Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam dunia pendidikan, kurikulum berfungsi sebagai alat untuk mencapai
tujuan – tujuan yang diinginkan serta mengatur segala kegiatan yang
berlangsung. Kurikulum tercipta dari pemikiran para tokoh, sehingga ada
masanya kurikulum akan mengalami perkembangan seiring dengan pemikiran
para tokoh dan kebutuhan yang mendasarinya. Pengembangan kurikulum
tidak lepas dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir,
sistem nilai, proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan
masyarakat, maupun arah program pendidikan.
Berbagai macam model kurikulum telah dikembangakan oleh ahli kurikulum ,
pendidikan dan psikolog. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa
terkadang sudut pandang ahli yang satu dengan yang lainnya akan memiliki
perbedaan. Ada yang emmandang dari sudut isinya dan ada juga yang
memandang dari sisi pengelolaan . Namun jika diteliti lebih lanjut , para ahli
tersebut mempunyai satu tujuan/arah yaitu mengoptimalkan kurikulum.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas , dapat dibuat beberapa rumusan masalah yakni :
1. Apa pengertian dari model pengembangan kurikulum ?
2. Bagaimana jenis-jenis model pengembangan kurikulum ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalh ini adalah :
1. Menjelaskan pengertian dari model pengembangan kurikulum.
2. Menjelaskan jenis –jenis model pengembangan kurikulum.

1
BAB II

ISI

2.1 Pengertian Model Pengembangan Kurikulum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), model adalah pola, contoh,
acuan, ragam dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Berdasarkan
pengertian tersebut model pengembangan kurikulumdapat diartikan sebagai
suatu pola atau contoh dari suatu bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan
pelaksanaan pendidikan atau pembelajaran.
Ella Yulaelawati (2004: 50) mengutip pendapat Dorin dkk.menjelaskan bahwa
sebuah model merupakan gambaran mental yang membantu kita untuk
menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat
dilihat atau tidak dialami secara langsung.Model dapat berupa skema, bagan,
gambar, dan tabel.Model menjelaskan keterkaitan berbagai komponen dalam
suatu pola pemikiran yang disajikan secara utuh.Model dapat membantu kita
melihat kejelasan keterkaitan secara lebih cepat, utuh, konsisten, dan
menyeluruh. Hal ini disebabkan suatu model disusun dalam upaya

2
mengkonkretkan keterkaitan hal-hal abstrak dalam suatu skema, bagan,
gambar atau tabel. Dengan mencermati model, kita dapat membaca uraian
tentang banyak hal dalam sebuah pola yang mencerminkan alur pikir dan pola
tindakan.
Model juga bisa diartikan sebagai tiruan atau miniatur dari benda atau proses
sebenarnya. Model ini bisa berupa benda bisa juga berupa prosedur atau
gambaran langkah sistematis suatu proses. Silvern (AECT,1986:82-83)
menjelaskan bahwa model adalah konseptualisasi dalam bentuk persamaan,
peralatan fisik, uraian, atau analogi grafik yang menggambarkan situasi
(keadaan) yang sebenarnya. Model meskipun tidak menggambarkan sesuatu
persis seperti kenyataan yang sebenarnya, namun dipandang sebagai replikasi
asli.Semakin jelas replikasi itu, semakin baik suatu model”.

Zainul Arifin (2012:137) menuliskan bahwa model disepadankan dengan


konstruksi yang berarti ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar.Kaitannya
dengan pengembangan kurikulum, model diartikan sebagai ulasan teoritis
tentang suatu proses kurikulum secara menyeluruh atau merupakan ulasan
tentang salah satu bagian kurikulum. Selain itu, dijelaskannya bahwa model
ada yang mempersoalkankeseluruhan proses dan ada pula yang hanya
menitikberatkan pandangannya pada mekanisme penyusunan kurikulumnya.
Begitu pula ulasan teoritis, ada yang mengutamakan uraiannya pada segi
organisasi kurikulum dan ada pula yang menitikberatkan ulasannya pada
hubungan antarpribadi orang-orang yang terlibat dalam pengembangan
kurikulum.
Pengertian Pengembangan Kurikulum
Istilah pengembangan mengacu pada suatu proses menghasilkan sesuatu yang
baru, yang selama prosesitu berlangung dilakukan evaluasi. Pengembangan
juga dapat diartikan sebagai proses perubahan dari tidak ada menjadi ada atau
dari ada menjadi lebih baik. Apabila istilah tersebut diterapkan dalam bidang
kurikulum, dapat dikatakan bahwa pengembangan kurikulum adalah suatu
proses mengembangkan setiap komponen kurikulum, yang selama prosesitu
dilakukan evaluasi terhadap setiap komponen yang dikembangkan.

3
Oemar Hamalik (1997) mengutip pendapat Andrey dan Howard Nicholas
mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan
kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa peserta
didik ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan serta menilai hingga
sejauh mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada peserta didik.
Berdasarkan pengertian tersebut pengembangan kurikulum sesungguhnya
merupakan sebuah siklus, suatu proses berulang yang tidak pernah berakhir.
Proses kurikulum itu sendiri terdiri atas empat unsur, yaitu
1. Tujuan, yakni mempelajari serta menggambarkan semua sumber
pengetahuan dan pertimbangan tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik
yang berkenaan dengan mata pelajaran (subject course) maupun
kurikulum secara menyeluruh.
2. Metode dan material, yakni mengembangkan serta mencoba menggunakan
metode dan material sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan yang serasi
menurut pertimbangan guru
3. Penilaian (assessment), yakni menilai keberhasilan pekerjaan yang telah
dikembangkan dalam kaitan dengan tujuan yang telah dikembangkan
sebelumnya atau mengembangkan tujuan-tujuan baru.
4. Feedback, yakni umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh
yang pada gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.
Pengertian Model Pengembangan Kurikulum

