Anda di halaman 1dari 57

1|LBM 3

ANAK TERLAMBAT JALAN

STEP 1

Head lag :

Milestone : suatu tingkat perkembangan yang harus dicapai anak sesuai umurnya 
bahasa, social, motorik halus, motorik kasar, kognitif (Dewi A)

STEP 2

1. Mengapa di usia yang ke 2tahun 6bulan belum bisa berdiri dan belum bisa berjalan?
(Okto)
2. Mengapa ditemukan LK mikrosefali? Apakah ada hubungannya dengan kelainan
congenital? (Ulya)
3. Mengapa ditemukan tonus keempat ekstremitas hipertonus dan head lag (+)? (Dewi
A)
4. Mengapa dokter mencurigai developmental delayed dengan keterlambatan
milestone 4 domain? (Dinar)
5. Apa saja yang dimaksud 4 domain perkembangan tsb? (Miranti)
6. Apakah ada hubungan usia 1tahun sakit infeksi dengan keluhan? (Rohminisa)
7. Pemeriksaan apa saja yang harusnya dilakukan? (Ardanti)
8. Apa yang dimaksud tumbuh kembang? Dan apa saja tahapannya? (Fairus)
9. Bagaimana cara menilai deteksi dini gangguan perkembangan? (Miranti)
10. Factor apa saja yang mempengaruhi tumbuh kembang? (Dewi A)
11. Tingkat perkembangan berdasarkan usia! (Okto)
12. Ciri pertumbuhan dan perkembangan! (Fairus)
13. Jenis-jenis tumbuh kembang! (Rohminisa)

STEP 3

1. Mengapa di usia yang ke 2tahun 6bulan belum bisa berdiri dan belum bisa
berjalan?
Dinar :
Harusnya 2tahun 6bulan sudah bisa naik-turun tangga, makan sendiri,
menggunakan 2 kata, menggambar garis, bermain dengan anak lain  belum bisa
berjalan  ada gangguan motorik kasar
Dewi A:
2|LBM 3

Motorik : Koordinasi musculoskeletal dan saraf


Motorik kasar? Gerakan yang melibatkan otot-otot besar seperti berjalan, berdiri
Motorik halus? Koordinasi penglihatan (otot penggerak bola mata), mengancingkan
baju
2. Mengapa ditemukan LK mikrosefali? Apakah ada hubungannya dengan
kelainan congenital?
Ulya : ukuran lingkar kepala : parameter penting dalam mendeteksi gangguan
pertumbuhan dan perkembangan
Mikrosefali : kemungkinan retardasi mental dan malnutrisi kronis
3. Mengapa ditemukan tonus keempat ekstremitas hipertonus dan head lag (+)?
Miranti : kelainan UMN
Head lag : tonus otot
4. Mengapa dokter mencurigai developmental delayed dengan keterlambatan
milestone 4 domain?
Miranti :
Karena menurut milestone tidak sesuai, seharusnya usia 2tahun sudah bisa naik/
turun tangga, menggambar garis, berinteraksi dengan teman-temannya 
developmental delayed
5. Apa saja yang dimaksud 4 domain perkembangan tsb?
Dewi A:
Personal/ perilaku social : untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan
Find motor adaptive : kemampuan anak untuk mengamati sesuatu  melakukan
gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh yang memerlukan koordinasi yang
cermat, misal kemampuan untuk menggambar dan memegang suatu benda
Motorik kasar : aspek yang berhubungan dengan pergerakkan dan sikap tubuh
contoh berjalan, berlari
Language : kemampuan untuk memberikan respon thd suara mengikuti perintah
dan berbicara spontan
6. Apakah ada hubungan usia 1tahun sakit infeksi dengan keluhan?
Miranti :
Dalam factor yang mempengaruhi ada factor eksternal salah satunya ada infeksi 
mengganggu perkembangan (TORCH, kernikterus)
7. Pemeriksaan apa saja yang harusnya dilakukan untuk menilai
perkembangan?
Okto :
DDST : denver development screening test
a. Auditory evoked potential : suara  respon batang otak thd suara, dengar atau
tidak
b. Auditory response cradle : respon perilaku thd suara (kepala menoleh)
c. Otoacustic emisi test
3|LBM 3

Rini
Skala yaumil mimi : perkembangan berdasar dari usia untuk nilai gerakan kasar,
halus, emosi, social, perilaku, dan bicara contohnya usia 3bulan harusnya sudah ada
kontak mata dengan orang tua, misalnya diajak bercanda  tertawa
Dinar
Milestone ; perkembangan dan pertumbuhan anak berdasarkan umur untuk
menentukan terlambat/ tidak
4-6minggu : tersenyum spontan, mengeluarkan sedikit suara
12minggu ; mulai bisa menegakkan kepalanya, belajar tengkurap, saat dipanggil
sudah bisa menoleh
20minggu ; diberi benda sudah bisa meraih
9-10bulan : bisa menunjuk sesuatu, sudah belajar untuk merangkak
13bulan ; sudah belajar berjalan tanpa bantuan, mengucapkan kata-kata tunggal
18bulan : bisa menyusun 2-3 kotak, dan mengucapkan 5-10 kata
24bulan : mampu naik/ turun tangga, belajar makan sendiri, menggambar garis,
bermain dengan anak lain
3tahun : melompat, memanjat, dan menyusun kalimat dengan baik, melakukan
tugas sederhana
4tahun : menggunakan pakaian sendiri, lebih terampil menggambar, selalu ingin
tahu, banyak bertanya
5tahun : sudah bisa menari, menggambar orang lengkap, berhitung, mengenali
warna, rasa ingin tahu kegiatan orang dewasa tinggi (menyapu, bersih-bersih)
8. Apa yang dimaksud tumbuh kembang? Dan apa saja tahapannya?
Rohminisa:
Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak dari konsepsi sampai
maturitas/ dewasa yang dipengaruhi oleh factor bawaan dan lingkungan, tahapan-
tahapannya:
a. Pertumbuhan yang cepat dalam tahun pertama kemudian mengurang
berangsur-angsur umur 3-4tahun
b. Pertumbuhan yang berjalan lambat dan teratur sampai masa akil baligh
c. Pertumbuhan cepat pada masa akil baligh (12-16tahun)
d. Pertumbuhan kecepatan yang mengurang berangsur-angsur sampai suatu waktu
berhenti (kira-kira umur 18tahun)
9. Bagaimana cara menilai deteksi dini gangguan perkembangan?
Okto
DDST : denver development screening test
a. Auditory evoked potential : suara  respon batang otak thd suara, dengar atau
tidak
b. Auditory response cradle : respon perilaku thd suara (kepala menoleh)
c. Otoacustic emisi test
4|LBM 3

Tahap pertama : secara periodic dilakukan pada anak yang berusia 3-6bulan, 9-
12bulan, 18-24 bulan, 3tahun, 4 tahun, 5tahun
Tahap kedua ; dilakukan pada anak yang dicurigai ada hambatan perkembangan
pada tahap pertama kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostic yang lengkap
Rini
Skala yaumil mimi : perkembangan berdasar dari usia untuk nilai gerakan kasar,
halus, emosi, social, perilaku, dan bicara contohnya usia 3bulan harusnya sudah ada
kontak mata dengan orang tua, misalnya diajak bercanda  tertawa
Dinar
Milestone ; perkembangan dan pertumbuhan anak berdasarkan umur untuk
menentukan terlambat/ tidak
4-6minggu : tersenyum spontan, mengeluarkan sedikit suara
12minggu ; mulai bisa menegakkan kepalanya, belajar tengkurap, saat dipanggil
sudah bisa menoleh
20minggu ; diberi benda sudah bisa meraih
9-10bulan : bisa menunjuk sesuatu, sudah belajar untuk merangkak
13bulan ; sudah belajar berjalan tanpa bantuan, mengucapkan kata-kata tunggal
18bulan : bisa menyusun 2-3 kotak, dan mengucapkan 5-10 kata
24bulan : mampu naik/ turun tangga, belajar makan sendiri, menggambar garis,
bermain dengan anak lain
3tahun : melompat, memanjat, dan menyusun kalimat dengan baik, melakukan
tugas sederhana
4tahun : menggunakan pakaian sendiri, lebih terampil menggambar, selalu ingin
tahu, banyak bertanya
5tahun : sudah bisa menari, menggambar orang lengkap, berhitung, mengenali
warna, rasa ingin tahu kegiatan orang dewasa tinggi (menyapu, bersih-bersih)
10. Factor apa saja yang mempengaruhi tumbuh kembang?
Fairus :
a. Factor internal meliputi perbedaan ras, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan
genetic, dan kelainan kromosom
b. Factor eksternal kelainan dilihat dari factor prenatal bisa kerena gizi, toksin,
endokrin, infeksi, kelainan imunologi, serta psikologis ibu; jika dilihat dari
persalinan bisa karena komplikasi persalinan, factor lingkungan
11. Tingkat perkembangan berdasarkan usia!
Dinar :
Milestone ; perkembangan dan pertumbuhan anak berdasarkan umur untuk
menentukan terlambat/ tidak
4-6minggu : tersenyum spontan, mengeluarkan sedikit suara
12minggu ; mulai bisa menegakkan kepalanya, belajar tengkurap, saat dipanggil
sudah bisa menoleh
5|LBM 3

20minggu ; diberi benda sudah bisa meraih


9-10bulan : bisa menunjuk sesuatu, sudah belajar untuk merangkak
13bulan ; sudah belajar berjalan tanpa bantuan, mengucapkan kata-kata tunggal
18bulan : bisa menyusun 2-3 kotak, dan mengucapkan 5-10 kata
24bulan : mampu naik/ turun tangga, belajar makan sendiri, menggambar garis,
bermain dengan anak lain
3tahun : melompat, memanjat, dan menyusun kalimat dengan baik, melakukan
tugas sederhana
4tahun : menggunakan pakaian sendiri, lebih terampil menggambar, selalu ingin
tahu, banyak bertanya
5tahun : sudah bisa menari, menggambar orang lengkap, berhitung, mengenali
warna, rasa ingin tahu kegiatan orang dewasa tinggi (menyapu, bersih-bersih)
12. Ciri pertumbuhan dan perkembangan!
Miranti :
Pertumbuhan : tambah berat, tinggi
Perkembangan : perubahan fungsi organ
Criteria perkembangan anak yang normal?
Dinar : perkembangan yang sesuai umur
4-6 minggu : senyum
12 minggu : menegakkan kepala

