Anda di halaman 1dari 37

STEP 7

1. Bagaimana pertumbuhan anak dikatakan normal

2.5 Penilaian status gizi secara Antropometri


Penilaian status gizi terbagi atas penilaian secara langsung dan penilaian secara tidak langsung.
Adapun penilaian secara langsung dibagi menjadi empat penilaian adalah antropometri, klinis,
biokimia dan biofisik. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi atas tiga
adalah survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
2.5.1. Penilaian secara langsung
1) Antropometri

Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka
antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, 2002). Beberapa indeks
antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan
menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
a) Indeks berat badan menurut umur (BB/U)

Merupakan pengukuran antropometri yang sering digunakan sebagai indikator dalam keadaan
normal, dimana keadaan kesehatan dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan gizi terjamin.
Berat badan memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak). Massa tubuh sangat
sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak, misalnya terserang infeksi, kurang nafsu
makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. BB/U lebih menggambarkan status
gizi sekarang. Berat badan yang bersifat labil, menyebabkan indeks ini lebih menggambarkan
status gizi seseorang saat ini (Current Nutritional Status)
b) Indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)

Indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau, juga lebih erat kaitannya
dengan status ekonomi (Beaton dan Bengoa (1973) dalam.
c) Indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal,
perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan
tertentu (Supariasa,dkk 2002).
2.5.2 Penilaian Secara Tidak Langsung
1. survei konsumsi makanan,

2. statistik vital dan

3. faktor ekologi
2.6 Terapi Penyakit

Dalam proses pengobatan anak balita gizi buruk terdapat tiga fase yaitu fase stabilisasi, transisi
dan rehabilitasi. Pengobatan rutin yang dilakukan di rumah sakit ada 10 langkah penting yaitu:
2. Atasi/cegah hipoglikemi

3. Atasi/cegah hiportemia

4. Atasi/cegah dehidrasi

5. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit


6. Obati/cegah infeksi

7. Mulai pemberian makanan

8. Fasilitas tumbuh-kejar (catch up growth)

9. Koreksi defisiensi nutrient mikro

10. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental

11. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20564/3/Chapter%20II.pdf
2. Kenapa pada anak kaki bengkak dan kurus
Tanda khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting edema adalah
edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti semula. Pitting edema disebabkan oleh
kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi,
maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke
intrasel, karena pada penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk
reabsorpsi natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Pada penderita kwashiorkor, selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika
ditekan, maka plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi
oleh membran sel dan mengembalikannya membutuhkan waktu yang lama karena
posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh
gaya gravitasi, tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008).

Kurus lemah

Karena asupan makanan juga tidak memadai jadi hanya sedikit energi yang
dihasilkan oleh tubuh anak tersebut, padahal makanan itu sangatlah penting
karena dari makanan tersebut energi akan dihasilkan. Dalam keadaan
tidurpun tubuh tetap membutuhkan tenaga untuk bernafas, degup jantung,
serta tenaga memasak zat makanan dan memakainya. Namun, makanan
perlu diatur agar sesuai dengan kebutuhan tubuh. Jumlahnya harus
memadai, dan mutunya sesuai dengan kebutuhan sehari-hari (Nadesul,
2001).
(Markum, A.H. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak . Jilid 1. Jakarta :
FKUI)

3. Apakah ada hubungan pemberian makanan sapihan dengan keluhan pada pasien pada usia
2 bulan?

MP-ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada
bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI (Depkes,
2006). MP-ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan
dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlah.
Hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan kemampuan alat pencernaan bayi dalam
menerima MP-ASI (Depkes RI, 2004).