Menurut tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2009), model


pengembangan kurikulum adalah prosedur umum dalam kegiatan mendesain
(designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation)
suatu kurikulum”. Karena model sebagai gambaran mental, akibatnya akan
terdapat banyak model sesuai dengan kemampuan pembuat model dalam
menuangkan suatu fenomena baik dalam wujud miniatur, bagan, atau
deskripsi langkah-langkah proses dari suatu benda atau peristiwa.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa yang dimaksud dengan model
pengembangan kurikulum itu adalah gambaran sistematis mengenai prosedur
yang ditempuh dalam melakukan aktivitas pengembangan kurikulum, yaitu

4
proses perencanaan, pelaksanaan (uji coba), dan penilaian kurikulum. Inti dari
aktivitas ini sebenarnya adalah pengambilan keputusan tentang apa, mengapa,
dan bagaimana komponen-komponen kurikulum yang akan dibuat. Pengertian
tersebut pada dasarnya sejalan dengan Asep Heri Hernawan (2009:227) yang
menulis bahwa model pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan
suatu proses untuk membuat keputusan dan merevisi suatu program
kurikulum.

2.2 Model Pengembangan Kurikulum

Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan


kurikulum.Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja
didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan
pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem
pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam
sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan
yang desentralisasi. Model pengembangan kurikulum yang sifatnya subjek
akademis berbeda dengan kurikulum humanistic , teknologis dan rekonstruksi
sosial. (Nana Syaodih Sukmadinata,2014:161)

Robert S. Zais (1976) dalam bukunya Curriculum: Principles and


Foundationsmengemukakan ada delapan model pengembangan kurikulum.
Dasar teorinya adalah institusi atau orang yang menyelenggarakan
pengembangan, pengambilan keputusan, penetapan ruang lingkup kegiatan
yang termuat dalam kurikulum, realitas implementasinya, penelitian sistmatis
tentang masalahnya, dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan
kurikulum.Kedelapan model pengembangan kurikulum tersebut adalah model
administratif (the administrative model), Model akar rumput (the grass roots
model), Model sistem Beauchamp (Beauchamp’s system),Model
demonstrasi(the demonstrations model), Model Terbalik Taba (Taba’s invered
model),Model Hubungan interpersonal Roger (Roger’s interpersonal relations
model),Model Aksi Reset Sistematik (the systematic action research
model)danModel Teknologis (emerging technical model).Selain itu, ada pula

5
model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Ralph W. Tyler dan
Oliva. Tentu saja masih banyak model pengembangan kurikulum lain yang
dapat Anda kenal.

Pada paparan berikut ini, Anda akan diajak untuk mempelajari beberapa
model yang umum dan sering digunakan dari beberapa model yang disebutkan
di atas. Model-model lainnya termasuk yang belum tersebut di atas, silakan
Anda pelajari dan kaji bersama dari sumber lainnya bersama teman-teman
Anda.

1. Model Pengembangan Kurikulum Administratif


Model pengembangan kurikulum administrative merupakan model
pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak
digunakan.Model ini menggunakan prosedur “garis – staf” atau garis komando
“dari atas ke bawah” sehingga dikenal juga dengan model pengembangan
kurikulum top down.Gagasan pengembangan kurikulum datang atas inisiatif
para pejabat pendidikan atau dari para pemegang kebijakan pendidikan.Di
negara kita misalnya inisiatif pengembangan kurikulum datang dari pejabat
tinggi Kemdikbud, Dirjen Dikdasmen atau Kepala Dinas
Pendidikan.Selanjutnya, dengan menggunakan semacam garis komando
pengembangan kurikulum dilaksanakan di tingkat bawah.Oleh karena dimulai
dari atas itulah, model pengembangan kurikulum ini dinamakan juga line staff
model.

Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum yang menggunakan


model ini pada umumnya dilakukan dengan langkah sebagai berikut.

a. Pembentukan tim pengarah atau panitia pengarah (steering committee)


oleh pejabat pendidikan. Tim tersebut antara lain bertugas merumuskan
rencana umum, prinsip-prinsip, landasan filosofis, dan tujuan umum
pendidikan. Tim pengarah ini biasanya terdiri atas para pejabat pengambil
keputusan, pengawas pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, kepala
sekolah, guru-guru inti, dan bisa juga ditambah dengan para tokoh
masyarakat.

6
b. Pembentukan tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau
rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. Anggota
kelompok kerja ini umumnya terdiri atas para ahli kurikulum, para ahli
disiplin ilmu, ditambah dengan guru-guru yang sudah berpengalaman
dalam melaksanakan kurikulum. Tugas pokok tim ini adalah merumuskan
tujuan kurikulum yang spesifik, memilih dan menyusun urutan bahan
pelajaran, memilih stratgi pembelajaran, menyusun pedoman evaluasi,
serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru.
c. Apabila kurikulum sudah selesai oleh tim atau kelompok kerja,
selanjutnya hasil pekerjaan diserahkan kepada panitia pengarah untuk
dikaji dan diberi catatan atau direvisi. Bila dipandang perlu walaupun hal
ini jarang terjadi kurikulum diujicobakan (try out) untuk meneliti
kelayakan pelakanaannya. Hasil uji coba tersebut digunakan sebagai bahan
penyempurnaan. Pekerjaan ini dilakukan oleh suatu komisi yang ditnjuk
oleh panitia pengarah dan keanggotaannya terdiri atas sbagian besar
kepala-kepala sekolah.
d. Apabila pekerjaan tersebut telah selesai, diserahkan kembali kepada
panitia pengarah untuk ditelaah kembali. Selanjutnya, menyebarluaskan
serta memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan
kurikulum yang telah tersusun itu.
e. Dalam pelaksanaan kurikulum ini dilakukan monitoring yang dimakudkan
untuk memperoleh masukan bagi pengembangan kurikulum selanjutnya,
selain untuk memberikan bimbingan dan evaluasi dalam pelaksanaan
kurikulum..
f. Setelah berjalan beberapa saat perlu juga dilakukan evaluasi , untuk
menilai validitas komponen-komponennya , prosedur pelaksanaan ,
maupun keberhasilannya

