Anda di halaman 1dari 15

ISLÂM, FEMINISME, DAN KONSEP KESETARAAN GENDER

DALAM AL-QUR’ÂN
Fadlan
(Dosen Jurusan Syari’ah STAIN Pamekasan, Jl. Pahlawan Km.04 Pamekasan,
nomor kontak 0817796020, fadlanelhanif@gmail.com)

Abstrak:
Sejarah menunjukkan bahwa perempuan pada masa awal Islâm mendapat
penghargaan tinggi. Islâm mengangkat harkat dan martabat perempuan dari
posisi yang kurang beruntung pada zaman jahiliyah. Di dalam al-Qur’ân,
persoalan kesetaraan laki-laki dan perempuan ditegaskan secara eksplisit.
Meskipun demikian, masyarakat muslim secara umum tidak memandang
laki-laki dan perempuan sebagai setara. Akar mendalam yang mendasari
penolakan dalam masyarakat muslim adalah keyakinan bahwa perempuan
adalah makhluk Allâh yang lebih rendah karena diciptakan dari tulang rusuk
yang bengkok. Selain itu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang kurang
akalnya sehingga harus selalu berada dalam bimbingan laki-laki. Akibatnya,
produk-produk pemikiran Islâm sering memosisikan perempuan sebagai
subordinat. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan, karena Islâm pada
prinsipnya menjunjung tinggi kesetaraan dan tidak membedakan manusia
berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, doktrin maupun pandangan yang
mengatasnamakan agama yang sarat dengan praktik diskriminatif sudah
selayaknya dikaji ulang, jika ingin Islâm tetap menjadi rahmat bagi seluruh
alam.
Kata Kunci:
Islâm, gender, dan feminisme

Abstract:
History proves that woman had been highly respected in the early of Islamic period.
Islam promoted the woman’s dignity and prestige from being uncivilzed in the time of
jahiliyah. Al-Qur’an has explicitly stated that man and woman equity. However,
Muslim community does not apply the same view of man-woman equity as stated in
the holy scipture. The community believes that Allah creates women differently from
men; women are considered weaker since they are created from the rib of the men.
Hence, men think that most women are illogical then they must be under the guidance
of men. As a result, the products of Islamic studies place women as the sub-ordianated
creation. This is quite apprehensive. On the other hand, Islamic teaching actually
holds up the gender equality, it does not differ people from its gender. Consequently,
there must be a restudied-discourse on a view or doctrin that answering to the name of
religion practicing descriminative act on woman. It is about to purify the Islamic
vision of being a rahmat (mercy) for the rest of mankind.

Key Words:
Islam, gender, and feminism
Fadlan

Pendahuluan parlemen, pendidikan dan pelatihan


Di sebagian besar belahan dunia, kesetaraan gender, peningkatan kese-
termasuk di negara-negara Muslim, hatan reproduksi, serta program wajib
perempuan secara umum mengalami belajar.2
keterasingan. Di banyak negara dewasa Sesungguhnya problem peminggiran
ini, tidak ada jaminan kesetaraan antara perempuan tidak hanya dikarenakan
perempuan dan laki-laki dalam bidang masalah struktural, tetapi juga karena
sosial, politik, ekonomi, dan hukum. Di persoalan kultural, seperti pengaruh
sejumlah negara, perempuan dibatasi sistem kepercayaan dan pemahaman
haknya atas kepemilikan tanah, keagamaan. Pemahaman parsial dan
mengelola properti, dan bisnis. Bahkan literal terhadap teks-teks al-Qur’ân dan
dalam melakukan perjalanan pun, hadits tampaknya ikut berpengaruh
perempuan harus mendapat persetujuan terhadap konfigurasi sosial yang
suami. Di banyak kawasan sub Sahara meminggirkan perempuan di negara-
Afrika, sebagian besar perempuan negara Muslim. Wacana Islâm dalam
memperoleh hak atas tanah melalui sejumlah kitab fiqih (syarî’ah), misalnya,
suami mereka atas dasar perkawinan, di tidak banyak menguntungkan perem-
mana hak-hak itu seringkali hilang saat puan. Bahkan, pada bagian-bagian
terjadi perceraian atau kematian sang tertentu cenderung mendiskreditkan
suami. Di Asia Selatan yang mayoritas perempuan.3 Berangkat dari kenyataan
Muslim, rata-rata jumlah jam yang ini, telaah terhadap dalil-dalil normatif
digunakan perempuan bersekolah hanya yang selama ini menjadi dasar
separuh dari yang digunakan laki-laki. ketidaksetaraan antara laki-laki dan
Jumlah anak perempuan yang mendaftar perempuan menjadi penting. Lebih dari
ke sekolah menengah di Asia Selatan juga itu, tulisan ini berupaya untuk
hanya 2/3 dari jumlah anak laki-laki. Di mendekonstruksi anggapan yang meya-
banyak negara berkembang, termasuk di kini laki-laki sebagai komunitas dominan
negara-negara Muslim, wirausaha yang yang melanggengkan model kehidupan
dikelola perempuan cenderung keku- patriarkhi di masyarakat, terutama dalam
rangan modal, kurang memiliki akses lingkungan masyarakat Muslim, karena
terhadap mesin, pupuk, informasi al-Qur’ân cukup jelas memberikan peran
tambahan, dan kredit dibandingkan
wirausaha yang dikelola laki-laki.1 Di 2 Faktor yang menghambat akses perempuan
Indonesia sebagai negara berpenduduk dalam memperoleh pendidikan di Indonesia
selama ini adalah jumlah sekolah yang terbatas
Muslim terbesar di dunia, potret dan jarak tempuh yang jauh. Perkawinan dini
perempuan tidak jauh berbeda. Untuk juga diduga menjadi sebab mengapa perempuan
membebaskan perempuan dari keterbe- tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih
lakangan, pemerintah dan Lembaga tinggi. Di tingkat perguruan tinggi, rasio angka
Swadaya Masyarakat (LSM) mencanang- partisipasi perempuan terhadap laki-laki
meningkat dari 85,1% pada 1992 menjadi 92,8%
kan banyak program pemberdayaan pada 2002. Namun, terjadi penurunan pada 1997
perempuan semisal kuota perempuan di dan 1998 yang mungkin berhubungan dengan
krisis ekonomi yang menurunkan kemampuan
1 Sukron Kamil, et al., Syari’ah Islam dan HAM: keluarga untuk membiayai pendidikan. Dengan
Dampak Perda Syariah terhadap Kebebasan Sipil, Hak- begitu, maka akses perempuan dalam bidang
Hak Perempuan, dan Non-Muslim (Jakarta: CSRC, ekonomi juga terbatas.
2007), hlm. 38 3 Kamil et al., Syariah Islam, hlm. 39