MP-ASI merupakan peralihan asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang
semi padat. Untuk proses ini juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral
berkembang dari refleks menghisap menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan
dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang (Depkes,2000).
Adapun waktu yang baik dalam memulai pemberian MP-ASI pada bayi adalah umur 6
bulan. Pemberian makanan pendamping pada bayi sebelum umur tersebut akan menimbulkan
risiko sebagai berikut :
- Rusaknya sistem pencernaan karena perkembangan usus bayi dan pembentukan enzim yang
dibutuhkan untuk pencernaan memerlukan waktu 6 bulan. Sebelum sampai usia ini, ginjal
belum cukup berkembang untuk dapat menguraikan sisa yang dihasilkan oleh makanan
padat.

- Tersedak disebabkan sampai usia 6 bulan, koordinasi syaraf otot (neuromuscular) bayi belum
cukup berkembang untuk mengendalikan gerak kepala dan leher ketika duduk dikursi. Jadi,
bayi masih sulit menelan makanan dengan menggerakan makanan dari bagian depan ke
bagian belakang mulutnya, karena gerakan ini melibatkan susunan refleks yang berbeda
dengan minum susu.
- Meningkatkan resiko terjadinya alergi seperti asma, demam tinggi , penyakit seliak atau alergi
gluten (protein dalam gandum).
- Batuk, penelitian bangsa Scotlandia adanya hubungan antara pengenalan makanan pada umur
4 bulan dengan batuk yang berkesinambungan.
- Obesitas, penelitian telah menghubungkan pemberian makanan yang berlebih di awal masa
perkenalan dengan obesitas dan peningkatan resiko timbulnya kanker, diabetes dan
penyakit jantung di usia lanjut (Lewis, 2003).

Menurut WHO Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang dianggap baik adalah apabila
memenuhi beberapa kriteria hal berikut :
a). Waktu pemberian yang tepat, artinya MP-ASI mulai diperkenalkan pada bayi
ketika usianya lebih dari 6 bulan dan kebutuhan bayi akan energy dan zat-zat
melebihi dari apa yang didapatkannya melalui ASI
b). Memadai, maksudnya adalah MP-ASI yang diberikan memberikan energy,
protein dan zat gizi mikro yang cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi
anak.
c). Aman, makanan yang diberikan bebas dari kontaminasi mikroorganisme baik
pada saat disiapkan, disimpan maupun saat diberikan pada anak.

4. Apa hubungan pemberian asi tdk ekslusif dengan keluhan sekarang


d. efek dalam imunisasi
h. kontribusi dalam KB
http://digital%2F126490-S-5801-Pemberian%2520MP-ASI-Literatur.pdf
5. Mengapa bisa terjadi hipoglikemi , hipotermi , dan dehidrasi

6. Mengapa kondisi anak 3 hari ini tambah memburuk sangat lemah dan kesadaran menurun

Masa penyapihan merupakan suatu proses dimana seorang bayi secara perlahan memulai makan makanan
keluarga atau makanan dewasa, dan secara bertahap, bayi akan semakin kurang tergantung ASI 4 . Seperti
diketahui pada usia 4 bulan merupakan masa rawan kurang gizi karena kandungan gizi dalam ASI mulai kurang
mencukupi kebutuhan bayi untuk tumbuh.8
Masa penyapihan dini (sebelum 4 bulan) , dapat menyebabkan bayi kenyang sehingga dapat mempengaruhi
jumlah/ kuantitas ASI yang masuk sehingga dapat menyebabkan bayi jatuh dalam keadaan kurang gizi. Oleh
karena ketika makanan selain ASI diberikan, maka konsumsi ASI akan berkurang. 9 Sedangkan pemberian
makanan sapihan yang terlambat (lebih dari 6 bulan) dapat juga menyebabkan bayi kurang gizi karena
kandungan gizi yang diterima bayi dalam ASI sudah tidak mencukupi untuk pertumbuhan bayi. Pemberian
makanan sapihan yang tepat meliputi pemberian ASI dan makanan padat dalam kualitas dan kuantitas yang
cukup.
http://journal.undip.ac.id%2Findex.php

Infeksi yg diakibatkan karena makanan pendamping terlalu dini?


