinya
kewajiban membayar denda administratif.

Bagian Keempat
Tata Cara Penjatuhan Sanksi

Pasal 85
(1) Penjatuhan sanksi administratif berupa teguran tertulis pertama dan
kedua dapat dilakukan oleh KPI tanpa melalui tahapan klarifikasi dari
lembaga penyiaran.

K omisi Penyiar an Indonesia | 83


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

(2) Penjatuhan sanksi administratif di luar ketentuan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) di atas, dilakukan melalui tahapan klarifikasi dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. KPI menyampaikan surat undangan pemeriksaan pelanggaran
kepada lembaga penyiaran yang diduga melakukan pelanggaran
setelah ditetapkan dalam rapat pleno KPI;
b. Setiap lembaga penyiaran yang diminta melakukan klarifikasi
wajib memenuhi undangan KPI dan diwakili oleh direksi dan/atau
pejabat pengambil keputusan yang berwenang dan bertanggung
jawab terhadap program siaran yang melanggar;
c. Dalam hal lembaga penyiaran tidak memenuhi undangan dari
KPI dan/atau hanya memberikan klarifikasi secara tertulis,
maka lembaga penyiaran yang bersangkutan dianggap telah
menggunakan haknya untuk menyampaikan klarifikasi terhadap
pelanggaran yang dilakukan;
d. Sidang pemeriksaan pelanggaran dipimpin oleh Ketua, Wakil
Ketua atau Anggota KPI yang ditunjuk untuk memimpin sidang
pemeriksaan pelanggaran;
e. Sidang pemeriksaan pelanggaran dihadiri sekurang-kurangnya
2 (dua) orang Anggota KPI dan dituangkan dalam berita acara
Pemeriksaan yang ditandatangani oleh perwakilan lembaga
penyiaran dan Anggota KPI yang hadir;
f. Sidang pemeriksaan pelanggaran dilakukan secara tertutup,
didokumentasikan secara administratif, dan tidak diumumkan
kepada publik;
g. Dokumen pemeriksaan, bukti rekaman pelanggaran, dokumen
temuan pemantauan, dan berita acara pemeriksaan menjadi
bahan bukti pendukung dalam penjatuhan sanksi; dan
h. Hasil pemeriksaan pelanggaran selanjutnya dilaporkan ke rapat
pleno KPI yang akan memutuskan dan/atau menetapkan jenis
sanksi administratif yang dijatuhkan atas pelanggaran yang
dilakukan oleh lembaga penyiaran.

84 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Pasal 86

(1) Penjatuhan setiap jenis sanksi administratif wajib dilakukan oleh KPI
dalam rapat pleno.

(2) Rapat pleno penjatuhan sanksi administratif dilakukan oleh KPI selambat-
lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah proses pemeriksaan pelanggaran.

(3) Penetapan jenis sanksi administratif sebagaimana yang dimaksud


pada Pasal 85 ayat (2) dilakukan dengan mempertimbangkan
hasil klarifikasi yang didukung dengan bukti-bukti yang meliputi:
bukti aduan, bukti rekaman, dan/atau bukti hasil analisis.

(4) Keputusan rapat pleno penjatuhan sanksi administratif sebagaimana


yang dimaksud pada Pasal 85 ayat (2) dituangkan dalam berita acara
yang ditandatangani oleh Anggota KPI yang menghadiri rapat pleno.

Pasal 87

(1) Sanksi denda administratif di luar ketentuan sebagaimana diatur pada


Pasal 81, Pasal 82, dan Pasal 83 dapat dijatuhkan berdasarkan sanksi
denda administratif yang diatur dalam Undang-Undang Penyiaran,
Peraturan Pemerintah, serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar
Program Siaran.

(2) Pembayaran denda administratif dilakukan oleh lembaga penyiaran


paling lambat 14 (empat belas) hari kalender sejak surat keputusan
penjatuhan sanksi denda administratif diterima.

(3) Pembayaran denda administratif oleh lembaga penyiaran dilakukan pada


kantor kas negara sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang
berlaku.

(4) Dalam pelaksanaan sanksi denda administratif yang dibayarkan kepada


kas negara, KPI melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan
RI untuk memperoleh laporan pembayaran pelaksanaan sanksi denda
administratif.

K omisi Penyiar an Indonesia | 85


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

(5) Lembaga penyiaran wajib menyampaikan salinan tanda bukti pembayaran


denda administratif kepada KPI dan KPI wajib mencatat serta membuat
laporan keuangan tentang pembayaran denda administratif secara
berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 88

(1) Sanksi administratif pembekuan kegiatan siaran untuk waktu tertentu dan
sanksi administratif pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran hanya
dapat dilakukan setelah adanya putusan pengadilan yang memperoleh
kekuatan hukum tetap.

(2) Penyampaian suatu perkara kepada lembaga peradilan disebabkan


terjadinya pelanggaran oleh lembaga penyiaran dilakukan oleh KPI
berdasarkan keputusan rapat pleno dan dilengkapi dengan berita acara
rapat.

(3) Dasar penyampaian suatu perkara kepada lembaga peradilan untuk


penetapan sanksi administratif pembekuan kegiatan siaran untuk waktu
tertentu dan sanksi administratif pencabutan izin penyelenggaraan
penyiaran dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Pasal 89

(1) Keputusan penjatuhan sanksi administratif dibuat dalam surat keputusan


KPI.

(2) Surat keputusan KPI mengenai sanksi administratif sebagaimana yang


dimaksud pada Pasal 85 ayat (2) diberikan dalam sidang khusus KPI
dengan agenda penyampaian keputusan penjatuhan sanksi administratif.

(3) Sidang khusus KPI sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (dua) di atas wajib
dihadiri oleh lembaga penyiaran yang diwakili oleh direksi dan/atau
pejabat pengambil keputusan yang berwenang dan bertanggung jawab
terhadap program siaran yang melanggar.

86 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

(4) Proses sidang khusus penyampaian keputusan dituangkan dalam berita


acara yang ditandatangani oleh pihak lembaga penyiaran dan Anggota
KPI yang hadir.

Pasal 90

(1) Lembaga penyiaran berhak mengajukan keberatan atas surat keputusan


KPI mengenai sanksi administratif.

(2) Keberatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) di atas disampaikan
kepada KPI secara tertulis paling lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak
tanggal surat keputusan mengenai sanksi administratif KPI diterima.

(3) KPI wajib mempelajari keberatan yang disampaikan oleh lembaga


penyiaran sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1).

(4) Tanggapan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) di atas diputuskan
melalui rapat pleno yang dilengkapi dengan berita acara rapat.

(5) KPI wajib menyampaikan tanggapan atas keberatan lembaga penyiaran


secara tertulis paling lambat 7 (tujuh) hari setelah rapat pleno
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) di atas dilaksanakan.

(6) Isi tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) di atas dapat berupa
diterima atau ditolaknya keberatan.

(7) Bila rapat pleno memutuskan keberatan diterima, KPI mengubah dan/
atau memperbaiki surat keputusan KPI mengenai sanksi administratif.

(8) Jika lembaga penyiaran mengajukan keberatan atas sanksi administratif,


maka pelaksanaan surat keputusan KPI mengenai sanksi administratif
dapat dilaksanakan setelah KPI menyampaikan keputusan berupa
tanggapan atas keberatan yang diajukan lembaga penyiaran.

(9) Hak mengajukan keberatan atas surat keputusan KPI mengenai sanksi
administratif hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali.

K omisi Penyiar an Indonesia | 87


2012 | Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS)

Pasal 91

(1) KPI wajib membuat dokumen rekapitulasi penjatuhan sanksi administratif


setiap lembaga penyiaran.

(2) KPI wajib mengumumkan kepada publik setiap sanksi administratif yang
dijatuhkan kepada lembaga penyiaran.