2. Model Pengembangan Kurikulum Grass-Roots


Model pengembangan kurikulum grass roots merupakan lawan dari model
pengembangan kurikulum administratif.Inisiatif dan upaya pengembangan
kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau

7
sekolah.Inisiatif pengembangan kurikulum model ini berada di tangan guru-
guru sebagai pelaksana kurikulum di sekolah, baik yang bersumber dari satu
sekolah maupun dari beberapa sekolah sekaligus.Pengembangan kurikulum
diawali dengan adanya keresahan yang dihadapi oleh guru mengenai
kurikulum yang berlaku, kemudian mereka memiliki kebutuhan dan keinginan
untuk memperbaharui atau menyempurnakannya. Tugas para administrator
dalam pengembangan model ini tidak lagi berperan sebagai pengendali
pengembangan kurikulum, akan tetapi hanya sebagai motivator dan fasilitator.
Perubahan atau penyempurnaan kurikulum bisa dimulai oleh guru secara
individual atau bisa juga oleh kelompok guru, misalnya kelompok guru mata
pelajaran dari beberapa sekolah.
Jika model pengembangan kurikulum administratif digunakan dalam
sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, model
pengembangan kurikulum grass rootsakan berkembang dalam sistem
pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang
bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di
suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum.Pengembangan
atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum,
satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh
komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat
dari kemampuan guru-guru, fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan,
pengembangan kurikulum model grass roots tampaknya akan lebih baik. Hal
itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana,
dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.Guru yang paling tahu
kebutuhan kelasnya, oleh karena itu guru yang paling kompeten menyusun
kurikulum bagi kelasnya.
Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya
berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula
dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain baik
pengembangan tujuan, bahan/materi, strategi/metode, dan evaluasi (komponen
kurikulum). Hal ini dilakukan oleh para guru dengan memperhatikan masukan
dari masyarakat serta bimbingan para administrator pendidikan.Pada tahap

8
berikutnya, para pengembang kurikulum dapat mengadakan lokakarya
pengembangan kurikulum yang telah dilakukan guna mendapatkan masukan-
masukan.Setelah itu, dilakukan penyempurnaan dan revisi dan untuk
selanjutnya kurikulum diimplementasikan di sekolah-sekolah.
Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass
roots-nya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu
dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-
manusia yang lebih mandiri dan kreatif. Terkait dengan pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung dilakukan
dengan menggunakan pendekatan the grass-root model.Kendati demikian,
agar pengembangan kurikulum dapat berjalan efektif tentunya harus ditopang
oleh kesiapan sumber daya, terutama sumber daya manusia yang tersedia di
sekolah.
Model ini didasarkan pada dua pandangan pokok sebagai berikut.Pertama,
implementasi kurikulum akan lebih berhasil apabila guru-guru sebagai
pelaksana sudah sejak semula terlibat secara langsung dalam pengembangan
kurikulum. Kedua, pengembangan kurikulum bukan hanya melibatkan
personel yang profesional (guru) saja, tetapi juga melibatkan siswa, orang tua,
dan anggota masyarakat. Dalam pengembangan kurikulum demikian, kerja
sama dengan orang tua murid dan masyarakat menjadi sangat penting. Kerja
sama di antara sesama guru dengan sendirinya merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari model ini.
Model grass-roots ini didasarkan pada empat prinsip, yaitu (a) kurikulum
akan bertambah baik jika kemampuan professional guru bertambah baik; (b)
kompetensi guru akan bertambah baik jika guru terlibat secara pribadi di
dalam merevisi kurikulum; (c) hasil evaluasi kurikuum akan lebih bermakna
jika guru terlibat dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi,
mendefinisikan dan memecahkan masalah, dan mengevaluasi hasil; (d)
hendaknya di antara guru-guru terjadi kontak langsung sehingga mereka dapat
saling memahami dan mencapai suatu konsensus tentang prinsip-prinsip dasar,
tujuan, dan rencana.

9
3. Model Pengembangan Kurikulum dari Ralph W. Tyler
Model Tyler menekankan pada bagaimana merancang suatu kurikulum
disesuaikan dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Ella
Yulaelawati (2004:29) mengelompokkan model ini berdasarkan kerangka
pendekatan sistematik dan pendekatan kontekstual.Model Tyler menekankan
pada empat pertanyaan, yaitu:
a. What educational purpose should the school seek to attain?
b. What educational experiences are likely to attain these objectives?
c. How can these educational experiences be organized effectively?
d. How can we determine wether these purposes are being attain?
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut Tyler ada empat hal
yang dianggap fundamental untuk mengembangkan suatu kurikulum,
yaitupertama, berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai;
kedua, berhubungan dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan;
ketiga, berhubungan dengan pengorganisasian pengalaman belajar; keempat,
berhubungan dengan pengembangan evaluasi.