106 | KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011


Islâm, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender

dan status yang sama antara laki-laki dan yang memiliki penis, memiliki jekala (kala
perempuan. menjing), memproduksi sperma dan
sebagainya. Sedangkan perempuan
Pengertian Gender dan Feminisme adalah manusia yang memiliki alat
Kata gender4 berasal dari bahasa reproduksi telur, vagina, alat menyusui
Inggris yang berarti jenis kelamin (sex).5 dan sebagainya. Alat-alat tersebut secara
Pada awalnya kedua kata tersebut (gender biologis melekat baik pada perempuan
dan sex) digunakan secara rancu.6 Sejak maupun laki-laki. Fungsinya tidak bisa
dasawarsa terakhir di tengah maraknya dipertukarkan dan secara permanen tidak
gerakan feminis, kedua kata tersebut berubah serta merupakan ketentuan
didefinisikan secara berbeda. Perbedaan biologis atau ketentuan Tuhan (kodrat).8
konseptual antara gender dan sex mula- Sementara konsep gender adalah
mula diperkenalkan oleh Ann Oakley.7 pembagian lelaki dan perempuan yang
Oleh karena itu, penulis akan menge- dikonstruksi secara sosial maupun
mukakan perbedaan definisi tersebut kultural. Misalnya perempuan dianggap
guna menghindari pemahaman yang lemah lembut, emosional, keibuan dan
keliru. sebagainya. Sedangkan laki-laki dianggap
Sex adalah pembagian jenis kuat, rasional, perkasa dan sebagainya.
kelamin yang ditentukan secara biologis Sifat-sifat tersebut tidaklah kodrati,
melekat pada jenis kelamin tertentu. karena tidak abadi dan dapat
Misalnya, jenis lelaki adalah manusia dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang
emosional, lemah lembut, keibuan dan
4
Istilah gender dalam Al-Qur’ân dapat dipahami sebagainya. Sementara ada juga perem-
melalui nama-nama atau simbol-simbol yang puan yang kuat, rasional, perkasa dan
sering digunakan Al-Qur’ân dalam
mengungkapkan jenis kelamin seseorang. Istilah-
sebagainya. Oleh karena itu, gender dari
istilah gender yang sering digunakan dalam Al- waktu ke waktu dan dari tempat ke
Qur’ân antara lain: al-rajul/al-rijâl dan al-mar’ah/al- tempat dapat berubah.9 Singkatnya,
nisâ’, al-dzakar dan al-untsâ, termasuk gelar status gender membicarakan laki-laki dan
laki-laki dan perempuan seperti, al-zawj dan al- perempuan dari sudut pandang yang non
zawjah, al-abb dan al-umm, al-akh dan al-ukht, al-
jadd dan al-jaddah, al-muslimûn dan al-muslimât, al-
biologis.
mu’minûn dan al-mu’minât, serta dhamîr mudzakkar Secara sederhana ideologi gender
dan mu’annats, yang digunakan al-Qur’ân membedakan secara tegas kedua identitas
terhadap laki-laki dan perempuan. Persoalan tersebut:
kebahasaan yang berhubungan dengan istilah Maskulin Feminin
tersebut, lihat Nasaruddin Umar, Argumen
Kesetaraan Gender; Perspektif Al-Qur’an (Jakarta:
rasional emosional
Paramadina, 1999), hlm. 143-193 agresif lemah lembut
5
Jhon M. Echol dan Hassan Syadily, Kamus mandiri tidak mandir
Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. eksploratif pasif
265 Perbedaan tersebut secara
6
Umar, Argumen Kesetaraan Gender, hlm. 34
7
M. Aunul Abied Shah dan Hakim Taufiq, “Tafsir
tradisional diyakini bahwa identitas di
Ayat-ayat Gender dalam Al-Qur’ân: Tinjauan atas merupakan suatu bagian yang
terhadap Pemikiran Muhammad Syahrûr dalam
Bacaan Kontemporer”, dalam M. Aunul Abied
8
Shah et.al. (ed.) Islam Garda Depan: Mosaik Mansuor Fakih, Analisis Gender dan Transformasi
Pemikiran Islam Timur Tengah (Bandung: Mizan, Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 7-8
9
2001), hlm. 237 Ibid.,hlm. 8-9

KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011 | 107


Fadlan

inherent dalam identitas jenis kelamin dan privilage ekonomi. Patriarki dianggap
yang kemudian dianggap sebagai kodrat. sebagai masalah yang mendahului segala
Maka seringkali muncul mitos bahwa bentuk penindasan.13 Inilah kemudian
kodrat seorang perempuan adalah aktor yang menjadi agenda feminis14 ke depan
di balik layar, sebagai pendukung karir di mana pusat persoalan adalah tentang
suami, ibu rumah tangga yang berjasa tuntutan kesetaraan, keadilan, dan
besar mengantarkan kesuksesan anak- penghapusan segala bentuk diskriminasi
anaknya.10 Gender yang sejatinya meru- terhadap perempuan. Usaha ini kemu-
pakan konstruksi sosial dan kultural dian melahirkan sebuah kesadaran yang
perihal peran laki-laki dan perempuan di khas, yaitu kesadaran feminisme.
tengah kehidupan sosial, justru Menurut Kamla Bhasin dan Nighat
diselewengkan oleh laki-laki sebagai Said Khan, dua tokoh feminis dari Asia
kodrat Tuhan yang harus diterima sacara Selatan, tidak mudah untuk merumuskan
taken for granted. Hal ini nampak pada definisi feminisme oleh dan atau
pola pembagian peran kerja laki-laki dan diterapkan kepada semua feminis dalam
perempuan. Ruang kerja laki-laki di semua waktu dan di semua tempat.
sektor publik, sementara perempuan Karena feminisme tidak mendasarkan
pada sektor domestik.11
Perbedaan gender (gender
13
differences) ini tidak menjadi masalah Fakih, Analisis Gender, hlm. 145
14
Perlu dicatat, feminis adalah orangnya,
krusial jika tidak melahirkan struktur
sedangkan feminisme adalah fahamnya. Tentang
ketidakadilan gender (gender inequalities). feminisme simak definisi Katherine Young.
Akan tetapi pada kenyataannya, “Feminism is not only the critique of patriarchy but
perbedaan gender justru melahirkan also the positive recognition of the ‘unique needs and
struktur ketidakadilan dalam berbagai contributions of women as a class’ and the fact that
women are agents who can ‘name their own reality’;
bentuk: dominasi, marginalisasi dan who can move into the public sphere of jobs, education,
diskriminasi, yang secara ontologis and leadership; and who have the freedom to decide
merupakan modus utama kekerasan their own life pattern. This bottom line of feminism is
terhadap kaum perempuan.12 Pada the foundation for the solidarity of women as class.
Feminist have formed a political alliance with all other
kondisi inilah, “kekuasaan laki-laki” groups that have been subordinated (minorities).”
mendominasi perempuan, bukan saja (Feminisme tidak hanya sekadar sebuah kritik
melanggengkan budaya kekerasan, tetapi terhadap sistem patriarki, tetapi juga merupakan
juga melahirkan rasionalitas sistem pengakuan positif atas kebutuhan yang sudah
patriarki. Ideologi patriarki adalah terpola sejak dulu dan sebagai masukan bagi
kaum perempuan sebagai sebuah kelompok, dan
ideologi kelaki-lakian di mana laki-laki pada kenyataannya kaum perempuan adalah
dianggap memiliki kekuasaan superior sebuah kelompok yang dapat menunjukkan jati
dirinya sendiri; yang mampu berperan dalam
lingkungan masyarakat, seperti: pekerjaan,
10
Lihat Siti Ruhaini Dzuhayatin, “Ideologi pendidikan dan kepemimpinan, serta memiliki
Pembebasan Perempuan: Perspektif Feminisme kebebasan untuk memutuskan pola hidup mereka
dan Islâm”, dalam Hj. Bainar (ed.), Wacana sendiri. Garis dasar feminisme ini adalah fondasi
Perempuan dalam Keindonesiaan dan Kemodernan bagi solidaritas perempuan sebagai kelompok.
(Jakarta: PT. Pustaka CIDESINDO, 1998), hlm. 12- Kaum feminis telah membentuk sebuah partai
13 politik bersama kelompok-kelompok lain yang
11
Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur (Jakarta: tersubordinasikan {terpinggirkan}). Makalah
Kompas, 2001), hlm. 160 disampaikan dalam Short Course Pacasarjana IAIN
12
Ibid. Lihat juga Fakih, Analisis Gender, hlm. 12 Jakarta 1999.