(3) KPI dapat menyampaikan dokumen rekapitulasi sanksi administratif


yang telah diberikan kepada lembaga penyiaran kepada publik dan/atau
pihak-pihak yang berkepentingan.

(4) Dokumen rekapitulasi sanksi administratif menjadi dasar pertimbangan


bagi KPI dalam memproses perpanjangan izin lembaga penyiaran.

BAB XXXII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 92

Standar Program Siaran secara berkala dinilai kembali oleh KPI sesuai dengan
perubahan Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia, peraturan
perundang-undangan dan perkembangan norma-norma yang berlaku, serta
pandangan umum dari masyarakat.

Pasal 93

Pada saat Peraturan KPI ini mulai berlaku, maka Peraturan Komisi Penyiaran
Indonesia Nomor 03/P/KPI/12/2009 tentang Standar Program Siaran
dinyatakan tidak berlaku.

88 | K omisi Penyiar an Indonesia


Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran (SPS) | 2012

Pasal 94

Peraturan KPI ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta,

Pada tanggal 22 Maret 2012

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Pusat,

Mochamad Riyanto, S.H., M.Si

K omisi Penyiar an Indonesia | 89


-1-

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 35 TAHUN 2014
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG
PERLINDUNGAN ANAK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin


kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk
perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak
asasi manusia;
b. bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. bahwa anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda
penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran
strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga wajib
dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak
manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran
hak asasi manusia;
d. bahwa dalam rangka meningkatkan perlindungan
terhadap anak perlu dilakukan penyesuaian terhadap
beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d
perlu membentuk Undang-Undang tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak;
Mengingat : 1. Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28B ayat (2), Pasal 28G ayat
(2), dan Pasal 28I ayat (2), Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang


Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik
Indonesia . . .
-2-
Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);

3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem


Peradilan Pidana Anak (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 153, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5332);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA


dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-


UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG
PERLINDUNGAN ANAK.

Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235) diubah
sebagai berikut:

1. Ketentuan angka 7, angka 8, angka 12, angka 15, dan


angka 17 diubah, di antara angka 15 dan angka 16
disisipkan 1 (satu) angka, yakni angka 15a, dan
ditambah 1 (satu) angka yakni angka 18, sehingga Pasal
1 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan.
2. Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya
agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat
dan martabat . . .
-3-
dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
3. Keluarga adalah unit terkecil dalam
masyarakat yang terdiri atas suami istri, atau
suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya,
atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah
dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai
dengan derajat ketiga.
4. Orang Tua adalah ayah dan/atau ibu kandung,
atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau
ibu angkat.
5. Wali adalah orang atau badan yang dalam
kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh
sebagai Orang Tua terhadap Anak.
6. Anak Terlantar adalah Anak yang tidak terpenuhi
kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental,
spiritual, maupun sosial.
7. Anak Penyandang Disabilitas adalah Anak yang
memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual,
atau sensorik dalam jangka waktu lama yang
dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap
masyarakatnya dapat menemui hambatan yang
menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan
efektif berdasarkan kesamaan hak.
8. Anak yang Memiliki Keunggulan adalah Anak yang
mempunyai kecerdasan luar biasa atau memiliki
potensi dan/atau bakat istimewa tidak terbatas
pada kemampuan intelektual, tetapi juga pada
bidang lain.
9. Anak Angkat adalah Anak yang haknya dialihkan
dari lingkungan kekuasaan Keluarga Orang Tua,
Wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung
jawab atas perawatan, pendidikan, dan
membesarkan Anak tersebut ke dalam lingkungan
Keluarga Orang Tua angkatnya berdasarkan
putusan atau penetapan pengadilan.
10. Anak Asuh adalah Anak yang diasuh oleh
seseorang atau lembaga untuk diberikan
bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan,
dan kesehatan karena Orang Tuanya atau salah

Satu . . .
-4-
satu Orang Tuanya tidak mampu menjamin
tumbuh kembang Anak secara wajar.
11. Kuasa Asuh adalah kekuasaan Orang Tua untuk
mengasuh, mendidik, memelihara, membina,
melindungi, dan menumbuhkembangkan Anak
sesuai dengan agama yang dianutnya dan sesuai
dengan kemampuan, bakat, serta minatnya.
12. Hak Anak adalah bagian dari hak asasi manusia
yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh
Orang Tua, Keluarga, masyarakat, negara,
pemerintah, dan pemerintah daerah.
13. Masyarakat adalah perseorangan, Keluarga,
kelompok, dan organisasi sosial dan/atau
organisasi kemasyarakatan.
14. Pendamping adalah pekerja sosial yang
mempunyai kompetensi profesional dalam
bidangnya.
15. Perlindungan Khusus adalah suatu bentuk
perlindungan yang diterima oleh Anak dalam
situasi dan kondisi tertentu untuk mendapatkan
jaminan rasa aman terhadap ancaman yang
membahayakan diri dan jiwa dalam tumbuh
kembangnya.
15a. Kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap Anak
yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau
penelantaran, termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, atau
perampasan kemerdekaan secara melawan
hukum.
16. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau
korporasi.
17. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut
Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia
yang memegang kekuasaan pemerintahan negara
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
18. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, dan
walikota serta perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan.

2. Ketentuan . . .
-5-
2. Ketentuan Pasal 6 diubah dan penjelasan Pasal 6
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 6
Setiap Anak berhak untuk beribadah menurut
agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan
tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan Orang
Tua atau Wali

3. Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) diubah dan di antara


ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat
(1a) sehingga Pasal 9 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 9
(1) Setiap Anak berhak memperoleh pendidikan dan
pengajaran dalam rangka pengembangan
pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai
dengan minat dan bakat.

(1a) Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan


di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan
Kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga
kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau
pihak lain.

(2) Selain mendapatkan Hak Anak sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) dan ayat (1a), Anak
Penyandang Disabilitas berhak memperoleh
pendidikan luar biasa dan Anak yang memiliki
keunggulan berhak mendapatkan pendidikan
khusus.

4. Ketentuan Pasal 12 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 12
Setiap Anak Penyandang Disabilitas berhak
memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan
pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.

5. Ketentuan Pasal 14 ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat


(2) dan penjelasan Pasal 14 diubah sehingga Pasal 14
berbunyi sebagai berikut:

Pasal 14 ….….
-6-
Pasal 14
(1) Setiap Anak berhak untuk diasuh oleh Orang
Tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau
aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa
pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik
bagi Anak dan merupakan pertimbangan
terakhir.
(2) Dalam hal terjadi pemisahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Anak tetap berhak:
a. bertemu langsung dan berhubungan pribadi
secara tetap dengan kedua Orang Tuanya;
b. mendapatkan pengasuhan, pemeliharaan,
pendidikan dan perlindungan untuk proses
tumbuh kembang dari kedua Orang Tuanya
sesuai dengan kemampuan, bakat, dan
minatnya;
c. memperoleh pembiayaan hidup dari kedua
Orang Tuanya; dan
d. memperoleh Hak Anak lainnya.

