Anda di halaman 1dari 4

NAMA : CINTYA JULIANA DEVI

NPM : 1433121033
ABSEN : 20
KELAS : D4 (KELAS 5)

FASILITAS PPN DIBEBASKAN

A. DEFINISI FASILITAS PPN DIBEBASKAN


Definisi dari fasilitas PPN Dibebaskan adalah membebaskan kewajiban memungut
PPN kepada orang atau badan yang menyerahkan:
1. Barang Kena Pajak (BKP) yang bersifat strategis. Artinya secara objek,
barang yang diserahkan tetap masuk dalam kategori BKP namun karena
pertimbangan pemerintah maka dimasukkan dalam klasifikasi barang yang
strategis sehingga saat diserahkan, barang tersebut mendapat fasilitas
dibebaskan dari PPN. Definisi strategis merujuk pada urgensinya bagi khalayak
atau pengembangan usaha tertentu. BKP yang bersifat strategis antara lain:
Barang Modal, Makanan Ternak, Bibit atau benih, Bahan Baku Perak, Bahan
Baku Uang Kertas, Air Bersih, Listrik (kecuali untuk rumah dengan daya diatas
6.600 VA) , dan RUSUNAMI.
2. Barang Kena Pajak (BKP) tertentu. Objek tertentu dalam hal ini meliputi
barang-barang yang diperlukan untuk kepentingan umum atau untuk
kepentingan nasional yang dikelola oleh unit-unit pemerintah. Contoh barang
yang masuk dalam kategori tertentu antara lain: Impor Senjata, Amunisi, Alat
Angkutan di Darat (termasuk kendaraan angkutan pasukan TNI/POLRI),
Kendaraan Lapis Baja, Kendaraan Patroli dan Kendaraan Angkutan Khusus
lainnya serta Suku Cadang yang dilakukan oleh Kementerian
Pertahanan/TNI/POLRI/ Pihak lain yang ditunjuk Kementerian
Pertahanan/TNI/POLRI (badan hukum Indonesia/ usaha Indonesia yang secara
legal formal berkualifikasi melakukan pengadaan BKP tertentu yang

1
dibebaskan dari PPN), Impor atau penyerahan Komponen atau bahan yang
belum dibuat di dalam negeri untuk pembuatan senjata dan amunisi untuk
keperluan Kementerian Pertahanan/TNI/POLRI kepada PT PINDAD, Impor
atau penyerahan vaksin polio dalam rangka pelaksanaan Pekan Imunisasi
Nasional, Impor atau penyerahan buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan
buku-buku pelajaran agama, penyerahan rumah sederhana/ rumah sangat
sederhana/ rumah susun sederhana/ pondok boro/ asrama mahasiswa yang
batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
3. Jasa Kena Pajak (JKP) tertentu. Antara lain jasa yang diserahkan kontraktor
untuk pemborong bangunan rumah sederhana/ rumah sangat sederhana/ rumah
susun sederhana/ pondok boro/ asrama mahasiswa yang batasannya ditetapkan
oleh Menteri Keuangan, jasa persewaan rumah susun sederhana/ rumah
sederhana/ dan rumah sangat sederhana, dan jasa yang diterima oleh
Kementerian Pertahanan atau TNI dalam rangka penyediaan data batas photo
udara wilayah NKRI untuk mendukung pertahanan nasional.
4. Kepada perwakilan Negara asing dan Badan Internasional serta
Pejabatnya dengan asas timbal balik/resiprokal. Atas impor BKP atau atas
penyerahan BKP dan/atau JKP oleh/kepada perwakilan negara asing serta
pejabat perwakilan negara asing dan Badan Internasional serta Pejabat Badan
Internasional dibebaskan dari pengenaan PPN dan PPnBM (Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 2013 dan PMK-162/PMK.03/2014). BKP
meliputi kendaraan bermotor dan selain kendaraan bermotor. Adapun daftar
organisasi internasional yang mendapat fasilitas ini dapat dilihat di Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.010/2015 (tidak termasuk subjek pajak).
5. Jasa kebandarudaraan tertentu. Jasa ini meliputi: pelayanan jasa
penerbangan; pelayanan jasa pendaratan, penempatan, dan penyimpanan
pesawat udara; pelayanan jasa konter; pelayanan jasa garbarata (aviobridge);
pelayanan jasa bongkar muat penumpang, kargo, pos. Penyerahan jasa
kebandarudaraan tertentu tersebut oleh perusahaan angkutan udara niaga untuk

2
pengoperasian pesawat udara yang melakukan penerbangan luar negeri
dibebaskan PPN sepanjang memenuhi syarat antara lain: untuk pesawat udara
yang dioperasikan oleh perusahaan angkutan udara nasional yang melakukan
angkutan udara ke luar negeri harus memenuhi syarat tidak mengangkut
penumpang kargo, dan/atau pos dari satu bandar udara ke bandar udara lainnya
di wilayah Indonesia. Sementara untuk pesawat udara yang dioperasikan oleh
perusahaan angkutan udara asing selain tidak mengangkut penumpang kargo,
dan/atau pos dari satu bandar udara ke bandar udara lainnya di wilayah
Indonesia juga diterapkannya asas resiprokal oleh negara asal wajib pajak yang
mengoperasikan pesawat udara tersebut.

B. DASAR HUKUM FASILITAS PPN DIBEBASKAN


16B UU No 42 tahun 2009 sebagai berikut :
Ayat 1 :
Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau dibebaskan dari
pengenaan pajak, baik untuk sementara waktu maupun selamanya, untuk:
a. kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;
b. penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak
tertentu;
c. impor Barang Kena Pajak tertentu;
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud tertentu dari luar Daerah
Pabean di dalam Daerah Pabean; dan
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean, diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Penjelasan :
Salah satu prinsip yang harus dipegang teguh di dalam Undang-Undang
Perpajakan adalah diberlakukan dan diterapkannya perlakuan yang sama terhadap
semua Wajib Pajak atau terhadap kasus-kasus dalam bidang perpajakan yang pada

3
hakikatnya sama dengan berpegang teguh pada ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Oleh karena itu, setiap kemudahan dalam bidang perpajakan, jika benar-benar
diperlukan, harus mengacu pada kaidah di atas dan perlu dijaga agar di dalam
penerapannya tidak menyimpang dari maksud dan tujuan diberikannya kemudahan
tersebut.
Tujuan dan maksud diberikannya kemudahan pada hakikatnya untuk memberikan
fasilitas perpajakan yang benar-benar diperlukan terutama untuk berhasilnya
sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi dalam skala nasional, mendorong
perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing, mendukung pertahanan
nasional, serta memperlancar pembangunan nasional.

Ayat 3 :
Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan atau
perolehan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan
Pajak Pertambahan Nilai tidak dapat dikreditkan.
Penjelasan :
Berbeda dengan ketentuan pada ayat (2), adanya perlakuan khusus
berupa pembebasan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai mengakibatkan tidak
adanya Pajak Keluaran sehingga Pajak Masukan yang berkaitan dengan
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang memperoleh
pembebasan tersebut tidak dapat dikreditkan.