Rohminisa : polanya sama, kecepatan berbeda, bisa diprediksi


Miranti : memiliki tahapan yang berurutan
13. Jenis-jenis tumbuh kembang!
Dewi A
Tumbuh kembang fisis : perubahan dalam ukuran besar dan fungsi organisme/
individu
Intelektual : berkaitan pada kepandaian komunikasi dan kemampuan untuk
menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik contohnya berbicara,
bermain, berhitung
Emosional : bergantung pada kemampuan bayi untuk membentuk ikatan batin,
bercinta dan berkasih saying, menangani kegelisahan akibat frustasi, mengelola
rangsangan agresif
14. Menentukan perkembangan?
Fairus : pemeriksaan fisik, antropometri
Miranti : tes IQ (intelegensi), tes proyeksi (gambar bunga, permen, balon) 
senang/ sedih/ acuh untuk sensoris
Rini : interaksi dengan anak, bagaimana responnya, dilihat verbal, gerakan halus
(menyodorkan mainan, bisa mengambil atau tidak?)
15. Apa saja penyebab gangguan bicara?
6|LBM 3

Rohminisa :
Lingkungan : sosek kurang, tekanan keluarga, keluarga bisu, bahasa bilingual
Emosi : ibu yang tertekan, gangguan serius pada anak
Masalah pendengaran : cacat bawaan dan bisa didapat
Cacat bawaan : palatoskisis, sindrom down
Kerusakan otak : kerusakan neuromuscular dan sensori motorik, cerebral palsy,
kelainan persepsi
16. Apakah diagnosanya?
17. Apa saja etiologinya?
18. Bagaimana pathogenesis adanya developmental delayed jika dilihat dari
4domain mailstone (bicara, motorik, dll)? GAMBARNYA!
19. Bagaimana penatalaksanaan yang tepat?

dria.anggraeny@yahoo.com

Step 7

1. Mengapa di usia yang ke 2tahun 6bulan belum bisa berdiri dan belum bisa
berjalan?

Secara garis besar faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya GPN dapat


dibagi
menjadi 3 :

1. Faktor pranatal
Termasuk dalam golongan ini adalah faktor-faktor genetik yaitu defek
gen/kromosom, misalnya trisomi 21 pada sindrom Down.Terdapat banyak
defek kromosom yang dapat menyebabkan GPN. Penyimpangan-penyimpangan
ini sudah ada sejak dini dan dalam bermacam-macam fase, yang dapat
menyebabkan malformasi serebral tergantung gen/ kromosom yang
bersangkutan. Kesehatan ibu selama hamil, keadaan gizi dan emosi yang baik,
ikut mempengaruhi keadaan bayi sebelum lahir. Faktor pranatal lain yang dapat
mempengaruhi terjadinya GPN adalah penyakit menahun pada ibu hamil seperti
: tuberkulosis, hipertensi, diabetes mellitus, anemia ; termasuk pula penggunaan
7|LBM 3

narkotika, alkohol serta merokok yang berlebihan. Usaha menggugurkan


kandungan sering berakibat bayi yang lahir cacat, yang selanjutnya dapat
menyebabkan GPN. Infeksi virus pada ibu hamil seperti rubella, sitomegalovirus
(CMV) dan toksoplasmosis dapat mengakibatkan kerusakan otak yang potensial
sehingga otak berkembang secara abnormal. Anoksia dalam kandungan, terkena
radiasi sinar-X dalam kehamilan, abruptio placenta, plasenta previa juga dapat
mempengaruhi timbulnya GPN.

2. Faktor perinatal
Keadaan-keadaan penting yang harus diperhatikan pada masa perinatal
berkaitan
dengan GPN adalah :
a. Asfiksia
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas
secara spontan, teratur dan adekuat pada saat lahir atau beberapa saat setelah
lahir. Bila keadaan ini berat dapat menyebabkan kematian atau kerusakan
permanen otak, sehingga bayi dapat mengalami GPN bahkan menderita cacat
seumur hidup.
b. Trauma lahir
Beberapa faktor risiko terjadinya trauma lahir antara lain : primigravida, partus
presipitatus, letak janin abnormal, penilaian feto-pelvik yang meragukan dan
oligohidramnion. Demikian pula dengan cara dan jenis persalinan akan turut
menentukan berat ringannya trauma lahir. Trauma lahir merupakan salah satu
faktor potensial terjadinya GPN karena terdapat risiko terjadinya kerusakan
otak terutama akibat perdarahan.
c. Hipoglikemia
Dikatakan hipoglikemia bila kadar glukosa darah <45 mg/dL (2,6 mmol/L) atau
pendapat lain mengatakan bila kadar glukosa darah <20 mg% pada bayi
preterm atau <30 mg% pada bayi aterm. Keadaan ini bila tidak ditanggulangi
dengan segera dapat menyebabkan kerusakan otak berat bahkan kematian.
d. Bayi berat lahir rendah (BBLR/berat lahir <2500 gram)
8|LBM 3

BBLR tergolong bayi risiko tinggi karena mempunyai angka morbiditas dan
mortalitas tinggi. Prognosis tumbuh-kembang termasuk perkembangan
neurologis pada bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) lebih jelek dibanding
bayi sesuai masa kehamilan (SMK). Hal ini disebabkan pada KMK telah terjadi
retardasi pertumbuhan sejak didalam kandungan, terlebih jika tidak mendapat
nutrisi yang baik sejak lahir.
e. Infeksi
Bayi baru lahir terutama BBLR sangat peka terhadap infeksi termasuk potensi
untuk terjadinya infeksi intrakranial. Infeksi pada bayi umumnya merupakan
infeksi berat dengan mortalitas tinggi, sehingga pencegahan menjadi hal yang
sangat penting. Pencegahan dititikberatkan pada cara kerja aseptik, memberi
kesempatan ibu untuk menyusui seawal mungkin dan melaksanakan rawat
gabung. Infeksi berat dapat memberi dampak gejala sisa neurologis yang jelas
seperti : hidrosefalus, buta, tuli, cara bicara yang tidak jelas dan retardasi
mental. Gejala sisa yang ringan seperti gangguan penglihatan, kesukaran belajar
dan kelainan tingkah laku dapat pula terjadi.
f. Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia akan berpengaruh buruk apabila bilirubin indirek telah
melalui sawar otak, sehingga terjadi ensefalopati biliaris (Kernicterus) yang
dapat mengakibatkan kematian atau GPN dikemudian hari.

3. Faktor Pasca natal


Banyak faktor pasca natal yang dapat menimbulkan kerusakan otak dan
selanjutnya mengakibatkan terjadinya GPN, diantaranya adalah infeksi
(meningitis, ensefalitis, meningoensefalitis dan infeksi pada bagian tubuh lain
yang menahun), trauma kapitis, tumor otak, gangguan pembuluh darah otak,
epilepsi, kelainan tulang tengkorak (misalnya kraniosinostosis), kelainan
endokrin dan metabolik, keracunan otak, sosial ekonomi rendah, tidak adanya
rangsangan mental serta malnutrisi.
Pada penelitian neuropatologis, didapatkan otak anak dengan malnutrisi lebih
kecil daripada otak normal seumurnya, jumlah sel neuron berkurang dan
9|LBM 3

jumlah lemak otak juga berkurang. Namun umur yang paling rentan terhadap
terjadinya GPN belum diketahui pasti.
SUMBER : Jurnal GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROLOGIS PADA BAYI
DENGAN RIWAYAT HIPERBILIRUBINEMIA NEURODEVELOPMENTAL
DISORDER AMONG BABIES WITH HISTORY OF HYPERBILIRUBINEMIA,Tesis,
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 dan
memperoleh keahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak , oleh Baginda P
Hutahaean , PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER ILMU BIOMEDIK DAN
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I ILMU KESEHATAN ANAK
UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG, 2007

2. Mengapa ditemukan LK mikrosefali? Apakah ada hubungannya dengan


kelainan congenital?
LINGKAR KEPALA MIKROCEPALI
1. Mikrosefali primer jinak berkaitan dengan faktor genetik. Mikrosefali genetik ini
termasuk mikrosefali familial dan mikrosefali akibat aberasi khromosom.
Mikrosefali akibat penutupan sutura prematur (kraniosinostosis). Jenis
mikrosefali ini berakibat bentuk kepala abnormal, namun pada kebanyakan kasus
tak ada anomali serebral yang jelas.
2. Mikrosefali sekunder terhadap atrofi serebral. Mikrosefali sekunder dapat
disebabkan oleh infeksi intrauterin seperti penyakit inklusi sitomegalik, rubella,
sifilis, toksoplasmosis, dan herpes simpleks; radiasi, hipotensi sistemik maternal,
insufisiensi plasental; anoksia; penyakit sistemik maternal seperti diabetes
mellitus, penyakit renal kronis, fenilketonuria; dan kelainan perinatal serta
pascanatal seperti asfiksia, infeksi, trauma, kelainan jantung kronik, serta
kelainan paru-paru dan ginjal. Jenis mikrosefali ini berhubungan dengan
retardasi mental dalam berbagai tingkat (Saanin, 2007).

PATOFISIOLOGI
Perkembangan susunan saraf dimulai dengan terbentuknya neural tube yaitu
induksi daerah dorsal yang terjadi pada minggu ke 3 masa gestasi. Setiap
10 | L B M 3

gangguan pada masa ini mengakibatkan kelainan congenital seperti


kranioskisis,totalis,dsb. Fase selanjutnya terjadi proliferasi neuron yang terjadi
pada masa gestasi. Gangguan pada masa ini dapat menyebabkan mikrosefali.
1. Sifilis : Melalui kontak langsung dengan lesi. Disebabkan bakteri Treponema
malibu melalui selaput lendir yang utuh/kulit dengan lesi kemudian masuk ke
peredaran darah dan semua organ dalam tubuh (salah satunya otak) ke janin.
2. Rubella: Rubella menginfeksi embrio pd 3 bulan pertama kehamilan.
Menyebabkan malformasi mata,telinga bagian dalam,jantung dan gigi.
3. Herpes: Bayi lahir lewat vagina (ibu terkena herpes) sehingga bayi jadi terinfeksi.
4. Sitomegalovirus: Sitomegalovirus merupakan organisme yang ada di mana--mana
serta pada hakekatnya menginfeksi sebagian besar manusia, bukti adanya infeksi
janin ditemukan di antara 0,5 –2 % dari semua neonatus. Sesudah terjadinya
infeksi primer yang biasanya asimtomatik, 10 % infeksi pada janin menimbulkan
simtomatik saat kelahiran dan 5-25 % meninggalkan sekuele. Pada beberapa
negara infeksi CMV 1 % didapatkan infeksi in utro dan 10-15 % pada masa
prenatal(5) Virus tersebut menjadi laten dan terdapat reaktivasi periodik dengan
pelepasan virus meskipun ada antibodi di dalam serum. Antibodi humoral
diproduksi, namun imunitas yang diperanta-rai oleh sel tampaknya merupakan
mekanisme primer untuk terjadinya kesembuhan, dan keadaan kekebalan yang
terganggu baik terjadi secara alami maupun akibat pemakaian obat-obatan akan
meningkatkan kecenderungan timbulnya infeksi sitomegalovirus yang serius.
Diperkirakan bahwa berkurangnya surveilans imun yang diperantarai oleh sel,
menyebabkan janin-bayi tersebut berada dalam risiko yang tinggi untuk
terjadinya sekuele pada infeksi ini.
5. Down Syndrome
6. Trisomi 13
7. Trisomi 18
8. Rubeinstein-Taybi Syndrome: Ketiadaan gen yang menyebabkan
ketidaknormalan pada protein pengikat CREB.