Dalam pengembangan kurikulum, kegiatan merumuskan tujuan merupakan


langkah pertama dan utama yang harus dikerjakan karena tujuan merupakan
arah atau sasaran pendidikan.Tujuan pendidikan yang dirumuskan meliputi
tujuan nasional, tujuan institusional, dan tujuan pembelajaran.Tujuan nasional
pendidikan kita dapat dilihat pada Undang-Undang Sistem Pendidikan yang
berlaku. Berdasarkan tujuan pendidikan nasional, disusun tujuan institusional
dan tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional. Tujuan ini kemudian
menjadi kriteria untuk memilih isi, bahan pembelajaran, metode dan penilaian.

Tujuan semestinya mengandung pernyataan tentang apa yang harus diakukan


peserta didik, bukan apa yang harus dilakukan oleh guru. Tujuan mengandung
perubahan perilaku yang diinginkan dan materi yang digunakan untuk
mencapai perubahan perilaku tersebut.Tujuan dapat ditulis secara lebih umum
seperti “mengembangkan minat peserta didik” atau secara khusus
“membedakan perubahan fisika dan perubahan kimia”.

10
Pengalaman belajar (learning experience) adalah segala aktivitas siswa dalam
berinteraksi dengan lingkungan.Menurut Tyler pengamalan belajar bukanlah
isi atau materi pelajaran dan bukan pula aktivitas guru memberikan pelajaran.
Pengalaman belajar mengacu pada aktivitas siswa di dalam proses
pembelajaran. Pengalaman belajar perlu disusun untuk memberikan gagasan
kepada para guru tentang rincian kegiatan pembelajaran yang harus
dilaksanakan.Agar pengalaman belajar ini dapat mencapai tujuan pendidikan
pada berbagai tingkatan, perlu disusun terlebih dahulu tentang kriteria serta
prinsip-prinsip penentuan pengalaman belajar.

Beberapa kriteria seleksi pengalaman belajar yang perlu dicermati oleh para
pengembang kurikulum adalah (1) pengalaman belajar dapat diterapkan di
sekolah, (2) memiliki kelayakan dari segi waktu, kemampuan guru, fasilitas
sekolah, dan pemenuhan terhadap harapan masyarakat, (3) optimal dalam
mengembangkan pengetahuan peserta didik, (4) memberikan peluang untuk
pengembangan berpikir nasional, (5) memberikan peluang untuk menantang
pengembangan seluruh potensi peserta didik sebagai individu dan sebagai
anggota masyarakat, (6) terbuka terhadap hal baru dan menoleransi perbedaan
kemampuan peserta didik, (7) memotivai belajar lebih lanjut, (8) memenuhi
kebutuhan peserta didik, (9) memperluas minat peserta didik, dan (10)
mengembangkan keutuhan pengembangan ranah kognitif, afektif, psikomotor,
sosial, emosi, dan spiritual peserta didik.

Pengorganisasian pengalaman belajar siswa dapat dilakukan dalam bentuk


unit pelajaran ataupun dalam bentuk program.Ada dua jenis pengorganisasian
pengalaman belajar, yaitu pengorganisasian secara vertikal dan secara
horizontal. Pengorganisasian secara vertical, yaitu menghubungkan
pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat atau kelas
yang berbeda, sedangkan pengorganisasian secara horizontal, yaitu
menghubungkan pengalaman belajar dalam tingkat/kelas yang sama. Hal ini
dilakukan untuk menghidari pengulangan yang tidak perlu atau tumpang
tindih.Pengaturan vertikal dan horizontal juga harus memperhatikan

11
pendekatan spiral yang secara bertahap, bertambah, berkesinambungan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan keilmuan.
Menurut Tyler, sebagaimana dikutip oleh Wina (2008), ada tiga prinsip yang
harus diperhatikan dalam pengorganisasian pengalaman belajar, yaitu
kesinambungan, urutan isi, dan integrasi. Pengalaman belajar perlu dikelola
secara berkesinambungan sejak usia dini sampai dengan kelas yang lebih
tinggi. Kesinambungan perlu mencerminkan kemajuan belajar secara bertahap
menuju keutuhan dari segi keilmuan.Pentahapan disesuaikan dengan tahap
perkembangan dan kesiapan peserta didik dalam melaksanakan
pembelajaran.Urutan isi memiliki makna bahwa setiap pengalaman belajar
yang diberikan kepada peserta didik harus memperhatikan tingkat
perkembangan mereka.Misalnya, pengalaman belajar di kelas lima harus
berbeda dengan pengalaman belajar pada tingkat selanjutnya.Urutan
merupakan sistematika penyajian pengalaman belajar yang menjamin
kontinuitas atau keberlangsungan. Untuk menyajikan urutan perlu
diperhatikan penyajian antara lain penyajian dari yang lebih mudah ke lebih
sulit, lebih permukaan ke lebih mendalam, lebih sederhana ke lebih sulit, dan
lebih kongkret ke lebih abstrak. Sementara itu, integritas memiiki makna
bahwa pengalaman yang diberikan pada siswa harus memiliki fungsi dan
bermanfaat untuk memperoleh pengalaman belajar dalam bidang lain.

Evaluasi memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan


kurikulum.Dengan evaluasi dapat ditentukan apakah kurikulum yang
digunakan sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah atau
sebaliknya.Disamping itu, evaluasi juga berguna untuk menilai apakah proses
kurikulum berjalan secara optimal atau tidak. Dengan demikian, dapat
diperoleh balikan tentang pelaksanaan kurikulum itu.Berdasarkan balikan
yang diperoleh dapat dilakukan perbaikan-perbaikan.Ada dua aspek yang
harus diperhatikan dalam pengembangan evaluasi.

1. Evaluasi harus menilai ketercapaian perubahan tingkah laku siswa sesuai


dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.