Kenapa pada pasien KEP rentan terjadi infeksi?

http://digital%2F126104-S-5830-Kejadian%2520KEP-Literatur.pdf
7. Berapa bb dan tb yg nrmal pda usia 3 thun, mengapa tampak kurus lemah nafsu makan
kurang , minum air putih dan sering rewel

8. Bagaimana cara pemberian makanan pendamping asi


9. Bagaimana seorang anak dikatakan kurang gizi
10. Kenapa didapatkan diare dan batuk pilek
11. Apa hubungan sejak 1 tahun yang lalu makan nasi tiap hari dan sayur tempe tahu tidak
12. Makananapa saja yg disaran kan pada masa penyapihan
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20811/4/Chapter%20II.
pdf
http://www.health.gov.nl.ca/health/publications/feedingyourbaby6_12m
onths.pdf

6 bulan
7 bulan

http://www.healthpromotionagency.org.uk/Resources/nutrition/pdfs/we
aning%20made%20easy08.pdf
13. Apa pentingnya dari pemberian asi ekslusif
Dikenalkan dengan makanan pendamping asi.

http://digital%2F126490-S-5801-Pemberian%2520MP-ASI-Literatur.pdf
14. DD

Marasmus
Definisi : kekurangan dari karbohidrat , kekurangan protein
Kurus , rambut kuning
Kwasiokor
Definisi:
KEP
malnutrisi
Disertakan gambar gambarnya
Gambar kms
15. Klasifikasi dari KEP

Klasifikasi:

Etiologi
 Disebabkan oleh masukan energy dan protein yang sangat kurang
dalam makanan sehari-hari dengan jangka waktu yang cukup lama.
 Factor kemiskinan
 Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan pendamping ASI
( MP – ASI ) dan pemberian makanan sesudah bayi disapihin
 Pengetahuan mengenai pemeliharaan lingkungan yang sehat

(Kurang Energi Protein ( KEP ), Dyah Umiyarni p, SKM, M.Si)

 Intake yang tidak adekuat


 Kekurangan pasokan protein berkualitas
 Peningkatan kebutuhan metabolik
 Peningkatan kehilangan nutrien

(Ilmu Kesehatan Anak, Volume I, Nelson)

Protein dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan PASI. Namun demikian
protein ASI sangat cocok karena unsur protein didalamnya hampir seluruhnya
terserap oleh sistem pencernan bayi yaitu protein unsur whey. Perbandingan
protein unsur whey dan casein dalam ASI adalah 80:40, sedangkan dalam
PASI 20:80.

Artinya protein pada PASI hanya sepertiganya protein ASI yang dapat diserap
oleh sistem pencernaan bayi dan harus membuang dua kali lebih banyak
protein yang sukar diabsorpsi. Hal ini yang memungkinkan bayi akan sering
menderita diare dan defekasi dengan feces berbentuk biji cabe yang
menunjukkan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi diberikan PASI.

Kekurangan Energi Protein ( KEP ) merupakan keadaan kurang gizi yang


disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan
sehari-hari atau disebabkan oleh gangguan penyakit tertentu, sehingga tidak
memenuhi angka kecukupan gizi ( Depkes RI, 1999 ). KEP sendiri lebih sering
dijumpai pada anak prasekolah ( Sukirman, 1974 dalam Sutanto, 1994 ).

Sedangkan menurut Jellife ( 1966 ) dalam Supariasa, I.D.Nyoman ( 2002 )


dikatakan bahwa KEP merupakan istilah umum yang meliputi malnutrition,
yaitu gizi kurang dan gizi buruk termasuk marasmus dan kwashiorkor.

(Kejadian KEP, oleh Edwin Saputra FKM UI, 2009, Jurnal Universitas
Indonesia Jakarta)
KEP adalah keadaan dimana persediaan energi dan/atau protein tidak sesuai
dengan kebutuhan metabolik, sehingga menyebabkan kerusakan atau
keterlambatan dalam proses fisiologis.