3. Mengapa ditemukan tonus keempat ekstremitas hipertonus dan head lag (+)?
11 | L B M 3

Pembagian tetraparese berdasarkan kerusakan topisnya:


a. Tetrapares spastic
Tetraparese spastik terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor neuron
(UMN), sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau hipertoni.
b. Tetraparese flaksid
Tetraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower motor neuron
(LMN), sehingga menyebabkan penurunan tonus atot atau hipotoni.

Patofisiologi Tetraparese
Tetraparese dapat disebabkan karena kerusakan Upper Motor Neuron(UMN)
atau kerusakan Lower Motor Neuron (LMN). Kelumpuhan/ kelemahanyang terjadi
pada kerusakan Upper Motor Neuron (UMN) disebabkan karena adanya lesi di
medula spinalis. Kerusakannya bisa dalam bentuk jaringan scar,atau kerusakan
karena tekanan dari vertebra atau diskus intervetebralis. Hal ini berbeda dengan lesi
pada LMN yang berpengaruh pada serabut saraf yang berjalan dari horn anterior
medula spinalis sampai ke otot.
Pada columna vertebralis terdapat nervus spinalis, yaitu nervus
servikal,thorakal, lumbal, dan sakral. Kelumpuhan berpengaruh pada nervus spinalis
dari servikal dan lumbosakral dapat menyebabkan kelemahan/kelumpuhan pada
keempat anggota gerak. Wilayah ini penting, jika terjadi kerusakan pada daerahini
maka akan berpengaruh pada otot, organ, dan sensorik yang dipersarafinya.
Ada dua tipe lesi, yaitu lesi komplit dan inkomplit. Lesi komplit
dapatmenyebabkan kehilangan kontrol otot dan sensorik secara total dari
bagiandibawah lesi, sedangkan lesi inkomplit mungkin hanya terjadi kelumpuhan
ototringan (parese) dan atau mungkin kerusakan sensorik. Lesi pada UMN dapat
menyebabkan paresespastic sedangkan lesi pada LMN menyebabkan parese flacsid
Saraf - Tetraparase
12 | L B M 3

4. Mengapa dokter mencurigai developmental delayed dengan keterlambatan


milestone 4 domain?
5. Apa saja yang dimaksud 4 domain perkembangan tsb?
Milestone perkembangan : tingkat perkembangan yang harus dicapai
anak pada umur tertentu
 Motorik kasar
 Lahir-3bulan
- Belajar mengangkat kepala
- Kepala bergerakdari kiri ke kanan mengikuti anda
 Usia 3 – 4 bulan
- Menegakkan kepala 90 derajat dan mengangkat dada
dengan bertopang dada
- Menoleh ke arah suara
13 | L B M 3

 Usia 6 – 9 bulan
- Duduk tanpa dibantu
- Dapat tengkurap dan berbalik sendiri
- Merangkak meraih benda atau mendekati seseorang
 Usia 9 – 12 bulan
- Merangkak
- Berdiri sendiri tanpa dibantu
- Dapat berjalan dengan dituntun
 Usia 12 – 13 bulan
- Berjalan tanpa dibantu
 Usia 13 – 18 bulan
- Berjalan mengekplorasi rumah dan sekelilingnya
 Usia 18 – 24 bulan
- Naik turun tangga
 Usia 2 – 3 tahun
- Belajar meloncat, memanjat, melompat, dengan satu kaki
- Mengayuh sepeda roda tiga
 Usia 3 – 4 tahun
- Berjalan pada jari kaki
 Usia 4 – 5 tahun
- Melompat dan menari
 Motorik halus
 Lahir-3bulan
- Mengikuti obyek dengan matanya
- Menahan barang yang dipegangnya
 Usia 3 – 6 bulan
- menyentuhkan tangan satu ke tangan lainnya
- belajar meraih benda dalam dan di luar jangkauannya
- menaruh benda di mulut
 Usia 6 – 9 bulan
14 | L B M 3

- Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang


lainnya
- Memegang benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk
- Bergembira dengan melempar benda - benda
 Usia 9 – 12 bulan
- Ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda ke
mulut
 Usia 12 – 18 bulan
- Menyusun 2-3 balok/kubus
 Usia 18 – 24 bulan
- Menyusun 6 kubus
- Menunuk mata dan hidung
- Belajar makan sendiri
- Menggar garis di kertas atau pasir sepanjang 2,5 cm
 Usia 2 – 3 tahun
- Menggambar lingkaran
- Membuat jembatan dengan 3 balok
 Usia 3 – 4 tahun
- Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
- Menggambar orang hanya kepala dan badan
 Usia 4 – 5 tahun
- Menggambar orang terdiri dari kepala, badan dan lengan
- Mampu menggambar segiempat dan segitiga
 Bahasa/kognitif
 Lahir-3bulan
- Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
(cooing)
 Usia 3 – 6 bulan
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak main
 Usia 6 – 9 bulan
15 | L B M 3

- Mengeluarkan kata-kata yang tak berarti (bubbling ), da


– da, ta - ta
 Usia 9 – 12 bulan
- Menirukan suara
- Dapat mengulang bunyi yang didengarnya
- Belajar menyatakan satu atau dua kata
 Usia 12 – 18 bulan
- Mengatakan 5 – 10 kata
 Usia 18 – 24 bulan
- Menyusun 2 kata membentuk kalimat
- Menguasai sekitar 50 – 200 kata
 Usia 2 – 3 tahun
- Mampu menyusun kalimat lengkap
- Menggunakan kata- kata saya, bertanya, mengerti kata-
kata yang ditujukan kepadanya
 Usia 3 – 4 tahun
- Mampu bicara dengan baik
- Mampu menyebut namanya, jenis kelamin, dan umur
- Bertanya tanya
 Usia 4 – 5 tahun
- Pandai bicara – jarinya
- Mampu menyebut hari – hari dalam seminggu
- Berminat pada kata baru dan artinya
- Mampu menghitung jari
- Memprotes bila dilarang apa yang diinginkan
- Mendengan dan mengulang hal penting dan cerita

 Sosial
 Usia 3 – 4 bulan
- Mampu menatap mata anda
- Tersenyum bila diajak bicara/ senyum
16 | L B M 3

- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak main


 Usia 6 – 9 bulan
- Mulai berpartisipasi dalam tepuk tangan dan petak
umpet
 Usia 9 – 12 bulan
- Berpartisipasi dalam permainan
 Usia 18 – 24 bulan
- Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain –
main dengan mereka
 Usia 2 – 3 tahun
- Bermain bersama anak lain dan menyadari adanya
lingkungan lain diluar keluarganya
 Usia 4 – 5 tahun
- Bermain bersama anak lain, dan dapat mengikuti aturan
permainan

 Emosi
 Lahir-3bulan
- Bereaksi terhadap suara/bunyi
 Usia 3 – 6 bulan
- Tersenyum melihat gambar/mainan lucu atau binatang
peliharaan
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak bermain
 Usia 6 – 9 bulan
- Mengenal anggota keluarga dan takut terhadap orang
asing
 Usia 9 – 12 bulan
- Memperlihatkan minat yang besar terhadap sekitarnya
 Usia 12 – 18 bulan
- Memperlihatkan rasa cemburu dan bersaing
 Usia 18 – 24 bulan
17 | L B M 3

- Menaruh minta pada apa yang dikerjakan orang dewasa


 Usia 3 – 4 tahun
- Menunjukan rasa sayang kepada saudaranya

SUMBER : Tumbuh Kembang Anak, oleh dr. Nur Faizah

MILESTONE PERKEMBANGAN
4 bulan

8 bulan

12 bulan
18 | L B M 3

18 bulan

24 bulan
19 | L B M 3

6. Apakah ada hubungan usia 1tahun sakit infeksi dengan keluhan?

Perkembangan janin secara normal


8 minggu pertama
Setelah terjadi pembuahan antara ovum dan sperma maka terbentuklah zigot. Lalu
sel zigot tersebut membelah menjadi 32 sel (biasanya dikenal dengan blastosit) dan
terjadi penanaman (implantasi) sel-sel tersebut pada dinding uterus. Lalu akan
terbentuk plasenta yang bersifat elementer yang akan memberikan nutrisi bagi
embrio. Delapan minggu setelah implantasi dinamakan periode embrionik. Pada
masa ini, organ, system, dan jaringan akan dibentuk, berdiferensiasi, dan diletakan
pada tempatnya.
Jika terjadi kesalahan selama 8 minnggu pertama, dapat terjadi kelainan

struktur atau system. Sekitar hari ke-14, embrio memiliki panjang sekitar 2

mm. pada hari ke 17-20 masa gestasi, terbentuklah neural plate yang akan

berkembang menjadi system syaraf dari individu.

(Monfort dan Boon, 2004)


20 | L B M 3

7. Pemeriksaan apa saja yang harusnya dilakukan untuk menilai


perkembangan?
Cara mendeteksi dini
Ketika mengamati balita memasuki ruang pemeriksaan bersama orang
tuanya, sebenarnya kita sudah mulai ‘mendeteksi’ tumbuh kembangnya.
Dengan memperhatikan penampilan wajah, bentuk kepala, tinggi badan,
proporsi tubuh, pandangan matanya, suara, cara bicara, berjalan, perilaku,
aktivitas dan interaksi dengan lingkungannya bisa didapatkan beberapa
informasi penting berkaitan dengan tumbuh kembangnya. Tetapi deteksi dini
gangguan tumbuh kembang balita sebaiknya dilakukan dengan anamnesis,
pemeriksaan fisis dan skrining perkembangan yang sistematis agar lebih
obyektif.
ANAMNESIS
Keluhan utama dari orangtua berupa kekhawatiran terhadap tumbuh
kembang anak dapat mengarah kepada kecurigaan adanya gangguan tumbuh
kembang, misalnya anaknya lebih pendek dari teman sebayanya, kepala
kelihatan besar, umur 6 bulan belum bisa tengkurap, umur 8 bulan belum
bisa
duduk, umur 15 bulan belum bisa berdiri, 2 tahun belum bisa bicara dan lain
lain. Namun orang tua tidak selalu benar, karena 20-25% orang tua tidak
mengetahui bahwa anaknya terganggu perkembangannya, dan banyak orang
tua yang khawatir pada perkembangan anaknya padahal tidak terganggu.
Oleh karena itu kita harus melakukan pemeriksaan fisis dan skrining
perkembangan untuk membuktikan apakah kecurigaan orang tua itu benar.
Faktor risiko pada balita (intrinsik, genetikheredokonstitusional)
Faktor risiko yang harus ditanyakan antara lain retardasi pertumbuhan intra
uterin, berat lahir rendah, prematuritas, infeksi intra uterin, gawat janin,
asfiksia, perdarahan intrakranial, kejang neonatal, hiperbilirubinemia,
hipoglikemia, infeksi, kelainan kongenital, temperamen, dan lain-lain.
Faktor risiko di lingkungan mikro
21 | L B M 3