12
2. Evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam
suatu waktu tertentu.
4. Model Pengembangan Kurikulum dari Hilda Taba
Model pengembangan kurikulum yang dikembangkan oleh Hilda Taba dikenal
dengan namaTaba’s Inverted Model atau Model Terbalik Taba. Dikatakan
demikian karena model ini sifatnya lebih induktif sementara model yang lazim
ditempuh secara deduktif. Pengembangan kurikulum secara deduktif bersifat
tradisional dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Penentuan prinsip-prinsip dan kebijaksanaan dasar.
2) Merumuskan desain kurikulum yang bersifat menyeluruh didasarkan
atas komitme-komitmen tertentu.
3) Menyusun unit-unit kurikulum sejalan dengan desain yang
menyeluruh.
4) Melaksanakan kurikulum di dalam kelas

Menurut Taba model kurikulum deduktif kurang cocok karena tidak


merangsang timbulnya inovasi-inovasi.Menurutnya pengembangan kurikulum
yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah model
pengembangan kurikulum yang bersifat induktif yang merupakan inverse atau
arah terbalik dari model tradisional.

Model ini dimulai dengan melaksanakan eksperimen, diteorikan, kemudian


diimplementasikan.Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan antara teori dan
praktik, serta menghilangkan sifat keumuman dan keabstrakan kurikulum
sebagaimana sering terjadi apabila dilakukan tanpa kegiatan ekperimental.
Model Taba lebih menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan
kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan
kurkulum.Dalam prosesnya model ini memberikan penekanan dengan
memusatkan perhatian pada guru.Taba mempercayai peran guru sebagai
pengembang utama kurikulum. Guru tidak lagi dianggap sebagai objek
penerima dan pelaksana kurikulum sebagaimana model Tyler, pada model
Taba ini guru merupakan subjek aktif yang terlibat penuh dalam
pengembangan kurikulum.

13
Dalam pengembangan kurikulum model Taba, ada lima langkah yang harus
diperhatikan, sebagaimana diuraikan berikut ini.

a. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru.


Dalam kegiatan ini diadakan studi yang seksama tentang hubungan antara
teori dan praktik.Perencanaan didasarkan pada teori yang kuat dan
pelaksanaan eksperimen di dalam kelas yang menghasilkan data-data untuk
menguji landasan teori yang digunakan. Ada delapan langkah dalam kegiatan
unit eksperimen ini:

1) Diagnosis of Need (Mendiagnosis Kebutuhan Siswa). Pada langkah ini


pengembang kurikulum memulai kegiatannya dengan menentukan kebutuhan-
kebutuhan siswa melalui diagnosisi tentang gaps, berbagai kekurangan
(deficiencies), dan perbedaan latar belakang siswa. Langkah pertama dalam
diagnosis ini adalah menentukan kurikulum apa yang harus diberikan kepada
siswa.
2) Formulation of Objective (Merumuskan Tujuan Pendidikan). Setelah
kebutuhan-kebutuhan siswa didiagnosis, selanjutnya para pengembang
kurikulum merumuskan tujuan. Diagnosis kebutuhan peserta didik dapat
menggambarkan dan memberikan petunjuk dalam merumuskan tujuan
pendidikan. Dalam merumuskan tujuan pendidikan, ada empat area yang perlu
diperhatikan. Pertama, konsep atau ide-ide yang akan dipelajari (concept or
ideas to be learned). Kedua, sikap, sensitivitas, dan perasaan yang akan
dikembangkan (attitude, sensitivities, and feeling to be developed). Ketiga,
pola pikir yang akan ditekankan, dikuatkan, atau dimulai/dirumuskan (ways of
thinking to be reinforced, strengthened, or initiated). Keempat, kebiasaan dan
kemampuan yang akan dikuasai (habits and skills to be mastered).
Selanjutnya, Taba memberikan beberapa petunjuk untuk merumuskan tujuan
pendidikan, di antaranya sebagai berikut.(1) Tujuan hendaknya memiliki dua
dimensi, yaitu menggambarkan sikap yang diharapkan dan isi yang terdapat
dalam setiap mata pelajaran. (2) Tujuan yang bersifat kompleks (umum) perlu
dianalisis menjadi tujuan-tujuan yang lebih khusus sehingga diperoleh bentuk
sikap yang diharapkanatau perilaku apa yang diperbuat. (3) Tujuan hendaknya

14
memberikan petunjuk tentang pengalaman belajar apa yang diperlukan untuk
mencapai tujuan tersebut. (4) Tujuan yang dikembangkan tidak selalu dapat
dicapai dengan segera, akan tetapi ada kalanya memakan waktu yang lama. (5)
Tujuan harus reaistis dan dapat diterjemahkan dalam bentuk kegiatan atau
pengalaman belajar tertentu. (6) Tujuan harus komprehensif, artinya meliputi
sgala tujuan yang akan dicapai di sekolah.

3) Selection of Content (Memilih Isi). Pemilihan isi kurikulum sesuai dengan


tujuan merupakan langkah berikutnya. Pemilihan isi bukan saja didasarkan
pada tujuan yang haru dicapai sesuai dengan langkah kedua, akan tetapi harus
mempertimbangkan segi validitas dan kebermaknaannya untuk siswa.Menurut
Taba, isi materi yang akan diajarkan kepada siswa harus memenuhi criteria:
(1) Isi harus valid dan signifikan. Materi yang akan diajarkan harus
menggambarkan pegetahuan yang mutakhir dan signifikan bagi kehidupan
mereka. (2) Isi harus relevan dengan kenyataan sosial agar siwa mampu
memahami dunia mereka. (3) Isi harus mengandung keseimbangan antara
keluasan dan kedalaman. (4) Isi harus disesuaikan dengan kemampuan siswa
untuk mempelajarinya dan bisa dihubungkan dengan pengalaman mereka. (5)
Isi harus sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa.
4) Organization of The Content (Mengorganisasi Isi). Dalam menyusun
kurikulum, terutama terkait dengan bentuk penyajian bahan pelajaran atau
organisai kurikulum, ada dua jenis organisasi kurikulum yang bisa menjadi
pilihan, yaitu kurikulum berdasarkan mata pelajaran dan kurikulum terpadu.
Berdasarkan mata pelajaran, organisasi kurikulum dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu (1) Separated Subject Curriculum, (2) Correlated Curriculum,
dan (3) Broad Field Curriculum. Separated Subject Curriculum, yaitu
kurikulum dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang kurang
memiliki keterkaitan dengan mata pelajaran lainnya. Contoh separated subject
curriculum dapat dilihat pada gambar berikut.