6. Ketentuan Pasal 15 ditambah 1 (satu) huruf, yakni


huruf f, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 15
Setiap Anak berhak untuk memperoleh perlindungan
dari:
a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik;
b. pelibatan dalam sengketa bersenjata;
c. pelibatan dalam kerusuhan sosial;
d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur
Kekerasan;
e. pelibatan dalam peperangan; dan
f. kejahatan seksual.
7. Ketentuan Pasal 20 diubah, sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 20
Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat,
Keluarga, dan Orang Tua atau Wali berkewajiban dan
bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan
Perlindungan Anak

8. Ketentuan . . .
-7-
8. Ketentuan mengenai judul Bagian Kedua pada BAB IV
diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Bagian Kedua
Kewajiban dan Tanggung Jawab
Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah
9. Ketentuan Pasal 21 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 21
(1) Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah
berkewajiban dan bertanggung jawab
menghormati pemenuhan Hak Anak tanpa
membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis
kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status
hukum, urutan kelahiran, dan kondisi fisik
dan/atau mental.
(2) Untuk menjamin pemenuhan Hak Anak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), negara
berkewajiban untuk memenuhi, melindungi, dan
menghormati Hak Anak.
(3) Untuk menjamin pemenuhan Hak Anak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah
berkewajiban dan bertanggung jawab dalam
merumuskan dan melaksanakan kebijakan di
bidang penyelenggaraan Perlindungan Anak.
(4) Untuk menjamin pemenuhan Hak Anak dan
melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3), Pemerintah Daerah berkewajiban
dan bertanggung jawab untuk melaksanakan dan
mendukung kebijakan nasional dalam
penyelenggaraan Perlindungan Anak di daerah.
(5) Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
dapat diwujudkan melalui upaya daerah
membangun kabupaten/kota layak Anak.

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan


kabupaten/kota layak Anak sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan
Presiden.
10. Ketentuan Pasal 22 diubah dan penjelasan Pasal 22
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 22 . . .
-8-

Pasal 22
Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah
berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan
dukungan sarana, prasarana, dan ketersediaan sumber
daya manusia dalam penyelenggaraan Perlindungan
Anak.
11. Ketentuan Pasal 23 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 23
(1) Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah
menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan
kesejahteraan Anak dengan memperhatikan hak
dan kewajiban Orang Tua, Wali, atau orang lain
yang secara hukum bertanggung jawab terhadap
Anak.
(2) Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah
mengawasi penyelenggaraan Perlindungan Anak.
12. Ketentuan Pasal 24 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:

Pasal 24
Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah menjamin
Anak untuk mempergunakan haknya dalam
menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan
tingkat kecerdasan Anak.
13. Ketentuan Pasal 25 ditambah 1 (satu) ayat, yakni ayat
(2), sehingga Pasal 25 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 25
(1) Kewajiban dan tanggung jawab Masyarakat
terhadap Perlindungan Anak dilaksanakan
melalui kegiatan peran Masyarakat dalam
penyelenggaraan Perlindungan Anak.
(2) Kewajiban dan tanggung jawab Masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dengan melibatkan organisasi
kemasyarakatan, akademisi, dan pemerhati Anak.
14. Ketentuan mengenai judul Bagian Keempat pada BAB IV
diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Bagian Keempat ... .


.
-9-
Bagian Keempat
Kewajiban dan Tanggung Jawab Orang Tua dan Keluarga
15. Ketentuan ayat (1) Pasal 26 ditambah 1 (satu) huruf,
yakni huruf d dan ayat (2) diubah sehingga Pasal 26
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 26
(1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab
untuk:
a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan
melindungi Anak;
b. menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan
kemampuan, bakat, dan minatnya;
c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia
Anak; dan
d. memberikan pendidikan karakter dan
penanaman nilai budi pekerti pada Anak.

(2) Dalam hal Orang Tua tidak ada, atau tidak


diketahui keberadaannya, atau karena suatu
sebab tidak dapat melaksanakan kewajiban dan
tanggung jawabnya, kewajiban dan tanggung
jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
beralih kepada Keluarga, yang dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

16. Ketentuan ayat (4) Pasal 27 diubah, sehingga Pasal 27


berbunyi sebagai berikut:
Pasal 27
(1) Identitas diri setiap Anak harus diberikan sejak
kelahirannya.
(2) Identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dituangkan dalam akta kelahiran.
(3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada surat
keterangan dari orang yang menyaksikan
dan/atau membantu proses kelahiran.
(4) Dalam hal Anak yang proses kelahirannya tidak
diketahui dan Orang Tuanya tidak diketahui
keberadaannya, pembuatan akta kelahiran untuk
Anak tersebut didasarkan pada keterangan orang

yang ……….
- 10 -
yang menemukannya dan dilengkapi berita acara
pemeriksaan kepolisian.
17. Ketentuan Pasal 28 diubah, sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 28
(1) Pembuatan akta kelahiran dilakukan oleh
instansi yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang administrasi
kependudukan.
(2) Pencatatan kelahiran diselenggarakan paling
rendah pada tingkat kelurahan/desa.
(3) Akta kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diterbitkan paling lambat 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(4) Pembuatan akta kelahiran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak dikenai biaya.
(5) Ketentuan mengenai tata cara dan syarat
pembuatan akta kelahiran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
18. Ketentuan ayat (1), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) Pasal
33 diubah sehingga Pasal 33 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 33
(1) Dalam hal Orang Tua dan Keluarga Anak tidak
dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung
jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26,
seseorang atau badan hukum yang memenuhi
persyaratan dapat ditunjuk sebagai Wali dari
Anak yang bersangkutan.
(2) Untuk menjadi Wali dari Anak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
penetapan pengadilan.
(3) Wali yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) harus memiliki kesamaan dengan agama
yang dianut Anak.
(4) Wali sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
bertanggung jawab terhadap diri Anak dan wajib
mengelola harta milik Anak yang bersangkutan
untuk . . .
- 11 -
untuk kepentingan terbaik bagi Anak.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata
cara penunjukan Wali sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
19. Di antara Pasal 38 dan Pasal 39 disisipkan 1 (satu)
pasal, yakni Pasal 38A sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 38A
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan
pengasuhan Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
37 dan Pasal 38 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

20. Ketentuan ayat (1), ayat (2), dan ayat (5) diubah, di
antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (satu) ayat,
yakni ayat (2a), dan di antara ayat (4) dan ayat (5)
disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (4a), sehingga Pasal
39 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 39
(1) Pengangkatan Anak hanya dapat dilakukan
untuk kepentingan yang terbaik bagi Anak dan
dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat
dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pengangkatan Anak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak memutuskan hubungan darah
antara Anak yang diangkat dan Orang Tua
kandungnya.
(2a) Pengangkatan Anak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) wajib dicatatkan dalam akta kelahiran,
dengan tidak menghilangkan identitas awal Anak.
(3) Calon Orang Tua angkat harus seagama dengan
agama yang dianut oleh calon Anak Angkat.
(4) Pengangkatan Anak oleh warga negara asing
hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.
(4a) Dalam hal Anak tidak diketahui asal usulnya,
orang yang akan mengangkat Anak tersebut
harus menyertakan identitas Anak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (4).
(5) Dalam hal asal usul Anak tidak diketahui, agama

Anak… . . .
- 12 -
Anak disesuaikan dengan agama mayoritas
penduduk setempat.
21. Ketentuan Pasal 41 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 41
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat
melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap
pelaksanaan pengangkatan Anak.
22. Di antara Pasal 41 dan Pasal 42 disisipkan 1 (satu)
pasal, yakni Pasal 41A, sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 41A
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaaan
pengangkatan Anak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 39, Pasal 40, dan Pasal 41 diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
23. Ketentuan ayat (1) Pasal 43 diubah sehingga Pasal 43
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 43
(1) Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Masyarakat, Keluarga, Orang Tua, Wali, dan
lembaga sosial menjamin Perlindungan Anak
dalam memeluk agamanya.
(2) Perlindungan Anak dalam memeluk agamanya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan
ajaran agama bagi Anak.
24. Ketentuan Pasal 44 diubah, sehingga Pasal 44 berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 44
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib
menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan
upaya kesehatan yang komprehensif bagi Anak
agar setiap Anak memperoleh derajat kesehatan
yang optimal sejak dalam kandungan.
(2) Penyediaan fasilitas dan penyelenggaraan upaya
kesehatan secara komprehensif sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) didukung oleh peran
serta Masyarakat.