Faktor risiko pada ibu antara lain umur, tinggi badan, pendidikan, kesehatan
ibu selama hamil dan persalinan (kadar Hb, status gizi, penyakit,
pengobatan), jumlah anak dan jarak kehamilan, pengetahuan, sikap dan
ketrampilan ibu dalam mencukupi kebutuhan biopsikososial (‘asuh’, ‘asih’,
‘asah’) untuk tumbuh
kembang balitanya, penyakit keturunan, penyakit menular, riwayat
pernikahan (terpaksa, tidak direstui, single parent, perceraian dan lain-lain),
merokok,
alkoholism, narkoba, pekerjaan/penghasilan, dan lain-lain.
Faktor risiko di lingkungan mini
• Ayah: umur, tinggi badan, pendidikan, pekerjaan/ penghasilan,
pengetahuan, sikap dan ketrampilan ayah dalam mencukupi kebutuhan bio-
psikososial
(‘asuh’, ‘asih’, ‘asah’) untuk tumbuh kembang balitanya, penyakit, riwayat
pernikahan (terpaksa, tidak direstui, perceraian dan lain-lain), komitmen
perencanaan kehamilan, hubungan ayah-ibu dan anak dan lain-lain.
• Saudara kandung/tiri yang tinggal serumah: jumlah, jarak umur, kesehatan
(status gizi, imunisasi, kelainan bawaan, gangguan tumbuh kembang,
penyimpangan perilaku), pendidikan, hubungan dengan ayah-ibu dan lain-
lain.
• Anggota keluarga lain serumah (nenek, kakek, paman, bibi, pengasuh anak,
pembantu): pengetahuan, sikap dan ketrampilan mencukupi kebutuhan
tumbuh kembang balita. Sarana bermain, mainan (kubus, puzzle, kertas,
pensil, boneka, bola dan lain-lain). Contoh nilai-nilai, aturan-aturan,
penghargaan, hukuman dan lain-lain.
• Sanitasi: cahaya, aliran udara, kebersihan lantai, kamar tidur, ruang
bermain, sumber air, kakus, septic tank, selokan, pembuangan sampah dan
lain-lain.
Faktor risiko di lingkungan meso
Tetangga (tingkat ekonomi, sikap dan perilaku tetangga), teman bermain,
sarana bermain, polusi, pelayanan kesehatan (kualitas pelayanan Posyandu),
22 | L B M 3

pendidikan (pendidikan usia dini, program bina keluarga dan balita dan lain-
lain), sanitasi lingkungan, adat-budaya dan lain-lain dapat mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan bio-psikososial untuk tumbuh kembang balita.
Faktor risiko di lingkungan makro
Program-program untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan
keluarga dalam mencukupi kebutuhan biopsikososial untuk tumbuh
kembang anaknya belum menjangkau semua keluarga (terutama keluarga
berpenghasilan
rendah), walaupun secara konseptual pemerintah, organisasi profesi,
perguruan tinggi (iptek), LSM, WHO, Unicef dan lain-lain sejak lama peduli
pada
masalah ini. Demikian juga upaya deteksi dini belum mendapat prioritas
penting di dalam program rutin dan belum didukung sarana intervensi, serta
belum mampu menjangkau semua balita berisiko tinggi.
PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Tinggi badan
Tinggi badan dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan,
yaitu dengan mengukur panjang (tinggi) badan secara periodik, kemudian
dihubungkan menjadi sebuah garis pada kurva pertumbuhan tertentu.
Penyebab gangguan pertumbuhan tinggi badan
Gangguan pertumbuhan dapat diakibatkan oleh penyebab primer dan
sekunder. Penyebab primer antara lain kelainan pertumbuhan tulang
(osteokondroplasia, osteogenesis imperfekta), kelainan kromosom (sindrom
Turner, Down, dan lain-lain), kelainan metabolik (mukopolisakaridosis,
mukolipidosis), dan faktor keturunan (genetik, familial). Gangguan
pertumbuhan akibat penyebab primer
umumnya sulit diperbaiki. Penyebab sekunder antara lain retardasi
pertumbuhan intra uterin, malnutrisi kronik, penyakit-penyakit kronik
(infeksi, kelainan jantung, paru, saluran cerna, hati, ginjal, darah dan lain-
lain), kelainan endokrin (defisiensi GH, IGF-1, hipotiroidisme, kelebihan
glukokortikoid,
23 | L B M 3

diabetes melitus, diabetes insipidus, rickets hipopostamemia) dan kelainan


psikososial (sindrom deprivasi emosional). Ada perawakan pendek pada
anak yang akhirnya pada masa dewasa dapat mencapai tinggi normal (dalam
rentang midparental height), disebut lambat tumbuh konstistusional akibat
keterlambatan maturasi (usia) tulang lebih dari 2 tahun.
Gangguan pertumbuhan dapat berupa perawakan jangkung, antara lain
disebabkan oleh kelainan endokrin (pituitary gigantism, sexual precocity,
tirotoksikosis, sindrom Beckwith-Wiedeman), kelainan kromosom, dan
variasi normal (genetik, konstitusional).
Berat badan
Berat badan dapat membantu mendeteksi gangguan pertumbuhan, yaitu
dengan menimbang berat badan secara periodik, kemudian dihubungkan
menjadi
sebuah garis pada kurva berat badan yang dipublikasi oleh United Stated
National Center for Health Statitistic (NCHS) pada tahun 1979.
Umumnya balita normal berat badannya selalu di atas persentil 5 kurva
NCHS, namun bisa naik atau turun memotong 1-2 kurva persentil berat
badan. Jika kurva berat badan anak mendatar atau menurun hingga
memotong lebih dari 2 kurva persentil, disebut failure to thrive (gagal
tumbuh), bisa
disebabkan oleh faktor medik (organik, penyakit) atau non medik
(psikososial). Berat badan berkaitan erat dengan masalah nutrisi (termasuk
cairan,
dehidrasi, retensi cairan). Obesitas dapat dijumpai dengan retardasi mental
(sindroma Prader-Willi dan Beckwith-Wiedeman).
Kepala
Perhatikan ukuran, bentuk dan simetri kepala. Mikrosefali (lingkar kepala
lebih kecil dari persentil 3) mempunyai korelasi kuat dengan gangguan
perkembangan kognitif, sedangkan mikrosefali progresif berkaitan dengan
degenerasi SSP.
24 | L B M 3

Makrosefali (lingkar kepala lebih besar dari persentil 97) dapat disebabkan
oleh hidrosefalus, neurofibromatosis dan lain-lain. Bentuk kepala
yang ‘aneh’ sering berkaitan dengan sindrom dengan gangguan tumbuh
kembang. Ubun-ubun besar biasanya menutup sebelum 18 bulan
(selambat-lambatnya 29 bulan). Keterlambatan menutup dapat disebabkan
oleh hipotiroidi dan peninggian tekanan intrakranial (hidresefalus,
perdarahan subdural atau pseudotumor serebri).
Kelainan bagian dan organ tubuh lainnya
Kelainan yang dijumpai pada bagian-bagian tubuh dan atau organ tubuh
(terutama kelainan mayor) harus diwaspadai kemungkinannya disertai
sindrom yang berkaitan dengan gangguan tumbuh kembang anak.
Pemeriksaan neurologis dasar
Pemeriksaan beberapa fungsi syaraf kranial, sistem motorik (kekuatan otot,
tonus otot, refleks-refleks), sistem sensorik, cara berjalan dan lain-lain dapat
mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang anak.
Skrining Perkembangan
Menurut batasan WHO, skrining adalah prosedur yang relatif cepat,
sederhana dan murah untuk populasi yang asimtomatik tetapi mempunyai
risiko tinggi atau dicurigai mempunyai masalah.
Skrining perkembangan DENVER II
Skrining perkembangan yang banyak digunakan oleh profesi kesehatan
adalah Denver II, antara lain karena mempunyai rentang usia yang cukup
lebar (mulai bayi baru lahir sampai umur 6 tahun), mencakup semua aspek
perkembangan dengan realiability cukup tinggi.
Walaupun secara eksplisit metode ini untuk mendeteksi 4 aspek
perkembangan, tetapi di dalamnya sebenarnya terdapat aspek-aspek lain
sebagai berikut:
• Gerak kasar
• Gerak halus (di dalamnya terdapat aspek koordinasi mata dan tangan,
manipulasi benda-benda kecil, pemecahan masalah ),
25 | L B M 3

• Berbahasa (di dalamnya terdapat juga aspek pendengaran, penglihatan dan


pemahaman, komunikasi verbal),
• Personal sosial (di dalamnya terdapat juga aspek penglihatan,
pendengaran, komunikasi, gerak halus dan kemandirian).
Uji Denver membutuhkan waktu cukup lama sekitar 30-45 menit.
Kesimpulan hasil skrining Denver II hanya menyatakan bahwa balita
tersebut: normal
atau dicurigai ada gangguan tumbuh kembang pada aspek tertentu. Normal,
jika ia dapat melakukan semua kemampuan (atau berdasarkan laporan
orangtuanya) pada semua persentil yang masuk dalam garis umurnya.
Walaupun ada 1 ketidakmampuan atau menolak melakukan pada persentil
75-90 masih dianggap normal. Dicurigai ada gangguan tumbuh kembang jika
ada 1 atau lebih ketidakmampuan pada persentil > 90, atau 2 (atau lebih)
ketidakmampuan/ menolak pada persentil 75-90 yang masuk garis
umurnya. Selain itu di dalam Denver II ada bagian terpisah untuk menilai
perilaku anak secara sekilas. Tetapi Denver II tidak mampu mendeteksi
gangguan emosional, atau gangguan-gangguan ringan. Tidak ada metoda
skrining yang sempurna.
Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari Denver Prescreening
Developmental Questionnaire (PDQ) oleh tim Depkes RI yang terdiri dari
beberapa dokter spesialis anak, psikiater anak, neurolog, THT, mata dan lain-
lain pada tahun 1986. Kuesioner ini untuk skrining pendahuluan bayi umur 3
bulan
sampai anak umur 6 tahun yang dilakukan oleh orangtua. Setiap umur
tertentu ada 10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan anak, yang
harus diisi (atau dijawab) oleh orangtua dengan ya atau tidak, sehingga
hanya membutuhkan waktu 10-15 menit (lihat lampiran). Jika jawaban ya
sebanyak 6
atau kurang maka anak dicurigai ada gangguan perkembangan dan perlu
dirujuk, atau dilakukan skrining dengan Denver II. Jika jawaban ya sebanyak
26 | L B M 3