108 | KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011


Islâm, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender

pada satu grand theory yang tunggal, perempuan yang berlainan tingkat
tetapi lebih mendasarkan pada realitas pendidikan, kesadaran dan sebagainya.17
kultural dan kenyataan sejarah yang Namun demikian, menurut Kamla
konkrit, dan tingkatan-tingkatan dan Nighat, feminisme tetap harus
kesadaran, persepsi serta tindakan.15 didefinisikan secara jelas dan luas, agar
Hal itu bisa dilihat dengan adanya tidak lagi terjadi kesalahpahaman,
gerakan perempuan (women movement) bahkan ketakutan terhadap feminisme.
yang telah berkembang menjadi banyak Dengan asumsi ini maka keduanya
aliran (Liberal, Radikal, Marxis, dan mengajukan definisi yang menurutnya
Sosialis)16 yang sesungguhnya berasal memiliki pengertian yang lebih luas,
dari suatu asumsi, yaitu ketidakadilan, yaitu: “Suatu kesadaran akan penindasan
penindasan, dan eksploitasi. Feminisme dan pemerasan terhadap perempuan dalam
pada abad ke-17 (pertama kalinya kata itu masyarakat, di tempat kerja dan dalam
digunakan) dan feminisme pada 1980-an, keluarga, serta tindakan sadar oleh
menurut Kamla dan Nighat memiliki perempuan maupun laki-laki untuk
18
mengubah keadaan tersebut.” Jadi, gerakan
makna yang tidak sama. Ia juga dapat
diungkapkan secara berbeda-beda di feminisme adalah suatu faham yang
berbagai bagian dunia atau dalam satu memperjuangkan kebebasan perempuan
negeri, karena diungkapkan oleh dari dominasi laki-laki.
Di samping beberapa aliran
15
Yunahar Ilyas, Feminisme dalam Kajian Tafsir Al- feminisme yang telah disebut di atas,
Qur’an Klasik dan Kontemporer (Yogyakarta: terdapat dua kelompok lain gerakan
Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 40
16 feminisme, yaitu: pertama, gerakan
Di antara aliran feminisme yang terkenal
adalah: a) Feminisme Liberal, yang menuntut feminisme yang menganggap bahwa
kesempatan dan hak yang sama bagi setiap gender adalah konstruksi sosial budaya
individual. Oleh sebab itu, feminisme liberal (nurture) dan menyepakati bahwa
mendukung industrialisasi dan modernisme yang perbedaan jenis kelamin tidak perlu
dianggap sebagai gerbang peningkatan status
mengakibatkan perbedaan peran dan
perempuan; b) Feminisme Radikal mendasarkan
pada suatu tesis bahwa penindasan berakar pada prilaku gender dalam tataran sosial.19
ideologi patriarki sebagai tata nilai dan otoritas Oleh karena itu, gerakan ini menganggap
utama yang mengatur hubungan laki-laki dan perlu ditegakkan kesetaraan kedudukan,
perempuan secara umum. Aliran ini menetang hak, kewajiban serta peran antara laki-
keras sexsual harassment (kekerasan seksual); c)
laki dan perempuan. Tidak ada
Feminisme Marxis dengan pandangan bahwa
penindasan perempuan adalah bagian dari pembagian kerja secara seksual; yang
penindasan kelas dalam “relasi produksi”. laki-laki bekerja di luar rumah sementara
Termasuk di dalamnya adalah suatu upaya untuk perempuan bekerja di dalam rumah.20
menghargai secara material ‘proses reproduksi’
yang cenderung ditiadakan oleh pola produksi
kapitalisme (mode of production); d) Feminisme
17
Sosialis yang berasumsi bahwa penindasan gender Ilyas, Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an,
terjadi di kelas mana pun. Feminisme sosialis juga hlm. 40
18
mengampanyekan feminisme birokrasi dan Ibid., hlm. 41
politik bahwa ‘proses reproduksi’ tidak lagi 19 Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda?: Sudut

dianggap sebagai penghambat karir perempuan Pandang Baru Tentang Relasi Gender (Bandung:
dan sehingga perempuan harus dihargai sebagai Mizan, 1999), hlm. 20
bagian dari prestasinya. Lebih lanjut lihat, 20 Arief Budiman, Pembagian Kerja Secara Seksual

Dzuhayatin, Wacana Perempuan, hlm. 16-17 (Jakarta: Gramedia, 1982), hlm. 5

KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011 | 109


Fadlan

Kedua, kelompok feminis yang kedudukan perempuan dan laki-laki


menganggap bahwa perbedaan jenis setara– tafsir-tafsir lama perlu
kelamin adalah alamiah (nature) dan tetap didekonstruksi (dibongkar), khususnya
akan berakibat pada konstruksi konsep dari pandangan-pandangan yang miso-
gender dalam kehidupan sosial, sehingga ginis (membenci perempuan).
akan selalu ada jenis-jenis pekerjaan
berstereotip gender. Perbedaan jenis Konstruksi Keberadaan Perempuan
kelamin menimbulkan perbedaan dalam Islâm
pelayanan, perbedaan pemberian hak dan Mayoritas intelektual dan sejarah-
kewajiban terhadap laki-laki dan wan, terutama dari kalangan Islâm,
perempuan, sehingga tidak mungkin memandang posisi perempuan pada
adanya kesetaraan antara keduanya.21 masa pra-Islâm, sebagai sebuah
Karena kedua kelompok ini berdiri di gambaran kehidupan yang sangat buram
atas landasan teori dan ideologi yang dan memprihatinkan. Perempuan dipan-
berbeda, tentunya hal tersebut dang sebagai makhluk tidak berharga,23
berpengaruh dalam kiprahnya pada menjadi bagian dari laki-laki
tatanan sosial. Bahkan di antara (subordinatif). Keberadaannya sering
keduanya saling kritik dan saling tuding. menimbulkan masalah, tidak memiliki
Dalam konteks masyarakat Mus- independensi diri, hak-haknya ditindas
lim, terdapat juga perbedaan pandangan dan dirampas, tubuhnya dapat diperjual-
mengenai kesetaraan laki-laki dan belikan atau diwariskan, dan diletakkan
perempuan. Terbukti dalam kitab-kitab dalam posisi marginal serta pandangan-
klasik yang menjelaskan ajaran Islâm pandangan yang menyedihkan lainnya.24
seperti tafsir, tidak asing kaum laki-laki Setelah Islâm datang, secara
digambarkan lebih superior dari kaum bertahap Islâm mengembalikan hak-hak
perempuan. Biasanya argumen penguat- perempuan sebagai manusia merdeka.
an supremasi tersebut adalah QS. al-Nisâ’ Perempuan boleh menjadi saksi dan
(4): 34.22 Penafsiran yang bercorak berhak atas sejumlah warisan, meskipun
demikian pada dasarnya berhubungan keduanya hanya bernilai setengah dari
dengan situasi sosial-kultural waktu tafsir kesaksian atau jumlah warisan yang
itu dibuat, yang sangat merendahkan berhak diterima laki-laki, dan boleh jadi
kedudukan perempuan. Maka untuk dianggap tidak adil dalam konteks
kebutuhan zaman sekarang – di mana sekarang. Namun pada prinsipnya jika
dilihat pada konteks ketika perintah
tersebut diturunkan, ini mencerminkan
21 Ibid. Dalam istilah teoritisnya, kelompok
pertama disebut teori nurture. Sedangkan semangat keadilan. Artinya secara frontal
kelompok kedua disebut teori nature. Lihat
23
Komaruddin Hidayat dalam pengantar buku Pada zaman jahiliyah, di antara kabilah-kabilah
karya Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Arab ada yang merasa hina sekali ketika
Gender dalam Qur’an (Yogyakarta: LKiS, 1999), memperoleh anak perempuan, dan karena itu
hlm. xviii-xix mereka segera mengubur bayi perempuan itu
22 Dalam Tafsîr Ibn Katsîr, misalnya, ketika begitu muncul ke dunia. Lihat, Salman Harun,
menjelaskan ayat tentang “laki-laki adalah pemimpin Mutiara Al-Qur’an: Aktualisasi Pesan Al-Qur’an
bagi perempuan” menyebut ayat lain bahwa “bagi dalam Kehidupan (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 129
24
laki-laki derajatnya di atas perempuan”. Lihat Ibn Syafiq Hasyim, Hal-hal yang Tak Terpikirkan:
Katsîr, Tafsîr Al-Qur’ân al-`Azhîm, Juz I (Beirut: Tentang Isu-isu Keperempuanan dalam Islam
`Alâm al-Kitâb, 1985), hlm. 491 (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 18-19