Fisika Kimia Biologi

15
Gambar 1
Contoh separated subject curriculum: Pelajaran IPA terdiri atas mata
pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi.

Correlated Curriculum, yaitusejumlah mata pelajaran dihubungkan antara satu


dengan yang lain, sehingga ruang lingkup bahan yang tercakup semakin luas.
Contoh correlated curriculum dapat dilihat pada gambar berikut.

Pelajaran Pelajaran Pelajaran


IPA Matematika
Geografi

Gambar 2
Contoh correlated curriculum: Pelajaran IPA dihubungkan dengan pelajaran
geografi dan pelajaran matematika

Broad Field Curriculum, yaituusaha untuk meningkatkan kurikulum dengan


mengombinasikan beberapa mata pelajaran. Kurikulum ini merupakan
kebalikan dari separated curriculum. Sebagai contoh, mata pelajaran sejarah,
geografi, ilmu ekonomi, dan ilmu politik disatukan menjadi ilmu pengetahuan
sosial.Termasuk mata pelajaran agama di SD, SMP, maupun SMA juga
termasuk contoh broad field.
5) Selection of Learning Experince (Memilih Pengalaman Belajar). Pada
tahap ini ditentukan pengalaman-pengalaman belajar yang harus dimiliki
siswa untuk mencapai tujuan kurikulum. Ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam memilih pengalaman belajar siswa, yaitu pengalaman
siswa haru sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, setiap pengalaman belajar
harus memuaskan siswa, setiap rancangan pengalaman belajar sebaiknya
melibatkan siswa, dan dalam atu pengalaman belajar kemungkinan dapat
mencapai tujuan yang berbeda.
6) Organization of Learning Experince (Mengorganisasi Pengalaman
Belajar). Pengembang kurikulum selanjutnya menentukan bagaimana
mengemas pengalaman-pengalaman belajar yang telah ditentukan itu ke dalam
paket-paket kegiatan. Sebaiknya, dalam menentukan paket-paket kegiatan itu,

16
siswa diajak serta agar mereka memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan
kegiatan belajar.
7) Determination of What to Evaluate and The Way and Means of Doing It
(Menentukan Alat Evaluasi serta Prosedur yang harus Dilakukan Siswa). Pada
penentuan alat evaluasi ini guru dapat menyeleksi berbagai teknik yang dapat
dilakukan untuk menilai prestasi siswa, apakah siswa telah mencapai tujuan
atau belum.
8) Menguji keseimbangan kurikulum.Pengujian ini perlu dilakukan untuk
melihat kesesaian antara isi, pengalaman belajar, dan tipe-tipe belajar siswa.
b. Menguji unit eksperimen.
Pada langkah ini dilakukan pengujian di kelas-kelas atau tempat lainuntuk
mengetahui validitas dan kepraktisannya serta menghimpun data bagi
penyempurnaan kurikulum yang dikembangkan.

c. Mengadakan revisi dan konsolidasi terhadap hasil unit eksperimen


Dari langkah pengujian diperoleh data, data tersebut digunakan untuk
mengadakan perbaikan dan penyempurnaan.Selain itu, diadakan juga kegiatan
konsolidasi yaitu penarikan kesimpulan tentang hal-hal yang bersifat umum
yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.

d. Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum


Apabila dalam kegiatan penyempurnaan dan konsolidasi telah diperoleh hasil
yang sifatnya lebih menyeluruh dan berlaku lebih luas, hal itu masih haru
dikaji oleh para ahli kurikulum dan para profsional kurikulum
lainnya.Kegiatan itu dilakukan untuk mengetahui apakah konsep-konsep dasar
atau landasan-landasan teori yang dipakai sudah masuk dan sesuai.

e. Implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji


Pada tahap ini mulai diterapkan kurikulum baru di daerah-daerah atau
sekolah-sekolah yang lebih luas. Pada tahap terakhir ini perlu dipersiapkan
guru-guru yang akan melaksanakan di lapangan, baik melalui penataran-
penataran, lokakarya dan kegiatan lainnya. Di samping itu, perlu dipersiapkan
juga fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum.

17
5. Model Pengembangan Kurikulum dari Beauchamp
Model pengembangan kurikulum ini dikembangkan oleh Beauchamp seorang
ahli kurikulum. Ada lima langkah yang dikemukakan Beauchamp untuk
mengembangkan kurikulum. Kelima angkah tersebut adalah sebagai berikut.
a. Menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan melakukan perubahan
kurikulum.Langkah ini mencakup kegiatan menentukan lingkup wilayah
yang akan dicakup oleh kurikulum. Lingkup kurikulum dapat mencakup
lingkup sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi ataupun seluruh negara.
Pentahapan arena ini ditentukan oleh wewenang yang dimiiki oleh
pengambil kebijaksanaan dalam pengembangan kurikulum, serta oleh
tujuan pengembangan kurikulum.
b. Menetapkan personalia atau pihak-pihak yang akan terlibat dalam proses
pengembangan kurikulum.Kegiatan ini mencakup penetapan siapa saja
yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat katagori orang
yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu (1) para
ahli pendidikan atau kurikulum yang ada pada pusat pengembangan
kurikulum dan para ahli bidang ilmu dari luar, (2) para ahli pendidikan
dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-gru terpilih, (3) para
profesional dalam sistem pendidikan, (4) profesional lain dan tokoh-tokoh
masyarakat.
c. Menetapkan organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum yang akan
ditempuh.Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh
dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih
isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi dalam menentukan
keseluruhan desain kurikulum. Keseluruhan kegiatan ini terbagi atas lima
langkah, yaitu (1) membentuk tim pengembang kurikulum, (2)
mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada dan
sedang digunakan, (3) studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan
kurikulum baru, (4) merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan
kurikulum baru, (5) penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
d. Implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah
mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum. Kegiatan ini