7-8, perlu diperiksa ulang 1 minggu kemudian. Jika jawaban ya 9-10, anak
dianggap tidak ada gangguan, tetapi pada umur berikutnya sebaiknya
dilakukan
KPSP lagi.
Buku Pedoman Pembinaan Perkembangan Anak di Keluarga
Buku ini disusun oleh tim dari Fakultas Kedokteran UI (terdiri dari dokter
spesialis anak, psikiater anak, neurologi, mata, THT), Fakultas Psikologi UI,
Depkes dan UNICEF pada tahun 1987-1988, untuk digunakan oleh keluarga
dan kader kesehatan dalam memantau perkembangan anak umur 0 - 6
tahun. Di dalam buku ini pada setiap rentang umur tertentu dipilih 4
milestone perkembangan untuk umur tersebut (masing-masing mewakili
aspek gerak kasar,
gerak halus, bicara-bahasa kecerdasan, kemampuan bergaul dan mandiri
dari skala perkembangan Denver) yang mudah dikenali atau dilakukan oleh
orangtua atau kader karena dilengkapi dengan gambar-gambar yang mudah
dimengerti.
Kuesioner Skrining Perilaku Anak Prasekolah (KSPAP)
Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari Home Screening
Questionnaire (Frankenburg, 1986) oleh tim Departemen Kesehatan RI yang
terdiri dari beberapa dokter spesialis anak, psikiater anak, neurolog, THT,
mata dan lain-lain pada tahun 1986. Kuesioner terdapat di dalam ‘buku
hijau’
berjudul Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita Depkes RI 1994,
tetapi tampaknya jarang dimanfaatkan. Kuesionir ini berisi 30 perilaku anak
(lihat
lampiran) yang ditanyakan kepada orangtua (oleh kader kesehatan, guru
atau diisi sendiri oleh orangtua) untuk mendeteksi dini kelainan perilaku
anak prasekolah (3-6 tahun). Orangtua dapat menjawab: tidak pernah (nilai
0), kadang-kadang (nilai 1), atau sering (nilai 2), sesuai dengan perilaku
anaknya sehari-hari. Jika jumlah nilai seluruhnya lebih dari 11, maka anak
perlu dirujuk. Jika kurang dari 11 tidak perlu dirujuk.
27 | L B M 3

Pediatric Symptom Checklist (PSC)


Kuesioner ini dipublikasikan oleh Jelllinek dkk (1988) untuk skrining
perilaku anak umur 4-16 tahun berupa 35 perilaku anak yang harus dinilai
oleh orangtua (lihat lampiran). Orangtua dapat menjawab tidak pernah (nilai
0), kadang-kadang (nilai 1), atau sering (nilai 2), sesuai dengan perilaku
anaknya seharihari. Jika jumlah nilai seluruhnya lebih dari 28, maka anak
perlu dirujuk. Jika kurang dari 28 tidak perlu dirujuk.
Checklist for Autism in Toddlers (CHAT)
American Academic of Pediatrics (AAP) sejak 2001 merekomendasikan
CHAT sebagai salah satu alat skrining untuk deteksi dini gangguan spektrum
autistik (autistic spectrum disorder) anak umur 18 bulan sampai 3 tahun, di
samping PDDST (pervasive developmental disorder screening test) yang diisi
oleh orangtua. CHAT dikembangkan di Inggris dan telah dipublikasikan oleh
Cohen dkk,. sejak tahun 1992 serta telah digunakan untuk skrining lebih dari
16.000 balita. Walaupun sensitivitasnya kurang, AAP menganjurkan dokter
menggunakan salah satu alat skrining tersebut. Bila dicurigai ada risiko autis
atau gangguan perkembangan lain maka dapat dirujuk untuk penilaian
komprehensif dan diagnostik.
Pemeriksaan Lanjutan
Pemeriksaan lanjutan untuk menentukan diagnosis dan etiologinya
tergantung kepada jenis gangguan tumbuh kembangnya, misalnya
pemeriksaan neurologis (klinis, EEG, BERA dan lain-lain), radiologis, mata,
THT, psikiatris, psikologis, genetis (kromosom), endokrin dan lain-lain.
Intervensi
Intervensi selanjutnya tergantung jenis gangguan tumbuh kembang dan
faktor penyebabnya. Semakin kompleks gangguan tumbuh kembangnya dan
etiologinya maka membutuhkan suatu tim yang lebih lengkap dan
terkoordinir, antara lain dapat melibatkan spesialis anak, THT, mata, psikiter,
rehabilitasi medik, ortopedi, psikolog, terapis wicara, fisioterapis, pendidik
dan lain-lain.
28 | L B M 3

SUMBER : Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita, oleh


Soedjatmiko, Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001: 175 - 188

8. Apa yang dimaksud tumbuh kembang? Dan apa saja tahapannya?


Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak dari konsepsi sampai
maturitas/ dewasa yang dipengaruhi oleh factor bawaan dan lingkungan, tahapan-
tahapannya:
e. Pertumbuhan yang cepat dalam tahun pertama kemudian mengurang
berangsur-angsur umur 3-4tahun
f. Pertumbuhan yang berjalan lambat dan teratur sampai masa akil baligh
g. Pertumbuhan cepat pada masa akil baligh (12-16tahun)
h. Pertumbuhan kecepatan yang mengurang berangsur-angsur sampai suatu waktu
berhenti (kira-kira umur 18tahun)

Deteksi Dini
 Pertumbuhan
 BB
29 | L B M 3

 TB
 Lingkar kepala,lingkar lengan, lipat kulit
 Penglihatan
 pendengaran
 Perkembangan
Milestone perkembangan : tingkat perkembangan yang harus dicapai
anak pada umur tertentu
 Motorik kasar
 Lahir-3bulan
- Belajar mengangkat kepala
- Kepala bergerakdari kiri ke kanan mengikuti anda
 Usia 3 – 4 bulan
- Menegakkan kepala 90 derajat dan mengangkat dada
dengan bertopang dada
- Menoleh ke arah suara
 Usia 6 – 9 bulan
- Duduk tanpa dibantu
- Dapat tengkurap dan berbalik sendiri
- Merangkak meraih benda atau mendekati seseorang
 Usia 9 – 12 bulan
- Merangkak
- Berdiri sendiri tanpa dibantu
- Dapat berjalan dengan dituntun
 Usia 12 – 13 bulan
- Berjalan tanpa dibantu
 Usia 13 – 18 bulan
- Berjalan mengekplorasi rumah dan sekelilingnya
 Usia 18 – 24 bulan
- Naik turun tangga
 Usia 2 – 3 tahun
30 | L B M 3

- Belajar meloncat, memanjat, melompat, dengan satu kaki


- Mengayuh sepeda roda tiga
 Usia 3 – 4 tahun
- Berjalan pada jari kaki
 Usia 4 – 5 tahun
- Melompat dan menari
 Motorik halus
 Lahir-3bulan
- Mengikuti obyek dengan matanya
- Menahan barang yang dipegangnya
 Usia 3 – 6 bulan
- menyentuhkan tangan satu ke tangan lainnya
- belajar meraih benda dalam dan di luar jangkauannya
- menaruh benda di mulut
 Usia 6 – 9 bulan
- Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang
lainnya
- Memegang benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk
- Bergembira dengan melempar benda - benda
 Usia 9 – 12 bulan
- Ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda ke
mulut
 Usia 12 – 18 bulan
- Menyusun 2-3 balok/kubus
 Usia 18 – 24 bulan
- Menyusun 6 kubus
- Menunuk mata dan hidung
- Belajar makan sendiri
- Menggar garis di kertas atau pasir sepanjang 2,5 cm
 Usia 2 – 3 tahun
- Menggambar lingkaran
31 | L B M 3

- Membuat jembatan dengan 3 balok


 Usia 3 – 4 tahun
- Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
- Menggambar orang hanya kepala dan badan
 Usia 4 – 5 tahun
- Menggambar orang terdiri dari kepala, badan dan lengan
- Mampu menggambar segiempat dan segitiga
 Bahasa/kognitif
 Lahir-3bulan
- Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
(cooing)
 Usia 3 – 6 bulan
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak main
 Usia 6 – 9 bulan
- Mengeluarkan kata-kata yang tak berarti (bubbling ), da
– da, ta - ta
 Usia 9 – 12 bulan
- Menirukan suara
- Dapat mengulang bunyi yang didengarnya
- Belajar menyatakan satu atau dua kata
 Usia 12 – 18 bulan
- Mengatakan 5 – 10 kata
 Usia 18 – 24 bulan
- Menyusun 2 kata membentuk kalimat
- Menguasai sekitar 50 – 200 kata
 Usia 2 – 3 tahun
- Mampu menyusun kalimat lengkap
- Menggunakan kata- kata saya, bertanya, mengerti kata-
kata yang ditujukan kepadanya
 Usia 3 – 4 tahun
- Mampu bicara dengan baik
32 | L B M 3

- Mampu menyebut namanya, jenis kelamin, dan umur


- Bertanya tanya
 Usia 4 – 5 tahun
- Pandai bicara – jarinya
- Mampu menyebut hari – hari dalam seminggu
- Berminat pada kata baru dan artinya
- Mampu menghitung jari
- Memprotes bila dilarang apa yang diinginkan
- Mendengan dan mengulang hal penting dan cerita

 Sosial
 Usia 3 – 4 bulan
- Mampu menatap mata anda
- Tersenyum bila diajak bicara/ senyum
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak main
 Usia 6 – 9 bulan
- Mulai berpartisipasi dalam tepuk tangan dan petak
umpet
 Usia 9 – 12 bulan
- Berpartisipasi dalam permainan
 Usia 18 – 24 bulan
- Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain –
main dengan mereka
 Usia 2 – 3 tahun
- Bermain bersama anak lain dan menyadari adanya
lingkungan lain diluar keluarganya
 Usia 4 – 5 tahun
- Bermain bersama anak lain, dan dapat mengikuti aturan
permainan

 Emosi
33 | L B M 3

 Lahir-3bulan
- Bereaksi terhadap suara/bunyi
 Usia 3 – 6 bulan
- Tersenyum melihat gambar/mainan lucu atau binatang
peliharaan
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak bermain
 Usia 6 – 9 bulan
- Mengenal anggota keluarga dan takut terhadap orang
asing
 Usia 9 – 12 bulan
- Memperlihatkan minat yang besar terhadap sekitarnya
 Usia 12 – 18 bulan
- Memperlihatkan rasa cemburu dan bersaing
 Usia 18 – 24 bulan
- Menaruh minta pada apa yang dikerjakan orang dewasa
 Usia 3 – 4 tahun
- Menunjukan rasa sayang kepada saudaranya