(Ilmu Kesehatan Anak, Volume I, Nelson)

Menurut Departemen Kesehatan RI ( 1999 ) dalam tata buku pedoman


Tata Laksana, KEP pada anak di puskemas dan di rumah tangga, KEP
berdasarkan gejala klinis ada 3 tipe yaitu KEP ringan, sedang, dan berat
(gizi buruk). Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan
hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis
besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiokor dan marasmus-
kwashiokor.

(Kejadian KEP, oleh Edwin Saputra FKM UI, 2009, Jurnal Universitas
Indonesia Jakarta)

KEP ringan bila tidak ditangani  data jatuh ke status gizi yang lebih buruk
(marasmus, kwashiorkor, marasmic-kwashiorkor )

KEP berat/gizi buruk :

 Marasmus  kekurangan energy; menekankan satu atau lebih tanda


defisiensi protein dan kalori
 Kwashiorkor  kekurangan protein; defisiensi protein berat dan
masukan kalori tidak cukup
 Marasmic-kwashiorkor  kekurangan energy dan protein

(Kurang Energi Protein ( KEP ), Dyah Umiyarni p, SKM, M.Si)


Gejala klinis KEP berat/gizi buruk yang dapat ditemukan :
a. Kwashiokor
- Adanya edem diseluruh tubuh terutama kaki, tangan, atau
anggota badan lain
- Wajah membulat dan sembab
- Pandangan mata sayu
- Rambut tipis, kemerahan seperti rambut jagung
- Perubahan status mental : cengeng, rewel
- Pembesaran hati
- Otot mengecil
- Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas
- Diare
- Anemia
- Oedema ( terutama kaki bagian bawah )
- Bentuk muka bulat seperti bulan ( moon face )
- Rambut tipis, warna coklat kemerahan (pirang/abu-abu dan
mudah lepas/mudah dicabut tanpa rasa sakit
- Kulit kering, hiperpigmentasi dan bersisik, serta ada tanda lain 
crazy pavement dermatosis ( bercak-bercak putih/merah muda
dengan tepi hitam dan ditemukan pada bagian tubuh yang sering
mendapat tekanan )
- Hepatomegali ( pembengkakan hati )
-
b. Marasmus
- Tampak sangat kurus
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng
- Kulit keriput
- Pertu cekung
- Tekanan darah, detak jantung, dan pernafasan berkurang
- Anak kurus, tinggal tulang terbungkus kulit
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng, rewel
- Lapisan lemak bawah kulit sangat sedikit  kulit mudah diangkat,
kulit terlihat longgar, kulit paha berkeriput
- Otot menyusut (wasted), lembek
- Tulang rusuk tampak terlihat jelas
- Terlihat tulang belakang lebih menonjol dan kulit di pantat
berkeriput (baggy pant)
- Ubun-ubun besar cekung, tulang pipi dan dagu menonjol, mata
besar dan dalam
- Tekanan darah, detak jantung pernafasan berkurang
c. Maramus-kwashiokor
- Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik
kwashiokor dan marasmus, disertai dengan edema yang tidak
mencolok ( Depkes, 2001 )
- Gabungan dari tanda marasmus dan kwashiorkor
- Gangguan pertumbuhan
- Ceazy pavement dermatosis
- Rambut tipis, pirang, dan mudah dicabut
- Muka seperti orang tua
- Oedema hanya pada anggota gerak bagian bawah
-
SUMBER : Kejadin KEP, oleh Edwin Saputra FKM UI, 2009, Jurnal
Universitas Indonesia Jakarta
SUMBER : Kurang Energi Protein ( KEP ), Dyah Umiyarni p, SKM, M.Si