18
membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, baik kesiapan guru-guru, siswa,
fasilitas, bahan maupun biaya, selain kesiapan manajerial pimpinan
sekolah atau administrator setempat.
e. Melaksanakan evaluasi kurikulum. Pelaksanaan evaluasi kurikulum
mencakup empat hal, yaitu (1) evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum
oleh guru-guru, (2) evaluasi desain kurikulum, (3) evaluasi hasil belajar,
(4) evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari
hasil kegiatan evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan
desain kurikuum, serta prinsip-prinsip melaksanakannya.

6. Model Pengembangan Kurikulum dari Carl Rogers


Model pengembangan kurikulum yang disampaikan oleh Carl Roger dikenal
dengan namaRoger’s Interpersonal Realtions Model. Carl Roger sebenarnya
bukan ahli pendidikan.Ia adalah ahli psikologi, namun konsep-konsepnya
tentang psikoterapi khususnya bagaimana membimbing individu dapat
diterapkan dalam pendidikan dan pengebangan kurikuum.
Roger berasumsi bahwa kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan
individu yang terbuka, luwes, dan adaptif terhadap situasi perubahan.
Kurikulum seperti itu hanya dapat disusun dan diterapkan oleh pendidik yang
terbuka, luwes dan berorientasi pada proses.Untuk itu diperlukan pengalaman
kelompok dalam melatih hal-hal bersifat sensitif.Setiap kelompok terdiri atas
10 – 15 orang dengan seorang fasilitator atau pemimpin.Kelompok tersebut
hendaknya tidak berstruktur, tetapi harus menyediakan lingkungan yang
memungkinkan seseorang dapat berekspresi secara bebas dan ada pula
kemungkinan berkomunikasi interpersonal secara luas.
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Rogers, yaitu:
a. Pemilihan target dari sistem pendidikan. Pada langkah ini dilakukan
pemilihan sasaran administrator dalam sistem pendidikan dengan syarat
bahwa individu yang terlibat hendaknya ikut aktif berpatisipasi dalam
kegiatan kelompok secara intensif agar mereka dapat berkenalan secara
akrab. Di dalam penetapan target ada kriteria yang harus dipenuhi adanya
kesediaan dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan

19
kelompok yang intensif. Selama satu minggu para pejabat pendidikan atau
administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana tidak formal.
Melalui kegiatan kelompok ini, mereka akan mengalami perubahan-
perubahan sebagai berikut :
1. He is less protective of his own beliefs and can listen move accurately.
2. He find it easier and less threatening to accept innovative ideas.
3. He has less need to protect bureaucratic rules.
4. He communicates more clearly and realistically to superiors, peers, and
sub-ordinates because he is more open and less self – protective.
5. He is more person oriented and democratic.
6. He openly comforts personal emotional frictions between him self and
colleagues.
7. He is more able to accept both positive and negative feeback and use it
constructively (Nana Sayodih Sukmadinata,2014:168)
b. Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok intensif.Pada tahap ini guru-
guru diikutsertakan dalam pengalaman kelompok secara intensif. Sama
seperti halnya yang dilakukan para pejabat pendidikan, guru juga turut
serta dalam kegiatan kelompok. Keikutsertaan guru dalam kelompok
tersebut sebaiknya bersifat sukarela dengan lama kegiatan lebih baik satu
minggu. Efek yang akan diterima guru-guru sejalan dengan para
administrator dengan beberapa tambahan antara lain guru dapat lebih
memahami keberadaan siswanya, menerima gagasan-gagasan inovatif dari
siswa, lebih banyak perhatian terhadap siswa, mengembangkan
keharmonisan dan suasana kelas yang demokratis.
c. Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau
unit pelajaran.Pada kegiatan ini siswa diikutsertakan secara penuh dalam
kegiatan kelompok selama lima hari dengan facilitator para guru atau
administratoratau fasilitator dari luar. Pertemuan ini diharapkan
menghasilkan pertemuan intensif antara guru dan siswa dan antar-siswa
lainnya secara akrab dalam suasana bebas berekspresi.
d. Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.Pada tahap ini
diselenggarakan pertemuan secara interpersonal antara administrator, guru

20
dan orang tua siswa. Tujuan utamanya adalah agar orang tua, guru, dan
kepala sekolah bisa saling mengenal secara pribadi sehingga memudahkan
pemecahan masalah di sekolah. Kegiatan ini dapat dikoordinasikan oleh
BP3 masing-masing sekolah. Lama kegiatan kelompok dapat berlangung
tiga jam setiap sore hari selama seminggu atau 24 jam secara terus-
menerus. Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin hubungan yang erat
antara sesama orang tua, anak, dan guru.
e. Pertemuan vertikal yang mendobrak hierarki, birokrasi, dan status sosial.
Melalui cara ini diharapkan keputusan-keputusan dalam pengembangan
kurikulum akan lebih mendekati realitas karena diselenggarakan dalam
suasana bebas tanpa tekanan.
Dalam ((Nana Sayodih Sukmadinata,2014:168) Model pengembangan
kurikulum dari Rogers ini berbeda dengan model-model lainnya. Sepertinya
tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian
kegiatan kelompok. Eksistensialis Humanis, ia tidak mementingkan
formalitas, rancangan tertulis, data dan sebagainya. Bagi Roger yang penting
adalah aktivitas dan interaksi. Berkat berbagai bentuk aktivitas dalam interaksi
ini individu akan berubah. Metode pendidikan yang diutamakan Rogers adalah
sensitivity training, encounter group, dan training group (T Group).