SUMBER : Tumbuh Kembang Anak, oleh dr. Nur Faizah


34 | L B M 3

SUMBER : Jurnal GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROLOGIS PADA BAYI


DENGAN RIWAYAT HIPERBILIRUBINEMIA NEURODEVELOPMENTAL
DISORDER AMONG BABIES WITH HISTORY OF HYPERBILIRUBINEMIA,Tesis,
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 dan
memperoleh keahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak , oleh Baginda P
35 | L B M 3

Hutahaean , PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER ILMU BIOMEDIK DAN


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I ILMU KESEHATAN ANAK
UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG, 2007
36 | L B M 3
37 | L B M 3

9. Bagaimana cara menilai deteksi dini gangguan perkembangan?


10. Factor apa saja yang mempengaruhi tumbuh kembang?
2. Faktor heredokonstitusionil
a. Jenis kelamin
Pada umur tertentu pria dan wanita sangat berbeda dalam ukuran besar,
kecepatan tumbuh, proporsi jasmani dan lain2nya sehingga memerlukan
ukuran2 normal tersendiri. Wanita menjadi dewasa lebih dini, yaitu
mulai adolesenasi pd umur 10 th, sedangkan pd pria mulai pada umur 12
th.

b. Ras atau bangsa


Oleh beberapa ahli antropologi disebutkan bahwa ras ini mempunyai
tendensi lebih pendek dibandingkan dengan ras kulit putih.

c. Keluarga
Dalam 1 keluarga terdapat anggota keluarga yang pendek sedangkan
anggota keluarga lainnya tinggi.
38 | L B M 3

d. Umur
Kecepatan tumbuh yang paling besar ditemukan pd masa fetus, bayi dan
masa adolesensi.

3. Faktor lingkungan (prenatal dan pascanatal)


2.1 Faktor prenatal
a. Gizi (defisiensi vitamin, jodium dll)
Ibu dg keadan gizi yang jelek tidak dapat terjadi konsepsi sehingga
meningkatkan angka kelahiran mati dan kematian neonatal.

b. Mekanis (pitaamniotik, ektopia, posisi fetus yg abnormal, trauma,


oligohidramnion )
 Posisi fetus yang abnormal dan oligohidromnion 
menyebabkan kelainan kongenital seperti clubfoot, mikrognatia
dan kaki bengkok.
 Implantasi ovum yg salah  menggangu gizi embrio dan
berakibat gangguan pertumbuhan.

c. Toksin kimia (propiltiourasil, aminopterin, obat kontrasepsi dll)
Obat2n tersebut dapat menimbulkan kelainan seperti palatoskizis,
hidrosefalus, disostosis kranial.

d. Endokrin (diabetes melitus pd ibu, hormon yg dimakan, umur tua dan


lain2)
 Ibu diabetes melitus bayi makrosomia, kardiomegali,
hiperplasia adrenal
 Bayi hiperplasi pulau langerhans  hipoglikemi

e. radiasi (sinar rontgen, radium dll)


pemakaian radium dan sinar rontgen yg tdk mengikuti aturan dpt
mengakibatkan kelaianan pd fetus contoh mikrosefali, spina bifida,
retradasi mental dan deformitas anggota gerak.

f. infeksi
 trimester I : rubella, dll
mengakibatkan kelainan pd fetus seperti katarak, bisu-tuli,
mokrosefali, retardasi mental dan kelainan kongenital jantung
 trimester II dan berikutnya : toksoplasmosis, histoplasmosis,
sifilis, dll
toksoplasmosis pranatal  menyebabkan makrosefali
kongenitak atau mikrosefali dan retinitis.

g. imunitas ( eritroblastosisvetalis, kernicterus)


 perbedaan golongan darah antara fetus dan ibu ibu
membentuk antibodi terhadap sel darah merah bayi melalui
39 | L B M 3

plasenta  masuk peredaran darah bayi  mengakibatkan


hemolisis  anemia + hiperbilirubinemia.
 Otak sangat peka terhadap bilirubinemia otak rusak

h. anoksia embrio (gangguan fungsi plasenta)


 anoksia  mengakibatkan pertumbuhan terganggu

2.2 faktor pascanatal


a. gizi (masukan makanan kualitatifdan kuantitatif)
terdiri dari bahan pembangun tubuh protein, karbohidrat, vitamin,
mineral, lemak

b. penyakit (penyakit kronis dan kelainan konginental)


kelainan jantung bawaan dan penyakit kronis seperti glomerulonefritis
kronik, tuberculosis paru dan penyakit seliak  menyebabkan retardasi
pertumbuhan jasmani

c. keadaan sosial dan ekonomi


memegang peranan penting dalam pertubuhan anak, ukuran bayi yan
lahir dari golongan ortu dengan sosek kurang lebih rendah dibanding
dengan sosek cukup.

d. Musim
Negeri yang mempunyai empat musimterdapat perbedaan kecepatan
tumbuh berat badan dan tinggi.
Pertambahan tinggi terbesar  musim semi
Pertambahan tinggi paling rendah  musim gugur
Penambahan berat badan terbesar  misimgugur
Penambahan berat badan kecil  musim semi

e. lain2
faktor lain yang ikut berpengaru terhadap pertumbuhan dan
perkembangan anak a.l. pengawasan medis, perbaikan
sanitasi,pendidikan, faktor psikologis dll.
IKA FK UI jilid 1

11. Tingkat perkembangan berdasarkan usia!


12. Ciri pertumbuhan dan perkembangan!

1. tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai
maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh factor bawaan dan lingkungan.
Ini berarti bahwa tumbuh kembang sudah terjadi sejak didalam kandungan dan
setelah kelahiran merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh
kembang anak dapat dengan mudah diamati.
40 | L B M 3

2. dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa


perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan diantara organ2.
terdapat 3 periode pertumbuhan cepat adalah pada masa janin, masa bayi 0-1
tahun, dan masa pubertas. Sedangkan pertumbuhan organ2 tubuh mengikuti 4
pola, yaitu pola umum, limfoid, neural dan reproduksi.
3. pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak, tetapi kecepatannya
berbeda antara anak satu dengan lainnya
contoh, anak akan belajar duduk sebelum belajar berjalan, tetapi umur saat
anak belajar duduk/berjalan berbeda antara anak 1 dengan lainnya
4. perkembangan erat hubungannya dengan maturasi system susunan saraf
contoh, tidak ada latihan yang dapat menyebabkan anak dapat berjalan sampai
saraf siap untuk itu, tetapi tidak adanya kesempatan praktik akan menghambat
kemampuan ini
5. aktivitas seluruh tubuh diganti respons individu yang khas
contoh, bayi akan menggerakkan seluruh tubuhnya, tangan dan kakinya kalau
melihat sesuatu yang menarik, tetapi pada anak yang lebih besar reaksinya
hanya tertawa atau meraih benda tersebut.
6. arah perkembangan anak adalah sefalokaudal, langkah pertama sebelum
berjalan adalah perkembangan menegakkan kepala.
7. refleks primitive seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang
sebelum gerakan volunter tercapai.
(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)

13. Jenis-jenis tumbuh kembang!

Secara garis besar tumbuh kembang dibedakan menjadi 3 jenis:


a. Tumbuh kembang fisis  meliputi perubahan dalam ukuran besar
dan fungsi organisme atau individu. Perubahan fungsi ini bervariasi dari
fungsi tingkat molecular yang sederhana seperti aktivasi enzim terhadap
diverensiasi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks dan
perubahan bentuk fisis pada masa pubertas dan remaja.
b. Tumbuh kembang intelektual  berkaitan dengan kepandaian
berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak
dan simbolik (ex; berbicara, bermain, berhitung, atau membaca). Pada masa
bayi tumbuh kembang intelektual ini berkaitan erat dengan kematangan
fungsi neurologik dan perilaku.
c. Tumbuh kembang emosional  bergantung kepada kemampuan bayi
untuk membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta dan berkasih
saying, kemempuan untuk menangani kegelisahan akibat suatu frustasi dan
kemampuan untuk mengelola rangsangan agresif. Berbagai kaitan
emosisonal antara anak dan bayi tersebut akan berkembang dana meluas ke
lingkungan keluarga lain dan akhirnya ke masyarakat luar
IKA FK UI jilid 1

14. Menentukan perkembangan?


41 | L B M 3

15. Apa saja penyebab gangguan bicara?

(Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC)

16. Apakah diagnosanya?


Gangguan tumbuh kembang
1. Definisi
Gangguan atau kelainan tumbuh kembang anak meliputi gangguan tumbuh
dan kembang maupun keduanya. Setiap penyimpangan atau hambatan
terhadap proses pertumbuhan dan perkmbangan dapat berakibat gangguan
tumbuh kembang dan cacat.

SUMBER : Gangguan Tumbuh Kembang Anak


(http://www.infofisioterapi.com/ )

2. Macam-macam
Jenis Gangguan perkembangan anak
42 | L B M 3

a. Keterbelakangan mental (Mental Retardetion)


Definisi Keterbelakangan mental
Keterbelakangan Mental (Retardasi Mental, RM) adalah suatu keadaan yang
ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata
disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri
(berprililaku adaptif), yang mulai timbul sebelum usia 10 tahun.

Gejala Keterbelakangan Mental


Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Pada
sebagian besar kasus RM, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25% kasus
yang memiliki penyebab yang spesifik (Maharani,2007).
Secara kasar, penyebab RM dibagi menjadi beberapa kelompok:
1. Trauma (sebelum dan sesudah lahir)
• Perdarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir
• Hipoksia (kekurangan oksigen), sebelum, selama atau sesudah lahir
• Cedera kepala yang berat

2. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir)


• Rubella kongenitalis
• Meningitis
• Infeksi sitomegalovirus bawaan
• Ensefalitis
• Toksoplasmosis kongenitalis
• Infeksi HIV

3. Kelainan kromosom
• Kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down)
• Defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh,sindroma Angelman,
sindroma Prader-Willi)
• Translokasi kromosom dan sindroma cri du chat
43 | L B M 3

4. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan


• Galaktosemia
• Penyakit Tay-Sachs
• Fenilketonuria
• Sindroma Hunter
• Sindroma Hurler
• Sindroma Sanfilippo
• Leukodistrofi metakromatik
• Adrenoleukodistrofi
• Sindroma Lesch-Nyhan
• Sindroma Rett
• Sklerosis tuberose

5. Metabolik
• Sindroma Reye
• Dehidrasi hipernatremik
• Hipotiroid kongenital
• Hipoglikemia
6. Keracunan
• Pemakaian alkohol, amfetamin dan obat lain pada ibu hamil
• Keracunan metilmerkuri
• Keracunan timah hitam

7. Gizi
• Kwashiorkor
• Marasmus
• Malnutrisi

8. Lingkungan
• Kemiskinan
44 | L B M 3

• Status ekonomi rendah


• Sindroma deprivasi.