a. Kwashiorkor
i. Gejala awal tidak khas : letargis, apatis, iritabilitas
ii. Bila terus maju mengakibatkan pertumbuhan tidak cukup,
kurang stamina, kekurangan jaringan muskuler, rentan
terhadap infeksi dan edema
iii. Anoreksia
iv. Kemunduran jaringan subkutan
v. Kehilangan tonus otot
vi. Hati membesar
vii. Aliran plasma ginjal, angka filtrasi glomerulus, dan fungsi
tubuler ginjal menurun
viii. Jantung pada awalnya mengecil  kemudian membesar
ix. Dermatitis dan dipigmentasi
x. Pada anak berambut hitam  hipokromotrichia (abu-abu pada
warna rambut)
xi. Infeksi dan infestasi parasit
b. Marasmus
i. Ada kegagalan menaikkan berat nadan  sampai kurus
ii. Kehilangan turgor pada kulit  kulit kendor dan berkerut
karena lemak subkutan hilang
iii. Abdomen dapat kembung atau datar serta gambaran usus
mudah dilihat
iv. Terjadi atrofi otot akibat hipotoni
v. Suhu subnormal
vi. Nadi mungkin lambat
vii. Angka metabolisme basal cenderung menurun
viii. Awalnya bayi rewel  kemudian menjadi lesu dan nafsu makan
hilang
ix. Konstipasi, tetapi dapat muncul diare tipe kelaparan  buang
air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit
c. Marasmik-kwashiorkor
Campuran dari beberapa gejala klinik Kwashiorkor dan Marasmus
dengan BB/TB <-3 SD disertai edema yang tidak mencolok
SUMBER : Ilmu Kesehatan Anak, Volume I, Nelson

16. Tidakan yang harus dilakukan (gawat daruratan(hipoglikemi , hipotermi dan dehidrasi)
Tatalaksana Gizi buruk
“10 langkah utama”
No Tindakan Stabilisasi Transisi Rehabilitasi Tindak lanjut
H 1-2 H 3-7 H 8-14 mg 3-6 mg 7-26
1. Atasi/cegah
hipoglikemia

2. Atasi/cegah
hipotermia
3. Atasi/cegah
dehidrasi
4. Perbaiki gang-
guan elektrolit
5. Obati infeksi
6. Perbaiki def. tanpa Fe + Fe
Nutrien mikro
7. Makanan stab & trans
8. Makanan Tumb.kejar
9. Stimulasi
10. Siapkan tindak
lanjut
2
(Buku I : Buku Bagan Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2005, hal. 3)

CARA MENGATASI
HIPOGLIKEMIA
TANDA CARA MENGATASI
SADAR  Berikan 50 ml larutan Dekstrosa/ Glukosa
(TIDAK LETARGIS) 10%*) atau 50 ml larutan gula pasir 10%
secara oral/ NGT (bolus)
TIDAK SADAR  Berikan Larutan dekstrosa/ Glukosa 10% iv,
(LETARGIS) 5 ml x kgBB
 Selanjutnya berikan 50 ml larutan Glukosa
10% atau larutan gula pasir 10% secara
oral atau NGT (bolus)

RENJATAN (SHOCK)  Berikan Larutan Dekstrosa/ Glukosa 10%


secara intravena (iv) sebanyak 5 ml x kgBB
 Selanjutnya beri infus Ringer Laktat dan
Glukosa 10% prebandingan 1:1 (= RLG 5%)
sebanyak 15 ml x kgBB untuk 1 jam

*) 5 gram gula pasir (= 1 sendok teh munjung) + air matang s/d 50 ml


5
(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2005, hal. 3)
Cara mempertahankan dan memulihkan
suhu tubuh balita agar tidak hipotermia

Suhu tubuh 36,5 – 37,0 ºC


Mudah terjadi hipotermia  pertahankan suhu :

1. Tutuplah tubuh balita termasuk kepalanya


2. Hindari adanya hembusan angin
3. Pertahankan suhu ruangan 25–30C
4. Tetap diselimuti pada malam hari
5. Jangan biarkan tanpa baju terlalu lama saat pemeriksaan
& penimbangan
6. Tangan yg merawat harus hangat
7. Segeralah ganti baju atau peralatan tidur yang basah
8. Segera keringkan badan setelah mandi
9. Jangan gunakan botol air panas utk menghangati balita
 kulit terbakar