110 | KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011


Islâm, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender

ajaran Islâm menentang tradisi jahiliyah Walaupun al-Qur’ân telah sukses


yang berkaitan dengan perempuan.25 Ini mereformasi tradisi-tradisi jahiliyah yang
merupakan gerakan emansipatif yang diskriminatif dan eksploitatif terhadap
tiada tara pada masanya di saat perempuan, namun bukan berarti seluruh
perempuan terpuruk dalam kegelapan. ketentuan yang terdapat dalam al-
Sejarah menunjukan secara jelas Qur’ân, khususnya ketentuan-ketentuan
bagaimana perempuan pada masa-masa yang berkaitan dengan perempuan,
Islâm diturunkan mendapat penghargaan sudah final.29 Karena ternyata kedudukan
tinggi, justru terutama dari Nabî perempuan pasca Nabî bukan semakin
Muhammad, figur panutan dari seluruh membaik, melainkan semakin menjauh
umat Islâm.26 Menurut Asghar Ali dari kondisi ideal. Sepeninggal Nabî,
Engineer, adalah suatu revolusi besar di perempuan mukmin kembali mengalami
mana Nabî Muhammad saw. telah eksklusi dari ruang publik. Contoh paling
memrakarsai melakukan perubahan awal dari eksklusi ini adalah pada masa
dalam masyarakat Mekah secara khalîfah Umar Ibn al-Khaththâb,
menyeluruh. Secara bertahap Islâm sebagimana dijelaskan oleh Imam al-
menjadi agama yang sangat mapan Ghazâli, kaum perempuan tidak
dengan ritualisasi yang sangat tinggi.27 dianjurkan untuk mengikuti shalat
Secara historis, perempuan telah jama’ah di masjid sebagaimana yang
memainkan peranan yang sangat
strategis pada masa awal maupun
pertumbuhan dan perkembangan Islâm,
baik dalam urusan domestik maupun diakses terakhir 19 September 2011. Bukti-bukti
publik. Ini dibuktikan antara lain melalui lain peran strategis yang dimiliki oleh perempuan
pada masa awal Islâm, mereka juga berperan
peran perempuan dalam membantu dalam memelihara hadits. Banyak di antara
perjuangan Rasûlullâh seperti di medan mereka yang mentransmisikan hadits kepada
perang. Khadijah, istri Nabî yang sangat orang lain. Beberapa nama seperti Hafshah,
setia, misalnya, menghibahkan banyak Ummu Habibah, Maimunah, Ummu Salamah,
harta bendanya untuk perjuangan Islâm; dan terutama ‘Aisyah adalah perempuan yang
dikenal sebagai perawi hadits. ‘Aisyah bahkan
Arwâ ibn Abd al-Muthalib yang meminta tidak saja sebagai seorang perawi, tetapi juga
anak laki-lakinya agar membantu Nabî sebagai mufassir yang sangat hati-hati.
dan memberi apa saja yang dimintanya; Muhammad Zubayr Ziddiqi, “Women Scholars of
dan Ummu Syurayk yang telah Hadith”, dalam http://www.islamfortoday.com
membujuk perempuan-perempuan Me- /womenscholars.htm, diakses terakhir pada
19September 2011.
kah secara diam-diam melakukan 29
Menanggapi persoalan yang demikian, Asghar
konversi dari agama pagan ke Islâm.28 berpendapat bahwa mereka yang tidak cukup
paham tentang asal-usul dan perkembangan
25
Nurul Agustina, “Islam, Perempuan dan syari`ah seringkali mengasumsikan, pertama,
Negara”, Islamika, No. 6, tahun 1995, hlm. 91 syari`ah itu sepenuhnya bersifat ilahiyah dan
26
Ibid. kedua, syari`ah itu tidak dapat diubah. Pandangan
27
Asghar Ali Engineer, “Menemukan Kembali semacam itu menurutnya, seringkali
Visi Profetis Nabî: Tentang Gagasan Pembebasan dikemukakan dalam perbincangan-perbincangan
dalam Kitab Suci”, Ulumul Qur’an, No. 4, Vol. III, umum dan dikuatkan para ulama konservatif.
tahun 1992, hlm. 65 Lihat, Asghar Ali Engineer, “Perempuan dalm
28 Hassan Turabi, “On The Position of Women in Syari’ah: Perspektif Feminisme dalam Penafsiran
Islam and in Islamic Society”, dalam Islam”, Ulumul Qur’an, No. 3, Vol. V, tahun 1994,
http://www.islamfortoday.com/turabi01.htm, h. 62

KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011 | 111


Fadlan

berlaku pada masa Nabî.30 Hal ini Dalam masyarakat muslim


mengindikasikan bahwa umat Islâm tradisional diyakini bahwa tempat terbaik
pasca Nabî tidak sepenuhnya berhasil bagi perempuan adalah di dalam rumah
menepis bias-bias patriarkisme yang (domestic role). Ayat yang menjadi
sudah terlanjur kuat mengakar dalam landasan secara teologis adalah “Dan
masyarakat Arab pra-Islâm, dan di hendaklah kamu tetap tinggal di rumahmu
wilayah-wilayah di mana Islâm tersiar.31 dan janganlah kamu berhias dan bertingkah
Di samping itu, juga dapat laku seperti orang-orang jahiliyah
ditelusuri dari berbagai ayat al-Qur’ân terdahulu…” (QS. al-Ahzâb (33): 33). Oleh
yang terbaca dalam teksnya, tidak jarang sebagian mufassir dinyatakan sebagai
seolah-olah mengakui berbagai kontra- dalil bagi keharusan perempuan untuk
diksi. Sedangkan para penafsir dan selalu tinggal di rumah.33 Di sisi lain, ada
fuqaha (masa abad pertengahan) yang ayat secara sepintas lalu menggambarkan
berniat baik terhadap Islâm masih banyak adanya hak yang dimiliki laki-laki dan
terjebak dalam kesadaran preteks yang perempuan adalah berbeda sesuai
bersifat mu’jizati terhadap al-Qur’ân dengan usaha yang dilakukan masing-
sebagi karya Ilahi sepenuhnya masing: “Laki-laki mempunyai hak (bagian)
(oracularitas), sehingga dalam penyusun- dari apa yang mereka usahakan dan bagi
an atau perumusan fiqihnya terkecoh perempuan (bagian) dari apa yang mereka
oleh kesadaran preteks dan bukan teks. usahakan.” (QS. al-Nisâ’ (4): 32).
Ditambah lagi, mereka memahaminya Ayat yang terakhir mengindi-
secara sepotong-sepotong, yang pada kasikan adanya hak bagi lak-laki dan
gilirannya “diideologisasikan” menurut perempuan untuk terlibat di wilayah
persepsi si penafsir atau si pembaca.32 publik. Sementara ayat pertama seolah-
olah mengekang perempuan untuk
30
Agustina, “Islam, Perempuan dan Negara”,
tinggal di rumah. Sayyid Quthb, dalam
Islamika, hlm. 91 tafsirnya Fî Zhilâl al-Qur’ân, mengatakan
31
Musdah Mulia, “Islam dan Politik: Membincang bahwa makna dari surah al-Ahzâb ayat
Hak-hak Politik Perempuan”. Makalah 33 itu bukan berarti mereka tidak boleh
disampaikan pada seminar sehari Islam dan Politik: meninggalkan rumah. Ayat tersebut
Analisis Gender dalam Kepemimpinan, yang
diselenggarakan BEM Fakultas Dirâsât al- mengisyaratkan bahwa rumah tangga
Islâmiyah wa al-`Arabiyah, IAIN Jakarta, adalah tugas pokoknya, sedang selainnya
kerjasama dengan Universitas al-Azhar, Kairo, tgl. bukan tugas pokoknya.34
21 April 2001 di Jakarta. Konsep teologis lainnya yang
32
Berkaitan dengan hal ini, bisa dikaji ulang dianggap merupakan akar ketidak-
dalam menetapkan hak-hak perempuan persis
dengan satu sisi teks semata (sepotong-sepotong),
setaraan laki-laki dan perempuan –dalam
yang mengabaikan adanya dialektika antara teks diskursus feminisme– adalah bermula
dengan wahyu yang terkandung dalam al-Qur’ân dari konsep penciptaan perempuan. Ayat
(yang dinarasikan Nabî), yang dalam bentuk
keharusan menurut visi Allâh (bukan kenyataan
visi yang ada). Dalam makna belakangan ini
33
dapat dinyatakan bahwa teks al-Qur’ân bersifat Hasyim, Hal-hal yang Tak Terpikirkan, hlm. 191
34
historis, tetapi wahyu atau nilai-nilai Ilahi yang Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur’ân (Beirut: Dâr al-
emotif bersifat non-historis. Lihat, Chumaidi Syurûq, 1986/1406 H), , Jilid V, hlm. 2859-2860. Di
Syarif Romas, Wacana Teologi Kontemporer samping penjelasan di atas, ayat tersebut menurut
(Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2000), hlm. Quthb asbâb al-nuzûl-nya ditujukan kepada istri-
89-91 istri Nabî dengan konteks yang khusus.