(3) Upaya . . .
- 13 -
(3) Upaya kesehatan yang komprehensif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif, baik untuk pelayanan kesehatan
dasar maupun rujukan.
(4) Upaya kesehatan yang komprehensif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan secara cuma-cuma bagi Keluarga
yang tidak mampu.
(5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) disesuaikan
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
25. Ketentuan ayat (2) dan ayat (3) Pasal 45 diubah,
sehingga Pasal 45 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 45
(1) Orang Tua dan Keluarga bertanggung jawab
menjaga kesehatan Anak dan merawat Anak sejak
dalam kandungan.
(2) Dalam hal Orang Tua dan Keluarga yang tidak
mampu melaksanakan tanggung jawab
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah
dan Pemerintah Daerah wajib memenuhinya.

(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2),


pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

26. Di antara Pasal 45 dan Pasal 46 disisipkan 2 (dua) pasal,


yakni Pasal 45A dan Pasal 45B sehingga berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 45A
Setiap Orang dilarang melakukan aborsi terhadap Anak
yang masih dalam kandungan, kecuali dengan alasan
dan tata cara yang dibenarkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 45B
(1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan
Orang Tua wajib melindungi Anak dari perbuatan
yang mengganggu kesehatan dan tumbuh

(kembang . . .
- 14 -
kembang Anak.

(2) Dalam menjalankan kewajibannya sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), Pemerintah, Pemerintah
Daerah, Masyarakat, dan Orang Tua harus
melakukan aktivitas yang melindungi Anak.

27. Ketentuan Pasal 46 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 46
Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Keluarga, dan
Orang Tua wajib mengusahakan agar Anak yang lahir
terhindar dari penyakit yang mengancam kelangsungan
hidup dan/atau menimbulkan kecacatan.

28. Ketentuan Pasal 47 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 47
(1) Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua wajib
melindungi Anak dari upaya transplantasi organ
tubuhnya untuk pihak lain.

(2) Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah,


Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua wajib
melindungi Anak dari perbuatan:
a. pengambilan organ tubuh Anak dan/atau
jaringan tubuh Anak tanpa memperhatikan
kesehatan Anak;
b. jual beli organ dan/atau jaringan tubuh Anak;
dan
c. penelitian kesehatan yang menggunakan
Anak sebagai objek penelitian tanpa seizin
Orang Tua dan tidak mengutamakan
kepentingan yang terbaik bagi Anak.

29. Ketentuan Pasal 48 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 48
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib
menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9
(sembilan) tahun untuk semua Anak.

30. Ketentuan . . .
- 15 -
30. Ketentuan Pasal 49 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 49
Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Keluarga, dan
Orang Tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-
luasnya kepada Anak untuk memperoleh pendidikan.

31. Ketentuan Pasal 51 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 51
Anak Penyandang Disabilitas diberikan kesempatan
dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan
inklusif dan/atau pendidikan khusus.

32. Ketentuan Pasal 53 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 53
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung
jawab untuk memberikan biaya pendidikan
dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan
khusus bagi Anak dari Keluarga kurang mampu,
Anak Terlantar, dan Anak yang bertempat tinggal
di daerah terpencil.

(2) Pertanggungjawaban Pemerintah dan Pemerintah


Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
termasuk pula mendorong Masyarakat untuk
berperan aktif.

33. Ketentuan Pasal 54 diubah dan ditambah penjelasan


ayat (1) sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 54
(1) Anak di dalam dan di lingkungan satuan
pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari
tindak Kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual,
dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh
pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta
didik, dan/atau pihak lain.
(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan,
aparat pemerintah, dan/atau Masyarakat.
34. Ketentuan Pasal 55 diubah, sehingga Pasal 55 berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 55 . . .
- 16 -
Pasal 55
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib
menyelenggarakan pemeliharaan, perawatan, dan
rehabilitasi sosial Anak terlantar, baik di dalam
lembaga maupun di luar lembaga.
(2) Penyelenggaraan pemeliharaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh
lembaga masyarakat.
(3) Untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan
perawatan Anak terlantar, lembaga pemerintah
dan lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dapat mengadakan kerja sama
dengan berbagai pihak yang terkait.
(4) Dalam hal penyelenggaraan pemeliharaan dan
perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
pengawasannya dilakukan oleh kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang sosial.

35. Ketentuan Pasal 56 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 56
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam
menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan
wajib mengupayakan dan membantu Anak, agar
Anak dapat:
a. berpartisipasi;
b. bebas menyatakan pendapat dan berpikir
sesuai dengan hati nurani dan agamanya;
c. bebas menerima informasi lisan atau tertulis
sesuai dengan tahapan usia dan
perkembangan Anak;
d. bebas berserikat dan berkumpul;
e. bebas beristirahat, bermain, berekreasi,
berkreasi, dan berkarya seni budaya; dan
f. memperoleh sarana bermain yang memenuhi
syarat kesehatan dan keselamatan.

(2) Upaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dikembangkan dan disesuaikan dengan usia

Anak . . .
- 17 -
Anak, tingkat kemampuan Anak, dan
lingkungannya agar tidak menghambat dan
mengganggu perkembangan Anak.

36. Ketentuan ayat (2) Pasal 58 diubah sehingga Pasal 58


berbunyi sebagai berikut:
Pasal 58
(1) Penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 57 sekaligus menetapkan tempat
penampungan, pemeliharaan, dan perawatan
Anak Terlantar yang bersangkutan.

(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah atau lembaga


yang diberi wewenang wajib menyediakan tempat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

37. Ketentuan Pasal 59 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 59
(1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan lembaga
negara lainnya berkewajiban dan bertanggung
jawab untuk memberikan Perlindungan Khusus
kepada Anak.

(2) Perlindungan Khusus kepada Anak sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada:
a. Anak dalam situasi darurat;
b. Anak yang berhadapan dengan hukum;
c. Anak dari kelompok minoritas dan terisolasi;
d. Anak yang dieksploitasi secara ekonomi
dan/atau seksual;
e. Anak yang menjadi korban penyalahgunaan
narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat
adiktif lainnya;
f. Anak yang menjadi korban pornografi;
g. Anak dengan HIV/AIDS;
h. Anak korban penculikan, penjualan,
dan/atau perdagangan;
i. Anak korban Kekerasan fisik dan/atau psikis;
j. Anak korban kejahatan seksual;
k. Anak korban jaringan terorisme;

l. Anak . . .
- 18 -
l. Anak Penyandang Disabilitas;
m. Anak korban perlakuan salah dan
penelantaran;
n. Anak dengan perilaku sosial menyimpang;
dan
o. Anak yang menjadi korban stigmatisasi dari
pelabelan terkait dengan kondisi Orang
Tuanya.
38. Di antara Pasal 59 dan Pasal 60 disisipkan 1 (satu)
pasal, yakni Pasal 59A sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 59A
Perlindungan Khusus bagi Anak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) dilakukan melalui
upaya:
a. penanganan yang cepat, termasuk pengobatan
dan/atau rehabilitasi secara fisik, psikis, dan sosial,
serta pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan
lainnya;
b. pendampingan psikososial pada saat pengobatan
sampai pemulihan;
c. pemberian bantuan sosial bagi Anak yang berasal
dari Keluarga tidak mampu; dan
d. pemberian perlindungan dan pendampingan pada
setiap proses peradilan.
39. Ketentuan Pasal 60 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 60
Anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 59 ayat (2) huruf a terdiri atas:
a. Anak yang menjadi pengungsi;
b. Anak korban kerusuhan;
c. Anak korban bencana alam; dan
d. Anak dalam situasi konflik bersenjata.