(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2005, hal. 4) 8

Cara mempertahankan dan memulihkan


suhu tubuh balita
agar tidak hipotermia(lanjutan)
Suhu tubuh < 36,5 ºC (hipotermia)
Tindakan  hangatkan tubuh :
1. Cara “kanguru” : kontak langsung kulit ibu
dan kulit balita
2. Lampu : diletakkan 50 cm dari tubuh balita
3. Monitor suhu setiap 30 menit
- suhu sdh normal?
- suhu tdk terlalu tinggi?
4. Hentikan pemanasan bila suhu tubuh sudah
mencapai 37C

Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2005, hal. 4)9
Memperbaiki gangguan
keseimbangan elektrolit

 Pada anak gizi buruk terjadi


ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh
 Perlu diberikan larutan elektrolit/ mineral
dalam bentuk ReSoMal (bila diare) dan
Formula WHO sesuai dengan fasenya

12

ReSoMal
(Rehidration Solution for Malnutrition)

Cara membuat ReSoMal


Bubuk WHO-ORS utk 1 liter (*): 1 pak Cara membuat lar.
Elektrolit/mineral
Gula pasir : 50 g
Lar. Elektrolit/mineral (**) : 40 ml
(**)komposisi :
Ditambah air sampai : 2 liter
KCl : 224 g
Tripotasium citrat: 81 g
Setiap 1 liter cairan Resomal:
MgCl2.6H2) : 76 g
Na = 37,5 mEq, K = 40 mEq dan
Zn acetat 2 H2O : 8,2 g
Mg = 1,5 mEq
CuSO4.5H2O : 1,4 g
(*) Bubuk WHO-ORS/1 liter:Nacl= 2,6 g
Ditambah air sampai: 2,5 liter
Trisodium citrat dihidrat = 2,9 g
KCl = 1,5 g dan glukosa = 13,5 g
13
ReSoMal
(Rehidration Solution for Malnutrition)
Modifikasi ReSoMal
Bubuk WHO-ORS utk 1 liter (*) : 1 pak
Gula pasir : 50 gr
Bubuk KCl : 4 gr
Ditambah air sampai : 2 liter
Atau
Bubuk WHO-ORS siap pakai : 1 liter
Gula pasir : 50 gr
Lar. Elektrolit/mineral (**) : 40 ml
Ditambah air sampai : 2 liter
Karena tidak mengandung Mg, Zn dan Cu,
Diberi jus buah2an yang banyak mengandung mineral, atau diberikan
MgSO4 50 % I.m 1 x dosis 0,3 ml/kg BB maksimum 2 ml.

14

17. Efek gizi buruk bagi sistem pencernaan , kardovaskuler , elektrolit dan metabolik

18. Penatalaksanaan sesuai WHO untuk gizi buruk (ada 3 fase)

Dalam proses pengobatan KEP berat terdapat 3 fase, adalah fase stabilisasi, fase transisi dan fase
rehabilitasi. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang cocok untuk setiap
fase. Tatalaksana ini digunakan baik pada penderita kwashiorkor, marasmus maupun marasmik-
kwarshiorkor.
2.2.1. Tahap Penyesuaian
Tujuannya adalah menyesuaikan kemampuan pasien menerima makanan hingga ia mampu
menerima diet tinggi energi dan tingi protein (TETP). Tahap penyesuaian ini dapat berlangsung
singkat, adalah selama 1-2 minggu atau lebih lama, bergantung pada kemampuan pasien untuk
menerima dan mencerna makanan. Jika berat badan pasien kurang dari 7 kg, makanan yang
diberikan berupa makanan bayi. Makanan utama adalah formula yang dimodifikasi. Contoh: susu
rendah laktosa +2,5-5% glukosa +2% tepung. Secara berangsur ditambahkan makanan lumat dan
makanan lembek. Bila ada, berikan ASI.
Jika berat badan pasien 7 kg atau lebih, makanan diberikan seperti makanan untuk anak di atas 1
tahun. Pemberian makanan dimulai dengan makanan cair, kemudian makanan lunak dan makanan
biasa, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Pemberian energi dimulai dengan 50 kkal/kg berat badan sehari.