Diagnosa Keterbelakangan mental


Tingkat kecerdasan yang berada dibawah rata-rata bisa dikenali dan diukur
melalui tes kecerdasan standar (tes IQ), yang menunjukkan hasil kurang
dari 2 SD (standar deviasi) dibawah rata-rata (biasanya dengan angka
kurang dari 70, dari rata-rata 100).

Pengobatan Keterbelakangan mental


Tujuan pengobatan yang utama adalah mengembangkan potensi anak
semaksimal mungkin. Sedini mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan
khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan kemampuan sosial untuk
membantu anak berfungsi senormal mungkin. Pendekatan perilaku sangat
penting dalam memahami dan bekerja sama dengan anak RM (Maharani,
2007).

Pencegahan Keterbelakangan mental


Konsultasi genetik akan memberikan pengetahuan dan pengertian kepada
orang tua dari anak RM mengenai penyebab terjadinya RM.
Vaksinasi MMR secara dramatis telah menurunkan angka kejadian rubella
(campak Jerman) sebagai salah satu penyebab RM.

Amniosentesis dan contoh vili korion merupakan pemeriksaan diagnostik


yang dapat menemukan sejumlah kelainan, termasuk kelainan genetik dan
korda spinalis atau kelainan otak pada janin.
Setiap wanita hamil yang berumur lebih dari 35 tahun dianjurkan untuk
menjalani amniosentesis dan pemeriksaan vili korion, karena memiliki
resiko
melahirkan bayi yang menderita sindroma Down.
USG juga dapat membantu menemukan adanya kelainan otak. Untuk
45 | L B M 3

mendeteksi sindroma Down dan spina bifida juga bisa dilakukan pengukuran
kadar alfa-protein serum.
Diagnosis RM yang ditegakkan sebelum bayi lahir, akan memberikan
pilihan aborsi atau keluarga berencana kepada orang tua.
Tindakan pencegahan lainnya yang dapat dilakukan untuk mencegah
terjadinya RM:
• Genetik
Penyaringan prenatal (sebelum lahir) untuk kelainan genetik dan
konsultasi genetik untuk keluarga-keluarga yang memiliki resiko dapat
mengurangi angka kejadian RM yang penyebabnya adalah faktor
genetik.
• Sosial
Program sosial pemerintah untuk memberantas kemiskinan dan
menyelenggarakan pendidikan yang baik dapat mengurangi angka
kejadian RM ringan akibat kemiskinan dan status ekonomi yang rendah.
• Keracunan
Program lingkungan untuk mengurangi timah hitam dan merkuri serta
racun lainnya akan mengurangi RM akibat keracunan. Meningkatkan
kesadaran masyarakat akan efek dari pemakaian alkohol dan obat-
obatan selama kehamilan dapat mengurangi angka kejadian RM.
• Infeksi
Pencegahan rubella kongenitalis merupakan contoh yang baik dari
program yang berhasil untuk mencegah salah satu bentuk RM.
Kewaspadaan yang konstan (misalnya yang berhubungan dengan
kucing, toksoplasmosis dan kehamilan), membantu mengurangi RM
akibat toksoplasmosis.
SUMBER : http://defripakuluk.blogspot.com/2010/06/jenis-gangguan-
perkembangan-pada-anak.html

MR (keterbelakangan mental) adalah suatu keadaan dimana kemampuan


intelektual di bawah rata-rata dan di sertai dengan penurunan perilaku
46 | L B M 3

adaptasi dan manivestasinya selama masa perkembangan. Biasanya


kelihatan saat umur anak di atas 3 tahun.
MR dapat di klasifikasikan menjadi 3 :
a. Educable (mampu untuk di didik) = IQ 50 s/d 75.
b. Try Enable (mampu untuk di latih) = IQ 25 s/d 49.
c. Custodial (mampu rawat) = IQ 0 s/d 24.

Penyebab MR (Mental Retardasi) adalah :


Pre Natal (saat kehamilan) : anoxia (kurang oksigen), infeksi ibu seperti
toksoplasma rubella, sipilis, kekurangan gizi.
Natal (saat kelahiran) : anoxia, prematur, lahir dengan di vakum, dll.
Post Natal (saat pertumbuhan 0-3 tahun) : anoxia, trauma kepala, kuarang
gizi, dll.

SUMBER : http://bia-arnoldus.blogspot.com/2010/02/g-angguan-tumbuh-
kembang-anak-dan.html

b. Autis

Definisi Autis
Autisme bukanlah penyakit menular, namun suatu gangguan
perkembangan yang luas yang ada pada anak. Seorang ahli mengatakan
autisme adalah dasar dari manusia yang berkepribadian ganda (Sizhophren).
Autis pada anak berbeda-beda tarafnya dari yang ringan sampai yang berat.
Autis dapat terjadi pada siapa saja tanpa membedakan perbedaan status
sosial maupun ekonomi. Dengan perbandingan 4:1 pada anak laki-laki. IQ
pada anak autis bisa dari yang rendah sampai IQ yang tinggi (Gunawan,
2001).

Gejala-gejala pada anak Autis


Gejala pada anak autis sudah tampak sebelum anak berumur 3 tahun, yaitu
47 | L B M 3

antara lain dengan tidak adanya kontak mata, dan tidak menunjukkan
responsif terhadap lingkungan. Jika kemudian tidak diadakan terapi, maka
setelah usia 3 tahun perkembangan anak terhenti/mundur, seperti tidak
mengenal suara orang tuanya dan tidak mengenal namanya.

Jenis-jenis Autis
Jenis-jenis autis dibedakan menjadi dua:
1. Autisme disertai hiperaktif (aktif)
2. Autisme tidak disertai hiperaktif (pasif)

Penyebab Autis
Penyebab utama belum diketahui dengan pasti. Autisme diduga disebabkan
oleh gangguan neurobiologis pada susunan syaraf pusat:
• Faktor genetik
• Gangguan pertumbuhan sel otak pada janin
• Gangguan pencernaan
• Keracunan logam berat
• Gangguan Auto – Imun

Cara Penanggulangan Autis


Berdasarkan adanya gangguan pada otak, Autisme tidak dapat sembuh
total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah positif
dengan berbagai terapi.
1. Mengamati perilaku anak secara mendalam
2. Mengetahui riwayat perkembangannya
3. Pemeriksaan medis (kerja sama dengan dokter, psikolog)
4. Melakukan terapi wicara dan perilaku
SUMBER : http://defripakuluk.blogspot.com/2010/06/jenis-gangguan-
perkembangan-pada-anak.html
48 | L B M 3

Autis adalah gangguan tumbuh kembang anak pada masa kanak-kanak


dengan karakteristik sebagai berikut :
- Kurang atau tidak adanya respon terhadap orang lain.
- Penurunan dalam berkomunikasi atau berbicara.
- Bereaksi yang aneh terhadap berbagai aspek lingkungan.
- Gangguan berbicara seperti ecolalia.
- Melakukan sesuatu tanpa tujuan.
Autis kelihatan di saat umur anak di atas 3 tahun.
Penyebab autis secara pasti belum di ketahui, di duga autis disebabkan
karena adanya gangguan reticular system aktif (system saraf pusat), faktor
genetik, metabolic dan biochemical. Banyak orang tua yang melaporkan anak
autis mengalami kemajuan pesat setelah tidak mengkonsumsi susu sapi dan
terigu. Kenapa demikian ? alasannya karena hampir semua anak autis
menderita Multiple Food Alergi / Alergi Makanan, sehingga perlu dilakukan
pengaturan dukungan nutrisi yang sesuai dan seimbang, sebagai contoh yang
paling sering terjadi menurut pengalaman saya, kebanyakan anak autis lebih
sering cenderung bersikap hiperaktif bila di beri susu sapi, cokelat, dan
makanan yang terbuat dari terigu. Pengaturan nutrisi dan diet untuk anak
autis berikut contoh bahan makanan dan minuman yang dilarang, adalah :
Diet bebas Gluten dan Kasein :
Gluten : Makanan yang mengandung terigu ( Mie, roti, biskuit ).
Kasein : mentega,mozarella butter, butter, susu sapi, yoghurt, susu kambing,
susu bubuk, keju, laktalbumin, cream.
Diet bebas gula : gula pasir, soft drink, sirup, fruit juice kemasan.
Diet bebas jamur/fermentasi : minuman fermentasi, kecap, vermipan, tauco,
baking soda, keju, soft drink.
Diet bebas zat aditif : pewarna makanan, penambah rasa, dan pengawet
makanan.
Diet bebas fenol dan salisilat : buah berwarna cerah, anggur, apel, almond,
cherry, plum, prune, jeruk, tomat.
49 | L B M 3

Diet rotasi dan eliminasi : diketahui dan dilakukan setelah melakukan test
alergi.

Pengaturan alat masak dan saat pemberian makanan :


Alat masak dari bahan yang tidak mengandung logam berat.
Makanan yang tinggi protein di berikan saat makan pagi untuk mencegah
anak hiperaktif.
Pemberian suplemen yang sesuai.
Catatan : sebaiknya sebelum melakukan diet, lakukanlah test alergi terlebih
dahulu.

SUMBER : http://bia-arnoldus.blogspot.com/2010/02/g-angguan-tumbuh-
kembang-anak-dan.html

c. Conduct Disorder
Conduct disorder adalah satu kelainan perilaku yang mana anak sulit
membedakan benar salah, baik buruk; sehingga anak merasa tidak bersalah
walaupun dia sudah berbuat kesalahan. Dampaknya akan sangat buruk bagi
perkembangan sosial anak tersebut maupun perkembangan lainnya.
Demikian
pula perilaku agresif seorang anak, harus ada suatu langkah yang dapat
memperbaikinya.

Simpton conduct disorder


Menurut DSM (Diagnostic of Statistical Manual of Mental Disorder), Conduct
disorder merupakan suatu pola perilaku yang terus berulang di mana hak
dasar orang lain atau norma atau aturan dalam masyarakat dilanggar, yang
dimanifestasikan dengan keberadaan tiga ( atau lebih ) kriteria berikut
dalam
12 bulan terakhir, dan sedikitnya satu kriteria harus ada dalam 6 bulan
terakhir (Jurnal, 2003).
50 | L B M 3

Agresi terhadap orang-orang dan binatang:


1. Sering marah-marah,menakuti orang lain
2. Sering memulai perkelahian, fisik
3. Mengguanakan senjata yang dapat menyebabkan ancaman fisik
serius (tongkat pemukul, batu, pisau, dan lain lain)
4. Melakukan kekejaman fisik kepada binatang
5. Melakukan kekejaman fisik kepada orang lain.