40. Ketentuan Pasal 63 dihapus.


41. Ketentuan Pasal 64 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:

Pasal 64 . . .
- 19 -
Pasal 64
Perlindungan Khusus bagi Anak yang berhadapan
dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59
ayat (2) huruf b dilakukan melalui:
a. perlakuan secara manusiawi dengan
memperhatikan kebutuhan sesuai dengan
umurnya;
b. pemisahan dari orang dewasa;
c. pemberian bantuan hukum dan bantuan lain
secara efektif;
d. pemberlakuan kegiatan rekreasional;
e. pembebasan dari penyiksaan, penghukuman,
atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi
serta merendahkan martabat dan derajatnya;
f. penghindaran dari penjatuhan pidana mati
dan/atau pidana seumur hidup;
g. penghindaran dari penangkapan, penahanan
atau penjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan
dalam waktu yang paling singkat;
h. pemberian keadilan di muka pengadilan Anak
yang objektif, tidak memihak, dan dalam sidang
yang tertutup untuk umum;
i. penghindaran dari publikasi atas identitasnya.
j. pemberian pendampingan Orang Tua/Wali dan
orang yang dipercaya oleh Anak;
k. pemberian advokasi sosial;
l. pemberian kehidupan pribadi;
m. pemberian aksesibilitas, terutama bagi Anak
Penyandang Disabilitas;
n. pemberian pendidikan;
o. pemberian pelayanan kesehatan; dan
p. pemberian hak lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
42. Ketentuan Pasal 65 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:

Pasal 65
Perlindungan Khusus bagi Anak dari kelompok
minoritas dan terisolasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 59 ayat (2) huruf c dilakukan melalui penyediaan
prasarana dan sarana untuk dapat menikmati
budayanya . . .
- 20 -
budayanya sendiri, mengakui dan melaksanakan
ajaran agamanya sendiri, dan menggunakan bahasanya
sendiri.
43. Ketentuan Pasal 66 diubah dan ditambah penjelasan
sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 66
Perlindungan Khusus bagi Anak yang dieksploitasi
secara ekonomi dan/atau seksual sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf d dilakukan
melalui:
a. penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan Perlindungan Anak yang dieksploitasi
secara ekonomi dan/atau seksual;
b. pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; dan
c. pelibatan berbagai perusahaan, serikat pekerja,
lembaga swadaya masyarakat, dan Masyarakat
dalam penghapusan eksploitasi terhadap Anak
secara ekonomi dan/atau seksual.

44. Ketentuan Pasal 67 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 67
Perlindungan khusus bagi Anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan
zat adiktif lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
59 ayat (2) huruf e dan Anak yang terlibat dalam
produksi dan distribusinya dilakukan melalui upaya
pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi.

45. Di antara Pasal 67 dan Pasal 68 disisipkan 3 (tiga) pasal,


yakni Pasal 67A, Pasal 67B, dan Pasal 67C sehingga
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 67A
Setiap Orang wajib melindungi Anak dari pengaruh
pornografi dan mencegah akses Anak terhadap
informasi yang mengandung unsur pornografi.

Pasal 67B
(1) Perlindungan Khusus bagi Anak yang menjadi
korban pornografi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 59 ayat (2) huruf f dilaksanakan melalui

upaya . . .
- 21 -
upaya pembinaan, pendampingan, serta
pemulihan sosial, kesehatan fisik dan mental.
(2) Pembinaan, pendampingan, serta pemulihan
sosial, kesehatan fisik dan mental sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 67C
Perlindungan Khusus bagi Anak dengan HIV/AIDS
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf g
dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan,
pengobatan, perawatan, dan rehabilitasi.
46. Ketentuan Pasal 68 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 68
Perlindungan Khusus bagi Anak korban penculikan,
penjualan, dan/atau perdagangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat 2 huruf h dilakukan
melalui upaya pengawasan, perlindungan, pencegahan,
perawatan, dan rehabilitasi.
47. Ketentuan Pasal 69 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 69
Perlindungan Khusus bagi Anak korban Kekerasan fisik
dan/atau psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59
ayat (2) huruf i dilakukan melalui upaya:
a. penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan
peraturan perundang-undangan yang melindungi
Anak korban tindak Kekerasan; dan
b. pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi.

48. Di antara Pasal 69 dan Pasal 70 disisipkan 2 (dua) pasal,


yakni Pasal 69A dan Pasal 69B sehingga berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 69A
Perlindungan Khusus bagi Anak korban kejahatan
seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2)
huruf j dilakukan melalui upaya:
a. edukasi tentang kesehatan reproduksi, nilai
agama, dan nilai kesusilaan;
b. rehabilitasi sosial;
c. pendampingan . .
.
- 22 -
c. pendampingan psikososial pada saat pengobatan
sampai pemulihan; dan
d. pemberian perlindungan dan pendampingan pada
setiap tingkat pemeriksaan mulai dari
penyidikan, penuntutan, sampai dengan
pemeriksaan di sidang pengadilan.

Pasal 69B
Perlindungan Khusus bagi Anak korban jaringan
terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat
(2) huruf k dilakukan melalui upaya:
a. edukasi tentang pendidikan, ideologi, dan nilai
nasionalisme;
b. konseling tentang bahaya terorisme;
c. rehabilitasi sosial; dan
d. pendampingan sosial.

49. Ketentuan Pasal 70 diubah dan huruf b ditambah


penjelasan sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 70
Perlindungan Khusus bagi Anak Penyandang
Disabilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat
2 huruf l dilakukan melalui upaya:
a. perlakuan Anak secara manusiawi sesuai dengan
martabat dan Hak Anak;
b. pemenuhan kebutuhan khusus;
c. perlakuan yang sama dengan Anak lainnya untuk
mencapai integrasi sosial sepenuh mungkin dan
pengembangan individu; dan
d. pendampingan sosial.

50. Ketentuan Pasal 71 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 71
Perlindungan Khusus bagi Anak korban perlakuan
salah dan penelantaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 59 ayat (2) huruf m dilakukan melalui upaya
pengawasan, pencegahan, perawatan, konseling,
rehabilitasi sosial, dan pendampingan sosial.

51 Di antara . . .
- 23 -
51. Di antara Pasal 71 dan Pasal 72 disisipkan 4 (empat)
pasal, yakni Pasal 71A, Pasal 71B, Pasal 71C, dan Pasal
71D sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 71A
Perlindungan Khusus bagi Anak dengan perilaku sosial
menyimpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59
ayat (2) huruf n dilakukan melalui bimbingan nilai
agama dan nilai sosial, konseling, rehabilitasi sosial,
dan pendampingan sosial.

Pasal 71B
Perlindungan khusus bagi Anak yang menjadi korban
stigmatisasi dari pelabelan terkait dengan kondisi
Orang Tuanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59
ayat (2) huruf o dilakukan melalui konseling,
rehabilitasi sosial, dan pendampingan sosial.