112 | KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011


Islâm, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender

yang dijadikan rujukan adalah surah al- ‫ﻪ‬ ‫ﺗ‬‫ﺮ‬‫ ﻛﹶﺴ‬‫ﻪ‬‫ﻴﻤ‬‫ﻘ‬‫ ﺗ‬‫ﺖ‬‫ﺒ‬‫ ﻓﹶﺈﹺﻥﹾ ﺫﹶﻫ‬‫ﻼﹶﻩ‬‫ﻠﹶﻊﹺ ﺃﹶﻋ‬‫ﻲ ﺍﻟﻀ‬‫ﺀٍ ﻓ‬‫ﻲ‬‫ ﺷ‬‫ﺝ‬‫ﻮ‬‫ﺇﹺﻥﱠ ﺃﹶﻋ‬‫ﻭ‬
Nisâ’ ayat 1:
(‫ﺎﺀ )ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‬‫ﺴ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﺎﻟﻨ‬‫ﺻ‬‫ﻮ‬‫ﺘ‬‫ ﻓﹶﺎﺳ‬‫ﺝ‬‫ﻮ‬‫ﻝﹾ ﺃﹶﻋ‬‫ﺰ‬‫ ﻳ‬‫ ﻟﹶﻢ‬‫ﻪ‬‫ ﹾﻛﺘ‬‫ﺮ‬‫ﺇﹺﻥﹾ ﺗ‬‫ﻭ‬
‫ﻠﹶﻖ‬‫ﺧ‬‫ ﻭ‬‫ﺓ‬‫ﺪ‬‫ﺍﺣ‬‫ﻔﹾﺲﹴ ﻭ‬‫ ﻧ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﹶﻘﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺧ‬‫ﻱ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺑ‬‫ﺍ ﺭ‬‫ﻘﹸﻮ‬‫ ﺍﺗ‬‫ﺎﺱ‬‫ﺎ ﺍﻟﻨ‬‫ﻬ‬‫ﺎﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬
.(1 : ‫ﺎﺀً )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬‫ﻧﹺﺴ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﺎﻻﹰ ﻛﹶﺜ‬‫ﺎ ﺭﹺﺟ‬‫ﻤ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﺚﱠ ﻣ‬‫ﺑ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻬ‬‫ﺟ‬‫ﺯﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬ “Dari Abu Hurairah ra. Berkata,
“Bersabda Rasulullah Saw: ‘Nasihatilah
”Hai sekalian manusia, bertakwalah wanita (dengan baik). Sesungguhnya
kepada Tuhanmu yang telah mencip- wanita diciptakan dari tulang rusuk.
takan kamu dari seorang diri, dan Sesungguhnya bagian tulang rusuk
daripadanya Allâh menciptakan yang paling bengkok adalah bagian
pasangannya, dan dari keduanya Allâh atasnya. Jika engkau berusaha
memperkembangbiakkan laki-laki dan meluruskannya, ia akan patah. Jika
perempuan yang banyak…” (QS. al- engkau membiarkannya, maka ia akan
Nisâ’ (4):1). terus bengkok. Maka nasihatilah wanita
(dengan baik).” (H.R. Bukhârî).
Dalam hadîts juga ditemukan
sebuah riwayat yang menerangkan asal- Mayoritas mufassir menafsirkan
usul kejadian perempuan yang mirip kata minhâ dalam ayat 1 surah al-Nisâ’
sekali dengan Kitab Kejadian dalam dengan “dari bagian tubuh (tulang rusuk)
Bibel,35 dan hadits ini banyak dikutip Adam” 36 dengan berdasarkan pada hadits
dalam kitab tafsir yang mu`tabar. di atas. Sedangkan sebagian mufassir
memberikan penafsiran yang berbeda
‫ﻮﻝﹸ ﺍﷲِ ﺻﻠﻰ‬‫ﺳ‬‫ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺭ‬: ‫ ﻗﹶﺎﻝﹶ‬، ‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ ﻋ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻲ‬‫ﺿ‬‫ ﺭ‬، ‫ﺓﹶ‬‫ﺮ‬‫ﻳ‬‫ﺮ‬‫ ﺃﹶﺑﹺﻲ ﻫ‬‫ﻦ‬‫ﻋ‬ seperti yang dikemukakan dalam Tafsîr
al-Râzî sebagaimana dikutip oleh
‫ﻠﹶﻊﹴ‬‫ ﺿ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻘﹶﺖ‬‫ﻠ‬‫ﺃﹶﺓﹶ ﺧ‬‫ﺮ‬‫ﺎﺀِ ﻓﹶﺈﹺﻥﱠ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺴ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﺎﻟﻨ‬‫ﺻ‬‫ﻮ‬‫ﺘ‬‫ ﺍﺳ‬: ‫ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‬ Nasaruddin Umar:

35
Uraian al-Kitab (Bible) tentang penciptaan “Yang dimaksud dengan ‘dan dari
berasal dari dua sumber yang berbeda, yakni dari padanya Allâh menciptakan zaujnya’ yaitu
tradisi Yahwis (abad X SM.) dan tradisi Imamat dari jins (gen) Adam, sebagaimana
(abad V SM.), yang kemudian memunculkan dua firman Allâh: Sungguh telah datang dari
tradisi yang berbeda. Di dalam al-Kitab terdapa “diri” kamu sekalian seorang Rasul. Dan
empat acuan tentang penciptaan perempuan: (1) Allâh menjadikan untukmu sekalian
genesis (Kitab Kejadian 1: 26-27), (2) Tradisi Imamat pasangan-pasangan dari kamu. Sekiranya
2: 7; (3) Tradisi Yahwis 2: 18-14, dan (4) Tradisi Hawa adalah makhluk pertama (dari
Imamat 5: 1-2. Di antara naskah yang paling tulang rusuk, pen.) maka niscaya
berpengaruh ialah Kitab Kejadian 2: 21-23 yang
manusia diciptakan dari dua nafs, bukan
menyatakan: “Lalu Tuhan Allâh membuat
manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan
dari satu nafs (nafs wâhidah). Dapat pula
Allâh mengambil salah satu tulang rusuk dari ditegaskan bahwa kata “min” pada ayat
padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
36
(22) Dan dari tulang rusuk yang diambil Tuhan Ibn Katsîr, Al-Tafsîr al-Qur’ân al-`Azhîm, Jilid I
Allâh dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994/1414), hlm. 553-554; Abî
perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. `Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshârî al-
(23)”. Lihat, Nasaruddin Umar, Kodrat Perempuan Qurthûbî, Al-Jâmi` Li Ahkâm al-Qur’ân, Juz V
dalam Islam (Jakarta: Lembaga Kajian Agama & (Beirut: Dâr al-Fikr, 1987/1407), hlm. 1-2; lihat
Gender, 1999), hlm. 16-17. Bandingkan dengan, juga, Nashîr al-Dîn Abî Sa`id Abdullah bin Umar
Riffat Hassan, “Teologi Perempuan dalam Tradisi bin Muhammad as-Syîrazî al-Baidhâwî, Anwâr al-
Islâm: Sejajar di Hadapan Allâh?” Ulumul Qur’an, Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl; Tafsîr al-Baidhâwî, Juz I
No. 4, Vol. I (1990), hlm. 51 (Beirut: Dâr al-Fikr, t.t.), hlm. 63-64

KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011 | 113


Fadlan

tersebut (min nafs wâhidah) adalah li memberikan citra negatif kepada


ibtidâ’al-ghâyah, sekiranya ia menunjuk perempuan dan selanjutnya anggapan ini
pada penciptaan awal (ibtidâ’ at-takhlîq) sangat membekas di alam bawah sadar
maka Adam-lah yang lebih pantas kaum perempuan dan “merelakan”
disebut sebagai manusia pertama. Jika
dirinya senantiasa di bawah otoritas dan
dikatakan kamu sekalian diciptakan dari
dominasi kaum laki-laki.
nafs yang satu, dan Allâh dengan
kehendak-Nya menciptakan Adam dari
tanah (turâb), maka dengan kehendak- Konsep Kesetaraan Gender dalam
Nya juga menciptakan Hawa dari turâb. al-Qur’ân
Jika demikian adanya maka apa gunanya Dalam kaitannya dengan
mengatakan bahwa Hawa diciptakan persoalan relasi laki-laki dan perempuan,
dari tulang rusuk Adam?”37 prinsip dasar al-Qur’ân sesungguhnya
Hadîts di atas dari segi matn dinilai memperlihatkan pandangan yang
shahîh, maka ada sebagian ulama, seperti egaliter. Menurut Asghar, Al-Qur’ân lah
Muhammad Abduh cenderung menak- yang pertama kali memberikan mereka
wilkannya. Termasuk orang yang (perempuan) hak-hak yang sebelumnya
cenderung kepada pendapat ini ialah tidak pernah mereka dapatkan dalam
Quraish Shihab, karena ia memahami aturan yang legal.39 Hal senada
istilah “tulang rusuk yang bengkok” diungkapkan oleh Syekh Mahmûd
secara majâzi (kiasan), yaitu memper- Syaltût dalam bukunya al-Islâm `Aqîdatun
ingatkan kepada kaum laki-laki agar wa Syarî`atun menegaskan:
bijaksana dalam menghadapi kaum
perempuan, apalagi kata “kiri” dalam ‫ﻭﻗﺪ ﺩﻟﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻌﻨﺎﻳﺔ ﻋﻠﻰ‬
tradisi intelektual Arab berkonotasi
negatif dan sebaliknya kata “kanan”
‫ﺍﳌﻜﺎﻧﺔ ﺍﻟﱴ ﻳﻨﺒﻐﻰ ﺃﻥ ﺗﻮﺿﻊ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﳌﺮﺃﺓ ﰱ‬
berkonotasi positif. Hadîts tersebut dapat ‫ﺎ ﻣﻜﺎﻧﺔ ﱂ ﲢﻆ ﺍﳌﺮﺃﺓ‬‫ﻧﻈﺮ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻭﺇ‬
mengesankan depersonalized sumber ‫ﲟﺜﻠﻬﺎ ﰱ ﺷﺮﻉ ﲰﺎﻭﻱ ﺳﺎﺑﻖ ﻭﻻ ﰱ‬
ciptaan kaum perempuan, karena rusuk
secara teoritis bukan manusia, sebagai ‫ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻧﺴﺎﱏ‬
akibatnya lebih jauh bisa memperkokoh
kesan androsentrisme di kalangan kaum “Perhatian yang begitu besar itu
laki-laki karena menganggap kaum menunjukkan atas suatu kedudukan yang
perempuan sebagai subordinasi yang selayaknya perempuan itu ditempatkan
berfungsi komplementer terhadap menurut pandangan Islâm. Sungguh
dirinya dan dengan demikian akan kedudukan yang diberikan Islâm kepada
memberikan posisi infriority complex perempuan itu merupakan kedudukan
kepada kaum perempuan.38 yang tidak pernah diperoleh perempuan
Dengan demikian, inferioritas pada syari`at agama samawi terdahulu
perempuan mendapat pembenaran mulai dan tidak pula ditemukan dalam
dari level teologis hingga biologis. masyarakat manusia manapun.” 40
“Kelemahan-kelemahan inheren” yang
diidap oleh perempuan itulah yang 39
Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi
Pembebasan, terj. Agung Prihantoro (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 50
37 40
Umar, Argumen Kesetaraan Jender, hlm. 18-19 Mahmûd Syaltût, al-Islâm Aqîdatun wa Syarî`atun
38
Ibid., hlm. 20 (Beirut: Dâr al-Nafâis, 1989), hlm. 227

114 | KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011


Islâm, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender

Merujuk pada al-Qur’ân banyak yang paling bertaqwa diantara kalian.


ayat menjelaskan tentang prinsip-prinsip Sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui
kesetaraan gender. Nasaruddin Umar lagi Maha Mengenal.” (QS. al-
mencoba mengkompilasinya sebagai Hujurât/49: 13).
berikut: pertama, prinsip kesetaraan
gender mengacu pada suatu realitas Kedua, adalah fakta bahwa laki-laki
antara laki-laki dan perempuan, dalam dan perempuan diciptakan sebagai
hubungannya dengan Tuhan, sama-sama khalîfah. Jika dicermati, Allâh Swt. sama
sebagai seorang hamba. Tugas pokok sekali tidak menegaskan jenis kelamin
hamba adalah mengabdi dan seorang khalîfah. Jadi dalam Islâm
menyembah.41 Ini dapat dipahami dalam prinsip kesetaraan gender telah dikenal
firman-Nya: “Dan tidaklah Aku sejak zaman `azalî. Lihatlah surah al-
menciptakan jin dan manusia kecuali untuk Baqarah ayat 30 yang menegaskan:
menyembah-Ku.” (QS. al-Dzâriyât (51): 56).
Dalam kapasitas manusia sebagai :‫ﻔﹶﺔ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﻴ‬‫ﻠ‬‫ﺽﹺ ﺧ‬‫ﻰ ﺍﹾﻻﹶﺭ‬‫ﻞﹲ ﻓ‬‫ﺎﻋ‬‫ﻰ ﺟ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻜﹶﺔ‬‫ﻼﹶﺋ‬‫ﻠﹾﻤ‬‫ ﻟ‬‫ﻚ‬‫ﺑ‬‫ﺇﺫﹾﻗﺎﹶﻝﹶ ﺭ‬‫ﻭ‬
hamba, tidak ada perbedaan antara laki-
. (30
laki dan perempuan. Perbedaan yang
dijadikan ukuran untuk memuliakan atau
merendahkan derajat mereka hanyalah “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
nilai ketaqwaannya.42 Prestasi ketaqwaan seorang khalîfah di muka bumi…” (QS.
dapat diraih oleh siapa pun, tanpa al-Baqarah/2: 30).
memperhatikan perbedaan jenis kelamin,
suku bangsa atau kelompok etnis Menurut Nasaruddin Umar, kata
tertentu. Al-Qur’ân menegaskan bahwa khalîfah pada ayat di atas tidak
hamba yang paling ideal ialah muttaqûn, menunjukkan kepada salah satu jenis
sebagaimana disebutkan dalam firman- kelamin atau kelompok etnis tertentu.
Nya: Laki-laki dan perempuan mempunyai
fungsi yang sama sebagai khalîfah, yang
‫ﺑﹰﺎ‬‫ﻮ‬‫ﻌ‬‫ ﺷ‬‫ﺎﻛﹸﻢ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﻌ‬‫ﺟ‬‫ﺜﹶﻰ ﻭ‬‫ﺃﹸﻧ‬‫ ﺫﹶﻛﹶﺮﹴ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﻛﹸﻢ‬‫ﻠﹶﻘﹾﻨ‬‫ﺎ ﺧ‬‫ ﺇﻧ‬‫ﺎﺱ‬‫ﺎﺍﻟﻨ‬‫ﻬ‬‫ﺎﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬ akan mempertanggung jawabkan ke-
khalîfahan-nya di bumi, sebagaimana
.‫ﺮ‬‫ﺒﹺﻴ‬‫ ﺧ‬‫ﻢ‬‫ﻴ‬‫ﻠ‬‫ ﺇﹺﻥﱠ ﺍﷲَ ﻋ‬‫ﻘﹶﺎﻛﹸﻢ‬‫ﺍﷲِ ﺃﹶﺗ‬‫ﺪ‬‫ﻨ‬‫ ﻋ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻣ‬‫ﺍ ﺇﹺﻥﱠ ﺃﻛﹾﺮ‬‫ﻓﹸﻮ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻌ‬‫ﺘ‬‫ﻞﹶ ﻟ‬‫ﺎﺋ‬‫ﻗﹶﺒ‬‫ﻭ‬
halnya mereka harus bertanggung jawab
.(13 :‫)ﺍﳊﺠﺮﺍﺕ‬ sebagai hamba Tuhan.43
Ketiga, laki-laki dan perempuan
“Hai manusia, sesungguhnya kami sama-sama mengemban amanah dan
menciptakan kalian dari seorang laki-laki menerima perjanjian primordial dengan
dan seorang perempuan dan menjadikan Tuhan. Saat itu jenis kelamin bayi belum
kalian berbangsa-bangsa dan bersuku- diketahui apakah laki-laki atau
suku supaya kalian saling mengenal. perempuan. Oleh karena itu, Allâh telah
Sesungguhnya orang yang paling mulia berbuat adil dan memberlakukan
diantara kalian di sisi Allâh ialah orang kesetaraan gender dengan terlebih
dahulu ia harus menerima perjanjian
41
Umar, Argumen Kesetaraan Gender, hlm. 248
42
Huzaemah Tahido Yanggo, “Pandangan Islam
Tentang Gender”, dalam Membincang Feminisme:
Diskursus Gender Perspektif Islam (Surabaya:
43
Risalah Gusti, 1996), hlm. 152 Umar, Argumen Kesetaraan Gender, hlm. 252-253

KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011 | 115


Fadlan

dengan Tuhannya,44 sebagaimana ini dapat dilihat dengan penggunaan kata


disebutkan dalam firmannya: ganti untuk dua orang (humâ), yakni kata
ganti untuk Adam dan Hawa.46 Seperti
‫ﻢ‬ ‫ﻫ‬‫ﺪ‬‫ﻬ‬‫ﺃﺷ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺘ‬‫ﻳ‬‫ ﺫﹸﺭ‬‫ﻢ‬‫ﺭﹺﻫ‬‫ﻮ‬‫ ﻇﹸﻬ‬‫ﻦ‬‫ﻡ ﻣ‬ ‫ﻨﹺﻰ ﺃﹶﺩ‬‫ ﺑ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ﺑ‬‫ﺬﹶ ﺭ‬‫ﺇﹺﺫﹾ ﺃﹶﺧ‬‫ﻭ‬ yang terdapat dalam ayat berikut:
‫ﻡ‬‫ﻳﻮ‬ ‫ﺍ‬‫ﻟﹸﻮ‬‫ﻘﹸﻮ‬‫ﻧﺎﹶ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﻬﹺﺪ‬‫ﻠﹶﻰ ﺷ‬‫ﺍﺑ‬‫ ﻗﺎﹶﻟﹸﻮ‬‫ ﹸﻜﻢ‬‫ﺑ‬‫ ﺑﹺﺮ‬‫ﺖ‬‫ ﺃﹶﻟﹶﺴ‬‫ﻔﹸﺴِﻬﹺﻢ‬‫ﻠﹶﻰ ﺃﹶﻧ‬‫ﻋ‬
‫ﻘﹶﺎ‬‫ﻃﹶﻔ‬‫ﺎﻭ‬‫ﻤ‬‫ﻬ‬‫ﺀَﺍﺗ‬‫ﻮ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ﻤ‬‫ ﻟﹶﻬ‬‫ﺕ‬‫ﺪ‬‫ﺓﹶ ﺑ‬‫ﺮ‬‫ﺠ‬‫ﺎﹶ ﺫﹶﺍﻗﹶﺎﺍﻟﺸ‬‫ﺭﹴ ﻓﹶﻠﹶﻤ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺑﹺﻐ‬‫ﻤ‬‫ﻟﹼﻬ‬‫ﻓﹶﺪ‬
.(172 :‫ )ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ‬.‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﻠ‬‫ ﻫﺬﹶﺍ ﻏﺎﹶﻓ‬‫ﻦ‬‫ﺎﹶ ﻋ‬‫ﺎﹶﻛﹸﻨ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﺔ‬‫ﺎﻣ‬‫ﻴ‬‫ﺍﻟﹾﻘ‬
‫ﺎ‬‫ﻜﹸﻤ‬‫ﻬ‬‫ ﺃﹶﻧ‬‫ﺎ ﺃﹶﻟﹶﻢ‬‫ﻤ‬‫ﻬ‬‫ﺑ‬‫ﺎ ﺭ‬‫ﻤ‬‫ﺍﻫ‬‫ﻧﺎﹶﺩ‬‫ ﻭ‬‫ﺔ‬‫ﻕﹺ ﺍﻟﹶﺠﻨ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻬﹺﻤ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﻔﹶﺎﻥ‬‫ﺼ‬‫ﺨ‬‫ﻳ‬
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu ‫ﻦ‬‫ﺒﹺﻴ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬‫ﺪ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻄﹶﺎﻥﹶ ﻟﹶﻜﹸﻤ‬‫ﻴ‬‫ﺎ ﺇﹺﻥﱠ ﺍﻟﺸ‬‫ﺃﹶﻗﹸﻞﹾ ﻟﹶﻜﹸﻤ‬‫ ﻭ‬‫ﺓ‬‫ﺮ‬‫ﺠ‬‫ﺎ ﺍﻟﺸ‬‫ﻠﹾﻜﹸﻤ‬‫ ﺗ‬‫ﻦ‬‫ﻋ‬
mengeluarkan keturunan anak-anak .(22 : ‫)ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ‬
Adam dari sulbi mereka dan Allâh
mengambil kesaksian terhadap jiwa “Maka syaitan membujuk keduanya
mereka (seraya berfirman): “Bukankan (untuk memakan buah itu) dengan tipu
Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: daya. Tatkala keduanya telah merasai
“Betul (Engkau Tuhan kami), kami buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya
menjadi saksi”. Kami lakukan yang aurat-auratnya, dan mulailah keduanya
“Sesungguhnya kami (Bani Adam) menutupinya dengan daun-daun surga.
adalah orang-orang yang lengah terhadap Kenudian Tuhan mereka menyeru
ini (keesaan Tuhan).” (QS. al-A`râf (7): mereka: “Bukankah Aku telah melarang
172). kamu berdua dari pohon kayu itu dan
Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata
Keempat, prinsip kesetaraan gender
bagi kamu berdua.” (QS. al-A`râf (7):
dalam al-Qur’ân dapat dilihat pada
22).
kenyataan antara Adam dan Hawa
adalah aktor yang sama-sama aktif
Kelima, sejalan dengan prinsip
terlibat dalam drama kosmis. Kisah
kesetaraan, maka laki-laki maupun
kehidupan mereka di surga, karena
perempuan sama-sama berhak meraih
beberapa hal, harus turun ke muka bumi,
prestasi dalam kehidupannya.47 Seperti
menggambarkan adanya kesetaraan
ditegaskan dalam ayat berikut:
peran yang dimainkan keduanya.45 Hal

44
‫ﻴﺎﹶ ﹰﺓ‬‫ ﺣ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ﻴﹺﻴ‬‫ﺤ‬‫ ﻓﹶﻠﹶﻨ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﻣ‬‫ﻮ‬‫ﻫ‬‫ﺜﹶﻰ ﻭ‬‫ﺃﹸﻧ‬‫ ﺫﹶﻛﹶﺮﹺ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﺤ‬‫ﻞﹶ ﺻﺎﹶﻟ‬‫ﻤ‬‫ﻦ ﻋ‬ ‫ﻣ‬
Ibid., hlm. 253-254
45
Mengenai persoalan kejatuhan Nabî Adam, .(97 :‫ )ﺍﻟﻨﺤﻞ‬.‫ﺔﹰ‬‫ﺒ‬‫ﻃﹶﻴ‬
mufassir seperti Al-Qurthûbî menganggap Hawa-
lah yang menjadi penyebab kejatuhan tersebut. “Barang siapa yang mengerjakan amal
Para feminis muslim jelas tidak sepakat dengan shaleh, baik laki-laki maupun perempuan
penjelasan teks agama yang demikian. Padahal dalam keadaan beriman, maka
ada ayat lain yang justru menunjuk godaan setan sesungguhnya akan kami berikan
itu terjadi kepada Nabî Adam sebagai suami:
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya
(Adam) dan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya
46
tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang Umar, Argumen Kesetaraan Jender, hlm. 260.
tidak akan punah’” (QS.Thâha: 120). Quraish Shihab Lebih lanjut dapat juga dilihat dalam ayat lain
mengatakan bahwa memang benar ada bisikan seperti, surah al-Baqarah: 35.
47
setan terhadap Hawa, akan tetapi Adam juga Ibid., hlm. 263-264. Berkaitan dengan hal
sama-sama dibisiki (QS. al-A`râf: 20). Lihat, M. tersebut ditegaskan secara khusus dalam tiga
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: ayat, diantaranya: QS. Ali `Imrân: 195, al-Nisâ’:
Mizan, 1997), hlm. 302 124 dan al-Ghâfir: 40.