7. Model Pengembangan Kurikulum dari Oliva


Menurut Oliva suatu model kurikulum harus bersifat sederhana, komprehensif
dan sistematik.Langkah yang harus ditempuh dalam pengembangan kurikulum
model ini terdiri atas 12 komponen yang saling berkaitan satu dengan
lainnya.Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut.
a. Menetapkan dasar filsafat yang digunakan dan pandangan tentang hakikat
belajar dengan mempertimbangkan hasil analsis kebutuhan umum siswa
dan kebutuhan masyarakat.
b. Menganalsis kebutuhan masyarakat tempat sekolah itu berada, kebutuhan
khusus siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diajarkan.
c. Merumuskan tujuan umum kurikulum yang didasarkan pada kebutuhan
seperti yang tercantum pada langkah sebelumnya.

21
d. Merumuskan tujuan khusus kurikulum yang merupakan penjabaran dari
tujuan umum kurikulum.
e. Mengorganiasikan rancangan implementasi kurikulum.
f. Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum
pembelajaran.
g. Merumuskan tujuan khusus pembelajaran.
h. Menetapkan dan menyeleksi strategi pembelajaran yang dimungkinkan
dapat mencapai tujuan pembelajaran.
i. Menyeleksi dan menyempurnakan teknik penilaian yang akan digunakan.
j. Mengimplementasikan strategi pembelajaran.
k. Mengevaluasi pembelajaran.
l. Mengevaluasi kurikulum.
Model pengembangan kurikulum yang dikembangkan Oliva dapat digunakan
dalam tiga dimensi, yaitu (1) dapat digunakan untuk penyempurnaan
kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus seperti bidang studi tertentu
di sekolah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses
pembelajarannya; (2) dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam
merancang suatu program kurikulum; (3) dapat digunakan dalam
mengembangkan program pembelajaran secara lebih khusus.
8. The Sytematic action-Research model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum
merupakan perubahan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan
kepribadian orang tua, siswa, guru struktur sistem sekolah, pola hubungan
pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsu
tersebut model ini menekankan pada tiga hal itu : hubungan insane, sekolah
dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan professional.
Kurikulum dikembangkan dalam konteks harapan warga masyarakat, para
orang tua, tokoh masyarakat, pengusaha, siswa , guru dan lain-lain,
mempunyai pandangan tentang bagaimana pendidikan, bagaimana anak
belajar, dan bagaimana peranan kurikulum dalam pendidikan dan pengajaran.
Penyusunan kurikulum harus memasukkan pandangan dan harapan harapan

22
masyarakat , dan salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan
prosedur action research.
Langkah pertama mengadakan kajian secara saksama tentang masalah-
masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, dan
mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan, dan kondisi yang mempengaruhi
masalah tersebut. Dari kajian tersebut dapat disusun rencana yang menyeluruh
tentang cara-cara mengatasi masalah tersebut, serta tindakan pertama yang
harus diambil.
Kedua, implemetasi dari keputusan yang diambil dalam tindakan
pertama.Kegiatan ini segera diikuti dengan kegiatan pengumpulan data dan
fakta-fakta. Kegiatan pengumpulan data ini mempunyai beberapa fungsi . (1)
menyipakan data bagi evaluasi tindakan, (2) sebagai bahan pemahaman
tentang masalah yang dihadapi, (3) sebagai bahan untuk menilai kembali dan
mengadakan modifikasi, (4) sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih
lanjut. (Nana Sayodih Sukmadinata,2014:169-170)
9. Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai
efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi model-model
kurikulum. Tumbuh kecenderungan –kecenderungan baru yang didasarkan
akan hal itu, diantaranya (1) The Behavioral Analysis Model, (2) The system
analyisis model, (3) The computer based model.
The Behavioral Analysis Model , menekankan penguasaan perilaku atau
kemampuan.Suatu perilaku / kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi
perilaku-perilaku yang sederhana yang tersusun secara hierarkis.Siswa
mempelajari perilaku-perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari
yang sederhan menuju yang lebih kompleks.
The system analyisis model berasal dari gerakan efisiensi bisnis.Langkah
pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi hasil belajar yang harus
dikuasai siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrument untuk menilai
ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut.Langkah ketiga mengidentifikasi
tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah

23
keempat membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program
pendidikan.
The computer based model , suatu model pengembangan kurikulum dengan
memanfaatkan computer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi
seluruh unit-unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan
tentang hasil-hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru-guru diminta
untuk melengkapi pertanyaan tentang unit-unit kurikulum tersebut. Setelah
diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil-hasil belajar
yang dicapai siswa disimpan dalam komputer. (Nana Sayodih
Sukmadinata,2014:170)

24
BAB III

PENUTUP

2.1 Kesimpulan
2.2 Saran

25
DAFTAR PUSTAKA

Chamisijatin,Lise,dkk.2008.Bahan Ajar Cetak Pengembangan Kurikulum


SD.Jakarta:Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional.

Sukmadinata,Nana Syaodih.2014.Pengembangan Kurikulum Teori dan


Praktik.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.

26