Pasal 71C
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perlindungan Khusus
bagi Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59
sampai dengan Pasal 71B diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal 71D
(1) Setiap Anak yang menjadi korban sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf b, huruf
d, huruf f, huruf h, huruf i, dan huruf j berhak
mengajukan ke pengadilan berupa hak atas
restitusi yang menjadi tanggung jawab pelaku
kejahatan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan
restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
52. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab,
yakni BAB IXA sehingga berbunyi sebagai berikut:
BAB IXA
PENDANAAN
53. Di antara Pasal 71D dan Pasal 72 disisipkan 1 (satu)
pasal, yakni Pasal 71E sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 71E
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung
jawab menyediakan dana penyelenggaraan
Perlindungan Anak . . .
- 24 -
Perlindungan Anak.
(2) Pendanaan penyelenggaraan Perlindungan Anak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber
dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
dan
c. sumber dana lain yang sah dan tidak
mengikat.
(3) Sumber dana lain yang sah dan tidak mengikat
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c
dikelola sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
54. Ketentuan Pasal 72 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 72
(1) Masyarakat berperan serta dalam Perlindungan
Anak, baik secara perseorangan maupun
kelompok.
(2) Peran Masyarakat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan oleh orang perseorangan,
lembaga perlindungan anak, lembaga
kesejahteraan sosial, organisasi
kemasyarakatan, lembaga pendidikan, media
massa, dan dunia usaha.
(3) Peran Masyarakat dalam penyelenggaran
Perlindungan Anak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan dengan cara:
a. memberikan informasi melalui sosialisasi dan
edukasi mengenai Hak Anak dan peraturan
perundang-undangan tentang Anak;
b. memberikan masukan dalam perumusan
kebijakan yang terkait Perlindungan Anak;
c. melaporkan kepada pihak berwenang jika
terjadi pelanggaran Hak Anak;
d. berperan aktif dalam proses rehabilitasi dan
reintegrasi sosial bagi Anak;
e. melakukan pemantauan, pengawasan dan
ikut bertanggungjawab terhadap

penyelenggaraan . . .
- 25 -
penyelenggaraan Perlindungan Anak;
f. menyediakan sarana dan prasarana serta
menciptakan suasana kondusif untuk
tumbuh kembang Anak;
g. berperan aktif dengan menghilangkan
pelabelan negatif terhadap Anak korban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59; dan
h. memberikan ruang kepada Anak untuk dapat
berpartisipasi dan menyampaikan pendapat.

(4) Peran organisasi kemasyarakatan dan lembaga


pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan dengan cara mengambil langkah yang
diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan
kewenangan masing-masing untuk membantu
penyelenggaraan Perlindungan Anak.

(5) Peran media massa sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) dilakukan melalui penyebarluasan
informasi dan materi edukasi yang bermanfaat
dari aspek sosial, budaya, pendidikan, agama,
dan kesehatan Anak dengan memperhatikan
kepentingan terbaik bagi Anak.

(6) Peran dunia usaha sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) dilakukan melalui:
a. kebijakan perusahaan yang berperspektif
Anak;
b. produk yang ditujukan untuk Anak harus
aman bagi Anak;
c. berkontribusi dalam pemenuhan Hak Anak
melalui tanggung jawab sosial perusahaan.

55. Ketentuan Pasal 73 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 73
Peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
72 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

56. Di antara BAB X dan BAB XI disisipkan 1 (satu) bab,


yakni BAB XA, sehingga berbunyi sebagai berikut:

BAB XA . . .
- 26 -
BAB XA

KOORDINASI, PEMANTAUAN, EVALUASI DAN


PELAPORAN

57. Di antara Pasal 73 dan Pasal 74 disisipkan 1 (satu)


pasal, yakni Pasal 73A sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 73A
(1) Dalam rangka efektivitas penyelenggaraan
Perlindungan Anak, kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang Perlindungan Anak harus melakukan
koordinasi lintas sektoral dengan lembaga terkait.
(2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan melalui pemantauan, evaluasi, dan
pelaporan penyelenggaraan Perlindungan Anak.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan
koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
58. Ketentuan Pasal 74 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 74
(1) Dalam rangka meningkatkan efektivitas
pengawasan penyelenggaraan pemenuhan Hak
Anak, dengan Undang-Undang ini dibentuk
Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang
bersifat independen.
(2) Dalam hal diperlukan, Pemerintah Daerah dapat
membentuk Komisi Perlindungan Anak Daerah
atau lembaga lainnya yang sejenis untuk
mendukung pengawasan penyelenggaraan
Perlindungan Anak di daerah.
59. Ketentuan Pasal 75 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 75
(1) Keanggotaan Komisi Perlindungan Anak
Indonesia terdiri atas 1 (satu) orang ketua, 1
(satu) orang wakil ketua, dan 7 (tujuh) orang
anggota.

(2) Keanggotaan Komisi sebagaimana dimaksud


dalam ayat . . .
- 27 -
dalam ayat (1) terdiri atas unsur Pemerintah,
tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi
kemasyarakatan, dunia usaha, dan kelompok
masyarakat yang peduli terhadap Perlindungan
Anak.

(3) Keanggotaan Komisi sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dan ayat (2) diangkat dan diberhentikan
oleh Presiden setelah mendapat pertimbangan
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat
diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa
jabatan.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelengkapan


organisasi, mekanisme kerja, dan pembiayaan
diatur dengan Peraturan Presiden.

60. Ketentuan Pasal 76 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 76
Komisi Perlindungan Anak Indonesia bertugas:
a. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan
perlindungan dan pemenuhan Hak Anak;
b. memberikan masukan dan usulan dalam
perumusan kebijakan tentang penyelenggaraan
Perlindungan Anak.
c. mengumpulkan data dan informasi mengenai
Perlindungan Anak;
d. menerima dan melakukan penelaahan atas
pengaduan Masyarakat mengenai pelanggaran Hak
Anak;
e. melakukan mediasi atas sengketa pelanggaran Hak
Anak;
f. melakukan kerja sama dengan lembaga yang
dibentuk Masyarakat di bidang Perlindungan Anak;
dan
g. memberikan laporan kepada pihak berwajib tentang
adanya dugaan pelanggaran terhadap Undang-
Undang ini.

61.Di antara. . .
- 28 -
61. Di antara BAB XI dan BAB XII disisipkan 1 (satu) bab,
yakni BAB XIA, sehingga berbunyi sebagai berikut:

BAB XIA

LARANGAN
62. Di antara Pasal 76 dan Pasal 77 disisipkan 10 (sepuluh)
pasal, yakni Pasal 76A, Pasal 76B, Pasal 76C, Pasal 76D,
Pasal 76E, Pasal 76F, Pasal 76G, Pasal 76H, Pasal 76I,
dan Pasal 76J sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 76A
Setiap orang dilarang:
a. memperlakukan Anak secara diskriminatif yang
mengakibatkan Anak mengalami kerugian, baik
materiil maupun moril sehingga menghambat
fungsi sosialnya; atau
b. memperlakukan Anak Penyandang Disabilitas
secara diskriminatif.
Pasal 76B
Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan,
melibatkan, menyuruh melibatkan Anak dalam situasi
perlakuan salah dan penelantaran.
Pasal 76C
Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan,
melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta
melakukan Kekerasan terhadap Anak.
Pasal 76D
Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau
ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan
persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pasal 76E
Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau
ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu
muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau
membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan
dilakukan perbuatan cabul.
Pasal 76F
Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan,
melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta
melakukan penculikan, penjualan, dan/atau
perdagangan Anak.

Pasal 76G . . .
- 29 -

Pasal 76G
Setiap Orang dilarang menghalang-halangi Anak untuk
menikmati budayanya sendiri, mengakui dan
melaksanakan ajaran agamanya dan/atau
menggunakan bahasanya sendiri tanpa mengabaikan
akses pembangunan Masyarakat dan budaya.
Pasal 76H
Setiap Orang dilarang merekrut atau memperalat Anak
untuk kepentingan militer dan/atau lainnya dan
membiarkan Anak tanpa perlindungan jiwa.
Pasal 76I
Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan,
melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta
melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau
seksual terhadap Anak.
Pasal 76J
(1) Setiap Orang dilarang dengan sengaja
menempatkan, membiarkan, melibatkan,
menyuruh melibatkan Anak dalam
penyalahgunaan, serta produksi dan distribusi
narkotika dan/atau psikotropika.
(2) Setiap Orang dilarang dengan sengaja
menempatkan, membiarkan, melibatkan,
menyuruh melibatkan Anak dalam
penyalahgunaan, serta produksi dan distribusi
alkohol dan zat adiktif lainnya.
63. Ketentuan Pasal 77 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 77
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76A dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
64. Di antara Pasal 77 dan Pasal 78 disisipkan 2 (dua) pasal,
yakni Pasal 77A dan Pasal 77B sehingga berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 77A
(1) Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan
aborsi terhadap Anak yang masih dalam
kandungan dengan alasan dan tata cara yang

tidak . . .
- 30 -
tidak dibenarkan oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 45A, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) adalah kejahatan.
Pasal 77B
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76B, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

65. Ketentuan Pasal 80 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 80
(1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda
paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua
juta rupiah).