b. Jumlah cairan 200 ml/kg berat badan sehari.

c. Sumber protein utama adalah susu yang diberikan secara bertahap dengan keenceran 1/3, 2/3,
dan 3/3, masing-masing tahap selama 2-3 hari. Untuk meningkatkan energi ditambahkan 5%
glukosa, dan

d. Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering, adalah 8-10 kali sehari tiap 2-3 jam.
Bila konsumsi per-oral tidak mencukupi, perlu diberi tambahan makanan lewat pipa (per-sonde)
(RSCM, 2003).
2.2.2. Tahap Penyembuhan
Bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan bertambah baik, secara berangsur, tiap 1-2 hari,
pemberian makanan ditingkatkan hingga konsumsi mencapai 150-200 kkal/kg berat badan sehari
dan 2-5 gram protein/kg berat badan sehari.
2.2.3. Tahap Lanjutan
Sebelum pasien dipulangkan, hendaknya ia sudah dibiasakan memperoleh makanan biasa yang
bukan merupakan diet TETP. Kepada orang tua hendaknya diberikan penyuluhan kesehatan dan
gizi, khususnya tentang mengatur makanan, memilih bahan makanan, dan mengolahnya sesuai
dengan kemampuan daya belinya. Suplementasi zat gizi yang mungkin diperlukan adalah :
a. Glukosa biasanya secara intravena diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoglikemia.

b. KCl, sesuai dengan kebutuhan, diberikan bila ada hipokalemia.

c. Mg, berupa MgSO4 50%, diberikan secara intra muskuler bila terdapat hipomagnesimia.

d. Vitamin A diberikan sebagai pencegahan sebanyak 200.000 SI peroral atau 100.000 SI secara
intra muskuler. Bila terdapat xeroftalmia, vitamin A diberikan dengan dosis total 50.000 SI/kg
berat badan dan dosis maksimal 400.000 SI.

e. Vitamin B dan vitamin C dapat diberikan secara suntikan per-oral. Zat besi (Fe) dan asam folat
diberikan bila terdapat anemia yang biasanya menyertai KKP berat.

19. Komplikasi dan pencegahannya

Pada penderita gangguan gizi sering terjadi gangguan asupan vitamin dan mineral. Karena begitu
banyaknya asupan jenis vitamin dan mineral yang terganggu dan begitu luasnya fungsi dan organ
tubuh yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak. Pengaruh KEP bisa terjadi pada
semua organ sistem tubuh. Beberapa organ tubuh yang sering terganggu adalah saluran cerna,
otot dan tulang, hati, pancreas, ginjal, jantung, dan gangguan hormonal.
Anemia gizi adalah kurangnya kadar Hemoglobin pada anak yang disebabkan karena kurangnya
asupan zat Besi (Fe) atau asam Folat. Gejala yang bisa terjadi adalah anak tampak pucat, sering
sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya. Pengaruh sistem hormonal yang terjadi adalah
gangguan hormon kortisol, insulin, Growht hormon (hormon pertumbuhan) Thyroid Stimulating
Hormon meninggi tetapi fungsi tiroid menurun. Hormon-hormon tersebut berperanan dalam
metabolisme karbohidrat, lemak dan tersering mengakibatkan kematian (Sadewa, 2008).
Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita KEP, khusu
snya pada KEP berat. Beberapa penelitian menunjukkan pada KEP berat resiko kematian
cukup besar, adalah sekitar 55%. Kematian ini seringkali terjadi karena penyakit infeksi
(seperti Tuberculosis, radang paru, infeksi saluran cerna) atau karena gangguan jantung
mendadak. Infeksi berat sering terjadi karena pada KEP sering mengalami gangguan
mekanisme pertahanan tubuh. Sehingga mudah terjadi infeksi atau bila terkena infeksi
beresiko terjadi komplikasi yang lebih berat hingga mengancam jiwa (Nelson, 2007).
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20564/3/Chapter%20II.pdf

STEP 7