Perusakan Properti atau barang-barang:


1. Melempar-lempar barang yang ada dihadapannya ketika marah
2. Melempar barang-barang untuk melukai seseorang atau binatang

Jenis-jenis conduct disorder


Dibawah ini merupakan beberapa kategori conduct disorder menurut The
ICD-10 Classification of Mental and Behavioral Disorders yang dikeluarkan
oleh
World Health Organization (WHO, 1992).
1. Conduct disorder yang dibatasi dalam konteks keluarga: merupakan
conduct disorder yang meliputi perilaku abnormal sepenuhnya, atau
hampir sepenuhnya, dibatasi dengan rumah dan atau interaksi dengan
keluarga.
2. Conduct disorder yang tidak terisolasi: merupakan conduct disorder yang
ditandai dengan kombinasi perilaku disosial dan agresif yang berulang
(tidak hanya perilaku melawan, menyimpang, atau mengganggu),
dengan abnormalitas yang dapat menembus secara signifikan dalam
hubungan individualnya dengan anak-anak yang lain.
3. Conduct disorder yang terisolasi: merupakan conduct disorder yang
meliputi perilaku sosial dan agresif yang berulang (tidak hanya perilaku
melawan, menyimpang, atau mengganggu), yang terjadi pada individu
yang terintegrasi dengan baik ke dalam peer group-nya.
51 | L B M 3

Treatment bagi anak dengan conduct disorder:


• Trannning bagi orang tua untuk dapat mengenali perilaku anak atau
remaja yang mengalami conduct disorder
• Terapi keluarga
• Tranning problem solving skills untuk anak dan remaja tersebut
• Community base service yang difokuskan pada anak-anak dalam keluarga
atau lingkungan disekitarnya
Terapi yang mungkin dilakukan untuk anak penyandang conduct disorder
adalah sebagai berikut:
• Pendekatan Cognitive-Behavioral
Tujuan dari Cognitive-Behavioral adalah untuk meningkatkan
kemampuan anak dalam Problem solving skills, Communications skills,
Impuls control, dan Anger management skills.
• Family theraphy
Family theraphy adalah terapi yang mengfokuskan pada perubahan
system keluarga seperti meningkatkan communications skills dan interaksi
dalam keluarga.
• Peer group theraphy
Peer group theraphy adalah terapi yang difokuskan peningkatan social
skills dan interpersonal skills
• Medication
Meskipun bukan merupakan threatment yang efektif, namun obat dapat
digunakan untuk simpton atau gangguan yang responsive terhadap obat-
obatan.
SUMBER : http://defripakuluk.blogspot.com/2010/06/jenis-gangguan-
perkembangan-pada-anak.html

d. Attentation Deficit Hyperactive Disorders (ADHD)


Adalah kependekan dari Attentation Deficit Hyperactive Disorders yang
merupakan istilah yang paling sering digunakan untuk menyatakan suatu
52 | L B M 3

keadaan yang memiliki karakterisrik utama ketidakmampuan memusatkan


perhatian,impulsivitas, dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan
perkembangan
anak (Jurnal, 2003).

Penyebab ADHD
Ditimbulkan Karena faktor lingkungan sosial atau karena metode
pengasuhan anak, penyebab yang paling subtansi dan paling diyakini
adalah faktor neurologi dan faktor genetis. Semua faktor memberikan
dampak peningkatan terhadap gangguan.

Gejala pada Attentation Deficit Hyperactive Disorders (ADHD)


ADHD membedakan tiga tipe gejala :
1. INATTENTION(Kurangnya perhatian) :
• Sering gagal dalam memberi perhatian secara erat secara jelas atau
membuat kesalahan yang tidak terkontrol
• Sering mengalami kesulitan menjaga perhatian/ konsentrasi dalam
menerima tugas atau aktifitas bermain.
• Sering kelihatan tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung
• Sering kesulitan mengatur tugas dan kegiatan
• Sering menghindar, tidak senang atau enggan mengerjakan tugas yang
membutuhkan usaha (seperti pekerjaan sekolah atau perkerjaan rumah)
• Sering kehilangan suatu yang dibutuhkan untuk tugas atau kegiatan (
permainan, tugas sekolah, pensil, buku dan alat sekolah lainnya ))
• Sering mudah mengalihkan perhatian dari rangsangan dari luar yang tidak
berkaitan
• Sering melupakan tugas atau kegiatan sehari-hari

2. HIPERAKTIFITAS :
• Sering merasa gelisah tampak pada tangan, kaki dan menggeliat dalam
tempat duduk
53 | L B M 3

• Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang
mengharuskan tetap duduk.
• Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi
yang tidak seharusnya (pada dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam
keadaan perasaan tertentu atau kelelahan )
• Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang.
• Sering berperilaku seperti mengendarai motor
• Sering berbicara berlebihan

3. IMPULSIF :
• a.Sering mengeluarkan perkataan tanpa berpikir, menjawab pertanyaan
sebelum pertanyaannya selesai.
• b. Sering sulit menunggu giliran atau antrian
• c. Sering menyela atau memaksakan terhadap orang lain (misalnya dalam
percakapan atau permainan).

Pengobatan / terapi ADHD


• Terapi Medikasi
Terapi medikasi atau famakologi adalah penanganan dengan mengguanakan
obat-obatan.
• Terapi Nutrisi
Terapi nutrisi adalah terapi yang mengacu pada keseimbanganan
makana. Seperti keseimbangan karbohidrat, penanganan gangguan
pencernaan.
• Terapi Biomedis
Terapi biomedis dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi, defisiensi
mineral, essential fatty Acids, gangguan metabolism asam amino dan
toksisitas ligam berat.
• Terapi modifikasi prilaku
Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan perilaku secara
54 | L B M 3

langsung, dengan lebih mengfokuskan pada perubahan spesifik.


Modifikasi perilaku merupakan pola penanganan yang paling efektif
dengan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustasi,
marah, dan berkecil hati menjadi perasaan yang penuh percaya diri.
SUMBER : http://defripakuluk.blogspot.com/2010/06/jenis-gangguan-
perkembangan-pada-anak.html

ADHD adalah suatu kondisi yang di gunakan untuk menggambarkan anak-


anak dengan itelegensi rata-rata atau di bawah rata-rata yang mempunyai
tingkat perkembangan yang tidak sesuai pada area atensi dengan adanya
implusive dan hiperaktif.
Penyebab gangguan ini tidak di ketahui secara pasti, faktor penyebabnya
mungkin berhubungan dengan kerusakan sistem saraf pusat selama atau
sebelum kehamilan, faktor genetik, hiperaktif di sebabkan oleh kurangnya
penyaringan stimulasi eksternal.

SUMBER : http://bia-arnoldus.blogspot.com/2010/02/g-angguan-tumbuh-
kembang-anak-dan.html

E.Down Sindrome
Down Sindrome adalah gangguan mental syndrome akibat dari jumlah
kromosom yang tidak normal dan memiliki ciri yang khas seperti wajah
mongoloid. 90% kasus di sebabkan karena kelebihan kromosom ke-21,
perpindahan komponen kromosom 21 pindah ke kromosom yang lain
sehingga pada manusia normal mempunyai 2 garis kromosom yang sama
(linear) menjadi tidak seimbang karena salah satu kromosomnya menjadi 47
(pada normalnya 46).
Penyebab yang lainnya adalah faktor usia pada saat ibu hamil. Berdasarkan
penelitian dimana usia ibu melahirkan >= 40 tahun lebih beresiko
melahirkan anak dengan down syndrome dari pada ibu-ibu muda.
55 | L B M 3

SUMBER : http://bia-arnoldus.blogspot.com/2010/02/g-angguan-tumbuh-
kembang-anak-dan.html

F. Gangguan Congenital
Gangguan Congenital adalah suatu kondisi yang di tandai dengan malformasi
pada anggota tubuh yang terjadi selama proses kehamilan. Penyebab secara
pasti masih belum di ketahui, kemungkinan faktor genetik atau metabolisme.
SUMBER : http://bia-arnoldus.blogspot.com/2010/02/g-angguan-tumbuh-
kembang-anak-dan.html

G. Cerebral Palsy
CP (Cerebral Palsy) adalah kelainan anggota gerak yang di sebabkan oleh
gangguan otak/cidera otak yang sifatnya tidak progresif, sehingga
berdampak pada sistem motorik anak.
Penyebabnya :
a. Prenatal (saat kehamilan)
• Infeksi seperti : Rubella, toksoplasma, cipilis.
• Anoxia (kekurangan oksigen).
• Trauma kehamilan.
b. Natal (saat kelahiran)
• Prematur
• Lahir dengan divakum
• Anoxia
c. Post Natal (saat pertumbuhan 0-3 tahun)
• Trauma kepala
• Anoxia
CP (Cerebral Palsy) ada beberapa macam, yaitu :
- CP Spastik : kerusakan terjadi di otak besar.
- CP Atetoik : lokasi gangguan ada di otak besar.
- CP Ataksia : terjadi gangguan pada otak kecil.
- CP Flaccid : gangguan pada otot.
56 | L B M 3

SUMBER : http://bia-arnoldus.blogspot.com/2010/02/g-angguan-tumbuh-
kembang-anak-dan.html

3. Factor penyebab

Beberapa factor resiko dan penyebab gangguan/kelainan tumbuh kembang


anak, sbb :
1. Usia ibu terlalu muda (<18 tahun) : retardasi mental, trisomi (gangguan
gen yang dibawa sejak lahir).
2. Usia ibu terlalu tua (>35 tahun) : retardasi mental, mongolism,
Klenefelters, Kelainan SP Celah bibir dan langit-langit.
3. Umur ayah terlalu tua : Akhondroplasia, tuli, kelainan SSP.
4. Genetic : Berbagai penyakit herediter, Retardasi mental, Kecenderungan
premature/postmatur.
5. Faktor Sosial (kemiskinan) : BBLR, Kelainan bawaan
6. Gizi kurang : BBLR, Retardasi mental, Kerusakan Otak janin
7. Anak Pertama : Gangguan sikap dan perilaku, Berbagai kelainan bawaan,
Disfungsi minimal otak.
8. Jarak anak terlalu dekat : Prematuritas, Gangguan psikomotor
9. Ibu perokok : BBLR/janin tumbuh lambat
10. Factor musim dan ras : Spina bifida, polidaktili
11. Infeksi TORCH : Berbagai kelainan bawaan
12. Endokrin/hormone : Hipoglikemia, gigantism, Hipotiroidism
13. Trauma lahir : CP, Retardasi mental
14. Trauma sesudah lahir : CP, Cacat tubuh
15. Infeksi Susunan saraf : Kelumpuhan, retardasu mental, bisu, tuli, buta,
dsb.

SUMBER : Gangguan Tumbuh Kembang Anak


(http://www.infofisioterapi.com/ )
57 | L B M 3

17. Apa saja etiologinya?


18. Bagaimana pathogenesis adanya developmental delayed jika dilihat dari
4domain mailstone (bicara, motorik, dll)? GAMBARNYA!
19. Bagaimana penatalaksanaan yang tepat?