(2) Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah).

(3) Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan
pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan/atau denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

(4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3) apabila yang melakukan
penganiayaan tersebut Orang Tuanya.

66. Ketentuan Pasal 81 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:

Pasal 81 . . .
- 31 -
Pasal 81
(1) Setiap orang yang melangggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun dan denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang
dengan sengaja melakukan tipu muslihat,
serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak
melakukan persetubuhan dengannya atau
dengan orang lain.

(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali,
pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga
kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3
(sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).

67. Ketentuan Pasal 82 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 82
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun dan denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali,
pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga
kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3
(sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
68. Ketentuan Pasal 83 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 83
Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76F dipidana dengan pidana

penjara . . .
- 32 -
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

69. Di antara Pasal 86 dan Pasal 87 disisipkan 1 (satu)


pasal, yakni Pasal 86A sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 86A
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76G dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

70. Ketentuan Pasal 87 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 87
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76H dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

71. Ketentuan Pasal 88 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 88
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76I, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).

72. Ketentuan Pasal 89 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 89
(1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76J ayat (1),
dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara
seumur hidup atau pidana penjara paling singkat
5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

(2) Setiap orang yang melanggar ketentuan


sebagaimana . . .
- 33 -
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76J ayat (2),
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2
(dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling sedikit Rp20.000.000,00 (dua
puluh juta rupiah) dan denda paling banyak
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
73. Di antara Pasal 91 dan Pasal 92 disisipkan 1 (satu)
pasal, yakni Pasal 91A sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 91A
Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang dibentuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak tetap menjalankan tugas
berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Pasal II
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 17 Oktober 2014
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta,
pada tanggal 17 Oktober 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK
INDONESIA,

ttd.
AMIR SYAMSUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 297


- 34 -
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 35 TAHUN 2014
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002
TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

I. UMUM
Anak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan
hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Agar kelak
mampu bertanggung jawab dalam keberlangsungan bangsa dan negara,
setiap Anak perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh
dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial. Untuk
itu, perlu dilakukan upaya perlindungan untuk mewujudkan kesejahteraan
Anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya tanpa
perlakuan diskriminatif.
Negara menjunjung tinggi hak asasi manusia, termasuk di dalamnya
hak asasi Anak yang ditandai dengan adanya jaminan perlindungan dan
pemenuhan Hak Anak dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dan beberapa ketentuan peraturan perundang-
undangan baik yang bersifat nasional maupun yang bersifat internasional.
Jaminan ini dikuatkan melalui ratifikasi konvensi internasional tentang Hak
Anak, yaitu pengesahan Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden
Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention On The Rights Of The
Child (Konvensi Tentang Hak-Hak Anak).
Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga dan
Orang Tua berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan menjamin
terpenuhinya hak asasi Anak sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.
Perlindungan terhadap Anak yang dilakukan selama ini belum memberikan
jaminan bagi Anak untuk mendapatkan perlakuan dan kesempatan yang
sesuai dengan kebutuhannya dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga
dalam melaksanakan upaya perlindungan terhadap Hak Anak oleh
Pemerintah harus didasarkan pada prinsip hak asasi manusia yaitu
penghormatan, pemenuhan, dan perlindungan atas Hak Anak.
Sebagai implementasi dari ratifikasi tersebut, Pemerintah telah
mengesahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak, yang secara substantif telah mengatur beberapa hal antara lain
persoalan Anak yang sedang berhadapan dengan hukum, Anak dari
kelompok minoritas, Anak dari korban eksploitasi ekonomi dan seksual,

Anak . . .
- 35 -
Anak yang diperdagangkan, Anak korban kerusuhan, Anak yang menjadi
pengungsi dan Anak dalam situasi konflik bersenjata, Perlindungan Anak
yang dilakukan berdasarkan prinsip nondiskriminasi, kepentingan terbaik
bagi anak, penghargaan terhadap pendapat anak, hak untuk hidup, tumbuh
dan berkembang. Dalam pelaksanaanya Undang-Undang tersebut telah
sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 terkait jaminan hak asasi manusia, yaitu Anak sebagai manusia
memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang.
Walaupun instrumen hukum telah dimiliki, dalam perjalanannya
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak belum
dapat berjalan secara efektif karena masih adanya tumpang tindih
antarperaturan perundang-undangan sektoral terkait dengan definisi Anak.
Di sisi lain, maraknya kejahatan terhadap Anak di Masyarakat, salah
satunya adalah kejahatan seksual, memerlukan peningkatan komitmen dari
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat serta semua pemangku
kepentingan yang terkait dengan penyelenggaraan Perlindungan Anak.
Untuk efektivitas pengawasan penyelenggaraan Perlindungan Anak
diperlukan lembaga independen yang diharapkan dapat mendukung
Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan Perlindungan
Anak.
Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak juga mempertegas tentang perlunya pemberatan sanksi
pidana dan denda bagi pelaku kejahatan terhadap Anak, untuk memberikan
efek jera, serta mendorong adanya langkah konkret untuk memulihkan
kembali fisik, psikis dan sosial Anak korban dan/atau Anak pelaku
kejahatan. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi Anak korban
dan/atau Anak pelaku kejahatan di kemudian hari tidak menjadi pelaku
kejahatan yang sama.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal I
Angka 1
Pasal 1
Cukup jelas.
Angka 2
Pasal 6
Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kebebasan kepada
Anak dalam rangka mengembangkan kreativitas dan
intelektualitasnya (daya nalarnya) sesuai dengan tingkat usia
Anak. Ketentuan pasal ini juga menegaskan bahwa
pengembangan . . .
- 36 -
pengembangan tersebut masih tetap harus berada dalam
bimbingan Orang Tua atau Walinya.
Angka 3
Pasal 9
Cukup jelas.

Angka 4
Pasal 12
Hak dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk menjamin
kehidupannya sesuai dengan martabat kemanusiaan,
meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Angka 5
Pasal 14
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pemisahan” antara lain pemisahan
akibat perceraian dan situasi lainnya dengan tidak
menghilangkan hubungan Anak dengan kedua Orang
Tuanya, seperti Anak yang ditinggal Orang Tuanya ke luar
negeri untuk bekerja, Anak yang Orang Tuanya ditahan atau
dipenjara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Angka 6
Pasal 15
Perlindungan dalam ketentuan ini meliputi kegiatan yang bersifat
langsung dan tidak langsung, dari tindakan yang membahayakan
Anak secara fisik dan psikis.
Angka 7
Pasal 20
Cukup jelas.
Angka 8
Cukup jelas.
Angka 9
Pasal 21
Cukup jelas.
Angka 10
Pasal 22
Yang dimaksud dengan “dukungan sarana dan prasarana”,
misalnya sekolah, lapangan bermain, lapangan olahraga, rumah
Ibadah . . .
- 37 -
ibadah, fasilitas pelayanan kesehatan, gedung kesenian, tempat
rekreasi, ruang menyusui, tempat penitipan Anak, termasuk
optimalisasi dari unit pelaksana teknis penyelenggaraan
Perlindungan Anak yang ada di daerah.
Angka 11
Pasal 23
Cukup jelas.
Angka 12
Pasal 24
Cukup jelas.
Angka 13
Pasal 25
Cukup jelas.
Angka 14
Cukup jelas.