116 | KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011


Islâm, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender

kepadanya kehidupan yang baik…” (QS. Dalam bahasa Ausaf Ali, kelompok
al-Nahl (16): 97). tradisional yang literal ini merupakan
Deskripsi tersebut dapat memberi kelompok protagonis yang
gambaran kepada kita bahwa al-Qur’ân menginterpretasikan teks-teks keagama-
menjunjung tinggi kesetaraan gender. an secara tekstual, sehingga menolak
Kesetaraan gender adalah merupakan prinsip kesetaraan. Alasannya, karena
bagian dari nilai Islâm yang berlaku menurut mereka, baik Al-Qur’ân maupun
universal.48 Jadi, analisis gender yang Hadits tidak menyebutkan secara
memperjuangkan kehidupan yang adil eksplisit prinsip kesetaraan di antara
dan lebih manusiawi tidak bertentangan keduanya secara fundamental, dan
dengan prinsip dasar ajaran Islâm. Oleh perempuan diciptakan lebih rendah
karena itu, tindakan yang diskriminatif daripada laki-laki.49 Bagi kelompok ini,
terhadap perbedaan-perbedaan tersebut Islâm tampaknya diyakini sebagai agama
dalam bentuk apapun tidak dapat yang datang secara tiba-tiba dan tidak
dibenarkan. Termasuk di dalamnya dipengaruhi oleh ruang dan waktu.
pemahaman-pemahaman keagamaan Akibatnya, sudut pandang mereka dalam
yang mengarah kepada dehumanisasi persoalan perempuan bersifat linear,
dan tindak diskriminasi tentu sangat tunggal, bahkan hitam putih dan
tidak dibenarkan, karena agama sejatinya streotipe.
diperuntukkan bagi kesejahteraan Berbeda dengan kelompok
seluruh umat manusia tanpa memandang tradisional, kelompok progresif
perbedaan dalam bentuk apapun. mengakui hak perempuan di ruang
Pada umumnya, perdebatan publik. Menurut kelompok ini, hak
seputar hak-hak perempuan di negara- perempuan dalam wilayah publik tidak
negara Muslim dapat diringkas ke dalam berbeda secara substansial dengan kaum
dua pandangan atau kelompok sosial, laki-laki, kelompok ini mempercayai
yaitu kelompok tradisional-konservatif bahwa Islâm menjunjung tinggi
dan kelompok progresif. Kelompok kesetaraan. Dalam bahasa Ausaf Ali,
tradisional-konservatif membatasi hak kelompok progresif ini disebut sebagai
perempuan hanya pada urusan domestik. kelompok antagonis yang memiliki daya
kritis terhadap interpretasi al-Qur’ân
yang patriarkis serta memandang bahwa
48
Termasuk dalam wilayah nilai-nilai Islâm yang al-Qur’ân mengandung banyak sekali
fundamental dan universal, seperti ajaran-ajaran ayat-ayat yang mengakui nilai
tentang kebebasan dan pertanggung jawaban 50
individu; kesetaraan manusia (tanpa memandang
kesetaraan, sebagaimana telah
perbedaan kelamin, warna kulit, atau suku dipaparkan di atas. Kebalikan dari
bangsa) dihadapan Allâh. Juga ajaran tentang kelompok pertama, kelompok ini
keadilan; persamaan manusia di depan hukum; meyakini bahwa posisi laki-laki dan
kritik dan kontrol sosial; menepati janji dan perempuan yang beriman setara di
menjunjung tinggi kesepakatan; tolong menolong
untuk kebaikan; yang kuat melindungi yang
hadapan Allâh, tanpa dibedakan oleh
lemah; musyawarah dalam hal urusan bersama; jenis kelamin.
kesetaraan suami istri dalam keluarga dan saling
memperlakukan ma`ruf diantara keduanya. Lihat
Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi 49 Ausaf Ali, Modern Muslim Thought, vol. 1
Perempuan: Dialog Fiqih Perempuan (Bandung: (Karachi: Royal Book Company, 2000), hlm. 54
Mizan, 1997), hlm. 29-31 50 Ibid.

KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011 | 117


Fadlan

Penutup Echol, Jhon M. dan Syadily, Hassan.


Dari uraian di atas, penulis dapat Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta:
menyimpulkan sesungguhnya problem Gramedia, 1996
peminggiran perempuan tidak lebih
Engineer, Asghar Ali. Islam dan Teologi
sebagai problem pemahaman keIslâman,
Pembebasan, terj. Agung Prihantoro.
bukan Islâm itu sendiri. Hal ini karena
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Islâm, selain seperti tergambar dalam
sejarah awal Islâm dan juga merujuk Fakih, Mansuor, et al. Membincang
pada al-Qur’ân cukup banyak ayat-ayat Feminisme: Diskursus Gender
yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip Perspektif Islam. Surabaya: Risalah
kesetaraan gender. Seperti dalam QS. Al- Gusti, 1996.
Ahzâb: 56 yang memberikan hak yang Fakih, Mansuor. Analisis Gender dan
seimbang antara laki-laki dan perempuan Transformasi Sosial. Yogyakarta:
dalam kapasitasnya sebagai seorang Pustaka Pelajar, 1999.
hamba Tuhan; QS. al-Baqarah: 30 adalah
Harun, Salman. Mutiara Al-Qur’an:
fakta bahwa laki-laki dan perempuan
Aktualisasi Pesan Al-Qur’an dalam
diciptakan sebagai khalîfah di muka bumi
Kehidupan. Jakarta: Logos, 1999.
yang mempunyai peran dan tanggung
jawab yang sama untuk memak- Hasyim, Syafiq. Hal-hal yang Tak
murkannya; QS. al-A’raf: 172 bahwa laki- Terpikirkan: Tentang Isu-isu
laki dan perempuan sama-sama Keperempuanan dalam Islam.
mengemban amanah dan menerima Bandung: Mizan, 2001
perjanjian primordial dengan Tuhan; QS. Ilyas, Yunahar. Feminisme dalam Kajian
Al-Nahl: 97 yang menjelaskan antara laki- Tafsir Al-Qur’an Klasik dan
laki dan perempuan sama-sama berhak Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka
meraih prestasi dalam kehidupannya Wa Pelajar, 1998
Allâh a`lam bi al-Sawâb
Isma’il, Ibn Katsîr. Al-Tafsîr al-Qur’ân al-
Daftar Pustaka `Azhîm, Jilid I. Beirut: Dâr al-Fikr,
Ali, Ausaf. Modern Muslim Thought, vol. 1. 1994/1414.
Karachi: Royal Book Company, Kamil, Sukron et al. Syari’ah Islam dan
2000. HAM: Damapk Perda Syariah terhadap
Baidhâwî, Nashîr al-Dîn Abî Sa`id Abd Kebebasan Sipil, Hak-Hak Perempuan,
Allâh bin Umar bin Muhammad al- dan Non-Muslim, Jakarta: CSRC,
Syîrazî al-. Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr 2007.
al-Ta’wîl; Tafsîr al-Baidhâwî. Beirut: Mas’udi, Masdar F. Islam dan Hak-hak
Dâr al-Fikr, t.t. Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqih
Bainar, (ed.). Wacana Perempuan dalam Perempuan. Bandung: Mizan, 1997.
Keindonesiaan dan Kemodernan. Megawangi, Ratna. Membiarkan Berbeda?:
Jakarta: PT. Pustaka CIDESINDO, Sudut Pandang Baru Tentang Relasi
1998. Gender. Bandung: Mizan, 1999.
Budiman, Arief. Pembagian Kerja Secara Qurthûbî, Abî `Abd Allâh Muhammad
Seksual. Jakarta: Gramedia, 1982. bin Ahmad al-Anshârî al-. Al-Jâmi`

118 | KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011


Islâm, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender

Li Ahkâm al-Qur’ân. Beirut: Dâr al- Jakarta: Lembaga Kajian Agama &
Fikr, 1987/1407. Gender, 1999.
Quthb, Sayyid. Fi Zhilâl al-Qur’ân. Beirut: Makalah, Jurnal, dan Media Online
Dâr al-Syurûq, 1986/1406 H.
Mulia, Musdah. “Islam dan Politik:
Shah, M. Aunul Abied, et.al. (ed.) Islam Membincang Hak-hak Politik
Garda Depan: Mosaik Pemikiran Islam Perempuan”. Makalah disampaikan
Timur Tengah. Bandung: Mizan, pada seminar sehari Islam dan
2001. Politik: Analisis Gender dalam
Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Qur’an. Kepemimpinan, yang diseleng-
Bandung: Mizan, 1997. garakan BEM Fakultas Dirâsât al-
Islâmiyah wa al-`Arabiyah, IAIN
Subhan, Zaitunah. Tafsir Kebencian: Studi Jakarta, kerjasama dengan Univer-
Bias Gender dalam Qur’an. sitas al-Azhar, Kairo, tgl. 21 April
Yogyakarta: LKiS, 1999. 2001 di Jakarta.
Sukidi. Teologi Inklusif Cak Nur. Jakarta:
Kompas, 2001 Islamika, No. 6, tahun 1995, hlm. 91
Syaltût, Mahmûd. Al-Islâm Aqîdatun wa
Ulumul Qur’an, No. 4, Vol. I Tahun 1990
Syarî`atun. Beirut: Dâr al-Nafâis,
1989.
Ulumul Qur’an, No. 4, Vol. III, tahun 1992
Syarif Romas, Chumaidi. Wacana Teologi
Kontemporer. Yogyakarta: PT. Tiara Ulumul Qur’an, No. 3, Vol. V, tahun 1994
Wacana Yogya, 2000.
Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan http://www.islamfortoday.com/turabi01
Jender; Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: .htm.
Paramadina, 1999.
http://www.islamfortoday.com/women
---------. Kodrat Perempuan dalam Islam. scholars.htm.



KARSA, Vol. 19 No. 2 Tahun 2011 | 119