Angka 15
Pasal 26
Cukup jelas.
Angka 16
Pasal 27
Cukup jelas.
Angka 17
Pasal 28
Cukup jelas.
Angka 18
Pasal 33
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pengadilan yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah
Pengadilan Agama bagi yang beragama Islam dan Pengadilan
Negeri bagi yang beragama selain Islam.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Angka 19 . . .
- 38 -
Angka 19
Pasal 38A
Cukup jelas.
Angka 20
Pasal 39
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (2a)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (4a)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Ketentuan ini berlaku untuk Anak yang belum berakal dan
bertanggung jawab, dan penyesuaian agamanya dilakukan
oleh mayoritas penduduk setempat (setingkat desa atau
kelurahan) secara musyawarah, dan telah diadakan
penelitian yang sungguh-sungguh.
Angka 21
Pasal 41
Cukup jelas.
Angka 22
Pasal 41A
Cukup jelas.

Angka 23
Pasal 43
Cukup jelas.
Angka 24
Pasal 44
Cukup jelas.
Angka 25
Pasal 45
Cukup jelas.
Angka 26
Pasal 45A
Cukup jelas . . .
- 39 -
Cukup jelas.
Pasal 45B
Cukup jelas.
Angka 27
Pasal 46
Penyakit yang mengancam kelangsungan hidup dan
menimbulkan kecacatan, misalnya Human Immunodeficiency
Virus (HIV) atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS),
Tuberculosis (TBC), kusta, dan polio.
Angka 28
Pasal 47
Cukup jelas.
Angka 29
Pasal 48
Cukup jelas.
Angka 30
Pasal 49
Cukup jelas.
Angka 31
Pasal 51
Cukup jelas.
Angka 32
Pasal 53
Cukup jelas.
Angka 33
Pasal 54
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “lingkungan satuan pendidikan”
adalah tempat atau wilayah berlangsungnya proses
pendidikan.
Yang dimaksud dengan “pihak lain” antara lain petugas
keamanan, petugas kebersihan, penjual makanan, petugas
kantin, petugas jemputan sekolah, dan penjaga sekolah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Angka 34
Pasal 55
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan frasa dalam lembaga adalah melalui
sistem panti pemerintah dan panti swasta, sedangkan frasa
di luar lembaga adalah sistem asuhan
Keluarga . . .
- 40 -
Keluarga/perseorangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Angka 35
Pasal 56
Cukup jelas.
Angka 36
Pasal 58
Cukup jelas.
Angka 37
Pasal 59
Cukup jelas.
Angka 38
Pasal 59A
Cukup jelas.
Angka 39
Pasal 60
Cukup jelas.
Angka 40
Pasal 63
Dihapus.
Angka 41
Pasal 64
Cukup jelas.
Angka 42
Pasal 65
Cukup jelas.
Angka 43
Pasal 66
Yang dimaksud dengan “dieksploitasi secara ekonomi” adalah
tindakan dengan atau tanpa persetujuan Anak yang menjadi
korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja
atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa
perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual,
organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan
atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau

memanfaatkan . . .
- 41 -
memanfaatkan tenaga atau kemampuan Anak oleh pihak lain
untuk mendapatkan keuntungan materiil.
Yang dimaksud dengan “dieksploitasi secara seksual” adalah
segala bentuk pemanfaatan organ tubuh seksual atau organ
tubuh lain dari Anak untuk mendapatkan keuntungan, termasuk
tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran dan
pencabulan.
Angka 44
Pasal 67
Cukup jelas.
Angka 45
Pasal 67A
Cukup jelas.
Pasal 67B
Cukup jelas.
Pasal 67C
Cukup jelas.
Angka 46
Pasal 68
Cukup jelas.
Angka 47
Pasal 69
Cukup jelas.
Angka 48
Pasal 69A
Cukup jelas.
Pasal 69B
Cukup jelas.
Angka 49
Pasal 70
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “pemenuhan kebutuhan khusus”
meliputi aksesibilitas bagi Anak Penyandang Disabilitas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.

Angka 50 . . .
- 42 -
Angka 50
Pasal 71
Cukup jelas.
Angka 51
Pasal 71A
Cukup jelas.
Pasal 71B
Cukup jelas.
Pasal 71C
Cukup jelas.
Pasal 71D
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “restitusi” adalah pembayaran ganti
kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan
putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas
kerugian materiil dan/atau imateriil yang diderita korban
atau ahli warisnya.
Khusus untuk Anak yang berhadapan dengan hukum yang
berhak mendapatkan restitusi adalah Anak korban.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Angka 52
Cukup jelas.
Angka 53
Pasal 71E
Cukup jelas.
Angka 54
Pasal 72
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan “penyebarluasan informasi” adalah
penyebarluasan informasi yang bermanfaat bagi Anak dan
perlindungan dari pemberitaan identitas Anak untuk

menghindari . . .
- 43 -
menghindari labelisasi.
Yang dimaksud dengan “media massa” meliputi media cetak
(surat kabar, tabloid, majalah), media elektronik (radio,
televisi, film, video), media teknologi informasi dan
komunikasi (laman/website, portal berita, blog, media
sosial).
Ayat (6)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “kebijakan perusahaan yang
berperspektif Anak” antara lain:
a. tidak merekrut tenaga kerja Anak; dan
b. menyiapkan layanan ruang laktasi.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Angka 55
Pasal 73
Cukup jelas.
Angka 56
Cukup jelas.
Angka 57
Pasal 73A
Ayat (1)
Lembaga terkait antara lain Komisi Perlindungan Anak
Indonesia, lembaga swadaya Masyarakat yang peduli
terhadap Anak, dan kepolisian.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Angka 58
Pasal 74
Cukup jelas.
Angka 59
Pasal 75
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan frasa tokoh masyarakat dalam
ayat) . . ….
- 44 -
ayat ini termasuk tokoh adat.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Kelengkapan organisasi yang akan diatur dalam Peraturan
Presiden termasuk pembentukan organisasi di daerah.
Angka 60
Pasal 76
Cukup jelas.
Angka 61
Cukup jelas.
Angka 62
Pasal 76A
Cukup jelas.
Pasal 76B
Cukup jelas.
Pasal 76C
Cukup jelas.
Pasal 76D
Cukup jelas.
Pasal 76E
Cukup jelas.
Pasal 76F
Cukup jelas.
Pasal 76G
Cukup jelas.
Pasal 76H
Cukup jelas
Pasal 76I
Cukup jelas.
Pasal 76J
Cukup jelas.
Angka 63
Pasal 77
Cukup jelas.
Angka 64
Pasal 77A
Cukup jelas.
Pasal 77B
Cukup jelas.

Angka 65 . . .
- 45 -
Angka 65
Pasal 80
Cukup jelas.
Angka 66
Pasal 81
Cukup jelas.
Angka 67
Pasal 82
Cukup jelas.

Angka 68
Pasal 83
Cukup jelas.
Angka 69
Pasal 86A
Cukup jelas.
Angka 70
Pasal 87
Cukup jelas.
Angka 71
Pasal 88
Cukup jelas.
Angka 72
Pasal 89
Cukup jelas.
Angka 73
Pasal 91A
Cukup jelas.
Pasal II
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5606


Dalam pembenahan kompetensi jurnalis, salah satu yang perlu dilakukan
adalah peningkatan wawasan akan permasalahan anak. Konsulat Jenderal
(KonJen) Australia dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar
termasuk yang peduli pada mutu wartawan di negeri kita. kondisi ini, dan
bersepakat berikatan lewat sebuah program Direct Aid Project (DAP) yang
menciptakan buku ini.

Beri Nilai